Mereka lalu duduk di bangku terdekat, sementara Switch dan Bossun memata-matai mereka dari jauh.
"Hei, Rei bertingkah aneh hari ini." kata Bossun.
"[Aku udah sadar dari tadi, Bossun.]" ketik Switch muram. Ia melihat Dante berdiri di depan Rei lalu berjongkok di depan Rei. Perlahan ia mengambil kaki kanan Rei dan melepas sepatu boot-nya, sementara gadis itu memperhatikan pemuda itu dengan tatapan kosong.
"Oi, Dante mau ngapain tuh!" Bossun menunjuk Dante dengan kaget.
"[A..Apa?]"
Egao wa Mitai!
Summary : Rei, cewek yang gosipnya merupakan ketua geng berandalan, masuk menjadi anggota Sket Club. Dalam waktu singkat, Rei dan Switch menjadi akrab. Apa Rei masuk hanya untuk mendekati Switch?
Sket Dance by Shinohara Kenta
Semi-Canon, GaJe, Typo, dll.
This story is Mine.
DLDR, If you don't like, please click back button.
Chapter14: Shocking Love Truth
.
.
Sasayaka Akira, 14 tahun, musim semi…
Akira duduk di pojok kelas di samping jendela, diam-diam memperhatikan orang yang berada 3 deret di depannya sembari mencatat catatan yang ada di papan tulis. Ia terlihat serius mencatat apa yang ada di papan tulis.
Tak lama kemudian bel istirahat berbunyi, dan orang yang diperhatikannya segera berdiri dan keluar dari kelas bersama anak-anak yang lain. Sementara ia sendiri merapikan alat tulisnya dan mengambil kotak bekalnya.
"Eh, tau gak. Aka no Aku mengamuk lagi semalam."
"Eh? Mengamuk?"
"Iya. Dia menghajar beberapa preman lagi sampai babak belur."
"Ih, serem ya…"
"Dan katanya dia sekolah di sini lho…"
"Eh, bener. Katanya dia anak kelas 1."
"Mudah-mudahan dia gak ada di kelas ini ya…"
Akira melihat keluar jendela, namun telinganya mendengarkan bisik-bisik teman sekelasnya tentang Aka no Aku yang mengamuk. Pasrah, ia menghela nafasnya perlahan lalu membawa bekalnya keluar dari ruang kelas. Saat akan berbelok ke tangga, ia menabrak seseorang.
"Hei, kalo jalan liat-liat dong!" bentaknya. Iris merahnya membesar saat mengetahui siapa yang ia tabrak.
"Ah, go..gomen…" Orang itu melihat Akira dan tersenyum. "Sasayaka-san!"
"Oh, Ternyata kamu." ucapnya dingin. Kazuyoshi tersenyum dan melihat kotak bekal yang dibawa Akira.
"Mau makan siang?" tanyanya.
"Hn…" Akira berjalan melewati Kazuyoshi. Membuat pemuda itu menatapnya heran. Sebelumnya gadis itu terlihat ramah, tapi sekarang ia terlihat begitu dingin dan menyeramkan.
"Oi, mau makan siang bareng?" tawarnya. Akira berhenti sejenak dan menatap pemuda itu dingin.
"Urusai! Biarkan aku sendiri." katanya dingin, lalu meninggalkan Kazuyoshi yang menatapnya heran.
"Oi, matte!" Kazuyoshi pun akhirnya mengejar Akira.
.
.
Akira menatap Kazuyoshi tajam. Ia heran dengan pemuda ini. Bukannya ia hanya ingin sendirian, tapi kenapa pemuda ini malah mengikutinya. Dilihatnya pemuda itu sedang memakan bekalnya dengan santai. Tepat di sebelahnya, membuatnya kesal.
Akira sendiri hanya bisa memangku kotak bekalnya tidak berniat untuk membukanya.
"Kok diem? Gak makan?" Kazuyoshi menatapnya heran.
"Urusai na, dasar orang aneh." Akira memalingkan pandangannya kesal. "Cepat makan bekalmu, dan pergi." usirnya.
"Hei, hei…" Kazuyoshi menelan makanannya perlahan. "Kamu gak bisa ngomong begitu."
Akira lalu berdiri lalu bersandar pada pagar. Matanya menatap kosong ke arah lapangan yang dipenuhi murid-murid yang sedang berjalan ke sana kemari.
"Kau itu bodoh." ucapnya dingin. Lalu menoleh ke arah Kazuyoshi yang entah kapan sudah menghabiskan makanannya. "Dan aku gak mau berurusan denganmu."
