Naruto menatap bangunan di depannya. Sebuah rumah peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama ia tinggalkan demi bisa hidup dengan Sasuke. Tiga hari setelah Sasuke memintanya untuk sementara tinggal di Konoha, akhirnya Naruto pun mengunjungi rumah yang masih nampak seperti terakhir kali ia tinggalkan dulu. Naruto melangkah menaiki tangga menuju pintu di depan rumahnya. Dengan perlahan ia memutar knop pintu di depannya.

Ia menghela nafas, meyakinkan bahwa semua memang untuk sementara waktu sampai Sasuke bisa sehat kembali. Ia terdiam melihat pemandangan ruang tamunya. Semua memang masih seperti dulu. Lalu … apakah perasaan Sakura juga sama masih seperti dulu?

.

.

.

Naruto Fanfiction

Present

Naruto shippuden © Masashi Kishimoto

Truth, That I Love You © Ran Hime

Twitter: ranhimeuchiha

M Rated

Romance, Angst

OOC, Canon, Typo, Shonen-ai, Alur cepat dan alur maju mundur xp.

.

.

.

Chapter 14

.

Tidakkah ada pilihan lain yang bisa Naruto pilih? Selama 35 tahun ia menjalani hidup, tidak pernah satu kalipun ia kecewa terhadap takdir. Tidak juga ketika ia harus menerima kenyataan jika ia dibenci hampir seluruh penduduk Konoha hanya karena ada monster dalam tubuhnya. Ia tidak pernah mengeluh ketika ia tidak bisa memilih untuk tidak dibenci orang lain. Ia tidak pernah meminta apapun kepada Tuhan.

Tapi hari ini, setelah sekian lama Tuhan tidak pernah memberikan pilihan dalam hidupnya, Tuhan malah memberikan pilihan-pilihan yang amat sulit untuk ia pilih. Bisakah ia meminta kepada Tuhan agar ia tidak usah mendapatkan pilihan. Lalu hidupnya bisa seperti dulu lagi seperti ketika ia ikut Sasuke dan meninggalkan mimpinya untuk menjadi Hokage.

Naruto melangkah ke dalam kamarnya yang nampak terlihat seperti gudang tidak terpakai. Banyak debu yang menempati lantai kamarnya. Sarang laba-laba yang hampir memenuhi sudut dinding kamarnya itu. Ia tahu, dulu ia adalah pemuda pemalas yang suka menghabiskan sebagaian waktunya untuk tidur. Tapi ia juga ingat jika ia tidak pernah lupa untuk membersihkan kamarnya setiap minggu. Ingin rasanya Naruto tertawa ketika melihat kamarnya sekarang. Jika ini adalah kamarnya yang ada di rumah Sasuke, pasti Sasuke akan membersihkan kamar mereka tanpa menunggu Naruto untuk turun tangan.

Lagi-lagi ia teringat Sasuke.

Naruto duduk di atas ranjang kamarnya. Ia nampak tertekan ketika ia teringat akan kondisi Sasuke. Ia meremas dadanya yang terasa nyeri. Ia tidak ingin memilih, namun ia juga tidak ingin kehilangan Sasuke. Ia harus bagaimana? Ia tidak ingin putranya kehilangan sosok ayah yang amat sangat dihormati Yuki. Tapi ia juga tidak bisa berbuat banyak.

Naruto menoleh ke arah meja di samping ranjang. Di sana, di atas meja itu nampak pigura yang memajang photo tim 7 ketika ia masih berada di Akademi. Setelah sepuluh tahun ia lari dari Konoha, mengapa ia harus kembali lagi ke tempat ini? Naruto menatap wajah ceria Sakura di photo tersebut. Bukankah masih banyak ninja medis yang hebat di Konoha? Lalu kenapa ia harus meminta bantuan kepada Sakura?

Naruto mengerjap matanya perlahan seiring air matanya yang terjatuh. Semua demi Yuki!

