Cagalli terus mengunyah seporsi sandwich buatan sang ibu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku catatannya. Hari ini tepatnya hari Senin, seharusnya Cagalli tidak masuk sekolah namun karena ia izin selama tiga hari saat ujian semester, Cagalli harus ikut ujian susulan. Kira hanya menatap si adik dengan pandangan iba. Si bungsu membalas tatapannya itu karena kegiatannya terusik. "Apa lihat-lihat? Sarapan saja sana! Jangan urusi aku!" gerutunya seraya membaca lagi catatan di dalam buku catatannya dan mengunyah lagi.

"Galak banget sih sama kakaknya sendiri," sahut Kira.

"Huh! Tatapan ibamu itu yang membuatku sebal."

"Oh? Maaf deh, kalau begitu."

Cagalli menengok ke arah jam dinding lalu berdiri dari kursi. "Ago gehgi! (Aku pergi)"

"Ya, ya, ya. Good luck, Cagalli-chan!"

Dalam hitungan satu detik, Cagalli memberikan deathglare-nya pada si kakak.

Kira hanya tersenyum tanpa dosa kemudian memakan sandwich untuknya yang dibuat oleh Via. Sementara si ibu dan ayahnya sudah berangkat sejak pagi tadi sebelum ia bangun. Blam! Terdengar suara pintu tertutup dengan kerasnya. "Benar-benar emosional adikku itu. Ckckck," gumamnya.

Ting, tong.

"Baru aku ingin makan dengan tenang."

Ting, tong.

"Iya, tunggu sebentar!" teriak Kira dengan nada lembut di dalamnya(?).

Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruang tamu. Kira mengintip sebentar dari balik jendela sebelum membuka pintu.

Cklek...

"Ohayou gozaimasu, Kira."

"Ohayou gozaimasu, Meyrin. Ada apa ya?"

"Ah, anoo... a-aku ingin minta bantuanmu, Kira."

"Bantuan?" Kira menatap gadis berkuncir dua itu dengan heran.


Gundam SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate SUNRISE

"Don't Take Her!"

By Setsuko Mizuka

Rate : T

Genre : Friendship and Romance

Pairing : CagalliAthrunXX and LacusKira

Warning : Gaje, OOC (mungkin), AU, Typo(s)! Untuk komen di FB sengaja pakai kata-kata tidak baku dsb!

Summary : Karena cintaku yang sesungguhnya baru kutemukan di sekolah ini / Ck, Athrun saja tahu, kenapa aku yang sebagai kakaknya saja tidak tahu? ... / Ya, ini pemberian Meer sebelum dia pindah ke luar negeri. Kau juga pasti punya benda berharga darinya 'kan? / Terima kasih, Cagalli. Aku menyayangimu. / UPDATE!


~ Chap 13 : Relationship BroSis Hibiki ~


Athrun menghela napas pasrah karena baru saja diberikan ceramah singkat oleh si pujaan hati. "Memang apa salahnya kalau aku mengikutimu? Kalau kau kenapa-kenapa lagi, bagaimana?" tanyanya sambil memasang wajah khawatir.

"Kau berlebihan, Zala."

"Hei! Aku kan khawatir padamu!"

Mendengar ucapan Athrun yang secara terang-terangan itu, tentu saja membuat wajah Cagalli memerah. "Geez. Tapi sikapmu itu berlebihan tahu! Aku sudah sehat dan lagipula, aku takkan mau membiarkan diriku dihajar lagi. Gara-gara mereka, aku harus ujian susulan. Aaargh! Menyebalkan!" kesalnya plus curcol pada Athrun. Wajahnya kini memerah karena marah.

Laki-laki itu terkekeh pelan melihat wajah Cagalli.

"Huft!"

"Kenapa?"

"Kau tidak panas pakai mantel setebal itu di cuaca panas seperti ini?" heran Cagalli.

Athrun tersenyum setelah menatap pakaiannya yang ditutupi mantel berwarna biru tua sepanjang lima centi di bawah lutut dan kelihatan tebal itu. "Aku sudah terbiasa memakai mantel ini di musim semi," katanya sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana panjang warna hitamnya. Iris mata emerald-nya menatap langit tanpa berhenti melangkah menuju perpustakaan sekolah.

"Dari mantan pacar ya?"

"Huh?"

Cagalli menyikut lengan kiri Athrun. "Mengaku saja."

"Asal kau tahu saja, aku belum pernah pacaran kok. Walaupun sering ditembak."

"Haha, selain menyebalkan, ternyata Tuan Zala juga pembohong ya?"

Langkah Athrun terhenti. "Aku tidak berbohong."

"Hm?" Langkah Cagalli juga terhenti seraya menengok.

"Karena cintaku yang sesungguhnya baru kutemukan di sekolah ini." Athrun tersenyum tulus.

BLUSH!

Wajah Cagalli memerah dengan amat sangat terlihat. Aaargh! Please, Cagalli! Please! Jangan tunjukkan wajah memalukanmu ini di depan si Tuan Zala dengan mudahnya! pintanya dalam hati pada dirinya sendiri. Sejak acara men-stalker Athrun dan Meyrin di Café Redfox beberapa hari yang lalu, membuat Cagalli kewalahan jika bertemu dengan laki-laki berambut dark blue itu. Contohnya saja kemarin, saat ia pulang dari acara belanjanya di supermarket. Cagalli langsung kabur sebelum kehadirannya diketahui oleh Athrun. "Ck, aku tak mengerti perkataanmu," katanya sambil berjalan kembali.

Athrun tahu, wajah Cagalli memerah karena ucapannya itu. "Pembohong amatiran, eh?"

"Kau mengejekku?" tanya Cagalli tanpa menoleh.

"Ah, tidak kok."

Athrun kembali melangkah dan mensejajarkan langkah dengan Cagalli. "Kau terlihat manis kalau merona seperti itu," bisiknya, namun masih bisa didengar oleh Cagalli.

Bugh!

"Bercandamu sungguh tidak lucu. Siapa juga yang merona? Ahaha!"

