ACROSS THE UNIVERSE
Author : PrincePink
Genre : Hurt, Marriage Life, and Genderswitch for Uke!
Cast : Byun Baekhyun - Park Chanyeol
Other Cast : Do Kyungsoo - Kim Jongin - Oh Sehun - Xi Luhan - Huang Zi Tao
Rate : T+ for this chap!
.
.
CHAPTER 13
.
.
Bagaimana bisa aku melalui malam - malam tanpamu.
Jika aku hidup tanpamu, hidup seperti apa yang harus aku jalani.
Aku membutuhkanmu untuk memegangku, memeluku.
Aku membutuhkanmu
Sayang, aku membutuhkanmu dan mencintaimu seluas jagat raya.
.
.
Jika Chanyeol bisa memutar waktu dan kembali memperbaiki semuanya maka Chanyeol akan lakukan. Jika Chanyeol harus mempertaruhkan hidupnya demi orang yang ia cintai selama ini, maka Chanyeol akan melakukannya, dan jika Chanyeol harus merelakan nyawanya demi anaknya yang ia cintai maka ia akan melakukannya.
Tetapi itu semua terlambat ketika ia melihat peti berukuran tidak terlalu besar dimasukan kedalam tanah dengan iringan lagu pujian kepada Tuhan. Chanyeol kembali mengingat bagaimana kejamnya ia terhadap putra semata wayangnya itu, bagaimana ia membiarkan putranya kelaparan dan kesakitan. Tiada yang bisa menggantikan rasa sakit itu saat Chanyeol mengingatnya. Tuhan memang benar - benar memberikan Chanyeol pelajaran terberat dalam hidupnya. Bahkan Chanyeol yakin Tuhan saat ini tengah menamparnya dengan keras sampai Chanyeol merasa jatuh dan sakit. Anaknya yang ia sia - siakan, anaknya yang selama ini sebenarnya ia cintai telah pergi selamanya meninggalkan Chanyeol dan seluruh keluarganya di dunia.
Chanyeol kembali menitikan air matanya saat ia teringat bagaimana keadaan putranya sebelum wafat. Chanyeol merasakan matanya basah kembali dan tanpa niatan menghapus air matanya. Biarlah semua orang menganggapnya apa, yang jelas ia merasa tersakiti saat ini ata kematian putranya.
Moonbin
Saat peti itu telah tiba di dasar pusara, maka pendeta mulai membacakan ayat - ayat Alkitab.
"sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat, tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan," dengan berakhirnya ayat yang disampaikan pendeta maka semua orang menaburkan bunga diatas peti Moonbin sebagai penghargaan terakhir pada anak manis itu yang kini telah bahagia bersama Tuhan di surga.
Kyungsoo menangis sambil memeluk putrinya yang juga menangis saat melihat sepupu kecilnya sudah dikubur didalam tanah, Kyungin sudah mengerti keadaan saat ini dan dia menangis keras. Begitupula dengan Tao yang menangis dengan keras. Ia begitu terpukul. Kris pun merasakan hal yang sama namun ia hanya menitikan air matanya dan berusaha tabah saat melihat pusara keponakannya.
Sosok lain yang merupakan sosok terpenting dalam hidup Moonbin. Baekhyun, sang ibu. Ia tidak menangis dan menatap peti mati putranya tanpa ekspresi dan wajah pucat. Ia memilih dian dan menatap tumpukan bunga yang sudah memenuhi peti mati Moonbin. Kyungsoo melihat Baekhyun dan beralih memeluk Baekhyun dengan tangisannya yang semakin keras, namun Baekhyun tidak bergeming dan tetap menatap proses pemakaman almarhum putranya. Chanyeol semakin terpukul saat melihat keadaan Baekhyun yang menurutnya sangat terpukul dengan memilih diam dan tidak menangis. Chanyeol semakin bersalah saat itu.
.
.
Ia masih ingat bagaimana Baekhyun tak sadarkan diri saat tubuh Moonbin tergeletak di jalan. Dengan cekatan Chanyeol menelepon ambulance dan menyuruh pihak Rumah Sakit membawa Moonbin sedang dirinya membawa Baekhyun dengan mobilnya. Sesampainya disana, Baekhyun tersadar dan memilih untuk melihat keadaan Moonbin. Namun, dokter tidak dapat berbuat apa - apa dan memilih pasrah saat Moonbin dalam keadaan kritis. Beberapa jam setelah memasuki ruang ICU anak, Baekhyun tidak pernah sekalipun meninggalkan Moonbin dan berdoa setiap saat demi Moonbin. Andai Chanyeol dapat menukar hidupnya dengan Moonbin maka ia akan lakukan. Chanyeol tersiksa dua kali lipat saat melihat keaadan Baekhyun yang tidak stabil.
Maka pada hari kedua Moonbin kritis, Chanyeol melihat benar bagaimana Baekhyun menggendong sosok mungil dengan selang di tubuhnya. Baekhyun mengecup kening anaknya dengan sayang dan air mata berlinangan. Seumur hidup Chanyeol belum pernah melihat bagaimana kasih seorang ibu kepada anaknya sampai sebesar ini. Baekhyun begitu mencintai Moonbin .
"Sudah selesai, Nak. Pergilah, Mama tidak mau melihatmu tersiksa," Baekhyun menjatuhkan air matanya ke wajah Moonbin. Baekhyun terisak dan mengecup pipi Moonbin sayang,
"Mama dan Papa mencintaimu Moonbin,"
Dan dengan kalimat terakhir itu, alat pendeteksi detak jantung Moonbin berbunyi dan menunjukan garis lurus. Chanyeol membelalakan matanya dan segera memanggil dokter. Tuhan berkata lain, Moonbin telah meninggalkan dunia saat itu. Chanyeol melakukan apa yang tadi Baekhyun lakukan dengan memeluk tubuh Moonbin yang dingin mengecup kening putranya.
"Papa mencintamu sayang. Dan selalu mencintaimu,"
Sedang Baekhyun hanya menatap tubuh Moonbin datar tanpa menangis sedikitpun.
.
.
Sepulang dari pemakaman, Chanyeol mengendarai mobilnya dengan Baekhyun disampingnya. Wanita itu menatap pemandangan diluar dan barang sedetik pun tidak pernah melepaskan matanya dari pemandangan diluar sana. Chanyeol tahu keadaan Baekhyun saat ini tidak baik - baik saja, maka ia memilih mendiamkannya. Karena demi apapun hati Chanyeol saat inipun sedang sakit dan tersiksa. Kehilangan belahan jiwa bukan sesuatu yang mudah, dan keharusan tabah yang disarankan semua orang pada nyatanya hanyalah omong kosong belaka.
Chanyeol kembali menyeka setetes air mata yang keluar dari ujung matanya dan mencoba untuk menjadi pihak yang tegar saat ini. Maka ia mulai menyalakan mp3 player dalam mobilnya. Alunan suara Trisha Yearwood membawakan 'How do I Live' menyapa gendang telinga keduanya. Chanyeol kembali melajukan mobilnya dan sesekali melirik Baekhyun yang masih memilih diam.
Ketika lampu merah mengharuskan Chanyeol untuk berhenti, maka dengan perasaan membuncah dan keinginan untuk melindungi, Chanyeol menarik lembut tangan Baekhyun dan meremasnya seakan memberi kekuatan. Chanyeol sempat tersenyum pahit saat Baekhyun tidak membalas genggaman tangannya. Namun, Chanyeol harus menelan senyuman pahitnya dan berujung dengan senyuman kelegaan saat Baekhyun membalas genggaman tangannya. Chanyeol menarik tangan Baekhyun dan mengecupnya sekilas. Meskipun Baekhyun tidak melihatnya namun ia tahu bahwa Baekhyun pun membutuhkannya. Dan Chanyeol semakin yakin bahwa kini hanya dirilah yang mampu menghibur dan melindungi Baekhyun.
.
.
One week laters
.
Genap satu minggu setelah kepergian Moonbin. Baekhyun masih seperti saat hari dimana Moonbin pergi. Ia masih banyak diam dan tidak berekspresi seperti biasanya. Chanyeol harus menahan tangisnya karena tindakan Baekhyun ini. Ia tidak tega melihat keadaan Baekhyun yang jauh dari kata baik - baik saja. Sering kali Chanyeol mendapati Baekhyun melamun atau berbicara sendiri sambil memeluk boneka milik Moonbin. Setidaknya Chanyeol bersyukur karena istrinya tidak melakukan hal - hal diluar wajar, seperti menyakiti diri sendiri dan Chanyeol tidak mau membayangkannya. Chanyeol pun akhirnya mencari satu maid khusus untuk menemani Baekhyun selagi ia bekerja sehingga istrinya tidak kesepian. Chanyeol mempekerjakan seorang wanita berusia 55 tahun bernama Seojin untuk menemani Baekhyun.
Seperti pagi ini, Chanyeol menghela nafas saat Baekhyun tetap terdiam memakan sarapannya. Chanyeol memperhatikan bagaimana tubuh istrinya semakin kurus namun perutnya semakin menonjol.
