Saat ini bocah pirang itu masih belum beranjak dari tempatnya, masih berdiam diri dikepala patung Shodaime Hokage. Ia masih mengingat kejadian beberapa saat jam yang lalu, iris merah Sharingan tiga tomoenya menatap langit yang kelam seperti jiwanya saat ini.

"Brengsek!!". umpatan terlontar sebagai rasa geram.

Ia masih menahan kesal akan seseorang yang mengganggu perseteruannya, andai saja kalau orang tua mesum brengsek itu tidak muncul dan mengganggunya, mungkin saja bocah pirang itu kini mengamuk melampiaskan semua segala rasa sakit yang sejak lama terpendam.

Flashback

Benar saja dugaan Naruto, kunai ciri khas bercabang tiga melesat kesamping sisi kiri bocah pirang disertai kilatan kuning. Merasakan dalam bahaya mendekat, sebuah jentikan jari langsung melebur dengan udara sekitar, sebuah awal menghilangnya kilatan hijau bertanda Naruto menghindar.

Sringg..sring..

Tapp..

Sedetik Minato tersentak kaget bahwa targetnya telah berpindah, namun reaksinya tertutupi akan raut muka yang sudah beringas ingin segera mencincang tubuh kecil bocah pirang, melirik sekilas iris saphirenya yang berkilat tajam kebelakang. Benar Naruto tepat dibelakangnya, jaraknya hanya beberapa langkah darinya.

"Kau benar-benar ingin kutatar Genin sialan!, bagaimana caramu menghormati seseorang yang lebih tua darimu!!". Genggaman kunai cabang tiganya mengerat, tatapan nyalang ingin segera menghabisi Naruto. Ia sudah tidak mempedulikan lagi statusnya sebagai seorang Hokage, emosinya benar-benar sudah mengambil alih.

Tatapan iris saphire bocah pirang terlihat kosong, seperti tidak mempunyai jiwa. Entahlah rasa apa yang terpancar dimatanya, semuanya telah menjadi satu antara amarah, kebencian dan rasa sakit. Sumbernya sosok seseorang didepannya yang selama ini menorehkan luka semenjak ia dilahirkan.

v

v

DISCLAIMER @ Masashi Kishimoto

Rate : T / M (percakapan or pertarungan)

Genre : Adventure, Family

Warning : Gaje, Typo, abal, Ooc, Oc, Alur berantakan, garing, semi Arc

v

v

Chapter 14

"Kau bangsat, ingin mengguruiku!. Maka aku akan mengajarmu apa itu rasa sakit!!'. suara nada teramat dingin menusuk terlontar dari bocah pirang, sebilah katana putih keperakan sudah ditangan entah sejak kapan. Yang ada dipikirannya adalah ingin mencacah tubuh pirang dewasa. Dengan kecepatan luar biasa, Naruto bergerak menebaskan katana peraknya kearah leher Minato..

syatt..

Trang...

Sebilah kunai cabang tiga menangkis sabetan Katana keperakan, "Untuk seorang bocah Genin!, kau sungguh kurang ajar terhadap atasanmu!!, untuk hukumanmu kau pantas mati, BOCAH SAMPAH!!". Disaat menangkis, Minato mendorong kaki panjangnya guna menendang bocah yang kurang ajar...

Wushh..duagghh..tappp..

Gerakan refleks lutut kecil keatas memblokir tendangan keras Minato, " Aku juga menginginkan kepalamu, sebagai ganti rasa sakit ini, BANGSATT..!!!". Iris saphire bocah pirang menebar rasa haus darah yang tinggi, nafsu membunuhnya sudah mengambil alih kendali pikirannya. Minato mundur selangkah dan melesatkan kunainya keatas, kilatan kuning muncul diatas Naruto dengan sebuah bola spiral biru yang akan menghantamkan bahunya.

Rasengan

Sring...Dhuaaarrrrrrr...

Permukaan tanah itu hancur, asap debu mengepul. Minato sangat terkejut, jutsunya hanya mengenai udara kosong dan nampak menghasilkan kawah kecil saja. ''Mustahil dia bisa menghindar dari Hiraishin dan Rasenganku, dan aku membutuhkan waktu setengah detik untuk membinasakannya''. gumam lirih Minato tengah mencoba berspekulasi.

Hirashin memerlukan waktu setengah detik untuk mencapai target lawan, tentu si musuh tidak akan bisa berkutik sama sekali, sekalipun dia menggunakan Shunshin no jutsu. Seandainya saja kalau Minato tau, bahwa masih ada yang lebih cepat darinya dan itu hanya memerlukan waktu tak kurang dari sepersekian detik. Namun apa, targetnya lenyap tidak bisa di anulir dengan nalar.

Sringggg... Zippp...zippp

Chidori Raigatana

Kilatan hijau muncul didepan Minato disertai katana keperakan berselimutkan Chidori, menghujam mengarah tepat kedadanya yang terbalut rompi Jounin. "Matilah kau, brengsekk!!". makian bocah pirang akan rasa bencinya, namun...

poofft..Grepphh..

telapak tangan besar mencengkram pergelangan tangan kecilnya menghentikan laju katana, yang hanya mengenai rompi Jounin Minato. Sesosok tinggi besar bersurai putih panjang yang dikuncir, muncul menghentikan aksi Naruto dan itu membuat bocah tersebut tidak senang.

"Apa yang telah kau lakukan pada Hokagemu bocah!". Hardik sosok dengan mata garangnya.

Minato masih dengan keterkejutannya, dengan apa yang tengah terjadi, " S-Sensei Jiraiya!". menatap sosok itu, yang telah menyelamatkannya dari hunusan katana dan hampir melubangi jantung, walaupun katana itu sudah menggores rompi Jouninnya. Andai saja sosok itu muncul, mungkin dirinya sudah terluka parah.

"Tentu untuk membunuhnya!!, lalu kau pikir apa, Hah..!!". iris saphire menatap Jiraiya tak kalah emosi, marah karena telah menggagalkan eksekusinya.

"Kau tau dia seorang Hokage dan kau hampir saja membunuhnya!!, andai saja kalau aku tidak tepat waktu, mungkin..". Jiraiya tidak melanjutkan ucapannya dengan sekilas melirik Minato yang tepat disampingnya, "Dan k-kau Naruto bukan!". lanjutnya dengan menerka bocah didepannya, ia sedikit lupa-lupa ingat.

"Kau orang luar!!, tau apa masalah ini!!". bukannya menjawab, Naruto malah membalik pertanyaan dengan menyentak pergelangan tangan yang dicengkram Jiraiya.

"Apa maksudmu?, tentu aku ini Shinobi Konoha dan kau tau itu?!!". ucap Jiraiya dengan pemikirannya masih lemot, dia tidak tau dengan maksud 'Orang Luar'. seandainya kalau Jiraiya tau ini adalah masalah intern antar orang tua dan anak.

"Cih, sudah kuduga!!". kesal Naruto yang masih emosi.

"Kau itu seorang bocah, terlebih seorang Genin dan tidak pantasnya kau menyerang seorang Hok_..". Jiraiya tidak meneruskan ucapannya untuk menasehati Naruto, sekejap bocah pirang itu telah menghilang dengan sekelebat kilatan hijau, dan membuat mata mereka membola saking terkejutnya.

End Flashback

sretttt...

"Cih, brengsek!". Naruto menggoreskan kunainya dipermukaan batu kepala patung sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Dari awal memang ia sudah merasakan chakra sang Gama-Sennin, walau jaraknya masih di luar Konoha. Tapi yang tidak disangkanya, kenapa bisa secepat itu.

"Hah...!!", helaan nafas sesaat meredakan gemuruh emosinya yang bergejolak. Naruto mendirikan tubuhnya , iris merah tiga tomoe itu telah terganti dengan iris biru kelam menatap malamnya desa Konoha dari atas kepala patung, "Entah mengapa orang-orang yang mempunyai hubungan dengan Hokage busuk itu selalu saja membuatku kesal!". ucapnya pada udara kosong. Naruto tidak menampik tentang orang-orang disekitar Hokage blonde, dimulai dari tindakan wanita bersurai merah, si Jinchuuriki yang sangat songong, lalu si Petapa mesum ikut melibatkan diri juga.

Ia masih mencerna sikap Jiraiya munculnya tiba-tiba , menggagalkan aksinya dan menceramahi memberikan nasehat, seolah di tau segalanya. Sikapnya juga menunjukan bahwa seorang guru akan membela muridnya, walau dia tidak tau apa yang sebenarnya yang sedang terjadi. Toh bocah pirang itu hanya membela diri, terlebih siapa dulu yang menyerangnya.

Udara dingin malam makin menyeruak, menembus tubuh kecil yang terbalut kaos putih bocah pirang. Seakan sudah jenuh dengan segala rasa kesalnya, sekelebat kilatan hijau menghilang berbaur dengan udara kosong.

Disalah salah satu sudut balkon apartemen sederhana , sesosok bocah pirang terus mengamati apa yang ada didalam, melalui kaca jendela di apartemennya. Seorang wanita bersurai merah tengah tertidur dengan pulas, meringkuk memeluk guling. Disudut kelopak mata wajah putihnya terdapat bekas jejak bulir air mata, menandakan ia habis menangis. Dan bocah pirang itu tau apa penyebab wanita bersurai merah bersedih, tentu karena dirinya.

