...
Change Me, Malfoy [14/14]
Modified-Canon. Drarry. T. Romance. Drama. Adventure. 1st-year.
Started: 10/04/15
Finished: 25/12/16
...
Epilog: The Right Desicion
...
Ia baru separuh terjaga waktu decitan pintu benar-benar membangunkannya.
Harry mengucek mata, berusaha menghapus kantuk. Iris kehijauannya mengerjap beberapa kali sebelum kembali terfokus pada keadaan sekitar. Ia mengernyit begitu melihat tempat tidur-tempat tidur berseprai putih bersih di sekelilingnya. Aroma Dittany sesegera mungkin menusuk indra penciuman. Harry tersadar.
Ia tidak sedang berada di asramanya— karena di sini terang, bukannya remang-remang.
Ini.. bangsal rumah sakit?
Oh, benar. Otaknya mulai bekerja. Rasanya ia ingat betul ruangan ini. Ia pernah ke sini dulu sekali, gara-gara—
"Kau sudah bangun?"
—ditinju Malfoy.
Yeah, Draco Malfoy.
Harry merasakan sengatan di kepalanya. Matanya mencari-cari sumber suara.
Figur yang baru saja dibicarakan itu kini menyandarkan diri ke dinding. Iris abu-abunya memandang dengan tajam seperti biasa, seakan-akan yang dipandangnya adalah makhluk paling tidak berdaya yang pernah eksis di permukaan bumi.
Sebelum protes, Harry memutuskan mengecek dirinya sendiri terlebih dahulu.
Oke. Tubuh terbungkus selimut sampai leher. Perban di kedua tangan. Tulang rusuk terasa patah semua. Punggung tidak bisa digerakkan. Kepala pusing setengah mati. Kaki beku.
Ia menelan ludah dengan susah payah.
Berusaha menggerakkan tangan untuk menyentuh dahi, Harry mendengar suara gemeretak. Baru sedetik kemudian ia sadar kalau itu tulangnya.
Bagus.
Kesimpulan: ia hancur total.
Tidak heran Malfoy sanggup menahan diri untuk diam tanpa memaki-maki.
Harry merasakan wajahnya memanas. Saat ini, dengan keadaan seperti ini, ia tidak butuh dikasihani siapa-siapa— apalagi Malfoy, tapi tampaknya cowok itu sudah terlanjur kasihan. Sempurna. Harry menyumpah dalam hati. Ia kira ia cuma bakal memar satu-dua dan akan sembuh semenit kemudian kalau mengikuti prosedur pengobatan Madam Pomfrey— tapi, ya, kayaknya dia sudah mendekam satu bulan sendiri di sini.
Kalau dilihat dari kondisinya sekarang, ia bisa bilang ia korban kecelakaan pesawat yang jatuh di tengah hutan belantara.
Merlin, dia cuma dicekik oleh gurunya sendiri— yang ditempeli penyihir paling hitam sejagad raya, oke. Oh, memang ironis sih, tapi tidak seharusnya ia berbaring tidak berguna di sini dengan perban-perban menyedihkan melilit sekujur tubuh. Harry menggigit bagian dalam pipinya, mengerling Malfoy sembunyi-sembunyi.
Cowok itu menghela napas.
"Biar kupanggil Madam Pomfrey."
"T—" sial. Jangan bilang pita suaranya ikut putus. Harry berdeham, menahan rasa sakit. Lehernya terasa berdenyut. Tapi setidaknya ia harus bicara, sedikiiit saja terlihat punya daya akan terlihat sangat baik.
"Jangan bicara apa-apa dulu, Potter." Tidak ada bodoh. Tidak ada idiot. Harry mengerutkan kening (yang makin ngilu). Sejauh ini Malfoy jadi terlalu sabar.
"K-kau—" oh, ayolah, suara keparat, "b-baik—"
"Aku baik-baik saja," tandas Malfoy, mendekat ke pinggir tempat tidur. "Tidak luka sedikit pun."
Lalu kenapa cuma ia yang mirip mumi bekas pengawetan?
"Tunggu sebentar."
Malfoy seperti teringat sesuatu, kemudian beranjak keluar ruangan, menutup pintu di belakangnya. Harry mengembuskan napas yang ia tahan.
Tumben sekali Malfoy tidak memberikan komentar barang satu-dua untuk menyakiti harga dirinya yang sudah lenyap entah ke mana saking parahnya penampilannya kini.
Oke. Harry baru sadar dari tadi bermonolog tanpa napas. Mungkin wajahnya sudah hijau sekarang. Siapa peduli.
"Mr. Potter?"
Harry menoleh sedikit. Madam Pomfrey muncul dari balik pintu. Senyumnya dibalas dengan ringisan. Penyembuh itu segera memeriksa Harry, mengecek beberapa tulang yang gemeretak terus menerus, dan mengganti perban di kepala yang setengah mati nyerinya.
"Jangan khawatir. Kau akan pulih sekitar dua-tiga hari lagi," wanita itu mengulas kurva halus. "Omong-omong, kau mungkin bisa memberitahu Mr. Malfoy kalau keadaanmu benar-benar baik-baik saja."
Harry mengerjap bingung.
"Yah, ia nyaris datang ke sini setiap tidak ada kelas." Madam Pomfrey memberi jeda, seakan sedang menimbang ulang kata-katanya, "Dan kukira ia juga sering melewatkan jam makan di Aula Besar. Bisa-bisa dia ikut sakit sepertimu."
Wanita itu bergegas membereskan beberapa botol obat dan meletakkannya di troli. "Dia sangat mencemaskanmu, kau tahu. Bocah itu perlu ditenangkan." Satu lirikan lagi. "Kalian teman, kan?"
Harry tersedak. Butuh beberapa detik ketika ia akhirnya mengangguk dengan susah payah, mengiyakan.
Mereka.. teman, kan?