"Makan yang banyak. Baby disana butuh sarapan juga," Ujar Chanyeol sambil mengelus tangan Baekhyun. Wanita itu menatap Chanyeol sekilas dan kembali melahap sarapannya. Chanyeol menaruh sendok dan juga sumpitnya kemudian berdiri. Ia mengecup puncak kepala Baekhyun dan tersenyum sambil belutut di sisi istrinya.
"Aku pergi dulu ya. Kalau kau butuh apa - apa panggil Seojin-ssi saja,"
Chanyeol tersenyum dan berdiri. Baekhyun masih sama seperti hari - hari sebelumnya, masih diam dengan tatapan kosong meskipun kini ia berusaha menyendokan sesuap demi sesuap makanan yang disediakan diatas piring. Chanyeol tersenyum miris dan pergi meninggalkan Baekhyun pagi itu dengan harapan bahwa istrinya akan kembali sedia kala .
.
.
Seojin namanya. Ia maid khusus yang dipekerjakan Chanyeol untuk Baekhyun. Setiap hari ia akan melakukan arahan Chanyeol untuk mengajak Baekhyun berbicara, atau melakukan apapun agar kesedihannya berkurang. Seperti saat ini,Seojin sedang menyisiri rambut Baekhyun yang terduduk di balkon. Menatap pemandangan diluar dengan tatapan kosong. Seojin sudah mendengar cerita tentang kepergian Moonbin dari para maid dirumah itu. Seojin pun akan merasakan hal yang sama bila ia menjadi Baekhyun. Namun tak jarang Seojin menangis bila melihat Baekhyun yang banyak terdiam sambil sesekali mengelus perutnya yang membuncit.
"Rambut Nyonya Park adalah rambut terindah yang pernah saya sisir," ujar wanita berusia 55 tahun itu. Baekhyun tidak bergeming, ia tetap memandang pemandangan diluar dengan wajah pucatnya. Seojin tersenyum miris dan ikut duduk disamping Baekhyun kemudian mengelus perut besar itu dengan lembut.
"Ibu hamil tidak boleh banyak melamun," ujarnya lembut. Baekhyun melirik perutnya dengan perlahan dan kembali menatap kedepan. Keduanya terdiam cukup lama sampai Baekhyun mengelus perutnya sendiri. Seojin memperhatikan gerakan lembut nyonya nya itu.
"Apa yang kau lakukan jika jadi aku?" tanya Baekhyun lembut. Seojin berusaha tersenyum dan mengelus lengan Baekhyun dengan lembut. Ia tahu kegundahan hati nyonya besarnya saat ini dan Seojin berusaha untuk menempatkan dirinya sebagai Baekhyun ketika pertanyaan itu meluncur keluar
"Kehilangan bukan sesuatu yang mudah yang dapat kita terima," Seojin mengusap punggung tangan Baekhyun dengan lembut,"Aku mengalami hal yang sama ketika suami ku meninggal beberapa tahun silam. Itu bukan perkara yang mudah untuk menerima kepergiannya padahal anak kami saat itu masih berusia 7 tahun," ujar Seojin sambil mendudukan dirinya disamping Baekhyun. Wanita paruh baya itu tersenyum saat Baekhyun menatapnya penuh ketertarikan.
"Maka sebulan penuh aku akan terus menangisi kepergian suamiku. Tetapi aku sadar bahwa rasa seperti itu tidak boleh terus menggerogotiku,"
Baekhyun mengalihkan pandangannya ke depan, menatap deretan pepohonan indan dari atas balkonnya. Tatapan matanya masih kosong seperti biasa.
"Aku masih memiliki orang yang kukasihi di dunia. Dan aku sadar bahwa Tuhan menghadirkan anakku untuk melengkapi ku agar rasa sedih itu tidak datang lagi," Seojin meremas lembut tangan Baekhyun. Wanita muda itu menatap Seojin dengan wajah cantiknya dan menatap wanita paruh baya itu dengan mata jernihnya.
"Ketika kau kehilangan seseorang, maka Tuhan sudah menciptakan orang lain yang akan menghiburmu di dunia ini,"
"Percayalah padaku, Nyonya," ujar Seojin mantap. Baekhyun tersenyum tipis sambil membalas genggaman tangan Seojin.
"Ya, aku mengerti,"
.
.
Chanyeol tersenyum menatap ponselnya. Ia masih ingat bagaimana beberapa menit lalu dirinya menelepon Seojin dan kabar baik itu datang saat Seojin memberi tahu dirinya bahwa Baekhyun sudah mau berbicara meskipun sedikit. Setidaknya istrinya sudah mau membuka diri kepada orang lain. Hal sesederhana seperti itu mampu membuat Chanyeol lega dan berharap bahwa Seojin akan membantu dirinya dalam mengembalikan Baekhyun seperti sedia kala.
Hati Chanyeol pun bergemuruh saat ia bertanya pada Seojin apa yang Baekhyun katakan padanya. Sungguh, Chanyeol akan menjadi pria paling melankolis setiap kali dirinya mengenang Moonbin, mendiang anaknya yang ia cintai. Bukan Baekhyun saja yang kehilangan dia, Chanyeol pun sama remuk hatinya saat mengingat kenangan - kenangan bersama Moonbin. Mendiang Moonbin adalah anaknya dan hal yang selalu membuat hati Chanyeol hancur adalah saat ia kembali mengingat perbuatannya dahulu pada bocah manis itu.
"Ya Tuhan," Chanyeol melepas kacamatanya saat air mata kembali turun dari kedua matanya. Ia kembali mengingat betapa bodoh nya dia, betapa bajingannya dia. Chanyeol sudah tidak peduli bagaimana keadaannya saat ini. Yang jelas, ia hanya ingin menangis dan menumpahkan seluruh rasa sedihnya di ruang kerjanya yang sepi ini. Bahkan ia mengingat bagainana perilaku Baekhyun setelah kepergian Moonbin dan itu sukses membuatnya sedih akan situasi seperti ini.
Air mata Chanyeol terus turun dari kedua matanya,
Chanyeol menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis meraung bagai induk kehilangan anaknya. Ia sudah tidak peduli,ia akan menangisi ini semua disini dan tidak dihadapan Baekhyun. Biarlah, biarlah ruangan ini menjadi saksi bisu atas penyesalan dan kesedihan Chanyeol akan kepergian putranya selama - lamanya.
.
.
Luhan dengan lesu bangkit dari tidurnya dan dengan tubuh lemas ia memperhatikan kamarnya yang berantakan, gelap dan tidak terurus. Sudah beberapa hari ini ia tidak menbereskan kamar dan rumahnya, bahkan ia tidak membersihkan diri. Ia rasa hal tersebut tidak penting karena keadaan hatinya sangat buruk saat ini. Luhan memeluk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia mengingat bagaimana Chanyeol meninggalkannya, dan menghempaskannya begitu saja. Chanyeol bahkan lebih memilih Baekhyun, istri sah nya yang amat dia benci. Luhan tahu dia jahat, dia tak lebih dari seorang perusak rumah tangga orang. Dan Luhan merasakan penyesalan yang begitu dalam melebihi kapasitas perasaan sedihnya.
Baekhyun yang lemah itu tengah sakit parah. Harusnya Luhan bahagia karena dengan begitu ia bisa merenggut Chanyeol, tapi tidak. Luhan hanyalah manusia yang memiliki hati nurani, dan ia bahkan tidak tega saat secara diam - diam datang ke acara pemakaman bocah kecil yang ia tahu bernama Moonbin, anak dari Chanyeol dan Baekhyun yang lahir dari ketidaksengajaan dosa kedua orang tuanya. Dan pada akhirnya, Luhan hanya dapat menangisi kebodohannya, dan menunggu karma Tuhan karena perbuatannya yang telah menjadi seorang perusak rumah tangga orang.
Bunyi bel menyadarkan Luhan dari lamunannya. Ia bertanya, siapa orang yang datang untuk menemui nya pada jam segini. Ia melirik jam dindingnya yang menunjukan pukul 2 siang. Dengan pakaian yang sudah beberapa hari ia pakai, penampilan tidak karuan, Luhan turun dari kasurnya dan membuka pintu tanpa melihat siapa tamu yang mengunjungi nya melalui intercom. Luhan membuka pintunya dan mengernyit saat mendapati pria berambut hitam yang tengah tersenyum padanya.
"Kau-"
"Hai,Lu"
"Mau apa kau kemari?" tanya Luhan sinis. Sehun mengangkat plastik di tangan kirinya dan tersenyum manis.
"Aku tahu kau belum makan. Maka itu, aku ingin mengajakmu makan bersama. Keberatan?"
"Keberatan kalo boleh kujawab," balas Luhan dengan melipat tangannya di dada.
"Ayolah, aku sudah baik begini kau masih saja galak kepadaku," Sehun memajukan bibirnya dan Luhan tanpa sadar mengangap itu menggemaskan. Namun, ia cepat sadar dari pikiran liarnya dan berdecak.
