Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

High School DxD: Ichiei Ishibumi

.

.

.

Lagu yang mengiring chapter ini:

Listen by One Ok Rock feat Avril Lavigne

.

.

.

Kasih Tak Memilih

Author: Kenjo Mika

.

.

.

Chapter 14. Konser

.

.

.

[Maukah kau menjadi pacarku?]

[Tidak!]

[Kenapa?]

[Karena aku sudah punya pacar! Jangan ganggu aku lagi!]

[Hmmm... Kau memang gadis yang menarik ya Koneko-chan.]

[Jangan pernah merayuku! Dasar, laki-laki playboy!]

[Oke. Aku mengerti!]

PIP!

Koneko membuka matanya spontan ketika mengingat semua itu. Sasuke yang berulang kali menelepon dan men-sms-nya. Lalu Sasuke mencoba ingin merayunya tapi ditanggapinya dengan sanggahan kasar. Hingga ia memutuskan untuk tidak pernah membalas telepon dan sms Sasuke. Bahkan ia sudah mengganti kartu lama ponselnya dengan kartu baru.

Ia tidak ingin mengkhianati Naruto walaupun Sasuke berulang kali menyatakan cinta padanya. Ia terus membentak saat Sasuke merayunya dengan kata-kata manis melalui komunikasi telepon. Bahkan membalas dengan kalimat-kalimat pedas melalui sms supaya Sasuke tahu bahwa dia tidak mudah terbujuk dengan rayuan gombal. Ia tidak akan mendua dan bertekad akan menepati janjinya itu.

Oleh sebab itu, Koneko merasa gelisah beberapa hari ini. Ia merasa telah membohongi Naruto jika selama ini ia dan Sasuke saling berkomunikasi melalui ponsel walaupun hanya sebatas teman. Tidak lebih dari itu.

Tapi, ia takut membayangkan bagaimana reaksi Naruto setelah mengetahui kebenaran ini. Ia takut Naruto salah paham padanya dan menganggapnya pengkhianat. Dia tidak berselingkuh dengan Sasuke, hal itu terus dia teriakkan di dalam hatinya.

'Apakah Naruto mau mendengarkanku kalau aku menceritakan ini?' batin Koneko yang memegang ujung selimut birunya. Ia masih terbaring di ranjangnya.

Tiba-tiba...

TOK! TOK! TOK!

Pintu kamar Koneko diketuk seseorang. Koneko segera bangun dan menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Masih mengenakan piyamanya, ia turun dari ranjangnya dan berjalan cepat menuju ke pintu.

KLAK!

Pintu terbuka oleh Koneko. Sosok pria berambut pirang berdiri di depannya, tengah tersenyum manis padanya.

"Selamat pagi, Koneko-chan."

"Selamat pagi, Naruto-kun."

"Syukurlah kau sudah bangun," Naruto memegang kedua bahu Koneko."Cepatlah mandi dan persiapkan dirimu. Hari ini, kan, kita akan konser tunggal sama-sama."

"Hari ini... Konser tunggal Five Tales ya?"

"Iya. Jam 9 pagi, kita harus sudah ada di studio tv Suna One."

"Oh iya, aku hampir melupakannya."

"Dasar, kau itu."

Naruto mengacak-acak rambut Koneko hingga berantakan. Koneko menatap Naruto dengan wajah kusut.

"Ada apa?" tanya Naruto yang menyadari perubahan wajah Koneko.

"A-Ano... Se-Sebelum itu... Bisakah kita berbicara sebentar di dalam?" jawab Koneko dengan nada yang lembut.

"Tentu. Ayo, kita berbicara sekarang!"

Naruto mendorong Koneko untuk masuk ke dalam kamar. Pintu ditutup oleh Naruto. Mereka berdiri di dekat pintu yang tertutup tersebut.

"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Naruto lagi.

