13. Si Pembangkang yang Lembut Hati
"Tumben kau terlihat kusut," komentar Clive saat ia dan Clay makan siang di kantin sekolah selepas kegiatan lab biologi.
"Cucu-cucu keluarga Rock membuatku pusing."
Clive mengangkat alisnya.
"Yang sulung adalah seorang pembangkang, sedangkan yang bungsu... Dia mengejarku dengan agresif, bahkan dia berani menciumku saat kami baru pertama kali bertemu," kata Clay lagi.
Clive tertawa geli mendengarnya.
"Itu tidak lucu, Clive," sahut Clay kesal.
"Haha, baik, baik, aku tidak akan menertawakanmu lagi. Jadi kau sekarang sudah resmi pacaran?" Goda Clive.
"Tidak," jawab Clay tegas.
"Hm, kau tidak menyukai cucu Rock itu?"
Clay menggeleng. "Yang kusukai hanya Vlyn," sambungnya pelan.
"Tapi jika semuanya berlangsung seperti sekarang, keadaan tidak akan berubah baik, Clay. Vlyn akan menyangka kau menyukai orang lain."
"Aku memang pengecut, Clive. Aku tidak punya keberanian untuk berterus terang bahwa aku menyukai Vlyn lebih dari sekedar saudara. Setelah semua sikap Vlyn padaku selama ini, aku takut ia akan marah dan membenciku lagi jika aku mengatakan yang sebenarnya. Makanya aku memilih diam walau aku tahu hal itu justru memperburuk keadaan."
Clive memegang bahu Clay. "Tidak perlu menyalahkan dirimu, Clay. Melihat sikap Vlyn di masa lalu, kurasa aku juga akan takut mengambil tindakan jika seandainya aku ada di posisimu."
Clay menghela nafas. "Minggu besok aku harus ke rumah mereka lagi. Kuharap kali ini Lane tidak membuat ulah dengan kabur lagi."
Sekali lagi Vlyn duduk di ruang tamu yang megah itu. Ia merasa gelisah saat melihat Mint yang terus menempel Clay. Sebenarnya Vlyn sangat enggan pergi lagi ke rumah Rock, tapi ia mengkhawatirkan Clay. Jika benar Lane adalah tipe yankee seperti yang dibayangkannya, bisa saja ia melakukan sesuatu yang buruk pada Clay. Lebih-lebih lagi Rock terpaksa pergi mendadak di luar rencana. Tanpa adanya kakek yang mengawasinya, bisa-bisa Lane bertindak lebih liar lagi.
"Ah, itu kakak sudah datang."
"Hai," sapa Lane ramah.
Vlyn dan Clay hanya bisa terbengong melihatnya. Lane jauh sekali dari bayangan Vlyn tentang dirinya. Ia bukanlah seorang berandal yankee dengan wajah seram dan rambut awut-awutan. Sebaliknya, Lane adalah seorang pemuda yang sangat cantik, tidak kalah dari Jule. Badannya langsing, rambutnya lurus panjang tergerai, bagaikan gadis model iklan shampo.
Setelah pulih dari kekagetannya, Clay segera bangkit berdiri dan menyalami Lane, diikuti Vlyn.
"Maaf ya atas tindakanku dulu. Kalian pasti menyangka aku ini orang yang sangat tidak sopan," ujar Lane.
"Tidak juga kok," senyum Clay. "Kami tidak berhak berprasangka buruk pada orang yang belum kami kenal. Kami hanya bertanya-tanya kenapa kau sampai kabur seperti itu."
"Hm...ya, aku cuma ingin menunjukkan kalau kakek tak bisa terus menerus menyuruhku menuruti perintahnya. Selama ini kakek lebih seperti atasan, sedangkan aku dan adikku seperti bawahan. Aku menginginkan hubungan yang lebih hangat, bukan seperti ini."
"Tapi bukankah caramu malah akan membuat kakekmu semakin marah?" Tanya Clay.
