Dia adalah orang yang ku pilih dari sekian banyak pilihan, ia adalah orang yang paling bercahaya dari semua orang yang paling bercahaya. Dan dia adalah orang yang mengisi kekosongan dalam hidupku, kau adalah warna untukku..
.
.
.
MY Honey
MIANHE TELAT #HEHEHEHE
.
Haii haiii—terima kasih untuk kesediaannya membaca.
Selamat menikmati!
Gomawo
#BOW
" DAY DREAM—SOMEDAY, DREAM COME TRUE?"
.
.
Preview
.
.
.
Setelah seharian kemarin dikerjai Heechul untuk menjadi staff perusahaan ahirnya Sehun mendapatkan apa yang ia inginkan. Hari ini ia mengajak Kyungsoo untuk jalan-jalan di sekitar taman bermain yang ada di Haido shopping mall. Sehun tidak banyak mengatakan kata-kata, ia hanya menggenggam tangan Dio sambil tetap menjaga yeojanya itu hangat dengan mantel yang ia pakaikan untuknya. Setelah puas bermain di Haido, Sehun mengajak Dio untuk menikmati bintang di Tokyo tower. Sehun memeluk tubuh Dio dari belakang saat Dio asik memandangi keindahan wilayah Tokyo dan sekitarnya.
" aku mencintaimu—mianhe"
Bagaikan racun yang di suntikkan ke hatinya, Dio merasakan kehangatan yang benar-benar ia rindukan beberapa hari ini. Pelukan hangat Sehun membuatnya terasa nyaman dengan perlakuan namja tampan yang kini melingkarkan tangan kekarnya di perut Dio.
" mianhe—aku terlalu kekanakan"
Dio mengangguk.
" mianhe—karena tidak mengerti akan dirimu"
"…"
" aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu. Jangan pernah merasa bersalah padaku, karena pada kenyataannya akulah yang tidak bisa melindungi kalian. Jangan pernah menangis sendiri lagi—meskipun itu sulit, aku mohon—ajak aku untuk mengangkat kesulitan yang kau alami"
Keindahan wilayah Tokyo menjadi pemandangan yang berarti saat Sehun dan Dio membagi kasih, Sehun memeluk erat Dio sambil membisikkan kata maaf dan kata cinta untuk yeoja yang memang sedikit lebih tua satu tahun darinya.
" aku janji, kejadian kemarin tidak akan terjadi lagi—"
Bisik Sehun
.
.
.
#CHAPTER 14
.
.
.
Minseok mengarahkan tangannya pada sosok Luhan yang kini menangis sambil menggenggam tangan pucat Minseok.
" hiks—katakan padaku apa yang kau inginkan untuk tetap hidup, katakan padaku—aku akan memberikan semuanya padamu. Aku—aku tidak apa jika harus melihatmu dari jauh agar aku bisa melihatmu tertawa. Aku tak apa jika harus menghilang dari sampingmu—asalkan aku bisa mendengarmu, aku tak apa"
Bisikan demi bisikan terdengar begitu menyakitkan untuk Minseok. Minseok menyadari semua kesalahannya, ia menyadari bagaimana dirinya begitu egois. Tentang bagaimana dia tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya orang tuanya lakukan dan rencanakan untuk masa depannya. Minseok menangis—
" Tuhan, beri aku kesempatan untuk meminta maaf padanya—beberapa menit saja untukku agar aku bisa meminta maaf padanya. Aku mohon"
Bisik Minseok lirih.
Ia tidak menyadari bagaimana dirinya mulai melebur dengan cahaya yang tidak kasat mata.
'TIIT—TIIT—TTIIIT—TIIIIIIITT'
Luhan menatap ke arah monitor, yang menunjukkan peningkatan detak jantung Minseok.
" Ya Tuhan! Minseok?! Andwe! YIXING! YIXING!"
Mendengar teriakan Luhan, orang-orang yang berada di ruang tunggu kaget.
" Kyu—"
" aku akan mencari Dr Zhang!"
Henry langsung berlari mencari Lay yang kebetulan berjalan menuju ke arahnya bersama dengan Zhoumi.
" Lay! Tolong Luhan! Bantu dia!"
Sambil menghirup nafas tersengal, Henry menunjuk ke ruangan dimana Minseok dirawat. Lay berlari secepatnya disusul oleh Zhoumi mendekati Luhan yang sudah berteriak-teriak.
" Tolong! Lakukan apapun! Aku mohon!"
Teriak Luhan saat Zhoumi dan Lay mendekatinya.
Meski ingin tetap di samping Minseok, namun Luhan juga seorang dokter—ia tau jika prosedurnya ia harus menyingkir dari samping Minseok dan membiarkan kedua dokter itu menanganinya. Luhan bisa saja menjadi orang yang jenius dalam menangani orang lain—dengan bakat dan kemampuan yang luar biasa untuk menangani segala jenis penyakit namun, Luhan juga seorang manusia yang memiliki kelemahan. Dan semua orang disana tau apa yang menjadi kelemahan Luhan. Ya Minseok, Minseok adalah kelemahan terbesar untuk dokter jenius Xi Luhan. Luhan sendiri juga tau jika fokusnya akan terganggu jika mendapati posisi hidup dan mati dari kelemahannya, ia tidak ingin kepanikannya membuat orang yang ia cintai merenggang nyawa karenanya.
Minseok beberapa kali mengejang dengan tidak ada tanda pernafasannya. Luhan mengamati bagaimana Zhoumi dan Lay membuat detak jantung Minseok kembali stabil, hingga ia mendengar suara lirih dari yeoja yang kini berusaha membuka matanya.
" Luhh—"
Zhoumi dan Lay kaget, mereka langsung menyingkir untuk membiarkan Luhan mendekati Minseok.
" aku disini!"
Minseok—tangan lemas Minseok mencoba menyentuh wajah Luhan yang kini penuh dengan air mata.
" jangan menangis—maafkan aku—semua salahku—aku terlalu bodoh untuk menyadarinya—maafkan aku—maafkan aku—"
" Yaa! Apa yang kau bicarakan!? Jangan minta maaf padaku!"
" Luh—jika Tuhan memberiku kehidupan kedua—tolong buat aku mencintaimu seperti aku mencintaimu sekarang ini—buat aku selalu ada di dekatmu—buat aku untuk tetap bersamamuh—"
" apa yang kau katakan?!"
" aku mohon—aku ingin membayar semuanya—berjanjilah"
Luhan menggeleng.
" aku mohon—"
" wae?!"
" karna aku ingin selalu bersamamu dan mencintaimu"
Zhoumi meremas pundak Luhan untuk memberikan dorongan pada anaknya agar mencoba melepaskan Minseok.
Minseok terlihat begitu kesakitan dengan pandangan yang memohon pada Luhan.
" arraso—berjanjilah kau akan datang padaku"
Di luar ruangan, Henry mencoba menenangakan Kyuhyun dan Sungmin. Mereka bisa mendengar apa yang ada di dalam ruangan itu, mereka bisa melihat bagaimana anak mereka tersenyum ke arah mereka setelah mendapatkan anggukan dari Luhan.
" aku—aku mencintai kalian—"
Suara lirih dari bibir Minseok merobohkan pertahanan Kyuhyun, namja itu mulai berteriak memanggil nama anaknya. Pertahanan yang Kyuhyun buat sekuat baja luluh lantah saat mendengar raungan Luhan yang meminta Minseok kembali. Tidak ada tanda lain di monitor, hanya sebuah garis dengan suara begitu nyaring menyaingi teriakan Luhan.
Henry, menangkap tubuh Sungmin yang pingsan saat melihat tidak ada tanda kehidupan dari anaknya saat Lay dan Zhoumi mencoba mengembalikan detak jantung anaknya. Lay mencoba menahan tangisannya untuk tetap bertugas layaknya seorang dokter, bukan sebagai anggota keluarga atau kerabat. Ia harus menahannya untuk terus mencoba mendapatkan Minseok kembali di tengah raungan Luhan yang meronta di dekapan Zhoumi. Ya, Zhoumi harus menahan Luhan yang sekuat tenaga ingin menerjang tubuh Minseok—
Lay menggeleng ke arah Zhoumi dan Luhan.
" andwe—ANDWEE! SELAMATKAN DIA! KEMBALIKAN DIA PADAKU!"
Luhan menarik kerah Zhoumi.
" kau harus menerimanya, Lay buat surat kematian"
Mendengar ucapan lirih Zhoumi baik Luhan atau Lay hanya bisa menangis.
'BRUKKK'
Luhan terkapar dipelukan Zhoumi.
" panggilkan Kyuhyun—"
Tidak lama Kyuhyun masuk, ia menangis mengusap sayang kepala anaknya.
" dokter—tangan dokter Lu—"
Lay menunjuk ke arah tangan Luhan yang bergandengan erat dengan tangan Minseok saat Zhoumi mengangkat tubuh Luhan yang pingsan.
" tolong lepaskan—"
Zhoumi mencoba melepaskan sendiri tangan anaknya namun terlalu susah, dengan bantuan Laypun tidak begitu membuahkan hasil. Tangan Luhan dan Minseok masih bertautan—
" Minni—"
Lay dibantu dengan beberapa perawat yang mulai memasuki ruangan itu mencoba melepas segala alat bantu untuk Minseok. Kyuhyun menatap prihatin pada Minseok dan Luhan yang sepertinya tidak ingin terpisah hingga—
'TIT—TIT—TIIT—TIIT'
Suara itu, frekuensi yang tercipta di layar monitor.
" apa yang kalian lakukan! Aku sudah bilang untuk mematikannya dulu—jangan untuk main-main!"
Omel Lay saat melihat monitor yang berhubung dengan tubuh Minseok kembali berbunyi. Ia kesal karena menganggap perawat yang membantunya ingin bermain-main dengannya.
" dokter—pasien—"
Seorang suster menunjuk ke arah Minseok yang menggerakkan beberapa jari-jarinya.
" Minseok?!"
Lay langsung memeriksa detak jantung Minseok dengan pendengar detak jantung, matanya melebar. Ia menoleh ke arah Zhoumi dan Kyuhyun yang menunggunya.
" dia kembali—"
" maksudmu?"
" Minseok—dia kembali, saat ini ia benar-benar tertidur"
" jeongmal? Jinja?"
Lay mengangguk.
.
.
Henry mengarahkan pandangannya pada Zhoumi setelah Zhoumi selesai memeriksa keadaan Luhan.
" apa yang terjadi padanya? Kenapa sudah hampir 1 minggu dia tidak sadarkan diri juga?"
Zhoumi tersenyum.
" batas ketebalan tubuhnya atas semua yang terjadi selama inilah yang membuatnya pingsan. Terlebih kenyataan terahir yang ia terima membuatnya semakin shock—"
" apa dia koma?"
Tanya Kyuhyun.
" tidak, hanya dia benar-benar lelah dan membutuhkan istirahat lebih…"
Sungmin menunjuk tangan Luhan yang masih tertaut dengan seorang yang kini menatap mereka bingung.
" kita biarkan saja—Minseok apa kau keberatan?"
Yeoja manis itu mengerjap lalu menggeleng sejenak.
" –tangan gege ini hangat—"
Ucap Minseok lembut.
Kyuhyun menatap anaknya—
" baby—you still don't remember about all?"
" I don't know"
Zhoumi mengangguk pada Kyuhyun agar Kyuhyun mengikutinya keluar ruangan tempat Luhan dan Minseok dirawat. Ya, Minseok berhasil mereka selamatkan—atau lebih tepatnya, yeoja itu kembali beberapa waktu setelah Luhan pingsan sambil menggenggam tangan kirinya. Ia terbangun sehari setelah ia lolos dari malaikat maut dengan keadaan tidak tau apapun, ia kembali sebagai orang baru yang tidak ingat siapa dirinya—keluarganya dan siapa namja yang menggenggam tangannya erat. Minseok menerima apapun yang Lay katakan sebagai sumber jati dirinya untuk mengenal orang-orang yang menemuinya.
