PUZZLE
Pair : WonKyu, HaeBum, HanChul
Genre : Romance, family
Disclaimer : All is belong to God, Super Junior belong to Elf
Warning : miss typos, OOC, YAOI (Except Heechul female), fast chennel, bad language, etc.
.
.
::[]::
PUZZLE
By JojoHye
::[]::
.
.
"Aku pulang, umma..."
Yeoja itu diam terpaku. Heechul. Yeoja itu terus menatap ke arah seorang namja yang berdiri di hadapannya dengan tercengang. Namja yang sudah sangat lama tidak dia lihat. Namja bernama Kyuhyun yang sudah menghilang 8 tahun lamanya. Namja yang merupakan putra bungsunya dulu.
"Kyuhyunnie...," gumamnya. Tidak dihiraukannya panggilan dan berbagai pertanyaan dari namja kecil yang berdiri di sampingnya sembari menarik-narik bajunya.
Namja itu berjalan mendekat. Ia melepas kacamata hitamnya lalu tersenyum manis pada wanita yang dipanggilnya ibu itu.
"Annyeong haseyo, umma."
Hati Heechul bergetar. Suara yang sangat lama tidak di dengarnya sekarang mampu tertangkap oleh telinganya. Suara yang memanggilnya 'umma' dengan sangat merdu, yang begitu ia rindukan. Air matanya merembes ke sudut kelopak mata, lalu perlahan melintas di pipinya.
"Kyu... Kyunnie... Kau kembali, chagi?" Ia menatap lurus ke wajah anaknya. Tangannya beralih menuju pipi sang anak lalu membelainya pelan.
"Ne, umma." Namja itu mengangguk. "Bagaimana kabar umma?"
Heechul mengangguk berkali-kali. "Umma senang kau pulang, Kyunnie. Umma sangat merindukanmu." Yeoja itu lalu mengambil gerakan cepat untuk memeluk tubuh anaknya.
GREP
"Eodiga, Kyuhyunnie? Eodiga? Jeongmal-jeongmal bogoshipoyo..." Ia mengelus-elus punggung anaknya –Kyuhyun-, meluapkan kerinduan yang sangat, yang dipendamnya selama 8 tahun. Rindu yang selalu ia tujukan untuk anaknya yang pergi 8 tahun lalu itu.
"Aku hanya pergi sebentar, umma." Nada suara itu masih tetap dingin dan serasa menusuk hati. Masih sama dengan nada suara terakhir yang Heechul dengar dengan telinganya.
"Delapan tahun. Kau menghilang delapan tahun. Itu sangat lama bagi umma, Kyuhyunnie. Umma kehilanganmu sebelas tahun dan harus kembali jauh darimu delapan tahun. Bagaimana umma tidak merindukanmu? Umma, appa, dan Kibum mencarimu kemana-mana, tapi kau tidak pernah muncul."
Kyuhyun melepas dekapan ummanya. "Yang penting aku sudah pulang, umma. Maaf karena aku pergi tiba-tiba." Ia lalu menatap anak kecil yang tadi ia lihat sedang bermain salju di halaman rumah.
Melihat Kyuhyun yang terus menatap Wookie, Heechul mengerti akan kebingungan putranya itu. Ia mengusap air matanya lalu beralih pada Wookie. "Dia adikmu dan Kibum. Namanya Tan Ryeowook."
Kyuhyun nampak terkejut. "Dongsaeng?"
"Hm, ne. Wookie-ah, ayo perkenalkan dirimu. Ini hyungmu, namanya Kyuhyun," perintah Heechul pada si namja kecil manis yang sedari tadi ia diamkan. Ryeowook kecilnya terlihat kebingungan dan terkejut. Namun dengan segera dilaksanakan perintah ibunya.
Ryeowook –Wookie- membungkukan badannya, memberi hormat pada Kyuhyun yang tersenyum menatapnya. "Annyeong haceyo, ahjuccii. Tan Lyeowook imnida. Bangapda..."
Kyuhyun terkesima, hatinya berguncang. Benarkah? Baru saja ia melihat dongsaeng yang sekalipun belum pernah ia lihat. Ia mencelos, merasa menjadi kakak yang begitu kejam pada adiknya. Kakak yang bahkan tidak mengetahui jika namja kecil di hadapannya ini adalah adiknya. Seorang kakak yang belum pernah bertemu adiknya sama sekali sampai-sampai adiknya memanggilnya "AHJUSSI". Sangat menyedihkan dan sangat membuatnya merasa bersalah.
Ia berlutut menyamakan tingginya dengan Ryeowook. Mengusap lembut kepala adiknya itu kemudian dengan cepat ia mendekapnya.
Heechul menyeka air matanya di pipi, begitu terharu dengan pemandangan di depannya. Pertemuan kakak beradik yang lama tidak berjumpa. "Dia hyungmu, Wookie. Jangan panggil dia ahjussi," ia mengingatkan anaknya.
