Sungmin tidak ada di mana-mana!
Kyuhyun langsung menghambur ke luar, memeriksa penjuru ruangan, tetapi Sungmin tidak ada. Donghae mengikutinya dan kemudian bergumam, menarik kesimpulannya,
"Kurasa Sungmin pergi dari rumah ini setelah lewat tengah malam."
Mata Kyuhyun menggelap, "Tapi dia kabur kemana? Dia tidak punya rumah, tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang. Dan tidak ada satupun orang yang dikenalnya. Bahkan dia meninggalkan ponselnya!" Kyuhyun melirik frustrasi kepada ponsel yang diletakkan Sungmin dengan rapi di atas meja ruang tengah, bagaikan sebuah pesan bahwa Sungmin tidak membutuhkan apapun pemberian Kyuhyun.
"Kita bisa bertanya kepada mantan rekan kerjanya di cafe, mungkin saja Sungmin ke sana meminta pertolongan."
Sebelum Kyuhyun sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dia melirik nama yang ada di sana dan mengernyitkan dahinya, itu Catherine yang meneleponnya.
"Ya?" Kyuhyun menjawab telpon itu dengan gusar,
"Sekedar mengingatkanmu sayang." Catherine menjawab dengan suara lembutnya di seberang sana, "Aku akan siap kau jemput satu jam lagi, hari ini kita akan ke sebuah restoran yang direkomendasikan oleh pramutama hotelku, kau pasti akan menyukainya..."
Catherine terus berkata-kata tetapi Kyuhyun sudah tidak mendengarkan lagi. Diakuinya bersama Catherine memang menyenangkan, tetapi Kyuhyun menghabiskan waktunya bersama Karmila bukan karena menyukainya, sama sekali tidak tumbuh perasaan di hatinya menghabiskan waktu begitu lama bersama Catherine. Dia mendekati Catherine hanya untuk satu alasan khusus. Satu alasan yang kemudian malahan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa keluar bersamamu sekarang Catherine."
"Kau sudah berjanji Kyuhyun, satu minggu bersamaku, ingat?" suara Catherine agak meninggi, tetapi perempuan itu masih bisa menyembunyikan kegusarannya.
Kyuhyun menghela napas panjang, "Memang. Tetapi sekarang aku sampai di satu titik dan menyadari bahwa aku tidak butuh waktu selama itu untuk tahu bahwa aku sama sekali tidak tertarik kepadamu. Dan tidak akan pernah tertarik!"
Sebelum Catherine sempat bertanya lagi Kyuhyun menutup teleponnya dan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Donghae yang berdiri di sana sambil bersedekap.
"Ayo kita ke cafe tempat Sungmin dulu bekerja." Gumamnya tergesa.
*** CRUSH IN RUSH ***
Ternyata sia-sia. Entah Jungmo berkata jujur, atau dia melindungi Sungmin, lelaki itu mengatakan bahwa dia sama sekali tidak tahu dimana Sungmin berada. Sejak pertemuan di supermarket itu, Jungmo sama sekali belum pernah bertemu lagi dengan Sungmin.
Kyuhyun sudah bertanya dengan begitu serius, tetapi Jungmo tetap menggeleng-gelengkan kepalanya, lelaki itu masih begitu terkejut karena didatangi oleh dua lelaki yang sangat tampan dan berpakaian elegan.
Yang satu tentu Jungmo sudah pernah melihatnya ketika bertemu disupermarket beberapa waktu lalu, lelaki yang sangat tampan, sedangkan yang satunya lagi...itu adalah pelanggan tetap cafenya waktu itu yang sering datang ketika tengah malam hingga menjelang pagi. Yang secara kebetulan tidak pernah datang lagi setelah Sungmin berhenti bekerja... jadi ini semua bukanlah kebetulan?
