Tittle : Matchmaking
Author : Lieya EL
Cast : Xi Luhan,
Oh Sehun
Byun Baekhyun
Kim Jongin
Wu Yifan
Lay
Suho, and other
Genre : Hurt comfort, Romance . . .?
Lenght : 13 / 13
Warning : This is yaoi boyxboy, jadi yang gak suka yaoi jangan sekali-kali membaca ini oke !
Luhan milik Sehun, Sehun milik Luhan, dan Hunhan adalah milik keluarganya, disini saya hanya meminjam Karakter keduanya saja, untuk selebihnya murni karangan saya semata.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ OKE ?!
DON'T BE PLAGIATOR OKE ?!
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Ada beberapa hal yang perlu Lieya jelasin di chap ini.
~ Usia Kai, Luhan dan Sehun disini sama. Tapi tidak dengan usianya lebih tua beberapa bulan dari pada SeLuKai. Jika nanti SeKai memanggil Suho dengan sebutan Hyung, jangan bingung Arra ?
Sebelum membaca siapin keresek buat muntah, seperti biasa -_- .
Chapter ini sangat panjang, dan alurnyapun maju mundur cantik. . .
Jadi sediain cemilan juga biar kagak bosan :D
*** END OF LOVE ***
.
.
Tuhan . . .
Jika engkau memberikanku kesempatan untuk bersamanya kembali, aku berjanji . . .
Aku tidak akan menyakitinya lagi, aku akan membahagiakannya.
Aku akan mencintai dan menjaganya.
Aku tidak akan pernah menyia-nyiakannya lagi. . .
Aku berjanji Tuhan. . .
.
.
"Sehun! Sehun-ah . . ."
"Bangun sayang . . ."
Sayup-sayup suara indah menyeruak masuk kedalam gendang telinga namja bernama Sehun. Ia membuka dengan perlahan kedua mata tajamnya untuk menyambut keadaan sekitar. Keningnya mengkerut dan matanya sedikit menyipit saat sorot cahaya putih menerpa wajahnya.
Sehun bangun disebuah ruangan berwarna putih, yang cukup luas namun kosong. Tidak ada benda seperti almari, meja ataupun lainnya hanya ada satu benda yang kini ditumpanginya.
Ia tidur diatas sebuah kasur king size bersprei putih, dengan sebuah kain berwarna putih pula yang menyelimuti tubuhnya. Bau harum seperti bunga mawar yang baru saja mekar, masuk kedalam indera penciumannya. Sehunpun menegakkan tubuhnya, ia menyandarkan punggungnya ke kepala Kasur. Saat Sehun memutar wajahnya kesamping kanan, terlihat sosok namja cantik yang kini tengah menatap Sehun dengan senyuman hangatnya.
Sehunpun ikut membalas senyuman itu. Sorot matanya berbinar saat melihat sosok itu.
Tangan kanannya ia ulurkan untuk menyentuh pipi namja cantik itu. Sosok itu memejamkan mata indahnya saat tangan hangat Sehun menyentuh wajahnya.
Tes
Sebuah air mata jatuh dan mengalir dari matanya yang terpejam.
Wajah Sehun berubah panik saat cairan bening itu jatuh mengenai tangannya.
"Berbahagialah . . ." Ujar namja cantik itu. Dengan mata terpejam, ia tersenyum sendu.
"Berbahagialah Sehun-ah. . ." Sosok itu membuka matanya, kemudian menatap hangat Sehun.
Sehun menggeleng pelan "Tidak!" ia menangkup wajah cantik itu menggunakan kedua tangannya.
Dingin. Wajahnya dingin sekali. . .
"Tidak! Tidak!" Tubuh namja cantik itu mulai memudar. Ia melontarkan senyum hangat kepada Sehun, sebelum tubuhnya menghilang keseluruhan dari hadapan Sehun.
"Andwee!"
"JANGAN PERGI ! Hiks . ." Teriak Sehun sembari menangis tersedu.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Suho dan Tao baru saja sampai rumah sakit. Langkah keduanya tergesa menuju ruang rawat sahabatnya yang tengah berjuang melawan maut itu. Tao menggenggam erat tangan mungil Suho, memberi kekuatan kepada namja berwajah Angelic itu agar tetap kuat dan tegar.
Mereka berhenti tepat didepan pintu berwarna cokelat. Suho melihat Kai yang tengah menangis disamping Kyungso. Sedangkan didalam pelukan Kyungso ada sosok Ziyu yang tengah terisak pelan. Kondisi Kyungso juga tak kalah memprihatinkan, air matanya juga mengalir cukup deras.
Mereka tengah duduk diruangan tunggu, sedangkan didepan mereka ada beberapa orang yang sepertinya Suho kenal.
Yeah, itu Keluarga Xi dan Keluarga Oh. Keadaan mereka juga sama seperti Kai dan Kyungso.
"Kai-ya" Panggil Suho mendekati Kai. Kaipun mendongak, ia menatap Suho dengan sendu "Hyung" Kai memeluk tubuh mungil Suho.
Namja berwajah Angelic itupun mengelus punggung Kai untuk menenangkannya. Ia tidak boleh ikut menangis sekarang. Suho harus kuat, ia tidak boleh lemah. Mereka harus optimis akan kesembuhan Luhan, kan.
""JANGAN PERGI ! Hiks . . Jangan tinggalkan aku!"
Sebuah suara tangis mengintrupsi kegiatan mereka. Suhopun mengalihkan perhatiannya, ia menatap sosok yang tengah terlelap di pangkuan . . . Baekhyun?
"Sehun" gumam Suho. Kaipun melepaskan pelukannya, kemudian mengikuti arah ekor mata Suho.
Suho melihat sosok Sehun yang kini tengah terbaring dikursi tunggu. 3 kursi yang kosong menampung tubuh jenjangnya, sedangkan kepalanya kini tengah berada dipangkuan Baekhyun.
"Yah. Dia disini"Kata Kai memandang Sehun sendu. Suhopun beralih menatap Kai, dengan sorot mata yang seolah-olah bertanya.
"Aku sudah menceritakan semuanya kepada Sehun, Hyung. Maaf aku telah mengingkari janji kita. Aku tidak bisa memendam ini lagi, Hyung. Hiks. . . aku ingin orang-orang tau bahwa Luhan, adalah orang yang baik. Tidak seperti apa yang mereka fikirkan. Aku tidak bisa melihat Luhan menderita terlalu lama Hyung. Sudah 4 tahun lebih Luhan memendam perasaannya itu. Aku ingin orang-orang itu tau hyung, hiks. ." Suho mengangguk mengerti. Ia menepuk bahu kanan Kai sembari tersenyum. "Aku mengerti. Aku yakin Luhan juga tidak akan marah".
"Kenapa dia bisa seperti itu?" Suho bertanya kepada Kai sembari menatap Sehun kembali.
"2 jam yang lalu Sehun pingsan di ruangan Luhan. Kondisi Luhan sangatlah kritis, bahkan jantungnya sudah berhenti berdetak. Makanya aku tadi menghubungimu, aku juga sangat panik Hyung. Aku takut Luhan tidak bisa diselamatkan" Kai mengehentikan kalimatnya sembari tersenyum lega "Namun Tuhan maha Agung Hyung, ia memberikan kesempatan Luhan untuk bernafas kembali. Sekarangpun kondisi Luhan sudah normal dan membaik" Suhopun tersenyum haru, namun kemudian ia menatap Sehun prihatin 'Apakah Sehun telah menyadari kesalahannya? Apakah namja itu menyesal sekarang?' batinnya.
"Andwee! Hah. . .hah. . .hah . . ." Namja yang tengah terbaring itu terbangun dengan nafas yang terengah-engah. Teriakannya mengalihkan perhatian beberapa orang yang tadinya tengah berkecamuk dengan fikirannya masing-masing.
"Sehunnie" Panggil Baekhyun. Melihat keadaan Sehun seperti itu membuat hati Baekhyun turut merasakan sakit.
Baekhyun memeluk tubuh Sehun dari belakang, karena Sehun duduk membelakanginya sekarang.
Setelah tersadar dengan kondisi sekitar, perasaan Sehun pun berubah menjadi panik. Kenapa ia berada disini sekarang? Bukankah ia tadi tengah berbaring disebuah ruangan bercat putih, lalu. . .
"Dimana Luhan?!" Tanya Sehun, ia melepaskan tangan Baekhyun yang melingkar dipinggangnya dengan sedikit kasar.
Sehunpun memutar tubuhnya menghadap Baekhyun "Cepat katakan padaku, dimana Luhan!" Sehun mengguncangkan tubuh Baekhyun sembari berteriak.
Rasa panik tengah menyelimuti hati Sehun sekarang. Bahkan wajah Baekhyun yang memandangnya dengan sendu itupun tidak Sehun pedulikan.
"Luhan hyung di-"
"Dokter tengah memeriksanya sekarang"Sahut Kai menghentikan perkataan baekhyun. Sehunpun menoleh kearah Kai yang kini tengah berdiri disamping pintu kamar rawat Luhan.
Sehun ingat sekarang. Seharusnya ia berada dikamar Luhan sekarang bukan disini, dan tadi Luhan. . .
"Kai, bagaimana kondisi Luhan?!" Tanya Sehun panik menghampiri Kai. Tatapan matanya menyiratkan kekhawatiran.
Baekhyun yang melihat Sehun pergi dari hadapannya begitu saja, hanya bisa menundukkan wajahnya sedih.
'Apakah tunangannya itu tidak menganggap kehadirannya disini?' batin Baekhyun pedih.
"Tenang Sehun. Kondisi Luhan sudah membaik sekarang" Jawab Kai sembari tersenyum tulus kearah Sehun.
Sehun menghela nafasnya lega. Sungguh mimpi yang baru saja dialaminya beberapa saat yang lalu, membuat Sehun dilanda rasa takut yang mendalam.