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Sasuke mengerjap perlahan ketika ia merasa terlalu lelah hanya dengan tiduran. Ia berusaha bangun lalu duduk di atas ranjang tempat ia dirawat. Ia tersenyum ketika melihat putra kecilnya tengah serius melihat sesuatu dari balik jendela. Dengan perlahan ia turun dari ranjang lalu berjalan pelan ke arah Yuki. Ia ikut memperhatikan sesuatu yang menyita perhatian Yuki. Dan lagi ia tersenyum melihat apa yang tengah diperhatikan Yuki.

Sasuke ingat! Sasuke tidak lupa jika ia mempunya janji kepada Yuki untuk berjalan-jalan hari itu. Namun semua berubah ketika orang-orang Konoha datang dan menghancurkan rencana itu, hingga ia harus bearkhir di tempat ini. Ia masih ingat, seharusnya tiga hari yang lalu ia bisa menghabiskan waktu bersama putranya dengan mengelilingi pasar dan bercanda sepanjang hari. Namun ternyata ia harus mengingkari janjinya karena kondisinya yang tiba-tiba harus membuat Yuki khawatir.

"Yuki!"

Ia dapat melihat wajah kecewa Yuki ketika bocah itu memalingkan pandangannya dari ayah dan anak yang tengah bercanda sepanjang perjalanan di bawah sana. Sasuke dapat merasakan apa yang tengah putranya rasakan. Mungkin ada baiknya jika ia memang menepati janjinya untuk mengajak Yuki berjalan-jalan. Ia merasa telah sedikit baik.

.

.

Setelah berjalan tanpa arah sepanjang jalanan Konoha, entah mengapa kaki Sasuke malah membawanya ke Kediaman Uchiha. Ia bahkan telah lama meninggalkan Konoha, namun tetap saja ia tidak dapat melupakan jalanan ke tempat dimana ia dilahirkan dulu. Langkahnya terhenti ketika ia memperhatikan lingkungan Uchiha yang tidaklah pernah berubah sedikitpun dari terakhir kali ia menginjakkan kakinya setelah pembantaian klannya. Ia tidak dapat berekspresi ketika mengingat percakapan terakhirnya dengan Itachi ketika sang kakak hidup kembali sebagai Edo Tensei. Ia masih dapat mengingat jelas bagaimana wajah sang kakak ketika mengatakan bagaimana sangat mengesalnya Itachi telah membuat adiknya menjadi seorang penjahat. Itachi tidak bermaksud seperti itu. Itachi hanya ingin agar ia bisa kuat dan tidak mampu dikalahkan oleh Danzo. Namun nyatanya …

Sasuke amat menyesal ketika ia tahu jika rasa dendam bukanlah yang diharapkan Itachi. Kakaknya itu hanya berpura-pura agar ia bisa membunuh Itachi, agar Itachi bisa lepas dari bayang-bayang kesalahannya. Bahkan ia masih dapat merasakan perasaan yang tidak dapat ia artikan ketika ia dapat membunuh kakaknya pada hari itu. Ia tidak puas, ia tidak senang, karena kenyataanya ia ingin menangis melihat wajah pucat kakaknya. Andai saja Itachi bisa lebih jujur dalam mengungkapkan masalahnya, mungkin kini kediaman Uchiha tidaklah sesepi ini.

"Ayah … kita dimana?"

Sasuke mengerjapkan matanya ketika suara kecil putranya membangunkan dia dari lamunannya. Sasuke menoleh ke arah putranya yang memasang wajah bingung. Ia tersenyum lalu mengajak Yuki untuk berjalan lebih jauh ke dalam kawasan Uchiha tersebut.

"Ini rumah Ayah dulu!" serunya dengan senyuman kecil. Ada rasa bangga tersendiri ketika ia teringat jika ia lahir dan tumbuh dalam klan yang tetap utuh walau di bawah kekuasan Hokage. Andai saja, ya … andai saja orang tuanya tidak terlalu berambisi dalam penguasaan desa, mungkin saja keluarganya masih utuh. Ia akan selalu hidup dalam kasih sayang seorang Uchiha Itachi.