Ringisan Athrun terdengar setelah memukul lengan kirinya lagi.

Drrrt! Drrrttt!

Cagalli mengambil ponselnya dari saku kemeja lengan pendeknya.

"Siapa?" tanya Athrun penasaran.

"It's not your business," jawabnya acuh setelah melihat sebuah nama tertera di layarnya. Sebuah nama dari si pengirim e-mail. Meyrin Hawke. Firasatku jadi buruk lagi, pikir Cagalli. Ia pun membaca isi e-mail tersebut. Cagalli, aku ingin bertemu denganmu besok di Café Redfox. Kamu bisa datang kan jam 3 sore?

Cagalli membalas e-mail tersebut. Ya, aku bisa ke sana jam 3 sore.

"Dari secret admirer-mu ya?"

Iris mata amber si gadis melirik ke samping. "Huh?"

Athrun membalas tatapan heran Cagalli lalu memandang ke depan. "Maksudku, orang yang selalu mengirimkanmu barang-barang tiap hari ke rumahmu itu. Iya 'kan?"

"Bukan kok, e-mail tadi dari Stella," dustanya.

"Oh."

Cagalli sekali lagi melirik ke samping. Wajah Athrun tampak datar dan... menahan emosi?

GUNDAM SEED/DESTINY

"Tadaima!" seru Cagalli sambil melepaskan sepatunya lalu meletakkan sepatu tersebut ke rak yang berada di pojok ruangan. Ia menatap heran pada empat sepatu asing yang ada di raknya itu. "Ada tamu ya?" gumamnya.

"Okaeri, Kaa-san!"

Cagalli hampir terjungkal begitu salamnya disahuti oleh ketiga makhluk yang sangat ia kenal dan saat ini tengah tersenyum girang di depannya. "K-kalian? Apa yang kalian lakukan di rumahku?" Pertanyaan gadis berambut blond itu membuat ketiganya cemberut. Cagalli ingin sekali mencubit pipi mereka satu persatu begitu melihatnya.

"Stella khawatir dengan Kaa-san karena kata Baa-chan, Kaa-san dikeroyok orang."

Auel dan Sting menganggukkan kepala.

"Kalian ke sini dengan siapa?" tanya Cagalli.

"Dengan Suster Michele," jawab Auel.

Cagalli mengangguk. Ia masuk ke dalam ruang tamu dan melihat Suster Michele tengah mengobrol dengan Via. Cagalli membungkuk kemudian tersenyum. "Tadaima, Kaa-san, Michele-san."

"Okaeri, Cagalli." Via tersenyum.

Michele hanya tersenyum.

"Aku ganti baju dulu ya."

Stella, Auel, dan Sting kembali duduk di sofa panjang yang muat sampai tiga orang sambil menunggu Cagalli. Sementara itu, Cagalli menatap heran si kakak yang baru saja keluar kamar dengan pakaian rapi. "Mau kemana, Kira? Bukannya kau tak ada acara hari ini."

Kira berjalan dengan mengacuhkan keberadaan Cagalli. "Bukan urusanmu."

"Huh?"

Twitch!

"Apa-apaan itu!? Ditanya baik-baik, jawabnya kasar!" kesal Cagalli sambil menahan Kira.

Laki-laki berambut coklat itu memandang tajam ke arah si adik. "Terserah aku! Aku bebas melakukan apapun yang ku mau tanpa harus bilang dulu padamu, seperti kau yang selama ini menyembunyikan rahasia soal tiga bocah SMP itu!" desis Kira seraya menepis tangan Cagalli yang tengah menahan lengan kanannya.

Sepertinya Kira marah padaku, pikirnya.

.

.

.

"Cagalli, kakakmu mau pergi kemana sih? Ditanya malah diam begitu," tanya Via.

"Entahlah, saat kutanya, dia malah bilang 'bukan urusanmu'."

"Muka Jii-san kelihatan marah tadi," kata Stella.

Cagalli menghela napas setelah duduk di samping Suster Michele.

"Oh iya, Kaa-san benar sudah tidak apa-apa?" tanya Sting dengan nada khawatir.

"Haha, iya. Aku sudah tidak apa-apa. Lihat!" Cagalli menunjuk keningnya sendiri yang sudah tidak berbalutkan perban. "Perbanku juga sudah dibuka 'kan?" Melihat Sting bergumam 'syukurlah', membuat gadis itu tersenyum. Dalam hati, ia sungguh bersyukur bisa bertemu dan membantu merawat Sting juga Stella dan Auel. Ketiga anak SMP itu sangat memperdulikannya.

"Sewaktu dapat berita seperti itu, mereka langsung ingin ke sini," cerita Suster Michele.

Tawa Cagalli dan Via terdengar kemudian.

"Kaa-san, Stella ingin main ke taman kota dengan Kaa-san," pinta Stella dengan nada manja.

"Main ke taman kota?" ulang Cagalli.

"Sepertinya akan menyenangkan kalau kita bermain basket di sana, Sting."

Cagalli sweatdrop. "Kau bawa bola basket?"

"Tentu saja! Bola basket itu sahabatku sejak kecil!"

Tampak Auel memeluk leher Sting dan mendekatkan dirinya dengan laki-laki berambut soft green itu. "Lepas, Auel! Sesak!" gerutunya yang dibalas cengengesan oleh Auel.

"Stella mau ikutan dipeluk dong!" Kini Stella juga ikut memeluk Sting yang duduk di tengah-tengah mereka berdua.

"Hoi! Sesak!"

"Hahaha, sudah. Kasihan Sting, mukanya jadi merah tuh," kata Via.

Gadis bermata amber itu berdiri lalu tersenyum. "Ayo ke taman."

"Iya!"

GUNDAM SEED/DESTINY

Kira memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket hitamnya. Wajah laki-laki itu tampak datar saat memasuki sebuah café. Di ujung café tersebut, seseorang yang dikenalnya melambaikan tangan sementara satu orang lainnya hanya diam sambil menyesap secangkir coffee mocca dengan tenangnya. Sebelum sampai ke tempat mereka, seorang gadis yang tengah terburu-buru menabrak bahunya.

