DON'T TALK ANYMORE
.
.
Fourteen
.
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
M-Preg
.
.
.
Aku terbangun dan menyadari Wonwoo sudah tidak ada di sebelahku. Aku masih di dalam kamar masa kecilku di kediaman keluarga Kim. Terakhir kali aku tidur disini adalah saat aku kembali dari Washington. Itupun hanya untuk beberapa hari sebelum aku pindah ke apartemen.
Dulu saat remaja pun aku jarang tidur disini. Aku lebih senang tidur di sebuah kamar sewaan di Myeongdong atau tidur di flat kecil milik Wonwoo.
Pulang kerumah pun aku jarang, mengingat dulu aku sangat pemberontak dengan segala otoritas ayahku.
Aku jadi merindukan kamar ini. Merindukan ibu yang memelukku sampai aku tertidur diumurku delapan tahun.
Dan tadi malam semua nya berubah. Aku sudah tidak lagi ada di pelukan ibu melainkan ada dipelukan Wonwoo.
"Uncle gyu, cepat bangun. Mommy, grandpa dan grandma sudah menunggu." Taemin muncul dari balik pintu kamar dengan wajah yang sudah segar. Aku memaksakan diri untuk duduk dari tidurku. Kemudian merasakan pening yang amat sangat.
Aku lupa meminum obatku lagi tadi malam. Aku membuka laci nakas untuk menemukan obat yang aku letakkan didalamnya malam sebelum tidur kemarin. Kemudian meminumnya untuk meredakan rasa sakit.
Aku tersenyum pada Taemin yang mencoba naik ke atas kasur dengan susah payah. Aku membantunya naik.
"Uncle mau mandi dulu, sayang." Aku mengacak rambut kecoklatannya dan dia tersenyum.
"Minie menunggu disini. Kata grandma, Minie harus memastikan uncle sudah siap pergi." Aku tersenyum saat melihat Taemin menarik guling untuk dipeluknya sambil duduk bersila.
"Baiklah, kapten! Uncle akan mandi dengan cepat!" Aku berteriak riang sambil mencubit kedua pipi gembil Taemin yang dibalas dengan rengutan wajahnya.
"Taeminie benci uncle gyu!"
Aku buru-buru melesat kedalam kamar mandi sambil terkikik melihat tingkah menggemaskan Taemin. Pipinya memerah seperti tomat.
.
Taemin ada dalam gendonganku saat menuruni tangga dari kamarku menuju ruang makan. Taemin bersungguh menepati janjinya untuk menungguku hingga selesai mandi.
"Grandma, Minie sudah menyelesaikan tugas dari Grandma. Ayo ke taman bermain." Saat sampai di ruang makan Taemin memaksa turun dan langsung menerjang dalam pelukan ibuku. Hanya ada ibu dan ayah yang sedang memakan sarapannya. Kemana Wonwoo-ku?
"Dimana Wonwoo-hyung, Eomma?" Aku bertanya sambil melihat kearah dapur yang terletak di sebelah ruang makan namun tersekat sebuah bar berisi gelas-gelas kristal koleksi ibu. Tidak ada.
"Makan dulu nasi gorengmu. Ini Wonwoo yang masak." Ibu tersenyum kepadaku lalu menyodorkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur setengah matang. Kesukaanku.
Aku melirik ayah mencari jawaban untuk pertanyaanku. Tapi dia hanya mengangguk dalam diam seraya menyuruhku makan. Kemudian beralih memanjakan Taemin.
Mereka benar-benar mendapatkan cucu baru.
Aku memakan lahap nasi goreng kimchi buatan Wonwoo. Dulu sewaktu di flat, Wonwoo selalu minta di buatkan nasi goreng seperti ini di tengah malam saat aku menginap dirumahnya. Dia akan merengek dengan wajah yang dibuat seperti merajuk saat aku mengeluh lelah dan tidak mau memasak untuknya. Dan akhirnya aku mengalah untuk memasak di tengah malam. Demi dia.
"Minie sudah selesai makan. Ayo kita pergi." Aku menatap Taemin ketika suapan terakhir sarapanku berhasil ku telan.
"Taeminie tidak kesekolah hari ini?" Aku bertanya pada Taemin yang duduk diseberang meja makan. Ibuku baru saja selesai menyuapinya sarapan kemudian membersihkan noda-noda makanan di wajah Taemin.