Sasuke berhenti tepat di depan bangunan yang terlihat paling besar di antara bangunan yang lainnya. Ia mengisyaratkan kepada putranya agar mengikuti dirinya masuk ke dalam rumahnya. Rasanya … hari ini ia akan banyak bicara hanya untuk mengenalkan Yuki tentang keluarga dan sejarah klannya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Berita itu cepat menyebar. Berita tentang kedatangan Uchiha Sasuke tidak hanya terlontar dari para Shinobi, akan tetapi juga para murid didik Akademi yang begitu penasaran dengan sosok pahlawan yang dulunya mantan pengkhianat desa tersebut. Calon Shinobi tersebut selalu saja berbagi cerita yang mereka dengar dari kabar burung tentang Uchiha Sasuke. Mereka cukup penasaran dengan pemuda Uchiha tersebut, namun para orang tua melarang para anaknya untuk berdekatan dengan Uchiha tersebut. Bagaimana pun para warga mempunyai ingatan buruk tentang Uchiha Sasuke.

Mereka terdiam lalu buru-buru memperbaiki duduknya ketika sosok gurunya yang masih terlihat cantik itu berdehem setelah memasuki kelas. Mereka memperhatikan ninja medis tersebut lalu mulai mengikuti pelajaran seperi biasanya.

.

Sakura tersenyum mendengar berita itu. Akhirnya, setelah bertahun-tahun ia menunggu, Uchiha sialan itu menapakkan kakinya di Konoha. Kini ia hanya tinggal menunggu salah satu dari orang yang telah menyakiti hatinya itu akan datang dan berlutut di hadapannya untuk meminta maaf. Bukankah itu terasa adil. Ia adalah pihak yang tersakiti. Bahkan salah satu dari mereka tidaklah ada yang mencoba untuk meminta maaf terhadap dirinya sebelum meninggalkan desa sepuluh tahun yang lalu.

Sakura tersenyum mengejek ketika ia tahu betapa lemahnya seorang Uchiha yang dulu pernah membuat repot Negara aliansi. Sasuke bukan siapa-siapa saat ini. Dan besar kemungkinan ia akan bisa dengan mudah menghancurkan mereka berdua. Ia tidak mempunyai kata maaf lagi setelah pengkhianatan mantan tunangannya. Ia sakit hati. Ia tidak akan membuat mereka berdua hidup tenang setelah bertahun-tahun ia hidup dengan pesakitan. Pembalasan memang akan selalu ada.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Yuki memperhatikan sekeliling ruangan yang kini ia singgahi bersama ayahnya. Ia masih belum mengerti maksud perkataan ayahnya. Jika bangunan yang kini ia pijaki adalah rumah ayahnya dulu, lalu mengapa bangunan itu begitu sepi dan seperti tidak terawat selama belasan tahun. Yuki memicingkan matanya, ketika pandangannya menangkap sebuah photo keluarga yang terpajang di ruangan tersebut. Langkah kecilnya mendekati dinding yang bercat pudar itu. Ia memperhatikan orang-orang yang ada di Photo tersebut. Keluarga ayahnya memang mempunyai ciri khas selain bola matanya yang hitam. Bahkan keempat orang tersebut berambut hitam kebiruan.

Yuki menatap tajam sosok berambut panjang dengan garis panjang di samping hidung pemuda tersebut. Ia menoleh ke ayahnya lalu kembali menatap sosok tersebut. Raut wajahnya menjadi cemberut. Ah, andai saja ibunya membolehkan dirinya memanjangkan rambutnya, mungkin ia akan telihat sekeren sosok tersebut.

"Ayah! Dia siapa?" tanya sambil menunjuk wajah sosok tersebut.

