Tirai merah terkembang, membuka satu sudut restoran. Hidangan laut yang berkelas tersaji di meja pendek di dalam ruangannya. Mula-mula nampak satu pria duduk tegap di sana, dia diam menunggu tamunya datang. Riuh restoran tidak mengusiknya sama sekali, dia tenang dan sedikit merendahkan kepala menghadap meja pendek itu.

"Turunkan tirainya," perintah laki-laki itu kepada anak buahnya. Pria berjas hitam itu menggiring satu botol sake ke cawan milik tamunya yang secara ajaib ada di sana. Gerakkannya penuh perhitungan, bisa ditebak bagaimana ia begitu menghormati tamunya.

"Pepatah berkata, sepandai-pandai tupai melompat dia akan jatuh juga. Kau percaya itu kan?"

Pria itu mengangguk sambil menuang minuman keras ke cawannya sendiri.

"Kau tahu kan kalau aku tidak datang untuk sekadar berbincang"

"Iya, Szayel-san"

Rupa Szayel yang disapu remang-remang cahaya, terlihat mengeras. Seakan emosinya berkumpul di ubun-ubun dan bisa meledak sesuka hatinya. Kemudian, makanan di hadapannya segera ia remat dan melumatnya masuk ke dalam mulut.

"Seperti ini. Aku akan menghabisi para keparat itu!" amukkan menyudutkan pria berjas hitam itu bagai tupai kecil.

Szayel masih dalam keadaan sadar untuk tidak menghancurkan seisi restoran, "Di dunia hanya dua orang yang membuatku bertindak sejauh ini"

"I-ini hanya masalah waktu, Szayel-san. Aku yakin mereka segera berada di genggamanmu. Mereka tidak berniat untuk membuat satu kelompok atau organisasi apa pun"

"Apa maksudmu? Kau tidak tahu apapun tentang itu," ketus Szayel.

"Aku mencoba mengeluarkan pendapatku. Gin yang baru-baru ini lolos dari polisi, tidak akan punya tujuan selain bertemu denganmu. Baginya hanya makan waktu, jikalau mengumpulkan orang lagi," jelas pria itu agak segan untuk menatap Szayel.

"Oh, secara tidak langsung kau ingin membuat segala usahaku percuma? Begitu!?"

"M-maaf atas perkataanku," pria itu mengakui kebodohannya.

"Omong kosong. Jika kau tidak segera menemukannya kau bisa menebak sendiri apa yang terjadi kepada istri dan anak-anakmu"

Pria berjas penakut itu mengatakan hal yang benar. Seharusnya ia menyadari sepak terjang mencari dua pion Kyosei-kai tersebut merupakan hal yang mustahil. Gerak-gerik Ulquiorra maupun Gin jauh beberapa level di atas anggota Kyosei-kai yang habis dibantainya, karena itu dia selalu tertinggal di belakang. Szayel mengetahui, kalau mereka merasa sedang diincar. Mereka selalu berhasil membuat Szayel meleset.

Tapi bagaimana kalau selama ini, justru Szayel yang menjadi buruan mereka. Terlalu sibuk mengejar, dia mungkin tak sadar kalau akan diserang dari belakang. Pria berambut senada dengan Sakura itu terdiam dengan dugaannya sendiri. Dia pun sebenarnya sedang bersembunyi juga.

Mengapa dia harus takut begini? Apa jangan-jangan dia sudah bermimpi kalau akan kalah baik dari Ulquiorra dan Gin? Apa dia hanya perlu duduk manis dan menyambut kedatangan mereka, tanpa perlu menjemput paksa?

Krakk

"S-szayel-san?"

Cawan merah yang dipegangnya retak. Dia sedang dipermainkan oleh cocokologi otaknya. Teori yang tak jelas dari mana datangnya, seperti menoyor kepalanya sekilas.

.

.

Yami (The Darkness)

Bleach

.

.

Saya hanya meminjam karakternya saja

.

.

Warning: Typos, AU, DLDR, OOC

.

.

Saya tidak mengharapkan keuntungan materil apapun dalam fanfic ini

.

.

Enjoy~

.

.

.

"...maaf b-baru menyadarinya..." Orihime Inoue belum selesai dengan kata-katanya.

