"Huh…"
"Kau kenapa?" tanya Kyungsoo yang duduk di kursi penumpang samping Jongin yang sedang mengemudi.
"Noona, apa orang tua mu akan menyukaiku? Maksudku… aku seorang lelaki yang tiba-tiba menghamilimu. Apa mereka akan menerimaku begitu saja?" tanya Jongin.
Mendengar pertanyaan Jongin, Kyungsoo hanya tertawa kecil, "Aku pikir mereka akan menyukaimu. Aku sudah menceritakan apapun pada mereka."
"Lalu, tanggapannya?"
"Kau lihat saja sendiri." Goda Kyungsoo.
Pagi itu mereka menuju Gyeonggi, tempat dimana Kyungsoo berasal. Sebenarnya Kyungsoo tidak memaksa Jongin untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi pria itu tetap bersikukuh dengan alasan ingin lebih dekat dengan calon mertuanya. Disaat perjalanan sesekali Jongin menghela nafasnya dalam-dalam. Entah mengapa dia merasa sangat amat gugup.
Ketika berhenti di sebuah lampu merah, Kyungsoo menggenggam tangan Jongin, "Hey, mereka sudah tahu bagaimana kita bertemu. Kau tak perlu gugup seperti ini."
"Noona, apa kau yakin mereka akan menerimaku dengan baik? Mana ada orang tua yang langsung menerima calon menantunya yang kurang ajar sepertiku."
"Jongin-ah, jujur orang tuaku sangat menerimamu. Tapi ada satu orang yang mungkin akan memberikan banyak pertanyaan padamu."
Jongin mengalihkan perhatiannya dan mendelikkan kedua matanya, "Si… siapa?"
"Oppaku. Seungsoo Oppa."
Mendengar kata-kata itu, hati Jongin mencelos. Dia baru ingat jika Kyungsoo adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Dan yang wanita itu miliki adalah seorang kakak laki-laki. Tentu wajar jika seorang kakak akan menanyai calon dari adiknya. Apalagi dengan keadaannya yang seperti itu.
"Noona, aku harus bagaimana?" ucap Jongin lemah.
"Aigoo… oppaku tidak akan menghajarmu, Jongin-ah."
"Tapi…"
Kyungsoo hanya bisa tersenyum melihat ekspresi Jongin yang memelas seperti itu. Wanita itu tahu jika Jongin takut untuk bertemu dengan kakak lelakinya. Tapi sebenarnya Kyungsoo sendiri ragu dengan apa yang akan dilakukan oppanya. Kakak lelakinya itu selalu menganggap Kyungsoo seorang anak kecil meskipun usianya yang sudah pantas untuk menikah.
"Eomma! Appa!" seru Kyungsoo yang keluar dari mobil dan bergegas menuju ke kedua orang tuanya yang duduk di teras depan.
Melihat Kyungsoo yang berlari-lari kecil, Jongin langsung berlari untuk menyusulnya, "YA! Jangan berlarian seperti itu!"
"Hi… mian!" ucap Kyungsoo yang akhirnya meraih tangan Jongin.
Nyawa Jongin serasa ada di tepi jurang. Bagaimana tidak, selama ini dia tidak pernah bertemu dengan orang tua dari wanita yang dikencaninya sekalipun. Padahal jika diingat-ingat, mungkin mantan teman kencan Jongin sudah tidak bisa dihitung dengan jari tangan dan jari kaki sekalipun. Bukan seorang pengecut, tapi Jongin memang tidak pernah serius dengan semua wanitanya dulu. Dan sialnya, sekalinya dia serius dengan sebuah hubungan, itu disebabkan kehamilan yang tidak disengaja.
"Eomma!" seru Kyungsoo seraya memeluk ibunya.
"Kyungsoo-ya, akhirnya kau pulang juga. Sudah berbulan-bulan kau tidak pernah ke rumah walaupun jarak rumah yang tidak begitu jauh dari tempatmu tinggal. Apa kau terlalu sibuk?"
"Begitulah, eomma. Eomma sendiri juga tidak pernah datang kesana. Padahal aku selalu menunggu eomma dan appa." Ucap Kyungsoo dengan mulut yang mengerucut.
Melihat tingkah manja Kyungsoo di depan ayah dan ibunya, Jongin merasa gemas. Dia yakin jika dia tidak berhadapan dengan orang tua calon istrinya, dia pasti sudah menghujani Kyungsoo dengan cubitan atau bahkan ciuman.
"Appa? Kenapa appa tidak datang ke tempat kerjaku? Chanyeol selalu menanyakan bagaimana kabarmu padaku."