"Ah! Maaf, maaf! Aku sedang terburu-buru!"

Si sulung Hibiki itu hanya menatap gadis itu heran, lalu melangkah lagi.

"Kira!" panggil Lacus sambil tersenyum hangat.

"Hei, Lacus." Mata amethyst-nya melirik ke arah pemuda berambut dark blue di depannya. "Yo, Athrun. Maaf, membuat kalian menunggu," kata Kira kemudian duduk di samping Lacus (ehem). Kira mengangkat tangan kanannya untuk memanggil pelayan café. Begitu datang, ia memesan minuman dan makanan ringan tanpa membaca buku menu.

"Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan itu pun membungkukkan badan seraya pergi.

Athrun menyangga dagu dengan tatapan bosan. "Baru saja aku ingin masuk ke apartemen kalau saja e-mail-mu tidak datang."

"Ahaha, maaf deh," kata Kira sambil menggaruk pelan kepala belakangnya.

"Kenapa tiba-tiba mengajak ketemuan, Kira? Katanya hari ini kau malas kemana-mana."

"Mm, mungkin lebih malas lagi kalau aku di rumah." Kira menjawab pertanyaan Lacus.

"Kenapa Cagalli tidak ikut?" Kini Athrun yang bertanya.

Lacus menatap Athrun dengan tatapan bosan. "Kau 'kan baru saja bertemu dengannya."

"Tapi tak apakan kalau ada Cagalli. Pasti lebih menyenangkan."

"Aku tak mau mengajaknya, dia sedang ada tamu." Jawaban Kira membuat kedua manusia yang tengah berargumen kecil itu menengok. Athrun menyipitkan matanya sementara Lacus menelengkan kepala.

"Siapa?" tanya Lacus.

"Tiga bocah SMP dan seorang Suster dari yayasan yatim piatu milik Kakekku."

"Maksudmu, Stella, Auel, dan Sting?"

Kira kaget mendengar pertanyaan Athrun. "Bagaimana bisa kau mengetahuinya!?"

"Waktu itu, setelah kita berempat pergi ke kebun binatang. Aku mengajaknya makan malam lalu hujan turun dengan derasnya, aku tak bisa membawa adikmu pulang. Jadi dia menginap di tempatku karena hujan baru reda keesokan harinya. Lalu pagi-pagi, Cagalli dapat telepon dari Stella yang memintanya untuk menjenguk gadis itu. Kemudian, aku memaksanya supaya aku ikut dengannya. Yaaa, aku jadi kenal dengan mereka sejak hari itu," cerita Athrun dengan menutupi fakta bahwa gadis berambut blond itu telah meminum sake di malam itu.

Tampak Kira terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya.

"Oh, begitu ternyata. Tapi aku belum pernah dengar soal itu dari Cagalli."

"Cagalli sengaja menyembunyikannya, karena menurutnya itu tidak terlalu penting."

Terdengar suara bergemeletuk dari mulut Kira. Sepertinya laki-laki itu marah. "Ck, Athrun saja tahu, kenapa aku yang sebagai kakaknya saja tidak tahu? Bahkan kedua orang tuaku dan Kakek juga tahu, tapi kenapa mereka menyembunyikannya dariku? Sebenarnya mereka semua itu tidak menganggapku sebagai keluarga mereka atau apa sih!?" Laki-laki berambut coklat itu menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Dirinya seperti sudah tidak dianggap lagi oleh keluarganya.

"Kira..."

GUNDAM SEED/DESTINY

Sesuai janji yang dibuat Meyrin, Cagalli datang ke Café Redfox tepat pada jam 3 sore waktu ORB. Ia tersenyum ramah saat pelayan café memberikan sapaan 'selamat datang' padanya. Mata amber-nya menatap ke seluruh café untuk mencari sosok Meyrin yang kini tengah duduk di tengah-tengah café karena tak ada lagi tempat yang kosong sambil menundukkan kepalanya. "Maaf, aku terlambat," kata Cagalli seraya menarik kursi untuk ia duduki.

"Tidak terlambat kok, aku yang datang lebih awal." Meyrin tersenyum.

Seorang pelayan datang untuk membawakan pesanan Meyrin. "Nona ingin pesan apa?" tanyanya pada Cagalli setelah meletakkan pesanan Meyrin di atas meja dengan rapi.

"Mm, pan cake saja satu."

"Baik, mohon ditunggu." Pelayang itu pun pergi.

Meyrin sepertinya kelaparan karena gadis itu langsung mulai memakan pesanannya.

"Belum makan siang ya?" tanya Cagalli sambil tersenyum tipis.

"Mm, maab! Agu maghan duhuan (maaf! Aku makan duluan)." Wajah Meyrin merona begitu melihat Cagalli tertawa pelan. Tanpa ia sadari, saus dari spagetinya tersisa di ujung bibir kanannya yang membuat tangan gadis berambut blond di depannya itu gatal untuk membersihkannya.

"Eh!?" Meyrin memekik saat Cagalli membersihkan mulutnya.

"Sama seperti dulu, cara makanmu tetap berantakan ya?"

Melihat senyuman tulus Cagalli, membuat Meyrin tersenyum dengan wajah merona. Gadis itu berpikir, sahabat sejak kecilnya ini sudah tak marah lagi dengannya. "Arigatou," lirih Meyrin yang ditanggapi anggukan oleh sahabatnya itu.

Pesanan milik Cagalli datang. "Terima kasih."

"Dengan senang hati, Nona."

Setelah pelayan itu pergi, keheningan menyapa mereka berdua.

Cagalli melepas jaket jingganya lalu menaruhnya di atas tas selempangnya. Ia mulai memakan pan cake-nya sambil sesekali melirik ke luar café. "Hm, café hari ini tampak ramai. Ck, tak enak rasanya," gumam gadis itu. Melihat Meyrin tak menyahut, Cagalli menengok. Terlihat si gadis berambut merah itu mencari sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian ia menaruh barang yang baru saja dicari itu ke atas meja. Kado? Untuk siapa? tanya Cagalli dalam hati.

