Byun Baekhyun sedang menyelesaikan sarapannya ketika Chanyeol sudah membunyikan klakson di depan rumah.

"Umma, aku berangkat, yaa~" Ia berteriak sambil berlari menuju dapur—mencium kedua pipi Ibunya—tentu dengan roti tawar yang masih berada dikunyahannya. "Chanyeol sudah menjemputku."

Nyonya Byun yang sedang mencuci piring pun tersenyum maklum. "Ya sudah, sana berangkat. Nanti kau terlambat,"

"Jaljjayo, Umma." Baekhyun melambai lalu segera menyusul Chanyeol di mobil sewarna metaliknya. "Yo, Yeol!"

Sapaan Baekhyun itu sempat membuat Chanyeol berjingat, tapi ia lalu menaikkan kedua alisnya sambil balas menepuk bahu si mata sipit itu.

"Appa-mu sudah berangkat?" Chanyeol sudah menginjak gas dan kini ia membelok-belokkan setir menuju sekolah. "Biasanya kau berangkat bersamanya, kan?"

"Semenjak tidak ada Kyungsoo, sih—ya." Baekhyun mencebik, "Appa sudah berangkat duluan."

Chanyeol hanya manggut-manggut, merasa paham.

"Yeol, aku mau tanya sesuatu." Baekhyun tentu tak mau membiarkan suasana di perjalanan ini berubah canggung. "Omong-omong, kenapa kau tiba-tiba berubah peduli pada Kyungsoo?"

"Tentu bukan hanya karena dia ternyata tetanggamu," Chanyeol tertawa, "Kenapa baru menanyakannya?"

"Yah, aku hanya penasaran, sih." Mobil Chanyeol terhenti di lampu merah selama beberapa detik dan sekian detik itu Baekhyun akhirnya menambahkan, "Apa kau juga merasakan hal yang sama padaku?"

"Apa yang kau rasakan—memangnya?"

Sambaran Chanyeol itu sempat membuat Baekhyun gelagapan. "Umh, ya, seperti aku merasa sudah terlalu jahat padanya, aku hanya tiba-tiba sadar bahwa apa yang aku lakukan itu—keterlaluan."

Chanyeol tersenyum seraya menoleh pada Baekhyun, "Itu hampir mirip dengan alasanku, tapi kurasa aku sadar bukan karena aku melakukan hal jahat padanya seperti apa yang kau lakukan,"

"Lalu?" Baekhyun memicingkan matanya, kepalanya pun otomatis dimiringkan.

"Yah, aku memang merasa kalau waktu itu, aku dan Kai, sangat senang menjatuhkan orang-orang lemah. Hal itu juga terjadi—awalnya—pada Kyungsoo. Kami sangat senang memiliki mangsa sepolos Kyungsoo, kami bahkan punya ide-ide gila untuk menjahilinya, kau tahu sendiri, Baek." Chanyeol berdeham sejenak, "Namun, saat aku menangkap gelagat aneh darimu—kau tidak biasanya absen dalam kegiatan kita mengerjai anak-anak lemah, kan? Nah, darisana aku belajar, justru aku belajar darimu, Baek. Secepat itu aku paham."

"Aku? Memangnya aku melakukan apa?" Baekhyun merasa bingung di sela kerjapan matanya.

Chanyeol tergelak sambil memukul setir sekali, "Aku tahu kau waktu itu berada di dua sisi yang membuatmu serba salah." Ya, dan Baekhyun merasa Chanyeol tepat sasaran. "Maka, setelah aku mengikuti permainan Kai sambil menyadari perubahan sikapmu—aku tahu ada yang tidak beres. Ketika aku melihat sendiri bagaimana kau tega membiarkan Kyungsoo menjadi mainan kami—aku belajar agar bisa sepertimu. Aku belajar bagaimana caranya agar tetap tenang sekaligus berdebar, kalau-kalau Kyungsoo keceplosan. Aku menunggu saat itu, aku menunggu saat kau tampil dengan wajah tertangkap basah lalu mengatakan siapa sebenarnya Kyungsoo." Mereka berhenti lagi di lampu merah.

"Aku tidak mengerti, Yeol."

Chanyeol tersenyum lagi—Baekhyun bersumpah, hari ini Chanyeol terlihat lebih tampan apalagi dengan sejuta senyuman seperti ini.

"Penasaranku terbunuh saat Kai bilang kalau Kyungsoo adalah tetanggamu. Ternyata kalian ketahuan, ya." Chanyeol melanjutkan dan terdiam lagi saat lampu hijau menyala. "Jadi, kesimpulannya adalah aku hanya harus memupuk gengsiku untuk bisa merasa kasihan pada orang-orang lemah—sayangnya, bukan seperti yang kau lakukan pada awalnya, Baek. Kau melakukan itu justru setelah Kai menyakiti Kyungsoo sangat parah. Kau hanya sedikit terlambat." Ya, dan Chanyeol merasa menang.

Baekhyun termangu. Semua yang dikatakan Chanyeol memang benar. Ia sedikit terlambat menyadari betapa salah perlakuannya pada Kyungsoo, tapi itu sudah sangat terlambat. Hingga sekarang Kyungsoo harus mengalam beragam kepahitan entah dari Kai atau siapapun, sedikit-banyak kau bisa menyalahkan Baekhyun.

"Jangan merasa bersalah." Chanyeol berubah bijak hari ini. Ia menepuk-nepuk bahu Baekhyun sembari menyunggingkan senyumnya yang seolah tak pernah pudar. "Aku tahu kau sudah bekerja keras selama ini."

"Jadi, Yeol—kau sebenarnya tahu kalau saat itu aku dan Kyungsoo ada hubungan?"

Chanyeol mengedik, "Aku hanya menebak, dan ya kurasa aku benar."

"Jadi, Yeol—kau waktu itu hanya ingin melihat bagaimana aku menghadapi semua ini?"

Chanyeol menjentiikan inu jari dan telunjuknya seraya berseru, "Bingo!" Mereka sudah sampai di pelataran sekolah sehingga Chanyeol berusaha mencari-cari tempat kosong untuk memarkir mobilnya dan sedikit menghiraukan Baekhyun. Tapi, lalu ia menyambunnya, "Ya, seperti itulah hidup, Baek. Saat pertama kali kita menggoda Kyungsoo, kau sudah menunjukkan itu semua dengan sangat jelas. Ada marah, takut, kesal, dan panik. Aku membacanya lewat air mukamu yang berubah-ubah seiring lontaran kalimat jahat kami pada Kyungsoo."

"Kau tahu?"

"Aku tahu."

Baekhyun agak-agak tidak percaya. Bagaimana bisa seorang Chanyeol yang bebal dan berandal itu bahkan memiliki hati super mulia melebihi dirinya dulu? Notabene Baekhyun adalah tetangga Kyungsoo dan justru Chanyeol yang buta sama sekali akan Kyungsoo—malah berbanding terbalik.

"Yeol, alasanmu—"

"Aku tidak punya alasan berubah dari jahat menjadi baik pada Kyungsoo, Baek. Nakal boleh, bodoh jangan. Bodoh disini adalah tentang rasa kemanusiaanmu dan nakal disini adalah tentang kelakuanmu. Aku tidak punya alasan karena aku memang tidak benar-benar ingin mengerjai Kyungsoo."

"Be—benarkah?"

Dan Baekhyun harus terkejut untuk kesekian kali. Hari ini, ia tahu sisi lain dari Chanyeol yang baru saja disingkapnya. Seorang Chanyeol yang—jangan-sampai-hanya-kau-nilai-luarnya-saja—karena dalamnya jauh lebih menarik.

Baekhyun merasa malu.

"Ayo, turun. Bel sebentar lagi berbunyi."

Baekhyun mengangguk sekali dan mengikuti Chanyeol, "Yeol, nanti sepulang sekolah kita ke sekolah sebelah, ya. Semalam waktu aku, Umma, dan Appa ke rumah Xiumin—Kyungsoo bilang ingin sekolah hari ini."

