Kesadaran mendatangiku ...
Yang akhirnya, terus berkata padaku ...
Bahwa hatiku telah jatuh ...
Ke dalam hatimu ...
Apa inikah?
Yang kau sebut dengan cinta?
.
.
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
.
.
Author : Uzumaki Julianti-san
.
.
If you don't like these stories, don't read and out, please.
.
.
Tik!
Tik!
Dentingan suara jam itu menyapa telinganya. Membuatnya terbangun dari ketidaksadarannya.
Matanya terbuka dengan pelan. Terlalu berat. Mulutnya membisu. Tak jua membuka. Hingga akhirnya, sekelut kata keluar dari indra pembicaranya.
"Dimana ... aku?" erangnya dengan pelan tatkala semua terlihat jelas di penglihatannya.
Ya, ia seakan terkekang disini. Kedua tangannya terikat sempurna oleh besi di lengan kursi yang ia duduki. Begitupun kakinya yang juga terikat.
Pemuda bersurai pirang itu tak mengerti. Mengapa ia menjadi seperti ini. Hal yang diingat terakhir olehnya adalah ...
Ketika Sakura meninggalkannya dengan kejam.
Mengingat hal itu, sontak membuatnya kembali terpuruk.
Namun, bukan saatnya ia memikirkan hal itu. Yang utama sekarang ini, bagaimana caranya ia melepaskan diri?
"?!"
Tampak sekelut ide yang menghampiri pikirannya, ia mencoba menghubungi rekannya. Menutup mata, dan berharap rekannya itu dapat membaca pikirannya dari jauh.
'Shion, kau dengar aku? entah dimana ini aku tak tahu. Akan tetapi, aku terkurung disini. Dengan kedua tangan dan kedua kakiku yang terikat.'
Mencoba menghubunginya. Namun, tak ada jawaban dari rekannya, Shion.
Ya, ini begitu aneh. Telepati Shion seharusnya selalu terhubung dengan pikirannya. Sehingga sang gadis selalu tahu apa yang ada di pikirannya. Dan juga, biasanya Shion selalu menjawabnya dengan telepatinya.
Apa ada yang salah?
Menatap ke sekelilingnya. Mencoba berpikir, bagaimana keluar dari ruangan ini. Dan, refleks tatapannya tertuju kepada satu benda yang melekat di dinding tempat ia dikurung.
Telepon?
Dengan chakra yang sangat minim, ia mencoba menggunakan kekuatan espernya untuk menggerakkan telepon tersebut. Namun, bukan terkejutnya ia. Tak ada efek apapun yang terjadi ketika ia mencoba menggunakan kekuatannya.
'Jangan bilang ... kalau ruangan ini ..'
Ruangan Anti-Esper?!
Refleks ia menoleh ke sekelilingnya kembali. Dan benar, jika ia merasakannya ...
Ruangan ini ditutupi oleh chakra khusus yang hanya dimiliki oleh suatu keturunan khusus.
Ya, keahlian yang dapat menghilangkan kekuatan physics lawan jika sang lawan itu sendiri terkurung di range-nya.
'Death Physical Esp.'
Jika ada orang yang melakukan hal itu kepadanya. Hanya ada 2 dugaan yang mengurungnya sekarang ini.
Anbu dan Akatsuki.
Mencoba berpikir apa yang harus ia lakukan. Pemikirannya hanya tertuju pada telepon itu.
Tunggu. Dulu, Shion pernah berkata padanya.
Bahwa sistem dari telepon adalah frekuensi suara.
"Kau tahu? mengapa setiap kali kita ingin menekan sebuah tombol dari telepon, ada perbedaan suara dari tombol satu ke tombol lainnya?" Mendengar suara gadis yang berada di sampingnya, ia pun menoleh ke asal suara. Ditatapnya intens sang gadis tersebut dengan raut penasaran.
"Aku tidak tahu."
