Gadis itu mengerutkan alis matanya, dan tatapan bingung mulai tampak di kedua matanya. Pandangan fokus pada apa yang ada di depannya. Hanya satu yang berada di pikirannya pada saat ini. Siapa?. Melihat pemuda yang sedang tersenyum kearahnya tanpa alasan, membuatnya mengerti kalau tatapan itu adalah tatapan siap menerkam. Jika terus dibiarkan, maka pemuda itu akan membuat rencana dan membuatnya lepas kendali.

Apa yang dibayangkan dirinya terhadap pemuda itu sangat… sangat berkebalikan. Yang dimana Naruto sedang tersenyum, sebuah senyuman rindu akan sosok kakaknya yang telah lama menghilang dan di duga sudah meninggal. Pada awalnya, Naruto mengira apa yang di sampaikan oleh ingatan dalam Rinnegannya hanya sebuah ilusi yang akan menjadi sebuah realita dan tidak bisa dihindarkan lagi.

Tapi apa yang ada di pikirannya itu sama sekali tidak terjadi. Kenyataan yang ada pada saat ini bukanlah sesuatu yang berhubungan dengan ilusi. Semua itu tidak terjadi di sini, dan sebelum dirinya sempat berpikir lebih jauh, gadis yang ia anggap sebagai kakak perempuannya itu sudah memasang kuda-kuda yang membuat Naruto terbelalak melihatnya.

Terpojok, situasi Naruto saat ini. Bukannya ia tak mau melawan ataupun menghindar, tetapi asumsi 'Tidak bisa' dapat menjadi alasannya. Karena ia tidak mungkin menyerang keluarganya sendiri, beberapa aspek yang ia tekankan bahwa kakaknya saat ini memanglah belum sepenuhnya ingat tentang dirinya yang dimana ia sudah di tinggal selama puluhan tahun. Karena itu ia tidak mengerti apa yang ia lakukan pada saat ini.

Dan baru saja ia ingin berbuat sesuatu, perubahan mata amethyst itu mulai terjadi. Byakugan. Urat-urat mata yang menonjol dan kulit yang mengeras menandakan bahwa tidak ada ampun lagi. Naruto yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa mengeluarkan sebilah pedang panjang dari Fuuin jari miliknya.

Nuibari muncul dari ketiadaan.

Dan kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh pandangan mata, gadis itu melesat ke arah Naruto dengan menjulurkan telapak tangannya ke arah dada kiri Naruto, berniat menghancurkan jantungnya dalam sekali serang.

Sayangnya, gadis itu tidak menyadari bahwa mata safhire itu telah bertransformasi. Membuat kecepatan apapun yang ia miliki hanya terlihat seperti gerakan yang teramat lambat.

Dengan kecepatan yang ia latih selama bertahun-tahun, kedua tangannya berkelebat memegang kedua sisi Nuibari dan menposisikannya di depan dadanya. Dan dalam detik selanjutnya, sebuah gelombang kejut tercipta saat telapak tangan gadis itu dan Nuibari tersebut bersentuhan, membuat angin bersorak-sorai seperti para penonton.

Bertindak dengan cepat, Naruto segera melompat munudr dan mengambil sebuah kuda-kuda bertahan.

"Nee-chan… ini aku, Uzumaki Naruto!"

Gadis itu sama sekali tidak terpengaruh. "Untuk orang mesum sepertimu… aku takkan mempercayai setiap kata yang kau ucapkan. Ingat itu… tidak mungkin!"

Mendengar pernyataan itu, Naruto langsung pundung di pinggir pohon sembari mengucapkan kata-kata suram. 'Aku tidak mesum… aku tidak mesum'

Melihat lawannya yang depresi, membuat gadis tersebut menatap Naruto bingung. "Are?"

"Aku tidak mesum… aku tidak mesum…" kemudian Naruto berdiri dan menghadapnya dengan tatapan lurus, membuatnya sedikit gerogi. "Aku tidak mesum, 'kan?"

"K-kau mesum!"

"TIDAAAKKK!"

Dan ia hanya mampu terdiam dengan wajah menganga ketika melihat Naruto membentur-benturkan kepalanya ke pohon secara berulang-ulang tanpa mengidahkan darah yang mengalir.

"Pemuda yang bodoh…"


Desclaimer © Masashi Kishimoto ( ͡ ͡° ͜ ʖ ͡ ͡°)

.

.

.

Uzumaki Rinnegan © Draco

.

.

Warning : Smart!Naru, Gaje, Abal, Suram, Typo, Ooc, Strong!Naru, Over!Powered, etc

.

