Halooo!
Author update nih! Akhirnya chapter 14 keluar!
Btw, Happy New Year!
Pertama, kuucapkan terima kasih pada followers, favers and reviewers! Untuk Ai no est, aku akan berjuang! Natsu Yuuki, Zara Zahra, Miyaka Himizuka, Angelic yet Demonic, dannnn Hikage Natsu!
Aku harap kalian menyukai chapter ini!
Selamat membaca
Pernyataan : Author tak memiliki KHR!
Perhatian : OOC, typos, slow update, beberapa kesalah kecil jadi mohon dimaafkan, etc.
"Italia."
"Jepang."
'Thought.'
'Berbisik.'
Tsuna tak begitu yakin dengan apa yang terjadi. Ia sedang menguping pembicaraan kakaknya ketika detik selanjutnya ia mendengar suara asing di telinganya berbicara dalam Bahasa Italia. Lalu, ia menyadari bahwa ia sudah terangkat dari tanah, dan sekarang berada di pundak seseorang.
"TSUNA!" Hayato berteriak di belakangnya.
"Tsuna-nii!" Lambo pun ikut berteriak.
Tsuna mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menyadari situasinya.
"E-eto, aku baik-baik saja, Hayato, Lambo." Tsuna berkata seraya berusaha mencuri pandang situasi di belakangnya.
"Khu khu khu, kulihat bahwa kau sangat ringan Sawada Tsunayoshi-kun." suara itu kembali berkata. Tsuna dengan susah payah berusaha melihat siapa yang menggendongnya itu, tetapi hanya menemukan fedora, serta rambut yang menyembul dari baliknya.
"Sialan! Siapa kau!?" Hayato berteriak dengan penuh amarah. Tsuna bisa merasakan orang yang menggendongnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau seharusnya tak begitu kasar pada seseorang, Gokudera Hayato-kun." orang itu berkata dengan nada kecewa yang dibuat-buat. Tsuna dengan cepatberusaha untuk melepaskan dirinya dari genggaman orang itu.
"Lepaskan aku!" Aku berteriak. Sosok itu terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menggeleng.
"Tak bisa, aku sudah janji pada Checkerface-sama untuk melaksanakan tugasku." Sosok itu berkata, kali ini dalam Bahasa Jepang. Di depan sosok itu, Hayato dan Lambo sudah bersiap menyerangnya. Dinamit dan bom sudah siap di tangan mereka. "Ah, tapi kau mengenalnya sebagai Kawahira-san, kan?"
Tsuna langsung menghentikan gerakan berontaknya.
"Tunggu! Hayato! Lambo! Jangan menyerangnya!" Tsuna berteriak. Hayato dan Lambo secara spontan menghentikan gerakan mereka. Tsuna yang bisa merasakan gerakan Hayato dan Lambo yang terhenti segera menoleh menghadap sosok itu.
"Kau mengenal Kawahira-san?" Tsuna bertanya. Sosok itu terkekeh.
"Tentu saja! Kawahira-san, atau Checkerface-sama adalah bosku. Ia memintaku untuk mengantarkan mu ke Arcobaleno yang akan melatihmu, Sawada Tsunayoshi-kun. Sementara Byakuran Gesso akan membuat rencana pertahanan dengan Giotto di Vongola dan Yuni Giglio Nero." Sosok itu berkata panjang lebar.
"Kalau kau bukan musuh, turunkan Tsuna! Kau bisa berbicara dengannya secara normal kan!?" Hayato menggerutu, setengah berteriak. Di sampingnya Lambo mengangguk-angguk dengan setuju.
"Maa, tentu saja." Sosok itu berkata. Ia segera menurunkan Tsuna dari gendongannya.
Segera setelah kaki Tsuna menyentuh tanah, Hayato dan Lambo bergegas menghampirinya. Setelah mengecek bahwa tak ada yang terluka, Hayato bergerak dan berdiri di depan Tsuna, menghalangi sosok asing itu untuk mendekati Tsuna tanpa melewati Hayato, sementara Lambo berdiri di samping Tsuna dengan menggenggam lengan baju Tsuna erat-erat.
Tsuna tersenyum atas apa yang dilakukan kedua guardiannya itu. Ia kembali memfokuskan pandangannya pada sosok di depannya. Sosok di depannya adalah seorang pemuda. Ia memiliki fedora dengan motif kotak-kotak hitam putih yang tergambar pada bagian atasnya saja sedangkan bagian lainnya bewarna hitam. Ia juga memakai sebuah setelan dengan dasi yang juga bermotif kotak-kotak hitam putih. Rambutnya bewarna hitam pekat. Kulitnya bewarna putih pucat dan ia memiliki mata yang aneh tanpa iris mata.