"Aku sudah tidak jujur tentang perasaanku selama ini, dan juga mengenai Ulquiorra-kun. Mungkin aku takut, kau akan membenciku setelah mengetahui semuanya. Semenjak hubungan ini berjalan hatiku tidak tenang, dan merasa kalau aku hanya memanfaatkanmu saja"

"...maaf a-aku...t-telah bersikap egois dan tidak mementingkan perasaanmu," banyak sekali kesalahan yang telah dilakukan, dan mungkin hanya beberapa yang terwakilkan dari mulutnya. Namun, jika pria itu belum puas atas permohonan maafnya, Orihime belum memikirkan penebusan apa yang layak. Dia juga sadar sudah bertindak terlalu jauh untuk menyakiti Hirako.

Hirako memattikan keran wash dishesnya, "Jadi itu alasanmu untuk menerimaku"

"Shin..."

"Asal kau tahu, harapanku begitu besar padamu," Hirako membalikkan tubuhnya. Kekehan dan mimik jenaka sirna dari wajahnya. Hanya tersisa raut yang sakit.

"Aku tahu suatu saat kau akan mengatakannya, tapi sayangnya aku belum siap untuk itu"

Tangis Orihime kembali, perkataan Hirako telah menumbur perasaannya. Rasa bersalah terus menekan dirinya.

"Untuk apa menangis? Apa ada yang merubah pikiranmu?," Hirako menatap heran Orihime.

"A-aku, apa dimaafkan?," sebenarnya Orihime tahu ini pertanyaan konyol.

"Apa kau juga akan melakukan hal itu kepada orang yang mencampakkanmu?," Hirako memenangkan permainan. Orihime langsung bungkam.

Hirako memijat pelipisnya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hirako tidak mengerti ungkapan penyesalan yang dibuat Orihime, terlebih dia harus mendengar kenyataan buruk dari gadis itu. Pria itu sudah lelah dengan berbagai tekanan yang terus menyudutkannya akhir-akhir ini, dia tidak mau menambah beban pikirannya dengan berdebat tentang kelangsungan hubungannya dengan Orihime.

"Masih banyak waktu untuk membicarakan ini. Aku ingin istirahat..."

"Aku tidak mau berakhir seperti ini," Orihime mencegah Hirako melintas dari hadapannya.

"...s-sejujurnya kau selalu berhasil melakukannya, tapi mungkin kau hanya salah orang. Tidak dengan gadis yang tidak tahu diri sepertiku," Orihime meremas lengan baju Hirako yang basah. Orihime hanya ingin membuktikkan bahwa ia bersungguh-sungguh, "G-gadis itu hanya perlu tamparan untuk melihat betapa penting orang-orang di sekitarnya. K-kau tahu maksudku kan?"

"Apa aku sudah melakukannya?" Hirako mencoba menafsirkannya.

"Waktu itu dan sekarang"

Hirako mengerjapkan matanya, "Sekencang itu?" Pria ini memastikan. Sebuah anggukkan pun menjawab kerisauannya.

Dia masih belum tahu kemana pembicaraan ini bermuara. Kalau pada akhirnya akan melahirkan satu keputusan yang pahit, dia takkan bisa membayangkannya atau Orihime sekarang hanya mempermainkannya saja? Gadis itu terlalu dini untuk membalikkan keadaan.

"Aku sudah memutuskannya. Ini memang terlalu cepat dan kedengaran aneh melihat pertengkaran kita yang baru saja usai..." ujar Orihime.

Perkataan Orihime terus bertentangan dengan logikanya. Otaknya menyuruh untuk gadis ini pergi, tetapi rasa kemanusiannya berusaha menghormati penjelasan Orihime.

"Aku bukan orang yang pantas untuk diberikan kesempatan kedua. Namun, kalau kau mempercayakannya, aku janji. Aku akan b-errjanji... S-shinji-kun zutto soba ni"

"K-kau..."

"Aku selalu yakin bahwa Hirako Shinji tidak seburuk yang orang kira. Jauh lebih baik dari itu. Dia seorang pekerja keras, berusaha untuk orang lain, dan kehidupannya. Sebenarnya juga ia tidak gagal untuk menggapai cintanya," ungkap Orihime sekali nafas.

Setelah itu Orihime memandang ke bawah. Surai rimbunnya bergelantung menutupi luapan perasaan yang tertoreh di wajahnya. Permukaan pipi terasa panas, aliran darahnya berdesir hebat. Bungsu Inoue telah mengungkapkan isi hatinya. Hatinya campur aduk antara lega sekaligus frustasi.