"Terimalah, Cagalli." Meyrin mendorong sedikit kado berbungkus kertas berwarna jingga dengan pita berwarna putih.

"Untukku?"

Meyrin mengangguk seraya memakan spagetinya lagi.

Cagalli pun mengambil kotak kado tersebut. Penasaran. Ia membuka kado itu dalam hitungan detik dan tanpa pikir panjang. Matanya sedikit melebar begitu melihat isinya. "I-ini... Ini milikku 'kan?" tanya Cagalli dengan nada gugup, dampak dari kekagetannya.

"Iya, itu milikmu," kata Meyrin.

"Darimana kau..."

"Kira membantuku mencarinya kemarin pagi."

Kedua mata Cagalli menyipit. "Lalu?"

"Kau pintar menyembunyikannya, ckckck," puji Meyrin sambil menahan tawa.

"Aku hanya tak mau mengingatnya lagi, makanya kusimpan di langit-langit kamar" lirih Cagalli. "Kau tahu, saat aku emosi karena perkataanmu waktu itu, aku kembali mengingatnya. Apapun itu saat berkaitan denganmu, aku mengingatnya lagi dan lagi. Padahal, aku tak mau mengingat kesalahanmu yang tidak disengaja itu." Dari raut wajahnya, Cagalli tampak lega karena bisa mengungkapkan perasaannya selama ini.

"..."

"Mey, kau memperbaikinya?"

"Ya."

Si bungsu Hibiki tampak menelengkan kepalanya begitu melihat Meyrin menunduk. "Mey?"

"Hiks, hiks, hiks."

"Eeeh!? M-Mey! Kenapa menangis begitu!?" Rasa panik terlihat di wajah Cagalli setelah ia melirik orang-orang yang tengah memperhatikan mereka. Oh God! Kenapa lagi dengan anak ini!? gerutunya dalam hati. "M-Mey, jangan menangis. Kita diperhatikan semua pengunjung," bisiknya.

"Hiks, m-maaf."

Cagalli menepuk bahu Meyrin untuk menenangkannya. "Kau sukses membuatku kaget tadi."

"G-gomenasai." Meyrin menghapus jejak air matanya.

"Sudahlah... Tapi, hatiku lega setelah mengungkapkannya." Gadis itu kembali tersenyum.

"Aku minta maaf atas kecerobohanku waktu itu. Kalau saja aku tidak menjatuhkan kotak itu ke kolam pasti... persahabatan kita tidak terputus. Aku... hiks, juga minta maaf, karena teman-temanku –hiks– kamu jadi masuk –hiks– rumah sakit," kata Meyrin sambil menutupi wajahnya. "Sungguh, a-aku tidak pernah –hiks– bermaksud untuk begitu."

Tap, tap, tap.

Meyrin tetap terisak namun wajahnya menatap Cagalli yang berdiri di sampingnya.

Kini gadis blonde itu berjongkok di hadapan Meyrin. "Sudahlah, jangan nangis. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi saat aku emosi, rasanya aku seperti tidak bisa memaafkanmu." Kedua tangannya terulur untuk menghapus air mata Meyrin yang masih mengalir dari kelopak matanya. "Wajahmu jadi jelek dan memerah seperti kepiting rebus kalau lagi nangis. Benar-benar ciri khas Meyrin Hawke... Mirip seperti Meyrin Hawke, sahabat sejak kecilku yang dulu," kata Cagalli dengan senyum tulusnya yang jarang sekali dipertontonkannya pada orang lain.

"HUAAA! Cagalli!" Grep!

"Huaaa!"

Bruk!

Suara tawa terdengar dari pengunjung yang lain ketika melihat kedua gadis itu terjatuh ke lantai karena Meyrin tiba-tiba memeluk Cagalli, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. "M-Mey, b-berat," keluh si bungsu Hibiki.

"Hmph, hahaha." Meyrin tertawa dengan wajah innocent dan mata sembab.

"Ugh, dasar." Walau menggerutu, pada akhirnya Cagalli tersenyum.

.

.

.

Kini sore berganti menjadi malam, Meyrin dan Cagalli berjalan untuk pulang ke rumah. Sambil sesekali menyesap segelas kopi hangat yang baru saja dibeli setelah berjalan-jalan di taman kota, mereka melihat-lihat toko yang berjejer rapi di depan gerbang taman.

"Terima kasih karena sudah memperbaiki kotak musik ini, Mey."

Meyrin berhenti melangkah lalu menyusul Cagalli yang masih berjalan.

"Kau tahu, kukira kotak musik ini tidak bisa diperbaiki lagi, ternyata masih bisa."

"Kotak itu, hadiah terakhir dari Meer 'kan di ultahmu yang keenam tahun?"

Cagalli terus memperhatikan kotak musik berwarna emas pemberian sahabat lamanya yang kini entah berada dimana tanpa menghentikan langkahnya. "Ya, ini pemberian Meer sebelum dia pindah ke luar negeri. Kau juga pasti punya benda berharga darinya 'kan?" tanya balik Cagalli.

Yang ditanya hanya mengangguk. "Boneka kucing yang mirip Nile."

"Kira-kira, dia dimana ya sekarang?" Cagalli menerawang ke langit malam.

"Ah, aku jadi kangen dengan Meer."

"Hm."

Meyrin bersenandung kecil dengan mata menatap ke depan. Adik Lunamaria itu tidak menyangka, Cagalli akan memaafkannya setelah ia memperbaiki hadiah pertama dan terakhir dari Meer Campbell, sahabat lama mereka berdua yang umurnya seumuran juga. Gadis itu pindah ke rumah kosong yang berada di samping Cagalli dan sejak saat itu mereka bertiga (Kira lebih memilih untuk memperhatikan saja saat mereka bermain karena dia laki-laki) menjadi sahabat baik. Tiap pulang sekolah, mereka selalu menghabiskan waktu di taman kota untuk bermain.

