Summary: Naruto adalah anak yang selalu dianiaya dan disakiti karena kyuubi yang disegel dalam tubuhnya. saat keadaan semakin kejam tak terkendali, seorang pria datang menolong. akankah pria ini membuat hidup Naruto berubah?

Warning: OC, tapi bukan kayak Gary Stu; juga ada penampilan karakter yang jarang bakal tampil atau sekali pakai (emang barang, bisa sekali pakai…), good Kyuubi, FemKyuubi and GoodParentKyuubi.

Oh iya, di fic ini naruto lebih tua 1 tahun dari rookie 9 lainnya.

Disclaimer: Not mine!

Buat reader yang nanya bakal sampe chapter berapa cerita ini, saya sendiri belum tahu, tapi saya pastiin, CUKUP BANYAK. Untuk shippuden dan lain-lain… Tunggu nanti ya? Agak bingung soalnya. Dan saya juga minta masukan untuk karakter yang muncul di Anime ya… Soalnya saya ga banyak nonton (susah cari dvd yang bagus, soalnya.).

Buat kritik, saran en informasinya, bisa diketik ke facebook saya, nick nya: seishiro amane (Tanya ke madam Ayame Ninja Edit kalo ga tau.)

Kalau dari MaleHaku, trus jadi FemHaku, ga papa kan?

Oke, kita mulai chapter 14! Enjoy please!

Baka Tantei Seishiro Amane present…

ANOTHER LIFE CHANCE

CHAPTER 14: THE TRAINING

Recap:

Misi ke Nami no Kuni dimulai. Dan dimulai dengan serangan iblis bersaudara, ninja buronan dari Kiri. Setelah mendengar penjelasan Tazuna tentang Gatou, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Nami. Saat baru sampai di Nami, mereka dihadang kembali dihadang oleh sewaan Gatou, dan kali ini bukan sembarangan ninja. Zabuza Momochi, sang iblis besar Kirigakure, dan partnernya. Setelah pertarungan mematikan, Kakashi dan Naruto berhasil memukul mundur mereka. Saat akan memberikan pukulan terakhir, mereka dihabisi oleh ninja pemburu dari Kiri. Kakashi dan Naruto langsung tak sadarkan diri setelah pertarungan.

Akhirnya, mereka membawanya ke rumah Tazuna.

Sakura memandang ke jendela. 'Malam sudah datang.' Dia mengangkat makan malam ke ruang makan dari dapur. Setelah makan malam tertata di meja, dia pergi menuju luar. Kebetulan, Hisakata dan Sasuke sedang lewat. "Ayo makan malam dulu, Sasuke-kun, Hisakata." Kata Sakura. Mereka mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah. Mereka pun mulai makan malam.

"Bagaimana Kakashi-sensei dan Naruto, Sakura-san?" Tanya Tsunami pada Sakura yang baru turun dari ruang atas.

Sakura menggelengkan kepala. "Masih belum sadar juga. Sepertinya, masih tidak akan sadar sampai besok." Dia duduk di meja dengan wajah khawatir. Tsunami menenangkannya. Mereka memulai makan malamnya dengan agak kaku.

DOK DOK DOK.

Tsunami segera bergegas menuju pintu. "Maaf, ada keperluan... Oh?" Tsunami terdiam sebentar. Lalu, dia berbicara pelan, sehingga tidak terdengar.

"Mungkin cuma tetangga." Kata Tazuna, melanjutkan makan.

Hisakata tidak ikut melanjutkan makan. "Aura ini... Dan suara langkah tadi... Masa sih?"

"KYAAAA!" Sasuke dan Hisakata segera berlari menuju pintu depan. Disana, Tsunami jatuh terduduk sambil menunjuk sesuatu. Sasuke dan Hisakata melihat apa yang ditunjuk.

Hisakata menepuk keningnya. "Sudah kuduga. Kau datang, Ranmaru-san!"

Ranmaru dalam ukuran rubah kecil duduk dengan tenang di depan Tsunami yang ketakutan. "Hei... Untunglah kalian datang cepat. Nona ini mulai berteriak saat aku menanyakan dimana Naruto."

Mereka duduk di ruang keluarga. Tazuna dan Tsunami memandang Ranmaru, kini dalam ukuran sebesar anjing duduk di kursi, dengan rasa segan dan kagum. Sakura menjelaskan tentang Kuchiyose dan siluman pada Tazuna dan Tsunami yang awam akan hal ini.

"Err... Jadi, Ranmaru-san ini siluman? Dan dapat berubah menjadi manusia?" Sakura mengangguk. "Err... Apa anda perlu futon? Ah, makan malamnya!" Tsunami segera panik.