Donghae menatap Jungmo yang kebingungan lalu mengernyit, "Sudahlah Kyuhyun, sepertinya dia benar-benar tidak tahu di mana Sungmin, kita harus berpikir ulang. Siapa kira-kira yang akan didatangi Sungmin di saat dia butuh bantuan. Dan siapa kira-kira yang menginginkan Sungmin menghilang."
*** CRUSH IN RUSH ***
Catherine langsung menemui William yang kebetulan suite hotelnya ada di sebelahnya, dia mengetuk pintu kamar itu dengan marah dan kesal.
William yang baru bersantai sehabis mandi, membuka pintu dan menatap terkejut ke arah Camilla, yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah gusar.
"Hai Catherine, kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kau ada acara dengan Kyuhyun?" William tersenyum senang, "Aku lihat kau telah berhasil menjeratnya, kalian pasti melewatkan banyak waktu bersama untuk bersenang-senang. Dan aku yakin apa yang kau katakan akan terwujud, Kyuhyun akan mengepak kopernya dan mengikuti kita pulang ke London dalam seminggu ke depan, dan kita akan merencanakan pernikahan mewah dan besar-besaran."
Wajah Catherine merah padam, teringat kembali di benaknya kata-kata Kyuhyun ketika menolaknya tadi. Kurang ajar. Lelaki itu berkata akan memenuhi tantangannya selama satu minggu, membuat Catherine merasa dia punya banyak kesempatan dan waktu, tetapi kemudian Kyuhyun mencampakkannya begitu saja. Tidak pernah ada laki-laki yang mencampakkan Catherine sebelumnya, tidak akan pernah!
"Perempuan jalang itu, perempuan murahan yang tinggal bersama Kyuhyun, dia benar-benar pengganggu." Catherine mendengus menahan marah, "Pagi ini Kyuhyun menolakku, pasti ada hubungannya dengan perempuan itu. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Kyuhyun kalau perempuan itu masih ada, Dad."
Ada senyum misterius muncul di wajah William, dan lama kelamaan senyumannya berubah menjadi seringai, "Tenang saja Catherine, mulai hari ini perempuan itu sudah dibereskan." Suaranya begitu misterius, membuat Catherine menatap William penuh tanda tanya,
"Apa maksudmu dad?"
William membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Catherine masuk, kemudian menutup pintu suitenya dan menatap Catherine yang sudah duduk di sofa dengan senyuman bangga, "Well aku sudah bergerak duluan untuk menyingkirkan perempuan itu, akusudah menduga sejak lama perempuan rendahan itu hanya akan menjadi pengganggu rencana kita. Jadi kemarin aku menyuap salah satu petugas teknisi listrik di apartemen, dia berhasil menyusup masuk ke apartemen itu di malam hari dan menculik perempuan murahan itu. Dan sesuai instruksiku, perempuan itu mungkin sudah diselundupkan ke luar negeri sebagai pelacur. Cocok dengan profesinya sekarang ini."
"Oh ya?" mata Catherine melebar indah, kemudian dia tersenyum lebar, "Kalau begitu sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita?"
William menuangkan anggur ke gelasnya, semuanya berjalan lancar. Kyuhyun akan dengan segera melupakan perempuan rendahan itu dan berpaling kepada Catherine. Catherine ada di pihaknya, dan dengan begitu dia bisa dengan mudah menguasai Kyuhyun, anaknya itu memang sulit dikendalikan dan membencinya. Tetapi dengan adanya Catherine, William yakin, Kyuhyun akan menurut padanya, seperti seharusnya seorang anak menurut kepada ayahnya.
*** CRUSH IN RUSH ***
Sungmin membuka matanya dengan terkejut, mengetahui bahwa dia berada di ruang sempit yang gelap. Dia langsung panik mengetahui getaran-getaran yang ada di bawahnya.
Astaga! Dia ada di dalam bagasi mobil!
