"Lepas! Kau menyakitiku!"
.
.
.
"Aku pulang.." Maka melepas sepatunya dan menggantung syal.
"Selamat datang." Soul meletakkan semangkuk besar salad di meja makan. "Aku bikin salad."
"Ah. Keren. Makasih Soul." Maka masuk ke kamarnya dan bersiap mandi. "Kau makan saja duluan. Aku ingin mandi."
"Yah. Aku sudah isi air hangatnya." Soul menyahut dari pantri sambil mengisi gelas dengan air. Maka tertegun sejenak. Bergumam pelan.
"Makasih..." Ia sedikit merona dan langsung masuk ke kamar mandi sebelum Soul sempat balik tanya karena suaranya kurang jelas.
Soul melepas celemek lalu duduk di depan teve. Memilih untuk menunggunya mandi dan makan bersama.
"Kerasukan apa kau, bikin salad?" Maka selesai ganti dan duduk di meja bersama Soul yang baru beranjak dari sofa.
"Cuma lagi miskin. Jadi ngga bisa beli daging." Soul menyeringai memamerkan gigi tajamnya yang khas. Duduk di meja dan mulai bersiap makan. Puas saat Maka memicingkan matanya dan langsung berdo'a.
Mereka makan cukup tenang. Tidak ada kegaduhan seperti kemarin. Tenang karena tidak ada bunyi petir dan guntur. Blair juga tidak di rumah karena lembur.
"Hei..." Soul memulai.
"Jangan mulai, Soul." Maka berusaha makan dengan tenang. Ia tak ingin ada pertengkaran di meja makan seperti kemarin. "Jangan. Mulai."
"Apa sih? Emang kau tau apa yang kupikirkan?"
"Tentang kemarin, kan? Aku tak ingin marahan di meja makan." Maka menatapnya dan menggenggam garpunya sedikit erat. Mengamati senjatanya yang agak bingung.
"Hah? Aku cuma mau tanya apa pendapatmu dengan salad ini?" Soul menjawab.
"O-ohh.." Maka malu karena sudah curiga yang bukan-bukan. "U-uhm. Enak kok. Kau beri suwiran ayam juga. Dan saus saladnya juga enak..." Maka menunduk malu.
"Yeah. Baguslah. Makasih pujiannya." Soul lanjut makan dan berusaha menepis kecanggungan barusan. Ia agak bingung dengan Maka. "Jadi, besok giliranmu masak ya."
"A-ah.. Besok?"
"Iya besok. Kenapa?"
"Besok.. sepertinya besok aku pulang larut. Entahlah.. aku harus membantu... K- S-Sid-sensei. Akan ada kelas besok sore. Kau pesan makanan saja dengan Blair, Soul."
"Kau pulang jam berapa?"
"Aku.. belum tahu... mungkin larut." Maka bingung karena memang ia tak tahu kapan akan selesai. Lagipula, suara Soul kenapa terdengar presisten begitu?
"Kalau kau pulang, telepon aku. Karena lusa kita libur, aku begadang. Akan kujemput." Soul mengunyah salad terakhirnya dan menatap gadis itu. Raut wajah dan matanya terlihat sedikit sulit dibaca.
Maka menepis semua pikirannya. "Ah. Iya.. Makasih, Soul."
Esoknya, sepulang sekolah Maka langsung bergegas ke kelas dimana ia perlu mengamati Hiro.
Ia telah menyuruh Soul pulang karena sepertinya hujan akan turun. Soul hanya mengiyakan sambil menatap meisternya berlari keluar kelas. Ia mengesah. Menahan diri untuk tidak mengekor.
Maka lalu sampai di depan loker kelas sore. Beberapa anak sudah di dalam kelas menunggu Stein dan Sid-sensei. Ia bersandar menunggu Hiro.
Tak lama ia mendengar suara gaduh, beberapa murid lelaki membuat onar dan berkumpul di depan loker tak jauh di mana Maka bersandar. Maka tak ambil pikir, ia sudah terbiasa dengan anak-anak yang cari onar lewat pertarungan bodoh. Kurang kerjaan sekali ya, mereka.
Maka acuh dengan keributan itu. Meski sebenarnya membuatnya tak nyaman, ia harus membiarkan masing-masing dari mereka membela diri. Ini bukan sekolah biasa. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri.
Ia melirik mengamati gerombolan. Melihat sekejab ada seorang gadis di tengah kerumunan. Ah sial. Batin Maka.
"Hei ayolah, partneran denganku. Aku malas ikut kelas ini. Lagipula kau kan juga nggak mau ikut kelas membosankan ini." Terdengar salah satu dari mereka berbicara.
"Ah, aku tidak..."
"Ayolah coba tunjukkan wujudmu. Kau senjata, kan?"
"Oi, oi, dia terlalu manis untuk senjata. Hei kau mau kencan denganku, nggak?"
"A-ah! Lepas!"
"Ih kasarnya. Jangan sombong lah. Semanis apapun kau, kalau nggak punya partner ya percuma. Sini jadi partnerku, nanti kita kencan!"
"Hentikan! Aku tak mau denganmu!"
"Anjing sombong bet lu nolak temen gua! Gausah belagu dasar cewek sialan!"