"Maafkan appa, Soo-ya. Di usia seperti ini appa dan eomma hanya ingin di rumah saja untuk beristirahat."
Sejenak Kyungsoo tersenyum mendengar penjelasan orang tuanya, "Arraseo, appa. Ah, ini. Ada yang ingin berkenalan dengan appa dan eomma."
Jongin yang sedari tadi menenangkan diri kembali terpacu. Jantungnya serasa ingin lepas dan menggelinding ke tanah. Jongin berusaha tersenyum, tapi dia yakin itu adalah senyum paling awkward yang pernah dia berikan.
"Ah, selamat pagi Tuan Do, Nyonya Do, Kim Jongin imnida." Ucap Jongin seraya membungkukkan badannya dengan sopan.
Disaat Jongin masih membungkukkan badannya, tiba-tiba terdengar suara pria yang sedang berdiri di pintu masuk rumah, "Jadi dia yang bernama Kim Jongin?"
Jongin segera menegakkan badannya dan mengalihkan perhatiannya ke sumber suara. Ketika melihat siapa yang berbicara, kakinya serasa lemas dan berubah menjadi jelly.
"Ah, oppa! Dia kakak lelaki yang aku ceritakan, Jongin-ah."
'What the hell?! Belum aku memulai perkenalanku, kenapa dia sudah muncul? Aish! God, save me juseyooooo!' batin Jongin.
Jongin mengenalkan dirinya sekali lagi. Kakak lelaki Kyungsoo meneliti Jongin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sesaat kemudian dia mengangguk dan mendecakkan bibirnya.
'Apa ini yang dirasakan Kyungsoo noona ketika pertama kali bertemu denganku?'
"Soo-ya, apa cucu eomma baik-baik saja?" tanya ibu Kyungsoo dengan mata yang berbinar-binar.
"Dia baik-baik saja, Eomma. Aku baru memeriksakannya tiga hari yang lalu. Dia sudah tumbuh lebih besar daripada sebelumnya. Dan eomma tahu, aku memeriksakannya ke Kyuhyun oppa. Apa eomma ingat?"
"Kyuhyun… ah, sunbae-mu ketika masih sekolah dulu? Bagaimana kabarnya dia? Apa dia sudah menikah?"
Belum sempat Kyungsoo menjawab pertanyaan ibunya, tiba-tiba Seungsoo menyela, "Eomma, suruh mereka berdua masuk. Aku takut jika ada yang tidak kuat berdiri sekarang."
'Sial! Matilah aku!'
"Jongin-ah, bisa… berbicara sebentar?" tanya Seungsoo ketika Kyungsoo dan orang tuanya sibuk di dalam.
"A-ah, bisa, Seungsoo-ssi."
"Lebih baik kau memanggilku hyung mulai sekarang."
Seungsoo berbicara dengan muka yang datar. Dia masih merasa ingin tahu dengan asal-usul dari calon suami adik perempuannya. Jika kedua orang tuanya menyerahkan semua pada Kyungsoo, tentu Seungsoo tidak.
Ketika duduk berhadapan dengan Seungsoo, Jongin ingin menenggelamkan dirinya. Apalagi ketika melihat raut muka Seungsoo, Jongin benar-benar merasa sedang di ujung tanduk. Dan yang lebih parah lagi, Seungsoo memiliki badan yang sama besar dengan dirinya. Jadi bukan tidak mungkin jika pria itu sanggup menghajarnya.
"Baik, hyung." Ucap Jongin lirih.
Dengan kaki yang tiba-tiba disilangkan, "Aku sudah mengetahui bagaimana pertemuanmu dengan adikku. Bahkan aku sudah tahu bagaimana latar belakangmu. Bukan hanya dirimu, bahkan kakak lelakimu sekalipun. Kau harus tahu jika Kyungsoo tidak bisa berbohong dan menutup seluruh masalahnya denganku. Maka dari itu," Seungsoo mendekatkan dirinya pada Jongin, "jika kau menyakiti adikku, apalagi calon keponakanku, jangan pernah berharap itu bisa hidup tenang. Lagipula, aku yakin bukan hanya aku yang mengancammu seperti ini. Tentu kakak lelakimu juga melakukan hal yang sama, bukan?"