"Jinjjayo? Kyungsoo sekolah? Bagaimana kalau Kai macam-macam?"

Baekhyun berjalan beriringan bersama Chanyeol, ia berbisik setelah melihat sosok Kai mendekat pada mereka.

"Kris dan Xiumin mengawasi didepan sekolah Kyungsoo, dan tugas kita adalah mengawasi yang ini."

Baekhyun menunjuk Kai.

DON'TJUDGEMELIKEYOU'RERIGHT

Proudly Present

When Life Gets Hard"

Chapter 14

!ENJOY!

Kai merasa ada perubahan ekspresi pada dua sobatnya tepat saat ia sampai dihadapan mereka.

"Yeol, Baek!" Kai memekik senang, tapi Chanyeol dan Baekhyun sama-sama canggung menanggapinya. "Kenapa siang sekali kalian berangkatnya? Dan hei, kalian berangkat berdua, tanpa aku?"

Tahu-tahu saja Kai sudah merangkul keduanya dan mengajak mereka berjalan menuju kelas.

"Kau tahu, Kris akhir-akhir ini cerewet sekali padaku."

Chanyeol dan Baekhyun hanya membiarkan Kai mengoceh sampai akhirnya mereka duduk di bangku masing-masing. Kai menghadap pada Chanyeol dan Baekhyun yang duduk bersebelahan.

"Kalian kenapa, sih? Ada yang salah denganku?"

"Umh, y—ya, eh, tidak." Chanyeol buru-buru meralat. "Maksudku, hari ini kau kelihatan lebih ceria, Kai."

"Tidak seperti biasanya," Baekhyun menimpali dengan senyum sekedarnya dan sebisa mungkin agar tidak menyinggung topik berbahaya. "Hei, Kai. Kita berdua seperti sudah lama tidak di sekolah ini. Jadi, Yeol, apa saja yang sudah kami lewatkan?"

"Kurasa selama kalian tidak masuk, pelajaran yah seperti itu-itu saja." Chanyeol memberikan penjabaran singkat yang dipahami Kai dan Baekhyun. "Tidak usah khawatir."

Kai tertawa tiba-tiba, agak terlalu lama jaraknya dari kalimat Chanyeol yang sama sekali tidak sedang melucu.

"Aku merindukan kalian," Setelah mengatakan itu, Kai merasa atmosfer disekitarnya berubah sangat canggung. Jadi ia menggaruk belakang kepalanya yang memang tidak gatal. "Aku juga sedikit merindukan Luhan dan banyak merindukan Kyungsoo."

Malah Kai yang membuka topik berbahaya ini.

"Tunggu, ada hal penting yang ingin kutanyakan padamu." Baekhyun cepat-cepat menyambar sebelum kalimat yang sudah tersusun rapi di otaknya menghilang. "Kau dan Kyungsoo, bagaimana perasaanmu? Kau dan Luhan, bagaimana perasaanmu?"

"Terhadap mereka?" Kai mengangkat sebelah alisnya, lalu berpikir sejenak setelah Baekhyun mengangguk. "Aku dan Kyungsoo—aku tidak bisa mendeskripsikannya, tapi aku suka berada didekatnya. Aku suka melihat berbagai macam ekspresinya."

"Apa kau berencana membuatnya bahagia atau sebaliknya, membuatnya hancur?" Chanyeol kali ini menguak titik terang yang disuarakan Kai secara tidak sengaja. "Kau tahu kalau kami sebagai temanmu selama ini serba salah, Kai. Kami tidak tahu harus membela siapa, mendahulukan siapa—karena kau sudah keterlaluan waktu itu."

"Ya, waktu itu dan aku tahu." Kai menunduk sebentar, entah menyesal atau punya pikiran lain. "Aku tidak tahu, Yeol. Aku hanya tidak mau terus-terusan menyebabkan masalah tapi di sisi lain, aku selalu ingin seks. Terutama dengan Kyungsoo dan terutama yang lain, aku juga tidak ingin membebani kalian jika aku menyetubuhi Kyungsoo lagi."

"Jujur, Kai. Apa kau mulai menyukai Kyungsoo?"

Pertanyaan Baekhyun itu agaknya membuat Kai terpojok. Ia bahkan tidak bisa mengartikan perasaannya sendiri. Semakin hari ia memang semakin mengingkan Kyungsoo menjadi miliknya secara utuh, tapi ia tahu itu mustahil. Selain lebih untuk seks, Kai tahu ada hal lain yang mendobrak paksa relung hatinya—bahwa hanya dengan memastikan Kyungsoo ada bersamanya, dunianya seolah tak nyata lagi.

"Aku tidak tahu, Baek."

Chanyeol mengesah, "Bagaimana dengan Luhan? Apa kau sudah benar-benar melupakannya?"

"Aku juga tidak tahu, Yeol."

"Isshhh~" Baekhyun dan Chanyeol sama-sama jengah dengan jawaban Kai.

Setelah itu, Kai malah cengengesan seolah-olah yang barusan adalah hal yang wajar dilakukannya.

"Apa kau ingin sembuh?" tanya Baekhyun, setengah mengintimidasi setengah mendiskriminasi. Tapi, masa bodoh, ia harus tahu ini. "Aku mohon kali ini jawab tanpa kata tidak dan tahu."

Chanyeol menyimak pelan-pelan, ia menunggu kalimat yang terlontar dari Kai dan itu membuatnya was-was.

"Tentu saja aku ingin sembuh—tapi, apa bisa disembuhkan?" Baekhyun agak menyesal telah memberi pertanyaan itu. "Bayangkan kalau bukan aku yang memiliki kelainan ini, pasti Kyungsoo baik-baik saja dan aku tidak membuat kalian kebingungan."

"Inti masalahnya memang hanya hypersex itu, Kai." Chanyeol menyimpulkan tanpa ingin disanggah. "Kita akan cari cara agar semuanya kembali seperti semula. Oh. Kami juga akan mencari tahu perasaan seperti apa yang kau rasakan untuk Kyung—"

"Rasanya seperti nyawamu utuh saat Kyungsoo ada di jarak pandangmu, meski sekian radius meter."

Kai memotong dan itu membuat Chanyeol melempar tatapan pada Baekhyun.

"Rasanya seperti aku tidak ingin melewatkan sedetik pun kesempatanku untuk memandanginya."

Baekhyun mengernyit tak paham, "Apa itu bisa disebut cinta, Yeol?"

"Entahlah." Chanyeol masih berkutat dengan pikiran yang sama. Tentang bagaimana dan bagaimana, entah bagaimana cara menyelamatkan Kyungsoo atau bagaimana cara menyembuhkan Kai. "Bisa jadi, sih."

"Kalau kau punya perasaan seperti itu, setelah—misalnya, kau sembuh, kau mau menjaga Kyungsoo, kan? Maksudku, Kai, kau tidak akan menyetubuhi atau menyakitinya lagi?"

Kai mendengus pada pertanyaan Baekhyun yang ambigu itu, "Aku bilang, kan. Kalau aku sembuh dan tidak ada rasa ingin bersetubuh lagi, aku tentu melakukan itu. Jadi, untuk saat ini aku hanya bisa menjawab—tergantung."

Chanyeol dan Baekhyun bersamaan menghela nafas, mereka ada di interval nol saat sama-sama tidak menukar kalimat seperti ini.

"Oh ya, minggu depan orangtuaku pulang. Kurasa Kris akan membongkar segalanya. Tentang mereka peduli atau tidak, aku juga enggan menjamin." Kai memberi pencerahan pada dua sahabatnya yang memasang wajah lesu. "Jadi, maksudku, kalian bisa ikut meyakinkan mereka kalau yang aku lakukan sudah keterlaluan dan—aku ingin sembuh."

Aku ingin sembuh.

Entah mengapa, kalimat Kai itu terlalu dalam maknanya. Ia tidak tahu harus sembuh dari apa, sembuh dari kelainannya atau malah sembuh dari mencintai Kyungsoo.

"Kalau kami ingin kau berjanji, apa kau bisa menepatinya?"

