.

Monster in Me

Lee HyukJae & Lee DongHae

Rated M .:. YAOI

By : Misshae D'cessevil

.


.:. Monster in Me .:.


.

"DIA ANAK YANG HYUNG KU AMBIL DARI PANTI ASUHAN, Kau puas—hiks… Anakmu sudah meninggal—hiks… Dia benar-benar meninggal—hiks".

"Omo!",

Sungmin tersandung kakinya sendiri.

"Hati-hati Sungmin", Jungsoo yang ada di belakangnya menepuk punggung namja manis itu.

"Firasatku tidak enak", Sungmin menuturkan perasaannya pada orang yang menemaninya pergi malam ini.

"Hyukkie dan Minho maksudmu?",

"Entahlah, tidak enak saja",

"Tenanglah, masih ada Kyuhyun dan— Donghae kan yang bisa diandalkan", Jungsoo mencoba menenangkan dan hanya mendapat anggukan sebagai jawaban. Alasan ia meninggalkan Minho pada Kyuhyun di kantor adalah untuk menemani Umma anak tampan itu, ada sesuatu mendesak yang harus keduanya urus.

~Jung's 00:30 am~

Eunhyuk berjalan tertatih ke dalam rumahnya, ia meninggalkan Donghae yang mungkin masih berdiri di halaman. Petengkarannya dengan Donghae barusan sangat menguras tenaga, ia begitu mudah tersulut jika disinggung masalah anak atau juga Minho. Hari ini terasa berat dan melelahkan, tangan Eunhyuk sesekali masih mengusap air matanya. Malam ini rumahnya terasa sangat sepi, hanya beberapa penjaga dan bibi Jang yang mungkin sudah terlelap di ruangannya. Eunhyuk berniat mengambil minuman dingin yang ada di dapur sebelum ke lantai atas tempat Minho terlelap. Sebelumnya kamar Minho dan Sungmin ada di lantai bawah, karena takut saja jika Minho harus naik turun tangga dan terjatuh. Namun karena malam ini ia yang harus tidur dengan Minho, ia lah yang meminta Donghae meletakkan Minho di ruangannya, lantai atas.

"Ukkie—huks…",

Eunhyuk mendongak, di anak tangga paling atas ternyata ada Minho yang terlihat mengucek matanya, mungkin anak itu terbangun.

"Waeyo?, Minno haus?", Minho membalas dengan anggukan kecil.

"Tunggu sebentar, Hyukkie mau ambil minum",

"Mino haus Ukkie—huks… palliwa", Eunhyuk tidak mendengarkan rengekan Minho ini, ia berlalu begitu saja dan tetap meneruskan maksudnya.

"Ukkie~ palli—hiks…", Minho yang merasa tidak sabar mencoba turun ke anak tangga bawahnya. Kaki pendeknya terlihat kesulitan menuruni tangga agung yang menunjukkan bagaimana mewah kediaman Jung. Tangan mungilnya tidak begitu tegas ketika berpegangan pada pinggiran tangga.

"Ukkie—hiks… Minho ha—arghhhhhh",

"Uhuuk~", Eunhyuk tersedak air mineral yang tengah ia minum, teriakan Minho dan suara gedebug beberapa kali yang ia dengar membuatnya terkejut dan refleks ia berlari.

DUG

DUG

DUG

"Hueeee—hiks… Ukkie—hiks…",

"MINHO!", Eunhyuk berteriak lantang menyebut nama anak yang terpental berkali-kali hingga anak tangga terakhir.

BRAK—TTARR

Tangisan Minho berhenti, Eunhyuk juga menghentikan langkah buru-burunya, tangannya berada di bibir sebagai bentuk terkejut dan takut. Guci yang tepat ada di samping tangga tersenggol oleh kepala Minho hingga terguling dan pecah.

'Ak—Aku tidak bisa darah…',

"Min—Minho", Tubuh Eunhyuk bergetar karena tidak mendapati pergerakan dari anak kecil yang jelas saja mengeluarkan banyak darah tersebut.

"Min—Minho ja—jawab Hyukkie—hiks…", Eunhyuk tidak berani mendekat dengan cepat karena darah di depan sana sangatlah banyak tercecer, ia tidak bisa menahan air matanya ketika melihat Minho demikian.

"Minho jangan membuatku takut—hiks…", Eunhyuk menunduk, ia memberanikan diri menyentuh punggung anak yang menutup mata itu.

"Minho—hiks… buka matamu, Sayang—hiks", Eunhyuk panik karena keponakannya tak kunjung membuka matanya.

"Eotokhae—hiks… Minho bangun—hiks… bangun, Sayang", Eunhyuk lambat sekali berpikir untuk menghubungi siapapun yang bisa diandalkan saat ini. Manis yang ketakutan ini meraih gagang telephone di meja sebelahnya, tidak tahu nomor siapa yang ia tekan, jari-jarinya dengan lugas dan tegas dapat menyelesaikan nomor yang begitu dihapalnya itu.

"Angkat—hiks… tolonglah", Eunhyuk memohon dengan masih terisak, ia begitu buruk masalah darah, ia tidak bisa melakukan apa-apa dan dibandingkan dengan hanya menatap ketakutan, bukannya lebih baik mencari bantuan pada orang yang saat ini benar-benar siap.

"Yeoboseyo~", Tersambung.

"Hiks—Tolong…", Satu kata dari Eunhyuk yang sangat menyayat.

"Hyukkk—Hyukkie, Kenapa?", Tanya orang yang terdengar masih ada di jalan raya ini khawatir.

"Tolong Aku—hiks it—itu kembali—kembalilah ke rumah, Aku butuh bantuan—hiks", Permohonan Eunhyuk penuh cicitan dan sedikit tidak mulus ketika mengucapkannya. Jika ini adalah permintaan kembali, tidakkah ditujukan untuk orang yang belum lama meninggalkan kediamannya. Dan jika benar yang Eunhyuk hubungi adalah seorang Lee, agaknya itu terlalu jauh, bisa saja ia menghubungi Sungmin, Jungsoo atau Kyuhyun. Mungkinkah yang pertama kali terlintas di kepalanya memang seorang Donghae, atau ia sempat berpikir jika Donghae sangat siap untuk segera memberikan pertolongan.

"Geure geure, tenanglah. Aku akan putar balik dan tunggu beberapa menit", Terdengar benar untuk kategori sigap memberikan pertolongan. Eunhyuk tidak mengucapkan kalimat lain, panggilannya juga telah berakhir, bahkan saking tremor tangannya tidak bisa meletakkan gagang telephone dengan rapi.

"Eotokhae—hiks… Ya Tuhan, Minho bangun please—hiks…".

.


.:. Monster in Me .:.


.

Seseorang berpakaian hitam dengan topi juga kacamata hitam berjalan mendekati gadis yang duduk di luar restaurant seberang jalan. Gadis bergaun merah yang glamour tersebut seperti telah menunggu lama.

"Maaf, Saya terlambat", Tunduk laki-laki itu dengan sopan.

"Tidak masalah asal pekerjaanmu nanti yang tidak lambat", Mata-mata, suruhan atau apapun lah namanya itu membungkuk sopan, terlihat sangat professional pada siapapun kliennya.

"Duduklah, ada beberapa hal yang harus Aku mintai bantuan", Namja dengan tema hitam-hitam tersebut perlahan menurut pada perintah orang yang sudah mengirim setengah dari nominal yang menjadi bayarannya.

"Aku menawarkan sesuatu yang fantastis kan sebelumnya? Dan melihat kedatanganmu kemari tidakkah itu berarti setuju?", Tanya yeoja ini ingin lebih mendapat jawaban yakin.

