black roses 00: ahaha, bisa ngrasain feelingnya Yu Na? ^0^

Mrs Goldenweek: rikues yg mana yak? (*di dor pake AK 47) ahaha.. yg itu ya.. ahahaha... ada ga ya? ^^ (*di bom molotov) akh.. kilat? ngalahin eyeshield 21? bisa dilempar kbulan wa sama Sena ntar (*dilempar bom buku)

well this is jawaban dr ch kemaren (*betpiling bakal di lempar black roses 00 ke kawah beracun - kmu suka lu xun ya? - gomen, tue pu qi -_-), enjoy ^0^ ya..

...

Aku hanya bisa memandangnya dari belakang. Dia.. Tidak mau bicara denganku.. Dia.. Membenciku..

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan dipundakku.. "Jangan menangis.. Dia tidak bermaksud membuatmu menangis.." Taishi Ci!

"Kakak?"

Dia tersenyum, "Boyan tidak bohong, dia memang ada pelajaran khusus dengan master Zhou."

Aku diam saja. Masih tidak mengerti kenapa dia berubah drastis seperti itu.

"Boyan baru kali ini merasakan cinta. Dia hanya bingung karena merasakan semuanya dalam waktu singkat."

"Tapi, sepertinya dia tidak mau bicara denganku.. Kakak, apa aku berbuat salah?"

"Seperti yang kukatakan tadi Yu Na, dia merasakan semua rasa itu dalam waktu singkat. Perasaan suka, kagum, senang, cinta, lalu perasaan cemburu, takut kehilangan.."

"Tunggu.. Apa maksudnya?"

"Ahahaha, Boyan mencintaimu. Semua tau itu kecuali Sun Quan. Dia bertanya pada semua orang, karena dia merasakan perasaan aneh saat berada didekatmu. Semua memberi jawaban yang hampir sama dengan mengatakan itu adalah cinta, dan cinta itu indah, membuat hati berbunga-bunga, damai, tenang, ah, semua hal menyenangkan. Dia sangat bahagia saat menceritakan semua padaku." Taishi Ci berhenti sejenak. "Apa dia sudah mengatakannya padamu?" Lanjutnya.

"Ha? Mengatakan apa?"

"Ah ya, aku lupa, dia pernah mengatakannya malam itu, tapi mungkin kau tidak menyadarinya."

"Malam itu?" Malam kapan?

"Saat kalian duduk di teras depan kamar memandang bintang. Saat itu kami semua ingin mendengarnya, sampai-sampai tuan Sun Jian juga, semua ingin mendengar si kecil calon strategis Wu mengungkapkan isi hatinya pada wanita yang dicintainya."

"Ha?"

"Tentu saja kau tidak tahu ya, kau kan tidur saat dia mengucapkannya, makanya dia ingin menyatakan secara langsung, yaah, tapi malah diganggu landak dan semut kecil itu lagi ya, ahaha.." Itu.. Kejadian tadi pagi.. Jadi tadi..

"Tapi.. Tapi kenapa sekarang dia begitu? Kenapa tidak mau bicara denganku? Jangan membuatku berharap, kakak. Semua tidak benar kan? Xun tidak mencintaiku.." Aku sedih sekali saat mengucapkannya. Mungkin aku yang malah mencintainya.

"Yu Na, dengarkan aku, Boyan tidak mengerti yang terjadi padanya. Baru saja dia merasa bahagia tapi tiba-tiba berubah jadi.."

"Kenapa?"

"Perasaan takut kehilangan. Tadi dia melihatmu bersama Quan. Saat Quan memegang tanganmu.."

"Tapi pangeran Sun Quan tidak memegang tanganku! Itu pasti karena dia ingin membantu membawakan bunga yang kupegang tadi.."

"Yang terlihat olehnya tidak seperti itu. Dia mengira kau dan Quan.. Ah, dia hanya cemburu, takut kehilangan, tapi tidak bisa mengatakannya. Boyan sangat menghormati Quan. Seperti yang kukatakan tadi semua perasaan dialaminya dalam waktu singkat. Bagi orang yang baru pertama kali merasakan cinta itu akan sangat membingungkan.. Mengertilah.."

Aku tidak tahu, benarkah itu semua? Benarkah dia mencintaiku? Benarkah perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan? Benarkah?

"Nah, jangan menangis lagi ya, dia tidak bermaksud melukai perasaanmu. Oiya, tadi aku melihat dia bicara pada Gong Ji. Mereka akhir-akhir ini terlihat akrab. Aku rasa karena sama-sama mempunyai masalah cinta. Hhhh dasar anak-anak.."

Aku masih tenggelam dalam pikiranku sendiri, sampai Taishi Ci menepuk bahuku dan berkata,"Beristirahatlah dulu, nanti kita akan bertemu lagi saat makan malam.. Sampai nanti Yu Na." Dia melangkah pergi sambil melambaikan tangan.

Aku berjalan ke kamarku. Aku hanya ingin istirahat. Hari ini aku mengalami banyak hal aneh. Kepalaku berat. Aku ingin tidur..