.

Genre : Adventure, Romance, etc

.

.

Rating : M

.

Peringatan Keras!

-Jika tidak suka tidak usah dibaca, OK!

.

Dahulu kala ada seorang petapa..

Yang menyegel pemimpin dari para Youkai..

Memiliki kekuatan mata atau Doujutsu..

Yang dikenal dengan..

RINNEGAN

.

Draco, in!

.

The Lost Sister

Chapter 14

.


Membutuhkan waktu selama setengah jam lamanya untuk Naruto menjelaskan semuanya, walau fakta bahwa kakaknya ini terlalu defensif karena setiap kali ia menatapnya karena rindu. Sampai-sampai Naruto harus mendapatkan sebuah tato di dahi nya karena terkena telapak tangan yang dipenuhi oleh chakra tersebut. Walaupun agaknya ia mendapatkan sesuatu yang menyakitkan… tetapi faktanya ia segera menepis rasa tidak senang itu, mengingat bahwa memang kakaknya sudah melupakan dirinya. Karena itulah, ia memberitahukan siapa ia sebenarnya agar dengan mudah dipercaya. Dan dalam rentan waktu setengah jam itu pula Naruto harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkan.

Namun di atas semua hal yang tertulis di atas, dia telah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa sosok di depannya ini memanglah kakaknya. Seratus persen ia percaya, karena dari segi fisik dan sifat… Naruto tidak perlu bertanya kepada ibunya dalam hal ini, dan dengan kesimpulan sesingkat itu, Naruto yakin bahwa di depannya ini adalah kakak perempuannya yang di duga meninggal karena menyelamatkan anaknya.

Hyuuga Sachi.

Selama apapun Naruto pernah menjalani apa itu rasa sakit, selama apapun ia mengalami apa itu kesedihan, dan selama apapun ia mengidap hilang ingatan… Sosok itu, orang yang sangat ia kenal baik itu, takkan pernah ia lupakan dalam hatinya. Anak pertama dari pasangan Uzumaki Atarashi dan Sera Ootsutsuki yang merupakan kakak kandungnya.

Diskusi singkat yang mereka lakukan pun membuahkan hasil yang baik bagi Naruto, tapi Naruto juga harus mengutuk dalam hatinya ketika ia mendapatkan sesuatu yang seharusnya ia tunjukkan dari awal.

Pada awalnya, Naruto hanya memberitahukan bahwa ia memanglah adiknya dan mengatakan beberapa hal tentang keluarganya, dan Naruto harus mendapatkan telapak tangan yang sudah hinggap di dahinya dan menganggap dirinya adalah seorang penyusup yang akan membongkar rahasia tentang keluarganya. Dan rasa frustasi itu membuat Naruto tidak berpikir rasional dan ia pun membuka jubahnya menampakkan sebuah simbol pusaran disana yang membuat Sachi-nee percaya pada akhirnya.

Bukannya merasa bersalah karena menyerang adiknya sendiri, Sachi-nee malah tertawa seakan-akan tidak ada yang terjadi. Dan entah kenapa itulah yang membuat Naruto harus menahan urat nadinya agar tidak putus.

"Nee-chan." Panggil Naruto pelan.

Sachi yang sedang bergelut dengan rasa senangnya ketika bertemu adik kesayangannya pun menoleh, menampakkan senyuman yang cantik. "Ada apa?"
"Etto…" Naruto menggaruk kepala belakangnya, tak yakin mau berbicara apa. "Tentang Nee-chan…"

"Naruto-kun," Sachi menyahut singkat sambil menoleh ke arah adiknya itu. "Aku mengerti tentang apa yang kamu pikirkan, tapi mengertilah bahwa saat ini aku masihlah hidup… sebagai kakakmu yang telah menghilang selama puluhan tahun di sebuah rumah yang tua dan rapuh."

Dalam perbincangan singkat itu, Naruto mengerti beberapa hal yang tidak boleh ia katakan. Pastinya, kakaknya ini akan mengalami trauma berat ketika di tinggal oleh sosok suami dan anaknya. Berbagai pikiran yang tidak seharusnya ia katakan terus berseliweran dalam kepala naruto ketika ia menyadari asumsi yang ia katakan tadi salah.

"Naruto-kun," renungan Naruto terhenti ketika mendengar panggilan Sachi. "Nee-chan akan menceritakanmu semuanya nanti, karena saat ini bukanlah waktu yang tepat… Nee-chan janji bahwa Nee-chan akan memberitahu Naru"

Mendengar nama kecilnya di lontarkan, membuat pemuda itu mengangguk paham dan tersenyum amat lebar. "Naru akan menunggu itu, Nee-chan"

"Naru, bisakah kita ke tempatmu? Nee-chan sudah lelah kalau terus bersembunyi di tempat ini…"

"Lho?" Naruto memiringkan kepalanya sedikit kesamping. "Kenapa harus sembunyi?"