" bagaimana ini bisa terjadi?"
" tenanglah—tidak ada hal gawat di otaknya—"
" bagaimana dia segila itu dengan tidak mengingat apapun?"
Zhoumi tersenyum, ia menepuk pundak Kyuhyun.
" inilah takdir Tuhan, secara logis orang yang sudah dinyatakan meninggal hingga 2 kali tidak akan hidup lagi. Mungkin Tuhan memberikan kesempatan Minseok dan Luhan untuk membangun kembali kehidupan mereka, sama seperti yang Minseok inginkan sebelum ia dinyatakan meninggal. Kaupun mendengarnya bukan?"
Kyuhyun mengangguk.
" bagaimana dengan Luhan?"
" dia akan mengembalikan cinta itu bersama dengan Minseok. Kita tidak begitu tau sisi kehidupan mereka sebelumnya, jadi tidak ada salahnya untuk melihat mereka merajut kembali sisi kehidupan yang tidak kita lihat—aku yakin, Luhanpun akan setuju dengan itu"
Setelah memberikan tepukan berarti pada Kyuhyun, Zhoumi kembali bertugas untuk pasien lain yang menjadi tanggungjawabnya dan tanggungjawab Luhan.
Kyuhyun masuk ke dalam ruangan di mana Minseok sedang tertawa dengan apa yang Henry katakan tentang bagaimana Luhan memohon padanya untuk memberinya ijin mengejar Minseok.
" dia adalah namja bodoh yang tergila-gila pada putri kesayanganku—"
Tambah Kyuhyun.
Kyuhyun mengusap rambut Minseok dengan perlahan, sedangkan Minseok menoleh sekilas pada tangannya yang digenggam erat oleh Luhan. Tangan dengan sebuah cincin yang sama dengan miliknya menyusup di jari manisnya.
" yang harus kau ingat adalah apa yang ku katakan tadi—"
" jadi kami sudah menikah?"
Henry mengangguk semangat.
" dia menikah denganmu saat kau koma, dan ia merencanakan akan menggelar resepsinya setelah kau sadar dan siap untuk bersamanya—"
" gege ini sangat mencintaiku?"
" ya, dia orang bodoh yang tidak bisa melepaskan tangannya untukmu—"
Minseok mempoutkan bibirnya mengarah pada Kyuhyun.
" papa, kau jahat sekali—diakan menantu papa"
Protes Minseok.
Kyuhyun sedikit kaget dan beberapa waktu kemudian pipinya sudah banjir dengan air mata, ia memeluk Minseok dan terisak sambil mengusap punggung anaknya.
" papa? Kenapa papa menangis? Mama?"
Sungmin tersenyum dan mengangguk.
" papamu begitu menyayangimu—dia hanya iri pada Luhan karena mendapatkan perhatian dari anaknya begitu banyak"
" benarkah?"
Baik Sungmin atau Kyuhyun mengangguk.
" papa, Minseok akan tetap menyayangi papa meskipun sudah menikah—papa jangan khawatir"
Henry tersenyum melihat bagaimana keluarga Xue / Cho saling menguatkan. Perlahan ia mendekati anaknya yang kini sudah mengenakan pakaian pasien dengan bagian kanan tangannya harus disobek—bagaimana tidak? Luhan sama sekali tidak melepaskan tangan Minseok.
Suasana senja begitu menyenangkan, Minseok menatap ke arah jendela dimana ia bisa melihat lagit sore dengan pancaran warna orange dan merah yang bercampur menutupi kota Beijing. Di samping kirinya Luhan masih setia dengan tidur lelapnya, Minseok memiringkan wajahnya mencoba mendekatkan kepalanya untuk semakin dekat dengan wajah tampan Luhan. Ya, Luhan terlihat begitu tampan di matanya, jantungnya selalu berdebar saat membayangkan kelopak mata Luhan terbuka dan menampilkan manik hitam seperti yang ia lihat dari phonsel Lay.
" Minseok—andwe—andwe—kajima! Kajima!"
Igauan Luhan membuat Minseok kaget.
Suara Luhan tak sedikitpun terasa asing di telinganya, ia tersenyum saat merasakan kehangatan dari igauan Luhan. Minseok menoleh ke arah tangannya yang digenggam begitu erat, sedikit berayun kala sang namja begerak resah dengan keringat yang mulai membasahi tubuhnya. Tangan bebas Minseok meraih sedikit tissue yang berada di atas nakas ranjang rawat yang mereka gunakan. Perlahan mengusap lembut keringat yang membanjiri wajah Luhan.
" sssttt—aku disini—aku tidak kemana-mana, tidurlah dengan tenang"
Bisik Minseok.
Bisikan itu memberikan efek begitu dalam di alam bawah sadar Luhan, gerakan namja itu melambat dan perlahan terlihat bagaimana dadanya kembang-kempis secara teratur. Wajah sarat dengan ekspresi kekhawatiran dan kehilangan itu perlahan berubah seiring berjalannya waktu. Begitu tenang dengan sedikit senyuman yang membuat wajah itu begitu bercahaya.
" mereka bilang, kau yang membuatku kembali—mereka bilang karena Tuhan begitu menyayangimu sehingga aku dikirim kembali untuk menemanimu. Mereka banyak mengatakan tentang dirimu, apa karena kau begitu special untuk Tuhan sehingga dia mendengarkan doamu?"
Minseok memperhatikan wajah damai Luhan.
Entah dorongan dari mana, hingga Minseok mencium bibir Luhan lama. Hanya menempel, namun cukup berefek pada Minseok yang langsung terduduk sambil memegangi bibirnya dengan tangan yang masih dalam genggaman Luhan.
" kenapa aku menciumnya?! Tidak boleh!"
Minseok menggeleng imut.
" tapi bukankah dia suamiku? Tidak apakan aku menciumnya?"
Guman Minseok.
" –tapi aku tidak mengingatnya—kecuali tubuhku yang amat familiar padanya"
Minseok berperang dengan dirinya sendiri dengan manisnya dimata Kyuhyun yang sedari tadi melihat aksi putrinya. Sebelumnya ia memang tidur di sofa untuk menemani Minseok dan Luhan yang tertidur, dan karena mendengar igauan Luhan ia terbangun. Semula ia ingin mendekati Luhan, namun saat mendengar suara lembut Minseok ia mengurungkan niatnya. Kyuhyun tersenyum, melihat bagaimana Minseok merencanakan perkenalannya pada Luhan dengan ekspresi lucu membuat Kyuhyun harus menahan hasra tnya untuk tidak menimpali Minseok dengan godaan iblis yang biasanya ia lakukan.
" Minseok—"
Suara lirih Luhan membuat Minseok menutup mulutnya dan menoleh pada Luhan yang sepertinya sedang berusaha menyesuaikan cahaya yang tiba-tiba masuk di matanya. Setelah terlihat sadar sepenuhnya wajah damai itu berubah—
" MINSEOK!"
Luhan langsung bangkit dari tidurnya, cepat-cepat ia menyibak selimut yang menutup tubuhnya tanpa memperdulikan Minseok yang menatapnya kaget dan bingung dalam satu pandangan.
Luhan segera berdiri dengan tanpa sadar menarik Minseok juga untuk ikut berdiri, hingga langkah terburu-buru Luhan terhenti saat merasakan tangan kanannya menarik dan menggenggam erat tangan seseorang. Luhan ingat dengan jelas sebelumnya ia menggenggam tangan Minseok—perlahan ia membalik tubuhnya. Sebuah kedipan mata bingung dengan sedikit rintihan karena harus bertarikan dengan selang infuse di salah satu tangan membuat Luhan membulatkan matanya.
" Min—seok?"
Yeoja itu mengangguk.
Minseok sedikit membungkuk menandakan ia menghormati Luhan.
" anyeong—Minseok imnida"
" Minseok? Kau kah itu?"
Minseok mengangguk, entah mengapa melihat pancaran warna manik kehitaman itu membuatnya merasakan luapan emosinya yang ia tidak tau dari mana. Air mata itu dengan mudahnya membanjiri pipi putih pucat yang terlihat begitu tirus.
" seseorang mengatakan agar aku menagih janji untuk kau menepatinya…"
" Minseok—"
" aku tidak tau bagaimana aku harus mengendalikan perasaan yang tiba-tiba memuncak ini—"
" Min—"
" mereka bilang—aku lupa ingatan. Mereka bilang karena kau begitu mencintaiku aku kembali padamu—mereka bilang, kau adalah suami yang sangat aku cintai"
'BRUKK'
Luhan sedikit limbung, ia terjatuh di lantai. Tenaganya belum pulih sepenuhnya hingga ia tidak bisa menjaga keseimbangan dirinya.
" Minseok?"
Luhan kenal dengan perasaan lama yang menyusup kala Minseok menyentuhnya, Minseok berusaha membantunya. Bahkan yeoja itu tidak mengindahkan tangannya yang sakit setelah melepas dengan paksa jarum infuse untuk menangkap Luhan. Yang ada di hatinya hanyalah keinginan untuk memeluk namja yang kini memeluknya erat. Namja itu telah melepaskan tangan Minseok.
" gomawo—gomawo"
Bisik Luhan berulang-ulang.
.
.
.
Sehun mendorong kursi roda untuk Tao saat mereka memasuki khawasan sekolah.
" kau tau, kemarin adalah hal yang paling indah untukku—"
" ya, kalian menginap di Tokyo selama hampir 2 minggu. Kau sudah menceritakannya padaku di telephone berulang-ulang"
Tao mempoutkan bibirnya.
" Tao—"
" ne?"
Tao sedikit menoleh pada Sehun.
" bagaimana perasaanmu berkencan dengan Kris-ssi?"
" eh?"
" apa saja yang dia lakukan padamu?"
Tao kembali duduk dengan tenang membiarkan Sehun mendorong kursi rodanya.
" gege itu—seorang atasan yang jahat. Baik itu dengan Tao atau siapapun, sekarang-sekarang ini saja yang dia terlihat begitu tenang. Tapi sebenarnya dia hanya ingin melindungi kami—diluar kepolisian, dia adalah orang yang baik hati dan menuruti apapun yang Tao minta. Asalkan itu wajar dan logis dia tidak akan protes, orang yang membuat Tao merasa tenang adalah gege. Jika gege ada disampingku, bahaya apapun bisa aku lewati—"
" maksudmu?"
" yah, misalnya saat ada di kapal pembajakan itu. Aku sebenarnya orang yang penakut meski kekuatan fisikku di atas rata-rata yeoja lain, aku berkelahi dan menjadi liar karena ada gege disana. Jika aku keterlaluan dan berubah menjadi benar-benar liar gege akan datang padaku dan menyadarkanku, jika aku kesakitan dia akan datang menolongku. Meski aku tau itu tidak akan terjadi jika kami sama-sama terdesak, namun setidaknya aku merasakan aman jika memikirkan itu. Karena Kris gege adalah tempat paling aman untukku kecuali papa"
Sehun mencoba mencerna kata-kata Tao.
" walau bagaimanapun aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti Kris-ssi"
Tao menoleh.
" wae?"
" aku ingin melindungi Kyungsoo, tapi aku tidak mungkin bisa menjadi seperti Luhan atau Kris—"
" karena Sehun adalah Oh Sehun. Jika Kyungie-jie ingin dilindungi oleh Sehun seperti Luhan-ge dan Kris gege, Kyungie-jie pasti akan berlari ke mereka. Tapi, Kyungi-jie hanya ingin Hunnie yang melindunginya—dengan cara apapun, asalkan itu Hunnie dia akan menerimannya. Ia percaya, jika Hunnie akan melakukan apapun untuk melindunginya sama seperti dia yang akan melakukan apapun untuk melindugi dan membahagiakan Hunnie. Eumm sama juga seperti Tao yang ingin melakukan apapun untuk Kris gege agar dia bahagia dan terlindungi"
Sehun menatap Tao.