Lane terlihat sedih, "Itu karena aku tidak tahu lagi, apa yang harus dan bisa kuperbuat. Aku sudah putus asa."
"Kakak..." Pertama kalinya Vlyn melihat Mint tampak sedih menatap kakaknya.
"Clay, sebenarnya aku masih punya rencana lain. Aku tidak akan menandatangani surat perjanjian itu. Tapi kau jangan khawatir. Aku tidak akan melibatkanmu ataupun keluarga Walse yang lain. Ini sepenuhnya menjadi tanggung jawabku," jelas Lane.
Clay memandangnya dengan ragu. "Kuharap kau tahu apa yang sedang kau lakukan, Lane."
Lane tersenyum, "Sekali melihat, aku langsung suka pada kalian, makanya aku akan tetap menjaga hubungan baik kedua keluarga ini meski tanpa surat perjanjian atau apa pun itu. Percayalah padaku, Clay."
"Kakak sudah selesai bicara kan. Kalau begitu aku sekarang ingin berduaan saja dengan Clay. Yuk, Clay." Seperti biasa, Mint langsung mengajak Clay pergi tanpa memberinya kesempatan untuk mengelak.
Lane menatap Vlyn dengan seksama untuk beberapa lama, lalu berkata, "Maafkan adikku, Vlyn."
Vlyn menoleh terkejut. "Eh? Kenapa bicara begitu, Lane?"
Lane melanjutkan dengan lembut, "Kau menyukai Clay kan? Maksudku, bukan seperti rasa sayang antarsaudara, tapi sesuatu yang lain. Dan adikku itu telah merebut Clay."
Wajah Vlyn menjadi merah. "Apa ekspresi wajahku ini begitu mudah terbaca, bahkan oleh orang yang baru sebentar mengenalku?"
Lane kembali tersenyum, "Aku mempunyai pandangan yang tajam terhadap situasi, Vlyn. Jarang ada yang luput dari pengamatanku. Aku bisa langsung tahu, pandanganmu begitu terluka saat melihat adikku pergi dengan Clay."
Vlyn hanya menunduk. "Oh, begitu."
Lane menghela nafas. "Mint tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan haus kasih sayang karena kami sudah kehilangan orang tua sejak kecil. Mama meninggal sewaktu aku berusia 7 tahun. Tak lama setelah itu, papa menghilang tak tentu rimbanya. Kakek memperlakukan kami dengan disiplin ketat dan segala macam aturan, ketimbang dengan kasih sayang. Makanya Mint selalu mencari perhatian orang dan ingin mendapat kasih sayang dari orang itu. Lalu dia melihat sosok mengagumkan macam Clay. Tidak heran ia kemudian mengejar-ngejar dan menempel Clay. Ini salahku juga. Aku bukan kakak yang baik, bukannya memberikan perhatian dan kasih sayang, aku malah sibuk mencari cara untuk menunjukkan ketidaksetujuanku pada sikap kakek."
Untuk pertama kalinya Vlyn berusaha mengerti kepedihan Lane dan alasan di balik pendekatan gencar Mint terhadap Clay.
"Vlyn, aku tidak bisa menjanjikan apa pun kepadamu, tapi aku akan mencoba mengendalikan sikap Mint," ujar Lane lagi.
Vlyn berusaha tersenyum, "Terima kasih, Lane. Tapi hubungan mereka bukanlah kesalahan atau tanggung jawabmu. Aku sendiri sudah pasrah."
Namun Lane tahu, Vlyn belum sepenuhnya bertekad melupakan perasaannya pada Clay. Vlyn masih menyimpan sepotong harapan bahwa suatu saat Clay akan kembali padanya, walau sekarang masing-masing dari mereka sedang menjalin hubungan dengan orang lain. Dan pengamatan Lane itu tidaklah salah.
Vlyn melihat ke arah Clay dengan gelisah. Clay terlihat tenang, tapi dalam hati tak urung juga dia bertanya-tanya tentang apa yang sedang direncanakan Lane. Lane sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan kejutan. Sejak tadi ia berbincang ramah dengan Walse dan Kenny yang akan ikut menyaksikan penandatanganan surat perjanjian oleh masing-masing pewaris dari kedua belah pihak.