"Bisakah kau memperkenalkan dirimu?" Tsuna akhirnya berkata.
"Opsie, sepertinya aku lupa! Perkenalkan, namaku Wonomichi! Aku adalah pelayan Checkerface-sama!" sosok yang menyebut dirinya Wonomichi tersenyum dengan main-main.
"Kau bilang kau ingin membawaku ke arcobaleno yang akan mengajariku?" Tsuna bertanya. Wonomichi mengangguk.
"Righty-rooty-right!"
"Bukankah arcobaleno itu Reborn?" Tsuna berkata dengan bingung. Wonomichi terkekeh.
"Kau pikir Reborn akan mendengarkan apa yang Checkerface-sama ucapkan? Ia tak akan mendengarkan Checkerface-sama karena kau tahu, semua arcobaleno masa ini memiliki dendam tersembunyi dengan Checkerface-sama karena Checkerface-sama-lah yang merubah mereka menjadi bayi. Selain itu, Arcobaleno pada masa ini juga tak begitu mengetahui kekuatan Cloak-man yang sebenarnya. Mereka tidaklah hadir 400 tahun yang lalu ketika Cloak-man menyerang." Wonimichi menjelaskan panjang lebar. Tsuna menatap Wonomichi dengan serius. Ketika HI-nya tak mengatakan apapun, Tsuna menghela nafas panjang.
"Baiklah, aku mengerti, kau tak berbohong. Lalu, siapa arcobaleno itu?" Tsuna bertanya. Wonomichi menggelengkan kepalanya.
"Kau akan tahu sendiri. Ia yang akan menjemputmu!" Wonomichi tersenyum main-main. Tsuna menghela nafas panjang. Percakapan ini benar-benar melelahkan. Ia bisa merasakan tatapan mata Hayato dan Lambo yang memperhatikan percakapan mereka sendari tadi.
Tsuna lalu memandang sekelilingnya karena menyadari ada sesuatu yang aneh.
"Lalu di mana aku?" Tsuan bertanya dengan tak yakin. Wonomichi kembali terkekeh.
"Kau ada dalam ilusiku, Tsunayoshi-kun. Teriakan dari Gokudera Hayato-kun tadi telah menarik perhatian orang-orang yang ada di dalam kamar, a.k.a Giotto, G, Reborn dan Byakuran Gesso. Agar tak terjadi masalah dan karena sepertinya kau belum memberitahu mereka mengenai masalah ini, akan lebih cepat jika aku memasang dinding pelindung." Wonomichi menjelaskan. Ia lalu menjentikkan jarinya.
Hayato segera memegangi Tsuna ketika dunia di sekelilingnya mulai bergerak-gerak. Lambo masih saja bergelantungan di lengan baju Tsuna. Tsuna dilain tempat segera memegang kedua guardiannya seraya menyipitkan matanya.
"Kalian akan terbangun dengan segera. Sampai jumpa lagi, Sawada Tsunayoshi, Gokudera Hayato, dan Lambo Bovino, begitu pula dengan guardianmu yang lainnya." Wonomichi berkata. Ia membungkuk lalu meneggakkan dirinya. Seraya mengangkat topinya sebagai salam perpisahan.
Lalu semuanya menjadi gelap.
"Jadi, Mukuro-nii. Kita akan pergi kemana?" Chrome akhirnya bertanya. Setelah Mukuro datang ke Namimori untuk menyelamatkan adiknya, dan mengeluarkannya dari rumah sakit. Mereka tak memiliki tempat tinggal. Karenanya, dengan sangat terpaksa, mereka kembali ke rumah lama mereka yang sekarang kosong (ibu mereka memutuskan untuk menikah kembali dan pindah dari rumah itu).
"Kufufu, aku punya firasat, Chrome-ku tersayang." Mukuro berkata dengan tawa khasnya.
"Firasat, Mukuro-nii?" Chrome bertanya dengan penasaran.
"Bahwa Daemon-nii akan segera muncul di depan kita." Mukuro berkata akhirnya, sambil menghela nafas. Wajah Chrome langsung mencerah ketika mendengar kabar yang menurutnya membahagiakan itu.
"Kenapa kau sepertinya tak senang dengan kabar ini, Mukuro-nii?" Chrome bertanya. Mukuro menatap adik semata wayangnya itu sebelum akhirnya tersenyum simpul.
"Kau ingat apa yang kuceritakan padamu tentang apa yang terjadi padaku?" Mukuro bertanya. Chrome mengangguk dengan pelan, merasa bersalah karena mengingatkan kakaknya atas kenangan buruk yang menimpanya.
