Lee : kelihatan cepat kah? Ini sudah saya buat selambat mungkin x"D Semoga chapter ini tidak mengecewakan
EnitaAndYKa : Waaahh suiip kak, saran sudah diterima dengan lapang hati. Ini bukan chapter terbaik, but semoga chapter ini tidak mengecewakan. Terima kasih atas sarannya ;)
Moku-Chan : Yup, respon mz Luc bisa dilihat di chapter ini. Semoga tidak mengecewakan dan terima kasih atas sarannya ;)
Zielavienaz96 : Pengennya bikin yang sweet sweet tapi momen mereka-nya masih belum pas. But I promise you that 'sweet-sweet' chapter soon ;) Yosh, semoga ini cukup dan semoga tidak mengecewakan. Terima kasih atas sarannya :')
WolfShad'z
A/N : lebih dari 1500 views? OH. MY. GOD! I can't believe it! Serius guys, you really cheer me up! Saya tiap hari nyicil ngetiknya. Itupun harus disertai oleh perjuangan dan doa, ditambah keringat dan air mata yang bercucuran :") Saya mau ngucapin terima kasih buat kalian-kalian yang meluangkan waktu untuk ngasih saya saran dan masukan, serta yang silent reader yang setia. Seriously, saya selalu senyum-senyum sendiri tiap baca review dari kalian.
For readers, reviewers yang setia dengan cerita ini: guys, I don't know who you are. But I will find you and I will hug you xx
WolfShad'z
.
.
.
Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya. Setiap cover di akun ini kepunyaan saya.
Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementerian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?
Rating : T+ lah.
Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.
Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.
Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.
Happy Reading!
.
.
.
"Selamat, Mrs Malfoy! Anda positif hamil empat bulan," seru seorang healer Saint Mungo.
Luna mendengarnya tak percaya. Ia tak bisa menjawab apa-apa, semua pikirannya terasa menghilang. Tubuhnya tiba-tiba liyuk, membuatnya bersandar dikursi tanpa daya. Ginny Potter yang ada disampingnya juga tak kalah terkejut setelah mendengar informasi dari penyembuh itu.
Luna mencoba untuk berpura-pura tersenyum didepan penyembuh berusia sekitar lima puluh tahunan itu. ia masih memandang Luna dengan penuh antusias, seakan turut bahagia mendengar Luna akan memiliki seorang anak. Anak dari seorang Lucius Malfoy. Butuh beberapa puluh detik bagi Luna untuk bisa mengambil alih pikirannya lagi.
Ia menarik nafas panjang, kemudian menyahut, "Terima kasih, Mrs Quentin. Kami permisi dulu."
Penyembuh itu mengangguk, masih belum menghilangkan senyumnya. Luna kemudian berdiri, bersamaan dengan Ginny. Ia masih belum bisa terima dengan berita kehamilannya ini. Luna memikirkan bagaimana ia memberitahukan ini kepada Lucius. Bermacam-macam reaksi Lucius berterbangan dikepalanya. Dan yang paling membuatnya takut adalah bayangan dikepalanya yang menunjukkan kemarahan Lucius sambil berteriak, 'gugurkan dia, Luna! Aku tidak menginginkannya!'
"Kau baik-baik saja?" Ginny bertanya.
Oh, tentu sedang Luna tidak baik. Yang pertama ia tengah mengandung bibit dari Lucius Malfoy. Yang kedua ia tidak tahu harus berbuat apa. Yang ketiga ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Lucius, yang keempat itu berarti Lucius akan lebih membencinya. Jadi, bisa disimpulkan, Luna sedang tidak baik-baik saja. Rasanya Luna ingin melompat dari atas menara astronomi dan mendarat di daratan keras dengan jutaan chitauri berpedang laser menunggu dibawahnya.
Oh sialan.
"Entahlah, Gin. Aku tidak tahu apa aku baik-baik saja," Luna bergumam. Ia sama sekali tidak memandang lawan bicaranya. Luna adalah gadis yang kuat, dan selalu tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tetapi kali ini, untuk pertama kali dalam hidupnya, Ginny melihat sosok Luna yang belum pernah ia lihat. Ia tidak pernah melihat Luna sekacau ini. Bahkan, saat sedang perang besar, Luna tidak terlihat sekacau ini. Pandangan mata Luna menjadi kosong.
"Kurasa, lebih baik kita kembali ke The Burrow dulu. Aku tidak yakin kau bisa menghadapi 'dia' dengan pikiranmu yang kacau ini," Ginny bersuara, mencoba menenangkan temannya yang masih belum bisa mengendalikan pikirannya. Ginny bisa melihat jutaan ekspresi terpancar diwajah temannya itu.
"Kau benar," Luna menjawab singkat.
Mereka ber-apparate di The Burrow lagi. Luna merasa tidak siap untuk pulang ke Malfoy Manor dan bertemu Lucius. pertama-tama yang ia pikirkan adalah, bagaimana ia bisa mengatakan ini; bagaimana ia harus bersikap; bagaimana ia harus menunjukkannya. Dan semua itu, terbang bersliweran didalam kepala Luna. Tentu ia menginginkan bayi itu untuk lahir, sudah jelas tentu pula jika Luna akan menyayangi anaknya itu; layaknya ibu menyayangi anaknya pada umumnya. Tapi, apakah Lucius akan menerimanya?
Tentu Luna tidak bisa langsung mengatakan, 'hai Lucius! aku sedang mengandung anakmu' pada pria yang selalu berdiri tegap layaknya tentara muggle itu. Yang Luna butuhkan adalah susunan rencana atau tutorial yang berjudul 'How to Tell Lucius Malfoy that You're Pregnant' atau semacamnya. Luna juga harus menyiapkan jutaan respon yang harus ia berikan ketika mendapati reaksi Lucius mengenai kehamilan Luna. Otaknya masih belum berhenti berpikir. Tapi yang sulit adalah bagaimana cara memulainya.
"Luna, kau tidak sedang hamil anak dari Mr Malfoy, kan?" Ginny memberanikan diri untuk bersuara. Ia tiba-tiba menyesali ucapannya itu tadi, tetapi Luna tidak memikirkannya. Ada sesuatu lebih penting yang harus ia pikirkan.
"Benar. Dia adalah ayah dari anak ini, Gin," mendengarnya, mulut Ginny semakin menganga.
