Another Destiny : ZERO

Disclaim : M. Kishimoto

Warning : Typo, OOC, Alur Kecepetan + berantakan, Banyak kekurangan

Genre : Adventure - Family - Romance (sedikit)

Rate : T (semi M)

Pair : ?

Summary : Bagaimana jika Naruto bukan anak dari Minato dan Kushina. Dan juga warga biasa yang memiliki sedikit chakra. Tapi ramalan menyebutkan dia akan membawa perdamaian untuk dunia Shinobi. Bagaimana kisah perjalanan Naruto untuk mencapai perdamaian tersebut … Check This Out

.

.

.

.


Naruto hanya berdiri tenang di samping garis kaca jendela, hampir menyentuh kayunya. Sesekali melihati layar tabung lebih dari satu di sisi ruangan, disambung kabel-kabel besar. Memperlihatkan rekaman langsung beberapa tempat dari dalam menara. Salah satunya adalah arena bertarung luas, yang kini tengah dilangsungkan babak penyisihan. Dikarenakan lebih banyak jumlah orang yang diharapkan lolos.

"Jadi benar Sasuke-kun ya?" Gumam suara pria tua mengulangi topik.

Naruto membuat posturnya tampak sopan. "Itu yang pasti Sandaime-sama." Jawabnya terhadap orang tadi. "Yang saya takutkan, adalah jika beliau punya tujuan lain." Dia cukup kecewa… Saat tahu bahwa Sasuke adalah incarannya, sudah terlambat untuk mencegah itu. Kejadiannya bertepatan dengan waktu ia melawan genin Otogakure. Dan terlalu banyak chakra yang bercampur aduk di hutan kematian saat itu. Karena Naruto tak tahu seperti apa chakra Orochimaru, dia tak bisa merasakan saat Sannin tersebut bertarung dengan Sasuke.

Hiruzen selaku orang yang berbicara dengan Naruto, memberi tatapan geli dan cukup kesal. "Jangan mengatakan dia dengan sopan, Naruto-kun. Orochimaru bukan orang yang pantas untuk dihormati… Terlebih olehmu." Katanya cukup terdengar getir. Menerawang sosok muridnya yang sekarang, bukan di masa lampau. Namun sungguh-sungguh memerintah Naruto.

Naruto hanya menjawab patuh. Dia hanya anak yang diberi didikan baik oleh sang ibu. Dan selalu menghormati orang lain terlebih yang lebih tua darinya. Dan meski tak tahu lengkapnya, bagaimana Orochimaru itu … dia cukup tahu bahwa orang itu adalah salah satu legenda Sannin Konoha. Jadi jika dia menghormatinya, cukup wajar. Tapi bukan berarti membenarkan.

"Apa kau bisa memastikan yang kau lihat?"

"Saya tidak berani untuk mengatakan pasti. Tapi dengan hipotesis, itu tujuh puluh persen memang benar." Naruto mencoba mengingat dengan baik, apa yang telah ia lihat waktu itu dengan sharingan-nya. Apa yang ada dalam memory genin Otogakure saat itu. "Mereka memang hanya ditugaskan untuk membunuh Sasuke. Namun beberapa kali salah satunya pernah memata-matai tim Suna."

Hiruzen hanya menghela nafas dalam asap rokoknya. Dia berdiri di tengah ruangan, di depan sofa. Sudah tak bisa duduk tenang lagi karena banyak berpikir. "Apa yang membuat Suna berkhianat? Kami tak pernah kurang untuk mengirim hasil pertanian kami kepada mereka, sesuai perjanjian. Dan cukup sering Kazekage meminta bantuan Konoha untuk misi mereka."

"Saya berpikir … terlalu cepat untuk mengatakan itu Sandaime-sama. Seolah kita yang menyulut peperangan terlebih dahulu. Tapi alangkah baik jika membuat siaga dari sekarang."

"Kau benar… Aku tahu itu." Gumam kakek tua itu. Ada raut penyesalan dalam matanya. "Sekarang yang harus dikhawatirkan adalah Sasuke-kun. Jika itu segel yang sama dengan milik Anko, maka dia tidak dapat menggunakan chakra melebihi yang seharusnya. Atau segel itu akan mengambil alih tubuhnya. Dan celakanya … aku bahkan tak bisa menghilangkan segel kutukan itu."

Naruto memperhatikan. Tapi di sudut matanya, ia sesekali melirik layar di sisi ruangan. Tepat pada rekaman langsung dari arena. Dia, atau lebih tepatnya dengan Sandaime … telah melewatkan beberapa pertarungan. Dan sekarang sudah sampai pada genin senior Lee melawan bocah merah Suna. Sebelumnya Naruto hampir harus menggigit jarinya melihat pertarungan dua Hyuuga. Menyaksikan bagaimana bengisnya sekeluarga itu bertarung. Terutama kekhawatirannya melihat Hinata. Namun cukup senang dengan hasilnya. Gadis yang pernah ia selamatkan itu menjadi shinobi yang pantang menyerah. Dan sekarang hanya berharap si Me-chan itu baik-baik saja. Walau cukup ragu melihat bagaimana Neji melukainya tadi.

"Seperti yang dikatakan Yondaime-sama tadi… Melawan segel dengan segel." Tanggapan dari Naruto tanpa buyar. Sebelumnya dia sudah melaporkan misi ini secara rinci. Kepada Yondaime juga yang beberapa saat lalu bergabung di sini. Namun harus beranjak terlebih dahulu karena menyambut para peserta yang lolos.

