Tarantallegra


Samar terlihat nyala api dari perapian yang kobarnya tak lagi hebat.

Saat itu disana lumayan gelap. Penglihatannya masih begitu buram namun Chanyeol yakin dia bisa melihat atap dan tembok yang menaunginya. Corak kayu yang terukir alami disana ini identik dengan yang ada di kamarnya. Di rumahnya.

Tapi bagaimana bisa Chanyeol sampai kesini?

Selagi ia mengerjapkan mata sampai pandangannya membaik, pria itu ingat bahwa seharusnya dia sudah mati. Atau jika belum, setidaknya dia terdampar di pinggir sungai dan bukannya malah terbaring di tempat tidurnya sendiri.

Chanyeol bangkit. Duduk dengan sisa-sisa nyeri di dada dan sekarang seluruh tubuh juga. Pria itu melepaskan ringisan yang lumayan keras selagi gerusan ngilu menyerang rusuknya. Luka tusukan itu kambuh lagi.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Seseorang memasuki kamarnya dengan langkah yang cepat dan langsung memeriksa kondisi luka di beberapa titik di tubuh.

Chanyeol menatapnya dan terdiam. Ia terpaku pada garis rahang sosok yang ada di hadapannya kini. Meskipun pandangannya masih sedikit kabur, tapi instingnya tak bisa lebih yakin daripada ini.

"Dimana yang masih sakit?" ucapnya dengan suara yang begitu familiar menyapa telinga dan hati.

Chanyeol masih menatapnya dengan pandangan kabur. Pria itu mengusap kedua matanya sendiri dan mendapati air mata yang rupanya telah menggenang, mengaburkan pandangannya sedari tadi. Bahkan tanpa disadari, ia menangis hanya dengan melihat ilusi yang Baekhyun duduk di depannya.

"Kenapa menangis?" tanya sosok itu sambil mengusap air mata di pipi Chanyeol.

Pertanyaan sederhana itu nyatanya mampu menyesakkan dada alpha yang dulunya begitu tangguh itu. Jawabannya rindu, Baekhyun. Jawabannya adalah rindu.

Alpha malang itu terus menatap mata coklat yang begitu ia rindukan sampai tak sudi berkedip. "Jangan hilang dulu...jangan pergi...aku masih rindu," bisiknya sambil meraih jemari Baekhyun dan menggenggamnya.

"Chanyeol," caranya memanggil begitu lembut, Chanyeol tersenyum pilu karena rasanya begitu nyata.

"Yang kau lihat mati di tengah arena itu bukan aku. Itu adalah Baekhyun yang diciptakan dari sihir. Aku masih hidup dan yang kau lihat sekarang bukan ilusi," jelas sosok mungil itu yang jujur saja baru sadar kalau Chanyeol masih mengiranya sudah mati.

Jadi begini ceritanya.

Setelah Baekhyun membawa pulang alphanya itu dari sungai, omega itu meminta bantuan Baazi tentang obat-obatan yang diperlukan. Nenek itu dengan senang hati membantu dan tak lupa menerangkan tentang bagaimana kondisi Chanyeol setelah skenario mereka kemarin.

Dan itu membuat Baekhyun setengah mati merasa bersalah karena alpha-nya itu bahkan telah melakukan dua kali percobaan bunuh diri.

"Kami harus melakukannya agar kau mau mengalahkan Kris dan merebut posisi sebagai ketua. Aku harap kau mau mengerti," lanjut si mungil.

Ditatapnya wajah kebingungan Chanyeol yang sangat kentara. Pria itu bahkan melepaskan genggaman tangannya dan terus menatap Baekhyun dengan cara yang asing. Omega malang itu menunduk, menghayati rasa bersalahnya yang semakin terpupuk dengan reaksi Chanyeol ini.

Baekhyun meraih rahang pria itu dalam genggamannya, meraba wajahnya, mengelus pipinya dengan sentuhan penuh sesal. Chanyeol-nya pasti sebegitu menderita sampai harus memutuskan untuk menenggelamkan dirinya sendiri. Itu juga setelah ia menikam jantungnya sendiri dengan anak panah.

