Anata Ni Nani O Imi Suru Nodesu Ka?

Disclaimer : Furudate Haruichi

Warning : OC, OOC, Shounen-ai, Typo disana dan disini :v hati-hati keinjek ya :D

"Ayah. . Ibu. . aku. . . aku benar-benar. . ." Hinata terdiam sembari menatap Ibu dan Ayahnya, sebentar.

". . . Lelah" Lanjut Hinata lirih kemudian menundukkan kepalanya menatap lantai.

"Kalau begitu ke kamar saja ne~" ucap Ayahnya memegang pundak sang anak. Hinata hanya mengangguk menuruti saran Ayahnya dan melangkahkan kakinya keluar dari dapur yang juga sekaligus jadi ruang makan.

Hinata naik ke lantai dua tempat kamarnya berada dengan ditemani oleh Ayahnya, sedangkan Ibunya berada di dapur membereskan makan malam, atau lebih tepatnya membereskan piring yang tadinya digunakan oleh Hinata.

"Ayah. . . apa Shoyo akan . . ." Hinata nampak ragu melanjutkan perkataannya.

"Akan apa Shoyo?" tanya Kyu penasaran.

"Ah tidak apa-apa Ayah. . hehe. ."

Kyu merasa seperti ada yang disembunyikan oleh Anaknya.

"Shoyo yakin tidak ada apa-apa? Katakan saja sebenarnya ada apa? Apa ada masalah saat latihan tadi Hm?" tanya Kyu, sontak membuat Hinata terkejut.

"Ti. . tidak ada kok" Hinata mengalihkan pandangannya ke arah lain, tak ingin menatap Ayahnya yang memandangnya dengan tatapan bingung.

"Shoyo dengar. . Shoyo tak boleh menyimpannya sendirian ne~ Kalau Shoyo punya masalah katakan saja" ucap Ayahnya sembari menghentikan jalan mereka dan memegang kedua pipi sang anak lembut agar menatap ke arahnya.

Hinata terdiam lama, kemudian memberikan anggukan kecil dan senyum cerahnya lagi. Entah kenapa setelah Ayahnya bilang seperti itu hatinya serasa tenang.

Hinata memasuki kamarnya dan langsung merebahkan dirinya ke kasur empuknya. Ayahnya hanya tersenyum dan mengecup keningnya singkat.

"Kalau begitu Shoyo istirahat ne~ Ayah keluar dulu" ucapnya memberikan senyuman lembut.

Hinata tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. Kyu melangkahkan kakinya keluar dari kamar sang anak dengan pikiran berkecamuk. Oh ingatkan ia nanti untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi hari ini pada anaknya.

oOo

Tsukishima duduk di kursi belajarnya dengan perasaan bersalah. Ia terus-terusan mencoba menghubungi ponsel Hinata untuk menjelaskan hal yang sebenarnya namun yang menjawab selalu Operator.

"Argh! Aku harus bagaimana! Shoyo kumohon angkat telponku" ucapnya lirih sembari mencoba menghubungi sang kekasih.

Namun, tetap saja suara operator wanita yang terus menjawabnya.

"Shoyo maafkan aku" gumamnya.

oOo

Kageyama melangkahkan kakinya ke kelas Hinata, dengan tujuan mengajaknya makan siang sekaligus mengatakan bahwa ia tidak terlibat dengan apa yang terjadi kemarin di Gym. Terdengar Egois? Oh tentu saja. Tapi memang benar adanya Kageyama tak ikut-ikutan.

Entah kebetulan atau apa, Kageyama yang berniat menuju kelas Hinata untuk mengajaknya makan siang bersama, Kini malah berpapasan dengan sang gebetan di depan kelas Tsukishima.

"Yo Hinata!" sapa Kageyama saat berpapasan dengan Hinata.

Hinata melirik sekilas kemudian melanjutkan jalannya menuju ke suatu tempat. . mungkin.

"Hi. . Hinata" gumam Kageyama.

Entah kenapa perasaan Kageyama tak enak saat melihat reaksi yang diberikan Partner tersayangnya itu, Perasaan seperti sesuatu akan terjadi pada sang matahari.

Ia pun mencoba mengikuti Hinata meskipun sempat kehilangan jejak. Ia terus mengikuti Hinata diam-diam bak agen mata-mata, mulai dari belokan lorong, masuk Kantin, keluar Kantin, masuk gudang keluar gudang(?), Hingga Naik dan turun tangga Kageyama mengikuti Hinata. Hingga akhirnya mereka sampai ke Atap sekolah. (Au: Lah kalau mau ke atap kenapa tadi mesti masuk kantin, keluar kantin dan sampai masuk gudang keluar gudang?/ Kageyama : udah author diem aja/ Au: Kalau author cuma diem ngeliatin ini cerita gak bakalan jadi Kageyama-kun*Dicuekkin)

Kageyama bersembunyi di balik pintu seraya memperhatikan gerak-gerik Hinata.