Tangannya diikat di belakang punggungnya, membuatnya pegal, tetapi kakinya tidak. Sungmin berguling, megap-megap mencari napas, bagasi itu sempit dan gelap, dan Sungmin merasa sesak napas. Dia memukul-mukul bagasi itu sekuat tenaga, menendang-nendangnya sekencang mungkin, tetapi percuma, mobil itu tetap melaju kencang, tak peduli dengan semua usahanya. Sampai akhirnya Sungmin terdiam, dengan napas makin terengah dan lemas kelelahan.
Oh Tuhan! Dia langsung teringat tatapan kebencian William, ayah kandung Kyuhyun kepadanya. Apakah ini direncanakan oleh William untuk menjauhkan dirinya dari Kyuhyun?
Kyuhyun... tiba-tiba air mata Sungmin mengalir, dia mencoba meraup udara berusaha mencari napas, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Lalu semuanya gelap, dan sebelum kesadarannya hilang, Sungmin sempat berpikir bahwa mungkin dia tidak punya kesempatan untuk bertemu Kyuhyun lagi.
*** CRUSH IN RUSH ***
"Petugas apartemen mengatakan melihat sesuatu yang mencurigakan tadi dini hari, dia melihat salah seorang teknisi membawa kotak yang sangat besar...dia sempat curiga, tetapi karena teknisi itu adalah petugas apartemen ini yang sudah bekerja cukup lama, dia menghapus kecurigaannya."
"Apakah kau curiga kotak itu berisi Sungmin?" Donghae duduk di depan Kyuhyun, sementara petugas polisi ada di belakang mereka. Ya. Mereka sekarang ada di kantor polisi, melaporkan hilangnya Sungmin.
Kyuhyun mengangguk, "Tidak ada lagi yang mencurigakan setelah lewat tengah malam selain kejadian itu. Sungmin pasti dibawa keluar di dalam kotak besar itu."
Untunglah kesaksian petugas apartemen sangat membantu. Teknisi itu memiliki mobil yang tercatat, dan sekarang polisi sedang berusaha melacaknya,
"Sepertinya itu penculikan amatiran. Karena kalau benar pelakunya teknisi itu, dia bertindak gegabah dan bodoh, dan tidak berusaha menutup-nutupi jejaknya." Donghae mengerutkan keningnya, ingatannya melayang di masa itu, ketika adiknya diculik. Suasananya hampir sama, para polisi bergerak, mencoba mencari titik terang.
Tanpa sadar Donghae mengernyit, apakah perempuan-perempuan baik yang ada di sisinya haruslah selalu mengalami penculikan?
Kali ini Donghae tidak mengetahui bagaimana kondisi Sungmin. Dia hanya bisa berharap bahwa Sungmin baik-baik saja. Diliriknya Kyuhyun, lelaki itu tampak tenang dan memasang wajah datar, tetapi Donghae tahu, Kyuhyun gelisah dan ketakutan setengah mati.
Ada perasaan yang tanpa sadar ditumbuhkan Kyuhyun kepada Sungmin. Itu sudah pasti, dulu mungkin Kyuhyun tidak menyadarinya, tetapi sepertinya lelaki itu sudah menyadarinya... Donghae tersenyum sedih, dan jangan sampai Kyuhyun terlambat... bagaimanapun juga mereka harus menemukan Sungmin.
Seorang petugas polisi menghampiri mereka, mengatakan sesuatu kepada Kyuhyun langsung berdiri, Donghae menatap Kyuhyun dengan bingung,
"Ada apa?"
"Polisi bisa melacak mobil itu, sekarang sedang mengarah ke pelabuhan. Sepertinya si penculik ingin menghilangkan jejak dengan menaiki kapal."
Kyuhyun mengambil jaketnya dan mengenakannya, "Ayo, kata petugas kita bisa ikut salah satu mobil polisi, asal saat penyergapan nanti kita tidak keluar dan membahayakan misi, kita boleh ikut."