"Well, aku pikir kalian tidak akan...kau tahu, kalian saling membenci," Ginny menghentikan ucapannya. Ia memandang Luna yang nampak sedang menahan air mata dikelopak matanya. Ginny tentu tidak sebodoh itu, ia jelas tahu meskipun Luna tidak memberitahunya. Ginny dari awal sudah menduga jika Luna dan Lucius mungkin memiliki kesepakatan untuk tidak melakukan 'itu' setelah menikah. Tetapi, pikirannya berangsur-angsur berubah ketika mendengar jawaban Luna.
"Awalnya memang tidak. Kami sudah membuat perjanjian kami sendiri sampai akhirnya kami...kehilangan kendali," Luna bersuara. Ia menceritakan semuanya; tentang kontrak yang ia buat dengan Lucius kepada Ginny. Ia menceritakan dari A sampai Z dengan sedikit mengurangi informasi yang menurutnya tidak perlu disampaikan. Dan saat ini, Luna tidak bisa berpikir logis lagi, ia butuh sesuatu untuk membuat pikirannya kembali bekerja. Ia tak tahu harus berpikir dan bertindak bagaimana.
Ginny hampir menjatuhkan tulang rahang bawahnya. Ia mendengar Luna berkata lagi, "Ginny, kumohon jangan katakan apapun tentang kontrak dan kehamilanku ini kepada siapapun dulu," Luna memohon. Ia memandang Ginny dengan mata biru yang sudah hampir meneteskan air mata. Luna beruntung karena Fred dan George tidak berada dirumah saat ini. Kalau mereka berada dirumah, mungkin mereka akan menggoda Luna lagi. Itu bukan hal yang bagus untuk saat ini.
"Aku berjanji, Luna. Tapi serius, kau harus memberi tahu Mr Malfoy tentang ini. Bagaimanapun, itu hasil perbuatannya," Ginny memaksa. Ia mengguncang bahu Luna yang kali ini diam menatap lantai kayu dikakinya. Tangannya mengusap perutnya yang terlihat membuncit.
"Itu masalahnya, Gin. Aku takut untuk memberi tahunya," suaranya kian melirih.
"Apa yang kau takutkan? Anakmu adalah anaknya juga," Ucap Ginny. Ia hampir berteriak, tetapi berusaha untuk tidak terlalu emosional menghadapi Luna yang sedang blank pikirannya. Ia tidak pernah melihat Luna seperti ini.
"Bagaimana jika Lucius tidak menginginkannya? Bagaimana jika ia akan jauh membenciku? Dan yang paling kutakutkan, bagaimana jika ia ingin anak ini digugurkan?" Luna menyerang Ginny dengan banyak sekali pertanyaan-pertanyaan. Lagi-lagi Ginny hanya bisa mendengus panjang.
"Luna, aku bisa memastikan pertanyaanmu yang nomor tiga itu tidak akan terjadi. Maksudku, untuk ini-lah undang-undang itu ditujukan; untuk mendapatkan keturunan penyihir generasi baru. Ia tidak bisa memaksamu untuk menggugurkannya, kalaupun ia bersikeras, akan ku permudah jalannya menuju Azkaban," Ginny menjawab. Ia menghantamkan tinjunya ke telapak tangannya sendiri.
Luna hampir mati kutu mendengarnya. Apa yang dikatakan Ginny benar; Lucius tidak akan punya wewenang untuk menyuruh Luna menggugurkan bayinya. Dan ini, bagaimanapun membuat kecemasan Luna sedikit berkurang. Walaupun ia belum bisa memprediksi bagaimana reaksi Lucius nantinya, tetapi Luna harus menyiapkan segalanya untuk antisipasi. Antisipasi yang dimaksud adalah sangkalan-sangkalan logis, dan alasan agar Lucius mau menerima bakal penerus Malfoy ini.
"Aku takut jika aku semakin mempersulit hidupnya. Lucius telah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya selama bertahun-tahun. Aku tidak tega untuk membuat hidupnya semakin kacau, aku tidak ingin ia tertekan dengan kehadiranku. Aku mencintainya, Gin. I just want him to be happy," ujar Luna. Ia menggertakkan gigi-giginya, berusaha untuk tidak membiarkan air matanya jatuh begitu saja.
Mendengar kata Luna yang terakhir, Ginny menjadi semakin iba terhadap Luna. Ia sendiri tidak begitu menyukai suami dari sahabatnya ini. Yah, walaupun sebenarnya Ginny diam-diam pernah mengaku kepada dirinya jika Lucius Malfoy memang tampan. Tapi bukan itu yang penting sekarang, ia harus bisa meyakinkan Luna jika dirinya harus memberi tahu Lucius tentang kehamilan Luna ini. Bagaimanapun, itu adalah hasil perbuatan laki-laki berambut pirang seperti pangeran iklan itu.
"Luna, kau harus memberi tahunya. Dia menginginkannya atau tidak, ia tetap harus tahu. Kau tidak bisa menyembunyikan kehamilanmu selamanya, Luna," timpal Ginny dengan wajah yang semakin merah.
"Kau benar. Tapi aku butuh waktu untuk mempersiapkan segala kemungkinan," balas Luna.
"Demi Tuhan, Luna! katakan saja apa adanya, ini bukan ilmu pengetahuan yang bisa dikejar dengan kemungkinan!" Ginny menjadi sedikit emosional. Ia merasa kasihan dengan Luna, tetapi juga kesal karena temannya ini terlalu memperhitungkan langkah yang akan ia ambil. Semua orang mempunyai waktu untuk berpikir, tapi tidak semua orang mempunyai banyak waktu untuk berpikir. Ada kalanya, kita hanya harus menghadapi segala sesuatu secara spontan. Itulah hidup.
Ginny benar. Luna tidak bisa selalu menggunakan logikanya untuk mengutarakan segala sesuatu. Mungkin Ginny benar. Ia hanya harus memikirkan waktu yang tepat untuk memberitahukan ini kepada Lucius. Luna juga membutuhkan waktu untuk mempersiapkan mentalnya, untuk menghadapi apapun dan bagaimanapun reaksi Lucius tentang ini. Luna harus siap.
"Kau benar. Aku harus siap," gumamnya kepada Ginny. "Harus," tambahnya.
-ooOOoo-
Sementara itu, matahari mulai menanjak, membuat hari ini semakin panas. Cahayanya yang terang menerobos jendela perpustakaan megah milik Malfoy. Didalam perpustakaan, terdapat Lucius yang sedang akan menyelesaikan membacanya tentang Anatomi Tubuh Manusia dan Perubahannya. Buku itu memang dibuat oleh penyihir keturunan muggle yang kini menjadi doktor syaraf manusia. Kandungan yang terdapat didalam buku itu lebih padat dari yang dibuat oleh penyihir, membuat otak Lucius meronta-ronta ingin diberik makan.