"Ndee, Saya menyetujuinya",

"Aku tidak tahu hal apa yang membuatmu berani berkhianat sebenarnya, tapi ini sangat menguntungkanku",

"Sudah menjadi pekerjaan Saya dan Saya bukan orang munafik tentang banyaknya materi",

"Great Jackson, Kau memang bisa Aku andalkan", Pria yang dipanggil Jackson tersenyum mendapatkan pujian demikian.

"Lalu, Apa tugas pertama yang harus Saya lakukan, Nona?", Orang ini terdengar sedikit terburu, mungkin Jackson memang bekerja lebih dari satu klien.

"Kau suka melakukan sesuatu dengan cepat ya? Atau mungkin jadwalmu yang terlalu padat? Tapi tidak masalah, ehm langsung saja, Kau tentu tahu Jung Eunhyuk bukan?",

"Lebih dari tahu, Nona", Jawab Jackson seakan ia benar-benar yakin dengan pengetahuannya.

"Aku rasa Kau sampai bosan untuk tahu tentangnya, atasanmu sebelumnya pasti orang yang sangat lekat dengan Jung itu", Yeoja ini berpendapat dan hanya ditanggapi senyuman oleh Jackson.

"Kau juga sudah mendengar tentang conpers minggu depan bukan?", Jackson mengangguk, mencerna kearah mana sebenarnya ia ditugaskan nanti.

"Aku tidak tahu hanya untuk kelas model ada hal seperti comeback atau apalah namanya itu, berlebihan sekali", Yeoja berlipstick merah menyala ini kembali memperdengarkan ketidaksukaannya pada kebanggaan Jung.

"Kau ingin Aku menghancurkan hari itu?", Tebak Jackson dan tepat.

"Kau memang Gold ku, Aku ingin acara itu lebih dari hancur, Aku lebih ingin Kau menyerang nama dan harga dirinya",

"Aku tahu fortuna memihak di wilayah Anda, Aku mempunyai AS yang sangat meyakinkan jika pekerjaankulah yang terbaik", Jackson menjawab dengan mantab.

"Menjadi orang Donghae membuatmu tahu banyak cara berkhianat Aku rasa, Lalu hal baik apa yang bisa Aku pegang?",

"Jung kecil yang harusnya Lee, itu yang menggembirakan untuk Anda". Seorang nona di depan Jackson ini hanya menaikkan alisnya, belum tahu kelanjutan apa yang suruhan barunya itu maksudkan. Tapi melihat bagaimana perawakan dan tata Bahasa Jackson membuatnya sangat yakin jika suruhannya itu akan bekerja lebih dari kata baik.

.


.:. Monster in Me .:.


.

"HYUKKIE!",

"Hiks—hiks…",

Benar seorang Donghae yang datang, ia terburu memasuki kediaman Jung dan menemukan Eunhyuk meringkuk di samping meja dekat tangga. Isakan manis itu mampu ia tangkap, ia perlahan mendekat, tidak ingin terlalu mengusik walaupun sebenarnya ia tengah khawatir setengah mati.

"Hae—hiks… Ak—Aku", Eunhyuk mendongak, orang yang barusaja hadir itu memang selalu datang dengan cepat jika ia butuhkan, kali ini Eunhyuk benar-benar mengesampingkan rasanya pada Donghae, ia mungkin sejenak lupa jika belum ada satu jam yang lalu ia mengultimatum Donghae untuk pergi dan tidak mengurusinya. Bukankah dulu juga ada kejadian yang hampir mirip dengan ini, apapun itu ketika Eunhyuk membutuhkan pertolongan, pahlawan yang selalu ia panggil pertama adalah Donghae.

"Hiks—Minho… Di—dia", Eunhyuk mengarahkan telunjuknya pada obyek yang ingin manis ini beritahukan pada Donghae.

Merah, tercecer, mengalir dan menyedihkan.

"Astaga, MINHO!", Donghae mendekat dengan cepat, berbeda dengan Eunhyuk yang masih saja terlihat takut, Donghae menangkap tubuh kecil Minho, mengangkat ke pangkuannya dan memberikan tepukan ringan di pipi. Sebelumnya Donghae berpikir jika ada orang jahat yang memporak-porandakan keadaan di dekat sini.

"Minho, ireona Sayang", Walaupun panik Donghae melakukan hal ini dengan benar. Tubuh Eunhyuk masih saja bergetar, ia memperhatikan laki-laki tangguh yang berusaha membuat Minho sadar tersebut.

"Ya Tuhan…", Donghae menghela nafas, tangannya meraup kepala Minho yang mengeluarkan darah. Ia juga memeriksa nafas dan denyut jantung anak kecil yang memejamkan mata itu.

"Kita harus segera memb—", Donghae menoleh pada Eunhyuk, ia menemukan namja ringkih itu tidak merubah sedikitpun posisinya. Ia tahu jika Eunhyuk tidak bisa dengan hal-hal seperti ini.

"Tidak apa-apa, Hyukkie", Masih dengan menggendong Minho, Donghae mendekati Eunhyuk, tangannya meraih tangan Eunhyuk dan meminta Eunhyuk berdiri.

"Tidak apa-apa, Kita harus segera membawanya ke Rumah Sakit sebelum Minho kehabisan banyak darah", Donghae mencoba memelankan suaranya.

"Ak—Aku hiks… Aku takut—hiks",

"Gwanchana, ada Aku, pasti akan baik-baik saja, percayalah", Donghae meyakinkan supaya Eunhyuk segera bereaksi dan Minho bisa cepat tertolong. Donghae menggenggam pergelangan tangan Eunhyuk, tangan kanannya masih membawa Minho dalam gendongannya. Perlahan mereka berjalan menuju mobil yang Donghae bawa.

"Masuklah!", Donghae menunjukkan jika ia memang laki-laki yang bisa dipercaya, ia sendiri pula yang membukakan pintu mobil untuk Eunhyuk tanpa kerepotan dengan masih membawa Minho. Setelahnya pun ia sendiri yang memangku Minho walaupun harus menyetir, laki-laki ini memang yang terbaik, tidak salah perlakuan tenang Donghae membuat Eunhyuk memilihnya sebagai penolong.

"Sungguh tidak usah panik, Dokter akan membantu kita, Minho anak yang kuat",

Sepanjang perjalanan Donghae terus menuturkan kata-kata tenang meskipun tidak sepenuhnya membius Eunhyuk. Eunhyuk, mana bisa namja yang biasa mengeyel ini diam tanpa isakan, tentu ia menjadi berkali lipat lebih khawatir dan yang paling penting, rasa bersalahnya. Sesampainya di Rumah Sakit, Donghae segera turun dan disusul Eunhyuk yang mengekor di belakang. Sudah ada beberapa tim medis yang bersiap di depan dan segera Minho mereka letakkan di bed berjalan.

"Pasien perdarahan di kepala, kemungkinan pembuluh darahnya ada yang pecah, siapkan ruang operasi segera", Perintah satu Dokter yang bermarga Song pada crew nya.

"Ndee Uisa", Tim medis ini mempercepat langkahnya mendorong bed.

"Op—operasi?", Eunhyuk bersuara dan menghentikan langkah, Donghae yang masih menggenggam tangannya juga ikut berhenti.

"Hiks—Minho akan di—", Air mata Eunhyuk semakin jatuh, Eunhyuk tidak bisa mendengar jika namja sekecil Minho harus mengalami hal pahit karena kecerobohannya. Donghae yang tanggap segera merengkuh Eunhyuk ke dalam pelukannya.