"Setelah aku berhasil kabur dari Estraneo, aku mulai membenci mafia. Karenanya, ketika Daemon-nii berkata bahwa ia merupakan anggota dari Vongola, salah satu mafia paling besar di Italia, aku tak menyukainya." Mukuro mengambil jeda. "Meskipun Daemon-nii telah berkata bahwa Vongola sebenarnya adalah sebuah group pembela yang lemah."
"Tapi Daemon-nii tetap Daemon-nii, ia tak akan berubah." Chrome berkata. Ia tersenyum dengan manis. Mukuro menatap adiknya itu sebelum akhirnya senyum mengerikan kembali ke wajahnya. Yah, ia memang tak bisa menyangkal perkataan Chrome yang terakhir. Dan ia juga tak berhak membenci Daemon karena sekarang ia telah menjadi guardian seorang Sawada Tsunayoshi yang notabene merupakan saudara kandung dari Vongola Decimo itu sendiri.
"Kufufu, kau benar Chrome."
"Oya, oya, akhirnya aku menemukan kalian." Sebuah suara tiba-tiba muncul. Mukuro dan Chrome seketika menghentikan langkah mereka ketika sekumpulan kabut aneh tiba-tiba muncul di depan mereka. Kabut itu semakan lama semakin membesar sebelum akhirnya perlahan-lahan menghilang. Dari balik kabut itu, sesosok lelaki muda, dengan membawa sabit, berambut dengan model yang seperti nanas serta memakai baju kemiliteran muncul.
"Daemon-nii!" Chrome memekik kegirangan. Senyuman mengerikan Daemon menghalus ketika melihat adiknya. Ia segera menangkap adiknya yang telah berlari untuk memeluknya.
"Aku rindu Daemon-nii." Chrome berkata. Daemon tersenyum.
"Aku juga rindu padamu, Nagi. Maafkan aku karena terlambat datang." Daemon berkata. Ada nada penyesalan dan kekhawatiran serta rasa sayang dalam suaranya. Chrome menggeleng dalam pelukannya.
"Tidak, tak apa-apa, Daemon-nii." Chrome berkata. Mereka berdua akhirnya melepaskan pelukan mereka.
"Kufufu, cepat juga kau menemukan kami, Daemon-nii." Mukuro berkata dengan tawa khasnya.
"Oya, oya, itukah perkataan yang kau ucapkan setelah kau kabur dari Vongola Branch HQ dan pergi ke Jepang sendirian? Tanpa mengatakan apa pun padaku?" Daemon berkata dengan sarkasme. Mukruo menatap kakaknya sebelum akhirnya menunjukkan senyum mengerikannya.
"Oya, maafkan aku kalau begitu." Ia menunduk layaknya pelayan sebelum menegak kembali dan memandang kakaknya dengan sayang.
"Meskipun begitu, senang melihatmu kembali, Daemon-nii. Terima kasih juga karena telah menyelamatkan ku saat itu." Mukuro berkata. Daemon tersenyum lembut pada kedua adik semata wayangnya itu sebelum mengelus kepala mereka. Daemon tak perlu kata-kata untuk mengetahui bahwa Mukuro pun merasa bersalah atas aksinya yang kabur secara tiba-tiba. Karena begitulah mereka.
"Nufufu, tak masalah, akan kulakukan apa pun untuk adikku tersayang."
"Takeshi, mengenai keinginanmu kemarin..." Asari memulai pembicaraanya. Ia dan Takeshi sedang bersantai di kamar Takeshi seraya meminum teh yang telah disiapkan oleha ayah mereka. Takeshi menghentikan kegiatannya seraya menatap kakaknya itu dengan mata serius.
"Aku serius, Asari-nii." Takeshi berkata. Asari menatap adiknya lekat-lekat sebelum akhirnya mengangguk.
"Aku tahu kau serius, tapi apa yang membuatmu ingin mempelajarinya?" Asari bertanya lagi. Takeshi menatap kakaknya sebelum pandangannya teralihkan ke luar jendela. Sebuah senyuman muncul di bibirnya.
"Aku ingin melindungi temanku, Asari-nii." Takeshi akhirnya berkata. Asari tersenyum mendengar perkataan adiknya. Sebuah tawa ringan keluar dari mulutnya.
"Haha, kita tak jauh berbeda, Takeshi!"
"Apa ada yang menganggumu, Kyoya?" Alaude bertanya seraya memperhatikan adiknya yang sudah terengah-engah di ruang latihan mereka.
"Hn, tak ada yang menggangguku." Kyoya berkata. Ia menghapus keringat yang menempel di dahinya dengan cepat sebelum bersiap kembali di posisinya. Ia mengacungkan kedua tonfa di kedua tangannya dan segera berlari untuk menyerang.