"Sehun" panggil Suho mengalihkan perhatian Sehun sekarang.
Sehunpun menatap Suho, masih dengan wajah paniknya.
Suho menatap Sehun penuh selidik "Apakah kau sudah menikah?"
Bukan tanpa alasan Suho melayangkan pertanyaan itu, namun ia hanya ingin mengetahui status Sehun sekarang. Suho takut apabila Luhan sadar nanti, ia akan mengetahui kenyataan yang pahit dari mulut Sehun, namja yang sangat dicintai Sahabatnya itu.
Bola mata Sehun bergerak gelisah. Pertanyaan Ini yang Sehun takutkan. Haruskah ia mengakuinya? Namun setelah Sehun mengakui statusnya sekarang, apakah sahabat Luhan itu akan memperbolehkannya bertemu dengan Luhan nanti "A-ku. . ."
"Kami telah bertunangan" Jawab Baekhyun yang sekarang menghampiri Sehun.
Bagaimanapun juga Sehun adalah tunangan sah Baekhyun. Tentu Baekhyun akan mengatakan kenyataan itu kepada mereka semua. Suho kemudian beralih menatap Baekhyun.
"Jadi Kalian sudah bertunangan?!" Tanya Suho penuh penekanan. Tao yang sedari tadi tidak mengerti tentang permasalahan itupun, hanya bisa menggenggam tangan kekasihnya untuk menenangkannya.
Kaipun tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah sekian lama, memang sudah semestinya keadaan seperti inilah yang harus mereka terima.
Cklekk . .
Suara pintu yang terbuka membuyarkan ketegangan diantara mereka. Sontak mereka semua mengalihkan perhatiannya menuju pintu. Seseorang yang memakai baju berwarna putih dengan kain berwarna hijau muda yang menutupi sebagian wajahnya keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana kondisi Luhan , Dok ?"Tanya Kai yang kini berdiri tepat disamping pintu kamar itu.
Dokter itupun melepas masker yang ia gunakan. Senyum hangat terpatri di wajahnya yang tampan.
"Sungguh ini adalah sebuah keajaiban Tuhan. Tuan Luhan telah melewati masa kritisnya, dan beberapa menit yang lalu ia telah membuka matanya" Jelas sang Dokter.
Seluruh manusia yang berada diruangan itupun tersenyum haru. Kai segera memeluk Kyungso dan Ziyu, begitupula Suho yang sedang memeluk Tao.
Tuan Xi dan Tuan Oh pun saling merangkul bahu, Yifan yang berdiri disamping para orang tua itupun juga tersenyum haru, karena bahagia.
Seharusnya Yifan mengajak Lay tadi, agar ia bisa memeluk suaminya itu, hihi.:D
Sehunpun juga memeluk tubuh mungil Baekhyun. Hatinya terasa sangat lega sekarang, seolah-olah beban yang sangat berat yang tadinya bersarang di hatinya kini telah terangkat. Sesekali suara-suara kecil seperti 'Terimakasih Tuhan' Sehun lontarkan disela-sela senyum bahagianya.
Sehun mendekap erat tubuh Baekhyun sembari tersenyum bahagia. Baekhyunpun juga membalas pelukan Sehun tak kalah erat. Namun sekarang, Baekhyun memeluk erat Sehun bukan karena ia merasa bahagia, melainkan ia merasa takut.
Takut akan kehilangan tunangannya.
"Ziyu ingin beltemu Baba" gumaman Ziyu mengalihkan perhatian mereka.
Kai pun melepaskan pelukannya dan menatap Ziyu sejenak"Dokter apakah kita boleh menemui Luhan?"Tanya Kai penuh harap.
Dan Dokter itupun mengiyakan pertanyaannya "Boleh, asalkan tidak terlalu lama. Tuan Luhan masih harus banyak beistirahat" Kaipun tersenyum dan membungkukkan badannya "Terimakasih Dokter"
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Aku mendengarnya.
Aku mendengar suaranya yang meneriakkan namaku.
Ia menangis tersedu-sedu. Aku juga merasakan bahwa tangan hangatnya menggengam tanganku, bahkan ia juga menciumnya.
Tuhan apakah itu semua benar ?
Apakah ia melakukan hal itu itu padaku?
Jika benar. Tolong izinkan aku untuk melihat wajahnya lagi, Tuhan.
Cahaya putih yang berkilau, menyeruak masuk kedalam indera penglihatannya. Binar rusa yang telah tertutup cukup lama itu, perlahan-lahan mulai terbuka kembali. Bulu matanya yang lentik bergerak keatas dan kebawah saat bagian yang dilindunginya masih belum bisa menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitar.
"Lu"
"Baba!"
Sebuah suara masuk kedalam indera pendengarannya saat binar rusanya telah terbuka sempurna.
Hatinya berdesir bahagia, saat melihat sosok yang entah sudah berapa lama tidak dilihatnya itu tengah berada dihadapannya sekarang.
Ingin sekali namja bermata rusa itu menyentuh wajah sosok kecil yang sangat disayanginya itu, namun ia tak bisa. Tangannya terlalu lemah untuk sekedar digerakkan. Mungkin terlalu lama tertidur, membuat persendian tubuhnya terasa mati seperti ini.
"Z i - y u" Lirihnya dengan suara serak dan tersendat. Sosok yang dipanggilnya itupun menatapnya dengan wajah yang berbinar-binar.
Sosok kecil itupun memeluk erat namja bermata rusa itu "Baba! Hiks. . . maapkan Ziyu, Baba. Ziyu anak nakal, Ziyu yang membuat Baba teltidul lama. Maapkan Ziyu" gumamnya sembari terisak.
Sosok yang dipeluk itupun hanya mampu tersenyum lemah dan bahagia, setidaknya si kecil yang sangat disayanginya itu baik-baik saja sekarang.
"Ziyu, lepaskan Baba, ne. Baba masih sakit, jangan memeluknya terlalu kuat" Kai mencoba menjauhkan tubuh mungil itu dari Luhan. Kai takut apabila Luhan kesulitan bernafas karena pelukan Ziyu yang terlalu erat.
Ziyu pun melepaskan pelukannya "Mianhae, Baba" ujarnya sembari mengusap lelehan air yang mengalir dari pelupuk mata serta hidung kecilnya.
"Kai-ya, Kyungso-ya" Lirih Luhan saat melihat Kai dan Kyungso yang kini menatapnya dengan haru.
"Selamat datang kembali, Lu" Kata Kai dan Kyungso secara bersamaan. Luhanpun menanggapinya dengan senyuman.
Cklek
Kai dan Kyungso mengalihkan perhatiannya kearah pintu yang kini terbuka, merekapun tersenyum melihat siapa orang yang datang.
Melihat Kai dan Kyungso yang sedang tersenyum, membuat Luhan penasaran dan iapun menoleh mengikuti kearah yang mereka lihat sekarang.
Deg. Mata Luhan membulat, melihat siapa yang kini berjalan kearahnya dan memeluknya sekarang "Appa" Lirih Luhan terkejut.
.
"Ziyu. Ayo kita keluar sebentar"Ajak Kai dan Kyungso kepada Ziyu. Kai memegang pergelangan tangan Ziyu untuk menuntunnya keluar.
"Tapi Appa. Olang itu memeluk tubuh Baba! Ziyu haluth melalangnya, Baba macih cakit, Appa! Ia tidak boleh memeluknya cepelti itu!" Protes Ziyu.
Tadi Appanya menyuruhnya agar tidak memeluk Luhan, lalu kenapa orang tua itu malah memeluk Luhan. Ziyu merasa tak terima.
Kyungso terkekeh kecil, ini pasti karena Suaminya yang melarang Ziyu memeluk Luhan tadi. Makanya bocah berusia 4 tahun itu melakukan hal yang sama.
"Ziyu. Percayalah Baba akan baik-baik saja" Kata Kyungso menenangkan "Bagaimana kalau kita meninggalkan Baba sebentar dengan orang itu, lalu kita membeli eskrim diluar" Tawar Kyungso.
Ziyu menatap Kyungso sembari menggigit bibirnya. Sebenarnya Ziyu tak rela meninggalkan ruangan ini, namun mendengar nama eskrim disebut membuatnya tidak bisa menolak kesempatan itu. Well, tawaran itu sangat menggiyurkan dimata bocah berusia 4 tahun itu.
"Tapi cetelah membeli ecklim kita haluth cegela kecini, ne. . . Eomma" Pinta Ziyu dan Kyungsopun mengiyakan keinginannya "Ne".
Kaipun tersenyum bahagia, akhirnya suaminya yang cantik itu bisa membujuk Ziyu juga " Baiklah, ayo kita pergi" ujar Kai sembari mengangkat tubuh mungil Ziyu.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
"Sehun"
"Baek"
Keduanya memanggil secara bersamaan.
"Kau duluan" pinta Sehun.
Sehun dan Baekhyun kini tengah duduk di ruang tunggu pasien. Perasaan keduanya tengah berkecamuk sekarang ini.
"2 bulan lagi kita akan menikah, Hunie. Aku harap kau tidak melupakannya" kata Baekhyun pelan sembari memilin ujung kemeja yang digunakan hingga sedikit kucal.
Baekhyun harus mengingatkan hal itu kepada Sehun. ia merasa takut apabila Sehun melupakan hari itu nanti.
Deg
Benar, 2 bulan lagi Sehun akan menikah dengan Baekhyun. Setelah selesai magangnya Sehun akan melangsungkan acara tersebut, kan?. Mengapa Sehun bisa melupakan hal itu.
Sehun memang pikun! -_-
Memang, sejak Sehun melihat Luhan lagi, seluruh fikiran serta kerja otaknya seakan terhenti. Hanya ada nama Luhan, Luhan dan Luhan yang bersarang disana. Hingga hari yang sangat penting itupun juga turut terlupakan. Jika seperti ini apa yang harus Sehun lakukan sekarang.