*** CRUSH IN RUSH ***
Sepanjang jalan begitu menegangkan bagi Kyuhyun, dia dan Donghae duduk di jok belakang mobil polisi itu. Informasi yang didapat dari radio polisi, mobil yang menculik Sungmin ditengarai masih ada di jalan tol, belum keluar menuju arah pelabuhan. Sepanjang jalan mereka melewati truk-truk besar pengangkut barang.
Dan benak Kyuhyun bergetar ngeri... kalau mereka tidak bisa menyelamatkan Sungmin dengan cepat, akankah perempuan itu diselundupkan seperti ini? Di dalam truk yang penuh barang kemudian di bawa menyeberang pulau seperti ternak?
Kyuhyun makin geram kepada William, dia merasa malu, berasal dari benih lelaki sombong dan licik itu. Penculikan ini, meskipun mereka belum bisa membuktikannya, sudah pasti didalangi oleh ayah kandungnya yang jahat itu. Dia sudah curiga. Dia sebenarnya sudah cemas ayahnya yang licik akan berbuat jahat untuk menyingkirkan Sungmin. Dan semalam dia lengah, lengah karena kemarahannya sendiri.
Kyuhyun menghela napas dengan sedih. Kalau sampai Sungmin tidak dapat diselamatkan, Kyuhyun tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Lalu tiba-tiba sirene polisi dibunyikan, lima mobil polisi mengerubuti sebuah sedan warna hitam yang langsung mengebut kencang, tidak mau berhenti. Mobil itu tancap gas, setengah zig zag, benar-benar nekat dan tetap tidak mau berhenti meskipun lima mobil polisi mengejarnya.
Kejar-kejaran berlangsung menegangkan. Yang ditakutkan Kyuhyun adalah sedan hitam itu, yang mungkin ada Sungmin di dalamnya, terlalu mengebut dan kehilangan kendali, membuat Sungmin celaka. Kyuhyun mengikuti pengejaran itu sambil berdoa dalam hati, berdoa semoga Sungmin selamat.
Setelah pengejaran selama beberapa kilometer, sebuah mobil polisi berhasil menjajari sedan hitam itu dan memepetnya ke bahu jalan tol. Mobil yang lain mendahului dan menghadang tepat di depan. Membuat sedan itu terpaksa berhenti, dengan suara berdecit keras dan ban yang berasap.
Beberapa petugas polisi langsung keluar, menodongkan senjatanya dan memerintahkan supir sedan hitam itu turun. Sopir mobil itupun turun dengan tangan di atas kepala, kemudian dipaksa berlutut.
Setelah kondisi dipastikan aman, Kyuhyun dan Donghae boleh keluar dari mobil. Hati Kyuhyun mencelos ketika polisi itu memeriksa tempat duduk dan memastikan tidak ada penumpang lain di sana.
Jadi di mana Sungmin?
Lalu seorang polisi mencongkel bagasi dengan linggis, dan di sanalah, di dalam bagasi itu, terbaring Sungmin yang sudah pingsan kehabisan udara.
*** CRUSH IN RUSH ***
"Shit!" William mengumpat ketika membaca berita di televisi berita tentang sebuah penculikan yang berhasil di gagalkan oleh polisi. Dan berdasarkan pengakuan si penculik amatir, dia dibayar oleh orang asing yang menyuruhnya menculik dan menjual perempuan itu ke sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur.
Dengan marah William mengemas pakaiannya, dan kemudian menelepon untuk mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang paling cepat. Sayangnya semua penerbangan penuh dan harus menunggu enam jam lagi paling cepat.
Catherine juga sama paniknya setelah melihat berita itu, dia bolak-balik ke kamar William, ketakutan dan bingung. William menyuruh perempuan itu untuk diam, tetapi Catherine tetap mengomel-ngomel, menyalahkan William.
"Seharusnya dad memilih penculik yang lebih ahli, bukannya teknisi bodoh gila uang yang baru pertama kali menculik, pantas saja dia tertangkap dengan begitu mudahnya." Sambil mondar mandir di dalam kamar William, membuatnya gila, Catherine terus menerus mengomel, "Kalau begini jadinya bisa gawat, nama kita bisa tercoreng..."