"Telepon menggunakan frekuensi suara untuk menekan tombolnya. Jadi, kita dapat menekan tombolnya tanpa menyentuhnya. Dengan menyamakan titik nada mutlak pada frekuensi suara tombol tersebut. Arahkan suaramu kepada speaker telepon dalam ganggang telepon. Jika kau mengingat nada dari setiap tombolnya, maka kau dapat menelepon seseorang tanpa menyentuh tombolnya."
"Dan sistem tersebut dinamakan Dial Tone, Rotary Dial dan Push Button Dial."
Ingatannya kembali berpadu dalam kejeniusan yang ia punya. Ia ingat bahwa sang gadis pernah berkata seperti itu padanya.
Dan masalah yang akan ia hadapi ...
Bagaimana cara menjatuhkan ganggang teleponnya ...
.
.
Physics World
.
.
.
Langkah kaki jenjangnya begitu berat untuk digerakkan, seakan otot generiknya kaku, ia mencoba menopang tubuhnya yang enggan untuk berdiri terlalu lama.
Namun, akhirnya ia terjatuh juga.
Matanya tak jua beralih dari sang mawar biru yang terdiam di lantai licin nan dingin.
Namun, ada suatu hal yang sukses membuatnya beralih dari sang mawar biru.
Setetes darah.
Beberapa spekulasi muncul dalam otaknya. Menghadirkan watak pesimisnya. Bahwa ia yakin Naruto tengah dalam bahaya.
Apa? apa yang harus ia lakukan?
Sang gadis bersurai pink tersebut mulai bangkit kembali. Rasa khawatirnya telah mengalahkan fisiknya yang terlalu lemah. Ia kembali berlari. Menuju sang gadis bersurai pirang pucat yang mungkin tahu akan pemecahan masalah ini.
"Shion!"
"Sakura?" interupsi sang gadis pirang kepadanya, menyebut nama sang gadis bersurai pink.
Terlihat terburu-terburu dan panik. Sama seperti Sakura, ia juga mengkhawatirkan keadaan Naruto disana.
"Naruto dalam bahaya."
"Ya, aku tahu."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Tenanglah Sakura-chan." Ia mencoba menenangkan gadis itu. Walaupun ia sama paniknya dengannya. Namun, untuk saat ini, bersikap tenang adalah hal utama untuk memikirkan pemecahan jitu.
Ketika genggaman mereka saling bertautan. Ia mencoba untuk membaca pikiran dari Sakura. Mengetahui seberapa detailnya kejadian hilangnya Sang The King of Esper.
Fakta, adalah sebuah kenyataan yang mungkin terasa manis ataupun sebaliknya. Walau bagaimanapun, seseorang harus menerima sebuah fakta yang telah ditakdirkan oleh Tuhan.
Ya, ini kejadian yang begitu pahit tatkala sang gadis bersurai pirang tahu, bahwa Naruto seperti ini ...
karena Sakura ...
Ini membuatnya sedikit kesal kepada Sakura. Tak mengetahui kejadian pahit yang menimpa sang pemuda adalah kesalahan terbesarnya.
Sedikit ia berdecih mengetahui hal tersebut. Namun, perasaan itu kembali dielakkannya.
Hal yang paling penting untuk sekarang ini adalah menyelamatkan Naruto bukan?
Kembali mencari petunjuk dalam ingatan Sakura, ia terus berpikir. Kelopak matanya ia tutup. Meningkatkan konsentrasinya agar dapat menyelamatkan seseorang yang telah dianggap saudaranya sendiri.
Tak ada aliran chakra dimanapun kecuali atap sekolah. Deteksi Sakura kemungkinan benar.
Berarti hanya satu dugaan yang paling masuk akal sekarang ini.
Bahwa Naruto dibawa dengan teleportasi.
'Esper Teleport?'
.
.
.
.
.
.
Terdiam membeku di dalam ruangan aliran chakra membuatnya berpikir dengan hebat. Pikirannya telah berlabuh ke berbagai arah.
Namun, ia diam bukan karena ia telah menyerah.
Ia tengah mengumpulkan aliran chakranya di satu titik.
'Sekuat apapun aliran chakra seseorang menahan, jangan pernah remehkan sang Raja.'