" benarkah?"
Tao mengangguk.
" sama seperti Tao yang ingin selalu dilindungi dan melindungi Kris gege. Apapun yang akan terjadi asalkan bersama Kris gege, Tao akan menikmatinya"
Mengangguk tanda mengerti Sehun meneruskan langkahnya.
" kau sudah dengar? Katanya noona sudah sadar dari komanya setelah sempat meninggal beberapa menit"
Tao mengangguk.
" aku yakin, itu karena Lulu-gege"
" wae?"
Tao tersenyum.
" saat aku operasi aku melihat Minseok-jie berdiri disamping Lu-ge, ia terus ada di samping Lu-ge"
" bagaimana mungkin?"
Tao tersenyum lagi sambil mengangguk-angguk kecil.
" pernah dengar cerita tentang orang koma yang akan berada di dekat orang yang ia cintai? Meski sebentar aku bisa melihatnya, karna Tao juga selalu dekat-dekat dengan papa dan Kris gege"
Suasana ruang kelas begitu ramai setelah Tao datang, murid-murid namja menggoda Tao dan membuat yeoja itu tidak pernah mau diam. Bersama Sehun, Sungjin dkk membuat Tao tidak ubahnya sebuah boneka panda yang berteriak-teriak, meski saat Tao mulai bergerak berlebihan Sehun akan membantu menenangkan bayi panda itu.
.
.
Hari libur setelah ujian semester Tao manfatkan untuk kembali ke cina, setelah menemui Hangeng ia pamit pergi ke rumah sakit.
" jie jie"
Bisik Tao saat melihat Minseok sedang menjalani terapi untuk melancarkan sistem geraknya. Lay yang melihat Tao langsung mendekati yeoja manis dengan jaket pandanya.
" senang melihatmu, baby"
" aku juga"
Tao memeluk Lay antusias.
" kau sendiri? Mana Kris?"
" gege akan pulang 3 atau 4 hari lagi, investigasi di Korea itu cukup mengerikan jie"
Mendengar komentar Tao, Lay terkekeh.
Beberapa kali mereka melihat Minseok jatuh bangun saat mencoba berjalan lebih dari 6 atau 10 langkah, dengan di bantu para perawat Minseok kembali bangkit.
" jiejie, apa benar yang papa katakan tentang Minseok-jie?"
" itu benar, baby. Kami semua disini sepakat memulai lembaran baru tentanng Minseok-ssi, kami berkenalan satu persatu sebagai orang baru—kecuali pihak keluarga"
" Lu-ge?"
" dia—dia masih dalam perawatan, daya tahan tubuhnya benar-benar turun drastic. Tapi—aku yakin jika Minseok masih dalam koma, tidak akan ada yang tau bagaimana dokter Xi menahan tubuhnya seperti tidak perah ada yang terjadi. Ketahanan tubuhnya mungkin teralihkan dengan konsentrasi namja itu pada Minseok-ssi, dan karena saat ini Minseok-ssi sudah berangsur-angsur membaik ketahanan tubuh itu mulai beraksi menunjukkan kelemahannya. Pada ahirnya dokter Xi harus rela tertidur hingga 7 hari dan menjalani perawatan lebih dari sebulan jika ia tidak rewel"
Tao mengangguk-angguk.
Setelah lama, perawat yang menjaga Minseok membawa Minseok dengan kursi roda untuk mendekati Lay dan Tao. Mereka menyerahkan catatan kepada Lay sebelum meninggalkan Minseok bersama dengan Lay dan Tao.
" cukup lumayan, sudah naik 7-8 langkah—"
" aku akan berusaha"
Minseok tersenyum penuh dengan semangat, ia menoleh pada Tao. Ia menunjuk Tao yang ada di samping Lay membuat Lay sedikit kaget.
" apa dia adalah Huang Zitao?"
" ne! jiejie mengenalku?"
Minseok menggeleng.
" aku tidak sengaja melihat fotomu di dompet inspektur Kris kemarin, saat aku tanya siapa—dia menjawab calon istrinya"
Jawaban Minseok membuat rona wajah Tao mulai memerah.
Lay terkekeh, ia ikut menggoda Tao bersama Minseok sambil berjalan mendorong kursi roda Minseok. Mereka kembali ke kamar rawat Minseok, disana Luhan sedang tertidur dengan Henry yang mengusap keringatnya.
" Oh, Tao? Kau sudah mendingan?"
Tao mengangguk.
" Tao sudah bisa bertugas lagi kok"
Henry mengangguk.
" Lu-ge?"
" papanya tadi memberinya obat tidur, sepertinya ia benar-benar tidak bisa dikendalikan meski sedang sakit. Dia mencari Minseok—dan tidak percaya dengan kata-kata jika Minseok sedang terapi, anak ini—"
Henry mencium kening Luhan penuh kelembutan.
" bagaimana dengan Seokie, Lay?"
" seperti yang mama lihat, dia sudah sedikit demi sedikit bisa berjalan"
" aku ingin melakukan segala hal untuk Lulu, aku ingin secepatnya merawat dia"
Ucap Minseok sambil menoleh ke arah Luhan yang tertidur dengan damai.
Henry tersenyum manis, melihat menantunya menatap Luhan begitu tulus dan damai membuat Henry yakin jika Tuhan benar-benar memberinya kesempatan untuk tetap bersama Luhan. Henry tidak bisa membayangkan jika Minseok tidak kembali, Henry tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Luhan. Anaknya itu bisa saja menyuntik mati dirinya sendiri atau entahlah, yang ada di pikiran Henry adalah bayangan-bayangan mengerikan tentang apa yang akan Luhan lakukan. Henry mengajak Tao ngobrol tentang keadaan orang-orang yang ada di Seoul.
" sepertinya Tao harus memberitahu jika Kyungie-jie sedang mengandung—"
" memang kenapa? Benarkah dia mengandung?"
Tao mengangguk.
" Tao bisa melihatnya dalam sekali lihat dan merasakan tangan Kyungie-jie—"
Lay duduk di samping Tao.
" jangan bilang kau punya indra perasa yang sempurna seperti dokter Luhan?"
Tanya Lay.
Tao mengangguk—
" memang—sekali sentuh Tao bisa tau apa yang berbeda dari seseorang, makannya Tao jarang sekali mau bersentuhan dengan orang yang tidak dekat dengan Tao"
Lay mengangguk-angguk.
Yeoja itu ingat awal-awal ia bertemu dengan Tao, memang benar Tao hanya mendekatinya beberapa kali setelah itu ia tidak menyentuh Lay hingga kejadian yang membuat Kris dan Tao bertengkar hebat mendekatkan Lay dan Tao.
" tunggu! Jadi—alasan Tao menyelamatkan dan melindungi Dio-ssi saat itu karena kau tau dia yeoja?"
Tao menggeleng,
" karena Kyungie-jie sedang mengandung—"
" Mwo?! Jadi alasan kau merengek pada Kris adalah—"
" ne, aku ingin minta maaf pada Kyungie-jie karena tidak bisa menjaga babynya"
Jawab Tao.
" maksud dari indra perasa sempurna itu apa?"
Lay menoleh pada Minseok.
" yaitu seseorang yang bisa merasakan keadaan fisik sebenarnya dari seseorang hanya dengan menyentuh atau melihat. Biasanya banyak dimiliki oleh dokter hebat atau dokter-dokter tradisional cina. Dokter Luhan adalah salah satunya, jadi dengan bantuannya banyak operasi sulit bisa teratasi dengan baik dan cepat karena tidak harus menunggu hasil CT-scan yang kadang memerlukan waktu berhari-hari"
" oh—"
" lalu—coba kau lihat Luhan, apa dia mengalami sesuatu yang aneh?"
Ucap Henry penasaran.
Tao menoleh dan mendekat ke arah Luhan. Setelah menyentuh tangan Luhan ia tersenyum sambil menggeleng.
" Luhan gege hanya benar-benar kehabisan tenaganya—harusnya dia berada di rumah sakit lebih lama"
" benarkah? Kalau begitu aku akan mengatakannya pada Zhoumi nanti"
Tao terkekeh.
.
.
.
" Yeolieeeee!"
Chen berteriak keras saat melihat bagaimana ruang tamu berantakan dengan kuas dan cat air yang bertebaran.
" ada apa sayang?"
Chanyeol datang dengan wajah tidak berdosa sambil menggendong Daeyeol yang berlumuran cat.
" Oh Tuhan! Park Chanyeol!"
" Yaa! Kenapa kau memukulku?"
Protes Chanyeol saat mendapati Chen memukul kepalanya gemas sebelum meraih Daeyeol ke gendongannya. Chen menatap kesal pada Chanyeol—
" ais, kau benar-benar membuatku kesal! Sekarang mana Hyunchan?!"
" OH?! Aku melupakan anak itu!"
Chanyeol langsung berlari ke mana-mana untuk mencari seorang namja mungil berumur kurang lebih 2 tahun. Namja itu muncul dari balik pintu dengan wajah dan tubuh yang tidak jauh beda dengan Daeyeol. Chen menghela nafas, ia mendekati Hyunchan yang tersenyum ke arahnya. Ya sudah satu bulan ini Hyunchan tinggal di rumahnya bersama dengan Daeyeol. Kai sedang sibuk tour ke luar negeri untuk film bersama Baekhyun dan Daehyun, niat awal Kai akan membawa Hyunchan namun karena Heechul mengatakan akan merepotkan dan kasian pada Hyunchan maka dengan terpaksa Kai menitipkan Hyunchan di rumah Chanyeol.
" aigo~Hyunie kau benar-benar"
" eoma—"
" kajja kita tinggalkan appa Daeyeol, kita mandi"
Hyunchan mengangguk mengikuti Chen.
Setelah membersihkan dua balita itu Chen membawa mereka ke kamar dan mendandani mereka. Chen terlihat begitu telaten dan perhatian pada dua malaikat kecil yang begitu menatapnya begitu imut. Terlebih saat melihat Hyunchan selalu berusaha mendekati Daeyeol yang sedikit-sedikit ngambek atau apa.
" eomaa Dael yeppoh"
Puji Hyunchan.
" hehehe benarkah?"
Hyunchan mengangguk semangat. Sedangkan Dayeol langsung mencium pipi Hyunchan yang membuat namja mungil itu tersenyum senang.
" aigo~ kecil-kecil sudah genit eoh?"
Goda Chen pada anaknya. Daeyeol tersenyum malu-malu saat Hyunchan membalas mencium pipinya dan menggenggam tangannya sambil menunggu Chen selesai merapikan baju Hyunchan.
" CHEN! AKU TIDAK BISA MENEMUKAN HYUNCHAN! EOTHOKKE?!"
Chen menoleh pada namja yang berlari ke arahnya.
" EH?"
" Wae?! Kau ini benar-benar—sekarang kau bereskan ruang tamu sebelum aku membunuhmu!"
" Daeyeol! Hyunchan! Tolong appa!"
Teriak Chanyeol.
Hyunchan dan Daeyeol meringis kepada Chen yang menggeleng saat ingin berlari ke arah Chanyeol.
" waktunya makan siang, oke?"
" Hyun tidak mau wotel!"
" Ceti jujja"
Chen terkekeh. Keduanya memang belum lancar berbicara, hanya saja ia sudah bisa memahami apa yang mereka bicarakan lebih baik dari Chanyeol yang kadang justru membuat anaknya menangis karena salah mengerti maksud dari keinginan anaknya.
Lama Chanyeol kembali ke meja makan setelah membersihkan semua kekacauan yang ia dan 2 anak itu buat, Chen tersenyum memberikan sepiring makanan kesukaannya.
" kau memang istri yang pengertian"
" hus! Cepat makan, lihat anak-anakmu memperhatikanmu!"