Pada dasarnya Orihime memang tidak berniat membahas segala kebimbangannya pada Hirako dan juga hatinya yang goyah pada Ulquiorra. Butuh pertimbangan baginya mengulas hal tersebut dan dia tahu jalan mana yang harus diambil. Melalui suara hati, Orihime berharap bisa meyakinkan Hirako kalau perasaannya sudah berubah.

"Orihime, kau sadar apa yang telah kau katakan?", "...H-hai"

Ia memegang bahu kecil Orihime dan mencari kejanggalan. Lelucon macam apa yang dibuat oleh Orihime? Lagipula dapat ide darimana si Manis Orihime memanggil nama depannya? Dan tentu Hirako yang bodoh akan mempercayai itu semua sekalipun hanya bualan belaka.

"Kau tidak sinting kan?," Orihime menggeleng, "Kau bikin orang bingung tau enggak," timpal Hirako.

Hirako sedikit memberikan sela di antara mereka. Dia jadi ingat kalau dirinya adalah seseorang yang mudah ditipu dan gampang juga untuk menyadarinya. Jika ini hanya akal-akalan gadis ini untuk memperdayakannya lagi, dia mesti sanggup untuk memutus hubungan detik ini juga. Biarlah hati kecilnya merengek. Gadis ini benar-benar jahat rupanya.

"Mengapa kau bisa semena-mena seperti ini?"

Tetapi, Orihime Inoue tidak seperti itu.

Hirako mengangkat dan menangkup wajah yang mungil itu. Ah, Hirako tahu banyak laki-laki yang tergila-gila pada paras gadisnya yang tak tercela. Di antara segalanya, hanya dia yang paling tahu apa pun tentang Orihime Inoue.

"Kamu itu memang salah besar"

Bibir Hirako menyentuh piltrum Orihime dan menyapu hingga ke bibir bawahnya. Di sisi lain Orihime terus mempertahankan matanya agar tetap terjaga, kedua tangannya bertaut gugup. Ia bisa meresapi jejak ciuman Hirako yang menyamai suhu tubuh pria itu. Terasa panas dalam arti harfiah. Mulut gadis senja ini belum terkatup. Mata abu-abunya menyorot pada kestabilan Hirako.

Orihime mencoba memusatkan pikirannya lagi, "A-apa itu artinya kau memaafkanku?," Hirako menempelkan kening mereka.

"Katakan apa maksud semua ini," Hirako memandang lekat gadisnya.

Mata Orihime berkaca-kaca, air matanya segera tumpah, "A-aku tahu ini tiba-tiba. Tentu saja ini ceroboh untuk datang ke tempatmu"

"Tidak" Hirako langsung membuat Orihime tidak berkata-kata dengan pelukannya. Cenderung erat dan menyesakkan.

"Kau membuatku berpikiran jahat tentangmu. Sialan..." Orihime melirik ke atas dimana Hirako memejamkan matanya, "Kau pasti mengira kalau aku berbohong kan, S-shinji-kun?"

Hirako tidak menjawab. Gadis yang masih tenggelam di dadanya, tersenyum miris, "Sudah kubilang ini memang aneh. Tetapi aku benar-benar tidak bohong," Orihime berusaha melepaskan diri.

"Aku juga tidak bohong tentang ini..."

Orihime merasa ini waktu yang tepat, "Shinji-kun...d-daisuki!"

"Gomenne...kalau aku mengatakannya terlambat"

"..."

Tidak ada reaksi yang dikeluarkan Hirako, melainkan tak berhenti menatap Orihime yang berdiri tiga langkah darinya. Sementara itu Orihime menjadi rendah diri dan berpikir kelakuannya sangat memalukan. Apa ini saatnya untuk pergi?

"S-shinji-kun?"

Hirako memecah pikirannya jadi berkeping-keping. Saat ini bola peraknya berlabuh pada sosok yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Pria berambut pirang itu menutupi mata dengan tangannya. Orihime bersumpah bahwa Hirako sedang menangis.

"Kemarilah," pinta Hirako nada serak, segera Orihime mematuhinya. Pria itu merangkulnya, ceruk leher gadis itu pun dijadikan sandaran kepalanya, Hirako susah payah meredam isakkannya.