"Anda keluarga pasien?", Tanya Dokter Song.

"Ndee Uisa", Donghae yang menjawab.

"Kami akan memeriksa penyebab perdarahan dan jika harus dilakukan pembedahan, apakah—",

"Lakukan yang terbaik Uisanim, tolong selamatkan anak—", Donghae gamang ingin menyebutkan kata kepemilikan, seharusnya ia tidak memikirkan hal ini, yang lebih penting Minho dapat selamat terlebih dahulu.

"Tolong selamatkan anak Saya", Ganti Donghae dengan terusan yang pas, Eunhyuk yang terisak dalam rengkuhannya sudah tidak peduli dengan pernyataan Donghae.

"Baiklah, Kami pasti mengusahakan yang terbaik, silahkan tunggu di luar, Tuan", Donghae mengangguk dan memberi izin Dokter tersebut menangani Minho.

"Hiks—Hae, Ak—Aku bersalah—hiks Aku bodoh sekali hiks…", Eunhyuk menumpahkan air matanya pada kemeja yang dipakai Donghae, anak manis ini sangat berantakan dan membuat Donghae semakin tidak tega melihatnya.

"Hei, apa yang Kau katakan eoh, Minho akan baik-baik saja, jangan seperti ini",

"Hiks Dia jatuh—hiks… dia jatuh, berdarah dan—hiks… pasti sakit sekali", Donghae mengangkat wajah Eunhyuk, ia menangkap mata basah itu benar-benar merujuk pada kecemasan yang dalam.

"Dokter akan membantu kita, pasti tidak akan apa-apa",

"Aku jahat sekali—hiks… Aku tidak ingin kehilangan lagi—hiks tidak lagi Hae—hiks", Walaupun pernyataan ini menohok dan menimbulkan pertanyaan di kepala Donghae, namun sebisa mungkin Donghae mengontrol pertanyaan-pertanyaan sial yang sangat tidak penting diajukan sekarang.

"Sudah Hyukkie, sungguh pasti akan ada jalan keluarnya, percayalah", Tangan Donghae mengusap air yang membasahi sebagian wajah Eunhyuk, kembali ia memberi pelukan hangat untuk Eunhyuk yang sepertinya memang sangat membutuhkan ketenangan.

"Sudah Nee, kita tunggu di sini", Donghae membawa Eunhyuk menduduki kursi di depan ruang operasi. Donghae memberikan usapan lembut pada rambut kehitaman Eunhyuk, ia ingin Eunhyuk meredakan rasa khawatirnya. Andai permasalahan tidak datang dan Donghae mampu menyelesaikan penjelasannya tanpa tolakan Eunhyuk, tidakkah mereka sekarang akan terlihat manis dengan seorang baby yang hampir berusia tiga tahun.

Kraaakk

Eunhyuk dan Donghae segera mendongak bersamaan mendengar pintu ruang operasi yang baru ditutup sepuluh menit yang lalu itu terbuka.

"Anda orangtua pasien kan?",

"Ndee", kembali Donghae dan Eunhyuk menjawab bersamaan, mungkin pertanyaannya menjurus pada perwalian.

"Pasien kehilangan banyak darah, berhubung kalian berdua adalah orangtua pasien, siapa yang bergolongan darah O rhesus positif?", Eunhyuk diam, ia kembali panik mendengar pernyataan perawat tentang keadaan Minho, masa bodoh masalah darah, bahkan ia tidak tahu apa golongan darahnya sendiri.

"Saya, Anda bisa mengambil dari Saya", Donghae bersuara, Eunhyuk menatap Donghae dengan air mata yang mengalir. Entah mata Eunhyuk itu mengisyaratkan terimakasih atau pujian lain yang jelas ia sedikit senang mendengar Donghae menawarkan bantuan lebih.

"Baiklah, Anda bisa ikut masuk ke ruang operasi".

Donghae bersemangat sekali untuk segera masuk dan memberikan darahnya pada namja mungil yang terindikasi kritis tersebut. Entah tali apa yang sebenarnya menghubungkan dirinya dengan Minho, ini sama sekali bukan karena Donghae yang sangat ingin kembali bersama Eunhyuk mendapatkan citra baik, tapi karena ia yang memang tulus menolong. Saat Donghae akan masuk justru Eunhyuk menahan tangannya, ia seakan mengatakan jangan tinggalkan Aku melalui tatapan sendu itu.

"Hyukkie tunggulah disini, Aku tidak akan lama dan segera keluar", Donghae meyakinkan dan membuat Eunhyuk mengangguk.

"DIA ANAK YANG HYUNG KU AMBIL DARI PANTI ASUHAN, Kau puas—hiks… Anakmu sudah meninggal—hiks… Dia benar-benar meninggal—hiks".

Brug

"Maafkan mommy Minho—hiks… maafkan mommy yang sangat bodoh ini—hiks...", Eunhyuk terduduk di kursi tunggu dengan keras. Barusaja Eunhyuk mengakui sesuatu, barusaja tepat setelah Donghae masuk ruang operasi. Bagaimanapun caranya menjauhkan, caranya memisahkan, caranya memutuskan tali Donghae dengan Minho suatu hari nanti akan tetap tersambungkan, darah tidak pernah bisa berbohong.

.


.:. Monster in Me .:.


.

~Airport~ 01:00 am

"Kyuhyun, Kemana sebenarnya Donghae? Ini sudah hampir pukul 1", Jungsoo bertanya pada Kyuhyun, ia yang bersama dengan Sungmin lebih dulu di bandara ini merasa tidak tahan lagi menunggu Lee yang menjadi pemimpin diantara mereka berempat.

"Aku tidak tahu, Hyung. Mestinya Dia tidak terlambat atau bahkan tidak datang", Kyuhyun menjelaskan, Donghae memang bukan orang yang amatir masalah mengingat sesuatu, apalagi harus meninggalkan kewajiban.

"Lalu sekarang mana, kita sudah hampir satu jam menunggunya, kita bahkan membatalkan satu penerbangan lebih awal gara-gara Dia", Jungsoo kembali marah, Sungmin yang saat ini diam bukannya tak peduli, ia semakin berpikir jika firasat buruknya nyata.

"Aku sudah menghubunginya hampir ratusan, tapi tidak dijaw—",

Drrrt—rrrttt

"Itu, mungkin itu!", Jungsoo seakan meminta Kyuhyun segera mengangkat panggilan dari smartphone nya yang bergetar.

"Hyukkie Hyung, Kenapa Dia menghubungiku dini hari begini", Yang terbaca disitu memanglah nama Eunhyuk. Namun tanpa menunggu waktu lama, Kyuhyun segera menerima panggilan tersebut.

"Yeoboseyo, Kyuhyun!",

"HYUNG!, Donghae Hyung?", Kyuhyun langsung berdiri, ia cukup terkejut dengan suara Donghae, padahal jelas-jelas tadi nama Eunhyuk yang mengcalling nya. Jungsoo dan Sungmin ikut menoleh begitu Kyuhyun menyebutkan nama Donghae.

"Mian, Aku baru menghubungi. Aku tidak bisa pergi kali ini, kalian berangkatlah dahulu",

"WAE?, Kau sendiri kan yang bilang ini sangat pent—",

"Aku tidak bisa, sungguh, Aku yakin kalian bertiga bisa mengatasi",

"Tunggu, ada masalah apa sebenarnya?", Kyuhyun mulai berpikir ada masalah yang sedang Donghae entah Eunhyuk alami.