"Masuk," perintah Luhan. Sehun tersenyum senang dan masuk kedalam apartement Luhan. Sehun langsung menaruh makanan diatas meja dan duduk di sofa tanpa seizin Luhan. Ia memeperhatikan apartement itu dengan seksama.
"Kurasa kau bukan orang yang suka dengan kondisi berantakan seperti ini, dilihat dari caramu berpakaian sehari - hari dan -" Sehun terdiam menatap Luhan yang duduk di samping Sehun dengan tatapan jengahnya.
"Kau juga berpakaian berantakan hari ini,"
"Setelah kau datang ke apartement ku tanpa diundang dan kau sekarang mengomentari tempat tinggal beserta penampilanku?" tanya Luhan sinis.
"Seperti sedang patah hati," lanjut Sehun tanpa tahu wanita di sampingnya sudah ingin menyincangnya.
"Jangan marah. Aku kesini untuk niat yang baik," ujar Sehun lembut. Luhan menghela nafas dan membuang wajahnya ketika Sehun menatapnya.
"Ayo makan, mumpung masih hangat. Aku juga membawakan makanan kesukaan ku loh, kau harus mencobanya," ujar Sehun sambil membuka bungkusan makanan yang ia bawa. Aroma donkkaseu beserta nasi goreng yang mengepul menggoda indera penciuman Luhan dan bereaksi pada perutnya yang belum diisi sejak kemarin. Tapi Luhan masih mempertahankan gengsinya.
"Makan saja sendiri," ujar Luhan sinis. Sehun tersenyum tipis dan dengan sengaja membuka seluruh makanan yang ia bawa kemudian di jajarkan di atas meja.
"Yakin?"
"Kau punya telinga bukan? makan saja sendiri maka-"
KRUYUK
Luhan menelan ludahnya saat bunyi itu keluar dari perutnya.
'Perut sialan' batin Luhan. Sehun menahan senyumnya dan menyodorkan sebungkus nasi goreng hangat.
"Makanlah. Kasihan perutmu," ujar Sehun dengan menahan tawa. Luhan menatap Sehun dan dengan paksaan - juga karena ia lapar - Luhan menarik nasi goreng itu dan memakannya dengan lahap.
"Aku memakan ini karena terpaksa!"
"Oke oke. Kita lanjutkan nanti, sekarang makanlah dahulu,"
.
.
Chanyeol menyempatkan membeli Red Velvet cake ukuran besar beserta makanan kecil kesukaan anak - anak sebelum datang mengunjungi Kyungsoo dirumahnya. Ia rindu dengan keponakan kecilnya, Kyungin. Dan juga ia ingin menjenguk keadaan adiknya yang tengah hamil besar saat ini. Perjalanan dari kantornya menuju toko kue dan camilan lalu menuju rumah Jongin dan Kyungsoo menghabiskan waktu satu jam. Chanyeol langsung memarkirkan mobilnya saat tiba di rumah Kyungsoo dan segera membawa kue beserta camilan kedalam rumah megah itu.
"Annyeong," sapa Chanyeol saat ia membuka rumah Kyungsoo dan Jongin.
"Uncle!" teriak Kyungin saat melihat Chanyeol dan segera berlari memeluk Chanyeol yang sudah siap merentangkan tangannya. Chanyeol mencium kedua pipi keponakan kecil cantiknya. Dalam hati, Chanyeol membayangkan jika Moonbin masih ada maka ia akan memeluk putra nya itu sama seperti ia memeluk Kyungin.
"Uncle menangis?" tanya Kyungin polos saat melihat Chanyeol meneteskan airmatanya. Chanyeol tertawa dan menghapus air matanya.
"Tidak. Uncle hanya rindu Moonbin yang sudah di surga sana," jujur Chanyeol. Pria itu terkesiap saat Kyungin mengecup kedua pipinya.
"Kata Mama, kalau ada yang bersedih maka kita harus menghiburnya," ujarnya polos. Chanyeol tersenyum dan mengacak rambut Kyungin,.
"Jadi kau menghibur Uncle dengan mencium uncle huh?" tanyanya. Kyungin tersenyum lucu.
"Ini ambilah, Uncle membelikannya untukmu," ujar Chanyeol sambil memberikan bungkusan cemilan berisi makanan manis untuk Kyungin.
"Yeah, terimakasih Uncle," Ujar gadis cilik berusia 5 tahun itu dengan ceria.
"Mana mama mu?"
"Mama didalam," jawabnya acuh karena sudah menemukan 'hartanya'. Chanyeol berdiri dan menepuk kepala bocah itu kemudian berjalan kedalam untuk menemui Kyungsoo. Chanyeol tersenyum saat melihat adiknya tengah merajut sambil ditemani televisi yang menyala di depannya.
"Halo, ibu hamil," sapa Chanyeol. Kyungsoo menolehkan kepalanya dan tersenyum lebar mendapati kakaknya.
"Oppa," sapanya. Chanyeol menaruh kue untuk Kyungsoo dimeja dan duduk disebelah Kyungsoo kemudian memeluk adik perempuan satu- satunya itu.
"Apa kabar? apa kau baik?" tanya Chanyeol sambil menepuk kepala Kyungsoo. Wanita itu mengangguk, sambil tersenyum.
"Baik. Keponakanmu juga baik didalam sini," ujar Kyungsoo sambil mengelus perut besarnya.
"Kubelikan kau Red Velvet karena aku tahu kau dan keponakan kecil ku yang sebentar lagi akan lahir menginginkannya," ujar Chanyeol sambil menunjuk kue dengan dagunya.
"Gomawo,"
"Bagaimana kabar Baekhyun Eonnie?" tanya Kyungsoo sambil menaruh benang dan jarum pintalnya. Perubahan ekspresi terlihat di wajah Chanyeol. Ia terlihat letih dan putus asa. Kyungsoo yang mengerti pun menepuk punggung tangan Chanyeol dan tersenyum menyenangkan.
"Sangat berat untuknya Oppa. Dia adalah ibu nya dan seorang ibu tidak akan mudah untuk melupakan kepergian putra semata wayangnya,"
"Tapi didalam tubuhnya masih ada anakku yang lain Soo. Ketika dia stress dan memiliki perasaan yang tidak baik maka kandungan nya pun akan terganggu," ujar Chanyeol frustasi.
"Dia bahkan terkadang lupa untuk makan, menyiksa tubuhnya secara tidak langsung," Chanyeol menutup matanya.
"Lagipula dia masih memiliki aku. Aku suaminya dan akan terus disisinya ketika dia bersedih, kenapa dia seperti tidak menganggapku?" tanya Chanyeol frustasi. Kyungsoo ikut bersedih menepuk bahu Chanyeol dengan lembut. Terlihat Chanyeol tersenyum tipis dan ikut memegang tangan Kyungsoo yang lain.
"Semuanya akan kembali sedia kala,"
"Sulit. Itu adalah hal tersulit untuk kulakukan saat ini," ujar Chanyeol sambil tersenyum lemah.
"Baekhyun adalah wanita sepertiku, kami memiliki hal yang sama yaitu memiliki persamaan dan kelembutan hati. Tetapi ketika kami mengalami suatu kepahitan yang amat terdalam, maka hal tersebut tidak akan dengan mudah nya kami lupakan karena kami adalah mahluk penuh perasaan," Kyungsoo menepuk punggung tangan Chanyeol, sang kakak. Chanyeol terdiam mendengarkan apa yang dikatakan Kyungsoo. "Cobalah untuk menyentuh satu titik dihatinya dimana ia bisa mengungkapkan segalanya padamu. Yakinkan bahwa ia memilikimu dan ia bayi dalam kandungannya,"
"Ditambah lagi kondisi fisiknya yang tidak baik. Aku tidak mau Baekhyun penyakitnya semakin parah bila keadaan menyiksa nya terus," ujar Kyungsoo lembut.
"Aku yakin kau bisa melakukannya," dukung Kyungsoo dengan senyum penuh kedamaian. Chanyeol menghela nafasnya dan mengangguk.
"Ku harap semuanya baik dan sesuai dengan harapanmu, Soo,"
.
.
Luhan melirik Sehun yang asik menonton televisi dengan gaya santainya. Mata rusanya melirik bekas makanan yang tergeletak di depan mereka.
"Aku harus mandi. Ku tinggal kau sebentar," ujar Luhan. Sehun menegakan tubuhnya dan tersenyum pada Luhan.
"Mandilah, anak gadis tidak boleh jorok,"
BUKK
"Aww," Sehun meringis saat Luhan memukul pundaknya dengan bantal dan pergi melenggang meninggalkan Sehun. Lelaki itu terkekeh dan melempar bantal keujung sofa. Sehun memperhatikan apartment yang berantakan dan tidak terurus.