" biarin"
Chanyeol mencium Chen yang langsung menjitak kepala Chanyeol.
" wae?"
" pantas saja anakmu jadi genit! Sudah sana! Aku harus menyiapkan susu untuk mereka"
Ahirnya Chanyeol menyerah dan duduk di depan Hyunchan yang asik memilah makanan bersama dengan Daeyeol.
" Yeol baby—ayo makan sayurannya"
" Ceti tida mau"
" Daeyeol eoma! Anakmu tidak mau makan sayuran!"
Adu Chanyeol.
" aiss—appa jahat!"
Gerutu Daeyeol dan Hyunchan imut. Pasalnya, mereka pasti akan menghabiskan makanan mereka jika Chen ada disana. Chanyeol tersenyum menang melihat anak-anak di hadapannya mencampur lagi makanan yang telah mereka pilah-pilah.
" Dae eoma—kapan Minseok akan kembali?"
Chen datang dengan 2 botol susu, ia menerima suapan dari Chanyeol sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
" mungkin 1 atau 2 bulan lagi, dia harus terapi dan juga Lu-ge—dia masih harus dirawat 2 bulan lagi untuk memulihkan tenaganya"
" wae?"
" kau lupa bagaimana dia memfosir dirinya saat Minseok eoni sakit? Nah saat melihat eoni meninggal ia pingsan sambil menggenggam tangan eoni erat. Hingga seminggu mereka tidak bisa melepaskan genggaman tangan Lu-ge…"
" ah iya, aku lupa bagaimana seorang Xi Luhan"
Chanyeol mengangguk-angguk sambil memakan makan siangnya.
" bagaimana jika sekarang kita main?"
" kemana?"
" taman bermain? Berhubung Daeyeol sudah cantik dan Hyunchan sudah begitu tampan..bagaimana?"
Chen sedikit berpikir.
" baiklah—"
" YESS!"
Melihat suaminya kegirangan seperti anak kecil Chen terkekeh, ahirnya ia mengganti pakaian sebelum mengikuti apa kemauan Chanyeol.
Liburan keluarga pertama yang Chen rasakan bersama dengan Chanyeol dan Daeyeol, tidak lupa dengan namja cilik bermata biru yang selalu tersenyum mengumbar kebahagiaan untuk Chen. Ya kini baginya Hyunchan adalah anaknya sendiri, ia tersenyum menggandeng Hyunchan yang begitu suka berdekatan dengannya dan membiarkan Chanyeol menggendong Daeyeol. Mereka menikmati hari dengan memainkan berbagai wahana.
" aku senang melihatmu tersenyum seperti ini—"
Ucap Chanyeol saat mereka menaiki komidi putar.
" wae?"
" kau terlihat lebih manis dari pada kau harus mengurung diri—"
Chen tersenyum, ia mencium Chanyeol yang langsung di tanggapi oleh namja tampan itu dengan balasan yang cukup membuatnya hampir menelanjangi Chen di depan dua malaikat yang sedang menatap keduanya polos.
" cepeltinya eoma dan appa mau bikin dedek bayi lagi—"
" Ceti mau yang kayak balbie"
" Hyun mau kayak dolaemon!"
Celotehan manis dari dua anak itu membuat Chanyeol melepaskan ciumannya pada Chen, ia terkekeh mendengar bagaimana Hyunchan dan Daeyeol memimpikan dongsaeng versi mereka sendiri-sendiri.
" kau benar-benar ingin membunuhku?"
" hehehe—"
Bertampang tidak berdosa Chanyeol terkekeh,
" Daeyeol, Hyunchan—bagaimana kalau main di rumah nenek Kim hari ini?"
" EH? Wae?"
Tanya Chen.
" tentu saja melanjutkan acara kita"
Wajah Chen memerah, ia cukup tau apa yang ada di otak mesum milik suaminya. Ajakan Chanyeol membuat dua bocah manis itu girang, ia sedikit mencubit lengan Chanyeol yang melingkar manja di pinggangnya. Dua jam berlalu, Chanyeol mengajak kedua anaknya untuk pergi ke rumah Chen. yesung tersenyum senang melihat Daeyeol dan Hyunchan berlarian menuju ke arahnya. Ya, keluarga Chen dan Chanyeol sudah menganggap Hyunchan sebagai bagian dari keluarga mereka, mengingat semua yang telah terjadi pada namja mungil yang tidak tau apa-apa itu. Yesung langsung menggeleng saat Chanyeol menarik Chen menjauh dari ke dua anaknya.
" tsk, anak muda"
Guman Yesung.
Chanyeol tersenyum memeluk Chen erat.
" Ya! Kau apa-apaan?"
" aku benar-benar merasa senang hari ini, melihat kau tersenyum begitu bahagia bersama mereka—"
Chen terdiam, ia mengangguk.
" aku mencintaimu Chen…"
" aku bosan mendengarnya"
Seringai Chanyeol mengembang.
" aku tau apa yang tidak membosankan"
Jawab Chanyeol semangat.
Chen membalik badannya menatap namja yang kini mempererat kedekatan mereka.
" mwoya?"
Mendengar bisikan dari Chanyeol wajah Chen langsung memerah, ia sedikit memukul dada Chanyeol beberapa kali sebelum hanyut ke dalam ciuman maut suaminya.
" aku mencintaimu, Park Jongdae"
" nado—"
Keduanya menikmati ciuman demi ciuman hingga ketaraf lanjut, menyatukan perasaan mereka yang selalu dan selamanya akan ada dalam diri mereka.
.
.
.
Baekhyun tersenyum sedikit melambai pada Daehyun yang meninggalkan lokasi perskonfres.
" huh—aku menyukai negara ini"
Guman Baekhyun.
Yeoja itu berjalan-jalan menelusuri kota Paris, menikmati pemandangan indah di sebuah tempat di samping menara yang terkenal dengan keanekaragaman moment romantic pasangan di Paris. Tersenyum sambil menikmati sebuah jajanan khas kota paris dengan gemerlapnya lampu di bawah menara pencakar langit.
" tidak naik?"
Baekhyun menoleh, Kai duduk di sampingnya. Namja berkulit tan itu mengenakan stelan coklat dan scraff yang melilit lehernya.
" kau?"
Kai menggeleng.
" bagiku, taman ini adalah yang terindah dari kota Paris"
Baekhyun terkekeh.
" sama—"
Keduanya menikmati bersama dengan jarak yang cukup untuk duduk 2 orang tambahan.
" Baekhyun—"
" ne?"
" bagaimana jika aku tidak bisa melupakanmu?"
Pertanyaan dari Kai membuat Baekhyun menatap namja yang kini menatapnya dengan tatapan bingung.
" setiap detikku ada dirimu, setiap tempat yang aku datangi ada dirimu—bagaimana jika aku tidak bisa melupakan semua itu? Bahkan anakku—dia sama seperti dirimu. Apa yang harus aku lakukan?"
Terdengar nada putus asa dari nada bicara Kai.
Baekhyun mendekat, hampir 2 tahun ia bersama dengan Kai. Bagaimana dia tidak mengetahui keputus asaan Kai? hampir setiap waktunya Kai selalu perhatian padanya melebihi perhatian pada diri Kai sendiri. Baekhyun tersenyum.
" mungkin saatnya kau harus melupakan dia—"
" aku terus mencoba—"
" dan menggantikannya denganku—"
Kai menoleh ke arah Baekhyun, ia memiringkan kepalanya mencoba untuk memastikan pendengarannya tidak salah mendengar apa yang barusan Baekhyun katakan.
" aku ingin menjadi satu-satunya Baekhyun yang Kai pikirkan, aku ingin selalu menjadi Baekhyun yang ada di setiap hari Kai…eothokke? Selama 2 tahun ini, aku cukup untuk menjadi orang bodoh yang memanfaatkan kenanganmu dengan orang yang mirip denganku. Kini aku ingin kau membuat kenangan baru dengan ku—"
" Baekhyun?"
" ini aku—"
Baekhyun tersenyum setelah mencium bibir Kai sekilas.
" aku mulai mencintaimu, Kim Jongin"
" Baekhyunie—"
Kai memeluk Baekhyun erat.
Menyalurkan semua kenangan, menyalurkan semua perasaan yang 2 tahun tertahan hanya ada di pikiran dan hatinya. Pertama kali ia menangis di depan yeoja lain kecuali Dio, yaitu saat ini. Saat ia bersama dengan Baekhyun yang menerima cintanya.
" aku tidak akan mengecewakanmu"
" aku akan memastikannya"
" bolehkah aku mengatakan aku mencintaimu?"
Baekhyun mengangguk lemah.
" Byun Baekhyun, aku mencintaimu"
" nado"
Festival kembang api di sekitaran taman membuat keindahan itu semakin terasa. Berbalutkan cahaya lampu dan kembang api mereka larut dalam cinta dan kerinduan yang selama ini tertahankan. Tidak lagi ada ego, tidak lagi ada pertimbangan. Jika itu untuk saling mencintai, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Baekhyun menenggelamkan tubuhnya di pelukan Kai, pelukan hangat seseorang yang amat mencintainya. Siapapun Baekhyun—ia mencintainya dengan setulus hati. Baekhyun tersenyum mendapati detak jantung Kai begitu terasa kala ia memeluknya, yeoja itu tidak berhenti menutup matanya kala merasakan bibirnya bertemu dengan bibir lain yang memberikannya godaan untuk berbuat lebih dan lebih.
" aku mencintaimu Byun Baekhyun"
Bisik Kai.
.
.
.
Dio tersenyum menyiapkan sarapan bersama dengan Tao yang kebetulan menginap di rumahnya. Ya sudah sejak beberapa hari setelah Sehun masuk kamp militer, Tao tinggal bersama dengan Dio di rumah keluarga kecil itu.
" jiejie ini—"
Tao memberikan sebuah kado, tidak terlalu besar namun memakan tempat yang cukup di ruang kecil dapur Dio.
" apa ini?"
" buka saja—aku yakin jiejie akan suka!"
Tao tersenyum melihat ekspresi Dio yang bingung dengan kado yang ia berikan.
" itu hadiah dari Tao, kemarin pas pesta kelulusan Tao jiejie memberikan gaun yang cantik jadi Tao sengaja beli peralatan bayi mungil, cantikkan?"
Dio mengangguk.
" tapi—apa ini tidak terlalu pagi? Aku tidak ingin Sehun salah paham lagi—"
" salah paham?"
Dio duduk di samping Tao, wajah Dio tertekuk penuh dengan penyesalan dan kekhawatiran.
" saat kau tertusuk, Luhan-ssi tidak mengijinkanku untuk mendonorkan darah atau ginjal untukmu karena kasihan pada bayiku—Sehun menganggap itu serius dan mengajakku ke dokter. Hasil USG, tidak mengatakan apapun tentang kehamilan. Aku tidak mau membuat Sehun kecewa lagi—dan melihat peralatan imut-imut ini mungkin aku akan menyimpannya di tempat yang tidak akan Sehun ketahui…"
Tao mengerjapkan matanya.
" tapi Tao tidak salah—"
" aku berterima kasih atas perhatianmu, tapi mianhe"
Tao menghela nafas, ia menatap Dio sedikit kesal.
" ikut Tao!"
" eh? Kemana?"
Dio bingung dengan kelakuan Tao yang langsung menariknya pergi dari rumah. Dio mengerjapkan matanya saat bertemu dengan Wookie di ruangannya.
" ada apa Tao-er? Kyungie?"
Dio menggeleng.
" Tao tidak mungkin salah! Ajumma, periksa Jiejie dan katakan hasilnya pada Tao sekarang!"
" EH?"
" tsk, kau ini memang—sifatmu mirip sekali Heechul eoni yang tukang paksa. Baiklah, Kyungie kajja ikut denganku. Tao tidak akan membawamu pergi dari sini kecuali dia mendapatkan apa yang dia inginkan"
Tao tersenyum.
