Unrequited Reminiscence

majority: YoonMin

by lonalunatic

.

.

summary: Suga merasa ingatannya tidak pantas kembali. Mereka sangat kelam. Hitam putih dan menyayat hatinya. Park Jimin sendiri rela melakukan apapun agar bisa kembali dalam ingatan seseorang.

.

note: yoonmin au. penulis menyebutkan umpatan dalam bahasa inggris dan indonesia juga konten dewasa yang sebaiknya tidak dibaca anak-anak.


Chapter 13: Daun Musim Gugur dan Merindu

.

.

(Part II: YOONGI)

Dialog Min Yoongi dengan beberapa orang terlampau sedikit jadi lebih dari setengah chapter ini berisi narasi tentang perasaan Min Yoongi. Tolong dibaca pelan-pelan karena berisi banyak cerita dari masa lalu Min Yoongi.

Happy reading^^

.

.

Ada beberapa hal yang menganggu pikirannya. Salah satu di antara semua itu tentu Jimin. Park Jimin. Bagaimana caranya agar dia bisa bersikap seperti biasa jika Park Jimin yang ada di depannya begitu manis? Jimin sungguh memberikan seribu alasan kenapa dia ingin menciumnya penuh-penuh. Entah mungkin karna Jimin menatapnya dengan bibir setengah terbuka atau ketika dia terdiam bibirnya mengerucut seperti orang yang sedang cemberut atau mungkin karna Jimin tersenyum padanya dengan pipi yang menggembung menggemaskan atau tawa renyahnya yang membuatnya kalang kabut menahan perasaan ingin ikut tertawa. Satu hal yang pasti, Jimin melakukan semua itu di luar kesadarannya. Jimin membuatnya gila tanpa disengaja dan entah bagaimana Kim Suga bisa melewatkan betapa manisnya Jimin dan bersikap seolah semua itu biasa saja. Bagaimana seorang Kim Suga bisa bertahan hidup begitu ya? Bagaimana bisa Kim Suga bertahan dengan egonya? Yoongi menarik nafas. Yeah, Kim Suga adalah dirinya dan tentu dia sadar benar selama ini dia begitu tersiksa. Jika dipikir lagi, menjadi Kim Suga yang penuh dengan ego dan begitu dingin tidak juga bisa disalahkan. Sesungguhnya semua hal yang terjadi di antara Jimin dan dirinya di masa lalu memang hanya bisa dimengerti oleh Min Yoongi dan Park Jimin. Entah apa itu juga berarti Jimin mengerti apa yang terjadi. Sampai sekarang Yoongi tidak pernah mendapat jawaban kenapa Jimin meninggalkannya, kenapa Jimin lebih rela bermain bersama Song Jino daripada dengannya. Satu hari nanti, dia ingin Park Jimin mengatakan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Jimin berubah juga meninggalkannya.

Hanya saja pemikiran lain soal jati dirinya begitu menyita semua perhatian. Statusnya di Korea sudah pasti tidak lagi seorang warga negara yang masih hidup. Yoongi harus menemukan akta kematiannya di Korea. Belum lagi dia harus meminta kepada Seokjin semua berkas yang berisi keterangan tentang adopsi yang dilakukannya hampir sembilan tahun yang lalu dan kalau sudah begitu berarti dia harus siap untuk membuka semuanya pada Seokjin. Sesungguhnya hal itu adalah yang terberat. Apa Seokjin akan menerimanya seperti sedia kala atau Seokjin akan berubah dan memintanya kembali ke Korea? Semalaman suntuk dia memikirkan semua rencananya sampai pening. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke Seoul. Dia harus bertemu dengan Hoseok dan menyelesaikan semua urusan di Seoul termasuk mengunjungi Nenek Jung. Oh, Nenek pasti menunggu kehadirannya. Yoongi bahkan tidak tahu apa yang harus dia katakan saat dia datang ke tempat Nenek Jung. Dia begitu lama meninggalkan Nenek sendirian.

Well, kepergiannya ke Seoul meninggalkan banyak tanya untuk Seokjin juga Namjoon. Terlebih lagi Seokjin, meski dia menyetujui kepergiannya, lelaki itu berkali-kali mencoba menyudutkannya dengan beberapa pertanyaan yang untungnya bisa dia jawab.

"Honey, let it be. It's been awhile right? I think Jimin need this too. You know, he deserve to go home."kata Namjoon menengahi.

"Seingatku, kau tidak suka Seoul yang dingin. Katakan, apa yang terjadi?" tanya Seokjin penuh intimidasi.

Yoongi tersenyum tipis. "Akan kuberitahu setelah aku kembali dari Seoul. Aku berjanji padamu." Katanya.

Seokjin tampak ragu dan saat itu Namjoon merangkulnya erat. "Baby, just for a few days okay? He'll be back soon."

"Right. Three days or a week."

"No. I need you to help Suran for her engagement next week."

Yoongi terdiam sebentar. "Aku akan meminta Jimin pulang lebih dulu. Jadi siapkan Jungkook untuk menjemputnya. Dia lebih bisa membantu banyak."

Namjoon menatapnya heran. "Really? You said that as if you could live without any sight of him." sindirnya. Yoongi tertawa lagi.

"Ada yang harus aku lakukan tanpanya Hyung. Percayalah, semuanya baik-baik saja."

Perlahan Seokjin mengangguk. Yoongi tersenyum lebar dan mengusap tangan Seokjin. "Terima kasih Hyung."

.

.

Jimin sangat senang saat dia berkata kalau dia akan kembali ke Seoul. Yoongi tahu, Jimin semalaman tidak bisa tidur. Dia membawa banyak barang bawaan yang dia bilang akan diberikan pada Taehyung. Ketika menyebut nama itu, Yoongi mendadak kelu. Dia ingin sekali bisa menyapa Taehyung seperti dulu. Taehyung adalah sahabatnya yang paling baik. Taehyung benar-benar mengerti keadaaannya dan banyak menolongnya saat Jimin tidak ada sebelum kecelakaan itu terjadi.

Selain itu, dia tidak menyangka kalau Jungkook benar-benar serius dengan rengekannya. Malam sebelum dia berangkat setelah dia berbicara dengan Namjoon dan Seokjin, Jungkook menghampirinya dan berkata kalau Seokjin melarangnya ikut karena dia harus mengikuti ujian beberapa hari ke depan.

Yoongi tidak tahu kalau Jungkook ingin sekali ke Seoul. Saat dia datang ke Singapura, Seokjin sempat berkata kalau Jungkook tidak ingin dijodohkan karena sudah jatuh cinta dengan orang lain di Korea. Saat itu dirinya tidak banyak menanggapi karena dia merasa Jungkook masih seperti anak-anak. Untung saja setelah beberapa kali rayuan yang diiming-imingi hadiah ke Seoul jika berhasil ujian dengan baik, Jungkook akhirnya menyerah.

Entah mengapa, Yoongi yakin dia akan kembali lagi ke Seoul setelah menjelaskan semuanya kepada Seokjin dan Namjoon.

Sekali lagi hatinya masih kelu jika mengira-ngira bagaimana ekspresi Seokjin saat dia mengatakannya nanti.

Selama di perjalanan, Jimin berkali-kali memutar film namun tidak ada yang dia tonton sampai selesai. Lelaki itu membolak-balikkan badannya karena tidak juga bisa tidur. Yoongi menahan tawanya. Dia menyibukkan dirinya dengan mengerjakan pekerjaan. Jimin juga berkali-kali meliriknya. Oh Tuhan! Ingin sekali dia menarik wajah Jimin dan melumat bibirnya kuat-kuat.

Dasar Kim Suga bodoh!

Umpatnya dalam hati tapi di sisi lain, dia juga bisa merasakan Kim Suga tengah mengumpat kepadanya karena dia sama sekali tidak bisa menahan diri.

Hingga akhirnya Jimin tertidur. Yoongi melupakan pekerjaannya begitu saja. Dia menghabiskan hampir semua sisa perjalanan dengan menatap Jimin.

Semua ini akan semakin buruk karena dia hampir tidak bisa lagi bersikap seperti Kim Suga.

.

.