Ada jeda panjang di otak Harry, seiring dengan bunyi roda yang semakin menghilang dan decit pintu di belakangnya. Ia memejamkan mata. Mungkin telinganya juga terkena efek samping dari luka-luka ini. Mungkin ia cuma salah dengar. Mungkin Madam Pomfrey membicarakan sesuatu yang lain, dan ia saja yang salah tangkap.
Atau mungkin, ia perlu bertemu dan menanyai bocah bodoh itu. Karena dengan semua kecemasan berlebihan dari Malfoy padanya, apa mereka masih bisa disebut teman?
Harry menggigit ujung bibirnya. Mungkin tidak.
Mungkin relasi mereka bukan hanya sebatas teman.
Lalu apa, Harry?
Sesuatu yang jauh di atasnya, yang jauh lebih dalam.
Sesuatu—
—yang lain.
...
Change Me, Malfoy
Original by: GinevraPutri
Disclaimer: J.K. Rowling
Rate T
Romance, Drama, and Adventure
"."
...
Chapter 14 – The Right Desicion
Dua sampai tiga hari yang dijanjikan Madam Pomfrey membuat Harry sedikit lebih tenang. Ini sudah hari ketiganya, dan luka-lukanya juga sudah membaik. Hanya kepalanya yang masih diperban, dan perbannya bisa dibuka malam ini. Ia sudah tidak sabar untuk bangun dan berjalan di koridor lagi, makan di Aula Besar lagi, dan bertengkar di asramanya lagi.
Dan.. itu semua kembali mengingatkannya pada Malfoy.
Madam Pomfrey benar. Cowok itu menghabiskan sebagian besar— oke, seluruh —waktu senggangnya di bangsal rumah sakit, menunggui Harry. Berhubung Harry tidak bisa banyak bicara, ia memilih pura-pura tidur. Pengecut, memang, tapi ia juga tidak mau diam-diaman begitu, membiarkan Malfoy menatapnya yang kacau dengan tatapan 'kau-rapuh-sekali'.
Bisa-bisa ia mengamuk, dan kalau ia mengamuk, ia bisa mati cedera.
Tapi Harry sekarang sudah bisa bicara, dan kabar baiknya, sejauh ini Malfoy belum juga kelihatan batang hidungnya. Ia bisa bicara pada udara dulu, bertanya-tanya apa yang bakalan diomelkan nanti kalau Slytherin yang satu itu sudah datang berkunjung.
Omong-omong soal pengunjung, Harry lumayan senang. Pasalnya, yah, ia mendapat bom kunjungan dari asrama lain— yang mengucapkan terima kasih dan selamat dan KAU HEBAT SEKALI, HARRY! Belakangan, sewaktu Proffesor Dumbledore mengunjunginya, ia baru tahu kalau kisah heroik (menurut kepala sekolah Hogwarts itu, tentunya) yang terjadi di lantai tiga sudah dibeberkan ke seluruh sekolah. Intinya, sekarang Harry dipuja-puja asrama lain dan makin dikucilkan asramanya sendiri. Hidup tidak pernah sempurna, kan? Kendati secara keseluruhan ia pikir semuanya berakhir baik, masih ada satu hal lagi luar biasa aneh, seperti: nyaris tidak ada murid Slytherin yang mengunjunginya, tapi rombongan Gryffindor, Ravenclaw, dan Hufflepuff yang datang. Hagrid juga sempat menghancurkan bangsal, dengan raungannya dan air mata dan segala macam sewaktu ia mengaku-ngaku insiden yang terjadi adalah kesalahannya—well, karena dia yang secara teknis memberitahu Proffesor Quirrell bagaimana cara melewati Fluffy—tapi selain itu, rata-rata Hogwarts sedang senang. Tentu saja, Kau-Tahu-Siapa gagal meneror-neror dunia sihir lagi! Siapa yang tidak senang, hah? Mungkin sekarang Harry perlu jubah gaib tambahan untuk kepalanya yang mulai menggelembung besar— hei, simpan sindiran itu untuk nanti. Itu bagian Malfoy yang hobi mencerca-cerca. Oh, jangan bawa-bawa Malfoy dulu.
Harry menggeleng, mengusir pirang-platina sok itu dari kepalanya.
Beberapa guru bahkan ikut menjenguk, mengucapkan satu-dua wejangan yang cuma bisa Harry balas dengan ringisan. Kiriman makanan menumpuk di sisi ranjangnya: Kacang Segala Rasa, Cokelat Kodok— oh, Harry trauma memakan yang satu itu. Bisa-bisa ia menemukan nama lain lagi yang bakal menyebabkannya berakhir seperti ini lagi.
Sibuk dengan otaknya yang sudah bisa dipakai berpikir dengan normal (tanpa denyutan-denyutan nyeri lagi), Harry sampai tidak menyadari yang ia tunggu sudah berdiri di dekat pintu. Mungkin malah sudah masuk dari tadi.
"Malfoy!"
Sial, ia mendesah. Nadanya kedengaran terlalu ceria.
"Hei," abu-abu itu mengangkat alis, mendekat, "sudah bisa bicara?"
Harry mengangguk, menahan diri untuk nyengir. "Kau tidak tahu? Kupikir Madam Pomfrey mengatakannya padamu."
"Yang satu itu tidak," ia membalas. "Mungkin ia berpikir aku akan senang mendapat unsur kejutan."
"Di dunia yang serba kebetulan ini, kau tidak bisa menghindari unsur kejutan."
"Bicaramu sudah sok bijak lagi, Potter." Malfoy menggeleng pelan, seulas kurva samar muncul di sudut bibirnya. "Kau pasti sudah sembuh betulan."
"Memang," Harry mengangkat bahu, menunjukkan tulangnya tidak berbunyi lagi. "Aku sudah baik-baik saja. Lagi pula kurasa perawatannya terlalu berlebihan."
"Kau kan orang penting sekarang. Perawatanmu harusnya bintang lima."
Harry mendengus. "Beli cermin sana. Kudengar kau dapat tambahan fans fanatik lagi."