Ranmaru terkekeh. Dia lalu berubah menjadi manusia. Menjadi seorang pria setinggi 195 cm dengan badan kekar. "Tidak apa-apa, Nona. Aku bisa mengurus makan dan tidurku sendiri. Aku malah berterima kasih, karena kau mau mengurus bocah itu." Dia tersenyum lembut dan memberi tatapan 'kau-sangat-luar-biasa'. Tsunami segera salah tingkah dan bergegas masuk dengan wajah merah.

"Kau benar-benar tahu cara membuat wanita bertekuk lutut, Ran-kun." Kata Hisakata dengan seringai lebar di mulutnya. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. Sakura menghela napas. Tazuna memandang Ranmaru kesal.

Ranmaru terkekeh. "Sudah jadi sifat alamiku, bocah. Nah, mana bocah bodoh itu? Aku akan memeriksanya."

Mereka mengantar Ranmaru menuju kamar Naruto. Setelah sampai, Ranmaru langsung memeriksanya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas. "Tidak apa-apa. Dia hanya perlu istirahat. Tapi ini..." Dia menunjukkan kalung besi yang tadi oleh Tsunami tidak dapat dilepas. "Harus segera dilepas. Tidak keberatan kalau aku bawa Naruto sebentar? Ini cukup berbahaya kalau dibiarkan saja." Kata Ranmaru.

Semua mengangguk. Ranmaru mengangkat Naruto, lalu melompat dari lantai dua. Tazuna melihat dari jendela, Ranmaru melompat setinggi 5 meter, melewati 6 rumah sekaligus, lalu menghilang di kegelapan hutan di malam hari.

Tsunami melihatnya dengan mata menerawang. Tazuna mendorongnya pergi, sambil menggumamkan 'playboy sialan' dan 'akan kubunuh kalau berani menyentuh puteriku'. Hisakata berusaha menahan tawa.

"Jangan tertawa, Hisakata! Ini bisa jadi serius!" bisik Sakura kesal. Sasuke menggelengkan kepalanya. Mereka akhirnya turun dan istirahat di ruangan masing-masing.

Naruto membuka matanya. Dia ada ruang terbuka. "Hei, kau sudah bangun?" Dia menengok ke arah suara itu berasal. Ranmaru sedang menulis sesuatu di tanah.

"Ranmaru? Ini... Dimana?" Naruto memandang sekeliling. Dia berada di areal terbuka di tengah hutan. Dia berbaring di atas selembar kain putih yang dipenuhi oleh tulisan kanji. "Pembuka segel permanen...? Kenapa?"

Ranmaru mendengus. "karena kau membuka segel secara paksa. Segelnya rusak, dan harus diperbaiki. Setelah kau selesai, aku akan meletakkan segel sementara. Aku membawamu keluar, karena akan terjadi keributan kalau aku melakukan ini di rumah itu. Dan aku butuh tempat yang lebih luas dari kamar tempatmu terbaring untuk melakukan ini."

Dia memeriksa lagi segelnya secara seksama. "Maaf. Lawanku Joonin, dan lagi, kata Kakashi-sensei dia bertahan hidup setelah melewati perang besar ninja. Aku tidak dalam keadaan siap. Kelelahan dan kekurangan chakra." Dia selesai memeriksa tulisan.

"Oke-oke... Lagipula, aku memang mau mengubah sedikit segelnya. Aku tak bisa selalu ada disampingmu saat kau harus melepas segelmu," Katanya. Dia kemudian duduk di lingkaran tempat semua tulisan itu berakhir. "Kau siap?" Naruto mengangguk. Ranmaru memulai melakukan banyak segel dalam waktu singkat.

"Seal technique! Seal Release!" Seluruh tulisan itu berrgerak, berubah menjadi sebuah tali yang menyambungkan kalung besi Naruto dengan lingkaran yang masih ada di tanah, namun bercahaya terang. Akhirnya, lingkaran itu melayang naik, lalu mendekat dengan menghisap gulungan tali yang terbuat dari tulisan itu. Setelah terhisap seluruhnya, lingkaran itu berwarna kemerahan dan mengecil menjadi seukuran bola basket.

Lingkaran itu segera mendekat dan masuk melewati kepala naruto. Saat sampai di kalung besi, lingkaran itu mengecil sehingga menempel dengan kalung besi itu. Cahaya terang kemarahan keluar dari kalung itu.

Bersamaan dengan padamnya cahaya, kalung itu lepas. Naruto menggosok tempat kalung itu tadi berada. Dia duduk dengan keadaan lelah. Tiba-tiba, sepasang kuping rubah keemasan muncul dari kepalanya. Lima buah ekor melambai muncul. "Akh... Akhirnya aku melepas segel... sejak peristiwa penyegelan Hisakata, kau memasang segel ini. Ini berat, tahu..."

