CHAPTER 14 : MEMORIES

Jika saja Tuhanmengizinkan kami untuk bertanya dengan jujur pada satu sama lain.

Mungkin kami akan bertanya, "Apa kalian menyesal setelah bertemu denganku?"

Lalu selanjutnya kami akan bertanya, "Apa kalian membenciku?"

Dan kami akan terus bertanya tanpa henti seperti, "Apa sebaliknya, kalian senang bertemu denganku?"

"Apa kalian bahagia?"

"Apa kalian keberatan dengan takdir yang telah mempertemukan kita?"

"Apa kalian ingin takdir berubah? Atau dibuat kembali pada saat kita bertemu pertama kali?"

Tentu saja tidak hanya kami, para manusia lain pasti juga mempunyai banyak pertanyaan yang tidak bisa mereka ucapkan karena Tuhantidak mengizinkan mereka. Namun, kami berada di dalam posisi yang berbeda. Walau pencipta alam beserta isinya telah mengizinkan, kami tetap tidak bisa menanyakan apa yang paling ingin kami tanyakan kepada satu sama lain. Karena—

—kami takut mendengar jawabannya.

"Apa kalian ingin aku... menghilang dari dunia ini?"

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, violence

Genre : Romance/Crime/Angst/Friendship

Main pair : SasuSakuSaso

.

.

CHOOSE ME!

.

.

"Uchiha Sasuke sudah sepantasnya mendapat hukuman mati!" ucap seorang pria yang menjabat sebagai wakil kepala kepolisian Konoha, Maito Guy. Sejak rapat untuk memutuskan hukuman yang pantas didapatkan seorang pemimpin salah satu mafia kelas berat ini dimulai, hanya pria berambut bob itulah yang paling menggebu-gebu, "Akatsuki saja sudah dihukum mati, bagaimana bisa pemimpin mereka tidak dihukum mati juga?" lanjut Guy lagi.

Para polisi yang hadir di rapat itu juga hanya terdiam, mereka saling tenggelam ke dalam pikiran masing-masing. Apa yang dikatakan Guy memang benar. Jika mereka hanya menghukum mati Akatsuki dan membebaskan pemimpinnya, ibaratnya seperti menghancurkan pisau pembunuh hingga berkeping-keping namun membiarkan pemiliknya pergi lagi hanya untuk mencari pisau pembunuh yang baru. Yah, walau mereka juga tetap tidak mungkin membebaskan Uchiha Sasuke.

Satu-satunya polisi wanita di rapat itu yang menjabat sebagai sekretaris kepolisian pun membuka mulut, "Menurut pasal kepolisian, apa yang sudah dilakukan pria Uchiha itu memang sudah masuk ke dalam kategori kriminal tingkat berat." Yuuhi Kurenai mengambil suatu buku catatan dan membukanya, "Pilihan hukuman untuk Sasuke-san hanyalah hukuman mati dan penjara seumur hidup. Tergantung bagaimana keputusan pengadilan nanti."

"Bah! Percuma saja, aku yakin pengadilan juga sudah pasti memilih hukuman mati untuknya. Apalagi jika seluruh keluarga korban datang, Uchiha Sasuke sudah tidak memiliki peluang hidup." Balas Guy dengan sinis.

Seorang polisi yang memakai masker dengan rambut perak melawan gravitasi ikut dalam pembicaraan, "Jangan lupakan keluarga Uchiha itu sendiri yang akan datang dalam pengadilan, Guy," Hatake Kakashi melirik dari ujung matanya saat menyadari Guy melotot ke arahnya. Namun polisi tampan yang menjabat sebagai detektif polisi tersebut hanya menguap, "Kakak Uchiha Sasuke, Uchiha Itachi sudah mati. Kurasa Uchiha Fugaku dan istrinya tidak akan membiarkan anak mereka yang tinggal satu-satunya itu juga pergi begitu saja." Lanjut Kakashi dengan santai.

Sebelum Guy sempat membantah perkataan Kakashi, polisi lain kembali melanjutkan, "Kakashi benar, Guy." Kali ini pria yang sangat identik dengan warna hijau itu tidak berani untuk melawan atau berbicara. Wajar saja, sekarang ketua atau kepala dari kepolisian Konoha itu sendirilah yang berbicara. Melihat pemimpin mereka semua akhirnya datang ke rapat, para polisi yang ada di ruangan itu langsung berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk untuk memberi hormat. Sarutobi Asuma hanya tersenyum dan membungkukkan kepalanya untuk membalas hormat itu.

