Rose's Point of View.
Aku baru saja mengantar Domie dan Lily ke pintu belakang, agar mereka bisa ber-Apparate tanpa terlihat. Ketika seseorang ber-Disapparate di depanku. Wajahnya yang tegas terlihat ramah karena senyumnya yang mengembang, tapi kau akan merasa aneh melihat betapa rambut tosca-nya sangat mencolok dan kontras dengan garis tegas wajahnya.
"Teddy!" aku memeluknya singkat saat dia berjalan mendekat.
"Wow, kau tampak… beda?" dia menatapku dengan kedua alisnya yang tertaut. Aku meninju lengannya pelan.
"Kau telat. Domie dan Lily sudah pulang karena Domie perlu menemani Aunt Fleur," kataku. "Dan para cowok, mereka masih di Godric's Hollow, yah kau tahulah, Quidditch," tambahku.
"Sayang sekali, tapi tak apa, ada kau, kan?"
Aku tersenyum lalu mengajaknya masuk. Dia terlihat lelah dan aku menawarinya segelas teh gingseng yang akan berguna dalam memulihkan staminanya kembali.
"Ya, kami cukup sibuk akhir-akhir ini, Rose," katanya saat aku menyodorkan cangkir yang berisi teh.
"Oh ya? Apa ada yang serius?" tanyaku saat duduk di sampingnya.
"Ada segerombolan orang yang menyebut diri mereka Pelahap Maut, Rose. Kau sama sekali tidak tahu, ya?" tanyanya.
Aku menggeleng. Aku memang tidak tahu apapun. Dan Teddy lalu mengeluarkan Daily Prophet dari balik jubahnya. Aku mengambilnya dan mulai membaca artikel utama yang judulnya tercetak tebal di halaman depan.
PELAHAP MAUT? APAKAH PANGERAN KEGELAPAN KEMBALI BANGKIT?
Sabtu malam (29/3) publik sihir dikejutkan dengan munculnya Tanda Kegelapan di langit Hognic Forest, sekitar satu kilometer di selatan ibukota Wales. Tanda yang merupakan simbol dari para pengikut kau-tahu-siapa itu tentu saja menggemparkan seluruh penyihir. Karena seperti yang diketahui, kau-tahu-siapa sudah berhasil dihabisi oleh Kepala Auror saat ini, Harry Potter, saat perang dunia kedua berkecamuk di sekolah sihir Hogwarts.
Isu mengerikan ini bertambah panas seiring dengan adanya pembunuhan masal terhadap dua puluh satu Muggle di Perguruan Tinggi Oxford, di Oxfordshire, London, yang terjadi di hari Senin (31/3) kemarin. Pihak Muggle yang berwenang mengatakan bahwa kematian dua puluh satu orang itu disebabkan oleh kebocoran gas di ruang praktikum universitas, tapi tentu saja, itu adalah hasil dari Kutukan Maut yang dilancarkan secara brutal oleh kelompok yang mengaku sebagai Pelahap Maut.
"Mereka bertopeng, mengerikan. Mereka berpindah tempat bukan dengan ber-Apparate, mereka seperti menaiki awan hitam yang bertiup ke segala arah," ujar seorang Squib yang melihat kejadian pembunuhan keji terhadap para Muggle itu.
Para Auror sudah mulai merapatkan barisan untuk mencari tahu kebenaran mengenai isu yang berkembang di masyarakat sihir, bahwa kau-tahu-siapa ada di belakang semua ini. Juga dikabarkan pada anggota Orde Phoenix, organisasi yang dikenal sebagai lawan bagi para Pelahap Maut dan tentunya kau-tahu-siapa mulai kembali bersatu dan berkonsolidasi untuk menghadapi kemungkinan terburuk dari situasi saat ini. Sejumlah anggota Orde Phoenix saat perang kedua terlihat mendatangi Kantor Auror tadi pagi untuk melakukan rapat penting.