Ranmaru mendengus. "Siapa yang setuju saat aku mengusulkan ini, hah? Ini demi menjauhkanmu dari orang-orang yang mungkin mengincar kekuatanmu, tahu..." Naruto hanya menghela napas.

"Segel sementaranya nanti saja. Aku butuh kemampuan penyembuhanku secara penuh selama misi ini. Siapa tahu ada sesuatu... Sejak keluar dari gerbang, aku merasakan firasat buruk." Naruto berkata.

Ranmaru mengangguk. "Aku akan kembali ke Konoha setelah mengantarmu pulang. Aku meninggalkan anak buahku untuk berjaga dalam kondisi terburuk mereka." Dia berkata seraya mengangkat Naruto, lalu pergi menuju rumah Tazuna.

Setelah mengantar Naruto, Ranmaru pamit pulang (Tsunami agak kecewa akan hal ini). Naruto menyembunyikan ekor dan telinganya, juga menahan aura chakranya. Namun, Sasuke dan Hisakata menyadari ada yang berbeda dengan Naruto.

"Apa yang terjadi?" Tanya Sasuke pada Naruto.

Naruto hanya tersenyum. "Hanya beberapa hal kecil, jangan khawatir." setelah menyentuh bantal, Naruto langsung tertidur.

Kakashi bangun 2 hari setelahnya. Naruto sedang membaca gulungan di tangannya. "Oh, kau sadar, Kakashi sensei. Aku akan memberi tahu yang lainnya." Dia bergegas menuju bawah. Seluruh tim 7 dan Tazuna berkumpul di kamarnya.

"Untunglah sensei sadar... Dengan ini, musuh tidak akan berani menyerang. Apalagi, setelah lelaki bernama Zabuza itu mati." Sakura berkata dengan lega.

Kakashi menggelengkan kepalanya. "Aku khawatir, Sakura, Zabuza belum mati." Semua memandangnya tidak percaya.

"Ta-tapi, ninja pemburu itu menusuknya di leher, di pembuluh darahnya..." Sakura berkata dengan panik.

Kakashi memberi isyarat pada Naruto. Naruto berpikir sejenak, lalu mengerang. "Sialan... jadi begitu... Dasar Lelaki sialan... Kalau begitu, wanita yang kulawan juga masih hidup."

Sasuke yang ingin tahu segera berkata. "Tolong beri tahu kami, sensei, Naruto. Apa yang kita lewatkan sehingga Zabuza masih hidup."

Naruto menjelaskan. "Prinsip ninja pemburu adalah mencari dan memusnahkan buronan. Setelah buronan mati, biasanya mereka hanya membawa kepalanya untuk bukti, dan memusnahkan yang tersisa dari tubuhnya, BUKAN membawanya pergi seperti yang diakukan ninja buronan yang menangani Zabuza waktu itu."

Sasuke terkejut mendengarnya. "Kalau begitu... orang itu..."

Kakashi meneruskan kata-kata Sasuke. "Bukan ninja Kirigakure. Kemungkinan, anak buah atau murid Zabuza. Walau sulit untuk dipercaya orang seperti Zabuza mengangkat murid... Dan kalian ingat senjata yang dipakainya?"

Sakura menjawab. "Jarum... Seperti jarum untuk medis..."

Kakashi mengangguk. "Benar. Bisa dipastikan orang itu mahir dalam bidang tersebut. Yang diincarnya leher. Banyak titik khusus disana, dan otot leher tidak sekeras dan seliat di tempat lainnya. Kalau kau belajar tentang akupuntur, mudah untuk membuat keadaan seperti mati, walau sebenarnya hanya dalam keadaan nyaris mati."

Naruto berkata. "Jadi, orang itu menyelamatkan Zabuza dan lawanku sambil berpura-pura membunuh mereka. Lalu, pergi menghilang dan kini mungkin sedang merawat Zabuza dan wanita itu... Benar-benar sial."

Semua terdiam. Kakashi akhirnya angkat suara. "Untungnya, baik aku maupun Naruto tidak melepas Zabuza dan Chiharu Yamaguchi dalam keadaan luka biasa. Walau dengan perawatan medis, mereka masih butuh waktu kira-kira seminggu lagi untuk kembali dalam keadaan semula. Kita masih punya waktu."

"Apa yang Sensei rencanakan?" Tanya Naruto.

"Kita sudah tahu kemampuan musuh. Aku pun belum memakai seluruh kartuku. Kau bagaimana?" Naruto menggeleng. "Bagus. Kita tinggal bersiap untuk menghadapi mereka lagi saat mereka menyerang lagi. Dan untuk kalian," kakashi menunjuk pada ketiga genin. "Kalian akan berlatih."