Dia bertemu Taehyung dan Hoseok di bandara. Yoongi memang meminta Hoseok menjemputnya tapi dia sama sekali tidak mengira kalau Taehyung juga akan datang. Rasanya dia ingin menyapa Taehyung seperti dulu. Taehyung mungkin segan untuk menyapanya secara langsung. Dia hanya mengangguk sekali dan kembali mengobrol dengan Jimin. Dia ingin sekali memeluk Taehyung dan menanyakan kabarnya tapi sikap Kim Suga dulu pasti sudah membuat Taehyung mencapnya sebagai lelaki yang tidak baik. Dia sangat tahu Taehyung bahkan dia tidak menyangka Taehyung akan berteman baik dengan Jimin setelah kejadian itu. Taehyung dulu selalu bersamanya. Mungkin sedikit banyak Taehyung tahu perasaannya pada Jimin bukanlah perasaan teman biasa tapi Taehyung tidak pernah berkata apapun. Dia tetap membantu Yoongi walaupun dia tidak menyukai sikap Jimin.

Yoongi membiarkan Jimin menghabiskan waktu bersama Taehyung dan semua itu memang sudah termasuk ke dalam rencananya.

Bicara tentang rencananya, saat melihat Hoseok, ada hal yang berbeda ketika dia bertemu dengan lelaki itu. Hoseok memang orang yang sangat ceria tapi kali ini Yoongi bisa melihat pancaran wajahnya lain dari yang biasa.

"Kau cerah sekali." bisiknya setengah meledek dan berharap Jimin atau Taehyung tidak mendengar itu.

"Jangan meledek! Aku yang seharusnya berkata begitu." balasnya sengit. Yoongi tertawa kecil.

Well, lelaki itu selalu terlihat tersipu jika sedang bersama Kim Taehyung dan Yoongi tahu Hoseok menyadari sikapnya. Dia bisa melihat usaha Hoseok agar tidak terlihat kikuk. Yoongi tertawa dalam hati, baru kali ini dia melihat Hoseok begitu. Semoga saja ini kabar baik.

.

.

Yoongi memutuskan untuk tinggal di rooftop Jimin. Tempatnya tidak begitu besar tapi cukup untuk ditinggali dua orang. Jimin menata tempatnya dengan rapi. Yoongi sangat menyukai kombinasi wallpaper yang dipilih Jimin. Dia menatap ke sekeliling. Ke dalam kamar kecil tempat Jimin tidur dengan ranjang yang tidak terlalu besar, satu buah nakas, juga lemari baju. Dapurnya sudah lama tidak dipakai dan dia tidak memiliki banyak barang. Dapur dan ruang makan tidak disekat, Jimin memiliki satu buah meja dan dua kursi untuk makan. Sisanya ruang tamu. Ada satu televisi kecil di sana.

Yoongi meletakkan pakaiannya di kamar. Dia mencoba merapikan agar tidak terlihat berantakan dan cukup di kamar Jimin.

Setelah itu dia beralih ke rooftop untuk merokok. Tanpa dia sadari, dia sudah terlalu banyak merokok akhir-akhir ini, hanya saja dia tidak bisa menahan dirinya. Dia selalu tenggelam dalam pikirannya sendiri berjam-jam hingga dia lupa waktu terlebih saat dia sudah mengingat semuanya. Kadang dia hanya terdiam mengingat semua hal yang sudah dia lakukan sebagai Kim Suga dan membandingkan semua itu dengan sifat aslinya.

Jimin datang menghampirinya dan Yoongi tahu saat ini akan datang. Saat dimana dia harus berkata kalau dia mempunyai banyak urusan yang akan menyitanya.

Yoongi tidak menyiapkan dirinya. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa menyelidiki semua kasus yang menimpanya dulu untuk membongkar kematiannya. Hingga akhirnya lagi-lagi dia memilih diam. Satu hal yang selalu Kim Suga lakukan, diam. Dia tahu Jimin tengah terluka. Jimin tidak perlu mengatakannya, dia sudah tahu semua. Hanya saja lidahnya kelu. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan tanpa menyakiti Jimin lebih dalam dan dia tahu diam pun tidak berarti akan membuat semua ini lebih baik.

.

.

Wajahnya begitu tenang saat tertidur. Yoongi bisa menghabiskan semua waktunya hanya untuk menatap Jimin. Yoongi akan memberikan apa saja untuk Jimin. Well, termasuk hidupnya dan mungkin dia sudah mempertaruhkan semua itu. Apa Jimin merasa ada yang berbeda dari Kim Suga belakangan ini? Karna dia sama sekali tidak bisa menahan diri untuk menatapnya, tersenyum kepadanya bahkan mengucapkan belasan kata dalam satu kalimat panjang. Satu hal yang mungkin tidak akan pernah dilakukan Kim Suga karena Yoongi tahu Suga begitu takut untuk terluka, Suga begitu tidak mempercayai cintanya. Suga begitu rapuh karena dia terlalu mencintai Jimin yang begitu saja hadir dan mengaku ada dalam masa lalunya.

Terkadang Yoongi bersyukur, terkadang juga dia berfikir Kim Suga sepertinya tidak begitu manusiawi. Yoongi bersyukur karena dengan menjadi Kim Suga dia banyak belajar mengenai logika yang seharusnya lebih banyak dia pakai. Kim Suga melakukan semua hal sesuai dengan jalan logikanya dan ketika hati sudah menyudutkannya, dia baru akan beralih. Sementara sebagai Min Yoongi, dia selalu mendengarkan kata hatinya bahkan di saat dia tahu dia bisa mati jika dia mengejar Jimin dengan kaki pincangnya atau saat seseorang melempar pemantik ke arahnya. Sungguh dua kepribadian yang sangat berbeda.

Dia tahu Jimin menangis malam ini. Dia juga tahu mungkin Jimin merasa aneh dengan sikapnya. Semua hal yang ada di pikirannya begitu menyiksa. Dia harus menyelesaikan pekerjaan belum lagi mengurus ke catatan sipil juga ke kantor polisi. Terlebih dia sama sekali tidak bisa menemani Jimin. Hanya merokok yang bisa membuatnya sedikit tenang. Melihat Jimin yang begitu senang datang ke Seoul membuat dia merasa semakin bersalah karena dia datang kesini untuk mencari tahu semua tentang kematiannya dulu bukan untuk mengajak Jimin kesana kemari dan berlibur. Dia juga tidak tahu harus berkata apa karena dia takut satu kali dia mengucapkan kalimat semua itu akan merusak rencananya yang sudah matang.

Dia mengusap pipi Jimin pelan-pelan dan mengecup bibirnya lembut. Menjaga agar Jimin tidak terbangun.

"Maafkan aku Jiminie. Tunggu sebentar lagi." ucapnya hampir tanpa suara.

.

.


"Jadi, apa yang membuatmu ingin kembali lagi kesini? Netflix baik-baik saja dan kau tahu itu bukan? Aku harus mencari-cari alasan agar Seokjin percaya kalau aku memang sedang membutuhkanmu di sini." cicit Hoseok sepanjang perjalanan mereka. Yoongi hanya tersenyum tipis tanpa menjawab.

"Suga-yah, aku bisa melihat Jimin sangat senang." kata Hoseok lagi. Lelaki itu melirik Yoongi dari spion tengah. Yoongi mengangguk pelan.

"Kuharap begitu meski sepertinya Jimin tidak sebahagia kau."sindir Yoongi.

Hoseok mendengus. "Oh tolong! Kau sudah meledekku sejak kemarin."

"Apa ada yang salah dengan perkataanku sampai wajahmu merah begitu?"

Hoseok berdeham keras. "Well, aku dan Taehyung—semua itu tidak seperti yang kau pikirkan Kim Suga-ssi dan cobalah urus dirimu sendiri sebelum menyindir orang lain." omelnya kesal.

"Aku mendukungmu Hoseok-ah."

"Sudah diam!"

Yoongi terkekeh.

Sesampainya di kantor, semua pegawai menyambutnya datang. Mereka sudah berbaris rapi. Mungkin karena Yoongi sudah sekian lama tidak kembali ke Netflix di Seoul. Yoongi membungkuk sedikit memberi salam lalu berjalan ke ruangannya. Dia masih sedikit kaku dengan sikap semua orang kepadanya meski setelah sekian lama hidup sebagai Kim Suga. Hoseok berkata kalau dia menambah dua orang pegawai baru di Netflix untuk membantu di bagian perencanaan karena sejujurnya Hoseok memang tidak mengambil spesifikasi di bagian design teknik sipil. Yoongi mengiyakan. Beberapa minggu lalu Seokjin juga sudah mengabarinya.

Yoongi sampai di depan ruangannya. Dia terdiam sebentar.