"K-karena aku malu…"

"Buseehh" Suara drop Naruto terdengar. "Nee-chan sembunyi karena malu? Memangnya apa yang harus dimalukan?"

"A-aku… tidak pakai celana dalam"

Dan pada saat itulah, otak Naruto mengalami reboot secara mendadak. Dengan kepala yang mengeluarkan asap berwarna hitam seperti mesin yang baru saja konsleting. "Ya Tuhan… haruskah aku hilang ingatan saat ini juga…?"

•••

Naruto berdiri dengan tubuh menyender pada dinding bangunan kecil tersebut, sesekali matanya melirik melalui sebuah kaca yang lumayan besar untuk melihat apa yang terjadi di dalam. Matanya menangkap pemandangan yang sangat menggoyahkan kaum adam ketika berpapasan dengannya. Naruto agaknya takjub dengan paras yang dimiliki oleh kakaknya itu, sungguh… benar-benar.. cantik.

Dan Naruto harus mempertahankan wajah takjubnya sampai Sachi keluar dari toko pakaian dan menghampirinya dengan senyuman yang merekah.

"Bagaimana menurutmu, Naruto-kun?" Sachi memutar-mutar tubuhnya untuk memperlihatkan pakaian yang baru saja dibelinya. "Cantik kan?"

"Y-ya… kau memang cantik, Nee-chan"

Sachi yang mendengar hal itu pun tersenyum dan mengecup pelan pipi Naruto sembari menarik tangan pemuda yang hanya bisa diam di tempat. Membiarkan puluhan penduduk menatapnya dengan tatapan cemburu yang berlebih dari kalangan pria.

Setelah menemukan tempat yang cocok, Naruto pun duduk di bangku taman sambil mengatur nafasnya yang tidak karuan. Menahan dirinya untuk tidak mual ketika tubuhnya terpelanting akibat sentakan kuat dari Sachi ketika berlari dengan senangnya.

"Nee Naru… apakah kamu membenci mereka yang telah menghancurkan Uzushio?"

Mendengar suara itu, Naruto tahu bahwa Sachi bersaha menerima fakta yang pedih itu. Merasakan bahwa kakaknya lebih menerima beban berat yang harus di pikul daripada dirinya. Dan Naruto tahu itu… kehilangan itu lebih menyakitkan daripada sebuah rasa sakit.

Rasa sakit yang mulai menjalar dari dalam tubuhnya dan menusuk kedalam relung hatnya terdalam, menghancurkan emosi-emosi yang manusia milik hingga hanya menyisakan satu… balas dendam. Tapi Naruto tidaklah bodoh untuk langsung di makan oleh segala rayuan iblis yang selalu terngiang dalam otaknya. Karena Naruto tahu… semua kebencian yang ia simpan akan mempengaruhi Yami (Kegelapan) dirinya.

"Aku… tak tahu" Naruto tersenyum masam sambil menatap kearah langit yang luas, menatap kearah puluhan potongan awan yang tersebar. "Jika bisa dikatakan, aku benci dengan mereka… tapi aku bisa apa? Yang kulakukan saat ini hanyalah berlatih… berlatih… dan berlatih untuk melampaui mereka."

Sachi terdiam mendengar penuturan itu, ia tidak bisa mengelak dari pendapat adiknya. Ia pun juga sama seperti itu, hanya saja ia hanya mendapatkan kabarnya karena pada insiden itu ia berada di Konoha. Dan satu-satunya bukti yang bisa ia lihat adalah adiknya sendiri, yang merasakan betapa pedihnya kejadian itu.

Bingung.

Bingung, karena dirinya tak mampu berbuat apapun pada saat itu. Jika ia bisa bergerak secepat cahaya, mungkin ia akan datang dan lebih memilih untuk mati di garis depan daripada harus berdiam diri di tempat yang selalu damai ini. Karena ia tak bisa… tak bisa melihat dan merasakan kalau desa kelahirannya itu.. hancur.

