Game over

.

.

.

.

Shanaz terharu T.T ... shanaz, huhuhuhu Shanaz bukan adiknya raffi ahmad ya.. Shanaz bukan syahnaz :D (abaikan..) itu Shisui bukan Obito.

Soal flamers? Yah yang itu bukannya shanaz malah seneng XD (aneh), itu bukan shanaz cuekin, shanaz pribadi cukup jleb kehati, cuman karena bukan makhluk sosial yang suka gaul, shanaz selesain lewat PM tapi ga pernah dibales (nyeseknya itu loh), ngajak berantem tapi diabaikan.. syialan syekali -_-

Disini konfliknya tidak terlalu terasa :3 Shanaz sedang berfikir keras menemukan benang merah jalan cerita agar tersambung dengan ending yang sudah ada dikepala shanaz. Dan semua awal tragedi Naruhina. Namikaze, Hyuuga, dan Uchiha. Khakhakha!

.

.

.

Happy reading...

.

..

...

"Naruto.." panggil Hinata membuka matanya, disampingnya tak ada siapapun, semalam mereka masih bersama. "Hati-hati" bisik Hinata mengelus tempat disampingnya yang masih terasa hangat.

Hinata meregangkan tubuhnya, hari ini dia akan melakukan apa? Dia tidak bisa berkeliaran dimana saja, karena sedang bersembunyi dari Sasuke.

Prang! Prang!

Satu persatu benda diatas meja, bupet dan dinding hancur dan berjatuhan ke lantai. Hinata segera berguling menjauhi jendela dan bersembunyi dibalik ranjang.

Isi tempat tidurnya berhamburan ke udara, seseorang sedang menembakinya dari arah luar. "Cepat sekali dia menemukanku" ucap Hinata pasrah.

"Stt Hinata" panggil Naruto.

"Eh kau belum pergi?" tanya Hinata melihat Naruto mengintip dari balik pintu kamar mandi.

"Aku baru selesai mandi"

"Lalu?"

"Aku butuh pakaianku dilemari"

Hinata melihat ke sebrang ruangan, disana menjulang sebuah lemari. "Kau mau aku mati?"

"Apa kau mau melihat aku mati telanjang?"

Hinata mengelus dagunya sembari menautkan kedua alisnya, "Aku suka kau mati telanjang"

Naruto menyeringai tidak suka. "Kau ingin lihat?" ucap Naruto merangkak keluar kamar mandi sedikit demi sedikit.

"Sial, aku akan merindukanmu sayang" ucap Hinata dengan airmata siap jatuh.

"Hinata~" pinta Naruto.

Hinata world : ON

Aku meleleh mendengarnya memohon padaku, tembakan memang berhenti, tapi tidak menjamin sniper itu sudah pergi. Aku melihat keadaan dibalik ranjang. Benar-benar kacau, hancur, dan pasti ada tagihan ganti rugi.

Aku menghela nafas. Dinding di bagian sana terbuat dari kaca keseluruhannya. Jadi kalau tidak dengan perisai dia harus mengecoh snipernya. Persentase berhasilnya kecil sekali.

Aku mengambil bantal disampingku dan membungkusnya dengan selimut kemudian menyembulkannya sedikit diatas tinggi ranjang. Hening. Aku rasa tidak berhasil, Hinata melemparkan bantal itu ke dekat jendela.

Rentetan tembakan langsung menghujani bantal malang itu, aku berlari dengan cepat kedekat lemari dan mengambil pakaian Naruto.

Tembakan beralih pada lemari tempatku bersembunyi. Ngeri rasanya melihat pintu lemari berlubang oleh peluru yang menhujani tempatku bersembunyi. "Gulung dan lempar kesini" ucap Naruto.

Aku mengangkat gulungan baju itu, dan melemparnya pada Naruto. Tangan itu sigap menangkap gulungan baju yang aku lemparkan.

Hinata world : OFF

Naruto menatap Hinata yang masih memejamkan matanya dalam lemari, ada sedikit rasa takut dalam raut wajahnya. Naruto menarik tangan itu keluar dari lemari membuat Hinata segera membuka matanya dan melihat kearah Naruto.

"Kakashi sudah mengurusnya" ucap Naruto menangkap pertanyaan di mata Hinata.

"Syukurlah," ucap Hinata lega, memeluk tubuh Naruto erat.

"Hmm.. Kita harus segera bergerak"

Hinata sebenarnya enggan untuk melepaskan pelukannya "Kita akan kemana?"

"Tempat teraman sekarang adalah hotel Namikaze, namun aku tidaklah yakin 100% pada hotelku sendiri"

"Apakah ada Uchiha disana?" tanya Hinata pelan.

"Ya. Ada milik Uchiha dalam tubuh Namikaze hotel."

"Aku akan pergi dan minta bantuan pada brotherBee"

"Tidak"

Hinata melepaskan pelukannya, menatap pemilik shappire itu dengan tatapan bertanya.

"Aku yang akan menjagamu"

"Naruto, kau juga harus menyelesaikan masalahmu"

"Aku tahu"

"Jadi biarkan aku meminta bantuan-"

"Hime, tolong jangan membantahku lagi. Cukup dengan sekali aku membiarkanmu pergi."

Naruto tahu Hinata mudah luluh, Naruto hanya perlu meyakinkan dan merayunya sedikit agar Hinata mau menurutinya. "kau mengerti?" ucap Naruto menyentuh pipi Hinata. "Kau harus ikut denganku, ada disampingku dan tidak boleh menghilang dari pandanganku lebih dari 10 menit"

Posesif namun Hinata suka. Digapainya lengan besar itu. "Kau sedang merayuku, Naruto" bisik Hinata.

"Hinata, hanya ini yang bisa aku lakukan. Kalau tidak kau pasti akan keras kepala lagi" ucap Naruto, jemarinya menangkap jemari Hinata dan memainkannya.