Rasanya pemandangan seperti ini sama seperti saat ia masih bersama Kangin. Dalam bayangannya, dua namja yang sedang berpelukan itu terlihat seperti kenangan betahun-tahun yang lalu. Dimana ia melihat Kyuhyun dan Kibum saling memeluk dengan penuh kasih sayang dan cinta. Dua putra kecilnya yang sangat menggemaskan saling mendekap erat satu sama lain, itulah yang dengan sangat jelas masih selalu terbayang dalam otaknya. Seperti kaset lama yang diputar berkali-kali.
'Kyunnie, Kibummie...' Sungguh ia sangat merindukan moment seperti itu. Inginnya ia kembali mengulang kenangan masa lalu yang begitu indah sebelum keluarganya hancur dan segala perpecahan dan penderitaan terjadi.
"Hyung...," panggil Wookie dengan suaranya yang sangat menggelikan.
"Hm, ne, Wookie-ah, aku hyungmu." Kyuhyun mengangguk, air matanya berjatuhan saat rasa bersalah dan kerinduan menyeruak keluar dari hatinya untuk Ryeowook, adiknya. "Jadi namamu Ryeowook?"
"Ne, hyung. Wookie balu lihat hyung, memangnya hyung kemana caja?" tanya Wookie polos.
"Hyung pergi belajar, Wookie-ah. Mianhaeyo karena hyung belum sempat melihat Wookie." Masih dengan tangan yang bergerak lembut mengelus surai Ryeowook, Kyuhyun tersenyum meski matanya tidak berhenti berair.
"Gwaenchana, hyung. Wookie cenang hyung cudah datang, cekalang hyung Wookie ada dua, Kibum hyung dan..." Kalimat Ryeowook menggantung.
"Kyuhyun. Nama hyung, Kyuhyun," potong Kyuhyun. Ia mengerti kenapa adiknya belum melanjutkan kalimatnya.
"Ah! Kyuhyun hyung!" pekik adiknya itu riang.
.
.
"Ne, Hae. Kita harus meningkatkan produksi kita untuk menyaingi perusahaan mereka." Kibum membuka lembaran dokumen di tangannya sembari memberi pengarahan pada namja yang berjalan beriringan dengannya.
"Tapi hyung, kau tahu kita kekurangan orang yang berkemampuan untuk memajukan perusahaan. Itu juga yang menyebabkan produksi kita menurun," jawab namja di sampingnya.
Mereka berdua sampai di ruangan kerja mereka di Han Corporation. Tanpa mereka sadari, seseorang sudah duduk dengan mata terpejam di salah satu sofa di ruangan itu.
"K...Kyu?"
DEG
Kibum baru tersadar kehadiran orang itu. Matanya terbuka lebar, ia begitu terkejut saat ia tahu bahwa namja yang sedang duduk itu adalah sosok yang menghilang 8 tahun lalu.
'KYUHYUN?!' Namja yang berdiri di sampingnya –Donghae- berhenti melangkah. Sama terkejutnya dengan Kibum tatkala dilihatnya seorang yang begitu lama enyah dari pandangannya sedang duduk santai di depan matanya.
Namja yang duduk di sofa itu perlahan membuka matanya. Pelan-pelan kelopaknya terangkat bersamaan dengan tubuhnya yang mulai bangkit menghadap Kibum dan Donghae yang berdiri berseberangan agak jauh dengannya.
Sebuah senyuman terulas, sementara tatapan matanya yang sudah fokus ke arah Kibum dan Donghae membuat Kibum dan Donghae tambah terbengong-bengong. "Annyeong. Apa aku mengejutkan kalian?"
DEG
"Kyuhyun..." Kibum dan Donghae berdiri seperti patung memandang pada namja yang tersenyum ke arah mereka.
"Lama tidak bertemu, Donghae-ah, Kibum hyung."
DEG
Itu Kyuhyun mereka. Kyuhyun yang secara tiba-tiba menghilang tanpa mereka tahu kemana. Kyuhyun, si namja bisu yang sudah bisa berbicara dengan lancar. Namja yang selalu menangis dengan parahnya dan selalu memendam kesedihan dan kebencian di dalam hati dan matanya. Itu Kyuhyun, benarkah?
Penampilannya begitu berbeda dengan terakhir kali mereka melihatnya. Namja itu sekarang terlihat jauh begitu tampan dan keren. Telihat sangat baik dengan kemeja dan mantelnya. Tidak terlihat seperti Kyuhyun yang penuh luka dan kesepian, Kyuhyun yang berantakan. Mungkin dalam pelariannya, Kyuhyun hidup dengan baik.
"Kyuhyun, kau kemana saja?" Kibum menghambur ke arahnya. Dengan cepat kakaknya itu memelukanya dengan erat. Kyuhyun diam tanpa sedikitpun ada rasa ingin membalas.
"Aku hanya pergi ke London, hyung. Maaf karena aku tidak sempat pamit kepadamu. Kau baik-baik saja?"
"Tidak setelah kau pergi, Kyu. Hyung sangat merindukanmu. Jinjja bogoshipoyo." Kibum mengeratkan pelukannya. "Bagaimana kabarmu?"