Malfoy tidak bisa tidak menyeringai. "Surat cinta dari kelas lima membludak lagi, Potter. Dan kali ini kau tidak boleh cemburu."
"S-siapa juga yang cemburu!" Harry mengelak, merengut. Sesegera mungkin mengalihkan pandang dengan wajah kepanasan. "Aku tidak pernah cemburu padamu."
"Padaku, tidak. Pada gadis-gadis kelas lima itu?"
"Diam."
"Akui sajalah."
"Kepalamu terbentur atau apa, sih?" Harry mendongkol. "Bukannya kau biasanya tidak suka bicara tentang hal ini?"
"Hal apa?" Seringai itu semakin lebar. "Soal.. perasaan?"
"Berhenti, demi Merlin."
"Bukannya kau yang biasanya membawa-bawa soal itu?"
"Malfoy," Harry menghela napas. "Berterimakasihlah sedikit karena aku sudah menyelamatkan nyawamu." Ia mengangkat dagu, "Coba diam."
"Sori?" Malfoy memutar mata, mencibir. "Aku," Ia mengirim tatap yang tidak bisa ditolak— tatap intimidasi favoritnya, "yang menyelamatkan nyawamu, Potter."
Hah. Harry sudah kebal. "Aku yang kena cekik, dan kau cuma diikat."
"Kalau aku tidak teriak-teriak sampai serak, kau tidak akan bernapas sekarang."
"Tapi tetap saja bagianmu cuma teriak-teriak."
"Aku bisa apa? Aku diikat!"
"Bangga sekali, Malf—"
"Kau juga bangga sekali kena cekik!"
Harry memijat pelipisnya. Mengeluh.
"Ada apa?" Malfoy tiba-tiba merangsek ke tempat tidur, ikut menyentuh pelipis Harry. "Ada yang sakit?"
Iris hijau itu menyipit. "Kau sudah gila, ya?"
Sementara yang abu-abu masih ngotot menekan-nekan pelipis Harry.
"Jadi, katakan, sejak kapan kau penuh perhatian begini, tuan pewaris klan darah murni yang terhormat?"
Si pirang mendadak menelan ludah. Memberanikan diri mengerling mata lawan bicaranya— yang kelihatan siap sedia melempar kutukan dengan alis tertekuk sempurna dan tangan terlipat di dada.
Malfoy buru-buru mundur. Menggaruk tengkuk, bocah itu membuang muka. Tiba-tiba kaki tempat tidur jadi sangat menarik untuk diobservasi.
"Malfoy?" Alis Harry semakin tinggi. "Madam Pomfrey bilang—"
"Aku tahu, aku tahu!" Malfoy menyela sewot. "Si cerewet itu bilang apa? Aku seperti mayat hidup gara-gara menungguimu terus? Memangnya dia siapa bisa mengatur-atur? Suka-suka aku mau tidak makan, atau—"
"Kau mencemaskanku?" Harry bertanya sungguh-sungguh.
"Jangan bercanda."
"Bilang saja kalau rindu, Malfoy. Tidak ada yang melarang, kok." Memasang tampang tidak bersalah, "Ah, pasti gadis-gadis kelas lima itu patah hati sekarang."
"Diam."
"Jadi benar?"
"Salazar—" Malfoy mengerang. "Aku lupa seberapa mengganggunya kau kalau sudah bisa bicara."
"Aku tidak mengganggu."
"Ya, Potter. Sangaaat menganggu."
"Tidak." Harry menekuk wajah. "Tidak sampai segitunya."
Malfoy memutar mata. "Terserah saja."
"Kalau kau merasa terganggu," Cowok itu mengomel, "pergi sana."
"Kau mengusirku?" Iris Malfoy disipitkan dengan jengkel. "Hei, aku meluangkan banyak waktu di sini dan kau mengusirku? Dasar tidak tahu terima kas—"
"Tidak ada yang menyuruhmu!" balas Harry kesal. "Kau sendiri yang memutuskan menjagaku—"
"Lalu kenapa?" potong Malfoy. Wajahnya sudah mengalahkan panji Gryffindor sekarang. "Kau juga tidak protes kujaga!"
"Aku memang tidak keberatan!"
"Oh?" Malfoy menyerang. "Senang karena kujaga, Potter? Jadi kau selama ini pura-pura tidur itu karena salah tingkah?"
"Apa-apaan—"
"Bilang saja kalau kau yang rindu."
Harry membuka mulutnya. Kemudian menutupnya lagi. Kehabisan kata-kata.
Sialan, ia mendecih.
"Oke. Aku rindu berdebat denganmu. Tidak rindu padamu." Menoleh ke arah lain, bocah itu tidak mau memandang Malfoy.
"Sama saja." Malfoy balas menyindir. "Jangan khawatir, aku juga rindu berdebat denganmu. Tidak rindu padamu." Mengolok, ia menirukan nada suara Harry dalam mode sok tidak acuh.
Harry semakin merengut. Memikirkan cara lain untuk menyerang, "Oh, jangan mulai menangis, Malfoy. Kau tidak perlu terharu begitu gara-gara kita saling rindu berdebat."
"Siapa yang menangis?" ketus Malfoy. "Bukannya kau yang hobi sekali menangis? Aku sudah melihatmu menangis dua kali—"
"Tidak usah dibawa-bawa juga!"
"Kau yang duluan bawa-bawa soal menangis." Malfoy menaikkan alis. "Yeah, aku masih ingat sekali seseorang meminta maaf padaku sambil menangis," penuh penekanan, "seperti perempuan."
"Siapa yang melarang laki-laki menangis?" Harry tidak terima. "Lagi pula, kau juga bakal menangis kalau menghadapi makhluk itu."
"Yang benar saja," Malfoy mendengus tidak percaya. "Aku kan tidak kekanak-kanakan."
"Aku tidak kekanak-kanakan, Malfoy. Berani bilang begitu, kulempar bantal ini."