"Hmm"

"Jangan berikan aku jawaban yang ambigu" ucap Naruto menarik tangan Hinata mendekati pipinya, menaruhnya diatas 3 garis yang menghiasi pipinya. "Berikan jawaban yang jelas, Hime"

"Aku akan selalu berada disampingmu. Bersamamu dan tidak akan pergi kemana-mana"

oOo

Naruto membawa Hinata ke hotel Namikaze, Kakashi menambah pekerja ekstra dalam mengawal keadaan sekitar hotel Namikaze selama Naruto bekerja. Hinata setia menemani Naruto dengan duduk disofa sembari bermain gamenya.

Chat pertama muncul saat dia masuk ke club di The world. "Aku tidak bisa sering-sering menghubungimu, aku sedang diawasi" ucap Antkiller.

"Aku baru akan memperingatkanmu" ucap Hanabi.

"Dimana BrotherBee?"

"Sedang diperjalanan."

"Mereka?"

"Dalam keadaan baik"

Hanabi hanya mengangguk dan dalam 1 menit kemudian kerumunan avatar semakin banyak berkumpul dalam club. Hari ini akan ada NPC DJ baru yang akan meramaikan The World.

Hanabi segera menghilang dari dalam kerumunan avatar yang sedang mendengarkan musik, log out. Hinata merilekskan punggungnya dan menatap Naruto yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.

"Kakak aku sudah menyelesaikan dan mengecek beberapa laporan" ucap Kakashi masuk dan menyerahkan beberapa dokumen. "Penyewa skyfall garden, renovasi dapur hotel, ulang tahun hotel"

"Tunggu!" ucap Hinata.

Kedua pria itu melihat kearah Hinata, "Jadi, semua laporan dikerjakan dan dicek oleh Kakashi? Lalu apa pekerjaan Naruto disini?"

"Dia bilang untuk apa punya bawahan kalau tidak dipekerjakan." Jawab Kakashi.

"Aku kerja, melipat kertas ini jadi origami" jawab Naruto mengangkat tangan sibuknya.

"Ah, kakak itu kontrak yang harus kau tanda tangani bukan dilipat!" teriak Kakashi panik merebut origami ditangan Naruto dengan wajah nelangsa, dia harus membuat ulang kontraknya.

"Ah, aku kira kertas bekas, aku tidak suka isinya" ucap Naruto santai.

Kakashi membuang wajah nelangsanya. "Kalau begitu ini sampah" ucap Kakashi segera membuang kertas ditangannya kedalam tong sampah.

'Aku tidak akan pernah paham cara mereka bekerja' batin Hinata.

"Kalian mau makan siang di restoran hotel?" tawar Kakashi.

"Aku akan mengajaknya keluar"

"Tapi bukannya berbahaya?"

"Aku malah lebih curiga pada masakan koki disini" balas Naruto memutar kursinya.

Hinata yang paham mengangguk pelan, Naruto memikirkannya sampai kesana bahkan dihotelnya sendiri, Kakashi hanya mengangguk mengerti. Kemudian pamit pergi.

"Mau makan apa?" tanya Naruto merubah suasana.

"Rasanya enak makan ramen" jawab Hinata.

"Kita akan pergi ke sana" ucap Naruto bangkit dari kursinya.

"Tapi bagaimana kalau ada yang membuntuti kita nanti?" tanya Hinata dengan nada cemas.

"Aku sudah fikirkan caranya" ucap Naruto mengambil tas yang ditinggalkan Kakashi, Hinata bahkan sampai tak sadar Kakashi membawa tas itu.

Naruto menyerahkan tas itu setelah mengambil bagiannya. Tangan itu menarik tangan Hinata masuk ke ruangan di samping kantor Naruto. Itu sebuah kamar kosong yang diisi dengan sofa kecil dan mini bar.

"Ganti pakaiannya disini" ucap Naruto.

"Kalau begitu kau keluar dulu"

"Kau akan memerlukan bantuanku untuk memakainya" ucap Naruto jahil.

Hinata buru-buru mengeluarkan pakaiannya, itu kaos dengan rok selutut. "Aku bisa memakainya sendiri" ucap Hinata memajukan bibirnya. Tatapannya membeku pada Naruto dan bibirnya kembali mundur. Ada bara dimata Naruto saat tatapan mereka saling bertemu.

"Na-Naruto." Cicit Hinata, rasanya bara itu menjalar membakar seluruh tubuh Hinata.

"Kau tahu Hinata, pelukanmu memberiku sebuah kehangatan yang tak kunjung hilang"

Pipi Hinata bersemu kemerahan. Tangan Naruto bergerak dari lengannya dan terus naik hingga mencapai bibirnya. Rangsangan yang Naruto berikan, membangunkan jutaan kupu-kupu diperut Hinata.

Hinata merasakan tangan Naruto kembali menelusuri tubuhnya, bergerak naik turun diatas dadanya. Kemudian meraba zipper belakang dressnya, sembari menurunkn zipper, jemarinya menelusuri tulang belakang, ikut menuruni lekuk tubuh Hinata.

Jemari Naruto sedang memainkan hasrat Hinata, menggelitik hormonnya yang naik perlahan. Dressnya melorot, menampakkan gumpalan putih dibaliknya.

Pelan, Naruto merebahkan tubuh Hinata diatas sofa membuatnya bersandar pada lengan sofa, menawannya dalam kurungan Naruto. Hinata menatap Naruto yang semakin dipenuhi bara.

Suara lenguhan rendah keluar dari mulut Hinata saat Naruto meremasnya sekaligus mendaratkan bibirnya di atas bibir Hinata. Melumat pelan bibir mungil itu.

