Disclaimer : All Character Belong to Masashi Kishimoto
Warning : Mature Content
.
The Heiress and The Bartender
.
.
Chapter 14
Tragedy
"Kau harus menculik Ino dan aku bisa membantumu"
Sai terdiam sejenak berpikir, "Itukah Idemu?, Menculik Ino urusan mudah tapi aku yakin Ino akan sangat marah karena aku tak menghormati keputusannya"
"Ayolah Sai apalah arti kemarahan Ino. Ini demi menyelamatkan masa depan mereka dari pernikahan yang tak bahagia"
"Deidara aku paham maksud baikmu. Aku juga tidak mau dia menikahi Itachi tapi aku ingin menghormati keinginannya. Bila dia benar-benar mencintaiku dia akan datang sendiri padaku"
"Kau masih yakin soal itu?, Kau ternyata sangat bodoh Shimura. Aku tidak sepertimu, Pasrah begitu saja" Deidara pergi meninggalkan kantor Sai dengan marah.
Deidara tak mengerti mengapa Sai Shimura begitu lembek. Padahal kalau dia mau memanipulasi Ino sedikit saja wanita itu akan kembali padanya dan Ino akan meninggalkan Itachi sendirian. Pria berambut pirang itu masih berada di lobby gedung Shimura. Dia menggigit bibir bawahnya berpikir mencari solusi yang cepat untuk menghalangi Ino menikah. Sungguh sebuah kebetulan Orochimaru melintas di hadapannya.
Mantan orang nomor satu di Shimura corp itu tampak kesal. Dia dipaksa datang untuk membicarakan masalah kompensasi pengunduran dirinya dan menghapus semua akses yang dia miliki di perusahaan itu. Sai melakukan segala cara untuk membuatnya tak lagi terlibat dalam perusahaan Shimura. Anak itu sungguh menyebalkan.
Deidara langsung mengejar pria itu "Tuan Orochimaru, Apa anda punya waktu?"
Pria bermata tajam itu berhenti sebentar "Siapa kau, Apa yang kau perlukan dariku"
"Aku tahu kau menemui Itachi Uchiha dan aku ingin membantumu menjatuhkan Shimura dengan syarat kau juga membantuku"
"Kelihatannya proposal mu cukup menarik. Lebih baik kita bicarakan ini di tempat lain"
Deidara mengangguk. Mereka pun pergi meninggalkan Shimura Building untuk merencanakan sesuatu yang sepertinya akan merugikan Sai dan Itachi.
.
.
Besok hari pernikahannya. Ino merasa tak tenang dan tak siap. Dia kabur meninggalkan semua urusannya untuk pergi ke pantai. Musim panas telah berakhir tapi cuaca masih cukup hangat. Ino melepas blazernya dan meninggalkan sepatunya di mobil. Ia berjalan bertelanjang kaki di atas pasir.
Riak-riak ombak menyapu kakinya. Ujung gaun tosca yang dia kenakan basah. Langit dan laut begitu biru dan embusan angin beraroma garam membelai rambut pirangnya yang tergerai. Ino terus melangkah menyusuri pantai yang landai mencoba mencari ketenangan. Tak lama lagi matahari akan terbenam.
Ino menoleh ke arah tempat parkir berharap seseorang datang. Dari tempatnya berdiri Ino bisa melihat sebuah mobil ferarri hitam terparkir di sebelah mobilnya. Sang pengemudi turun dan terlihat sedang mencari-cari seseorang. Sudut mulut Ino terangkat tapi matanya menatap sosok itu dengan sendu. Dia melangkah kembali menuju mobilnya.
Sai terkejut tiba-tiba menerima pesan yang singkat tanpa penjelasan dari Ino. Tanpa berpikir panjang dia meninggalkan kantornya menuju tempat ini. Hanya ada mobil Ino terparkir di pantai. Dimana wanita itu?