Kai membasahi bibirnya lalu mengangguk sekali pada pertanyaan Chanyeol.

"Baiklah." Baekhyun memulai, "Untuk saat ini, kalau kau ingin bertemu dengan Kyungsoo tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi—tapi."

Wajah berseri Kai berubah kecewa saat ada selipan 'tapi' di kalimat Baekhyun itu.

"Tapi apa, Baek?"

"Kalau kau tahu ada perasaan aneh di dirimu, seperti ada kupu-kupu beterbangan di perutmu hanya dengan melihat seorang Kyungsoo—yah, aku seratus persen memastikan itu sebagai rasa suka, sih, dasar kau saja yang tidak pernah menyukai orang la—ah, aku kelewatan."

Kai dan Chanyeol agak-agak bingung dimana Baekhyun membicarakan topik awal mereka.

"Maksudku," Akhirnya Baekhyun kembali pada stagnasi semula, ia berdeham lalu melanjutkan lagi. "Kau harus janji tidak akan menyakiti Kyungsoo apalagi menyetubuhinya, demi apapun, Kai. Kami akan selalu mengawasimu sekaligus melindungi Kyungsoo."

Kai mengangkat kedua tangannya, tanda bahwa ia sangat-sangat mengerti.

"Aku tahu," Dua tangan itu lalu ia turunkan dan tertangkup di atas meja. "Aku janji. Nah, kalau ada kalian saat aku menemui Kyungsoo, mungkin aku bisa berhati-hati dalam mengendalikan nafsuku."

Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, anak-anak lain sudah rapi menempati bangku masing-masing. Itu artinya sebentar lagi pelajaran dimulai dan guru mereka yang menyeramkan akan masuk kemari.

Jadi, ia harus cepat-cepat menyelesaikan ini.

"Sebagai sahabat, kami akan terus mendukungmu untuk berada di jalur yang positif, Kai."

"Aku janjiiiii, Baeeek. Kalimatmu itu seperti kau tidak percaya dengan—"

"Yah sebenarnya, aku agak tidak percaya, Kai."

"Apa?! Astaga, kau tegaaa~"

Chanyeol akhirnya menengahi perdebatan mereka dengan deham keras. "Kita beri masa percobaan. Kalau perasaanmu itu benar-benar menyayangi Kyungsoo, kau tahu, kan seharusnya tidak menyakitinya?"

Kai mengangguk bersemangat, "Aku tahu, Yeol, aku sangat tahu. Asal aku sembuh semua pasti baik-baik saja."

Chanyeol menggembungkan pipinya, lalu bergerak gelisah di duduknya. "Kami akan membantumu sembuh. Itu yang nomor satu. Sebelum kau sembuh, kalau ingin bertemu Kyungsoo, kau harus berada dalam pengawasan kami."

"Siaaaap." Kai memberi hormat pada Chanyeol dan Baekhyun, dan karena itu semua, anak-anak lain menoleh penasaran pada mereka. "Baiklah. Terima kasih, Chingu-yaaaaa~"

Kai begitu senang, pun dengan Chanyeol dan Baekhyun. Tapi, ada satu ganjalan yang sebenarnya menolak untuk diabaikan.

Bagaimana kalau Kai hanya mempermainkan janjinya?

-ooo-

Suasana kelas Kyungsoo persis seperti yang sudah lama ini ia rindukan mati-matian.

Setelah Kris dan Xiumin mengantar Kyungsoo persis didepan kelasnya, mereka pun berbalik menuju mobil di pelataran sekolah. Dalam perjalanan itu, Kris lebih dulu mengenali Luhan dan Sehun berada di gerbang sana hingga Xiumin pun tak menyangka mereka berdua cepat sekali akrab.

"Lu," Kris memanggil dan itu menghentikan kegiatan Luhan membenahi dasi Sehun. "Apa kau baik-baik saja?"

Luhan menoleh dengan serantan menuju Kris lalu Xiumin, "Maksudmu apa aku baik-baik saja?" tanyanya.

"Mm, maksudku, kenapa kau sekarang begitu dekat dengan Sehun?" Kris beralih memandang Sehun, tapi anak itu terlihat cuek dan sama sekali tidak tersenyum.

Luhan mengangkat kedua alisnya, "Oh. Ini?" Sambil mengatakan 'ini', ia menepuk dada Sehun. "Karena aku sering mengantar Sehun pulang, orangtuanya jadi memintaku untuk menemani Sehun—yah, dia anak tunggal dan semenjak Kyungsoo tidak ada, dia jadi kesepian."

"Ohh~" Xiumin mulai paham asal mula mengapa Sehun Luhan kerap sekali ditemukan berdua. "Bagaimana dengan Kai? Apa kau sudah benar-benar melupakannya, Lu?"

Pertanyaan itu membuat Luhan bergeming sebentar, lalu ia sadar saat bel sekolah berdering nyaring. "Sehun, kau masuk ke kelas, ya. Ada Kyungsoo, lho." Mendengar pernyataan Luhan barusan, Sehun menggebu-gebu senang.

"Benarkah?"

Luhan tertawa ketika mendapati mata Sehun yang sangat sipit itu mencoba mendelik.

"Kau bisa temui Kyungsoo di kelasnya, Hun. Mungkin dia sedang menunggumu."

Sehun lalu melirik Kris dan Xiumin, "Oh. Hyung-hyung ini yang mengantar Kyungsoo, ya?"

Kris mengangguk sekali, "Nde, tadi Kyungsoo sudah mencari-carimu di kelas, Hun."

Sehun tampak sedang berpikir, tapi akhirnya ia memutuskan. "Sehun tidak mau terlambat soalnya Sehun ingin bertemu Kyungsoo. Tapi, Lulu—tidak ikut mengantar Sehun?" Wajah memelas itu membuat Luhan jadi tidak enak hati.

"Sekali ini saja, ya, Hun. Besok pasti Lulu antar ke kelasmu. Kau lihat sendiri, kan, Lulu ada urusan sebentar dengan mereka?" Luhan membujuk pelan-pelan seraya berharap-harap cemas agar Sehun mau mengerti. "Ya, Sehun?" ulangnya.

Sehun mencebik, sedikit menutupi kekesalannya. "Baiklah. Sehun ke kelas, ya. Tapi janji, nanti Lulu jemput Sehun di kelas. Arrayo?" Sehun seolah memberi ancaman pada Luhan dengan mimiknya yang setengah marah setengah kecewa.

"Lulu janji, Hun."

Setelah mendapat senyuman semangat Luhan, Sehun akhirnya melenggang pergi menuju kelasnya. Kris dan Xiumin yang sejak tadi menjadi penonton percakapan Sehun dan Luhan, akhirnya tergelak.

"Kelihatannya Sehun menyukaimu, Lu, dan kalau dilihat-lihat, dia lebih tampan dari Kai."

Kalimat Kris itu membuat Luhan mengedikkan bahunya. "Dia istimewa, kan?" tanyanya sambil terus memandangi punggung tegap Sehun yang mulai menjauh. "Secara fisik dan visual, dia lebih-lebih. Tapi jujur, aku tidak masalah dengan mentalnya."

"Apa kubilang? Kalau kau membuang adik sepupu bebalku itu, kau pasti mendapatkan yang lebih baik dari Kai." Kris lalu merangkul Luhan dan otomatis amatan Luhan terpotong sampai disana. "Omong-omong, apa jawabanmu untuk pertanyaan Xiumin tadi?"

Lalu Luhan melempar tatapan sendu pada Xiumin, ia merasa bahwa Xiumin lebih banyak mengulum senyumnya hari ini.

"Kita bicara di mobilmu saja, Kris." Luhan meminta dan disanggupi oleh Kris. Xiumin mengekor dengan dua tangan di saku celana, masih terlihat seperti memikirkan sesuatu. Begitu mereka sampai di mobil, Luhan buru-buru menyahut, "Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Xiu?"

Xiumin menggeleng, "Jawab saja dulu pertanyaanku, Lu." Ia sengaja mengalihkan sebentar.