"Aku akan menjelaskan setelah kalian kembali, sungguh Aku tidak bisa pergi",

"Baiklah, uruslah masalahmu dulu Hyung",

"Ndee, Kau hati-hatilah". Sambungan terputus dengan kalimat terakhir Donghae.

"Ada masalah apa?", Sungmin berdiri dan bertanya.

"Ehm, tidak ada, bukan masalah besar, hanya saja Donghae Hyung tidak bisa pergi saat ini, ia meminta kita berangkat tanpanya",

"Aish, Kenapa tidak sedari tadi menghubungi sih", Jungsoo merasa kesal, harusnya jika Donghae meminta hal ini, ia harus mengkonfirmasi lebih awal. Rasa kesal Jungsoo pada Donghae sejak merusak modelnya dulu sedikit banyak belumlah reda, sebanyak apapun waktu berlalu, ia cukup merasakan kesedihan Eunhyuk juga. Berbeda dengan Jungsoo, Sungmin kembali merasakan hal janggal, bukankah tadi Donghae berbicara melalui telephone Eunhyuk.

'Apa mereka sedang bersama?',

"Baiklah, Ayo kita bersiap sekarang", Suara gesekan roda koper Jungsoo dengan lantai menyadarkan Sungmin untuk segera bergegas juga.

"Hyung!", Kyuhyun memanggil Manager yang masih lajang itu.

"Biar Aku duduk di sebelah Sungmin Hyung ya?", Bisik Kyuhyun pada Jungsoo yang langsung mendapat glare.

"Kau masih bisa memikirkan hal itu di saat seperti ini? Kau sama saja dengan Hyung mu itu", Balas Jungsoo tajam, ia tahu sebenarnya jika Kyuhyun mempunyai perasaan pada Jung Sulung tersebut.

"Ndee Hyung?, Ndee?", Mohon Kyuhyun dengan wajah yang sangat aneh.

"Tidak!, Dia tidak suka orang berisik sepertimu".

Harusnya memang Donghae, Kyuhyun, Sungmin dan Jungsoo yang malam ini pergi ke luar Seoul karena pertemuan dengan beberapa klien penting. Namun jelas kita tahu jika Donghae tidak bisa pergi karena apa, Donghae memang telah membuat keputusan yang tepat, ia lebih memilih hal yang memang baik untuk didahulukan, Eunhyuk dan Minho lebih membutuhkan dirinya saat ini. Sepanjang langkah, Sungmin masihlah sama, namja manis yang membuat Kyuhyun tertarik ini terlalu diam memikirkan kemungkinan buruk apa yang menimpa adiknya.

'Semoga yang disana bisa mengatasi'.

Kembali ke Rumah Sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, dua puluh menit yang lalu Minho telah di pindahkan ke ruang perawatan. Anak kecil tampan itu berhasil mendapatkan darah dari Donghae dan melewati masa kritisnya dengan apik. Eunhyuk dengan setia menunggui Minho tersadar, tangannya mengelus pipi gembil itu lembut. Donghae masih berada di lantai dasar untuk menyelesaikan administrasi, tampan yang sangat dewasa itu memilihkan kelas terbaik untuk anak yang belum juga membuka mata ini. Ia menjadi penanggungjawab atas Minho, karena Eunhyuk tidak akan pernah mengerti jika ada hal-hal seperti itu juga.

"Mommy~", Perlahan mata Minho terbuka. Satu panggilan yang langsung membuat Eunhyuk tersenyum, ia sangat bersyukur telah mampu mendengar suara cempreng yang biasa ia marahi ini.

"Iya Sayang—hiks ini Mommy", Tangan Minho yang tidak dipakaikan infus langsung menyentuh pipi basah Eunhyuk. Tidak perlu terkejut dengan panggilan Minho terhadap Eunhyuk, panggilan Mommy itu memang selama ini Eunhyuk berlakukan ketika Minho jatuh sakit, ia dengan rela dan tidak akan protes Minho memanggilnya demikian. Berapapun banyak telinga yang mendengar Eunhyuk berkata benci pada Minho, juga selama apa Eunhyuk menolak mengakui siapa Minho, naluri tentang siapa ia oleh Minho masihlah tetap, seorang Ibu.

"Mommy kenapa menangis?", Minho bertanya serak seperti akan mengikuti jejak Eunhyuk meneteskan air mata.

"Anni—hiks… annio, maafkan Mommy, Mommy sungguh minta maaf", Eunhyuk terbata mengatakan ini sembari mengecupi tangan kecil Minho. Sungguh tidak ia bayangkan bagaimana rasanya dengan kepala yang dibebat mitela seperti milik Minho itu.

"Otte, Apa kepala Minho sakit? Apa Minho pusing? Ata—atau Minho merasa perih?", Eunhyuk langsung memberikan serentetan pertanyaan kekhawatiran untuk malaikat tampan itu.

"Anni Mommy",

"Lalu—lalu Minno mau Apa? Minno haus? Ingin—ingin minum susu sekarang?", Minho tersenyum lucu, kepalanya kemudian mengangguk, ia tidak pernah menolak jika ditawari kegemarannya itu, harusnya di usia yang sekarang Minho tidak lagi mengkonsumsi ASI, Eunhyuk akan membiasakan hal itu nanti, ia harus ingat jika saat ini Minho masihlah sakit.

"Geure, Minho harus minum sekarang", Eunhyuk berbaring sedikit miring di sebelah Minho, ia menyingkap kaosnya di atas dada. Entah sekarang Eunhyuk lupa atau tidak peduli lagi, ia begitu enteng melakukan hal ini, ia tidak berpikir bagaimana jika Donghae sebentar lagi masuk dan akan tahu apa yang selama ini ia tutupi.

"Minho harus mendengarkan kata Mommy supaya bisa keluar dari Rumah Sakit dengan segera, Mommy benci melihat Minho yang sakit seperti ini", Minho mengangguk lucu sembari menikmati minuman dari Ibunya itu.

"Hyung Ak—Aku kenapa—hiks? Aku kenapa Hyung? Kenapa Aku berada disini?",

"Sayang, sudah jangan menangis, Kau baik-baik saja",

"Hyung bohong—hiks Aku kenapa?", Suara Eunhyuk begitu tidak enak didengar, anak ini merasakan sakit seperti sisa sesuatu yang telah lepas darinya. Ia berani mengatakan kata bohong karena sekarang ia tengah terbaring di bed Rumah Sakit. Hal terakhir yang ia ingat adalah suara Kyuhyun yang melarangnya bertindak gila, kemudian ia terjatuh dari tangga dan sekarang berada di tempat yang penuh bau antiseptic ini.

"Ba—baby ku Hyung—hiks, baby ku bagaimana—hiks?", Eunhyuk bertanya, ia ingat jika yang harus dikhawatirkan adalah sesuatu yang ia anggap benda dan ingin segera ia musnahkan itu, namun nada Eunhyuk yang sekarang berbeda, ini terdengar sendu dan penuh sesal.

"Hm gwanchana, baik-baik saja", Sungmin menjawab dengan tersenyum, namun air matanya menetes yang menandakan jika ia tengah berbohong.

"Hiks—katakan yang sebenarnya, Hyung",

"Baby mu masih ada, masih ada satu yang harus Kau jaga, biarkan yang satu bertemu Tuhan lebih dahulu, Kau—Kau masih memiliki satu lagi disini", Sungmin mengelus perut Eunhyuk, ia tidak tega mengatakan ini, tapi ia harus melakukannya supaya Eunhyuk tidak bertindak di luar batas dan menyebabkan adiknya itu kembali kehilangan, ia sangat terluka jika harus mendengar isak tangis adiknya hanya karena Lee sialan yang dulu sempat menyetujui dengan lantang janji yang ia berikan.