Dengan panik dia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Untuk apa wanita itu datang ke pantai yang begini sepi sehari sebelum hari pernikahannya?
Sai merasa lega ketika di kejauhan dia melihat sosok wanita berjalan menyusuri pantai yang sepi seorang diri. Rambut pirangnya melambai tertiup angin. Wanita itu menoleh. Menyadari Sai ada di sana. Ino berbalik arah dan melangkah untuk menemuinya.
Sai seperti halnya Ino membuka sepatu dan kaus kakinya. Dia melepaskan dasinya dan menyimpannya di saku celana. Dia melangkahkan kakinya menemui wanita itu.
Mereka bertemu di tepian pantai. Riak-riak air laut bergelung di kaki mereka yang menapaki butiran pasir putih. Hanya suara deburan ombak dan pekikan camar terdengar menyamarkan suara detak jantung Sai yang berdebar-debar. Memandang Ino yang terlihat rapuh dan menawan.
"Sai" Nama pria itu terlontar dari bibir mungilnya.
"Mengapa kau memintaku kemari? Padahal selama ini kau menghindariku"
"Kau sudah dengar aku akan menikah besok?"
"Aku tahu. Calon suamimu bahkan dengan lancang mengirim undangan padaku, Apa kau berubah pikiran sekarang?"
"Mungkin. Aku tak begitu yakin" Senyum miring Ino dipenuhi keraguan. Dari awal dia bingung harus bagaimana. Ujung-ujungnya dia menyakiti Itachi dan Sai.
Sai menggenggam tangan Ino "Bila itu maumu. Kita bisa lari sekarang. Ke tempat di mana kita tak bisa di temukan"
"Kedengarannya Indah. Terlalu indah untuk jadi nyata" ujarnya sedih.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Mau berjalan-jalan sebentar?" tanya Ino pada pria itu.
Tatapan Sai melembut dia menggandeng tangan Ino dan mereka berjalan bersama menyusuri pantai yang berpasir putih. "Kita tak pernah menghabiskan waktu kita bersama seperti ini Ino"
"Kau benar, kita terlalu fokus dengan urusan sex dan aku terlalu takut untuk mengakui perasaanku"
"Begitu pula aku. Ini semua salahku karena terlambat mengenali perasaanku"
"Tidak ada yang salah, Kita berdua sama-sama tak ingin jatuh cinta tapi siapa sangka begini akhirnya"
"Dan kau menikah dengan pria lain meskipun aku berada di sini. Di sisimu"
Mereka berdua duduk di pasir menatap lautan luas. Sai merangkul wanita itu dan Ino merebahkah kepalanya di bahu pria itu.
"Sai, Kau punya waktu satu malam untuk membuatku membatalkan pernikahan ini"
"Apa kau serius Ino? "
"Aku serius"
Tentu saja Ino tidak serius. Dia tidak pernah mempertimbangkan untuk lari dari Itachi tapi dia ingin menghabiskan hari terakhirnya sebagai wanita bebas bersama pria yang dia cintai. Bila saja Ino memang benar-benar egois dia akan dengan senang hati mengejar kebahagiaannya seperti yang biasa dia lakukan. Tapi kali ini taruhannya terlalu besar untuk bersikap impulsif.
"Apa yang kau rencanakan Sai?"
Pria itu menyeringai. "Bagaimana kalau kita pergi kencan"
" Kebetulan kita sedang duduk berduaan di pantai yang sepi dan memandang matahari terbenam. Tanpa sengaja suasananya jadi romantis"
"Kau tahu. Dari pesan yang kau kirim aku pikir kau mau menenggelamkan diri di sini dan meninggalkan aku dan Itachi meratap"
"Aku belum sefrustrasi itu. Aku hanya ingin sedikit merenungi keputusanku"
"Apakah kau sudah cukup merenungnya? Kita harus pergi sebab sebentar lagi udara jadi semakin dingin"
Langit telah berwarna biru indigo. Semburat warna oranye masih terlihat di ufuk barat dan Sai benar udara mulai dingin dan gaun tipis yang dia gunakan tidak cukup untuk membuatnya hangat. "Ke mana kita akan pergi?"