Ketika Luhan menggumam pada Xiumin, ia bisa melihat raut penasaran Kris. "Jadi, aku tidak tahu. Dulu aku memang sangat mencintai Kai," Luhan menunduk, tidak lagi dengan pasti menatap mata Kris di bangku pengemudi dan Xiumin yang duduk dibelakangnya. "Tapi, saat ini, setelah bertemu Sehun—aku merasa utuh dan aku rasa aku bisa semudah menjentikkan jari untuk melupakan Kai. Tapi lagi, saat aku melihat Kai, tiba-tiba aku ingin memeluknya. Ah, entahlah."

"Kau hanya butuh waktu. Kau bisa mengobati dirimu dengan Sehun, Lu." Saran Kris itu disetujui Luhan. "Hari ini kau kerja?"

"Kemarin dan hari ini aku meminta libur."

"Untuk apa? Untuk Sehun atau Kai?" Kris menetralisir kekakuan Luhan dengan pertanyaan impulsifnya. "Aku jamin, Lu. Setelah ini, kau hanya melihat Kai sebagai masa lalumu."

Xiumin terus menyimak dan ia tidak berniat menyela sedikitpun.

"Tidak untuk semuanya,"

"Lalu?" Kali ini Xiumin mulai merasa ingin tahu.

"Aku hanya ingin pulang ke rumah orangtuaku. Yah, Ibuku terlilit hutang dan semenjak aku tidak menjadi gigolo Kai lagi, aku tidak tahu bagaimana cara melunasi semua itu."

Kris dan Xiumin terdiam agak lama sampai-sampai Luhan memanggil nama keduanya.

"Kalian tidak usah repot-repot memikirkan itu, aku bisa mengatasainya sendiri."

Tapi Kris menolak anggapan itu, "Kau tidak bisa, Lu. Terus terang, sejak kau masuk di kehidupan Kai maka kau juga perlu meminta pertolongan kami."

"Hei, Kris. Aku masuk bukan sebagai orang baik-baik."

Kris menyatukan alisnya, "Aku tidak peduli. Sebut saja nominalnya dan rekeningmu, aku akan kirimkan sejumlah yang kau perlu—Lu," Kris meneruskan sebelum sempat dipotong Luhan. "Ayolah, sekarang—dengan apa yang sudah terjadi pada Kai, Kyungsoo, dan kau, itu adalah sebuah pelajaran. Kita teman sekarang."

Kita teman sekarang.

Luhan tergagap. Tidak ada yang pernah menganggapnya sebagai benar-benar teman selama ini.

"Ya. Aku setuju. Teman tidak boleh menutupi masalahnya." Xiumin menimpali dengan senyum sumringahnya. "Kalau kau tidak bisa mendapat uang banyak dari Kai, kau bisa mendapat itu dari kakak sepupunya." Tawa Xiumin memenuhi ruang mobil, tapi Luhan masih sibuk meyakinkan diri.

"Bedanya, aku tidak meminta seks darimu." Itu candaan Kris dan disambung pukulan ringan oleh Xiumin, sayangnya Luhan masih sulit merespon. "Tidak usah malu, aku akan membantumu, Lu."

"Lu?"

Xiumin memanggil sambil menggerakkan lengan Luhan—berusaha mengembalikan kesadarannya.

"Oh?" Luhan terkejut lalu tertawa datar. "Aku akan mengembalikan uangmu, Kris."

Kris mengibas tangannya, "Aku bilang memberi, bukan meminjamkan."

"Ah." Luhan tidak bisa memendam kelegaan hatinya. "Go—gomapta, Kris."

Meski Luhan masih tidak bisa mempercayai kata-kata Kris barusan, tapi ia bisa merasakan semua bebannya menguap seketika.

"Aku akan mengingatkanmu untuk mengirim rekening dan nominal yang—"

"Tapi, itu banyak, Kris." Luhan lagi-lagi meragu, merasa agak kurang ajar. "Apa aku tidak sangat merepotkanmu?"

Kris menggeleng untuk kesekian kali. "Sudahlah, Lu." Sorot mata itu akhirnya menajam, mulai merasa risih karena pertanyaan Luhan yang diulang-ulang. "Aku tidak keberatan membantumu, jadi terima saja. Oke?"

"Baiklah." Luhan pasrah, karena bagaimanapun rasa tak nyaman dihatinya tetap kalah dengan posisinya yang terdesak hutang. "Sekali lagi terima kasih, Kris."

Xiumin tiba-tiba mengesah, "Hei. Aku agak terganggu dengan sikap Kyungsoo semalam."

Topik berganti dan terpaksa membuat Kris dan Luhan menengok Xiumin dibelakang sana—yang sedang bersandar dengan raut muka heran setengah mati.

"Kenapa lagi dengannya? Apa karena aku men—"

"Kurasa itu termasuk, Kris." Xiumin berubah jengah ketika Kris mengingatkan tentang momen dimana ia mengecup bibir Kyungsoo. "Tapi bukan yang paling utama."

"Lalu, yang mana? Hal dimana ia tiba-tiba ingin sekolah?"

Xiumin menghembuskan nafas kasar, "Ya, benar. Menurutmu kenapa dia tiba-tiba bersikeras ingin sekolah padahal sebelumnya ia masih menolak habis-habisan?"

"Mungkin traumanya sudah agak membaik," Luhan memberi pendapat. "Tapi, trauma tidak secepat itu membaik." Ia membalik faktanya lagi.

Xiumin mencoba berpikir positif, "Semalam Kyungsoo banyak diam dan keceriaannya yang selama tinggal bersamaku selalu ia tunjukkan, sedikit demi sedikit memudar."

"Tidak ada apa-apa, Xiu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak." Kris memberi komando ketenangan, lalu berangsur menyalakan mesin mobilnya. "Kita beli sarapan, ya. Aku sangat lapar." Kemudian ada kekehan di balik wajah beringasnya.

"Dasar."

Umpatan itu sama-sama diserukan Luhan dan Xiumin. Seketika mereka lupa dengan kejanggalan akan sikap Kyungsoo yang tadi dibahas.

-ooo-

Kyungsoo mengikuti pelajaran berhitung—pelajaran kesukaannya—dengan Sehun duduk tepat di sampingnya. Seperti biasa. Ini kehidupan yang ia jalani saat ada Ummanya dulu. Ini kehidupan miliknya saat ia sangat senang berada di sekolah.

Tapi kenapa yang Kyungsoo rasakan agak berbeda?

Sehun menyikut Kyungsoo, "Kyungsoo tidak mengerjakan itu?"

Ada beberapa soal hitungan di kertas Kyungsoo, tapi ia hanya menatapnya nanar dan ada sebersit malas untuk terjun lagi kemari.

Sehun bingung sebentar, lalu mengelus kepala Kyungsoo. "Kyungsoo rindu Umma Kyungsoo, ya?" Karena pertanyaan itu, Kyungsoo menoleh cepat pada Sehun. "Umma Kyungsoo kan sudah tenang disana, Umma Kyungsoo tidak suka Kyungsoo bersedih."

Kyungsoo rasa, apa yang dikatakan sahabatnya ini tidak salah sama sekali. Namun belum sempat membalas kalimat bijak Sehun, Shin Hye Saem sudah mampir di bangkunya.

"Kyungsoo? Kenapa tidak dikerjakan?" Wanita muda itu lalu mengelus surai lembut Kyungsoo. "Teman-temanmu sudah mengerjakan semua, lho. Itu Sehun juga." Ia menunjuk kertas Sehun yang sebenarnya hanya ada coret-coretan.

Kyungsoo melirik Sehun sebentar, lalu tersenyum. "Sehun pintar berhitung, Kyungsoo kan sudah lupa."

Shin Hye tertawa renyah, lalu mengalihkan pembicaraan. "Kyungsoo tinggal dimana sekarang? Dengan siapa?"