Hisakata langsung bersemangat. Mereka keluar dari ruangan, menuju pinggiran hutan saat Kakashi berganti pakaian. Tak lama setelah mereka duduk disana, Kakashi dan Naruto muncul. Kakashi menggunakan kruk karena masih belum sembuh. Naruto sendiri masih terlihat lemas dan kesakitan, walau sudah dalam keaadan lebih baik dari Kakashi.

"Apa yang akan kalian lakukan, Sensei?" Tanya Hisakata bersemangat.

Kakashi menghela napas sejenak. "Kita akan memanjat pohon..." Terdengar suara-suara protes. "Tanpa menggunakan tangan," mereka terdiam.

Naruto berkata. "Mungkin... Lebih tepat kalau dikatakan sebagai berjalan di pohon." seluruh tim memandangnya bingung.

Kakashi tertawa kecil. "Daripada dijelaskan, lebih baik dipraktekkan. Ayo, Naruto. Kita tunjukkan pada mereka." Naruto menggumamkan 'Tubuhku masih sakit' dan 'Sistem aliran chakraku sakit', tapi maju mendekati pohon bersama Kakashi. Mereka melakukan segel standar, lalu berjalan ke arah pohon.

Semua terkejut. Seperti yang dikatakan Naruto, mereka berjalan secara vertikal di batang pohon. Setelah sampai di salah satu dahan yang tinggi, mereka berdiri terbalik. "Yang harus kalian lakukan, kumpulkan chakra di kaki kalian, lalu stabilkan. Setelah itu, mulailah berjalan di batang pohon," Kakashi melempar tiga buah kunai. "Goreskan pada pohon tanda, saat kalian merasa akan jatuh. Itu akan menandai seberapa jauh kalian telah memanjat. Latihan ini dianggap selesai kalau kalian berhasil mencapai puncak pohon."

Kakashi dan Naruto turun. Semua mengambil kunai yang diberikan Kakashi. "Baik, mulai!" semua mengumpulkan chakra, lalu mulai berlari. Sasuke berlari secara stabil hingga batang pohon yang diinjaknya pecah sedikit. Dia segera menggores batang pohonnya. Hisakata naik beberapa langkah sebelum tergelincir.

"Itu akan terjadi kalau aliran chakra kalian tidak stabil. Terlalu kecil, kalian tergelincir. Terlalu besar, kalian akan menghancurkan pohonnya." Kata Kakashi pada dua ninja yang kini mengelus punggungnya karena jatuh. Keduanya terlalu dekat dengan tanah sehingga tidak sempat bermanuver untuk mendarat.

"Ini terlalu mudah, sensei~" Suara Sakura mengalihkan mereka. Dia duduk di dahan tertinggi. Kunainya tertancap di puncak pohonnya. Dia tersenyum senang.

"Sepertinya, Sakuralah yang memiliki kontrol chakra terbaik. Yah, sepertinya Uchiha bukan apa-apanya..." Sasuke memberi pandangan membunuh, namun tidak ditanggapi. "Sudah kukira, ini latihan yan terlalu berat untuk orang cacat..." Hisakata mendengus kesal.

"Kalau kalian merasa lebih baik, selesaikan. Buktikan kalau kalian bisa menyelesaikan latihan kalian. Mungkin pikiranku ini salah..." Sasuke memandang Sakura, lalu mulai berlari lagi. Hisakata memperhatikan saat Sakura turun beberapa saat, sebelum dia berlari.

"Sakura, karena kau sudah dapat menyelesaikan latihan ini, aku ingin kau menjaga Tazuna sampai aku sembuh. Aku ingin meminta Naruto... Tapi, dia dalam keadaan yang tidak lebih baik dariku. Seluruh tubuhnya sakit karena sistem aliran chakranya dipaksakan menerima aliran chakra besar secara terus menerus." Kakashi berkata.

Sakura mengangguk. Naruto melakukan beberapa segel, memanggil sepasang rubah kecil. Dia menggertakkan giginya untuk menahan rasa sakit saat melakukannya. "Ini... Aku ingin membawa satu," Dia memberikan rubah sebesar anak kucing berwarna putih pada Sakura. "Saat dalam keadaan bahaya, dia akan melindungimu dan mengirim peringatan pada yang hitam ini. Kami akan segera kesana membantumu saat ada bahaya."

Sakura menerimanya. Rubah itu berubah menjadi gelang putih. Sakura segera memakainya. Rubah yang hitam berubah menjadi kalung hitam, dan dikanakan oleh Naruto. Kakashi segera kembali ke tempat Tazuna karena dia masih terlalu lemah. Sakura, karena Tazuna Baru akan mulai bekerja saat kabut menebal, esok harinya, menunggu sambil melihat latihan Sasuke dan Hisakata.

Mereka hanya diam saja selama duduk melihat latihan. Akhirnya, Sakura angkat bicara. "Naruto-san, bagaimana lukamu? Apa tidak sebaiknya istirahat saja?"