Tangannya mulai bergerak. Berusaha menjatuhkan penggengam telepon dengan kekuatannya.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Sreet!
Dengan sekuat tenaga, ia berusaha menjatuhkannya. Tak ayal, dinding yang berada di sekitar telepon tersebut mulai meretak.
"Physics..."
Syuuut.
Cukup dapat membuat getaran di dinding, genggaman telepon itu mulai terlepas dari teleponnya.
Kini, yang ia pikirkan adalah ...
Cara mengeluarkan suara yang selaras dengan frekuensi nada tombol telepon.
'Ingat, Bandwidth frekuensi adalah 400 Hz - 3400 Hz'
"Huh, Shion. Kuakui, aku kalah darimu dalam hal kecerdasan." Seringainya tampak berada di paras tampannya.
Mencoba mengeluarkan suara yang selaras dengan nada frekuensi bukanlah hal yang mudah baginya, sekalipun ia bukan seseorang yang buta nada.
Namun, ia yakin. Ia pasti berhasil melakukannya.
.
.
.
.
-= Physics World =-
.
Hening.
Tak satupun dari kedua gadis tersebut memulai perbincangan. Bahkan mengeluarkan suara pun tidak.
Terlalu sibuk dengan pemikirannya masing-masing, suasana kembali menjadi canggung diantara mereka.
Dan juga ...
'Bagaimana nasib dari Naruto?'
Ya, itu yang menjadi bahan utama dari pemikiran keduanya.
Terutama untuk gadis bersurai pirang tersebut.
Ini pertama kalinya ia begitu terlampau khawatir dengan pemuda itu. Pasalnya, ia sama sekali tak dapat betelepati dengannya.
Apakah Naruto, pemuda itu. Dalam keadaan bahaya?
Selalu menggenggam sekutum bunga mawar biru itu membuat sang gadis bersurai pink itu tetap intens menatapnya. Tatapannya kosong. Tak ada tatapan nanar sama sekali di penglihatannnya.
Tes!
Tes!
Namun, tak ayal. Sebulir kristal menghilir di setiap lekuk wajahnya. Membasahi sang mawar biru yang tengah di genggamannya.
Ia telah sadar akan perasaannya terhadap sang pemuda.
Akan tetapi, apakah terlambat untuk menyadarinya?
Yy
Apakah ia dapat melihat sang pemuda lagi?
Alih-alih merasa empati menatap gadis bersurai pink dengan isak tangisnya yang berada di sampingnya, ia justru terus menatapnya dengan dingin.
'Gadis bodoh.'
Trrtt.. Trrt!
Getaran dari benda yang berada di kantung roknya cukup membuat sang gadis pirang menyadari untuk meraih benda itu. Diraihnya benda tersebut ke hadapan penglihatannya.
Matanya terbelalak tak percaya. Menatap sebuah nama yang tercantum dari benda tersebut.
Naruto?!
Segera ia menekan salah satu tombol yang berada di benda yang digenggamnya.
Tak ayal. Senyumannya terkelut dengan sumringahnya. Iris aquamarine itu berkilau dengan cerahnya.
Apakah ini benar-benar Naruto?
"Na-naruto-kun?" Sedikit tergagap, suaranya begitu pelan. Nadanya bagaikan nada seseorang yang tak percaya terhadap suatu hal.
"Shion, ini aku." Suara khas bariton itu hinggap di pendengarannya.
Ya. Tak salah lagi, itu suara sahabatnya, saudaranya.
"Cepat cari tempat di mana semua orang tak dapat mendengarkan percakapan kita." Dengan titah dari The King of Esper tersebut, sang The Queen of Esper hanya menganggukkan kepalanya seraya mencari sebuah tempat di mana tak dapat seorang pun yang dapat mendengarkan perbincangan mereka.
Termasuk Sakura.
Mencari sebuah alasan untuk pergi ke belakang bus adalah hal aneh bagi Shion. Namun entah kenapa, Sakura hanya mengganggukkan kepalanya. Tak berpikir jauh terhadapnya.
Mungkin ini keberuntungannya.
