Sesuai yang kujanjikan, ini dia chapter barunya!
Maaf karena harus update malam, sebenarnya aku berniat nyelesain chapter ini tadi siang, tapi malah molor sampai malam, sekali lagi maaf karena lama menunggu!
Happy reading! ^^
Warning : Gaje, super duper OOC, typo(s), dan keanehan lainnya.
Fanfic ini cuma untuk hiburan semata, jadi tolong jangan dianggap terlalu serius.
Disclaimer : Boboiboy dkk milik Animonsta Studio, ide cerita terinspirasi dari drama Secret Garden.
Yaya's POV
Aku memejamkan mataku rapat-rapat, menanti saat balok-balok kayu itu jatuh menghantam tubuhku. Jantungku berdegup kencang, sambil mulutku berkomat-kamit merapalkan doa. Ya Tuhan, aku pasti telah melakukan perbuatan yang sangat berdosa sampai harus berakhir seperti ini. Pertama aku harus merelakan tubuhku tertukar dengan seorang laki-laki yang tak lain adalah sahabatku, dan sekarang aku akan mati mengenaskan tertimpa balok kayu hanya karena mencari seekor kucing. Yah, kalaupun aku memang harus mati, semoga saja dosa apa pun yang telah kuperbuat bisa terampuni.
Detik-detik terus berlalu, tapi aku masih tidak merasakan apa pun. Mungkin balok-balok yang jatuh itu langsung membuatku tewas seketika sehingga aku tidak merasakan sakit apa pun? Kalau begitu baguslah, paling tidak aku tidak harus menderita dulu sebelum mati.
Tapi aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh. Tidak ada suara apa pun di sekitarku, hanya ada kesunyian. Apa aku benar-benar sudah mati? Tidaaak! Aku masih ingin menjalani hidupku lebih lama lagi! Eh, tunggu dulu, sepertinya aku merasakan sesuatu. Kenapa tubuhku basah? Dan juga sepertinya aku mendengar suara rintik-rintik hujan. Eh, hujan?
Setelah menunggu beberapa detik lagi, aku akhirnya mencoba membuka mataku dengan takut-takut. Yang pertama kali kulihat adalah jalan beraspal yang perlahan basah oleh hujan. Ini di mana?
Seseorang menepuk bahuku dari belakang, membuatku jantungku hampir melompat keluar saking kagetnya.
"Boboiboy, apa yang kau lakukan di sini?" Itu suara Ochobot.
Aku berbalik dan melihat robot bulat kuning yang melayang di belakangku sambil sebelah tangan robotnya memegang sebuah payung kuning. "Ochobot? Kenapa kau ada di sini?" tanyaku bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu! Bukannya kau bilang mau mencari Yaya? Kenapa kau malah hujan-hujanan di sini? Nanti kau bisa sakit lagi," omel Ochobot sambil menyerahkan payung yang dipegangnya kepadaku. Tapi aku hanya memandanginya dengan tatapan bingung.
"Eh? Mencari Yaya? Tapi aku …" Aku kemudian menyadari sesuatu. Mataku membelalak saat aku mulai menyusuri tubuhku dan menyadari aku tidak memakai jaket oranye milik Boboiboy. Tanganku bergerak meraba kepalaku dan tidak menemukan topi di sana, melainkan sehelai kain yang menutupi seluruh kepala dan juga rambutku. Ini … jilbab.
Tetes-tetes hujan membasahi rumput-rumput di sekitarku. Benar juga … hujan!
"Aku kembali! Aku sudah kembali, Ochobot!" pekikku gembira.
"Eh? Kembali ke mana?" tanya Ochobot bingung.
"Aku sudah kembali ke tubuhku semula! Aku Yaya!"
"Eeeh?! Benarkah?" Mata biru elektrik Ochobot terlihat melebar. Aku mengangguk bersemangat dan buru-buru bangkit. Ah, lagi-lagi bajuku basah dan kotor. Kenapa harus seperti ini setiap kali bertukar tubuh, sih?
"Kau benar-benar Yaya?" tanya Ochobot sambil memandangiku yang tengah berusaha membersihkan tanah yang mengotori seragam sekolahku.
"Iya, Ochobot, aku Yaya. Hujan membuat kami bertukar tubuh, ingat?" ucapku, masih tidak bisa menahan kegembiraanku. Akhirnya, setelah hampir dua minggu terjebak di tubuh Boboiboy, aku bisa kembali ke tubuhku semula!