"Namun tetap saja Sasuke-kun tidak mungkin dapat menggunakan chakranya dengan maksimal lagi."

Naruto tersenyum. "Dia orang yang punya kehendak kuat Sandaime-sama. Sesuatu seperti itu tidak mungkin mudah menghambatnya. Namun kegelapan hatinya cukup mampu membuatnya berpaling dan terjerumus." Pendapatnya mengenai itu. Untuk menganggap Juinjutsu sebuah tekhnik yang kuat … tidaklah sepenuhnya benar. Hanya karakter dari orang tersebut yang bisa membuatnya menjadi berbahaya.

Hiruzen bernafas panjang lagi. Meratapi dirinya yang tak mampu menjaga Uchiha di waktu silam. Dia berpikir, karena orang-orang tua seperti dirinya yang membuat Konoha seperti sekarang ini. Untuk arah baik dan buruknya. "Semua orang mempunyai kegelapan hati. Dan itu bisa disembuhkan dengan orang di sekitar kita. Merupakan tugas kita juga untuk menyembuhkan kegelapan hati Sasuke-kun. Sebagai orang tua, teman … dan keluarga sesama Konoha." Tuturnya dengan bijak. Dan melangkah menuju pintu.

"Ayo kesana! Seharusnya setelah ini pertarunganmu."

Naruto membungkuk sopan dan mengikuti Sandaime. "M-Maaf?" Jawabnya sedikit bingung.

"Kau sudah diwakilkan tadi. Karena alasan melaporkan misi, pertarunganmu menjadi yang paling akhir." Hiruzen berjalan pelan menyusuri lorong. Dengan kedua tangannya di belakang. "Maaf jika lagi mengistimewakanmu. Kau pasti tidak nyaman dengan itu." Tambahnya melirik Naruto.

Naruto menundukkan kepalanya lagi dan tetap berjalan. "Sebaliknya saya sungguh senang dengan itu, Sandaime-samaDoumo Arigatou Gozaimasu." Katanya berperaga. Meski memang dia ingin menjadi seperti yang lainnya. Tapi hal ini adalah buah kesungguhannya. Dan dia benar senang.

Hiruzen tertawa melihatnya. "Kau sungguh anak yang sopan Naruto-kun. Kau terlalu baik untuk menjadi alat desa." Tentu dia tak menyiratkan bahwa desa memperalat Naruto. Namun anak itu cukup cerdas untuk mengerti arahnya.

Naruto mengernyit. "Maksud Anda, saya tak pantas menjadi Shinobi?"

Tak terlalu cerdas juga. Terkadang suka terang-terangan apa yang ada di kepalanya. Yahh… Seperti itulah memang anak yang seputih awan itu.

Hiruzen hanya tertawa hangat. Tidak memberi jawaban. Karena Naruto memang tak membutuhkannya. Saat sampai dan memasuki pintu besar arena, pertarungan ternyata telah usai. Tidak banyak yang memperhatikan kedatangan mereka berdua. Entah kejadian apa yang telah terjadi sebelumnya.

Naruto yang baru menaiki anak tangga balkon arena, sayup-sayup mendengar sesuatu yang cukup mengejutkan untuknya. Bahkan sampai mebuat dia berhenti bergerak. Tak biasanya konsentrasi seorang Naruto bisa pecah seperti itu. '…dia tidak bisa hidup menjadi Shinobi lagi.' Perkataan yang disampaikan secara diam-diam oleh petugas medis, kepada pria dewasa yang berpenampilan sama dengan anak yang terkulai di lantai. Yang ternyata masih bisa sampai di telinganya.

Naruto kembali menaiki tangga setelah dapat mengendalikan fokusnya lagi. Tak mencoba untuk memperhatikan dua orang itu. Namun matanya mengelilingi arena. Lantai beton tersebut hancur lebur, terutama bagian tengah. Dinding-dinding bawah balkon terlihat penuh dengan retakan. Dia tidak bisa memperkirakan seperti apa … kejadian saat dirinya datang ke sini. Tadi, dia sempat melihat di dalam rekaman. Saat Lee membuka gerbang ketiga kehidupan dari kedelapan gerbang. Jika benar jutsu terlarang itu, maka tidak heran dampaknya seperti ini. Matanya juga menangkap sosok Lee yang terluka parah. Kaki dan tangan kirinya mengerluarkan darah.

"Naruto-kun…"

Suara seseorang menginterupsi Naruto, yang ternyata Kushina. Dia mendatangi sensei-nya itu. Disana ada kedua rekan timnya. Juga Naruko, Kakashi, dan Sakura. Dia melayangkan senyum saat melewati Neji yang bersandar di dinding. Kembali teringat bagaiman pertarungan anak itu tadi. Dia sedikit tidak terima bagaimana perlakuan Neji. Namun itu hak yang benar. Di sana memang pertarungan.

Mata si Hyuga itu tetap mengekori Naruto. Tidak terlihat berbahaya, batinnya tenang. Tapi dalam hatinya sama sekali tak meremehkan. Ingin menjajal kemampuan si Putih tersebut.