"Gwaenchana, hyung. Aku senang tinggal di London. Banyak orang baik disana," jelas Kyuhyun. Kibum tersenyum lega mendengarnya, setidaknya Kyuhyun tidak lagi merasakan kesedihannya selama kepergiannya.
Lama, akhirnya Kibum melepas pelukannya pada Kyuhyun. Kyuhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia menemukan Donghae memandanganya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia lihat Donghae-nya yang dulu masih menyimpan rindu untuknya. Namja itu, masihkah mencintainya? Selama delapan tahun, masihkah Donghae belum bisa melupakannya?
"Apa kabar, Kyu?" tanya Donghae, berusaha agar air matanya tidak jatuh.
"Aku sudah lebih baik, Hae. Apa kau bekerja disini?" Kyuhyun berbasa-basi.
Donghae mengangguk, menyembunyikan rasa canggungnya berbicara dengan Kyuhyun dengan memasukan tangannya ke saku celana. "Ne, Kyu. Umma yang menyuruhku. Kau tahu, ummaku adalah sahabat appamu."
"Hm, yah, baguslah."
Sementara Kyuhyun dan Donghae sedang sekedar mengobrol, Kibum diam-diam memberitahu ayahnya –Hangeng- jika Kyuhyun sudah kembali dan sedang ada di kantor.
Hanya butuh waktu sekitar dua menit, Hangeng akhirnya sampai. Namja paruh baya itu berlari dengan tergesa-gesa, menghiraukan sapaan dari seluruh karyawannya. Ia terlalu senang dan terkejut dengan kedatangan seseorang yang lama sudah ia cari. Putranya yang pergi 8 tahun tanpa kabar.
Langkahnya terhenti saat ia sudah menemukan sosok itu tengah berdiri hanya beberapa meter darinya. Perlahan, pelan-pelan ia berjalan mendekati namja itu. Semakin dekat dan semakin dekat, air matanya tidak terasa mulai berkumpul dan akhirnya meluncur. Bibirnya terangkat menjadi sebuah senyuman. Rasa rindu yang begitu besar dengan cepat menyeruak dari dalam lubuk hatinya
"Kyunnie..."
Ia memanggil anaknya dengan nada begitu lemah. Ia tak kuat berteriak, tubuhnya benar-benar lemas melihat putra angkatnya itu berdiri dengan penampilan sangat berbeda dengan terakhir kali ia menemuinya. Wajah yang sangat tampan dan tubuh tegap yang gagah.
"Kyuhyunnie..."
Namja yang berdiri berdampingan dengan Kibum dan Donghae itu menoleh. Hangeng masih dengan langkahnya yang lambat semakin mendekat. Namja itu membalikan badannya hingga sekarang tepat menghadap ke arah Hangeng. Matanya lurus menatap sang ayah. Namun Hangeng masih menemukan satu kekecewaan dan sorot dingin yang tersisa dalam iris itu.
"Appa..."
DEG
Namja itu masih memanggilnya 'APPA'. Masih, Hangeng masih dianggap ayah oleh anak itu. Ya Tuhan... terima kasih atas semua kebaikanmu mengembalikan putranya. Putranya yang bernama Kyuhyun.
"Kyunnie, kau kembali, chagi?" Hangeng membuka tangannya lebar-lebar siap mendekap tubuh anaknya.
"Ne, appa." Kyuhyun menghampirinya, namun dengan langkah santai. Seolah tidak ada satupun rasa rindunya untuk sang ayah. Ia menerima pelukan Hangeng dan membalasnya meskipun rasa hangat itu sudah berbeda dengan yang dulu.
"Appa sangat sangat merindukanmu, Kyuhyunnie. Eodiga?" tanya Hangeng. Air matanya berjatuhan tanpa henti. Tanganya mengusap-usap bahu anaknya.
"Aku ke London, appa. Aku hanya ingin melanjutkan belajarku disana," jawab Kyuhyun.
"Begitukah? Tapi kenapa kau tidak memberi tahu atapun pamit kepada kami? Appa, umma, dan hyungmu mencarimu selama delapan tahun."
'Benarkah seperti itu? Bagaimana aku bisa mempercayainya jika saat aku adapun kalian tidak menganggapku. Apalagi aku tidak ada bersama kalian.'
"Ya, maafkan aku, appa. Aku mendapat beasiswa disana, appa tidak perlu mengkhawatirkan aku. Yang penting aku sudah kembali. Aku akan bekerja disini dan membantu appa dan Kibum hyung." Kyuhyun melepas pelukannya. Terlihat sang ayah sedang menyeka air mata kemudian tersenyum menatapnya, merasa senang karena sebentar lagi ia akan bekerja di kantor.
"Arra, Kyuhyunnie. Gomawo, kau sudah mau kembali."
.
.
Waktu makan malam. Meja makan keluarga Tan penuh dengan banyak makanan yang sudah disiapkan oleh Heechul. Ryeowook menatapnya dengan mata berbinar-binar. Sementara ketiga namja yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut dengan pemandangan 'MEJA MAKAN KERAJAAN' itu.