Sambil menunggu, Tao berjalan-jalan di lingkungan rumah sakit.
" kau yakin tidak ada keluarga yang mengambil abunya?"
Tao menoleh pada ruang kremasi, 2 orang perawat sedang sibuk menata beberapa abu mayat yang telah di kremasi dan di bakar.
" kasihan sekali nyonya Zian. Dia benar-benar orang baik, kau dengar ia memberikan semua organ tubuh miliknya yang sehat pada orang-orang yang membutuhka?"
" ya, aku ingat dia menangis di hadapan dokter Jongwoon agar ia bisa memberikan ginjalnya untuk korban penikaman. Kalau tidak salah Huang Zi Tao nama pasiennya, sayang sekali ke dua ginjalnya tidak bisa menolongnya. Kanker sudah menyebar ke ginjalnya.."
Mata Tao terbelalak.
" a—apa maksud kalian? Siapa yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk Huang Zitao?"
Kedua perawat itu kaget melihat Tao sedikit membentaknya.
" noona?"
" KATAKAN PADAKU SIAPA YANG INGIN MENDONORKAN GINJALNYA UNTUK HUANG ZI TAO!"
Pekik Tao.
" Zui Zian Ahn. Dia adalah pasien dokter Jongwoon, seorang penderita leukemia dan kanker sumsum tulang belakang. Seorang yeoja dari cina—tunggu siapa anda?"
Tao menangis—
" aku—aku—aku anaknya—"
" jeongmal? Apa kau kesini untuk mengambil abu ini?"
Tao menatap ke arah kotakan yang ada di dalam selembar kain penutupnya.
" apa ini—"
" dia meninggal setelah 2 hari Huang Zitao di operasi. Keadaan Zian-ssi memang tidak memungkinkan untuk hidup, terlebih melihat ia tidak terlihat seperti orang sakit"
Memeluk kotak itu dengan erat, Tao berlari. Ia berlari mencari seseorang yang ia ketahui bisa memberikan semuanya. Tidak lama ia mendapati Yesung berjalan ke arahnya.
" Tao?"
" wae? Kenapa ajussi tidak mengatakan pada Tao jika mama sakit?! Kenapa tidak ada yang mengatakan pada Tao jika mama Tao sekarat!"
Yesung menghela nafas, ia membimbing Tao untuk duduk di bangku pengunjung. Ia mengusap pelan punggung Tao.
" Zian tidak ingin kau atau Hangeng mengetahuinya, dia tidak ingin kalian menghawatirkannya. Hangengpun sama sepertimu saat aku mengabari jika Zian telah meninggal dengan keadaan seperti itu, aku sebagai dokter tidak bisa melawannya, dia memaksa akan menghentikan pengobatan jika aku memberitahu kalian. Sejujurnya ia sangat ingin bertemu dan memeluk kalian, setelah kejadian yang membuatnya mendekam di penjara ia menyadari penyakitnya itu. Ia mencoba selamanya menjauh dari kalian berdua, dengan harapan saat ia kembali kalian hanya tau jika ia sehat dan bahagia. Zian menitipkan putri kecilnya pada Kris sebelum kau terbangun, dia menitipkanmu dengan caranya. Meski ia salah namun ia benar-benar menyayangimu—dia tidak ingin meminta maaf pada kalian, hanya saja ia ingin kalian tau jika tidak ada sedetikpun ia tidak mencintai kalian. Ku harap kau bisa mengerti keadaannya"
" kenapa Tao tidak diberi tau?"
" karena dia tidak ingin Tao menangisinya, dia ingin membuat Tao lebih tegar dari yang bisa ia bayangkan. Ia tidak ingin Tao menangisi karena merindukannya, kau mengerti Tao?"
" mama—"
" dia menyayangimu lebih dari apapun, jadi kau harus mengerti"
" hiks mama—"
Yesung menepuk pundak Tao.
.
.
Kris berlari menelusuri jalanan, ia berlari mendekati Tao dan meninggalkan Onew dan Kibum yang lebih memilih mencari tempat lain untuk menikmati suasana.
" Tao!"
Kris panik saat mendengar jawaban dari Tao, suara Tao parau saat Kris menelfonnya.
" Baby, ada apa?"
" hiks—mama"
" apa dia menyakitimu lagi?"
Tanya Kris langsung berjongkok.
" hiks—mama—dia—dia sudah meninggal—"
" mwo?"
Tao memperlihatkan abu yang sedari tadi ia sebarkan di tebing.
" mama mencintaiku—"
" apa yang kau katakan?"
" dia mencintai Tao dengan caranya sendiri—"
Kris mengerutkan keningnya bingung, ia hanya ikut memeluk Tao yang menceracau mengatakan tentang mamanya.
" oh, jadi dia benar-benar mencintaimu? Harusnya kau senang"
" hiks—tapi dia meninggalkan Tao—"
Kris tersenyum, kali ini ia membawa Tao ke dalam rangkulannya.
" dia meninggalkanmu dengan jiwa yang bersahaja, meskipun kesalahannya mungkin tidak dapat diampuni namun aku yakin Tuhan memberikannya tempat yang indah untuk menunggu kalian—ah! Menunggu kita, Tao—papa Hangeng dan gege—"
" hiks—benarkah?"
Kris mengangguk.
" percayalah.."
Menunggu beberapa lama untuk Tao tenang, menebarkan abu ke air laut dengan memberi seikat bunga. Keduanya duduk menikmati suasana sore.
" gege—"
" hmm?"
" apa gege akan meninggalkan Tao?"
" wae?"
" Tao takut—"
Kris tersenyum sambil memeluk erat Tao.
" gege tidak akan kemana-mana, selamanya akan memeluk Tao seperti ini"
Tao mengangguk.
" gomawo"
Bisik Tao.
Cahaya senja memantul begitu indah di laut, keduanya menikmati keheningan senja dan semilir angin laut dari atas tebing. Tidak begitu curam namun bisa mematikan jika melompat ke dasar. Phonsel Tao bergetar.
.
.
From : Kyungie-jie
Aku—benar, aku positif!
gomawo Tao, mianhe karena
tidak mendengarkanmu..
aku mencintaimu Tao!
.
.
" anak itu seenaknya mengatakan mencintaimu, baby"
" balas saja aku juga mencintainya"
" mwo?! Kau hanya mencintaiku baby! Harus!"
" tapi Tao juga mencintai Kyungie-jiejie"
" tidak boleh!"
.
.
To : Kyungie-jie
Jangan macam-macam atau
aku akan menembak kepala
calon ayah anakmu!
.
.
Kris menyimpan phonsel Tao di sakunya setelah mematikannya. Ia memeluk Tao erat.
" aku mencintaimu, selamanya"
" nado"
.
.
.
Sehun mendesah, sudah 7 bulan sejak ia masuk ke kamp militer ia dikerjai habis-habisan oleh Suho yang ternyata menjadi pelatihnya. Ya ia memutuskan untuk menjalani wajib militer setelah menamatkan SMA nya. Sebenarnya tidak murni wajib militer, Sehun juga menjadi calon anggota kepolisian, hanya saja memang ia di lempar untuk memenuhi kewajibannya sebagai warga negara sebagai awal dari pendidikannya di kepolisian. Hari ini adalah hari minggu, dan sejak 6 bulan yang lalu ia tidak mendapatkan kabar apapun dari istrinya, saat melihat di TV istrinya itu terlihat sedikit gemuk dengan bibir merona saat senyumnya berkembang.
" aku tidak menyukai kau tersenyum untuk orang lain sementara aku disini sengsara tidak melihat senyummu"
Guman Sehun sambil memandangi foto Dio.
" aku juga mengagumi artis itu? Aku adalah fans nya no 1!"
Ucap seorang perwira yang satu barak dengan Sehun, Kim Hyunbin.
" huh, bahkan disinipun aku harus dapat saingan?"
Guman Sehun.
" jangan menyukainya begitu banyak, nanti kau akan sakit hati"
Ucap Hyunbin.
Sehun menoleh dengan malas,
" wae?"
" kabarnya dia sudah memiliki suami, oh! Yeoja imut-imut itu, siapa suaminya? Seperti apa namja beruntung itu?"
Sehun sedikit menyunggingkan senyumnya bermaksud menyombongkan diri, namun ia harus mengurungkannya karena mendengar namanya dipanggil ke tempat sidang bagi anggota yang tidak patuh.
" aku tidak melakukan kesalahan apapun hari ini"
Ucap Sehun saat Hyunbin menatapnya seakan bertanya kesalahan apa yang Sehun lakukan. Dengan malas Sehun melangkah ke ruangan special itu, ia benar-benar lelah karena beberapa hari yang lalu ia juga menjadi bulan-bulanan senior untuk push up setelah Sehun menjawab pertanyaan mereka dengan nada dingin. Sehun menarik knop pintu dan masuk dengan ogah-ogahan.
" PVT Oh Sehun! Siap melapor!"
Ucap Sehun sigap.
" kkekekeke lihatlah suamimu itu Kyung, dia nampak begitu ketakutan padaku"
Mendengar suara kekehan Suho, Sehun memincingkan matanya.
Suho terkekeh sambil menggeleng saat melihat wajah blank Sehun. Telinga Sehun terbiasa untuk mendengarkan kekehan lain yang terdengar begitu lembut dan begitu ia rindukan. Dio berdiri di samping Suho yang kini meninggalkannya sebelum menepuk pundak Sehun dengan mengucapkan kata selamat pergi begitu saja.
" aku senang melihatmu, kau terlihat kurus"
Ucap Dio.
Sehun mendekat,
" aku kira kau sudah melupakanku—"
Dio terkekeh.
" aku membawakan makanan, kajja makan"
Sup rumput laut dengan beberapa makanan lainnya terlihat begitu menggiurkan saat Dio menata rapi di meja. Sehun tersenyum setelah mencium Dio kilat.
" selamat ulang tahun Oh Sehunie"
" kau ingat?"
Dio tersenyum menikmati bagaimana ekspresi Sehun yang sedang asik menyantap makanan yang Dio bawa dengan semangat. Persis seperti orang yang tidak makan beberapa ratus hari. Setelah menghabiskan semuanya Sehun tersenyum ke arah Dio.
" kado untukku?"
Dio mencium bibir Sehun.
" itu saja?"
Perlahan Dio mengeluarkan kado kecil seukuran buku yang ia bawa. Setelah dibuka isinya figura berisikan foto dan tanda tangan Dio. Sehun menggeleng,
" ini mah, kesukaannya Hyunbin. Tidak ada yang lain?"
" memang Hunnie mau apa?"
" kau memaksa Suho hyung untuk mengeluarkanku dari sini agar aku bisa kencan denganmu begitu—"
Dio terkekeh.
" itu tidak mungkin, lagian Hunnie harus giat belajar dan berlatih disini"
" Oh—aku ingin segera pergi dari sini dan mencincang-cincang Suho hyung!"
" huss! Itu juga demi kebaikan Hunnie"
Sehun tersenyum. Ia membantu Dio membereskan apa yang ia bawa. Dio mengulurkan sebuah amplop besar sebelum ia berdiri dan bersiap untuk pergi.
" apa ini?"
" buka saja"
Sehun menatap curiga pada amplop dan Dio yang mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
" jangan bilang selama 6 bulan kau berselingkuh dan ingin aku menandatangani surat cerai?"
Dio menggeleng.
" buka saja baru komentar"
Sedikit tidak sabar Sehun membuka amplop itu. Isinya adalah hasil CT-scan, Sehun langsung menoleh ke arah Dio yang tersenyum sambil mengusap perutnya yang sedikit membuncit.
" Luhan-ssi bilang dia namja—Tao bilang dia yeoja dan dokter di rumah sakit bilang anak ini kembar"
" Oh Kyungsoo—kau sedang tidak main-mainkan?"