Tetapi kabar ini sepertinya masih sengaja ditutupi guna mencegah gelombang kecemasan di masyarakat. Bahkan Ronald Weasley, salah satu Auror senior dan diketahui juga adalah anggota Orde Phoenix mengatakan bahwa semua baik-baik saja ketika diwawancarai oleh reporter kami.
"Kita semua belum perlu untuk merasa cemas sekarang ini. Tanda Kegelapan itu diperkirakan adalah tanda palsu. Dan kasus pembunuhan puluhan Muggle itu belum dapat dipastikan berhubungan dengan munculnya Tanda Kegelapan tersebut. Para Auror akan berusaha menangani ini secepatnya. Semua akan baik-baik saja," jelasnya kepada kami.
(red.)
Aku selesai membaca dan melipat koran itu kembali. Dad mungkin mengatakan semua akan baik-baik saja, tapi jika berita ini benar, jika para Auror dan anggota Orde sudah melakukan rapat bersama, pasti semuanya tidak berjalan dengan baik.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Teddy?" tanyaku.
"Rose, masih ada kemungkinan bahwa mereka bukanlah Pelahap Maut sungguhan. Karena ada beberapa kejanggalan dari Tanda Kegelapan yang muncul di Wales dengan Tanda Kegelapan yang asli. Tapi fakta terbaru soal menghilangnya beberapa murid kelas tujuh Slytherin ketika mereka akan dikirim pulang dari Hogwarts menimbulkan spekulasi lain. Terlebih para murid yang menghilang itu kebanyakan adalah anak mantan Pelahap Maut saat masa perang pertama dan kedua," jelas Teddy.
Aku merasakan hatiku mencelos.
—anak mantan Pelahap Maut saat masa perang pertama dan kedua.
Scorpius? Dia memang masih tingkat enam, tapi keluarganya, keluarga Malfoy adalah salah satu keluarga Pelahap Maut yang terkenal sangat setia kepada Lord Voldemort. Jika Voldemort memang kembali membangun pasukannya, tirani untuk berkuasa, bisa dipastikan keluarga Malfoy akan terlibat di dalamnya.
"Kemungkinan ada perekrutan besar-besaran terhadap para penyihir muda kita mengingat sebagian besar Pelahap Maut yang selamat dari perang berakhir di Azkaban," kata Teddy lagi. "Tapi itu masih spekulasi terburuk, Rose. Semoga saja kematian para Muggle dan menghilangnya para murid Hogwarts itu tidak ada hubungannya dengan munculnya Tanda Kegelapan," tambahnya.
Teddy tersenyum padaku. Wajahnya terlihat sangat bersahabat, aku tahu dia pasti berusaha menenangkanku, tapi tetap saja semua kemungkinan-kemungkinan itu mengusikku.
"Tapi mengingat situasi yang kurang kondusif saat ini, sebaiknya kau tidak berpergian sendirian,"dia mengingatkan.
Aku mengangguk. Dan kemudian aku mendengar pintu depan dibuka. Scorpius rupanya sudah kembali. Dia mengernyitkan keningnya begitu melihat Teddy.
"Hey, Scorp," sapa Teddy sambil mengulurkan tangan.
Scorpius menjabat tangan Teddy tapi tidak terlihat ramah.
"Aku mampir sebentar tadi, kukira aku bisa ikut bersenang-senang bersama kalian, tapi ternyata aku telat," kata Teddy, sama sekali tidak terganggu dengan ekspresi keras yang terpancar dari diri Scorpius.
"Sayang sekali," balas Scorpius sopan tapi suara terdengar dingin, kurasa dia melakukannya hanya agar membuatku senang. "Dan kalau kalian tidak keberatan, kurasa aku akan pergi mandi, tubuhku penuh dengan tanah," tambahnya lalu berjalan meninggalkan kami.