Ia ingin sekali menyuarakan isi hatinya sekarang kepada Baekhyun. Namun Sehun juga tidak ingin membuat Baekhyun dan keluarganya kecewa.
Sehun tidak boleh egois lagi.
"Um. Aku ingat" Kata Sehun dengan pandangan kosong kedepan.
"Lalu. Apa yang ingin kau katakan tadi?"Tanya Baekhyun sembari memandang Sehun.
"Ah, tidak. Lupakan saja" Jawab Sehun sembari tersenyum paksa.
Baekhyun melihat senyum itu. Senyum kesedihan dan kekecewaan yang terpancar diwajah Sehun sekarang. Sebenarnya Baekhyun sudah mengetahui bagaimana perasaan Sehun sebenarnya. Ia juga merasa sedih melihat kondisi Sehun yang seperti itu, sejak bertemu Luhan tadi. Namun, Baekhyun juga tidak bisa apabila ia harus merelakan Sehun. Baekhyun terlalu, sangat mencintai Sehun.
Apakah Baekhyun egois ?
.
.
.
Diruangan bernuansa putih itu, kini nampak 2 orang namja yang tengah duduk dan terbaring di tempatnya. Mereka duduk dalam keterdiaman. Perasaan sedih, haru, rindu, kecewa dan bahagia masih berkecamuk di hati dan fikiran mereka. Hingga pergerakan kecil itu datang dan membuyarkan segalanya.
"Luhan. Mianhae" Panggil sosok namja paruh baya yang diketahui bernama Tuan Xi Yuhno. Ia memegang tangan kecil putranya yang kini tengah terbaring itu dengan erat. Raut wajahnya penuh dengan penyesalan "Maafkan Appa, Lu. Appa bukanlah Ayah yang baik untukmu, kau boleh menghukum Appa, nak. Kau boleh memukul ataupun memarahi Appa, silahkan. Kau berhak nak. Tapi Appa mohon, jangan pernah meninggalkan Appa lagi. Appa tidak bisa kelihangan dirimu lagi, Luhan" sesal Tuan Xi sembari mencium tangan mungil putranya itu.
Tuan Xi sangat menyesal. Setelah membaca surat yang beberapa tahun yang lalu ditinggalkan Luhan untuknya di Apartemenlah yang membuatnya sadar. Ia sangat menyesal dan merasa bersalah kala itu. Ia juga sadar, bahwa dulu ia sempat mengabaikan Luhan. Namun itu semua bukan karena Tuan Xi membenci Luhan, melainkan ia sangat sibuk menangani pekerjaannya yang berlipat ganda.
Sejak saat itu Tuan Xi mulai mencari keberadaan Luhan. Namun ia tidak berhasil menemukannya. Berpuluh-puluh anak buah yang Tuan Xi kerahkan untuk mencari Luhanpun juga tidak dapat mengetahui keberadaan Luhan. Hingga Tuan Xi pun frustasi, dan lebih memilih menghentikan sejenak pencariannya. Kala itu bisnisnya mengalami kemajuan yang sangat pecat, hingga membuatnya kerepotan untuk mengatasinya. Sampai hari ini, Kai tiba-tiba menelfonnya dan memberitahu dimana Luhan, dan bagaimana keadaannya sekarang. Tuan Xi merasa bahagia dan sedih secara bersamaan.
Seulas senyum terpatri di wajah pucat Luhan. Selama tinggal di pulau ini, Luhan telah belajar banyak hal. Ia belajar bagaimana cara memahami, menghibur dan memaafkan seseorang. Luhan yang sekarang bukanlah Luhan yang dulu lagi. Jika kelakuannya dulu seperti iblis kejam yang jahat, kini berubah menjadi Malaikat berseri yang baik hati.
Luhan juga telah menghapus seluruh rasa bencinya kepada Baekhyun selama ini. Ia sadar, bahwa itu memang bukan kesalahan Baekhyun. Kematian Mamanya adalah sebuah takdir.
Yeah, Seperti yang seseorang itu katakan kepadanya dulu, bahwa semua karena takdir Tuhan.
"Ap-pa" Panggil Luhan, Tuan Xi pun mendongakkan wajahnya menatap Luhan "Luhan sudah memaafkan Appa" Lirih Luhan. Senyum tulus terpancar diwajahnya.
Tuan Xipun memandang putranya dengan haru, ia tak menyangka bahwa Luhan akan dengan mudah memaafkannya.
"Terimakasih, nak. Appa sangat menyayangimu" gumam Tuan Xi sembari memeluk tubuh lemah Luhan.
Dari luar ruangan, berdirilah sosok namja tampan yang tengah mengamati adegan Ayah – anak, itu sedari tadi. Air matanya sempat menetes saat menyaksikan adegan yang sangat mengharukan itu.
Sepertinya ia harus mengurungkan niatnya untuk menemui namja cantik itu sekarang.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Beberapa minggu telah berlalu sejak kejadian itu. Kondisi Luhan juga sudah mulai membaik sekarang. Namun ada satu kenyataan menyakitkan, yang harus Luhan terima.
Karena Luhan telah tertidur terlalu lama, otot-otot ditubuhnya masih kaku dan sulit untuk digerakkan. Dokter menyatakan bahwa Luhan mengalami kelumpuhan sementara.
Mendengar itu, Luhan sama sekali tidak bersedih ataupun meronta-ronta tak terima. Namun ia malah tersenyum, senyum yang sangat hangat. Dokter mengatakan bahwa hal itu hanya sementara, setidaknya masih ada harapan untuk sembuh, kan – fikir Luhan.
"Kyungso-ya" panggil Luhan.
Kini mereka tengah berada di pekarangan rumah sakit. Luhan duduk di sebuah kursi roda yang tengah didorong oleh Kyungso. Kyungso mengajak Luhan mengelilingi area rumah sakit untuk mencari udara segar. Karena menurut orang-orang, udara segar sangat baik untuk membantu kesembuhan.
"Em" Sahut Kyungso "Kenapa Lu?" Tanyanya.
Luhan menggigit bibirnya ragu untuk melontarkan pertanyaan ini. Namun Luhan sangat penasaran, beberapa hari yang lalu Tuan Oh, Yifan dan Baekhyun telah menemuinya. Bahkan Luhan juga sudah meminta maaf kepada Baekhyun, meskipun Baekhyun hanya menanggapinya dengan senyuman, namun Luhan tak mempermasalahkannya. Toh, kesalahan yang telah dilakukannya selama ini memang terlalu besar, dan Baekhyun berhak apabila ia tidak memaafkan Luhan. Namun ada satu orang yang belum menampakkan batang hidungnya didepan Luhan, selama ini.
Apakah sosok yang selama ini Luhan rindukan itu, tidak mengetahui keberadaannya? mungkinkah sosok itu tidak ingin datang menjenguk Luhan? Atau . . .ia bahkan masih membenci Luhan?
Melihat Luhan yang terdiam, memaksa Kyungso untuk berhenti mendorong kursi roda Luhan. Kyungso berjalan ke hadapan Luhan. Ia menunduk dan mengunci kursi roda Luhan kemudian menatapnya.
Raut wajah sendu memancar di wajah Luhan. Kyungso mengerutkan keningnya bingung. Sebenarnya apa yang membuat Luhan berubah menjadi murung seperti ini?
"Katakan, Lu" Kyungso mengenggam tangan kurus Luhan "Apa yang mengganjal difikiranmu sekarang?" pinta Kyungso.
Luhan semakin menundukkan wajahnya sedih "Aku merindukannya. Hiks. . Aku merindukannya, Kyung" akhirnya tangisan itupun lolos dari bibir Luhan.
Tak tega, Kyungsopun segera memeluk tubuh rapuh sahabatnya itu. Kyungso tau Luhan sangat merindukan sosok itu. Dulu bahkan selama di Asrama Luhan tak ada hentinya menceritakan bagaimana sosok yang di cintainya itu, kepada Kyungso. Seluruh perjalanan hidupnya, Luhan ceritakan kepada Kyungso. Sejak mengetahui itu, Kyungso selalu membantu Luhan untuk bangkit dari keterpurukannya. Kyungso jugalah yang membantu Luhan untuk kembali ke sifat aslinya.
'Haruskah aku memberi tahu Luhan?' batin Kyungso.
Mata Kyungso membulat, saat pandangannya bertemu dengan sosok yang kini tengah berdiri mematung di balik sebuah pohon, tak jauh dari tempat Kyungso dan Luhan sekarang. Sosok itu menggelengkan kepalanya, seolah-olah tengah melarang Kyungso untuk mengatakan apapun saat ini.
"Mianhae" Lirih sosok itu kemudian berbalik pergi.
.
.
.
Namja Bodoh !
Pengecut !
Tidak seharusnya ia bersembunyi dan menghindari kenyataan ini. Namun, apa daya rasa malu dan tak pantas selalu menghantui fikirannya saat melihat wajah malaikat itu.
Sehun menjambak rambutnya frustasi sekarang. Ia berjalan tak tentu arah meninggalkan pekarangan rumah sakit itu. Hatinya hancur, kondisinya berantakan bahkan kemeja yang tadinya tertata rapi itu kini tengah keluar dari tempatnya.
Sehun menghentikan langkahnya saat sebuah suara datang memanggilnya sekarang.
"Thehun Thaem!" Seorang bocah kecil berlari menghampiri Sehun.
"Ziyu!" Kaget Sehun saat mendapati sosok kecil yang tengah memeluk kakinya saat ini. Sosok kecil itupun mendongak menatap Sehun dengan binarnya "Kau bersama siapa sayang?" Tanya Sehun sembari mengangkat tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Baba, cudah bangun Thaem!" Teriak bocah itu, mengabaikan pertanyaan Sehun "Ziyu ingin mengenalkan Thaem kepada Baba" Kata Ziyu bersemangat, tanpa ia ketahui sorot mata Sehun tengah berubah panik sekarang.