"Ke apartemen lamaku"
"Kau masih tinggal di tempat kumuh itu?"
"Kadang-kadang saja. Aku membeli seluruh kompleks apartemen itu " Dia tersenyum
"Mengapa?"
"Hanya sekedar untuk nostalgia. Kadang aku perlu tempat di mana aku bisa relaks. Kediaman Shimura terlalu kaku dan penuh dengan peninggalan Danzo. Itu membuatku merasa tidak nyaman mengingat masa kecilku di rumah itu tidak menyenangkan"
Ino sangat hafal jalan menuju tempat Sai. Dia tersenyum mengingat betapa syoknya dia ketika pertama kali mendatangi area padat pemukiman seperti ini.
Ino memarkirkan mobilnya dan tampak terkejut kompleks apartemen yang tadinya suram dan kumuh menjadi terlihat lebih baik.
"Jadi ini yang kau lakukan dengan uang mu?"
"Ya, Aku hanya ingin penghuni disini hidup dengan lebih baik. Pengelola sebelumnya tak peduli merenovasi dan memperbaiki apa pun dengan alasan kami membayar sewa murah"
"Mau makan malam di sekitar sini?"
"Terserah kau Sai, ini misimu"
"Ah ya, Misiku merayu sang princess hingga dia tidak datang ke acara pernikahannya sendiri"
Mereka berdua berjalan beberapa blok dan menemukan kedai okonomiyaki langganan Sai. Ino menceritakan masa kecilnya dan Sai memberitahu Ino perjalanannya untuk menjadi CEO Shimura.
"Jadi belum lama menjabat pun kau sudah membuat musuh?" tanya Ino pada Sai.
Mereka berjalan pulang ke apartemen Sai setelah makan dan mampir ke mini market untuk membeli bir.
"Salah, Sejak aku terlibat denganmu aku jadi punya musuh. Itachi lalu Orochimaru" Dia mendesah dengan dramatis "Kau membuatku jatuh cinta dan patah hati. Ino kau memang magnet masalah"
Mulut Ino langsung mengerucut kesal. Mereka bercakap-cakap dengan santai dan Ino tampak riang. Kenyataan besok dia menikahi Itachi terabaikan. Biar lah untuk malam ini mereka pura-pura jadi pasangan normal.
Sai membuka pintu apartemennya. Tas belanjaan penuh bir yang Ino bawa terlepas dari genggamannya. Dia terkejut menatap puluhan lukisan dirinya dengan berbagai pose dan ekspresi menutupi setiap jengkal dinding ruangan itu.
"Sai, ini?"
"Aku tahu ini agak menyeramkan tapi aku tidak bisa memikirkan hal lain selama setengah tahun ini. Kau memenuhi benak dan pikiranku hingga aku berpikir mungkin aku sudah gila"
Sai memeluk Ino dari belakang. Menenggelamkan wajahnya pada surai pirang yang tergerai lepas. Ino masih tercium bagaikan musim semi seperti dia mengingatnya.
"Bisakah kau bayangkan, Hari-hariku menatap kanvas dan memanggil kembali semua ingatanku tentang dirimu dan berharap kita akan bersama. Tapi sayangnya ketika aku sudah berusaha menjadi seorang yang pantas mendampingimu kau malah memutuskan memilih orang lain yang tak kau cintai. Kau membuatku hancur Ino" Sai tidak lagi berusaha untuk menutupi emosinya. Suara pria itu syarat kepedihan dan kepahitan. Cukup untuk membuat perut Ino merasa terpelintir oleh rasa bersalah.
Sai tidak menderita sendirian. Ino juga menderita atas pilihannya. Dia hanya tak ingin menyuarakannya karena dia tahu ia akan baik-baik saja bila ia memilih Sai tetapi ekspresi terluka Itachi dan kekecewaan ayahnya akan terus membayanginya.