Kazuyoshi terdiam. Kemudian ia membereskan barangnya dan berdiri, meninggalkan Akira yang masih menatap pemuda itu dingin. Saat pemuda itu sudah pergi, Akira menghela nafasnya dan mengumpat.
Aku gak bisa dekat dia…
Aku ini Aka no Aku. Kalo dia tau pasti aku bakal dijauhin…
Akira duduk lalu membuka kotak bekalnya, sebelum itu ia membaca surat yang sejak kapan sudah ada di atas kotak bekalnya.
Sasayaka Akira…
Aku gak ngerti kenapa kamu selalu menyendiri, dan menjadi dingin. Padahal saat kita pertama ketemu, kamu orang yang menyenangkan.
Aku hanya ingin menjadi temanmu…
Usui Kazuyoshi
Akira kembali menghela nafasnya, merobek kertas itu menjadi potongan kecil dan membuangnya ke lapangan di bawah sana.
Aku harus menjauh sejauh-jauhnya sebelum dia tau…
.
.
"Eh? Hujan salju?" seorang pemuda berambut hitam-ungu dan bermata ruby tak sengaja melihat ke atas dan melihat butiran-butiran putih yang jatuh dari atas. Sesaat ia menyangka salju turun. Padahal ini sudah musim semi. Ia pun mengambil salah satu butiran itu dan menyadari kalau itu adalah kertas. Ia membaca tulisan yang ada di salah satu potongan kertas itu.
"Akira?" Ia melihat ke atas dan melihat gadis bermata ruby yang melempar potongan kertas-kertas itu. Ia memperhatikan kertas itu dengan tatapan dingin.
"Aphrodite… Tatapan salju…" gumamnya dengan wajah bersemu merah.
.
.
Akira Rei, 16 tahun, musim panas…
Dante melepas kedua sepatu boot Rei dan memperhatikan kedua telapak kaki gadis itu memerah. Sementara Rei hanya menatap kosong ke arah Dante.
"Dorongan keras…" gumamnya, setelah memijat sedikit kaki Rei, ia menggendong Rei di punggungnya.
"Aku gak dorong apa-apa kok…" jawab Rei datar. Dante hanya bisa menghela nafas lalu berjalan. Rei benar-benar tidak mengerti maksud kata-katanya.
"[Maksud Dante Rei berusaha terlalu keras untuk turnamen baseball hari ini.]" ketik Switch menerjemahkan kata-kata Dante.
"Kamu gak perlu ngasi tau aku! Aku udah tau!" teriak Bossun frustasi.
"[Ssst, nanti kita bisa ketahuan…]" ketik Switch. Lalu mereka mengendap-ngendap, mengikuti Dante dan Rei.
"Akira-san…"
"Hm?"
Dante terdiam, sesaat ia berpikir untuk menggunakan bahasa yang normal, bukan visual kei yang biasa ia pakai. Apalagi saat ini keadaan Rei dibilang sangat… menyedihkan. Dan ia penasaran kenapa ia bersikap seperti itu.
"Dante… Turunkan aku…" ujar Rei dengan wajah yang memerah. Dante pun menurunkan Rei dan menyerahkan sepatu bootnya. Saat Rei mengenakan sepatu bootnya, Dante menatap Rei dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku gak tau masalahmu apa…" Dante mengulurkan tangannya kepada Rei yang menatap sedih ke tanah."Forget it, and have fun, ne?"
Rei mendongak, balas menatap Dante. Entah mengapa, Dante yang terlihat konyol dan sok cool bisa menjadi sosok yang keren dan cool beneran. Ia tersenyum lebar. Untuk hari ini, ia harus bisa melupakan masalahnya dan bersenang-senang. Lagipula, ia tidak ingin menyia-nyiakan tiket taman ria gratis yang susah payah dibeli Dante.
Tanpa membalas uluran tangan Dante, Rei berdiri dan tersenyum lebar. "Oke, aku akan bersenang-senang hari ini." Rei lalu berjalan dengan riang, sementara Dante masih terpaku menatap tangannya.
"Unreply…" ia menghela nafas lalu menyusul Rei.
.
.
"Anak itu cepat berubah ya.." Bossun hanya bisa geleng-geleng kepala, sementara Switch hanya bisa memandang kebersamaan mereka dengan muram.
"[Mesra sekali mereka, berjalan bagaikan sepasang kekasih…]" ketiknya. Pemandangan itu membuatnya ingat saat Sawa dan Masafumi pergi untuk membeli alat perlindungan diri.