Lalu belum sampai dua tahun Meer pindah rumah, ia dan keluarganya diharuskan pindah lagi ke luar negeri untuk waktu yang lama dan kemungkinan mereka akan menetap di sana. Namun Meer tak pernah memberitahukan dimana ia akan pindah.

Mata bulat Meyrin tiba-tiba bertubrukan dengan sepasang mata blue-gray milik seseorang yang sangat dikenalinya. Ia melotot begitu melihat sosok itu tengah berdiri di dekat halte bis. "C-Cagalli, i-itu..." Tangan kanannya menunjuk orang yang ia lihat sedang tangan kirinya berusaha menggapai sosok Cagalli. Namun yang ia dapat hanya angin, sekali lagi Meyrin menengok sebelum melihat apa yang dilakukan Cagalli sampai berhenti melangkah. "Kau sedang apa sih? Itu! Aku melihat seseorang yang sangat kita kenal, Cagalli!" serunya sambil menarik-narik ujung jaket Cagalli, sementara si pemakai tengah menatap sebuah barang yang terpajang di sebuah toko.

"Apaan sih?" Cagalli menengok ke arah Meyrin.

"Itu tadi..." Wajah Meyrin mencelos saat orang yang sedari tadi ditunjuknya tidak ada. "Kok nggak ada sih?"

Iris mata amber Cagalli menatap objek yang ditunjuk Meyrin. "Nggak ada apanya?"

"T-tadi... mm, lupakan saja. Pasti aku salah lihat."

"Heh? Memang kau melihat siapa?"

"B-bukan apa-apa." Meyrin menatap sayu pada tempat di dekat halte bis.

"Menurutmu, jaket itu cocok untuk Kira atau tidak?"

Pertanyaan dari Cagalli membuat gadis berkuncir dua itu menengok. "Memang dia ulang tahun? Bukannya ultah kalian sudah lewat ya?"

"Memang, aku hanya ingin minta maaf saja padanya."

"Minta... maaf?"

Senyum miris hinggap di wajah Cagalli. "Yaaa, begitulah. Masalah kecil sih."

Meyrin menatap jaket berwarna serupa dengan rambut Kira. Jaket itu berbahan lepis dengan bulu-bulu putih di bagian kerahnya. Persis seperti sosok Kira. Warna coklat melambangkan sosoknya yang manis namun keras dalam mengambil keputusan, sedang bulu berwarna putih melambangkan bahwa sosok Kira adalah sosok yang baik hati dan tulus dalam melakukan kegiatan apapun itu. "Menurutku, jaket itu cocok untuknya," kata Meyrin.

"Kalau begitu, aku akan membelinya!"

.

.

.

Cagalli menulis sesuatu sebelum kotak kado itu diberi pita.

"Nulis apa, Cagalli?" tanya Meyrin penasaran.

"Ra-ha-si-a." Gadis berambut blond itu tersenyum menanggapi cibiran Meyrin.

"Ayo pulang! Hari semakin larut, bisa-bisa aku diomeli Kaa-san dan Luna-nee."

"Iya, iya. Ini, terima kasih," kata Cagalli seraya membayar pada penjaga kasir.

"Terima kasih kembali, Nona."

Keduanya pun keluar dari toko lalu berjalan kemballi menuju rumah. Di sepanjang jalan, Cagalli terus membuka kotak musik pemberian Meer untuk menemani mereka. Suara yang dihasilkannya mampu membuat Cagalli terkantuk-kantuk kalau saja Meyrin tidak mengajaknya berbicara. Iris mata amber-nya tak henti-hentinya menatap kedua beruang kutub yang tengah berputar-putar di dalam kotak musik tersebut. Ia ingat dengan sangat jelas perkataan Meer dulu mengenai dirinya.

"Cagalli, menurutku, kamu seperti polar bear kesukaanku."

"Polar bear? Itu 'kan hewan buas."

"Walaupun buas, entah kenapa begitu melihat wajahnya yang lucu, rasa takutku karena polar bear itu buas menghilang dalam sekejap. Sama seperti dirimu Cagalli. Awalnya, aku berpikir, kamu menyeramkan karena pertama kita bertemu, kamu tidak menampakkan ekspresi hangat melainkan wajah datar. Tapi beberapa hari kemudian, wajahmu tampak lucu jika kuperhatikan lagi." Meer mencubit kedua pipi Cagalli. "Lihat, sekarang kamu jadi lebih lucu daripada polar bear-ku."

Mengingatnya membuat Cagalli tersenyum.

"Cagalli."

"Hm?"

Meyrin menatap Cagalli sambil tersenyum miris. "Entah kenapa, sejak dulu sampai sekarang, aku berpikir kalau kau lebih beruntung daripada aku," ungkapnya.

"Beruntung?"

"Iya. Kau juga selalu berada di atasku soal prestasi."

Cagalli menggaruk pelan pipi kirinya. "A-ah, tidak seberuntung itu kok. Hanya kebetulan saja."

"Tidak, memang kau beruntung, Cagalli."

"Beruntung ya? Aku sama sekali tidak berpikir begitu, yang kutahu aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan dengan sebaik mungkin. Untuk hasilnya, aku hanya bisa berdoa dan berharap bahwa semua yang kulakukan tidak sia-sia." Gadis blonde itu memasukkan kotak musiknya ke dalam tas. "Kau juga pasti bisa meampauiku kalau kau mau berusaha keras dan berdoa.

"Akan kuingat pesanmu, Cagalli-sensei."

"Sensei? Terdengar umurku sangat tua jadinya."

Meyrin tertawa pelan lalu menunduk. "Kau juga beruntung karena bisa bertemu dengan Athrun."

"Bukannya kau juga sudah bertemu dengannya?" heran Cagalli.

"Bukan itu maksudku, tapi... kau memang beruntung bisa satu sekolah dan sekelas dengannya." Melihat Cagalli menelengkan kepalanya membuat Meyrin menahan tawa. Matanya melebar saat melihat tiang listrik di depan sahabat kecilnya itu. "Cagalli! Awas!" pekik Meyrin sambil menunjuk tiang tersebut.