"Oh, kau baru saja membuktikannya. Bukannya anak-anak juga suka melempar-lempar—"
"Diam!" Harry benar-benar mencekal bantalnya dengan gemas sekarang. "Bergerak seinci, ini kulempar."
"Mau main polisi-polisian, Potter?" Malfoy meneruskan, masa bodoh diancam-ancam. "Jangan bergerak atau kutembak?"
"Dari mana kau tahu soal polisi?" Harry menahan bantalnya dengan sewot.
"Oh, hanya ayahku yang menceritakan betapa konyolnya auror versi muggle."
"Sori, Sir, sebelah mananya yang konyol?"
"Konyol saja." Malfoy ngotot. "Ah, salah satunya mana paham."
"Aku bukan muggle, berhentilah mengada-ada."
"Kau dibesarkan oleh mereka."
"Memangnya kau mau kalau disuruh membesarkanku?" Harry memutar mata. "Kalau tidak ya jangan protes."
"Siapa yang protes?" Malfoy tidak mau kalah. Ia melirik arlojinya sejenak, kemudian memilih mengalihkan topik, menyudahi adu mulut antar idiot ini. "Oh, bagus. Ini sudah jam makan malam. Madam Pomfrey akan datang sebentar lagi untuk melepas perbanmu."
Harry masih belum puas. "Menghapalkan jadwalku, rupanya?"
"Aku diberitahu."
"Soalnya kau kelihatan cemas."
"Kita akan kembali membahas ini?" Malfoy mendesah. "Lupakan saja, aku tidak mau dituduh menyerang pasien sampai depresi."
"Bukan aku yang depresi."
"Ya, aku yang depresi. Terserah." Malfoy mengalah— seperti ia bisa saja. Slytherin itu baru akan melanjutkan dengan sengit ketika pintu bangsal terbuka dan Madam Pomfrey melangkah masuk. Malfoy mundur seketika, memberi ruang.
Ia sibuk mengawasi waktu matron rumah sakit Hogwarts itu membuka pelan-pelan perban di kepala Harry. Di sana, di balik poninya yang sudah kembali jatuh kendati masih kaku, Malfoy bisa mengamati bekas luka itu. Kelihatannya sudah membaik, tidak semerah malam silam. Ia menghela napas lega. Penyembuhannya benar-benar berjalan lancar dan tuntas. Padahal ia kira kejadian yang lalu bakal meninggalkan bekas mengerikan atau apalah, tapi sejauh ini Harry baik-baik saja. Fisik, sih. Mental ya, tidak tahu. Tapi mungkin tidak apa-apa, mengingat cowok bebal itu sudah fasih sekali mendebat Malfoy tadi. Dua menit kemudian, Harry sudah resmi boleh keluar rumah sakit.
Malfoy menegakkan diri begitu si keras kepala beranjak menuruni ranjang. Cowok yang baru saja sembuh itu sekarang mengalihkan pandang dari Malfoy, memberengut jengkel. Ia berjalan mendahului ke arah pintu, dengan dagu terangkat, membuat teman seasramanya itu menggeleng jengah. Dasar sok, Malfoy mendengus. Sudah bagus ia mau menunggui sampai segininya, rela membuang waktu untuk ngobrol semi bunuh diri dan mendengarkan makian-makian putus asa dari cowok nekat semacam Harry— oh, Salazar. Malfoy ikut melangkah dalam diam, sementara Madam Pomfrey masih sibuk membereskan barang-barang.
Harry melangkah dengan sedikit menghentak-hentak, meraih gagang pintu dan—
—jemari itu menimpa jemarinya.
Ia memejamkan mata. Jangan si melankolis itu lagi. Dadanya menyentuh punggung Harry— menempel, terlalu dekat, terlalu hangat. Seketika gagang pintu terasa beku. Harry mengeratkan cengkeramannya. Malfoy dengan santai meletakkan tangannya yang lain persis di atas bahu Harry. Sementara yang satunya menggerakkan tangan di bawahnya, memutar kenop. Menariknya agar celah yang tercipta cukup lebar untuk dilewati manusia.
"Silakan."
"Kau benar-benar gila."
Malfoy menghela napas mendengar komentar spontan yang ditujukan padanya, melepas jemari di pegangan pintu, ganti meletakkannya di pundak Harry yang kosong. "Kau kan baru saja keluar dari rumah sakit, Potter. Jangan banyak tingkah."
Harry merasakan telinganya memerah. "Aku bisa membuka pintu sendiri." Ia berusaha berkata-kata. "Aku bukan bayi."
"Bukannya bayi memang suka menangis sepertimu?"
"Malfoy." Harry menggigit bagian dalam pipinya keras-keras. Pasti mimpi, pasti mimpi..
"Ya?"
"Menyingkirlah dari mimpiku."
Telapak tangan Malfoy di bahu Harry semakin menghangat. Rasanya Harry mulai terbakar. Ia tertawa pelan. "Jadi selama ini kau memimpikanku?"
Tidak, Harry menggeleng, menggigit bibir. Ini tidak mungkin terjadi..
Malfoy nyengir sekali lagi, kemudian melangkah menyejajari. Lengannya ganti dikalungkan ke leher Harry dengan rapat. Napasnya terlalu dekat.
Madam Pomfrey cengar-cengir sendiri di dekat nakas.
"Tenang saja, Potter." Ia menyeringai, berbisik rendah, "Soalnya.. aku juga pernah memimpikanmu."
Harry syok.
...
Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi pertama, mari membahas reaksi yang luar biasa menyakitkan dari orang-orang yang sekiranya bisa Harry panggil teman.
"Oh, kalian manis sekali!"
Komentar Hermione yang pertama kali disuarakan, dan ia cuma bisa meringis tidak berdaya.
ADA APA DENGAN DUNIA?
Sejak kapan ia dan Malfoy jadi sesuatu seperti kalian manis sekali?
Tapi cowok arogan itu tidak protes. Tidak berjengit. Tidak menyebut-nyebut darah-lumpur seperti biasa.