...

Eh? Berapa lama aku tidur? Selimut? Siapa yang menyelimutiku? Di luar sepertinya sudah gelap. Apa acaranya sudah dimulai ya? Atau jangan-jangan malah sudah selesai. Aku berjalan keluar kamarku, ah, sepi.. Kemana mereka ya? Apa sudah tidur? Tapi lampu kamar Shang Xiang hidup, aku mencoba mengetuk pintu dan memanggilnya. Saat kubuka tidak ada orang. Hmm pasti masih makan malam.

Karena tidak lapar, aku melangkahkan kaki ke taman barat. Lagipula tidak mungkin aku ke ruang utama sekarang kan? Sangat tidak sopan datang saat mereka sedang makan. Lagipula.. Lagipula.. Pasti aku harus duduk disebelahnya.. Ah mengingatnya menghindariku tadi membuatku sedih. Wajah itu.. Itu bukan wajah Xun yang kusuka..

Aku duduk dibangku taman. Cuacanya cerah, banyak bintang.. Bintang, ah lagi-lagi mengingatkanku padanya.. Mataku mulai berkaca-kaca lagi.. Dan butiran bening itu pun jatuh..

"Na.."

Suara itu..

"Na.. Kau sakit? Jangan duduk di luar, nanti semakin parah."

Aku melihat ke arah suara itu. Dia.. Dia.. Berdiri disampingku sambil membawa mangkok yang sudah berisi nasi dan lauknya. Tangan kirinya menggenggam secangkir air minum. Sejak kapan dia disitu? Aku bermimpi kan? Dia tidak mungkin ada disini. Lalu siapa ini? Apa ha, han, hantu?

"Jangan menatapku seperti itu, aku bukan hantu.." Lanjutnya tersenyum sambil meletakkan cangkir dan duduk disampingku.

"Ini.. Kubawakan untukmu.. Makan ya?"

Dia menyodorkan mangkok nasi yang dibawanya. Aku menggeleng, aku benar-benar tidak lapar.

"Na..?"

"Aku.. Tidak lapar.. Terima kasih.." Jawabku sambil menunduk. Dia lalu meletakkan mangkok itu.

"Na, maafkan aku ya?" Aku masih diam.

"Aku benar-benar minta maaf. Aku.. Tidak bermaksud menghindarimu. Saat kau tidak muncul di ruang utama aku.. Aku sangat kuatir.. Hanya.. Aku.. Aku.. Tidak suka melihatmu dengan tuan Quan.. Aku merasa marah, tapi aku tidak tahu marah pada siapa.. Kupikir.. Kupikir.. Tapi saat melihat tuan Quan bersama nona Lian Shi di ruang utama, aku.. Merasa bersalah padamu.. Maaf sudah menuduhmu.. A.. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu." Meskipun kalimatnya belepotan, tapi aku tahu dia berkata jujur. Aku mencoba tersenyum saat melihatnya. Dia melihat sisa-sisa air mataku dan menghapusnya.

"Kuharap air mata ini bukan karena ku. Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi. Karena aku mencintaimu Na. Aku sangat mencintaimu." Alamak, begitu lancarnya dia mengucapkan kalimat itu. Rasanya roh ku berpisah dari tubuhku.

"Xun.."

"Ya?"

"Ba.. Barusan kau bilang apa?" Dia mengacak rambutku lagi.

"Kau ini, nah sekarang lihat kesini." Dia mengarahkan kepalaku ke hadapannya dengan kedua tangannya. Kali ini aku bisa melihat jelas wajah itu, wajah innocent dengan senyum menawan itu..

"Dengar ya anak nakal, aku, Lu Boyan, mencintaimu, Li Yu Na.. Sangat mencintaimu.. Aku ingin selalu didekatmu dan menjagamu.. Jadi jangan menghilang lagi." Menghilang? Sapa yang menghilang? Memangnya aku hantu? Kalau menghilang dari kamarku iya!

"A.. Aku.. Aku.." Aduh, ini mimpi kan? Tiba-tiba sebuah kecupan ringan mendarat dibibirku. Di.. Dia.. Dia? What the..? Edo saja belum pernah melakukannya! Dia tersenyum. Aku masih bengong. Jantungku pasti sudah berpindah tempat! Aku tidak merasakan detaknya lagi!

"Xun?"

"Hm?"

"..." Astaga, aku kehilangan kata-kata!

"Mau mengatakan apa, Na?"

"A.. Aku.. Aku Juga.." Ploooong..! Akhirnya keluar juga pengakuan itu. Mukaku pasti sudah seperti kepiting rebus! Dia mengangguk dan tersenyum, lalu mengambil mangkok nasi tadi.

"Nah, sekarang makan ya? Kalau tidak makan nanti kau bisa sakit." Katanya sambil memegang sumpit dan bersiap menyuapiku.

"A.. Aku tidak sakit.. Aku bisa makan sendiri!"

"Kalau kau makan sendiri pasti tidak habis, kusuapi saja! Jangan membantah!"

"Ba.. Baiklah.."