"Ah, benar juga, tadi Boboiboy juga bilang begitu," kata Ochobot sambil mengangguk-angguk. "Ngomong-ngomong, di mana Boboiboy?" Tubuhku membeku saat mendengar pertanyaan Ochobot. Karena terlalu senang kembali ke tubuh asliku, aku sampai melupakan hal yang sangat penting. Boboiboy. Kalau sekarang ia berada di tubuh aslinya, itu berarti …
Tanpa menghiraukan Ochobot yang terlihat kebingungan, aku segara berlari menerobos hujan. Pikiranku dipenuhi kekalutan saat aku membayangkan apa yang mungkin telah menimpa Boboiboy. Kalau ia sampai kenapa-napa gara-gara aku, aku … Tidak, tidak, tidak, ini tidak boleh terjadi. Boboiboy tidak boleh terluka gara-gara aku! Tuhan, kumohon semoga tidak terjadi apa-apa pada Boboiboy …
Aku tiba di depan gedung yang sedang dibangun itu, tempatku tadi berada sebelum kembali ke tubuhku semula. Jantungku langsung mencelos begitu melihat ada banyak orang yang berkerumun di sana, semuanya memakai payung untuk melindungi mereka dari hujan. Sedangkan aku, dengan tubuh yang hampir basah seluruhnya, dengan sedikit bersusah payah berusaha menerobos kerumunan itu. Nafasku tercekat begitu melihat sebuah mobil ambulan terparkir di sana. Tidak mungkin, apa Boboiboy benar-benar …
Saat itu aku melihat beberapa petugas yang memakai jas hujan menggotong sebuah tandu, dan aku bisa merasakan jantungku berhenti berdetak saat melihat sosok yang terbaring di sana. Seorang pemuda yang mengenakan jaket oranye, matanya terpejam, dan rambut hitamnya basah oleh air hujan dan … darah.
"Boboiboy!" Aku menjerit dan langsung menghambur ke arahnya. Namun para petugas yang menggotongnya menahanku agar tidak mendekati tandu itu.
"Maaf, nak. Kami harus segera membawanya ke rumah sakit," kata salah satu dari petugas itu.
Aku hanya bisa memandang tak berdaya saat Boboiboy dimasukkan ke ambulan, dan mobil itu pun melaju cepat meninggalkan tempat itu. Sementara aku berdiri mematung di tengah rinai hujan, aku bisa mendengar orang-orang di sekitarku saling berbisik.
"Eh, itu tadi bukannya cucu Tok Aba?"
"Yang benar? Si Boboiboy itu?"
"Wah, kita harus segera memberitahu Tok Aba."
Tok Aba … Apa yang akan dikatakannya jika tau akulah yang menyebabkan cucunya seperti itu? Seharusnya aku yang tertimpa balok-balok kayu itu, bukan Boboiboy. Sekarang, apa yang harus kulakukan?
.
.
.
Normal POV
Ying memegangi payung birunya erat-erat di tangan kiri, sementara tangan satunya memegangi kantung putih berisi belanjaan yang dititipkan ibunya. Menyebalkan sekali disuruh berbelanja di hari hujan seperti ini, padahal di cuaca seperti ini akan lebih menyenangkan kalau bisa bergelung nyaman di tempat tidur sambil menikmati secangkir cokelat panas.
Gadis berkacamata itu menghentikan langkahnya saat melihat kerumunan kecil orang di hadapannya. Apa yang mereka lakukan di tengah hujan begini? Apa terjadi sesuatu? batin Ying sambil mengernyitkan keningnya.
Rasa penasaran membuatnya ingin mencari tau, tapi kantung belanjaan berat di tangannya membuat Ying ingat bahwa ia harus cepat-cepat pulang dan menyerahkan belanjaan titipan ibunya. Gadis berkuncir dua itu terpaksa menelan rasa ingin taunya, dan ia kembali menggerakkan kedua kakinya untuk melangkah pulang. Namun baru dua langkah, ia kembali berhenti. Iris birunya membelalak di balik kacamatanya begitu melihat sosok yang ia kenal. Seragam putri dari SMA-nya, dan juga kerudung merah muda, itu pasti …
"Yaya!" Yang dipanggil tidak menoleh. Ying baru ingat bahwa sahabatnya itu bertukar tubuh dengan Boboiboy, jadi mungkin itu Boboiboy, bukan Yaya. Tapi ia tidak mungkin memanggilnya Boboiboy di depan semua orang ini, kan?
Ying akhirnya memutuskan untuk menghampiri sahabatnya itu. Langkahnya menimbulkan bunyi berkecipak di atas genangan air hujan. Begitu tiba di sebelahnya, Ying baru menyadari bahwa gadis berkerudung itu tidak memakai payung dan seluruh tubuhnya telah basah kuyup.
"Ya—Boboiboy, sedang apa kau di sini? Kenapa kau tidak memakai payung? Tubuhmu basah kuyup!" kata Ying dengan suara berbisik.
Gadis berkerudung merah muda itu berbalik, Ying kaget melihat air mata di wajahnya yang telah menyatu dengan air hujan.
"Boboiboy, kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Ying panik sekaligus cemas. Ia menggeser payungnya untuk menutupi tubuh sahabatnya itu agar tidak semakin kehujanan.
"Ying … Boboiboy … Boboiboy kecelakaan …" Suara yang keluar dari mulut Yaya sangat pelan dan tertutup oleh suara hujan, seingga Ying yakin ia pasti salah dengar.
"Eh? Apa maksudmu? Boboiboy kecelakaan? Bukannya kau Boboiboy?" tanya Ying tak mengerti. Kemudian ia ingat tentang perkataan kedua sahabatnya beberapa hari lalu, mereka bertukar tubuh saat hujan. Apa itu berarti yang ada di hadapannya sekarang adalah Yaya yang asli?