Dio menggeleng.
" itu asli—"
" Kyung!"
Sehun memeluk Dio sesukanya, ia mengucapkan kata terima kasih dan kata cinta untuk yeoja itu.
" maaf karena tidak mengabarimu sejak awal, aku hanya ingin memastikan jika aku tidak membuatmu kecewa lagi—aku menahan diriku untuk tidak menghubungimu, aku takut aku kelepasan bicara—"
" Kyung! Ini adalah kado ulang tahun terhebat yang pernah aku dapat!"
Dio menatap Sehun yang sudah menangis,
" kenapa Hunnie menangis? Apa Hunnie tidak suka?"
" bodoh! Siapa yang tidak suka jika akan memiliki bayi—hanya saja—"
" hanya apa?"
" mianhe karena tidak bisa menemanimu—aku tidak mungkin memutuskan meninggalkan kamp dan mengulangnya tahun depan—"
Dio menggeleng.
" jangan cemas, sekarang aku tinggal bersama Tao di rumah dokter Ryeowook dan Yesung. Jadi Hunnie tidak perlu cemas"
" kau bersama mereka?"
Dio mengangguk.
" Tao memaksaku untuk tinggal disana, dia bilang akan lebih aman. Apalagi aku juga sering ikut ke rumah sakit bersama dokter Ryeowook. Mereka menjagaku dengan baik. Mommy dan daddy juga akan segera pulang, mereka bilang bulan depan akan segera pulang"
" jaga dirimu ne?"
" Hunni juga"
Keduanya berbincang cukup lama hingga mereka bisa memberikan nama untuk kedua bayi mereka sebelum Suho datang.
" puas?"
" gomawo hyung!"
" cukup lakukan yang terbaik saja"
Sehun mengangguk.
" tolong antar dia dengan selamat"
" sudah pasti"
Sehun mencium Dio sebelum Dio masuk ke dalam mobil. Ia memeluk erat hasil CT-scan tentang anaknya yang beberapa bulan lagi akan terlahir di dunia.
" jaga mereka Tuhan, itulah doaku. Doa pertama dan terahir yang ku panjatkan padamu"
Bisik Sehun.
.
.
.
" Dektektif Kim! Kau dipanggil Inspektur Kris di ruangan Komisaris Lee Donghae"
" EH? Aku?"
Tanya Suho bingung.
" memang siapa lagi?"
Suho ahirnya mengangguk, ia berjalan ke sebuah ruangan. Kris sedang sibuk membuka-buka file saat Suho datang.
" inspektur memanggilku?"
Tanya Suho.
Kris mengangguk. Donghae meminta Suho untuk duduk di samping Kris yang sedang sibuk dengan beberapa file.
" Kris bilang kau yang menangani anggota baru untuk divisi kalian?"
" ah, ne—"
" kau sudah punya calon?"
Suho memperhatikan beberapa foto dan map yang ada di hadapannya.
" kau bilang Oh Sehun masuk ke dalam kamp bersama dengan Goo Mi Kyu?"
Suho mengangguk.
" memang dia yang membantu tugas kita saat pengejaran 'Blackhole' tapi kami sepakat tidak akan mengistimewakan dia, dia menjalani semua tes dengan baik. Tanpa kami harus memanipulasi data"
Donghae mengangguk.
" baiklah—pindahkan dia ke defisi kalian secepatnya dalam status magang. Aku ingin melihat hasil kerjanya"
Kris mengangkat kepalanya.
" dia sedang dalam masa wajib militer—"
Donghae tersenyum.
" kita bisa mempertimbangkan menjadi polisi juga suatu tindak untuk membela negara bukan? Hanya saja cara mereka yang berbeda"
Suho mengangguk.
" aku sudah meminta Jinki untuk meneliti suatu organisasi—ikut sertakan Oh Sehun dan kita lihat apakah ia sudah layak atau tidak"
" kita berangkat!"
Suho mengikuti Kris setelah sebelumnya membungkuk pada Donghae.
Suho menjajari langkah Kris yang terlihat sedikit suntuk—
" apa organisasi itu cukup sulit dilacak?"
" wae? Kau takut?"
Tanya Kris.
" bukan, hanya saja kenapa wajahmu terlihat begitu tertekan?"
Kris menghentikan langkahnya.
" Tao juga ikut dalam pengintaian kita. Dia sudah bertugas mulai hari ini—"
" MWO?!"
" kenapa kau heboh?"
" Tao langsung ikut? Bagaimana mungkin? Bahkan dia baru lulus SMA?"
" kau kira Tao itu siapa? Dia beda dengan anak-anak pada umumnya, pangkatnya sudah inspektur. Bahkan jika dia bisa mengatasi cobaan ini pangkatnya akan naik mengikutiku"
Suho menggeleng.
" aku bertemu dengan anak-anak ajaib"
Guman Suho.
" lalu kenapa kau seperti ini?"
" tsk, siapa juga yang ingin kekasihnya dalam bahaya! Kau benar-benar bodoh!"
Umpat Kris.
Kris berjalan mendahului Suho yang menggeleng. Suho mengangkat phonselnya, tersenyum melihat ID pemanggil.
" yeoboseo—"
" ne Yixing, waeyo—"
Terdengar helaan nafas sebentar di seberang line panggilan.
" anu—anu—"
" aiss, kau kelamaan sini biar mama saja!/Minseok juga mau!"
Suara Henry dan Minseok sepertinya berebut phonsel Lay. Suho mengerutkan keningnya menunggu ke kalutan di tempat Lay.
" datanglah ke rumah 3 hari lagi! Kita makan malam bersama"
" 3 hari lagi? Mianhe—mungkin aku tidak bisa—"
" benarkan, Myunie tidak bisa datang ma—jangan memaksanya"
" aku tidak mau dengar alasan apapun. Jum'at keluarga kami akan mengadakan makan malam keluarga dengan keluarga Minseok, terserah kau datang atau tidak yang jelas aku sudah mengundangmu..TUT"
Pemutusan sepihak oleh Henry membuat Suho menghela nafas.
" sudah 3 bulan aku tidak bertemu dengan Lay—tapi sepertinya aku harus menahannya, tugasku sebagai polisi harus yang pertama"
Suho melangkah pergi, ia menuju tempat latihan anggota baru kepolisian dan warga yang sedang menjalani kewajiban sebagai tindak bela negara. Beberapa regu terlihat sedang melakukan pemanasan bersama dengan pelatih-pelatih lain. Seorang intruktur memberi hormat pada Suho.
" bagaimana progresnya?"
" anak-anak yang memang masuk ke sini sebagai calon anggota lumayan bisa bermanfaat, tapi hanya 2 orang yang bisa kita andalkan. Oh Sehun dan Kim Hyunbin, mereka melakukan banyak progress yang mengesankan"
" bisa lihat grafiknya?"
Intruktur itu mengangguk memberikan catatan pada Suho.
" bawa mereka menemuiku di tempat special itu—"
" SIAP!"
Setelah menghormat instruktur itu pergi menuju regu dimana Sehun dan Hyunbin berada. Keduanya nampak bingung dan kelelahan saat harus mengikuti perintah instruktur yang memiliki pawakan tubuh yang tegap dan menyeramkan. Suho menoleh ke phonselnya, sebuah pesan dari Lay membuatnya kaget.
.
.
From : My Lay
Ini Minseok, kau harus datang.
Kalau tidak, mungkin kau akan
kehilangan Lay eoni selamanya.
Seorang pengusaha kaya berniat
melamar Lay eoni di acara
keluarga nanti.
Nb: jangan balas pesan ini
nanti Lay eoni tau kalau aku
memberi pesan padamu
.
.
" MWO?! Tsk! Akan ku selesaikan organisasi itu!"
Dengan semangat membara Suho berjalan menuju tempat pertemuan.
" Oh Sehun, Kim Hyunbin! Lekas ganti pakaian kalian, aku beri waktu kalian 10 menit"
" EH?"
" tidak ada waktu!"
Sehun dan Hyunbin langsung berlari ke barak mereka tidak memperdulikan tindakan Suho yang menyebalkan dengan memberi mereka waktu 10 menit sedangkan jarak barak mereka sekali tempuh bisa memakan waktu 7 menit! Belum lagi badan mereka penuh dengan lumpur dan arang.
Suho menelfon Kris yang meminta mereka untuk siap di lokasi.
" aku harus menyelesaikan misi ini secepat mungkin—"
" waeyo?"
" seseorang sedang mengancam akan merebut Yixing dariku—"
" kau bisa ijin padaku—"
" tapi menjadi seorang polisi yang menyelesaikan tugasnya adalah suatu kebanggaan untukku"
" yah terserah kau, jika kau berubah pikiran katakan saja"
" siap!"
" oh iya, Onew dan Kibum sudah berada di Busan, coba nanti kau minta Sehun untuk melacak alamat IP yang aku kirimkan ke phonsel dan emailnya"
" siap!"
" kita bergerak cepat Kim Joonmyun"
" gomawo, inspektur Wu"
Terdengar kekehan rendah dari Kris sebelum menutup phonselnya.
.
.
Dua hari pengintaian ahirnya Suho mendapatkan sebuah gudang penuh sabu-sabu.
" tidak ada orang disini. Aku dan 2 orang ini sudah menyisir seluruh ruangan"
" baiklah, aku sedang mengejar di pelabuhan. Kau datang kemari setelah polisi mengamankan barangnya"
" siap!"
Suho mencoba menimang-nimang sabu di tangannya.
" lapor, ada gudang lain yang berisi ganja—"
" benarkah?"
Hyunbin mengangguk. Ia menunjukkan lokasi ganja di belakang gudang tempat sabu-sabu.
" aku tidak yakin ini milik orang lokal—"
Guman Sehun.
" maksudmu?"
" ini hampir sama seperti kasus Blackhole"
" Oh! Jangan bilang—"
Suho mengacak rambutnya frustasi.
" tenang hyung, kita akan menangkapnya sebelum Lay-ssi di pinang orang lain!"
" YA! OH SEHUN!"
Sehun terkekeh.
Ia sudah mendengar pembicaraan Kris dan Suho tadi. Hyunbin yang tidak begitu mengerti hanya mengikuti alur. Setelah beberapa mobil polisi datang Suho meninggalkan Hyunbin untuk mengurus semuanya yang ada di gundang dan berangkat ke pelabuhan mengejar Kris.
Setibanya di pelabuhan, terjadi pertarungan sengit. Kris berusaha menembak kaki para anggota organisasi yang siap membawa beberapa kontrainer dengan kapal barang. Suho memberikan sebuah pistol pada Sehun dan mengangguk.
" jangan gegabah, ingat anakmu sebentar lagi lahir"
" tentu saja!"
Mereka membuka pintu bersama-sama, dan mencoba membantu Kris.
" cepat bantu Onew di kapal!"
Suho mengangguk, ia langsung berlari ke arah kapal. Disana Onew dan Kibum sedang terdesak dengan tembakan membabi buta seorang namja berjas hitam.
'BUUKK'
Suho menghantam punggung namja itu dengan tangannya membuat namja itu terkapar setelah sebelumnya melesatkan tembakan ke lengan Suho.
" aghh!"
Onew dan Kibum membantu meringkus orang yang tidak sadarkan diri.
" mana Tao?"
Tanya Suho.
Onew dan Kibum langsung menoleh pada seorang yeoja yang mempoutkan bibirnya sambil duduk di atas orang-orang yang sudah terkapar karena pukulan tongkatnya.
" kau hebat baby—"
" mereka payah"
Di bawah Kris ahirnya bisa meringkus ketua dari sindikat pengedar narkoba dengan sebuah timah panas yang bersarang di kaki namja itu.
" cukup mengesankan untuk tugas pertamamu Oh Sehun"
Sehun terkekeh.