"Dari mana, em? Aku kira kau melarikan diri." Kushina menepuk-nepuk kepala Naruto dengan bersungut. Hampir mati cemas memikirkan kemana muridnya itu. Dia mana tahu bahwa pertarungan Naruto memang diletakkan paling akhir. Wajar jika was-was setelah setiap pertarungan selesai.

Naruto membuat raut menyesal, sedikit gugup. Ayolah… Yang sedang menyentuhnya itu adalah istri Hokage. Sangat sifat sensei-nya memang, sama sekali tak memperdulikan sekitar. Apa yang akan dipikirkan orang jika dia salah memberi tanggapan. Keputusan yang baik hanya diam. Bukan berarti tak sopan.

Kushina mengela nafas. Masih bertaut alis. "Baiklah… Lihat siapa lawanmu!"

Naruto menengok ke papan elektrik di pojok atas ruangan. Terkejut sejenak saat tahu nama yang tertera. Kenapa dia tidak sadar sedari tadi, siapa peserta yang belum bertarung. Memang dia juga tidak menyangka jika pertarungannya diletakkan di akhir. Dia tak begitu fokus dengan jalannya pertarungan saat berada di ruangan tadi. Hanya beberapa peserta saja yang dia lihat dengan sungguh. Tiba-tiba ingin berbuat sesuatu!

"Jangan menyerah sebelum pertandingan dimulai, Naruto-kun!"

Namun tidak jadi saat mendengar suara dari seseorang di dekatnya. Gadis yang berdiri di samping Kushina. Berambut cokelat emas yang panjang tergerai. Tak lain adalah rekannya sendiri, Yuri. Baru saja selesai membicarakan sesuatu dengan Naruko dan Sakura di sebelahnya. Hanya obrolan para gadis.

Naruto menghela pasrah di tempat. Melihat Haru yang bersandar di tembok belakang mereka. Rekan satunya itu hanya tertawa pelan. Mungkin sudah menyangka. Dia ingat pertarungannya melawan Shikamaru tadi. Setahunya memang Haru tipe petarung jarak dekat. Sedangkan teman sekelasnya, Shikamaru adalah jarak jauh. Jadi siapa yang mempunyai strategi yang paling unggul, mempunyai kemungkinan menang lebih besar. Dan sudah jelas siapa itu. Tapi Naruto tahu… Haru mana mungkin membuat dirinya menang. Jelas sudah tak membutuhkan gelar genin lagi. Terlebih memang bukan orang yang suka merepotkan diri.

Suara deheman serak seorang pria dari tengah arena. "Baiklah, pertandingan terakhir. Kedua peserta silahkan turun ke arena!"

Yuri sudah naik pagar balkon. Siap kapan saja untuk melompat turun. Bagian samping bawah bajunya terbuka sedikit dengan sebuah resleting. Memperlihatkan celana pendek hitam di dalamnya. Dia tidak mungkin bertarung dengan gaun ketat. Lalu melompat turun ke arena.

"Sana… Lawan dia!" Kushina tersenyum mengerti kearah Naruto. Tangannya masih berada di kepala muridnya itu. Dia memeberi usapan pelan sebelum Naruto turun juga. Sebagai orang yang paling dekat dengan Naruto selain Rika, dia tahu betul anak itu tidak mungkin mau jika bertarung dengan rekan sendiri.

Naruto sudah sampai di arena. Berhadapan langsung dengan Yuri.

Si pengawas pertarungan merentangkan tangannya ke depan. Dia tampak tak sehat. "Pertarungan terakhir, Yoshiaki Naruto melawan Yuri, dimulai!"

Keduanya belum menyiapkan kuda-kuda. "Baiklah… Kita buat kesepakatan." Itu suara Yuri. Naruto memperhatikan, dengan ekspresi. Pengawas sendiri sudah pergi ke podium. Jadi tak ada yang benar-benar mendengar obrolan mereka. "Kau tahu di sini tidak ada air?" Terdengar seperti pertanyaan. Namun jawabannya memang benar. "Bagaimana jika membuat pertarungan yang seimbang." Dengan itu Yuri sudah ada di depan Naruto. Melayangkan kepalan tangan kepada rekannya itu.

Naruto menghindari dengan memiringkan kepalanya. Menyatukan telapak tangannya saat melihat tendangan lutut Yuri. Dan menangkisnya dengan sedikit melangkah mundur. "Seimbang seperti apa?" Tanggapnya terus menghindar dan menangkis serangan Yuri.

Kedua anak itu bergerak kesana kemari beradu taijutsu. Sembari bercakap. Namun seperti yang terlihat, hanya Yuri yang memberi serangan. Naruto tetap sibuk menghindarinya. Bukan berarti meremehkan, dia sudah terlihat sungguh-sungguh. Hanya mereka yang tahu seperti apa berjalannya pertarungan itu.

"Apa mereka main-main?" Kata seseorang yang berada di balkon. Jounin bermasker dengan mata sayu.

Kushina tersenyum mendengarnya. "Apa kau sudah sehebat itu merasa tak perlu menyadarinya, Kakashi-kun?" Dia sedikit menyindir orang di sampingnya tersebut. "Mengobservasi kekuatan lawan saat bertarung adalah pelajaran utama seorang ninja. Jika ada orang yang tahu tujuan utama ujian chunnin, mungkin hanya mereka berdua."