"Tidak. Liburnya empat hari." Aku terkikik geli ketika Taemin berbicara dengan riangnya sambil mengangkat tangan kanannya untuk menunjukkan gestur angka. Empat katanya? Tapi yang teracung hanya tiga. Lucu sekali.
Tiinn tiinn
Aku menoleh kearah pintu rumah ketika mendengar sebuah lengkingan klakson mobil. Siapa orang yang pagi-pagi begini memainkan klakson mobil di depan rumah?
"Mommy sudah datang!" Taemin melompat turun kemudian berlari kearah pintu utama rumah ini. Wonwoo-hyung?
Aku juga beranjak mengikuti Taemin saat ayah dan ibu juga beranjak pergi.
Benar itu Wonwooku. Tapi..
"Taeminie jangan nakal saat bersama grandma dan grandpa ya.. Harus menurut dan tidak boleh menangis." Wonwoo berjongkok didepan Taemin kemudian merapikan rambut Taemin yang mengangguk-angguk riang.
"Ayo, Gyu. Kita berangkat." Aku kaget ketika Wonwoo menarikku masuk kedalam mobil setelah ia membungkuk hormat pada ayah dan ibuku. Aku masuk di bagian penumpang, dan Wonwoo di bagian pengemudi.
"Kau yang menyetir, hyung?" Aku bertanya keheranan saat ia menyalakan mesin mobil. Aku menoleh keluar mobil saat mendapati Taemin, ayah dan ibuku berdiri bersisihan.
Hanya aku dan Wonwoo-hyung yang akan pergi? Kemana?
"Hey, aku yang mengajarimu menyetir dulu, gyu." Benar. Dulu semasa remaja kami pernah meminjam mobil truk Paman Shin tetangga sebelah flat Wonwoo untuk belajar mengemudi. Kemudian kami akan bekerja paruh waktu di akhir pekan untuk mengantar sayur dan buah dari kebun ke pasar menggunakan truk Paman Shin.
"Kita mau kemana? Kenapa penampilanmu seperti itu?" Aku bertanya lagi ketika disebuah tikungan Wonwoo tidak berbelok ke jalan yang seharusnya menuju kantor.
"Apa aku terlihat aneh? Sudah tidak pantas ya berpakaian seperti ini?" Wonwoo menoleh sebentar kemudian merapikan topi yang ia kenakan.
Aku tidak tau apa yang sedang ia lakukan tapi kemudian semua kenangan masa laluku bersamanya muncul bergantian. Dan semua adalah kenangan indah bersama Wonwoo.
Ia berpenampilan manis dengan sweater kebesaran hingga menutupi sebagian telapak tangannya. Celana jeans runcing dan sebuah topi kain kerucut menutup sebagian rambutnya yang ditata berponi.
Aku kembali mengingat Wonwoo beberapa tahun lalu. Senior yang terkenal galak dan dingin. Berpenampilan kelewat biasa dan polos. Namun bagiku itu imut. Dia kembali hari ini. Si pria Beanie.
"Jangan menatapku terus. Ayo turun. Kita sudah sampai." Aku tersadar ketika bunyi klik dari kegiatan Wonwoo melepas sabuk pengaman terdengar. Aku menoleh.
Benar ini bukan kantor. Ini rumah sakit. Tapi kenapa Wonwoo membawaku kesini? Apa Wonwoo-ku sakit?
"Kenapa kesini, hyung?"
"Jangan banyak bertanya. Ikut saja." Wonwoo menggenggam tanganku kemudian membawaku masuk ke lorong-lorong rumah sakit. Aku diam mengikuti langkahnya.
Aku menoleh. Terkejut ketika mendapati kami berhenti di sebuah ruangan dengan nama tertera Lee Jihoon. Bagaimana bisa Wonwoo tau tentang Dokter Lee? Apa ia sudah tau penyakitku?
"Tidak apa-apa, gyu. Aku akan ada disampingmu." Wonwoo masih menggenggam tanganku erat ketika ia membuka pintu ruangan itu.
Dokter Lee menyambut kami dengan hangat. Dia memang orang yang hangat tapi kali ini sambutannya terlihat seperti ia sudah menantikan kami untuk datang.