"Keputusannya akan kita lihat besok di pengadilan. Seluruh keluarga korban sudah diumumkan untuk datang, bisa kupastikan besok akan menjadi hari paling menyusahkan di pengadilan—mengingat korban Akatsuki yang sudah cukup banyak sampai ada yang di luar Konoha," Asuma memejamkan matanya perlahan dan menarik napas. Matanya melirik pada seorang inspektur baru Konoha yang sedari tadi hanya duduk di tempatnya tanpa berkutik.

"—dan jika keadaan semakin memburuk sebelum hakim bisa memutuskan hukuman untuk Uchiha Sasuke, maka sesuai perjanjian sisanya akan kuserahkan kepadamu yang telah menangkap terdakwa itu sendiri, inspektur Sasori."

Yang disebut namanya hanya menganggukkan kepalanya tanpa merubah ekspresi wajahnya sedikitpun.

.

.

#

"TIDAK MUNGKIN! INI SEMUA TIDAK MUNGKIN!" histeris Uchiha Mikoto di depan kediamannya sendiri. Terlihat di sana dia tidak sendiri, ada dua orang pria yang berdiri di depannya. Mikoto terus menjerit histeris hingga akhirnya dia jatuh terduduk seraya menutup mukanya dan menangis dengan suara parau.

Tentu saja hal ini membuat Uchiha Fugaku—sang suami—berlari tergesa-gesa dari dalam rumah dan segera menghampiri istrinya. Kepala keluarga Uchiha itu terkejut melihat istrinya yang menangis seraya menjerit-jerit di teras rumahnya. Dengan cepat Fugaku pun ikut duduk dan memegang kedua bahu istrinya, "Ada apa ini? Siapa kalian?" tanya Fugaku dengan nada yang terdengar garang. Kedua bola onyx miliknya menajam melihat dua pria di hadapannya yang telah membuat istrinya seperti ini.

"Maaf atas kehadiran kami yang telah mengganggu anda, Uchiha-sama," ucap salah seorang polisi dengan rambutnya yang berwarna putih keperakan. Tangannya kemudian bergerak ke balik jaketnya dan mengambil sesuatu seperti dompet dan membukanya, "saya adalah detektif polisi. Lalu pria di samping saya adalah wakil pemimpin kepolisian Konoha pusat." Lanjut Hatake Kakashi seraya menunjukkan kartu pengenalnya di balik dompet tersebut.

Fugaku semakin mengernyitkan alisnya heran. Ada perlu apa detektif polisi dan wakil pemimpin kepolisian datang ke sini? Pria berumur sekitar lima puluh tahunan itu sedikit meningkatkan kewaspadaannya. Menyadari keberadaan mereka yang tidak menyenangkan bagi sang pemilik rumah, Maito Guy mulai membuka pembicaraan.

"Kami ke sini untuk memberi tahu sebuah kabar... yang mungkin akan menjadi kabar buruk bagi anda dan istri anda," Guy membungkukkan badannya untuk sedikit memberi hormat. Dia menarik napas dan kembali berbicara, "anak bungsu anda, Uchiha Sasuke adalah pemimpin organisasi mafia, Akatsuki. Dan dia akan diadili besok siang."

Bagaikan tersambar petir, Fugaku merasakan jantungnya nyaris berhenti berdetak pada saat itu juga. Perlahan tapi pasti kedua tangannya yang tengah memegang bahu istrinya mulai melemah seiring dengan tangisan sang istri yang semakin kencang. Mulut Fugaku terbuka, namun dia tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya seperti ada seseorang yang melempar batu ke mulutnya hingga dia tidak bisa lagi berbicara normal.

Melihat reaksi Fugaku, membuat Guy sedikit tidak enak hati. Dia melirik pada Kakashi seolah meminta temannya itu untuk melanjutkan. Kakashi sendiri terlihat resah walau dia berusaha tenang, bagaimana pun juga semua orang tua pasti akan shock jika hal buruk tentang anak mereka terdengar.

Pria tampan itu menghela napas, "Lalu... Uchiha Itachi..." Mikoto tersentak dan segera mengangkat wajahnya menatap Kakashi. Mendengar nama anaknya yang sudah tiada entah kenapa membuat tubuh wanita yang juga berumur sekitar lima puluh tahunan itu menegang, "dia mantan pemimpin Akatsuki sebelumnya. Sepertinya alasan Sasuke menjadi pemimpin Akatsuki pun untuk meneruskan jejak kakaknya." Lanjut Kakashi dengan wajah yang tenang. Seolah dia harus membuang semua emosinya demi pekerjaan yang telah dia pegang selama sepuluh tahun ini.

Mikoto tidak kembali menangis histeris seperti sebelumnya. Kedua bola mata obsidian miliknya yang indah tidak beralih dari Kakashi, tapi tak lama kemudian air mata kembali menggenang. Dan tanpa diminta, air mata itu terus mengalir dan menetes dari pipi ibu cantik tersebut. Sakit. Kenyataan ini seolah seperti belati yang menusuknya dari dalam.