Iris saphire sedikit meredup dengan pandangan sulit diartikan, menembus kaca transparan yang terus memperhatikan sosok wanita yang tengah tertidur. "Maafkan aku Kaa-chan, ini demi kebaikanmu. Masih banyak yang akan ingin aku perbuat, dan aku juga tidak ingin melibatkanmu". setetes bulir air mata meluncur dari sudut matanya.

忍の決定

Tiga sosok pria dewasa berbeda generasi tengah mendebatkan sesuatu diruang Hokage.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi antara kau dan Naruto, Minato?" sesosok berbadan tinggi besar bersurai keperakan panjang dikuncir meminta penjelasan pada muridnya.

Minato yang ditatap Jiraiya sedikit gusar, menyinggung permasalahannya, "Tidak sedang terjadi apa-apa, hanya mengajarkan adab kesopanan, kelakuan seorang Genin yang lancang terhadap Kagenya!". sangkal Hokage blonde itu.

"Itu memang benar, kelakuan bocah itu memang sangat sudah keterlaluan. Tapi yang mendasari awal, siapa yang memulai duluan. Itu saja pertanyaanku". ucap Jiraiya yang tengah menopang dagunya dengan mendudukan diri di jendela kantor Hokage. Bagaimana pun Jiraiya tau akan tingkah Naruto, walau beberapa hari ia mengenalnya dan itu 2 tahun yang lalu. Ia ingat betul ketika bocah itu membunuh musuhnya dengan beringas, tanpa ada rasa ada sesal setelahnya dan itu didasari karena sebuah desa di invasi oleh Hanzo si salamander.

"Bagaimana pun seorang Genin tidak pantas mengancam seorang Hokage, dan dia pantas mendapat hukuman!!". Minato jengah sedari tadi dirinya ditanyai, yang tidak ada sangkut pautnya dengan sang Sensei.

Sesosok kakek tua yang tengah duduk di sofa, mengernyitkan dahinya mendengar si Hokage blonde melontarkan kata menghukum, dan membuatnya menyindir sinis. " Hukuman itu hanya untuk orang yang bersalah!.Terkadang yang terlihat didepan mata selalu sangat menyakinkan, namun dibalik kenyataan itu ada maksud yang tersembunyi. Ada asap tentu ada api yang menyala!". ucapnya disertai asap mengepul, membuat perasaan Minato mencelos. Hiruzen mencontohkan ritual yang tengah dilakukannya sekarang.

sang Gama-Sennin juga dibuat bingung oleh nada sindiran Sandaime, kakek tua yang juga Senseinya itu membuat dirinya seperti orang bodoh. " Apa maksud mu pak tua?, tentu karena aku yang melihatnya sendiri dan Naruto hampir saja menggoreskan pedangnya!".

"Hah, sedari dulu kebodohanmu tidak akan pernah ada habisnya Jiraiya. Mungkin benar apa yang diceritakan olehmu tadi, Naruto-kun mengatakan padamu bukan bahwa kau hanyalah orang luar. Dan ternyata itu memang benar!. Dan asal kau tau Minato, sampai kapan pun aku akan selalu disamping cucuku, melindunginya adalah sudah tugasku!!". ucap sarkas Sandaime dan beranjak pergi dari tempat itu, permasalahan keluarga Minato tidak akan ada habisnya dan Sandaime sudah muak tentang hal itu.

Sepeningglan Hiruzen, Jiraya hanya mematung masih mencerna maksud ucapan Senseinya, sedang Minato tengah gusar. Hokage pirang itu tau maksud dari kakek tua, tentu dengan otak jeniusnya dia paham dan dirinya juga akar permasalahan ini.

Nada suara memecah keheningan, "Kenapa Sensei tidak mengabariku kalau sudah kembali?". Minato sengaja mengalihkan pembicaraan, supaya Jiraiya tidak curiga kepadanya akan perkataan Sandaime barusan.

"Ahahahaha..itu, hanya untuk memberi kejutan saja". Dan bodoh Jiraiya terpancing oleh ucapan Minato, menggarukan kepalanya yang tidak gatal

"Kejutan..?". alis kuning mengernyit pertanda bingung, "Apa ini tentang anak yang diramalkan oleh tetua Gama Agung".

"Bukan hanya itu saja, Aku pun ingin memantau perkembangan Menma, kudengar dia sudah menjadi Genin?". ucap Jiraiya dengan akan penasarannya.

"Ya sudah seminggu yang lalu, untuk perkembangannya dia sudah bisa memanipulasi kedua elemennya membentuk elemen baru. Lalu apa ada pencerahan baru tentang anak yang diramalkan, Sensei?". Minato memutar kursi Kagenya, menatap minat Jiraiya.

Sekejap Jiraiya menganga, tak percaya akan kabar perkembangan Menma. "A-apa membentuk elemen baru??". seakan tersadar, sang Gama-Sennin melanjutkan omongannya. " Ramalan tetua Gama-Agung masih seperti dulu Bahwa akan ada seorang anak yang akan merubah dunia Shinobi ini dengan menggabungkan dua kepribadian, menjadi kesatuan kekuatan yang sangat besar. Kekuatan yang terlihat berbeda, namun bisa menbawa kehancuran dunia atau perdamaian dunia , dan itu aku sangat yakin Menma lah anak dalam ramalan itu!". ujar Jiraiya secara mantap tanpa keraguan.

"Ya aku juga yakin, kalau Menma-kun lah anak itu. Dua kepribadian itu pasti semangat Menma yang sangat berlatih keras untuk menjadi kuat, dan ditambah kekuatan dari Kyuubi yang mempunyai cakra kebencian. Maka dari itu, aku minta bantuan Sensei untuk mengajarkan Menma agar bisa mengendalikan kekuataan Bijuunya". ucap Minato tersenyum simpul, mengingat anak bersurai merahnya.

"Kau kira kepulanganku hanya untuk memantau Menma saja, bukankah 4 bulan lagi Menma akan berulang tahun yang kedua belas. Sebagai kado aku juga akan melatih Menma, seperti yang sudah-sudah!". Jiraiya hanya tersenyum lebar.

Tanpa mereka sadari, bahwa rencana mereka telah mengebiri anak Minato yang lainnya.

忍の決定

Sudah berminggu-minggu Naruto menjadi Genin, sudah banyak misi yang dilakukan oleh Tim 7. Dan misi itu hanya kisaran Rank-E atau Rank-D saja. Kalau ada misi, bocah pirang itu jarang menampakan dirinya dikantor Hokage atau sama sekali tidak pernah memasukinya, dirinya hanya menunggu di kedai Ichiraku Ramen. Lebih baik perut kenyang dari pada amarahnya bergejolak setiap melihat wajah muak Yondaime-Hokage, misi-misinya yang didapat juga misi ringan.

Mencabuti rumput halaman penduduk, mengasuh ternak warga, menangkap kucing peliharaan Daimyo, membersihkan kandang ternak, dan mengecat pagar halaman taman. Seperti yang tengah dilakukannya sekarang.

"Naruto no baka!, kenapa kau malah enak-enak berteduh!", Hardikan dari bibir mungil gadis merah muda, ketika melihat Naruto menyandarkan tubuhnya disalah satu pohon taman. Naruto hanya menudingkan jarinya arah dimana dua Bunshinnya tengah bekerja, mengecat pagar taman.

Tentu gadis pingki jengah akan kelakuan rekannya, "Hah, hanya Bunshin saja!, kenapa aku harus masuk ke Tim 7 ini!". ucapnya kesal dengan menghentakan kaki mungilnya.

Bocah pirang yang terbalut kaos hitam berlambang pusaran air itu menaikan alis kuningnya, "Bukankah kau yang menghendaki, ingin masuk Tim yang ada Sasukenya". ucapnya datar, iris saphire itu tak jauh dari gulungan. Yang saat ini Naruto tengah membaca sebuah scroll gulungan.

Gadis merah muda tidak bisa memungkiri, rona merah langsung menjalar di kedua pipinya, "T-tapikan t-tidak s-seperti i-itu juga kan". ujarnya dengan malu-malu.

Naruto hanya bisa mengumpat dalam hati, 'Dasar Fansgirls, apa yang bisa diharapkan darimu, menjadi seorang Shinobi bukanlah main-main'.

"Sudahlah Dobe, tidak akan rampung kalau kau duduk saja!. Dan kau Haruno, kau pikir aku tertarik padamu. Cih!". ujar datar Uchiha bungsu yang terus menggoreskan kuasnya pada pagar.

"Hn".

"S-Sasuke-kun". gumaman lirih Sakura dengan tatapan sedih, mendapat penolakan dari pantat ayam.

Sasuke melirikan oniksnya, ingin sekali mendamprat sahabat pirangnya. Apa pula mengcopy paste trade mark nya.

Waktu terus berlalu, Naruto masih saja bersandar disebuah batang pohon. Ia tidak mempedulikan kedua rekannya, terpenting dirinya sudah membuat dua bunshin guna melaksanakan kewajibannya, mengecat seluruh pagar taman. Dirinya juga bosan, misi-misi seperti ini bukan untuk seorang Shinobi, lebih pantasnya seperti pekerja sosial.

tapp..tappp..

suara langkah berlarian kecil terdengar di indera pendengaran, dan sesekali nada teriakan lantang memanggil seseorang. "Onii-chan..!!". teriakan kecil lantang membuat Tim7 mengalihkan perhatiannya.