Bahu Yaya —atau Boboiboy, Ying juga masih belum yakin— bergetar pelan, dan isakannya terus terdengar di tengah derai hujan. Kalau saja tangan Ying tidak penuh, ia pasti sudah memeluk sahabatnya sejak kecil itu.
"Ya—Yaya? Kau Yaya, kan? Kalian sudah bertukar tubuh kembali?" tanya Ying pelan, setidaknya ia harus memastikan hal itu terlebih dahulu. Gadis berkerudung di hadapannya mengangguk pelan sambil terus menangis. Ying mendesah lega, setidaknya ia sudah mengerti satu hal.
"Oke, kalau begitu bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi? Sepertinya aku tadi salah dengar, apa tadi kau bilang Boboiboy … kecelakaan?" Ying berharap Yaya akan menggelengkan kepalanya, dan bahwa ia memang benar-benar salah mendengar ucapan Yaya karena dikaburkan oleh suara hujan. Tapi sahabatnya itu justru mengangguk dan terisak semakin keras.
Jantung Ying mencelos. Selama beberapa saat ia tidak tau harus berkata apa, ia hanya bisa menatap Yaya yang kelihatan sangat terpukul. Ying tersentak saat Yaya tiba-tiba mencengkeram lengannya.
"Ying, kita harus ke rumah sakit!" kata Yaya setengah berbisik.
"O, oke, baiklah." Ying menatap kantung belanjaan di tangannya. Ibunya mungkin sedang menunggunya di rumah, tapi ini lebih penting, ia harus ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi sahabatnya. "Pegang lenganku kuat-kuat Yaya," ujar Ying.
Gadis berkacamata itu mengaktifkan jam kuasa miliknya, dan dalam sekejap mata ia pun melesat meninggalkan tempat itu, dengan Yaya yang terus memegang lengannya.
.
.
.
Boboiboy's POV
Hal pertama yang kulihat saat membuka mata adalah langit-langit berwarna putih. Sekelilingku terlihat kabur, dan aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk mengembalikan fokusnya. Setelah benda-benda di sekitarku tak lagi terlihat kabur, barulah aku menyadari seseorang yang berdiri tak jauh dariku, seorang wanita berpakaian ungu muda tengah serius menatap clipboard di tangannya.
"A-anu…" Suaraku terdengar lemah, tapi untunglah wanita itu bisa mendengarku.
"Oh, syukurlah kau sudah sadar," ujarnya sambil tersenyum hangat.
"I-ini di mana? Apa yang terjadi padaku?" tanyaku bingung. Sepertinya tempat ini tidak terlalu asing. Mungkinkah ini …
"Kau ada di rumah sakit." Eh? Jadi ini di rumah sakit? Kenapa aku bisa di sini? "Kau tertimpa balok kayu dan pingsan, ingat?" ujar wanita — yang sepertinya seorang perawat— itu lembut.
Oh, benar juga, balok kayu itu. jadi aku memang tertimpa ya? Padahal seingatku aku sudah berusaha menghindar di detik-detik terakhir.
"Tapi untunglah lukamu tidak terlalu parah. Sepertinya kau berhasil menghindar di detik-detik terakhir ya?" ujar perawat itu lagi. Aku menatapnya dengan kagum, ia menjawab pertanyaan yang ada di kepalaku. Mungkinkah wanita ini bisa membaca pikiranku?
"Eh, i—iya. Sepertinya begitu," kataku sambil menggaruk-garuk pipi. Aku sedikit meringis saat merasakan sakit di bagian kepala. Tanganku bergerak menyentuh dahiku yang terbalut perban.
"Lebih baik jangan terlalu banyak digerakkan dulu. Walaupun lukanya tidak parah, tapi kau mengalami gegar otak ringan," kata sang perawat.
Aku memandang perawat itu dengan ngeri. Gegar otak? Aku mulai memutar otakku untuk mengingat apa saja hal yang kutahu tentang gegar otak. Gegar otak bisa berarti kerusakan otak, kan? Kalau otakku rusak apa seluruh sistem di tubuhku juga akan rusak? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa berjalan lagi? Apa aku akan lumpuh? Aku berusaha menggerakkan kedua kakiku yang tertutup selimut dan mendesah lega karena ternyata keduanya masih bisa bergerak.
Perawat itu sepertinya mengetahui kekhawatiranku. Ia pun berujar dengan lembut, "Jangan khawatir. Dokter sudah memeriksa kepalamu dan tidak ada kerusakan yang parah. Kau akan segera sembuh tak lama lagi."
"Oh, baguslah kalau begitu," ucapku penuh syukur.
"Bagaimana perasanmu? Apa kau merasa pusing atau mual?" tanya sang perawat.
"Eh? Tidak. Aku baik-baik saja," ujarku. Wanita itu terlihat mencatat sesuatu di clipboard-nya.