"Naruto. Apa kau baik-baik saja? apa mereka menyakitimu?!" Sekelut nada khawatir menghinggapi lantunan suara dari bibir mungilnya. Mendengar itu, sang pemuda hanya tersenyum kecil seraya melanjutkan perkataannya.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, aku cukup kesal. Ada juga yang berani berbuat seperti ini terhadap sang raja."
"Sepertinya mereka menantangmu. Dan ruangan itu ... apakah itu ..." Menggantungkan perkataannya seolah tak yakin dengan pemikirannya. Ia berharap, sang pemuda akan melanjutkan perkataannya.
"Death Physical Esp. Ini layaknya kekkai yang mengurung semua kemampuan serta menghisap kemampuan seseorang yang berada di dalam kekkai tersebut. Tak kusangka salah satu dari mereka mempunyai kemampuan mematikan seperti ini." Suara yang begitu berat dari sang pemuda. Membuat sang gadis bersurai pirang tersebut berpikir dengan keras.
Ya, ia tak menyangka bahwa rekannya akan berada dalam keadaan terintimidasi seperti ini.
Tunggu.
Jika dipikir-pikir ...
"Shion?" Seketika raut sang gadis berubah dengan cepatnya. Senyuman yang berada di paras cantiknya tersungging licik nan kejam.
"Tangan ini akan menjadi kejam ketika waktu berdenting dengan tepat. Kekuatan itu akan menakuti manusia dari amukan sang raja esper. Suara teriakan terdengar bak suara bahagia di pendengaran kita." Tangan mungilnya terangkat ke atas. Mengepalkannya dengan keras.
"Dengan ini manusia tak tahu diri itu akan merasakan sebuah penyesalan. Bahwa ia menculik sang raja di waktu yang salah." Seringaian itu menghinggap lekat di wajah Shion. Tatapannya bagaikan hawa nafsu jahat yang telah merasukinya.
"Jangan lupa membawa oleh-oleh mata beriris hazel."
.
.
.
-= Physics World =-
.
.
.
Tap ..
Tap ...
Langkah kakinya begitu berat. Menuju sebuah gerbang pelindung dimana ia mengurung seseorang ...
Yang mungkin akan berakibat fatal baginya.
Tidak, bagi dunia.
Ia layaknya seperti mengikuti sebuah pertaruhan di mana dia mempunyai perbandingan 50 : 50 antara kehancuran serta keberhasilan.
Tidak, ia pasti berhasil. Sebab ia tahu, bahwa seseorang yang telah dikurungnya tengah mengalami masa rehabilitasi yang tidak memungkinkan dirinya untuk mengeluarkan kekuatannya.
Itu hanyalah pemikirannya saja.
Wanita beriris hazel itu tetap menundukkan kepalanya. Enggan menatap ke depan. Begitupun para petugas yang berada di sampingnya.
Tap.
"Apakah kalian benar-benar telah siap untuk mati?" Tatkala langkah kakinya tepat berada di depan gerbang tersebut, seketika itu juga ia menghentikan langkahnya. Tatapannya masih berkelut dengan sebuah lantai yang di pijaknya.
Mendengar itu, para petugas yang berada di sampingnya pun menatapnya. Sebulir keringat telah membanjiri mereka.
Mereka tahu, bahwa ini adalah sebuah perang besar yang akan mengancam nyawa mereka. Walau mereka hanya akan melawan satu orang saja, faktanya, satu orang yang akan mereka lawan sama dengan 10 orang yang mempunyai kemampuan sama seperti mereka.
"Kami tahu, tidak seharusnya kami melakukan hal yang tidak sopan seperti ini terhadap sang baginda raja. Namun, kami akan mengorbankan nyawa kami untuk membuat sang raja esper menjadi seorang penyelamat. Bukan penghancur, Tsunade-sama." Salah satu dari seorang petugas menjawab pertanyaan milik sang wanita beriris hazel tersebut.
Mendengar itu, Tsunade sedikit menyunggingkan senyumannya.
Tangan lentiknya ia angkat untuk membuka gerbang. Melepas pelindung yang berada di sekelilingnya.