"Ak—Aku hiks—membunuhnya Ak—Aku hiks…",

"Tidak Sayang, tidak demikian",

"Aku jahat Hyung—hiks… Aku membunuhnya—hiks".

Cklek

"Hyukk—",

Donghae masuk dan berniat memanggil Eunhyuk, tetapi niatnya terurungkan, ia melihat Eunhyuk memeluk Minho menyamping, ia memprediksi jika kedua makhluk disana tengah terlelap.

"Kenapa pakaiannya tersingkap sejauh itu?", Posisi Eunhyuk masih sama dan kaos merah yang manis itu pakai belum sempat dibenahi karena ia terlelap lebih dulu, ditambah lagi Minho tidak akan melepaskan putingnya sepanjang anak itu tidur. Donghae mendekat, ia tidak berbohong jika kulit bagian belakang Eunhyuk begitu putih dan cocok jika disandingkan dengan kulitnya yang sedikit Tan, kulit itu terlihat sangat mahal untuk dilihat. Tangan Donghae akan menarik kaos itu ke bawah,

"Mommy hmm glup~ glup~ glup~",

Ini tidak hanya sekedar igauan Minho, Donghae sangat terkejut ketika bibir Minho jelas menempel pada puting Eunhyuk dan terlihat sedang menyedot sesuatu dari sana dengan mata tertutup.

"Ini apa maksudnya?", Donghae sulit mengedipkan matanya, sungguh bukannya ia sedang bernafsu, tapi apa yang dilakukan Minho membuatnya semakin yakin dengan asumsi yang sempat ia katakan pada Eunhyuk namun dibantah mentah itu.

"Jad—jadi?", Donghae lama berdiri di posisi ini, jujur ia lebih terkejut melihat ini daripada menemukan Minho berdarah di bawah tangga. Ia menggeleng setelah lama terdiam, biarkan itu menjadi pertanyaannya nanti, ia tidak ingin menganggu dua orang yang sudah memejamkan mata itu. Masih dengan kepala yang pening Donghae berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, ia kemudian mengeluarkan smartphone nya yang baru ia ambil di mobil.

"Yeoboseyo, Tuan Lee",

"Ndee, Aku minta tolong bawakan pakaian bersih untukku dua pasang ke Rumah Sakit, yang satu ambilah di bagian paling bawah, di sana ada pakaian yang ukurannya lebih kecil dari lainnya", Maksud dari penjelasan Donghae yang ke dua tentu ditujukan untuk Eunhyuk.

"Ada lagi Tuan?", Tanya orang ini tunduk pada seorang Lee Agung di bawah taraf Jung.

"Mungkin mainan yang pantas untuk anak laki-laki", Donghae sedikit tak yakin mengatakan ini.

"Baik Tuan",

"Aku tunggu, Jackson".

.


.:. Monster in Me .:.


.

Sungmin berdiri di dekat jendela, pertemuannya siang ini telah usai meskipun ia tidak terlalu all out memahami. Andai ia bisa segera pulang, pasti akan ia lakukan, sayangnya ia harus benar-benar di tempat ini hingga lusa. Sedari semalam ia terus mencoba menghubungi Eunhyuk, namun tidak ada nada sambung yang ia dengar. Ingin menghubungi Donghae, namun ia masih menahan diri, belum tentu Eunhyuk memang ada masalah atau belum tentu Donghae bersama Eunhyuk.

"Soft drink?", Sungmin menoleh, di belakangnya berdiri Kyuhyun dengan menyodorkan minuman kaleng.

"Thanks", Sungmin membuka dan segera menenggaknya.

"Apa ada hal yang mengganggumu selama pertemuan tadi, Sungmin-shi?", Tanya Kyuhyun dengan Bahasa resmi.

"Tidak", Sungmin menjawab singkat, ia merasa tidak dekat dengan Kyuhyun walaupun adiknya sangat dekat dengan pria itu.

"Ehm lalu?",

"Apa Donghae tidak akan menyusul sampai lusa?", Pertanyaan Sungmin lebih mengarah pada kecurigaan menurut Kyuhyun.

"Aku rasa iya, Apa Anda mengkhawatirkan Hyukkie Hyung?", Kyuhyun bertanya mencoba mengakrabkan diri.

"Yah mana mungkin Aku tidak khawatir, nomornya tidak aktif",

"Padahal semalam Donghae Hyung menghubungiku melalui Hyu—he..he", Kyuhyun menutup mulutnya, jika dilihat dari gelagat Sungmin, namja itu tidak menyukai sepupunya, sebelum namja yang membuatnya tertarik itu semakin tidak suka pada Donghae, lebih baik ia tidak menambah masalah.

"Apa menurutmu mereka sedang bersama?", Sungmin dengan bahasa tidak formal mulai mencoba dekat dengan Kyuhyun.

"Hmm iya Aku rasa, walaupun Anda tidak menyukai Hyung ku, tapi Dia orang yang bertanggungjawab meski kadang sedikit terlambat", Kyuhyun mencoba meyakinkan Sungmin tentang bagaimana Donghae.

"Semoga saja memang benar, tapi Aku tidak bohong menyukai aksinya yang terakhir kali",

"Anda tahu tentang itu?", Kyuhyun sedikit tidak percaya pada hari kegagalan Donghae memperistri Sandara.

"Tentu, tidak ada yang Jung tidak tahu", Sungmin tersenyum diikuti Kyuhyun, mereka bisa saling ramah dengan cepat ternyata.

"Ehm Jung Sungmin…",

"Hah?", Respon Kyuhyun sangat lambat untuk mengerti jika Sungmin mengajaknya saling berjabatan tangan guna berkenalan.

"Kita sebelumnya belum saling memperkenalkan diri",

"Ah iya, Aku Cho Kyuhyun", Kyuhyun menangkap tangan itu, ia tersenyum dengan tampan walaupun sedikit merasa bodoh, tidak biasanya ia begitu lama.

.


.:. Monster in Me .:.


.

Menjelang sore hari di Rumah Sakit, Donghae membantu Eunhyuk membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa pulang.

Secepat itu?

Benar, tidak ada tanda vital Jung kecil itu yang memburuk, hanya bebatan mitela yang belum dilepas dan jahitan di dekat kening. Dokter mengizinkan Minho untuk meninggalkan Rumah Sakit sore ini, namun tetap menyarankan kontrol keesokan pagi. Eunhyuk tidak banyak berulah atau berbincang dengan Donghae selama ia menjaga Minho. Donghae yang mengajak bicara tentusaja hanya mendapat jawaban singkat dari manis itu. Minho sendiri menghabiskan sepanjang hari dengan memejamkan mata di bed nya.

"Ehm, Bagaimana jika kalian di tempatku saja?", Donghae mencoba bertanya pada Eunhyuk yang sedang memangku Minho. Tepat sekali, bahkan karena terlalu senang Eunhyuk tidak memikirkan dimana ia akan merawat Minho dengan keadaan seperti sekarang, ia mungkin akan kerepotan jika membawa Minho pulang ke rumahnya. Saat ini Minho masih sedikit tertidur, padahal sepanjang hari ini ia sudah banyak tidur, mungkin pengaruh dari obat yang ia konsumsi.

"Bukan bermaksud apa-apa, hanya saja Kau bilang di tempatmu sedang tidak ada orang, Kau bisa tinggal di tempatku sampai keluargamu datang", Donghae menambahkan maksudnya, takut jika Eunhyuk salah paham.