Naruto tersenyum. "Lukaku tidak separah itu. Untuk sistem aliran chakraku... ini bukan sesuatu yang bisa disembuhkan. Hanya dapat sembuh sendiri, dengan berstirahat. Anggap saja seperti memar. Nantinya akan hilang, tapi akan terasa sakit beberapa saat."

Sakura menyadari ada yang berbeda. 'Apa ya? Rasanya ada yang berbeda dengannya... seakan dia...' 'Lebih mempesona?' 'Bukan itu! Dasar tukang ikut campur...' 'Oke-oke... tapi, tak bisa dipungkiri, dia terlihat lebih... beraura? Entahlah.. yang pasti, menurutku dia terlihat lebih tampan, dengan tanda di pipinya menipis...' 'Itu dia! Memang, tanda aneh di pipinya menipis... Apa ada suatu hubungannya dengan lebih beraura itu?'

Inner Sakura tidak menjawab, hanya menghela napas. Sakura, yang memutuskan innernya tidak ingin menjawabnya, diam saja. Mereka kembali terdiam, hingga Sasuke dan Hisakata mendekat. Dia ingin menanyakan pada Naruto, tapi saat dilihat, Naruto tertidur. "Sakura... Bagaimana caranya..." kata Hisakata memohon.

"Seperti yang dikatakan sensei tadi, kan?" kata Sakura. Mereka menunjuk pada pohon mereka. Mereka tidak bisa melebihi dari seperempat dari panjang pohon. Sakura menghela napas. "Yang paling penting adalah fokus. Jangan berpikir untuk secepatnya sampai di puncak. Fokus, dan melangkah. Jangan kehilangan fokus, atau aliran chakramu akan tidak stabil lagi."

Hisakata mengangguk. Dia bergegas pergi setelah berseru 'terima kasih' dengan suara keras. Sasuke mendekatinya. "...Terima kasih." dia berjalan pergi dengan sedikit senyum, meninggalkan Sakura yang masih terpesona akan kejadian tadi. Dalam hatinya, dia bersorak sorai.

Tak lama setelahnya, dia membangunkan Naruto dan pulang, setelah Tsunami memanggilnya untuk makan siang. Dia menyerahkan bekal yang dibuatkan Tsunami pada Sasuke dan Hisakata yang masih berlatih. Dan pulang. Sepanjang sore, dia membaca literatur pengobatan yang ditemukannya di ruang keluarga. Tampaknya, dia cukup tertarik akan bidang itu setelah mendengar cerita Kakashi dan menyaksikan Tsunami mengobati timnya.

Sasuke dan Hisakata pulang tepat sebelum makan malam. Mareka terlihat kelelahan. Setelah makan dan bertemu untuk pertama kalinya dengan cucu Tazuna, Sakura mengantar Sasuke dan Hisakata masuk ke kamarnya.

Mereka pun tertidur. Keesokan harinya, Sakura ditugaskan oleh Kakashi mengawal Tazuna, sedangkan Sasuke dan Hisakata kembali berlatih. Naruto mengawasinya sambil mencoba melakukan jutsu kecil.

"Bagaimana, senpai?" Tanya Hisakata saat istirahat sebentar untuk makan siang.

Naruto berkata. "Sudah jauh lebih baik... Kukira, baik aku maupun Kakashi akan mulai sedikit berlatih untuk mengembalikan kemampuan kami yang agak tumpul sejak kami harus dirawat karena kelelahan. Yah, kira-kira mulai besaok." Sasuke memandang pohon tempat mereka berlatih.

"Apa latihan ini ada gunanya?" Tanya Sasuke. Naruto hanya tersenyum.

"Tentu saja. Kaki adalah bagian tubuh yang paling sulit dialiri oleh chakra secara stabil. Kalau kau menguasai pengendalian chakra secara stabil di kaki kalian, yang menjadi tujuan latihan ini, kalian akan dapat memanggil dan mengendalikan chakra lebih baik.

Terutama dalam penggunan jutsu elemen. Kestabilan chakra saat penggunaan jutsu elemen akan mempenaruhi kualitas jutsu yang dihasilkan. Misalnya, jutsu apimu. Kau bisa mengeluarkan api pada panas stabil,bahkan mengatur panas dan ukurannya kalau menguasai latihan ini," Naruto berkata. Sasuke diam dan menyimak.

"Ada juga keuntungan fisik. Saat kita menguasai chakra dengan stabil, kita dapat mengirimnya ke bagian tubuh tertentu untuk tujuan tertentu. Latihan ini, setelah kalain kuasai, akan membuat kalian dapat ergerak dalam lingkungan apapun, dan penambahan chakra pada kaki akan memperkuat lompatan dan mempercepat lari." Jelas Naruto.