"Onii-chan!". seorang gadis kecil bersurai merah di kuncir dua dibagian belakang, berbalut kimono warna biru terang. Berlarian ke arah Naruto, disepanjang jalan taman. Di belakangnya ada seorang Anbu bertopeng Neko, sepertinya Anbu tersebut ditugaskan Hokage guna menjaga anaknya.

Grepp...

Gadis mungil tersebut langsung menubruk Naruto, melingkarkan erat tangan mungilnya dan membuat Naruto tersenyum kecil. Tapi tidak dengan kedua rekannya, iris mereka terkejut terlebih Sasuke, pasalnya Naruto tidak pernah dekat dengan yang namanya anak kecil.

Mereka tau kalau gadis mungil itu anaknya Yondaime-Hokage atau adiknya Menma, teman seangkatan mereka.

"Ne..kenapa kau kemari?". telapak Naruto mengusap kecil surai merah bocah 5 tahun tersebut. Mata birunya memandang lembut Imoutonya.

"hiks..Onii-chan, kenapa tidak pulang?". Mito menggumam dengan tangis kecil dalam pelukan Naruto, sekejap bocah pirang pun membulat irisnya. Sungguh terkejut, maksud dari pulang adalah kembali ke Kaa-channya.

'Jadi begitu ya, Ibumu sudah bercerita. Kalau aku adalah kakakmu, itu sudah ku duga'.batin bocah pirang menerka, masih mendekap tubuh mungil.

Adegan dadakan mereka tentunya membuat kedua rekan Timnya bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka. Terutama Sasuke, 'Banyak yang kau sembunyikan dariku, Dobe. Tidak seperti biasanya sikapmu cenderung dingin dan anti empati. Melihat dari sikapmu ke anak itu, sepertinya kau memiliki hubungan khusus'. Pikiran si Uchiha itu menerka, bagaimana pun ia tau segala tingkah laku Naruto.

Emerald jernih itu mengerjap-ngerjap, bagaimana tidak. Beberapa minggu satu Tim dengan Naruto, tentu Sakura tau sikap Naruto yang bersikap dingin dan datar. Kini didepannya ia baru mengetahui sisi lain dari yang namanya Naruto, "Ne..Sasuke-kun, Apa aku tidak salah lihat. si baka itu bisa melembut juga?". Sakura mengalihkan perhatiannya, malah mendapatkan jawaban angkatan bahu oleh Uchiha.

Lekas Naruto berdiri dari posisi bersandarnya, dengan Mito masih digendongan depan, masih mendekap bocah itu, "Hn, pulang ya?. Memangnya Mito-chan, Nii-chan harus?". telapak bocah pirang mengacak surai merah Imoutonya.

"Uhm.., Onii-chan". Mito menganggukan kepalanya, iris saphirenya memancar rasa senangnya.

"Hahhh..". hanya helaan nafas, tersungging mengandung rasa berat. 'Seandainya saja kalau kau tau Imouto, aku tetap akan seperti ini sampai kapan pun'. Tapi Naruto tak akan membuat Mito kecewa, ia harus mengambil sikap pengertian untuk Mito.

"Bagaimana kalau kita jalan-jalan?". tawar Naruto, agar Mito melupakan pertanyaan konyolnya, menurut Naruto.

Mata saphire bocah polos itu berbinar, "Benarkah, apa Onii-chan mau membelikan Mito yakisoba,..uhm..takoyaki dan juga ice cream?". ujarnya dengan ceria.

sepertinya pancingan Naruto berhasil, "Hn, tentu saja. Ayo..!". Naruto menurunkan Mito dari gendongannya.

Sebelum Naruto mulai melangkah, sebuah tangan menepuk pundaknya, "Maaf Uzumaki-san, tapi Mito-sama masih dalam penjagaanku. Jadi anda tidak boleh sembarangan membawanya pergi!". Naruto melirikan saphirenya sekilas, ternyata pelakunya adalah seorang Anbu bertopeng Neko.

"Aku tau apa yang seharusnya aku lakukan, jadi bisa kau lepaskan tanganmu". ujarnya dingin, ia paling tidak suka bila seseorang menyentuh bahunya, terlebih dengan ucapannya seperti sebuah ancaman.

poft..

"Biarkan saja Neko, Mito-sama akan aman bersamanya". kemunculan seseorang dengan cara Shunshin menginterupsi percakapan mereka.

"S-senpai!, t-tapi..aku harus menjalankan tugasku atas perintah Yondaime-sama". ujar Anbu Neko, yang ternyata sosok tersebut adalah Kakashi Hatake Sensei Tim7 dan juga mantan Ketua divisi Anbu.

"Kau tak perlu repot-repot, Mito-sama akan aman dengannya. Naruto tidak akan membiarkan seseorang menyentuh kulit Mito-sama seinchi pun. Bukankah begitu Naruto..". eye smile Kakashi menyipit, meyakinkan Anbu Neko.

"Hn". gumam Naruto, dan mulai melangkah pergi dengan masih menggandeng Mito.

Anbu Neko hanya diam, menuruti perkataan mantan Senpai Anbunya. Kakashi menatap kepergian Naruto dengan seulas senyum dibalik masker, 'Aku yakin didalam hatimu yang terdalam masih ada rasa kasih sayang, Naruto. Walaupun terkadang dirimu menyangkalnya. Seperti perkataan Sandaime-sama memang benar, hanya sebuah ikatan yang bisa menyentuh perasaannya'.Batin Kakashi, sedari tadi ia memang mengawasi Timnya dari kejauhan. Mengontrol kerja dari Tim7 yang sedang melaksanakan misi.

忍の決定

Sehabis dari kios yang menjual Takoyaki, Mito segera menyeret kakaknya, "Ayo Nii-chan, kita sana...Yakisoba disana yang paling enak!". ujarnya dengan wajah cerah. Jari mungilnya terus menunjuk sebuah kedai disudut jalan.

Naruto hanya menurut saja, "Hn, kamu masih belum kenyang..ne". ujar Naruto, Mito hanya menggelengkan kepalanya saja. Bayangkan saja, seorang bocah lima tahun menghabiskan 20 porsi Takoyaki sendirian dan itu hanya dalam waktu 15 menit. Naruto sendiri tak habis pikir, sepertinya masa pertumbuhan gadis mungil itu meningkat drastis.

Disalah satu kedai pinggir jalan Konoha, seorang bocah pirang dan gadis mungil bersurai merah tengah memilih sebuah roti yang yang dikombinasi isinya mie. Seonggok yakisoba terbungkus plastik.

"Onii-chan yang itu!". telunjuk mungil menunjuk yang paling besar diantara roti yakisoba, iris saphirenya berbinar.

Berbagai macam yakisoba terpajang di etalase kedai, membuat dahi Naruto mengernyit. 'Apa enaknya?, yang hanya mie goreng bersaus dilapisi roti. bagaimana pun masih enakan ramen, ttebayo'. nalarnya membandingkan dengan makanan dewa kesukaannya, tetapi tidak dengan Imoutonya. Bocah kecil merah itu begitu antusias.

"Tidak mau yang lainnya lagi?". Tawar Naruto

Tapi bocah itu masih tetap kekeh dengan pendiriannya, "Yang itu saja Onii-chan, Mito mau yang itu titik!". jari mungilnya masih menunjuk-nunjuk, surai merahnya bergoyang-goyang akibat gelengan kepala, menandakan ia tidak mau. "Onii-chan yang itu saja...ya..ya..ya". iris saphirenya berkedip-kedip, memasang Pupy eyes no jutsu.

Membuat bocah pirang tak berdaya. "Hahhh..Apa boleh buat, ttebayo". helaan nafas disertai ekspresi meringis. Yang membuatnya seperti itu adalah harganya yang tercantum 1000 ryo, sungguh mahal sekali hanya untuk sebuah yakisoba ukuran besar. Coba untuk membeli ramen mungkin mendapat 12 porsi mangkok, lagi pula Naruto juga tidak tega melihat Imotounya, dan dirinya juga sudah yang menjanjikan.

"Yatta..!!, arigatou Onii-chan..". teriak Mito kegirangan dengan melompat-lompat kecil.

"Ossan, sepertinya.. jadi yang itu saja". ucap Naruto, wajahnya sedikit merengut.

Sang pemilik kedai pun tersenyum dan mengambil apa yang dipesan pembelinya, membungkusnya dengan kantong plastik lalu menyerahkan ke Mito. "Arigatou..ne, kapan-kapan mampir lagi". ucap pemilik kedai yang masih menampilkan wajah senyum ramah.

"Yatta..Yakisoba yang sangat besar!!!". gadis mungil itu menggoyangkan kantong plastiknya. Naruto yang meringis semakin tambah meringis, ketika Mito mengingatkan kakaknya. "Hm, ne.. sekarang ice cream..Onii-chan!". iris biru Naruto menyipit, memegangi kantong dimana dompetnya berada dengan peluh membanjiri kening. Niat awal ingin mengajak Mito agar melupakan pertanyaan konyol, malah sekarang dirinya yang merasa konyol. Termakan akal bulusnya sendiri.

Skip time 3 hour letter...

Naruto masih berjalan menyusuri jalanan Konoha dengan Mito digendongannya, mungkin akibat kekenyangan. Naruto tak habis pikir, bagaimana bisa seorang bocah kecil menghabiskan semua makanan dalam sekejap, Takoyaki 20 porsi, 2 Yakisoba ukuran besar, dan 12 cup es krim. Dan itu dimakan seorang diri, tanpa membagi dengan kakak pirangnya.