Lidah Naruto bermain-main dimulut Hinata, menumpahkan saliva kental dari mulut Hinata. Hinata terhanyut, merasakan bara yang menyebar dari Naruto. "Naru-"

Kalau saja Naruto tidak punya kewarasan tinggi, Naruto akan segera menelanjangi Hinata dan menghangatkan miliknya didalam diri Hinata. Tapi dia menahan dirinya, tak ingin mengecewakan Hinata yang masih melenguh menikmati sentuhannya.

"Hinata" bisik Naruto melepaskan ciuman mereka. "Kau ingin aku menyentuhmu dimana?" ucap Naruto melihat tubuh Hinata. Tangannya menunjuk bibir Hinata "Disini" turun kebawah menyentuh pelan dada yang terlihat kencang itu "disini" kembali turun melewat pusar dan berhenti diantara kedua kakinya, diatas lingerienya "Atau disini"

"Naruto"

"Ya Hime, kau pilih yang mana?" tanya Naruto.

"Aku ingin makan" ucap Hinata.

"Baiklah.. eh?"

Hinata memerah dengan cepat, dia mungkin terbakar oleh bara Naruto tapi dengan rasa lapar dan perih yang menggerogoti tubuhnya dia akan mati lemas sebelum Naruto mencapai klimaksnya.

"Ah, padahal kau sudah basah"

"Naruto kau membuatku malu"

"Bagaimana aku menyembunyikan ini?" ucap Naruto menunjukan miliknya yang sedang berdiri tegak, menyesakkan celananya. Hinata hanya tertawa, Naruto sedang ereksi dan kalau dia keluar dengan keadaan seperti itu dia pasti akan dianggap bos mesum.

"Jangan tertawa"

"Aku tidak tertawa, hihi"

"Hime.."

"Kalau itu," ucap Hinata mengantung tangannya bergerak menyentuh milik Naruto, menurunkan zipper depan, membuka sabuknya dan melorotkan seluruh celananya. "Kau harus mengendongku jika aku tak sanggup berjalan sampai restoran"

Jeritan Hinata tertahan dengan bibir Naruto, "Kau menggodaku Hime" ucap Naruto melepas lingerie Hinata. Naruto kembali merangkak ke atas tubuh Hinata, memberikan sebuah pelukan erat sembari memompa dirinya masuk.

Hinata menggeliat, "Naru-ngh"

Naruto world : ON

Aku mengandeng tangan mungil yang seperti tangan anak kecil ini, astaga, dia masih terlihat muda. Kami sedang berjalan dalam penyamaran sebagai dua sejoli yang dimabuk asmara, dengan penampilan bak anak SMA.

"Berapa jauh lagi?" tanya Hinata, rambutnya yang diikat longgar kesamping membuatnya semakin manis.

"Sedikit lagi."

"Apa kau tahu, aku baru saja menyadarinya"

"Ya? Sadar?"

"Ini kencan pertama kita"

Aku mengangguk membenarkan. "Kau benar"

"Bagaimana kalau kita, tidak hanya sekedar makan?"

Aku berfikir beberapa tempat yang bisa kami singgahi, game center, pasar antik, dan oh, Naruto lupa Hinata punya banyak energi kalau sudah jalan-jalan. Aku merasakan pipiku memucat sekarang.

"Kita akan kemana saja? Kau sudah memikirkannya?" tanya Hinata membuka ponsel Naruto dn mencari tempat yang menarik.

Aku mengangguk pasrah, namun senyuman diwajah itu membuatku melupakan energi ekstra Hinata. Tidak masalah, sampai lututku copotpun, aku akan mengikutinya.

oOo

Aku menatapnya yang sedang menyantap creepe sembari tersenyum, aku tahu apa yang dia pikirkan, Hima dan Mirai, airmatanya meleleh tanpa dikomando.

"Ah maaf, aku terbawa perasaan, rasanya pasti menyenangkan makan creepe ini bersama anak-anak" ucapnya menyeka airmata yang mengalir. "Aku jadi sentimentil seperti ini"

"Kita akan segera berkumpul kembali" ucapku menenangkannya.

"Aku tahu itu"

File itu, file yang dicuri Hanabi dan diketahui Hizashi dan Hiashi, seberapa buruknya jika sampai tersebar ke publik? Wasiat Hanabi, haruskah aku katakan pada Hinata atau Sasuke? Hinata pasti sedang memikirkan file apa yang dicuri keluarganya dan sanggup melenyapkan Hizashi?

Sekarang setelah bertahun-tahun, dimana file itu berada. Aku tidak bisa tenang memikirkan apa yang akan terjadi pada Hinata jika sampai dia tahu isinya dan tersebar kepublik. Bukan hal mustahil Hyuuga akan dibantai sampai habis, itu termasuk aku yang membantunya.

Mengerikan. Kenapa terasa mengerikan? Aku merasa akan ada kejutan lain yang menunggu kami jika kami terus mencari. Hyuuga. Uchiha dan Namikaze. Terikat takdir buruk karena Shisui, bukan! Bukan karena Shisui, Namikaze sudah terlibat sejak awal dengan Uchiha karena Usea.

Ponselku bergetar, sebuah email dari Kakashi masuk, itu adalah informasi lain dari saham yang hilang serta informasi dari yayasan Usea. Aku mengalihkan pandanganku pada Hinata. Tidak mungkin!

Naruto world : OFF

"Aku pergi ke toilet dulu" ucap Naruto mencoba menahan gejolak yang memenuhi seluruh tubuhnya.

"Naruto, kau baik-baik saja?" tanya Hinata melihat ekspresi Naruto yang menggelap.

Naruto hanya mengangguk dan segera meninggalkan Hinata, Hinata yakin ada sesuatu yang terjadi pada Naruto. Suasana hatinya berubah drastis.

"Hinata-sama"

Tubuh Hinata menegang ditempat duduknya, harusnya tak ada yang tahu Hinata ada disini, penyamaran ini sangat sempurna. Bertahun-tahun dirinya tidak pernah dipanggil dengan akhiran –sama lagi.