"Hei kalia-" Maka belum menyelesaikan kata-katanya namun seseorang sudah melewatinya.
"Hei berhenti mengganggunya! Dia partnerku!" Hiro berteriak memerobos kerumunan dan melindungi gadis itu. Maka terdiam sesaat.
"HaHH?! Siapa kau, kampret! Minggir gausah ganggu!" Seorang bocah onar mengancamnya.
"K-kubilang dia partnerku! Sekarang minggir!" Hiro menarik gadis itu keluar dari kerumunan. Tapi lengan gadis itu dicengkeram erat oleh si onar.
"Hah! Kau kan si senior EAT lemah yang selalu jadi pesuruh itu! Mau apa jadi sok keren?!" Seorang siswa mengejar mereka.
"Sejak kapan gadis itu jadi partnermu?! Dia sudah mau jadi partnerku dasar sialan!"
"Aku tak bilang begitu!" Gadis tadi berusaha melepas tangannya. "Lepas! Kau menyakitiku!"
"Oi, lepas, katanya!" Hiro mengancam.
"'CEREWET KALIAN!" Si pembuat onar mengepalkan tangannya dan bersiap menghajar keduanya. Hiro dan gadis itu terkejut tapi mereka sudah tak bisa kabur. Kepalan tangan besar itu terayun dan mendarat mulus di wajah Hiro. Gadis itu menjerit melihat Hiro tersungkur.
"K-kau tak apa?" Gadis itu berusaha menarik Hiro dari kerumunan. Memperhatikan pipi Hiro yang lebam dan hidungnya mimisan.
"Kaburlah. Akan kutahan mereka." Hiro bergumam sambil berusaha berdiri.
"Hah! Rasakan dasar belagu! Akan kuhajar kau! Berikutnya gadis itu!" si pembuat onar sekali lagi mengepalkan tangannya dan bersiap menghantam Hiro yang memunggungi gadis itu. Tangannya terayun dan hampir mendarat tepat di wajahnya...
"Hei." Maka masuk di antara mereka dan menahan bogeman kingkong itu. Hiro dan gadis itu membelalakkan mata. Maka... menahan serangannya dengan satu tangan. "Berhenti berbuat onar. Kelas ini dibuat agar kalian bisa cari partner dengan tenang. Tidak perlu memaksa."
"A-apa?! Siapa lagi kau?! Gak usah ganggu gua lu!" Ia memaksakan kepalannya terus melaju. Tapi tetap tertahan oleh Maka. "Jelek banget kuncir duamu! Dasar kutu buku!"
"B-bos... dia si Albarn! Anggota Spartoi yang dikirim khusus untuk menyelamatkan Shinigami-sama beberapa bulan lalu!" Salah satu anggota mereka berkata sambil mulai mundur perlahan.
"HaAHH?! Gadis sekecil ini?! Jangan main-main!" Si bodoh itu mengayunkan tangan satunya. Masih berniat menghajar.
"Aku sudah memperingatkanmu. Hentikan sebelum Sensei datang." Maka menangkis pukulan kedua. Tangannya masih menahan pukulan pertama. "Aku tidak suka ikut campur. Tapi akan repot kalau Hiro babak belur. Sekarang berhentilah sebelum Sensei datang."
"BACOT!"
"G-goblok si Bos!" Komplotannya yang lain mulai gemetar dan mundur. "Sudahlah Bos! D-dia yang menghajar Kishin bareng Shinigami-sama, lho Bos!"
"BODO AMAT! GUA KESAL!" Maka mulai kesal karena suara teriakannya lebih menyebalkan dari Black Star. Ia mencengkeram lengan si bodoh itu dengan erat. Hampir terdengar patah. Si Bos onar menjerit dan tanpa sadar ia sudah jatuh terduduk. Sepertinya Maka menyepak kakinya juga.
"AAAAHH!" Ia menjerit.
"Boss! Edan ni orang! Ayo cepet kabur!" Komplotannya menarik dia yang mereka panggil bos itu. Maka meletakkan tangannya di pinggang. Sebal karena masih ada saja murid-murid bodoh di Shibusen.
"Oi kalian, bawa dia ke Nygus-sensei. Setelah itu sisanya kembali ke kelas ini" Maka melihat Prof. Stein yang datang bersama Sid-sensei. Komplotan itu patuh dan buru-buru pergi. Takut kena tambahan hukuman.
"Hiro, kau tak apa?" Maka berbalik mendapati gadis itu terduduk di lutut dan cemas melihat penolongnya.
"Aku tak apa, Maka. Terima kasih sudah menolong kami." Hidung Hiro terus berdarah. Tetesannya tidak berhenti. "Kau baik?"
"A-ah.. ya.. terimakasih, Senpai telah menolongku. Tapi kau terluka.." Gadis itu panik mencari sapu tangan.
"Kalian pergi saja ke UKS di barat, Perawat lain masih jaga di sana." Sid-sensei mengomentari di dekat pintu saat Prof. Stein masuk dan menyambut kelas. "Tidak terlalu parah. Hiro akan baik-baik saja. Maka, kau boleh temani mereka."
"Baik, Sensei."
Lalu keduanya membopong Hiro ke klinik barat.