Ziyu bergerak-gerak digendongan Sehun, meminta untuk diturunkan. Sehunpun menurunkan Ziyu kemudian. "Ayo, Thaem" Ajak Ziyu yang kini sudah memegang erat tangan kanan Sehun menggunakan tangan mungilnya.
"T-tapi Ziyu, Saem har-"
"Tidak ada tapi-tapian!" Sergah Ziyu cepat. Ia menarik tubuh jakung Sehun, membuat Sehun sedikit tertarik oleh pergerakan kecil Ziyu. Dengan terpaksa, Sehunpun mengikuti Ziyu.
'Baiklah, Sehun tidak boleh menghindar lagi.'
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
"Cepat buka mulutmu, Lu"
"Tidak, Kai. Perutku sudah penuh, aku tidak mau makan lagi"
"Penuh bagaimana?! Baru dua kali kau menelan makananmu, bagaimana bisa penuh, eoh?!" Teriak namja berkulit gelap marah.
Sedangkan namja yang tengah dimarahi itupun, hanya menundukkan wajahnya sedih "Tapi aku mual Kai, aku tidak bisa menelan makanan itu lagi" Lirihnya
"Apa?! Mual?! Kau hamil, Lu?! Astaga, kau namja Lu. Aku tidak percaya bahwa kau bisa ham-Aww "
"Yak! Kyungie kenapa kau memukulku!" Kai berteriak marah saat sebuah tangan mungil memukul kepalanya. Sang pelakunya kini tengah terkekeh geli.
Pletakk
Kemudian sosok itu menambah penderitaan Kai, dengan menjitak kecil keningnya.
"Aw" pekik Kai kemudian mengusap keningnya "Kyungie, kau jahat" Kesal Kai sembari memasang wajah memelasnya.
"Dasar, Kai bodoh. Mana mungkin kau bisa berfikiran bahwa Luhan hamil, eoh? Bukankah selama ini yang Luhan lakukan hanya tidur, tidak mungkin ia bisa hamil begitu saja. Lagi pula Luhan adalah seorang namja biasa, bukan namja Transgender ataupun special. Luhan tidak mungkin bisa hamil, Sayang" Jelas Kyungso sembari melipat tangannya didada.
"Lalu kenapa dia mual?!" Tanya Kai yang masih belum mengerti.
Ingin sekali Kyungso menjitak kembali kepala suaminya yang bodoh itu, namun ia mengurungkannya. Kyungso takut dosanya bertambah banyak kepada sang suami.
"Kai sayang" Kyungso mengelus kening Kai yang baru saja ia sentil tadi " Luhan mual, karena kondisinya masih belum stabil. Tubuhnya masih belum bisa menerima makanan terlalu banyak. Kau tau kan jika Luhan sudah tertidur terlalu lama? Makanya makanan-makanan itu masih terasa asing ditubuhnya"
Luhan yang penasaranpun akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan kepada mereka "Memangnya sudah berapa lama aku tertidur ?" tanya Luhan dengan tampang polosnya.
"Satu tahun!" Jawab Kai "Lebih!" tambah Kyungso mendelikkan mata tajamnya.
Keduanya menoleh kearah Luhan secara bersamaan. Luhanpun hanya membuka mulutnya membentuk huruf O, setelah mendengar jawaban mereka.
"Baba!" Triak sosok kecil yang baru saja memasuki ruangan itu.
Luhan menatap bocah itu terkejut "Ziyu!"
Sosok kecil itupun berlari mendekati ranjang Luhan "Kau, darimana saja sayang?" Tanya Luhan sembari mengelus surai madu Ziyu.
"Pasti Ziyu pergi ketaman rumah sakit lagi, Lu" Sahut Kai yang kini duduk di salah satu kursi didalam ruangan itu. Setelah Luhan menolak disuapi, Kyungso dan Kai memilih duduk disana sembari menyesap kopi yang baru saja di belinya tadi.
"Tidak!" Sergah Ziyu cepat "Tadi Ziyu pelgi ke lual lumah cakit. Baba! Ziyu ingin mengenalkan Baba kepada gulu balu Ziyu yang tampan" Ujar sosok kecil itu bersemangat.
Luhan terkekeh geli oleh perkataan Ziyu. Ternyata, bocah yang baru berusia 4 tahun jaman sekarang, sudah mengerti bagaiamana sosok yang tampan "Mana Ziyu? Baba ingin melihatnya" Kata Luhan ingin tau.
"Thaem. Macuklah!" Teriak Ziyu kearah pintu.
Kyungso dan Kaipun kini hanya bisa menggigit bibir mereka gelisah. Bagaimana respon Luhan saat melihat sosok itu nantinya ?
.
Haruskah aku masuk ?
Tangan namja tampan itu gemetar, saat memegang knop pintu berwarna cokelat itu sekarang. Sosok itu menghela nafasnya pelan sebelum memantapkan hatinya. huh
Cklek
"Annyeong"
Deg
Mata rusa itu membulat. tangan Luhan yang tadinya membelai Ziyupun kini terkulai lemas. Tidak, Luhan tidak pingsan. Ia hanya terkejut saat ini.
"S-sehun" Bibirnya bergetar saat menyebut nama itu.
"Ziyu! Kemari" Kai memanggil Ziyu pelan. Ziyupun menghampiri Kai dan Kyungso "Sehun Saem dan Baba akan berbicara sebentar. Kita harus keluar" Kyungso berbisik ke telinga Ziyu. Tanpa berfikir panjang Ziyupun segera menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga keluar dari ruangan itu.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
"Maaf Tuan. Adakah yang bisa saya bantu? sepertinya Anda sedang mencari sesuatu?" Ujar namja bereyeliner saat melihat sosok yang tengah kebingungan didalam butiknya.
Sosok itupun menoleh kearah namja bereyeliner itu, Baekhyun.
"Eoh. Anda?!" Kaget Baekhyun saat melihat wajah itu. Wajah orang yang selama beberapa hari ini tidak pernah absen berkunjung kebutiknya.
"Ehm. Hay" Namja itu menyapa Baekhyun dengan gugup.
"Adakah yang bisa saya bantu Tuan?" Baekhyun menanyai namja itu kembali dengan senyum ramahnya.
"Ya. Tentu!" namja itu menjawab dengan tegas "Bisakah kita membicarakkannya diluar, di Coffe shop mungkin?" ajaknya.
"Eoh" Baekhyun mengernyitkan keningnya bingung "Tidak bisakah anda mengatakanya di sini saja, Tuan?"
Namja itu menggelengkan kepalanya, menolak "Tidak"
Tanpa membuang waktu, namja itupun menarik tangan Baekhyun keluar dari butiknya.
"Yak! Tuan! Jangan menarikku! Kita mau kemana?" teriak Baekhyun sembari meronta-ronta " Jimin! Tunggu butik sebentar! Aku mau pergi dulu." Baekhyun meneriaki salah satu pegawainya untuk menjaga toko.
"Ne" sahutnya.
.
.
.
Setelah terselimuti oleh keterdiaman. Akhirnya Sehun mengajak Luhan untuk berbicara. Sehun membawa Luhan ke area taman rumah sakit.
Saat ini Pulau Nami memasuki musim panasnya. Daun-daun ponon yang tinggi menjuntai itu kini berubah warna menjadi kemerahan. Angin berhembus cukup kencang mengenai tubuh mereka, surai madu Luhanpun turut bergerak-gerak akibat terpaan angin itu. Meskipun sekarang cuacanya tengah panas namun semilir angin-angin itu mampu menyejukkan hati mereka.
Sehun tengah duduk berdampingan dengan Luhan sekarang. Sebelumnya Sehun telah mengangkat tubuh kurus Luhan dari kursi roda dan menempatkannya di sebuah kursi yang telah tersedia di taman itu.
"Bagaimana kabarmu, Sehun?" Suara Luhan memecahkan keheningan.
"Baik" Jawab Sehun. Kemudian ia menatap Luhan "Kau sendiri?" Tanya Sehun.
Senyum dibibir Luhan mengembang saat mendengar pertanyaan Sehun "Yah. Seperti yang kau lihat" Jawabnya.
'Bodoh! Sehun bodoh!' umpat Sehun dalam hati. Jelas-jelas Sehun tau keadaan Luhan sekarang, mengapa ia malah melontarkan pertanyaan itu.
"Mungkin Tuhan telah menghukumku sekarang, namun dengan senang hati aku akan menerima hukuman ini. Aku sudah sangat beruntung karena Tuhan telah memberikan kesempatan untuk membuka mataku kembali" Kata Luhan masih dengan senyumannya.
'Tidak Lu! Kau namja baik, Tuhan tidak mungkin menghukummu. Tuhan membiarkanmu membuka mata kembali, karena Ia tidak ingin mengambil malaikatnya cepat-cepat. Tuhan maha mengetahui, Lu. Ia tahu betul bahwa senyuman malaikatnya itu sangat dirindukan banyak orang. Begitu pula aku, yang merindukan senyumanmu, Lu " Batin Sehun. Tatapannya tertuju pada bibir Luhan yang tengah tersenyum sekarang "Mianhae" Luhan beralih menatap Sehun, keningnya mengkerut bingung.
"Maafkan atas perkataanku yang telah menyakitimu dulu, ah ani tapi juga kelakuanku yang kasar kepadamu dulu" Kalimat yang diucapkan Sehun sangat bera ntakan sekarang, Sehun takut akan respon apa yang Luhan berikan kepadanya nanti. Ia bahkan mengatakannya dengan wajah yang menunduk sekarang.
Kerutan di kening Luhan berubah menjadi seulas senyum dibibirnya 'Aku sudah memaafkanmu' kata Luhan dalam hati.