Entah kenapa, beberapa hari ini ditengah-tengah kesibukannya sebagai pemilik perusahaan meuble terbesar, ia tetap meluangkan waktunya untuk sekadar menyapa buku-buku diperpustakaannya ini. Entah itu hanya membaca beberapa puluh lembar saja. Dan yang lebih mengejutkan, Lucius sedikit tertarik dengan buku-buku muggle. Ternyata muggle tidak sebodoh yang ia kira. Ia mengakui jika dalam segi pemikiran dan ilmu pengetahuan, muggle dikatakan kurang dari cukup untuk mengimbangi penyihir. Ha, we all know that.
"Master Lucius Malfoy, Smitty ingin memberitahukan jika Mistress Luna sudah tiba Malfoy Manor," ujar peri rumah. Lucius sebenarnya geram ketika ada yang mengganggu kencannya dengan buku-buku tebalnya, tapi setelah mendengar kata yang keluar dari peri rumah aneh itu ia justru merasa senang; walaupun tidak pernah menunjukkannya secara pasti.
"Pergilah, siapkan sesuatu untuknya," perintah Lucius kepada Smitty. Peri rumah itu menghilang, hampir bersamaan dengan Lucius yang bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar dari perpustakannya menuju ke ruang tamu, tempat dimana jaringan floo nya berada. Begitu Lucius turun, ia melihat Luna yang baru saja berjalan menjauh dari jaringan floo nya.
"Ah, kau sudah pulang rupanya," ia berujar.
Lucius berjalan mendekat kearah Luna yang kini sudah duduk dikursi merah yang mahal itu. Saat ia berada dalam jarak cukup dekat dengan Luna, ia bisa melihat mata istrinya sembab lagi. Lucius merasa, pastilah Luna menangis karena menceritakan kesedihannya ketika harus menjalani hidup selama lima tahun dengan orang yang tidak baik seperti dirinya. Lucius berusaha untuk mengabaikannya, ia tidak ingin Luna terganggu dengan kepedulian Lucius terhadapnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menahan rasa sakit hatinya dengan menggertakkan gigi-giginya.
"Aku senang bisa pulang," balasnya. Ia memberikan senyuman kepada Lucius.
Lucius mengangkat alisnya, "Kupikir, kau lebih senang disana," ia bersuara, sedikit bergetar.
"Tidak! Maksudku, disana memang menyenangkan; tertawa saling melempar kutukan. Aku tidak bisa selamanya berada disana. Jika aku berada disana, siapa yang akan menyirammu dengan air lagi?" Luna membalasnya. Ia memilih untuk tidak mengatakan apapun tentang kehamilannya kepada Lucius hari ini. Ia akan menunggu sampai saat yang tepat, atau jika tidak ada saat yang tepat, Luna akan mengatakannya disaat yang agak tepat. Dadakan, misalnya?
Sialan, rumit sekali hidupnya.
"'Siapa yang akan menyiramku dengan air'? Hmmm..." Lucius nampak berpikir, ia memandang Luna aneh. "Aku anggap itu arti lain dari 'aku merindukanmu, Lucius'," Lucius menyeringai. Ia mulai kedalam mode flirty nya lagi. ia benar-benar menyukai perubahan instan diwajah Luna. Kali ini Lucius melihat Luna tertawa, pipinya memerah. Sementara dirinya hanya memberikan senyuman tipis.
Sejenak Lucius berpikir, apakah hanya kegenitannya saja yang membuat Luna tertawa? Lucius berharap ada sesuatu dari dirinya yang bisa membuat Luna tertawa seperti saat Weasley kembar itu membuatnya tertawa. Tapi entah sudah hilang atau memang tidak mempunyai humor sama sekali, Lucius tidak bisa memberikan sesuatu yang membuat wanita muda itu tertawa. Tidak dengan cara-cara yang konyol seperti para Weasley yang menyenangkan itu.
"Kau ingin Smitty membawakanmu sesuatu?" Lucius bersuara. Luna berhenti tertawa, sambil melihat Lucius aneh. Hey! Bagaimana bisa seseorang bisa merubah topik dan emosi secepat itu? Luna benar-benar tak paham dengan isi kepala Lucius. Ia juga penasaran dengan apa isi dari kepala pria itu selain buku, pekerjaan dan kegenitannya itu. ia ingin mengenal Lucius lebih dalam lagi. Dan Luna tahu harus kepada siapa ia bertanya.
Severus Snape?
Atau mungkin anak angkatnya, Draco Malfoy?
Tentu saja, why no both.
"Aku sedang ingin memakan sesuatu yang masam. Uh, acar?" Luna menjawab. Ia sama sekali tak menyadari jika ucapannya itu baru saja keluar dari mulutnya.
"Acar?" Lucius mengulangi kata terakhir yang diucapkan Luna tadi.
"Kenapa? Aku suka acar," Luna membantah dengan enteng. Lucius hanya mengangkat alisnya sebelah setinggi mungkin. Ia merasa sedikit aneh. Sejak pertama Luna tinggal di Malfoy Manor sampai detik ini, ia bahkan sama sekali tidak menyentuh acar yang biasa disajikan dihidangan makan malam. Hal ini membuat Lucius berpikiran yang aneh-aneh. Pikiran yang nantinya akan ia sangkal sendiri.
"Smitty!" Teriak Lucius
Peri rumah itu muncul, berdiri tak jauh dari Luna. Lucius bisa mendengar peri rumah itu bersuara, "Smitty senang Mistress Luna sudah pulang."
Luna tersenyum, Lucius diam-diam setuju dengan peri rumah itu. ia kemudian memerintah peri rumahnya lagi, "Smitty, bawakan Mistress acar dan bawakan brandy untukku."
Luna memincingkan matanya lagi, ia memandang Lucius kesal. Lucius yang merasa ada sesuatu yang tengah memandanginya, kemudian melemparkan sorot mata kelabu-nya kearah Luna. Ia bisa melihat Luna sedang akan mengatakan sesuatu. Lucius mengangkat bahunya tak paham. "Apa?" ucapnya spontan.
"Demi Tuhan, Lucius! tidak bisakah kau berhenti minum brandy?!" Mendengarnya Lucius memandang Luna aneh...lagi.