Hinata berdiri di dekat pagar pembatas yang ada diatap dengan tatapan kosongnya.

"Huft. . ." Hinata menghela nafas kasar seraya terus menatap kebawah.

Hinata menggapai pagar pembatas dan menaikinya, dengan keseimbangannya yang stabil membuatnya tidak terpeleset atau apapun yang dapat membahayakannya. Sedangkan Kageyama sudah was-was dan sedikit panik. Tanpa sadar Ia langsung membuka kasar pintu atap dan segera berlari menuju Hinata.

"HINATA BOGEE!! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriaknya sembari memegang pundak Hinata yang membelakanginya.

"Hinata jawab aku! Kenapa kau ingin bertindak bodoh seperti ini!" Kageyama lagi-lagi berteriak mencoba menahan niat sang partner yang menurutnya berniat akan mengakhiri hidupnya dengan lompat dari atap sekolah.

"Hinata cepat kembali kesini! disana berbahaya Bogee!!" oke Kageyama mulai kesal karena Hinata mengabaikannya yang sudah berteriak-teriak OOC dengan terus-terusan diam dan menatap ke bawah.

"Hinata cep-"

"URUSAI!!" potong Hinata kesal.

"Hinata" gumam Kageyama tak percaya dengan respon yanh baru saja diberikan Hinata.

"Urusai, urusai, urusai, URUSAI!!!" teriak Hinata membalik tubuhnya menghadap Kageyama. Untungnya tempat yang ia pijak sedikit besar jadi dia bisa berbalik dengan aman.

Kageyama terdiam, Kenapa? Karena Hinata nampak kesal dan terlebih sekarang Hinata kesalnya antimainstrem, Hinata berdiri di atas atap, Oke untuk yang ada di atas atap itu biasa karena Kageyama juga di atas atap, Tapi Hinata sekarang berada di luar pagar pembatas teman-teman diluar pagar pembatas yang ada di Atap! siapa juga yang gak was-was kalau liat gebetannya berdiri ditempat seperti itu?. Salah bergerak sedikit Hinata bisa jatuh ke bawah.

Oke Kageyama mulai Kalut sampai-sampai memikirkan masalah jatuh kebawah. Ya iyalah kalau jatuh itu kebawah, emang ada jatuh ke atas? dikira lagi diluar angkasa gitu?

"Hinata aku tau kamu kecewa karena kejadian kemarin, tapi asal kau tau. Daichi-senpai, Sugawara-senpai, Asahi-senpai, Ennoshita-senpai, Yamaguchi dan aku tidak pernah berpikir seperti itu. kami juga tidak terlibat dengan apa yang diucapkan Tanaka-senpai dan Noya-senpai, apalagi Tsukishima" jelas Kageyama. Hinata terdiam menatap intens manik milik Kageyama.

Sungguh Hinata sedikit kaget dengan apa yang dikatakan Kageyama. Karena apa? Tentu saja karena perkataannya tadi adalah kata-kata terpanjang yang pernah Kageyama katakan. Oh Salahkah jika Hinata berpikiran tak lama lagi Hujan es batu sebesar meteor akan turun akibat kata-kata Kageyama nan panjang dan lebar ini?.

"Jadi Hinata. . Kau ingin tetap disana? kumohon kemarilah. Disana berbahaya" ucap Kageyama lembut sembari mengulurkan tangannya.

Hinata yang melihat itu menundukkan kepalanya, lebih memilih memandang lantai yang ia pijak.

"Hinata. . . Kumohon" ucapnya lagi.

Hinata menghela nafas sebentar kemudian mendekat dan menerima uluran tangan Kageyama untuk membantunya menaiki pagar yang hanya setinggi pinggang Kageyama.

Keheningan tercipta ketika Kageyama telah membujuk Hinata untuk menjauh dari tempat tadi. Sungguh saat itu jantung Kageyama berdebar kencang apa itu yang dinamakan cinta?

'PLAK. . PLAK'

Kageyama menampar-nampar pipinya sendiri karena memikirkan hal ngawur seperti itu. tentu saja kan dia jatuh cinta pada Hinata, bahkan sudah lama. Ia berdebar tadi karena takut sang matahari memilih untuk melompat dari sana dan tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya.

"Hinata" panggil Kageyama sekedar untuk memecahkan keheningan yang tercipta.

Hinata hanya menunduk tak menyahut dan juga tak menatap ke arahnya, Ia lebih memilih menatap lantai.

Melihat itu sungguh Kageyama ingin menanyakan banyak hal, seperti Apa kau baik-baik saja? Apa yang ingin kau lakukan tadi? Apa kau berpikiran untuk melakukan hal bodoh dengan melompat dari atap sekolah dan sebagainya.

"Hinata. . . ano. . etto. . ." ucap Kageyama sedikit canggung bercampur bingung ingin bicara apa.