Tempat itu yang dulu dipakai Jimin menunggunya hingga kelelahan. Jimin hampir datang setiap hari dan dia sama sekali tidak ingin melihat wajah itu. Hoseok terlihat menunggunya. Dia tersenyum tipis lalu membuka pintu ruangan.

Semuanya masih sama seperti beberapa bulan lalu ketika keduanya tengah rapat dan Jimin lebih banyak menghabiskan waktu untuk menatapnya. Apa mungkin saat itu? Saat Kim Suga jatuh cinta padanya? Atau mencintai Jimin sudah menjadi hal yang dia lakukan di luar nalar hingga dia tidak tahu kapan dia pertama menyukai orang yang sama untuk kedua kalinya.

"Suga-yah, apa yang terjadi?" tanya Hoseok serius.

Yoongi berbalik menatapnya dan tersenyum. "Kau mungkin tidak percaya ini tapi—Hoseok-ah, aku sudah mengingat semuanya."

"Huh? Maksudmu? Kau—"

Hoseok menatapnya dengan mulut setengah terbuka. Yoongi tersenyum lagi. "Yeah. Aku sudah mengingat masa laluku. Mengingat Park Jimin dan mengingat diriku sebagai Min Yoongi. Orang yang sejak dulu aku benci ternyata diriku sendiri. Lelaki yang sejak dulu sudah aku sakiti ternyata orang yang sangat aku cintai."

Satu tarikan nafas dan saat itu Hoseok bergerak mengambil kursi dan meletakkannnya tepat di depan Yoongi seolah lelaki itu butuh waktu untuk memproses semua kata-katanya.

"Aku yakin ada yang tidak beres saat kau bilang kau akan datang ke sini tapi aku tidak menyangka kalau—kalau kau sudah—ya Tuhan, sejak kapan?"

"Seokjin bercerita padamu bukan kalau aku terjatuh ke dalam air?"

Hoseok mengangguk cepat. "Iya. Apa saat itu ingatanmu kembali?"

"Sebelum kejadian itu, aku bertemu diriku sebagai Min Yoongi. Aku juga mengingat wajah Nenek Jung. Setelah aku terjatuh, semuanya menjadi semakin jelas."

"Apa Jimin sudah mengetahui hal ini?"

"Aku tidak ingin dia tahu sampai urusanku selesai. Aku ingin mengusut ulang semua kejadian sembilan tahun yang lalu. Apa Song Jino—"

"Terakhir aku mendengar kabar kalau dia sudah dibebaskan."

"Yeah. Semua itu karena Seokjin belum mengurus sampai tuntas dan tentu saja, aku harus datang sebagai orang yang menjadi korban."

"Tapi bukankah tetap saja Song Jino sudah tahu kau masih hidup?"

"Aku tidak pernah secara langsung berkata kalau aku masih hidup tapi entahlah—kurasa dia sudah melarikan diri sekarang."

Hoseok terdiam sebentar. "Suga-yah, uhm—maksudku—jadi kau adalah Min Yoongi?"

Seketika ekspresi Yoongi berubah. Dia tersenyum lebar. "Yeah. Orang yang sangat aku benci ternyata diriku sendiri. Ternyata aku cemburu pada diriku sendiri. Semua yang telah aku lakukan kepada Jimin—" Yoongi menarik nafas. "Aku begitu banyak melukainya Hoseok-ah. Aku memaksanya melupakan Min Yoongi. Aku menyeretnya keluar dari Seoul dan hidup bersamaku agar aku bisa memilikinya dan dia bisa melupakan Yoongi. Ternyata Min Yoongi adalah aku. Aku bahkan melarangnya menyebut nama Min Yoongi lagi hanya karena aku membenci lelaki itu. Hanya karena lelaki itu begitu mencintai Jimin dan rela mati untuknya sementara aku tidak akan melakukan hal itu demi siapapun. Kurasa aku benar-benar sudah gila."

Hoseok tidak menjawab namun dia menepuk pundak Yoongi berulang-ulang. "Jimin sangat mencintaimu. Siapapun dirimu. Apa kau sekarang sudah mendapat jawabannya?"

"Yeah. Aku tahu mengapa aku mengejarnya hingga aku hampir mati. Aku juga tahu mengapa aku diam diperlakukan dengan kasar. Aku juga tahu kenapa Min Yoongi terus mengajak Jimin berbicara meski Jimin tidak ingin bicara lagi dengannya. Itu semua karena aku sangat mencintainya. Aku tidak ingin kehilangannya sebagai teman atau sebagai apapun. Sama seperti yang Jimin lakukan padaku setelah ingatanku hilang."

Akhirnya Hoseok tersenyum. "Kalian berdua berhak untuk bahagia. Jika semua ini membuatmu mengerti dan membuat perasaanmu menjadi lebih baik, aku ikut senang. Kau hanya perlu sedikit waktu lagi untuk menjelaskan pada Jimin."

Yoongi mengangguk. "Kau mau kan membantuku?"

Hoseok meninju lengannya dengan gemas. "Tentu saja tapi tolong beritahu padaku apa panggilan yang kau inginkan sekarang."

"Kau bisa memanggilku dengan apa saja Hoseok-ah karena yang terpenting aku tidak ingin meninggalkan siapapun lagi termasuk diriku yang baru."

.

.

Membuat Jimin kembali ke Singapura adalah hal yang terberat. Jimin bahkan menyangka kalau dia begitu membencinya hingga tidak ingin melihat Jimin ada di Seoul lagi karena itu akan mengingatkannya pada kejadian beberapa bulan yang sudah berlalu. Untung saja, Jimin terlihat senang saat dia sudah menjelaskan semuanya meski terlihat sangat jelas kalau dia tidak bisa lagi bersikap seperti Kim Suga dan entah mengapa dia tidak lagi peduli soal itu. Dia hanya ingin Jimin kembali ke Singapura tanpa pemikiran aneh atau apapun yang membuatnya bersedih. Belum-belum dia sudah merindukannya.

Dia bertemu Hoseok di depan kantor Netflix dan lelaki itu mengantar Yoongi ke sebuah bukit yang ada di dekat Ilsan. Tempat dimana Nenek Jung dimakamkan. Keduanya berjalan di sepanjang pemakaman sampai dia tiba di sebuah gundukan besar bertuliskan nama Nenek Jung. Yoongi juga melirik satu pusara yang ada di samping Nenek Jung. Pusara yang bertuliskan namanya dan tersenyum miris.

Bagaimana bisa seseorang yang sudah dianggap tidak ada kini berdiri dengan tegap di depan pusaranya sendiri? Seperti cerita-cerita seram yang sering menjadi dongeng untuk anak-anak kecil agar cepat tidur di malam hari.

Hoseok menyerahkan sebuket bunga untuknya. Perlahan Yoongi berlutut dan memberikan salam. Dia berdoa kepada semua Tuhan dan Dewa yang ada di langit untuk menjaga Nenek Jung dan meminta maaf karena dia baru bisa datang hari ini. Saat Yoongi membuka matanya lagi, dia meletakkan sebuket bunga di tengah pusara Nenek Jung. Lelaki itu menghela nafas panjang.

"Nenek, ini aku. Yoongi." ucapnya pelan hampir tanpa suara karena begitu saja dia merasa seperti Nenek Jung ada di depannya dan menatapnya sambil tersenyum seperti biasa. Tidak terasa air matanya perlahan merembas. Yoongi diam begitu lama karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan lebih dulu. Semua yang ingin dia katakan begitu membludak di hatinya hingga membuatnya sesak.

"Nenek—aku sudah bisa berjalan dengan baik—dan semua yang kau katakan benar. Jimin akan kembali padaku. Jimin mencintaiku. Maafkan aku meninggalkan Nenek. Maafkan aku. Sungguh maafkan aku."

Yoongi tidak tahu mengapa air matanya tidak juga habis-habis. Semua kenangan tentang Nenek Jung berkelebat begitu nyata di depan matanya. Dia banyak melakukan hal untuk Jimin hingga dia lupa kalau Neneknya bisa mati jika dia tidak ada. Seketika rasa bersalah itu menumpuk banyak. Kilasan tentang Nenek Jung sore itu yang bercerita tentang keluarga Jimin dan bagaimana Jimin tumbuh, tentang Nenek yang seolah tahu perasaaannya. Tentang Nenek yang tahu kalau Yoongi tengah merindukannya. Nenek yang selalu tersenyum. Nenek yang menutunnya pelan-pelan saat dia baru saja pulang sekolah dan kaca matanya pecah. Nenek yang mengobatinya dengan telaten setelah Geng Song Jino menghajarnya tanpa alasan juga Nenek yang meredakan tangisnya.