"Maaf karena telah membohongimu. Hanya itu satu-satunya cara agar rencananya berhasil," bisik Baekhyun sambil mempertemukan dahi mereka.

Hidung mereka bergesekan dengan pelan. Sarat akan kerinduan. Mata Chanyeol yang berkilau dalam genangan air mata, kini memantulkan wajah pilu Baekhyun yang tak ada bandingannya.

"Jangan pergi, jangan pergi, jangan pergi..." Chanyeol memelas.

Matanya terpejam, melepaskan genangan menjadi tetesan. Kedua tangan besarnya meraih leher Baekhyun dan merangkumnya erat, jangan sampai pergi lagi. Jangan sampai hilang lagi.

Baekhyun mencium bibir gemetar itu dengan lembutnya. "Aku tidak akan pergi..." bisik si mungil lalu mendorong Chanyeol untuk kembali berbaring, "sekarang tidurlah. Aku akan menjagamu."

"Besok pagi...kau masih ada disini 'kan?" tanya sang alpha rupanya masih belum benar yakin bahwa ini semua bukanlah ilusi.

Baekhyun mengangguk sambil membenahi selimut, "jika aku tidak ada disini itu berarti aku sedang memasak sesuatu untukmu di dapur."

.

e)(o

.

Pagi hari tiba dengan tangan Chanyeol yang meraba ruang kosong di tempat tidur dengan mata yang masih terpejam. Yang dicari tidak ketemu juga.

Cemas tiba-tiba, pria itu langsung mengumpulkan kesadarannya dan beranjak dari sana. Chanyeol ingat, jika Baekhyun tak ada disini, itu berarti dia sedang memasak sesuatu.

Menghiraukan kepalanya yang pusing, Chanyeol berjalan kelimpungan ke dapur. Jantungnya berdebar tak karuan, takut kalau yang semalam hanyalah bayangan. Takut kalau Baekhyun-nya memang sudah tiada untuk selama-lamanya dan dia kembali sendirian.

"Dia terlihat seperti orang linglung..."

Gumaman itu terdengar dari arah dapur tepat saat Chanyeol berdiri di ambang pintu. Itu benar suara Baekhyun dan alpha itu yakin dia tidak sedang bermimpi atau mabuk obat. Ia sepenuhnya sadar bahwa yang tadi ia dengar adalah suara omeganya. Suara Baekhyun.

Tapi sedang berbicara dengan siapa dia?

"Chanyeol melihat mate-nya mati. Bisa apa dia selain jadi gila?"

Oh...itu suara Baazi.

Alpha itu ingat moment ketika terakhir kali dia dan Baazi berbincang. Apa yang mereka rundingkan tidaklah bagus. Apa yang Chanyeol katakan di ujung obrolan juga bukan sesuatu yang menyenangkan.

Dia tidak ingin melihat Baazi lagi, dia mengusir wanita itu dari kehidupannya.

Yang padahal, berkatnya dia dan Baekhyun masih bisa bersama meskipun harus melalui begitu banyak rintangan. Dia memang tidak sepenuhnya bersalah tapi dia tetap harus menyadarinya meskipun hanya sedikit.

Chanyeol memasuki dapur sambil berdehem setelah memikirkan harus bagaimana dia bersikap kepada Baazi.

Baekhyun berbalik dan langsung tersenyum dengan begitu cerahnya, "pagi, Serigala besar. Tidurmu nyenyak?" sapanya sambil berjalan mendekat dan memberi kecupan di bibir.

Chanyeol tersenyum dan mengangguk. Dengan begitu lihai meredam perasaan leganya yang luar biasa membuncah di dalam dada. Baekhyun ada disini, terasa nyata, bernafas dan dia hidup. Dia masih hidup dan itu berarti semua ilusi yang selalu dia takutkan berakhir sudah.

"Luka-lukamu sudah sembuh?" tanya Baazi mencoba masuk ke dalam percakapan, seolah ia tak pernah ditendang dari kehidupan siapapun.

Chanyeol membuang tatapannya ke jendela yang langsung mengarah ke halaman belakang. Ia tak menjawab pertanyaan yang Baazi lontarkan. Chanyeol masih bungkam. Itu berarti pertanda buruk.

