"…the sad part is, that I will probably end up loving you without you for much longer than I loved you when I knew you.
Some people might find that strange.
But the truth of it is that the amount of love you feel for someone and the impact they have on you as a person, is in no way relative to the amount of time you have known them."
― Ranata Suzuki
.
.
.
Tiga belas
.
Ada banyak pertanyaan yang tidak sempat diperdengarkan dan menemukan jawaban. Mengenai keadaan Baekhyun yang sebenarnya. Alasan dibalik setiap perubahannya yang tidak biasa. Sakit kah? Kenapa ia harus memakai kursi roda dan bahkan terhuyung saat berusaha menaikinya? Mengenai kebohongan-kebohongan apa saja yang pernah gadis itu coba katakan padanya. Mengenai ... apakah ia merindukan Chanyeol? Apakah ia memikirkannya juga dan merasa kesepian seperti yang Chanyeol alami?
Baekhyun telah tertidur di kursi rodanya ketika mereka tiba di kamar. Byun Seungho, selaku orang tua tunggal dari Baekhyun menyambut mereka dengan kepanikan ketika Chanyeol memindahkan tubuh Baekhyun ke atas ranjang. Ringan. Sangat ringan. Chanyeol bertanya-tanya apakah gadis itu makan dengan baik? Ia tampak lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya.
"Kalian kemana saja?!"
Perlahan, Chanyeol melepaskan tangannya dari Baekhyun lalu menutupinya dengan selimut hingga sebatas dada. Rambutnya yang sempat jatuh ke wajah Chanyeol sisihkan ke sisi. Baekhyun tampak damai dalam tidurnya, dan Chanyeol sama sekali tidak ingin mengusik gadis itu.
Ia menatap lelaki yang pernah menjadi mertuanya dengan pandangan meminta maaf.
"Baekhyun bilang dia bosan di kamar. Dia meminta ke taman, jadi saya-"
"Di luar dingin. Dia seharusnya tidak pergi kemana-mana."
"Maaf."
Byun Seungho memilih diam. Sama seperti Baekhyun yang menunjukkan perubahan, pria itu juga bukan lagi pria ramah yang menepuk Chanyeol di pundak sambil tertawa ketika pertama mereka bertemu. Seperti ada emosi yang ia tahan. Dan karenanya, dengan kekacauan yang Chanyeol tidak mengerti, pria itu beranjak meninggalkan ruangan.
Tidak kembali bahkan setelah setengah jam Chanyeol di sana.
Chanyeol tinggal di ruangan itu sedikit lebih lama dari yang direncanakan. Hanya duduk, memerhatikan cat di ruangan yang mulai kusam, mengupas jeruk dan meletakkannya di sisi meja terdekat dengan Baekhyun, lalu berjalan membuka tirai jendela guna memberikan sedikit matahari bagi Baekhyun karena ia tahu, gadis itu suka matahari. Ia melihat pot anaman yang telah kering di sisi jendela itu, sepertinya kaktus yang bahkan tidak pernah dirawat dengan alat penyiram kecil yang tidak berisi air sedikit pun di sisinya.
Menyingkirkan kaktus mati itu dari sana, Chanyeol meraih ponsel dan menelepon seseorang langsung. Tidak lama, bunga di sana telah berganti dengan setangkai tanaman mawar yang masih kecil, bunganya hanya ada satu kuncup, belum mekar.
Chanyeol tersenyum, tahu bahwa mawar itu akan menemukan tuan yang merawatnya dengan sangat baik.
Ia memerhatikan Baekhyun lagi, berharap ia bisa tinggal lebih lama, entah dengan alasan apa. Namun rentetan panggilan tidak terjawab yang tidak berhenti dari Jinah, Kyungsoo dan semua orang, mau tidak mau menariknya kembali.
Chanyeol memasukkan tangannya ke dalam saku jas, meraba origami hati yang ia terima dari Baekhyun sebagai hadiah ulang tahun. Dan pergi.
.
.
Chanyeol bukan tipe orang yang senang keluar rumah meskipun itu di hari Minggu. Alasannya sederhana; ia telah menghabiskan waktu lebih banyak daripada pegawai kantoran biasa untuk bekerja mengingat posisinya (jika ada yang menyangka mudah menjadi CEO meskipun itu bukan perusahaan besar, well, mereka terlalu banyak berkhayal), ia juga telah menyisihkan dua kali satu jam setiap minggu untuk pergi ke gym. Di hari Minggu, tubuhnya telah remuk redam.
Ketika Baekhyun masih ada, biasanya gadis itu tanpa diminta akan memijatnya ketika melihat Chanyeol yang berbaring telungkup, atau ia akan menyediakan mandi berendam dengan aroma terapi, atau menawarinya kopi, atau apa saja.