Malam ini, sangat indah.. Aku tidak menangis karena sedih.. Aku menangis bahagia..

PROOT..! Suara kentut?

"Dasar bodoh, Xing Ba bodoh!" Teriak Ling Tong sambil berlari menjauh dari persembunyiannya.

"Bodoh kau! Kenapa keluar?" Balas Gan Ning.

"Aku tidak sudi mati bersamamu karena bau kentut!"

"Gan Ning bodoh!" Teriak Shang Xiang lari ke arah Ling Tong sambil menutup hidung.

Astagaa mereka mengintip lagi?

"Kenapa kalian kesini?" Tanya Xun.

"Tentu saja! Kami ingin tahu apa yang terjadi denganmu saat kau tiba-tiba berdiri dan membawa mangkok nasimu keluar ruangan!" Jawab Gan Ning. Itu.. Mangkok nya? Berarti Xun juga belum makan!

"Padahal Shang Xiang hanya bilang sepertinya Yu Na sedang tidak enak badan (menirukan gaya Shang Xiang dengan lebaynya) tapi kau langsung berdiri dan keluar." Tambah Ling Tong. Shang Xiang memukul kepala Ling Tong, "Aku tidak bicara berlebihan seperti itu!"

"Itu benar kan?" Ling Tong memegang kepalanya.

"Tidak! Kau berlebihan!"

"Berlebihan bagaimana?" Ling Tong mendekati Shang Xiang. Shang Xiang hanya diam saja. Kenapa dia tidak membalas? Kalau dengan Gan Ning bisa seperti berbalas pantun umpatan. Kenapa dengan Ling Tong hanya.. Jangan-jangan..

"Aku ingin istirahat. Sampai besok semua.." Shang Xiang tiba-tiba berlari ke kamarnya sambil melambaikan tangan. Ling Tong hanya tertegun memandanginya. Sementara Gan Ning juga bersiap menuju kamarnya. Ling Tong melihat ke arah Xun. Tapi sebelum Xun sempat bicara dia malah langsung lari meninggalkan kami.

"Gong Ji.. Hhh.. Mereka kadang-kadang menyebalkan, tapi aku menyayangi mereka.." Gumam Xun. "Disini aku seperti punya keluarga."

"Aku juga.." Dia melihatku.

"Jadi, sudah memaafkanku?"

"Ya.."

"Terima kasih, Na.. Kau bintang dihatiku." Yah, meski terdengar sedikit gombal tapi aku suka.

"Oiya, tadi master Zhou mengatakan padaku akan ada koalisi. Kita akan bergabung dengan pasukan Liu Bei untuk menyerang Cao-Cao." Dia mulai bercerita lagi, Xun yang kusuka sudah kembali..

"Cao-Cao?"

"Pimpinan pasukan Wei, kau pernah menghadapi pasukan mereka saat istana diserang kan?"

"Ya, lalu, Liu Bei?"

"Liu Bei pimpinan pasukan Shu. Meskipun negaranya tidak terlalu besar tapi mereka punya pasukan yang setia dan mahir bertempur. Dan disana ada Zhuge Liang. Entah kenapa master Zhou sangat membencinya. Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya."

Zhuge Liang? Sapa lagi tuh? Pasukan bergabung? Apa ini yang dikatakan kakek ya? Perang besar itu.. Aaaah tidak, tidak, jangan sampai ada perang lagi. Tapi kalau benar seperti yang dikatakan Xun, berarti kakek tidak bohong.. aku.. takut..

"Mereka akan ke istana Wu. Mungkin rombongannya akan sampai besok."

"Besok? Tapi tadi tuan Sun Ce tidak bilang apa-apa soal perang.."

"Ya, tidak semua penghuni istana diberi tahu, mungkin besok juga baru akan disampaikan tuan Sun Ce. Eh anginnya mulai dingin, kuantar ke kamarmu ya.."

Aku mengangguk. Kami pun berjalan menuju kamar.

"Xun.."

"Ya?"

"Terima kasih.." Dia tertawa.

"Itu yang kusuka darimu, selalu mengucapkan terima kasih. Aku suka wajah itu.. Tetaplah begitu ya, jangan menangis lagi.." Kami sampai di depan kamarku.

"Xun?"

"Ya, Na?"

"Ng.. Jangan lupa makan.." Aku mengatakan itu sebelum dia menutup pintu. Lagi-lagi dia tertawa.

"Baik, bintang kecil.. Nah, selamat tidur Na.. Mimpi yang indah ya.." Dan pintu pun ditutup.

Saat dia sudah pergi pikiranku malah menerawang, ah, bagaimana perasaan Shang Xiang ya? Apa dia tau Liu Bei akan kesini? Apakah dia senang? Atau kedatangan Liu Bei malah akan membuatnya semakin bingung? Entahlah, aku bahkan belum tahu pasti siapa yang dia sebut "si bodoh itu". Gan Ning? Ling Tong? Yang pasti bukan Zhou Tai atau Taishi Ci! Ah.. Rumit.. Lebih baik tidur..