Kelihatannya cuma Harry yang tidak waras.
"Harus ya, kalian rangkulan begitu sepanjang koridor?" Ron mengerutkan dahi. "Aku tahu kalian sudah jadian, tapi kan—"
LIHAT? DUNIA SUDAH KIAMAT.
"Apa?" Harry menyela ngeri, menggeleng mati-matian. "Kami tidak jadian, Ron."
Ia melirik Malfoy, meminta bantuan.
"Oh, ya, ya." Malfoy mengangkat bahu, masih tidak mau melepas lengannya. "Kami tidak jadian, kok."
Nadanya tidak peduli. Seperti meremehkan urusan sepele.
Begitu mereka duduk di meja Slytherin, Harry mengamuk. "Apa maksudnya itu tadi?" Ia menggenggam garpu dengan gemetar. "Kau juga sepertinya santai sekali!"
Malfoy melempar tatap malas. "Ada yang menyebarkan gosip soal.. yah, kau tahu."
Harry sudah tidak ada bedanya dengan kepiting rebus di atas meja. "Terakhir kali kau digosipkan, kau meninjuku sampai memar," ia mendesis sebal.
"Soalnya yang waktu itu tidak benar."
"Memangnya yang sekarang benar?" Nada suaranya meninggi— Merlin, berikan ia sesuatu agar bisa memahami jalan pikiran seorang Malfoy.
Yang disentak mengambil piring.
"Malfoy!"
"Apa?"
"Kita tidak jadian!"
"Iya, memang tidak."
"Kalau begitu gosipnya salah!"
Hela napas pendek. "Dengar, Potter. Mereka tidak menggosipkan kita jadian."
"Tapi kau bilang—"
"Mereka cuma menggosipkan kalau ada sesuatu di antara kita."
Harry tersedak kendati belum menelan apa-apa. "Memangnya," mengatur napas, "ada sesuatu di antara kita?"
"Tanyakan pada dirimu sendiri."
Itu artinya: ada.
Demi jenggot busuk Merlin.
Harry menahan rahangnya supaya tidak jatuh, kemudian memutuskan pura-pura tidak mendengar, masih dengan otaknya yang kalut dan wajahnya yang panas, ia ikut mengambil piring.
"Makanmu sedikit sekali."
Diam, dasar ular sok tahu.
"Kau harus makan lebih banyak kalau mau cepat pulih."
"Aku tidak tahu cita-citamu adalah ahli gizi." Membalas, berharap satu kalimat sederhananya bisa menyudutkan. Ah, seperti Malfoy bisa ditebas dengan sekali perjuangan saja.
"Cita-citaku adalah calon yang baik."
Memikirkan calon apa yang dimaksud, Harry meletakkan sendok. Mendadak daging panggang di atas meja jadi hambar.
"Calon ahli gizi yang baik, Potter." Malfoy mulai lagi. Harry bahkan bisa merasakan seringai itu tanpa harus meliriknya sama sekali, memandang seakan berniat menelanjangi— "Jangan berpikir yang macam-macam."
Bunuh dia, Merlin.
"Makan yang banyak." Malfoy kembali bersuara, mengabaikan Harry yang sudah megap-megap putus asa, mencomot beberapa potong daging dari piring utama dan meletakkannya ke piring sebelah. "Semoga cepat sehat."
Piring temannya.
"..."
"Sama-sama, Potter."
Mungkin sebenarnya Harry sudah mati beberapa hari lalu gara-gara dicekik dan sekarang ini sedang disiksa di neraka, menerima hukumannya untuk hidup membenci Malfoy. Lalu pertanyaannya, memangnya salah siapa kalau ia jadi dibeginikan?
Di-begini-kan?
...
Sikap dan tindakan adalah apa yang paling orang perhatikan. Sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa dua orang yang nyaris mati gara-gara berhadapan dengan Kau-Tahu-Siapa itu sudah duduk manis di meja asrama mereka, secepat kilat Aula Besar dipenuhi bisik-bisik heboh dan dongakan kepala ke arah kawanan Slytherin. Mungkin gara-gara alasan pertama.
Atau mungkin mereka lebih memerhatikan sesuatu yang lain.
Segera saja telinga Harry panas mendengarnya.
"Lihat cara Malfoy memandangnya! Ya ampun, manis sekali!"
"AH, LIHAT, LIHAT! Dia mengambilkan makanan untuk Potter!"
"Aku baru tahu Malfoy seromantis itu."
"Padahal mereka sering bertengkar, kan? Sepertinya ini kisah benci jadi cinta."
"Mereka memang serasi sekali."
"Aduh, aku patah hati! Potter benar-benar mendapatkan Malfoy!"
Jadi, Merlin, katakan saja seberapa parah dosanya sampai ia harus menerima karma sedemikian rupa? Soalnya, kalau diperhatikan, ia sudah tidak ada bedanya lagi dengan kereta lokomotif semacam Hogwarts Express.
Merah dan berasap, sedang mengubur kepala ke meja.
Brengseknya, yang juga bersangkutan dengan masalah 'pasangan manis tahun pertama' itu masih tenang-tenang saja.
"Malfoy, lakukan sesuatu. Suruh mereka diam."
"Kenapa tidak kau saja?"
"Soalnya kau yang kelihatan paling damai dengan hal ini."
"Kau harusnya juga biasa saja. Selama ini yang paling sering jadi bahan gosip kan kau."
"Aku tidak pernah digosipkan denganmu sampai sebegini parahnya."
"Jangan gugup begitu, Potter. Kau yang bilang akan selalu ada untukku, jadi ya kalau aku digosipkan, kau juga kena."
"Berhenti membahas itu di sini."
"Jadi itu pribadi, ya?"
"Bicara sekecap lagi dan aku akan pergi, lalu kau bisa puas mendengar sendiri gumaman-gumaman menyedihkan itu."
"Gumaman para penggemar, maksudmu?"