Sasuke berjalan ke arah putranya lalu berdiri di samping Yuki. Ia memperhatikan wajah yang ditunjuk oleh Yuki. Ah, dia! Kakaknya. Sudah lama sekali ia tidak lagi bisa menatap wajah kakaknya. Ia ingin tetawa ketika melihat wajah Itachi yang tersenyum dalam Photo tersebut. Kakaknya memang hebat. Tidak hanya dalam misi, akan tetapi juga dalam menyembunyikan Emosi. Dengan beban yang begitu berat akibat petinggi desa pun, kakaknya masih bisa tersenyum seteduh itu.

"Dia Uchiha Itachi, Pamanmu!"

Sontak Yuki langsung menatap wajah senduh ayahnya. Ternyata ia juga mempunyai paman. Lalu pamannya ada di mana? Kenapa rumah besar itu begitu sepi. Jika itu pamannya, bisa dipastikan jika sosok kecil dalam photo tersebut adalah ayahnya. Ternyata ayahnya begitu menggemaskan ketika masih kecil.

"Lalu paman ada dimana?" serunya sambil memperhatikan Photo tsersebut,, "Apakah mereka berdua adalah kakek dan nenek?" lanjutnya mseki ia belumlah mendapatkan jawaban dari ayahnya.

"Iya! Mereka kakek dan nenekmu."

"Ayah mirip nenek, pantas ayah terlihat cantik. Andai Yuki seperti paman yang mirip kakek, pasti Yuki akan keren seperti paman."

Sasuke tersenyum, "Jadi ayah tidak keren?"

"Ayah keren, tapi Yuki tidak!" ujarnya dengan cemberut, "mereka bilang Yuki seperti ayam."

Sasuke kembali tersenyum. Putranya memang berbeda dari kebanyakan bocah seusinya. Dan ia merasa beruntung ketika Yuki tidaklah berperingai seperti dirinya ketika berusia sembilan tahun. Penuh dendam dan rasa ingin membunuh yang tinggi.

"Mereka hanya iri denganmu! Kau putra kebanggaan Ayah!" serunya sambil beranjak dari photo keluarganya. Ia mengisyaratkan putranya itu untuk mengikuti langkahnya.

.

.

Sasuke menatap Danau di depannya. Sudah terlalu lama ia kehilangan Itachi. Namun kenyataannya kenangan tentang sang kakak tidaklah pernah pudar sedikitpun. Di tempat itu, ayahnya begitu keras menyuruhnya untuk bisa menguasai jurus bola api. Tidak peduli jika bibirnya telah terluka. Ayahnya ingin agar ia bisa sehebat Itachi. Berusaha seperti apapun, kenyataanya ia tidaklah bisa sehebat Itachi walau dalam usia yang sama seperti kakaknya ketika pertama kali mempelajari jurus klan Uchiha itu.

Sasuke berjalan ke arah ujung papan yang terbentang di pinggir Danau tersebut lalu duduk di sana. Ia meraih tangan Yuki dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Mungkin inilah saatnya menjelaskan kepada putranya tentang semua masa lalunya. Ia tidak berharap sedikitpun Yuki akan seperti dirinya dulu.

"Apa Yuki ingin menjadi Shinobi?" tanyanya tanpa menatap Yuki. Mata kelamnya menatap ke depan sembari membayangkan sorot mata Itachi yang terluka di malam pembataian klannya.

Yuki menggeleng. Ia tidak akan mau menjadi Shinobi selama ayahnya itu tidak menyukai hal tersebut. Ia tidak akan mau menjadi Shinobi jika ayahnya tidak memintanya.

"Dengarkan kata-kata Ayah!" ujarnya lalu menghadapkan badannya ke arah Yuki yang kini menghadap ke arahnya juga. Mata kelamnya menatap dalam shapire putranya.

"Yuki menyayangi Ayah, kan!"

Sasuke dapat melihat wajah putranya berubah sedih. Yuki mengangguk mencoba mengatakan jika ia menyayangi ayahnya.