"Huh, apa boleh buat,"
Sehun berdiri dan memasukan seluruh sampah bekas makananya kedalam kantung plastik kemudian membuangnya ke dapur. Dirasa belum bersih seluruhnya , Sehun mulai merapikan barang- barang yang berserakan di sekitar apartement Luhan. Bahkan Sehun sudah mulai mengambil Vacuum Cleaner dan menyedot karpet bulu juga setiap pojok ruangan. Hampir setengah jam berlalu, dan Luhan keluar dari kamarnya dengan keadaan bersih, rambut terurus dan makeup tipis di wajahnya. Setengah jam waktu yang pantas untuk dia habiskan mempercantik dirinya. Sebenarnya Luhan bingung dengan dirinya sendiri, mengapa ia repot - repot memakai make up setelah mandi? apa karena Sehun?
Tidak - Tidak, tidak mungkin karena Sehun, batinnya.
Luhan terkesiap saat mendengar suara dari ruang tengahnya. Ia berjalan cepat dan mengerutkan alisnya saat mendapati Sehun tengah membersihkan apartment nya dengan vacuum cleaner. Luhan terdiak di tempatnya, dan Sehun menyadari hal itu. Ia mematikan Vacuum cleaner dan tersenyum lebar pada Luhan. Sejenak Luhan terpana melihat penampilan Sehun dengan kemeja terbuka dan keringat di sekitar pelipisnya dan-
Wajah tampannya.
Luhan berdehem dan kembali memasang wajah angkuhnya,"Aku tidak mau membayarmu karena kau membersihkan apartmentku. Aku tidak pernah memintanya,"
Sehun mendorong vacuum cleaner ke tempatnya dan tersenyum lebar sambil menatap Luhan dengan tatapan menggoda.
"Tidak perlu bayaran, melihat kau cantik begini saja ini sudah lebih untukku,"
Panas di wajah Luhan menandakan bahwa sang empunya tersipu dengan pernyataan - yang bisa disebut pujian - dari lelaki didepannya. Sehun menatap Luhan dengan intens dengan senyuman menggodanya.
"Kau cantik,"
"Ck,"
Sehun berjalan menuju sofa dan menjatuhkan dirinya disitu. Luhan memperhatikan apartemen nya yang lebih bersih dari sebelumnya tanpa adanya sampah, ataupun barang - barang yang tergeletak di sekitarannya.
"By the way, aku tidak suka melihat kondisi berantakan. Jiwa maid ku keluar saat melihat tempat yang berantakan," ujar Sehun sambil duduk di sofa dan menatap Luhan.
"Terimakasih," ucap Luhan tanpa menghilangkan wajah angkuhnya. Sehun mengangguk dan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Luhan berdehem lalu berjalan dengan perlahan untuk duduk disamping Sehun. Dengan gugup Luhan menatap televisi yang menyala dihadapannya, padahal dirinya berusaha mati - matian menahan gugupnya saat Sehun dengan sengaja menggodanya. Sehun menatap Luhan dan tersenyum saat menyadari wanita di sampingnya ini terlihat lebih cantik setelah mandi dan mengurus dirinya.
"Karena cuaca sedang baik, bagaimana jika sore ini kita pergi berjalan - jalan keluar?" tawar Sehun. Luhan melirik Sehun sinis dan kembali menonton tayangan di hadapannya.
"Ayolah, kau sudah terlihat cantik begini. Sayang sekali jika penampilan secantik ini hanya bisa berdiam diri di apartment," pinta Sehun dengan seringaian. Luhan tidak bergeming, ia masih terdiam dan tidak menganggap adanya Sehun.
"Luhan,"
"Luhan," panggil Sehun lagi sambil mencolek - colek lengan Luhan. Merasa terganggu, Luhan pun menatap Sehun kesal lalu berdecak dan kembali melipat tangannya di dada.
"Oke?" tanya Sehun dengan wajah kekanakannya.
"Baiklah, tapi keringkan dulu keringat di tubuhmu itu euh, menjijikan,"
"Siap, Princess Lu. Untukmu apa saja kulakukan,"
Dan tanpa Sehun sadari, Luhan tersenyum tipis mendengar penuturan Sehun.
.
.
"Mama,"
Baekhyun membuka matanya dan mendapati Moonbin yang tersenyum di atas pangkuannya. Nafas Baekhyun tercekat dan air mata kembali memaksa untuk keluar dari matanya.
"Moonbin,"bisiknya. Baekhyun mengelus pipi gembul itu dan tersenyum di sela - sela tangisnya saat ia bisa merasakan bagaimana tangannya menyentuh wajah itu dengan nyata.
"Mama merindukanmu sayang," Baekhyun memeluk tubuh kecil itu . Baekhyun bersumpah bahwa ia dapat merasakan sosok Moonbin di pelukannya. Moonbin menepuk dada Baekhyun dan sang ibu melonggarkan pelukannya kemudian tersenyum menatap Moonbin. Baekhyun sempat melihat ke sekelilingnya dimana dia dan Moonbin tengah berada di atas hamparan bunga - bunga cantik yang Baekhyun sendiri tidak tahu ia dan Moonbin dimana.
"Apa Moonbin baik?" tanya Baekhyun kemudian menangis lagi. Moonbin tersenyum dan berusaha menghapus air mata Baekhyun. Tangan kecil Moonbin mengelus perut Baekhyun dan mengecupnya.
"Adik juga rindu dengan Moonbin," ujar Baekhyun sambil menghapus air matanya.
Moonbin berbicara, namun Baekhyun tahu bahwa sosok mungil di pangkuannya ini tengah menyampaikan pesan melalui hatinya. Moonbin memegang dada Baekhyun dan menatap mata sang ibu dengan mata polosnya. Seketika Baekhyun menangis keras saat Moonbin menyampaikan apa isi hatinya dari hati ke hati. Baekhyun memeluk Moonbin dan mengecup berulang pipi Moonbin
"Mama mencintaimu, terus dan selamanya,"
Setelah itu, Baekhyun merasakan tubuh Moonbin semakin dingin, dan bagai asa, tubuh kecil itu menghilang dari dekapan Baekhyun.
"M- Moonbin,"panggil Baekhyun dengan kesedihan yang mendalam.
"Tidak! Jangan pergi! hiks, jangan tinggalkan Mama," ujarnya frustasi.
"Moonbin," panggilnya lagi sambil berdiri dan melayangkan matanya ke sekelilingnya.
"Moonbin jangan tinggalkan Mama!"
"Moonbin dimana kau nak?"
"Moonbin,"
dan tubuh Baekhyun seakan tertarik ke dunia nyata ketika ia membuka matanya dan mendapati dirinya masih berada di atas tempat tidurnya.
"Moonbin,"
.
.
Sepulang kerja, Chanyeol mendapati Baekhyun yang sudah tertidur. Chanyeol menaruh tasnya dan duduk di samping Baekhyun sambil memperhatikan wajah istrinya. Chanyeol tersenyum sedih saat mendapati tubuh Baekhyun yang semakin kurus.
"Sampai kapan kau akan begini Baekhyun?" bisiknya. Chanyeol mengecup kening Baekhyun, kedua pipi nya dan terakhir bibir merahnya yang masih selalu indah dimata Chanyeol. Tak lupa, Chanyeol pun mencium perut Baekhyun dan mengelusnya lembut.
"Kau harus kuat disana sayang," ujarnya. Setelah itu ia pergi untuk membersihkan dirinya. Chanyeol menyalakan air dingin dan menyiram tubuh telanjangnya . Bulir - bulir air menyapa tubuhnya dan Chanyeol bersyukur bahwa hari ini setidaknya ia bisa melepas penatnya dengan mandi. Hanya dengan mandi ia bisa kembali menyegarkan kepalanya dan melupakan apa saja yang selalu menjadi beban pikirannya. Aroma sabun mint semakin menyejukan pikirannya dan Chanyeol memilih berlama - lama di kamar mandi.
Setelah dirasa bersih dan pikirannya cukup tenang, Chanyeol mengambil handuk kering dan segera memakai pakaian kering dengan bahan cotton dan celana boxer yang ia pakai. Chanyeol membuka pintu kamar mandi dan terkejut saat mendapati Baekhyun yang tengah menangis. Chanyeol melempar handuknya dan berlari kearah Baekhyun kemudian memeluk tubuh istrinya. Chanyeol diam membisu dan memilih untuk menenangkan Baekhyun dengan mengelus punggungnya. Baekhyun mengeratkan pelukannya ditubuh Chanyeol disertai suara tangisan yang menyayat hati sang suami.
"Hiks,"
"Sayang," bisik Chanyeol lembut sambil tetap mengelus punggung Baekhyun dan sesekali mengecup puncak kepalanya. Baekhyun melonggarkan pelukannya dan menatap Chanyeol dengan tetesan air mata yang terus membasahi wajah cantiknya. Chanyeol reflek menghapus air mata itu dan menatap Baekhyun.
"Moonbin," bisik Baekhyun. Chanyeol menelan ludahnya saat Baekhyun menyebutkan nama orang yang akan selalu membuat hati Chanyeol teriris.
"Ada apa dengan Moonbin?"
"Ia mendatangiku lewat mimpi, Chan," ujar Baekhyun berusaha menormalkan suaranya. Chanyeol menatap Baekhyun serius, dan tetap terdiam menunggu Baekhyun melanjutkannya.