Kyungsoo diam sesaat, ia memandang Sehun dan Shin Hye bergantian. Keduanya masih menampakkan wajah ingin tahu. Shin Hye bahkan tidak ingin menyinggung perihal kematian Umma Kyungsoo, ia cukup tahu dari informasi yang diberikan Sehun. Shin Hye tentu tidak ingin melukai hati Kyungsoo lebih jauh lagi.

"Di rumah Xiumin Hyung," Shin Hye pikir dia adalah saudara Kyungsoo, tapi nama itu agak asing bagi warga Korea. "Di sana,"

Kyungsoo menunjuk dimana arah rumah Xiumin berada, karena ia tidak tahu nama jalan.

"Xiu? Siapa dia, Kyung?" Shin Hye hanya terlalu khawatir, tapi ia malah harus yakin kalau orang yang menampung Kyungsoo itu orang baik. Buktinya, Kyungsoo ada disini sekarang. Berarti orang jahat mana yang mau mengantar korbannya ke sekolah? "Apa dia saudaramu?"

Kyungsoo ingat kalimat Xiumin kemarin malam untuk menganggapnya sebagai kakak.

Jadi Kyungsoo mengangguk mantap. "XiuXiu Hyung baik seperti Umma Kyungsoo." Berkat kalimat itu, Shin Hye agak-agak menyusut airmatanya. "Umma Kyungsoo sedang apa, ya, Saem?"

Shin Hye ingat benar seperti apa sosok Ibu Kyungsoo yang selalu mengantar dan menjemput Kyungsoo dulu. Ia merupakan pribadi yang tangguh, sopan, dan ramah—semuanya menjadi satu.

"Kyungsoo-ya," Shin Hye memanggil pelan. "Disebelahmu ada Sehun, lalu ada Saem dan ada XiuXiu Hyung-mu itu. Kau boleh mengingat Umma-mu, tapi jangan terlalu larut, ya, Sayang. Lihat Sehun, kau suka bertemu dengannya, kan?"

"Sehun senang bertemu Kyungsoo," Sehun buru-buru menyambar. "Kyungsoo tidak usah takut, nanti Sehun yang akan melawan si hitam itu."

Si hitam itu. Maksud Sehun tentu Kai. Shin Hye ingat kemarin ia membicarakan pemuda dari sekolah sebelah ini dengan Sehun. Tapi Kyungsoo seolah tertohok, bukan main-main ketika sosok Kai membayang lagi di benak Kyungsoo. Dan ia bisa merasakan selimut traumanya terlingkup kembali.

"Kyungsoo mau ke toilet, Saem."

Ia melarikan diri dan menyisakan Sehun yang melempar tatapan bingung pada Shin Hye. Sementara Kyungsoo tahu-tahu saja beranjak pergi ke toilet, mereka akhirnya melanjutkan pelajaran di kelas.

Kyungsoo berjalan pelan menuju toilet diujung lorong, tangannya berpegangan pada sisian dinding untuk menuntun dirinya sendiri. Ia hanya enggan diingatkan mengapa ia tiba-tiba ma uke sekolah—sejujurnya ia memang mau namun dengan berbagai pertimbangan. Sebelum Kai datang dan memaksanya untuk masuk sekolah.

Kyungsoo hanya tidak tahu apa yang selanjutnya akan terjadi. Ia tahu ia mendapat banyak perlindungan, tapi bukankah kelengahan bisa terjadi kapan saja?

Bagaimana kalau mereka lalai menjaga Kyungsoo, maka itu akan menjadi kesempatan emas bagi Kai, kan?

Kyungsoo sampai di toilet. Ia berkaca sebentar sambil menekuri pantulan dirinya yang terlihat menyedihkan.

Semua episode kehidupannya yang memburuk seolah tertuang apik dalam memori abadinya. Tentang keluarganya, Kai, Baekhyun, Xiumin bahkan Sehun dan mereka—yang Kyungsoo maksud seperti Kris, Chanyeol, dan Luhan.

"Kenapa orang itu selalu ingin menyakiti Kyungsoo?"

Monolog itu entah sampai entah tidak—pada Kai.

-ooo-

Tuan Do sedang membenahi tanaman peninggalan istrinya di luar pagar. Kegiatannya itu otomatis membuatnya sering curi-curi pandang ke rumah tetangganya, keluarga Byun. Bukan untuk niatan ingin mencuri atau hal lain, ia hanya mencari Kyungsoo. Anak itu tidak ia temukan beberapa hari belakangan ini.

"Ada masalah, Tuan Do?" Tuan Do sempat berjingat kaget saat suara Ibu Baekhyun memenuhi pendengarannya. "Anda seperti tidak berhenti memandang rumah saya. Apa ada yang anda butuhkan?"

Tawaran itu dibalas senyuman oleh Tuan Do.

"Atau ada sedang mencari Kyungsoo?" Tepat sasaran. Nyonya Byun menyeringai senang karena telah berhasil menekuk lutut Ayah Kyungsoo ini. "Apa anda sudah mulai peduli padanya? Apa anda sudah mulai sadar bahwa Kyungsoo adalah darah daging anda sendiri—yang membutuhkan kasih sayang orangtu—oh, astaga. Aku jadi—"

"Tidak apa." Tuan Do memasang wajah penuh kemelut. "Omong-omong, aku hanya penasaran kemana anak idiot itu. Apa dia tidak tinggal di rumahmu lagi?"

Nyonya Byun melanjutkan kegiatan semulanya, ia menggolongkan sampah-sampah rumah tangga miliknya. Setelah selesai ia berucap lagi, "Kyungsoo tidak ingin di tatap jahat oleh Ayahnya sendiri, jadi—yah, dia tidak tinggal disini lagi."

Tuan Do merasa tersindir dan Nyonya Byun merasa menang. Ia rasa laki-laki keras kepala ini pasti akan bertanya kemana Kyungsoo sekarang lalu dimana ia tinggal dan dengan siapa. Ya, seperti itulah naluri seorang Ay—ah. Sebelum kalimat ini malah membuat Nyonya Byun membelalak.

"Baguslah." Itu timpalan perihal Kyungsoo yang tak lagi tinggal disana. "Aku masuk dulu, Nyonya Byun. Kuharap anak itu tidak mondar-mandir lagi didepan mataku."

Eh?

-ooo-

Kai baru saja meloncati pagar pembatas antara sekolahnya dan sekolah Kyungsoo. Ini jam istirahat sementara Chanyeol dan Baekhyun masih sibuk menyantap makan siang mereka. Kai absen karena ia sendiri sudah kenyang—entah kenyang karena jejelan soal matematika atau ia yang sudah tidak sabar bertemu Kyungsoo.

Kai bukan sedang melupakan janjinya begitu saja, sungguh ia hanya tidak tahan ingin menyapa Kyungsoo.

Setelah Kai menyusuri jalan setapak yang membawanya menuju sebuah gedung, ia berhenti. Kai mengamati sebentar sebelum akhirnya ia menunggu dibawah tangga. Tidak lama, segera setelah Kyungsoo mulai menuruni tangga sendirian, Kai mencekal tangannya lalu membawa Kyungsoo agak menjauh. Mereka menuju belakang sekolah.

"Hai, Kyungsoo."

Kyungsoo terkesiap begitu tahu siapa pelaku yang menarik paksa dirinya hingga berada disini.

"Aku bilang kau tidak usah takut, kan? Omong-omong, terima kasih sudah mau mengikuti kata-kataku kemarin. Senang bertemu denganmu disini."

Kai semakin mendekat dan Kyungsoo semakin menjauh. Jarak itu akhirnya terminimalisir dengan Kai yang dengan berani menarik kedua tangan Kyungsoo agar menuju dirinya.

"A—ah," Kyungsoo hanya memekik tertahan. Matanya tidak punya nyali untuk membalas tatapan Kai—yang harus Kyungsoo akui, bukan tatapan menyeramkan seperti kejadian pahit waktu itu. "Ky—Kyungsoo ingin pu—pulang."

Kai malah mengajak Kyungsoo agar duduk di bangku kayu usang itu, bersamanya.