Dan lama-kelamaan rasa bingung itu berubah menjadi sebuah rasa kebencian. Benci terhadap desa yang ia tempat saat ini, lebih memilih untuk menjadi pihak yang netral daripada harus membantu teman aliansinya sendiri. Seakan Uzushiogakure itu selalu sendiri. Tidak akan ada yang membantunya meskipun itu kawan sekalipun, dan tidak akan pernah menjadi sesuatu yang lebih. Takut. Mereka takut bahwa desa yang memiliki kemampuan dapat mengancam desa mereka seakan monster yang hanya bisa menghancurkan apa saja tanpa memandang kawan dan teman.

"Lantas… apa yang kamu dapatkan selama ini? Apakah kamu senang atas apa yang kamu dapatkan itu?"

Naruto menggeleng lemah. "Aku tak pernah merasakan apa itu kesenangan, terlebih lagi itu bangga.. aku tidak pernah bangga akan apa yang kudapatkan. Meskipun aku menjadi yang terkuat"

Dan jubah hitam yang dikenakan Naruto berubah menjadi putih… kalung magatama melilit bagian kerah lehernya, muncul sembilan tomoe di punggungnya dan dua buah tanduk yang menghiasi kepalanya.

"I-itu…"

Naruto mengangguk, membenarkan apa yang ada di pikiran kakaknya. "Ini adalah 'sesuatu' yang membuatku seperti mendekati kakek. Dan cita-citaku bukan hanya mendamaikan dunia, tetapi…"

Dan ketika kata-kata selanjutnya di lontarkan, Sachi hanya mampu tertegun.. memandang dengan iris mata bergetar.

.

"…menjadi Rikudou kedua"

•••

Suasana malam yang dihiasi beribu bintang gemerlap di udara..

Cuaca yang teramat dingin membuat kulit semakin mengeras dan pori-pori bermunculan atau bisa dikatakan merinding. Pohon yang menjulang tinggi bergoyang pelan mengikuti hembusan angin yang menerpa mereka. Sedikit demi sedikit, debu pun berterbangan karena sangking kuatnya angin meniup.

Hiruzen Sarutobi, memang banyak yang mengetahui statusnya sebagai Hokage Ketiga. Hiruzen merupakan sosok yang amat pendiam namun kasar apabila marah. Tidak ada yang pernah melihat kemarahan seorang Sandaime kecuali orang-orang yang disayanginya terluka.

Saat kematiannya, Hiruzen memberikan sebuah senyuman miris yang menjanjikan sesuatu untuknya seorang. Bagaimanapun, Hiruzen menganggapnya sebagai cucu sendiri. Meski mendapat status sebagai cucu angkat itu sudah cukup untuknya ketika mendapati sebuah keluarga.

Ia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu ekspresi apa yang digunakan oleh Sandaime di akhir hayatnya, mencoba tersenyum? Meh… Meskipun begitu, Naruto tahu kalau sebenarnya Hiruzen menyembunyikan sesuatu di balik senyuman itu. Seperti sebuah.

Kekuatan…

Tekad…

Keduanya saling bersatu untuk mencapai sebuah semangat yang tak pernah redup, menuju keberanian yang tak pernah luntur dan mencapai suatu kekuatan yang tak mudah hancur.

Ketika darah itu mengalir dari sudut bibirnya sampai menetes, darah penyesalan dan mengakui kesalahan timbul dari hati kecil seorang Hiruzen. Kesalahan yang pernah ia buat, sampai harus membuat seorang anak yang sudah ia anggap cucu sendiri harus menanggung beban dunia.

Ia terlalu memaksakan diri untuk melatih Naruto dengan kerja keras yang dimana dari kerja keras itu muncul ketidaksukaan dari 'mereka', rasa benci yang merasa bahwa Naruto hanyalah seorang yang gagal. Semua hasil yang ia dapatkan memanglah baik, bahkan sampai mencapai kata sempurna. Mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa merasa cemburu akan apa yang diraih oleh Naruto. Mereka cemburu karena seorang anak yang tidak bisa apa-apa kini menjadi seorang prodigy terkenal. Hingga itu semua menimbulkan apa yang sering diucapkan oleh mereka dengan kata.

Dengki.

Kedengkian yang mendalam akan mengakibatkan sebuah rantai kebencian untuk membinasakan seluruh umat di dunia ini hingga pada akhirnya hanya satu satu-satunya sosok yang mampu memutuskan rantai ini.

Siapa..?

Siapakah yang mampu?

Manusia memiliki akal dan pikiran sehingga dirinya menjadi sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Tapi karena kesempurnaan itulah yang membuat manusia egois.. sombong.. dan angkuh, tanpa menyadari bahwa terkadang makhluk lain itu jauh lebih baik dari pada manusia itu sendiri.