"Ia terlihat lucu dan menggemaskan," Baekhyun tersenyum dan kembali menitikan air matanya, "Ia tidak berbicara tetapi ia menyampaikan sesuatu untukku," Chanyeol mengelus rambut Baekhyun dan mengecup keningnya dengan penuh cinta.
"Apa yang dia katakan?"
"Ia tidak mau melihatku bersedih. Sungguh itu menyiksanya, ia tidak mau adik didalam perut ku sedih, ia tidak mau melihatmu bersedih karena kepergiannya,"
Mata Chanyeol berat, air mata siap untuk tumpah dari kedua mata indahnya. Chanyeol seakan tersentuh dengan kata - kata yang Baekhyun katakan.
"Moonbin ingin terus bersama kita tetapi Tuhan menyayanginya," Baekhyun tersenyum sedih dan menghapus air matanya ,"Dan Moonbin ingin kita berdua bersama adiknya hidup bahagia, saling menjaga satu sama lain saat ia sudah pergi," sambung Baekhyun. Chanyeol membiarkan air mata mengalir menuruni pipinya. Baekhyun kembali terisak dan memeluk Chanyeol
"Moonbin mencintai kita, ia sangat mencintai kita,"
Pada akhirnya, Chanyeol pun memeluk Baekhyun erat dan menumpahkan kesedihannya bersama dengan Baekhyun malam itu. Keduanya saling menumpahkan rasa sedih, kesakitan dan kepahitan dalam diri mereka. Mereka saling memenuhi dan saling memeluk untuk menguatkan.
.
.
Chanyeol tersenyum di sela - sela tangisnya dan menatap Baekhyun yang sudah dapat mengontrol tangisannya.
"Aku lega kau seperti ini," ujar Chanyeol sambil menghapus air mata Baekhyun kemudian menghapus air matanya sendiri. Baekhyun masih terisak namun matanya sudah hidup dan tidak sedingin sebelumnya.
"Aku hampir mati melihatmu menahan tangisan dan kesedihan karena kepergian Moonbin. Aku tersiksa Baekhyun, aku sungguh tersiksa," keluh Chanyeol. Baekhyun menggeleng dan memegang tangan Chanyeol.
"Maafkan aku, Chan. Sungguh maafkan aku,"
Chanyeol memeluk Baekhyun dan mengecup puncak kepala Baekhyun dengan mesra. Baekhyun melingkarkan pelukannya ke pinggang Chanyeol dan mengecup bahu suaminya.
"Aku pun sama, merasakan kesedihan yang mendalam disaat aku masih ingin bersama Moonbin. Tapi keadaan mu yang seperti ini semakin membuatku tersiksa,"
Baekhyun tersenyum dan mengelus punggung Chanyeol. Baekhyun kembali membisikan kata maaf .
"Aku takut Baek. Kau berharga dimataku,"ujar Chanyeol lembut sambil mengeratkan pelukannya.
"Maafkan aku Chan. Aku hanya terlarut dalam kesedihan," ujar Baekhyun lemah .
Chanyeol melepas pelukannya dan menatap Baekhyun intens. Baekhyun mengelus wajah Chanyeol dengan lembut, merasakan tatapan penuh cinta dari Chanyeol.
"Jangan pernah mengulangi hal serupa. Berbagilah denganku, aku setia berada di sisimu sampai kapanpun," ujar Chanyeol penuh ketulusan. Baekhyun mengangguk dan tersenyum .
"Aku mencintaimu, Chan,"
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun dengan lembut dan melepas tautannya
"Aku mencintaimu dan akan selalu mencintaimu,"
.
.
"Ini enak sekali," seru Luhan sambil memakan es krim vanilla yang ia pegang. Luhan tersenyum dan menikmati kenikmatan es krim yang makan. Sehun tersenyum dan menggelengkan kepalanya kemudian kembali menikmati es krim green tea yang ia pesan. Keduanya tengah berjalan mengitari taman ditengah kota yang indah di malam hari. Beberapa jam cukup untuk mengakrabkan keduanya dan juga menghibur hati Luhan yang tengah bimbang.
"Kenapa beberapa hari kemarin kau seakan menghilang dari mula bumi ini?" tanya Sehun. Luhan menjauhkan es krim nya dan ekspresi sedih itu kembali tampak di wajah cantiknya.
"Bukan urusanmu" ujar Luhan sambil tersenyum paksa. Sehun menghabiskan es krim nya dan membuang nya saat hanya tersisa cone di tangannya.
"Pertemuan terakhir kita itu, memberi dampak pada mu ya?" tanya Sehun sambil menatap Luhan . Wanita berdarah Cina itu membalas tatapan Sehun dan ia mengangguk pelan. Luhan tersenyum sedih dan menatap es krimnya.
"Mungkin ini memang salahku, menjadi pihak ketiga diantara kedua orang yang sebenarnya saling mencintai," ujarnya dengan nada sedih. Sehun menatap wajah cantik itu, dan sedetik kemudian, Sehun sudah menggengam tangan Luhan yang bebas. Luhan menatap Sehun dan yang ia dapati hanya senyuman manis Sehun yang menenangkan dan seakan menguapkan kesedihannya dari dalam hati.
"Kau tidak usah bersedih. Aku akan menjagamu disaat kau kesepian atau butuh perlindungan," ujarnya mantap. Luhan terdiam beberapa saat kemudian tertawa dan kembali memakan eskrimnya.
"Hehehe,"
"Kenapa tertawa?" ujar Sehun kesal.
"Apa ini pernyataan cinta?" tanya Luhan dengan senyum lebar nan jahil. Sehun mendengus dan mengeratkan kaitan jemarinya di jemari Luhan.
"Bisa dibilang,"
Luhan menghentikan langkahnya dan menatap Sehun dengan tatapan serius. Sehun membalas tatapan itu dan meremas lembut jemari Luhan.
"Tapi," ujar Luhan. Sehun mengerutkan alisnya.
"Kenapa?"
"Tapi," Luhan menggaruk pelipisnya dengan bingung, dan Sehun dibuat gemas dengan tingkah wanita dihadapannya.
"Kenapa Lu?"
Luhan mendekatkan bibirnya ke telinga Sehun dan seketika Sehun menegang saat merasakan terpaan nafas hangat Luhan disekitar telinganya. Luhan tersenyum jahil dan semakin mendekatkaj bibirnya ke telinga Sehun, tanpa tahu efek pada lelaki berkulit putih itu
"Tapi aku tidak suka pria cadel. Bagaimana ini?"
Sehun membelalak. Luhan menjauhkan tubuhnya dan tersenyum jahil
"Banyak - banyaklah belajar melafalkan huruf R ya," Setelah itu Luhan tertawa dan berlari meninggalkan Sehun. Lelaki berkulit putih itu seketika sadar dan membelalak saat mendapati Luhan yang sudah berlari di hadapannya.
"Yak! Baiklah aku akan belajar melafalkan huruf R agar kau bisa menerimaku jadi kekasihmu!" teriak Sehun tanpa peduli orang - orang disekitarnya memperhatikan dia. Luhan melihat Sehun dari jauh, perempuan itu memiringkan kepalanya dan menjulurkan lidahnya pada Sehun.
Tetapi Sehun tidak mengejarnya. Ia hanya tersenyum dan terkekeh saat melihat sosok Luhan yang semakin jauh darinya.
.
.
Chanyeol tersenyum saat paginya di sambut dengan senyuman manis Baekhyun yang menatapnya dari sisi ranjangnya.
"Selamat pagi ibu hamil yang cantik,"
"Selamat pagi Yeollie," sapanya. Chanyeol tidak bohong, Baekhyun sungguh cantik pagi ini . Wajah ayu nya menyegarkan matanya dan Chanyeol tidak bisa menahan tangannya untuk menyentuh wajah itu.
"Tidur nyenyak?" tanya Baekhyun.
"Selalu jika kau berada di sisiku," gombal Chanyeol pagi itu. Baekhyun menggeleng dan menerima pelukan Chanyeol saat lelaki itu merentangkan tangannya meminta pelukan.
"Sungguh menyayangimu Baekhyun," bisik Chanyeol. Baekhyun mendongakan kepalanya dan tersenyum
"Siapa?"tanya Baekhyun.
"Yang menyayangimu?" tanya Chanyeol dengan wajah jahilnya. Baekhyun mengangguk
"Oranglain,"
"Chanyeol!" Baekhyun memajukan bibirnya kesal. Chanyeol terkekeh dan mengecup bibir Baekhyun.
"Tentu saja aku Baekhyun," ujar Chanyeol tulus. Chanyeol kembali memeluk Baekhyun dan mengecup ujung kepalanya.
"Aku yang sangat menyayangimu, tidak ada yang lain,"
Baekhyun tersenyum penuh haru di dalam dekapan Chanyeol dan mengeratkan pelukannya,"Jangan lagi memendam apa- apa sendiri karena ada aku yang setia menjagamu disini, Sayang. Kau janji?" tanya Chanyeol.
"Iya aku berjanji," tutur Baekhyun dalam pelukan Chanyeol. Lelaki itu mengelus rambut Baekhyun penuh sayang.