"Oh, baiklah, aku pulang kau begitu, Rose. Aku memang harus tiba di rumah Victoire dalam lima menit atau dia akan merajuk," kata Teddy. Dia memelukku sekali lagi lalu aku mengantarnya ke halaman belakang untuk ber-Apparate ke Shell Cottage.
Aku menutup pintu belakang dan berjalan ke dalam kamar. Scorpius masih mandi dan aku menunggunya selesai dengan duduk di ranjang. Tak lama Scorpius masuk dan dia sudah memakai pakaiannya, bukan hanya selembar handuk atau jubah mandi seperti biasa, tapi rambut pirangnya masih terlihat basah dan menetes-neteskan air.
"Aku mau bicara denganmu," kataku.
Scorpius tetap tanpa ekspresi saat duduk di sampingku. "Apa yang mau kau bicarakan? Apakah itu berhubungan dengan si Lupin tadi?"
"Kau bisa memanggilnya Teddy, Scorp. Dan dia masih sepupumu! Nenekmu dan neneknya adalah saudara kandung!"
"Kau tidak perlu menyebutkan silsilah keluargaku, kurasa," balasnya, masih dengan nada dingin dalam suaranya.
"Baik. Kau benar," aku menatapnya. "Yang mau kutanyakan padamu adalah.. apakah kau seorang Pelahap Maut?"
Scorpius terlihat menyeringai mendengarnya. Dia lalu menunjukkan kepadaku lengan kirinya yang bersih, terbungkus kulit pucat tanpa noda. "Apa kau melihat ada stempel Tanda Kegelapan?"
"Mungkin belum. Tapi jika Lord Voldemort benar-benar kembali, jika dia kembali merekrut Pelahap Maut, akankah kau jadi salah satu di antaranya?" tanyaku.
Aku bisa melihat otot-otot di wajah Scorpius mengeras. "Pangeran Kegelapan tidak mungkin kembali. Dia sudah pergi," katanya dingin.
"Begitulah yang orang-orang pikirkan setelah perang pertama berakhir, tapi kau lihat? Sepuluh tahun kemudian dia kembali, dia membangun pasukannya kembali selama tujuh tahun dan perang kembali pecah."
"Rose, kau membicarakan tentang berandai-andai, bukan kenyataan. Apakah menurutmu pengandaian seperti itu penting?" Scorpius balas bertanya, manik mata kelabunya menatapku dengan tajam.
"Penting?" ulangku. "Seluruh keluargaku anggota Orde Phoenix, Scorp! Dan jika kau akan menjadi Pelahap Maut, itu artinya kau akan melawan keluargaku," kataku, berusaha menekankan setiap kata-kata yang kuucapkan. "Kau tahu, banyak penyihir putih tewas bukan karena Voldemort yang membunuh mereka secara langsung, tapi Pelahap Maut! Pelahap Maut-lah yang membunuh Uncle Fred kami, Pelahap Maut-lah yang membuat Uncle George kehilangan sebelah telinganya, Pelahap Maut-lah yang membuat Teddy menjadi yatim-piatu!"
Aku sudah hampir meneriakkan kalimat terakhirku. Aku merasakan suaraku mulai parau karena tercekat oleh air mata yang tidak kuhendaki untuk keluar.
Namun Scorpius masih terlihat tenang ketika bertanya, "Dan atas dasar apa kau menuduhku kalau aku akan bergabung dengan Pangeran Kegelapan?"
"Semua orang tahu kalau keluargamu adalah salah satu keluarga yang paling setia kepada Voldemort."
"Nah, kalau kau memihak Orde karena seluruh keluargamu anggota Orde, mengapa aku tidak boleh memihak Pelahap Maut, menurutmu seluruh keluargaku Pelahap Maut, kan? Dan kuberitahu, kakak dari nenekku mati karena nenekmu, jika kau mau hitung-hitungan soal keluarga siapa yang lebih banyak menanggung penderitaan, jangan kaget kalau ternyata Pelahap Maut yang dibunuh anggota Orde tidak lebih sedikit dari pada anggota Orde yang dibunuh oleh Pelahap Maut."