Hingga pada akhirnya manusia itu harus menemukan sebuah jalan, dan mereka akan merasa bahwa yang mereka lakukan hanyalah sebuah permainan. Mungkin hanya kesimpulan lah yang mampu menunjukkan semuanya, dari beribu-ribu bahkan jutaan orang.. hanya seorang saja yang mampu menanggung beban dunia di pundaknya. Mungkin inilah akhir dari semuanya, mereka takkan pernah tahu bahwa sosok yang mereka anggap remeh itu…

Akan menjadi sebuah ilusi dalam realita.

Akan menjadi secercah harapan di hari kelam.

Akan menjadi setitik cahaya di balik kegelapan.

Hingga mereka menyadari bahwa semua ini hanyalah sebuah dunia yang terus berputar seiring berjalannya takdir di atas batu. Hidup bagaikan sebuah realita semu, dimana kau akan terus mengalami kejadian yang tidak diinginkan.

Detik, menit, jam, hari pun silih berganti. Semua itu terus berputar layaknya sebuah waktu yang terus bergerak bagai keras ombak yang menabrak karang. Dedaunan berhamburan ke sana kemari mengikuti alunan angin yang berhembus dalam suasana pagi terkesan cerah ini. Para warga berlalu-lalang hanya untuk mencari sensasi baru dari cuaca hari ini, tak lupa membawa sang anak kebanggan untuk pergi ke Akademy.

Lelaki bersurai perak tengah berjalan menyusuri desa Konoha yang tak pernah berubah sama sekali, pemandangan yang begitu sejuk dan nyaman. Gemercik air dari sebuah ember yang kini telah penuh bahkan air tersebut tumpah ke permukaan membuatnya mengingat masa lalu.

Dan ia ingin sekali mengulang masa-masa itu, sebuah pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan. Bertemu kawan, guru bahkan kehidupan yang tentram.

Ia tengah tersenyum sembari melangkahkan kakinya menyusuri jalanan desa Konoha yang cukup ramai. Menggunakan sebuah dalaman berwarna putih yang ia lengkapi dengan sebuah sweater hitam dengan hoddie, celana hitam yang ia kenakan nampak agak kekecilan namun tidak mengubah fakta kalau itu takkan memperlambat kecepatan seorang Uzumaki Naruto.

Rambutnya kini sudah mulai agak panjang, hampir menyelimuti bagian kepalanya dengan bagian ujungnya mulai menghitam. Melihat hal itu, Naruto pun menggunakan sebuah syal berwarna hitam kecil untuk menahan poninya agar tidak menutupi matanya.

Malam itu, apartementnya ramai.

Sachi-nee baru saja menyelesaikan dekorasi rumah. Sekarang rumah miliknya bisa di katakan sangat… sangat feminim yang membuat Naruto harus menahan rasa pusingnya ketika melihat semua benda yang berbau khas wanita terpasang di setiap sudut rumahnya. Bahkan dindingnya di cat dengan warna serba merah muda, hanya menyisakan langit-langit rumah yang berwarna putih terang.

Naruto menghela nafasnya, dan memindahkan langkah kakinya untuk berkeliling di rumah kecilnya. Senyum perlahan muncul di wajahnya. "Aku pikir akan terjadi sesuatu, sepertinya instingku salah…" Naruto kemudian tertawa halus ketika mendapati Sachi-nee menaikkan alis matanya. "Tidak tidak.. aku pikir aku harus membeli bahan makanan untuk kita"

Dengan begitu, Naruto berjalan dengan tenang keluar dari sebuah pagar kayu yang membatasi rumahnya dengan jalanan aspal. Namun langkahnya berhenti ketika pergelangan tangannya di genggam erat oleh Sachi dari belakang.

"Nee-chan?"

"A-aku ikut denganmu, Naru… Nee-chan takut sendirian"

Naruto hanya menatap tangan yang menggenggamnya itu, gemetar. Beberapa saat berlalu, dan terlihat jelas Sachi memanglah takut jika sendirian. Ninja Konoha itu mencoba mengukir senyuman gugup. Sejujurnya, Naruto tak tahu harus berkata apa jika ia akan bertemu dengan para ANBU ataupun teman-temannya yang pasti akan mengira kalau Naruto membawa orang asing ke dalam Konoha, dan pasti kakaknya akan dibawa kedalam unit interogasi.

Hal itu sudah cukup membuat Naruto mengambil kesimpulan dari aspek-aspek ataupun hal yang berkaitan dengan masalah kedepannya. Begitu juga dengan teman-temannya… jika mereka tahu akan hal ini, pasti mereka akan menanyakan hal yang tidak-tidak, tapi.. satu masalah adalah pada Menma. Bocah gila yang merupakan penggemar wanita, pastinya kakaknya ini juga akan ditikung dan detik selanjutnya adalah tuh bocah bakalan ngadu dan mewek ke bapaknya.