"Sepanjang hidupku, aku berjalan sendirian. Merasa terbuang dan terabaikan. Aku menerima kenyataan Ino kalau aku hanya sebuah instrumen yang hanya berharga bila aku berguna. Aku tak pernah bertemu seseorang yang berusaha untuk menembus topeng dingin dan acuhku. Hingga akhirnya aku bertemu denganmu. Kau membawa sinar dan harapan dalam hidupku. Aku pikir bila aku meraih tangan yang kau ulur kan padaku. Aku akan bisa keluar dari kesepian ini. Sayangnya aku salah. Kau membuangku seperti halnya yang lainnya"
Ino terdiam mendengar isi hati Sai yang diliputi rasa putus asa. Pria itu tak pernah banyak bicara tapi kali ini setiap kata-kata Sai menusuk tepat ke ulu hatinya. Dia tidak bisa membela diri karena Sai benar. Ino membuangnya meskipun Ino sangat mencintainya sampai hatinya pedih dan berdarah.
Ino tak akan lagi bisa memperbaiki hati mereka yang patah karena pilihannya tapi ia ingin mereka sekali saja merasakan kembali nyamannya kebersamaan. Ino berbalik dan menangkup wajah sedih Sai dengan kedua telapak tangannya.
"Aku masih disini bukan? Jangan merasa kesepian" paling tidak untuk malam ini lanjutnya dalam hati.
Ino berjinjit dan bibir mereka saling menyentuh. Kali ini bukan lagi dipenuhi oleh sensasi elektrik yang membakar gairah seperti yang sudah-sudah. Mereka mencoba untuk berpura-pura mengabaikan kenyataan akan perpisahan mereka dan menenggelamkan diri pada kenangan tapi ciuman ini tetap berasa luka dan putus asa.
Sai menyentuh pipi Ino. Jari-jarinya yang dingin bertemu dengan kulit gading yang lembut dan terasa hangat. Ino menggigit bibir bawahnya yang bergetar menahan rasa bersalah dan pedih di hatinya
"Jadilah milik ku Ino" permohonannya terdengar pilu di telinga wanita itu. Sai bukan lagi pria yang mendominasinya dengan tatapan penuh misteri dan intimidasi. Dia bukan lagi master yang tahu bagaimana mengontrol dan menguasai Ino. Kini berdiri di depannya seorang pria dengan serpihan jiwa yang retak.
Sai menunjukkan sisinya yang rapuh dan penuh luka. Dia hanya ingin Ino berada di sisinya membalut robekan-robekan yang nasib torehkan pada jiwanya untuk kembali menjadi manusia yang utuh dan tidak merasa hampa.
Ino merapatkan pelukannya di tubuh pria itu "Hatiku hanya milikmu Sai, Selalu"
Sai mengerti, Dia menerima jawaban Ino "Kalau begitu tunjukan cintamu pada ku sebelum kau benar-benar meninggalkanku"
Ino kembali mencium Sai dan memfokuskan seluruh indranya untuk pria di depannya. Jari-jarinya dengan gemetar membuka satu-persatu kancing kemejanya. Dia menelanjangi Sai seperti halnya Sai telah menelanjangi jiwanya. Ino akan merindukan kulit sepucat rembulan dan mata sehitam jelaga yang selalu mampu menghipnotisnya.
Mereka berdua berdiri saling mendekap satu sama lain. Dua tubuh polos tanpa selembar kain enggan dipisahkan jarak dan waktu. Bagi Sai dan Ino saat ini waktu berhenti dan tiada yang berarti. Mereka hanya bisa mendengar perasaan, tubuh, hati dan hasrat mereka mendesak ingin bersatu.