Sasuke terdiam. Dia tahu, lebih cepat berarti musuh tak sempat bersiap melindungi diri. 'Latihan ini sangat berguna.'

"Anu, senpai... Zabuza itu, waktu itu berdiri di atas air... Kakashi sensei juga... Apa ada trik khususnya?" Tanya Hisakata penasaran. Sasuke pun kembali fokus pada Naruto.

Naruto tertawa kecil. "Selesaikan latihan ini. Kalau kau bisa mengaplikasikan ini dalam pergerakan kalian, tanpa harus berpikir lagi, aku akan memberitahu akan hal itu."

Hisakata merengut, tapi Sasuke menariknya. "Itu artinya berjalan di atas air latihan lanjutan. Kuasai ini dulu, dasar bodoh..." Katanya dengan suara monotone.

Naruto yang memutuskan mereka dapat berlatih sendiri, kembali ke rumah Tazuna. Dia lalu berdiskusi dengan Kakashi sambil melihat denah kota dan jembatan. Kakashi sudah terlepas dari kruk yan tadinya dia pakai, dan mulai melakukan push up dengan 3 jari. "Sudah sampai mana pemulihanmu, Kakashi-sensei?" Tanya Naruto.

Kakashi mengepalkan tangannya setelah push up 400 kali. "Baru seperenamnya pulih. Yah, mungkin keadaan Zabuza dan Chiharu tidak lebih baik, bahkan mungkin masih lebih buruk dari kita. Kamu sendiri?" Tanya Kakashi.

Naruto mengalirkan chakra di tangannya. "Belum bisa ke jutsu yang butuh banyak chakra, tapi sudah jauh lebih baik," Dia menghela napas. "Kuharap, tidak ada apa-apa selama kita tidak dalam keadaan baik." Kakashi mengangguk.

Zabuza berbaring di tempat tidur. Lukanya sudah tertutup, tapi tubuhnya masih lemas karena kelelahan. Keadaan Chiharu sama saja. Walau tidak dalam kelelahan akibat kehabisan chakra, lukanya lebih parah.

Haku dengan sabar merawat mereka. Dia sedang mengecek luka Chiharu dan Zabuza, saat Gatou dan dua ank buahnya, samurai amatiran, masuk. "Zabuza... Ha! Apanya yang sang iblis besar Kirigakure, akhirnya kau dikalahkan semudah ini." Dia berkata dengan sombong. Kedua samuarai itu terkekeh.

Zabuza mendengus. "Jangan banyak bicara, mulutmu bau busuk. Aku akan menyelesaikan tugasku, dan itu pasti. Pergilah, kau mengganggu saja."

Chiharu tertawa kecil. "Yah... Babi kecil itu cuma takut karena ada yang memukul mundur sewaan termahal nya. Sabar, Zabuza-kun."

Gatou terlihat marah. "Sepertinya, kau lupa siapa yang sekarang lebih unggul... Kalian berdua, ajari mereka untuk menghormati atasan mereka." Kedua samurai itu menyeringai, dan maju sambil menarik pedang.

Haku berdiri di samping mereka, dengan dua pedang yang seharusnya mereka pegang, menghunus leher mereka. Kedua Samurai itu langsung berkeringat dingin. "Maju selangkah lagi, dan kalian mati," Dia membuang pedang itu, membuatnya tertancap di lantai batu yang keras. Dia menggenggam lengan Gatou hingga mematahkannya. "Jangan sekali-kali mengancam Zabuza-sama."

Gatou yang ketakutan setengah mati, lari tunggang langgang setelah berteriak 'Selesaikan tugasmu segera' diikuti pengawalnya yan akhirnya berhasil mengambil pedang mereka yang tertancap.

Chiharu bersiul. "Keren, Haku-chan! Zabuza, kau punya murid yang sangat mahir." Haku tersenyum malu.

Zabuza memandangnya dengan tatapan aneh. "Kau tak perlu melakukan hal mencolok semacam itu," Dia menyingkap selimutnya. Dia memegang kunai, siap melempar. "Dan kau juga, kaupikir aku tidak tahu kau juga siap membunuh mereka?" Suaranya agak kesal.

Chiharu tertawa. Dia menaruh alat suntik kecil berisi cairan berwarna hitam. "Racun torikabuto. Sekali masuk, dia akan jadi mayat dalam beberapa detik. Zabuza-kun memang keren ya~" Zabuza memegang kepalanya, terlihat seperti orang yang sakit kepala.

"Aku ingin mencekikmu. Berhenti terkikik dan berhenti berkata dan memandangku dengan cara aneh itu." Chiharu terkikik lagi. Haku segera menengahkan mereka, sebelum Zabuza melompat dan mencekik Chiharu.