Baekhyun menatap wanita tua di sampingnya dengan penuh sesal.

Baazi tersenyum kecut mendapati respon Chanyeol yang masih begitu dingin. Diletakkannya pisau yang tadinya dia gunakan untuk memotong daging dan bersiap untuk pergi. "Aku lupa aku harus menjemur beberapa ilalang untuk diramu."

Baekhyun menghela nafasnya. Sudah diduga bahwa Chanyeol tak akan memaafkan Baazi dengan mudah dan itu akan menjadi tugas mereka berdua untuk memperbaikinya. Itu tidak akan mudah namun keduanya yakin bahwa mereka bisa.

"Aku pulang dulu," pamit Baazi kepada Baekhyun dan Chanyeol –hanya jika pria itu masih sudi menerimanya.

Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Chanyeol menginterupsi tepat sebelum Baazi keluar dari dapurnya. "Kami punya satu kursi kosong di meja makan...hanya jika kau lapar."

Senyuman langsung terkembang di bibir dua orang yang sedari tadi dirundung duka.

Tentu saja, kesempatan ini tak mereka sia-siakan.

Meja makan yang dulu selalu Chanyeol pakai sendirian, kini sudah diisi dengan Baekhyun dan Baazi yang menambah ramai suasana. Suara piring dan sendok kayu yang saling menyapa jadi musik selagi Baekhyun terus menjelaskan bagaimana ia bisa memasak daging babi hutan menjadi hidangan yang begitu menggugah selera.

"Aku memanggangnya dengan taburan Rosemarry," ucap si mungil sambil menambahkan sepotong lagi ke piring Chanyeol dengan bersemangat. "Baazi memberi banyak rempah kepada kita."

"ini sangat enak," puji Chanyeol. "Terima kasih Baazi."

Wanita tua itu tersenyum menanggapi, "tidak perlu berterimakasih, itu hanya rempah-"

"Bukan untuk rempahnya. Tapi untuk semua hal yang telah kau lakukan," sela Chanyeol melompat ke topik yang begitu personal. "Bahkan dulu setelah kau menyelamatkanku dari penduduk Odrewood, aku justru membencimu dan bukannya berterima kasih. Aku minta maaf."

Membuka lembaran lalu, Baazi ingat setelah Chanyeol palsu dibunuh oleh warga Odrewood, Chanyeol kecil bertanya padanya apakah sang Ayah tahu bahwa dia masih hidup?

Baazi menggeleng karena tentu saja kabar kematiaannya akan sampai pada sang Ayah dan Baazi tak bisa melakukan banyak hal. Chanyeol kecil marah padanya. Dia marah karena itu berarti Ayahnya tidak akan pernah datang lagi untuk menemuinya. Tidak akan bermain lagi dengannya.

Mereka tidak bicara sampai tiga hari lamanya hingga kabar pemenggalan kepala Ayah Chanyeol sampai ke telinga Baazi.

Chanyeol kecil yang rapuh itu tambah hancur sudah. Dia sendirian sekarang dan tak punya siapa-siapa, bahkan sanak saudara. Dia hanya tahu bahwa dia punya seorang kakak yang jauh dan sulit bagi mereka untuk bertemu.

Jadilah, keberadaan Baazi menjadi satu-satunya sandaran Chanyeol untuk bisa bangkit dan hidup dengan baik. Meskipun ia pernah begitu menolak segala bantuan yang Baazi coba berikan. Termasuk dalam hal pasokan makanan dan cara mengurus rumah.

"Aku terlambat mengerti. Aku terlalu bodoh untuk menyadari bahwa yang selama ini kau lakukan adalah demi kebaikanku. Dan untuk perkataanku kemarin...aku sangat menyesal," lanjut Chanyeol kini sambil menggenggam tangan keriput Baazi yang masih menggenggam sendok. "Kau sangat baik padaku, kepada Baekhyun, kepada semua orang yang aku sayangi. Terima kasih."

Perlahan tapi pasti, isak tangis itu terdengar ringan. Baazi mengusap air mata yang dengan lancang meluncur membasahi pipi dengan kesal. "Lihat? Bocah sialan ini membuatku menangis di depan masakanmu, Baekhyun."