"Baiklah. Kalau kau merasakan gejala-gejala aneh, tolong segera diberitahu," ujarnya sambil tersenyum. Aku mengangguk. Perawat itu mencacat beberapa hal lagi, sebelum akhirnya berbalik dan perlahan meninggalkanku.
"A—anu, apa aku sudah boleh pulang?" tanyaku.
"Jangan dulu, kau masih harus dirawat."
"Tapi aku sudah tidak apa-apa. Aku bisa bangun dan …" Aku mencoba turun dari tempat tidurku dan tubuhku langsung limbung sesaat setelah kakiku menyentuh lantai, untunglah perawat itu berhasil menangkapku sebelum aku ambruk.
"Kan sudah dibilang, lukamu memang tidak parah, tapi kau mengalami gegar otak. Mungkin gejalanya akan muncul nanti, karena itu sampai benar-benar pulih kau harus dirawat dulu di sini," omel si perawat sambil membantuku naik kembali ke tempat tidur.
"Ta—tapi aku pasti bisa pulih, kan?" tanyaku takut-takut. Jangan sampai aku benar-benar jadi lumpuh cuma gara-gara tertimpa balok kayu itu.
"Ya, tenang saja. Kau pasti akan segera sembuh," katanya sambil mengelus rambutku lembut. Ah, aku jadi teringat ibuku.
Aku pun mengangguk dan membiarkan perawat itu menyelimuti tubuhku. Setelah itu ia pun melangkah keluar, meninggalkanku sendiri di kamar yang tidak terlalu luas ini. Aku menatap langit-langit di atasku dan tiba-tiba teringat sesuatu.
Ah, Tok Aba! Apa Tok Aba sudah tau aku masuk rumah sakit? Pasti atok akan sangat cemas kalau sampai tau. Tapi seseorang pasti sudah memberitahunya kan?
Pintu kamarku tiba-tiba terbanting membuka, membuatku terlonjak kaget. Aku menoleh dan melihat Ying berdiri di pintu dengan ekspresi wajah panik sekaligus khawatir.
"Boboiboy!" Gadis itu segera menghambur ke arahku. Kupikir ia akan memelukku, namun langkahnya berhenti tepat di sebelah tempat tidurku.
"Kau tidak apa-apa? Kenapa kepalamu di perban? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa kecelakaan?" tanya Ying bertubi-tubi. Aku bahkan tidak bisa mengerti sebagian pertanyaannya karena ia berbicara terlalu cepat.
"Tenanglah, Ying, aku tidak apa-apa. Dan cobalah berbicara pelan-pelan, aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ujarku. Aku mengubah posisiku yang semula berbaring menjadi duduk dan memandang iris biru tua di balik kacamata bundarnya. "Dari mana kau tau aku ada di sini?"
"Tadi aku bertemu Yaya dan … Eh? Mana Yaya?" Ying menoleh dan menyadari tak ada siapa-siapa di sebelahnya. Aku hanya bisa melongo bingung saat melihat gadis itu tiba-tiba melesat kembali keluar.
Ah, benar juga, aku hampir saja melupakan Yaya. Dia sudah kembali ke tubuhnya, kan? Apa dia baik-baik saja?
Ying kembali sambil menyeret seorang gadis berkerudung merah muda. Yaya terlihat basah kuyup dari atas sampai ke bawah. Dasar gadis itu, kenapa ia bisa sampai kehujanan lagi, sih? Kalau dia sakit bagaimana?
"Aku tadi tak sengaja bertemu Yaya saat baru pulang berbelanja," ujar Ying. Aku baru menyadari kantung belanja yang ada di tangan kanan Ying. Untuk apa ia membawa-bawa itu ke sini? "Lalu Yaya bilang kau … kau kecelakaan dan aku—kami, langsung berlari ke sini, dengan menggunakan jam kuasaku tentu saja," jelas Ying.
Aku menatap Yaya yang berdiri diam di sebelah Ying. Ia menundukkan kepalanya dan tidak mengucapkan apa pun. Aku melirik Ying dan bertanya tanpa suara kepadanya, namun Ying hanya menggeleng pelan tanda bahwa ia juga tidak mengerti.
Belum lagi aku berhasil mencerna perubahan sikap Yaya yang aneh, Ying tiba-tiba memutuskan untuk pergi. "Err, sepertinya kau baik-baik saja, Boboiboy. Kalau begitu aku pulang dulu, ya? Aku harus mengantarkan belanjaan ibuku, dan juga harus ada seseorang yang memberitahu Tok Aba tentangmu, Boboiboy," kata Ying.
"Eh? Ah, benar juga. Tolong beritahu Tok Aba bahwa aku baik-baik saja, agar atok tidak khawatir," pintaku.
"Ya, baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu!" Aku baru saja mengedipkan mataku, dan Ying sudah menghilang. Kemampuan manipulasi waktunya memang luar biasa, aku jadi ingin memiliki kekuatan itu juga.
Aku kembali mengalihkan perhatian pada Yaya, dan berdecak pelan saat melihat air yang menetes perlahan dari bajunya yang basah.