Lucius merasa jika perhatian Luna menjadi berubah kepadanya sejak beberapa tiga bulan belakangan ini. Dirinya tidak bisa menyimpulkan apa arti perhatian Luna itu, dan dirinya juga tidak bisa mengerti alasan Luna menjadi memperhatikannya. Ia—Luna juga mulai tidak risih tatkala harus berdekatan dengan Lucius. Ia bisa merasa demikian karena saat pertama mereka bertemu, sampai pernikahan mereka yang berusia dua bulan, Luna tidak pernah memperhatikannya. Oh, mungkin itu karena mereka tengah bertengkar kala itu.
Tapi tetap saja, Lucius merasa aneh.
"Agak sulit menghilangkan kebiasaan lama," jawab Lucius singkat.
"Karena itu kau harus mulai belajar. Apa kau ingin liver mu rusak?" Luna membantah. Lucius paham arti kata 'liver' itu, ia membacanya beberapa saat yang lalu di buku karangan dokter muggle. Lucius hanya bisa mendesah mendengarnya. Ia sedang tidak dalam mood baik untuk beradu argumen dengan wanita dihadapannya ini.
"Baiklah, baiklah," ia mengangkat kedua tangannya, pertanda ia menyerah dengan Luna. Itu bukan hal yang biasa dilakukan oleh Lucius Malfoy. Ia menyambung kata-katanya lagi, kali ini ia tujukan kepada Smitty, "Bawakan aku kopi tanpa gula."
Peri rumah itu mengangguk, kemudian menghilang. Lucius mengangkat tubuhnya, membenarkan posisi duduknya yang amat tidak enak. Lucius menjadi gugup sendiri ketika ada didekat wanita muda ini. Dan Lucius benar-benar tidak ingin menunjukkan kepada siapapun jika dirinya sedang gugup. Karena, baginya itu bisa merusak citranya yang sok cool. Grrr...
Ia berdeham, memulai pembicaraan lain, "Koran Weekly Witch sudah keluar. Kusarankan kau untuk tidak membacanya," Lucius bersuara.
"Kenapa?" Luna menyahut dengan cepat.
Lucius menyandarkan punggungnya disofa, masih mencoba untuk rileks. Ia berusaha menenangkan otot-ototnya yang tiba-tiba bergetar sendiri. ini sangat lucu. Lucu sekali jika diperhatikan lagi. Luna nampaknya tidak menyadari keanehan yang menimpa Lucius. ia juga sama sibuknya dengan Lucius; menenangkan batinnya yang bergejolak.
Bukan. Tepatnya keduanya sama-sama berpura-pura tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Entah mereka terlalu buta, terlalu tuli, atau terlalu bodoh, hanya mereka berdua yang tahu jawabannya. Terdapat beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan secara sistematis, statistik, matematis dan logis; hal itu adalah cinta. Dan cinta memang selalu rumit.
Lucius menimpalinya setengah bergurau, "Matamu akan terbakar."
Luna merasa penasaran, ia mengacungkan tongkat sihirnya diudara dan mengucap, "Accio Weekly Witch!" sebuah koran melayang dari kantor Lucius menuju kepangkuannya. Matanya terbelalak melihatnya. Sementara Lucius, hanya mengalihkan pandangannya dengan memandang sepatunya yang hitam mengkilat.
Luna terkejut melihat sebuah cover koran yang bergerak-gerak. Ditambah lagi, apa yang ia lihat membuat matanya seakan ingin melompat keluar. Bagaimana tidak, Weekly Witch memasang foto mereka ketika sedang berciuman saat pernikahan mereka. Luna bisa merasakan pipinya tiba-tiba memerah. Ia berusaha menyembunyikannya dari Lucius dengan membaca sebagian artikelnya,
"Luna Lovegood, wanita muda yang benar-benar beruntung. Ia bersedia menikahi duda milyuner anak tunggal bernama Lucius Malfoy. Terdengar kabar miring jika Luna bersedia menikahi Lucius untuk memperbesar nama kantor majalah tempat ia bekerja, The Quibbler. Wartawan berusia dua puluh satu tahun ini menyangkal jika pernikahan mereka murni karena undang-undang penikahan yang dibuat oleh kementerian. Aku, Rita Skeeter bisa melihat dengan jelas kilatan-kilatan gila emas dimata wanita muda ini."
Luna menyelesaikan membacanya dengan tidak percaya. "Aku tidak percaya mereka mengijinkan koran seperti ini beredar. Ini menyalahi kode etik jurnalis," Luna bergumam sendiri. Dirinya adalah editor, sekaligus pemilik The Quibbler, jelas ia paham dengan kode etik jurnalis yang benar. Dan apa yang ditulis Rita Skeeter itu benar-benar menyalahi aturan. Tapi Luna lebih memilih untuk mengabaikannya. Ia tidak ingin membuat Skeeter senang.
"Itulah kenapa kusarankan kau untuk tidak membacanya," Lucius berujar, kemudian mendesah. "Aku akan melayangkan tuntutan padanya," Lucius bersuara. Ia tidak terima Luna dihina seperti itu. suara Lucius begitu dingin, dan dalam. Pertanda jika ia sedang serius dengan ucapannya.
Wanita itu meletakkan koran itu kembali diatas meja. Smitty muncul dengan makanan dan minuman yang mereka pesan. Lucius bisa mendengar Luna menyahut lagi, "Lucius, tidak perlu. Biarkan saja mereka berbicara," Luna bertutur lembut, membuat Lucius heran.
Luna melihat amarah diwajah Lucius. Ia—Lucius mengambil koran itu, kemudian melemparkannya diudara. Tangannya menjentik, tak lama berselang koran itu terbakar diudara. Luna sedikit takjub saat melihat Lucius melakukan sihir tanpa tongkat. Sangat jarang ada penyihir yang bisa melakukan hal itu. ia berpikir, pasti Lucius benar-benar penyihir yang kuat.
Tentu saja Lucius penyihir yang kuat! Ia mantan death eater, tangan kanan Lord Voldemort. Sudah jelas tentu Lucius bukan penyihir biasa. Ditambah, ilmu hitam yang telah dipelajari dan di kuasai Lucius pasti tinggi. Membuat tidak ada yang berani macam-macam dengan Lucius kecuali penyihir yang jauh lebih tinggi kekuatannya dari Lucius.
"Dia menghinaku, menghina kita, Luna. Tidak ada yang bisa menghina Malfoy," Ucap Lucius. ia hampir berteriak saat mengatakannya. Luna bisa mendengar kemarahan yang mulai menjalar dari dalam diri pria itu. Jujur saja, Luna tidak meyukai saat Lucius marah. Itu mengingatkannya dirinya akan diri Lucius yang lama. Yang sudah dilupakannya.