Yoongi merasa begitu malu.

Dia terlalu mencintai Jimin hingga dia tidak tahu apa yang dilakukan Nenek untuk hidupnya begitu banyak. Nenek begitu ingin dia melindungi Jimin. Seolah nenek sudah tahu kalau suatu hari dia akan bisa berjalan lagi.

"Maafkan aku Nek—"

"Suga-yah—"

Hoseok mengusap air matanya yang juga ikut turun dan memeluk Suga dengan erat. "Hoseok-ah, mengapa aku benci sekali dengan Seoul sementara Nenek berada di sini sendirian menungguku?"

"Itu semua bukan salahmu. Semua ini sudah menjadi takdir untukmu Suga-yah. Percayalah, apapun yang terjadi Nenek tidak akan pernah menyalahkanmu. Dia sangat menyayangimu."

.

.

Setelah setengah jam berlalu, tangisannya berhenti. Dia hanya terdiam menatap ke arah bukit. Ada beberapa orang yang datang berkunjung. Angin semilir semakin lama menjadi semakin dingin. Hoseok menyodorkan satu kaleng minuman yang ada di mobil. Yoongi meneguknya sekaligus.

"Jadi ini maksudmu kau harus membuat Jimin segera pulang?" ledek Hoseok. Yoongi tersenyum tipis.

"Yeah, dia pasti lebih banyak memikirkan mataku yang bengkak daripada air matanya yang sudah dia keluarkan begitu banyak kemarin." jawab Yoongi tanpa menoleh ke arah Hoseok.

"Well, kau pasti menyesali semua kelakuanmu sebagai Kim Suga."

"Tidak juga. Jika dipikir lagi, semua yang dilakukan Kim Suga tidak salah. Jimin—well, dia begitu banyak berubah dan hanya itu yang Kim Suga lihat. Saat aku belum mengingat apapun, yang ada di mimpiku hanya Jimin tengah mencemooh atau membiarkan Song Jino dan teman-temannya memukuli Min Yoongi. Semua itu sangat membuat kepalaku sakit kau tahu? Tapi di sisi lain, Jimin yang ada di depanku saat itu sangat berbeda. Dia begitu lembut dan banyak tersenyum. Kau bisa menebak, aku yang selalu berfikir dengan logika akan bersikap seperti apa bukan?"

"Tapi bukankah pada akhirnya kau tetap ingin bersamanya?"

"Yeah. Sewaktu aku belum mengingat semua ini, aku juga terus berfikir mengapa aku sangat ingin bersamanya. Mengapa aku menggilai orang yang dulunya pernah menyakitiku. Hari ini aku sadar, semua itu karena hatiku. Hatiku mengingatnya Hoseok dan mungkin akan selalu begitu."

Hoseok tersenyum lebar. "Bahkan saat kau hilang ingatan, kau juga mencintai orang yang sama. Setidaknya kau perlu bersyukur hingga saat kau mengingat semuanya, orang yang mencintaimu ada di sisimu."

Yoongi menoleh ke arah Hoseok dan mengangguk setuju. "Yeah. Kau benar."

"Lalu apa rencanamu sekarang?"

"Besok aku harus ke catatan sipil juga ke kantor polisi untuk melihat histori gugatan yang kemarin diurus oleh Seokjin."

"Kurasa soal itu akan berat. Kau memerlukan Seokjin untuk membantumu."

Yoongi terdiam lagi. Dia jadi ingat kalau dia belum menyiapkan apapun untuk menjelaskan semua ini pada Seokjin. Dia menghela nafas panjang.

"Aku tidak tahu Hoseok—membicarakan ini dengan Seokjin benar-benar begitu berat untukku karena mungkin saja aku bisa melukai hatinya."

"Jangan terlalu memberatkan Seokjin. Dia sangat pengertian Suga-yah. Dia selalu mengerti kau dan dia selalu ingin kau bahagia."

"Terima kasih Hoseok."

"Aku senang kau percaya padaku untuk menceritakan semua ini."

"Kalau begitu ceritakan juga tentang Kim Taehyung, kau percaya padaku juga bukan?"

Dan saat itu Hoseok meninju lengannya dengan sebal.

.

.

Semua mimpinya terasa masuk akal. Daun-daun di sepanjang lorong jalan kecil mirip seperti jalan menuju rumah Nenek Jung. Lampu-lampu dengan penerangan minim dan gedung bertingkat yang hanya memberi sedikit ruang bagi orang-orang untuk bernafas lebih banyak. Ada satu yang berbeda, kali ini tidak ada lagi persimpangan di ujung jalan karena dia sudah menemukan jawabannya.

Anak-anak berlarian kesana kemari. Beberapa mengayuh sepeda mereka kuat-kuat di jalan yang menanjak. Beberapa hanya menikmati candaan ringan sambil berjalan.

Dua blok lagi. Dia berjalan sedikit lebih cepat dan berbelok ke sebuah rumah tua. Dia berdiri di depannya. Menengadah ke atas. Ke sebuah jendela yang dulunya sering dia pakai untuk melihat Jimin pulang sekolah. Jendela yang juga sering dipakai Jimin untuk masuk daripada melalui pintu biasa. Dia tersenyum.

"Tuan mencari siapa?"

Yoongi baru sadar dia sudah berdiri di sana begitu lama sewaktu ada seorang wanita seumuran Nenek Jung yang menghampirinya.

Dia mengingat orang itu. Mrs. Han berjualan bunga di ruko beberapa blok dari sini. Rumahnya berada tempat di sebelah rumah nenek. Mereka bertetanggaan dengan baik selama belasan tahun. Yoongi berfikir pasti Mrs. Han sudah memiliki cucu sekarang.

Yoongi tersenyum dan memberikan salam dengan sopan. "Sepertinya rumah Nenek Jung sudah lama sekali tidak ada pengunjung."

"Yeah. Tidak lama setelah cucunya meninggal, Nenek sakit-sakitan sebelum akhirnya meninggal. Jika bisa memberi tahu, Tuan ini siapa?"

Yoongi tersenyum lagi dan tidak mungkin jika dia memberi tahu siapa dia sesungguhnya. Tidak sekarang.

"Oh aku hanya seorang turis. Kebetulan mereka menceritakanku banyak tentang Jung Library. Aku hanya ingin mampir."

Mrs. Han terlihat senang ketika Yoongi menyebutkan nama Jung Library. "Yeah. Perpustakaan itu sangat terkenal. Nenek Jung membangun itu untuk Yoongi. Cucunya yang pertama."

"Yeah, aku juga sudah mendengarnya. Sampai sekarang perpustakaan masih ramai hanya saja aku bertanya-tanya setelah Nenek meninggal, semua tentang kepemilikan perpustakaan dan pengelolaannya diberikan kepada siapa?"

"Dulu ada seorang anak yang dekat sekali dengan cucu Nenek Jung. Dia bernama Jimin. Park Jimin. Rumahnya ada di ujung sana. Sekarang rumahnya sudah dijual karena Ayah Jimin mempunyai banyak hutang dan setelah bekerja Jimin pindah di sebuah rooftop kecil tidak jauh dari perpustakaan. Yang kudengar semua peninggalan Nenek Jung termasuk perpustakaan diberikan padanya karena Nenek sudah tidak punya kerabat lagi dan lagipula anak itu memang sering main kesini untuk menghibur cucu Nenek Jung."

Yoongi mengangguk. Berarti benar semua yang dia dengar sebelumnya tentang perpustakaan itu memang benar.

"Apa aku bisa masuk ke dalam?"

Mrs. Han tampak berfikir sebentar dan Yoongi tahu idenya agak gila hanya saja dia sangat ingin masuk kesana.

"Tidak apa-apa jika Nyonya tidak mengizinkanku masuk. Aku hanya.."

"Tentu kau boleh masuk. Beberapa turis datang dan memang sering melihat-lihat. Jiminie memberikan aku kuncinya dan dia memintaku untuk menjaga tempat ini karena dia harus pergi ke Singapura." kata sambil mengarahkan jalan dan membuka pintu pagar. Mereka masuk ke dalam halaman.

"Ke Singapura?"