Fugaku sendiri tidak bisa menunjukkan ekspresinya. Dia kecewa—tentu saja. Bagaimana rasanya jika anak-anak yang kau banggakan ternyata adalah musuh dalam selimut? Kepala keluarga Uchiha itu berusaha bersikap tenang. Dia ingin marah, kalau saja sekarang anak-anaknya ada di sini, mungkin ayah yang tegas dan keras itu kini sudah memukul kedua anaknya.

Keadaan menjadi semakin tegang. Tidak ada yang berani membuka pembicaraan terlebih dahulu. Yang terdengar hanya isak tangis Mikoto yang begitu terpukul akan kenyataan dari kedua anak yang paling disayanginya, "Sakura dan Sasori..." Kakashi dan Guy mengangkat kepala mereka saat Fugaku akhirnya membuka suara, "apa mereka tahu tentang hal ini?" tanya suami dari Uchiha Mikoto itu.

Guy menganggukkan kepalanya, "Sasori justru yang menyerahkan Sasuke pada kami." Heran karena melihat Fugaku yang tidak menunjukkan reaksi apapun mendengar itu, Guy kembali melanjutkan, "Sementara Sakura-san... Sasori meminta kami untuk tidak memberi tahunya terlebih da—"

"Jadi... begitu, ya?"

Guy juga Kakashi segera menoleh ke belakang saat mereka mendengar suara seseorang. Fugaku dan Mikoto juga terlihat terkejut melihat seorang wanita yang entah sejak kapan sudah berdiri di halaman rumah mereka. Wanita cantik bermahkota soft pink tersebut terlihat membawa kantong plastik berisi bahan makanan yang sepertinya ditujukan untuk sang pemilik rumah. Haruno Sakura langsung jatuh terduduk bersamaan dengan isi kantong plastiknya yang jatuh berhamburan.

"Kenapa... kalian tidak mau... memberi tahuku apa-apa?" entah bertanya kepada siapa, Sakura mulai merasa kedua matanya berkaca-kaca. Tubuh wanita yang kandungannya sudah berumur seminggu itu mulai bergetar. Wanita itu menangis terisak-isak. Semakin lama semakin kencang, hingga suara tangisannya menggema di halaman depan kediaman Uchiha. Diikuti dengan Mikoto yang kembali menangis, ketiga pria yang ada di sana tidak bisa melakukan apa-apa selain diam dan menunggu.

"Sasuke... Sasori..."

#

.

#

.

#

.

#

"...Kupikir kau tidak akan datang lagi sampai hari kematianku." Bisik seorang pria berambut raven tanpa menghadap ke arah lawan bicaranya. Uchiha Sasuke duduk menyandar pada jeruji besi di belakangnya dan menatap dingin pada jendela kecil di atas sana. Sementara laki-laki di luar sel hanya berdiri dan diam. Akasuna no Sasori ikut duduk dan membelakangi mantan adik kelasnya itu.

Sasuke sedikit heran melihat perilaku mantan kakak kelasnya itu tapi dia tidak berniat untuk bertanya. Kedua pria itu tenggelam ke dalam pikiran masing-masing, "Hei." Panggilan dari Sasori sedikit membuat gerakan pada tubuh Sasuke. Laki-laki berambut raven itu menoleh sedikit dan melirik rambut merah saingannya sejak kecil itu, "Jika Sakura melihat keadaanmu sekarang... kira-kira apa yang akan dia lakukan?" tanya Sasori dengan nada yang tidak bisa diartikan.

Uchiha bungsu itu memiringkan kepalanya. Mencoba mengingat kembali sifat-sifat wanita yang dicintainya bahkan sampai sekarang. Sasuke memejamkan matanya perlahan, "Pertama, dia akan menangis." Jawabnya. Jeda sejenak, dia kembali melanjutkan, "Selanjutnya mungkin... dia akan menonjokku seperti pertama kali kita bertemu." Dengus Sasuke, teringat kembali dengan kejadian memalukan saat Sakura menonjoknya hingga dia sendiri hampir menangis.

Sasori mendengus menahan tawa. Dia kembali teringat bagaimana wajah Sasuke kecil yang sombong itu berubah menjadi merah dengan air mata menggenang siap untuk mengalir. Itu pertama kalinya Sasori berpikir Sakura adalah perempuan yang kuat. Mungkin lebih tepatnya memaksakan diri untuk menjadi kuat, karena dari matanya saja Sasori tahu Sakura adalah gadis rapuh yang bisa jatuh kapan saja. Dan untuk menjaga dirinya sendiri, Sakura akan melakukan apapun. Ketika Sasori mengingatnya kembali, mungkin waktu itupun...

...dia sudah jatuh cinta kepada gadis itu.