"A-Ano... Ma-Maaf... Sebelumnya... A-Aku telah membohongimu," Koneko menjawabnya dengan gugup.

"Membohongiku? Maksudnya?"

"Se-Sebenarnya... Se-Selama ini Sasuke terus menghubungiku. Di-Dia merayuku dan memintaku untuk menjadi pacarnya. Dia terus memaksaku. Aku langsung membalasnya dengan kata-kata yang kasar. Tapi, dia tetap saja menggangguku."

"..."

Naruto terdiam mendengarkan pengakuan Koneko. Koneko menundukkan kepala. Ia sangat takut jika kebenaran ini mengoyak hati Naruto lagi. Tapi, ia harus melakukannya agar tidak ada lagi beban yang ia pikul di pundaknya. Ia ingin mengawali hubungan barunya ini bersama Naruto dengan sebuah kejujuran. Tidak ingin ada kebohongan yang tersimpan di antara mereka.

Koneko tetap memberanikan dirinya untuk menjelaskan tentang apa yang dilakukan Sasuke padanya. Naruto tetap terdiam mendengarkannya hingga ia selesai menjelaskan semuanya.

"Begitulah... Naruto-kun. Sasuke sangat bersikeras mendapatkanku. Tapi, aku sudah menjelaskan padanya bahwa aku adalah pacarmu dan sebentar lagi aku akan menikah denganmu. Aku takut aku menyakiti hatimu jika kau mengetahui semua ini dari orang lain. Karena itu, aku langsung menceritakan semuanya padamu sekarang."

"..."

Naruto tetap terdiam dan memandang Koneko dengan datar. Koneko tetap menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal kuat.

"Aku harap kau mengerti dengan semua ini, Naruto-kun. Kumohon..."

Koneko mengangkat kepalanya untuk melihat reaksi Naruto. Naruto berwajah cerah dan memegang dua pipinya dengan erat.

"Aku mengerti. Aku sudah tahu kalau Sasuke mengincarmu. Walaupun kau tidak menceritakannya, aku tetap mengetahuinya."

"Jadi...," Koneko berwajah kusut."Kau tidak marah padaku?"

"Tidak."

"Maafkan aku."

"Tidak apa-apa."

Naruto tersenyum dan kemudian mengecup bibir Koneko. Koneko membalasnya. Mereka berciuman selama beberapa detik.

Setelah itu, Naruto melepaskan ciumannya dari bibir Koneko. Ia membelai puncak rambut Koneko dengan lembut.

"Ya sudah. Jangan pikirkan itu lagi. Yang penting sekarang kau mandi dan persiapkan dirimu. Aku akan menunggumu di bawah."

"Hn."

Koneko mengangguk. Naruto tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Koneko. Ia keluar dari kamar Koneko.

KLAP!

Pintu kamar ditutup kembali oleh Naruto. Koneko yang ditinggalkan, hanya terpaku. Wajahnya merona merah. Senyuman simpul tercetak di wajahnya.

"Hmmm... Syukurlah, Naruto tidak marah padaku," gumam Koneko yang memegang bibirnya. Ia masih merasakan manisnya ciuman Naruto yang membekas di bibirnya.

Kemudian ia memutuskan untuk mandi. Segera bersiap-siap untuk menghadiri konser tunggal Five Tales. Juga inilah hari pertamanya menjadi vocalis Five Girls.

.

.

.

Naruto dan Koneko beserta para anggota Five Tales dan Five Girls sudah tiba di gedung studio tv Suna One. Mereka berkumpul di ruang tunggu bersama para band lainnya.

Suasana sangat ribut karena suara sahut-sahutan dari orang-orang. Naruto juga berbicara dengan para anggota Five Tales. Koneko ikut juga berbicara dengan para anggota Five Girls. Mereka duduk saling berhadapan.

"Apakah kalian sudah mengerti?" tanya Naruto selaku pemimpin Five Tales.