Aku ingin sekali membantahnya. Bahwa Bellatrix Lestrange—wanita yang dibicarakannya—memang pantas mati, bukan salah Grandma Molly kalau dia meledakkannya, Bellatrix pantas mendapatkannya. Karena dialah yang bersalah, dia yang hendak melancarkan Kutukan Maut kepada Aunt Ginny dan ibuku, dia jugalah yang telah menggoreskan belati di leher ibuku hanya untuk membuktikan pada dirinya sendiri bahwa darah ibuku memang sekotor lumpur, dia yang telah membunuh Sirius Black, ayah baptis dari Uncle Harry, dan dia juga diduga yang melancarkan Kutukan Maut kepada Nympadora Tonks, ibu dari Teddy, yang notabene adalah keponakannya sendiri.
Tapi aku tidak menjawabnya. Karena aku tahu, begitu aku membuka mulut, tangisku pasti akan langsung pecah. Aku tidak ingin menangis di depannya, tidak saat ini.
"Aku sudah mengkhianati keluargaku sekali. Dan jika aku bisa memilih, aku tidak ingin mengkhianati mereka untuk yang kedua kalinya," katanya lalu bangkit dan berjalan keluar kamar.
Dan setelah dia benar-benar keluar. Aku membiarkan air mataku meleleh. Apa yang dikatakannya membuatku sadar bahwa kami berdua sungguh berbeda. Bukan hanya sekedar dia seorang Slytherin dan aku Gryffindor. Tapi dia Malfoy dan aku Weasley. Keluarganya berdarah murni dan keluargaku terkenal pro-Muggle, Mom bahkan kelahiran-Muggle.
Dan aku mengerti apa maksud dari kalimat terakhirnya tadi.
Aku sudah mengkhianati keluargaku sekali.
Ya, dia sudah mengkhianati keluarganya dengan punya anak dariku. Anak kami akan meneruskan garis keturunan keluarga Malfoy tapi tidak akan meneruskan kemurnian darah yang mereka jaga selama ini. Scorpius telah merusak reputasi keluarganya.
Dan jika aku bisa memilih, aku tidak ingin mengkhianati mereka untuk yang kedua kalinya—
Dia tidak akan memilihku jika keluarganya memang memintanya untuk menjadi Pelahap Maut. Dia pasti akan tetap melawan seluruh keluargaku, dia tidak akan peduli.
Dan tanpa sadar, aku mengelus perutku yang sekarang berisi calon bayinya, bagaimanapun juga kedua anak ini adalah anugerah. Walaupun aku sudah bertindak dengan sangat tidak bertanggung jawab dengan tidak memberi mereka kepastian, membuat mereka berada di situasi yang sangat tidak menyenangkan, karena kedua orang tua mereka mungkin terlalu berbeda untuk bertahan bersama hingga akhir.
Scorpius's Point of View.
Aku menarik tanganku ketika roti yang kusodorkan kepada Jasper sudah dipatukinya hingga habis. Aku tidak bermaksud mengatakan semua itu kepadanya. Dan aku langsung menyesal begitu aku melangkah pergi tadi. Aku ingin sekali kembali ke kamar, memeluknya erat, dan mengatakan padanya bahwa tidak ada yang lebih kuinginkan daripada bertahan bersamanya hingga akhir. Tapi sesuatu yang tidak kutahui apa, seperti menahanku untuk melakukannya. Dan aku tidak melakukan apapun malam itu.
Rose's Point of View.