"Shinji-kun, kau kenapa?," Orihime mengkhawatirkan pria ini. Air mata Hirako seolah menggambarkan emosi yang dipendam teramat dalam. Entahlah, Orihime tidak pandai juga membaca keadaan psikologis seseorang, yang terpenting setidaknya dia bisa menenangkan pria ini.

Setelah semenit berlalu, Hirako menunjukkan wajahnya yang basah. Dia buru-buru mengusapnya kasar, dan berkata, "Seharusnya aku tidak memperlihatkan ini kepadamu," Orihime menggeleng pelan dan meminta penjelasan lewat ekspresinya.

"E-eh?"

Orihime terkesiap begitu kepala Hirako menabrak dadanya. Hirako menunduk, gestur tubuhnya layu dan ringkih. Gadis manis ini menatap sendu, namun dia tak berujar apa pun.

"Rasanya tidak karuan. Tidak bisa tidur nyenyak, bahkan untuk bernafas pun susah. Aku selalu takut ketika orang-orang mulai menatapku, merasa dienyahkan"

"..."

"Kau tidak tahu bagaimana penderitaanku..." Orihime mengelus rambut Hirako yang meliar seolah memahami ratapan pria itu, "Tapi, aku sangat berterima kasih..." Orihime menjeda kerja tangannya.

"Kau ada untukku saat ini," bisik Hirako, "Aku bingung ingin berkata apa lagi..."

"Daijoubu," balas Orihime

Tangan Hirako menuntun Orihime untuk mengusap kepalanya, "Kau tidak perlu memohon maaf untuk hal apa pun. Aku hanya meminta kau untuk tetap di sisiku, kumohon jangan pergi," lirih Hirako menikmati permainan jemari Orihime yang lembut.

"Terima kasih telah membuat semuanya makin jelas dan kata-katamu sedikit menguatkanku"

"...seharusnya aku yang bersyukur. Kau sudah memberikan kepercayaan padaku..." hati Orihime tidak sesesak tadi. Ia juga menyambut Hirako yang baru menampakkan lagi mukanya dengan seulas senyum. Sebenarnya ia tidak yakin kalau kesalahannya sudah terampuni.

"Terima kasih sudah mengatakan hal yang ingin kudengar"

Gadis seelok langit sore ini memejamkan matanya dan detak jantungnya pun semakin cepat. Nafas Hirako begitu dekat hingga sebagian wajahnya meremang. Dia tidak tahu pasti kapan pria itu dalam jarak ini.

"Kali ini aku tidak akan melakukannya lagi tanpa persetujuanmu," ucap Hirako. Orihime tercekat dan menahan malu, "K-kau boleh m-melakukannya, Shinji-kun"

"Apa kau ingin memulainya lagi? Kau harus menepati janjimu," Hirako mencium bibir penuh Orihime singkat, seraya mengacak pucuk kepalanya, "Bagaimana kalau minggu depan kencan pertama?," tawar Hirako diselingi senyumannya terus mengembang seperti orang tolol.

Kenyataannya tidak ada yang berakhir, mereka hanya mengulang kembali. Membuat permulaan yang baik di antara laki-laki dan perempuan yang memiliki perasaan yang sama. Hawa dingin menjadi sehangat coklat dalam dekapan yang rapat.

.

.

.

Salju diturunkan berton-ton dari langit yang gelap. Awannya bagai kabut dingin berhembus meniup segala yang dilaluinya. Orang-orang tidak mau keluar dalam keadaan seperti ini, bukan hanya menggigil mereka bahkan bisa mati beku layaknya binatang yang berkeliaran. Lebih enak, jika bergulung di tempat tidur atau duduk di dekat perapian di ruang tamu ditemani alunan harmoni ceria dari petikkan gitar dan nyanyian sanak saudara.

Itulah yang dibayangkan seorang Gin di tengah salju yang mengguyurnya. Jaket tebalnya tidak mempan dengan udara di sekitarnya. Jalannya terseok-seok, beberapa kali tersangkut oleh timbunan es. Langkah demi langkah, ia jalani. Badannya terayun ketika angin menyenggolnya. Dia masih gigih untuk menerjang badai salju.

Dia tak menyangka bisa berhasil menghindari kejaran polisi secepat ini. Malah dia harus berterima kasih pada cuaca yang buruk untuk mempersulit aparat polisi yang sedang mencarinya. Sekarang tinggal mempersoalkan bagaimana nasib malangnya. Mungkin dia akan menunda untuk segera membacok Szayel tepat di lehernya.