"Diam Catherine!" William membentak pada akhirnya, merasa frustrasi karena disalahkan.
Catherine terkejut dibentak sedemikian keras oleh calon ayah mertuanya. Matanya melebar dan kemudian wajahnya merah padam penuh kemarahan, "Aku tidak mau berurusan lagi denganmu!" teriak Catherine marah, "Aku tidak ada hubungannya dengan penculikan itu jadi kau tidak bisa melibatkanku, silahkan saja polisi menangkapmu, tapi aku tidak mau nama baikku cemar! Mulai hari ini tidak ada urusan di antara kita. Aku akan pulang ke London besok, aku telah membuang-buang waktuku dengan mencoba mengejar anak harammu yang berdarah separuh pelacur!"
Setelah meneriakkan kemarahannya, Catherine membalikkan badan dan pergi, tidak peduli William memanggil-manggil namanya.
William layak cemas, Dad Catherine adalah rekan bisnis sekaligus teman bangsawannya yang paling penting, kalau sampai masalah ini sampai ke telinga dad Catherine, William akan kehilangan banyak sekali keuntungan bisnisnya. William tidak akan bisa melibatkan Catherine dalam hal ini, sebagai gantinya, William berharap Catherine bijaksana dan tidak mengadu kepada ayahnya.
Sekarang dia hanya harus pergi dari negara ini secepatnya. Penerbangan ke London paling cepat enam jam lagi. Dia sudah selesai berkemas dan menenteng tas-nya untuk check out.
Sayangnya, Ketika dia membuka pintu, beberapa polisi berpakaian preman sudah berdiri di sana, siap menangkapnya, membuat wajahnya pucat pasi.
*** CRUSH IN RUSH ***
Di kantor polisi, William bertatapan dengan Kyuhyun yang sedang membuat laporan di kepolisian. Mata mereka bertatapan. Dan terpatri jelas kebencian dan rasa muak Kyuhyun kepada ayah kandungnya.
Ketika William berada di dekatnya, Kyuhyun berbisik puas. "Aku akan menikahi Sungmin segera. Dia akan menjadi istriku, dan kau tidak akan diundang ke pernikahan. Pergilah ke neraka bersama gelar, harta dan darah bangsawanmu itu."
Kata-kata itu membuat wajah William pucat pasi, tetapi lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa. Kyuhyun sudah mengalahkannya, dia sudah kalah sepenuhnya.
Anaknya itu tidak akan pernah mau kembali kepadanya dan melanjutkan warisan gelarnya. Dan mungkin William tidak akan pernah bisa datang ke negara ini lagi.
Kyuhyun dan Donghae sama-sama menatap kepergian William ke ruang pemeriksaan.
"Begitu pengacaranya datang, dia akan dibebaskan dengan jaminan... paling buruk dia akan dideportasi, tidak akan menerima hukuman setimpal." Gumam Donghae pahit, "Dia bangsawan dan orang kaya yang punya banyak koneksi."
Kyuhyun mengangkat bahunya, "Memang." Gumamnya, "Tetapi setidaknya aku bisa memastikan dia tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini."
"Apakah sama sekali tidak ada rasa tersentuh di hatimu melihatnya?" Donghae bertanya ingin tahu, "Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu?"
"Dia bukan ayah kandungku. Bagiku ayahku adalah Hankyung yang merawat dan menyayangiku sampai aku dewasa." Kyuhyun menggelengkan kepalanya, "Mungkin benihnya memang menghasilkanku, tetapi selebihnya aku tidak mau punya ayah seperti dia." Lelaki itu menandatangani laporannya dan menyerahkan kepada petugas polisi, "Ayo, aku harus ke rumah sakit, aku takut Sungmin sadar dan aku tidak ada di sana."
.
.
,
Tbc