"Banyak sekali, Heechullie," gumam Hangeng, istrinya hanya tersenyum.
"Kyunnie baru saja pulang, appa. Pantas saja umma membuat ini semua khusus untuknya," Kibum yang menjawab pertanyaan sang appa.
Kyuhyun mengusap lehernya canggung, merasa tidak enak pada ummanya. "Umma... tidak perlu seperti ini."
Heechul membuka kursi. "Sudah, duduk dan makan."
Semua menggangguk lalu membuka kursinya masing-masing. Ryeowook berlari kecil menghampiri Kyuhyun yang duduk bersebelahan dengan Kibum, melepaskan diri dari ummanya.
"Wookie-ah!" seru Heechul.
"Umma, Wookie ingin makan dengan Kyuhyun hyung caja. Boleh 'kan?"
"Tapi kau akan merepotkan hyungmu, chagi..."
"Gwaenchana, umma." Kyuhyun tersenyum pada Heechul. Ia menggeser tempat duduknya dan mengangkat tubuh kecil Ryeowook duduk ke atas kursi. "Wookie ingin makan apa?" tanyanya sembari mengambil piring.
"Dasar. Wookie..." Kibum yang duduk di sebelah utara Ryeowook mengacak rambut namja kecil itu.
Hangeng dan Heechul menatap haru ke arah mereka. Senang dan lega. Kyuhyun menerima kehadiran Ryeowook dan akhirnya mampu kembali ketengah keluarga mereka. Suasana hangat seperti ini, kenapa tidak terjadi sejak dulu? Kenapa harus ada penderitaan lebih dulu? Kenapa harus ada kebohongan dan hati yang terluka dulu? Jika saja hal seperti itu tidak terjadi, semuanya pasti akan baik-baik saja.
Kyuhyun dengan telatennya menyuapi Ryeowook. Adik kecilnya. Satu-satunya orang di rumah ini yang sangat ia sayangi dengan tulus dan tanpa syarat. Belum, jujur saja ia belum melupakan dendamnya. Meski lambat laun dendam itu kian terkikis, namun Kyuhyun belum sepenuhnya mengenyahkan rasa sakit dan luka di hatinya. Ia masih sama dengan Kyuhyun yang dulu. Bukan tampak dari luar. Ia masih sama dengan Kyuhyun yang terluka dalam.
'Appa, umma, hyung. Aku mungkin bisa bersikap baik pada kalian. Tapi, harus kalian tahu, lukaku belum sembuh.' Diam-diam ia melirik tajam ke arah ayah, ibu, dan kakaknya yang sedang menyantap makan malam. Menimbulkan tatapan bingung Ryeowook yang duduk di sampingnya.
.
.
::[]::
.
.
Suara riuh rendah para pekerja di Han Corporation menemani Kyuhyun menuju ruangan atasan barunya di perusahaan ayahnya itu. Namja itu melangkah pasti tanpa menghiraukan sekelilingnya. Tak tuk tak tuk, bunyi sepatunya menggema di koridor kosong yang dilewatinya. Tanganya sibuk menggenggam sebuah map.
Akhirnya ia sampai di ruangan direktur, orang yang akan menjadi atasannya selama bekerja. Tepat setelah ia berbelok dari koridor, seorang lelaki sedang berdiri membelakanginya. Lelaki dengan blezer warna krem yang sedang menutup pintu ruangan direktur. Kyuhyun berhenti menunggu orang itu menyingkir dari hadapannya yang menghalanginya untuk masuk ke ruangan sang atasan.
DEG
DEG
DEG
Orang itu berbalik badan, pandangannya tepat bertemu dengan tatapan Kyuhyun. Keduanya saling diam beberapa menit menatap satu sama lain. Terkejut, terhenyak, tercengang, kaget. Semuanya, mereka sama terlihat seperti melihat hantu. Keduanya bungkam tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun.
"K... Kyuhyun... –ah..."
DEG
Orang itu... Dia... Dia yang selalu membuat Kyuhyun menangis... Dia...
Waktu seolah berhenti berjalan. Keduanya masih membeku. Dokumen-dokumen di tangan Kyuhyun jatuh berhamburan lepas dari tangan si pemilik.
Hampir, Kyuhyun hampir mati lemas saat lelaki itu dengan nyata berdiri tegap di hadapannya. Seluruh badannya bergetar hebat. Hatinya berguncang. Darahnya membeku. Jantungnya berdetak tak karuan. Matanya membelalak, Kyuhyun tersentak karena orang itu hadir kembali dalam hidupnya. Namja yang benar-benar ingin Kyuhyun lupakan kini ada di depan matanya.
"K... Kyuhyun-ah?"
Suara berat itu lagi. Suara yang selalu memanggil nama Kyuhyun dan membuat setiap luka menganga di hati Kyuhyun berdenyut sakit.
Sedikit-sedikit air mata-air mata mulai menggenang di sudut matanya. Kyuhyun melihat namja itu lagi. Namja yang selalu menjadi tempatnya bersandar namun kemudian memukul Kyuhyun hingga hancur.
.
::[]::
Flashback
::[]::
.