Omega yang duduk di hadapannya itu hanya bisa tersenyum haru melihat dua orang yang Baekhyun tahu saling menyayangi namun acap kali bertengkar ini saling memperbaiki hubungan.

"Aku anggap kita berdua impas," tuntas Baazi yang langsung diangguki oleh satu-satunya alpha di meja makan tersebut.

Baekhyun yang sedari tadi menjadi penonton ini akhirnya bisa bernafas lega dan melepaskan semua beban di pundaknya yang terasa memanggil untuk dibereskan. Lelaki mungil itu lalu mengiris lagi sepotong besar untuk diletakkan di piring Chanyeol dan Baazi lagi dan lagi.

"Mari kita lanjutkan makan karena aku belum cukup mendengar pujian kalian tentang masakanku!"

.

e)(o

.

Hutan belakang rumahnya selalu terasa sunyi dan tenang tak peduli waktu. Sunyi yang damai dan jauh dari bahaya seolah menjadi kelambu yang menenangkan.

Entah ada angin apa, sore ini Baazi mengajak Chanyeol untuk berjalan menyusuri hutan pinus dengan dalih ingin menghirup udara segar. Chanyeol tak menolak. Dia justru ingin menjadikan moment ini sebagai alat untuk memperbaiki komunikasi mereka sejak terakhir kali bertengkar.

Dan seperti yang diharapkannya, mereka berdua bisa kembali bercanda.

Baazi juga sudah kembali melemparkan candaannya seperti biasa dan itu berarti mereka sudah benar-benar 'kembali'. Tidak ada yang lebih melegakan ketimbang permintaan maaf yang sudah benar-benar diterima.

"Hampir gelap. Ayo pulang sebelum kau berubah menjadi kelelawar," ejek Chanyeol sambil berbalik ke jalan setapak.

Baazi menahannya, "jalan-jalan menjelang malam bagus untuk pemulihanmu."

"Tapi Baekhyun di rumah sendirian."

"Dia serigala dewasa. Omegamu itu pasti bisa menjaga dirinya sendiri. Berhenti memperlakukannya seperti bayi."

Menyadari bahwa ucapan Baazi ada benarnya, Chanyeol hanya bisa tersenyum dan menggumam, "dia adalah bayiku."

Setelah perdebatan sepele itu berlalu, langkah mereka kembali dilanjutkan. Chanyeol sempat bertanya tentang siapa yang memiliki ide untuk mengirim Baekhyun yang palsu ke Odrewood dan Baazi menjawabnya dengan Baekhyun sendiri.

Fakta itu membuat Chanyeol terkejut karena betapa perhatiannya Baekhyun pada kisah yang dia ceritakan dulu. Pria itu bahkan sempat sanksi bahwa Baekhyun pasti berpura-pura percaya padanya bahwa cerita sihir itu memang ada.

Dan ternyata lelaki mungilnya memang percaya.

Senyum Chanyeol mengembang perlahan. Langkahnya dipijak menaiki bukit kecil yang akan membawanya ke sebuah puncak dimana mereka nanti bisa melihat matahari terbenam. Namun, bukan lahan kosong yang didapat, justru sosok Kris dan tangan kanannya, Quans sedang berdiri di sana.

Sedang menatapnya seolah tahu bahwa dia dan Baazi akan datang.

"Berani-beraninya kalian kabur-" Chanyeol sudah bersiap untuk berlari dan memukul wajah Kris namun sekali lagi, Baazi menahannya. "LEPASKAN! SI BRENGSEK ITU SEHARUSNYA SUDAH DIASINGKAN KE MARRAKECH!"

"Tidak sebelum aku menyelesaikan tugas terakhirku," sahut Quans, yang berdiri di samping Kris, terlihat mengenakan jubah serba hitam dengan rambut putihnya terurai sampai pinggang.

Chanyeol mengepalkan tangan menahan gejolak amarah. Baazi yang masih menggenggam tangannya itu lalu dengan santai mengajaknya untuk berjalan mendekat. "Semua akan baik-baik saja."