"Iya. Dia bilang dia akan tinggal di sana dalam jangka panjang. Urusan perpustakaan dia serahkan pada Taehyungie teman baiknya dan yang kudengar…" tertawa kecil sebelum melanjutkan. "Tetanggaku bilang direktur dari perusahaan konstruksi yang membuat proyek amal untuk Jung Library, jatuh cinta pada Jiminie dan kurasa Jiminie tinggal bersamanya sekarang."

Well, cerita itu tidak semuanya salah. Kim Suga memang seorang direktur dan dia memang meminta Jimin tinggal bersamanya.

"Ah maaf aku jadi banyak bicara. Itu semua karena Jiminie anak yang sangat baik. Dia sangat menyayangi Nenek Jung. Yoongi.. anak itu memang kurang bernasib baik sejak kecil. Orang tuanya meninggal dan dia tidak bisa berjalan dengan baik. Kudengar banyak anak nakal yang menghajarnya hingga dia mati tapi Nenek lebih percaya kalau cucunya meninggal karena kecelakaan. Entahlah, kurasa dia hanya ingin menghibur dirinya."

membuka pintu rumah dan keduanya masuk ke dalam.

Rumah ini masih seperti dulu. Wangi ruangannya seolah tidak pernah berubah dan tata letak barangnya pun masih sama. Yoongi tersenyum pada semua gambar-gambar yang dia buat dulu. Nenek menempelnya di sana karena menurut Nenek gambarnya sangat bagus dan Yoongi bisa menjadi seorang pelukis nantinya.

Well, mungkin itu tidak terlalu salah. Dia banyak menggambar design untuk bangunan dan dia sempat bertanya pada dirinya dulu kenapa dia pintar sekali menggambar.

Yoongi seperti kembali ke belasan tahun lalu dimana Nenek sedang berjalan kesana kemari membersihkan ruangan dengan dia dan Jimin bercanda tawa bermain bersama. Matanya berair. Semua itu terasa baru kemarin terjadi.

"Ah iya siapa nama Tuan?" tanya yang berdiri tidak jauh darinya. Yoongi berbalik sedikit dan tersenyum.

"Namaku Kim Suga."

"Aku seperti pernah melihat wajah Tuan sebelumnya. Tuan seperti bukan orang asing. Tuan datang dari negara mana?"

"Aku memang orang Korea Selatan hanya saja aku begitu lama tinggal di Singapura."

mengangguk-angguk mungkin dia mencoba mengaitkan semua ceritanya tadi dengan fakta kalau orang di depannya pun tinggal di Singapura.

"Nyonya, apa kau keberatan jika aku masuk ke dalam kamar Yoongi?"

Mrs. Han termenung sebentar seperti sedang memproses kalimat yang Yoongi katakan. "Oh! tentu saja tapi tidak banyak orang yang datang dan masuk ke kamar Yoongi sebelumnya. Orang-orang di sini bilang karena Yoongi meninggal dengan tidak wajar mereka menganggap arwah Yoongi masih ada di kamarnya."

Yoongi terkekeh "Dan Nyonya percaya itu?"

"Terkadang. Entahlah, aku merasa Yoongi tidak benar-benar pergi karena rasanya sangat aneh. Mereka bilang wajah Yoongi hancur dan begitu sampai jenazahnya sudah dibungkus tanpa kita bisa melihat wajahnya. Kurasa itu juga yang membuat Nenek merasa Yoongi masih hidup."

"Apa Nenek benar-benar tidak sempat melihat wajah Yoongi dan memakaikan baju ke dalam peti?"

"Tidak. Mereka tidak boleh melakukan itu."

"Mereka?"

"Nenek Jung dan Jimin."

Yoongi memejamkan matanya dan menghela nafas pelan dan saat dia membuka matanya lagi sudah membuka kamarnya yang dulu. Matanya mendadak kembali berair.

Dia melihat Jimin berada di ranjangnya. Dia melihat dirinya sedang tertawa sambil diam-diam melukis wajah Jimin. Jimin sedang berfikir keras menata sebuah puzzle yang mereka beli sepulang sekolah.

Dia juga melihat Jimin yang memeluknya erat saat tidur. Dia melihat dirinya sedang menangis karena Jimin tidak lagi main bersamanya. Dia melihat Nenek Jung sedang memeluknya karena dia sedang menangisi kakinya yang pincang.

"Tuan? Kau baik-baik saja?" tanya begitu air mata Yoongi merembas dengan sendirinya. Refleks Yoongi mengusap air matanya dengan kasar.

"Nyonya, apa kau bisa mengambilkan tasku di mobil? Aku lupa membawa kameraku. Ini kunci mobilku. Bawa saja." pinta Yoongi dan saat itu terpaku.

"B-baiklah. Kau yakin kau tidak apa-apa?"

"Aku baik-baik saja."

Dengan satu anggukan akhirnya pergi dan meninggalkan Yoongi sendirian.

Pelan-pelan dia membuka gorden jendela kamarnya dan menatap ke luar. Dia melihat Jimin sedang melambaikan tangannya dari atas sepeda. Jimin menunjuk ke sebuah layangan yang dia sangkutkan di sepedanya.

Yoongi tersenyum lebar.

Jiminie

Ternyata aku sangat mencintaimu.

Pandangannya beralih ke ranjang dan dia mendudukkan dirinya di sana. Kasurnya masih terasa empuk seperti terakhir kali dia berada di sini.

Pelan-pelan Yoongi menarik laci nakas yang ada di samping ranjangnya dan menemukan sebuah buku notes.

Nenek sama sekali tidak merubah semua letak barang-barangnya. Yoongi membuka lembar per lembar isi notes dan membacanya. Semenjak Jimin pergi dari hidupnya, dia tidak punya lagi seseorang untuk diajak bermain bersama. Dia banyak menulis semu suara hatinya di buku notes. Buku yang dihadiahkan Jimin saat dia berulang tahun ke empat belas.

Yoongi mengusap tulisannya dan merubah posisi duduknya. Kini dia bersandar di samping ranjangnya.

Minggu pertama musim gugur.

Dingin.

Daun-daun mulai gugur mengotori rumah Nenek. Seharian aku membantu Nenek menyapu tapi tetap saja tidak selesai.

Hari ini aku melihat Jiminie. Sudah tiga hari aku tidak bertemu dengannya. Ada seorang lelaki yang mengantarnya pulang dan mengecup pipinya.

Jiminie terlihat sangat senang.

Meski aku tidak.

Apa aku terlalu jahat jika aku tidak senang? Jiminie bilang teman adalah saat dia bahagia kau juga akan bahagia.

Aku sangat sedih. Aku ingin menarik tangannya dan membawanya pergi dari sana. Aku ingin mengajak Jimin berlari sangat jauh dari sana hingga hanya ada kita berdua tapi semua itu tidak mungkin bukan?

Kakiku terlalu lemah untuk berlari dan mungkin Jiminie akan menghempaskan lenganku lebih dulu.

Musim dingin minggu kedua

Aku sangat kesepian.

Aku ingin berlari dari rumah ini dan melupakan semuanya.

Aku ingin melupakan hidupku yang begini

Aku ingin melupakan kakiku yang pincang

Aku ingin melupakan Jiminie

Aku ingin sekali saja aku tidak memikirkannya

Nenek bilang Tuhan selalu mendengar doaku tapi sampai hari ini kenapa dadaku masih begitu sesak

sampai hari ini aku masih belum bisa menerima kenyataan kalau Jiminie tidak ingin bersamaku

sampai hari ini aku masih ingin dia kembali padaku

aku sudah meminta pada Tuhan, aku ingin melupakan Jiminie. Aku ingin merelakan dia bahagia. Aku ingin menerima nasibku yang begini.

Mengapa Tuhan terlalu berfikir panjang untuk mengabulkan doaku?

Apa karena dia tahu aku tidak benar-benar serius dengan doaku?

Malam Natal

Semua orang berada di luar merayakan natal hanya aku yang berada di dalam kamar.

Semakin kesini aku semakin tidak percaya Tuhan

Kukira dia akan mengasihiku karena aku terlalu ringkih untuk berjalan.

Kukira dia mengenalkan aku dengan Park Jimin karena Jimin akan berada di sampingku selamanya tapi Tuhan juga mengambil Jiminie dariku.

Musim Semi yang datang terlambat

Jiminie

Aku merindukanmu

Musim gugur kedua

Jiminie

rambutmu semakin panjang.

Aku melihatmu hari ini.