Bibir tipis Sai menyusuri pipi, garis rahang dan turun ke tulang belikat wanita itu. Ino memejamkan matanya membiarkan jari-jarinya terbenam dalam rambut hitam Sai yang kini terpangkas pendek. Mereka tak punya semua waktu di dunia. All they have just tonight dan Mereka berniat untuk membuatnya seindah mungkin.
Sai terenyak saat menatap mata Ino. Wanita itu tidak berbohong. Jauh dalam manik aquamarine itu Sai menemukan cinta untuknya. Cinta yang membuat dirinya juga menderita ketika harus memilih pria lain.
Sai membopong Ino ke kamar dan membaringkan wanita itu di tempat tidur. Ino menarik Sai jatuh menindih tubuhnya. Ino hanya ingin Sai menyentuhnya biarkan saja penyesalan datang nanti karena saat ini dia membutuhkan pria itu.
Bibir saling berpagut, tungkai saling terbelit. Hasrat dan kepedihan menjadi satu. Yang terdengar hanya desah nafas dan rintihan lirih dari dua insan yang tengah bercinta.
Ino membuka dirinya untuk Sai dan pria itu membiarkan dirinya masuk dan terbenam dalam kehangatan yang memabukkan. Dia membutuhkan ini. Dia membutuhkan Ino. Andai saja bisa untuk selamanya.
Ino memekik keras ketika merasakan Sai terlalu dalam. Tapi pria itu membungkamnya dengan ciuman. Pinggul mereka bergerak seirama mencari ritme yang tepat untuk mencapai klimaks.
Ranjang di bawah mereka berderit dan berkeriut dengan setiap sentakan. Tapi mereka sama sekali tidak terganggu. Ino mulai merasakan riak-riak kenikmatan menjalar dari ruang di antara ke dua kakinya. Rintihan dan erangan tak terelakkan meluncur dari bibirnya.
Sai tersenyum melihat ekspresi Ino yang berusaha membuka mata hanya untuk menatapnya. Pria itu meningkatkan temponya dan dia pun luruh ketika Ino memekikkan namanya. Hati dan jiwanya akan selalu bersama Ino.
Wanita berambut pirang bergetar ketika gelombang kenikmatan menyapu dirinya. It was so strong and raw Hingga dia tak mampu lagi untuk memikirkan apa-apa selain Sai dan menitikkan air mata. What they did so beautiful yet heart breaking. Inilah akhirnya
Di sisi lain kota. Itachi Uchiha menatap gelapnya langit Konoha. Dia mencoba menghubungi Ino tapi ponsel wanita itu tidak aktif. Dia juga telah mencarinya ke mana-mana. Firasat buruk menghampirinya. Seolah alam bawah sadarnya memberi tahu dirinya ini semua adalah kesalahan. Tidak, Itachi menolak mempercayai firasat. Dia cukup kuat untuk berusaha bagai pernikahan mereka berdua. Besok semuanya akan baik-baik saja. Dan Ino akan berdiri di altar bersamanya mengucapkan sumpah mereka.
Malam jadi semakin larut Mereka berdua terengah-engah, berkeringat dan lelah. Sai mendaratkan kecupan di kening Ino. Yang dibalas dengan bisikan kata maaf. Sepanjang malam mereka berpelukan dan berpegangan tangan. Tidak ingin semua ini berakhir begitu saja dan Sai kecewa ketika ia terbangun Ino tak lagi berada di sisinya.
Ino duduk dengan tenang membiarkan penata rias memulaskan make up di wajahnya. Mereka tadi mengeluh karena Ino muncul dengan wajah lelah, kuyu dan mata sembab. Ino beralasan dia tegang dan tidak bisa tidur semalaman. Syukurlah mereka sangat profesional. Wajah Ino tampak segar, bersinar. Tidak ada yang ingin tampil buruk di acara pernikahannya apa lagi akan ada awak media di mana-mana.