Ada satu hal yang membuat Chanyeol harus menahan kepedihannya kembali pagi itu. Dimana dia mendapati sejumput rambut Baekhyun yang berada di genggamannya. Rambut istrinya sudah mulai rontok dan Chanyeol berjanji bagaimanapun keadaannya, ia akan terus menjaga Baekhyun, bahkan sampai kapanpun Chanyeol akan selalu menjaganya.
.
.
Chanyeol menahan tangisnya saat Baekhyun kembali memuntahkan isi perutnya setelah kemoterapi berlangsung. Chanyeol dengan sigap mengelus leher Baekhyun dan membiarkan istrinya kembali memuntahkan isi perutnya ke dalam wadah besar khusus pasien rumah sakit. Sang suster yang sedari tadi membantu proses kemoterapi Baekhyun hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan Baekhyun.
"Tidak apa - apa, ini hanya efek dari cairan yang disuntikan tadi," ujarnya santai. Chanyeol mendudukan tubuhnya di belakang Baekhyun dan menyenderkan tubuh ringkih itu di dadanya. Sambil menaruh wadah berisi muntahan Baekhyun di lantai, Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun.
"Lemas sekali," keluh Baekhyun. Chanyeol tersenyum sambil mengeratkan pelukannya di perut Baekhyun.
"Tidak apa - apa, ada aku disini,"
"Mungkin baby disini juga ikut memberontak," ujar Baekhyun lemas sambil mengelus perutnya yang sudah memasuki usia 3 bulan.
Chanyeol ikut mengelus perut Baekhyun berulang sampai Baekhyun merasa nyaman dan tidak lagi merasakan mual. Hanya lemas saha yang tersisa ditubuhnya.
"Baby Papa, jangan rewel ya. Kasihan Mama di sini tersiksa," ujarnya dengan suara yang dibuat - buat seperti anak kecil. Suster ikut terkekeh mendengar penuturan Chanyeol.
"Kalian terlihat bahagia," ujar Suster itu sambil berjalan mendekati Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun tersenyum dan mengelus tangan Chanyeol yang ada di perutnya.
"Kalau begitu kutinggal dulu. Ruangan ini boleh dipakai dahulu oleh Nyonga Park sampai benar - benar pulih keadaan tubuhnya setelah efek kemoterapi," ujar Suster itu dengan berwibawa.
"Terimakasih suster," ujar Chanyeol sambil menundukan kepalanya, begitu pula Baekhyun yang tersenyum saat mendapati suster itu meninggalkan mereka berdua di ruangan.
"Kalau rambutku semakin hari semakin menipis, apa kau masih mencintaiku?" tanya Baekhyun sambil menyandarkan punggungnya ke dad Chanyeol. Sang suami tersenyum dan mengecup pipi Baekhyun sambil mengeratkan pelukannya.
"Tentu, bahkan jika rambutmu hanya tersisa selembar, atau bahkan rambutmu habis aku akan selalu mencintaimu,"
"Tadi pagi aku mendapati banyak sekali rambutku di bantal. Aku tahu efeknya akan seperti itu," ujar Baekhyun sedih. Chanyeol menghela nafasnya dan membalikan tubuh Baekhyun sehingga mereka saling berhadapan. Dengan lembut Chanyeol mengecup bibir pucat itu dan mendekatkan hidung mereka satu sama lain.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikanmu meskipun rambutmu rontok, kau tetap tercantik dimataku,"
"Gombal," gemas Baekhyun sambil mencubit hidung Chanyeol.
"Aku jujur sayang, kenapa kau selalu berpikir ini hanya gombalan ku semata?" ujar Chanyeol sambil memajukan bibirnya.
Keduanya terkesiap saat ponsel dari Chanyeol berbunyi. Chanyeol segera mengangkat teleponnya dan segera menempelkannya di telinganya.
"Annyeong,"
Baekhyun terdiam, penasaran dengan siapa seseorang yang menelepon Chanyeol siang itu.
"Melahirkan?!"
Baekhyun membelalakan matanya dan langsung teringat akan Kyungsoo saat kata itu meluncur dari mulut Chanyeol.
"Baiklah, aku berada di Rumah Sakit yang sama bersama Baekhyun,"
Chanyeol terdiam beberapa saat kemudian mengakhiri sambungan teleponnya. Baekhyun menatap Chanyeol penuh tanya, dan Chanyeol hanya mengusap wajah Baekhyun dengan lembut,"Kyungsoo melahirkan," ujar Chanyeol saat melihat ekspresi penuh tanya dari Baekhyun.
"Ah,kalau begitu ayo kita kesana. Kau bilang ia melahirkan di Rumah Sakit ini kan?" tanya Baekhyun antusias. Chanyeol memegang tangan Baekhyun dan menggeleng.
"Chan?" tanya Baekhyun sambil mengerutkan alisnya.
"Tidak. Kita akan tetap disini sampai keadaanmu membaik," ujar Chanyeol lembut.
"Chanyeol, aku tidak bisa diam disini dan tidak menyambut jiwa baru yang lahir ke dunia ini," balas Baekhyun tak kalah lembut.
"Hari ini adalah hari bahagia Kyungsoo dan aku tidak mau melewatinya," ujar Baekhyun sambil tersenyum. Chanyeol masih menampakan ekspresi bimbang. Baekhyun dengan senyum manisnya memajukan wajahnya dan mengecup bibir tebal Chanyeol sambil menutup matanya. Baekhyun menempelkan keningnya dengan kening Chanyeol, dan menatap mata Chanyeol yang menyiratkan kehangatan.
"Lagipula ada kau, kau kan selalu menjagaku," bisik Baekhyun. Chanyeol menatap Baekhyun beberapa saat dan menghela nafasnya
"Baiklah, baiklah, aku tidak bisa tidak mengabulkan keinginanmu,"
.
.
Kyungsoo tersenyum lebar penuh bahagia saat Jongin mencium keningnya. Ia melirik Kyungin yang tertidur di pangkuan Jongin.
"Aku bahagia sekali," bisik Kyungsoo. Jongin merangkul bahu Kyungsoo dan tersenyum menatap bayi nya yang tengah di gendong oleh Baekhyun.
"Wah, wajah yang kedua ini mirip sekali dengan Jongin," ujar Chanyeol sambil mengelus pipi anak kedua Kyungsoo yang tengah Baekhyun gendong . Dengan penuh kelembutan dan rasa ke ibuan, Baekhyun mendekatkan kepalanya ke arah si bayi dan mendekatkan hidung mereka. Chanyeol melirik Kyungsoo, begitupun Kyungsoo yang ikut menatap Chanyeol balik dan tersenyum seakan memberi pengertian. Chanyeol tersenyum lembut dan kembali mengelus pipi keponakan keduanya.
"Akan kau beri siapa si tampan ini Soo?" tanya Baekhyun sambil menepuk pelan pantat bayi itu. Kyungsoo menatap Jongin, dan sang suami pun mengangguk mengiyakan. "Taeoh, Kim Taeoh,"
"Nama yang indah," lirih Baekhyun.
Kyungsoo mendapati betapa lembutnya sikap Baekhyun kepada bayi nya. Baekhyun memang diciptakan untuk menjadi seorang wanita yang berhati lembut dan tulus.
"Eonnie,"
"Ya?" jawab Baekhyun . Chanyeol mengambil alih Taeoh dan menimangnya dengan lembut.
"Kemari," panggil Kyungsoo sambil menggerakan tangannya, menyuruh Baekhyun untuk mendekat. Baekhyun duduk di samping Kyungsoo dan menerima uluran tangan adik ipar nya itu.
"Terima kasih, karena berkatmu aku dan Taeoh masih ada sampai sekarang. Kalau kau tidak menolong kami saat itu, mungkin ini semua hanya mimpi dan tidak pernah terjadi," tanpa sadar Kyungsoo menitikan air matanya kembali. Chanyeol dan Jongin yang berada dalam situasi tersebut hanya mampu terdiam ketika dua wanita yang mereka sayangi terlarut dalam keadaan mengharukan satu sama lain.
"Terimakasih, aku tidak bisa lagi mengutarakan rasa terimakasihku," ujar Kyungsoo sambil menggenggam tangan Baekhyun erat. Baekhyun bahkan tak sanggup lagi menahan air matanya, dengan sigap ia memeluk tubuh Kyungsoo dan menepuk punggungnya dengan lembut. Chanyeol disana memperhatikan keduanya sambil mengalihkan air matanya yang hampir turun dengan memperhatikan bayi kecil yang berada dalam gendongannya.
"Karena kalian berdua berharga, aku tidak mau nyawa mu dan bayi mungil itu terancam dan aku rela melakukan apapun untuk kalian berdua," tulus Baekhyun. Kyungsoo memeluk Baekhyun erat dan menangis terisak. Baekhyun menjauhkan tubuhnya dan tersenyum menatap Kyungsoo. Ia menghapus air mata Kyungsoo dan ibu jarinya dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.