Jiminie,

Aku tahu sekarang nama perasaanku

Rasa sesak ini ternyata bernama cinta

Mereka bilang cinta sangat membuat orang bahagia

Sudah kuputuskan kalau aku ingin kau bahagia Jiminie

Jadi berbahagia lah

Selama hidupmu kau selalu menangis dan sembunyi dimanapun

kau terlalu banyak berpura-pura bahagia

Jika dengan tidak bersamaku kau bahagia maka aku juga bahagia.

Musim gugur minggu terakhir

Hei,

Tersenyum selalu seperti saat kau bermain layangan dulu

Aku menyukaimu saat kau tersenyum

Tidak.

Aku mencintaimu di setiap apapun yang kau lakukan.

Aku mencintaimu Jiminie

Yoongi tidak bisa lagi membendung air matanya. Dia membiarkan air matanya jatuh satu-satu. Dia membenamkan wajahnya diantara dua lututnya.

yang baru datang membawa tasnya hanya terpaku dan menatap tidak mengerti.

Jiminie, maafkan aku

Maafkan aku melupakanmu.

.

.


"Kata Hoseok Hyung kau ingin bicara denganku. Ada apa?"

Sebenarnya pertanyaan itu akan terdengar biasa saja jika mereka setiap hari saling berbicara. Dia tahu Taehyung orang yang sangat baik dan itu juga alasannya ingin bertemu dan berbicara langsung tanpa ditemani Hoseok karena yeah karena dia ingin Taehyung tahu dari mulutnya sendiri dan ada beberapa hal yang memerlukan bantuan Taehyung nantinya.

Lelaki itu menunggu Yoongi untuk mengatakannya. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai tanpa sengaja. Mungkin karena suasana terlalu kaku. Beberapa kali Taehyung juga berpura-pura melihat ke sekeliling ruangan kantornya.

Yoongi tersenyum tipis.

"Aku sudah mengingat semuanya."

Taehyung tidak menjawab. Matanya menatap Yoongi dengan dalam dan baru kali itu Yoongi merasa Taehyung benar-benar menatapnya. Selama dia menjadi Kim Suga, Taehyung sama sekali tidak menunjukkan sikap yang ramah dan bukan berarti Yoongi menginginkan itu. Dia tahu benar sikapnya pun tidak begitu baik pada Jimin.

"K-kau mengingat Nenek Jung dan Jimin?" tanya Taehyung sedikit tersendat.

"Aku juga mengingatmu, Tae." jawab Yoongi tersenyum lagi.

"Tapi.. apa Jimin.."

"Jiminie tidak tahu soal ini. Aku ingin memberitahunya setelah semua urusanku selesai dan untuk itu aku butuh bantuanmu."

"Jadi, kau meminta Jimin pulang karena.."

"Karena aku tidak ingin dia tahu semua yang kulakukan di sini. Kau mau membantuku?"

Taehyung terdiam sebentar. Mungkin otaknya belum bisa mempercayai semua ini dengan benar. Dia melihat ke arah Yoongi lagi dan lagi seolah memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi.

"Apa yang bisa kulakukan?"

"Saat polisi meminta saksi, aku ingin kau menjadi saksi untukku."

"Tapi kau tahu kan, Jimin adalah saksi yang paling tepat untuk hal ini."

"Iya tapi aku harus mencoba melakukan ini tanpanya. Aku tidak ingin dia mengingat lagi semua yang sudah terjadi. Itu akan menyiksanya."

Taehyung sedikit tertawa seperti meledeknya. "Kali ini aku benar-benar percaya kalau kau adalah Min Yoongi. Kim Suga tidak akan bicara begini."

Yoongi menyeruput kopinya santai. "Aku tahu. Kim Suga—aku banyak menyesal atas apa yang sudah kulakukan tapi jika kupikir, apa yang kulakukan hanya sebatas pada logikaku saja. Aku benar-benar tidak mengingat apapun selain semua kilasan mimpi yang datang dan menunjukkan kalau Jimin begitu jahat dan…"

Yoongi menghela nafas panjang. "Dan aku tidak tahu mengapa aku tetap menginginkannya? Kau mungkin tidak mengerti tapi semua itu membuatku gila."

Taehyung tersenyum. "Aku senang kau kembali Yoongi-yah." ucap Taehyung sambil meninju bahunya. "Nenek Jung dan Jimin tidak pernah percaya kalau kau sudah meninggal. Aku merasa dua orang itu hanya sedang berdilusi tapi hari ini kurasa Tuhan membuktikan kalau aku salah."

Yoongi mendekat dan merangkul Taehyung. "Hei, sekarang aku sudah bisa berjalan. Aku sudah bisa berlari. Aku sudah bisa naik sepeda. Aku juga bisa bermain layang-layang."

"Yeah. Kau pasti senang. Selamat untukmu."

"Jiminie—dia tidak akan pernah meninggalkanku lagi kan?"

"Dia bisa mati tanpamu. Dia hampir mati kemarin tapi karena dia percaya kalau kau akan kembali, dia hidup demi apa yang dia percaya."

"Terima kasih Tae."

"Huh?"

"Terima kasih sudah menjaganya untukku. Terima kasih juga kau selalu berada di sampingnya."

"Aku tahu Yoongi-yah. Aku tahu itu yang kau ingin aku lakukan untuk Jimin."

Yoongi melirik ke arah Taehyung dan tersenyum lagi. "Oh! rasanya aneh sekali memanggilmu Yoongi. Aku sudah bertahun-tahun mencoba tidak memanggil namamu lagi."

Yoongi terkekeh. "Tolong rahasiakan ini dari Jiminie."

"Yeah. Kau pasti sudah mempunyai rencana untuk memberitahunya."

Begitu saja kemudian keduanya berpelukan. Taehyung mengusap punggungnya beberapa kali.

"Nenek pasti sangat senang Yoongi-yah."

"Yeah.Nenek pasti sangat senang." ucapnya dengan mata berair.

.

.


Apa yang telah dia lakukan selama di Seoul tidak banyak membuahkan hasil. Song Jino sudah kabur entah kemana. Yoongi juga memerlukan berkas adopsinya yang masih dipegang oleh Seokjin. Dengan kata lain, dia harus kembali ke Seoul secepatnya. Yoongi dan Hoseok mengambil pesawat yang paling cepat sampai ke Singapura setelah bertemu dengan Taehyung. Lelaki itu mengirimkan salam untuk Jimin. Yoongi melihat Hoseok memeluk lelaki itu dengan erat padahal dia akan kembali dalam dua hari untuk bekerja seperti biasa. Yoongi tidak habis pikir, Hoseok sangat terlihat seperti orang yang berbeda. Dia tengah jatuh cinta tapi sama sekali tidak mau mengakui semua itu.

Yoongi tidak sempat pulang ke rumah. Seokjin sudah menyiapkan satu supir untuk membawanya ke tempat acara pertunangan Suran. Yoongi sama sekali tidak sempat mengganti baju. Orang pertama yang dia lihat adalah Seokjin.

Seokjin memeluknya dengan erat dan berkata kalau dia merindukannya. Yoongi tertawa pelan meski matanya mencari dimana Jimin. Kerinduannya sudah sampai ubun-ubun.

Dia melihat Namjoon yang tersenyum dan seolah memberi isyarat dimana Jimin berada. Yoongi menoleh ke arah lelaki yang tengah sibuk mengatur makanan. Dia tersenyum tipis dan baru saja kakinya hendak melangkah, seseorang memblokir jalannya.

"Hei Tuan Terlambat, aku tidak menyangka kau bahkan ingat dengan acara ini." sindir Suran. Yoongi terkekeh dan menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

"Huh? Kenapa tiba-tiba memelukku? Menyesal karena akhirnya aku terlanjur dilamar seseorang?"

"Sudah diam. Kau semakin berisik." ucap Yoongi kesal.

Suran tersenyum lebar. Dari pancaran wajahnya Yoongi tahu kalau dia begitu bahagia malam ini. "Well, mengingat kau tidak benar-benar membunuhku, aku ingin mengucapkan terima kasih."

"Untuk?"

"Untukmu yang rela terpisah dari Jimin. Dia terlihat kesepian kau tahu? Dia merindukanmu dan aku merasa bersalah akan hal itu."

"Um Yeah, semoga saja Allein tidak cepat-cepat tahu kepribadianmu yang sebenarnya."

Suran memukul Yoongi dengan kesal. "Allein sangat mencintaiku. Dia tidak sepertimu."

"Tentu saja, jika aku baik padamu kau bisa menyukaiku nantinya."

"Cih! Aku heran kenapa Park Jimin begitu menggilaimu. Cinta memang buta."