Sakura dan Temari membantu Ino memakai gaunnya. Sebuah gaun off shoulder dari sutra berwarna putih dengan potongan simpel dan full bordir. Waktu itu dia sangat gembira mencoba gaun ini di Milan dan melihat binar di mata Itachi tapi kali ini dia merasa tidak akan sanggup berjalan hingga ke altar.
"Kau tak apa-apa pig?" Wanita berambut pink itu sangat menghawatirkan Ino. Apalagi sejak mereka tahu Sai menjadi pemilik resmi Shimura Corp. Sakura dan Sasuke bingung harus bagaimana. Jadi mereka tidak ikut campur urusan Ino dan Itachi. Dia hanya berdoa agar semua bisa bahagia tapi sepertinya mustahil. Seminggu ini Itachi terlihat sedih dan Ino menjadi semakin pendiam.
"Aku baik-baik saja"
"Ino apa kau sudah siap?" Inoichi masuk untuk mengecek putrinya.
"Sebentar lagi ayah"
Sakura dan Temari memasangkan kerudung berbahan tulle di kepala Ino. Ino berdiri memastikan semuanya terlihat sempurna.
"Janga lupa ini" Temari menyerahkan hand bouquet mawar, lily dan iris padanya.
Ino tersenyum "Terima kasih. Sampai jumpa di gereja"
Ino menggandeng lengan ayahnya menuju mobil yang akan mengantar mereka ke gereja.
" Kami bangga padamu Ino, sesungguhnya ayah tak rela melepaskan putri kecil ayah" ujar Inoichi pada putrinya
"Bukankah ayah berkata aku berada di tangan yang tepat"
"Aku tahu Ino, Aku yakin Itachi akan menjagamu dengan baik"
"Kau sangat cantik putriku"
Tiba-tiba Sebuah mobil van memotong dengan kecepatan tinggi di depan mereka. Sopir membanting setir dan menginjak rem untuk menghindari tabrakan tapi mobil yang Ino tumpangi tidak berhenti. Mobil menabrak pembatas jalan, terpelanting dan terguling sejauh beberapa puluh meter. Bagian sampingnya ringsek berat. Ino terjepit dan kepalanya terbentur. Dia merasakan darah merembes dari kepala dan tubuhnya. Matanya berkunang-kunang. Ayah dan Ibunya berlumuran darah tak sadarkan diri. Ino mencium bau bensin dan asap. Sementara ia mencoba untuk membuka pintu tapi tubuh bagian bawahnya terjepit. Api mulai melalap mobil tersebut. Ino panik luar biasa tapi tiba-tiba dia tak bisa merasakan apa pun. Pandangannya menjadi gelap dan dia tak sadarkan diri.
Itachi dan para tamu menunggu dengan resah di gereja. Keluarga Yamanaka sudah terlambat tiga puluh menit. Tak terdengar kabar dari mereka. Itachi berjalan mondar-mandir apakah yang dia takutkan terjadi. Ino pergi bersama Sai.
Deidara merasa puas Orochimaru sepertinya mengeksekusi rencananya dengan matang. Hingga Ino tidak datang. Dia tak tahu apa yang sebenarnya pria itu lakukan. Ia hanya menyanggupi membuat Ino tidak datang ke pernikahan ini dan meminta Deidara memberikan detail pernikahan ini. Sebagai gantinya Deidara harus membantu menjatuhkan Sai Shimura dengan mengungkap masa lalu pria itu ke publik
Para tamu mulai berbisik-bisik atas ke tidak hadiran mempelai wanita. Itachi mulai Stres dia mencoba menghubungi ponsel Ino dan Inoichi tapi nomor mereka tidak aktif.
"Kakak tenanglah" pinta Sasuke.
"Aku punya firasat buruk dari semalam. Sepertinya Ino lari" Itachi duduk kedua sikunya berada di lutut. Tangannya menopang kepalanya yang tertunduk.