Semua petugas mulai bersiaga dengan gaya bertarungnya. Begitu pun Tsunade. Walau lawannya adalah seorang anak SMA, tetap saja ia adalah seseorang yang paling kuat dalam sejarah esper.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Sing ...
Hening. Tak ada suara sekecil pun di sana. Keberadaannya layaknya sebuah ruang hampa nan kosong.
Dan yang membuat Tsunade serta para petugas terkejut adalah ...
Kosong.
Tidak ada kehidupan.
Hanya ada sebuah telepon yang tergantung di dinding yang retak.
Tunggu.
Tak ada tanda kehidupan?
"SEMUANYA! JANGAN LENGAH! TETAP PERHATIKAN POSISI KALIAN!" Teriakkan itu berasal dari Tsunade. Terkesan panik. Iris hazelnya menatap ke sekeliling arah. Mencari keberadaan seseorang yang seharusnya tertahan dalam sebuah kekangan rantai besi.
Ada apa? bukankah ia tak memiliki kekuatannya sekarang ini?
Kesembilan orang tersebut terlihat waspada akan ancaman yang datang kepadanya. Satu dari mereka adalah pemimpinnya. Membentuk bulatan satu sama lain. Melindungi punggung mereka.
Walau demikian, tak ayal beberapa bulir keringat telah membanjiri mereka.
Ini akan menjadi sebuah pertarungan. Di mana mereka akan mempertaruhkan ...
DEG!
"ARRRGGGHHHHH!"
"Izumi-san!"
Nyawa mereka ...
Salah satu dari mereka telah terlempar jauh ke atas. Membuat orang tersebut menusuk sebuah logam besi tajam tepat di jantungnya.
Mereka terperangah, terkejut.
Menatap ke atas mereka ...
Seseorang yang telah mereka cari ...
Tengah membawa sebuah logam besar tajam ...
Dengan seorang manusia yang tertusuk di logam tersebut ...
Buliran darah itu mengalir dengan derasnya. Tubuh seseorang yang menggengam logam besi itu ternodai oleh cairan merah kental dari korban yang ditusuknya.
Seseorang itu masih sangatlah muda.
Parasnya tampak bengis. Senyumannya terkesan jahat. Iris merahnya dan pupil yang membentuk vertikal ...
The King of Esper.
Melihat hal tersebut, cukup membuat Tsunade terpaku. Terdiam membeku.
Ini, perubahan The King of Esper dalam mode Devil.
Tidak mungkin. Ia baru saja melihat E-meter seminggu yang lalu. Dan perhitungannya masih sangat stabil.
'Ada apa ini?'
Drag! drag!
Belum cukup sampai di sana. Tanah yang dipijak mereka pun mulai bergetar.
Sekeliling besi yang melapisi ruangan tersebut telah hancur berkeping-keping. Membentuk sebuah besi tajam yang langsung diarahkan kepada Tsunade dan ketujuh petugas lainnya.
Pemuda yang semula tertutupi oleh suasana yang begitu gelap, telah diterangi oleh cahaya terang dari sang dewi malam.
Hening bagaikan ruangan senyap di tengah malam. Ditemani cahaya sang dewi malam yang tengah terbentuk dengan sempurna.
Bulan dimana cahaya itu menyinari setiap alam dimana ia telah mencapai titik batas maksimal.
'Bulan purnama?!'
Tangan kiri sang pemuda yang tak menggenggam apa-apa mulai terangkat ke atas. Mengakibatkan berpuluh-puluh logam besi yang mengelilingi Tsunade dan yang lainnya menghampiri mereka dengan cepat.
Sontak sang wanita beriris hazel dan bersurai pirang itupun mulai mengangkat lengannya.
"SEMUANYA! BERSIAPLAH!"
Beberapa dari petugas yang mempunyai kekuatan physicokinesis mulai mengangkat lengannya.
Beberapa dari petugas yang mempunyai kekuatan physikometrer mulai mengangkat senjatanya.
Serta beberapa dari petugas yang mempunyai kekuatan teleport telah siap dengan teleportasinya.