"Seriously, kau tidak bisa menganggap mereka penggemar. Mereka cuma ingin tahu, Malfoy, dan jauhkan sedikit wajahmu dari wajahku, atau mereka bisa mengira kita sedang—"
"Sedang apa?"
"Tidak."
Mungkin seharusnya ia diam saja. Harry menyumpahi mulutnya yang mentang-mentang sudah bisa bicara, dari tadi menyerocos seenaknya sendiri.
Mungkin sebaiknya ia diam saja.
Proffesor Dumbledore menyelamatkannya dengan bangkit dari tempat duduk. Kakinya melangkah menuju podium, sedikit banyak menyita perhatian di seluruh penjuru ruangan.
Malfoy akhirnya mengalihkan perhatiannya dari Harry.
"Satu tahun lagi sudah berlalu!" Kepala Sekolah membuka pidato singkatnya dengan merentangkan tangan lebar-lebar. Jenggot putih panjang miliknya tampak bergoyang-goyang. Langit Aula Besar lumayan berangin malam ini. "Baik, sebelum kalian menyerbu makanan enak-enak ini, aku harus membacakan perolehan poin terakhir dan kepada siapa Piala Asrama akan diberikan."
"Terakhir kali kucek, Slytherin paling mengenaskan." Malfoy berbisik.
"Di tempat keempat, Slytherin, dengan empat ratus lima puluh dua angka."
Harry menelan ludah.
"Di tempat ketiga, Hufflepuff, dengan empat ratus lima puluh sembilan," Proffesor Dumbledore meneruskan, "Ravenclaw mengumpulkan empat ratus enam puluh enam angka— Gryffindor empat ratus tujuh puluh dua."
Harry mengembuskan napas keras-keras waktu gagap gempita pecah dari meja paling ujung.
Segera saja panji-panji merah bermunculan dari sudut-sudut ruang, spanduk-spanduk berhias singa terpampang dengan nama asrama mereka dalam huruf kapital. Gelas-gelas disulangkan ke udara, denting piring logam mendominasi suasana, sebagian besar anak kelas enam mulai saling melempar guyonan. Separuhnya lagi meledak dalam tawa.
Harry bisa menangkap wajah frustasi Proffesor Snape— sebagai wajah frustasi yang paling kentara, tentu saja. Kepala asramanya tampak menggertakkan gigi. Harry tidak bisa melarang. Parkinson yang duduk di seberangnya sudah heboh sendiri. Katanya kalau saja Slytherin menang tahun ini, harusnya mereka akan bisa membual ke mana-mana— bahwa asrama mereka memenangkan piala untuk ketujuh kalinya selama tujuh tahun berturut-turut. Malfoy menurunkan alisnya kali ini. Murid-murid Slytherin yang lainnya juga nampak terpuruk.
"Walaupun begitu," Proffesor Dumbledore membuka suara kembali, dan seisi aula langsung hening total, "kejadian belakangan ini harus dipertimbangkan."
Harry otomatis menukar pandang dengan— yah, Malfoy. Sejenak melupakan ajang perang dinginnya.
"Kepada Mr. Ronald Weasley, untuk permainan catur paling indah yang pernah Hogwarts lihat selama bertahun-tahun, kuhadiahkan lima puluh angka."
Gryffindor makin kalap. Parkinson semakin merengut. Harry menekuk wajah, raut muka Percy Weasley di kejauhan terlihat melecehkan sekali. Mungkin menjotos satu-dua jerawatnya tidak apa-apa nanti.
"Kemudian kepada Miss Hermione Granger, atas logika dingin dalam menghadapi api, kuhadiahkan lima puluh angka."
Bukan hanya Ron yang memerah, sekarang Hermione ikut menutupi wajahnya dari kicauan murid-murid Gryffindor yang tidak bisa berhenti menyoraki. Percy makin menyeringai ke arah Harry. Prefek macam apa, cih.
"Kepada Mr. Draco Malfoy, untuk kepercayaan yang sangat mendalam terhadap rekan—"
Harry buru-buru mengalihkan wajah.
"—kuhadiahkan enam puluh angka."
Slytherin balas menggebrak meja. Gryffindor berusaha tenang-tenang saja. Beberapa tertawa sampai puas. Beberapa lainnya melayangkan high five, menuding-nuding Harry. Ia semakin sebal saja. Kalau memang ia mendapat enam puluh angka juga, kalau, hasil skor akan seimbang. Slytherin bisa melejit seratus dua puluh angka. Euforia dengan cepat merambat sampai pelosok.
Tapi bukan berarti orang-orang ini bisa menghebohkan suasana dengan membisik-bisikkan namanya juga. Harry makin menenggelamkan kepala ke lengan. Ia bisa merasakan seringai Malfoy di atas kepalanya.
"Terakhir, kepada Mr. Harry Potter, untuk keberanian dan ketabahan yang luar biasa—" Abu-abu itu mendecih. "—kuhadiahkan tujuh puluh angka."
Tujuh.. puluh.
Gemuruh teriakan nyaris meledakkan atap. Harry mengangkat wajah dengan tolol. Murid-murid Slytherin refleks bangkit dan bersorak gila-gilaan, berteriak sampai serak. Bintang di langit sana sedikit bergetar. Malfoy ikut berdiri, tertawa keras-keras, bergabung melempar-lempar Nott ke udara bersama cowok kelas satu yang lain. Parkinson dan sebangsanya menjerit-jerit tak karuan. Harry tidak bisa tidak nyengir lebar-lebar. Slytherin unggul 10 angka!
Dekorasi aula sekejap kemudian berganti seluruhnya dari merah menjadi hijau. Ular-ular mulai mendesis dari tiap sisi, menutupi mulut singa yang menganga. Melihat tampang terpukul Percy cukup menyenangkan Harry. Setidaknya Ron dan Hermione tidak bakal mengatai ia dan Malfoy manis lagi kalau begini.
