YOUR BODYGUARD

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Naruto-Hinata slight Gaara-Sara, Sasuke-Sakura, Kiba-Hinata

Genre: Romance/Fluff, action

Rated: T

A/N: typo(s), OOC, terinspirasi dari K-Drama DOTS, Bold Italic (Isi Chat), Bold (flashback) dan semua kesalahan yang tidak disengaja lainnya.

DON'T LIKE DON'T READ!

.

.

Pagi itu Gaara menjelaskan cara pemakaian talkie walkie pada relawan RS Konoha. Ya, dikarenakan komunikasi via HT lebih cepat dan tidak memerlukan sinyal jadi akan sangat berguna bagi relawan RS Konoha selama di Desa Ame.

"Mengerti?" tanya Gaara pada Dokter dan Perawat didepannya.

"Ya," jawab mereka kompak.

"Ok, salurannya kalian sudah tahu'kan? Mana saluran untuk yang pasukan mana yang khusus relawan, ah terus silahkan cari code name kalian sendiri," ucap Gaara.

"Code name?"

"Ya, code name, kalian harus memakai code name saat memanggil lewat benda itu," kini Naruto yang menjawab, pemuda itu baru datang. Naruto menyalakan HT-nya, "Kyuubi memanggil, ganti," ucap Naruto mencontohkan yang terdengar di HT milik Gaara. "Jelas?" ucap Naruto yang kemudian melihat Dokter dan perawat di depannya mengangguk mengerti.

"Bruk!" Sai tiba-tiba membuka pintu dengan tidak sopan,dan membuka yang ada dalam markas terdiam. "Dokter! Ada pasien diluar sana."

.

.

Hinata dan yang lainnya sampai di medicube, matanya terbelalak ketika tahu siapa pasiennya. Inuzuka Kiba?

"Kenapa dia bisa kesini?" tanya Naruto pada Sai.

"Tadi ada mobil yang nyaris menabrak markas, lalu dia keluar dan sudah seperti itu," jelas Sai.

Naruto menghampiri Hinata yang sedang memeriksa Kiba, "dia kenapa?"

"Entahlah, aku harus melakukan CT Scan dulu, mulutnya terus berdarah," jawab Hinata.

"Dia punya riwayat sakit sebelumnya?"

"Aku tidak tahu, aku mengenalnya saja saat sehari sebelum aku akan dinikahkan dengannya, kau minggirlah aku akan memeriksanya," jelas Hinata kini memakai sarung tangan.

"Kau keluarlah kapten," ucap Sara yang baru memasuki ruang UGD, kemudian gadis itu memakai sarung tangan dan masker.

Naruto menghelanafas dan berbalik keluar ruangan tersebut. Kalau Dokter sedang serius seperti ini menyeramkan juga, ucap Naruto dalam hati.

"Uhuk! Uhuk!"

Naruto menoleh kebelakang, dia melihat Wajah Hinata dan Sara terkena darah dari Kiba.

"Keluar!" teriak Hinata dan Sara bersamaan ketika melihat Naruto akan kembali menghampiri mereka.

"Cepat keluar!" Bentak Hinata pada pemuda yang kini terdiam didekat pintu. "Kiba terkena virus menular, kau keluarlah cepat!"

DEG! Barusan Hinata bicara apa? Virus menular?

"KELUAR!" Bentak Hinata lagi saat melihat Naruto terdiam dengan wajah pucatnya.

.

.

Gaara lari terburu-buru kedalam medicube, pemuda berambut maroon itu terdiam ketika melihat Naruto berdiri jauh dari ruang operasi medicube.

"Naruto!"

Pemuda yang dipanggil menoleh, dan tersenyum kecut. "Gaara.. kau sudah tahu?"

"Ya," jawab pemuda itu sambil mendekati dinding kaca ruang operasi. Pemuda itu melihat Sara melirik ke arahnya sambil tersenyum, dan bicara semua akan baik-baik saja. "Hanya mereka yang terkena?" tanya Gaara tanpa mengalihkan perhatiannya dari sang gadis yang sedang melakukan operasi pada Kiba berdua saja bersama Hinata.

"Ya," jawab Naruto sama sekali tidak semangat.

"Apa virus ini berbahaya?"

"Ya, sangat berbahaya. Semua pasien sudah dipindahkan ke ruang isolasi dan diambil darahnya untuk di tes positive negative nya, begitu juga dengan semua pasukan dan perawat juga Dokter di sini," jelas Naruto yang melihat Hinata tanpa ada rasa takut mengoperasi Kiba.

"Berarti hanya kita yang belum?" tanya Gaara kini pemuda bermata hijau itu melirik Kapten muda yang berdiri dibelakangnya.

Naruto mengangguk,"ya, dan juga mereka," ucap Naruto sambil memperhatikan Sara dan Hinata didalam ruang operasi itu.

.

.