Udara musim semi semakin menghangat, tapi hubunganku dengannya semakin mendingin. Kami tidak banyak bicara setelah malam itu. Kami sarapan dalam diam, dia lebih sering pulang setelah waktu makan malam, dia tidak pernah berhenti untuk menciumku atau mencumbuku lagi, dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan burung hantunya saat di rumah, kami tidur dengan punggung saling beradu, tak jarang, dia bahkan lebih memilih untuk tidur di ruang tengah, di sofa.
Dan selama liburan paskah ini, aku juga lebih banyak menghabiskan waktuku dengan Domie dan Lily, kami biasa berjalan-jalan di kawasan perbelanjaan Muggle atau bersantai di Grimmauld Place, rumah itu selalu sepi dan tenang. Semua aktivitas itu sedikit berhasil mengalihkan pikiranku tentang Scorpius. Namun aku tahu hal seperti ini tidak akan berlangsung selamanya, akan ada saatnya dimana semua ini berakhir. Entah diakhiri dengan kata bahagia selamanya atau justru sebaliknya.
Scorpius's Point of View.
Aku keluar dari kantor bersama Mr Dursley, kami baru saja selesai mengepak berdus-dus bor untuk dikirim ke Rumania. Mr Dursley masuk ke dalam mobilnya dan melambai kepadaku. Aku mengangguk dan kemudian dia sudah mulai mengemudi pulang. Dan aku baru saja akan membuka pintu mobil ketika aku melihat sebuah kilatan cahaya kekuningan menyambarku, kilatan cahaya itu berubah menjadi tali besar yang sudah membelit tubuhku sedetik setelahnya.
Aku melihat seorang penyihir dengan jubah hitam panjang yang menyapu tanah berjalan mendekatiku, wajahnya tertutup topeng dan kerudung, dan badannya tinggi berotot. Dia melambaikan tongkat sihirnya sekali lagi dan aku merasakan udara di sekelilingku sepertinya menyedotku. Kami ber-Apparate entah kemana.
Dan begitu kakiku menginjak permukaan padat tanah, aku merasakan tubuhku diseret dengan paksa untuk masuk ke dalam sebuah rumah besar yang terlihat tua dan gelap. Si penyihir yang menyeretku mengangguk kepada dua orang penyihir bertubuh besar yang menjaga pintu masuknya yang hampir sebesar pintu masuk di Gringotts.
"Kau sudah ditunggu daritadi, Rookwood," kata seorang penjaga yang berdiri di sisi kiri.
"Tapi sepertinya mereka tidak akan keberatan menunggu melihat siapa yang berhasil kau bawa," sahut penjaga yang satunya.
Rookwood mengangguk dan menyeringai lalu kembali menyeretku menaiki undakan batu. Aku dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan besar dengan meja penjang dan deretan kursi yang mengelilinginya. Kursi-kursi tersebut berisi banyak penyihir muda yang—sama seperti Rookwood—memakai jubah panjang berkerudung, tetapi mereka tidak mengenakan topeng. Aku bahkan mengenali beberapa wajah di antaranya. Ada Jurgen Goyle, Centasius Crabbe, Volans Bulstrode dan beberapa anak kelas tujuh Slytherin yang tidak aku ketahui namanya.
Seseorang yang terlihat seperti pemimpin di sini, yang sejak tadi berdiri di depan perapian—satu-satunya penerangan di ruangan ini—berbalik dan mendongak, membuat kerudung yang menutupi sebagian kepalanya merosot ke belakang memperlihatkan wajah kurusnya yang pucat yang tampak sadis dengan mata merah yang menyala dan berkilat dalam kelopaknya, jemarinya yang panjang bergerak memelintir tongkat sihirnya.
"Ah," desisnya saat memandangku. "Scorpius Malfoy."
"Yang Mulia," kata Rookwood sambil membungkuk. Aku heran mengapa dia memanggil orang itu dengan sebutan seperti itu.
"Kerja bagus, Harper. Seorang Malfoy. Darah Murni sejati, salah satu keluarga yang paling setia kepada Pangeran Kegelapan."