"Eh?"

Dugh!

Meyrin menutup kedua matanya lalu membukanya lagi.

"Ittai," ringis Cagalli sambil memegangi keningnya yang berkedut dan memerah.

"Ah! Maaf, aku telat memberitahumu." Meyrin membantu Cagalli berdiri. "S-sangat sakit ya?" Sahabat kecilnya itu menggeleng seraya berjalan lagi, ia pun ikut berjalan kembali. "Bagaimana ya, ekspresi Athrun kalau melihat kejadian tadi. Ihihihi," kata Meyrin dengan maksud menggoda.

"Heh? Yang pasti akan ditertawakan."

"Benarkah?"

Cagalli mengangguk. "Dia itu makhluk menyebalkan yang pernah kutemui."

"Kalau sikap menyebalkannya untuk menarik perhatianmu sih, menurutku wajar."

"Kenapa kita jadi membicarakan laki-laki itu?"

"Memang tidak boleh? Kau lupa ya, kalau aku pernah menyukainya?"

"Yaaa, tidak lupa sih, tidak juga ingat."

Meyrin sweatdrop. "Aku nggak ngerti."

"Baguslah, kalau kau tidak mengerti. Tapi aku tidak mengerti dengan ucapan yang tadi."

"Soal keberuntunganmu?" tanya Meyrin memastikan lalu dijawab anggukan oleh Cagalli. "Kau beruntung bisa bertemu Athrun lebih dulu daripada aku. Lagipula, kalau bukan karena kau, aku juga takkan bisa bertemu dengannya. Athrun juga beruntung bisa bertemu denganmu, Cagalli. Kau itu gadis baik hati dan paling gadis paling keras kepala yang pernah kutemui. Dia juga beruntung bisa mendapatkan hati sahabat se—"

"—tunggu! Mendapatkan hatiku? Athrun?"

Meyrin tersenyum menggoda. "Mengakulah, kalau kau punya perhatian khusus padanya."

"Huh? Sok tahu! Sudahlah, bukannya kau yang menyukainya? Kenapa jadi aku-"

"-pernah, Cagalli. Kalau sekarang sih, mungkin berkurang seiring berjalannya waktu."

Cagalli menyipitkan matanya. "Semudah itu kau menghapusnya?"

"Perasaan itu mulai terhapus setelah dia menolakku," cerita Meyrin.

"Menolakmu? Memang kapan kau menyatakannya?" tanya Cagalli pura-pura tak tahu.

"Setelah ujian semester kemarin."

"Oh." Cagalli bersiul pelan guna menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya. Jangan gugup, Cagalli. Pasti Meyrin tidak melihatmu waktu itu, pikirnya. Gerbang rumahnya dan gerbang rumah Meyrin sudah terlihat. Ia menyipitkan kedua matanya setelah melihat bayangan hitam baru saja berbelok di ujung gang. "Mencurigakan," gumamnya.

"Mecurigakan apanya?" tanya Meyrin.

"A-ah, bukan apa-apa."

"Kalau begitu, aku masuk duluan ya. Bye, bye!" Meyrin pun masuk ke kediamannya.

Cagalli masih menatap ujung gang yang remang-remang itu karena lampu penerangan tidak terlalu terang. Begitu ia ingin membuka gerbang rumah, tiba-tiba Cagalli merasa menginjak sesuatu. Ia pun berjongkok untuk mengambil barang yang diinjaknya itu. Bunga dan surat... lagi? Tunggu, jangan-jangan orang yang tadi! Cagalli langsung menengok ke ujung gang, namun yang ada hanya hembusan angin. "Kukira, barang misterius ini tidak datang lagi, ternyata..."

GUNDAM SEED/DESTINY

"Tadaima," salam Kira dengan nada malas sambil menguap kecil. Sepertinya rasa kantuk benar-benar mulai menyerangnya setelah puas bermain game di apartemen Athrun. Awalnya Kira malas keluar rumah karena mood-nya masih buruk sejak kemarin. Gara-gara kejadian itu, Kira masih mengacuhkan si adik jika gadis itu bertanya. Bahkan saat orang tuanya bertanya pun, ia kadang enggan untuk menjawab. Sungguh, ia masih marah karena hanya dirinya yang tidak mengetahui rahasia Cagalli. Memang terdengar konyol, tapi tetap saja... sakit hati karena seperti tidak dianggap, pikirnya dalam hati.

"Kira, kenapa pulang telat lagi?"

"Habis main game di apartemennya Athrun, Kaa-san."

Via menatap si sulung dengan tatapan sendu setelah Kira berjalan meninggalkannya.

"Masih marah ya?" tanya Ulen yang baru saja tahu permasalahannya tadi pagi.

"Sepertinya begitu."

Kira mendengar percakapan singkat kedua orang tuanya itu hanya bisa menunduk. Dalam hati ia merutuki sikapnya barusan. Sejak kecil, Kira tak pernah bisa melihat keluarganya sedih karena ulahnya, apalagi kalau melihat ibunya menangis karena dirinya. Seumur hidup, ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri. "Maaf," lirihnya seraya membuka pintu kamar yang berada tepat di samping kamar Cagalli.

Ia memilih untuk mandi terlebih dahulu namun matanya menangkap benda asing di atas meja belajarnya. Kira pun menghampiri meja tersebut lalu mengangkat benda asing itu dan coba menebak siapa yang menaruhnya.

"Siapa yang menaruh ini di meja belajarku?"

Karena penasaran, ia membuka kotak kado berwarna coklat dengan pita putih di atasnya.

Sebuah kertas putih menarik perhatian Kira.

Untuk Kakakku, Kira no baka.