Jongin menelan ludahnya sendiri. Dia merasa hidupnya tidak akan tenang lagi. Dia harus berhadapan dengan tiga orang yang mengamati setiap gerak-geriknya. Pertama adalah Byun Baekhyun. Wanita pemarah yang amukannya bisa menghancurkan seluruh ruangan. Kedua, Kim Myungsoo, kakak lelakinya. Seseorang yang Jongin tidak pernah tahu kemana jalan pikirannya dan bahkan tidak bisa mendebat pernyataannya sekalipun. Dan sekarang bertambah satu, kakak lelaki calon istrinya, Do Seungsoo. Seseorang yang bagi Jongin bisa memenggal lehernya kapan saja.
"Kakak lelakiku selalu mengingatkanku, hyung. Dan kau juga. Aku yakin tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Ujar Jongin meyakinkan Seungsoo yang akhirnya menganggukkan kepalanya.
"Jongin-ah, aku punya pertanyaan yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini."
Mendengar pernyataan Seungsoo, Jongin terperanjat, "A-apa, hyung?"
"Apa kau yakin jika hanya adikku saja yang kau perlakukan begini? Maksudku, apa kau yakin hanya dia yang mengandung anakmu?"
Hati Jongin rontok seketika. Selama ini dia meyakini bahwa hanya Kyungsoo yang mengalami kejadian itu. Tapi ketika mendengar pertanyaan Seungsoo, keyakinan itu roboh layaknya rumah yang diterjang sebuah badai.
"I-itu…"
Belum selesai Jongin menjawab, tiba-tiba Kyungsoo muncul di sampingnya, "Aigoo… apa kalian sudah dekat sekarang? Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya menarik sekali."
"Ah, itu-"
"Soo-ya, apa kau akan kembali ke Seoul hari ini juga?" tanya Seungsoo.
Jongin terkejut mendapati Seungsoo yang memotong kata-katanya. Entah apa yang terjadi, tapi ekspresi Seungsoo berubah dari datar menuju lembut setelah adik perempuannya datang.
"Iya, oppa. Kami harus bekerja besok."
"Kau masih bekerja?"
"Iya, oppa. Justru aku merasa bingung jika tidak bekerja dan hanya berdiam diri di rumah."
"Aku pikir dia akan melarangmu bekerja."
'Sial! Pria ini menyindirku!'
"Jongin? Dia sudah melarangku, oppa. Tapi aku yang memaksanya. Lagipula dia menjagaku dengan baik di kantor. Kau tenang saja. Aku juga bukan anak kecil lagi, oppa. Jadi lebih baik kau segera menikah dengan Hyori unnie dan uruslah keluargamu sendiri."
'Hah! CHECKMATE!' batin Jongin.
Entah mengapa Jongin puas ketika mendengar jawaban dari Kyungsoo. Dia merasa kakak lelaki Kyungsoo terlalu ikut campur dengan hubungannya.
"Baiklah, aku selalu kalah jika berbicara denganmu." Ucap Seungsoo.
Kyungsoo dan Jongin kemudian berpamitan pada keluarga Kyungsoo. Mereka memang berniat untuk hanya berkunjung sebentar. Akhir-akhir ini Kyungsoo sering kelelahan karena menyiapkan pernikahan mereka. Sebenarnya Jongin ingin menyerahkan semuanya pada Baekhyun, tapi Kyungsoo beranggapan bahwa selera sahabatnya itu cenderung aneh dan tidak cocok untuknya.
Ketika Kyungsoo sedang sibuk berpamitan dengan orang tuanya, tiba-tiba pudak kiri Jongin ditepuk, "Aku menyerahkan adikku padamu. Jika kau berbuat satu kesalahan saja, aku bisa mengacaukan semua rencanamu. Mengerti?"
Jongin hanya bisa mengangguk mendengar ancaman kakak lelaki Kyungsoo. Baginya bertemu Seungsoo lebih menyeramkan daripada bertemu dengan orang tua Kyungsoo.
'Kenapa semua orang mengawasi langkahku? Kenapa? KENAPA?!'
Keesokan paginya, Jongin terbangun dengan Kyungsoo yang masih meringkuk di sampingnya. Entah mengapa dia selalu bangun lebih awal daripada wanita itu. sejenak dia mengamati wajah polos calon istrinya.
"Ah, lucunya…" gumamnya.
Kyungsoo pun bergerak mendekat ke arah Jongin, "Jongin-ah…"
"Hm? Ada apa?"
"Bisakah kau izinkan aku ke Chanyeol agar tidak masuk kerja hari ini? Sepertinya aku kelelahan karena perjalanan kemarin." Ucap Kyungsoo dengan suara khas orang mengantuk.
Selama beberapa saat Jongin mengusap perut Kyungsoo perlahan. Akhir-akhir ini hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan baginya. Entah mengapa dia juga sangat menyukai perubahan bentuk dari perut calon istrinya.