"Semua adalah salah ayah. Jika Yuki menyayangi ayah, Yuki juga harus menyayangi desa ini, karena Ayah sangat mencintai desa di mana ayah dan ibu lahir." Sasuke terdiam sejenak, mencoba mencari kalimat yang mudah dipahami oleh putranya. "Ayah tidak melarangmu menjadi Shinobi, tapi satu hal yang Ayah minta darimu."

"Ap-apa itu Ayah!" ucap Yuki terbata. Ia merasakan perasaan yang kurang enak akan kalimat yang akan disampaiakan oleh ayahnya itu.

Sasuke meremas bahu putranya dengan kuat, "Apapun yang terjadi dengan Ayah, jangan pernah membenci Konoha ataupun menghancurkan Konoha."

"A-ayah!" Yuki menghambur ke pelukan Sasuke dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang ayah, "Ayah jangan berkata seperti itu," lanjutnya sembari terisak. Ia tidak akan rela jika kehilangan ayahnya.

Sasuke mengelus kepala putranya dengan lembut sambil menjelaskan apapun yang memang harus diketahui Yuki. Ia tidak mau jika akhirnya putra semata wayangnya itu menjadi seperti dirinya. cukup ia yang mengecewakan Itachi. Ia tidak akan membuat kesalahan yang Itachi buat. Untuk itulah ia memang seharusnya jujur kepada Yuki.

"Ayah yakin jika Yuki akan lebih hebat dari Ayah dan Ibu. Tapi Yuki tidak boleh menggunakan kekuatan yang Yuki punya untuk hal buruk. Ayah lebih bangga jika Yuki bisa melawan rasa sakit hati Yuki."

Sasuke terus saja berbicara kepada putranya itu. Menjelaskan secara perlahan agar putranya itu tidak menghancurkan desa kelak ketika Yuki memang ditakdirkan untuk mrnjadi seorang Shinobi.

"Pergilah ke Amegakure ketika Yuki telah lulus dari Akademi. Di sana ada pamanmu yang akan mengajarimu jurus klan Uchiha."

"Paman?" Yuki menengadahkan kepalanya, menatap wajah ayahnya bingung. Bukankah ayahnya bilang jika pamannya telah meninggal."

"Paman Obito, sepupu Ayah."

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Naruto berlari sepanjang koridor rumah sakit. Sasuke itu bodoh atau memang tidak peduli lagi akan kondisinya. Bisa-bisanya Sauke pergi dari rumah sakit tanpa meminta izin terlebih dahulu. Apa yang ada dipikiran Uchiha itu sehingga menghilang dan membuatnya khawatir. Naruto merasa frustasi ketika ia tidak juga menemukan Sasuke di semua tempat yang ia datangi. Kemana lagi ia harus mencari Sasuke. Air matanya hampir terjatuh ketika suara orang bodoh itu menyapa gendang telinganya.

Naruto segera berbalik dan menemukan Sasuke yang tengah membawa yuki di balik punggungnya. Tanpa pikir panjang ia segera berlari dan memeluk Sasuke.

"Kau kemana saja, hah!" ia hampir gila ketika mendapat kabar bahwa suaminya itu menghilang, "jangan membuatku khawatir."

Sasuke tersenyum. Ia ingin memeluk Naruto, namun tangannya kini menyangga lulut putranya yang sedang tertidur di balik punggungnya, "Aku hanya mengajak putra kita untuk jalan-jalan. Kau tahu, ia ingin seperti kita!"

Naruto melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Sasuke, "Apa maksudmu?"

"Ia akan menjadi Shinobi yang kuat."

Mata Naruto melebar. Setelah bertahun-tahun ia dan Sasuke menyembunyikan jadi dirinya, kini Sasuke malah mengharapkan putranya untuk menjadi seperti orang tuanya.

"Dan aku berharap kau masih mau menjadi Hokage!"