Rookwood tersenyum lalu kembali membungkuk, dia lalu duduk di kursi kosong yang ada di sisi kanan. Sementara itu, pria aneh yang dipanggil 'Yang Mulia' itu berjalan ke arahku. Dia melepaskan mantra Rookwood yang mengikatku dan tersenyum, tetapi senyumnya sungguh membuat muak.
"Kau pasti bertanya-tanya, Scorpius. Apa yang sebenarnya terjadi di sini," katanya.
Aku menatapnya tajam, sama sekali tidak berniat untuk bersikap menjilat seperti yang dilakukan semua orang di tempat ini. Memangnya siapa dia? Pangeran Kegelapan?
"Kami semua di sini, tentu saja, adalah penyihir yang sebenarnya. Yang memang punya hak untuk menggunakan sihir," dia kembali memulai. "Yang bersimpati atas cita-cita Pangeran Kegelapan. Oh ya, sebelumnya perkenankanlah aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu, namaku Oswald Rastrick, tapi kau bisa memanggilku Lord Rastrick, orang yang ditunjuk untuk mengkoordinir semua penyihir yang berdarah murni yang mempunyai tujuan yang sama.
"Dan kami semua berniat untuk mewujudkan cita-cita mulia yang telah dihancurkan oleh tangan-tangan kotor itu kembali. Tentunya, kau sudah tahu, Scorpius, maksud kami adalah kami ingin mengundangmu untuk bergabung. Membangun sebuah peradaban yang layak bagi para penyihir sebenarnya seperti kita, menyingkirkan pada penyihir yang tidak berhak itu."
"Dan kenapa aku harus bergabung denganmu?" tanyaku dingin, Semua mata di ruangan itu sepertinya tertuju padaku.
Rastrick tertawa. Tawanya tidak menyiratkan kebahagiaan. Tetapi justru aura dingin yang keji, melengking sampai terasa menyakitkan didengar. Aku juga mendengar orang-orang di sekitarku berkasak-kusuk, seperti tidak menyangka dengan reaksiku.
"Oh, tentu saja. Kau berdarah murni, Scorpius. Dan pastilah, kau juga seperti kami, bercita-cita menciptakan masyarakat dunia sihir yang bersih dari penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh Muggle-Muggle kotor itu. Dan kau memang harus bergabung dengan kami," kata Rastrick.
Aku masih tidak mengalihkan pandanganku darinya. "Harus?" aku mengulangi dengan nada yang mencemooh.
"Harus. Keluargamu sudah bersumpah untuk setia pada Pangeran Kegelapan hingga akhir. Yang artinya sumpah itu juga adalah milikmu, kewajibanmu untuk memenuhinya, Scorpius."
"Tidak, sumpah macam itu tidak pernah kuucapkan," jawabku. "Lagipula, sumpah itu berisi untuk setia pada Pangeran Kegelapan hingga akhir. Bukan kepadamu, dan…" aku berhenti menatap sekelilingku, orang-orang memandangi kami dengan ngeri. "Pangeran Kegelapan sudah berakhir," lanjutku.
Mata merah Rastrick berkilat mengerikan, dia tertawa, berbalik untuk meminta dukungan dari pengikutnya, lalu saat kembali menghadapku, wajahnya penuh kebencian yang bengis. Dia mengulurkan jari-jari pucatnya yang panjang, mencengkram rahangku, memaksaku untuk mendongak.
"Sayang sekali, tapi kau tidak punya pilihan, Anak Baik," katanya. Dia lalu membanting tubuhku ke lantai. Dia mengacungkan tongkat sihirnya dan melancarkan berbagai macam kutukan yang tidak sempat kukenali, yang jelas, aku melihat kilatan cahaya beraneka warna menghantamku, membuat tubuhku melayang, membuatku menggeliat kesakitan—sepertinya kutukan Crusiatus, dan saat kembali terbanting ke lantai, aku merasakan wajahku bengkak dan darah mengalir deras dari pelipis dan bibirku.