Aku minta maaf karena sudah menutupi rahasia tentang Stella, Auel, dan Sting –walau sebenarnya aku sama sekali tidak ada niat untuk merahasiakannya–. Sungguh, aku sama sekali tidak ada niat untuk melakukannya. Kalau kau tahu juga aku tak masalah, mungkin yang jadi masalah adalah kemarahanmu –seperti sekarang– karena cuma kau yang belum tahu di keluarga. Tapi teman-teman juga tidak tahu soal itu. Kuharap, kau mau memaafkanku dan Kaa-san juga Tou-san. Dari Cagalli, adikmu.

Dengan tangan sedikit bergetar, Kira menaruh kertas itu ke atas tutup kotak kadonya.

"...dasar Cagalli bodoh," lirihnya.

Ia mengambil jaket dari Cagalli untuk sekedar dilihat saja, namun matanya kembali menangkap selembar kertas kecil lagi dari dalam kotak. Pertama kali aku melihat jaket itu, aku berpikir kalau hanya kau yang cocok untuk memakainya. Kuharap, kau menyukainya.

"Ck, apapun yang kau berikan padaku, aku akan selalu senang hati menerimanya."

Kira melipat kembali jaket tersebut tanpa memasukkannya ke dalam kotak. Laki-laki itu ingin berbicara dengan si adik yang tampaknya belum tertidur. Sepertinya. Tanpa mengeluarkan suara, ia melangkahkan kaki menuju kamar si adik. Layaknya orang yang ingin mencuri barang, Kira membuka pintu kamar Cagalli yang kebetulan tidak dikunci (baca: sengaja tidak dikunci oleh si pemilik kamar karena suatu alasan).

"Ternyata sudah tidur ya?" gumam Kira setelah melihat si adik tengah tertidur pulas.

Lampu kamar tampak redup dan tergantikan oleh sinar bintang yang masuk dari jendela kamar.

Kira berinisiatif untuk mendekat, sekedar memastikan. Takut-takut Cagalli hanya pura-pura tidur seperti yang biasa ia lakukan kalau Kira ingin menjahilinya. Tangan laki-laki itu bergerak ke atas dan ke bawah di depan wajah Cagalli. Tak ada gerakan mata, berarti Cagalli benar-benar tertidur, pikirnya. (sebenernya kamu itu mau ngapain Cagalli sih, Kira? #dijitak Kira karena mikir macem-macem#)

"Besok saja deh, kubicarakan dengannya," putus Kira pada akhirnya.

Baru ia menegakkan tubuhnya karena sempat menunduk, Kira kembali menundukkan tubuhnya lagi setelah berjalan satu langkah mendekati kasur Cagalli. Tangan kanannya terulur untuk menggapai pipi kiri gadis tersebut. Senyum kecil tampak di wajahnya begitu melihat wajah Cagalli yang tidak berubah sejak dua tahun terakhir ini. Ia mendekatkan wajah tampannya sampai hembusan napas hangatnya mengenai pony Cagalli.

Cup.

"Terima kasih, Cagalli. Aku menyayangimu."

Kira beranjak dari kasur Cagalli lalu melangkah keluar kamar setelah mencium kening si adik.

"Jadi, kau sudah tidak marah padaku?"

Baru tiga langkah Kira berjalan, suara Cagalli menghentikan langkahnya.

"Ne, Kira-niichan?"

Tiba-tiba si kakak merinding mendengar suara kekanak-kanakan dan terdengar manja dari Cagalli. Ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap adiknya yang kini tengah menatapnya dan masih terbaring di atas kasurnya. "Kau terbentur apa sampai-sampai memanggilku dengan nada seperti itu? Kau tahu, kau membuatku merinding," aku Kira.

"Tadi sih, kebentur tiang listrik."

"Pantas, keningmu terlihat merah tadi."

"Kau 'kan baru saja menciumku, pastilah merah."

Twitch!

"Memang kau kira, aku menciummu dengan memakai lipstick apa?"

"Maybe?"

"Ck." Kira geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh Cagalli. Ia berjalan mendekati kasur milik adiknya lagi seraya berjongkok di sampingnya. Tangannya kembali terulur untuk menyibakkan pony Cagalli yang menutupi keningnya. Benar, kelihatan memerah, walau tadi sempat ia lihat secara sekilas. "Sakit?" Melihat yang ditanya merespon dengan gelengan kepala, membuat Kira tersenyum lalu mengusapnya pelan untuk sekedar menghilangkan rasa sakit yang dirasakan Cagalli karena sempat terdengar ringisan kecil darinya saat ia menyibakkan pony rambutnya tadi.

Si sulung tersenyum. "Kau memang kakak terbaik sedunia, Kira."

Perkataan itu sama seperti perkataan Lacus sewaktu mereka pergi ke kebun binatang.

"Aku hanya berusaha sebagai kakak yang baik untukmu."

"Terima kasih, Kira."

Kira masih mengelus kening Cagalli pelan. "Seharusnya aku yang bilang terima kasih. Untuk berbaikan denganku, kau rela menghabiskan uangmu untuk membeli jaket itu. Harganya 'kan pasti lumayan mahal," katanya sambil mencubit pelan pipi Cagalli.

Cagalli tertawa lemah karena mengantuk. "Aku akan lakukan apapun untuk berbaikan denganmu, karena rasanya tak enak melihatmu marah begitu padaku."

"Di awal memang aku marah, tapi pada akhirnya aku tak bisa marah."

"Tak bisa marah?"

"Aku lebih memilih menjauhimu dan diam saja karena aku tak tahu harus berbuat apa."

"Bodoh." Kini Cagalli gentian yang mencubit pipi Kira. "Maaf ya, aku tidak a–"

"–iya, aku tahu. Kau tidak salah kok. Akunya saja yang salah paham dan berpikiran negatif lebih dulu tentangmu, Kaa-san dan Tou-san." Kira menyangga dagu dengan tangan kiri tanpa berhenti mengelus kening Cagalli.

"Aku juga salah, lebih memilih diam daripada bercerita padamu. Saat kau tanya, aku pun menjawabnya dengan berbohong sewaktu aku pulang larut karena berkunjung ke yayasan. Tapi, aku memang tak ada niat untuk merahasiakannya karena aku berpikir, hal seperti ini tidak perlu dibesar-besarkan," jelas Cagalli seraya tersenyum. "Aku minta maaf."