Mereka berdua kembali terdiam. Kali ini Sasuke menundukkan kepalanya, menatap lantai di bawahnya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan, "Sejujurnya, aku takut." Sasori mengernyitkan alisnya dan melirik dari ujung matanya, "Aku masih ingat dengan sangat jelas... bagaimana terakhir kali aku memperkosanya dan bagaimana aku terus tenggelam dalam ketakutan setelah itu." Sasuke menggertakkan giginya, dia mencengkram rambutnya frustasi.

Sasori mengepalkan tangannya, mendengar cerita Sasuke menyiksa wanita yang disayanginya sungguh membuat laki-laki berambut merah itu ingin memukul Sasuke sekali lagi, "Saat memperkosanya, aku berpikir untuk menjadikan dia milikku selamanya. Aku sudah kehilangan Itachi, orang tuaku juga pasti akan membenciku melihat diriku yang sekarang," merasakan kepalanya semakin panas, Sasuke sedikit menjambak rambutnya, "aku sungguh egois. Pikiranku sangat pendek. Aku tidak memikirkan bagaimana ke depannya jika Sakura bersamaku..." menggeram, akhirnya Sasuke menghentikan ucapannya.

Polisi muda itu hanya diam. Dia tidak berkata apa-apa apalagi setelah mengetahui Sasuke sekarang sedang menangis lagi. Tapi mengingat posisi mereka yang seperti ini, Sasori merasa seperti deja vu. Laki-laki bermata hazelnut itu tersenyum tipis, "Sasuke..." mendengar namanya dipanggil, Sasuke mengangkat kepalanya yang tertunduk, "...apa kau masih ingat, saat kita bertemu Sakura lagi setelah lama terpisah?"

.

.

.

.

.

.

.

#

Hari sudah semakin siang, tapi Akasuna no Sasori masih belum berniat untuk masuk ke sekolahnya. Laki-laki berumur sekitar tujuh belas tahun itu masih dengan santai duduk di bawah pohon rindang seraya membaca buku kecil—entah apa itu—dan menikmati angin yang sesekali meniup rambut merahnya. Dia membolak-balik halaman buku kecil tersebut beberapa saat hingga akhirnya dia menghela napas dan menaruh buku kecil itu di sampingnya.

"SASORI!" mendengar nada suara yang sangat dikenalnya membuat Sasori sedikit terkejut, namun tak lama kemudian dia tersenyum menanggapinya. Sasori segera menoleh dan mendapati adik kelasnya yang sedang berjalan ke arahnya.

"Ne, Sasuke? Kau tidak sekolah?" tanya Sasori dengan santai seraya meregangkan tubuhnya. Paling-paling adik kelasnya itu akan mengajaknya bertarung lagi seperti biasa. Uchiha Sasuke menggeram kesal, sikap Sasori yang tenang entah kenapa selalu terlihat seperti mengejeknya, "Ada apa? Tidak biasanya jam segini kau datang padaku."

Sasuke mendengus, "Tidak apa-apa. Aku hanya malas sekolah." Sebelum Sasori sempat berdiri Sasuke sudah mendahuluinya dengan duduk menyandar di belakang pohon rindang sama seperti yang dilakukan Sasori, sehingga mereka saling duduk membelakangi, "Aku juga sedang malas bertarung jadi jangan macam-macam." Tambah laki-laki berumur sekitar enam belas tahun itu.

Sasori terkekeh kecil, "Bilang saja kesepian," Sasuke tersentak dan menoleh ke arah Sasori dengan jengkel, "sesekali belajarlah untuk jujur pada dirimu sendiri, Sasuke. Nanti kau akan menyesal." Lanjut Sasori lagi dengan sesekali diselingi tawa mengejek.

"U-Urusai!" bentak Sasuke dan Sasori sukses tertawa puas. Kali ini Sasuke tidak bisa membantah perkataan kakak kelasnya itu. Ya, dia memang kesepian. Percuma saja walau dia masuk sekolah, karena sifatnya yang dingin dan anti-social berkat orang tuanya, Sasuke jadi tidak bisa mempunyai teman dengan mudah. Akhirnya laki-laki berambut raven itu akan kembali pada teman masa kecilnya, "Kau sendiri kenapa tidak masuk sekolah?" tanya Sasuke setelah lama mereka terdiam.

Sasori terlihat berpikir, "Hmm, entahlah. Mungkin sedikit bosan." Laki-laki berwajah baby face itu tersenyum sementara matanya terpejam menikmati angin yang meniup wajah dan rambutnya, "Kadang ada waktu dimana kita ingin sendiri. Lagipula belajar terus itu membosankan."