50 buah logam sontak melaju kehadapan mereka dari arah yang berbeda.
Namun ketinggian logam tersebut persis dengan tinggi sang pemuda.
'Percepatan gravitasi di bumi adalah 9,81 m/detik. Jika saja ketinggianku dengan The king of Esper adalah sekitar 18 m, berarti setidaknya aku hanya mempunyai waktu 2 detik untuk menghindar.' Otak cerdasnya telah berpikir dengan cepat. Menghitung segala kemungkinan yang akan terjadi.
Sret!
"?!" Namun, spekulasinya atas serangan logam tersebut mempunyai titik lemah fatal, yang artinya salah telak. Lengan kiri wanita bersurai pirang tersebut sedikit tergores oleh logam hitam nan tajam itu.
Bukan itu saja, hanya satu logam yang dapat dihindarinya dengan goresan kecil di lengannya. Masih ada 10 logam hitam yang mulai menghampirinya.
Apakah ia akan mati di sini?
"TSUNADE-SAMA!" Seorang petugas teleport datang menghampiri Tsunade seraya menteleportasikan dirinya dan Tsunade.
Masih dalam keadaan syok, tubuh wanita itu bergetar ketakutan. Bersidekap dada seraya menundukkan kepalanya.
"Tsunade-sama?"
"Ma-maafkan aku."
"?"
"Aku tidak tahu jika kekuatan The King of Esper sekuat ini ... maaf ... karena aku tak menolong Izumi ..." Mendengar hal tersebut, petugas itu tersenyum seraya menatap serius kepada sang pemuda.
"Kekuatannya ... benar-benar kekuatan Sang raja. Logam itu juga, kecepatannya ketika meluncur hampir sama dengan kecepatan cahaya. Kemampuanku butuh interval 3 detik untuk berteleportasi kembali. Jadi tak mudah untuk menghindari serangannya. Selain itu, aku tak bisa pergi dari sini dengan teleportasiku." Tak tampak memang. Namun rautnya nampak diselimuti ketakutan antara kematian.
Wanita itu tak jua bergeming dari posisi semulanya. Sedikit ia alihkan pandangannya kepada petugas yang berada di sampingnya.
"Ya ampun ..." Dan begitu terkejutnya ia menatap sang petugas yang berada di sampingnya dibanjiri oleh cairan merah kental dengan sobekan di bajunya.
"Tenanglah Tsunade-sama. Ini hanyalah luka biasa. Yang menjadi masalah sekarang ini, bagaimana kita dapat mengembalikannya seperti semula? apakah misi kita gagal?" Memalingkan wajahnya tatkala mendengar itu, jujur. Misinya benar-benar gagal telak kali ini. Ia tak bisa menangani The King of Esper walaupun dengan jumlah beribu-ribu orang. Seharusnya ia tahu itu.
Tapi, kenapa hari ini pemuda itu terlihat begitu kuat?
'Tsunade-sama!'
Suara yang muncul di pikirannya membuatnya teralihkan dari pemikirannya. Ya, suara dari petugas physikometrer yang diijinkan untuk memiliki telepati darurat jika ada hal yang sangatlah buruk yang terjadi.
'Ada apa?'
'Pe-persentase E-meter ... meningkat dengan drastis.'
Keterkejutannya kembali datang tatkala mendengar kabar yang mungkin saja menjadi berita terburuk untuknya.
Dan untuk dunia juga.
'Devil ... persentase devil mencapai ...'
Sret!
"ARRGGHHHHH!"
'80 %'
Tak ayal keenam petugas yang masih bertarung dengan logam tersebut terlempar begitu jauh. Menyebabkan beberapa dari mereka tak sadarkan diri.
'Peningkatannya sampai sejauh itu?!'
Wanita bersurai pirang tersebut menatap ke sekelilingnya dengan pandangan tak percaya. Tsunade sangat mengetahui bagaimana kekuatan The king of Esper.
Tapi ia tak menduga jika kekuatan sangatlah hebat seperti ini.