Kakashi terdiam paham. Yang ia lihat, pertarungan tersebut memang berbeda dari sebelumnya. Meski hanya terkesan main-main, beradu taijutsu biasa … namun ada sesuatu yang kedua anak itu tahan. Sedari lama dia memang dibuat penasaran dengan anak berambut putih tersebut.

"Bukan hanya menang dalam pertarungan, ataupun mencapai final. Banyak hal yang dinilai dari masing-masing peserta. Segala aspek diperhitungkan untuk menilai apa orang tersebut pantas menjadi chunnin." Jelas Kushina sembari tetap memperhatikan pertarungan. Sebagai sensei dia patut bangga dengan segala kesampaian muridnya. Namun cukup tahu tak perlu begitu, karena kekuatan tersebut bukan sesuatu yang seharusnya dipertandingkan. Kushina tak pernah benar-benar mengerti sejatinya hati Naruto. Harus diakui, dia sedih.

Yuri memutar tubuhnya dengan lompatan serta membawa satu kakinya ke atas. Kemudian memberi tendangan vertikal ke bawah.

Naruto melompat ke samping. Cepat dan cukup jauh, menghindari itu. Dia merasakan kecepatan Yuri semakin meningkat. Ia masih siap kuda-kuda setelah menapak lantai.

Serangan Yuri hanya mengenai beton lantai yang retak. Menimbulkan bunyi debuman dan kepulan debu. Cukup membuat beberapa mata terkejut. Hanya beberapa. Sedari tadi memang belum ada peserta perempuan yang membuat pertarungan besar. Yuri mengambil satu kunai saat menegakkan badan kembali. Dan melesat cepat di balik debu, menuju Naruto. Kini bertambah lagi mata yang kaget.

'Kecepatannya sebanding dengan Sasuke.' Batin si Jounin masker tadi.

Naruto berniat menghadang Yuri seperti sebelumnya. Namun dia tidak menyangka dengan kunai tersebut. Jarak dan kecepatannya lawannya sudah tak mungkin lagi untuk menghindar. Jadi satu tangannya terangkat sejajar dengan datangnya serangan Yuri. Semua mengira dia akan menangkis sabetan kunai itu dengan tangan kosong.

Namun… Dentingan besi dan percikan api tercipta, saat hanya bebearapa centi sebelum menyentuh kulit tangan Naruto. Kejadian berhenti di situ sejenak. Di saat dua buah kunai beradu. Tapi, bahkan meski Yuri sudah menyangkanya, dia tetap kukuh melancarkan serangan lagi. Kali ini seringaian terpapang di bibir manisnya.

Naruto terkejut sebentar menyadari kakinya tak bisa digerakkan. Dia melirik, dan mengetahui lilitan tanah sedang menjerat kedua kakinya. Berbuat apa lagi, ketika melihat rekan-atau-lawannya itu melompat ke belakang. Yuri membuat satu segel tangan serta mengucapkan sebuah jutsu Doton. Dan dari masing-masing sisi Naruto keluar beberapa tombak tanah yang runcing. Menikam tepat ke tubuhnya yang tak bisa bergerak.

Semua pasang mata membulat kaku melihatnya dalam tempo lambat. Meski bisa mengentikannya, itu hanya dua paling banyak tiga tombak dengan tangannya. Mustahil lebih dari itu dengan keadaan tubuh terkunci.

Darah keluar…

Ralat, setetes darah keluar dari kulit pipinya. Hanya satu tombak yang berhasil menusuknya, atau lebih tepat menggoresnya. Sementara tombak-tombak yang lain tiba-tiba saja berhenti dalam jarak beberapa inchi.

Sekali lagi semua mata terbelalak. Kali ini hampir dengan tubuh mereka juga yang masing-masing menegang.

"A-Apa yang … sedang terjadi?"

Beberapa mewakilkan kata-kata dari pikiran semua orang. Tidak ada yang tahu persis yang sedang terjadi.

Karena di sana, di arena… Yang justru hampir tertikam tombak tanah adalah Yuri. Perempuan itu sama terkejutnya, tak tahu apa yang terjadi. Dia berdiri di tengah-tengah tombaknya sendiri. Tangannya bahkan masih dalam posisi segel Burung. Dari pipi kannanya keluar setetes kecil darah. Dan tepat beberapa mili saja tombak tanah yang di ujungnya selincip jarum, terdapat sedikit darah juga.

Naruto sendiri… Dia berada di posisi Yuri sebelumnya. Terengah-terengah dengan banyak peluh. Pandangannya sedikit buram, dan jatuh berlutut. 'Melakukannya pada manusia jauh memakan banyak chakra. Aku bisa merasakan hampir semua chakraku terkuras.' Dia mengawasi lawannya yang mematung. Dengan mata yang sedikit nanar.

"Kumohon… Jelaskan apa yang sedang terjadi?" Suara Sakura yang berteriak memenuhi sisi balkon.

"B-Bagaimana tempat mereka tertukar?"

Kakashi yang sudah lebih dulu tenang, berniat menarik masker matanya. Namun diurungkan saat merasakan tepukan di bahunya. Yang ternyata dari Kushina.

"Bahkan sebagai Senseinya aku juga merasakan penasaran yang sama denganmu." Tutur Kushina pelan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari arena. "Namun ada waktunya. Hargai mereka yang sudah bersungguh-sungguh. Bukannya ini yang kau nantikan…" Yang terakhir tidak seperti pertanyaan.