Sehunpun melanjutkan kalimatnya "Saat di hutan, aku hanya terbawa emosi. Sampai-sampai aku melontarkan kalimat yang tidak harusnya aku ucapkan itu kepadamu. Aku menyesal, Lu"
'Aku tau, kau sangat mengkhawatirkan Baekhyun kala itu' batin Luhan menatap Sehun sendu.
"Perbuatanku lah yang seharusnya tidak termaafkan. Kau boleh memukulku, kau juga boleh mencaciku sepuas hatimu, Lu. Aku akan menerimanya, tapi aku mohon maafkan aku" Sehun mengakhiri kalimatnya.
Luhan menepuk bahu Sehun menggunakan tangan kanannya "Aku sudah memaafkanmu" Katanya.
Sehun menatap Luhan terkejut.
Luhan melontarkan senyum hangatnya untuk Sehun. Ia tau bahwa Sehun sangat menyesali perbuatannya dulu, terlihat jelas dari sorot matanya yang penuh sesal.
Kini giliran Luhanlah yang terkejut, karena Sehun tengah memeluknya sekarang "Gomawo, Lu" Ucap Sehun. Luhanpun mengangguk dan mengusap punggung Sehun lembut.
Berdebar. Jantung keduanya berdebar sangat kencang sekarang.
.
Setelah berpelukan cukup lama, Sehunpun melepasnya.
Biar bagaimanapun juga, Sehun harus menyelesaikan pemasalahan ini sekarang. Sehun juga harus memberitahu Luhan tentang kenyataan pahit yang harus disampaikannya.
"Lu. Aku ingin memberikan ini untukmu" Kata Sehun sembari mengeluarkan sebuah kertas berwarna biru, yang terlilit pita kemudian memberikannya kepada Luhan.
Luhan mengambil kertas itu dengan tangan yang gemetar. Matanya menatap nanar kertas itu saat melihat tulisan yang tertera disana "Kau-".
"Ya. Minggu depan aku akan menikah dengan Baekhyun. Aku harap kau bisa datang, Lu." Kata Sehun sembari memegang tangan Luhan.
Sehunpun segera beranjak dari sana, setelah mengatakan hal yang menyakitkan itu 'Mianhae. Luhan, saranghae' batin Sehun.
Tubuh Luhan bergetar hebat, tangisan pilunya pun terdengar sangat menyayat hati setelah kepergian Sehun.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
Hari ini adalah hari yang sangat tidak diinginkan Luhan di sepanjang sejarah hidupnya. Hari dimana sosok yang sangat dicintainya akan menjadi milik orang lain, ah bukan orang lain tapi adiknya sendiri.
Luhan mengurung dirinya didalam kamar sejak kepulangannya dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Luhan juga menolak ajakan Appanya untuk kembali ke Seoul, karena ia belum tega jika meninggalkan anak-anak yang sangat disayanginya itu serta ia tidak akan pernah sanggup melihat 'mereka' bersama. Hampir setiap hari suara isak tangis keluar dari dalam kamar namja bermata rusa itu.
"Lu. Buka pintunya, jangan mengurung dirimu seperti ini!" Pinta Kai yang sedari tadi berdiri di depan kamar Luhan. Dari dalam kamar Luhan sama sekali tidak mengindahkan panggilan Kai. Ia hanya duduk melamun di atas kursi rodanya, sembari menggenggam erat kertas berwarna biru.
"Lu. Ziyu ingin bertmu dnganmu." Kali ini suara Kyungso yang baru saja datang bersama Ziyu menyeruak masuk kedalam kamar Luhan "Ziyu menangis, Lu" tambah Kyungso.
Benar saja sosok kecil itu kini tengah menangis dipelukan Kyungso "Baba! Hiks. . ."
Tak tahan mendengar suara tangis Ziyu yang memilukan itu, hati Luhanpun meluluh. Ia mendorong kursi rodanya mnuju pintu kemudian membukanya.
"Baba!" Ziyupun turun dari pelukan Kyungso kemudian berlari memasuki kamar itu. Setlah Ziyu masuk, Luhan segera menutup pintunya kembali.
Kai, Kyungso dan Suho yang berada diluar ruangan itupun akhirnya bernafas lega. Merekapun berlalu pergi dari depan pintu kamar Luhan.
.
"Baba! Hiks" Ziyupun menangis sembari memeluk leher Luhan dari samping. Karena kursi roda yang Luhan kenakan saat ini menghalangi tubuh mungil Ziyu untuk masuk kedalam pelukan Luhan.
Luhan pun merasa bersalah karena beberapa hari ini telah mengabaikan Ziyu, anak kecil yang menjadi semangat hidupnya.
.
Mengenai Ziyu, sepertinya ada sedikit penjelasan. Ziyu adalah bayi yang tidak sengaja ditemukan Luhan tepat didepan asrama 4 tahun yang lalu. Tubuhnya yang masih merah terbungkus oleh kain biru yang cukup tipis kala itu. Bayi itu menangis kencang saat pertama kali Luhan menemukannya, ia menangis kedinginan. Luhan yang tak tega melihat bayi itupun, segera mengambil dan merengkuhnya kedalam pelukan. Sungguh ajaib, bayi itu tiba-tiba terdiam dari tangisnya saat berada dipelukan Luhan. Mulai saat itulah Luhan berjanji, bahwa ia akan menjaga dan menyayangi bayi mungil itu seperti anak kandungnya sendiri. Luhanpun mencium pipi gembil Ziyu, untuk menghentikan tangisan bocah itu.
"Mulai saat ini, akulah Babamu. . . Ziyu"
.
Ziyu melepaskan pelukannya dan menatap Luhan dengan mata bulatnya yang masih basah.
"Baba! Ziyu ingin membelikan ini untuk Baba! Thehun Thaemlah yang menitipkan ini untuk Baba!" Luhan menatap sebuah kertas berwarna putih sedikit kucal, yang telah diletakkan Ziyu di tangannya.
Luhanpun membuka kertas putih itu dengan tidak sabar. Air matanya mengalir deras saat mata rusanya melihat tulisan didalam kertas itu. Luhanpun bergegas menjalankan kursi rodanya keluar dari kamar. Kedua tanggannya ia gunakan untuk mendorong roda kursi roda itu dengan cepat.
"Aku juga mencintaimu, Luhan . . ."
Untung saja letak kamar Luhan ada di lantai bawah gedung asrama itu, makanya Luhan bisa dengan mudahnya memacu kursi roda itu.
.
"Baba! Tunggu Ziyu!" Sosok anak kecil itu berteriak dibelakang Luhan. Kaki mungilnya berlari mengikuti laju kursi roda itu.
Luhan tidak menghiraukan terakan Ziyu dibelakangnya, yang ada di fikirannya kali ini adalah Sehun. Sehun yang ternyata membalas perasaannya. Luhan harus membatalkan pernikahan itu, sekarang juga!
Kini Luhan sudah berada di tepi jalan untuk menyeberang. Dirasa tidak ada kendaraan yang melintas, Luhanpun segera melajukan kursi rodanya menyebrangi jalan.
Tanpa Luhan sadari bahwa kini masih ada sosok kecil yang berlarian menyusulnya. Sosok kecil itu berlari menyeberangi jalan tanpa melihat sisi kanan dan kirinya. Hingga sebuah bel yang cukup keras terdengar menggema di tempat itu.
Teeeetttttttttt
"Baba!" teriaknya membuat Luhan terkejut. Ia menghentikan kursi rodanya dan menoleh kebelakang "Ziyu! Awas!"
Teeeeeettttttttttt...
Dug dug dug
Debaran jantung yang cukup keras mulai terdengar.
Bumi seolah-olah berhenti berputar. Keadaan sekitar terlihat berubah menjadi mengabur sekarang. Kamera fokus kini hanya mengarah kearah Luhan, Ziyu dan Bis mini itu secara bergantian.
Ckitttttt
Pengemudi bus itu mengerem kendarannya tepat beberapa centi dari kedua sosok besar dan sosok kecil yang kini tengah berpelukan.
"Hey~ apakah kalian tidak apa-apa ?" Tanya sopir itu dari dalam bus yang dikemudikannya dengan sedikit panik.
"Ziyu. Mianhae" sosok namja yang memeluk Ziyu itupun semakin memeluk Ziyu erat saat mendengar isakan kecil keluar dari bibir Ziyu, ia menyesal.
"Ne, Baba. Ziyu tidak apa-apa. . hiks. . Ziyu hanya takut!" Kata Ziyu dengan bibir bergetar.
"Hey~ apakah kalian tidak apa-apa?" Sopir itu mengajukan pertanyaannya kembali.
Luhan - namja itu mengangkat tubuh mungil Ziyu kedalam pelukannya. Kemudian ia mengangguk, bahwa mereka baik-baik saja kini.
Senyum cantik terlukis diwajah Luhan saat melihat bus yang kini berhenti didepannya itu adalah bus menuju Seoul "Ahjussi. Apakah kita boleh menumpang?" Tanya Luhan.
Supir bus itu mengangguk, mengiyakan "Tentu saja"
Luhanpun mulai melangkahkan kakinya menaiki bus. Namun sebelum itu. .
"Baba! Baba cudah bica beljalan? Baba, Ziyu cenang!" Teriak Ziyu kegirangan.
Sepertinya Luhan juga baru menyadari keadaannya sekarang.
Yeah, saat melihat sebuah bus yang berjarak tak jauh dari Ziyu tadi, Luhan sangat panik. Hatinya seolah-olah mendorongnya dengan sebuah kekuatan super. Tiba-tiba kakinya yang mati rasa itu berubah menjadi kuat. Luhan berdiri dengan tegap, menghempaskan kursi rodanya kebelakang kemudian berlari untuk menyelamatkan Ziyu.
'Terimakasih Tuhan' batinnya. Luhan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, atas mukjizat yang telah ia berikan untuk Luhan.
.