"Lucius, selama kau tahu kebenarannya, itu sudah cukup bagiku. Lagipula, aku tidak ingin membuat Skeeter senang dengan tuntutan yang dilayangkan padanya," Luna tersenyum. Ia meletakkan tangannya diatas tangan Lucius yang masih terdapat bekas luka samar-samar akibat meninju kaca beberapa bulan lalu. Tangan dingin Lucius menjadi hangat ketika Luna menyentuhnya, jiwanya terasa bergetar. Emosinya menjadi reda tatkala kehangatan dari tubuh Luna memasuki kulitnya.
Lucius tak bisa menahan diri untuk tidak memberikan senyuman pada Luna. Ia kali ini berpikir, kenapa Luna baik kepadanya? Kenapa Luna berlaku sopan kepadanya? Kenapa Luna menghormatinya? Kenapa Luna tidak menunjukkan kebenciannya seperti dulu? Terlebih, setelah apa yang telah terjadi kepada Luna di Malfoy Manor saat perang dulu. Ini benar-benar tidak masuk akal. Semua orang hampir membencinya atas apa yang telah ia lakukan, tapi kenapa wanita ini tidak? Apakah itu hanya berpura-pura saja?
"Apa itu benar, jika kau tidak tertarik dengan emas-emasku?" Lucius bersuara, ia masih membiarkan tangan Luna berada diatas tangannya.
Luna tersenyum lirih, "sama sekali tidak. Aku sudah memiliki cukup emas dari hasil kerjaku selama ini. Emas tidak selalu bisa membeli kebahagiaan, Lucius,"
Lucius merasa tertohok lagi. Luna benar, dan Lucius terkekeh sedikit. Ia benar-benar percaya jika Luna tidak menginginkan emasnya, toh Luna juga hampir tidak pernah meminta apapun dari Lucius. kalaupun ia meminta, itu adalah sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan uang. Misalnya berjalan-jalan disekitar Manor? Atau menemaninya membaca buku sampai larut?
Bagi Luna, kebahagiaannya itu simple.
"Benar. Tapi lebih nyaman saat menangis diatas kereta kuda berlapis emas daripada diatas sepeda tua yang reot," Lucius berujar, setengah bergurau. Ia kemudian terkekeh pelan dengan ucapannya sendiri. ia memijit keningnya sambil menahan tawa.
Luna tertawa. Luna tidak bisa membungkiri jika apa yang dikatakan Lucius itu benar. Tapi tetap saja bagi Luna, uang tidak bisa memberi segalanya. Ia kemudian mendengar Lucius bersuara lagi, "Kau benar-benar wanita yang baik, my dear. Aku turut menyesal karena kau harus menikah dengan pria menyedihakan sepertiku."
"Jangan berkata demikian, Lucius. Kita berdua tahu jika kita tidak bisa lari dari undang-undang itu," Lucius tersenyum kecil. Ia memberikan pandangan yang membuat jiwa Luna merasa teduh. Sedetik kemudian, ia melihat tangan Luna meninggalkan tangannya. Kulit pucatnya kembali dingin, seperti biasa.
Lucius melihat Luna mengambil setopeles acar berwarna hijau. Luna mulai memakan acar-acar itu tanpa sedikitpun merasa asam. Lucius berpikir, apakah perutnya tidak sakit makan acar sebegitu banyaknya. Berbicara soal perut, Lucius mendapati perut istrinya sedikit buncit. Dan lagi, ia hanya mencoba menyangkalnya dengan hal yang menurutnya lebih logis. Sembelit adalah yang dipikiran Lucius saat ini.
Ia masih memandang Luna yang melahap acar itu. Lucius membuka mulutnya tak percaya, Luna memakan acar-acar itu seakan-akan tidak ada hari esok. Pikirannya mulai berpikir yang tidak-tidak, tetapi kepalanya menggeleng pelan. menyangkal segala sesuatu yang ia pikirkan.
"Astaga, ini lezat sekali. Kau mau, Lucius?" Lucius mendengar Luna berbicara lagi. ia juga melihat wanita itu menyodorkan toples acar yang sudah setengah kosong itu kepadanya.
"Tidak, terima kasih. Untukmu saja," Lucius menggeleng dan mengangkat tangannya. Ia suka acar, tetapi tidak dimakan mentah-mentah seperti itu. Lucius menyukai acar jika dicampur dengan sandwich atau dengan daging bakar yang nikmat.
Lucius menarik nafas. Ia tiba-tiba teringat sesuatu. "Aku akan keruanganku. Jika ingin sesuatu, Smitty akan membantumu," Lucius bersuara. Ia kemudian berdiri, berjalan menuju ruangannya. Ada sesuatu yang penting yang benar-benar harus ia lakukan. Oh bukan. Bukan masalah perasaannya, ini masalah pekerjaannya yang membosankan itu.
Gumpalan koran itu sudah habis terbakar. Abu-abu sisa pembakaran berjatuhan dilantai. Puffy tiba-tiba muncul untuk membersihkan abu-abu bekas pembakaran kertas itu. Luna melihat Puffy memungut bagian yang tak terbakar, dan akan memasukannya kedalam kantong plastik. Luna melihatnya sekilas, itu adalah fotonya dengan Lucius yang tengah berciuman. Ia pun mencegah Puffy membuangnya.
"Berhenti, Puffy! Jangan buang bagian itu!" Luna bersuara, peri rumah itu memandang Luna aneh. Puffy sangat menyukai Luna, karena dia berbeda dari Lady of the Manor sebelumnya. Luna lebih ramah, dan memperlakukan dirinya layaknya penyihir yang sederajat. Hal ini, kadang-kadang membuat Puffy terharu sendiri.
"Kenapa Mistress Luna menyuruh Puffy untuk tidak membuang bagian ini?" Puffy memberanikan diri untuk bertanya.
"Pokoknya jangan. Sini, berikan padaku," ujar Luna. ia setengah memerintah. Peri rumah itu tak banyak tanya, ia langsung memberikan potongan koran yang masih bergerak-gerak itu kepada Luna melalui tangan-tangan kurus kering. Luna menerimanya dengan senyum lirih bermekaran diwajahnya. Ia tidak bisa berhenti memandang Lucius yang tampak tampan dikoran itu.
Ia mengabaikan Puffy, kemudian berbicara kepada koran itu seakan-akan potongan koran itu bisa berbicara. Ia menarik nafas panjang sambil tersenyum, "aku sama sekali tidak menyesal, Lucius."