Tapi bocah pirang itu tersenyum simpul, mendapatkan sebuah makna. 'Jadi seperti inikah rasanya, ketika aku dulu semasa kecil sangat merepotkan Shishui-Nii..ahh..tidak mungkin lebih dari itu'. dengan sedikit menyesal Naruto mengakui itu.

"Onii-chan mau kemana lagi?". kepala merah menyembul dari balik punggungnya.

"Hn, kedai Ichiraku, apa Mito-chan mau ramen juga?". ujarnya menawari sang Imouto.

"Uhm.. tentu saja mau Nii-chan, bahkan Okaa-chan sering memasaknya dirumah". tutur Mito.

"Oh.. begitu". pangkas Naruto dengan singkat.

"Uhm".

Sore hari dijalanan Konoha masih saja rame, banyak warga sipil lalu lalang beraktivitas dan juga para shinobi yang baru atau pulang menjalankan misi.

Di pertigaan jalan tanpa sengaja Naruto berpapasan dengan Tim 6 yang terdiri dari Menma Namikaze, Sai , dan Naoki Sarutobi. Sepertinya mereka baru pulang menjalankan misi. Seketika mata Menma melotot, apa yang tengah dilihatnya sang adik tengah di gendong Naruto. Tentu saja emosinya mendidih.

"Apa yang kau lakukan pada adikku, sampah!!". Bentak bocah bersurai merah, iris violetnya menatap nyalang, sedangkan kedua rekannya terlonjak kaget akan reaksi Menma.

"M-Menma N-Nii-chan". Mito sedikit ketakukan, hingga tubuh mungilnya mengerat pada Naruto.

Alis kuning Naruto menaik, apa pula bocah songong didepannya ini. Tatapan inosen, pertanda bocah pirang tak menanggapi bocah songong, "Minggir, aku tak butuh sampah menghalangi jalanku". ucapan datar dan dingin.

"Apa maksudmu brengsek!!, harusnya kau yang melepaskan Mito-chan!". Tangan Menma mengepal erat. Amarahnya sudah tak terkendali, siap menghantamkan tinjunya.

"Sudahlah Menma!!, kau hanya membuat adikmu ketakutan saja!!", tegas gadis bersurai cokelat panjang, rekannya di Tim 6.

"Hn, sepertinya ada yang lebih waras diantara kalian". Sapaan datar sekaligus menyindir ditujukan untuk Tim 6.

"Kenapa kau menghalangiku, Naoki!". seruan Menma tak terima ketika lengannya dicekal oleh Kunoichi anggota Timnya.

"Harusnya kau sadar, kau membentak seseorang dengan keras begitu. terlebih ada adik kecilmu, dan harusnya kau memberi contoh yang baik untuk adik perempuanmu itu, Baka!". tegas Naoki dengan mata mendelik, tepat dimuka Menma. Naoki memalingkan wajahnya kearah Naruto, "Benar begitukan Naruto-kun". ucap manisnya kemudian, dengan rona merah tipis menghiasi kedua pipinya.

Naruto lupa akan kunoichi didepannya, bahwa gadis tersebut adalah salah satu fansgirls dadakannya. Naruto melangkahkan kakinya kembali tanpa mempedulikan Tim 6, saat ini perutnya sedang lapar.

"Cih, awas saja kau brengsek!, lain kali aku akan menghajarmu!!". Menma menggeram, tak terima di acuhkan.

Baru tiga langkah Naruto terhenti, "Ucapkan untuk dirimu sendiri, sungguh menyedihkan!". setelahnya melangkah pergi, kembali berlalu dengan Mito masih dalam gendongan.

setelah kepergian Naruto, Sai yang sedari tadi diam dan tersenyum palsu saja, mulai angkat bicara. "Kenapa kau tidak langsung menghajarnya saja, Menma-kun". ujar Sai dengan maksud lain, senyum palsu tak pernah pudar dari wajah pucatnya.

"Apa-apaan kau mayat hidup, dari tadi kau hanya diam saja". umpat Menma dengan kesal. " Dan kau, jangan mentang-mentang menyukai si brengsek itu, kini kau membelanya, nenek sihir!". ucapnya kemudian tanpa menyadari kalimat bagian akhir, dan itu adalah tabu bagi wanita.

"Apa yang kau ucapkan tadi, M.E.N.M.A-kun". sebuah suara dimaniskan dengan kalimat terakhir penekanan kata. Aura hitam menguar dibelakang mereka.

"Sai, apa aku salah mengatakan sesuatu".

"Entahlah".

kedua remaja itu melirik kebelakang dengan menelan ludah, tampak Kunoichi klan Sarutobi sudah melepas segel tangan dan wajah sulit digambarkan...

glekk...

"Aku benar-benar akan membakar kalian!!".

Katon Karyuu Endan

wrushhh...Blarrrrrrrrrr...

Selanjutnya, Entalah apa yang tengah terjadi dengan kedua remaja tanggung itu.

忍の決定

Malam hari begitu sunyi, terlebih disebuah hutan seperti ini. Yang terdengar hanyalah suara binatang khas malam.

Dua orang sosok berjubah hitam lengkap dengan tudung kepalanya, makin menyamarkan wajah mereka. Walau sudah diterpa oleh cahaya bulan.

"Anda yakin mereka akan datang, tuan?". tanya sosok yang lebih pendek dari salah satunya.

"Khukhukhu...mereka pasti akan datang, terlebih mereka hanyalah serangga kecil yang bermimpi disiang bolong, menyatukan semua desa di kawasan negara api dalam satu pemerintahan itu adalah omong kosong, terlebih Konoha salah satu desa besar pasti akan bertindak, mau tidak mau mereka pasti butuh bantuan. Kita hanya perlu memerankan peran kita, mereka hanyalah sebuah bidak kecil yang terjepit diantara dua raja...khukhukhu".

"Jadi begitukah tuan, bidak itu akan datang sendirinya ke kita". ujar sosok yang lebih pendek.

angin malam terus berhembus hingga mengibarkan jubah mereka, suara-suara tapak kaki gemerisik diantara rerumputan liar, menandakan mereka telah mendekat kearah yang ditunggunya.

terlihat dimata kedua sosok itu, telah berdiri empat orang berjubah lengkap dengan topi jeraminya, sepertinya mereka suatu kelompok. Gelapnya malam makin menyamarkan sosok misterius tersebut.

"Akhirnya kalian datang juga..khukhukhu".

"Cih, kalau bukan suatu alasan, aku tidak sudi datang kemari. terlebih orang macam sepertimu!!". ujar sosok diantara kelompok bertopi jerami, di sinyalir mungkin sosok Ketua di Timnya.

"khukhukhu...itu ku anggap sebagai pujian. Bagaimana pun juga orang macam kalian membutuhkan sentuhan sedikit dari orang sepertiku juga, bukannya seperti itu...khukhukhu". tawa remeh dengan nada sinis terpancar dari sosok lawan bicaranya.

Salah satu dari mereka berempat sudah ada yang terpancing emosinya, " Brengsek!!, jangan kau kira kami membutuhkanmu, maka kau bisa meremehkan kami seenakmu!!, aku tidak terima hal ini!!". amarahnya langsung melonjak.

"Cukup Fudo!!, hentikan tingkahmu!!". perintah sang ketua, tatapannya berkilat tajam sebagai ia mengingatkan.

"Aku apresiasikan keberanianmu terhadapku, itu sungguh mengejutkan..khukhukhu". sebuah barang berupa scrol menyembul dari balik jubahnya, segera sosok tersebut melemparkannya kedepan kelompok tim topi jerami. "Aku tau orang macam kalian pasti tidak sabaran!, tentunya juga tidak tau cara berterima kasih..khukhukhu". nada sinis terdengar mengalun di indera pendengaran.

"Dan lebih baiknya kalian segera minggat dari hadapanku!! sebelum aku berubah pikiran!!". tambahnya lagi disertai aura membunuh.

"Cihh, ayo kita pergi!". decihan dari sang ketua dengan mengambil apa yang ada ditanah.

poft..poft..

selepas kepergian mereka dengan cara Shunshin, membuat hutan ini hening kembali. Salah satu sosok yang sedari tadi diam membuka suaranya, " Aku sangat yakin, tuan tidak memberikan barang itu dengan segampang itu". ujarnya.

" Kalau salah, memang itu bukan prioritasku, lagi pula aku tidak akan terlalu berharap pada mereka..khukhukhu". ucapan dari sang tuannya benar-benar membuat bingung sosok itu, dirinya tidak paham cara pemikiran tuannya.

"Kau nanti akan mengerti setelah dibaliknya..khukhukhu". tawa menggema dikeheningan belantara hutan.

忍の決定

Sesosok Genin pirang masih berdiam diri di kursi kedai Ichiraku, setelah melahap 6 porsi ramen jumbo sebagai sarapan paginya, disebelahnya Jounin bersurai perak dan memakai masker yang juga sebagai Senseinya di Tim 7, masih memperhatikan tingkah muridnya.

"Kau masih akan tetap disini Naruto, yakin tidak akan ikut ke kantor Hokage?". ujar Kakashi, tak lepas buku bersampul orengenya tetap masih ditangan.