Luhan dan Ziyu menaiki bus. Kemudian bus itupun melaju kencang meninggalkan jalanan itu setelahnya.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
"Kai-ya, Kyungsoo. . . Luhan dan Ziyu menghilang!" Teriak Suho panik.
Saat Suho akan mengantarkan makanan ke kamar Luhan, tiba-tiba kamar itu sudah terbuka. Dan dua orang yang tadinya berada dikamar itupun sekarang telah mengilang entah kemana.
Kai, Kyungso dan Taopun datang menghampiri Suho dengan perasaan yang tak kalah panik.
"Kemana perginya mereka, Kai. Hiks . . ." Tanya Suho yang kini sudah terisak. Tao menghampiri tubuh kekasihnya yang kini bergetar itu kemudian memeluknya "Ssst. Tenang Baby, Luhan dan Ziyu pasti baik-baik saja" Tenang Tao.
"Apa itu?" kening Kai mengernyit.
Secarik kertas kecil yang terletak tepat didepan pintu kamar Luhan itupun kini menjadi object perhatiannya. Kaipun memungut dan membukanya.
'Aku juga mencintaimu, Luhan . . .'
"Sepertinya aku tau dimana mereka sekarang" Kata Kai sembari tersenyum kecil.
Suho, Tao dan Kyungsopun menatap Kai penuh tanya.
.
.
.
*** Matchmaking ***
.
.
.
"Baba, ini lumah ciapa?" Tanya Ziyu.
Mereka kini tengah berada tepat didepan gerbang runah yang sangat megah. Rumah yang selama beberapa tahun ini tidak dilihatnya. Tidak ada perubahan apapun dirumah ini, kondisinya masih sama seperti saat terakhir kali Luhan mendatanginya.
"Ini rumah Oh Ahjussi, Ziyu" Jawab Luhan kepada Ziyu yang kini berada dipelukannya. Ziyu memutar bola matanya keatas, berfikir "Oh Ajucci itu tiapa, Baba?" Luhan mengacak surai Ziyu gemas "Beliau adalah Appanya Sehun Saem" jelas Luhan. Sosok kecil itu membulatkan mulutnya 'Ow' kemudian mengangguk mengerti.
Saat akan membuka pintu gerbang, Luhan menolehkan wajahnya kekanan dan kekiri untuk melihat-lihat keadaan sekitar.
Aneh. Kenapa tempat ini sepi? Tidak ada satu mobilpun yang terpakir di halaman itu. Apakah Acaranya sudah selesai? Apakah Luhan datang terlambat . . .
Deg
Pegangan Luhan kepada pintu gerbang itu mengendur, persendiannya terasa lemah sekarang. Bahkan seandainya Ziyu tidak mengalungkan tangan mungilnya dengan erat di leher Luhan, pasti Luhan sudah menjatuhkan tubuh mungil itu.
Luhan terlambat, ia benar-benar terlambat. Sekarang sosok yang dicintainya itu pasti sudah menjadi milik orang lain.
Luhan membalikkan badannya lemah, ia urungkan niatnya untuk membuka gerbang itu.
'Toh, tidak ada lagi yang menjadi tujuannya sekarang. Luhan terlambat, dan semuanya telah berakhir . . .'
Namja bermata rusa itu berjalan lunglai meninggalkan bangunan itu. Pandangannya kosong mengarah kedepan, sesekali tubuhnya akan limbung kesamping. Dan itu membuat Ziyu takut, ia semakin mengeratkan tangan mungilnya melilit leher Luhan.
"Ziyu-ya, Baba terlambat" lirih Luhan dengan nada suara yang bergetar "Kita terlambat, Ziyu, hiks . . ." Tangisan Luhanpun pecah di ceruk leher Ziyu. Luhan memeluk tubuh Ziyu sangat erat, seolah-olah Ziyu akan menghilang apabila Luhan melepaskannya.
"Baba" Ziyu memanggil pelan Luhan, kemudian mengecup pipinya. Kebiasaan yang selalu Luhan lakukan kepada Ziyu apabila ia menangis itu, kini Ziyu praktekkan kembali kepada Luhan. Namun tangisan Luhan tidak berhenti, malah bertambah keras menurut Ziyu.
Bola mata Ziyu membulat saat melihat siapa orang berjalan dibelakang Luhan kini.
"Baba! Th-" Ziyu menghentikan teriakannya saat sosok itu meletakkan jari telunjuknya didepan mulut, dan Ziyupun mengerti bahwa sosok itu tidak mengizinkan Ziyu untuk memberitahu Luhan.
"Mengapa ia mengungkapkan perasaannya, jika akhirnya dia akan menikah dengan orang lain, hiks. . . Mengapa, Ziyu?"Luhan masih sibuk menangis dan bertanya kepada Ziyu.
Sedangkan Ziyu kini tengah terkikik geli bersama sosok yang kini tengah memegang tangan mungilnya yang terulur. "Lu" sosok itu mencoba memanggil Luhan.
"Bahkan sekarang aku mendengar suaranya memanggilku" Luhan tersenyum kecut "Kau sudah gila, Luhan" Luhan mengatai dirinya sendiri. Hal itu berhasil membuat sosok yang berjalan dibelakangnya itu semakin terkikik geli, ia bahkan menutup mulutnya agar kekehannya tidak terdengar.
"Thehun Thaem, nakal" mulut Ziyu bergerak tanpa suara "Ziyu juga" balas Sehun sembari menjulurkan lidahnya ke Ziyu. Bukannya merasa sebal, Ziyu malah terkekeh geli.
Cara berjalan Luhan sudah semakin tak karuan saja, kadang ia melenceng kekanan kemudian melenceng lagi kekiri. Luhan jadi berfikir, apakah kekuatan super yang diberikan Tuhan tadi hanya bersifat sementara? Apakah Tuhan akan mengambilnya kembali? Kenapa tubuh Luhan kembali lemah saat ini.
Karena terlarut dalam pemikiran konyolnya, Luhan tidak menyadari bahwa didepannya kini ada sebuah lubang yang cukup dalam. Tubuhnya oleng setelah menginjak lubang itu, namun sebelum ia dan Ziyu terjatuh ada seseorang yang menopang tubuhnya dari belakang agar tidak jatuh.
"Ah, gomawo" Luhanpun mengucapkan terimakasih kepada seseorang itu tanpa menoleh kebelakang.
Perasaan kesal tiba-tiba menerpa hati Sehun, karena Luhan tak kunjung menoleh kebelakang.
Sehun tidak bisa mengontrol perasaannya lagi saat ini. Tangan kekarnya menyentuh pergelangan tangan namja cantik itu sekarang, berharap bahwa namja cantik itu menoleh kearahnya, namun harapan Sehun luntur. Luhan masih saja berjalan tak menghiraukan tangannya yang tengah Sehun pegang sekarang.
Ziyu menundukkan wajanya takut saat melihat wajah merah Sehun saat ini. Sehun melepaskan cekalan tangannya kemudian memutar balik tubuh Luhan dengan paksa.
Deg
Betapa terkejutnya Sehun saat melihat wajah cantik yang sembab itu. Sorot matanya yang berbinar kini meredup, bulu matanya yang lentik kini lengket oleh air mata. Hati Sehun menclos melihat kondisi Luhan sekarang. Sehunpun merengkuh tubuh rapuh itu kedalam pelukannya.
"S-sehun" Lirih Luhan "Ne, Lu. Ini aku" kata Sehun sembari mengusap surai belakang Luhan.
"S-sehun, Sehun-ah?" Luhan masih belum mempercayai kehadiran sosok itu.
"Benarkah ini kau?" tanya Luhan dengan bibir yang bergetar. Sehun mengangguk kemudian mengecup pucuk kepala Luhan "Ne, aku Sehun. Oh Sehun, namja bodoh yang telah menyia-nyiakan cinta seorang malaikat sepertimu, mianhae" sesal Sehun.
Luhan semakin meratkan pelukannya ditubuh Sehun, bahkan Ziyu yang berada ditengah-tengah merekapun tidak Luhan anggap keberadaannya sekarang. "Sehun-ah. hiks . . . Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Aku mohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku tidak sanggup melihatmu bersanding dengan orang lain. Lebih baik Tuhan mencabut nyawaku sekarang daripada aku harus melihatmu menjadi milik orang la-hmmppptt" Sehun mendaratkan sebuah ciuman dibibir Luhan untuk menghentikan perkataannya.
Sehun mencium bibir Luhan dengan lembut penuh cinta, membuat tubuh Luhan terbuai dan terlena. Sehun melumat bibir atas Luhan kemudian menyesapnya, Luhanpun tak mau kalah. Luhan juga menyesap bibir bawah Sehun kemudian menggigitnya pelan, membuat Sehun melenguh dalam kenikmatan. Setelah puas menyesap bibir atas Luhan, Sehun memasukkan lidah panjangnya kedalam rongga mulut Luhan. Lidah Sehun melilit lidah mungil Luhan kemudian menarik dan menyesapnya, lidah mereka tengah beradu gulat sekarang. Ciuman mereka semakin lama semakin menggairahkan, Luhan dan Sehun tidak bisa menahan gairah mereka.
"Baba! Sesak!" Ziyu bergerak-gerak gelisah dipelukan Luhan, sungguh bocah berusia 4 tahun yang polos itu tengah kehabisan nafasnya sekarang.
Sebuah suara keluhan terdengar, Luhan dan Sehunpun memutuskan pagutan bibir mereka. Deru nafas keduanya memburu saat pagutan itu terlepas, Sehun dan Luhanpun segera menghirup udara sebanyak-banyaknya.