"Sudah kubilang untuk tidak bekerja sementara waktu. Jangan kau pikir aku seorang intern biasa sehingga tidak bisa memberikan kau makanan."
"Aku baik-baik saja, Jongin-ah."
"Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan kau dan anak kita. Ayolah, turuti keinginanku sekali ini saja."
Kyungsoo yang semula masih memejamkan matanya kemudian menatap Jongin lekat-lekat, "Kau lebih mirip dengan Seungsoo oppa sekarang."
Jongin pun terkekeh, "Ini untuk kebaikanmu, sayang."
Kyungsoo tersenyum mendengar jawaban Jongin. Lelaki itu memang sudah sering memanggilnya begitu, tapi tetap saja dia belum terbiasa dengan panggilan seperti itu.
"Urusan pernikahan kita biar aku dan empat bajingan itu yang melakukannya. Lebih baik kau istirahat dan menyiapkan fisikmu untuk acara itu. Do you understand?"
"Empat… siapa?"
"Chanyeol hyung, Baekhyun noona, Soojung, dan yang paling bajingan dari kesemuanya, Myungsoo hyung." Jawab Jongin yang membuat Kyungsoo tergelak.
Sesampainya di kantor, Jongin bergegas menuju ruangan Chanyeol. Dia segera meminta izin kepada atasannya itu agar calon istrinya bisa libur untuk sehari saja. Ah, mungkin Jongin mengatakan untuk beberapa hari.
"Chanyeol hyung?" sapa Jongin dengan kepala yang mengintip di pintu ruangan Chanyeol.
Ada dua orang disana, salah satunya pun berseru, "Jong-ah!"
'Aih… Myungsoo hyung kenapa kau disini juga?'
"Ada apa, Jongin-ah? Kenapa pagi-pagi begini kau menemuiku?" tanya Chanyeol.
"Hyung, Kyungsoo noona merasa kelelahan hari ini. Dia… tidak masuk bekerja. Maka dari itu aku kemari untuk meminta izin padamu."
"Baiklah. Aku pikir dia seharusnya juga tidak perlu bekerja. Dia terlihat pucat akhir-akhir ini." jawab Chanyeol.
"Kau mengurusnya dengan baik tidak? Jangan-jangan kau hanya memberinya ayam tanpa nutrisi yang lain! Kau sudah membawanya ke dokter belum?" ucap Myungsoo menimpali.
"Hyung, bisa santai sedikit saja?"
Myungsoo hanya memberikan tatapan elangnya pada Jongin. Dan ketika mata Jongin beradu dengan tatapan kakak lelakinya, Jongin tersenyum kikuk.
"Maafkan aku, hyung. Aku akan mengurusnya dengan baik. I promise."
Chanyeol tergelak melihat kedua saudara tersebut. Dia masih belum percaya Jongin yang selama ini baginya seperti seekor belut bisa takluk walaupun hanya dengan pandangan dari kakak lelakinya sendiri.
"Ah, hyung! Boleh aku meminta tolong pada kalian?"
"Apa, Jong-ah?" tanya Myungsoo.
"Hyung, bisa kalian membantu kami untuk mengurus pernikahan? Aku merasa kebingungan jika harus mengurusnya sendiri."
"Kami akan membantumu, Jongin-ah. Bahkan kami sering bertanya-tanya kenapa kau tidak meminta bantuan kami. Kau tenang saja, beri kami list apa permintaanmu. Kau urus saja kesehatan Kyungsoo. Serahkan semua pada kami." Ujar Chanyeol.
"Benarkah, hyung? Ah, terima kasih! Kau memang yang terbaik, Chanyeol hyung!"
Sejenak Jongin melirik kakak lelakinya yang sibuk dengan kertas yang ada di tangannya. Sebenarnya dia berniat untuk menyindir Myungsoo. Tapi sepertinya lelaki itu terlalu sibuk sehingga tidak mendengarkan apa yang Jongin katakan sebelumnya.
"Aku akan mengurus keuangannya untukmu. Tenang saja. Walaupun aku bajingan bagimu, tapi aku masih perhatian dengan kondisimu sekarang." Kata Myungsoo dengan pandangan yang tertuju pada dokumen yang ada di tangannya.
Mendengar pernyataan Myungsoo, wajah Jongin berbinar-binar. Hal yang selama ini dia pikirkan – maksudnya uang – sudah siap ditangani oleh kakak lelakinya sendiri.
"Tapi jangan membeli barang-barang mahal. Aku tidak mau membayarnya untuk itu." ucap Myungsoo yang membuat wajah Jongin berubah menjadi tidak percaya.