Dia sendiri heran, karena dua orang ini bisa berpartner dengan sangat baik, dengan segala kekacauan yang mereka lakukan saat mereka di luar pertarungan. Dia akhirnya berganti pakaian. "Zabuza-sama, Chiharu-san, aku akan mengumpulkan rumput obat lagi. Persediaannya hampir habis karena dipakai untuk pengobatan anda sekalian. Kumohon, jangan membuat hal yang membuat keadaan anda memburuk." Zabuza mengeluarkan geraman ssebagai jawaban. Chiharu, yang sepertinya agak lelah, hanya mengangguk.

Haku pun keluar dengan pakaian orang sipil. Dia berjalan dengan tenang di pinggir hutan, melihat-lihat. 'Kalau tidak salah... di bagian utara...' Dia memandang sekeliling, sebelum melompat pergi menuju tempat rumput obat. Dia akhirnya menemukannya. Dia mendarat di kejauhan, karena areal itu dekat dengan pemukiman. Dia berjalan perlahan, saat merasakan sinyal chakra. Dia berjalan dengan menyembunyikan sinyal chakranya. Dia masuk ke padang rumput obat, menemukan dua orang yang tertidur disana.

Keduanya orang yang pernah dilihatnya. Dia mendekat. Tangannya mendekati orang berambut pirang. "Kau bisa masuk angin kalau kau tidur disini, dik."

Lelaki itu membuka matanya. Mata birunya memandang kosong untuk beberpa saat, sebelum akhirnya tersentak. Haku tertawa kecil. Dia akan membangunkan orang berambut hitam yang tidur disebelahnya, namun tangannya ditahan. "Biarkan saja dia. Dia butuh istirahat." Lelaki itu melepas jaketnya, menutupi tubuh lelaki yang tidur itu.

Mereka lalu mengobrol. Haku akhirnya tahu namanya. 'Uzumaki Naruto... Dan Hisakata Hakumei...'

Akhirnya, Hisakata bangun. Dia dan Naruto membantu Haku mengumpulkan obat. "Sedang mengumpulkan obat ya... Oh iya... Rumah sakit disini ditutup, kan? Memang sulit untuk berobat dalam keadaan seperti ini..." Haku agak merasa bersalah, karena dia membantu orang yang menyebabkan hal itu. Dia membuang jauh-jauh perasaan itu.

"Jadi, kalian shinobi dari Konoha?" Tanyanya ramah. Naruto mengangguk

"Kami sedang dalam misi perlindungan seseorang... Dia dan aku sedang berlatih untuk memperkuat diri." Haku terdiam.

"Kau tahu, arti kekuatan yang sebenarnya?" Naruto memandangkanya. "Kukatan yang sebenarnya... Muncul saat kita melindungi apa yang berharga bagi kita."

Naruto tersenyum. "Aku tahu akan hal itu. Dan kini, aku sedang melindungi mereka," Katanya, sambil menunjuk Hisakata. "Dia juga tahu. Karena itu dia berlatih sangat keras. Untuk melindungi yang berharga baginya."

Haku tersenyum, lalu berdiri. "Kalau begitu, kalian akan jadi shinobi yang hebat. Sampai bertemu lagi, Uzumaki-san, Hakumei-san," dia berjalan beberapa langkah, lalu terhenti. "Oh iya, aku ini laki-laki, lho." Dia melenggang pergi setelah berkata seperti itu.

Naruto hanya tertawa kecil. Sedangkan Hisakata shock. "Auranya... Pergerakan tubuhnya... Tidak mungkin." Katanya lemas.

Sasuke datang dan memandang Hisakata dengan ekspresi aneh. "Ayo. Sarapan dan latihan lagi. Dasar... Tidak pulang semalaman."

Kakashi sedang push up dengan satu jari, dengan Tazuna dan Sakura duduk di atasnya. "Kalau mereka sudah selesai, besok kita akan menjaga Tazuna dalam satu tim penuh. Tenang saja, Sakura." Katanya, setelah melakukan push up ke 386.

Setelah melakukan push up 400 kali, dia mengepalkan tangannya. 'Besok aku sudah siap... Tapi, kemungkinan Zabuza juga sudah...' Kakashi memandang Naruto. Dia sedang membuat kristal es berbentuk bangau dengan ekspresi bosan. Dia telah berlari mengelilingi kota 30 kali dan push up 200 kali. 'Tapi, kami juga sudah hampir siap. Tinggal tergantung pada dua orang itu...'