"Well, hal itu pula yang ingin kutanyakan pada Allein."

Lagi-lagi Suran memukulnya dengan gemas. "Kau memang menyebalkan."

Yoongi tertawa lagi dan kali ini dia mengulurkan tangannya. "Selamat untukmu Suran-ah."

Suran tersipu tapi tak urung dia menyambut tangan Yoongi. "Terima kasih Suga-yah."

"Semoga kau bahagia dan jika tidak, artinya Allein sudah mengetahui kedokmu."

"Suga-yah!" rengek Suran lagi dan jika sudah begini, dia akan merajuk pada Seokjin.

"Okay, aku hanya bercanda. Kau pasti bahagia. Allein sangat mencintaimu."

"Kau juga Suga-yah. Berbahagialah dengan orang yang kau cintai juga mencintaimu."

Yoongi mengangguk. "Tentu."

"Ada yang berbeda darimu. Kau jarang sekali terlihat ceria. Apa karena akhirnya kerinduanmu selesai?"

Yoongi tidak menjawab tapi dia menoleh ke arah Jimin yang masih sibuk membantu Jungkook menata makanan. "Ada banyak hal yang kulewati Suran-ah dan aku hanya ingin melunasinya dengan benar."

"Baiklah, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu ini tapi yang pasti lakukanlah yang menurut hatimu benar. Hatimu tidak pernah mengkhianatimu."

"Hmm, yeah. Aku sudah belajar banyak soal itu."

.

.

Dia begitu merindukan Jimin.

Malam ini Jimin terlihat agak berbeda karena Seokjin mungkin sudah meminta beberapa orang untuk membuatnya memakai setelan jas yang rapi juga menata rambutnya.

Yoongi tidak berfikir banyak saat dia mengajak Jimin untuk berdansa dengannya karena yang ada di pikirannya saat itu hanya bagaimana cara dia bisa berada di dekat Jimin dan memeluknya dengan erat. Dia tidak peduli dengan semua orang yang berada di sana yang mungkin memperhatikan keduanya. Hatinya begitu tenang karena Jimin ada di depannya. Karena Jimin tersenyum padanya.

Ada satu kesalahan yang dia lakukan malam ini. Dia tidak berharap dia akan berlari meraih Jimin dalam pelukannya setelah dia kembali pulang ke rumah. Namun Jimin sudah berdiri di ujung ruangan seolah lelaki itu juga tengah menunggunya datang. Dia tidak berharap akan mendorong Jimin ke dinding dan melepaskan bajunya satu-satu dengan gerakan yang tidak sabar karena Yoongi tahu benar seharusnya dia menunggu sampai Jimin sudah mengetahui apa yang terjadi. Namun akal sehatnya pergi entah kemana sejak saat dia membuka pintu kamar dan melihat Jimin berdiri menunggunya.

Bercinta dengan Jimin mungkin bukan yang pertama kali untuknya. Kim Suga sudah melakukan semua itu dalam keadaan sadar atau mabuk. Dia bahkan sudah melakukan hal yang terburuk sewaktu masih berada di Seoul. Dalam bercinta, mungkin Jimin lebih banyak menuruti semua kemauannya meski dia berfikir dia juga sudah memuaskan Jimin.

Ada satu perasaan atau mungkin itu semua sebenarnya hanya nafsu birahi semata yang membuatnya lupa diri, namun tidak ada yang ingin dia lakukan sekarang selain masuk ke dalam pusat Jimin dan membuat lelaki itu menyebut namanya dengan keras.

Yoongi ingin Jimin menyebut namanya namun di saat yang sama dia sadar kalau dia sangat membenci namanya sendiri dan bahkan sudah meminta Jimin untuk tidak menyebut namanya lagi. Jadi saat Jimin menyebut nama Kim Suga, Yoongi hampir mengutuk dirinya sendiri.

.

.

"Kau belum tidur?" tanya Yoongi saat melihat Seokjin berada di dapur. Lelaki itu mengendikkan bahunya.

"Entahlah, mungkin terlalu lelah. Kau? Sudah selesai bercinta?"

Yoongi menatap ke arah Seokjin sebal. Meski sudah hidup bersamanya selama bertahun-tahun, terkadang dia masih tidak bisa menelan pertanyaan Seokjin yang lugas. "Jimin—well, aku baru selesai membersihkan tubuhnya."

Seokjin akhirnya berbalik menatapnya. Dia berjalan mendekat ke arah meja makan dan menarik satu kursi di sana. Yoongi mengikuti, dia duduk di samping Seokjin. Ada dua buah gelas kecil dan sebotol soju di atas meja.

"Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi penyuka lelaki Suga-yah. Kau ingat kan aku pernah berkata kalau kau bisa mencintai siapa saja." ceritanya pelan. Yoongi mengangguk.

"Yeah. Untungnya aku belum menjadi korban perjodohanmu."

Seokjin terkekeh. "Maksudku, aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi seorang gay tapi kau tahu benar caranya memperlakukan Jimin setelah bercinta. Kau membersihkannya, kau juga memakaikan piyama untuknya. Apa kau juga menyiapkan air hangat?"

Yoongi mengangguk. "Kurasa semua itu naluri. Namjoon pernah berkata padaku kalau sudah mencintai seseorang, kau akan bersikap sesuai nalurimu yang ingin selalu melakukan yang terbaik."

"Kadang aku tidak percaya suamiku bisa berkata begitu. Dia tergolong orang yang tidak ingin menceritakan kisah ranjangnya pada orang lain."

Yoongi melirik Seokjin dengan sebal. "Sepertinya hanya kau yang begitu rajin menceritakan semua itu pada Suran."

"Hey! Itu karena Suran akan menikah lagipula percintaan kita berbeda bentuk."

Yoongi tertawa kesal. "Kau ini ada-ada saja." ucapnya.

"Apa Jimin menyebut namamu?" tanya Seokjin lagi. Yoongi meliriknya malas.

"Tentu. Jika kau penasaran sekali."

"Aku hanya memastikan—"

"Memastikan?"

"Memastikan hanya kau yang ada di pikirannya saat kalian bercinta."

"Jin Hyung—"

"Kau selalu membenci Min Yoongi bukan? Aku hanya memastikan percintaanmu di ranjang tidak dipenuhi dengan kecemburuanmu padanya."

Yoongi menatap tidak percaya tapi di satu sisi, dia mengulurkan tangannya dan mengelus tangan Seokjin. "Hyung, seperti janjiku padamu. Aku akan menceritakan semuanya."

"Syukurlah kau mengingat janjimu. Aku hampir mati memikirkanmu di sini kau tahu?"

"Kau berlebihan."

"Seorang Suga tidak akan kembali ke Seoul jika bukan ada sesuatu yang begitu gila terjadi."

"Dan menurutmu apa yang terjadi?"

"Aku tidak ingin mengatakannya. Kau saja yang bercerita."

Yoongi menghela nafas sesaat sebelum dia kembali berbicara. "Aku—aku datang untuk mengunjungi Nenek Jung."

Dan saat itu Yoongi begitu yakin kalau Seokjin tidak bisa berkata-kata. Lelaki itu terdiam tanpa melihat ke arahnya. "Hyung—ingatanku sudah kembali."

Hening.

Hingga kemudian Yoongi merasa Seokjin menghela nafas panjang. "Pantas saja kau sangat berbeda Suga-yah. Kau tersenyum banyak sekali. Kau juga berbicara panjang lebar pada orang lain. Kau terlihat—Well, kau terlihat seperti kau begitu bahagia saat kau menatap Jimin."

Yoongi tersenyum tipis. Dia masih menggenggam tangan Seokjin.

"Apa kau kecewa?" tanya Yoongi hati-hati. Seokjin mengusap pipinya dengan satu tangan yang tidak digenggam oleh Yoongi.

"Mengapa aku harus kecewa? Apa kau sudah menemukan yang kau cari selama ini? Apa kau sudah tahu mengapa kau tenggelam?"

Yoongi mengangguk. "Karena—Jimin—Hyung, ternyata aku begitu mencintainya."

"Lalu kau kecewa dengan semua sikapmu padanya dulu?"

"Tidak juga karena aku berfikir semua yang kulakukan ada pada batas rasional."

"Aku membencinya karena aku pikir dia melukaimu tapi ternyata—apa kau—"

"Aku tidak ingin membahas semua yang sudah pernah terjadi. Aku tahu kau memiliki poin di setiap hal yang kau lakukan. Kau sudah hidup bersamaku dan mimpi aneh yang terus datang selama bertahun-tahun jadi kurasa—semua itu masih ada di batas rasional."