"Mengerti!" jawab para anggota Five Tales kecuali Sasuke.

"Oke! Kita lakukan yang terbaik!"

"YA!"

Para anggota Five Girls juga sama semangatnya dengan Five Tales. Semangat mereka berkobar layaknya api karena Serafall yang memulainya.

"Five Girls! Tunjukkan kemampuan kalian di konser musik ini!" teriak Serafall yang tiba-tiba memakai toa."Kita harus berjuang bersama Five Tales! Oke?"

"OKE!" balas para anggota Five Girls.

Beberapa band lain tersenyum melihat tingkah mereka. Mereka ikut bersemangat untuk menunjukkan kemampuan mereka di panggung konser tunggal Five Tales ini.

KLAK!

Pintu ruang tunggu terbuka. Minato dan Gaara masuk ke ruangan itu.

"Selamat pagi, semuanya!" sapa Minato ramah.

"Selamat pagi, Minato-san!" seru semuanya.

"Ayo, semuanya keluar sekarang! Acara akan segera dimulai. Yang pertama maju adalah Five Tales."

"Baik, Tousan!" Naruto bangkit berdiri dari sofa."Teman-teman, ayo kita pergi!"

"Ya," semua anggota Five Tales menjawab kompak.

Five Tales keluar dari ruang tunggu. Diikuti dengan beberapa band lainnya. Mereka akan ikut serta mengisi acara konser tunggal Five Tales tersebut.

Tinggallah Five Girls, Minato, dan Gaara di sana. Five Girls akan tampil ketika memasuki pertengahan acara. Mereka akan tampil bersama Five Tales dalam kolaborasi tiga lagu nonstop.

Minato datang menghampiri Five Girls yang masih duduk di sofa. Ia menyapa mereka dengan ramah.

"Selamat pagi, semuanya!"

"Selamat pagi, Ojisan!"

"Bagaimana perasaan kalian sekarang? Jawab satu-persatu."

Perhatian Minato tertuju pada Raynare. Raynare bersikap tenang.

"Aku biasa saja, Ojisan," tukas Raynare yang menyilangkan kakinya.

"Aku deg-degan," tutur Serafall yang memasang wajah cemas.

"Ini pengalaman pertama bagiku karena bisa berkolaborasi dengan Five Tales," ujar Akeno yang tersenyum.

"Menyenangkan," kata Ophis dengan nada yang datar.

"I-Ini hari pertamaku tampil. Ja-Jadi, aku sangat gugup, Ojisan," jelas Koneko yang menundukkan kepalanya.

Minato tertawa kecil melihat reaksi para gadis itu. Gaara tersenyum simpul.

"Hahaha, begitu ya? Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Lalu untuk Koneko, kau tidak usah gugup. Bernyanyilah dengan hatimu, jangan pikirkan apapun yang membuatmu takut. Naruto sudah menjelaskan semuanya padamu, kan?"

Koneko mengangkat wajahnya untuk melihat Minato. Ia mengangguk pelan.

"Iya. Aku mengerti."

"Baguslah. Lakukan yang terbaik ya."

Minato menepuk pundak Koneko. Ia tersenyum. Bersamaan muncul seseorang yang masuk ke ruangan itu.

Semua orang melihat ke arahnya. Ia adalah seorang gadis berambut merah dan bermata violet. Namanya Harukawa Sara. Manager Five Girls.

"Maaf, aku terlambat!" Sara datang mendekati Five Girls itu.

"Sara-san... Untung anda datang tepat pada waktunya," Serafall bangkit berdiri dan membungkuk hormat pada Sara.

"Ya. Apa persiapan kalian sudah lengkap semua?"

"Sudah. Sesuai dengan apa yang Anda atur untuk kami."

"Syukurlah..."

Sara tersenyum lega lalu menoleh ke arah Minato dan Gaara.