Sasuke terlihat memikirkan perkataan Sasori. Dia jadi teringat dengan ayahnya yang selalu menekannya untuk belajar, belajar, dan belajar demi meneruskan pekerjaan sang ayah. Tidak hanya itu, Sasuke juga terus ditekan akan perbandingannya dengan kakak kesayangannya. Meskipun Itachi sudah bilang untuk tidak memikirkannya, tetap saja Sasuke tidak bisa melupakannya begitu saja. Dan karena terbayang-bayang, akhirnya mau tak mau Sasuke terus terdorong untuk belajar hingga tidak mempunyai waktu untuk dirinya sendiri.

Laki-laki berambut biru dongker itu menggerutu dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, "Jika kakak kelas kesayangan sudah bicara begitu, para adik kelas pasti akan mengeroyokmu." Bisik Sasuke yang masih terdengar oleh Sasori. Berdasarkan sepengetahuannya Sasori memang terkenal di sekolah, terutama di angkatannya. Laki-laki berambut merah itu merupakan salah satu kakak kelas yang diidolakan anak-anak kelas satu selain Sasuke. Mendengarnya membuat Sasori tertawa lagi.

"Kakak kelas kesayangan ya..." Sasori menatap awan-awan yang berarak di langit sana dengan tenang. Kedua coklat hazelnut miliknya menatap lembut awan-awan itu, "mereka terlalu tinggi menilaiku."

"Hah?"

"Ah, ngomong-ngomong soal kakak kelas," seolah mengabaikan nada bicara Sasuke yang kebingungan, Sasori kembali berbicara, "aku tidak pernah mendengarmu memanggilku senpai."

Sasuke mengernyitkan alisnya dan membuang mukanya, "Aku tidak sudi." Balas Sasuke sinis. Sasori tertawa kecil. Mereka kembali terdiam hingga Sasuke melanjutkan lagi pernyataannya, "Aku hanya menyebut senpai pada orang yang pantas dan kuakui." Laki-laki bermata onyx itu menatap rumput-rumput yang bergerak tertiup angin.

Laki-laki Akasuna itu sedikit tertegun mendengar pernyataan Sasuke, namun tak lama kemudian dia kembali tersenyum hangat seperti biasanya, "Itu artinya, aku masih belum pantas menjadi dewasa ya..." Sasuke tidak menanggapi perkataan Sasori, "Sepertinya jika suatu hari nanti kau memanggilku senpai, aku akan sangat senang haha." Ucapan Sasori hanya dibalas dengusan Sasuke.

"A-anu..."

Sebelum Sasuke sempat menanggapi Sasori, seorang gadis muncul di depan mereka. Berbeda dengan Sasuke yang terlihat masih menimang-nimang apakah dia pernah bertemu dengan perempuan ini sebelumnya, Sasori membulatkan kedua bola matanya. Rasanya waktu berhenti begitu saja bagi Sasori ketika dia mengenal dengan pasti gadis berambut soft pink dan beriris hijau emerald di depannya. Sasori langsung berdiri dari posisi duduknya, Sasuke yang melihatnya langsung ikut berdiri.

"Saku...ra?" tanya Sasori. Mendengar nama itu, membuat Sasuke kembali teringat dan menatap Sakura dengan intens. Gadis itu terlihat bingung sesaat sampai akhirnya...

"Siapa?"

Sasuke dan Sasori kembali dibuat kaget untuk yang kedua kalinya. Kedua laki-laki ini saling bertatapan satu sama lain, mereka kembali ragu apakah Sakura yang berada di depan mereka ini benar Sakura yang waktu itu mereka kenal? "Kau... tidak mengingat kami?" tanya Sasori akhirnya. Rasanya sedikit sakit menyadari kenyataan yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya.

Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Memangnya... kita pernah bertemu?" gadis berambut soft pink itu mencoba menunggu jawaban yang tidak kunjung keluar dari kedua pemuda di depannya. Dia menggenggam erat lengan tas yang dia bawa, "La-Lagipula, seingatku ini pertama kalinya aku ke Konoha. Aku murid baru SMA Konoha dan sekarang aku ingin bertanya dimana sekolah itu? Dari seragam yang kalian kenakan, kalian murid sekolah itu juga kan?" tanya gadis itu lagi.

Sang Uchiha bungsu mengernyitkan alisnya tak suka. Dia yakin sekali yang berada di depannya adalah Haruno Sakura yang dia kenal dulu dengan Sasori. Dan melihat ekspresi wajah Sasori yang begitu yakin juga menambah persentase kemungkinannya. Harusnya Sakura tidak boleh melupakan mereka begitu saja! Karena Sasori tak kunjung memberi jawaban, akhirnya Sasuke yang kesal angkat bicara.

"Mana kami tahu, kau yang butuh sekolah itu. Cari sendiri!" jawab Sasuke dengan urat-urat kekesalan di pelipisnya. Dia berbalik akan pergi kalau gadis itu tidak menarik bajunya dari belakang.