"Maaf aku bukan-" Hinata sampai tak bisa berkata-kata melihat 20 pria dengan lambang Hyuuga dimantel mereka bersujud.

"Hinata-sama, syukurlah kami menemukan anda!" ucap orang yang paling depan, ah Hinata ingat siapa dia, dia adalah kepala pelayan semasa ayahnya hidup.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Hinata merasa pusing, kursinya terhuyung jatuh membentur lantai.

"Kebiasaan anda saat makan" ucapnya masih dengan bersujud.

Hinata tidak yakin masih ada yang mengingat cara makannya setelah sekian lama, kerumunan manusia semakin banyak mengelilingi mereka. Hinata harus cepat bertindak.

"Bnagunlah, ini ditempat umum" ucap Hinata memaksa pria yang paling depan untuk bangun. Tapi dia tak bergeming sedikitpun.

"Hinata-sama maafkan kegagalan saya yang tidak bisa melindungi keluarga anda!"

"Hinata-sama maafkanlah kami" koor yang lainnya.

"Astaga, kita bicara ditempat lain, dan kalian cepat bangun, memalukan sekali" ucap Hinata.

"Hinata-sama kami tidak akan bangun sampai anda memaafkan kami"

"Aku maafkan. Aku sudah katakan sekarang cepat bangunlah. Kalian bodoh apa?" umpat Hinata.

Dua puluh pria itu serempak bangun kemudian mengelilingi Hinata, memberi perlindungan Hinata dari kerumunan yang tercipta karena ulah mereka. Hinata menepuk dahinya pelan. Mereka bukannya membubarkan kerumunan, malah sekarang mereka benar-benar jadi pusat perhatian!

"Ada apa mencariku?" tanya Hinata segera duduk di kursi yang disodorkan salah satu dari pria itu.

"Tetua akan memilih penerus Hyuuga yang baru" ucapnya.

"Aku bukan lagi bagian dari Hyuuga." Bantah Hinata, teringat ketika masa sulitnya, para manusia bau tanah itu menutup matanya pada keadaaan Hinata dan Hanabi. "Tidak ada lagi yang tersisa disana. Keluargaku sudah mati, kalian boleh memilih pemimpin sesuka kalian"

"Anda diminta datang ke kediaman Hyuuga"

"Aku tidak mau" ucap Hinata cepat. Tidak mau kembali kesana.

"Ini permintaan dari calon pemimpin lain"

"Permintaan?"

"Tolong penuhi permintaannya"

Tangan Hinata bertumpu didagunya, tak ada salahnya membentak orang-orang tua itu dan melihat seberapa brengseknya pemimpin selanjutnya Hyuuga.

oOo

Naruto menendang apapun yanga ada dihadapannya, brengsek! Meskipun dia tahu keluarganya dibantai Uchiha sialan itu tapi informasi yang baru masuk lewat Kakashi benar-benar mengejutkannya. "Sial!" dia bahkan sampai tak bisa melihat wajah Hinata.

Cepat dia telpon Kakashi. Setelah nada tunggu yang mengesalkan, Kakashi mengangkat telpon darinya. "Brengsek, apa kau yakin?" Tanya Naruto dengan nada kesal.

"Shisui megirimkan sisa informasi yang mengejutkan itu" ucap Kakashi, khawatir pada nada suara Naruto, dia bisa melukai Hinata. "Aku tidak yakin Hinata-nee mengetahui detailnya. Kau bilang sendiri kalau keluarganya mati karena informasi itu"

"Kuso! Uchiha brengsek itu, tidak akan aku maafkan!" teriak Naruto.

"Kau tahu mereka bukan hanya Hyeena tapi juga ular yang sangat licik. Berhati-hatilah, kakak"

Naruto mengepalkan tangannya, brengsek. Jika Naruto meneruskan penyelidikan Usea dan saham Namikaze yang hilang itu, maka... maka.. Naruto bahkan tidak bisa menarik kesimpulan dari pemikirannya sendiri.

Pantulan wajah Naruto dicermin melunak. Dia harusnya tahu ini tidak hanya masalah saham Namikaze yang sederhana. Karena semua karma sudah ditorehkan generasi sebelumnya. Naruto dan Sasuke hanya kelanjutan dari karma yang tidak akan pernah putus ini.

"Hinata?" Naruto berlari ketempat dimana Hinata terakhir dia tinggalkan, tidak ada siapapun disana. "Hinata?!" panggil Naruto.

Sekarang hatinya kalut, bagaimana kalau Sasuke sudah menemukannya? Bagaimana kalau Hinata tidak dapat dia selamatkan seperti terakhir kali?

"Tuan Namikaze?" tanya seorang pria menghampirinya.

"Siapa?" tanya Naruto curiga.

"Silahkan ikuti saya. Hinata-sama sedang menunggu anda di mobil" jawabnya menunjuk kearah dimana sebuah mobil terparkir.

Naruto berjalan menghampiri mobil itu, pintu belakang segera terbuka memperlihatkan Hinata yang sedang duduk gusar. "Ada apa ini Hinata?" tanya Naruto segera duduk dikursi belakang. "Siapa mereka?"

"Mereka adalah pelayan Hyuuga"

Naruto melihat kegusaran dari tubuh dan bibir Hinata. "Kau tidak ingin kembali?"

"Aku berniat mengoceh panjang lebar dihadapan para orang tua itu. " Hinata tertawa sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku tidak takut dosa yang akan aku tanggung tapi aku takut kembali kerumah itu"

"Aku akan ikut bersamamu" ucap Naruto.

"Kau tdak boleh ikut"

"Kenapa? Aku suamimu, walaupun belum secara sah dan akan segera aku sahkan" ucap Naruto.