"Melihatmu memohon, hanya ada satu jalan yang harus kuambil."

"Kalau tak ikhlas memaafkanku, ya nggak usahlah."

Kira tertawa mendengar sewotan dari kembarannya itu. "Iya, iya. Aku memaafkanmu."

"Sudah ah, mau tidur! Ngantuk!"

"Tadi manis banget sikapnya, sekarang berubah jadi tsundere lagi."

"Apa kau bilang barusan!?"

"Yare, yare. Lebih baik aku pergi sekarang."

Grep!

"Eh?" Kira sedikit oleng, namun bisa mendarat dengan aman di atas karpet(?). "Apa?"

"Masih sakit nih!" Cagalli menunjuk keningnya dengan wajah merona.

"Apaan sih? Nggak ngerti," kata Kira dengan nada pura-pura acuh. "Yaudah sana! Hush!" Laki-laki berambut coklat itu hanya tertawa sambil mengacak-acak pelan rambut Cagalli setelah si adik mengusirnya. "Baiklah, tapi cepat tidur ya?"

"Tergantung."

"Ck, dasar." Kira mengelus kening Cagalli lagi. "Sudah lama kau tidak semanja ini denganku."

"Sekarang aku tidak bisa manja-manja lagi denganmu karena–"

"–ada Athrun yang selalu berada di sisiku," lanjut Kira yang sukses dapat cubitan di lengannya.

"Bukan Athrun! Tapi Lacus, bodoh...," geram Cagalli.

Kini wajah Kira merona. "Kok Lacus?"

"Kau menyukainya dan dia juga menyukaimu, selesai 'kan?"

"..."

Cagalli menelengkan kepalanya. "Kok melamun?"

"Tidak apa-apa. Sudah tidur, aku juga ngantuk nih." Kira pura-pura menguap kecil.

"Huh! Pembohong amatiran." Tanpa sadar, Cagalli mengikuti ucapan Athrun kemarin.

"Biarin," kata si kakak acuh dengan wajah jahil.

Cagalli bersiap melempari si kakak dengan guling kalau saja Kira tak mengancam untuk pergi ke kamarnya dan tidak jadi merawat lukanya. Kira hanya tersenyum melihat adiknya kembali tenang dan bersiap untuk pergi ke alam mimpi. "Mau kunyanyikan lagu tidur?" tawar Kira. Melihat Cagalli mengangguk, laki-laki itu berpikir untuk memilih lagu yang ingin ia nyanyikan.

"Kelamaan," keluh Cagalli.

"Baik, baik. Ehem!"

Kira mulai menyanyikan lagunya Dear God dari Avenged Sevenfold. Lambat laun, kedua mata Cagalli tertutup. "Aku juga menyayangimu... Kira," lirihnya namun masih bisa terdengar oleh si kakak. Mata gadis itu benar-benar tertutup. "Suaramu jadi lumayan enak didengar."

Senyum nampak di wajah Kira.

Cagalli pun benar-benar tertidur setelahnya.

"Oyasumi, Cagalli."

Cup.

Kira kembali mencium kening si adik dengan penuh perasaan. Ia berdiri dan ingin pergi keluar kamar, namun sebuah bunga dan surat yang ada di atas meja belajar menyita perhatiannya. Dengan langkah pelan, ia berjalan ke meja belajar tersebut. Kira mengambil surat berwarna putih itu lalu membukanya. Ia membaca tiap-tiap tulisan yang tertulis dengan rapi di atas selembar kertas. Tulisan rapi yang terlihat tak asing lagi baginya. Tulisan ini... mirip tulisan Athrun, pikir Kira tidak yakin.

"Ck, sebenarnya siapa kau?"

To Be Continued

#bersiap dihajar readers# huaaa! Ampuni Mizuka yang tiba-tiba menampakkan Meer Campbell! #sujud-sujud# tapi cuma namanya aja, sosoknya sih... ahaha. Mudah-mudahan aja nggak nongol lagi ya? Err, sebelumnya maaf lama update, pasti para readers sudah baca fic Mizuka yang lain 'kan? Yang It's Our Ending itu lho... ;'D

Jujur, Mizuka masih galau, sempet di awal bingung dengan alurnya. Alhasil jadi begini deh. Di sini Mizuka cuma mementingkan masa lalu Cagalli dan Meyrin. Dan untuk judul di chap 13 ini, entah kenapa Mizuka memilih tentang hubungan kakak-adik CaKi. Ehehe... Ada rahasia di balik rahasia lho! (uuups!)

Mizuka juga udah mikir berulang-ulang kali, judul fic ini lebih baik diganti karena pada akhirnya Cagalli yang jadi rebutan. XD

Big thanks for :

mrs. zala, FuRaHeart, Hoshi Uzuki, air phantom zala, CagalliZala (thank you review-nya^^ ahaha, enelan? Ciyus? Miapah? #dikeroyok rame2# ;') thank you sekali lagi), HatakeRin (thank you review-nya^^ yosh! Mizuka jadi semangat baca review-mu. :D), Dewi Natalia, fmn ferdian (thanks for review-nya^^ ahaha, Mizuka ketawa baca review-mu. :D eh? Kayaknya typo makin bertambah #nengok chap lalu# masih rahasia tapi chap depan akan terbongkar kok. #bow# gomen lama update-nya.u,u), Guest (thanks untuk review-nya^^ chap besok kebongkar kok, tenang aja. :D yosh! Semangat!), hendrik. widyawati, CloudxLightning, Rukaga Nay, Alya130590 (thank you untuk review-nya^^#bow# gomen karena kelamaan review, hiks, hiks, mood Mizuka tiba-tiba hilang. Ehehe, kepanjangan ya? #garuk2 pipi#), dan semua silent readers di sana! XD

NOTE : 3 chap terakhir! Diusahakan chap depan diupdate sebelum tanggal 7 Januari! XD

Sankyuu!