"Tidak mungkin Itachi" Sakura berbicara menenangkan calon kakak iparnya "Tadi aku dan temari membantu Ino bersiap-siap. Tapi kami berangkat kemari duluan. Dia juga bersama orang tuanya"
Itachi semakin resah, hal terakhir yang dia pikirkan adalah apa berita yang akan dimuat di media nanti. Dia tak peduli lagi kalo Ino akan mencederai citranya dengan tidak muncul di acara pernikahannya.
Sai memandang tempat kosong yang di tinggalkan Ino di sisi tempat tidurnya. Apa dia hanya akan diam di sini meratap? Masih ada waktu untuk meyakinkan Ino mereka pantas bahagia.
Sai membasuh wajahnya dan berpakaian seadanya. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gereja tempat upacara diadakan. Semoga saja dia belum terlambat.
Detik demi detik yang berlalu terasa semakin berat untuk Itachi. Apa Ino berubah pikiran dan lari. Betapa kejam wanita itu bila memang dia memilih Shimura seharusnya dia menentangnya dan mengatakannya sejak dulu. Bukan mempermalukannya seperti ini.
Seseorang muncul di pintu. Itachi menoleh dan berharap itu Ino. Dia kecewa dan terkejut melihat orang yang muncul tak lain dan tak bukan Sai Shimura. Dia melangkah menemui pria Itu.
Semua orang menatap pada Sai yang datang mengenakan jeans dan T-shirt. Sepertinya orang-orang mengenalinya
"Hei, Bukankah itu pemilik Shimura grup" bisik seorang wanita di deretan bangku tamu undangan
"Kenapa dia kemari berpakaian seperti itu?" tanya wanita di sebelahnya
"Mungkin ada hubungannya dengan keterlambatan sang pengantin wanita" Bisik yang lainnya.
Kedua pria itu berhadap-hadapan dengan penampilan yang luar biasa kontras. "Di mana Ino?" tanya Itachi pada Sai
"Harusnya aku yang bertanya padamu. Bukankah seharusnya dia menikahi mu hari ini" jawabnya dingin.
" Seperti yang kau lihat dia tidak bersamaku"
"Dan bila Ino bersamaku aku tak akan datang kemari"
Kedua pria itu saling menatap dengan ekspresi saling menyalahkan. Sementara para tamu menahan nafas melihat konfrontasi di antara mereka. Mereka bisa merasakan tensi dan rivalitas yang kental di udara. Mudah menduga bila rivalitas keduanya bukan hanya karena dua perusahaan mereka saingan. Semua yakin ini di sebabkan oleh satu orang wanita. Sang ratu drama. Socialita penuh skandal Yamanka Ino.
Sasuke menerima telepon dari polisi. Wajah pria itu tampak pucat.
"Ada apa Sasuke-kun?"
"Kita harus memberitahu mereka. Ino sekeluarga mengalami kecelakaan dalam perjalanan kemari"
Sakura dan Temari syok berat "Bagaimana keadaan mereka?"
"Aku tidak tahu, Mereka di evakuasi ke rumah sakit pusat"
Deidara yang berdiri di antara mereka mendengar percakapan itu. Wajahnya menjadi sepucat mayat. Dia memang meminta Orochimaru mencegah Ino datang ke gereja tapi dia tidak menyangka orang itu tak segan-segan membahayakan nyawa orang lain. Bila terjadi apa-apa pada Ino. Maka semua tanggung jawabnya. Deidara menutup mulutnya rapat-rapat. Ini hanya sebuah kecelakaan dia tak tahu apa-apa.
Sasuke mendatangi dua pria itu dengan membawa kabar buruk
"Hentikan perdebatan kalian sekarang , Aku mendapat kabar dari polisi. Keluarga Yamanaka mengalami kecelakaan. Sebaiknya kalian pergi ke rumah Sakit untuk melihat kondisinya"
Kabar itu membuat keduanya membeku. Tak ada hal yang mereka bisa pikirkan karena terlalu terkejut.