"Yaya, kalau kau tidak segera ganti baju nanti kau bisa masuk angin," kataku. Yaya tetap tidak mengucapkan apa-apa dan malah semakin menundukkan wajahnya. Aku mulai khawatir melihat sikapnya yang seperti itu. Apa terjadi sesuatu padanya?
Bahu Yaya bergetar, dan tiba-tiba saja ia mulai menangis terisak-isak. Aku langsung panik dan berusaha menenangkannya.
"Ma, maaf Yaya, aku bukannya bermaksud mengomelimu atau apa. Kalau kau tidak mau ganti baju ya sudah, tidak apa-apa kok," kataku. Aku mengira ia menangis karena aku menyuruhnya ganti baju. Tapi masa seorang Yaya menangis cuma karena itu? Memangnya dia anak kecil?
"… salahku," ucap Yaya pelan. Aku mendesah lega karena ia akhirnya mau membuka suara.
"Eh? Kau bilang apa? Maaf, aku tidak bisa mendengarmu," kataku.
"Ini semua salahku. Gara-gara aku kau jadi kecelakaan. Gara-gara aku kau sampai harus masuk rumah sakit," kata Yaya dengan suara terisak-isak.
Oh, jadi itu yang dia pikirkan sejak tadi? Ternyata Yaya merasa bersalah karena membuatku jadi seperti ini. Dia yang ada ditubuhku sebelum aku kembali, kan? Jadi karena dialah aku bisa berada di tempat itu tadi.
"Ini sama sekali bukan kesalahanmu, Yaya. Aku begini karena terlambat menghindar dari kayu-kayu itu. Dan mungkin kau malah telah menyelamatkanku, jam kuasamu sempat menahan kayu-kayu itu selama beberapa saat dan aku jadi punya waktu beberapa detik untuk bisa menyingkir. Kalau tidak lukaku mungkin akan lebih parah dari ini," kataku sambil menunjuk perban di kepalaku.
"Tapi, tapi akulah yang dengan bodohnya masuk ke tempat itu padahal sudah tau itu berbahaya. Dan aku juga yang tidak sengaja menyenggol tiang kayu itu sampai ambruk dan jatuh menimpamu. Seharusnya aku yang tertimpa, bukan kau," kata Yaya sambil menatapku dengan wajah bersimbah air mata.
"Jangan bilang begitu. Aku bersyukur hujan turun saat itu, dan kita bisa bertukar tubuh kembali. Jadi aku bisa menggantikanmu tertimpa kayu-kayu itu. Aku tidak akan pernah memaafkan diriku kalau sampai terjadi apa-apa padamu," kataku. Aku berusaha bangkit dari tempat tidur, tapi lagi-lagi tubuhku limbung. Aku mulai mengkhawatirkan hal-hal yang mungkin disebabkan oleh gegar otakku.
Yaya menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin saat ia membantuku duduk di tepi tempat tidur.
"Yaya, kau kedinginan. Kau harus segera mengganti bajumu yang basah," kataku khawatir. Yaya menggeleng pelan, dan tanpa peringatan apa pun, gadis itu tiba-tiba memelukku.
"Aku tadi takut sekali saat melihatmu tak sadarkan diri dengan kepala berlumuran darah. Ku—kupikir aku telah membunuhmu. Kupikir aku telah kehilangan dirimu untuk selamanya." Yaya terisak-isak di bahuku dan tangannya memeluk leherku erat, seolah tak ingin melepaskannya.
Aku tersenyum tipis dan mengusap kepalanya pelan. "Aku tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja sekarang. Maaf sudah membuatmu khawatir," ujarku lembut. Aku terus mengelus kepalanya yang tertutup jilbab merah muda kesukaannya, sampai gadis itu mulai sedikit tenang. Ia melepaskan rangkulannya dari leherku, dan aku bisa melihat wajahnya yang memerah.
"Ma, maaf, aku tadi kehilangan kendali," ucapnya malu, sambil menghapus bekas air mata di pipinya.
"Tidak apa. Aku senang karena kau mengkhawatirkanku sampai seperti itu," kataku sambil nyengir. Wajah Yaya semakin memerah, membuatnya terlihat semakin manis di mataku. "Yaya, kau benar-benar harus segera ganti baju. Nanti ibumu bisa cemas kalau kau sakit," ujarku, sekali lagi memintanya untuk mengganti bajunya yang basah kuyup. Air yang menetes dari seragam sekolahnya sudah menggenang di lantai, dan bahkan bajuku juga sedikit basah karena pelukannya tadi.
"Tapi kalau aku pergi, nanti kau sendirian," kata Yaya sambil memandangku cemas.
Aku tertawa kecil mendengar ucapannya. "Astaga Yaya, aku bukan anak kecil. Aku tidak akan menangis kalau ditinggalkan sendirian," ujarku.
"Tapi …"
"Yaya, ayolah, apa kau ingin melihat ibumu mencincang-cincang tubuhku karena membiarkanmu terus basah kuyup seperti ini?"
"Ba, baiklah kalau begitu," kata Yaya akhirnya, membuatku bisa menghembuskan nafas lega. "Aku akan pulang dan ganti baju."