Naruto kemudian tersenyum. 'Tak baik memikirkan sesuatu yang belum terjadi'

"Baiklah, kita pergi bersama… Nee-chan"

Sachi yang mendengar hal itu pun tersenyum lembut, berlari kecil kedepan rumah untuk menutup pintu lantas kembali berjalan bersamanya. Naruto terhenti sesaat, dan menatap ke telapak tangannya yang di genggam erat oleh kakaknya. Begitu takut kah?

Menatap sosok yang menjadi kakaknya itu, Naruto hanya bisa khawatir. Pasti begitu banyak hal-hal yang menyakitkan yang pernah menghantuinya yang membuat Naruto berpikir ke masa lalu sebelum ingatannya menjadi blur. Tapi dibalik semua itu, terdapat pemikiran yang beberapa langkah lebih maju daripada apa yang orang normal dalam situasi ini.

"Nee-chan, maukah Nee-chan menjadi istri Naru?"

Cetar Membahana…

•••

Naruto melihat punggung dari Kage nya yang sedang membelakangi tubuhnya. Terlihat dari postur tubuhnya yang mengeras menandakan bahwa saat ini akan terjadi firasat yang buruk. Naruto mengepalkan tangannya, dan hanya bisa mengutuk di bawah bibir. Malam itu… dirinya tanpa sengaja kepergok oleh Yondaime yang entah kenapa baru pulang dari kantornya dan mendapatinya sedang membawa seorang gadis.

Dan segala macam spekulasi dari balik otak Genius Minato… gadis ini bukanlah dari Konoha, melihat dari segala hal.. sudah dapat dikatakan kalau gadis ini bisa saja menjadi mata-mata untuk menghancurkan Konoha.

"…yo Minato, ada apa kau memanggilku?"

Minato menghela nafas akan ketidaksopanan pemilik suara itu. Ia tidak perlu menatap pintu untuk melihat dari mana orang itu muncul. "Sudah berapa kali aku katakan sensei… gunakan pintu bukan jendela!"

"Ini namanya berlatih kelincahan, seperti menyusup ke pemandian air panas, lari dari tagihan utang atau kabur sebelum wanita yang kutiduri bangun," Jiraiya menyilangkan kedua tangannya dengan ekspresi bangga yang terukir. "Jadi…" melirik sekilas pada dua pasang insan yang berdiam diri agak jauh dari tempatnya. "Ada apa kau memanggilku?"

"Menemui beberapa masalah"

"Oh?" Jiraiya menaikkan alisnya, seakan mendapatkan sesuatu yang menarik. "Masalah apa yang membuat seorang Namikaze Minato tidak bisa menggunakan otak geniusnya?"

"Kau bisa tanyakan pada Naruto"

Pria tua dengan perawakan tinggi itu pun menoleh, menatap kearah murid didik tersayangnya dengan penuh bangga. "Aku pikir tak ada masalah, melihat Naruto yang membawa… wauw! Cantik sekali dikau"

Sachi dengan wajah gugup bersembunyi di belakang punggung Naruto dengan ekspresi takut, meskipun agaknya di balik raut wajah itu tersimpan hawa mematikan bahwa sosok di depannya ini sangatlah mesum.

"Naruto! Jangan katakan kau mengikuti ajaran yang ada di buku itu?"

Naruto mengerutkan dahinya bingung. "Apa maksudmu? Dia kakakku"

Dong!

Jiraiya menjatuhkan rahangnya dengan wajah menganga tidak percaya. Jiraiya melecutkan tatapannya ke arah gadis tersebut sebelum pandangannya beralih ke Naruto, ke gadis itu, balik lagi ke Naruto.

"K-kakakmu? Buahahaha jangan membuatku tertawa Naruto!" Jiraiya tertawa sambil berguling-guling di atas lantai, ekspresinya jelas tidak tergambarkan karena ia sering membolak-balik kepalanya. "K-kupikir kau akan meniduri Kushina atau Haku… tetapi kau meniduri cewek dan menganggapnya kakak?! Adududuh.. perutku…"

"Semoga kau tenang di alam sana…" Jiraiya yang mendengar hal itu pun dengan cepat melempar kepalanya ke samping, matanya membulat sempurna ketika melihat Naruto sudah berlari kearahnya. "ORYAA!"

Brugh!