"Aku tahu tapi.. aku tidak mau kau melihatku jatuh disana"

"Hinata, bukankah kita sudah berjanji tidak akan merahasiakan apapun dan akan bersama-sama menghadapi game ini?" ucap Naruto melunak, dia harusnya tahu kondisi psikologis Hinata saat ini. Kembali kerumah dimana semua tragedi menimpanya, adalah hal sulit untuk dilakukan. Sama seperti dirinya yang tidak sanggup masuk kedalam laut.

"Hinata-sama?" tanya si sopir melirik lewat kaca spion.

"Kita pergi" perintah Naruto menutup pintu mobil.

Hinata world : ON

Aku melirik Naruto yang membisu disepanjang perjalanan menuju kediaman Hyuuga, aku tidak ingin Naruto melihat sisa-sisa masa laluku yang ingin aku lupakan,

Ayah...

Hanabi...

Hizashi...

Aku tidak ingin kembali ketempat dimana aku merasakan kebahagian sekaligus kepedihan. Jalanan mulai berkelok menelusuri bibir tebing, masih ada setengah perjalanan lagi untuk mencapai tempat itu.

"Hinata.."

"Ya?" jawabku cepat.

"Jangan takut. Untuk menghadapi masa depan, kita harus mengingat dan mengambil apa yang tertinggal dimasa lalu. Bisa saja, ada hal baik yang tertinggal disana"

Hal baik? Sepeninggal Ayah dan Hanabi tidak ada yang baik di kediaman Hyuuga, "Tidak ada yang baik" jawabku

"Kau yakin, lalu para pelayan ini?" tanya Naruto melihatku untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai.

"Apa maksudmu?" tanyaku bingung.

"Apa pernah kau memperhatikan sekitarmu sejak Hizashi menyiksamu? Apa kau lihat para pelayan dirumahmu?"

Aku tidak ingin mengingat masa lalu, tapi aku tidak bisa menyangkal apa yang ditanyakan Naruto, aku bahkan hanya peduli pada apa yang akan terjadi besok, apa yang harus aku lakukan, dan bagaimana caranya aku bisa lepas dari Hizashi?

Setiap pagi ada sarapan dengan selipan daging, dibanding dengan makan siang dan makan malam. Selalu ada yang mengentuk pintu saat Hizashi sedang menyiksa Hinata. Ada pelayan yang sigap masuk saat Hizashi selesai dengan Hinata, membantunya dengan hati-hati. Ada isak tangis saat Hinata harus berjuang hanya untuk mencapai toilet diluar kamarnya.

"Kau ingat?"

Aku mengangguk pelan, mereka adalah pelayan yang mengkhawatirkan dan selalu menolongku. Mereka tidak bisa berbuat lebih karena mereka adalah pelayan. "Ingatan itu selalu buruk" ucapku berwajah ketus.

"Memang buruk" sahut Naruto menarik Hinata mendekat. "Kau butuh pelukanku kan?"

Lagi, aku mengangguk menyamankan kepalaku bersandar didada Naruto, kau akan melindungiku kan, Naruto? Tiba-tiba saja, aku merasakan hatiku yang sedang dicengkram terbebas.

Jalanan mulai masuk ke bukit dengan pohon besar memagari jalanan yang kami lewati. Sebentar lagi, mereka akan sampai di kediaman Hyuuga.

"Apa kau rindu kampung halamanmu?" tanya Naruto melihat keluar jendela.

"Aku rindu ayah dan Hanabi" jawabku bangun dari dada hangat Naruto dan menurunkan kaca mobil.

"Kita akan mengunjungi mereka sebelum pulang" ucap Naruto.

Aku mengangguk melihat suasana di sepanjang jalan menuju kediaman Hyuuga. Sudah lama, tapi tempat ini tidaklah berubah. Kota kecil tempatku dibesarkan.

Laju mobil yang kami tumpangi perlahan menurun, didepan 2 rumah dari sini, adalah kediaman Hyuuga. Pintu gerbang sudah dibuka lebar, sepertinya para tetua baru saja tiba dikediaman itu.

Cukup lama aku menunggu hingga hatiku merasa tenang, Naruto sudah berdiri dengan setia menungguku mengulurkan tangan padanya. "Sudah siap?" tanyanya membungkukan tubuhnya hanya untuk melihatku. "Kita kembali jika kau tidak mau keluar dan menemui calon pemimpin baru itu diluar kediaman Hyuuga" tambahnya membari saran.

"Tidak aku sudah siap" ucapku mengulurkan tangan pada Naruto yang langsung disambut olehnya.

Rasa sesak memenuhi rongga dadaku, melihat rumah ini tak berubah sedikitpun sejak aku tinggalkan. Dipintu masuk ada gambar tangan Hanabi saat umurnya 5 tahun. Samar-samar karena termakan waktu.

Melewati teras sebelum masuk kedalam ruang tamu, ada lubang pahatan yang aku dan Hanabi buat hanya agar ayah memarahi kami, bukannya marah dia malah menambah pahatan itu agar terlihat lebih artistik.

Naruto membantuku duduk disofa, "Hime?" tanyanya dengan nada cemas.

Aku memberinya sebuah senyuman kecil, "Aku baik-baik saja"

Seorang pria masuk dan terdiam cukup lama sampai aku menyadari keberadannya.

"Kau secantik ibumu, Hinata" pujinya masuk kedalam ruang tamu dan duduk dihadapanku. "Aku tidak sakit hati kalau kau lupa padaku" ucapnya melihat mataku yang bertanya-tanya siapa dia?

"Maaf, apa kau calon pemimpin yang baru?" tanyaku.

"Harusnya ini pertarungan kita berdua" jawabnya.

"Maaf tapi aku tidak tertarik masuk kembali kedalam lingkaran Hyuuga."

Pria itu mengeleng tanda tak setuju dengan ucapanku. Gerak geriknya tak salah lagi, dia-

"Siapa kau?" tanya Naruto mendahului argumenku.