"Sectumsempra!"
Dan aku merasakan lenganku tergores. Aku tidak bisa melihat sebesar atau sedalam apa luka itu tapi darah segar sudah membanjiri bagian kiri tubuhku.
"Wah, mantranya berhasil ternyata, aku menemukannya di dalam sebuah catatan tua para Pelahap Maut kita yang terdahulu," kata Rastrick, suara terdengar sangat puas, seperti suara seorang murid tingkat satu Hogwarts yang baru saja berhasil menerbangkan selembar bulu dengan tongkat sihirnya untuk pertama kalinya, dan gelombang pujian bersahutan dari para pengikutnya yang seperti babi penjilat itu.
"Nah, Scorpius. Tidakkah kau menyadari posisimu saat ini?" Rastrick mengulurkan kakinya, dan mengangkat wajahku yang terkulai di lantai dengan sepatunya. "Kami sudah mengawasimu selama berminggu-minggu. Kami tahu dimana kau tinggal sekarang, apa yang terjadi padamu, mengapa kau tidak kembali ke Hogwarts melainkan malah bekerja di kantor Muggle yang kotor itu, dan tentu saja, wanita berambut merah yang sedang mengandung anakmu saat ini," aku mendengar nada mencemooh dalam suara Rastrick, aku ingin sekali bangun dan menghajarnya, oh, andai aku punya tongkat saat ini.
"Harper dan… Jurgen, mungkin kau bisa membantu Harper, seret dia kembali ke tempat dimana kau tadi menemukannya. Mari kita biarkan dia berpikir, tapi sayangnya, pilihanmu hanya dua, Scorpius: bergabung bersama kami atau tidak pernah melihat anakmu lahir ke dunia, nah, waktumu hanya seminggu untuk memutuskan," Rastrick berbalik sementara aku merasakan dua orang menarikku berdiri, mereka menyeretku menuruni undakan batu depan lalu udara seperti tersedot dan kami ber-Disapparate di depan mobilku, yang masih terparkir di depan kantor Mr Dursley.
Aku merasakan Rookwood menarik tangan kananku. Menyentuhkan ujung tongkat sihirnya di lenganku itu. Saat berikutnya aku merasakan tanganku terbakar dan aku menyentak tanganku, bekas kemerahan membara di sana, membakar kulitku.
"Kau bisa menekankan tongkat sihirmu ke Tanda itu kalau kau sudah bersedia untuk bergabung, Scorpius Malfoy," desis Rookwood lalu sosoknya membuyar menjadi asap hitam di udara di depanku.
Rose's Point of View.
Aku mendengar keran air menyala. Mungkinkah Scorpius baru pulang? Aku mengerling jam dinding, pukul setengah satu malam. Astaga, harus selarut inikah dia baru pulang? Tetapi aku mendengar suaranya, menggeram aneh dan kemudian terbatuk. Apa yang terjadi padanya? Rasa penasaran itu menggelitikku sampai kemudian suara benda jatuh terdengar dari kamar mandi.
Aku bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Pintunya terbuka sedikit dan aku bisa melihat apa yang terjadi. Dan begitu melihatnya, aku merasakan gelombang perasaan yang menyakitkan menghantam dadaku, seperti mengiris-iris hatiku. Aku langsung menerobos masuk dan berlutut di sisi Scorpius yang roboh di samping wastafel. Wajahnya babak belur, matanya bengkak dan kebiruan, bibirnya sobek dan meninggalkan bekas darah kering di sudut-sudutnya, hidungnya sepertinya patah dan pelipisnya masih mengalirkan darah segar. Dan yang lebih mengerikan lagi, lengan kirinya terluka parah, seperti tertebas pedang, memperlihatkan daging berdarah di dalamnya.
"Apa yang terjadi padamu, Scorpius?!"