Sekarang, semuanya berbeda. Tinggal sendirian di rumah rasanya hampir sama dengan bunuh diri, dengan semua bayangan Baekhyun di setiap sudutnya.
Jadi di sinilah Chanyeol berakhir, taman yang tidak jauh dari rumahnya sendiri usai acara jogging sejak subuh hingga sekarang, ketika matahari telah terbit sejengkal tingginya. Ada banyak hal yang terpampang di taman itu; anak-anak yang telah bermain seluncuran di playground, ada juga yang membawa mobil-mobilan untuk dinaiki atau sepeda mini, dengan orang dewasa di sekitar mereka. Ada juga orang-orang tua; ibu-ibu yang bersiap untuk senam, atau sepasang kakek nenek yang duduk-duduk sambil membongkar rantang bawaan mereka.
Chanyeol memusatkan perhatiannya pada kumpulan yang pertama. Ia mencintai anak-anak, dengan sukarela melakukan hal-hal seperti memanjakan Joonhee, keponakan satu-satunya sampai Yoora jengah, bahkan bermain dengan anak kolega-koleganya. Jauh di lubuk hatinya, ya, tentu, ia ingin memilikinya satu, darah daging sendiri. Yang dua bulan lalu adalah mimpi jadi nyata, sekarang tahu-tahu adalah hal yang nyaris mustahil.
Seorang anak laki-laki yang tidak lebih besar dari Joonhee tampak membawa sepedanya, dan berhasil untuk pertama kali. Dengan riang, ia mengayuh sepeda itu kuat-kuat, menjauh dari sang Ayah. Lalu...
Brak!
Chanyeol tersentak, nyaris berlari untuk menolong kalau saja ia tidak melihat seseorang lebih dulu menghambur ke sana. Seorang wanita yang berdiri lebih dekat. Wanita yang tengah hamil besar itu mendekapnya sementara si anak meneriakkan kata mama sesaat sebelum sang ayah datang dengan panik.
Chanyeol tersenyum kecut di tempatnya. Potret keluarga kecil itu ... bisa saja dirinya. Seandainya keadaan lebih berpihak.
Tanpa sadar, ia meraih saku. Mengeluarkan origami hati yang selalu ia bawa kemana-mana. Ada wajah Baekhyun di sana.
Dan bohong besar jika ia mengatakan ia tidak merindukan gadis itu.
Meraih ponselnya, ia menatap lekat-lekat satu kontak yang belakangan selalu berada di daftar teratas pencarian terakhir namun tidak pernah berada di daftar panggilan.
Tombol panggil di sebelah kanan nama Baekhyun yang selalu ia lihat namun tidak pernah ia tekan.
Chanyeol tidak pernah kembali untuk melihat Baekhyun di rumah sakit. Dokumen, proyek, jadwal rapat, semuanya menumpuk di meja kerjanya, semua berebut meminta perhatiannya. Dan Jinah, bersikeras menghabiskan waktu bersama untuk setiap waktu luang Chanyeol setelah bekerja. Gadis itu sempat marah saat Chanyeol meninggalkannya sendirian di airport tanpa kabar apa-apa. Ia mengamuk hebat begitu tahu alasan dibaliknya. Dan yah, kemudian, tahu itu tidak berguna, ia mulai menempel pada Chanyeol, lebih lengket dari sebelum-sebelumnya.
Pernah, Chanyeol mencoba menghubungi gadis itu. Sekali. Melalui Byun Seungho yang menolak untuk mengangkat telepon darinya. Chanyeol menghubungi nomor rumahnya, kemudian. Seorang wanita dengan suara yang cukup akrab menyambutnya.
"Chanyeol, ya?"
Kecil kemungkinan untuk melupakan wanita itu. Suaranya yang nyaring dengan frekuensi bicara yang sangat banyak setiap kali Chanyeol berkunjung, atau perhatian-perhatian berlebihan yang ia tunjukkan lebih dari cukup untuk membuat suasana tidak canggung.
"Iya, Bi," jawab Chanyeol kalem. Lalu kalimatnya terhenti, seolah ada sekat yang membuatnya sulit untuk meloloskan pertanyaan yang ingin ia ketahui.
"Nyari Baekhyun?" Bi Sunmi, pengurus rumah yang biasa datang setiap hari untuk memasak, mencuci dan membersihkan rumah setelah Baekhyun pergi itu seperti bisa menebak isi pikiran Chanyeol.
"Bagaimana ... keadaannya?"
"Baekhyun baru pulang dari rumah sakit kemarin sore. Sekarang sedang tidur."
"Dia ... "
"Dia dan bayinya sehat, Chanyeol. Ada lagi?"
