Disclaimer: Rasengan milik Minato, Oiroke no Jutsu milik Naruto, dan Naruto milik Masashi Kishimoto.


The Other Self

Chapter 14

Shikamaru dan Sasuke masih berkutat dengan mekanisme pintu gua itu. Untuk pertama kalinya, Ino terlihat serius saat berada di dekat Sasuke. Ia tidak berusaha menempel ataupun melakukan hal-hal yang biasanya ia lakukan bersama Sakura. Ia hanya mengamati Shikamaru dan Sasuke bekerja sambil sesekali mengemukakan pendapatnya.

Yamanaka Inoichi adalah ayah dari Yamanaka Ino, dan ia adalah salah seorang ahli mekanis terbaik yang mereka kenal. Ia adalah penemu dari RoboReins, alat kecil yang jika ditanamkan pada seseorang akan bisa membuat orang yang menanamkannya mengendalikan orang tersebut. Menurut Ino, alat itu cukup efektif (yang lain yakin Ino sudah pernah melihat ayahnya melakukan uji coba alat tersebut) dan saat ini ia sedang berusaha mendapatkan izin dari ayahnya agar ia bisa menggunakan alat tersebut. Tak perlu seorang jenius untuk menebak kepada siapa alat itu akan digunakan oleh Ino nantinya.

"Sistemnya cukup simpel, jika melihat dari susunan kabelnya." Komentar Ino. "Ruang kerja tou-san memiliki pengamanan yang lebih baik dari ini."

"Jadi, apa kau bisa membukanya?" Shikamaru berkata sambil memainkan pisau lipat kecil ditangannya.

"Tidak." Ino menjawab tegas.

"Kenapa tidak? Bukankah kau berkata sistemnya cukup simpel?" Sasuke berkata dengan tak sabar.

"Sistemnya cukup simpel disini." Ino menunjuk bagian dinding yang berhasil mereka congkel dan menampakkan kabel-kabel berseliweran. "Tapi aku tidak yakin bagaimana cara mereka mengendalikannya, karena siapa tahu saja mereka menyiapkan system alarm untuk berjaga-jaga jika ada yang berusaha merusak pintu ini. Jangan lupa kalau penculik-penculik itu berkata kalau mereka menemukan tempat ini, yang berarti mereka bukanlah yang membuat tempat ini. Aku sudah cukup banyak mendengar cerita dari tou-san tentang orang-orang yang terlalu percaya diri melakukan hal-hal seperti ini karena mereka meremehkan system yang mereka anggap terlalu mudah. Dan biasanya orang-orang tersebut berakhir dengan tragis."

"Ino benar. Kita tak bisa mengambil resiko." Shikamaru mengantongi pisaunya. "Sebaiknya untuk sekarang kita kembali ketempat yang lain dan berembuk. Siapa tahu mereka punya ide dan Shino sudah menemukan sesuatu."

OoO

Saat mereka kembali, mereka mendapati teman-teman mereka bergerombol di sekitar sesuatu.

Atau lebih tepatnya seseorang.

"Apa yang terjadi?" Shikamaru bertanya pada Hinata yang terlihat khawatir.

"Kyuuna-san terlambat dari waktu lima belas menitnya, dan Sabaku-san pergi mencarinya. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa Kyuuna-san yang kelihatannya mengalami syok parah." Jelas Hinata.

Shikamaru mengangguk dan berterima kasih atas penjelasan Hinata. Ia kemudian memerintahkan agar yang lain kembali duduk. Walaupun bersungut-sungut, para siswa yang lain mematuhi Shikamaru.

Gaara menatap Shikamaru dan memberikan anggukan terima kasih padanya. Shikamaru duduk disamping Gaara dan memejamkan matanya.

"Merepotkan." Gumam Shikamaru. Ia membuka matanya dan melirik kesampingnya. Ia melihat Kyuuna sedang berbaring dan kepalanya berada di pangkuan Gaara yang sedang membelai rambutnya dan membisikkan kata-kata untuk menenangkannya.

"Jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja. Kita akan membawa mereka pulang."