"Apa-apaan nada bicaramu? Aku bertanya baik-baik! Jawab yang benar dong!" balas Sakura yang terlihat sama kesalnya. Sasuke mendecih dan akhirnya berbalik lagi seraya mengibaskan tangan Sakura yang menyentuh bajunya.

Laki-laki bermata onyx itu menggeram kesal, "Jangan seenaknya menyentuhku! Dasar rendah!" ucapnya dengan setengah teriak. Sasori sedikit kaget mendengar ucapan Sasuke yang masih belum berubah sejak kecil. Belum sempat Sasori melerai lagi, Sakura sudah maju duluan dan—

DHUAK!

"KUDOAKAN KAU TIDAK PUNYA JODOH SAMPAI AKHIR HAYATMU! BAKA!" setelah mengucapkan kata-kata itu Sakura menjulurkan lidahnya kesal dan pergi begitu saja. Sasori tidak mampu berkata apa-apa, dia terlalu terkejut melihat adegan kedua insan ini bertengkar lagi seperti waktu itu. Akhirnya kakak kelas itu pun melirik Sasuke yang tengah merintih kesakitan dan memegang kepalanya yang baru dipukul.

Tadinya Sasori ingin membantu Sasuke berdiri dan mungkin akan membantu mengelus kepala adik kelasnya itu. Tapi diurungkan niatnya saat melihat Sasuke tersenyum tipis. Sasori sedikit tertegun melihatnya, sebab Sasuke jarang sekali tersenyum apalagi tersenyum hangat seperti itu, "Itu Sakura. Tidak salah lagi." Pemuda berambut raven itu berdiri sendiri dan merapikan pakaiannya yang kotor sementara Sasori terus memperhatikannya.

"...Kau yakin?" tanya Sasori ragu. Wajahnya menampakkan raut kesedihan, "Kenyataannya dia bilang ini pertama kalinya dia ke Konoha dan—"

"Aku yakin." Potong Sasuke cepat. Nada bicaranya seolah mengatakan dia tidak mau dibantah saat ini. Akhirnya Sasori memilih diam, "Karena satu-satunya perempuan yang berani memukulku hanyalah dia." Lanjut Sasuke dengan tenang. Aura di sekitarnya berubah hangat, membuat Sasori tertegun karena menyadari sesuatu.

Sasori terdiam beberapa saat, "...ayahku pernah bilang kata-kata tanpa bukti hanyalah omong kosong." Ucap Sasori dengan nada yang ditekankan.

Sasuke mendengus dengan nada mengejek, "Aku tidak perlu bukti. Aku yakin itu Sakura." Laki-laki berambut biru dongker itu akhirnya berjalan meninggalkan kakak kelasnya dengan senyum tipis yang terlukis di wajahnya. Dia belum pernah merasa seringan ini sebelumnya. Sasuke memilih mengabaikan perasaan yang sempat lewat di hatinya beberapa saat lalu.

Sementara itu di belakangnya Sasori menatap punggung Sasuke dengan alis yang mengernyit.

#

.

.

.

.

.

.

Sasori terdiam mengingat memori yang sudah lama sekali terlupakan itu. Dan karenanya, Sasori kembali teringat saat itu... pertama kalinya dia menyadari bagaimana perasaan Sasuke kepada Sakura yang sesungguhnya. Apakah waktu itu dia yang baru tahu atau memang Sasuke juga baru menunjukkannya, entah mana yang benar. Laki-laki berambut merah itu menghela napasnya.

"Sasori..." pria berambut merah itu menoleh mendengar Sasuke yang kembali berbicara setelah sekian lamanya, "apa hanya aku yang salah?" tanya Sasuke lagi seraya menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya yang menekuk.

Sasori tidak menanggapi perkataan Sasuke untuk beberapa saat. Dia memikirkan perkataan mantan adik kelasnya itu. Kalau bisa, Sasori tidak ingin menyalahkan siapapun. Baginya, semua ini adalah salah takdir yang mempermainkan mereka. Jika Sasori mengingat-ingatnya lagi sudah terlanjur banyak yang terjadi tanpa dia, Sasuke, maupun Sakura bisa menghentikannya.

Seperti saat kedua orang tua Sakura mulai bangkrut dan berhutang kepada orang tuanya dan orang tua Sasuke. Orang tua Sakura yang secara tak sengaja menjodohkan putri mereka dengannya dan Sasuke. Sakura yang berada di posisi sulit karena harus memilih di antara mereka berdua. Kakak Sasuke yang ternyata adalah pemimpin Akatsuki dan Sasuke yang mengaguminya memutuskan meneruskan jejak sang kakak. Itachi mati karena polisi dan Sasuke mulai membenci polisi untuk seumur hidupnya.