"Suga-yah—maksudku—apa kau akan pergi meninggalkanku?" tanya Seokjin sambil menunduk tanpa menatapnya.

Suga tersenyum lebar. "Kenapa aku harus meninggalkanmu?"

"Karena ingatanmu sudah kembali dan karena—"

"Kau, Namjoon, Jungkook, juga Suran adalah keluargaku. Aku tidak mempunyai siapapun lagi sekarang selain kalian. Jimin—well, aku memang tidak bisa hidup tanpanya tapi kau, kau dan Namjoon adalah tempat aku pulang."

Seokjin tidak menjawab. Air matanya turun satu-satu dan Yoongi dengan pelan menghapusnya. "Mengapa kau menangis? Namjoon bisa membunuhku jika dia tahu kau menangis karena aku."

"Jangan tinggalkan aku Suga-yah. Kau dan Namjoon adalah hidupku."

"Tentu Hyung. Aku tidak akan kemana-mana. Aku tidak bisa melakukan apapun tanpa kalian dan kau tahu? Namaku ada di setiap detail perusahaanmu bagaimana bisa aku meninggalkan Netflix begitu saja?"

Seokjin meraihnya dalam pelukan yang hangat. Lelaki itu masih menangis. "Suga-yah, aku sangat menyayangimu."

"Aku tahu Hyung. Aku juga merasa yang sama."

"Apa aku harus memanggilmu dengan nama Yoongi? Min Yoongi?"

Yoongi tertawa tapi di saat yang sama dia menangis karena Seokjin adalah orang pertama yang menyebut namanya. "Kau bisa memanggilku dengan nama yang kau mau. Aku tidak akan memaksamu. Aku tetap adikmu apapun namaku. Kau tahu kan? Apa kau melihat aku menjadi orang yang begitu berbeda sekarang?"

"Kau terlihat senang. Kau orang yang ceria."

"Dan percayalah, Min Yoongi adalah si pemurung. Aku bahagia karena aku bisa berjalan dengan benar sekarang. Aku bahagia karena saat ingatanku kembali, Jimin ada bersamaku dan aku mempunyai kau, Namjoon, juga Jungkook sebagai keluargaku. Aku sangat bahagia Hyung. Semua ini karena kau yang menyelamatkanku. Semua ini karena kau begitu baik. Seumur hidupku pun tidak cukup untuk membalas semua kebaikanmu."

"Suga-yah—kau tidak perlu melakukan apapun. Aku bahagia jika kau juga bahagia. Aku ingin melihatmu bahagia karena aku tahu kau pasti tersiksa sejak dulu."

Yoongi mengangguk. "Kau memang yang terbaik."

"Apa kau akan mengatakan semua ini pada Namjoon?"

"Mungkin besok aku akan mengatakannya tapi sebelum itu, aku perlu bantuanmu—"

"Hm?"

"Aku perlu membuktikan kalau aku masih hidup. Aku membutuhkan banyak surat-surat yang kau punya juga tanda terima laporan gugatanmu pada Song Jino."

"Dia sudah bebas?"

"Yeah. Dia bebas dan semua itu karena dia menyuap polisinya."

"Aku bisa memanggil pengacaraku. Kau tenang saja, aku akan membantumu tapi—"

"Tapi?"

"Kewarganegaraanmu?"

Yoongi tersenyum. "Jika semua sudah selesai, aku akan memiliki dua kewarganegaraan. Tidak masalah, selama semua surat-surat yang kumiliki lengkap."

Seokjin mengeratkan genggaman tangannya. Dia mengusap bahu Yoongi dengan perasaan bangga. "Suga-yah, aku percaya kau bisa melakukan semua dengan baik. Ah ya, apa Jimin sudah tahu?"

"Belum. Mungkin dia akan menjadi yang terakhir karena aku ingin memberitahu semuanya ketika urusanku sudah selesai agar dia tidak memikirkan hal yang buruk."

Seokjin tersenyum penuh arti. Orang yang ada di depannya lebih mirip seperti kombinasi Kim Suga dengan Min Yoongi. "Kau tahu? Dia sangat merindukanmu. Mungkin di depanku dia bekerja terus menerus. Dia juga membantuku menyiapkan banyak hal tapi ketika dia sedang sendirian dia terus menatap ponselnya. Dia begitu menunggumu."

"Jangan menggodaku."

"Lalu apa kau juga merindukannya?"

"Dalam ingatanku sebagai Min Yoongi, sudah hampir sembilan tahun aku tidak bertemu dengannya dan aku bersyukur saat semuanya ingatanku kembali dia berada di sisiku. Saat terakhir sebelum kecelakaan itu terjadi, hubunganku dengannya sangat buruk jadi bisa kau tebak bukan seberapa banyak rinduku padanya?"

"You're a whipped man, Suga-yah. Namjoon said that to me before."kata Seokjin sambil mengacak-acak rambut Yoongi dengan gemas.

"Well, I'm happy wearing that title."

.

.

Ketika dia kembali ke kamar, Jimin sudah tertidur pulas dalam balutan selimutnya. Yoongi mendekat dan mengusap rambut Jimin dengan lembut. Dia merasa sedang kembali ke masa lalu dimana hampir setiap malam dia terbangun hanya untuk melihat Jimin yang sedang tertidur. Saat itu mungkin Yoongi masih remaja. Saat itu juga dia mungkin tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaannya kepada Jimin namun malam ini dia tahu benar kalau dia sangat mencintai Jimin.

"Jiminie, tunggu sebentar lagi."

Jimin tidak bergerak. Setelah bercinta, Jimin selalu tertidur pulas karena energinya habis. Tubuhnya begitu kecil dan ringkih. Sewaktu dia belum mengingat dirinya,Yoongi juga melakukan hal yang sama. Dia akan mengusap rambut Jimin, melihatnya tidur sampai dia mengantuk atau bahkan menjadi tidak mengantuk sama sekali. Ternyata semua yang Kim Suga lakukan terkadang ada di bawah sadarnya. Ternyata selama ini, semua itu sudah dia lakukan sedari dia kecil. Sejak pertama dia mengenal Jimin.

Perlahan Yoongi naik ke atas ranjang. Membaringkan tubuh sedekat mungkin dengan Jimin dan menghadap ke arahnya. Yoongi tersenyum melihat pipi Jimin yang lembut dia mengusapnya. Yoongi akhirnya menyerah. Sedetik kemudian dia mengecup bibir Jimin berkali-kali hingga dia tidak sadar Jimin terbangun dan tersenyum lemas.

"Suga-ssi.." rengeknya dengan suara lemah. Matanya masih tertutup. Oh! Dia hanya setengah terbangun. Yoongi terkekeh.

Dengan satu gerakan Yoongi menarik tubuh Jimin ke dalam dekapannya.

"Tidurlah lagi Jiminie."

Jimin tidak menjawab. Lelaki itu hanya membalas dekapannya. Betapa Yoongi ingin Jimin menyebut namanya lagi. Betapa Yoongi ingin kembali ke Seoul dan melakukan semua hal yang selama hampir sembilan tahun ini tertunda.

.

.

To Be Continued…


FF ini udah setahun aja yha hheheheh Oh! Akhirnya aku bisa keluar dari writer block adudududu delay-nya lama yak dan aku ga nyangka chapter ini jadi panjang banget yawla semoga masih enak dibaca dan dipahami yaa. Semoga juga kalian menikmati chapter ini karena chapter depan kita bakal balik ke Seoul dengan konflik baru. Oh ya, setelah chapter dimana Jimin tahu semuanya mungkin fokus aku bakalan lebih banyak ke Taekook dan Vhope hohoho

Anyway, aku perlu saran. Sebenernya kemarin ada yang komen kata salah satu dari kalian ada yg ke ffn cuma buat nunggu ff ini. Maaf ya aku lupa namanya siapa intinya sih, apa sebaiknya aku pindah ke wattpad ya? Soalnya aku enga bisa pake aplikasinya hahaha. Kalau kalian lebih nyaman baca disini sih gapapa juga. Tolong kasih sarannya yaa. Makasi banyak sudah menunggu ff ini selalu dan terima kasih juga atas reviewnya. Kalian semua baik-baik banget. Nanti kalau keputusannya mesti pindah, aku pastii kabarin dan aku pasti kasih tau akunku yang mana. Okay! See ya soon.