Aku mengangguk. Yaya berbalik dan melangkah ke arah pintu. Ia sempat menoleh kembali ke arahku dan menatapku khawatir, namun aku melambaikan tanganku dan menyuruhnya untuk segera pulang. Akhirnya Yaya membuka pintu dan mulai melangkah keluar.
"Aku akan segera kembali," ucapnya sebelum menutup kembali pintu geser itu.
Aku tersenyum tipis. "Ya, aku akan menunggumu."
.
.
.
Normal POV
Tok Aba hampir terkena serangan jantung saat mendengar cucu kesayangannya masuk rumah sakit. Lelaki yang sudah cukup tua itu sedang membuatkan cokelat panas untuk salah satu pelanggannya, saat beberapa warga tiba-tiba mendatangi kedainya dan mengabari bahwa Boboiboy kecelakaan. Untunglah saat itu Ying tiba, dan gadis itu segera memberitahu Tok Aba bahwa Boboiboy baik-baik saja dan ia tak perlu khawatir. Kalau Ying tidak muncul tepat waktu, mungkin pemilik kedai kokotiam itu akan mengikuti jejak cucunya harus dirawat di rumah sakit.
Boboiboy sedang tidur saat Tok Aba dan Ochobot tiba di rumah sakit. Pemuda itu terbangun begitu merasakan seseorang mengelus kepalanya. Bibirnya melengkung membentuk seulas senyum saat sang melihat sang kakek tengah duduk di sebelah tempat tidurnya.
"Oh, Tok Aba kapan sampai?" tanya Boboiboy berusaha membuat suaranya terdengar ceria.
"Baru saja," kata Tok Aba. Ia mengelus kepala Boboiboy yang tertutup perban. "Kau tidak apa-apa kan, Boboiboy? Apa ada yang sakit?" tanyanya cemas.
"Boboiboy nggak apa-apa kok, atok nggak perlu khawatir. Cucu atok ini kan kuat, kalau cuma segini sih biasa," canda Boboiboy.
"Atok ampir kena serangan jantung saat tau kau masuk rumah sakit," ujar Tok Aba sambil mengelengkan kepalanya. "Tapi syukurlah kalau kau baik-baik saja."
"Ehehe, atok nggak perlu mengkhawatirkan Boboiboy. Boboiboy bisa jaga diri kok, kan cucu atok ini seorang superhero," kata Boboiboy sambil nyengir lebar.
Tok Aba tersenyum, "Benar juga. Cucu atok kan bukan cuma anak biasa. Tapi lain kali kau harus lebih berhati-hati, Boboiboy," ujarnya.
"Oke, Tok!"
Yaya kembali satu jam kemudian, bersama Ying, Fang, dan juga Gopal. Pemuda bertubuh gempal itu langsung memeluk Boboiboy erat, hampir saja membuat sahabatnya itu pingsan lagi karena kehabisan nafas. Untung saja Boboiboy diselamatkan oleh Ying, yang langsung menarik Gopal menjauh darinya sebelum ia benar-benar tidak bisa bernafas.
Mereka menemani Boboiboy di rumah sakit sampai malam tiba. Barulah setelah jam besuk hampir habis, satu persatu mereka berpamitan untuk pulang. Namun Yaya tidak mengikuti teman-temannya dan bersikeras ingin menginap di rumah sakit untuk menjaga Boboiboy. Sebenarnya ia masih merasa bersalah dan menganggap bahwa dirinya punya kewajiban untuk menjaga Boboiboy karena ia lah yang menyebabkan pemuda itu sampai seperti ini.
"Yaya, ayolah, kau tidak boleh menginap di sini," kata Boboiboy untuk kesekian kalinya. Ia benar-benar lelah kalau harus berhadapan dengan sifat keras kepala Yaya.
"Siapa bilang tidak boleh? Di rumah sakit ini tidak ada larangan untuk menginap, kan?" kata Yaya bersikeras.
"Nanti ayah dan ibumu bisa cemas kalau kau tidak pulang," kata Tok Aba ikut membujuk.
"Yaya bisa menelepon mereka untuk mengabari kalau Yaya akan menginap di sini. Pasti ayah dan ibu akan mengerti," ujar Yaya, masih keras kepala.
"Tapi Yaya, atok jadi tidak enak dengan orangtuamu kalau membiarkanmu menginap di sini," ucap Tok Aba.
"Sudahlah, tok, biarkan saja Yaya menginap di sini," kata Ochobot tiba-tiba. Yaya langsung memandang robot itu dengan sorot mata penuh terima kasih. "Boboiboy dan Yaya kan sedang dimabuk cinta, jadi mungkin mereka tidak mau berpisah," lanjut sang bola kuasa santai.
Boboiboy memelototi robot kuning itu, sementara Yaya ingin sekali menjitak kepala bulatnya.
"Ya sudah, ka-kalau begitu Yaya akan pulang sekarang," kata Yaya akhirnya. Ia menatap Ochobot dengan tatapan kesal, sementara robot itu hanya tersenyum mengejek.
"Kalau begitu biar atok antar," kata Tok Aba menawarkan.