"Tidak usah dipertanyakan seribu kali pun, Sensei sudah tau apa jawabanku". pungkas datar Naruto dengan masih memainkan sumpitnya.

"Hahh...ya sudahlah, Sensei akan mengambil misi, mungkin saja Sakura dan Sasuke tengah menunggu..jadi Sensei pergi dulu". helaan nafas Kakashi menanggapi akan tingkah keras kepala Naruto.

"Hn, aku harap misi kali ini lebih menantang". iris saphire itu terlihat bosan, sudah berminggu-minggu ia hanya mendapatkan misi range E-D saja. Kini ia butuh peregangan otot, guna menyalurkan naluri bertarungnya.

Kakashi bangkit dari acara duduknya, "Yare..yare..kuharap juga begitu, semangat sekali Sensei mendengarnya". eye smilenya menyipit. "Ya sudah, Sensei pergi dulu".

"Hn".

pofft..

Kepulan asap menandakan kepergian Jounin bersurai perak, Naruto masih tetap asyik dengan memainkan sumpit, mengaduk-ngaduk kuah ramen di mangkok.

忍の決定

Kantor Hokage...

Di dalam ruangan itu sudah ada 7 orang diantaranya Yamato Tenzo dengan Tim 6 Geninnya, Yondaime Hokage, Sandaime Hokage, dan Iruka Umino.

"Misi apa yang akan Tim kami dapatkan Hokage-sama?". ujar hormat Yamato.

Yondaime menolehkan kepalanya, dimana Iruka tengah berdiri dengan memegang sebuah map kertas, daftar Misi untuk seorang Genin, "Apa masih ada misi untuk Tim Genin, Iruka". ucapnya.

"Hai' Hokage-sama, di sini tertulis misi memperbaiki pekarangan di ujung jalan selatan". ujar Iruka.

"Apa tidak ada misi yang lebih manusiawi lagi Tou-chan, kami sudah bosan dengan misi-misi membosankan dan kami juga seorang shinobi!!". protes Menma.

Semua yang ada diruangan Hokage tersentak akan suara keras Menma, Minato hanya memegang dahinya saja menanggapi keras kepala anaknya, "Sudah ku duga akan seperti ini, apa ada misi Rank-C untuk Tim 6, Iruka?". ucap Hokage blonde

"T-tapi m-mereka masih seorang Genin". ucap Iruka, lambaian tangan Minato menandakan bahwa ini biarkan saja. "Misi ini misi pengawalan Rank-C". ujarnya kemudian. dan berjalan keluar.

"Yosh, itu yang aku tunggu Tou-chan!!". teriak keras Menma hingga mendapat delikan mata dari kunoichi rekannya, sedangkan si mayat hidup masih tersenyum palsunya saja.

tok..tokkk..

"Masuk!". ucap Minato ketika mendengar suara pintu ruang kantor Hokage diketok dari luar.

Dari luar muncul Tim 7 dengan Senseinya Kakashi Hatake, melangkah mendekat dan berdiri disebelah Tim 6.

"yo Yamato!". sapa Kakashi melihat juniornya.

"Kakashi-senpai". gumam Yamato

Minato mengurut kening melihat Tim 7 begitu janggal, tapi ia menampik masalah itu, "Ah, kau sudah datang Kakashi". sapanya kemudian.

"Ya begitulah Sensei, apa ada misi untuk Tim Geninku?". jawab Kakashi masih berdiri diantara dua muridnya.

"Sebentar Kakashi, aku masih mengurus misi Tim 6 Yamato dulu". pungkas Minato yang masih mencatat di sebuah berkas.

Kakashi hanya menganggukan kepala, si bungsu Uchiha hanya diam dengan wajah stoicnya saja. Menma yang melihat Tim 7 memandang remeh, sedari tadi dirinya tidak melihat keberadaan si bocah pirang diantara Tim 7.

"Naruto-kun tidak ikut kemari Kakashi?, apa dia masih nyasar di kedai ramen?". sebuah suara konyol terdengar dari arah seberang sofa, nampak disana seorang kakek tua tengah duduk.

"Ya begitulah Sandaime-sama, dia lebih senang bernostalgia di Ichiraku dan katanya ia pengap jika di tempat yang terkutuk". ucap asal Kakashi dengan kikuk, menggarukan kepalanya yang tidak gatal. Hiruzen tersenyum memaklumi, ia mengerti maksud dari cucunya.

"Segitunya si pecundang itu takut kemari, apa dia takut karena ada aku disini!". seruan Menma dengan gaya arogannya. Semua mata menatap bocah bersurai merah tersebut dengan berbagai ekspresi.

Sasuke yang sedari tadi diam sedikit membuka suara, "Hn, karena mukamu seperti penghuni kuburan". celutuk si Uchiha dengan wajah inosen. Sakura yang berdiri di samping Sakuke langsung terkikik, tak biasanya rekan pirangnya di bela.

Menma terlonjak, amarahnya meningkat. Tak terima akan penghinaan Uchiha, "Apa maksudmu!!, kau mengajakku berkelahi!!". tegas Menma yang hampir melangkahkan kakinya ke ara Sasuke, namun sebuah tangan mencengkram kerah jaketnya.

"Sudah-sudah, kalian harus tetap tenang, ini kantor Hokage!!". pungkas Yamato, sang pelaku penarik kerah.

kriet...

Seseorang memasuki kantor Hokage, ternyata adalah Iruka dengan dibelakangnya seorang kakek tua berkaca mata, memakai topi tukang dan di genggaman tangannya sebotol sake.

"Jadi mana orang-orang yang akan mengawalku?". ujar tingkah sombongnya, kakek tua berkacamata mulai meneliti beberapa orang yang tengah berdiri.

Iruka Umino menunjukan jari dimana Tim 6 berdiri, " Ada disebelah kiri anda, Tazuna-san".

"Apa maksudnya ini, hanya sekumpulan bocah ingusan saja. Apa tidak ada yang lebih kuat dari mereka!". mata tua berkacamata menatap Tim 6 dengan suaranya mengesankan protesan keras.

"Apa maksudmu pak tua, kami adalah Tim Genin terkuat di Konoha, terlebih aku!!". Menma tak kalah sewot dikatakan bocah ingusan.

Minato sebagai Hokage mengurut keningnya, "Kalau anda tidak cocok dengan shinobi Konoha, mungkin lebih baik anda mencari pengawalan diluar. Lagi pula Tim 6, Tim terbaik Genin Konoha saat ini". ujarnya dengan sedikit memuji prestasi Tim anaknya.

"Hah.., apa boleh buat". helaan nafas paksa kakek tua berkaca mata.

Menma yang merasa Timnya ditinggikan oleh ayahnya, tingkahnya makin menjadi-jadi arogan. "Hokage saja mengakui, kalau Tim 6 yang paling bagus. lalu kalian mungkin Tim yang paling rendah kinerjanya, apalagi si pecundang itu!". ujaran merendahkan dari bocah bersurai merah ditujukan untuk Tim 7. Lagi-lagi berpasang-pasang mata menatapnya dengan berbagai ekspresi, terlalu jumawa untuk seukuran anak Kage.

"Cih". geraman Sasuke yang tidak terima kala diremehkan, ingin sekali Uchiha bungsu tersebut menyobek mulut nyonyor bocah merah yang terlalu arogan. Mungkin sama apa yang akan dilakukan oleh Naruto, mungkin juga akan terlebih sadis lagi. Sasuke tau teman pirangnya itu bukan seorang tipe sabaran atau punya jiwa memberontak.

Beberapa saat kemudian...

Sepeninggalan Tim Yamato, keadaan ruang Hokage lebih tenang. Tidak ada lagi acara tensi darah menaik, akibat ulah anak dari Hokage pirang tersebut.

"Dan untuk misi Tim mu Kakashi, Tim 7 akan membantu Tim 10 mengawasi pencurian mayat akhir-akhir ini di kuil api. Dan juga saat ini Asuma beserta Timnya sudah berada di kuil api semenjak dua hari yang lalu". ujar Minato menatap Tim muridnya.

"Hai' Sensei, aku akan mengupayakan dengan optimal". timpal Kakashi sedikit hormat.

sebelum Tim 7 beranjak pergi, sebuah suara menginterupsi pendengaran Kakashi, "Sampaikan salamku untuk Naruto-kun, Kakashi. dan ingatkan dia jangan sampai bertindak ceroboh!". ujar Hiruzen

"Sandaime-sama tenang saja, itu sudah menjadi tugasku sebagai Senseinya". ucap Kakashi, dirinya paham akan maksud 'ceroboh' perkataan Hiruzen, bukan tanpa perhitungan jika di luar desa.Tetapi jiwa emosional Naruto yang meledak-ledak, terlebih jika bocah pirang tersebut bertarung nafsu membunuhnya sangat tinggi. Bagaimana pun Kakashi sudah pernah melihatnya sendiri, ketika Naruto secara sadisnya membantai shinobi Kumo. Tetapi Kakashi menampik hal itu dengan beralasan Naruto melindungi adiknya.

忍の決定

Siang hari yang sangat terik didepan pintu gerbang Konoha, sudah tampak Tim 7 yang tengah menunggu seseorang, Tim 7 tersebut tak lain hanya ada Sakura dan Sasuke saja, sedangkan rekan pirang dan Senseinya belum juga menampakan batang hidungnya. Hari ini Tim 7 akan melakukan misi pertamanya keluar desa, tentu saja untuk pertamanya bagi Sasuke dan Sakura. Tapi tidak untuk Naruto dan Kakashi, karena sebelumnya mereka sebelumnya sudah pernah keluar desa.