Langit sore perlahan berganti kelabu. Kyuhyun masih mengurung diri di kamarnya yang terkunci. Masih duduk di tepi jendela dengan pipi yang basah dan tubuh yang lengket. Bahunya masih bergetar sedikit-sedikit sejak tangisnya berhenti beberapa saat yang lalu.
Tiba-tiba ia berdiri dengan gerakan cepat. Mengambil tas besarnya di atas lemari dan memasukkan beberapa pakaian serta uang tabungannya. Setelah selesai, ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Ia selesai. Semuanya sudah siap. Ia menatap cermin, memandang bayangannya sendiri yang begitu menyedihkan. Hari ini ia memutuskan untuk pergi menjauh. Pergi untuk menyembuhkan lukanya, untuk sementara. Pergi dari mereka yang selalu membuatnya menangis.
Dengan mengendap-endap, ia keluar dari kamarnya lalu berjalan ke pintu belakang rumah. Sebelumnya ia lihat keluarganya sedang makan malam. Diam-diam, ada rasa sedih dalam hatinya saat melihat kakak, ibu dan ayahnya yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Lagi-lagi air matanya menetes.
'Mianhaeyo...' Segera ia menghapus air mata itu lalu berjalan pergi meninggalkan rumah. Meninggalkan semua sakit hati dan kenangan menyedihkan keluarga ini. Ia harus kuat, dan bertekad saat ia kembali nanti, ia adalah Tan Kyuhyun yang berbeda.
.
.
Kyuhyun tiba di bandara, ia turun dari taksi dan memasuki gedung itu. Langkahnya semakin berat, namun ia berusaha bertahan dan kembali menjejakkan kaki dengan mantap.
"Kyu...?"
DEG
"Kyu? Kau mau kemana?"
DEG
Kyuhyun mengangkat wajahnya saat tiba-tiba seseorang berdiri di hadapannya dan memanggilnya.
DEG
'Hyung...?'
Ia melihat Siwon tepat di depan matanya. Siwon dengan alis yang bertaut, wajah yang masih terlihat sama terluka. Ia menatap namja itu. Tubuhnya serasa mati rasa. Semuanya berhenti begitu saja.
"Eodiga, Kyu?" tanya namja itu lagi.
Kyuhyun akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia sadar Siwon ada di hadapannya dan mungkin akan mencegahnya pergi. Ia harus cepat menghindari Siwon.
"KYUHYUN-ah!" panggil Siwon saat Kyuhyun berbalik badan dan dengan sangat cepat berlari menjauhinya.
Tanpa aba-aba, Siwon ikut berlari mengejar Kyuhyun. Kakinya yang jenjang membuat langkah larinya menjadi lebar-lebar. Namun meski begitu, Kyuhyun tidak lagi tertangkap olehnya. Kyuhyun menghilang.
Dari balik dinding, Kyuhyun masih bisa melihat Siwon berputar-putar mencarinya. Was-was, takut dan sedih, membuat tubuhnya menggigil. Bibir bawahnya memerah karena gigitannya menahan ketakutan. Tangisan tanpa isakannya tidak bisa lagi ia bendung.
'Wae, hyung? Kenapa kau selalu bisa membuatku menangis? Kenapa kau selalu bisa membuatku memikirkan dua kali lagi untuk meninggalkanmu? Jebal... kali ini biarkan aku pergi. Jangan mencariku. Biarkan aku melupakanmu dan menyembuhkan lukaku sendiri.' Tubuhnya jatuh ke lantai.
Kyuhyun mengintip Siwon yang kini menendang-nendang dinding karena tak berhasil menemukannya. Namja itu lalu pergi akhirnya. Ini kesempatan Kyuhyun untuk melarikan diri dan segera masuk ke pesawat, sebelum Siwon menemukannya lagi.
'Aku pergi, hyung. Annyeong...'
.
::[]::
Flashback End
::[]::
.
.
"A... annyeong haseyo..." Ia tidak punya kata-kata lagi selain mengucapkan salam. Ia tidak bisa memanggil nama namja itu atapun datang memeluknya. Bibirnya bergetar, ia membungkuk memberi salampun rasanya mau roboh. Air matanya akhirnya menetes saat badannya memberi hormat. "Tan Kyu... Tan Kyuh... hyun imnida." Ia sekuat tenaga menahan tangis dan suaranya yang goyah.
Hatinya sakit. Orang itu masih menatapnya penuh dengan kerinduan mendalan dan cinta. Sebenarnya ia tidak sanggup, air matanya terus menetes selama ia membungkuk dalam waktu yang cukup lama. Ia mengepalkan tangannya, menguatkan dirinya dan mengumpulkan segala rasa dendam dan benci untuk lelaki itu.
Dalam sekejap Kyuhyun menyeringai. Ia menghapus lembut air matanya kemudian bangkit. "Annyeong haseyo..." Ia menghentikan kalimatnya, berpura-pura melirik nametag namja itu. Ia merutuk ayahnya dalam hati karena di bawah nama 'Choi Siwon' tertulis kata 'Directur'. Pasti ayahnya sengaja melakukan ini."... Choi Siwon-ssi."