"Kenapa, Kyung? Kau masih takut padaku, ya?" Kai bertanya sebagai selingan pandangannya yang seolah telah menelanjangi Kyungsoo. Ia mengamati tubuh mungil Kyungsoo, berangsur mulai merasakan kulit putih Kyungsoo yang halus sekaligus tanpa sadar sudah menciumi rambut cokelat Kyungsoo yang lembut. Lalu, Kai berdeham tiba-tiba dan itu membuat Kyungsoo malah berjingat. "Oh, aku bukan bermaksud mengejutkanmu, Kyung."

"Ja—jangan dekat-dekat Kyungsoo lagi. Kau jahat." Kyungsoo menunduk dalam-dalam, sekali lagi menghindari tatapan buas dan tangan jahil Kai. "Kyungsoo benci dirimu. Kyungsoo tidak suka. Kyungsoo mau pergi—atau akan teriak."

Kai mendelik, "Hei, hei. Jangan melakukan itu, Kyung. Kau tahu, aku sudah tidak berniat jahat padamu."

Memang tak pasti, Kyungsoo sendiri tidak bisa begitu percaya pada orang yang sudah dengan tega menyakitinya di masa lalu itu. Sekalipun ia sekarang bersikap manis dan bertutur kata baik sekali. Kyungsoo enggan terbujuk dua kali. Katakan ia memang idiot, tapi Kyungsoo masih punya perasaan yang cukup peka.

"Kyungsoo?" Seiring namanya dipanggil oleh Kai, Kyungsoo bisa merasakan tangan besar itu membelai sisian wajahnya. Reaksi Kyungsoo tentu saja, menjauh. "Ah, maafkan aku—lagi." Kai kelihatan menyesal, tapi Kyungsoo tahu ada sudut bibir yang sengaja ditarik di seraut wajahnya.

Kyungsoo diam lagi, mengkerutkan badannya agar seolah-olah bisa menghilang sesegera itu.

"Ayolah, Kyungsoo. Kalau ada orang bersikap baik, kau juga harus membalasnya dengan sikap baik juga, kan?" Kai semata-mata ingin memperbaiki hubungannya yang sudah terlanjur memburuk, tapi Kyungsoo dihantui bayang-bayang ingin enyah darisana. "Masa kau tidak percaya padaku? Harus berapa kali aku merayumu?"

Merayu berapa kali pun—tak akan mempan. Itu batinan Kyungsoo.

Gejolak lain mengisi sepertiga diri Kai. Seperti katanya, jika ada didekat Kyungsoo rasanya bisa macam-macam. Kali ini, nafsu bejat itu datang tanpa diminta lalu mendobrak naluri hiperseksnya. Kesekian kali. Kai tidak tahu—antara harus menurutinya atau mengendalikannya. Ia ingat betul dengan janjinya tadi pagi—yang bahkan belum genap sehari—bahwa ia akan berubah jika ia sembuh atau bahwa ia akan menemui Kyungsoo hanya dalam pengawasan Chanyeol dan Baekhyun.

Tapi, ini. Begitu menyiksa batin dan sesuatu yang ada dibawah sana.

Nafas Kai menggebu, sesekali ia terengah lelah. Tatapannya semakin menajam, seakan siap menguliti Kyungsoo saat ini juga. Jadi, setelah ia menarik nafas, rasanya tetap bukan tenang yang ia dapat. Malah sebaliknya, gelisah—dan sedikit terangsang.

Lalu kejadian yang paling dihindari Kyungsoo—terjadi lagi dan tanpa bisa dicegah.

"Ap—apa yang kau lak—mmph!"

Kyungsoo berusaha menjauhkan bibir Kai yang kini sudah melumat begitu ganas bibirnya. Ia bergerak-gerak, rontaan sana sini yang dapat dengan mudah Kai atasi. Nihil hasilnya. Kai sendiri tidak sadar bahwa lima detik lalu ia sudah memeluk Kyungsoo berikut dengan pagutan-pagutan yang ia berikan untuknya—tentu bersamaan penolakan mati-matian dari Kyungsoo. Masalahnya, Kai tetap tidak peduli, baginya melunasi hutang nafsu adalah nomor satu.

"Hiks."

Tapi, hal ini yang malah membuat Kai sontak berhenti mencium Kyungsoo. Sebulir airmata itu—yang bening dan bagai kristal. Kai mundur teratur, ia melepas ciumannya lalu cepat-cepat berdiri.

Ada stagnasi yang menciptakan hening tanpa sengaja diantara rentang jarak keduanya.

"U—uljima, Kyungsoo." Kai sendiri heran dengan apa yang terjadi. Tapi kini ia bergerak menjauhi Kyungsoo sambil menatap penuh arti. "Hanya jangan menangis." pintanya kemudian.

Kyungsoo terpaku beberapa detik, pandangannya menelisik seorang Kai yang tiba-tiba saja berhenti melakukan kegiatan bejatnya hanya karena ia menangis. Sekali lagi Kyungsoo ulang, hanya karena ia menangis. Tidak biasanya. Karena dulu—sekeras apapun Kyungsoo menangis dan serendah apapun Kyungsoo memohon, Kai tetap masa bodoh.

Tapi, ini lah yang terjadi sekarang.

"Jangan katakan pada siapapun, Kyungsoo. Kau ingat diantara kita ada janji, kan? Aku tidak akan membuatmu me—menangis lagi."

Entah mengapa, Kai hanya merasa hal yang berbeda saat ini. Saat dimana ia melihat Kyungsoo menangis, meski hanya dengan satu tetes airmata—itu terasa sangat menyakitkan bagi Kai. Dasar teoritisnya memang Kai yang melukai Kyungsoo, seharusnya yang merasakan dampak pesakitan atas pelecehan itu hanya Kyungsoo seorang, tapi entah sebab darimana itu juga menular pada Kai.

Ini aneh. Benar-benar aneh dan bagi Kai, tidak masuk akal.

Kalau sekecil itu saja Kyungsoo sudah menangis dan hujaman-hujaman belati yang ia rasakan sepedih itu, Kai lebih baik mencari aman. Ia tahu sekarang teka-tekinya. Sekali membuat Kyungsoo menangis, maka ia akan mendapat seribu pesakitan.

Apa ini konsekuensinya?

Kai bukan sedang menunggu jawaban Kyungsoo. Beberapa derap miliknya sudah mengajak ia berbalik beberapa jengkal dari tempat Kyungsoo terduduk. Ekspresi Kyungsoo masih tak terbaca, ada lamunan dan ada rasa terkejut. Sesamar itu Kai bisa mengetahuinya.

"Kyungsoo, aku mohon. Jangan menangis, ya. Kembalilah bersenang-senang, anggap saja—ehm, ciuman itu tidak terjadi dan kita hari ini tidak bertemu. Lupakan, Kyung."

Lupakan. Tapi, mengapa?

Bagi Kyungsoo, ini satu fenomena langka dari seorang hiperseks seperti Kai.

"Kenapa?"

"Apanya yang kenapa?" Kai memutar bola matanya.

"Kenapa berhenti menambah lukaku?"

Seketika itu Kai mencelos panas, hatinya seolah terbakar, dan seketika itu pula ia jadi ingat tentang janjinya tadi pagi. Sebenarnya sejak tadi ia ingat, hanya saja hal aneh yang barusan menderanya ini semakin membuat Kai seakan dibanting dari langit ke bumi. Ia tidak bisa percaya.

"Apa kau penyihir? Atau—ah." Kai menyetop tuduhan-tuduhan kekanakannya. Ia rasa ini bukan tentang Kyungsoo, tapi tentang dirinya. Karena kesalahan itu, semuanya semakin rumit. Karena hiperseksnya, semuanya semakin tak terkendali. Ini sepenuhnya kelalaian Kai, Kyungsoo juga berpikir seperti itu. "Baiklah, Kyung. Pokoknya lupakan."

Sejak tadi, Kyungsoo tidak mengerti ada apa dengan Kai. Hingga laki-laki itu memunggunginya, Kyungsoo bisa dengan hembusan nafasnya, lalu tanpa mengucapkan apa-apa meninggalkan Kyungsoo disana.