Proffesor Snape berdeham sedikit sebelum mengisi gelasnya dengan minuman. Mungkin mensyukuri asramanya tidak jadi mempermalukan diri sendiri. Harry bertanya-tanya apa tahun depan mungkin guru yang satu itu akan mengurangi sedikit kadar kekejamannya. Soal Malfoy— oh, ya ampun —sudah jelas ia bakal mendapat pujian setinggi langit selama jam pelajaran Ramuan, sepanjang tahun ajaran semester depan.
Musim gugur nanti pasti bakalan kayak neraka.
Harry tersenyum.
...
"Oke, jadi kau tidak akan memberikanku hadiah perpisahan?"
"Tidak."
Singkat. Padat. Jelas.
Plus menusuk.
"Apa sih yang kau harapkan, Malfoy? Aku tiba-tiba jadi menyayangimu gara-gara insiden kita berdua nyaris mati itu?" Harry bersungut-sungut. Tangannya sibuk membenahi isi koper, memasukkan barang-barang yang masih ada di luar.
"Dengar. Kau bahkan tidak memberiku hadiah natal, dan sekarang tidak ada hadiah perpisahan juga. Teman macam apa, sih?"
"Oh, jadi aku teman." Harry memutar mata. "Kukira kemarin-kemarin kau yang ngotot kalau kita bukan teman."
"Kuralat, deh."
Harry mengembuskan napas jengkel. Perkataan Madam Pomfrey mendadak melekat di benaknya lagi. Oh, sial. Iya, iya, mereka teman. Atau bukan. Kenapa repot-repot mempermasalahkan itu, sih?
Malfoy sudah nangkring di atas kasur bahkan sebelum Harry sempat mengusir Madam Pomfrey dari kepala, menggerecoki kegiatannya menata muatan.
"Mau kubantu?"
"Urus kopermu sendiri."
"Sudah selesai."
"Ya sudah sana pergi."
Sejak kapan pula Malfoy bisa mengucapkan mau kubantu?
Jangan bilang yang tidak waras Harry, karena dia masih ingat betul bagaimana situasi terakhir sebelum dia masuk rumah sakit. Sekarang, dihadapkan dengan perlakuan super manis ini— sial. Oke, Malfoy memang manis. Kenapa? Bukan berarti ia harus tersipu malu ketimbang mengamuk, kan? Lagi pula ia memang harus bertanya yang kepalanya terbentur itu siapa. Dia atau Malfoy.
Soalnya..
Harry merasakan panas mulai menjalari wajahnya—
..cowok itu jadi berbeda.
"Err.. Potter?"
Tarik. Hembuskan.
"Apa?" dibalas dengan satu kata judes.
Malfoy masih belum menyerah, mengangkat bahu polos. "Bagaimana caranya batu bertuah itu ada di sakumu?"
Oh, baru sekarang cowok itu bicara sesuatu yang masuk akal.
"Proffesor Dumbledore mengatakannya padaku di rumah sakit. Katanya, batu itu cuma bisa didapatkan seseorang yang ingin menemukannya— tapi tidak ingin menggunakannya." Harry menjawab. "Dengan kata lain, mungkin kalau kau yang berdiri di sana, batu itu akan ada di sakumu."
"Oh.." Malfoy merespons. "Omong-omong, apa ini?"
Harry melirik ke arah buku tebal di atas seprainya.
"Album foto." Ia menyahut, "Hagrid yang memberikannya. Kau tahu, sebagai.. err.. permintaan maaf. Isinya foto-foto lama ayah dan ibuku."
"Aku juga punya hadiah untukmu."
Merlin. Harry menahan diri. "Serius, Malfoy. Ada apa sebenarnya?"
Malfoy mengerutkan kening. "Apanya yang ada apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu," Harry mendesah. "Tentang semua.. semua perlakuanmu. Padaku."
"Aku tidak melakukan apa-a—"
"Ya, kau melakukannya." sela Harry, membuang muka. "Kau jadi begitu.. perhatian. Dan sabar. Dan lembut. Menjadi seseorang yang bukan.. kau."
"Kau lebih suka aku yang kasar dan menyebalkan?"
Harry menggeleng, masih tidak mau menatap Malfoy. "Kau.. menjadi berbeda. Bukan Malfoy yang kukenal."
"Aku cuma takut kehilanganmu."
Hening.
"Apa?"
"Aku cuma tak ingin melepasmu lagi." Malfoy berdiri, mendekat. "Sejak insiden itu, kupikir.. kau akan selalu menghadapi bahaya." Memang. "Aku.. tak ingin kau ke mana-mana. Aku ingin kau baik-baik saja, selamanya di sisiku— aku ingin memastikan itu, Potter."
Harry ingin bilang kalau dia tidak mendengar apa-apa. Sama sekali. Tapi kata-kata Malfoy menyusup ke celah pendengarannya, mengirimkan aliran listrik yang sudah sangat ia kenal. Sengatan itu—
"Lebih dari yang kau tahu." Malfoy menatap iris hijau yang tidak akan pernah bisa digapainya— "Aku.."
"Kau tidak akan kehilanganku." Harry menyela, membalas tatap itu persis di sana. Tepat di balik abu-abu yang belakangan ini semakin terang. Pada kilaunya, ia menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak akan ke mana-mana, Malfoy. Kau memikirkannya terlalu jauh."
"Aku tahu kau akan bilang begitu."
Harry menggeleng sekali lagi, kemudian menarik Malfoy ke dalam pelukannya—
...
—ke bahunya, ke relung lehernya. Harry membiarkan rasa yang familier itu menguasainya. Harry membiarkan pirang-platina itu meletakkan dagu di pundaknya.
Karena ia tidak bisa mengatakannya sendiri pada Malfoy. Karena ia tidak bisa mengatakan soal perasaannya yang tidak bisa didefinisikan, tidak bisa dijelaskan, tidak bisa dipahami. Karena ia tidak bisa mengatakan bahwa ia akan terus ada di sana, tidak mau peduli apa-apa, selamanya. Tapi setidaknya ia ingin mengatakan bahwa—
"Aku akan selalu ada untukmu."