Sasori sendiri meneruskan jejak sang ayah dan menjadi polisi yang selalu diinginkannya. Suasana semakin menegang, dimana seorang polisi dan pengusaha yang membencinya hidup dalam satu rumah. Dan kedua orang ini mencintai seorang wanita dan perasaan itu terus tumbuh hingga sekarang. Ego yang menggila, benci dan kehausan akan membunuh terus keluar tanpa bisa ditahan. Dan ini semua terus berlanjut hingga akhirnya kemenangan nyaris dipegang Akasuna no Sasori yang memegang keputusan akan nyawa Uchiha Sasuke. Tapi, kemudian...

...kehamilan Sakura.

Jika saja anak yang dikandungnya adalah anak Sasori, mungkin semuanya akan berjalan mudah dan sesuai rencana yang dipasang pria berwajah baby face tersebut. Tapi ternyata, Kami-sama berkehendak lain. Anak yang dikandungnya adalah anak Sasuke, membuat Sasori mau tak mau membongkar pasang rencana yang sudah matang. Laki-laki berambut merah itu menatap kedua tangannya.

Dia akan menyelesaikannya dengan dua tangan ini.

Sendirian.

Sasori mengambil napas dan mengeluarkannya lagi sebelum berdiri dari posisinya. Sasuke melirik dari ujung matanya melihat Sasori yang akan melangkahkan kakinya menjauhi sel tempatnya sekarang. Sekitar tiga langkah kemudian, laki-laki berumur sekitar dua puluh tigaan itu menghentikan langkahnya.

"Sasuke... kalau kuingat lagi, waktu itu kau benar." Sasuke mengernyitkan alisnya mendengar kata-kata Sasori. Dia menatap punggung mantan kakak kelasnya itu, "Orang sepertiku... tidak pantas disebut senpai."

Sasori membalikkan kepalanya sehingga kedua laki-laki itu bertatapan untuk pertama kalinya sejak tadi mereka berdua saling bicara satu sama lain. Kedua onyx Sasuke membulat melihat senyum Sasori. Sama seperti biasanya, senyum hangat dari laki-laki berambut merah itu memang tidak bisa digantikan dengan senyum siapapun. Namun, kali ini ada yang berbeda. Rasanya... menyakitkan.

"Maaf ya."

Setelah mengucapkan itu, Sasori kembali berjalan meninggalkan Sasuke yang masih mencerna maksud dari kata-kata pria bermata hazelnut itu.

#

Asuma menoleh saat mendengar pintu masuk ruangannya diketuk seseorang, "Masuk." Perintah kepala kepolisian Konoha itu. Tak lama kemudian, seseorang yang sangat dikenal Asuma memasuki ruangannya. Polisi yang sudah berumur sekitar lima puluh tahunan itu tersenyum menyambut salah satu bawahan kesayangannya, "Ada apa malam-malam begini, Sasori?"

Sasori tidak langsung menjawab pertanyaan yang diberikan padanya. Asuma mengangkat sebelah alisnya, terlihat sekali inspektur muda itu tengah memikirkan sesuatu. Sempat terlihat oleh Asuma, laki-laki berambut merah itu menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya sesaat, "Sesuai pasal kepolisian nomor tiga puluh lima, jika terdakwa sudah melakukan lebih dari tiga kejahatan berat, maka hukumannya adalah mati atau penjara seumur hidup."

Asuma mengernyitkan alisnya, "Lalu sesuai pasal kepolisian nomor tiga puluh tujuh, hukuman terdakwa yang melakukan lebih dari tiga kejahatan berat bisa diputuskan melalui pengadilan, keluarga korban, atau polisi yang menangkapnya. Tergantung bagaimana keputusan kepala kepolisian." Sasori menarik napasnya setelah bicara panjang lebar, "Karena itu, Asuma-sama! Izinkan saya menjadi penentu hukuman atas Uchiha Sasuke!" pinta Sasori dengan tegas.

Asuma sedikit terkejut melihat Sasori yang akhir-akhir ini memang jadi sedikit lebih pendiam sekarang bicara panjang lebar seperti itu. Kedua mata Sasori sama sekali tidak menunjukkan kegoyahan apapun, diam-diam Asuma seperti melihat ayah Sasori yang dulu sempat menjabat sebagai kepala kepolisian Konoha dan juga merupakan mantan atasannya. Mereka berdua sama-sama memiliki jiwa polisi yang tidak bisa dihancurkan dengan mudah oleh siapapun.

"Kau mau menjadi penentu hukuman bagi Uchiha Sasuke?" tanya Asuma, mengulang perkataan Sasori yang dibalas anggukan, "Apa kau yakin? Kudengar kau sendiri mempunyai hubungan dengan Sasuke dan keluarganya, jika kau yang memutuskan maka kau akan dibenci mereka." Lanjut Asuma lagi untuk mengetes apa Sasori masih ragu atau tidak.

