- Last Chapter -
Kristal berwarna hijau teh, rambut butih yang berdiri dan wajah merengut yang cukup familiar.
Tiga hal yang butuh beberapa detik untuk Gin dan Renji untuk mencermatinya.
"Akh! Kau!"
"Hn?"
"Hitsugaya Tousiro!"
- Present - Karakura Bar -
Pintu kayu yang terpasang kembali berderit. Langkah kaki di atas lantai kayu membuat suara mendencit beberapa kali.
Pelayan berambut hitam yang ada di belakang mesin kasir perlahan tersenyum kecil, "okaeri, Master," sapanya penuh hormat.
"Umh, siang, Hanatarou," balas orang itu. Disenderkannya tubuh kecil miliknya pada mesin kasir, menatap hilir mudik para pelayan maupun pelanggan yang berdatangan.
"Dia... di mana?" tanya pria itu, helai rambut putih miliknya sedikit terlihat mencuat keluar dari bawah tudung kepalanya.
"Kalau tidak salah beliau pergi ke Arena, entah melakukan apa," jawab pelayan bernama Hanatarou itu. Samar didengarnya helaan nafas berat dari pria yang merupakan pemilik bar ini.
Jemari kecil pria yang dipanggil master itu perlahan menyusuri meja kasir, mencari sebuah laci kecil.
"Master?"
"Hehe, aku mau menyusulnya, tolong ganti pamflet untuk para pelanggan ya, tapi aku ambil yang ini," pekik 'Master' tersebut. Ditunjukkan sebuah pamflet dengan gambar seekor kupu-kupu kecil bertubuh manusi, bufly, namun di Walaen Ciel mahluk itu dapat dikatakan sebagai peri hutan. Sesuatu yang begitu jarang dan bagaikan sebuah dongeng belaka. Elf-pun tidak pernah diketahui.
'Ironis,' desah sebuah suara yang memberi dampak akan senyuman sinis pada 'Master'.
"Aku tahu... Ini ironis, Elfania Ciel saja hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur
mengenai dunia yang dihuni monster, konyol," celetuknya pelan. Berusaha agar tak ada seorangpun yang mendengar penuturannya.
Iris-nya terus membaca keterangan yang ada di dalam pamflet di tangannya.
'Peri hutan kembali terlihat. Tolong tangkap dia, aku ingin memperlihatkannya pada kekasihku. Legenda bilang mereka dapat menyembuhkan segala luka maupun racun.'
- Arena -
"Kalian... bertarunglah yang benar!" bentak Faura kesal. Dilemparkannya beberapa jarum kecil yang sudah dilumuri racun pelumpuh. Sementara Gin dan Renji hanya menghindar ke sana ke mari. Memasang wajah bingung tak mengerti sama sekali, akting untuk mimik tak mengerti pada Gin.
"Tapi... Hit--..." ucapan Renji terpotong oleh sebuah lemparan tombak yang entah didapat darimana, "Oi! Bahaya!"
"Jangan memanggilku dengan nama pria yang sudah mengalahkanku itu untuk ketiga kalinya!" bentak Faura semakin murka.
"Hah? Tapi itu kan kau," celetuk Renji yang sukses membuat sang Faura kembali melemparkan dua tombak baru ke arahnya dengan aura membunuh yang semakin tinggi.
Riuh rendah tepuk tangan penonton semakin bergemuruh bagaikan musik latar yang dipadu dengan senandung kecil dari Gin, yang dengan tenangnya berdiri di atas sebuah tiang kecil sambil memandang adegan kucing dan tikus.
"Aku bilang aku bukan DIA!" untuk yang kesekian kalinya, dua puluh lima bila Gin tak salah menghitung, Faura berteriak akan penyangkalan panggilan bahwa dia adalah Hitsugaya Toushiro.
"Ekh!? Tapi waja--..."
"Masa bodoh!"
"...--sebuah panggilan nama dapat membawa bahaya, mungkin dia memang mirip, tapi dia berbeda, bila kau memiliki otak kau akan melihatnya, terlihat dari reaksinya tadi--..." senandung Gin dengan amat sangat santai.
"Gin! Berhenti menyanyi dan bantu aku!" bentak Renji kesal mendengar senandung dari temannya itu. Beberapa bagian jubahnya sedikit sobek akibat lemparan benda tajam yang terlambat dihindarinya.
"Rambut merah tak berotak... Kau itu gyenel kan?" ingat Gin. Renji terdiam sesaat mendengar ucapan Gin barusan.