Namja itu terlihat tersentak. Kesedihan tiba-tiba menyelimuti raut wajahnya yang tampan. "Kau lupa denganku, Kyu?"
Kyuhyun meringis, seringaian lagi-lagi muncul di bibirnya. "Apa yang anda maksud, Siwon-ssi?"
Namja itu semakin menatapnya sedih. "Kau tidak mengingatku, Kyu?"
Kyuhyun mempertajam tatapannya. "Ingat? Untuk apa ingat? Memang seberapa penting kau dalam hidupku hingga aku harus mengingatmu?"
DEG
DEG
Dingin. Namja itu diam, tiba-tiba merasakan kedinginan melandanya hingga membuatnya membeku. Kyuhyun memalingkan badan dan siap melangkah pergi. Dengan cepat ia membuka suara, ia tak ingin Kyuhyun pergi. "KYUHYUN-ah!"
Dan benar saja, panggilannya itu membuat Kyuhyun berhenti.
"Jangan pergi, Kyuhyun-ah," mohonnya dengan memelas.
"Aku akan ke ruangan appa, memintaku untuk tidak satu bidang denganmu. Aku permisi."
Kyuhyun kembali melangkah, pergi menjauh dari namja itu. Namja yang sampai sekarang masih mencintainya dan menunggunya selama 8 tahun tanpa ada satupun yang menggeser posisinya di hati lelaki itu.
Akhirnya air matanya bebas meluncur dan mengalir di pipinya tanpa terlihat oleh namja itu. Ia berbelok menuju koridor sampai akhirnya menghilang di balik dinding. Tangis dan isakannya yang sejak tadi ia tahan, akhirnya keluar dengan sendirinya. Ia bersender di dinding lorong yang sepi. Tubuhnya jatuh merosot ke lantai sementara ia menutup mulutnya agar isakannya tidak begitu keras terdengar. Ia meninggalkan Siwonnya dengan hati yang penuh luka.
Sementara itu, namja yang masih berdiri diam di depan pintu ruangan direktur –Siwon- perlahan juga jatuh terduduk di atas lantai. Sebulir air dari matanya menetes tanpa ijin. Orang yang dicintainya baru saja kembali. Dan baru saja pergi meninggalkannya. Seluruh tubuhnya nyeri setelah kepergian namja-nya. Apa lagi hatinya yang menjerit-jerit meminta pertolongan.
"Jangan pergi, Kyu...," gumamnya lirih. "Aku sakit, Kyuhyun-ah."
Matanya menatap kertas yang tercecer di depannya. Dan... Beberapa tetes air?
'Kau tadi menangis, Kyu. Kenapa kau menyembunyikannya? Semuanya belum membaikkah? Apa kau belum memaafkan aku selama delapan tahun ini? Apa lukamu masih berdarah?'
Siwon mengangkat tangannya ke hadapan wajahnya. Dua buah cincin melingkar di jemari manisnya. Cincin itu masih sama cemerlang, dengan permata biru safirnya.
'Aku belum bisa lepas darimu, Kyu. Aku masih menunggumu dan menyimpan rindu untukmu. Jangan pergi, Kyu. Jebal... kembali padaku.'
.
.
BRAKK
Kibum, Donghae dan Hangeng terlonjak kaget mendengar gebrakan pintu ruang kerja mereka. Setelah itu muncul Kyuhyun dengan sorot mata berapi-api. Namja itu menghentikan langkahnya tepat di depan Hangeng.
"APPA!"
"Wa... waeyo, Kyuhyunnie?" tanya Hangeng gelagapan, melihat anaknya datang dengan ekspresi marah.
Kyuhyun menghembus napas menenangkan dirinya. "Kenapa appa menempatkan aku satu bidang dengan Siwon?"
DEG
Kibum melirik Donghae, lalu melempar pandang ke arah ayahnya. Rencana mereka gagal.
"Lho... memangnya kenapa? Posisi itu memang pas untukmu," terang Hangeng.
Kyuhyun memutar matanya lalu melipat tangannya di dada. "Shirreo! Aku mau appa memindahkan aku sekarang juga. Atau aku tidak usah bekerja sama sekali!"
Mendengar ancaman Kyuhyun, Hangeng menatap Kibum meminta pendapat. Dijawab Kibum dengan sebuah anggukan.
"Arra, arra. Appa akan memindahkanmu bersama Kibum dan Donghae."
Puas dengan appanya yang menyanggupi permintaannya, Kyuhyun pergi keluar ruangan. Meninggalkan Kibum, Donghae, dan Hangeng yang melepas napas pasrah.
"Padahal aku hanya ingin mereka memperbaiki hubungan,' kata Kibum tiba-tiba.
Hangeng mengangguk. "Usaha kita sia-sia, Bummie."
"Ne, appa."
.
.