Kakashi menurut saja menurunkan tangannya kembali ke dalam saku. Sejauh karirnya, bahkan sejauh hidupnya… Wanita Merah di sampingnya itu tak pernah repot-repot mengurusi hal semacam ini. Yah, walau sejarah mengatakan beliau Kunoichi yang menyeramkan di masanya. Jadi dia menyimpulkan… Ada hal istimewa di tim sebelas.

"Genjutsu? Bukan … itu tidak mungkin." Sebuah hipotesis dari jounin wanita tak jauh dari mereka.

"Jika Kurenai berkata begitu berarti memang bukan." Kakashi memberi tanggapan. Memuaskan rasa penasaran orang di sekitarnya. Itu juga untuk dirinya. Dia melirik ke ujung balkon, tempat Yondaime dan Sandaime berada. "Terlebih… Bahkan Hokage-sama juga tak tahu apa yang terjadi. Dia benar-benar menukar tempatnya."

Sakura menggeleng tidak puas. "Tapi bagaimana caranya, Sensei?"

Kakashi hanya menghela nafas. "Aku tidak pernah melihat yang seperti itu. Jika kawarimi memang sedikit memungkinkan. Tapi mustahil dengan keadaan tubuh terikat. Dan kecepatan perpindahannya tidak masuk akal." Serta-merta dia menumpahkan suaranya kepada sosok di sampingnya. Namun harus menelan nafasnya lagi saat hanya mendapat kedikkan bahu.

"Aku akan senang jika menjawab itu kawarimi tingkat lanjut." Kushina barang serius juga tak mau ambil pusing. "Tapi aku sendiri tak tahu lebih meski ingin. Andai sejatinya aku tahu segala tentangnya." Dia menengok murid suaminya itu. "Kau bisa menanyakannya kepada suamiku. Karena Naruto tidak pernah menggunakan jutsu diluar sepengetuhan legalnya. Atau lebih mudah tanya langsung kepadanya. Dia anak yang baik, asal tahu saja."

Naruko sedikit menyadari binaran suara ibunya. Sedari tadi dia tak membuka suara sama sekali. Hanya menumpukan siku-sikunya di atas besi pagar. Melihati nee-channya di arena sana. Yang sedang berlutut payah dan pucat. Sedari dulu memang pucat. Dia sepertinya berpikir, bahwa kedekataan dengan saudaranya itu semakin berkurang saja. "Dan Sensei, dari mana Nee-chan mendapat kunainya?" Dia baru ingat hal yang sempat mengganjal tadi.

Kakashi menegak sejenak mendengar suara Naruko pertama kali. Dan kembali melihat arena. "Segel penyimpanan mungkin." Jawabnya memenuhi kewajiban.

"Segel penyimpanan?"

"Aku akan menjelaskan sedikit. Kalian sebaiknya memang tak perlu mengetahui ini." Jounin rambut tulang itu mengutik otaknya perlahan. "Itu adalah sebuah tekhnik fuinjutsu dimana kita bisa menyimpan barang di dalam suatu media penyimpanan khusus. Seperti umumnya dalam scroll. Dalam hal ini dia menggunakan tubuhnya sebagai medianya. Aku pernah menggunakan itu semasa di Anbu dulu. Namun tak pernah lagi saat ini." Nadanya terdengar memperingati. "Selain mengganggu peredaran chakra, itu juga memperlambat regenerasi tubuh. Jadi… Meski terlihat efektif, nyatanya cukup berdampak negatif. Buktinya sendiri sangat sedikit orang yang repot-repot mau menggunakannya."

"Tapi kenapa Nee-chan menggunakannya?"

Kakashi mendengus mendengarnya. Pertanyaan yang tidak perlu dipertanyakan juga. Dan bagaimana anak didiknya itu memanggil seorang laki-laki dengan sebutan perempuan. "Aku sudah bilang tadi itu mungkin saja. Dalam beberapa kasus, keterampilan nyatanya yang terpenting. Di dalam Uchiha, yang umumnya memasteri shuriken jutsu, mereka bisa memunculkan senjata secepat kilat. Yang sejatinya hanya keterampilan tangan." Tapi batinnya mengatakan hal lain. "Toh bagaimana persisnya aku juga tak tahu. Aku tidak percaya genin mampu melakukannya."

Di sisi balkon lainnya hanya terdapat tim suna. Tiga orang termasuk jounin-nya. Satu anak entah kemana, tepatnya bocah Pasir yang bertarung di pertandingan sebelumnya. Yang terlihat kalut hanya anak dengan cat wajah. Nyaris memutari seisi ruangan dengan bola matanya.

"Beruntung sekali dia pergi… Aku tidak tahu apa yang bakal terjadi jika dia melihat ini."

"Gaara maksudmu?" Si perempuan pirang meralat tak suka. Postur sedekapnya tak benar-benar mampu menyembunyikan itu.

Kankuro mendesis aneh. Kelihatan hampir meludah. "Seperti tak tahu saja!"

"Terserah katamu." Dengan datarnya Temari menjawab. Nyatanya tidak punya bantahan untuk dikeluarkan. Anak sulung yang tak berdaya.