Hinata tetap tak bergeming, tak menyahut dan bergerak untuk menatap lawan bicara pun tidak. tidak sama sekali.

"Hinata. . . Kau baik-baik saja?" oke pertanyaan itu dengan mudahnya lolos dari mulut Kageyama yang mulai khawatir dengan Hinata yang terdiam sejak tadi.

"Tidak. . Aku tidak baik-baik saja" sahut Hinata masih dengan kepala tertunduk. Kageyama sedikit kaget, namun masih bisa ia sembunyikan ekspresi terkejutnya.

"Ka. . karena apa Hinata? Kau bisa bilang padaku. Kau bisa percaya padaku. Jadi katakanlah" ucap Kageyama. Hinata sontak terkejut dan langsung menatap Manik biru milik Partnernya itu.

Iris sewarna madu bertemu dengan iris biru Kageyama.

"Akhirnya kau mau menatapku. Hinata kenapa kau tadi berdiri diluar pagar pembatas? Kenapa?" tanya Kageyama tiba-tiba mencoba membuat Hinata mengatakan apa yang dirasakannya.

Hinata terdiam, sudah bisa ditebak kan kenapa dia berdiri disana? kenapa Kageyama masih menanyakan itu.

"Hinata. . katakan saja. Jangan kau pendam sendiri. Kalau kau tadi berniat untuk bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah, itu bukan hal yang baik untuk dilakukan. Mungkin kau pikir setelah melakukan hal itu semuanya sudah selesai. Tapi asal kau tahu itu bukannya selesai, melainkan akan menimbulkan masalah baru. Misalnya saling tuduh menuduh alasan kau melakukan Tindakan itu. Jadi kumohon jangan . . . jangan pernah melakukan hal seperti itu oke?" ucap Kageyama sembari memegang (Baca : mencengkram) pundak Hinata dengan lembut dan menatap Hinata yang kini menampakkan ekspresi terkejut dan murung secara bersamaan.

Hinata langsung memeluk Kageyama. Sedangkan Kageyama terkejut bukan main.

"Hina-"

"Kau benar Kageyama. . . hiks. . perkiraanmu benar. Aku memang hiks ingin mengakhiri hidupku hiks. . . Lagipula untuk apa aku bertahan lagi? toh nantinya juga hiks aku akan mati karena penyakit yang ku idap bukan? hiks. . . Dan Aku juga tidak bermakna apa-apa dimata kalian. Dan asal kau tahu hiks disaat aku mulai bangkit dan percaya akan sembuh hiks karena Tsukishima selalu mendukungku. . . Tapi ternyata Tsukishima . . hiks. . dia. . ." potong Hinata sembari menangis di dada partnernya.

"Stt. . . tenangkan dirimu dulu oke? Begini kau seharusnya jangan ambil keputusan seenaknya. Kalau kau melakukan hal bodoh itu bagaimana dengan Ayah dan Ibumu? Bagaimana perasaan mereka nantinya jika mendapat kabar kau melompat dari atap sekolah?" ucap Kageyama sembari membalas pelukan Hinata. Modus dikit tidak apa-apa bukan? haha.

Hinata langsung menatap sang partner memperlihatkan matanya yang sembab karena menangis.

" Maaf. . hiks. . maafkan aku hiks. . . Maaf" Hinata terus mengucapkan maaf.

"Ya. . Hinata ya. . Aku memaafkanmu. dan aku juga minta maaf karena tidak terlalu bisa membantumu saat di gym kemarin" ucap Kageyama mengusap-usap punggung Hinata untuk menenangkan Hinata yang masih menangis.

"Tak apa Kageyama. Kita impas dan terima kasih ne~ Kageyama hehe" Hinata melepaskan pelukannya menampilkan senyum cerahnya. Kageyama hanya tersenyum, Ia sangat senang sekarang bisa membuat sang matahari tersenyum kembali.

"Oh iya Hinata, sebaiknya kau bicarakan dengan Tsukishima baik-baik. Sebelum menuduhnya yang macam-macam oke?" ucap Kageyama. Entah kenapa Kageyama bisa bicara seperti itu, padahal hatinya sesak.

"Ah. . ya. . baiklah Kageyama" sahut Hinata lirih. Kageyama hanya tersenyum sehabis mengatakan kata-kata tadi. Bukan tersenyum seperti biasa, Tapi lebih tepatnya adalah Tersenyum miris.

*TBC*

Demi apa? ini kok jadi absurd dan penuh drama ya? hehe Sorry minna-san kalau chapter kali ini memiliki banyak kekurangan, Soalnya tiba-tiba dapat ide seperti ini saat mengerjakan ulangan uwahahahaha~~.

Terima kasih bagi kalian yang udah mau membaca fict ini. . Jangan lupa Review, Fav dan Follownya hehe. . .

see you minna-san~