Memang lebih baik mengorbankan dirinya saja untuk melakukan hal ini. Gin yakin Ggio bukan orang yang dapat diandalkan. Keras kepala, dan mudah meledak-ledak ialah sikap yang membuat Gin muak. Lengkapnya, Gin Ichimaru mempunyai pandangan yang buruk terhadap sisi seorang Ggio Vega. Namun, anehnya Gin juga sulit menerangkan hatinya yang tergerak untuk membuat Si Bodoh itu tetap di Korea. Mencegahnya menyusul ke Jepang dan menjauhkannya dari masalah ini. Gin mempertimbangkan keputusannya kembali. Keluar dari lingkaran setan Szayel atau menghadapinya.

Tanpa sadar berjalan tak tentu arah ia pun berakhir di rumah mungil yang diapit jajaran toko barang antik. Tempat yang hanya didatangi penggiat seni atau segelintir pejalan kaki. Daerah yang usang, kuno, seolah kebalikan dengan gemerlapnya kota Tokyo.

"Sangat ceroboh," Gin membuka pintu rumah yang tidak dikunci itu, kemudian dia masuk dengan gelap gulita di dalamnya. Nampak tidak ada satu pun kehadiran di sana, dingin tanpa cahaya dan berdebu layaknya rumah kosong. Gin meniti di lantai berderik, tangannya meraba dinding yang kasar, sambil memperhatikan langkah.

"Berhenti"

Mendadak dia dihalangi sesuatu. Gin tidak banyak berkata, ia menduga kalau kedatangannya tidak terima.

"Mengapa kau kemari?"

Gin merasa wajahnya ditodongi sesuatu, "Aku tahu tempat ini"

Tak berselang lama, akhirnya ia dapat menggerangkan wajahnya ke depan dan melanjutkan langkah. Seratus persen Gin mengenal benda yang menghadangnya tadi. Senjata bukanlah mainan yang ramah untuk menyambut seseorang.

"Ulquiorra", panggilnya, "Pergi"

"Apa kau pikir aku akan melakukannya?"

"Pergi!" seruan Ulquiorra meninggi. Sebuah peringatan besar terhadap Gin.

"Aku tidak menyangka kau akan bernaung di rumah ini. Sama sekali bukan tempat yang layak, tapi ini persembunyian yang bagus," ujar Gin bergerak mendekati Ulquiorra dengan instingnya. Dia menghampiri dan mengetahui tangannya berada di bahu pemuda itu.

"Tidak ada satu pun yang menginginkan ini terjadi. Tidak kau maupun aku. Apa kau ingin aku menjelaskan semuanya?"

"..."

.

.

.

"Kau melakukan ini seharian penuh?"

"Apa?"

Sebut saja dapur tempat mereka berada sekarang. Dengan pencahayaan seadanya, Gin dan Ulquiorra saling merenung. Satu batang lilin ditemukan Ulquiorra, Gin berpikir kalau bocah ini sudah menggeledah tiap sudut rumah di siang hari, dan malamnya bersandar di dinding dekat pintu rumah.

Ia tidak tahu sudah berapa lama pemuda itu di dalam rumah yang bobrok ini. Daripada memikirkannya, Gin lebih memerhatikan tampang Ulquiorra yang mirip seorang gembel. Kalau bukan ciri-ciri psikisnya yang unik mungkin dia sudah mengusir atau memukuli gelandangan ini. Dia tidak menduga bakal separah ini perubahan Ulquiorra selama dua tahun.

"Kau tidak mengunci dirimu di sini kan?," tanya Gin, selanjutnya tidak ada respon dari Ulquiorra yang sedang memeluk lututnya di seberang, "Kau pasti tahu kalau aku baru saja ditangkap?"

"Aku tidak tahu," alis Gin mengerut, "Mengapa aku harus memikirkannya," tandas Ulquiorra.

"Kau tidak mungkin bertahan di sini. Kau harus meninggalkannya," ujar Gin.

Ulquiorra menjatuhkan pandangan kepada Gin, "Aku pikir, kau penipu ulung yang mencoba mempermainkan kematian pria tua itu. Aku tahu betapa kalian membenciku hingga menendangku ke Italia,"

Gin menaruh minat pada penjelasan Ulquiorra, "...Aku selalu menantikan sebuah kebebasan. Tidak ada yang mau lahir seperti ini, kau tahu. Sekali pun aku ditakdirkan bersama bajingan seperti kalian, siapa yang sudi? Aku besar karena kebencian itu"

"...dan kau selalu melaluinya dengan caramu sendiri," timpal Gin.