Mata Naruto semakin melebar. Setelah sepuluh tahun, Sasuke tidak pernah melupakan cita-cinta untuk menjadi seorang Hokage.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Yuki mengerjap matanya perlahan. Ia menggeliat lalu membuka matanya perlahan. Ia tersenyum ketika mengingat saat-saat bersama sang ayah. Namun senyumnya pudar ketika ia tidaklah menemukan Sasuke ataupun Naruto di kamar tempat ayahnya dirawat. Ia mengangkat badannya lalu duduk di atas ranjang ayahnya.

"Ayah! Ibu!" serunya sambil turun dari ranjang.

Entah kenapa perasaanya tidak enak ketika seruannya tidaklah ada yang menyahut. Ia berlari keluar kamar bercat putih itu untuk mencari ayah dan ibunya. Perasaanya semakin tidak enak ketika mengingat kalimat demi kalimat dari ayahnya ketika mereka berada di kawasan Uchiha.

Yuki mengatur nafasnya. Ia lelah ketika telah lama berlari namun tidak juga menemukan kedua orang tuanya. Sebenarnya di mana ayah dan ibunya. ia hampir saja menangis, namun semua itu ia tahan ketika melihat Naruto tengah duduk di samping sebuah pintu.

"IBUUU!" teriaknya lalu menghambur kepelukan Naruto, "hiks … Ayah!"

Yuki dapat merasakan pelukan ibunya semakin menguat. Perasaanya semakin tidak tenang.

"Apapun yang tejadi, jangan membenci desa ini."

Sontak kalimat itu maembuat tangis Yuki semakin keras. Ayahnya kuat. Tidak akan terjadi apa-apa kepada ayahnya.

.

.

.

ooO~ Ran Hime~Ooo

.

.

.

Naruto berjalan gontai menuju Akademi. Setelah Sasuke berhasil melewati masa kritisnya, mau tidak mau ia harus menemui wanita itu. Semua demi Sasuke. Tidak ada piliha lain meskipun ia dapat menemukan mata tachi. Itu sudah sangat parah. Dan lagi, Sasuke tidak akan mengijinkan mata Itachi untuk ia ambil, sedangkan mata itu kini berada di Uchiha yang lain yang masih tersisa selain suaminya itu.

Naruto terus saja berjalan, menghiraukan setiap sapaan yang ditujuakn untuknya. Ia terlalu lelah untuk memahami rahasia demi rahasia yang Sasuke simpan. Jika Itachi memberikan kedua bola matanya untuk sang adik, lalu kenapa Sasuke malah harus memakai bola mata dari salah satu Uchiha yang bahkan tidak pernah membangkitkan sharingan. Sasuke bodoh, umpatnya sepanjang perjalanan. Jika begini, ia harus menemui Sakura.

"Mencariku!" seru seseorang membuat Naruto menghentikan kedua kakinya. Ia mengangkat wajahnya dan menemukan wajah mantan tunangannya yang semakin cantik dari pada dulu. Apakah semuanya bisa lancar seperti harapannya. Perlahan Naruto memejamkan matanya.

.

.

"Mencariku?"

Sakura tersenyum sinis menatap mantan tunangannya itu. Setelah sekian lama tidak bertatap muka, ternyata Naruto telah banyak berubah. Sedikit sakit hati juga jika mengingat pengkhianatan yang Naruto lakukan. Pria itu telah berjanji akan membawa Sasuke pulang, namun nyatatanya pria itu mengingkari, bahkan yang lebih menyakitkan adalah ketika ia harus mendengar pengakuan Uchiha Sasuke yang membuat mantan tunangannya lebih memilih untuk meninggalkan dirinya.

Dengan sorot mata yang penuh luka, Sakura menatap wajah yang nampak kacau itu. Semua juga berawal dari Sasuke dan mantan tunangannya itu. Andai saja, Naruto tetap mencintainya dengan memberikan Sasuke kepada dirinya seperti yang Naruto katakan di ruangan Hokage waktu itu, pasti semua juga tidak akan seperti ini. Tapi semua terlambat. Ia sudah terlanjur sakit hati kepada pria di hadapannya itu.

"Sakura!"