"Baiklah", Donghae menangguk mendengar jawaban Eunhyuk, ia telah memikirkan ini sedari Dokter memberitahu kabar kepulangan Minho. Eunhyuk tidak tahu apakah jawabannya tepat atau tidak, ia diam lumayan lama terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Tunggu!", Eunhyuk teringat akan suatu hal.

"Iya?",

"Kau—Kau membawaku ke tempat yang mana maksudmu?", Donghae tidak mampu menangkap maksud pertanyaan Eunhyuk.

"Di apartemenku tentusaja",

"Kau membeli rumah baru?", Eunhyuk terdengar menyelidiki.

"Apa?",

"Ya maksudku Apa Kau membeli rumah baru dan—dan menyelundupkanku di apartemenmu",

"Aku tidak mengerti maksudmu", Donghae gerah mendengar Eunhyuk yang tidak langsung berbicara pada intinya.

"Biarkan Aku dan Minho pulang ke rumah saja", Donghae terkejut mendengar ini, ia menghentikan kegiatannya memasukkan barang pada bag.

"Apasih maksudmu, Hyuk?, Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?",

"Ya itu karena Kau yang tidak tahu diri, Aku tidak mau menghancurkan rumah tangga orang, Bagaimana dengan istrimu?, Kau dari semalam juga tidak pulang, Aku—Aku tidak enak dengan istrimu",

Brakk

"Sial!", Eunhyuk terkejut dan wajahnya berubah takut melihat Donghae menjatuhkan bag ke lantai dan mengumpat.

"Wae—Waeyo?", Eunhyuk bertanya pada Donghae yang kini berjalan mendekatinya dengan pandangan tajam.

"Aish, APA YANG KAU LAKUKAN?". Eunhyuk berteriak karena Donghae mencengkeram pergelangan tangannya kuat. Siapa yang tak akan seemosi Donghae ketika lagi dan lagi dituduh telah menikah, apa wajahnya sangat menunjukkan jika ia suami orang.

"Terserahlah Apa yang Kau pikirkan tentangku",

"YA KENAPA KAU HARUS MENCENGKERAMKU?", Kembali Eunhyuk dengan nada tingginya. Ia melupakan anak kecil yang tertidur dipangkuannya akan terganggu dengan lengkingan tidak merdunya.

"Huks—Mommy~",

'Aduh, matilah Aku!', Belum selesai satu dan Minho menambah masalahnya, Eunhyuk menundukkan kepala, habislah ia dengan panggilan Minho kepadanya. Donghae yang jelas-jelas mendengar panggilan itu tadi tentu tahu untuk siapa tujuannya.

"Mommy—huks", Minho menunjukkan ekspresi akan menangis khas anak baru bangun tidur kepada Eunhyuk.

"Min—Minno sudah bangun Sayang?", Eunhyuk kikuk sendiri, ia tidak mungkin melarang atau memperingati Minho untuk tidak memanggilnya demikian.

"Huks—Mommy~", Eunhyuk hanya bisa menggigit bibir bawahnya, rengekan manja Minho terus saja terdengar memanggilnya mommy dan mommy.

"Minho Anyeong~ Anak hebat sudah bangun, Otte tidur Minho nyenyak?", Donghae bersuara pada Minho, mencegah anak kecil itu tidak menangis sedangkan Eunhyuk ia tidak berani menatap wajah Donghae.

"Mommy, Minno mau Mommy", Minho bersembunyi di dada Eunhyuk, masih belum mau melihat orang yang menanyainya.

"Iyaa, Minho kan sedang memeluk Mommy sekarang", Donghae dengan hangat mengajak anak itu bicara kembali.

"Di—Dia memanggilku begitu karena—karena sedang sakit", Eunhyuk mencoba menjelaskan pada Donghae dengan mencari alibi yang kira-kira pas. Ia hanya belum ingin Donghae semakin curiga.

"Aku tidak mempertanyakannya", Donghae dengan nada dingin membalas penjelasan Eunhyuk.

"Aku hanya memberitahu!", Kembali nada Eunhyuk meninggi hingga membuat Donghae menatap manis ini.

"Oke, Kau mau mendengarkanku atau tidak tapi kali ini Kau harus menurut dan Aku tidak ingin mendengar penolakan, Kau dan Minho akan tinggal di tempatku", Eunhyuk diam, ia jujur tidak mempunyai pilihan lain, apalagi ia juga telah meminta sendiri pada Donghae untuk tidak memberitahu keluarganya terkait insiden ini.

"Cha~ Minho sini Ahjushi gendong, sekarang kita ke rumah Ahjushi Ndee?", Donghae memindahkan Minho dalam gendongannya, Minho hanya mengedipkan mata dan menatap Donghae maupun Eunhyuk bergantian. Mendengar percakapan Mommy nya dan Donghae tidak membuat namja kecil ini jadi menangis.

"Mommy?", Minho bertanya pada Donghae, mungkin maksud Minho bagaimana dengan Eunhyuk, apakah namja itu akan ikut atau tidak.

"Iya dengan Mommy nya Minho",

"Minno mau Mommy, Ahjuci", Tangan Minho mengarah pada Eunhyuk, seakan tidak mau lepas dengan yang selalu ia butuhkan itu.

"Minho dengan Ahjushi saja, kasihan Mommy nya Minho nanti lelah", Minho akhirnya mengangguk, penjelasan Donghae benar-benar sampai padanya. Akhirnya mereka bertiga meninggalkan Rumah Sakit, Eunhyuk berjalan di samping Donghae, melihat pemandangan ini membuat mereka bertiga seperti keluarga kecil. Donghae terlihat jelas seperti Ayah yang baik, menggendong anaknya penuh sayang dan menggandeng tangan Eunhyuk dengan manis. Sebelumnya Donghae memberikan masker untuk Eunhyuk pakai, ia cukup tahu resiko jika mungkin ada yang mengenali Eunhyuk, apalagi mengingat beberapa hari lagi perusahaan akan mengumumkan kembalinya Eunhyuk. Entah ini perasaan Eunhyuk sendiri atau memang Donghae juga, ada seseorang yang ia lihat dari sudut matanya tengah mengikuti, namun Eunhyuk tidak mencoba melihatnya secara langsung, ia takut jika tebakannya memang benar demikian. Hingga ia telah sampai di tempat Donghae ia masih merasa seperti diawasi, tetapi ia tidak berani mengungkapkan hal ini pada Donghae, Eunhyuk masih berpikir jika itu perasaannya saja.

Menjelang malam Eunhyuk kembali menidurkan Minho, Donghae sebelumnya telah berpamitan pada Eunhyuk untuk mengurus masalah kantor sebentar. Eunhyuk melihat-lihat apapun yang ada di apartemen ini, tidak ada yang berubah, cat dinding, furnitur, lukisan, bahkan ada beberapa barangnya yang masih tertinggal disini.

"Sebenarnya hubunganmu dengan Sandara itu seperti apa?", Eunhyuk memandang fotonya dengan Donghae yang terpajang di dinding, bukannya yang seharusnya disana adalah foto Sandara, tapi sungguh tidak ada hal berbau wanita yang Donghae simpan disini, termasuk Sandara.

"Tidak, mungkin Sandara memang tinggal di tempat lain, Donghae pasti mempunyai rumah lain", Eunhyuk begitu yakin akan hal ini karena Donghae selalu memakai cincin di jari manisnya, tidakkah itu sudah menjadi bukti kuat.

"Jangan-jangan Dia tadi pergi karena pulang ke tempat Sandara", Benar-benar anak kecil dengan pemikiran cetek.