Matanya melirik Naruto seolah dia baru sadar ada makhluk ketiga diruangan ini. "Maaf tidak sopannya aku. Aku Hyuuga Neji, sepupu dari Hinata dan anak dari Hizashi"

Aku ingat! Aku ingat sekarang, Neji dikirim jauh dari Hyuuga, tepatnya sejak kapan? Rsanya dia tiba-tiba dijauhkan baik dari Hyuuga maupun dari Hizashi. Tak pernah sekalipun Hizashi membahas Neji dihadapanku, hingga aku lupa punya seorang sepupu.

"Hizashi sudah meninggal" ucapku.

"Aku tahu," ucapnya tertahan. Neji tersenyum padaku, merasakan tatapan bersalahku padanya. "Dia memang pantas mati setelah semua yang dilakukannya selama hidup. Aku ingin membencinya tapi aku tidak bisa melakukannya karena dia ayahku."

"Neji-nii dimana kau selama ini?" tanyaku. "Kau tiba-tiba saja menghilang dari sini"

"Karena aku berbeda, ayah merasa malu dan mengirimku jauh dari sini agar aku kembali normal" jawab Neji. "Sayangnya tidak berhasil"

"Berbeda?" tanya Naruto menyelidik. Wajah Neji bersemu kemerahan saat Naruto menatapnya.

"Yah jadi kau harus menghadiri pesta untukku" ucap Neji mengalihkan pandangannya padaku.

"Aku bahkan tidak berniat berlama-lama disini" tolakku.

"Ayolah Hinata" bujuk Neji.

Aku melirik Naruto, dan hanya diberi anggukan singkat. "Baiklah, aku akan menghadari pestamu"

oOo

Aku mengintip dua pria yang sedang berbicara tanpa melibatkan diriku, aku ingin tahu apa yang akan mereka bicarakan.

Naruto duduk di teras bersama Neji menikmati suasana sore dengan ditemani secangkir teh. "Aku yakin kau tidak seperti ayahmu" ucap Naruto.

"Sangat berbeda" jawab Neji.

"Jadi aku ingin menanyakan perihal barang-barang Hanabi yang tertinggal disini"

Neji berfikir sejenak, "Aku baru saja kembaki kerumah ini setelah ayah bilang sudah menemukan Hinata" jeda sejenak sebelum Neji menggelengkan kepalanya. "Ayah adalah penjahat yang tidak pernah meninggalkan jejak sekecil apapun. Jadi aku yakin barang-barang Hanabi sudah dia lenyapkan semua. Ah, kecuali kau bertanya padda para pelayan disini, mereka mungkin mengetahui sesuatu"

"Apa kau mendengar hal lain dari ayahmu?" tanya Naruto.

"Maaf kawan, ayah tidak pernah mengatakan apapun padaku"

Naruto kembali menarik tehnya dan meminumnya sampai tandas. Keduanya terdiam cukup lama sampai Neji membuka suara. "Kau suami Hinata?" tanya Neji.

Naruto dapat merasakan teh yang dia minum mengalir lewat hidungnya, "Sebenarnya kami belum menikah secara resmi" jawab Naruto.

Kalau saja Neji tidak memiliki ketenangan, dia pasti sudah menerjang dan menghajar Naruto sekarang. Berani sekali dia mempermainkan keluarga Hyuuga, tapi dia dapat merasakan tatapanku dari balik pintu yang terbuka sedikit, sehingga menahan kepalan tangannya tetap berada didekat tubuhnya. "Kapan kau akan meresmikannya?" tanya Neji lagi dengan tenang.

"Segera setelah masalah kami selesai"

"Jadi kau sudah melakukannya?" tanya Neji hampir dengan semangatnya namun dia sepertinya ingat aku sedang menguping, jadi dia tahan mati-matian pertanyaan yang menjurus lebih detail.

"Kami bahkan punya putri berumur 7 tahun" jawab Naruto dengan senyuman bangga.

"Bagaimana bisa? Bagaimana rupanya?" tanya Neji dengan wajah penuh binar menatap Naruto antusias, seorang putri Hyuuga campuran pertama.

"Hampir seluruh fisiknya dia terlihat seperti Hinata. Hanya saja matanya berwarna biru, seperti mataku"

"Ahh aku ingin bertemu dengannya" desah Neji.

Aku mendengus mendengar percakapan kedua pria itu, melakukan itu kemudian topiknya berubah menjadi membicarakan putri kesayanganya. Kedua makhluk itu membuatku malu luar biasa.

Neji-nii adalah maniak anak kecil, dia sangat suka bermain dan melihat mereka seperti seorang pedofil. Itu berdasarkan pengalaman pribadiku yang tumbuh besar dan berdekatan dengan Neji.

"Hinata-sama" ucap seorang pelayan.

"Ya?" tanyaku segera menegakan tubuh, aku ketahuan sedang menguping pembicaraan, memalukan!

"Senang bisa melihat anda kembali" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku" ucapku sedikit tulus.

"Kami menyelamatkan beberapa barang-barang anda, anda mau melihatnya" tanya pelayan itu.

Aku mengangguk, dan mengikuti pelayan itu menuju kamar belakang. Aku berharap masih ada foto keluargaku yang masih tersisa.

"Maaf membawa anda ketempat seperti ini" ucap Pelayan itu membungkuk dalam.

"Jangan fikirkan itu, aku bukan tuan rumah ini lagi" sanggahku.

Hinata world : OFF

oOo

Ada sekotak kenangan dalam dekapan Hinata, tangannya gatal ingin segera melihatnya. Tapi, dia ingin kembali dahulu kekamarnya dan melihatnya disana. Tangannya bergetar karena rasa senang dan sedih. Ini sisa dari eksistensi keluarganya.

"Kau habis darimana?" tanya Naruto, nampaknya acara minum teh sudah selesai.

Hinata hanya tersenyum dan bergabung bersama Naruto duduk disofa. "Seorang pelayan menyelamatkan beberapa barang-barang keluargaku" ucap Hinata.