"Nggak usah tok, Yaya bisa pulang sendiri," tolak Yaya halus.
"Kalau begitu hati-hati," kata Tok Aba.
"Ya, Yaya pulang dulu, assalamualaikum," ucap gadis berkerudung itu.
"Waalaikumsalam," sahut Tok Aba dan Boboiboy. Pemuda itu menangkap sekilas tatapan dari Yaya, sebelum gadis itu menutup pintu dan menghilang dari pandangannya.
.
.
.
Yaya's POV
Aku melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang sepi. Wajar saja, sekarang baru pukul tujuh lebih lima menit di pagi hari. Walau jam besuk rumah sakit ini dibuka sejak pukul tujuh, tapi tetap saja tidak banyak orang yang datang menjenguk sepagi ini. Aku juga sebenarnya harus masuk sekolah, dan mampir ke sini mungkin bisa membuatku terlambat.
Tapi aku harus menjenguknya pagi ini, kalau tidak bayangan tentang mimpi burukku semalam tidak akan bisa hilang dari kepalaku. Aku harus meyakinkan diriku kalau mimpi itu tidak nyata, aku harus memastikan kalau 'dia' baik-baik saja.
Kakiku berhenti di depan ruangan dengan angka 203 tertulis di dekat pintu masuknya. Nama 'Boboiboy' tertulis rapi tepat di bawah angka itu. Dengan sangat perlahan dan berusaha untuk tidak menimbulkan suara, aku pun membuka pintu bercat abu-abu itu.
Cahaya matahari pagi menerobos masuk dari sela-sela gorden yang tidak tertutup rapat, memperlihatkan sosoknya yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Aku melangkah pelan menghampirinya, menjaga agar langkah kakiku tidak menimbulkan suara yang bisa membuatnya terbangun. Aku mendesah lega saat melihat dadanya yang bergerak naik turun perlahan. Itu artinya dia masih hidup, dia masih ada di sini, bersamaku.
Aku meletakkan buket bunga yang kubawa di meja di sebelah tempat tidurnya, dan setelah itu aku pun menarik kursi dan duduk.
Tanganku bergerak menyentuh rambut hitamnya yang berantakan, dan mengusapnya lembut. Aku bisa mendengar hembusan nafasnya yang pelan dan teratur, dan aku tidak bisa mencegah diriku untuk terus mengucapkan syukur karena ia benar-benar masih hidup. Aku masih tidak bisa menyingkirkan perasaan bersalah yang sedari kemarin menggelayuti hatiku.
Aku hampir saja membuatnya celaka. Aku hampir saja 'membunuh'nya. Entah apa yang akan terjadi kalau saja waktu itu jam kuasaku tidak berhasil menahan balok-balok kayu itu dan memberinya kesempatan untuk menyingkir. Tapi biarpun begitu, tetap saja ia terluka. Walaupun aku sempat —tanpa sengaja— mengaktifkan jam kuasaku sebelum kami bertukar tubuh, ia tetap saja tidak bisa menghindar dari balok-balok kayu itu dan harus berakhir di rumah sakit ini. Dengan kepala diperban dan juga mengalami gegar otak ringan. Dan semua itu adalah kesalahanku.
"Yaya?" Aku tersentak saat Boboiboy tiba-tiba membuka matanya. Buru-buru aku menjauhkan tanganku dari kepalanya. "Kenapa kau datang ke sini pagi-pa … Tunggu dulu, apa kau menangis?" tanyanya dengan suara panik.
Aku baru menyadari air mata yang menggenang di kedua pelupuk mataku, dan buru-buru menghapusnya. "Ah, tidak, ini … Aku tadi menguap, makanya mataku berair," ujarku.
"Oh, begitu," Boboiboy menganggukkan kepalanya paham. Untunglah dia bukan orang yang terlalu peka dengan hal seperti ini.
Boboiboy berusaha bangkit dan aku membantunya duduk dan meletakkan bantal di belakang punggungnya agar ia bisa lebih nyaman.
"Ngomong-ngomong kenapa kau ke sini pagi-pagi? Bukannya kau harus pergi ke sekolah?" tanya Boboiboy. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya dan malah melangkah ke arah jendela untuk menyibakkan gorden dan membiarkan lebih banyak cahaya matahari yang masuk ke kamar itu.
"Yah, rumah sakit ini kan tidak terlalu jauh dari sekolah. Cuma sepuluh menit kalau berjalan kaki. Jadi kupikir aku bisa menjengukmu sebentar sebelum pergi ke sekolah," ujarku sambil mengangkat bahu.
"Ah, bilang saja kau merindukanku, kan? Kau pasti sedih karena tidak bisa bertemu denganku di sekolah hari ini," kata Boboiboy sambil menyeringai jahil.
"Jangan terlalu percaya diri, Otak Jeruk," cibirku. Aku melangkah kembali ke sisi tempat tidurnya dan mengambil buket yang tadi kuletakkan di sana.
"Tok Aba mana? Tidak menginap di sini?" tanyaku sambil mencari vas untuk meletakkan bunga yang kubawa.