Nenek tua itu mencoba meyakinkan Chanyeol dengan senyumannya yang mengembang dengan begitu tenang.

"Kami datang kemari bukan demi pertumpahan darah yang lain, Petarung," sapa Quans setelah membungkuk untuk menyapa putra bungsu Wolfhard itu.

"Quans adalah penyihir putih sama sepertiku," Baazi melirik Quans yang lalu mengangguk kecil, membenarkan ucapannya. "Dan sebenarnya, kami sudah berteman...sejak lama."

Chanyeol mengendurkan emosinya dan dengan berlandaskan kepercayaannya kepada Baazi, pria itu memutuskan untuk mulai mengikuti alur.

Baazi menepuk punggung Chanyeol dan meminta pria itu untuk bisa lebih tenang dalam menyikapi apa yang akan dia dengar dan lihat nanti.

"Kami menyusun skenario sederhana. Aku meminta Quans untuk tidak menjatuhimu dan teman-temanmu dengan hukuman mati di pengadilan. Namun tidak dengan Baekhyun. Dia yang harus mati karena itulah kuncinya."

Kris yang kedua tangannya di ikat dengan sihir Quans itu tiba-tiba berteriak, "jadi selama ini kau berkhianat di belakangku?!"

"Aku hanya menjalankan tugasku," sanggah Quans dengan begitu tenang. "Aku mengabdi kepada Ayahmu yang telah menyelamatkanku dari seorang pemburu yang hendak membakarku hidup-hidup."

Kris menggeram dan akhirnya jatuh terduduk di tanah setelah menyadari bahwa ternyata dia benar-benar tak pernah memiliki siapa-pun yang ada di sisinya. Dia benar-benar tak memiliki seseorang yang akan selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.

Hingga ia teringat pada satu nama.

Tao. Omeganya.

"Sebelum Ayahmu digantung mati, dia berpesan padaku untuk terus mendampingimu. Dan apa yang selama ini aku lakukan adalah menjalankan tugasku," lanjut Quans yang membuat hati dingin dan keras Kris merasakan sedikit hangat di satu titik.

Ayahnya, meminta Quans untuk mendampinginya selagi dia tak memiliki siapapun. Setelah kematian Ibunya karena penyakit-pun, hanya ada Quans yang selalu berdiri di sampingnya untuk menguatkan Kris. Selama ini selalu dia, Quans...yang ada di sampingnya.

Dan seharusnya apa pun itu yang membuat ia mau berada disana, Quans tetaplah seseorang yang memiliki andil banyak di perjalanan hidupnya. Kris menatap wajah keriput wanita tua itu dan mengingat tentang pertemuan pertama mereka di upacara pemenggalan sang Ayah.

Quans, berdiri di salah satu kursi di arena dan terus memandanganya dari kejauhan sambil tersenyum.

"Dia juga menitipkan ini padaku dan memintaku untuk menyampaikannya saat kalian sudah siap," Quans mengangkat sebuah biji Ek yang hampir tiga dekade ia genggam kemana pun, dan kapan pun. "Ini pesan terakhir dari Wolfhard untuk kalian berdua."

"Tapi Ayahku mengira kalau aku sudah mati," Chanyeol menyela.

Penyihir putih yang selama ini sudah menemani Kris tumbuh dewasa itu menggeleng sambil menyunggingkan senyum yang mengandung makna. Seolah sudah memahami apa artinya, Baazi menepuk-nepuk bahu Chanyeol seolah sedang memberikan ucapan selamat.

"Aku tahu apa yang tidak Ayahmu ketahui. Dia sangat lega karena ada Baazi yang akan selalu menjagamu," Quans tersenyum mengabaikan Chanyeol yang masih belum bisa mencerna semua kebenaran yang terlalu mendadak ini.

Biji Ek itu tiba-tiba saja diremas dan terdengar suara retakan. Saat tangan tua itu memutar berlawanan arah kedua sisinya, biji itu terbuka seperti selayaknya tutup pada kantung anggur. "Sebelum dia dipenggal, Ayah kalian memberikan sepotong kecil telinganya."

Quans mengambil potongan kering itu dan meletakannya ke atas tanah. Baazi menghela nafas di belakang sana selagi temannya itu mulai membaca mantra.