Naruto mengangguk, melihat Hinata membuka kardus yang sudah dia letakkan diantara mereka. Di tumpukan paling atasa ada, foto berbingkai kelurganya, seperti yang Hinata harapkan.

Dibawahnya ada foto-foto lain berserakan. Sepertinya diambil dari album foto keluarganya. Semuanya foto Hinata dan Hanabi mulai dari bayi sampai usia 13 tahun.

Naruto mematung, matanya menatap foto berisi Hinata, Hanabi dan Hiashi. Rasa bersalah itu muncul kembali saat dia melihat Hanabi dengan senyum sumringah, dia belum pernah melihat Hanabi sebahagia itu sampai akhir hidupnya.

"Ini foto Hanabi dan Shisui" ucap Hinata.

Naruto segera meletakkan foto ditangannya dan melihat Hinata yang menunjukan sebuah foto. Itu memang Shisui dan Hanabi. Mereka nampak serasi, diambil disebuah pantai. Tunggu! Naruto segera merebut foto itu dari tangan Hinata.

"Ada apa?" Tanya Hinata kaget.

Naruto masih mengamati foto Hanabi dan Shisui, di belakang mereka, ada pasangan lainnya, bukan itu "Hinata lihat, dibelakang Hanabi dan Shisui" ucap Naruto meletakkan foto itu untuk diamati bersama Hinata.

Alis Hinata berkerut tajam dan memperhatikan latar foto itu, itu wanita dengan rambut gelap dan panjang dan pasangannya. "Itu hanya pasangan biasa"

"Perhatikan lebih detail lagi, apa kau tidak asing dengan rambutnya. Raut wajahnya. Karena digerai dia tidak nampak-"

"Itu Neji-nii!" seru Hinata.

Naruto mengangguk dan menunjuk pasangan Neji. "Kau tahu siapa ini?" tanya Naruto.

"Dia mirip Sasuke dalam versi dewasa"

"Dia adalah Itachi Uchiha. Kakak dari Sasuke Uchiha"

Hinata merebut foto itu dari tangan Naruto. "Memang mirip Sasuke"

"Pertanyaannya adalah, kenapa Neji bisa kenal Itachi? Sejak kapan? Dan apakah ada hubungannya dengan keluargamu?"

"Neji-nii tida seperti paman, dia pasti teman Neji-nii disekolahnya."

"Kita harus memastikannya" ucap Naruto final, "Besok, pesta itu kita akan lihat apa Itachi akan datang kemari atau tidak"

Hinata world : ON

Pening, kepalaku terasa berputar karena masalah yang menghampiri kami terus bertambah banyak. Mati satu, tumbuh yang lain. Aku melihat wajah Naruto yang berbeda hari ini, sejak melihat foto itu dia sedikit aneh.

Aku tidak bisa menjelaskan aneh apa, tapi ini tidak seperti Naruto yang biasanya, tatapan kami bertemu. Alisnya turun dan matanya langsung beralih dariku. "Naruto, ada masalah?" tanyaku mencoba bersikap tak tahu situasinya saat ini, tapi sulit menyembunyikan rasa kecewa saat dia sendiri melanggar janjinya untuk tidak merahasiakan apapun.

"Hime, jika waktunya tepat aku akan mengatakannya padamu, tapi tidak sekarang" ucap Naruto menggapaiku, tapi aku tidak kenal pria asing dihadapanku, aku mundur perlahan dari jangkauannya.

"Aku tahu kau akan menolakku" ucapnya menarik kembali tangannya. "Informasi yang baru kuterima dari Kakashi tadi siang tidak bisa sepenuhnya kuterima"

"Apa? Apa itu Naruto? Kau bukan hanya berbeda tadi siang, kau menghindariku sejak melihat foto itu" tanyaku tak sabar. Rahasia-rahasia ini dan misteri lainnya membuatku muak.

Dia menunduk semakin dalam, tak sanggup berkata apapun, tangannya saling bertautan dan bergerak dinamis, dia sedang berjuang keras mengatakannya padaku namun helaan nafas yang keluar darinya dan gelengan pelan.

"Tolong jangan marah Hime, atau ini akan memperburuk suasana" bisiknya seolah perintah mutlak bagiku.

Aku meninggalkannya dikamar tanpa kata-kata, persetan dengan rahasianya, aku juga masih punya pekerjaan lain, setelah mengungkap kebenaran kematian Hanabi, lalu apa yang akan aku lakukan? Aku hanya ingin memutus rantai ikatan dengan Uchiha dan masa lalu.

Bagaimana bisa aku membiarkan Neji-nii dan penerus lainnya dalam bahaya? Setidaknya aku harus menebus kesalahan Hanabi yang sudah dengan bodohnya meminta bantuan pada Sasuke dengan memanfaatkan kemampuannya.

Beberapa pekerja sedang menyelesaikan dekorasi terakhir untuk pesta. Malam ini, aku akan menampakan diriku dihadapan keluarga Hyuuga. Aku mendengus kesal, biar mereka tahu Hyuuga Hinata yang mereka biarkan disiksa masih hidup untuk menghina cara kerja mereka yang lebih suka menutup pintu saat dirinya dalam kesusah.

"Hinata-sama, apakah anda akan menggunakan jubah klan untuk pesta malam ini" tanya seorang pelayan menghampiriku.

"Aku sudah mengatakannya puluhan kali kalau aku-" tidak salahnya menggunakan jubah hanya untuk dilepas dan tak akan pernah aku pakai lagi. "Siapkan untukku"

"Baik"

oOo

lampu-lampu mulai dinyalakan, hidangan pesta mulai disajikan diatas meja, beberapa tamu dan wartawan sudah datang dan bersantai menunggu acara dimulai.

Aku mematut diriku dicermin, aku tidak boleh keluar sebelum para tetua itu datang. Naruto menghubungiku berkali-kali dan mengirimkan puluhan sms.