"Terserah kau saja, hyung. Baiklah, aku harus bekerja sekarang. Terima kasih bantuannya, hyung!" seru Jongin seraya bergegas meninggalkan ruangan Chanyeol.
Sepeninggal Jongin, Myungsoo mengalihkan pehatiannya pada Chanyeol. Terlihat bagaimana perpindahan ekspresi Chanyeol dari lembut ke licik dalam waktu sepersekian detik.
"Hyung, bagaimana rencanaku yang tadi? Apa kau setuju?" tanya Myungsoo.
"DEAL! Kita yang memegang kendali sekarang!"
"Unnie-ya!" teriak Baekhyun yang menyeruak masuk ke apartment Jongin.
Memang Myungsoo sudah tidak tinggal disana dan meninggalkan Kyungsoo dan Jongin berdua. Sekarang Myungsoo lebih memilih tinggal di lantai yang lebih atas dari tempatnya dulu. Dan Myungsoo berdalih lebih nyaman tinggal sendiri. Padahal yang Jongin dan Kyungsoo tahu, Soojung selalu menginap disana setiap harinya.
"Hmm? Apa Baekhyun-ah?" tanya Kyungsoo yang sedang bersantai di ruang tengah.
"Unnie! Aku membawakan makan siang untukmu! Jongin sedari tadi mengomel karena menyuruhku mengantarkan ini padamu." Ucap Soojung yang tiba-tiba muncul di belakang Baekhyun.
"Kalian mengantarkannya untukku? Kenapa Jongin tidak mengantarkannya sendiri?"
"Jongin, Chanyeol oppa, dan Myungsoo pergi entah kemana. Aku juga tidak tahu apa yang mereka rencanakan sekarang." Jawab Baekhyun.
Tiba-tiba Soojung duduk di samping Kyungsoo dan mengulurkan tangannya sembari mengusap perut Kyungsoo lembut, "Woah! Perutmu semakin besar, unnie!"
"YA! Kalau tidak begitu memangnya harus bagaimana!" bentak Baekhyun seraya memukul pucuk kepala Soojung.
Kyungsoo hanya bisa menggelengkan kepalanya. Saat ini dia sadar bahwa Soojung punya kebiasaan aneh dan antik. Bahkan kelakuan gadis itu sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang bitchy tersebut.
"Mungkin Jongin sedang meminta Chanyeol dan Myungsoo menyiapkan pernikahan kami. Kasihan dia. Disaat sedang repot seperti ini aku malah kelelahan begini."
"Jaga kesehatanmu, unnie. Kami akan membantumu juga." Jawab Soojung.
"Diantara kita bertiga, kau yang paling cepat menikah. Itu wajar karena kau yang paling tua. Tapi diantara ketiga lelaki itu, Jongin lah yang paling muda, tapi dia yang paling cepat menikah. Sedangkan aku? Aku masih harus menunggu giliranku kapan." Keluh Baekhyun.
"Kau akan segera menyusul, Baekhyun-ah. Aku yakin Chanyeol sudah memikirkan itu."
"Sepertinya aku akan menjadi yang paling terakhir untuk menikah." Ucap Soojung terkekeh.
"Jelas kau yang paling terakhir. Kalian saja masih sama-sama childish seperti itu." Goda Baekhyun yang membuat bibir Soojung mengerucut.
Disaat mereka sedang bercanda, tiba-tiba ponsel Soojung berbunyi, "Siapa?" tanya Kyungsoo.
"Myungsoo oppa." Jawab Soojung, "Halo, oppa? Ada apa?"
Tiba-tiba Soojung tertawa terbahak-bahak, "Kau benar-benar melakukan itu? DAEBAK! Kau benar-benar trouble maker, oppa-ya."
Baekhyun tergelak mendengar pernyataan Soojung layaknya sudah mengetahui apa yang dikatakan Myungsoo pada sambungan telepon itu.
"Chanyeol oppa? Berarti…" Soojung mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun dan kemudian mereka tertawa bersama, "Arra! Tapi kau harus bertanggung jawab atas keributan yang kau perbuat nantinya."
Melihat tingkah kedua sahabatnya, Kyungsoo hanya bisa terdiam dan memikirkan sesuatu. Dia sadar ada sebuah kejutan yang dipersiapkan untuk dia dan Jongin.
'Kalau itu memang sebuah kejutan, tapi… apa? Kenapa ada keributannya juga?'
Prepare yourself, Kim Jongin and Do Kyungsoo.
TBC.