"Mesra apanya, tuh liat!" Bossun menunjuk Rei yang tersenyum lebar ke arah Dante yang tersenyum tipis. Saat ini mereka ada di antrian menuju Roller Coaster. Bossun menoleh ke arah Switch yang masih muram.
"[Mereka kelihatannya cocok. Visual kei dengan Rock.]" Switch kembali mengetik. "[Merah dan Ungu. Bahkan Rei mengerti kata-kata Dante yang menyebalkan itu.]"
"Oi..oi, Switch, tenang dulu."
"[Ini gawat. Aku gak bisa—]"
"Oi, Switch! Coba liat!"
Switch menoleh ke arah yang ditunjuk Bossun. Ternyata Tsubaki mendatangi mereka berdua.
"[Tsubaki?]"
"Eh? Ngapain Tsubaki di situ?"
"Oh, Tsubaki…Kebetulan…" Rei tersenyum. "Kukira kamu bukan jenis orang yang suka pergi ke tempat begini." ejeknya.
"Akira dan… Kiyoshi?" Tsubaki menatap Rei dan Dante secara bergantian. "Kalian berdua…"
"Perjalanan menyenangkan…" Dante mulai berpuisi lagi.
"Apa maksudnya?" tanya Tsubaki pada Rei.
"Cuma jalan-jalan aja kok…" Rei tersenyum lebar. "Mau sama-sama? Makin banyak makin seru." ajak Rei
"Ah… Tidak… Aku…"
"She's right!"
"Ah, sekalian ajak dua orang di sana itu juga ya…"
Rei menunjuk ke arah semak-semak, tempat Bossun dan Switch bersembunyi. Sementara Dante melihat ke arah yang ditunjukkan Rei dan tersenyum kecil.
"Shimatta! Kita ketahuan!"
"[Itu lebih baik daripada kita melihatnya terus berduaan.]" ketik Switch datar lalu berdiri dari tempat persembunyiannya. Akhirnya mau tidak meu mereka harus keluar dari tempat persembunyian mereka dan ikut dengan Rei.
.
.
"Wah, hari ini menyenangkan sekali." Rei tersenyum lebar. Switch yang berjalan di sampingnya menatap Rei dengan tatapan heran.
"[Bukannya kamu malah menghancurkan hati orang yang mengajakmu pergi?]" ketik Switch datar.
"Perkataanmu bikin aku ngerasa kaya' cewek yang hobi mainin hati cowok." Rei menatap Switch kesal. "Ya udah, lain kali kalo aku di ajak pergi berdua lagi aku gak bakal mau deh…" kata Rei akhirnya.
"[Oi, maksudku bukan begitu.]"
"Kalo gitu kamu harusnya gak ngikutin aku dari awal kan? Kalo gitu bukan salahku kalo akhirnya aku mengajak kalian."
Switch menghentikan langkahnya dan menatap Rei datar. Sementara yang ditatap hanya menatap ke arah lain.
"[Aku cuma gak mau kamu kenapa-kenapa.]"
"Kamu kan tau kekuatanku." jawab Rei enteng sembari mengepalkan tangannya. "Jadi kamu gak usah khawatir."
"Oi, Oi… Ternyata ada gadis cantik di sini. Dan pacarnya… Hahaha… Cuma orang culun…" tiba-tiba datang segerombolan orang preman yang langsung mengerubungi mereka. Rei langsung membuka hak sepatunya, namun tidak menemukan Steel di sana.
"Sh…Shimatta! Steel!" gumam Rei panik. Switch pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Rei. Rei menerimanya dengan tatapan bingung.
"Apa ini? Hei, ini sama sekali bukan senjata!" Switch menoleh dan menyadari bahwa yang diberikannya pada Rei bukan Steel, tapi malah tongkat sihir Reality Magi, versi aslinya pula.
"Otaku no baka!" Rei melempar tongkat itu kepada Switch kesal. "Aku lawan dengan tangan kosong aja!"
"[Matte!]"
Namun terlambat, salah seorang dari preman itu sudah menyerang Switch dengan stik baseball-nya. Rei pun segera menahan serangan preman itu dengan lengan kirinya.
"[Rei!]"
"Gakpapa!" ujar Rei sambil menahan sakit. Pukulan tadi itu benar-benar keras, bahkan Rei merasa sangat sakit. Mungkin besok ia tidak masuk sekolah lagi karena tangannya bengkak. Rei langsung menendang perut preman itu. Preman itu langsung jatuh tersungkur. Sementara yang lainnya langsung menyerbu Rei dengan tongkat kayunya, dan lagi-lagi ditangkis Rei, menyebabkan tangannya semakin terasa sakit. Lagi-lagi ia menendang dan menunju wajah preman itu sampai ia jatuh tersungkur.