Minato menghela nafas berat. "Aku tahu kau takkan berbuat macam-macam kepada desa ini, Naruto. Untuk kali ini… aku percaya, tapi aku hanya ingin bertanya… apakah kau ada hubungan dengan negara luar, nona?"

"Tidak"

"U-ukh…" Jiraiya pun bangun dari terkaparnya, menggapai sisi dinding untuk membantunya bangun. "T-tapi kenapa mereka tidak mirip? Ukh"

"Benar juga, oh.. aku paham" Minato agaknya pun menulis beberapa hal di catatan kecil miliknya. "Ini seperti konsep yang aku katakan kepadamu, sensei. Mereka memiliki gen yang berbeda, yang memungkinkan kalau mereka mengambil tiap sisi orang tua mereka"

"Jadi…? Aku sudah cukup bosan mendengar hal itu, yang menjadi topik di sini pasti selalu aku dan aku… apakah tidak ada shinobi lain, huh?"

"Karena kau yang menarik… Naruto" Wajah Hokage itu mengambil raut nostalgia. "Kurasa, Naruto yang dulu sudah berubah sekarang.. dimana ia menemukan sesuatu tanpa batasan, berpikir lebih jauh ketimbang mengambil kontak fisik dalam pertarungan. Dan mengambil sebuah strategi yang memiliki tingkat efisien tinggi daripada harus mengeluarkan tenaga yang sia-sia. Anak yang dulunya biasa-biasa saja, selalu memperhatikan ninja yang sedang latihan dan selalu siap mengambil jalan sebagai shinobi meski pada faktanya kau tidak tahu apa-apa tentang ingatanmu."

"Souka… akhirnya aku mengerti, alasan kenapa kau mengambil DNA milikku dan menyimpannya sampai sekarang. Tapi kau takkan pernah bisa mendapatkan apapun dari DNA itu, karena aku yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Karena DNA yang kau ambil itu penuh akan kebencian yang kualami… bukan lagi seorang Uzumaki Naruto yang terdampar, tetapi seorang Uzumaki Naruto yang akan menjadi eksekutor di dunia yang kejam ini"

"Aku tak tahu bagaimana pandanganmu terhadap dunia ini, kau menganggap dunia ninja itu sangat licik… penuh kekejaman dan kejahatan bahkan aku tak bisa menemukan setitik pun cahaya dari pandanganmu terhadap dunia ini"

Naruto menaikkan satu alisnya. "Oh? Jadi sekarang kau itu tukang meramal yang seakan tahu apapun tentang takdir orang lain.. kau lebih baik seperti Neji, terus menatap takdir yang sudah tertulis di atas batu tetapi tidak ingin merubahnya" Naruto tak peduli, siapapun yang ada di hadapannya.. itu takkan mengubah pandangannya dari siapa yang pernah semena-mena terhadapnya. "Kau selalu berpikir kritis, tetapi di sisi lain kau itu sangatlah bodoh. Kau hanya berfokus pada satu orang yang mampu menyelamatkan dunia… apakah ramalan tetua katak itu selalu benar?"

Jiraiya yang mendengar hal itu pun hanya bungkam, seolah-olah setiap kata-kata yang ia rancang kini telah menjadi debu yang berhamburan.

"Kau takkan pernah bisa percaya pada suatu hal yang belum pasti… ramalan itu hanyalah perumpamaan, tak ada yang tahu kejadian yang akan terjadi. Karena bisa saja, kau melakukan satu gerakan yang melenceng dari takdir maka ramalan itu akan berubah" Naruto kali ini memutuskan untuk bebal. Ia tidak mendengarkan sahutan kata-kata Sachi yang menyuruhnya untuk berhenti. "Jika harus kukatakan… aku membenci kau! Kau yang seenaknya sendiri memindahkanku hanya karena anak lemah itu? Cih… kau pikir dia bisa apa? Kau hanya mengurangi kekuatan Tim 7… kedatangan Menma hanya merusak alur dari kekuatan Tim, bahkan Haruno Sakura yang terlalu fokus dalam percintaan tahu akan hal itu."

"Naru… hentikan, sudah cukup"

"Ta-"

"Hentikan!"

Naruto diam seketika.

"Kau tidak harus berkata seperti itu, Naru" Sachi menghela nafas panjang. Mengulang lagi kalimatnya. Memecah senyap. Mengusap pipi Naruto yang satu jengkal lebih tinggi darinya.

Naruto hanya menunduk, menelan ludah. Tak tahu apa yang harus ia katakan, ia sudah kelewat batas. Memaki Kage nya sendiri adalah hal yang tidak bisa di ampuni.