Hari ini dia benar-benar tidak fokus pada pekerjaannya. Siwon mengacuhkan asistennya sejak tadi, yeoja yang berdiri di depannya yang hari ini seharusnya di gantikan oleh Kyuhyun. Pikirannya kembali tertuju pada kejadian pagi tadi, dimana ia melihat sosok yang begitu dia tunggu selama 8 tahun. Sosok yang begitu dia rindukan yang sama sekali belum menghilang dari benaknya.
"Maaf, sajangnim. Tolong tanda tangani segera dokumen ini, lalu harap menghadiri rapat beberapa menit lagi segera," kata sang asisten, ia menurut. Dengan sorot mata kosong, ia menggerakan tangannya membuat beberapa garis lengkung di atas bagian kertas yang telah di tunjukan oleh sang asisten. Ia lalu bangkit, berjalan menuju ruang rapat yang akan diadakan pukul satu siang ini.
Di dampingi sang asisten yang masih setia berada di sampingnya, Siwon keluar dari ruangannya. Tak disangka, di perjalannan menuju ruang rapat, ia berpapasan dengan Kibum dan Donghae. Ia masih tak ingin bicara ataupun menyapa dua orang itu yang sudah menyapa lebih dulu.
Beberapa menit setelah Donghae dan Kibum berlalu, di belakang mereka seseorang tengah berlari dengan tergesa-gesa. Kyuhyun.
DEG
Ia mempersiapkan dirinya untuk menghentikan sang namja dengan mencengkeran lengannya. Kyuhyun yang mesih sibuk mengancing jas-nya berlari semakin dekat dengannya. Dan... HUP. Ia berhasil menggapai lengan namja itu, membuat namja itu hampir tersungkur jika saja ia tidak dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya. Asistennya saja sampai membulatkan matanya karena terkejut.
"Kyuhyun-ah."
Namja itu menatapnya dengan penuh ketajaman. Kesal mungkin.
"Apa maumu?" ujar Kyuhyun ketus. "Aku tidak lagi satu bidang denganmu, Presdir sudah memindahkan aku."
Tak ada satu kelimatpun yang terucap dari bibir Siwon. Ia hanya terus memandang Kyuhyunnya dengan sendu, semakin dalam dan dalam. Meskipun ia hanya mendapat balasan dengan pancaran kebencian.
"Kyuhyun-ah, jangan pergi." Nada suaranya terdengar begitu memelas. Ia hanya ingin Kyuhyun ada di sampingnya, tidak ada permintaan apapun lagi.
"Apa yang kau maksud, Tuan Direktur? Rapat akan dimulai dan kau masih sempat bermain-main seperti ini!" Namja itu mengibaskan tangannya, melepaskan genggaman Siwon yang begitu kuat menahan lengannya "Sebaiknya kau segera kesana."
"Wae? Kenapa kau seperti ini, Kyuhyun-ah?"
DEG
Kyuhyun berhenti melangkah, membalikan badannya menghadap Siwon. Ia menatap sinis namja itu lalu tertawa meremehkan.
"Wae? Huh? Kau tanyakan kenapa? Jawabannya sudah jelas 'kan?" Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. "Jika begitu, aku juga akan bertanya. Kenapa kau sangat menyedihkan seperti ini, Choi Siwon?"
DEG
Sang asisten memandang atasannya dengan terkejut. Choi Siwon serasa baru di tombak oleh kalimat Kyuhyun.
"Jangan seperti pengemis, Choi Siwon. Semuanya sudah berubah. Jangan meminta apapun agar bisa sesuai dengan keinginanmu, hidup ini bukan milikmu saja." Kyuhyun sepertinya menarik napas panjang. "Jika saja waktu itu, kau tidak membuat seseorang terluka, semuanya akan baik-baik saja."
DEG
Siwon jatuh rubuh, sang asisten dengan sigap menahan tubuhnya agar tidak terbentur dengan lantai. Asistennya itu menatap Kyuhyun, memohon untuk menghentikan perkataannya yang begitu pedas.
"Urus Tuanmu itu." Kyuhyun menyeringai lalu dengan cepat ia berlalu meninggalkan Siwon yang masih dalam keadaan membatu dan terluka.
Andai saja, andai Siwon melihat air mata namja itu yang selalu mengalir setelah berpura-pura menjadi orang yang kejam. Andai Siwon tahu, namja itu tidak benar-benar sepenuhnya berubah. Namja itu masih namja yang terluka parah. Pelarian selama 8 tahun belum sepenuhnya menyembuhkan sakit namja itu.
.
.
::[]::
.
.
"Hyung..."
"Ne, Hae-ah. Waeyo?" Kibum menjawab panggilan Donghae tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari dokumen di tangannya. Matanya yang dilindungi kacamata itu terus fokus pada kertas itu.
"Hyung, aku ingin bicara. Tolong tatap aku. Aku serius, hyung."
Atas permintaan Donghae, Kibum akhirnya menurut. Ia meletakan dokumen itu dan melepas kacamatanya. Ia menatap Donghae. "Apa yang ingin kau bicarakan, Hae?"
Donghae terlihat gugup. Sebelum ia membuka mulutnya, matanya begerak memandang seluruh cafe tempat mereka duduk pagi itu. "Aku..."