"Itachi pergilah ke rumah Sakit. Pastikan Ino baik-baik saja"
"Ayo kita pergi. Mobilku terparkir di depan gereja" Ajak Sai pada rivalnya.
"Aku dan Sakura akan menyusul nanti" lanjut Sasuke
Sejenak mereka melupakan permusuhan mereka Ino dalam bahaya dan hari ini bisa saja mereka kehilangan Ino selamanya.
Tiba di rumah Sakit mereka di sambut berita yang lebih buruk. Polisi menyatakan Orang tua Ino meninggal di tempat dan Ino dalam kondisi kritis.
Para medis mendorong ranjang dengan tubuh Ino tergolek tak sadarkan diri dengan terburu-buru ke ruang perawatan. Mereka berdua sekilas melihat gaun putih yang Ino kenakan berlumuran darah dan terbakar. Mereka tak berani melihat lebih jauh ini lebih mengerikan dari segala mimpi buruk.
Mereka berdua duduk di ruang tunggu. Berharap dengan cemas. Sungguh ironis bila Ino meninggal tak seorang pun dari mereka akan mendapatkannya.
"Ini semua salahmu, Bila kau tak memaksa Ino bertunangan denganmu ini tak akan terjadi" Sai memecah kebisuan di antara mereka.
"Kau menyalahkanku? Bila saja kau tidak kembali Ino tidak akan pernah bimbang"
Sai menatap pria yang lebih tua itu "Kau juga mencintainya?"
"Yah. Saat seperti ini aku hanya ingin Ino selamat tak lagi peduli dia memilihmu atau memilihku"
"Kau benar, Aku hanya ingin melihatnya tersenyum lagi"
"Dan masalahnya dengan kita berdua telah membuatnya berhenti tersenyum"
Mereka terdiam, Sai bisa bersimpati pada Itachi mungkin saat ini mereka memiliki kekhawatiran yang sama. Permusuhan mereka adalah hal terakhir yang terbesit di benaknya. Hanya ada rasa cemas dan takut maut akan membawa pergi wanita yang mereka cintai.
Setelah berjam-jam berlalu tanpa kejelasan seorang dokter akhirnya menemui mereka.
" Bagaimana keadaan Ino dokter?"
" Nona Yamanaka masih dalam kondisi kritis. Dia mengalami cedera kepala, patah tulang dan luka bakar. Kami masih belum mengetahui bila ada luka internal pada organ dalamnya"
"Apakah dia akan selamat?" tanya Sai pada dokter yang menangani Ino.
"Kami tidak tahu tuan, tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin"
Sai merosot di kursinya. Dia tak pernah merasa begini takut. Itachi menghempaskan diri di kursi sebelahnya. "Kita hanya bisa berdoa Sai" pria itu pun terdengar putus asa.
Sasuke, Sakura dan Temari tiba. Mereka membereskan acara pernikahan yang akhirnya di tunda. Itachi tak menyangka hari ini akan jadi sebuah tragedi.
Mereka meminta dirinya dan Sai pulang untuk beristirahat tapi mereka berdua tak ingin meninggalkan Ino.
Satu hari berlalu, Dua hari, Satu minggu Ino masih belum sadarkan diri. Perban menutupi tubuh dan wajahnya yang mengalami luka bakar. Pemakaman orang tua Ino di laksanakan tanpa wanita itu bisa menghadirinya.
Itachi dan Sai kembali bekerja. Kini terdapat pengertian yang tak terkatakan di antara mereka. Semua permusuhan dan rivalitas terlupakan. Mereka berdua sama-sama menderita dan berduka. Hanya bisa menanti Ino membuka matanya lagi.
To be continued
A/N : Update Kilat, tinggal satu chapter lagi pembaca sekalian. apakah ino akan selamat, memilih Sai atau Itachi atau tidak kedua-duanya. Author pun belum tahu. Mungkin kalian yang memutuskan.
Terima kasih semua, Saya menantikan review yang ke 100 dari kalian..
See You.