"Kau Lee Jihoon kan? Masih mengingatku?" Ya. Seharusnya mereka saling mengingat karena memang Jihoon dan Wonwoo juga aku berada di highschool yang sama. Jihoon juga seniorku namun ia berbeda kelas dengan Wonwoo. Aku mengenalnya karena ia juga penerima beasiswa seperti Wonwoo. Tentu saja ia orang yang pintar.
"Bukankah kalian… eum.. berpisah?" Jihoon-hyung bertanya ketika kami sudah duduk disofa ruangannya. Ini bukan ruangan konsultasi melainkan ruangan pribadi milik Dokter Lee.
Ku dengar pemilik rumah sakit ini adalah suami dari Dokter Lee.
Dan jangan heran ketika Jihoon tau tentang perpisahanku dengan Wonwoo. Karena memang aku sudah menceritakan semua akar dari penyakitku.
"Kau bisa bilang bahwa kami baru saja rujuk." Wonwoo tersenyum malu saat mengatakan kalimat itu.
Aku masih terdiam. Takut ketika sadar Wonwoo sudah mengetahui semua penyakitku. Aku takut Wonwoo akan meninggalkanku ketika ia tau aku benar-benar sakit jiwa.
Aku berusaha menyembunyikannya setengah mati. Kalau begini, bagaimana jika Wonwoo kemudian membenciku setelah menerima kenyataan aku memiliki penyakit kejiwaan?
"Kabar yang bagus sekali jika hubungan kalian sudah membaik. Mingyu, kau melewatkan beberapa kali sesi terapi dan aku menyesalkan hal itu. Kemudian kau juga tidak melakukan konsultasi untuk dosis konsumsi obatmu. Apa kau mendapat keluhan akhir-akhir ini?" Aku menoleh kearah Wonwoo sebelum menjawab pertanyaan Jihoon.
"Aku membeli ulang obat yang sama di toko obat dan melanjutkan mengonsumsi obat itu. Tapi akhir-akhir ini aku sering gemetar dan pusing tiba-tiba. Apa penyakitku memburuk?" Aku menunduk takut. Aku berdoa semoga penyakitku tidak semakin parah dan berakhir dengan Wonwoo meninggalkanku lagi. Aku tidak mau.
"Terakhir kali kau datang, perkembangan penyembuhanmu sudah sangat bagus sekali. Itu sebabnya jadwal terapi yang aku berikan menjadi sebulan sekali. Aku juga sudah mengurangi dosis obat yang harus kau konsumsi. Seharusnya setiap terapi dilakukan, obatmu akan diganti dengan jenis dan dosis yang baru. Tergantung perkembangan tubuhmu. Tubuhmu sudah membaik tapi kau mengonsumsi obat dengan dosis yang besar itu sebabnya kau mendapatkan keluhan akhir-akhir ini." Aku menunduk mendengar penjelasan dari Dokter Jihoon. Aku merasa bodoh sudah mengabaikan pengobatanku.
Aku pikir setelah bertemu dengan Wonwoo penyakitku akan baik dengan sendirinya. Tanpa terapi juga aku akan bisa sembuh, pikirku. Aku salah. Dan aku menyesal.
"Apa keluhan yang dialami Mingyu berarti keadaannya memburuk lagi, Jihoon?" Aku menatap Wonwoo. Ada raut wajah khawatir disana. Aku menyesal. Sungguh.
"Tidak. Itu hanya reaksi obat dengan dosis berlebih. Memang itu beberapa kali terjadi terhadap pasien yang sangat sulit mengendalikan emosinya. Aku sarankan Mingyu mendapatkan lagi terapinya untuk memperbaiki pengendalian emosi diri Mingyu."
"Tapi terapi itu terasa menyakitkan, hyung." Benar. Aku sangat menghindari terapi hipnotis yang dilakukan karena prosesnya sama saja membuat aku mengingat kenangan buruk dan pemikiran-pemikiran buruk.
"Hey, gyu. Sembuhlah.." Sial. Aku tidak bisa berkutik ketika Wonwoo yang meminta. Dan aku menyetujui semua rentetan pengobatan itu lagi.