-ooOOoo—
Dua hari telah berlalu, Lucius tengah mencoba untuk tertidur pada pukul delapan malam. Tapi rasa kantuknya tak juga muncul. Ia sedang dalam keadaan mati rasa, ia hampir tak bisa merasakan apapun ditubuhnya. Seakan-akan rasa sakit didalam jiwanya lebih kuat daripada tubuhnya yang dari tadi siang sudah memprotes ingin beristirahat. Tapi ia tak bisa. Sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya yang terasa seperti zombie ini. ia memang hidup, tetapi didalam ia terasa mati.
Ia melepaskan nafas berat dari mulutnya, dengan harapan rasa sakit yang menimpanya akan segera pergi. Ia sudah melakukan itu berkali-kali, namun tak sedikitpun rasa sakitnya itu pergi. Kalaupun rasa sakit itu pergi, dalam beberapa detik pasti akan kembali lagi. Lucius tidak tahan rasa sakit yang teraasa seperti meremas-remas jantungnya. Nafasnya terasa begitu sesak. Jika ia bisa menangis, maka ia akan menangis. Tapi tak ada satupun air mata yang keluar dari matanya.
Lucius mencoba untuk memejamkan matanya, membiarkan dirinya berkelana didalam imajinasinya. Ia mencoba membuat dirinya lupa dengan kenyataan yang menyakitkan ini. ia mencoba mencari tempat dimana ia bisa jadikan sebagai pelampiasan. Namun kenyataannya, ia tak bisa. Bahkan, didalam imajinasinya, hanya Luna yang berada disana. Luna, Luna, dan Luna. ia lelah. Lucius merasa lelah.
Lucius menyerah, ia tidak akan tidur lagi malam ini. Lebih baik, ia mencari bacaan lagi daripada harus melamun semalaman. Ia turun dari ranjangnya yang kelewat besar, dan mulai berjalan keluar dari kamarnya menuju ke perpustakaan. Masih banyak buku yang belum ia baca disana, jadi ia tak perlu khawatir mengulang buku yang sama lagi. Setidaknya, ia bisa melupakan rasa sakitnya dengan tenggelam dibuku-buku tua yang mengagumkan.
Ia membuka pintu perpustakaan, ia sedikit terkejut ketika mendapati seseorang sedang membaca disana. Ia membaca buku tebal berjudul, Fantastic Beast and Where to Find Them oleh Newt Scamander.
"Luna?" Lucius mengagetkan Luna dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Lucius, kebetulan sekali kau datang. Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu," ujarnya tiba-tiba. Luna menutup buku yang ia baca, meletakannya kembali didalam rak. Lucius bisa melihat Luna agak bergetar, entah dari suaranya atau dari tubuhnya. Lucius tidak tahu apa yang akan ia bicarakan. Apapun itu, semoga bukan hal-hal yang akan membuat rasa sakitnya semakin dalam lagi.
"Mengenai apa?" Lucius bersuara. Ia kemudian duduk dihadapan Luna, wanita muda itu memainkan tangannya yang bergetar diatas meja. Lucius hanya bisa menelan ludahnya penuh rasa penasaran. Ia, dalam hati terus berdoa kepada Sang Kuasa untuk memberikan kekuatan padanya untuk menghadapi apapun yang akan dikatakan oleh Luna kepadanya.
Lucius menunggu jawaban dari Luna, tapi wanita muda itu hanya diam tak bergeming sambil menundukkan kepalanya. Lucius menyadari ada yang salah, ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Luna lagi, "Luna, ada apa?"
"Lucius, aku...aku..." ia bersuara, tapi Lucius tidak mendengarnya karena terlalu pelan.
Ia bersuara lagi, "Apa semua baik-baik saja, my dear?"
"Aku hamil, Lucius," suaranya masih pelan, tetapi sudah cukup untuk bisa ditangkap oleh telinga Lucius.
"Apa?" Lucius berkata, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela dan menerawang jauh. Lucius tidak bisa menjawab apapun. Ia senang, sungguh ia senang sekali. Tetapi ia merasa bersalah. Ia tahu jika dirinya adalah orang pertama yang menyentuh Luna, jadi tak ada alasan bagi Lucius untuk menyangkal jika itu bukan anaknya. Lagipula, ia tidak akan menyangkalnya. Ia percaya jika Luna adalah wanita baik-baik.
Ingin rasanya Lucius bersorak penuh kegembiraan. Tetapi ia melihat Luna yang nampak sedih seperti itu, Lucius menjadi semakin merasa bersalah. Andai ada mantra yang digunakan untuk bunuh diri, pastilah akan ia gunakan saat ini juga. Sayangnya tidak ada. Ia mungkin bisa bunuh diri dengan cara muggle, tetapi itu percuma. Arwahnya tidak akan tenang, ia hanya akan menjadi hantu yang bergentayangan. Itu tak ada bedanya dengan hidup dengan rasa sakit.
Rasa sakit didalam batin Lucius semakin meraung-raung ketika ia mendengar Luna menangis dibelakangnya. Dan lagi-lagi ia tidak tahu harus bagaimana. Ini lebih rumit dari apapun yang pernah ia lakukan. Ia benar-benar merasa bodoh, mati rasa dan tak berguna. Karena, hampir setiap langkah yang ia ambil akan berdampak kepada orang lain, dan Lucius tidak bisa memaafkan dirinya akan hal ini. Meskipun demikian, ia tetap tidak tahu harus bagaimana. Lucius bersumpah, kutukan cruciatus dari Lord Voldemort tidak sesakit apa yang dirasakannya saat ini. Rasa sakit akibat cruciatus akan hilang dalam beberapa jam, atau beberapa hari. Tetapi, apa yang dirasakan didalam batin Lucius belum tentu hilang dalam waktu puluhan tahun kedepan.
Lucius sendiri tidak mengerti kenapa dirinya bisa jatuh sedalam ini. kedalam jurang yang jelas-jelas membawanya kedalam rasa sakit yang meraja. Namun ia paham, semakin ia jatuh, semakin sakit hatinya. Hal yang serupa, namun tak sama juga terjadi; semakin ia jauh dari Luna, semakin kronis sakitnya. Dan, semakin dekat ia dengan Luna, semakin sesak dadanya. Maju atau mundur, ia akan tetap terperangkap dalam rasa sakit itu. ia tak bisa berhenti, Lucius tidak punya benteng untuk melindunginya dari siksaan itu. Lucius juga tidak mempunyai pion dijalankan. Hanya dirinya, dirinya dan dirinya seorang diri.
Ia harus maju, atau mundur. Tapi ia tak bisa berhenti.