"Hah, selalu saja Sensei pasti telat!, dan Apa-apaan si baka itu malah ikut-ikutan Sensei!!". dengusan dari gadis merah muda, merutuk kesal akan Naruto dan Kakashi. Tas ranselnya digoyang-goyangkan, pelampiasan akan rasa gregetnya.

Sasuke hanya diam berdiri dengan tas ransel hitam melekat dipunggungnya, wajah datarnya tak terpengaruh ocehan gadis merah muda, yang termasuk fansgirls nya.

'Kyaa..dengan begini, aku bisa berduaan dengan Sasuke-kun'. inner gadis pingky itu berteriak-teriak. Sakura mendekat ke Sasuke, dengan wajah sudah dihiasi rona merah, "Sasuke-kun, bagaimana kalau setelah misi ini kita berkencan". rayuan gadis pingky itu di acuhkan oleh bocah bersurai pantat ayam, membuat gadis itu mendesah.

"Cih". si pantat ayam bergumam tak jelas.

Kemunculan seseorang mengejutkan mereka, "Yare..yare.. sepertinya kalian menunggu lama". Sapa sosok tersebut dengan eye smile menyipit.

"Sensei telat!!, pasti tersesat di jalan kehidupan!!". pungkas Sakura mengetahui akan alasan nyeleneh sang Sensei.

"Hehehehe..begitu ya?". ujar Kakashi lantas menggarukan kepalanya.

"Dan si baka itu juga ikut-ikutan!".

"Lalu yang diatas itu siapa kalau bukan Naruto". Kakashi menunjuk dimana Naruto berada. Seorang bocah pirang tengah anteng dengan ramen cup instan di tangannya, sedang duduk diatas dahan pohon.

Bocah pirang tersebut memakai Jaket hitam, celana orenge, dan terbalut jubah hitam sliper orenge di bagian resletingnya. Tak lupa sarung tangan yang selalu menghiasi kedua tangannya, sesekali rambut pirangnya berkibar tertiup angin. Membuat wajah Sakura merona merah, 'tidak..tidak, masih kerenan Sasuke-kun'. Kepala merah mudanya menggeleng, tapi tidak dengan otaknya dan matanya masih terkesima.

Naruto yang menatap Sakura hanya menaikan alis kuningnya , 'Ada apa dengan tatapan gadis aneh itu'. Otaknya malas untuk berpikir.

Skip time...

Mereka berempat masih terus berjalan, dengan ketiga Genin didepan dan Kakashi sendiri di belakang. Terus menelusuri jalan setapak di pinggiran hutan. pohon-pohon besar berdiri disisi tepian.

"Jadi misi apa kali ini, Sensei?". ucap suara datar membuka keheningan, yang ternyata adalah Naruto. Kaki terbalut sandal shinobi hitam masih terus melangkah menelusuri jalanan.

"Makanya itu kalau mendapatkan misi, kau harus ikut kami ke kantor Hokage". timpal gadis pingki. Bukannya memberi tau, gadis merah muda tersebut malah mendengus.

Sasuke melirik sedikit akan tanggapan teman pirangnya, 'Banyak rahasia yang tidak aku mengerti tentangmu, Dobe'. namun bocah tersebut diam saja. Sebenarnya Sasuke ingin mengetahui alasannya, kenapa bocah pirang itu malas sekali ke kantor Hokage. Tapi egonya sebagai Uchiha enggan mencampuri urusan pribadi orang lain.

"Misi membantu Tim 10, Naruto. untuk mengawasi makam yang mayatnya dicuri". pungkas Kakashi.

Alis Naruto sedikit mengernyit, pertanda ada yang ganjal. "Buat apa mencuri mayat, kalau pun itu terjadi pasti si mayat selama masih hidup bukanlah orang biasa atau kata lain seorang tokoh penting". nalar jeniusnya bekerja, menanggapi ucapan Kakashi.

"Hn, aku sependapat denganmu, Dobe". ucap si Uchiha, selama perjalanan ia baru menyuarakan bibirnya.

Iris emerad mengerjap, "Kenapa kau bisa seyakin itu Naruto?". ucap Sakura agak bingung lalu apa hubungannya dengan Tim 10.

"Yare..yare..ternyata kau menyadarinya juga, seperti biasa kau selalu berpikir cepat. Memang benar katamu Naruto, mereka mayat yang dicuri dulunya adalah anggota tim elit 12 Shinobi Pelindung Negara api, kita membantu Asuma dan Timnya disana guna mengawasi saja". puji Kakashi sekaligus menerangkan kepada Tim Geninnya.

"Hn, Kenapa mesti Tim 10 kesana duluan untuk mengawasi, bukankah ini misi Range-C saja". ujar Sasuke.

"Itu betul Sasuke-kun". timpal Sakura mulai baru menyadari. memang dalam teori Sakura akan cepat nyambung, untuk seorang kalangan sipil yang menjadi Kunoichi itu sungguh terlalu berat, terlebih dirinya bukan keturunan dari kalangan ninja.

"untuk mengawasi saja itu tidak mungkin, sebenarnya mudah saja dalam Tim 10 ada Shikamaru. Tidak bisa di pungkiri untuk seorang Nara karena kejeniusannya, maka Asuma memanfaatkan bocah nanas itu. yang menjadi pertanyaanku adalah kenapa harus Asuma, apa ada hubungannya dengan kuil api, itu saja?". terang datar Naruto, otaknya masih menyikapi.

Sasuke mulai mengerti kemana arah pemikiran teman pirangnya. "Hn, mungkin saja Asuma ada keterlibatan dulunya". timpal Sasuke dengan memprediksi.

Kakashi hanya tersenyum dalam maskernya, ia memaklumi Timnya yang masih penasaran. Timnya Tim 7 bentukan Sandaime memang bukan Tim biasa, anggotanya diisi dengan Genin-Genin penuh bakat, mungkin terlanjur berbakat. Terlebih Naruto, Kakashi bahkan masih menerka bocah pirang itu punya level tersendiri.

"Ya mungkin prediksi kalian benar, maka Sensei akan menjawab, kalau Asuma adalah mantan anggota 12 Shinobi pelindung itu sendiri!". eye smilenya mengapresiasikan pemikiran Tim Geninnya.

"Hn, sepertinya ini akan menarik". sebuah seringaian terkembang dibibir tipis Naruto dengan memutar-mutar katana putih, entah sejak kapan muncul. Dan itu membuat Sakura bingung, sejak kapan teman pirangnya menyukai pedang.

Dari belakang Kakashi sedari tadi memperhatikan Naruto, ia bisa menilai gelagat bocah pirang tersebut. 'Sepertinya benar perkataan Sandaime-sama, aku harus sering memantaunya. terlebih saat ini jiwa bertarung menunjukan semangatnya'.

忍の決定

Petang hari mereka telah sampai didepan sebuah batu yang tersusun mirip seperti undakan batu, hingga Tim 7 menaiki satu persatu dan mencapai atas dengan disambut sebuah pintu gerbang gapura besar dengan tulisan kanji 'Kuil Api'.

"Yo Kakashi". sesosok Jounin bersurai coklat dan berjampang dengan di bibirnya terselip sebuah rokok menyambut sensei Tim 7.

"Yo Asuma". gumam Kakashi, melangkah mendekati rekan Jouninnya, di ikuti oleh Naruto, Sasuke, dan Sakura.

"Lebih baik kalian istirahat dulu'', ujar Asuma pada Tim 7 yang baru sampai.

"Hn". ucap Naruto datar, irish saphirenya masih menjelajah sekitarnya

Tampak didepannya sebuah bangunan kuil yang sangat besar dan di sisinya ada para penjaga kuil tersebut berkepala botak lengkap dengan jubahnya, menandakan mereka adalah seorang biksu.

Salah satu biksu berkepala botak yang mendampingi Asuma, memperkenalkan dirinya dengan sopan, "Namaku Chiriku, mohon kerjasamanya". dengan sedikit membungkuk. "Lebih baik kalian ikuti aku, aku akan menunjukan tempat istirahat kalian". pungkasnya kemudian.

''Hn, Naruto". ucapnya datar dan mulai melangkahkan kakinya, entah mau kemana.

"Hn, Aku Uchiha Sasuke". ujar si pantat ayam ikut melangkah, mengikuti kemana teman pirangnya pergi.

Gadis merah muda yang sedari tadi diam, malah menggerutu, "Hahh..mereka itu, masih saja seenaknya!". ujarnya dengan kesal. "Ah..ya namaku Haruno Sakura, mohon kerja samanya Chiriku-san". pungkasnya kemudian memperkenalkan diri.

"Yare..yare...sepertinya mereka butuh angin, aku Kakashi Hatake Sensei Tim 7". Kakashi berojigi ria menggarukan kepalanya yang tidak gatal, menanggapi akan tingkah kedua muridnya yang seenaknya.

"Hahhh...Sasuke-kun hanya meninggalkan tasnya saja disini". Sakura memandang sebuah tas hitam tergelatak ditanah, dan ia baru sadar bahwa teman pirangnya tidak membawa tas, bukankah itu aneh.