Shikamaru mengangkat alisnya. 'Mereka'? Siapa 'mereka' yang dimaksud disini? Shikamaru yakin kalau Gaara sama sekali tidak membicarakan tentang teman-teman sekelas mereka.

"Sabaku-san?"

"Tidak." Gaara menjawab bahkan sebelum Shikamaru menanyakan pertanyaannya. "Aku tak akan menjelaskan apapun padamu tanpa seizin Kyuuna."

Shikamaru kembali memejamkan matanya dan memutuskan untuk tidur siang sejenak (atau mungkin juga lebih tepat disebut tidur sore). Ia mulai memikirkan banyak hal lagi. Dimulai dari pertengkaran Kyuuna dengan Gaara tadi. Dan jawaban Kyuuna saat beberapa orang bertanya bagaimana ia bisa mengenal Gaara.

'Apa sebenarnya hubungan mereka?'

OoO

Gaara menghela napas. Ia bisa merasakan Shikamaru yang masih penasaran duduk di sampingnya. Naruto sudah pernah menceritakan tentang Shikamaru sebelumnya padanya.

"Jangan tertipu dengan penampilannya. Walaupun ia terlihat pemalas dan sering mendapatkan detensi, dia sangat pintar. IQ nya saja mencapai 200, dan tak ada yang bisa mengalahkannya dalam shogi."

Ia harus berhati-hati dengan Shikamaru ini, terlebih setelah pertengkarannya dengan Naruto tadi dan keadaan Naruto sekarang. Gaara terus membelai rambut Naruto pelan, berharap itu akan membuatnya lebih tenang. Ketika ia merasakan kepala Naruto semakin berat di pangkuannya dan desahan napasnya yang mulai teratur, Gaara tahu Naruto telah tertidur.

"Baiklah, kurasa kau bisa tahu tentang kisahku." Gaara berkata pelan. Ia tahu Shikamaru terjaga, walaupun matanya terpejam. Ia juga tahu siswa kelas khusus pertahanan yang lain ikut mendengarkannya.

"Kalian tahu tentang Namikaze Naruto, bukan? Aku tak tahu apa yang sebelumnya diceritakan Kyuuna pada kalian, tapi Naruto adalah sepupu kesayangan Kyuuna." Gaara berhenti sejenak. Mereka, dalam hal ini Naruto, Kurama, dan Gaara sudah merencanakan cerita ini sebelumnya. "Kurasa Kyuuna sudah menceritakan tentang bagaimana Naruto tewas, tapi aku yakin dia belum menceritakan semuanya."

"Kyuuna-san berkata kalau Naruto-kun tewas karena mengejar seorang penculik ke sebuah gedung kosong dan penculik itu meledakkan dirinya dan membawa Naruto-kun tewas bersamanya." Hinata mengingat kembali cerita Kyuuna di hari pertamanya di sekolah.

"Benar. Tapi apa Kyuuna juga sudah menceritakan kalau korban penculikan itu adalah aku?"

Gaara menatap ekspresi kaget disekitarnya. "Kelihatannya dia belum menceritakannya. Berarti Kyuuna juga belum menceritakan kalau Naruto tewas bukan karena ledakan tapi karena melompat dari lantai tiga untuk menyelamatkanku?"

Lagi-lagi Gaara melihat ekspresi kaget disekelilingnya.

"Ah, dia juga belum bilang."

"La-lalu, jika kalian berdua melompat dari lantai tiga bersama-sama, bagaimana bisa kau selamat sementara Naruto. . . . ." Sakura tidak menyelesaikan pertanyaannya.

"Dia melindungiku." Gaara berkata pendek. "Dan aku baru mengetahui keadaan Naruto beberapa hari kemudian karena aku juga harus dirawat. Aku bahkan tidak menghadiri upacara pemakamannya. Aku hanya bisa mengunjungi makamnya." Gaara berkata dengan sedih.

"Bagaimana kau bisa mengenal Uzumaki Kyuuna kalau begitu?"

"Aku bertemu dengannya disebuah rumah sakit milik kenalanku. Aku menjalani terapi karena luka-lukaku disana, dan ia juga menjalani terapi di rumah sakit yang sama."