Ya. Kali ini aku bertekad untuk benar-benar sembuh dan hidup normal. Sudah tidak ada lagi kesakitan dan ketakutan dari perpisahan dengan Wonwoo. Semua sudah kembali. Wonwoo-ku sudah kembali. Dan ia ada disampingku sekarang. Aku harus sembuh.
.
"Tidur saja jika kau lelah. Aku akan mengemudi." Wonwoo mengusap pipiku dengan tangan lembutnya ketika kami masuk ke mobil. Aku sudah menjalankan terapiku dan semua prosedurnya. Dan Wonwoo dengan setia mendampingiku sampai akhir sesi pengobatan.
Aku tersenyum. Tak tau harus berkata apa lagi untuk kebahagiaanku bisa bersama Wonwoo lagi. Hari ini yang teringat bukan hal buruk lagi, melainkan semua hal indah yang sudah kami lewati bersama akhir-akhir ini. Semua kebahagiaan bersama Wonwoo dan Taemin membuat aku tidak lagi mengingat luka perpisahan itu.
Aku harus benar-benar sembuh secepatnya.
.
Aku tersentak ketika pintu mobil tertutup. Aku menoleh dan mendapati Wonwoo bersandar di depan mobil. Aku mengikutinya.
"Kau mengingat Eurwangni kan?" Wonwoo berbicara lirih sambil melingkarkan lengannya di lenganku. Menyandarkan kepalanya di bahuku.
"Aku mengingatnya. Aku tak tau ini disebut kenangan buruk atau kenangan indah."
Dulu dipantai Eurwangni ini, aku pertama kali menyatakan cinta pada Wonwoo, seniorku. Di tengah malam di awal musim gugur ketika sekolah kami mengadakan karya wisata. Aku memberanikan diri menyatakan perasaanku pada seorang senior yang terkenal penyendiri.
Dan…
"Itu kenangan buruk." Ucap Wonwoo sambil terkikik. Itu memang kenangan buruk karena dengan jelas Wonwoo menolak pernyataan cintaku. Wonwoo menamparku dan mengataiku junior yang tidak punya sopan santun.
Tapi aku tidak menyerah. Aku melakukan lagi, lagi dan lagi. Meski berkali-kali ditolak, aku tetap mengejarnya. Dan akhirnya di tahun kedua, entah bisikan dari mana Wonwoo menerima pernyataan cintaku dengan wajah malu-malu.
"Aku masih bisa merasakan tamparanmu, hyung." Aku menariknya dalam pelukanku. Merasakan hangatnya tubuh orang yang amat aku cintai ini.
"Aku ingin memulainya lagi. Memulai semua dengan kenangan baru. Kenangan yang indah." Wajah kami bertatapan dengan jarak dekat. Ia tersenyum. Dan aku sangat menyukai senyumannya.
Sebuah ciuman manis kemudian ia berikan di bibirku. Dia yang memulai. Dia yang melakukan pagutan lembut memabukkan itu. Dan ini begitu manis.
Angin berhembus membelai rambutnya yang menutupi dahi. Aku melepas perlahan topi kerucut yang dari tadi ia kenakan. Kemudian memperdalam pagutan kami.
"Ayo kita menikah."
Jika ada gelar yang diberikan khusus untuk orang yang bisa membuat jiwa orang lain menggila, aku akan berikan gelar itu untuknya.
Dia bersungguh-sungguh dengan mengatakan ingin membuat kenangan indah. Kali ini bukan aku yang menyatakan cinta tapi Wonwoo. Kali ini bukan ajakan kencan, tapi sebuah pernikahan.
Dan yang terpenting hari ini tidak ada penolakan. Aku mengangguk kemudian membawanya kedalam pelukanku. Sangat erat.
"Ayo. Ayo kita menikah." Sial. Bahkan saat ditampar dulu aku tidak menangis. Tapi kenapa hari ini semua airmata yang tersimpan berlomba ingin keluar.
Akhirnya, aku akan segera memiliki Wonwoo-ku. Mengikatnya dalam sebuah pernikahan seperti mimpi kami dulu.
Mimpi untuk hidup bersama.
Terima kasih tuhan.
.
.
.
END
.
.
.
Yuhuu~ Gantian Wonwoo yang ngajak nikah. Nikah tidak ya? Hamil tidak ya?
Kim Noona
Fri, 28th Oct 2016