"Kenapa aku begitu bodoh," runtuknya dan mulai mengambil ancang-ancang untuk memulai perapalan mantra, "was yant erra nha fayra et burble elle deleir (I will be eternally scared to call a big blue fire from disaster)."
"Kau bica--..." ucapan Faura terpotong saat pusaran api biru berhembus ke arahnya dari dalam mulut Renji.
"Oh! Apakah ini? Api biru besar mendadak muncul dari dalam mulut Babon! Suatu hal yang tidak pernah kita lihat saudara-saudara!" seru komentator diiringi pandangan terkejut dari para penonton yang ada.
Api biru itu perlahan redup, menyisakan tubuh Faura yang dililit oleh sisa api biru yang mirip seperti sebuah tali.
"...--tanta tapa," bisik Gin pelan dan air keemasan mulai menari di sekitar Faura. Membuat pria itu tergeletak di tanah dan meronta keras agar dapat terlepas.
Sunyi...
Riak air dan suara percikan api hanyalah suara yang menggema di seluruh inci arena menggantikan gemuruh suara penonton.
"I--Ini... pemenangnya adalah Rubah dan Babon!" sebuah pengumuman yang berhasil mengembalikan gemuruh tepuk tangan. "Kalian berdua berhak mendapatkan satu juta gil!"
"Akh! Satu juta gil," pekik Renji girang diikuti helaan nafas Gin yang mulai mengembangkan senyum rubahnya. Entah bagaimana caranya selama pertandingan berlangsung mereka dapat agar jubah dan penutup kepala mereka dapat bertahan dan terpasang dengan rapi, pengecualian dengan lubang di seluruh jubah milik Renji.
Gemuruh penonton mengisi arena, hampir semua bertepuk tangan. Hampir semua terkecuali seorang gadis yang ada di barisan paling belakang. Tubuh mungilnya bersinggungan dengan tembok marmer. Bersembunyi di balik penonton lainnya.
"Sudah selesai rupanya..." pekik seseorang yang membuyarkan senyuman di wajah gadis itu.
Ia menoleh, mendapati pria pemilik bar yang selalu dipanggil 'Master' oleh orang lain.
"Hum... Kau tahu, barusan yang bertarung adalah dua gyenel," jawab gadis itu semangat. Master hanya menaikkan beberapa mili kedua sudut bibirnya, membuat ulasan senyum tipis.
"Jadi rindu dengan Elfania Ciel ya," bisik 'Master' tepat di telinga kanan sang gadis. Membuatnya kegelian.
"Iya... aku jadi rindu," ucapnya di sela-sela kekehan kecil. Dilepaskannya tudung kepala miliknya, menunjukkan rambut hitam pendeknya dan poni yang ditata seolah membelah wajahnya. Kristal violet miliknya melirik ke arah si jubah merah dan perak.
"Kita ke Bar sekarang, Rukia."
"...--datang lagi ya," celetuk sang resepsionis dan melambaikan tangannya ke arah sosok kedua elf yang perlahan menghilang oleh jarak yang ada.
"Rambut merah tak berotak, sekarang kita kembali pada tujuan kita untuk mencari dua orang itu," celetuk Gin pelan. Mengingatkan Renji pada tujuan awal.
"Kita bicarakan sambil makan siang saja ya," celetuk Renji sebagai sebuah jawaban kecil dan langsung menarik lengan kurus milik Gin. "Nanti kau harus makan banyak, tulang semua nih."
"Hum..." Gin kembali mengembangkan senyumnya. Ditepisnya pelan tangan Renji, perlahan kedua tangannya melingkar di depan dada elf berambut merah itu. Merengkuhnya dari belakang.
"Gin... k-kau..." Renji mulai terbata. Wajahnya perlahan memucat dengan ide-ide aneh yang mulai bermain dan menari di dalam kepala yang terbungkus helai benang berwarna merah halus.
"Nanti satu tempat tidur ya," bisik Gin tepat di telinga Renji dengan cukup... mesra.
"Apaaa!?"
"Iya... kita lakukan banyak hal contohnya..." Gin terdiam. Menggantung penuturannya dan menunggu reaksi dari elf yang ada dalam dekapnya.
"A-apa?"
Seringai yang tak terlihat adalah jawabannya, "...--mengantungmu terbalik. Hukuman karena sudah menggunakan sihir Fayra Burble (Blue Fire)."
Sebuah jawaban yang sukses membuat wajah Renji menjadi merengut kesal dan memincingkan matanya untuk melirik ke arah Gin, yang masih memeluknya dari belakang, dengan tatapan kesal.
"Picik!"