"Terapi apa?" Kiba kali ini juga ikut mengajukan pertanyaan.

"Terapi psikologis. Setelah kematian Naruto, Kyuuna berhenti berbicara. Ia juga sulit makan dan hampir setiap hari hanya melamun saja. Kakak sepupunya mengirimnya untuk menjalani terapi, dan begitulah kami bisa bertemu."

"Ooh..."

Gaara ingin menghela napas lega, tapi ia tak bisa melakukannya. Tidak dihadapan teman-teman sekelasnya. Lagipula ia masih belum yakin kalau Shikamaru percaya pada ceritanya. Yah, paling tidak untuk saat ini mereka selamat.

OoO

Shikamaru tidak mengatakan kalau ia tidak percaya sama sekali dengan cerita Gaara. Tapi sebagai seorang calon agen, ia selalu dilatih untuk tidak mudah percaya. Shikamaru selalu menaati peraturan itu, karena ia tahu seorang agen yang terlalu mudah percaya akan memiliki persentase kematian lebih besar dibandingkan daripada seorang agen yang waspada. Bukan berarti terlalu curiga adalah hal yang bagus, karena terlalu curiga juga akan membuat seorang agen menjadi paranoid.

Shikamaru memperhatikan teman-temannya yang lain. Kelihatannya mereka percaya pada cerita Gaara. Hal itu dibuktikan dengan ekpresi mereka yang sudah berubah mkenjadi simpati pada Kyuuna. Yah, Shikamaru tahu kalau simpati adalah cara yang paling mudah untuk mendapatkan dukungan. Entah cerita yang baru saja didengarnya hanyalah salah satu taktik untuk mendapatkan simpati atau memang kejadian yang sebenarnya, Shikamaru belum tahu. Untuk saat ini, Shikamaru akan fokus untuk mencari cara keluar dari tempat ini.

"Shino, apa kau mendapatkan sesuatu?"

Shino hanya menggeleng. Shikamaru memejamkan matanya kembali. Ia harus berpikir. Ia harus menjaga agar siswa kelas khusus lainnya tetap aman. Sudah rahasia umum bahwa siswa kelas pertahanan ditempatkan bersama siswa kelas khusus lainnya untuk menjaga agar mereka tetap aman jika sesuatu seperti ini terjadi. Dilihat dari kurikulum dan pelajarannya, siswa kelas pertahanan sangat berbeda dari siswa kelas khusus lainnya. Mereka dilatih untuk menjadi seorang agen, petarung, dan mungkin juga assassin, bukan hanya sekedar dokter atau politisi.

"Merepotkan."

OoO

Naruto mengejapkan matanya. Ia melirik jam tangannya.

"Pukul sebelas? Berarti kami sudah terperangkap di tempat ini selama tujuh jam." Batin Naruto. Ia menatap sekelilingnya dan melihat teman-teman sekelasnya yang tertidur dengan berbagai posisi. Satu hal yang pasti, seluruh siswa kelas pertahanan (kecuali dirinya), tertidur di dekat pintu gua. Naruto bangun dari posisinya dan mendapati Gaara sudah memberikan jaketnya padanya. Gaara sendiri sudah tertidur bersandar pada dinding gua.

Naruto menyelimuti Gaara dengan jaketnya. Ia kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu gua. Naruto berusaha mendengarkan suara dari balik pintu gua, tapi seperti yang sudah diduganya, ia tak bisa mendengar apa-apa. Naruto menggunakan cahaya dari ponselnya untuk melihat permukaan dinding di sekitar pintu gua.

"Kau sedang mencari apa?"

Naruto butuh semua usaha yang dimilikinya untuk tidak menjerit. Bagaimana tidak, tanpa ia ketahui, Shikamaru sudah berdiri dibelakanganya, mengamatinya dengan ekspresi bosannya.

"Shi- Nara-san?"

"Apa yang sedang kau cari?" Shikamaru mengulangi pertanyaannya.

Naruto berusaha mengendalikan detak jantung (dan juga ekspresinya) sebelum menjawab, "Aku tidak mencari apa-apa."