Alaude menghindari serangan Kyoya dengan anggun. Ia melemparkan borgol yang ada ditangannya ke tangan Kyoya. Borgol itu terkunci dalam sekali click. Detik selanjutnya, kyoya sudah terduduk di tanah dengan tanagn kanannya dikunci di belakang punggungnya.
"Kau tak seperti biasanya, Kyoya." kata Alaude. Kyoya hanya mendengus.
"Apa yang kau tahu tentang aku yang biasanya?" Kyoya berkata dengan dingin. Ia melirik ke arah kakaknya sebelum menghela nafas.
"Aku harus bertambah kuat." Kyoya berkata akhirnya. Alaude menaikkan alisnya dengan heran. Sangat jarang bagi Kyoya untuk mengatakan apa yang dipikirkannya.
"Karena itu kau ingin aku melatihmu." Alaude akhirnya berkata. Kyoya bisa meraskan pipinya memanas. Ia segera menghentakkan tangan Alaude dan dalam sekejap, ia terlepas dari borgol yang menguncinya. Ia memajukan tonfa miliknya dan bersiap untuk menyerang. Alaude di lain tempat hanya menatap adiknya dengan seringai.
"Baiklah jika itu maumu, tapi bersiaplah, latihanku tak akan pernah semudah yang kau bayangkan."
Giotto dan G langsung berdiri dari posisi duduk mereka ketika teriakan itu terdengar. Mereka berdua segera berlari menuju ke pintu dan membukanya lebar-lebar. Betapa kagetnya mereka ketika mereka menemukan adik mereka, dengan Lambo Bovino tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
"TSUNA!"
"HAYATO!"
Giotto dan G segera menghampiri adik mereka masing-masing.
"WOI! Hayato! Bangunlah!" G berteriak seraya menggoyangkan tubuh adiknya yang bergeming.
"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi di sini!?" Giotto mendesis dengan geram.
"Tenanglah, Dame-Gio. Dame-Tsuna baik-baik saja." Reborn muncul di ambang pintu. Di belakangnya, Byakuran Gesso berdiri seraya menatap situasi yang terjadi di depannya dengan penuh perhitungan.
"Mereka ada dalam pengaruh api dying will kabut." Byakuran berkata. Giotto dan G langsung mengalihkan perhatian mereka dan menatap Byakuran.
"Apa yang Byakuran katakan benar. Mereka berada dalam pengaruh api kabut. Pertanyaannya, siapa?" Reborn berkata akhirnya. Giotto mengerutkan keningnya seraya berpikir seluruh kemungkinan yang ada.
"Di antara kita, hanya Daemon yang bisa menggunakan api kabut. Selain itu, Daemon juga pernah bercerita tentang kedua adiknya, Rokudo Mukuro dan Rokudo Nagi. Meskipun ada kemungkinan mereka bisa menggunakan api kabut, tapi apa alasan mereka melakukan ini semua?" Giotto mengeluarkan spekulasinya.
"Nai, nai, bukan mereka." sebuah suara asing terdengar.
Secara spontan, Giotto, G, Byakuran dan Reborn menoleh ke sumber suara, hanya untuk menemukan seorang pemuda dengan topi fedora bermotif kotak-kotak hitam putih yang tergambar di bagian atasnya sementara sisi lainnya ditutupi oleh warna hitam, bermata aneh tanpa iris, berkulit putih coklat, berambut hitam dan memakai setelah dengan dasi dengan motif kotak-kotak yang sama.
Sosok itu menunduk dengan sopan.
"Senang bertemu denganmu, Vongola, Gesso, dan Arcobaleno Reborn. Nama saya adalah Wonomichi. Saya adalah pelayan Checkerface-sama!" Sosok itu memperkenalkan dirinya dengan senang. Detik berikutnya, sebuah pistol telah ditodongkan ke kepalanya.
"Katakan lagi?" Reborn berkata dengan penuh suara yang sangat-sangat menyeramkan.
Senyuman Wonomichi menghilang dari wajahnya. Ia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya keringat dingin terlihat mengguncur di wajahnya. Giotto di lain tempat, bisa merasakan bulu kuduknya berdiri mendengar ancaman Reborn yang benar-benar menyeramkan. Namun, secara bersamaan, ia penasaran. Ia tak pernah melihat Reborn sekesal ataupun semarah itu sebelumnya.
"T-tunggu! Tunggu! Checkerface-sama tidak mengatakan apa pun mengenai situasi ini!?" Sosok itu memekik dengan kaget.