Setelah berkali-kali menarik dan menghembuskan nafas, Naruto mulai bisa mengatasi peningnya. Mencoba merasakan lambat laun chakranya yang terisi. Bersikulasi layaknya darah di seluruh tubuh. Hingga mendadak terlihat panik dan menggigil. Tidak ada peraga bahwa dia ingin berdiri. Setia di posisi sebelumnya dengan kaku. Pupilnya tidak beralih barang sedikit.

Yuri sama baru sadarnya di tempat. Mengecap perih di pipi dan perutnya yang teraduk, mual. Sebagai seorang Anbu dengan segudang pengalamannya, tak perlu sampai dia muntah. Sekejap saja dia terlihat normal. Dia melepaskan segel tangannya, dan tombak-tombak itu melebur kembali menjadi tanah. Melepas sekapan jutsunya sendiri. Sedikit tertawa geli dan mendekati Naruto. Mengikis jaraknya dengan lamban.

Pasang-pasang mata jelas tak diam begitu saja. Bergantian mengganti postur berdirinya. Menanti apa yang bakal terjadi. Namun tidak beberapa orang.

'Naruto-kun...'

'Nee-chan…'

'Naruto…'

Salah satu dan mungkin satu-satunya menggeram berat mengucapkan nama Yuri. Itu jelas Haru. Tak lagi melipat tangannya di dada. Malah hampir terlihat kapan saja melompat turun ke arena. Bukan… Dia tidak mencemaskan Yuri yang bakal berbuat apa kepada Naruto. Justru ia khawatir akan apa yang Yuri dapat jika sampai benar-benar melakukan itu. Dia tahu betul sifat kekasihnya tersebut. Tak bakal berhenti sampai benar-benar tidak bisa berdiri lagi. Dan hanya dirinya yang mampu menghentikannya. Merupakan alasan kenapa Hokage tidak ada niat memisahkan mereka berdua dalam setiap tugas.

Dan alasan utama…

Mata Haru menatap intens posisi Naruto yang terdiam kaku. 'Justru si Zero itu yang bakal menjadi petaka.' Beton tempat Haru perpijak sudah hampir retak. Terlalu lama menahan chakra di kakinya.

Namun tidak ada yang menyadari chakra Haru yang sedang meluap-luap. Teralalu sibuk memakukan pandangannya masing-masing ke bawah arena. Saat Yuri sudah berjarak satu meter dengan Naruto. Kedua tangan perempuan itu terangkat pelan. Hendak melakukan sesuatu.

Dan beton di bawah kaki Haru sudah benar-benar bertas dan berderak. Pecahannya melayang rendah sejalan chakra di kakinya. Jika sejenak saja dia menyentakkan tumitnya, pagar balkon-pun sudah pasti terbelah diterjangnya. Hanya untuk menggapai Yuri di sana.

Namun semua terbantahkan saat justru Yuri menepukkan kedua tangannya di bahu Naruto. Berjongkok kecil guna agar sampai. "Sadar tidak kau terlalu banyak menarik perhatian, lihat?" Katanya dengan senyum manis.

Naruto mendongak dengan itu. Melihat Yuri yang tersenyum, dan menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan. Bukan terkejut atau apapun, bisa apa memang. Yang jelas cukup beruntung dia sudah kembali sadar. Namun tubuhnya masih kaku, dan tangannya juga masih bergetar. Butuh cukup waktu sampai sanggup mengendalikan semua. "Apa yang kulakukan," guamnya mengusap kepala. "Jika Senpai tidak cukup cekatan dan reflek yang bagus, apa yang…"

"Yah, aku hebat bukan?" Tanggapan yang tak disangka dari Yuri. "Tapi sudah jelas pemenangnya siapa."

Naruto menggeleng pelan. "Tidak, jika pertarungannya dilanjutkan baru akan jelas." Cukup tahu kondisinya yang kacau. Dan jangan lupakan chakranya yang sudah terkuras. Siapa yang akan menang memang sudah jelas.

"Justru di situ kekalahanku." Yuri perlahan membantu rekannya itu berdiri. Selang sebentar dan mengangkat satu tangannya kepada pengawas. Bilang bahwa dia 'menyerah'. Membuat setiap orang bingung terkejut. Padahal sudah menanti pertarungan mereka selanjutnya. "Aku kira, kapan lagi bisa bertarung denganmu? Kau yang bahkan tak pernah mau melawan temanmu, terlebih wanita. Membuatku egois memanfaatkan kesempatan ini. Tanpa memikirkan perbedaan kekuatan dan persepsi kita. Namun aku cukup senang berhasil menyeretmu sejauh itu, bocah."

Naruto mendengus saja mendengar pernyataan kemenangannya oleh Hayate selaku pengawas. Dan tidak menyangkal ucapan Yuri barusan. Dia berdiri di tengah wajah-wajah orang yang berbagai macam ekspresi. Namun dia cukup memperhatikan beberapa saja. Dan balas senyum penuh terima kasih kepada mereka. "Senang akhirnya tahu posisiku, Yuri-senpai."

"Maaf saja, tapi di atas ada yang sedang siap-siap mengomeliku sepertinya."

"Tidak bisa membantu yah…" Gumam Naruto tulus. Mencari-cari kata apa yang pantasnya bisa di ucapkan. Namun tak menemukan apapun. Benar-benar wanita cerdas. Dia ingat percakapan mereka sewaktu awal pertarungan tadi. Tentang penawaran seniornya itu. Pertarungan seimbang, dia tersenyum. Yuri benar-benar perhitungan perihal itu. Dia tahu apa yang sebenarnya akan Naruto lakukan. Dan benar-benar sudah menyeret sekaligus menghentikan dirinya.