"Hari ini hari yang berbahagia untukmu dan Jongin, kau tidak boleh menangis,"
Jongin tersenyum dan menatap haru Baekhyun saat itu. Ia memeluk tubuh Kyungsoo dan menenangkan sang istri. Kyungsoo menghapus air matanya dan mengelus perut Baekhyun dengan lembut.
"Dan aku akan membalas semuanya dengan menjaga ibu dan bayi yang ada di dalam kandungan ini," ujar Kyungsoo dengan senyum tulusnya.
Baekhyun tersenyum dan bersyukur dalam hati bawa hari - harinya setelah kehilangan Moonbin akan terganti dengan orang - orang yang mencintai nya dan menjaganya dengan segenap hati.
Baekhyun bersyukur akan itu semua.
.
.
5 Month Laters,
.
Chanyeol sudah tak tahu berapa liter air mata yang ia tumpahkan hanya untuk Baekhyun.
Chanyeol sudah tak dapat menghitung berapa kali matanya pedih menahan air mata yang memaksa untuk tumpah dari kedua mata besarnya.
dan Chanyeol sudah tidak dapat menghitung berapa kali ia tersenyum menatap Baekhyun dibalik keadaannya yang tidak baik dari hari ke hari.
Chanyeol tahu bahwa kanker yang dialami Baekhyun semakin hari tidak semakin baik, malah semakin memburuk . Chanyeol tahu karena ia memperhatikan kondisi istrinya setiap saat. Namun, Chanyeol bersyukur karena meskipun penyakit itu menyerang tubuhnya dari hari ke hari, tetapi keadaan Baekhyun terlihat baik - baik saja dan semakin membaik. Tubuhnya tidak sekurus dahulu, pipi berisi dan tubuh itu seringkali memancing Chanyeol untuk mencubitnya ataupun memeluknya. Wajahnya semakin berseri dan senyuman tidak pernah lepas dari wajah ayu nya. Meskipun Chanyeol sering kali mendapati nya lemas sehabis terapi ataupun muntah dan efek samping lain yang akan menimpa seseorang yang baru saja mendapat perawatan instensif seperti kemoterapi. Bahkan kandungannya baik, beberapa hari lalu Baekhyun menangis terharu karena dokter mengatakan kondisi bayinya sehat dan pergerakannya aktif. Chanyeol bersyukur dan berjanji akan menjaga kedua cintanya dengan segenap darah dan jiwanya.
Bahkan, Chanyeol bersyukur bahwa Baekhyun saat ini sudah tidak lagi menangisi kepergian Moonbin, ataupun meratapi almarhumah bocah kecil itu sepanjang hari. Karena Chanyeol akan menjadi orang pertama yang akan mengalihkan rasa sedihnya ataupun menghibur Baekhyun dan meyakinkan bahwa Moonbin disana sudah tenang, tidak perlu ditangisi kembali karena keikhlasan dan rasa menerima atas kepergiannya adalah pengantar yang baik untuk arwah Moonbin disana. Begitupula Chanyeol sendiri, sebagai pihak yang di andalkan, ia akan berusaha menekan kepedihan itu, belajar mengikhlaskan dan tetap mencintai Moonbin meskipun sang anak telah berpulang.
"Chanyeol, kalau aku pakai wig bagaimana?" tanya Baekhyun sambil menimang wig panjang berwarna cokelat dengan ujung ikal yang cantik. Dan Chanyeol harus kembali tersenyum saat ia mendapati Baekhyun yang tengah duduk didepan cermin dengan pakaian khas ibu hamil dan rambutnya yang beberapa hari lalu ia pangkas habis sampai tak bersisa.
Baekhyun sudah kehilangan rambutnya .
Chanyeol tidak akan pernah berhenti berkata bahwa istrinya itu cantik, bahkan ketika rambut di kepalanya habis.
"Tidak usah,"
Baekhyun membalikan tubuhnya dan cemberut menatap Chanyeol yang saat ini tengah berbaring diatas kasur dengan laptop di pahanya. Chanyeol tersenyum dan menaruh laptopnya di meja kemudian menepuk sisi kasurnya seakan memerintah Baekhyun untuk berbaring di sisinya. Baekhyun menghela nafas dan menaruh wig itu kedalam laci meja rias nya. Dengan kondisi tubuhnya yang harus membawa nyawa lain, Baekhyun berjalan dengan perlahan dan membaringkan tubuhnya di sisi Chanyeol dengan hati - hati.
"Kau yang meminta memangkas rambutmu, tapi kau sendiri yang ingin menutupinya dengan wig, hm," ujar Chanyeol lembut sambil mengelus perut buncit Baekhyun.
"Aku hanya," Baekhyun menelan ludahnya dan menghela nafasnya," tidak siap saja ketika orang - orang melihat keadaanku,"
Chanyeol mengelus pipi Baekhyun dan mencium bibir Baekhyun dengan lembut. Memeluk pinggang itu, dan tersenyum saat Baekhyun ikut merespon ciuman yang ia berikan. Chanyeol melepas pagutannya dan tersenyum saat Baekhyun menatapnya.
"Ayolah, kau tetap cantik dengan rambutmu yang seperti ini. Tidak usah di tutupi, percayalah padaku,"
"Benarkah?"
"Apa selama ini aku selalu berbohong?"
"Tidak," ujar Baekhyun sambil tersenyum lebar. Chanyeol mengecup pipi Baekhyun dan mengelus perut besar Baekhyun dengan lembut.
"Apa sepanjang hari selama aku pergi Baby baik - baik saja?"
"Dia sangat baik dan aktif. Aku sampai kewalahan karena tingkahnya," ujar Baekhyun sambil tertawa kecil mengelus perutnya. Chanyeol bangkit dan menempatkan kepalanya diatas perut Baekhyun kemudian menciumnya berulang
"Anak Papa ini semakin hari semakin tidak sabar ya untuk bertemu kedua orang tuamu dan melihat dunia?" tanya Chanyeol dengan nada kanak - kanak. Baekhyun terkekeh melihat tingakah suaminya.
"Kalau begitu nanti ketika kau lahir, Papa akan mengajakmu bermain, melakukan apa saja yang kau suka. Karena ku pikir sifatmu akan sama seperti Papa yang aktif dan tidak bisa diam," ujar Chanyeol sambil memasang wajah berpikir.
"Kuharap bayi kita akan semenawan dirimu,"bisik Chanyeol sambil menatap Baekhyun.
"Tentu saja, ia memiliki ayah yang tampan dan mempesona," ujar Baekhyun sambil merapikan anak rambut Chanyeol yang turun menutupi dahinya. Chanyeol dengan hati - hati menempatkan kedua tangannya disamping kepala Baekhyun, kemudian menempelkan kedua hidung mereka dengan mesra.
"Dan si tampan mempesona ini akan selalu mencintai si menawan yang selalu berhasil membuat hatinya porak poranda,"
Baekhyun tersenyum saat Chanyeol kembali mencium bibirnya dengan lembut dan menyesapnya dengan penuh perasaan, serta cinta kasih yang tulus.
.
.
Pagi harinya, Baekhyun dibuat heran dengan kondisi sisi tempat tidurnya yang kosong. Dengan kepala sedikit pusing karena baru saja bangun dari tidurnya, Baekhyun melirik jam yang berada di meja samping tempat tidurnya.
"Masih pukul setengah 6," ujar Baekhyun. Ia terdiam sesaat ketika matanya menangkap segelas susu yang masih hangat beserta notes di sisi gelas itu. Baekhyun mengambil notes itu dan membacanya,
From : Chanyeol, kekasihmu.
Selamat pagi ibu hamil yang cantik :* nikmatilah segelas susu hangat ini agar hari - harimu menyenangkan dan baby didalam sana sehat. Sampaikan salam ku untuk anak kita tersayang.
Baekhyun terkekeh dan meminum susu yang ia yakini Chanyeol yang menyiapkannya. Setelah habis, ia menaruhnya kembali dan melihat kesekeliling kamarnya.
"Kemana Chanyeol?" bisiknya.
Pintu pun terbuka, namun Baekhyun harus kecewa karena itu bukan Chanyeol, melainkan Tao dan Kyungsoo yang masuk dengan senyuman di bibir mereka.
"Selamat pagi, Eonnie," sapa mereka. Baekhyun tersenyum dan menerima pelukan mereka dengan hangat.
"Apa kabarmu?" tanya Kyungsoo sambil mengelus perut Baekhyun.
"Aku sangat baik,"
"Kau terlihat semakin sehat," ujar Tao.
"Harus, karena aku membawa nyawa lainnya dalam perut ini," ujar Baekhyun sambil menunjuk perutnya,"Ngomong - ngomong, tumben sekali kalian berdua datang pagi - pagi begini? ada apa?" tanya Baekhyun penasaran. Tao dan Kyungsoo saling berpandangan kemudian tersenyum pada Baekhyun.
"Kami akan membawamu ke suatu tempat," ujar Kyungsoo. Baekhyun mengerutkan alisnya bingung.
"Suatu tempat?"
"Yap! Karena hari ini adalah hari dimana kau akan menjadi ratu sehari," ujar Tao penuh kebahagiaan.