"Besi logam ini aku dapat dari sebuah kursi yang telah mengekangku. Sedangkan logam yang mengincar kalian terbuat dari jeruji besi yang mengekangku. Kalian pantas untuk menerima ini." Pemuda diatasnya mulai mengeluarkan suaranya yang nampak begitu berat. Rautnya bagaikan iblis yang baru saja bangkit dari tidurnya. Tak ada rasa empati sama sekali dalam dirinya. Menatap salah satu petugas yang tengah berada di genggaman tusukan logamnya.
"Kalian pantas mati. Kalian pikir telah berapa lama kalian mengekangku?" Alisnya berkerut dengan tajam. Nampak sekali raut kekesalannya, kemarahannya pada paras tampan pemuda itu.
Menelan salivanya kembali, Tsunade sedikit bergidik tatkala menatap paras sang pemuda.
Namun, ia harus menolong pemuda itu.
Dari jeratan "Devil".
'Atau dunia ini akan tamat.'
"Naruto! berhenti berbuat seperti itu!" Dengan segumpal keberaniannya, sang wanita bersurai pirang itu berteriak.
Memang, ini adalah hal paling ternekat yang pernah ia lakukan.
Namun, untuk dunia ini, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
'Karena aku adalah ANBU.'
Tak jua ia menanggapi titah dari seorang wanita darinya. Tubuhnya tak bergeming sama sekali.
Sedikit ia memalingkan wajahnya ...
Sret!
Menatap wanita itu ...
Deg!
Sret!
"TSUNADE-SAMA!"
"MENYINGKIRLAH TAKOU!"
Dengan kecepatan yang melebihi batas dari logika, seketika keberadaan pemuda itu menghilang dari posisi semula.
Ia berada di hadapan sang petugas yang melindungi Tsunade.
Tak gempar, Takou, nama dari petugas itu pun merentangkan lengannya. Bersiap untuk teleportasi dengan Tsunade jika pemuda yang di hadapannya hendak menyerangnya.
Grak...Grak...
Tunggu ... Apa ini?
Kakinya begitu berat untuk digerakkan. Ia tak mengetahui apa sebabnya. Namun, ada suatu masalah yang diderita kakinya.
Sedikit ia memalingkan pandangannya kepada kakinya.
Apa?!
DAAKK!
"ARGGGHHH!" Petugas itu mungkin sedikit lengah. Namun, hanya sedetik untuk memalingkan pandangannya, ia telah ditendang oleh sang pemuda dengan kaki kekarnya.
Ya. Tak dapat berteleportasi dikarenakan kakinya terkekang oleh sebuah tanah tandur yang mengikatnya masuk ke dalam, membuatnya sedikit lengah dan mau tak mau terkena serangan dari sang pemuda.
Kini, ia tepat berada di depan sang pemuda.
Matanya tak jua bertahan untuk terbelalak. Raut sang pemuda ...
Begitu penuh dengan dendam.
Ada apa?
Batss!
"Huh." Dengan cepatnya pemuda itu menarik kerah baju Tsunade. Mengertakkan giginya kesal. Tangan kekarnya pun ikut bergetar menahan amarah.
Tatapan terkejut itu telah tergantikan dengan tatapan sayu layaknya seseorang yang iba terhadap sesuatu di iris hazelnya.
"Kenapa? ada apa? mengapa kau begitu marah pada kami? sampai dengan kejamnya kau membu-"
"-KALIAN SADAR TERHADAP KELAKUAN KALIAN?!" Perkataannya sontak terpotong oleh sang pemuda. Berteriak kencang di hadapan sang wanita itu.
Apa? sadar apa? Tsunade sama sekali tak mengerti maksud dari perkataan Naruto.
"Perilaku kalian yang kalian anggap sebagai perilaku terpuji dengan niat untuk membunuh seseorang. Apa itu yang kalian sebut sebagai perilaku seorang penyelamat dunia?" Nadanya begitu lirih, pandangannya bagaikan seseorang yang telah menahan kesedihannya yang terlalu lama.
Pemuda itu menunduk. Mengingat masa lalunya bersama seorang wanita yang dianggap sebagai malaikatnya.