"Hah. . . hah . . , mianhae Ziyu" kata Luhan terengah, kemudian ia mencium pipi gembil Ziyu yang memerah, efek terlalu lama terhimpit tadi.-_-
"Lu"Luhan mengalihkan perhatiannya ke Sehun. Kedua tangan Sehun terangkat dan menangkup wajah Luhan "Aku mencintaimu. Aku sangat sangat mencintaimu. Maaf aku baru bisa mengatakannya sekarang, aku terlalu malu untuk sekedar menampakan wajahku dihadapanmu" Sehun menjeda perkataannya sembari mengingat kebodohannya beberapa hari yang lalu saat dirumah sakit "Namun sekarang aku sadar, bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku juga tidak bisa jika melihatmu bersanding dengan orang lain, bukan aku. Sekarang aku akan menarik perkataanku dulu, bahwa aku tidak mencintaimu. Itu semua aku tarik, aku akan menjilat ludahku sendiri, Lu" Luhan menatap Sehun dengan haru "Aku Oh Sehun sangat mencintai Xi Luhan. Maukah kau menikah denganku, Lu?" Tanya Sehun, ia menggengam tangan kanan Luhan yang menggantung sembari menatap Luhan penuh harap.
Luhan menggigit bibirnya ragu dan terkejut. Ia ingin sekali menjawab Ya, tapi bukankah Sehun sudah. . .
"Aku dan Baekhyun tidak jadi menikah" Sergah Sehun cepat, saat melihat sorot keraguan dimata Luhan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Luhan penasaran.
Beberapa menit sebelum kedatangan Luhan. . . .
"Tuan Sehun. Apakah anda bersedia menjaga dan mendampingi Tuan Baekhyun dalam suka ataupun duka, dalam tangis ataupun tawa sampai maut memisahkan kalian?" Tanya seorang pendeta saat mengikrarkan janji suci tersebut diatas altar.
Sehun terdiam, pandangannya kosong mengarah lurus kedepan. Sudah berkali-kali sang pendeta itu melontarkan pertanyaan tersebut namun Sehun juga tak kunjung menjawabnya.
"Sehun!" Baekhyun menyenggol tubuh Sehun gemas, untuk menyadarkannya.
Bisik-bisikpun mulai terdengar diantara para tamu yang datang.
Sehun menoleh kearah Baekhyun "Maaf Baek, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak ingin menyakitimu, dengan sebuah cinta yang palsu, mianhae" Kata Sehun menyesal. ia melepas kemeja putihnya kemudian menyerahkan kotak berwarna merah ke tangan Baekhyun.
Sehun berlalu dari tempat itu, meninggalkan Baekhyun yang kini tengah meneteskan air mata kesedihannya.
Tapi ada satu hal yang harus kau ingat , Baek. Bahwa nyatanya angka dua lebih banyak dari pada angka satu. Aku yakin, akulah yang lebih layak bersanding dengannya dari pada kamu.
'Ternyata perkataanmu benar Hyung. Kau lah yang layak bersanding dengan Sehun' batin Baekhyun saat mengingat potongan tulisan surat yang ditulis Luhan untuknya.
Baekhyun mengusap air matanya kasar saat melihat sosok yang berada di ujung ruangan tengah menatap kearahnya. Sosok itu melambaikan tangannya kemudian menyunggingkan senyuman hangatnya untuk Baekhyun. Baekhyunpun membalas senyuman itu dengan haru.
Saat Sehun keluar dari rumahnya, saat itu juga ia melihat KaiSoo dan TaoHo berlari kearahnya "Apakah Luhan sudah datang?" Tanya Kai, Sehun mengerutkan keningnya bingung. 'Sepertinya belum?' batin Kai. Kaipun menyeret tubuh jakung Sehun memasuki rumahnya. Diikuti Kyungso, Tao dan Suho dibelakang mereka.
Setelah itu mereka me-
Cut
Sudah tau dong apa yang tengah mereka rencanakan :/ #smirkycantik. . .
Kembali menuju kamera yang tengah Lieya pegang saat ini . . .
"Jadi?" Tanya Luhan bingung. Rupanya otaknya belum bisa merespon cerita yang baru saja Sehun sampaikan.
Cup
Sehun mengecup kilat bibir Luhan "Jadi Xi Luhan namja kasar, egois dan sombong yang telah merebut hati Oh Sehun yang bodoh dan pengecut ini. Bersediakah kau menikah dengan namja tak punya hati seperti ku? Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku yang setia dalam suka maupun duka, dalam tangis ataupun tawa hingga akhirnya mautlah yang akan datang dan memisahkan kita?" Sehun memandang wajah Luhan penuh harap, ia memegang tangan kanan Luhan dengan erat.
Luhanpun mengangguk haru hingga airmatanya menetes " Ne, aku Xi Luhan namja kasar, egois dan sombong ini bersedia menjadi pendamping hidup Oh Sehun yang baik dan sangat tampan itu dalam kodisi apapun, hingga mautlah yang akan memisahkan kita" Sehunpun turut meneteskan air matanya haru. Sedangkan Ziyu yang sebenarnya tidak mengerti keadaan itu, turut menyunggingkan senyum bahagianya.
Prok . . . Prok . . .
Twiuwittt twitttt . . .
Chukkae . . .
Luhan yang terkejut mendengar suara itupun sedikit menggeser tubuh Sehun. Dibelakang Sehun, Luhan melihat seluruh keluarganya dan para sahabatnya tengah berdiri disana. Tuan Xi dan Tuan Oh menatap haru Sehun dan Luhan. KaiSoo, KrisLay dan TaoHo berdiri disana dengan mengacungkan jempolnya kearah Sehun.
Luhan menatap Sehun curiga. . .
"Jadi?" Tanya Luhan penuh selidik. Sehun hanya bisa menggaruk tengkuknya salah tingkah.
Hingga seseorang datang kearah mereka, dan menyodorkan sebuah kotak di hadapan Sehun "Kau melupakan ini, Sehun" Sehunpun mengambil benda itu dengan senyum lebarnya "Thanks"
Luhan menatap orang itu "Baekhyun" Lirihnya. Baekhyun menyunggingkan senyum tipisnya kepada Luhan "Berhagialah, Hyung" Kemudian namja bereyeliner itu berjalan kembali ketempatnya. Ia berdiri disamping sosok yang lebih tinggi darinya. Sosok itu memeluk bahu Baekhyun, sembari berbisik "Kau hebat, Baekkie" Baekhyunpun tertawa olehnya.
'Terimakasih Baek' batin Luhan saat ekor matanya mendapati Baekhyun yang tengah tertawa dengan orang yang belum pernah Luhan lihat itu.
Sehunpun membuka kotak berwarna merah itu. Ia mengambil benda kecil berwarna perak dengan potongan berlian kecil ditengah-tengahnya itu. Kemudian Sehun menyematkan benda itu di jari manis Luhan, Luhanpun melakukan hal yang sama
"Saranghae."
"Nado saranghae"
Sehunpun merengkuh tubuh Luhan dan Ziyu kedalam pelukan hangatnya.
"Mulai sekarang aku akan menjaga dan membahagiakan kalian" batin Sehun
.
.
.
Finnaly. . .
.
.
.
Pada kenyataannya perjodohan yang dilakukan tanpa cinta, tidak selalu berakhir dengan ketidakbahagiaan. Banyak orang berpendapat bahwa "Ini adalah zaman modern, bukan zamannya Siti Nurbaya. Sekarang menikah tidaklah perlu menggunakan unsur perjodohan, hingga para orang tua tidak perlu repot-repot mencarikan jodoh untuk anaknya lagi. Toh sang anak juga bisa mencari jodohnya sendiri diluaran sana". Sebenarnya pendapat itu tidak seluruhnya benar.
Well, Selama ini ada banyak orang yang menikah karena unsur perjodohan tanpa cinta tetapi rumah tangga mereka tetap langgeng dan bahagia tuh, banyak juga orang yang menikah dengan pilihan mereka sendiri malah berhenti di tengah jalan dan berakhir mengenaskan.
'Cinta bisa tumbuh setelah kita mengenal satu sama lain'
Jadi sebaiknya sebelum kalian memilih seseorang yang akan dijadikan pendamping. Lihat dulu latar belakang keluarga mereka, dari keluarga baik-baik atau bukan. Kenali sifat aslinya, jangan main asal tolak begitu saja ( ingat Luhan ?). Dan juga jangan mudah terbuai oleh kata-kata manisnya (rayuan gombal) ataupun Janpalan nya (Tau JanPal kan ? Yeah, janji palsu -_-).
Berhati-hatilah saat memilih pendamping kalian. Ibarat kata "Menikah hanya sekali seumur hidup" maka jagalah dengan baik keutuhan rumah tangga yang akan kalian bina kelak, abaikan orang-orang yang Kawce2 (kawin cerai) diluar sana. Dipikir biaya nikah gak mahal apa -_- .
Hanya itu sih, pesan yang ingin Lieya sampaikan. Bukan Lieya sok dewasa atau apa ya, yang jelas pendapat itu Lieya simpulkan karena ada beberapa orang disekitar Lieya yang mengalami kejadian sama seperti itu. Mumpung ff ini tentang perjodohan, makanya Lieya suarakan sekalian pendapat Lieya. huhu . . .
Udah ah. Lieya selaku bojonya Luhan disini (don't bash -_-) mau pamit, mengundurkan dari hadapan kalian. Mohon maaf apabila ada kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati para hadirin sekalian, mohon dimaklumi saja ( Weh. Kok kaya pidato sih:D)
Dan . . .
Hari ini Matchmaking telah resmi berakhir . . . .
.
.
Duar Duar duar. . . . prett . . .
Sampai jumpa di fiction lainnya. . . .
Jangan lupa juga baca fict terbaru Lieya " BELIEVE " + "GOLDEN CITIES"
.
.
Eh, ada Anu. . .
Coba scrol terus kebawah . . .
Uh. . . ah. . -_-
.
.
.
Terus yah, kurang cepat. . .
.
.
.
.
.
.
Bonus spesial. . .