Aku mendapati diriku menjerit. Aku membekap mulutku agar tidak terisak, tapi percuma, air mataku tetap turun.
Scorpius tersenyum. "Aku punya masalah dengan geng Pelahap Maut rupanya," katanya.
Aku tidak bertanya lagi. Ya, aku memang marah dan kecewa padanya karena sebelumnya dia lebih memihak Pelahap Maut daripada aku, tapi bukan berarti aku menginginkannya kembali padaku dalam keadaan seperti ini, kan?
Aku lalu membantunya membersihkan dirinya. Aku mencoba membuka kemeja yang dikenakannya tapi ternyata itu membuatnya kesakitan. Maka aku berlari ke keluar dan kembali dengan sebuah gunting, aku menggunting kain-kain kemejanya. Menyeka darahnya sebisaku. Oh, andai aku punya tongkat sihir, aku mungkin bisa membuat darahnya berhenti mengalir, tapi..
Aku kembali berlari keluar, membuka laci-laci di dapur, dan akhirnya aku menemukannya. Kotak obat-obatan yang diberikan Mom saat aku pertama kali pindah ke sini. Aku meneteskan beberapa tetes esens dittany ke luka di sekujur tubuhnya. Semua luka-lukanya mulai menutup, kecuali luka besar di lengannya. Oh, mungkinkah karena luka itu adalah hasil dari sihir hitam?
"Kau agresif sekali sampai menelanjangiku seperti ini, Rose," kata Scorpius.
Aku menatapnya. "Tak bisakah kau bercanda di situasi yang tepat?" tanyaku, suaraku terdengar melengking dan bergetar hebat.
Aku merobek segulung kain kasa dan melilitkannya di lengan kiri Scorpius. Walau setebal apapun aku melilitkannya, darah tetap merembes dan membasahi kasa itu.
"Aku harus menelpon Mom," kataku.
Scorpius menggeleng. "Jangan. Jangan beritahu siapapun."
"Bagaimana bisa? Kondisimu—"
"Aku akan baik-baik saja, Rose," potong Scorpius. Dia mencengram sisi toilet dan berusaha bangkit. Tubuhnya bergetar dan wajahnya memucat, tapi Scorpius tidak berhenti, dia malah berjalan keluar kamar mandi. Aku akhirnya membimbingnya menuju kamar dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Darah segar yang mengalir dari luka di lengannya masih belum berhenti dan membuat bercak kemerahan di seprai.
"Tetaplah di sini, temani aku," Scorpius menarik tanganku saat aku hendak keluar kamar.
"Scorp, tapi—"
"Aku mohon," katanya lagi. Mata kelabunya yang kuyu memandangku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Aku mengangguk dan akhirnya duduk di sampingnya. Scorpius terlihat tersenyum lalu mengangkat kepalanya dan meletakkannya di pangkuanku. Perutku yang besar terasa agak mengganjal tapi aku tidak mengeluh. Aku mengulurkan tanganku dan menyapukannya di puncak kepalanya, merapikan helai demi helai rambut platinanya yang berantakan, setengah berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya.
"Aku merindukanmu," bisik Scorpius sebelum memejamkan matanya. Dan walaupun wajahnya terlihat lebih damai dalam tidurnya, seringai kesakitan tetap masih terpeta di wajah tampannya.
To Be Continued...
Author's Note:
Aku minta maaf update-nya kelamaan. Lebaran dan aku harus mudik, paket internetku abis dan susah sekali buka laptop di tengah-tengah rumah yang penuh orang. Tapi di chapter kali ini aku membuatnya sedikit lebih panjang, jumlah wordnya lebih dari 3k (biasanya aku cuma buat 2k loh). Makasih banget yang udah setia menunggu dan yang udah review di chapter sebelumnya :)
Nah, selamat menikmati ceritanya dan tetap bersabar nunggu final chapternya ya :D