忍の決定

Dua orang Genin itu masih terus berjalan, menapaki setiap dahan pohon dengan meloncat dari pohon satu ke pohon didepannya. Tim 7 yang belum bisa mengontrol chakranya hanya Sakura saja. Untuk Sasuke kontrol chakranya mungkin bisa menguasai tapi tidak sesempurna Naruto. Kalau untuk Naruto tidak perlu ditanya ia sudah menguasainya 100%.

"sebenarnya apa yang kau cari Dobe, apa kau merasakan sesuatu?". ujar si Uchiha yang tengah melompati dahan pohon berada tepat disamping Naruto.

"Hn, entahlah, sensorku merasakan akan ada hal yang sangat menarik, kita lihat saja nanti". pungkasnya, Naruto masih terus menambah terus lajunya..

tapp...tappp..

Sekejap dua Genin itu telah sampai di tempat yang di tuju, keduanya mendarat dengan mulus di sebuah bangunan yang ada cungkupnya, sepertinya itu sebuah makam. iris saphire Naruto menelusuri sekitarnya, Sasuke masih menggorek tanah dipermukaan. Sepertinya si Uchiha telah menemukaan sesuatu.

"Dobe". ujar si Uchiha dengan menunjukan dipermukaan tanah. ada sebuah retakan tanah seperti membujur panjang, sepertinya itu adalah sebuah bekas jejak.

"Hn, sepertinya kita telat sedikit". pungkas Naruto, menganalisis bahwa barusan telah terjadi pencurian mayat anggota 12 Shinobi pelindung. Jarinya menuding sisi bangunan cungkup berlobang tembus kedalam tanah.

Manik kelam itu melirik, ketika teman pirangnya menunjuk sesuatu. Otaknya sedikit berpikir, "Hn, Jadi salah satu dari pencuri itu adalah pengguna doton". pungkas si Uchiha kemudian.

"Hn, bisa dipastikan begitu, kalau kau mau aku bisa menunjukan teknik seperti itu padamu dan bahkan mungkin lebih". ujar Naruto dengan sebuah seringaian.

"Cih, selalu saja..hanya kau bisa menggunakan kelima elemen, maka kau anggap aku ini lemah begitu". ujar datar Sasuke tak terpengaruh lontaran teman pirangnya. ia tau bocah pirang itu sedang memprovokasi dirinya, tentu ia mengenal betul sifat sahabat pirangnya.

"Hahh...Aku tidak beranggapan seperti itu, dan kabar baiknya para pencuri itu jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, mereka kabur ke arah utara dengan jarak 36 Km dari sini". Sensoriknya merasakan, Naruto menjelaskan pada si Uchiha. Bocah pirang itu masih bersidekap, angin malam memainkan ujung jubahnya berkibar.

"Hn, apa perlu kita melapor pada Sensei?". ujar Sasuke.

"Tak perlu, kita tunggu situasi dulu".

Fuuton Reppushou

wurshhh..

Sebuah serangan badai angin menyerang kedua Genin, Serangan mendadak itu membuat Naruto dan Sasuke menghindar, melompat kearah samping dengan cara shunshin biasa.

Blarrrrrrr...

Semua pohon hancur bertumbangan disekitar pohon, sang pelaku penyerang menampakan diri, seorang bocah bersuarai abu-abu gelap lurus panjang sebahu, terbalut jubah berselempang, menandakan ia seorang biksu.

Tapp..tappp

Kedua Genin mendarat tepat ke permukaan tanah, sosok bocah gondrong itu menatap nyalang Naruto dan Sasuke. Kedua Genin tersebut masih anteng dengan berdiri santai tanpa terpengaruh tatapannya.

"Kalian kemanakan mayat-mayat itu, brengsek!!". suara bentakan bocah bersurai abu-abu gelap gondrong, ditangan kanannya telah siap sebuah senjata cakar besi, matanya terus mengawasi Naruto dan Sasuke.

"Cih, kenapa kau menyerah kami, hah!". si Uchiha tidak terima ketika dituduh mencuri mayat.

"Hn, sepertinya ini salah paham saja, dia mengira kita adalah adalah pencurinya karena hanya kita saja yang ada sini". gumam Naruto, sambil melemparkan katana putihnya kepada Sasuke.

"Hn, kupikir juga begitu. Dan apa pula aku harus menghajar bocah songong itu sendirian". ujar datar Sasuke, ketika sebuah katana sudah ada di tangannya.

"Buktikan padanya kalau kau kuat, dan tunjukkan padaku kalau kau pantas sebagai rivalku ". ucap asal Naruto dengan wajah tak berdosanya, merebahkan diri disalah satu batu besar makam dengan melipatkan satu kakinya. menonton aksi si Uchiha bungsu.

"Cih, sialan kau Dobe!". umpat Sasuke, perempatan muncul dikeningnya.

"Sama-sama tuan pantat ayam, fufufu". Naruto menyeringai disertai tawa mengejek.

Bocah bersurai abu-abu gelap bertambah emosi, karena pertanyaannya diacuhkan kedua lawannya. Dengan segera ia meloncat kearah Sasuke, menghujamkan cakar besinya..

trang...trang...!!

Sasuke menangkis kesamping dengan katana pinjaman Naruto, Katana putih ia tebaskan keatas menyilang guna menjangkau kepala lawannya, namun masih saja bisa ditepis oleh cakar besi..

trangg...trang..tringg..!!

Suara dentingan logam terdengar disertai percikan-percikan api kecil, Sasuke melompat kesamping dengan Katana mengarah kebawah, bocah bersurai abu-abu gelap memblok katana putih yang akan menghujam kakinya...

tring...trangg..!!

srakk...

Dengan katana masih melaju kebawah, namun ditepis lawannya. Sasuke memutarkan tubuhnya keatas, melakukan gerakan salto melawan gravitasi bumi. Kaki kanan penuh cakra ia layangkan ke arah bahu musuhnya, melakukan gerakan tendangan kombinasi..

Shishi Rendan

Duaghhhh...Duaghhh...duagghhh...Brakkkk...

Tendangan beruntun yang Sasuke lancarkan, membuat bocah bersurai abu-abu gelap terpelanting, terhempas dengan kerasnya ke permukaan tanah. kepulan asap debu bertebaran dampak dari serangan Sasuke.

"Ughh...brengsek.., Kau pencuri, dimana mayat-mayat itu kau sembunyikan!!" bentak bocah bersurai abu-abu gelap yang mulai bangkit, cakar besinya ia gerakan sebagai tumpuan.

"Cih, aku bukan pencuri mayat..dan aku tidak tertarik dengan namanya mayat!!" tegas Sasuke.

"Aku tidak percaya dengan orang sepertimu, brengsek!!". bentakan keras nada amarahnya meninggi. Bocah tersebut melompat kearah Sasuke.

Juha Sho

wushhh...srettttt..

"Cih, kusso..Kau hanya salah paham, bodohh!!!", bentak Sasuke guna menjelaskan kesalah pahaman ini, namun bocah itu masih keras kepala, dengan masih mengayunkan cakar besinya yang sudah teraliri elemen angin.

Chidori Raigatana

zipppp...zippp

Sasuke melompat dengan memposisikan katana putih yang sudah teraliri chidori berwarna biru, mengarahkan katana berelemen raiton tepat menyilang atas, menepis cakar-cakar angin.

wushhhh...sretttt...ziipp...zipppp..

Blarrrrrrrrrr...wushhh..brukkk..brukk..

di udara terjadi benturan dua teknik Jutsu berbeda elemen, mengakibatkan kerusakan disekitarnya. iris kelam bocah Uchiha itu melirik, menelusuri keadaan banyak pohon-pohon bertumbangan tertebas cakar-cakar angin yang menyayat. Sasuke menepis dengan membelokan serangan tersebut.

"Cih, aku tidak sudi mengakui bahwa pedang mu ini memang spesial, Dobe". gumam Sasuke melirik sekilas katana yang digenggamannya. Tipe seorang Uchiha yang terlalu gengsi.

Juha Reppu Sho

wushhhh... srakkkkk

Kali ini bocah bersurai abu-abu gelap memperbesar serangannya dengan cakar angin yang lebih besar, mengarah tepat kearah kearah Sasuke. Serangan angin yang berbentuk cakar besar melesat cepat, tapi bocah Uchiha itu masih tetap tenang. Dengan jari sudah merapal segel tangan.

Katon Gouryuuka no Jutsu

Wurshhhhh...

Sasuke menyemburkan jutsu naga apinya yang semakin membesar, naga api besar melesat cepat melintas di atas permukaan tanah, siap membentur dengan cakar angin besar...

Blaaarrrrrrrrrrrrr...!!!

Ledakan keras terjadi akibat dua jutsu beradu, asap mengepul dari sebuah kawah. Sasuke melesat dengan cepat dengan memanfaatkan kesempatan ini, katana ia tebaskan secara menyilang..

tranggggg...

Cakar besi menangkis laju katana keperakan, bocah bersuarai abu-abu gelap menatap nyalang Uchiha, serasa nafsu membunuhnya sangat tinggi. Dengan tangan kirinya yang masih bebas, Sasuke mencondongkan tubuhnya kesamping, guna melayangkan serangan kepalan tangan kirinya. "Cih, dasar keras kepala!!". gumam Sasuke, menghantamkan tangan kirinya kedada musuh.

wushhhh...Duaggg brakkkkk...