"Bagaimana ini?"

"Bagaimana apa? Mereka sudah terlanjur kena, ya kita mau bagaimana lagi," jawab Karin.

"Virus ini langka sekali obatnya, itu yang aku tahu," kini Ino yang bicara.

"Ah, seandainya ada sinyal kita bisa bertanya pada Dokter Shizune," ujar Sora.

"Ya, kau benar," timpal Karin dan Ino.

"Kalian butuh sinyal?"

Sora dan dua perawat yang baru beres mengevakuasi passien ke ruang isolasi menoleh ke sumber suara. Lalu mereka bertiga mengangguk.

"Nanti malam Kapten dan Letnan akan ke Kota, ke pusat militer Okinawa sambil menyerahkan sample darah kita, kalian bisa memberikan no Dokter Shizune itu pada Kapten," jelas Sai panjang lebar.

.

.

"Akhirnya selesai juga," ucap Hinata sambil tersenyum.

"Ya, oh ya kita harus memberikan sample darah kita'kan?"

"Ah benar," jawab Hinata singkat lalu mengambil jarum suntik baru.

"Hinata, apa kau merasa takut?"

Hinata menoleh pada gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu. "Tidak, sebagai Dokter hal ini sudah menjadi resiko'kan? Sama seperti Tentara yang bisa mati kapan saja saat perang," jawab Dokter cantik itu kini menyuntikan jarum ke pergelangan tangannya.

"Kau benar," jawab Sara sambil mengambil jarum suntik baru.

.

.

Naruto dan Gaara memasuki mobil di depannya, malam itu mereka akan ke pusat kemiliteran Okinawa untuk mengirim sample darah.

"Ini, Kapten," ucap Sora sambil menyodorkan sebuah kertas yang sudah tertulis nama dan no HP. "Ini Dokter Shizune, mungkin dia bisa membantu untuk masalah virus ini. Bagaimanapun juga Dokter Hinata dan Letnan Sara harus segera ditolong, kami tidak mau kehilangan mereka," lanjut Sora sambil berkaca-kaca.

"Terima kasih, yakinlah mereka akan baik-baik saja, " ucap Naruto sambil menepuk bahu pemuda didepannya.

"Kapten?"

Naruto menghembuskan nafas berat, "ayo berangkat, Gaara."

Sesuai perintah, pemuda itu langsung menginjak pegal gas. "kau mau menghubungi Dokter yang dimaksud Dokter Magang itu?" tanya Gaara.

"Tidak, aku akan menghubungi Kasaan," jawab Naruto mantap.

Ah benar juga, Kushina merupakan Dokter hebat. Kenapa Gaara lupa akan hal itu?

.

.

"Apa?" seru Sakura kaget.

"Ya, satu diantara mereka positive terkena virus ini," jawab Naruto yang sengaja bersinggah ke 'toko' milik Sasuke itu.

"Siapa yang terkena?" tanya Sasuke to the point. Pemuda bermata onyx itu bisa melihat Naruto tersenyum kecut sambil memainkan sedotan yang ada diminumannya.

Seorang Ahli Lab keluar dari ruangannya dan menemui dua pemuda yang sedari tadi menunggu hasil.

"Bagaimana hasilnya?" Tanya Gaara ketika melihat ahli Lab itu menghampiri mereka.

"Dokter dari RS Konoha yang terkena Virus."

DEG! Detik itu juga sepertinya Naruto tidak bernafas. Hinata? Hinata yang terkena?

"Jangan sampai lewat dari 3 hari, kalau tidak nyawanya tidak tertolong. Selama 3 hari ini, berusahalah membuat suhu badannya normal, dan Dokter ini harus terus tersadar," ucap Ahli Lab itu menjelaskan.

Sakura menutup mulutnya kaget, "Hi-hinata?"

Naruto mengangguk, "ya."

.

.

Kushina menutup mulutnya kaget ketika membaca pesan dari sang anak. Minato yang menyadari itu langsung meraih HP sang istri, dan Minatopun tidak kalah kaget.

"Hiashi jangan sampai tahu," ucap Minato kemudian lalu menaruh HP putih Kushina.

"Ba-bagaimana ini, Minato?"

"Apa kau pernah mengobati virus seperti ini?" tanya Minato pada istrinya itu.

Kushina menggelengkan kepala, "virus yang diderita Kiba sangatlah langka dan jarang yang terkena, di RS Konoha pun belum ada catatan pasien dengan virus seperti itu," jelas Kushina yang kini memegang kepalanya tanda kalau wanita cantik itu mulai pusing.

Minato menghelanafas, "jangan putus harapan, kau memiliki banyak kenalan Dokter Luar Negeri'kan? Diskusilah dengan mereka, mungkin ada diantara mereka yang pernah menangani virus mematikan ini," jawab Minato sama pusingnya.

.

.

To Be Continued

.

.