Shikamaru menatapnya dengan tak percaya.

"Sungguh?"

Oh, baiklah, dia tak bisa berbohong kecuali jika dia sudah melatih kebohongannya sebelumnya. Improvisasi dalam hal kebohongan bukanlah keahliannya. Naruto bisa melihat Shikamaru tak percaya pada jawabannya.

"Bagaimana aku bisa yakin dengan jawabanmu saat kau bahkan tidak yakin dengan jawabanmu sendiri?"

Naruto mengalihkan tatapannya dari Shikamaru dan kembali mengamati dinding disekitar pintu gua sambil sesekali mengetuk bagian-bagian tertentu. "Menurutmu, aku mencari apa?"

Shikamaru hanya mengangkat bahunya. "Aku tak tahu. Mungkin jalan keluar?"

Naruto memilih untuk tidak menjawab. Ia tidak percaya dengan mulutnya, karena ia tahu, Shikamaru akan bisa memancingnya untuk memberinya jawaban yang ia inginkan.

"Apa yang sebenarnya kau temukan didalam sana?"

Naruto menghela napas. Ia tak akan bisa menghindar ataupun diam. Shikamaru tak akan membiarkannya. Karena ia tak bisa berbohong, Naruto akan memilih cara yang menurutnya paling aman. Memberikan jawaban yang separo benar.

"Mayat." Naruto berbalik dan menatap lurus pada Shikamaru. "Apa kau puas sekarang?"

"Mayat?" ulang Shikamaru. Kali ini Naruto bisa mendengar sedikit kecemasan dari suaranya.

"Yep. Tapi jangan khawatir. Kelihatannya mayat itu sudah berada disana dalam waktu yang lama."

Shikamaru memijit kepalanya. "Sekarang situasi bertambah rumit."

Untuk pertama kalinya dalam hari itu, Naruto tersenyum. "Kurasa itu tidak benar. Aku yakin, sebentar lagi kita akan pulang."

"Pulang pada pencipta kita?"

Naruto tertawa kecil. "Ayolah, jangan sinis seperti itu. Kau pikir, pihak sekolah tidak akan mencari kita? Bahkan jika bus kita terlambat lima menit dari jadwal yang seharusnya, pihak sekolah akan kalang kabut mencari kita, apa lagi jika kita terlambat berjam-jam dari jadwal kita."

"Aku tahu, tapi pertanyaannya, apakah mungkin mereka akan menemukan kita disini? Dari luar mungkin saja goa ini terlihat seperti tebing batu biasa."

"Tetap berpikir positif." Naruto duduk dan membuka aplikasi permainan pada ponselnya. "Aku akan menggantikanmu berjaga, Nara-san. Kau bisa tidur."

Naruto bisa melihat Shikamaru akan mendebatnya, tapi rasa lelah tampaknya menang. Shikamaru duduk tak jauh darinya, dan beberapa saat kemudian, bahunya sudah terkulai, menandakan ia sudah tertidur.

"Merepotkan." Gumam Naruto sambil tersenyum.

OoO

Dua jam sebelumnya.

"Bagaimana Kakashi? Apa kau sudah menemukan posisi mereka?"

Hatake Kakashi mengetik sesuatu dan menunggu hasilnya muncul di monitor komputernya. "Menurut perkiraanku, mereka mungkin berada di sekitar tempat ini, Sarutobi-sama."

Sarutobi menatap daerah yang dilingkari dengan tanda merah pada monitor. "Ini terlalu luas, Kakashi. Apa kau tidak bisa mempersempit daerahnya? Kita harus segera menemukan anak-anak itu. Perdana menteri sudah berkali-kali menghubungiku dan aku sangat cemas dengan keadaan anak-anak. Kelas pertahanan mungkin hanya akan menganggap itu sebagai latihan, tapi aku tak yakin bagaimana siswa yang lainnya akan menanggapinya."

'Kelas pertahanan atau tidak, aku yakin sensei pasti saat ini sedang panik.' Batin Kakashi sambil terus mengetik. Disekelilingnya, para koleganya, ditambah dengan polisi dan beberapa agen sibuk melakukan hal yang sama.