Kakashi ingat laporan Naruto. Mereka sudah melebihi 2/3 dari tinggi pohon, dan terus bertambah setiap saat. Kakashi hanya berharap mereka bisa selesai hari ini. Sepertinya, mereka berlaih dari pagi-pagi sekali. Erangan kesakitan terdengar dari arah Naruto. Kakashi memandang, Naruto terlihat menahan sakit. Dia memeriksanya. "Kau masih belum siap sepenuhnya. Istirahatlah." Kakashi berkata. Naruto hanya meringis sambil mengannguk.

Sakura mendekati Kakashi. "Sensei, lukanya masih..." Kata-katanya terputus.

Kakashi mengangguk. "Sepertinya, sistem aliran chakranya terluka lebih parah dari perkiraan... Walau dengan sistem regenerasi dan penyembuhannya yang sangat cepat sekalipun, kemungkinan dia baru pulih sepenuhnya besok lusa. Besok sore, kalau dia benar-benar dalam kondisi baik."

Naruto meringis. Dia mencoba melepas jutsu esnya keluar jendela, saat seluruh tubuhnya mulai sakit. 'Tapi, aku sudah bisa melakukan hampir seluruh jutsuku... Tinggal yang membutuhkan chakra besar saja yang belum bisa kulakukan...'

Sakura memperhatikan dengan seksama. "Apa sistem aliran chakra manusia sangat sulit sembuh?" Sakura bertanya pada Kakashi.

Kakashi mengangguk. "Karena hampir seluruh sistem chakra mengelilingi organ dalam. Ditambah lagi, pusat pengeluaran chakra itu ada di organ yang paling penting di tubuh manusia. Karena itulah, saat terluka, ada kemungkinan akan cukup sulit sembuh, karena sistem aliran chakra terbentuk seperti saluran pembuluh darah."

Sakura mengangguk. Dia memandang Naruto yang kini telah tenang, kini sedang memandang dengan bosan ke luar jendela. Dia lalu mengingat kejadian saat mereka baru tiba. 'Mereka semua bisa terluka lebih parah... Aku... Ingin melakukan sesuatu...' Dia mengepalkan tangannya, berjanji pada dirinya sendiri akan mencari hal yang bisa dia lakukan agar dapat membantu mereka, setelah kembali ke Konoha.

Seperti yang diharapkan, Hisakata dan Sasuke berhasil menyelesaikan latihan mereka. Mereka kini duduk dengan lelah di kursi. Kakashi menenangkan Sakura yang khawatir, berkata bahwa mereka akan baik-baik saja.

Tiba-tiba, seseorang memukul meja. Inari berdiri, dengan wajah marah. "Kenapa kalian tidak menyerah saja! Kalian toh akan mati ditangan Gatou!"

Hisakata bersandar di kursi, dia terlihat kesal. "Memangnya kenapa? Ada masalah?" katanya.

"Kalian hanya membuang waktu! Kalian semua akan mati ditangan Gatou! Jangan sok jadi kuat! Melakukan hal sia-sia!" Inari berteriak dengan marah. Dia menangis.

Naruto berdiri, meninggalkan meja. "Silahkan saja kalau kau mau tetap menangis, bocah cengang. Kau pikir, dengan begitu semuanya selesai? Dengan menangis, merengek dan menyalahkan orang, kau pikir bisa menyelesaikan semua?" Sakura berkata memperingatkan Naruto, namun Naruto mengacuhkannya. "Terima kasih, Tsunami-san." Dia naik ke atas.

Mereka memang telah diceritakan tentang Kaiza, ayah angkat Inari, dan pahlawan di tempat ini, sebelum Gatou menangkap dan mengeksekusinya di depan penduduk. Sakura sendiri merasa iba, bahkan tidak menanggapi setiap kata-kata buruk Inari.

Kakashi menghela napas. Hisakata masih dalam mood yang buruk. Sasuke menariknya ke kamar. "Mereka... Yah, aku memang merasa mereka akan bersikap begitu." Kakashi bangkit, lalu berjalan menuju teras rumah, tempat Inari sedang duduk untuk berbicara.

Tsunami menatap mereka, lalu memperhatikan Naruto yang kebetulan turun. Dia mengenakan baju ninjanya. "Aku ada keperluan sebentar." Sakura hanya bisa mengangguk.

Naruto berada di pinggir sungai di areal hutan. Dia menghela napas, lalu melepas penyamarannya. Lima ekor melambai dengan tenang. Kupingnya bergerak-gerak, mencari pergerakan mencurigakan. Setelah merasa aman, dia duduk bersila. "Ini melelahkan, tapi aku harus siap untuk besok." dia merapal tangannya.

Chakra keunguan muncul, dan berputar-putar mengelilingi tubuhnya. Setelah beberapa saat, akhirnya chakra itu hilang. Naruto terlihat lelah. Dia memasang penyamarannya lagi, lalu kembali ke rumah Tazuna.

Done!

Chapter berikutnya, jadi akhir dari Nami Arc!

Sampai jumpa!

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.