"Ahh molla!, Aish Kenapa Aku memikirkan hal itu, menikah atau tidak juga bukan urusanku", Eunhyuk menghentakkan kakinya dan pergi ke arah balkon. Pemandangan Seoul dari atas begini memang yang terbaik di malam hari, lampu-lampu yang indah.

"Heh lampu, Aku menjadi rindu duniaku yang dulu", Eunhyuk sudah lama sekali tidak berhubungan dengan lampu, benar-benar lama sekali, pemotretan terakhirnya entah kapan ia sudah tak ingat.

BLITZ

Eunhyuk berbalik, ia melihat dengan jelas yang barusan adalah blitz foto bukan kilat. Tidak ada siapa-siapa di belakangnya, ia berbalik lagi dan menoleh ke kanan kiri, malah ia tidak menemukan siapa-siapa karena kanan kirinya adalah bangunan yang sama tinggi dengan yang ia pijak. Eunhyuk semakin merasa jika memang ada seseorang yang mengawasinya, tapi sungguh ia tidak menemukan siapa-siapa di sekitarnya.

TapTapTapTap

'Ya Tuhan, Ada apa ini?', Pemikiran negatif Eunhyuk langsung bermunculan, ia mendengar derap langkah seseorang dari belakangnya. Pegangan Eunhyuk pada pagar pembatas langsung ia eratkan, rasa tidak beraninya kembali tumbuh. Di saat seperti ini Eunhyuk merasa sangat tidak aman, bahkan untuk membalikkan badan.

Greb

Eunhyuk membelalakkan mata, ada tangan yang ia rasa melingkari pinggangnya.

"Di luar dingin, Kenapa tidak masuk?", Eunhyuk langsung lega mendengar suara ini.

"Donghae?",

"Hmm?", Eunhyuk menutup matanya merasa bersyukur, jantungnya berpacu cepat yang menandakan saat ini ia benar-benar ketakutan. Tangan Donghae yang ada di perutnya ia remat hangat.

"Tuh, tanganmu dingin. Ayo masuk!", Eunhyuk diam, perasaannya menghangat dengan perlakuan dan ajakan manis Donghae.

'Bolehkan?, sebentar saja', Pinta Eunhyuk dalam hati. Ia masih belum ingin Donghae merubah posisi ini.

"Ada yang Kau khawatirkan?", Donghae membalik posisi Eunhyuk, menghadapkan ke arahnya. Gerakan tiba-tiba ini membuat tangan Eunhyuk reflek berpegangan pada dada Donghae.

"Tid—tidak", Donghae tersenyum melihat Eunhyuk yang salah tingkah seperti ini sangatlah menggemaskan. Mereka berdua terdiam, Donghae memandangi Eunhyuk yang ada dalam kungkungannya, Eunhyuk sesekali mencuri lihat ke arah Donghae. Astaga, sungguh ini pemandangan yang sangat manis dari segala momen yang pernah keduanya lewati.

"Ha..ha..ha", Donghae tidak bisa menahan tawanya.

"Waeyo~?", Dasar Donghae tidak romantis, padahal itu kesempatan berlian karena Eunhyuk tidak memberontak.

"Anni… anni, ahh giyowo jeongmal", Jujur Donghae hingga membuat wajah Eunhyuk memerah.

"Aish!", Eunhyuk memukul dada Donghae, biarkan sesaat ia melupakan kebenciannya, biarkan ia sejenak menikmati ini.

"Oh iya, ehm…", Eunhyuk menunggu apa yang akan dilakukan Donghae. Namja yang menggunakan kemeja kotak-kotak hijau tua itu mencari sesuatu dalam sakunya.

"Ini, Aku tadi menemukan ini, Aku pikir cantik untukmu", Mata Eunhyuk tidak bisa berbohong jika tengah melebar kagum pada benda kemerlap yang dibawa Donghae.

"Itu, Aku entah kenapa benar-benar ingin memberi sesuatu padamu, Jangan ditolak ya, karena Aku tidak mungkin memakainya", Eunhyuk diam, ia masih tidak tau harus mengatakan apa, masa ia harus berterimakasih. Donghae menarik tangan Eunhyuk, ia membuka kaitan bracelet cantik yang sengaja ia beli saat pergi tadi dan memakaikannya, ia berbohong masalah kantor pada Eunhyuk.

"Itu, tidak ada yang Kau katakan?", Mungkinkah Donghae mengharapkan ucapan pujian Eunhyuk.

"Ini—ini bukan barang murahan kan?", Donghae memutar bola matanya, setidaknya jika ada yang diucapkan, harusnya Eunhyuk menanyakan yang berkelas sedikit, tidak mungkin juga Donghae memberikan benda murah.

"Itu bukan benda yang Aku beli dari Ahjuma pinggir jalan kok", Eunhyuk hanya mengangguk, memang yang diberikan itu tadi terlihat mahal.

"Sungguh tidak ada yang ingin Kau katakan padaku?", Tanya Donghae lagi dan mendapatkan gelengan kepala Eunhyuk.

"Tidak ada yang ingin Kau berikan padaku?", Eunhyuk menangkap imbalan yang ingin Donghae dapatkan.

"Ingin memberimu apa memangnya, Aku saja kemari hanya membawa badan",

"Ya tapikan, Kau bisa memberikan hal lainnya", Donghae menyeringai, namun Eunhyuk tidak mengerti ke arah hal intim seminimal apa yang Donghae mau saat ini.

"Kau mau apa?, ku buatkan kopi?, ku buatkan makanan?", Eunhyuk bertanya cepat, ia hanya tidak ingin mendengar Donghae yang berbelit-belit.

"Aish lupakan!", Donghae menyerah. Eunhyuk tidak menganggap rumit hal itu, kembali keheningan menyelimuti keduanya.

"Donghae…", Suara Eunhyuk melemah, panggilannya menunjukkan jika ada yang ingin ia ungkapkan.

"Hm?", Donghae menatapnya, tangan Donghae yang ada di pinggang Eunhyuk dirasakan semakin mengerat.

"Gomawo", Donghae tersenyum, Eunhyuk mengucapkannya sangat lirih.

"Terimakasih karena telah menolongku, terimakasih sekali berkatmu Minho dapat terselamatkan", Eunhyuk menjelaskan perihalnya berterimakasih.

"Sudah kewajibanku", Eunhyuk kembali menunduk, namun tangan Donghae menahan dagunya. Jemari tegas Donghae mengelus halus pipi pucat Eunhyuk yang kini telihat sangat tirus, Eunhyuk memejamkan matanya, jika ada hal yang dinamakan indah, tidak akan ada yang bisa mengalahkan rindu keduanya.

"Bogoshipo, jeongmal", Eunhyuk membuka matanya, wajahnya dengan Donghae begitu dekat, apa yang dikatakan Donghae sama dengan apa yang ia rasakan. Keduanya seakan membeku di suasana ini, mata mereka saling membidik satu sama lain, seperti buncahan nafsu yang sedikit gila, Donghae menarik dekat wajah Eunhyuk padanya.

"Bolehkan Ak—",

Chu~

Ini murni bukan tarikan tangan Donghae lagi, Eunhyuk yang memajukan wajahnya dan mempertemukan bibir dingin miliknya dengan milik Donghae. Keduanya menutup mata mereka sembari melumat halus satu sama lain. Ini sudah lama sekali, tidak tahu apa yang mempengaruhi Eunhyuk untuk memulai lebih dulu, tapi tangannya semakin lama semakin meremat kemeja depan Donghae. Donghae juga sama, ia menikmati permainan lembut bibir Eunhyuk pada miliknya, tangannya berada pada pinggang Eunhyuk dan memberikan sentuhan lembut disana.