"Apa yang kau lakukan pada adikku!?" Giotto berteriak dengan geram. Ia tak tahu siapa sosok di depannya itu. Tetapi siapa pun yang melukai adiknya tak akan lolos begitu saja.
"Hoo hoo hoo, saya kemari hanya untuk menyampaikan salam pertemuan. Checkerface-sama berkata bahwa kita akan bekerja sama mulai dari sekarang! Selain itu, Sawada Tsunayoshi-kun, Gokudera Hayato-kun dan Lambo Bovino-kun akan segera sadar." Wonomichi dengan segera berkata. Matanya melirik k arah pistol yang masih ditodongkan ke arahnya dengan gugup.
"Nah, karena saya sudah menyampaikan pesan untuk anda sekali, saya permisi dulu! Sampai jumpa!"
"Hei! Tu-!" sebelum sempat Giotto menyelesaikan ucapannya, Wonomichi telah menghilang di balik kabut.
Giotto mengumpat pelan. Ia melirik ke gurunya untuk melihat Reborn yang mengeluarkan aura hitam di sekelilingnya.
"Giotto-kun, lebih baik kau bawa mereka ke kamar mereka, bukan~?" Byakuran berkata lagi dengan nadanya yang biasanya. Giotto mendelik ke arah Byakuran sebelum akhirnya mengangkat tubuh Tsuna dan Lambo lalu berbalik menuju ke kamar adiknya. Di belakangnya, G mengikuti.
Reborn di lain tempat, masih terdiam di tempatnya sebelum akhirnya berbalik megikuti muridnya. Ia melirik ke arah Byakuran yang masih berdiri di ambang pintu kamar Giotto dengan senyuman rubahnya. Tanpa mengatakan apa pun, Reborn melewatinya dan berjalan menuju ke kamar Tsuna.
"Byakuran-sama?" Kikyo bertanya kepada tuannya dengan hati-hati. Byakuran menoleh ke tangan kanannya itu.
"Saatnya pergi, Kikyo~ Sayangnya, Wonomichi telah memberitahu Tsunayoshi-kun tentang arcobaleno yang melatihnya, ne~ Saatnya melapor pada Yuni tentang apa yang terjadi~" Byakuran berkata seraya berjalan keluar kamar, menuju ke pintu depan. Di belakangnya, Kikyo mengikuti dengan patuh.
Byakuran bersenandung ringan. Ia mengucapkan selamat tinggal pada Nana yang sedang memasak di dapur. Ketika ia sudah keluar dari rumah, wajahnya berubah serius dan aura di sekelilingnya berubah.
"Kikyo, paggil seluruh anggota Funeral Wrath. Persiapkan mereka untuk pertempuran mendatang. Waktu kita menipis."
Lampo menghela nafas panjang.
'Ah~ Di mana sih anak itu? Aku sudah mencarinya sejak aku datang kemari dan sampai sekarang belum bisa menemukannya juga.'
Ia berpikir. Sudah seharian ia mengelilingi distrik perbelanjaan tapi ia tak juga menemukan adiknya.
Lampo menghela nafas panjang. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal sebelum akhirnya berbalik.
Kemarin, begitu ia sampai di Namimori, Lampo langsung meninggalkan teman-temannya untuk mencari adik tirinya. Tentu saja malam harinya Giotto meneleponnya untuk menanyakan kabarnya. Ia memilih untuk tidur di penginapan terdekat yang bisa ia temukan dan itu cukup untuk meredakan rasa khawatir Giotto. Paling tidak untuk saat ini.
'Aku tak bisa berlama-lama mencari Lambo. Tapi aku tak ingin ia berbuat ceroboh juga. Ah! Dasar anak itu!'
Lampo terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya membela nafas. Kemarin, ketika menelepon rumah lamanya, ia mendapat kabar bahwa Lambo meralikan diri dan pergi ke Jepang. Setelah melakukan para bawahannya untuk menyelidikinya, ia menemukan bahwa Lambo pergi menuju ke Namimori, Jepang.
Lambo kembali menghela nafas. Ia mengerutkan dahinya seraya berpikir. Setelah beberapa saat, ia menaikkan bahunya dengan cuek dan berbalik pergi.
'Ah, sudahlah. Lambo bukan anak yang lemah. Aku sudah membekalinya dengan berbagai macam bom dan granat. Selain itu, anak itu tak akan mati walaupun ditabrak truk.'
Dan begitulah bagaimana Lampo memutuskan untuk menghentikan pencariannya. (-_-)
Baiklah, aku ucapkan terima kasih karena telah membaca, sampai bertemu di chapter selanjutnya.
Ja mattane! :3