Ia menutup matanya, menarik nafas untuk memenuhi dadanya yang terasa kosong. Ia mengumpulkan setiap tenaga, yang tersisa agar ia bisa menghadapi Luna dengan ekspresi sedatar mungkin. Ia memulai langkahnya dengan berbalik, menghampiri Luna yang masih duduk dengan menangis. Ia berlutut dihadapan wanita bermata biru itu, kedua tangannya dipundah Luna. Ia mengangkat wajah wanita muda itu dengan jari telunjuknya, mencoba memberikan senyuman terbaiknya. kemudian berkata, setengah memerintah,
"Luna, lihat aku."
Luna masih menangis, Lucius bisa melihat jika wanita dihadapannya ini tengah memaksakan diri untuk menatap mata abu-abu Lucius yang menyembunyikan jutaan rasa sakit. Seberapa pun Lucius mencoba, kilatan bahagia dan rasa sakit terlihat jelas dimatanya. Ia tidak bisa menyembunyikan itu selamanya. Karena pada suatu saat, manusia akan mencapai titik klimaks dimana ia harus menumpahkan setiap emosi dan perasaan yang ia miliki.
"Luna, aku tahu kau membenciku. Aku tahu jika kau tidak ingin hal ini terjadi, dan aku tahu kau tidak akan pernah memaafkanku untuk ini. Tapi aku ingin kau memahami satu hal; untuk inilah undang-undang itu dibuat. Jika kita tidak memiliki keturunan baru, mereka akan mempersulit perceraian kita nantinya," Ia berhenti. Menarik nafas panjang lagi, merasakan dadanya seperti dicengkram oleh ular raksasa yang terbuat dari baja. Ia hampir tidak bisa bernafas.
Lucius menyadari jika dirinya telah menghancurkan masa depan Luna. Ingatannya membawanya ke hari itu, hari dimana ia menyentuh Luna. ia kemudian menyadari satu hal. Hal yang bisa-bisanya ia lupakan begitu saja. Hal itu sontak membuatnya batinnya semakin sakit. Lucius benar-benar menyesal. Disaat hari itu, hari dimana dirinya menyentuh Luna, ia menyadari jika dirinya benar-benar orang yang pertama. Ia benar-benar telah menghancurkan hidup wanita itu. ia telah merenggut sesuatu yang paling berharga dari diri Luna; keperawanannya. Lucius tak bisa menahan dirinya untuk tidak marah kepada dirinya sendiri.
"Aku...tidak..." Lucius bisa mendengar jika Luna mencoba berkata-kata, namun tak banyak kata yang bisa keluar dari mulutnya. Lucius mencoba memahami apa yang dialami Luna dengan logikanya. Tapi ia tetap gagal.
Ia masih memandang Luna, mencoba memilah-milah kalimat yang tepat. "Kau tidak perlu khawatir jika aku akan membenci anak kita. Kita akan membesarkan anak ini bersama, layaknya orang tua pada umumnya," beberapa patah kata akhirnya keluar dari mulut Lucius. Ia mencoba untuk membuat Luna tenang.
"Bagaimana jika...kontrak itu, dengan anak ini setelah kontrak itu...?" Luna bertanya, ia tak kuasa melanjutkan pertanyaannya.
Lucius berpura-pura tersenyum, tangannya sekarang dipipi wanita itu. ia mengusap air mata Luna dengan ibu jarinya yang besar kemudian berkata pelan, "Kontrak itu akan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Kau akan mendapatkan hidupmu kembali, dan anak itu, akan tetap menjadi anak kita meskipun nantinya kita akan bercerai. Bagaimanapun, aku adalah ayah dari anak ini, Luna." Lucius menyelesaikan kalimatnya. Lucius berpikir, jawaban yang keluar dari mulutnya adalah jawaban yang ingin Luna dengar.
Tapi ia tidak tahu. Bukan itu yang ingin didengar Luna. jawaban yang ingin didengar Luna adalah, 'Persetan dengan kontrak itu. Kita akan tetap bersama, menjadi keluarga yang bahagia.'
Mungkin ini sudah disebutkan sebelumnya, tetapi yang sebenarnya terjadi hanyalah kesalah pahaman dan kekurangan komunikasi. Ditambah, kedua belah pihak terlalu keras kepala dan egois. Mereka terlalu kaku untuk saling memahami perasaan satu sama lain. Lucius terlalu dingin atau tidak peka, gengsi dan arogan. Sementara Luna, ia sama gengsinya dengan Lucius, ia—Luna terlalu based-on-plan atau tergantung sesuai rencana. Yah, mau diterima atau tidak, rencana yang mereka buat menghancurkan diri mereka sendiri.
Luna semakin menangis mendengar perkataan Lucius. Lucius lagi-lagi hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. ia tidak tahu apa yang salah dari perkataannya. Ia tidak tahu apa yang salah dari ucapannya. Bukankah itu yang diinginkan Luna? Bukankah kebebasan yang diinginkan Luna? Bukankah Luna ingin kontrak ini segera berakhir? Bukankah ia selalu menginginkan kepastian dari akhir kontrak itu? Dan pertanyaan yang paling penting, yang paling mengganjal dikepala Lucius adalah, kenapa dirinya melihat kesedihan dimata Luna? Kenapa ia sedih? Kenapa ia semakin menangis?
"Kenapa kau menangis, Luna? Bukankah itu yang kau inginkan?" Lucius bertanya.
Luna merasa tidak sanggup menahan perasaannya lebih lama. Ia merasa usahanya sia-sia. Lucius tidak akan pernah peka dengan perasaannya. Tapi, Luna merasa mungkin akan lebih baik jika dia mengungkapkan perasaannya kepada Lucius saat ini juga. Mungkin bukan saat yang tepat, tapi ia harus mencoba.
"Lucius, aku..." Ia mencoba berkata-kata, mencoba mengungkapkan perasaannya. Tapi percuma, semua sia-sia. Tak ada yang keluar dari mulut Luna selain kata itu-itu saja. Lucius sendiri tak paham dengan apa yang ingin dikatakan oleh Luna. apapun itu, Lucius tidak ingin mendengarnya. Ia terlalu pengecut untuk mendengar kata-kata yang mungkin akan menyakitinya lagi. dan lagi, tangis Luna semakin parah.