"Ada apa?" tanyaku mengangkat telpon darinya.

"Kau dimana? Astaga kau tahu betapa paniknya aku saat tak bisa menemukanmu dimanapun" cecar Naruto.

"Aku tidak mungkin diculik dikediamanku sendiri" jawabku enteng. "Aku akan keluar saat waktunya tiba"

"Hime-"

Aku memutuskan sambungan darinya dan kembali bercermin, seorang pelayan datang dan membisikan kalau tetua sudah datang dan sedang mengobrol dengan Neji-nii.

Suara –suara percapakapan sudah mulai terdengar diluar, Hinata mengenal beberapa wajah saat melihatnya dengan tatapan tidak percaya. Sepertinya kabarku masih hidup belum tersebar keluar kediaman Hizashi.

"Selamat datang" ucapku ramah pada sekumpulan pria tua yang mengelilingi Neji-nii.

Bibir Neji-nii membentuk lengkungan ke atas, nampak senang dnegan kehadiranku yang mengenakan jubah Hyuuga. Para pria tua itu akan mati jika menatapku dengan tanpa berkedip dan bernafas. Mungkin saja, mereka hanya menyimpanku didaftar calon pemimpin tanpa tahu aku masih hidup.

"Masih ingat denganku, kakek tua?" tanyaku menghilangkan senyuman manis diwajahku. "Senang kau tidak membully calon pimpinan Hyuuga ynag baru, kau sedang menjilat kakinya?"

Wajah syok bertebaran dimana-mana, dalam fikiran mereka mungkin bertanya –tanya 'Inikah Hyuuga yang sebenarnya?'

"Jaga ucapanmu, Hinata" ancam mereka.

Mana aku takut dengan gertakan seperti itu. "Heh? Barusan kau bilang apa?" tanyaku pura-pura tak dengar.

"Kau harus menjaga sopan santunmu, disini kediaman Hyuuga yang penuh aturan dan disiplin"

"Aturan membiarkan Hyuuga lain menderita? Atau disiplin, mematuhi perintah walaupun itu salah?" tanyaku, tenggorokanku gatal sudah ingin memaki mereka nanum seginipun sudah cukup membuat mereka ternganga tanpa kata-kata. "Selamat Neji-nii" ucapku ramah sebelum meningalkan mereka.

"Terima kasih, mau datang"

Aku melihat Naruto menatapku dengan pandangan marah, aku hanya berkedip sedikit berlebihan dan menyingkir dari pesta menuju meja hidangan. Naruto membuntutiku "Ada apa denganmu, Hime?" tanyanya sedikit berbisik.

"Bukankah makanannya enak, Sayang?" ucapku mengabaikan pertanyaannya.

"Hinata"

Aku memasukan sepotong melon kemulutku dan berhadapan dengannya. "Aku sedang mencegah suasana semakin mamanas diantara kita, aku tidak bisa berada disampingmu tanpa memikirkan apa yang kau rahasiakan dariku" jawabku.

"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku" ucap Naruto frustasi.

"Yah, kufikir kau akan mengerti"

"Mana mungkin aku bisa mengerti dirimu! Setiap kali sesuatu dihubungan denganmu, aku hanya bisa panik"

"eh?" Aku tidak bisa menyembunyikan semburat kemerahan dipipiku, Astaga Naruto terlalu blak-blakan.

"Kau mengerti sekarang, Hime?"

Aku mengangguk. Tangan besarnya menarikku kedalam dekapannya. Bernafas lega hanya karena ini salahpaham belaka. Aku melihat Itachi masuk dari pintu belakang. "Naruto"

"Ya?"

"Itu Itachi bukan?" tanyaku menunjuk seorang pria yang kini sedang bersalaman dengan Neji-nii.

Naruto melihat kemana telunjukku mengarah, dia mengangguk "Ternyata mereka memang saling kenal." Ucapnya.

Hinata world : OFF

Itachi bergerak ke telinga Neji, sepertinya mereka sedang saling berbisik, Naruto dan Hinata sampai harus memiringkan tubuh hanya untuk melihat gerak bibir Itachi.

Deg.

Sekilas, mereka melihat Itachi mengigit dan menjilat telinga Neji, bukannya segera menjauhkan Itachi, Neji malah tertawa pelan. Tidak bisa dipercaya, apa yang mereka lihat barusan? Hinata sampai tidak bisa meneguk ludahnya sendiri.

"Na-Naruto apa melakukan itu sesama pria adalah hal wajar?" tanya Hinata.

Naruto menatap Hinata dengan wajah shock dan kaget. "Te-tentu saja tidak. Menjijikan sekali melakukannya sesama pria. Hanya orang tidak waras yang melakukannya" bantah Naruto. "Adegan tadi membuatku mual"

"Lantas apa maksud dari yang mereka lakukan tadi?" tanya Hinata.

"Entahlah. Mereka pergi" seru Naruto melihat keduanya bergerak menjauhi pesta. Menuju salah satu ruangan.

"Itu harusnya ruang kerja" ucap Hinata mendekati pintu dan membuka pintunya pelan. Mengintip keadaan didalam.

"Tidak ada siapapun" ucap Naruto ikut mengamati.

Hinata baru menyadari sesuatu dan segera bergegas ke pintu di samping pintu ruang kerja. "Ada taman yang hanya bisa diakses dari ruang kerja di balik tembok, namun kita bisa melihat lewat jendela di kamar sebelahnya untuk melihat situasi disana" ucap Hinata masuk kedalam kamar yang gelap dan sedikit menyibakkan tirai yang ada disebrang ruangan hanya untuk melihat hal yang tidak wajar selanjutnya.

Neji dan Itachi sedang berciuman.

.

.

.

.

TBC... siapa saja tolong bawa kursi untuk Hinata yang sedang syok!