Angin di sekitar mereka mendadak berhembus kencang, memutar mengelilingi mereka berempat sampai pepohonan ikut bergolak. Baazi tampak memejamkan matanya, membantu membaca mantra selagi kakak beradik Wolfhard terpana.

Angin yang tadinya berputar di sekitar kini berpusat di potongan yang tergeletak di atas tanah. Arusnya berputar menyerupai angin puting beliung dengan daun kering dan debu yang ikut terbang di dalamnya.

"Adazsava gungga javix E Wolfhard... adazsava gungga javix E kalluqu ya Wolfhard!"

Quans membaca mantra itu dengan begitu tegas.

Perlahan, Chanyeol dan Kris bisa melihat siluet seseorang yang berada di dalam pusaran angin itu. Dia berdiri dengan begitu tegak. Kepalanya tertunduk seiring dengan debu dan daun yang mulai terbang jatuh ke tanah.

Sosok itu, mengenakan baju kulit yang dulunya dijahit oleh Ibunya sendiri karena sobek habis dicakar beruang. Chanyeol sangat ingat. Dia sangat ingat karena dia ada disana ketika Ayahnya pulang dan membawa seekor beruang besar untuk persediaan musim dingin.

Pria itu datang dengan baju yang sobek di bagian lengan dan luka cakar yang masih mengeluarkan darah.

Chanyeol berdiri di tempatnya dengan hati pilu. Dadanya seperti diinjak-injak. Rasanya begitu sesak. Apakah itu berarti, Ayahnya dipenggal dengan mengenakan pakaian itu?

"Putraku," ucap sosok yang tadinya berasal dari sepotong daging telinga dan lalu berubah menjadi pria yang Chanyeol dan Kris kenal sebagai Ayah mereka. "Kris...Chanyeol..."

Chanyeol berdiri di tempatnya dengan debaran jantung yang menggila di balik rusuk. Dia bahkan tak memiliki kata untuk menyambut kedatangan 'Ayahnya' ini. yang bisa dia lakukan hanya terus menopang dirinya agar tidak ambruk ke tanah.

Tak beda jauh dari adiknya, kondisi Kris kini juga hanya bisa bersimpuh di tanah sampai lututnya terlihat gemetar.

Meskipun dia hanya sosok palsu yang berasal dari sihir, namun semua daging yang dihidupkan dengan sihir itu membawa maksud dan tujuan. Membawa tindakan dan ucapan yang harus disampaikan.

Chanyeol menatap mata hitam legam Ayahnya di depan sana dengan mata berkaca.

"Ayah minta maaf," ucap sosok itu setelah sekian lama terdiam. "Kalian harus saling berperang karena kegagalanku dalam mendidik putra-putraku."

Chanyeol tak ayal meneteskan air mata begitu ia bisa mendengar betapa nyata suara Ayahnya ini. Kris yang tadinya terlihat begitu murka lalu dengan pilu menangis tanpa suara sampai air matanya jatuh ke tanah, begitu deras.

"Kalian harus saling menjaga satu sama lain karena Ayah, Baazi dan Quans tidak bisa selalu ada setiap waktu. Jadilah saudara yang saling mencemaskan, yang saling mengasihi."

Menangis. Hanya itu yang bisa kakak beradik ini lakukan selagi Ayah mereka memberikan pesan di detik-detik terakhir waktunya 'dihidupkan kembali'.

"Ayah sangat bangga memiliki kalian berdua sebagai penerus Wolfhard. Kalian adalah orang-orang yang baik, kuat dan pemberani. Terima kasih sudah menjadi kebanggaan Ayah."

Chanyeol mulai meraung dalam tangis ketika dirasakannya, tangan besar sang Ayah membelai rambutnya. Kris juga mulai terdengar isakannya. Nafas si sulung sampai terputus-putus ketika ia bisa merasakan, untuk pertama kalinya tangan sang Ayah membelai rambutnya dengan begitu lembut.

Sampai usapan di kepala mereka menghilang, tangis demi tangis mulai mereda. Kerinduan yang tadinya luar biasa menyiksa, redam sudah. Dan kebencian yang sebelumnya berkobar di dalam jiwa, kini padam sudah.