Lucius sudah tak tahu harus berkata apa, ia hanya mengatakan 'ssshh' untuk menyuruh Luna diam. Ia ingin agar Luna tenang. Lucius akhirnya duduk disamping istrinya. Ia menyandarkan kepala Luna dipundaknya, membiarkan Luna menangis sepuasnya. Ia tak mempedulikan pakaiannya yang semakin basah karena air mata Luna. Lucius melingkarkan tangannya dipunggung Luna, seraya ingin agar tangis istrinya itu berhenti. Lucius menyadari jika hanya dirinya yang dimiliki Luna saat ini, dan ia juga menyadari jika dirinya yang paling menyakiti Luna.
"Semua akan baik-baik saja, Luna. Kau tidak perlu khawatir, kita akan menjalani ini bersama," bisik Lucius, memperdalam pelukannya.
Lucius bisa merasakan nafas Luna yang kembang kempis, juga sesenggukan. Lucius memejamkan matanya, rasanya ia ikut tersakiti ketika Luna terluka dan menangis seperti ini. Jika Lucius bisa, ia ingin mengambil rasa sakit yang dialami Luna. ia rela berkubang dalam rasa sakit lagi, asalkan orang-orang yang ia cinta dan yang ia kasihi bahagia. Mungkin ia memang terlihat dingin tak berperasaan, tapi didalam, Lucius tidak seperti itu. Jika bisa diibaratkan, ia seperti durian yang keras diluar tetapi lembut didalam.
Kontrak ini, kontrak yang mereka rencanakan benar-benar tidak berjalan sesuai rencana. kejadian yang mereka harapkan ialah, kira-kira seperti ini; mereka akan tetap tinggal bersama dengan ranjang terpisah. Menjalani hidup seperti biasa, menjalin hubungan dengan orang yang mereka cintai masing-masing. Luna menjalin hubungan diam-diam dengan Neville. Dan Lucius, menyusun rencananya untuk merebut Narcissa dari Altair. Setelah lima tahun, kontrak mereka berakhir, Luna akan menikahi Neville. Dan Lucius akhirnya bisa mendapatkan Narcissa lagi.
Tapi yang mereka harapkan, yang mereka rencanakan benar-benar kacau. Rencana mereka hancur di usia pernikahan mereka yang baru menginjak lima bulan; Lucius jatuh cinta pada Luna, kemudian ia kehilangan kendali, dan yang terakhir Luna hamil akibat perbuatannya. Benar ia memang menyesal, tetapi ia juga senang karena wanita yang dinikahinya ini baik. Bisa dikatakan, Luna adalah istri idaman. Tapi semua itu terasa seperti imajinasi yang kosong; Luna tidak akan pernah bisa mencintai dirinya. Lucius pasrah kemanapun takdir akan membawanya. Apapun itu, ia akan tetap berusaha mendapatkan Luna, walaupun jika mungkin ia gagal, ia akan tetap menerimanya.
Paling tidak, ia sudah berusaha.
Lucius merasakan nafas Luna yang sudah mulai tenang. Senggukannya juga sudah hilang. Lantas, Lucius pun melemparkan pandangan kepada Luna. Ia sedikit mengangkat alisnya ketika melihat Luna tertidur di bahunya. Bukan posisi yang bagus untuk tidur, tetapi Luna nampak tak peduli. Begitu pula dengan Lucius, Ia merasakan ketenangan, kedamaian yang menyelimuti hatinya ketika memandang Luna. Tanpa sadar, Lucius memberikan senyuman kecil kepada istrinya yang tertidur pulas seperti anak kecil itu. Ia menyibakkan rambut yang menutupi wajah Luna kebelakang telinga.
"Maafkan aku, Luna. You deserve better," Lucius membuka mulutnya, berbisik pelan. Ia tak berharap Luna mendengarnya. Tetapi ia berharap, alam bawah sadar Luna akan menangkap bisikan yang diberikan Lucius. Dengan harapan, gadis ini menyadari dengan sendiri jika Lucius tengah memiliki sesuatu terhadapnya. Ia pun melayangkan sebuah kecupan lembut dikening Luna yang tengah tertidur pulas didadanya. Ia tidak bisa memungkiri jika terkadang yang paling ia cintai adalah yang paling ia sakiti.
Udara menjadi didalam perpustakaan menjadi dingin secara tiba-tiba. Itu karena Luna tidak menutup jendelanya tadi. Lucius bisa merasakan kulit Luna menjadi dingin terkena angin malam yang merasuk kedalam kulit, menusuk tulang. Ia menjentikkan jarinya, dan jendela itu tertutup dengan sendirinya. Hampir bersamaan dengan jendela yang tertutup, perapian didalam perpustakaan juga ikut menyala. Menghasilkan cahaya remang-remang berwarna merah keemasan.
Lucius mencoba untuk mengabaikan apa saja yang berterbangan dipikirannya. Ia hanya ingin tidur nyenyak malam ini, bersama dengan Luna yang terlelap didadanya. Lucius berharap jika ini bisa berlangsung selamanya; sampai waktunya habis. Ia rela menyerahkan semua emas didalam brankasnya demi mendapatkan cinta wanita ini. Tapi Lucius tahu jika cinta tidak bisa dibeli dengan uang.
Dan malam ini, Lucius tertidur dengan Luna yang masih dalam posisi nyaman; menyandarkan kepalanya didada Lucius yang bidang seperti binaragawan. Beberapa detik kemudian, Priam tiba-tiba muncul dari bawah meja. Lucius tidak tahu sejak kapan kucingnya yang angin-anginan itu berada diperpustakaan. Ia memandang Lucius selama beberapa saat, tetapi Lucius mengabaikannya karena ia sudah menyandarkan kepalanya didinding—ikut tertidur. Priam mengambil ancang-ancang, kemudian meloncat dipangkuan Lucius yang baru saja tertidur. Ia bergabung dengan majikannya untuk terjun kedunia mimpi.
Dalam tidurnya, Lucius berdoa kepada Sang Kuasa untuk mengangkat rasa sakit yang meronta-ronta didalam dadanya. Ia juga berdoa agar Luna senantiasa diberi kebahagiaan. Kebahagiaan yang tak bisa ia dapatkan gara-gara Lucius dan undang-undang persetan itu. Walaupun, tanpa Lucius sadari bahwa dirinya-lah kebahagiaan Luna yang sebenarnya.
BERSAMBUNG
A/N : Saya gak mau banyak komen seperti biasa. Saya cuma pengen tahu pendapat kalian. Semoga tidak mengecewakan, ya? Saya agak kecewa dengan chap ini soalnya. :(
Kalau ada yang kurang, monggo please silakan ditulis. Saya siap menerima kritik sepedas apapun :')
WolfShad'z xx
Ps. : sekuel wait for me akan segera dirilis :') Stay tune ;)
Next goal : 50 reviews ;)