Huah.. Masih ada banyak. Pikir Rei. Kuharap aku bisa menangani mereka semua.
"[Jangan memaksa dirimu!]"
"Heh, ini soal kecil, Switch." Rei memaksa dirinya untuk tertawa. Ia menangkis preman lain yang hendak memukulnya dengan tongkat besi. Lalu menendang perutnya hingga preman itu terpental.
"[Kecil? Ini membuatku merasa malu karena seorang gadis melindungiku!]"
"Aku melindungimu karena aku ingin!" Rei menoleh dan menatap pemuda di belakangnya dengan tatapan tajam.
"[Jangan bodoh!"] Mata Switch membesar karena Rei tidak menyadari bahwa preman-preman di belakangnya menyerang mereka secara bersamaan. Switch langsung mendorong Rei dan menjadikan dirinya sendiri sebagai sasaran pukulan.
"Switch!"
Duak!
Srakk!
Rei berusaha untuk berdiri, namun lengannya terlalu sakit untuk dijadikan tumpuan. Kakinya pun, meskipun hanya tergores tetap saja sakit dan mengucurkan banyak darah. Ia hanya bisa melihat Switch yang dijadikan sasaran oleh preman-preman itu. Laptopnya pun hancur berantakkan. Namun Rei bisa melihat Switch tersenyum lembut ke arahnya.
"Akhirnya aku bisa melindungimu, Rei…"
Duakk! Duakk!
"Kuso!"
Duakk! Duakk!
"
Mata Ruby Rei berkilat tajam, ia lalu berdiri, mengabaikan rasa sakit di lengan dan kakinya. Ia lalu mengambil rantai besi yang tergeletak di dekat tas milik Switch dan menatap preman-preman yang masih mengeroyok Switch dengan tatapan membunuh. Ia menarik kedua ujungnya, dan seketika rantai itu bertransformasi menjadi tongkat.
"Hentikan…"
Preman-preman itu seketika menoleh dan menghentikan aktivitasnya, dan mendapati Rei yang berdiri sambil menggenggam tongkat itu kuat-kuat. Kepalanya tertunduk sehingga kedua mata Ruby-nya tertutup poninya.
"Hentikan… Atau kalian akan menyesal…"
"Hah? Hahaha… Gadis ini mencoba mengancam kita.."
"Dia pikir dia bisa melawan, eh?"
Preman itu meninggalkan Switch yang sudah babak belur dan mendekati Rei. Namun gadis itu tidak bergeming. Preman-preman itupun sudah mengerubungi Rei. Saat mereka hendak menyentuh Rei, gadis itu langsung mengayunkan tongkatnya.
Duakk!
Bruuk! Duakk!
Seketika preman-preman itu sudah tergeletak di tanah, dan Rei menatap mereka semua dengan tatapan merendahkan. Ia lalu mengambil kacamata Switch yang sudah tergeletak di tanah, dan mendapati bahwa lensanya sudah pecah. Ia mengambil tasnya dan tas Switch, lalu menggendong pemuda itu di punggungnya. Gadis itu menatap sekilas laptop Switch yang sudah tidak berbentuk, sebelum akhirnya berjalan pulang.
.
.
"Akira-sama!" Shinji menghampiri Rei yang masuk ke dalam flat-nya dalam keadaan berantakkan. Pemuda itu langsung memapah Switch masuk ke dalam kamar Rei. Sementara Rei langsung duduk di sofanya dan membanting tasnya dan tas Switch.
"Akira!" Rea pun menghampiri Rei yang bersandar di sofanya. Rei menoleh ke arah Rea tanpa ekspresi.
"Kalo Rea-nee tanya aku kenapa, aku tadi diserang segerombolan preman…" gumamnya pelan.
"Hah, susah kalo jadi orang cantik, selalu jadi sasaran preman doyan gratisan…" desah Rea. "Pergi mandi dulu, sementara Shinji memeriksa Switch. Kalo keadaannya parah, kita bawa dia ke rumah sakit."
"Aa, Rea-nee." Rei pun berdiri, namun entah mengapa kepalanya terasa pusing. Akhirnya ia kehilangan kesadarannya, namun Rea berhasil menahannya sebelum ia jatuh ke lantai.
"Ara~ Dia butuh rumah sakit juga ternyata." gerutu Rea sembari membaringkan adiknya di sofa. Shinji pun keluar dari kamar Rei dan menatap Rea dengan muram.