"Maaf menunggu lama, Tuan-tuan." Rock tertawa sambil meletakkan berkas-berkas di meja. "Lane, Clay, silakan."
Lane maju mendahului Clay, kemudian dengan cepat mengambil kertas-kertas itu dan menyobek-nyobeknya, sementara yang lain belum menyadari apa yang terjadi.
"Lane! Apa yang sudah kau lakukan?" Bentak Rock setelah ia pulih dari rasa terkejutnya akibat ulah Lane.
"Aku tidak mau menuruti perintah kakek lagi, termasuk menandatangani kertas-kertas konyol ini. Persahabatanku dengan Clay dan keluarga Walse tidak perlu dijamin oleh perjanjian apa pun. Aku bukanlah kakek yang mendasarkan segala sesuatu pada peraturan dan perjanjian terikat." Lane menghadapi kakeknya tanpa gentar sedikit pun.
Rock tidak dapat berkata-kata, tubuhnya gemetar karena sangat murka. Tanpa mempedulikan kehadiran tamu-tamunya, ia memukul Lane dengan sangat keras hingga cucunya itu jatuh ke lantai.
"Kakak!" Teriak Mint yang langsung mendekati Lane. Ia terlihat sangat ketakutan melihat kemurkaan kakeknya.
Walse yang merasa bahwa masalah ini telah menjadi persoalan intern keluarga Rock, segera pamit. "Rock, kurasa kami harus pulang sekarang. Kau bisa menyelesaikan masalah keluargamu tanpa ada gangguan."
Rock tidak menjawab. Ia hanya terpaku memandangi Lane yang meringis kesakitan sambil memegangi ujung bibirnya yang berdarah. Sebelum meninggalkan ruangan itu, Vlyn dan Clay masih sempat menengok ke belakang untuk terakhir kalinya. Mereka ingin sekali mendampingi dan membela Lane, sayangnya hal itu mustahil dilakukan.
Setelah semua tamunya pergi, Rock memerintahkan pelayannya untuk mengambil tongkat kayu.
"Dasar anak tak tahu diri! Aku sudah membesarkanmu dengan cara-cara yang terhormat, tapi kau malah menjadi pembangkang yang bertindak sesuka hatimu! Jika kau tetap tak mau mengubah sikapmu, aku akan mencabut semua hak warismu dan mengalihkannya pada Mint! Tapi sebelum itu, kau harus diberi pelajaran karena telah mempermalukanku di depan keluarga Walse!"
Rock mengambil tongkat itu dan memukulkannya ke tubuh Lane berkali-kali.
"Kakek, hentikan! Hentikan!" Mint menjerit-jerit ketakutan, tapi tidak mampu mencegah kakeknya yang telanjur dikuasai amarah.
Lane merasa sudah tak kuat lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun di saat kritis itu, seseorang menahan ayunan tongkat Rock dengan tangannya hingga terhenti di udara.
"Siapa kau?" Bentak Rock yang tidak menyadari ada tiga orang luar masuk ke ruang tamu di rumahnya.
"Aku Axl, ksatria pelindung Lane. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakiti Lane, termasuk Anda, kakeknya sendiri," Axl berkata dengan nada penuh wibawa.
Axl tidak datang seorang diri. Ia didampingi oleh dua orang temannya, Cinno yang tinggi kurus tapi jago bela diri, dan Guffo yang tinggi besar tapi cukup lincah gerakannya. Dengan cepat, Guffo menggendong Lane yang masih terlihat lemah dan kesakitan.
"Ayo kita pergi," Axl memberi aba-aba, lalu mereka berempat keluar dengan cepat dari ruang itu.
"Pergilah untuk selamanya dan jangan pernah menginjakkan kakimu lagi di rumah ini! Kau bukan cucuku lagi!" Rock berteriak dengan geram melihat kepergian mereka.