"Mungkin sebagian orang mempunyai mimpi yang besar, tapi aku tidak mau. Hidup tenang dan menjadi normal adalah pilihan terbaik yang selalu kuinginkan. Keluarga biasa-biasa saja"

"...dulu ibuku suka sekali memasak dan sering terlelap di dapur sambil menunggu pria tua itu pulang. Barangkali ibuku sudah salah menikahi suaminya. Sebagai perempuan dia tergolong bodoh dan mudah diperalat. Dia tidak tahu apa pun yang terjadi pada pria tua itu, apa pekerjaannya dan apa yang dilakukkannya hingga larut malam"

Gin mendengus mendengar ucapan Ulquiorra. Ternyata ia hanyalah pemuda berusia 20 tahunan yang sedang mengeluh akan kerasnya dunia.

"Suatu hari mungkin aku akan mati seperti ayahku atau dibunuh..."

Selama bercerita tidak ada emosi di dalam setiap kata yang dia keluarkan. Seolah mengalir tanpa perasaan, datar dan tidak membuat Gin simpati. Secara fisik ada namun jiwanya hilang. Persis seperti mayat hidup. Jika membunuhnya di sini, dia tidak akan melakukan perlawanan.

"Aku tidak peduli pada curhatanmu," sambung Gin.

"..."

"Kau akan membusuk di sini", "Tinggalkan aku"

Gin merebahkan dirinya di lantai dan memandang atap dapur yang keorenan," Kau ingin mencari Szayel?"

"..."

"Atau pergi dari sini?"

"Sekarang aku telah membunuh satu orang di Italia," Gin mendesah mendengar kengerian Ulquiorra, "Bukan aku yang melakukannya tapi Pace. Si Lenso Keparat mungkin telah melanggar banyak hal dan tidak patuh pada perintahnya," Gin tidak tahu siapa yang disebut Ulquiorra. Tapi dia cukup terkejut, Ulquiorra tidak benar-benar membunuh atas kepentingan diri sendiri. Barangkali Ulquiorra ingin mewujudkan kalau dia lebih baik dari Aizen.

"Kupikir aku akan tinggal di sini, dan melupakan yang pernah terjadi. Tidak ada salahnya memulai hidup baru. Mungkin aku akan mendatangi rumahnya. Bisa dibayangkan bagaimana wajahnya yang terkejut dan membenciku"

Gin terbangun dan menyorot Ulquiorra. Pria buronan ini menunjukkan ketidakpercayaannya. Ulquiorra sudah gila.

"Tidak dengan membahayakan hidup seseorang," Gin sedikit memberi nasihat, "Kau memang dari dulu tak pantas mendapatkannya. Dia terlalu putih..."

"Kau ingin menghentikkanku?," tantang Ulquiorra, "Aku tidak akan menghentikanmu. Di sini yang aku tekankan bahwa kau tak perlu condong ke ayahmu. Aizen menikahi ibumu karena ia mencintainya, tapi dia tidak tahu resiko apa yang dihadapi keluarganya dan aku tidak mau terjadi hal yang sama pada perempuan itu," jelas Gin.

Gin melihat tatapan Ulquiorra yang tajam ke arahnya. Ulquiorra memiliki semua hal untuk menjadikannya dominan dan terlihat tak bisa diruntuhkan. Gin tidak setuju dengan yang satu ini. Dia harus mencegah Ulquiorra, dan membawa pemuda itu kembali pada kenyataan.

"Aku tahu dimana ia tinggal sekarang"

"Lepaskan dia"

"Aku akan membawanya pergi"

"..."

Perkataannya terus dimentahkan, Ulquiorra enggan mendengar apa pun dari Gin, "Apa kau tidak memikirkan masa depan? Dia mungkin terlalu naif untuk meminta pertanggung jawaban setelah apa yang kalian lalui nantinya. Tapi dia hanya tenggelam di jalan yang gelap, mungkin Orihime Inoue juga memimpikan hidup bahagia sepertimu. Untuk kali ini saja, jangan melibatkan seseorang ke dalam masalahmu"

"Aku tidak masalah dengan itu. Hanya dia yang kubutuhkan, aku akan menjaganya"

.

.

.

To be continued

.

.

.