"Meskipun aku ada di Marrakech, aku akan selalu ada untukmu," Kris berucap selagi Chanyeol berdiri dan memunggunginya.

Menyembunyikan air mata yang dia coba hapus dari wajah dan tak ingin sampai kakaknya ini melihat.

"Aku akan selalu ada untuk adikku tidak peduli dia mau menerimanya atau tidak."

Chanyeol berjalan menjauh selangkah dua langkah dengan tekad bahwa dia tidak akan goyah. Kris harus tetap diasingkan ke Marrakech dan mendapatkan hukuman yang pantas dia dapatkan. Chanyeol terus meneguhkan hatinya. Ia terus mencoba sekuat tenaga.

Namun, itu berarti dia mengkhianati pesan terakhir Ayahnya sendiri...

Chanyeol tidak bisa...

Pria itu lalu menghela nafas setelah berdoa semoga apa yang dia putuskan ini tidak akan salah, "aku akan meminta Kai untuk membatalkan pengasinganmu."

Quans, Baazi dan Kris sendiri yang tadinya menunduk lesu langsung menatap punggung si bungsu dari keluarga Wolfhard itu dengan terkejut.

Chanyeol bisa merasakan sorot semua orang yang ada disana kini menghujaninya dari belakang punggung namun pria itu mengacuhkannya dan terus berjalan untuk pulang. Untuk menyembunyikan sedih dan air mata di wajahnya. Untuk terus terlihat tegar seperti yang biasanya ia lakukan.

Chanyeol terus melangkah dan perlahan merubah pijakkannya menjadi sebuah pelarian.

Dia hanya ingin segera pulang ke rumah.

Pulang ke tempat dimana Baekhyun berada.

Dimana ia bisa mengobati lukanya hanya dengan melihat sosok itu tersenyum.

.

Di atas tanah berdarah yang kau pijak

Tangis anak-anak jadi pemupuk kesedihan

Domba dan serigala berlarian ke peraduan

Matahari terbenam, matahari terbenam menghilang

Setelah berperang, darah dan pedang jadi saksi

Kehilangan adalah luka yang tak ada sembuhnya

Tak ada sembuhnya.

Tak'kan ada sembuhnya.

.

Chanyeol terus berlari pulang dengan peluh di seluruh wajah. Sekawanan burung gagak terbang di atas kepalanya seiring dengan gelap yang mulai menyambangi hutan. Cahaya matahari yang tadinya menyelinap di antara sela pepohonan juga sudah menghilang.

Gelap perlahan datang, namun beruntung, dia memiliki satu matahari yang tak akan pernah pudar sinarnya.

Baekhyun, omeganya, belahan jiwanya itu sudah berdiri di pekarangan sambil tersenyum, untuk menyambut kepulangannya. Kunang-kunang berterbangan di sekitarnya dengan begitu indah. Baekhyun jadi lebih indah.

Bahkan indah saja tak cukup untuk menggambarkannya.

Chanyeol balas tersenyum dan langsung mencium bibir tipis omeganya itu dengan penuh kerinduan. Keduanya hanyut dalam sebuah cumbuan sederhana namun sarat akan cinta kala malam mulai menaungi kepala.

Dan ketika ciuman itu terhenti, tangan kecil Baekhyun menuntun yang lebih besar untuk menyentuh perutnya yang sudah mulai membulat. Senyum di bibir tipisnya mengembang dengan begitu perlahan. Matanya berbinar menatap manik Chanyeol yang jelas memantulkan seribu tanda tanya.

Baekhyun terkekeh jenaka.

"Aku hamil."

.

.

.

THE END


Bacods:

Iya-iya sequel otw ini we jangan dipalak yak.

Maap yak we tuh gabisa bikin scene yang super menye yang ampe berderai air mata pokoknya yang ampe ashakit banget gitu. We gabisa. Adanya kek begitu yak mohon diterima.

Daan sampe ketemu besok yak. Besok kapannya gatau ye jangan kepo. Makasi yak udah mau baca dan tetep nunggu ff ini aowkaowkaowkaowk we terharu.