Kyungsoo pikir, apa ada yang salah dengan airmatanya?

Sebelum Kai berbalik lagi padanya dan berkata lantang, "Kalau nanti kita bertemu lagi, kumohon jangan menangis."

Apa itu artinya, Kai tidak mau membuatnya menangis lagi? Sesederhana itu?

-ooo-

Mansion mewah Kim kembali sibuk. Para pelayan rumah bak istana itu sudah mondar-mandir dari dapur menuju ruang makan berkali-kali. Sebagian lagi membersihkan setiap sudut yang bahkan sudah tidak ada secuilpun debu. Sebagian kecilnya lagi sedang berjaga-jaga disekitar bangunan besar ini, di pagar, di depan pintu, dimanapun—asal mereka bisa siap menyambut majikan mereka.

Tuan dan Nyonya Kim, hari ini pulang. Hal mengejutkannya, kepulangan mereka dipercepat dari jadwal semula—yaitu minggu depan.

Ini pukul dua siang, sebentar lagi Kai akan pulang kemari sementara Kris mungkin selisih setengah sampai satu jam dengannya. Sang kepala pelayan—Mr. Kang dan si Dokter kebanggaan—Yixing, sudah siap sedia disebelah pintu. Tuan dan Nyonya Kim sudah diperjalanan menuju kemari dan posisinya sudang sangat dekat.

"Kurasa aka nada perang dunia setelah ini, Mr. Kang." Bisikan Yixing itu membuat Mr. Kang hilang konsentrasi. "Tuan Muda lagi-lagi kumat—bahkan sangat parah waktu itu. Ya, kan?"

Yixing bermaksud mengingatkan, tapi Mr. Kang hanya menghela nafasnya, "Tidak usah ikut campur masalah keluarga ini, Yixing. Kau ingat posisimu disini hanya sebagai pesuruh, kan?" Nada itu berada di oktaf paling rendah tapi agak-agak perih didengar Yixing.

"Aku tahu." Yixing melirih, kali ini dua tangannya disatukan didepan.

Selang beberapa menit seusai obrolan mereka, pintu utama menjeblak lebar. Sekarang dua orang terhormat di rumah ini sudah melenggang masuk dengan senyum terpatri rapi untuk Yixing dan Mr. Kang.

Pria atletis dengan wajah yang mulai menua itu adalah Tuan Kim Yu Sang dan istrinya yang masih saja awet muda serta anggun jelita disampingnya adalah Nyonya Kim Ji Eun. Penampilan mereka benar-benar berkelas, tatanan rambut cepak untuk Tuan Kim dan rambut sebahu untuk Nyonya Kim. Selain itu, balutan pakaian-pakaian mahal itu serasa pas ditubuh keduanya.

Mereka lalu berhenti sejenak dan mulai bicara setelah Yixing dan Mr. Kang selesai membungkuk hormat.

"Selamat sore, Mr. Kang dan Yixing Uisa-nim." Itu adalah suara baritone Tuan Kim—Ayah Kai. "Bagaimana keadaan rumah selama kami tinggal?"

Karena pertanyaan itu, Yixing harus menahan diri agar tidak saling beradu tatap dengan Mr. Kang.

Mr. Kang—selaku kepala pelayan dan yang bertanggung jawab atas segalanya bersiap menjawab. Ia tahu yang menjadi pertanyaannya bukan lah bagaimana rumah mereka, tapi bagaimana para penghuninya.

"Tuan Muda Kai dan Tuan Muda Kris selalu pulang tepat waktu, Tuan." Ia menambahkan tundukan agar Tuannya itu tak melihat sekentara apa ekspresi kebohongan yang ia sembunyikan. "Mereka juga terlihat akur dan saya rasa tidak ada masalah apa-apa."

"Yeobo," Nyonya Kim yang sedang bergelayut manja pada lengan suaminya, merajuk. "Yah, kuharap Mr. Kang berkata sejujurnya meski aku sebagai seorang Ibu tidak percaya, hahaha~"

Tawa itu disambung tawa lain milik Tuan Kim. Lalu ia berujar, "Kemari kalian berdua, ceritakan semuanya. Kami tahu ada yang tidak beres dengan Kai. Oh, atau lebih baik menunggu Kris pulang?" sambil berjalan menuju ruang keluarga yang di mejanya sudah disediakan teh hangat sebagai minuman selamat datang.

Yixing memajukan bibirnya seiring Mr. Kang yang berjalan disebelahnya. Ia bisa melihat dua majikannya itu menampakkan gurat lelah. Apalagi menginjak usia mereka yang sudah hampir setengah abad, tentu bekerja di Badan Intelijen Korea sangat berat, begitu pula yang dirasakan Nyonya Kim di sela masanya menjadi wanita karir.

"Apakah Tuan dan Nyonya mau menikmati makanan dulu? Atau mungkin membersih—"

Memang Mr. Kang sedang mengulur waktu. Tapi, kalimatnya terputus ketika ternyata Kris sudah hadir ditengah-tengah mereka.

"Oh. Kalau begitu, kami pamit undur diri, Tuan, Nyonya. Tuan Muda Kris lebih tahu."

Anggukan kepala Tuan Kim mengakhiri masa tayang Mr. Kang dan Yixing disana. Mereka akhirnya bertukar opini di dapur bersama pelayan lainnya, tentu saja sambil mencuri-curi dengar sekaligus pandang ke ruang keluarga.

Kris sempat terkejut melihat Paman dan Bibinya sudah ada disini, tepat didepan matanya. Tapi ia harus bisa menguasai diri, ia harus menyembunyikan jiwanya yang goyah saat itu juga. Kris duduk berhadapan dengan mereka, melempar senyum paling ramah yang pernah ia suguhkan. Kemudian hanya menunggu salah satunya membuka suara.

"Baru pulang kuliah, Kris?" Bibinya bertanya, "Bukankah seharusnya Kai yang lebih dulu pulang?"

Kris membuka mulutnya—bersiap menjawab—tapi, terkatup kembali.

"Jadi, lupakan soal Kai-yang-belum-juga-pulang. Ada masalah apa selama dua minggu ini?"

Banyak. Apalagi akibatnya fatal. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan anakmu send—

Ok. Pamannya mungkin tidak bisa mendengar batinan Kris, tapi untuk pertanyaan itu, Kris bahkan belum menyiapkan jawabannya.

"Kai—mm, sebenarnya dia berulah, Paman."

"Ulah apa lagi, Kris?" Sambaran cepat itu sama cepatnya dengan degup jantung Kris yang berdentum bak gendering perang. "Apa ini melibatkan orang lain?"

Kris terpaksa mengangguk, meski pada akhirnya memang ia harus mengangguk. "Apa kalian tahu Kai mengidap hiperseks?"

"Ap—apa? Apa itu?" Sudah Kris duga, mereka tidak tahu. Bibinya memberi ekspresi nol besar, sedikit rasa terkejut dan selebihnya rasa ingin tahu. "Kai—anakku, jangan bilang ia sudah menjadi penjahat kelamin, Kris."

Ini serius, tapi Kris ingin tertawa, entah mengapa.

"Tentu saja melibatkan orang lain," Kini kepercayaan diri Kris semakin bertambah, "Mm, hiperseks adalah suatu kelainan—yah, menurut perilaku Kai dan sedikit browsing—yang membuat penderitanya maniak seks, sangat maniak."

"Itu yang terjadi pada Kai? Astaga, Yeobo." Nyonya Kim mengesah tak percaya, tapi suaminya terlihat tetap tenang. "Lalu bagaimana cara menyembuhkannya?"

Tuan Kim hanya tersenyum masam mendapati kabar terakhir anak semata wayangnya ini, apalagi melihat istrinya yang sudah syok berat.