"Ah... Se-Selamat pagi, Minato-san, Gaara-san. Ma-Maaf, aku seenaknya masuk tanpa permisi," Sara membungkuk hormat pada Minato.

"Selamat pagi, tidak apa-apa, Sara-san," Minato tersenyum.

"Acara sudah dimulai. Apa anda ingin melihatnya?"

"Ah iya. Benar juga. Ayo, Gaara, kita ke sana!"

"Baik, Minato-Ojisan."

Minato dan Gaara keluar. Sara dan Five Girls menyaksikan kepergian mereka sampai hilang dari pandangan.

Hening beberapa detik.

Suara Serafall memecahkan keheningan di tempat itu.

"Oh iya, apa kalian ingin melihat konser itu?"

"Tentu," Akeno langsung mengangguk.

"Ayo, kita langsung ke sana saja!" ajak Sara yang melangkah duluan.

Semuanya mengangguk dan mengikuti Sara. Keluar bersama dari ruang tunggu itu.

.

.

.

Panggung mewah berdiri di antara ribuan penonton. Panggung yang terletak di studio tv Suna One, ditata sedemikian rupa oleh ahlinya. Berbekal pencahayaan sangat lengkap dan spetakuler dengan diiringi alunan musik yang indah, menambah semaraknya acara konser tunggal Five Tales itu.

WAAA! WAAA! WAAA!

Sorak-sorai penonton bergemuruh ke seantero tempat itu. Kelap-kelip lampu berwarna merah dan hijau, menambah suasana semakin meriah. Apalagi Naruto menyanyikan sebuah lagu energik bergenre rock bersama bandnya. Membuat semuanya terhanyut dalam alunan musik yang menggila.

Semua orang yang berdiri di belakang panggung, terpaku menyaksikan aksi panggung Naruto. Terutama Koneko yang begitu takjub. Ia merasa senang karena Naruto yang sekarang sudah berbeda dengan Naruto yang dulu.

Ya, Naruto yang sekarang adalah penyanyi yang sangat dikenal dimana-mana. Bukan Naruto seorang butler yang tidak dikenal siapapun. Naruto yang sekarang adalah laki-laki yang kuat dan memiliki cinta yang setia, bukan Naruto yang rapuh dan kehilangan cintanya. Naruto yang sekarang bukan anak dari kalangan bawah, tapi anak dari kalangan atas.

Naruto yang baru, bertransformasi menjadi bintang abadi di dunia musik. Uzumaki Naruto, sang vocalis Five Tales yang telah sukses menjadi penyanyi.

Derap-derap langkah kaki Naruto terus terhentak di lantai panggung. Naruto mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk bernyanyi. Semuanya semakin bersemangat saat Naruto berteriak seperti rocker sejati.

WAAA! WAAA! WAAA!

Tepuk tangan yang meriah kembali bergemuruh di tempat itu. Mengakhiri lagu yang dinyanyikan Naruto. Diganti dengan band lain, musik mengalun kembali tapi kali ini bernada santai.

Waktu jeda istirahat selama sepuluh menit untuk Five Tales. Five Tales kembali ke belakang panggung, beristirahat sejenak sebelum tampil kembali.

Kesempatan itu, dimanfaatkan Naruto untuk mendekati Koneko. Ia langsung datang ke tempat Koneko menunggu. Koneko sedang duduk di bangku panjang bersama Five Girls dan Sara, tepatnya di lorong kecil yang ada di belakang panggung.

"Ikuti aku!" Naruto langsung saja menarik tangan Koneko.

"Eh? Na-Naruto-kun, tunggu!" Koneko kewalahan saat ditarik Naruto.

Five Girls dan Sara keheranan saat menyaksikan kepergian pasangan sejoli itu.

"Eh? Mereka berdua mau kemana?" tanya Serafall yang penasaran.

"Paling-paling mau bermesraan dulu sebentar," tebak Raynare yang bersidekap dada.

"Mungkin saja," Ophis mengangguk.