—lebih dari yang siapa pun tahu, jauh di dalam sana, nama itu sudah terpatri.
"Aku sudah berjanji, kan?"
Harry tidak keberatan mengulang janjinya. Tidak akan pernah. Karena sepanjang malam, atau selamanya kalau perlu, ia akan terus mengatakannya. Satu-satunya yang bisa dikatakan. Satu-satunya yang bisa ia ungkapkan setelah selama ini mengenal nama itu. Nama yang sejak awal melukai hatinya, dan sekarang menyembuhkannya sendiri. Nama yang sejak awal ia percayai untuk menggenggam harapannya, untuk membawanya pergi dan tidak kembali. Nama yang sejak awal mengubah hatinya. Selalu.
"Semuanya akan baik-baik saja."
Selama ada kau, aku akan baik-baik saja.
Malfoy mendengus. Menyandarkan dagunya di pundak Harry. Jemarinya merambat ke pinggang, saling mengait. Ia ingin merasakannya, perasaan itu lagi, setidaknya—
"Kita hanya perlu menunggu sampai musim gugur, kan?"
—sampai tahun keduanya dimulai.
"Cuma sampai musim gugur." Malfoy bisa merasakan Harry tersenyum di punggungnya. "Sampai saat itu.. jangan mati, ya?"
...
Ia bisa mati sesak napas.
Harry mengalihkan pandang ke luar jendela dengan luar biasa sebal. Kompartemen mereka bisa dibilang penuh. Ada Parkinson, Crabbe, dan Goyle di satu sisi. Di seberangnya, Greengrass, Nott, Malfoy, dan dia. Suasana cukup ramai dalam atmosfer yang terlalu damai untuk Harry. Orang-orang ini mengobrol dengan santai, bahkan sesekali menanggapi ucapannya— yang lebih mirip keluhan, soalnya ia terjepit di pojok dengan tiga manusia lain merampas tempat duduknya.
Ia nyaris berpikir mungkin, mungkin, akhirnya mereka menerima Harry sebagai Slytherin.
Ia tidak mau berharap banyak-banyak sih, soalnya ia tahu Slytherin tidak senang perkara penggagalan usaha Voldemort mencuri batu bertuah. Kalau menurut Malfoy, kebanyakan dari mereka pro-Pangeran Kegelapan, putra-putri mantan Pelahap Maut— buktinya saja sudah jelas kemarin. Waktu makhluk itu menunjukkan betapa ia mengenal Malfoy.
Harry memejamkan mata. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kemungkinan bahwa suatu hari nanti Malfoy akan berpindah pihak. Berada di blok yang berlawanan dengan ia yang setengah mati dikejar-kejar Kau-Tahu-Siapa.
"Potter?"
Ia membuka mata. Keretanya sudah berhenti.
"Kau mau tidur sampai kapan?"
Murid-murid perlahan berdiri, mulai keluar kompartemen dengan menggotong koper masing-masing. Harry bahkan sudah bisa membayangkan wajah masam Paman Vernon di peron nanti.
Ia menghela napas. Tahun pertamanya di Hogwarts benar-benar sudah berakhir.
"Aku tidak tidur."
Ikut mengangkut kopernya, ia mulai berjalan keluar kompartemen, mengikuti Malfoy. Tapi kemudian cowok itu berbalik di dekat pintu.
"Tutup mata."
"Hah?"
"Lakukan saja."
Entah apa yang merasukinya, sekali itu Harry merasa tingkat kebodohannya sudah sangat parah— soalnya ia mau-mau saja menutup mata. Padahal Malfoy yang menyuruh. Mal-foy.
"Hadiah perpisahanmu," ia mendengar cowok itu berbisik. "Sampai jumpa musim gugur, Potter."
Satu kecupan mendarat di keningnya.
...
SKAK MAT.
Malfoy menyeringai seperti kesetanan waktu turun dari kereta.
Ia menemukan orang tuanya sedang berbincang-bincang dengan keluarga Greengrass di salah satu sudut peron. Daphne sudah lebih dulu sampai di sana, sedang menawarkan oleh-oleh pada adiknya, Astoria.
Ibunya tersenyum dan merentangkan tangan sebagai sambutan. Ayahnya mengangguk puas.
Malfoy sendiri juga puas. Sangat.
...
BOCAH MESUM KURANG AJ—
Harry membenturkan kepala ke kaca jendela.
Iblis, ia mengumpat. Dasar Malfoy dan otak kotornya.
Harry menggelengkan kepalanya untuk menjernihkan pikiran. Ia tidak bisa berhenti mendumel sepanjang jalan menuruni kereta. Bahkan ketika ia sudah menemukan Paman Vernon dengan wajah berkedut menatapnya seakan ia berbuat kesalahan, Harry tidak bisa mengatur suasana hatinya yang meledak-ledak.
Semoga saja ia masih hidup sampai musim gugur nanti.
Setidaknya sampai ia melihat iris abu-abu itu lagi.
—dan membunuhnya.
...
Harry mulai memikirkan kecupan kening balasan sebagai hadiah awal tahun ajaran— atau mungkin sesuatu yang lebih mengejutkan.
...
.fin.
...
AuthorNote:
Pertama: saya nggak ngerti kenapa Madam Pomfrey jadi kek fujoshi yang girang bener dapet asupan di depan mata— fix nggak penting. Lanjut aja. Jadi, ini alasan utama saya menamatkan CMM dengan 'gitu aja' wakakakak. Soalnya saya juga nggak ngerti (lagi) kenapa epilognya jadi fluffy begini— mungkin gegara lelah nulis eksyen-eksyen kemarin kali ya :3 Dipersembahkan khusus untuk pembaca tersayang— terutama yang masih uring-uringan soal ending minimalis kemarin wkwk (i know u so well gaes). So, thanks for ur supports!
See you soon on A STRANGER IN THE MIRROR— sekuel Change Me, Malfoy!
Signed,
GinevraPutri.