Salju turun dengan derasnya di Pulau Nami hari ini, tidak aneh sih karena sekarang tengah memasuki musim dingin (salju) dipulau itu. Nampak sosok namja cantik yang masih bergelut dengan selimut hangatnya diatas ranjang sekarang.
Tapi sepertinya ada yang aneh diatas tubuhnya, ah atas perut namja cantik itu lebih tepatnya. Ada sebuah gundukan yang menempel disana.
Terlihat juga seorang namja tampan yang baru saja memasuki ruangan bercat biru itu. Sehun – namja itu berjalan kearah jendela, ia menutup jendela yang sedang terbuka itu agar udara dingin tidak masuk ke dalam ruangan pribadi mereka.
Sehun berjalan mendekati ranjang dengan seulas senyum yang terpatri di wajahnya. Ia duduk tepat disamping namja cantik yang tengah tertidur pulas itu.
Sehun menyibak poni panjang yang menghalangi Sehun untuk melihat binar yang tengah terpejam damai itu saat ini.
Cup
Sehun membungkukkan badannya dan mencium kening yang tidak terlalu lebar itu.
Cup . cup . cup .
Ciuman Sehun beralih-alih. Dari kening turun ke mata, dari mata turun ke hidung, dari hidung bergeser kepipi. Sehun mencium pipi kanan dan pipi kiri namja itu secara bergantian. Setelah melihat tubuh namja cantik yang tengah bergerak-gerak terganggu kini adalah saat yang tepat untuk membuat mata rusanya terbuka sepenuhnya. Sehun menatap bibir ranum yang kini dalam kondisi sedikit terbuka itu dengan tatapan laparnya. Tak tanggung-tanggung Sehun mulai memakan sarapan paginya itu dengan lahap. Membuat namja cantik yang bibirnya tengah Sehun jamah itu, melenguh pelan "Eungh" lenguhnya.
Sudah cukup lama Sehun menggerakkan kepalanya kekanan dan kekiri, untuk merangsang namja itu terbangun dari tidur cantiknya. Namun sosok itu masih belum mau membuka binar rusanya, 'sungguh tidak seperti biasanya' batin Sehun.
Sehunpun melepaskan ciumannya kemudian menggoyang sedikit pelan tubuh yang tengah tertidur itu.
"Hey~ Lu Baby. My Angel, buka matamu" pinta Sehun. Dengan mata yang masih terpejam sosok itu menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini sudah jam 11 siang, Baby. Malaikat cantik tidak ada yang bangun sesiang ini, kau mau Pangeran tampanmu di ambil orang, eoh?" Gurau Sehun.
Luhan-namja cantik itupun membuka matanya sembari mengerucutkan bibirnya " Tubuhku susah digerakkan Sehun. Aku tidak bisa bangun" rajuknya. Sehunpun mencubit pipi Luhan yang semakin berisi itu dengan gemas.
"Ini semua gara-gara bayi kecilmu yang tengah melingkari perutku sekarang, lihatlah. Aku sulit bernafas Hun-ah" keluh namja cantik itu.
Sehun yang sudah hafal dengan kondisi ini. Ia membungkukan badannya tepat diatas perut Luhan, kemudian Sehun mengecup pipi kanan sosok kecil yang kini tengah melingkarkan tangan mungilnya di perut Luhan, dengan erat.
"Baby, lihatlah wajah Baba sangat jelek sekarang. Cepat lepaskan tanganmu, Ziyu tidak mau kan kalau Baba berubah menjadi jelek" gurau Sehun.
"Huh. Tidak Lucu" Luhan mendengus sebal.
"Hehe. Mianhae Appa. Mianhae Baba. Ziyu macih penacalan, kenapa pelut Baba tidak ada yang menendang-nendang? Kenapa pelut Baba tidak membecal cepelti pelut Lay Eomma. Apakah Appa tidak membuatnya celama ini? Yipan Appa belcelita kepada Ziyu, bahwa Yipan Appa lah yang membuat pelut Lay Eomma membecal. Ziyu juga ingin Luhan Baba mempunyai pelut yang becal cepelti Lay Eomma, Appa" Ziyu memohon dengan wajah polosnya.
Hati Luhan menclos mendengar permohonan Ziyu barusan.
Well, hanya satu dari seribu orang yang dikaruniai kelebihan yang spesial itu oleh Tuhan. Dan Lay adalah namja yang beruntung. Ia dianugerahi sebuah rahim yang tertanam di perutnya, hingga Yifan bisa menumbuhkan benihnya disana. Sedangkan Luhan? Ia hanya namja biasa mana mungkin ia bisa mengandung. Yang ada . . .
"Ziyu ingin Appa membuat perut Baba menjadi besar?" Tanya Sehun. Ziyu mengangguk dengan wajah polosnya.
"Apakah Ziyu ingin Appa melakukannya sekarang?" Tanya Sehun lagi.
Ziyu mengangguk bersemangat "Ne. Cekalang!" Sebuah smirky yang cukup menyeramkan terpatri diwajah tampan Sehun saat ini.
Sehun menoleh kearah Luhan, menatap namja bemata rusa itu dengan lapar. Lidah Sehun keluar dari dalam mulutnya dan menjilati ujung bibirnya kekanan dan kekiri, seolah-olah tengah mendapatkan mangsa yang sangat menggiurkan sekarang.
"No no no! Sehun. Ada Ziyu disini!" Panik Luhan saat tubuh Sehun secara perlahan mendekatnya.
Luhan berteriak keras saat tubuh Sehun kini tengah menerkamnya "Kya! Ziyu! Cepat keluar dari Sini!" Ziyupun buru-buru menuruni ranjang Luhan dan berlari terbirit-birit meninggalkan kamar itu.
Blam
"Apakah Appa akan memakan Baba?"
.
.
.
FINNALY HAPPY END
.
.
Ahay, akhirnya ff ini kelar juga. Meskipun mengecewakaan, maaf ya~ :'(
Ini adalah chapter terpanjang yang Lieya tulis, maaf juga apabila ceritanya semrawuttan. . . gak jelas. . . absurd. . . dan bikin muntah -_- #abaikan
Akhir kata.
Terimakasih untuk para readers semua ( maaf gk bisa nyebutin satu2 ) yang udah mau baca, foll, fav dan review Matchmaking dari awal buka hingga akhir tutup (?). Terimakasih sekali karena udah banyak mendukung dan mengkritik tulisan abal Lieya, kritikan dan motivasi kalian sangat mendukung buat kelangsungan ff ini. I LOVE YOU ALL . . .#KissHugreaders :*
SIDERS?! Terimakasih juga karena sudah menjadi pembaca yang setia selama ini.
Soon . .
KRISLAY. TAOHO. KAISOO. AND LUHAN SIDE ( masih lama sepertinya :p )
See You~
PENGUMUMAN!
Bulan April, tentu tau dongs bulannya siapa? O.o
Pasti para HHS tau deh.
Iyakan? :/
Nah, untuk memeriahkan hari sakral (?) Kedua sijoli itu. Lieya berniat bikin Event 'Hunhan April Passion" nih. Dan Lieya ingin mengundang teman2 semua untuk ikutan dalam Fanfiction Challenge ini.
Tujuan diselenggarakan Event ini, selain untuk meramaikan hari ulang tahun HunHan di ffn, juga sebagai ajang mempererat hubungan antar sesama HunHan Shipper di mana pun berada.
Jadi, buat para HunHan Shipper yang berminat, yuk ikutan Event ini!
Peraturan dan keterangan lebih lanjut:
- Judul Event adalah 'HunHan April Passion'
- Bentuk Event adalah sebuah karya ff yang di
publish di .net (sesuai akun masing2)
- Boleh berpartisipasi dengan lebih dari satu ff (lebih banyak lebih baik, hehe)
- Main Cast n Main Pair tentu saja HunHan donk ;)
- Side pair, bebas, senyamannya author aja :)
- Tema, Genre, Setting, Plot, Rating, Lenght. Semua ada di tangan author. Angst romance, brothership, fluff, M, T, T+, R, apa ajah ( kalau bisa sih BL ya :v)
- Yang buat OneShot, minimal 1000 kata yaaa. Maximal: tanpa batas.
- ff bisa di-publish mulai 6 April sampai 6 Mei.
Jadi teman2 punya banyak waktu untuk mempersiapkan ide n kerangka ff yang kalian inginkan.
- WAJIB Mencantumkan (for Event 'HunHan April Passion') di summary ff yang di-publish.
Kalau ada yang kurang jelas n mau ditanyakan, bisa langsung pm Lieya di akun :
FFN: Lieya EL
FB: Lieya
BBM: 7cfc91a3
Kesediaan teman2 semua untuk bisa berpartisipasi dalam Event ini sangat diharapkan.
Dan Lieya juga ucapin baaaaaaaaanyak terima kasih untuk kesediaannya^^
Selamat menulis dan mari kita ramaikan kembali ffn dengan baaaaaaaanyak ff HunHan dari teman2 semua.
Terimakasih juga buat kk Liyya yang udah ngizinin aku meng-copast hampir seluruh kata2nya. . Hihi tengkyu :*
Sebaga harapan, semoga dengan adanya Event ini, kita bisa membangun lagi masa2 kejayaan(?) HunHan dengan begitu banyak ff HunHan yang bertebaran di mana2.
Oiya, satu lagi guys event ini memang gak ada hadiahnya. Lieya cuma berharap kalian ikhlas menyumbangkan inspirasi (?) Kalian untuk HUNHAN.
Well, karena kemampuan Lieya cm bs bikin poster, maka untuk 5 review terbanyak dan 3 review paling bawah bakalan lieya bikinin poster ffnya buat yang mau sih :v. Sebenarnya mau bikinin poster untuk semua author yang ngikut cuman lieya gk punya waktu banyak :(.
Cukup sekian deh basa-basi dari Lieya.
Lieya harap banyak yang berminat untuk bergabung memeriahkan event ini.
Gomawo ^^