Yuri sepenuhnya dengan tepat menebak, bahwa Naruto akan diam-diam menggunakan sharingan kepadanya. Karena dia tahu, anak itu mana mungkin bisa melukainya. Jadi men-genjutsu-nya adalah pilihan yang sempurna. Untunglah berhasil beragumentasi dengan baik.

"Bagaimana mungkin seperti itu? Menurutmu, Minato?"

"Bagaimana mengatakannya,"Hokage ke-empat tersebut membiarkan wibawanya luntur sejenak. Merenungkan segala sesuatu yang mungkin, yang saat ini berhubungan dengan pertanyaan Sandaime. Tanpa perlu ditanyakan dia pribadi sedang mengusut persoalan tersebut. "Dia memang bukan orang yang terbuka. Namun Naruto bukan orang yang suka menyembunyikan sesuatu juga. Dia punya banyak sekali kelemahan." Tuturnya tenang. Mencoba menatap anbu itu dalam berbagai sudut pandang. "Dan ini paling fatal."

Hiruzen meniup asap rokoknya. Matanya tak lepas dari Naruto. Lanskap yang anehnya selalu ia lihat dalam hidupnya. 'Kenapa shinobi selalu terlihat seperti itu.'

"Naruto itu pandai sekali mengendalikan emosinya. Seperti mempunyai hak penuh terhadap itu. Nyaris tak bisa di percaya ada manusia sepertinya." Minato angkat suara kembali. Alisnya tertarik ke dalam. "Namun entah kenapa setiap bertarung dia hampir kehilangan seluruh emosinya sendiri. Dia bahkan tak sadar hampir membunuh Yuri tadi."

"Kehilangan? Bukan menghilangkan?"

"Benar… Dia kehilangan, hampir." Jika bukan begitu Minato mungkin tak akan melihat istrinya bernafas sampai saat ini. Mengigat hari-harinya tersebut dihabiskan berada di samping Zero. "Kelemahan yang fatal baginya. Mungkin, memang hanya satu orang yang cukup mengerti sifat bertarung Naruto. Dan sanggup bertahan berhadapan dengannya. Orang yang membangun karakteristik tersebut."

"Senseinya… Shisui,"

"Siapa lagi."

Haru tersenyum masam di tempatnya. Dia telah meragukan kekasihnya itu. Padahal dia sendiri yang kukuh mempercayainya, saat Yuri sempat bimbang dengan pilihannya tersebut. Haru beranjak lebih dulu dari semua orang. Tak mau menimbulkan kecurigaan dengan apa yang sudah ia perbuat terhadap lantai. Berjalan menuruni tangga dan melangkahi sampai sisi pintu. Menoleh sebentar memanggil Yuri. Menunggu sampai datang setelah berpamitan kepada Naruto. Melambaikan tangan dari tempatnya kepada si Zero tersebut. Mungkin bakal jadi pertemuan terakhir mereka. Karena ia yakin tak akan ada lagi tugas yang membuat ketiganya bersama. Walau berharap sebaliknya.

"Sudah puas?"

Yuri hanya tertawa hangat dengan cibiran sang pemuda. "Hampir." Dia mengambil langkah di sisi Haru. Dan mulai berjalan menjauhi tempatnya.

Haru mendengus dewasa. Tahu apa yang sebenarnya Yuri lakukan. " Jika ingin lawan aku saja sudah cukup. Tidak perlu berbuat sejauh itu hanya karena Naruto mirip dengannya."

"Kau tahu lebih dari siapapun bahwa aku merindukannya."

"Untuk itu aku di sini."

Yuri tersenyum aneh. Namun tak tersembunyi kesedihannya. "Kau cemburu atau khawatir, Ha-kun?"

Haru melirik tajam mendengar itu. "Tidak keduanya. Aku marah."

Mendengarnya Yuri tertawa. Sempat menoleh melihat Naruto dari kejauhan. Dan mengait lengan lelakinya sembari menyadarkan kepala. "Gomen-gomen. Kau tentu melihat bagaimana kegelapan yang sedang menanti Naruto saat ini. Menurutmu adil atau tidak jika dia mendapatkan itu."

Tidak sampai bersuara Haru harus menjawabnya. Cukup membatin saja bahwa hal itu memang benar. Jika berpikir dunia semulia itu, sampai harus mengerti dengan kebaikan seseorang, maka itu naif. Namun semua berjalan dengan sebab akibat. Dan itulah keadilan. Dia sendiri, Yuri sendiri, dan setiap orang sedang berada di dunia yang seperti itu.

Haru memelankan langkah melihat Yuri yang mencoba tertidur di bahunya. Keduanya berpapasan dengan seorang anak yang dipenuhi aura tidak mengenakkan. Anak berambut merah dari Suna. Entah dari mana. Berjalan dengan dinginnya seolah tak ada apapun di sekitarnya. Lebih tepat di sekitar kehidupannya. Sampai memasuki arena.

Semua peserta yang lolos babak penyisihian, atau tepatnya yang menang, kini dikumpulkan di depan podium. Selainnya yang tak berkepentingan diperbolehkan meninggalkan ruangan. Namun beberapa tidak. Lebih memilih menunggu timnya bersama.