"Para penculik itu memberi kita waktu sampai tengah malam. Jika permintaan mereka tidak dipenuhi sampai saat itu, mereka akan mulai menembaki para sandera." Sarutobi berkata dengan lelah. "Sabaku Temari sudah menghubungiku dan berkata mereka bersedia membayar tebusan yang diminta penculik itu, tapi aku masih belum mendapatkan kepastian dari keluarga siswa yang lainnya."

'Tipikal.' Pikir Kakashi. 'Mereka dengan mudah membuang-buang uang untuk kampanye, membeli yacht baru, atau membangun resort, tapi berpikir panjang untuk menyelamatkan anak mereka.'

Bzzt..bzzt..

Kakashi mengambil ponselnya yang bergetar dari sakunya. Ia menghela napas saat melihat id panggilannya.

"Ya, sensei? Kami belum menemukan mereka, aku akan segera mengabarimu jika aku sudah menemukan mereka."

"Apa kau sudah menyisir area itu?"

"Beberapa tim sudah dikirim, Minato-sensei. Kau tidak perlu khawatir."

"Tidak perlu khawatir katamu? Bagaimana aku tidak akan khawatir, Naruto menghilang disekitar salah satu lab Orochimaru! Dia bisa saja tertangkap oleh Orochimaru!"

Kakashi memutar bola matanya. Ia tahu sensei khawatir, tapi ini bukan saatnya untuk ini. Orochimaru tidak berada di Jepang. Jiraiya-sama sudah memastikannya.

Tunggu.

"Sensei, apa tadi kau bilang sesuatu tentang lab Orochimaru?"

"Ya. Memangnya kenapa?"

"Apa kau ingat dimana posisi lab itu, sensei?"

"Tentu." Kakashi bisa mendengar senseinya berteriak meminta Kurama untuk mengambilkan laptopnya. "Aku akan mengirim koordinatnya padamu. Tapi aku peringatkan, tempat itu cukup sulit dicari jika kau tidak tahu dimana mencarinya."

"Hah?"

Kakashi menatap monitornya dan melihat email yang baru saja dikirim senseinya.

"Kakashi?"

"Ya, sensei?"

"Temukan Kyuuna secepatnya. Jika Kyuuna memang berada disana, aku ingin ia segera keluar dari tempat itu."

"Tentu, sensei."

OoO

"Oi Tenzo, apa kau sudah menerima koordinat lokasi yang baru kukirim?"

"Senpai, sudah kubilang namaku Yamato. Dan ya, kami sudah menerima koordinatnya. Saat ini kami berada sekitar setengah jam perjalanan dari tempat itu, dan kami satu-satunya tim yang berada paling dekat dengan lokasi. Apa kami harus menunggu tim lainnya atau segera menuju tempat itu?"

"Segera kesana. " Terdengar suara lain menjawab.

"Siap, Sarutobi-sama!" Tenzo (atau menurut pengakuannya bernama Yamato) memberi isyarat pada timnya.

"Berhati-hatilah. Mereka bersenjata." Kakashi-senpai memberikan pesan terakhir sebelum Tenzo bergerak.

OoO

Kakashi tersenyum puas.

"Bagaimana kau bisa yakin tim itu akan menyelamatkan sandera? Mereka hanya berlima!" Disekelilingnya terlihat wajah-wajah tak puas. "Mereka harusnya menunggu tim lainnya sebelum bergerak."

"Hei..hei.. Jangan remehkan Tenzo. Aku akan mempercayakan nyawaku padanya dengan senang hati. Dia adalah salah satu yang terbaik di bidangnya." Kakashi menggosok tangannya sambil menyeringai dibalik topengnya. "Sekarang, waktunya untuk berburu tikus."

"Tikus?" salah seorang agen bertanya tak percaya. "Menurutmu ada mata-mata di akademi?"

Kakashi tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya menampakkan matanya yang tersenyum. Dan bagi orang-orang yang mengenalnya, mereka tahu itu waktunya untuk mengucapkan dukacita pada siapapun lawan Kakashi.

OoO