"Amelia-sama, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit segera."
.
.
Sasayaka Akira, 14 tahun, musim semi…
"Jangan macam-macam denganku lagi, ne!" Akira lalu meninggalkan preman-preman yang sudah terkapar didepannya. Saat ia berbalik betapa terkejutnya ia saat melihat orang yang berdiri di belakangnya, menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi. Akira balas menatap pemuda itu dengan tatapan dingin.
"Aka no Aku ne…" gumamnya perlahan. "Aku gak nyangka."
Akira mengabaikan pemuda itu lalu berjalan melewatinya namun kata-kata pemuda itu membuat langkahnya terhenti.
"Orang yang seenaknya menyakiti orang lain tanpa alasan…"
Angin musim semi berhembus, mengurai rambut Akira yang terlepas dari ikatannya. Rambut panjang itu menari-nari bersama angin, mengisi keheningan.
"Aku paling benci orang seperti itu…"
Makanya aku berusaha menjauh darinya…
Akira hanya terdiam mendengar kata-kata menyakitkan pemuda itu. Kata-kata itu menusuk tepat di jantungnya, menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan. Apalagi ia menyukai—ah, tidak, sepertinya ada kata lain yang lebih tepat.
Ia mencintai pemuda itu.
Ia menoleh sekilas ke arah pemuda berambut hitam itu, tersenyum sinis, dan berjalan pergi.
Karena aku tau, dia membenci orang sepertiku…
"Terserah kamu saja… Usui Kazuyoshi…"
Namun aku melawan karena aku ingin membela diri, bukan tanpa alasan.
Setelah ia cukup jauh dari pemuda itu, ia berhenti di tengah taman yang sepi. Di sana ia bisa menangis tanpa satu orangpun yang melihat. Ia langsung duduk di salah satu bangku di sana, menatap langit malam yang penuh dengan bintang yang berpendar di langit.
Tanpa sadar ia menangis tanpa suara, masih dengan menatap langit malam. Ia lalu memegang pipinya yang basah.
"Aku menangis? Hahaha… Ternyata aku masih punya hati…" Rei tertawa.
Aku hanya ingin dia mengetahui hal itu…
.
.
Akira Rei, 16 tahun, musim panas…
Rea menatap adiknya cemas, sementara Aoi duduk di bangku sembari memegang tangan kembarannya itu dengan sedih. Lengan kiri Rei digips, karena tulangnya retak. ada beberapa bagian tubuhnya yang dilapisi perban kecil. Rea menatap jam tangannya sekilas, lalu menepuk bahu Aoi perlahan.
"Pulang aja Aoi, udah malam. Besok kamu sekolah."
Aoi menoleh ke arah Rea yang menatapnya serius. Ia lalu melepaskan genggaman tangannya pada Rei lalu berdiri.
"Iya, Rea-nee-chan. Besok sepulang sekolah aku kesini lagi.." Aoi tersenyum. Lalu kembali menoleh ke arah Rei yang matanya masih terpejam. Raut wajahnya kembali berubah sedih.
"Matta ne, Onee-chan." gumamnya lalu ia keluar dari kamar. Rea lalu duduk di kursi yang diduduki Aoi. Matanya terpaku pada orang yang berbaring di ranjang di sebelah Rei. Kondisinya lebih parah daripada Rei. Kepala, kedua lengannya, dan juga kakinya diperban. kedua lengannya di gips karena retak. Beberapa bagian wajahnya juga dilapisi plester.
"Kalian berdua itu saling melindungi ya…" Rea menghela nafas pasrah. "Aku jadi iri…"
TBC
Huaa.. Kok tambah hancur sih… Jadi tambah dramatis ceritanya, huhuhu… T,T
Maafkan amel kalo ceritanya tambah GJ… T,T
Yosh! Amel balas review dulu yak!
Asahina Yuuhi : Ini Amel usahain agak panjang chap-nya…
In-chan : Yosh, semoga chap ini juga bagus…^^
Calpa : Dante mau ngajak Rei kencan, tapi akhirnya gak jadi gara" Switch ngamuk.. XD #dilempar Stik Reality Magi
maggie98 : Hehehe, jangan terlalu dibayangin ah, jadi merinding juga nih… O.o
Arc-kun : Amel udah balas lewat PM… ^^
Amel senang karena makin banyak yang suka cerita ini… ^^ Semoga makin banyak yang suka… ^^ Ah, aku jadi bersemangat nih… ^^
Mind to Review?