Bocah bersurai abu-abu gelap itu langsung tersungkur akibat tinjuan keras Sasuke, terkapar dipermukaan tanah dengan ada sedikit luka di tubuhnya. "Brengsekk, Aku akan kubunuh kau!!". seakan amarahnya keluar dengan drastis disertai chakra merah menyelimuti tubuhnya, lonjakan chakra merah semakin menggila, lalu kembali masuk kedalam. Tangan kanan Bocah bersurai gelap itu membesar seperti tangan monster dengan kuku yang sangat tajam, mata kanannya berubah berwarna merah dengan garis vertikal

"Chakra apa itu, apakah dia Monster". gumam pelan Uchiha.

"Kau harus berhati-hati!!, nampaknya ia mulai marah dan asal kau tau chakra negatif itu adalah chakra Kyuubi, aku bisa merasakan auranya yang mengandung kebencian!!". lontaran keras dari arah belakang Sasuke, dan suara tersebut adalah Naruto.

Iris oniks itu melirik sekilas, dimana Naruto berada, " Apa dia seorang Jinchuuriki, apa kau ada cara atau pun teknik!". ucap datar Uchiha.

"Dia bukan Jinchuuriki, aku bisa mendeteksi didalam tubuhnya tidak terdapat Bijuu yang tersegel, dan ini adalah pestamu, jadi nikmatilah...fufufu". Naruto menertawakan Sasuke, akan kesialannya. "Oh..ya satu lagi para pencuri mayat sudah mulai agak menjauh, sekarang jaraknya hampir 60 Km. jadi kau harus bertarung dengan cepat...fufufu!!".

"Cih, sialan kau Dobe, setelah ini aku benar-benar akan membunuhmu!!". Sasuke mengumpat kesal akan tingkah sahabat pirangnya, mata oniks kelam itu sudah berganti dengan mata Sharingan tiga tomoe, menatap lurus dimana musuhnya berada.

Benar saja bocah bertangan monster itu sudah melayangkan serangannya, dan kecepatannya sangat bertambah. Mengharuskan Sasuke untuk segera menghindar...

Blarrrrrrr...

Tangan kanan monster menghantam tanah, dengan Sharingan yang aktif. Sasuke bisa menghindari gerakan musuhnya yang sangat cepat, dengan masih berada diudara Sasuke merapal segel tangan..

Katon Goukakyu no Jutsu

Wurshhhh...

Sasuke menyemburkan bola api yang sangat besar, serangan tersebut melaju dengan sangat cepat kebawah dimana bocah bersurai abu-abu gelap berada..

Sretttttt...wurshhhhh...

Blaaaarrrrrrrrr...!!!

Tangan monster yang penuh chakra merah itu menghantamkan bola api besar, hingga membuat ledakan. Bocah bersurai abu-abu gelap masih berdiri dengan tegak, seolah tidak terjadi apa-apa.

Sharingan tiga tomoe menyala di malam yang gelap, iris tersebut menatap musuhnya dengan sangat sulit diartikan. "Bukan hanya kecepatannya saja yang bertambah, tetapi kekuatan juga meningkat drastis". gumam lirih Sasuke.

"Sebelum Chakra negatif itu mengambil alih keseluruhan kesadarannya, kau bisa menggunakannya dengan Genjutsu!!". teriak lantang bocah pirang.

"Cih, kenapa kau tidak bilang sedari tadi, Dobe!". Sasuke benar-benar mengutuk keras rekannya. Apa maksudnya, ia hanya bermalas-malasan menonton aksinya saja, sambil menertawakannya pula.

Sasuke meloncat kembali untuk menghindari serangan, ketika bocah bertangan cakar monster itu menghujamkan kuku-kuku tajamnya. Dengan mencondongkan tubuhnya kebelakang, Sasuke menangkisnya dengan sebilah katana keperakan, cakar monster itu hanya mengenai katana.

tranggg...tranggg...

Magen Kasegui

Kontak mata terjadi ketik Sasuke menangkis kuku tajam tersebut. Sebuah seringain muncul dibibirnya, dengan cepat ia meloncat kesamping guna menjaga jarak, dimana lawannya yang diam mematung terjebak dalam ilusi Genjutsu.

Chidori

zippp..zippp...blarrrrr...

Sasuke menabrakan chidorinya, tepat kebahu lawan disaat terjebak Genjutsu. Hingga bocah bersurai abu-abu gelap terhembas kebelakang menabrak pepohonan dengan tak sadakan diri. Sasuke memang bukan tipe petarung yang suka bermain-main dengan musuhnya.

"Hn, sepertinya tidak sia-sia, ada peningkatan selama dua tahun terakhir". komentar datar Naruto muncul secara tiba-tiba.

"Cih, Apa maksudmu dengan mengumpankan aku kepadanya, hah!!". ujar datar Sasuke dengan lantang, menahan emosi. ingin sekali menggetok kepala durennya.

"Bukankah kau ingin banyak pengalaman, fufufu". tawa Naruto terdengar garing.

"Hn, Bagaimana dengan pencuri mayat itu? apa bertambah jauh?". pungkas Sasuke kemudian, "Lebih baik kita tinggalkan saja dia". Sasuke menunjuk dimana bocah bersurai abu-abu gelap tak sadarkan diri.

"Hn, Masih sama belum jauh. dan lagi pula kau membuat keonaran. Sepertinya Sensei dan lainnya sedang menuju kemari, kau berlebihan hingga memancing banyak perhatian". ujar datar Naruto dengan telapak tangannya memegang bahu Sasuke.

Raifuu Jikukan

Sringgg...

Sekelebatan kilatan hijau menandakan mereka telah menghilang, dan berpindah tempat.

vvvvvvvvv

vvvvvv

vvvv

vvv

v

つづく

Catatan Author :

Pertarungan Minato dan Naruto mungkin mengecewakan, gw sengaja membikin tidak klimaks. masalahnya ntar malah ngerusak alur yang gw udah buat...hahaahaha..., Ma'afin kalau Author mengecewakan para Reader-san semua, Terima kasih yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir dan juga yang udah Fav and Fol.

Thanks to

Azura mode : Oke terima kasih yang udah menunggu up.

leader bokep : sifat Naruto tidak dingin bro, ia akan bersikap lembut kepada orang tertentu saja. oke terima kasih.

Muhamad Kamil : oke terima kasih..udah up bro-gan.

Uchiha Naruto : kalau mimato mati nanti tidak seru lagi bro-gan..., oke terima kasih

Nawawi1608 : Oke terima kasih ini udah...pisss ;V

Yudi wisesa : akan terjawab di chapter ini bro-gan ...oke terima kasih

Uzumakilchie : Oke terima kasih bro-gan...sudah gw atur sesuai alur, biar genre family nya terasa.

Annur Azure Fang : akan terjawab di chapter ini bro-gan, oke terima kasih udah mampir di mari. hahahaha ;v

Irfai1891 : oke terima kasih udah mampir bro-gan, masalah pairing mungkin akan mengikuti alur tema ajalah, sebenarnya gw juga bingung.

adam muhammad 980 : oke trima kasih bro-gan, akan terjawab di chapter ini :v

Cikedok54 : oke terima kasih bro-gan, kalau memaafkan Kushina sihh, Naruto mencoba belajar dulu brooo dengan menjaga jarak , apa kushina ada usaha. lagi pula Naruto masih banyak yang dikerjakan kedepannya, seperti melanjutkan cita2 Shisui.

Paijo Payah : oke terima kasih bro-gan.

Kirroi Grenory Phenex : oke terima kasih, akan terjawab di chapter ini, semoga tidak mengecewakan ..hahahaha pisss.

Uzu zite : oke terima kasih bro-gan.

Kurogane Hizashi : oke terima kasih bro-gan, kalau menyembunyikan kekuatannya sih tidak, sifat Naruto disini tidak suka pamer kekuatan, toh kalau menemukan musuh yang lebih kuat ,mau tidak mau pasti akan menggunakannya. jadi kalau levelnya semakin rendah ia akan menggunakan jutsu yang tidak terlalu mencolok...untuk Rinnegan entahlah...

Firman597 : oke terima kasih bro-gan, kalau Kushina dan Mito mati nanti Naruto bisa menjadi dark bro- gan, sekarang aja udah semi dark, ntar juga malah genre family menjadi Angust/ tragedy...justru feel genre familynya akan terasa disini

Kalau terinspirasi dari Author2-senpai mungkin iya, gw tidak akan memungkiri untuk itu, tapi aku buat alurnya tidak akan Mainstreem...ringan-ringan aja, apalagi terlalu banyak konflik...bukan gaya gw itu..

terima kasih udah mau mampir bro-gan

Fadhli305 : oke terima kasih.

Arch Strike : waduhhhhhh...kejem amat bro-gan ini, hahaha...amat aja gak kejem. oke terima kasih bro-gan.

Mateng di kompor : oke terima kasih bro-gan..

The Gembel men : oke terima kasih banyak bro-gan, semoga tidak mengecewakan hahahahaha :V

Alpin DireozZ : oke terima kasih...

bigs nunu : oke..oke..oke..

AshuraIndra64 : oke terima kasih ...waduhh kejem amat broo...hahhaahah :V

Loray 29 Alus : oke terima kasih bro-gan, mengejutkan sekali broo...hahahahaha

Hyuu0050 : oke akan terima kasih bro-gan, ntar gw kan pertimbangan.

terima kasih banyak yang tidak gw sebutin atu peratu, copy paste nya terlalu banyak bro, maklum pake HP jadi agak terlalu susah.