"...," Akeno terdiam dengan muka yang kusut.

"Hmmm... Aku baru tahu kalau Naruto dan Koneko berpacaran. Hmmm... Hmmm...," gumam Sara yang memegang dagunya.

Sementara itu, Naruto membawa Koneko ke ruang ganti. Di sanalah, mereka berduaan. Pintu pun tertutup.

Koneko berdiri sambil menyandarkan punggungnya ke dinding, di dekat pintu tertutup itu. Naruto memegang dua pipinya dengan erat.

"Naruto-kun... Kau mau apa?" Koneko merasa berdebar-debar tatkala ditatap lekat-lekat oleh Naruto.

"Apa kau merasa gugup?" Naruto memandang kedua mata Koneko.

"I-Iya."

"Kalau begitu, sama. Aku juga gugup."

"Hah?"

Koneko ternganga, tidak mengerti dengan maksud Naruto. Naruto menyengir lebar.

"Ini konser pertamaku. Aku benar-benar gugup. Padahal... Sebelumnya aku terbiasa melakukannya."

"Terus?"

"Tapi... Aku berusaha menghilangkan rasa kegugupanku. Aku berusaha bernyanyi seperti biasa. Syukurlah, semuanya berjalan lancar."

"Baru satu lagu yang kau nyanyikan, kan? Sebentar lagi, kau akan tampil lagi."

"Iya. Aku tahu itu. Itu semakin membuatku gugup. Aku pikir jika aku menciummu pasti semuanya akan berjalan lancar."

Karena perkataan Naruto itu, wajah Koneko memerah. Lantas ia menjawabnya.

"Pasti ini alasanmu saja supaya kau bisa mencari kesempatan untuk menciumku. Benar, kan?"

"Benar sekali."

"Ah... Sudah kuduga."

"Jadi, kau mau memberikan satu ciuman supaya aku bersemangat lagi?"

"Hn."

Koneko mengangguk pelan. Semburat merah tipis hinggap di dua pipinya. Ia tersenyum simpul.

Naruto merasa senang ketika mendapat lampu hijau dari Koneko. Ia memegang dua pipi Koneko erat-erat. Wajahnya secara perlahan-lahan mendekati wajah Koneko.

Koneko menutup kedua matanya dan menunggu Naruto. Kepala Naruto sudah miring ke kanan. Sedikit lagi, ia mencapai ke tempat ia tuju.

Bibir Koneko yang berwarna peach itu, menyatu dengan bibir Naruto. Naruto sangat menikmati manisnya bibir Koneko. Ia sangat menyukainya.

Tapi, waktu yang ia miliki sangatlah terbatas. Ia ingin melakukannya lebih lama lagi. Karena baginya, Koneko adalah kekuatannya.

Ia memilih untuk mengakhirinya. Perasaannya jauh lebih tenang. Membuatnya bersemangat untuk bernyanyi lagi.

"Terima kasih," kata Naruto dengan nada yang lembut."Kalau kita sudah menikah nanti, aku ingin melakukannya lebih lama lagi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu."

"Hn. Kau bebas melakukannya nanti," tukas Koneko yang tersenyum.

Naruto juga tersenyum. Ia mencium kening Koneko.

"Ya sudah. Kita keluar sekarang yuk."

"Iya."

Sambil bergandengan tangan, mereka keluar dari ruang ganti. Merasa senang antara satu sama lainnya.

Seseorang datang dari ujung lorong. Ia melihat Naruto dan Koneko yang baru saja keluar dari ruang ganti. Segera saja ia memanggil Naruto dan Koneko.

"Koneko-chan! Naruto-kun!"

Secara kompak, Naruto dan Koneko menoleh. Seorang gadis berambut perak berlari cepat menghampiri mereka.

"Ross-san."

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Update lagi.

Sebentar lagi, fic ini akan tamat. Tinggal beberapa chapter lagi.