"Nee-chan..."

"Oh, Naruko," Naruto menoleh mendapati perempuan pirang yang tengah mendekat. Bersyukur ada yang berbicara kepadanya. Tidak ingin ambil resiko bakal melamun lagi.

Naruko berlalu saja mendekati sosok yang ia anggap saudara tersebut. Sedikit senang di wajahnya. "Kau tak apa?"

Tersenyum hangat Naruto membalas. Tidak lupa memandang Kushina di sudut balkon yang bersama Sandaime. Mengedip maaf dari matanya, bilang bahawa dia baik-baik saja. "Hebat sekali kau mengalahkan Kiba." Katanya renyah kepada Naruko.

"Siapa yang memang sedang kau ajak bicara, Nee-chan?" Naruko jelas kepalang bangga mendengarnya. Sekejap saja wajahnya berbinar. Banyak hal lain jika ditafsir lebih dalam. Namun ganti merengut saat Naruto justru mendorong dahinya. Benar-benar tak seperti yang diharapkan. Atau lebih justru memang itu yang dia ingin.

Di tengah perdebatan mereka yang tak banyak arti. Naruko tidak ada tanda ingin mengalah, terus saja menggerutu. Tidak membuat Naruto berhenti mengerjainya. Namun dia sedikit berjengit merasakan aura tak asing dari pintu arena. Perlahan, dengan pelan dan tak ada yang menyadari, Naruto menekan chakranya. Menyamarkan dibalik alam. Namun tak benar-benar sampai menghilangkan keberadaannya.

Seruan pengawas ujian yang menyatakan babak penyisihan telah usai menertibkan para peserta. Berbaris lurus di hadapan Yondaime yang selanjutnya berceramah. Menjelaskan ini itu yang sekiranya memang belum dipahami oleh para genin. Termasuk Sasuke, terhitung sembilan anak yang berhasil lolos sampai babak final.

.


Dalam tempat luas dan berlangit-langit tinggi. Dinding beton melingkar dengan banyak ruang. Dan juga jembatan yang membujur dalam empat arah berada di tengah-tengah. Menyusur dalam salah satu lorong berpintu. Di ruang gelap yang hanya berterangkan lampu kuning kecil. Gradiasi kuno yang seadanya.

Terlihat satu sosok pria tua. Memakai jubah gelap dan membawa tongkat. Bermata tajam dan cerdas. Namun hanya satu, selainnya tertutup perban yang membalut sebelah wajahnya. "Berani sekali kau kemari" Katanya pelan dan berat. Menunjukkan bekas luka menyilang di dagunya. Tak tahu kepada siapa. Dan tidak menghadap siap-siapa.

"Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali aku ke sini." Terdengar sahutan dari kegelapan. Suara serak yang sarat akan kebiasaan membunuh. "Tidak banyak yang berubah sepertinya. Atau tepatnya memang tidak ada." Ujarnya dan terlihat garis ungu meliuk di antara matanya yang seperti ular.

"Aku turut prihatin dengan timmu." Pria tua tersebut terdengar tak ingin berbasa-basi.

Menaggapi dengan tawa serak dan seramnya. "Menarik sekali orang yang membunuh mereka. Menurutmu siapa?"

Datar dan tidak perduli."Yang jelas bukan aku."

Sekali lagi tertawa rendah. "Sepertinya dia lemah dengan wanita. Kedua laki-laki dalam timku nyaris tak berbentuk."

"Siapapun orangnya, mereka sepertinya sudah mengetahui rencanamu. Jangan dianggap remeh." Terlihat sangat serius. Pria baya tersebut memutar tubuhnya dan terdengar suara tongkat kayunya yang berketuk. "Kau hanya perlu menyingkirkan Yondaime."

"Yang akan kulakukan hanya menghancurkan Konoha." Seperti menentang namun tidak.

"Tidak mungkin kau bisa." Pria tua itu melangkah dan berlalu menuju pintu. "Dari dalam biar aku yang mengurus. Akatsuki tampaknya sudah mengambil peran dalam menyebarkan identitas tersebut."

.

.

.

.

TBC


Jika alurnya terkesan terlalu cepat, harap dimaklumi. Dan mungkin chap ini tidak begitu banyak isi. Terutama maaf jika up-nya cukup lama. Silahkan kritik dan mohon bantuannya Minna-san… :-D

Reply Some Reviews

th0822626 & nero arashiage : Saya banyak minta maaf jika up-nya lama. Terima kasih sudah membaca.

saputraluc000 : Saya akan pertimbangkan sarannya.

ksatriabima38 : Terima kasih sudah membaca :-D.

na kun : Saya akan usahakan. Sepertinya memang kehilangan unsur family-nya.

Fahzi Luchifer : Benar, chakra Naruto memang segitu. Tapi bukan berarti tidak bertambah kuat. Bisa saja dia mendapat patner atau kuchiyose nantinya. Atau juga mendapatkan kedua mata Shisui.

Kang Delis : Terima kasih sudah kembali :-D.

Fauzimaqi : Naruto tidak akan bisa Sannin Mode.


Terima kasih sudah membaca dan menyempatkan Review. Dan juga yang Favs & Follows fanfic saya … Sekali lagi terima kasih.

Maaf atas segala kekurangan.

Jadi selebihnya mohon bimbingannya.

Sampai jumpa di chap berikutnya …