Sakura dapat mendengar ada nada getir dalam panggilan itu. Ia tidak akan memberikan maaf walaupun Naruto berlutut dan mencium kakinya. Bertahun-tahun ia harus menanggung rasa sakit, dan kini pria itu datang untuk meminta bantuan darinya. Jangan harap ia akan mau menolong. Ia bukan lagi Sakura yang dulu, semenjak ia harus mmenerima kenyataan menyakitkan dari orang yang ia cintai dari Akademi dulu.

"Kau pikir aku akan membantumu?" cibirnya dengan nada meremehkan.

Ia dapat melihat wajah Naruto semakin kalut. Tidak lagi, dan untuk kali ini dia tidak akan memasang wajah simpati untuk pria itu.

"Kau pikir bagaimana bisa kau membantu orang yang pernah menyakitimu?"

Sakura dapat melihat Naruto mencoba untuk bersuara, namun tidak satupun kalimat yang keluar.

"Bahkan jika aku harus menolongmu, maka aku akan mngirim Uchiha itu ke surga agar ia tidak lagi menderita."

Sakura menatap tajam Naruto. Kedua tangan pria itu mengepal erat seolah menahan amarah.

"Jika bukan untuk Yuki, aku tidak akan repot-repot menemuimu." Seruan itu membuat Sakura ingin tertawa. Yuki … Namikaze Yuki! Bahkan ia ragu jika bocah itu adalah anak dari Sasuke.

"Memang apa hubungan anak haram itu dengan suamimu?"

"HARUNO SAKURA, APA MAKSUDMU?"

Sakura semakin tersenyum puas, sedikit lagi bocah itu pasti akan meraung dan pergi meninggalkan Naruto setelah mendengar percakapannya dengan mantan tunangannya dari balik pohon.

"Bukankah bocah itu memang hasil perselingkuhanmu selama Uchiha itu pergi." Ujarnya tanpa bergerak dari tempatnya semula. Bibirnya semakin lebar tersenyum mengejek, "Aku sangat berterima kasih kepada Kazuma karena ia telah membalaskan dendamku kepada Uchiha sialan itu."

"Kau?"

Bahkan Naruto tidak dapat melanjutkan kalimatnya ketika ia mendengar Sakura menyebut nama Kazuma.

"Aku bahkan telah mengenalnya jauh sebelum kau bertemu pria itu," serunya menjawab rasa penasaran Naruto, "Aku yang merencanakan hari itu, hari dimana akhirnya yang membuat Yuki terlahir ke dunia. Aku yang membantunya agar Sasuke meninggalkanmu. Tapi nyatanya …" ada rasa sakit di dalam kalimat terakhir Sakura, "UCHIHA SIALAN ITU BAHKAN TIDAK MEMBENCIMU. KAU DAN DIA SAMA-SAMA BRENGSEK!"

.

.

"Aku bahkan telah mengenalnya jauh sebelum kau bertemu pria itu," serunya menjawab rasa penasaran Naruto, "Aku yang merencanakan hari itu, hari dimana akhirnya yang membuat Yuki terlahir ke dunia. Aku yang membantunya agar Sasuke meninggalkanmu. Tapi nyatanya …" ada rasa sakit di dalam kalimat terakhir Sakura, "UCHIHA SIALAN ITU BAHKAN TIDAK MEMBENCIMU. KAU DAN DIA SAMA-SAMA BRENGSEK!"

Naruto terkejut mendengar pernyataan Sakura. Tiba-tiba saja langkahnya terasa mundur. Semua yang dikarakan Sakura adalah bohong. Namikaze Yuki adalah putra dari Sasuke, dan bukan orang lain. Pasti Sakura hanya ingin membuat keraguannya kembali datang.

"KAU BOHONG … YUKI ANAK AYAH!"

Tanpa sadar Naruto menoleh ke belakang dan menemukan putranya tengah memasang wajah tidak percaya. Tidak mungkin! Bagaimana bisa Yuki ada di belakangnya dan mendengar percakapannya dengan Sakura?

.

.

.

To be Continue …