"Maksud kalian?" tanya Baekhyun bingung.
"Kami berdua akan mengubahmu menjadi ratu sehari, Eonnie. Maka dari itu sekarang kau harus mandi dan bersiap - siap, kami akan membantumu," ujar Kyungsoo dengan semangat dan membantu Baekhyun untuk bangkit dan berbenah. Baekhyun yang masih dilanda kebingungan hanya mengikuti suruhan Tao dan Kyungsoo , dua wanita ceria dan penuh semangat itu.
.
.
Benar apa yang dikatakan Kyungsoo, Baekhyun bak ratu hari ini. Tao dan Kyungsoo dengan semangat mengantar Baekhyun ke salon, melakukan perawatan di seluruh tubuh wanita itu dan jangan lupa memberikan pijatan refleksi khusus ibu hamil, dan hal seperti ini adalah hal pertama bagi dirinya semur hidup. Ia tidak pernah di perlakukan seperti ini, bahkan ke salon pun adalah hal yang pertama baginya. Baekhyun ersenyum saat mendapati tubuhnya yang harum dan terasa relax karena pijatan - pijatan aromatherapy itu. Hampir setengah hari mereka habiskan untuk memanjakan Baekhyun di salon.
Setelah selesai, Kyungsoo dan Tao kembali membawa Baekhyun ke rumahnya.
"Tao, Kyungsoo, berapa biaya yang kalian keluarkan untuk mengajakku ke tempat seperti itu? Aku akan membayar-"
"Tidak usah," tolak Kyungsoo dengan halus. Wanita beranak dua itu mengelus pipi Baekhyun dan tersenyum.
"Anggap saja ini hadiah dari kami berdua,"
"Hm, kami ingin memberikan yang terbaik untukmu Eonnie," ujar Tao penuh ketulusan. Baekhyun tersenyum dan menggengam kedua tangan iparnya dengan lembut.
"Terima kasih," ujarnya. Tapi Baekhyun teringat kembali keanehan pada hari ini, ia mengerutkan alisnya dan menatap Kyungsoo serta Tao bergantian," Sebenarnya aku bingung, mengapa kalian memberikan ini semua padaku?"
"Karena kau akan menjadi ratu sehari ," ujar Kyungsoo penuh misteri. Baekhyun menghela nafas mendengar kalimat itu lagi.
"Ayo, sekarang kau harus kembali kekamarmu karena kau akan bertemu tim khusus untuk mengubahmu," ujar Tao sambil memegang tangan Baekhyun dab berjalan menuju kamar Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun kembali dibuat bingung, apalagi saat dirinya masuk kedalam kamar dan mendapati beberapa orang tak dikenalnya menyambutnya.
"Nah, kalian semua harus mengubah nyonya ini menjadi ratu dan biarkan semua orang terpana menatapnya, siap?"
"Tentu. Kemari nyonya, kami akan merias anda dengan sebaik mungkin," ujar salah satu wanita muda berambut merah yang tengah tersenyum pada Baekhyun.
"Kami pergi dulu ya. Biar sekarang giliran mereka yang melayani Eonnie. Bye Eonnie!Sampai jumpa nanti," ujar Kyungsoo sambil menarik Tao dan berjalan keluar dari kamar meninggalkan Baekhyun beserta beberapa orang yang diyakini Baekhyun adalah penata rias karena dilihat dari tas - tas besar yang mereka bawa berisi peralatan make up.
"Kau siap nyonya?" tanya wanita muda itu .
"Sebentar, sebelum kalian mendandaniku, aku mau bertanya," ujar Baekhyun.
"Silahkan,"
"Mengapa kalian tiba - tiba akan meriasku? Maksudku, ada apa ini?" tanya Baekhyun bingung. Salah satu perias berambut pendek tersenyum pada Baekhyun.
"Kami hanya diperintahkan untuk meriasmu,Nyonya,"
Baekhyun kembali menghela nafas mendapati jawaban yang tidak pasti dari kedua sumber baik Kyungsoo serta Tao dan para perias ini. "Baiklah, bisa kita mulai merias anda?"tanya salah satu perias.
"Iya,kuserahkan pada kalian,"ujar Baekhyun dengan senyuman dan keyakinan.
.
.
Dan saat Baekhyun menatap wajahnya di depan cermin, ia terdiam beberapa saat. Tidak mempercayai bahwa saat ini paras dengan riasan cantik nan sederhana , dengan lipstick berwarna merah muda lembut, dan juga mata indah yang telah dirias sedemikian rupa oleh para perias ini adalah dirinya. Baekhyun tersenyum dan menatap wajahnha takjub.
"Anda memang cantik Nyonya, riasan ini cocok untuk anda," puji salah satu perias.
"Terima kasih," ujar Baekhyun atas pujian tersebut.
"Apa sudah selesai?"tanya suara yang berasal dari balik pimtu. Baekhyun membalikan tubuhnya dan mendapati Kyungsoo dan Tao sudah berpenampilan cantik dengan makeup tipis dan gaun berwarna peach yang manis. Kyungsoo membelalakan matanya, begitupula Tao.
"Baekhyun Eonnie?" tanya Kyungsoo tidak percaya.
"Ini kau?" tanya Tao sambil memperhatikan Baekhyun dari atas sampai bawah.
"Iya ini aku. Siapa lagi, Tao," ujar Baekhyun gemas.
"Kau terlihat sangat cantik," ujar Kyungsoo sambil mengelus wajah Baekhyun.
"Baiklah, sekarang tinggal memakai gaun, " ujar Tao sambil mengambil gaun yang berada didalam tas jinjing kertas besar yang terletak di atas kasur.
"Tunggu sebentar," ucap Baekhyun dan berhasil membuat seluruh mata menatap padanya. Baekhyun menatap mereka satu persata dengan mata indahnya.
"Ada apa eonnie?" Tanya Tao.
"Bolehkah aku memakai wig ku?"tanya Baekhyun polos.
.
.
Baekhyun menatap dirinya gaun yang sudah menempel ditubuhnya dengan kagum. Gaun malam berwarna peach, dengan lengan panjang namun beraksen di bagian pinggang dan terlihat manis dengan perutnya yang membuncit. Juga rambut palsu nya yang menempel di kepalanya dengan indah. Baekhyun mengelus perutnya dengan lembut. Saat ini, ia dan Kyungsoo serta Tao sedang berada didalam mobil yang entah kemana mereka akan membawa Baekhyun.
"Kau terlihat sangat cantik," ujar Tao yang duduk di sebelah kiri Baekhyun. Kyungsoo mengiyakan sambil menepuk punggung tangan Baekhyun.
"Terimakasih untuk kalian," ujar Baekhyun sambil mengelus kedua tangan Kyungsoo dan Tao disampingnya.
"Kami senang jika kau senang," ujar Tao penuh tulus.
Mobil yang di kemudikan supir keluarga Park, Choi Ajushi berhenti disebuah gedung dengan hiasan lampu - lampu yang elegan dan indah.
"Kita sudah sampai , Nyonya,"
Baekhyun menatap gedung itu dan terpana memperhatikan betapa indahnya bentukan gedung itu, tanpa sadar Chanyeol telah datang dari dalam gedung itu dengan tuxedo hitam nya dan penampilannya yang memukau. Tao tersenyum mendapati Baekhyun yang tidak menyadari kehadiran Chanyeol. Dengan inisiatif Tao membuka pintu mobil dan keluar dari mobil, membiarkan Chanyeol menyapa Baekhyun dengan leluasa. Chanyeol terkekeh melihat kepolosan istrinya yang tidak menyadari kehadirannya, ia membisikan kata 'terima kasih' pada Tao dan tersenyum sambil sedikit membungkukan tubuhnya untuk menyapa Baekhyun.
"Selamat malam, cantik. Kau sudah siap untuk malam ini?"
"Chanyeol?"
.
.
TBC
.
.
AUTHOR's NOTE:Gamau bikin Baekhyun sedih terus! Sekarang waktunya Baek bahagia!Sebelumnya maafin icha yang bikin Moonbin pergi T_T gatega tapi demi kelangsungan cerita :( Moonbin kuhhh~
.
Akhirnya icha resmi jadi Monalisa Elisabeth, S.H yey!
.
Hai hai, ketemu lagi ama icha yang hiatus nya kepanjangan. Hehehe maafin ya kalo icha mungkin kelamaan hiatus, tapi yang jelas icha kenapa hiatus karena gw kemaren - kemaren lagi sibuk selsein skripsi, daftar wisuda sana sini karena kampus gw tuh ribet banget ngurusin wisuda, dan setelah wisuda sibux jadi Jobseeker . But, aku luangin waktu buat selsein FF ku yang belum rampung kok tenang aja :)
.
Makasih banyak buat yang sering ingetin FF atau kangen ama FF gw. Kalian masih aja inget ya ama FF gw yang kadang bikin baper dan gajelas (?) semoga gw cepet cepet selsein dan namatin FF ini deh biar kalian ga nunggu lama hehhee
.
Jangan lupa review ya! :* ditunggu sangat loh! xoxo