BLITZ

DUG

Kembali Eunhyuk merasakan blitz kamera.

Hooosh~

"Waeyo?", Donghae yang barusaja ia dorong bertanya khawatir, Donghae merasa takut jika tindakannya menyakiti Eunhyuk atau bagaimana. Eunhyuk yang ditanya tidak menjawab, anak ini panik memperhatikan sekelilingnya lagi.

"Kenapa Hyukkie?, Ada yang salah?", Donghae mengulang pertanyaannya.

"Kit—kita masuk saja, Hae", Eunhyuk menarik tangan Donghae ke dalam.

"Ada Apa, Hyukkie?, ada yang mengganggumu?", Donghae menangkap wajah Eunhyuk yang semakin pucat pasi.

"Aku—Aku merasa diikuti seseorang", Di dalam rumah pun Eunhyuk masih memperhatikan dinding kanan-kirinya.

"Tidak Sayang, tempatku aman, mungkin hanya perasaanmu saja", Donghae mencoba menenangkan, tapi itu tadi sungguhan, Eunhyuk sangat peka sekali dengan blitz mengingat kesehariannya dulu tidak pernah jau dari kamera.

"Mungkin", Eunhyuk tidak yakin mengucapkan ini, Donghae menambahkan mengelus surainya guna membuatnya merasa tenang.

"Oh iya Hae, orang yang mengantarkan pakaian di Rumah Sakit tadi itu siapa?",

"Ah itu, Dia Jackson, orangku", Eunhyuk entah kenapa menanyakan orang itu, ia sedikit anti melihat aksesoris hitam yang pria itu kenakan.

"Kau yakin ia orang yang benar?", Eunhyuk tidak dapat mengontrol untuk menanyakan ini.

"Tentu, ia sudah lima tahun bekerja denganku, Ada apa memangnya, Kau terganggu?",

"Tidak hanya bertanya saja", Donghae mengangguk.

"Oh iya, Aku ingin menambahkan point di kontrakku", Eunhyuk mendudukkan diri di sofa, ia mulai membahas pekerjaan, sepertinya bukan masalah main-main.

"Iya silahkan, akan Aku catat",

"Aku tidak bisa menerima pemotretan shirtless lagi", Eunhyuk berharap Donghae tidak bertanya kenapa dan langsung menyetujui.

"Ehm Aku menyetujuinya, Aku juga terganggu melihatmu telanjang di media dan dilihat orang banyak, seperti tidak rela", Eunhyuk awalnya ingin berterimakasih karena kesediaan Donghae, akan tetapi tambahan penjelasan barusan membuatnya mengurungkan niat.

"Tapi fotomu yang demikian berpengaruh mahal pada perusahaan, jadi boleh Aku tahu alasannya kenapa?", Eunhyuk semakin kesal, pada akhirnya Donghae juga menanyakan.

"Apa Kau bodoh, tentu karena ada bekas op—", Donghae diam mendengarkan secara serius.

"Maksudku karena kondisi tubuhku tidak baik untuk dilihat tanpa pakaian, ha..ha Kau tahu lemak-lemakku sudah sangat banyak", Eunhyuk hampir saja mengungkapkan alasan yang sebenarnya. Donghae ikut tertawa walaupun tidak serius, alasan Eunhyuk benar-benar fake, lemak apanya, bahkan Eunhyuk masih terlihat sama skinny nya.

"Pokoknya Kau harus setuju, Ak—Aku mau menyusul Minho tidur sekarang", Eunhyuk berdiri dan akan menuju ruangan Donghae tempat Minho terlelap.

"Hyukkie!", Eunhyuk menoleh, melihat Donghae tersenyum sepertinya ia akan mendapat ucapan selamat tidur yang manis.

"Secepat itu ingin tidur?", Ternyata bukan ya.

"Aku tidak bisa mengikuti kebiasaan begadangmu", Eunhyuk pikir jawabannya tepat.

"Dalam keadaan lelah, tidur akan semakin nyenyak Kau tahu",

"Aku sudah cukup lelah sepertinya",

"Tapi di luar dingin", Eunhyuk tidak mengerti maksud Donghae mengatakan demikian.

"Lalu hubungannya apa?",

"Menghangatkan tubuh dan menciptakan keringat dulu bukan hal yang buruk Aku rasa, Kau tidak ingin mencobanya denganku?", Donghae menepuk sofa di sebelahnya yang kosong.

"AISH JINJA!", Eunhyuk sontak berteriak, ia mengerti maksud bejat Donghae. Ia pun melepas sandal rumah yang ia pakai dan melemparnya pada Donghae.

"Aku bercanda, Sayang", Donghae tertawa keras melihat wajah Eunhyuk yang memerah antara malu dan marah.

"Brengsek, Ku Tarik tawaranku sebelumnya, Kau tidur di luar!", Eunhyuk berlari ke arah kamar dan langsung naik ke bed menyusul Minho, sungguh ia merasakan wajahnya memanas.

.

.


~TBC~


.

.

Mohon Dibaca!

Monster in Me sudah sampai chapter 14, selama ini Saya merasa alur maupun karakter yang telah Saya buat tidak pernah keluar dari ide Saya. Jika ada yang berpikiran monster in me sekarang dan yang dahulu berbeda, Saya tidak tahu letak berbedanya bagaimana dan dimana, yang jelas seperti karakter Eunhyuk memang sudah Saya rencanakan sedari awal. Jadi jika ada yang kurang berkenan, itu di luar kendali Saya.

Saya berpesan, sedikit memberi peringatan juga, Saya mempunyai kriteria sendiri untuk mau atau tidak melangkah ke chapter berikutnya. Tidak hanya pada Monster in Me, tapi semua FF Saya. Saya rasa setiap author mempunyai tanggung jawab dan hak untuk membuat cerita lanjut ataupun tidak. Kalau Saya sendiri, keinginan untuk melanjutkan chapter berikutnya itu ya bisa dari isi review, jumlah review dan hal-hal lainnya. Author membuat FF lo juga meluangkan waktunya, masa teman-teman yang sudah membaca tidak ingin mengapresiasi. Ini bukan hanya pada FF Saya saja, banyak kok FF HaeHyuk lainnya yang membutuhkan dukungan dari teman-teman semua. Saya harapkan yang sudah membaca untuk kooperatif, yang jelas kedepannya Saya akan benar-benar tegas dengan prinsip Saya, maka jangan heran jika satu persatu FF Saya hilang tanpa ada kelanjutan.

Thanks to: RianaTyan, Devia494, leehaekjae, ChouEunHae, OnlyHaeHyul, VampireDPS, cho w lee 794, minihaehyuk, deahyuk, erlinmariana, susan haehyuk, ingus, EunhyukJinyoung02, xnapoenya, AndiniYulieta, MiOS, xsxsso, Yu N Me, 25jewels, Nagyu331, pungkaself eomma, SunXMoon HHS, baechus, isnadhia, siti sisun, reiasia95, Jiae-haehyuk, Lee Haerieun, pegaxue1215, Yenie Cho94, NicKyun, nurul p putri, abilhikmah, sareyerana, Ungu Vi0let, isroie106, Arum Junnie, LeeDHKyu, ha3lvettahyuk, lovehyukkie19.

Karena Monster in Me tinggal 2 chapter lagi kemungkinan akan complete, Saya memberi kesempatan untuk yang ingin cerita ini dilanjut, khususnya yang selama ini belum pernah memunculkan identitasnya di kotak review atau yang setengah2 silahkan review di chapter paling akhir yang Saya post. Bocoran juga, chapter2 setelah ini akan ada NC nya. Mari bekerjasama.

Thanks :)