"Menolak aku laporkan pada Nosaash," ancaman yang diikuti oleh tawa kecil sebelum akhirnya pelukan, yang bagi orang lain begitu mesra, main-main yang dilakukannya pada Renji terlepas.
Tidak jauh dari tempat mereka berdiri Faura yang memandang kesal pada dua, dalam pandangan Faura, manusia bertudung yang cukup mengesalkan tersebut.
"Ri...Riku, berhentì saja ya," pinta temannya yang berambut coklat berdiri penuh dengan kelembutan.
"Tidak! Aku akan membalas dendam pada mereka Sena."
"Ta--tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian! Aku pasti membalas dendam!" sungguh suatu harga diri yang cukup... menyebalkan bagi siapapun yang berhasil mengalahkannya.
- Saluran bawah air -
Bau amis terus-menerus menyeruak tiada henti. Membuat siapapun yang datang akan segera memuntahkan seluruh isi makanannya. Tapi pengecualian untuk beberapa orang, mereka yang memang tinggal di sana, bersembunyi dari cahaya dan menetap dalam kegelapan.
"Ukh... sekarang jam berapa dan hari apa?" tanya Momo lirih. Tangan kanannya mengusap pelan kedua bawah mata kirinya. Piyama hitam dari kain satun melekat manis pada tubuh mungilnya.
"Hum... siang hari dan masih sama dengan saat kau tertidur," jawab temannya, atau dapat disebut begitu, yang memiliki nama Ulquiorra Sciffer.
Pemuda berkulit putih pucat itu terduduk di sebuah kursi kayu, membolak-balik lembaran kertas pada buku.
"Ah, sudah siang rupanya," celetuk gadis bermata coklat tanah itu. Diposisikannya dirinya pada senderan tangan kursi kayu. Sedangkan tangan kirinya menopang tubuhnya pada senderan kursi, berusaha mengambil posisi yang cukup nyaman.
"Ada apa?" tanya Ulquiorra dingin. Permata hijau daun miliknya melirik ke arah Momo.
"Tidak, hanya ingin tahu apa yang kau baca," jawab Momo pelan.
"...--bukan apa-apa, hanya kumpulan tulisan akan sampah," gumam Ulquiorra tanpa intonasi maupun pelafalan naik turun nada yang jelas.
"Ya... membaca sampah di tengah kumpulan sampah."
Keduanya kembali dalam diam, menatap cetakan tinta hitam yang tersusun rapi diselingi beberapa ilustrasi.
Senyum di wajah Momo sedikit demi sedikit berkurang, berganti dengan wajah merengut kesal. Ulquiorra yang menyadari perubahan mimik wajah itu berhenti dan menghela nafas pelan.
"Kau ingin aku melanjutkan membaca sampah ini atau kau ingin aku berhenti?" tanya Ulquiorra.
"Lan--..."
"Akh! Kau sudah bangun rupanya, Aizen memanggilmu tuh," potong sebuah suara dengan tidak sopan.
"Akh, baik!" pekik Momo yang tanpa mengucapkan apapun maupun mengomentari kelakuan Grimjaw berlari kecil menuju kamar yang selalu dipenuhi hujan salju tanpa henti.
"Dia benar-benar menyukai Aizen," pekik Ulquiorra. Sementara Grimjaw hanya menggeram kecil.
"Aku khawatir kalau dia tahu mengenai takdir Aizen," celetuk Grimjaw agak kesal.
"Ya... takdir bahwa dia sudah akan pergi."
"Tch! Karena Vinan (White) yang tinggal hitungan tahun berusia tiga puluh tahun dan warna terakhir untuk tersadar."
"Warna terakhir... warna apa?"
ruki4062jo
Ruise : Mateng di otak, entah bahanna mentah atau setengah mateng.
Para pemain : (Ngegenlak dengan nggak elitnya)
Ruise : Hehe… Ini udah muncul Rukianya, walau Hitsugaya pasti udah ketahuan siapa
Ruki_ya
Ruise : (Grinning Childish) Gomen-gomen, soalnya aku merasa kayaknya percuma aku pisah kalo satu cerita. Makasih udah review dua-duanya.
Kuchiki_Runavi
Ruise : Nggak papa kok, asalkan bukan review buat fic lain yang nyasar ke sini
Toushiro : Lu kata apaan!?
Ruise : Faura bukan Hitsugaya, tapi Kaitani Riku.
Rukia : Itu bukannya Cross!?
Ruise : Dia Cuma tampil 3 chapter kok T-T, besok hari terakhir dia menjajah fic ini.
Sorry for Cross scene and to short
I'll update it next week,
See you and mind to intro?