Tik Tok Tik Tok
Lama, Kibum menunggu Donghae menyelesaikan kalimatnya. Akhirnya iapun tak sabar. "Mwo, Hae-ah? Apa yang mau kau katakan? Kau sudah menghabiskan 10 menit dengan sia-sia." Kibum menekuk wajahnya.
"Mianhae, hyung, aku... hanya..." Donghae mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia menatap benda itu, lalu pelan-pelan ia menyodorkannya ke arah Kibum. "Ini, aku ingin hyung memilikinya."
Kibum terkejut. Sebuah kotak kecil berpita ungu kini diam di depannya menanti untuk dibuka. "Ini... apa, Hae?"
"Hyung buka saja. Aku tidak bisa mengatakannya jika hyung belum membukanya."
"Arra..."
Jemari Kibum bergerak menarik pita ungu itu. Sangat pelan ia membuka kotaknya.
DEG
Cincin?
"Hae... A... apa ini?" ucapnya terbata saking terkejutnya ia saat melihat benda kecil di dalam kotak berpita ungu itu. Dua benda mungil yang berkilauan, berukir huruf D&K.
"Ehm. Ehm." Pura-pura mengecek suaranya, Donghae lalu menatap Kibum dalam. Tangannya meraih jemari Kibum pelan. "Hyung..."
Kibum diam, masih tercengang.
"Hyung, aku sudah menyiapkan ini untukmu. Aku sudah memikirkannya matang dan aku sudah menunggu lama untuk waktu yang tepat." Donghae semakin memperdalam tatapannya. "Hyung, bisakah aku memilikimu? Bisakah hyung menikah denganku?"
DEG
Kibum yang masih dalam keadaan membatu kini bertambah tercengang mendengar kalimat Donghae. Ia tertegun sekaligus terharu. Rasanya begitu bahagia hingga serasa dirinya terbang.
"Hyung...?"
DEG
Donghae mencintai Kyuhyun.
Ya, Kibum sadar jika orang yang Donghae cintai adalah Kyuhyun bukan dirinya. Dengan cepat ia menarik tangannya yang berada di genggaman Donghae. Namun ia kalah cepat dengan Donghae yang kembali menggenggamnya erat.
"Mian, Hae. Aku tak bisa."
DEG
"Wae? Waeyo, hyung?" tanya Donghae sedikit kecewa.
"Aku tahu benar kau mencintai Kyuhyun, Hae. Aku tidak mau hanya dijadikan pelarian. Maafkan aku."
"Hyung... uljimma. Maafkan aku." Merasa bersalah Donghae melihat air mata Kibum tiba-tiba mengalir. Ia bangit dari kursinya, datang mendekap Kibum untuk menenangkannya. "Mianhae, hyung. Uljimmayo..."
Kibum terisak di pelukannya. "Aku tidak mau jika hanya menjadi tempatmu bersandar saja, Hae. Aku tidak mau kau memaksakan mencintaiku padahal hatimu jelas tertuju pada Kyuhyun. Aku takut jika aku terlanjur mencintaimu lalu kau meninggalkanku."
"Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu, hyung? Kyuhyun bagiku adalah masa lalu. Aku sudah mendapatkan penggantinya. Jangan berpikir aku hanya akan mempermainkanmu. Aku tulus... Aku benar mencintaimu. Jeongmal saranghae, saranghaeyo..." Donghae memeluk Kibum hangat.
Kibum terhenyak, tangisnya berhenti seketika. "Hae..."
Donghae, benarkah yang ia katakan? Benar-benar ia mencintai Kibum? Jangan berbohong jika pada akhirnya ia hanya akan membuat Kibum terluka.
"Aku bersungguh-sungguh, hyung. Bukan Kyuhyun yang aku harapkan ada di sisiku. Tapi kau, Tan Kibum." Namja itu mengambil salah satu cincinnya. Memasangkannya pada jari namja yang menjadi pilihan terakhirnya. Cinta pertamanya yang sempat tergeser oleh Kyuhyun, kini kembali memiliki seluruh hatinya.
"Aku tak akan mengecewakanmu, hyung. Yaksokhae." Dan janjinya itu membuat senyuman Kibum terkembang. Melukis indah di bibirnya seindah langit musim semi di luar sana. Ia akhirnya mengerti ketulusan hati Donghae.
"Nado, saranghaeyo... Akupun sudah melepas Siwon hyung. Sama sepertimu, Siwon hyung hanya masa lalu." Kibum menatap Donghaenya, ketulusan juga terpancar dari matanya. Akhirnya, cinta pertamanya telah kembali. Kini tak ada siapapun selain Donghae. Kini kebahagiaannya sudah tiba. Ia memang selalu mendapatkan cinta yang paling terakhir. Namun cinta yang terakhir itulah yang membawanya dalam kehidupannya yang sesungguhnya. Ia cukup hanya memiliki cinta itu. Tidak perlu cinta yang ia inginkan. Tapi cinta yang ia butuhkan.
"Gomawo..."
.
.
::[]::
TBC
::[]::
.
.
Langsung lanjut aja next chap, ne...