"Gomenasai atas perkaan Naru, aku yakin dia hanya terbawa emosi…" Sachi membungkukkan badannya sembari menatap Minato yang masih terdiam. "…ah iya Hokage-sama, mungkin mulai saat ini Naru akan mundur dari Dunia Ninja dan lebih memilih untuk menjadi penduduk sipil."

"K-kenapa?" Minato menelan ludahnya setelah sekian lama bungkam. Tak percaya atas apa yang di ucapkan oleh wanita tersebut. "Bukankah-"

"Yah, aku memutuskan untuk mundur dari dunia ninja…" ucap Naruto tanpa ragu. "Karena aku bukanlah sekedar alat untuk menuntaskan permainan puzzle mu, satu hal lagi… aku bukanlah Shinobi Konoha"

Dengan itu… suara pintu yang tertutup pun terdengar.

Bersamaan dengan sebuah suara dentingan yang cukup untuk memekik telinganya, menatap kearah benda yang sedang memantul di atas lantai kayu. Itu…

Hitai-ate Konoha.

"Minato…" Kini Jiraiya angkat bicara.

"A-aku tak percaya ini…"

"Naruto yang kau lihat tadi… adalah Naruto yang sudah lelah dari kehidupannya. Seperti yang dikatakan Sensei kepadaku, dia terlalu berat menanggung beban dunia. Dan sensei berkata kalau ada kalanya Naruto akan bertindak suatu saat nanti… dia akan mengeluarkan apa yang ia pendam selama ini sampai pada akhirnya keberadaan kita…

ditenggelamkan"

"Kau pasti bisa menyimpulkan kalau dia…"

.

.

"…sudah mendapatkan ingatannya kembali"

.

.

.

.

Apa yang akan terjadi?

Akankah Naruto akan keluar dari desa dan mengkhianati Konoha?

Apakah dia masuk kedalam Akatsuki?

Ataukah dia akan menjadi warga sipil?


To be Continued~

Bah, ane gak tahu kalau ternyata akan terjadi perubahan sifat di sini. Dan di chapter depan akan semakin rumit lagi, karena saya sudah memutuskan akan mereview kembali yang ada di chapter-chapter kemarin. Untuk alasan kenapa di sini kakaknya Naruto masih hidup, akan terjawab nantinya.

Dan sepertinya saya akan memulai debut Naruto di luar Konoha, atau mungkin langsung membangun Uzushiogakure? Entahlah saya juga nggak tahu.

Tangan ini yang membawa saya untuk membuat cerita aneh ini, perubahan sifat Naruto yang drastis memang terlihat agak aneh karena nggak ada yang tahu alasan di balik itu semua. Dan karena itulah… saya sudah menyiapkan chapter depan untuk menjawab semuanya.

Saya kasih satu alasan yang membuat Naruto marah barusan, dia gak suka ada yang mengambil DNA miliknya karena dalam pemikiran Naruto… Itu akan menjadi sebuah bencana yang dimana Klan yang selama ini dirahasiakan akan ketahuan dan itu akan semakin membawa masalah. Naruto gak suka kalau dirinya di wawancarai terus menerus yang berhubungan dengan dirinya.

.

.

Name : Naruto Ootsutsuki (Uzumaki Naruto)

Age : (Tidak diketahui) saat ini memakai umur 16 tahun

Afiliasi : Uzushiogakure dan Konohagakure (sementara)

Class : Chunnin

Rank : S

Hairstyle : Lihat Cover (tinggal ganti warnanya menjadi perak)

Hair Colour : Silvers (Perak) dengan bagian ujung berwarna hitam

Hight : 172 cm

Weight : 55 kg

Weapon :

1. Nuibari

2. Yukianesa (Yuki no Ken)

3. Kubikkiribocho

4. Raijin no Ken

5. Kiba

6. Samehada

7. Kusanagi no Tsurugi

8. Uzushio no Ken

9. Light Scythe

10. Ryuujin (Dragon Sword)

# Gudoudama dan Beberapa senjata Rikudou

Doujutsu : Rinnegan & Tenseigan

Element : Katon, Fuuton, Suiton, Doton, Raiton

Kekkai Genkai :-

Kekkai Moura : Gudoudama

Kekkai Touta : -

Kuchiyose : Rinnegan Kuchiyose and The Four Gods Winds (Empat Dewa Penjuru Mata Angin)

Family : Uzumaki Atarashi (Ayah), Sera Ootsutsuki (Ibu), Hyuuga Sachi (Kakak), Hyuuga Masaki (Keponakan)


Draco, out!