Sasori menggeleng cepat, "Tidak masalah." Dia menunduk sesaat, "Mereka membenciku atau tidak hasilnya akan tetap sama, aku tidak akan mendapat untung atau rugi apapun." Tegas Sasori dengan sorot mata yang tajam. Asuma menghela napas dan memejamkan matanya.

Kepala kepolisian Konoha itu memijat pelipisnya, "Baiklah." Bibir Sasori sedikit berkedut menahan senyum saat Asuma mengatakan itu, "Kalau boleh tahu, apa hukuman yang akan kau berikan pada Uchiha Sasuke? Aku harap kau tidak mencoba melanggar pasal kepolisian, Sasori." Ucap Asuma dengan serius.

"Memang. Jika aku melanggarnya, bisa-bisa tousan tidak akan menganggapku anaknya lagi." Balas Sasori dengan tenang, tanpa keraguan atau ketakutan akan apapun. Laki-laki berwajah baby face itu kembali menatap bola mata hitam milik Asuma.

Walau sudah mengatakan semua itu, jauh dari dalam lubuk hati Sasori, dia berharap ada yang menghentikannya mengatakan ini sekarang juga. Meskipun Sasori sendiri tahu itu sudah pasti tidak mungkin. Entahlah, mungkin hanya sekedar mencoba untuk menenangkan hatinya. Senyum tipis keluar dari wajah pria tampan itu. Hukuman ini menurut pasal kepolisian memang sudah sepantasnya didapatkan oleh Sasuke. Tapi bagi Sasori, hukuman ini seolah seperti jalan pintas untuk dirinya yang ingin kabur dari kenyataan.

...untuk dirinya yang egois.

"Hukuman Uchiha Sasuke adalah hukuman mati. Dan aku, Akasuna no Sasori yang akan melakukannya!"

.

.

.

.

.

When you try to run away,

you can't go anywhere...

.

...because God never sleeps

.

.

.

.

.

.

To be Continued

.

.

.

.

Special Thanks for :

Miyano Akemi, Amy Suede, Saranghae ThunderSiwonOppa, TaNia VampGoth, Phouthrye Mitarashi15, mysticahime, Mitsuki Ota, gieyoungkyu, Eunike Yuen, uchiharuno phorepeerr, Valkyria Sapphire, Anime Lover Ya-Ha, AsaManis TomatCeri, ei ShiroyukiSchiffer, Sindi 'Kucing Pink, SaGachIvu, resiwon407, GerardErza, Karasu Uchiha, blackcurrent626, Naomi azurania belle, Gracia De Mouis Lucheta, UzUchiHaru Michiyo, Tsukiyomi Aori Hotori, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, euke hatsumoto, agnes BigBang, B-Rabbit Lacie, Tabita PinkyBunny, Miho Yulatha, Nami and The Eggplant, Hikaru Ryo Sora, Frozenoqua, Cherry Blossoms, Soldier of Light, Hikaru Apple, Ka Hime Shiseiten, Uchiha The Tomato Knight, nunururun, nama tidak terdeteksi, beky, Ria kishimoto, SakuchihaSasuruno, Harumi Satsuki (2x), ck mendokusei, Kamui Shirou, chezahana-chan, Hotaru no Hikari AnimeLovers, esa scarlet, syafria meily, ayuhctek, Mona Rukisa-chan, saitou ayumu Uchiha

Terima kasih juga untuk lainnya :D ngomong-ngomong saya minta maaf atas salah pengetikan kemarin. Gomeeen, semoga di chapter ini gak ada lagi... #komatkamit

Oke minna-san, jangan ngamuk duluuuuuu ._. #plakplak

Masih ada dua chapter lagi~~ tenang tenaaang, saya masih nyimpen kejutan (?) untuk konflik baru lagi hoho~ #dilemparkesumur Sekali lagi, semoga feelnya masih kerasa... (_ _)

Makasih yang udah baca sampai sini. Karena dua chapter lagi pasti tamat, jadi jangan berhenti baca cuma sampai di sini yaaa kan sayang xDD #dordor Maaf selama ini saya lama banget kalo update, harap maklum saya orangnya mood-moodan D: #kabur (?)

Lalu, untuk pasal-pasal polisi yang ada di sini harap jangan dipikirkan. Itu hanya karangan belaka dari saya -_-v #diinjek Jika ada yang ingin ditanyakan kecuali yang menyangkut ending suatu fic, silahkan PM facebook dan FFn saya atau mention saya di twitter ohohoho ;D

Hontou ni arigatchuuu~! Review lagi, ne? :3