" tentu saja, aku lebih berpengalaman dari pada namja yang tertebak itu"
Suho terkekeh, ia memegangi lengannya yang sudah berlumuran darah dengan syall Kibum yang ia pakai untuk penahan lengan dari guncangan.
" aku lengah hehehe—"
" Sehun! Tao! Antar Suho ke rumah sakit, kami akan membereskan semua disini"
" OKE"
Sehun terkekeh melihat bagaimana Kris tersenyum setelah Tao mencium bibirnya.
.
.
" auhh—apakah begitu dalam dokter?"
" cukup dalam hampir menembus belakang lenganmu, untung saja tidak begitu mengenai syaraf gerakmu. Dan kenapa kau tidak mau dibius?"
" aku harus ke cina sekarang—"
Yesung mengerutkan keningnya.
" wae?"
" aku tidak mau kehilangan kekasihku"
" dasar anak muda"
Yesung mengeluarkan peluru yang memiliki ketebalan tidak lebih dari piringan kaset jaman dahulu, ia harus mendengarkan bagaimana Suho mengaduh saat menjahit bekas lukanya. Setelah memberikan perban dan penyangga ia mengantar Suho keluar dari ruangannya.
Sehun tersenyum mengulurkan tiket dan passport Suho.
" pergilah—"
" Oh—kau memang dongsaeng terbaikku Oh Sehun!"
" yayayaya—sana pergi"
Tao hanya terkekeh melihat Suho meringis saat memeluk Sehun sebelum ia pergi. Sehun melangkah bersama Tao setelah pamit dengan Yesung. Keduanya berniat kembali ke markas kepolisian pusat hingga langkah Sehun terhenti saat ambulance menurunkan orang yang ia kenal.
" Kyungsoo—"
Tao menoleh.
" Oh Tuhan! Kyungie-jiejie!"
Tao dan Sehun ikut berlari mengikuti para perawat membawa Kyungsoo. Wookie yang melihat Sehun kaget.
" Sehun? Kau?"
" ajumma ada apa dengan Kyungie?"
" ikut ajumma! Sepertinya dia harus melahirkan sekarang—"
" apa?"
.
.
.
Suho menoleh jam di tangan kirinya.
" jam 8—apa aku terlambat? Ah! Tidak ada kata terlambat!"
Suho segera mencegat taksi menuju rumah keluarga Xi.
.
.
" Lay jie-jie, kau tidak mau turun?"
Minseok menyembulkan kepalanya di pintu.
" sebentar lagi—"
" apa jie-jie sedang memikirkan Suho-ge?"
Lay tersenyum, ia menggeleng.
" dia tidak akan datang, aku dengar dari pembicaraan Kris-ssi dan Luhan-ssi organisasi kali ini cukup sulit"
Minseok mengangguk.
" jja kita turun"
Lay mengangguk berjalan di belakang Minseok. Mata Lay terbelalak melihat seorang yang sedang bercengkramah dengan Luhan.
" tsk—kau benar-benar ceroboh"
" yah, aku memang tidak begitu jenius—"
Aku Suho.
" Myun—"
Suho mengarahkan pandangannya ke arah Lay yang berjalan mendekatinya.
" mianhe, aku terlambat"
Lay menggeleng.
" investigasinya?"
" sudah selesai—ini hadiahnya"
Suho meringis menunjukkan tangannya yang dibalut perban dan penyangga.
" kau tak apa?"
" tentu saja"
Henry tersenyum, ia terkikik bersama Minseok membiarkan Luhan menoleh dan menggeleng.
" Minseok, senang bertemu denganmu—mianhe aku tidak bisa menjengukmu setelah aku tau kau sadar"
" gweancana, gomawo"
Minseok memeluk lengan Luhan posesif.
" kajja kita makan!"
Ucapan Sungmin membuat semuanya berjalan ke meja makan. Selesai makan malam mereka berbincang-bincang.
" anu—"
Semua menoleh ke arah Suho.
" Xi-ajussi, ijinkan aku menikah dengan Yixing"
Zhoumi yang sedang mengobrol dengan Kyuhyun menoleh ke arah Suho.
" aku ingin menikah dengan Yixing—"
" kau melamar anakku?"
Tidak ada keraguan di wajah Suho, sedangkan Lay hanya menundung dengan tangan yang digenggam erat Suho.
" Yixing?"
Lay mengangkat kepalanya.
" aku terserah papa—"
" tsk, yang mau menikah dengan Suho bukan papa, nak. Tapi kamu—apa kau sudah siap dan mau menikah dengan namja ini?"
Suho menunjukkan wajah tulus dan kesungguhan miliknya sambil menunggu jawaban dari Lay. Tidak lama Lay mengangguk.
" ne, aku bersedia"
Suho? Jika sedang tidak berada di depan keluarga calon istrinya dia sudah dipastikan menjerit kegirangan dan melupakan lengannya yang baru di jahit.
" Lulu—kapan kita menikah juga?"
Luhan menoleh ke arah Minseok, ia tersenyum manis dan mencium Minseok lembut tidak memperdulikan Kyuhyun yang menatap kesal siap melayangkan sendok ke kepalanya.
" kita sudah menikah—eum baiklah bagaimana kalau kita menikah lagi bersama mereka?"
" Minseok mau"
Keduanya terlihat manis dengan Minseok yang terlihat bersemangat dan imut-imut.
" baiklah—kita rancang nanti saja acarannya"
Ucap Zhoumi dan Kyuhyun berbarengan.
Suho dan Lay mengangguk.
" Yixing, aku mencintaimu"
Bisik Suho yang hanya diangguki oleh Lay.
Lay terlampau bahagia saat mendengar Suho melamarnya di hadapan keluarga angkatnya, ia terlalu bahagia untuk tidak menangis hingga Henry tersenyum dan mengusap punggungnya.
" cukkae"
" gomawo, mama"
.
.
.
Minseok melangkahkan kakinya pelan saat melihat Luhan tertidur di ranjang dengan kacamata baca yang sedikit menurun. Luhan bersandar di sandaran yang ada di ranjang sambil membuka buku yang cukup tebal. Perlahan Minseok menarik kacamata Luhan dan buku dipangkuannya, membaringkan Luhan secara perlahan tanpa ingin mengganggu tidurnya. Setelah itu Minseok berbaring menghadap Luhan yang menutup mata, terus memandangi namja tampan itu dengan senyum berkembang. Tangan Minseok mencoba mengusap pipi Luhan.
" mama Henry bilang kau menghindariku? Mama bilang kau takut aku akan mati jika aku mencintaimu—apakah benar? Aku sedikit kecewa, aku yakin Tuhan sudah mengambilku karena kata-kataku dulu. Dia mengganti ingatanku agar aku tidak mengungkitnya—tapi—kau mengingatnya—aku kecewa pada diriku sendiri hiks—"
Minseok mengusap air mata yang membasahi pipi cubbynya.
" kau harus menepati janjimu untuk membuatku mencintaimu dan tidak lepas darimu—saat ini aku sudah merasakan perasaan tidak menentu saat bersamamu, aku yakin itu cinta. Aku mencintaimu—hiks"
Tiba-tiba tangan Luhan meraih pinggang Minseok, namja tampan itu mengencangkan pelukannya dan mempersempit jarak diantara mereka.
" aku tidak menghindar, hanya saja—sulit untukku untuk menahan obsesiku padamu"
" EH?"
Luhan membuka matanya. Ia tersenyum setelah menghapus air mata Minseok dengan bibirnya.
" aku tidak ingin kau menjauh dariku, seorang yang tidak kau kenal yang mengaku sebagai suamimu. Aku tidak ingin kau takut padaku karena tau aku begitu tergila-gila padamu—"
" Lu—"
" sekarang jangan salahkan aku jika aku terlalu mencintamu"
Minseok tersenyum memeluk leher Luhan.
" aku mencintai Luhan"
" aku lebih mencintaimu, Xiumin"
Luhan mencium Minseok begitu dalam.
" Luh~~"
" kkekeke wajahmu menggodaku—baiklah Xiumin, kita akan melakukan malam pertama kita. Kali ini kau harus siap menerima semua kenikmatan itu"
" kehhh—nikkhhh—maatan?"
Pertanyaan Minseok, beriringan dengan desahan yang diakibatkan oleh tangan nakal Luhan yang mulai liar di dalam pakaian yang Minseok kenakan.
" wo ai ni"
.
.
Pagi-pagi Minseok mengerjapkan matanya, ia melihat Luhan yang baru selesai mandi.
" aku kesiangan—"
" jelas saja—kita baru menghentikannya jam 4 pagi hehehe"
Minseok mengerjap beberapa kali. Ia membuka selimutnya, terlihat dengan jelas tubuhnya masih polos tanpa sehelai benang.
" Lu?"
Luhan tersenyum, ia medekatkan wajahnya untuk mencium buah dada yang semalam menjadi mainannya. Dengan tenang ia mencium bibir ranum Minseok.
" kalau saja hari ini aku tidak memegang operasi besar, aku bisa pastikan untuk 2 hari ke depan kau tidak bisa jalan"
" mwo? Eummmppp"
Minseok menerima ciuman Luhan yang memainkan kembali payudaranya.
" aku berangkat—"
" hati-hati"
Luhan mengangguk.
.
.
" Oh? Si Kyungie sudah melahirkan? Syukurlah—lalu Sehun?"
" berkat investigasi kemarin dia resmi menjadi anggota devisi kami, dan wajib militernya di alihkan dan di ganti dengan harus menangani beberapa kasus yang lumayan"
Lay duduk sambil menyesap kopinya.
" aku sudah menelfon appaku di jepang, ia bilang akan meluangkan waktu untuk melamarmu secara resmi minggu depan. Untuk tanggal pernikahan—aku dan Luhan sudah merencanakannya"
" benarkah?"
" ne, untuk sesuatu yang special kami pasti akan melakukannya dengan baik. Ya sudah, aku harus membimbing Sehun dan rekannya dulu. Bye—aku mencintaimu"
" nado"
Minseok duduk di depan Lay.
" Suho-ssi, orang seperti apa dia?"
Lay tersenyum.
" Sehun bilang dia adalah manusia paling lambat dan paling tidak beruntung saat di TKP. Kyungie bilang, dia adalah manusia paling lemah diantara yang lainnya saat operasi penangkapan Blackhole. Tao bilang, dia adalah gege yang paling pengertian untuknya selain Kris. Kai bilang, dia adalah namja paling sistematis yang gagal. Chen bilang, dia adalah oppa yang lembut dan manis. Chanyeol bilang, dia adalah namja yang butuh ketenangan saat sedang bertugas sehingga bisa menyempurnakan kebijaksanaan yang Suho miliki. Kris-ssi bilang, dia adalah dektektif yang bisa di andalkan. Luhan-ssi bilang, dia adalah seorang patner yang penurut. Tapi dari semua pendapat mereka bagiku, Suho adalah malaikat pelindungku"
Minseok mengangguk-angguk.
" aku jadi ingin melihat si kembar"
" ini—Suho mengirimkan foto mereka"
Minseok melihat beberapa foto di phonsel Lay.
" manisnya"
.
.
.
Hari berganti hari, waktu terus berputar menunjukkan kuasanya akan segala hal. Dalam setiap perputaran waktu, sang penguasa waktu membisikkan keagungan Tuhan yang memberikan keindahan dan kebahagiaan bagi siapapun yang mempercayai keberadaannya. Tuhan tau segala yang dibutuhkan dan yang hanya di inginkan.
Luhan menatap ke arah cermin, ia terlihat tampan dengan tuxedo putih dan kacamata yang sengaja ia pakai setelah mendapati konsentrasi matanya belum bisa pulih sepenuhnya semenjak ia ambruk 1 tahun yang lalu. Dimana ia harus menyempatkan dirinya menjadi seorang penghuni rumah pesakitan selama hampir 3 bulan dengan alasan kesehatan dan sistem imuns miliknya benar-benar drop. Luhan tersenyum melihat seorang yeoja mengintip dibalik pintu.