Ibunya ..
" Otanjoubi omedetou gozaimasu Naru-chan. Maaf, kaa-san tak bisa memberimu apa-apa. Seandainya bisa. Tapi, kau harus lari dari sini sayang. Pergilah. Kaa-san selalu mecintaimu."
Ya, itu adalah kata terakhir dari sang ibunda padanya.
"APA KALIAN TAK MEMIKIRKAN BAGAIMANA PERASAAN SEORANG BOCAH BERUSIA 9 TAHUN KEHILANGAN ORANGTUANYA DI DEPAN MATANYA SENDIRI? KALIAN PIKIR, SETELAH KALIAN MEMBUNUH ORANGTUANYA SEMUA ITU TAK AKAN MENYEBABKAN LUKA? ITU YANG KALIAN SEBUT ANBU?!" Dan tatkala Naruto mengatakan hal itu, jelaslah sudah bagi Tsunade mengetahui penyebab marahnya Naruto saat ini.
Ya, itu adalah sebuah kesalahan berat yang dilakukan oleh ANBU kala itu.
Namun, ia juga menerima rasa sakit atas tragedi tersebut.
Ia kehilangan adik kandungnya yang tengah berada di desa tersebut.
Mungkin, seharusnya ia membenci bahkan dendam dengan esper dewa. Namun, karena ia tahu dalang dari tragedi semua itu berasal dari ANBU sendiri. Akhirnya Tsunade memilih bungkan.
"Aku telah menyimpan dendam ini kepada ANBU setelah sekian lama. Karena aku harus menjaga identitasku dari kalian. Kau tahu? semakin aku melihat ANBU, semakin aku mengingat Ibuku yang telah dibunuh dengan kejam oleh kalian. Begitu juga dengan teman-temanku." Seringai iblis mulai terbentuk di parasnya. Alisnya bertaut satu sama lain. Logam yang berada di genggamannya mulai ia angkat bersamaan dengan petugas yang telah tertusuk.
Tsunade hanya dapat terperangah melihat itu. Keringat membanjiri tubuhnya dengan deras.
Di bulan purnama ...
Ia bertatap wajah dengan iblis ...
"Karena kalian telah mengetahui identitasku, sebaiknya aku tak segan-segan untuk menyerangmu. Karena balas dendamku akan terbalaskan."
Iris rubynya yang berkilat oleh sinar cahaya sang dewi malam.
"Dengan ini ..."
Akan menjadi bukti takdir balas dendam yang akan menentukan nyawa dari sang pembuat dosa ...
"Aku akan membunuhmu secara perlahan ..."
▬TO BE CONTINUED ▬
A/N : WAA.. MINNA-SAN OHISASHIBURI DESHITA!
Sudah 2 tahun lebih saya gak update cerita ini. J Tapi, terimakasih yang udah semanagatin aku di review, pm bahkan di facebook juga. ^^ Walau udah 2 tahun lebih gak update, gak nyangka ada aja yang nagih tiap bulannya udah kaya penagih hutang xD #plak
Gak kerasa pas pertama kali saya buat cerita ini saat masih kelas 1 sma( mau ke ke kelas dua ) , sekarang saya sudah kuliah di UPI Bandung x'D
Waktu senggang semakin sedikit untuk saya, sehingga karena sekarang tengah liburan semester, saya menyempatkan untuk update fic ini :3
Rencananya juga saya akan ada project pembuatan novel. :3 Yang pastinya bukan fantasi karena jarang sekali penerbit yang nerima novel fantasi x''D
Tapi yang pasti akan saya jamin tidak kalah seru dari fic ini.. XD Doakan ya~ :D
Karena saya juga ada janji kepada seseorang, saya akan membuka sebuah project cosplay Haruno Sakura dari fic ini (Memakai seragam TCE). Dan membuka sebuah FS (friend sign) khusus untuk para reader setia physics world. XD
Bagi yang berminat, silahkan kunjungi fb saya (Viska Julianti). Dan lihat posting/status yang terbaru~
Akhir kata …
Mind To Review?