"He-eh. Aku menyuruh atok pulang, kasihan kalau Tok Aba harus menginap di rumah sakit," ujar Boboiboy.
Aku hanya ber-oh pelan tanpa mengucapkan apa pun lagi. Keheningan menjalar di kamar yang tidak terlalu luas itu, namun aku tidak berniat memecahkannya. Aku menyibukkan diri memasukkan bunga tulip putih yang kubawa ke dalam vas yang baru saja kutemukan.
"Yaya," panggil Boboiboy pelan.
"Hm?" Aku hanya bergumam pelan tanpa menolehkan kepala ke arahnya.
"Aku mencintaimu."
Jari-jariku yang tengah mengelus kelopak bunga terhenti saat mendengar ucapan Boboiboy. Aku menundukkan wajahku, terlalu malu untuk menatap langsung ke arahnya.
"Aku tau," ucapku pelan. Jawaban macam apa itu? Tapi aku benar-benar tidak tau harus menanggapinya seperti apa. Apa aku juga harus bilang bahwa aku mencintainya? Tapi aku sendiri masih tidak yakin dengan perasaanku.
Aku akhirnya berhasil memaksa diriku untuk berpaling ke arahnya menatap mata cokelatnya yang sewarna karamel. "Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal ini?" tanyaku. Bukan apa-apa, aku senang mendengar hal itu terucap dari mulutnya, tapi mungkin ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Di rumah sakit, saat dia baru saja selamat dari maut karena harus menanggung kecerobohanku.
"Entahlah. Aku hanya berpikir aku harus mengatakannya selagi sempat. Siapa tau nanti aku tidak akan punya kesempatan untuk mengatakannya lagi," kata Boboiboy, nadanya terdengar santai, tapi aku bisa merasakan kekhawatiran di dalam suaranya. Mungkin bukan cuma aku yang mendapat mimpi buruk tadi malam.
"Jangan bicara seperti itu, Boboiboy. Kau membuatku takut," ujarku pelan. Ya, aku takut, aku takut kejadian seperti kemarin terulang lagi, dan mungkin kalau itu terjadi ia tidak akan seberuntung ini, masih bisa duduk dan berbicara denganku.
"Jangan menganggap serius ucapanku, kau tau aku hanya bercanda," kata Boboiboy sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Aku terus menatap ke dalam matanya, berusaha mencari tau apa yang sedang dirasakannya. Apa ia juga merasa gelisah sepertiku?
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku," ucapku tiba-tiba. Aku sendiri kaget dengan kata-kata yang keluar dari mulutku, tapi memang itu yang ingin sekali kuucapkan sejak kemarin.
Boboiboy tersenyum lembut dan balas menatap mataku, "Tentu saja. Aku janji."
.
.
.
TBC
Aku nulis chapter ini dengan sepenuh hati, karena aku paling suka kalau bisa nulis sweet moment Boboiboy sama Yaya. Chapter depan mungkin bakal lebih banyak sweet moment mereka, jadi semoga kalian menantikannya! #maksa
Dan … aku memutuskan untuk membalas review dari para guest! Solanya aku ngerasa nggak enak kalau terus mengabaikan kalian *peluk satu-satu* *dilempar ke laut*
Jadi, yang reviewnya udah kubalas lewat PM, silakan skip aja bagian ini, dan langsung tekan tombol review, oke? #kedip2mata #dibakar
Bunkers : Maaf, Ying suka sama Boboiboy itu cuma sebagai pemanis (?), pair utamanya tetap BoboiboyxYaya kok ;) Makasih udah review!
DMTS : Wah, makasih udah dibilang bagus. Itu jam kuasa Yaya lagi aktif, makanya kayu-kayu itu melayang dan nggak langsung nimpa Boboiboy. Tapi sama kayak jam kuasa Ying, ada batas waktunya juga, jadi bunyi bip itu tanda waktunya udah habis (p.s. ini cuma imajinasiku aja, nggak tau apa di kartunnya juga kayak gini). Boboiboy selamat kok, udah baca di chapter ini, kan? Makasih atas reviewnya!
Selir baekhyunah : Eh, serius?! Kok bisa mirip gitu ya? Jangan-jangan kita punya hubungan batin? /iniapa Ehehe, ini cuma imajinasiku aja kok, kalau ada kesamaan dengan dunia nyata hanya kebetulan semata (?) Btw, makasih udah review!
Cansa403: Ini udah lanjut, makasih atas reviewnya!
Ananda tia : Iya, aku juga berpikir lebih bagus kalau sahabat-sahabat mereka tau. Dan ini udah di next ya, makasih atas reviewnya!
Hanna Yoora : Ini udah update, maaf menunggu lama. The Story of Usnya juga udah diupdate rabu kemarin. Makasih atas reviewnya!
Kim Jong Kook : Iya, sesuai janji, ini udah di update chapter barunya. Makasih udah menunggu, dan makasih atas reviewnya!
Lala : Ini udah di next, makasih udah review!
Sweet Baekhyun : Ini udah di update ya, makasih udah review!
Oke, sampai jumpa di chapter depan!