" keluarlah, aku ingin melihat istriku—"
Minseok terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin putih, begitu indah menjutai ke bawah kakinya.
" apa aku aneh? Kalau iya aku akan minta Chenie untuk menggantinya—"
Minseok terlihat imut dengan wajah malu-malu saat Luhan menatapnya tanpa berkedip, Luhan tersenyum mendekatkan wajahnya ke wajah Minseok.
" jika tidak ingat aku akan menciummu di altar nanti, aku yakinkan bahwa aku akan melucuti pakaianmu sekarang"
" Lu—"
Luhan mencium sekilas bibir Minseok.
" kau benar-benar pengantin tercantik yang pernah aku lihat"
" Lay juga cantik—"
" bagiku kau tercantik—tidak ada yang lain"
.
.
Upacara sakral itu terlampaui dengan ucapan janji setia Suho dan Lay yang di ahiri oleh Minseok dan Luhan, hingga semua berpesta di halaman rumah keluarga Xi.
" mana anakmu?"
Tanya Luhan pada Sehun dan Dio.
" mommy sedang sakit jadi tidak bisa datang, dan dia yang menjaga si kembar"
Jawab Dio.
Luhan mengangguk.
" eoni, chukkae"
" gomawo—"
Semua berpesta bersama dengan ceria, ada Kris yang harus setia menjaga Tao yang mulai menjadi lirikan oleh namja-namja yang menjadi tamu undangan. Ada Chen dan Chanyeol yang sepertinya sedang berdebat tentang anak mereka, Daeyeol terlihat manis dengan gaun pink desain pertama dari Chen. Kai dan Baekhyun sedikit menjadi perhatian saat datang bersama dengan seorang anak, padahal pernikahan mereka baru dilaksanakan beberapa bulan lalu. Onew dan Kibum lebih aktraktif saling mencari cara untuk medapatkan perhatian dari salah satu dari mereka. Sehun dan Dio terlihat lebih kalem dari semua pasangan, keduanya menikmati acara sambil berbicara pada Heechul dan yang lain. Daehyun datang dengan seorang yeoja cantik yang pernah ia tolong saat koma, Hyura. Atau Lay yang selalu tersipu malu saat Suho membisikkan kata cinta di sela foto pernikahan.
Minseok memeluk lengan Luhan, dan tiba-tiba mencium namja itu begitu dalam hingga berbuah godaan penuh canda tawa. Kini akan ada kebahagiaan di setiap harinya, ia tidak ingin menyakiti orang yang telah mencintainya—ia memang kehilangan ingatan, namun ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan melakukan kesalahan untuk yang kesekian kalinya. Minseok mengarahkan pandangannya pada sosok Luhan yang tersenyum begitu manis merengkuh Minseok ke dalam pelukannya. Tangan itu ( tangan Luhan ), ia tidak mau melepasnya lagi. Ia akan menjadi yang terbaik dan akan melakukan yang terbaik agar tangan itu tetap menggenggam tangannya, tetap merengkuh tubuhnya, untuk tetap menghangatkan hatinya.
" Wo ai ni, Xi Luhan"
Bisik Minseok sebelum menenggelamkan wajahnya ke dada Luhan.
.
.
.
#Epilog#
.
.
.
.
" Luhan! Kenapa kau membeli barang-barang banyak sekali?"
" aku tidak mau bayiku kekurangan!"
Henry terkekeh.
" Ya! Bayimu baru saja berumur beberapa bulan, tapi kau sudah membelikan barang-barang untuk anak seusia 4 tahun sama seperti Daeyeol!"
Luhan tersenyum.
" eh? Benarkah?"
Mengetahui Minseok sedang hamil, Luhan terlihat lebih gila dengan membeli seisi toko hanya untuk bayinya yang kini baru berumur beberapa bulan di kandungan Minseok. Henry harus merelakan 2 kamar di rumahnya untuk menampung barang-barang yang Luhan beli sejak Luhan mengetahui kehamilan istrinya 3 bulan lalu. Dan sepertinya ia akan membutuhkan tempat lagi untuk barang-barang yang akan Luhan beli sampai bulan kelahiran bayi Minseok.
" Lulu~"
Luhan menoleh ke arah Minseok, yeoja itu kini mempoutkan bibirnya sambil mengusap perutnya.
" ne honey?"
" aku ingin mangga—"
Ucap Minseok sambil menunjukkan wajah memelasnya pada Luhan.
" akan aku belikan—"
Luhan meletakkan barang yang ia beli bersiap pergi lagi.
" aku ingin kau memetik mangga di taman rumah sakit—"
Zhoumi dan Henry langsung terkekeh.
" sekarang?"
Minseok mengangguk.
" tapi—"
" kalau Lulu tidak mau tidak apa—"
Sambil mempoutkan bibirnya Minseok berjalan menjauh, Luhan mengangguk ia memeluk Minseok.
" arra—kajja"
" kau mau?"
" apapun untukmu my princess"
Dengan mobil kesayangan Luhan datang bersama Minseok, hari ini masih begitu terik dengan beberapa orang yang berlalu lalang di taman rumah sakit. Lay yang melihat kerumunan orang di bawah pohon mangga bingung dan mendekat,
" ya Tuhan! Dokter Lu?"
Luhan tersenyum.
" jangan dekat-dekat—aku mau yang ada disana—"
Minseok menunjuk sebuah mangga yang sedikit jauh dari jangkauan Luhan. Luhan mengangguk, beberapa lama ia mendapatkan mangga untuk Minseok.
" kenapa mangga ini aneh sekali Lu?"
" wae?"
" aku tidak menyukainya!"
Minseok berjalan meninggalkan Luhan yang hanya menggeleng sambil mengambil jas yang ada di sampingnya. Zhoumi menepuk pundak Luhan.
" kau harus sabar—"
" tentu saja, sepertinya anak ini menuruni tingkahku yang tidak bisa ditebak. Padahal aku paling tidak ingin menurunkan sifat itu padanya"
Ucap Luhan.
Membiarkan Zhoumi terkekeh.
" padahal papa tidak tau apa yang membuat sifat itu ada padamu, mungkin Henry yang menurunkan padamu"
" sepertinya gara-gara kau tidak memenuhi permintaannya dulu—"
Balas Luhan sambil melangkah mengikuti Minseok.
.
.
Luhan terlihat begitu lelah saat memasuki kamarnya, seharian ini ia sudah menuruti apa yang Minseok inginkan. Entah memanjat atap rumahnya, memetik mangga di taman rumah sakit hingga membeli beberapa keinginan mustahil yang Minseok mau. Luhan terlalu lelah untuk mengganti pakaiannya atau mandi, ia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Hingga Minseok masuk kekamar dengan wajah sedih. Ia menangis sambil membasuh kaki Luhan—
" Xiumin?"
" hiks—Lulu pasti capek sekali hiks—mianhe—"
Luhan bangkit, ia menahan rasa lelahnya untuk tersenyum pada Minseok.
" hanya sedikit—"
" hiks—mianhe—Minni janji tidak akan merepotkanmu lagi—hiks"
" sudahlah, toh itu bukan hanya keinginanmu, honey. Tapi juga karena keinginan baby kita—"
Minseok menatap Luhan.
Luhan tersenyum saat mengerti arti tatapan Minseok yang sepertinya ingin melanjutkan permintaannya hari ini. Minseok menatap Luhan dengan ekspresi memelas.
" apa yang kau inginkan?"
" hiks—tapi Lulu capek"
" it's okay baby"
Sedikit memiringkan kepalanya saat melihat Minseok menundukkan kepala dengan wajah yang merona merah.
" aku ingin—"
" ne, kau ingin—"
Minseok tersenyum mendorong Luhan untuk terlentang di kasur, ia duduk di perut Luhan sambil memainkan dasi Luhan yang memang sudah di lepas ikatannya.
" Minni mau jadi dokter untuk Lulu—"
" HEH?!"
Wajah Luhan terlihat begitu lucu saat mendapati ucapan Minseok.
" maksud Minni?"
" pokoknya Minni mau jadi dokter!"
" iya, tapi maksud Minni apa?"
" boleh?"
Luhan sedikit merinding dengan ucapan 'dokter' yang Minseok katakan, di bayangannya ia melihat Minseok memainkan alat-alat kedokteran dan menyuntiknya secara tidak beradap. Luhan menggeleng-geleng kecil mencoba menghilangkan bayangannya tentang Minseok yang menjadi dokter untuknya.
" itu tidak bisa main-main Minni—"
" hiks—padahal Minni mau—"
Luhan tidak bisa berkutik, perutnya diduduki oleh Minseok yang tengah berbadan dua. Cukup berat untuk menghindar, dan juga Luhan tidak ingin membuat Minseok kenapa-napa dengan menyentak tubuh Minseok menjauh dari tubuhnya. Zhoumi yang tidak sengaja melihat anaknya tidak berkutik karena Minseok hanya menggeleng.
" dia sudah meminjam pakaian dokter milik Lay, dia juga sudah meminjam pendengar detak jantung milikku—mengalahlah"
" tapi papa—"
" hiks—hikss"
Mendengar isakan Minseok, Luhan ahirnya mendesah.
" baiklah, tolong rawat aku dengan baik. Uisaenim"
" hiks boleh?"
Luhan mengangguk.
" tapi hentikan dulu tangismu"
" hiks—ne! Minni akan ganti baju dulu!"
Zhoumi menutup pintu kamar Luhan sebelum mengangguk pada anaknya.
Tidak lama Minseok kembali dengan jas dokter milik Lay dan—
" kau?"
" aku melihatnya di website…"
Minseok mengunci pintu, dan mendekat ke arah Luhan yang kali ini mengerjapkan beberapa kali matanya. Luhan tidak bisa mengatakan apa-apa saat melihat Minseok menggunakan rok 12 centi dan hanya mengenakan BH untuk menutupi tubuhnya, jas dokter milik Lay terlihat membuatnya sedikit seksi dengan perut Minseok yang terlihat buncit karena sedang mengandung. Perlahan-lahan Minseok memeriksa Luhan hingga ia melepaskan kemeja Luhan.
" jangan bilang kau nonton porno di website?"
" apa Lulu tidak suka? Saat melihat Lulu memenuhi semua permintaan sesaat Minni, Minni kasihan—Lulu terlihat sangat lelah. Minni mencari cara di website untuk membuat Lulu bahagia—setidaknya hiks—Minni ingin memberi hadiah sebelum Minni mengganggu Lulu lagi besok hiks dan hasilnya seperti ini hiks—mian"
" kenapa minta maaf?"
" Lulu tidak suka? Lulu hanya terdiam saja sih"
Luhan terkekeh.
Minseok memang kehilangan ingatannya, namun ia tidak kehilangan kebiasaan dan kepolosan miliknya.
" kan Lulu pasien, jadi nurut sama dokter—"
Ucap Luhan seduktif yang membuat Minseok melebarkan matanya.
" jadi Minni lanjutkan?"
" tentu saja—pasien ini memiliki penyakit yang parah—terutama di adik kecilnya"
Ucap Luhan sambil menunjukkan wajah memelasnya.
Minseok benar-benar melakukan service plus-plus untuk Luhan, hingga ahirnya keduanya bergantian menjadi dokter dan pasien versi Minseok.
" aku mencintaimu"
" nado"
Luhan tersenyum sambil mematikan lampu menikmati malam bersama kekasih yang selamanya akan ia lindungi.
.
.
.
#END#
.
.
Quotes :
Kita bisa merencanakan, namun ingatlah Tuhan akan memberikan apa yang paling baik dan yang paling kita butuhkan.
.
.
.
.
See Yaa next ff
AHIRNYA SELESAI…GOMAWO SEMUANYAAAA
Gomawo untuk semua dukungannya