"Begini, Bibi. Aku juga tidak tahu cara menyembuhkannya karena aku bukan dokter spesialis seperti itu. Mungkin bisa tanya pada Yixing. Yang jelas, Kai harus segera disembuhkan. Dan dari informasi di internet, ada beberapa obat yang bisa sedikit mengekang nafsu Kai tapi akan lebih baik dikonsultasikan pada pihak yang lebih mengerti." Kris menjeda, lalu menarik nafas. "Sebenarnya, Kai sudah menyewa beberapa gigolo untuk memuaskannya—terakhir adalah gigolonya yang sangat paling ia sayangi—tapi, sekarang sudah tidak. Kai memilih korban baru, namanya Do Kyungsoo—anak berkebutuhan khusus, alias idiot."

Setidaknya, Kris lega sudah membeberkan semuanya.

"Astaga." Nyonya Kim tak bisa berhenti memekik. "Lalu bagaimana si Kyungsoo itu sekarang?"

Kris membuang nafasnya tidak serantan, "Dia trauma." Ia membayang wajah Kyungsoo, si mungil itu tiba-tiba dirindukannya. "Apalagi kondisi keluarganya baru saja terkena musibah, Bi. Ayahnya jahat, tidak mau menerima dirinya dan Ibunya yang ia sayangi, baru saja meninggal dunia."

"Ya ampun, kasihan sekali." Hati seorang wanita tergerak untuk mulai mengiba. "Apa kita boleh menemuinya, atas nama keluarga Kim untuk meminta maaf?" Nyonya Kim melirik suaminya, meminta persetujuan dan dibalas anggukan oleh Tuan Kim.

"Ide bagus," Kris manggut-manggut, "Aku rasa tidak ada salahnya meminta maaf dengan tulus, atas nama Kai." 'Tulus', Kris ucapkan dengan penekanan. "Tapi, kurasa lebih baik Kai tidak usah bertemu Kyungsoo dulu, karena Kai masih menyisakan trauma pada Kyungsoo, Bibi."

Tuan Kim berdeham seraya memijit pelan pelipisnya—serasa ingin bilang "I'm done with Kai," tapi, Kai adalah anaknya sendiri.

"Kai begitu juga karena kita, Yeobo. Kita sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa mengawasi Kai. Kita hanya memberinya harta dan harta." Nyonya Kim menyusut airmatanya, "Aku tidak menyangka ia melakukan itu."

Tapi Tuan Kim belum mau menggubris istrinya. Ia masih senantiasa memikirkan separah apa kerusakan yang dibuat Kai hingga membuat si Kyungsoo itu trauma. Memang mereka bukan dengan sengaja meninggalkan Kai yang tumbuh dewasa tanpa perhatian lebih. Apalagi tentang ini semua, sekian lama sebagai orangtua, mereka baru tahu kalau Kai memiliki kelainan seks seperti itu.

"Paman, kita harus menyembuhkan Kai. Aku yakin dia juga ingin sembuh," Kris merasakan didalam suaranya ada sedikit permohonan. "Kalau Kai sembuh, mungkin ia bisa mulai merasakan apa itu cinta—tanpa seks."

Benar. Cinta tanpa seks adalah hal terbaik dari sekian mantra dan jurus cinta belakangan ini.

"Kris. Apa barusan maksudmu, Kai menyukai Kyungsoo? Kyungsoo terdengar seperti nama laki-laki."

Crap.

Kris lupa bahwa tatanan marga Kim perlu memiliki keturunan. Jika Kai memang benar mencintai Kyungsoo dan jika saja suatu saat nanti mereka bersama—darimana anak mereka akan muncul?

"Jangan bilang Kai adalah seorang gay," Tuan Kim mendesak, "Tunggu, tadi kau bilang Kai sering bermain dengan gigolo-gigo—astaga, Kris!"

Terlambat. Jika Tuan Kim tahu pewaris tunggal kekayaannya adalah seorang gay, maka perang dunia ketiga dengan segala perang-perang lain akan terjadi.

Kris tetap diam, ia bingung harus menjawab apa. Bahkan Nyonya Kim yang sejak tadi hanya bisa menutup ngangaan mulutnya, seolah sedang dibungkam. Kris berusaha membela bahwa kaum seperti itu menurutnya, tidak buruk.

"Paman." Kris mencicit, "Apa ada yang salah kalau Kai seorang gay?"

"Apa katamu?!" Kris bisa melihat kilatan tajam Tuan Kim bersorot murka. "Tentu saja salah! Bagaimana bisa Kai termasuk kaum orang-orang menjijikkan itu?! Apa dia sudah gila, hah?!"

Teriakan Tuan Kim menggema ke seluruh penjuru ruangan, biar pun Nyonya Kim berusaha menenangkannya, laki-laki itu tetap berdiri tegap seraya menuding-nuding Kris. Para pelayan yang semula asik mengintip pun, kini sudah berhamburan—entah berpura-pura bekerja atau memang benar menyelesaikannya.

"Kris," Nyonya Kim mengambil alih, "Kalau Kai gay, bagaimana dengan Krystal?"

Mata Kris membulat, "Krystal?" Ia ingat siapa Krystal. Gadis cantik berambut panjang itu adalah anak dari rekan Tuan Kim yang dulu sampai sekarang masih sering main ke rumah ini. Jadi, Kai dijodohkan? Kris membatin keras-keras. "Ke—kenapa tidak menanyakannya dulu pada Kai?"

"Kenapa harus bertanya?" Tuan Kim kembali mendominasi, "Kai tentu menyukainya."

Mana mungkin. Kris lagi-lagi membatin.

"Perjodohan ini tidak bisa berlangsung kalau Kai mengejar-ngejar yang namanya Kyungsoo itu." Kim Yu Sang melanjutkan, "Besok kita harus menemui Kyungsoo dan bawa Kai ke psikiater untuk menyembuhkan penyimpangan dan kelainan seksnya itu."

Setelah itu, Yu Sang berjalan penuh amarah menuju lantai dua. Saat berada diujung tangga teratas, ia berseru, "Suruh Kai menemuiku setelah ia pulang nanti," dan Blam keras menjadi pertanda bahwa ia tak mau lagi diganggu saat sudah berada di kamarnya.

Ji Eun menoleh pada Kris, mereka terhenti pada hipokrit yang melanda masing-masing perasaan mereka.

"Kris, kau sudah bekerja keras mengawasi Kai." Ji Eun berpindah posisi, ia menghampiri Kris dengan langkah lamban dan mengajaknya bersemu tatap. "Tapi keluarga Kim tetap tidak bisa terima kalau Kai memiliki keburukan-keburukan itu semua."

Kris mendongak, "Aku tahu, Bi. Tapi—ini terasa seperti keputusan sepihak."

"Sayangnya, ini tetap tidak bisa diganggu gugat, Kris." Ji Eun mengelus-elus punggung Kris berulang kali. "Kami yakin ini yang terbaik untuk Kai." Setelah itu, Ji Eun meninggalkan Kris yang termenung sendiri disana.

Kris mengusap wajahnya sekali, bantingan pintu utama malah membuatnya berjengit.

Ada Kai disana.

"Appa dan Umma sudah pulang, Kris?" Kris bisa melihat reaksi Kai—yang membulatkan matanya dan bergerak gelisah. "Kau bilang apa saja pada mereka?"

Kris hanya menggelen dua kali, tapi Kai bisa merasakan tatapan Ayahnya sedang melubangi punggungnya diatas sana.

"A—appa?"

-ooo-

TO BE CONTINUE

Author's Note

Bagaimana?

Jadi, gengs. Alurnya sudah—seberusaha mungkin—Author percepat tapi tentu dengan selingan-selingan biar ngga keliatan banget wqwq XD Iya, ada konflik baru : Krystal. Maafkan ya kalau ceritanya malah—ehm, mbulet. Kalo ada salahnya mohon dimaklumin aja. Oke?

Nah, aku sebagai Author yang ingin mendengar suara pembacanya, mau tanya.

Kalian mau ini berakhir seperti apa?

Nanti biar aku pilih yang paling sesuai, ya.

Ok, Dear. Enjoy it

Males cuap-cuap soal silent reader. Biar sadar diri aja deh.

Babayyyy

!SEE YOU ON NEXT CHAPTER!