"Hmm nggak. Makasih."
Dan jawaban itu cukup untuk membuat Chanyeol puas. Lagipula, dia tidak punya alasan kuat di dunia untuk terus ikut campur dalam kehidupan Baekhyun.
Dan, untuk kesekian kalinya, Chanyeol membiarkan nama Baekhyun di kontaknya tanpa pernah dihubungi.
.
.
Entah itu seminar motivasi, talk show yang mengundang dirinya, majalah bisnis hingga berbagai kolega yang rata-rata berusia dua kali lipat dirinya, banyak yang memuji-muji Chanyeol. Mereka menyanjungnya, mengelu-elukan kesuksesannya dengan berbagai tujuan dan kepentingan.
Awalnya, ambisinya adalah untuk berada di posisi seperti sekarang. Ia tidak mengejar Jinah ke Paris dan memilih menerima perjodohan dari ayahnya. Semuanya karena kursi yang ia duduki sekarang.
Jika ditanya apakah ia sukses? Jawabannya adalah ya.
Apakah Chanyeol bahagia? Ia tidak bisa menjawabnya.
Awalnya, ia sempat runtuh, jatuh sejatuh-jatuhnya hingga tiarap. Untuk bangkit, ia perlu merangkak. Kemudian Baekhyun datang seperti malaikat, dan semuanya berangsur-angsur baik-baik saja. Gadis itu memberikan banyak, sangat banyak, tanpa meminta apa-apa darinya. Chanyeol tidak tahu sampai gadis itu pergi bahwa, ada lubang besar yang Baekhyun tinggalkan di setiap bagian dirinya.
Chanyeol tidak benar-benar menghitung. Tapi mungkin sudah empat bulan berlalu sejak terakhir ia melihat Baekhyun. Empat bulan yang terasa seperti selamanya. Tidak banyak yang terjadi. Semua berjalan seperti seharusnya. Pagi, bekerja, malam, pulang, tidur, lalu pagi lagi. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Yang membedakan hanyalah, sekarang ia harus melakukan semuanya sendiri, berdamai dengan dirinya sendiri. Aroma yang Baekhyun tinggalkan telah lama memudar, kamar tingkap di atas yang menjadi markas gadis itu telah berdebu, dan kebun mawar yang selalu menyimpan banyak warna cerah itu, telah mengering.
"Sajangnim?" Kyungsoo berdiri di depannya, melambaikan satu tangan.
Chanyeol tersentak. Ia tidak menyadari kehadiran gadis itu.
"Maaf, Sajangnim. Saya telah mengetuk tadi, tapi sepertinya Anda tidak mendengar."
Chanyeol mengibaskan tangan sekali. "Ada apa?"
"Ada seseorang yang ingin menemui Anda."
"Seseorang?" Ini sedikit menarik perhatian Chanyeol. Ia kembali mengingat-ingat, dan gagal memikirkan satu nama pun orang yang ia janjikan untuk bertemu. "Tapi rasanya aku tidak memiliki janji hari ini."
"Benar, Sajangnim. Tapi saya pikir ... anda pasti ingin bertemu dengannya."
Chanyeol menghabiskan waktu beberapa detik untuk menatap kembali proposal proyek di tangannya yang sempat ia abaikan. Proyek ini jatuh tempo besok. Tidak ada banyak waktu untuk melamun.
"Suruh masuk," jawabnya tanpa menoleh kembali pada Kyungsoo. Ia memilih menyelesaikan mempelajari dokumen itu sembari menunggu tamu, siapapun, yang Kyungsoo maksud.
Begitu pintu terdengar dibuka dan ditutup kembali, berikut langkah-langkah sepatu di atas ubin, Chanyeol akhirnya mendongak.
Ia membeku seketika.
"Ayah?"
.
.
Chanyeol ingat terakhir kali dia bertemu ayah Baekhyun di rumah sakit waktu itu. Jika waktu itu Chanyeol melihat kurangnya keramahan, maka sekarang Chanyeol seakan melihat kesakitan di binar sayu mata pria itu.
Mereka akhirnya memutuskan untuk berbincang di The Drinks, sebuah kafe kecil satu blok dari gedung kantor Chanyeol alih-alih duduk di sofa kulit Chanyeol di ruang kantornya. Ada pertanyaan yang menggantung di udara saat ia menyeruput Americano pesanannya. Tiba-tiba, kopi yang biasa dia minum sebelum dia bertemu Baekhyun terasa terlalu pahit untuk seleranya. Baekhyun telah menambahkan lebih banyak gula ke kopinya selama ini.
"Baekhyun ..." Kata pertama yang meluncur dari pria paruh baya itu sukses membuat kenangan akan senyum secerah matahari kembali muncul ke permukaan. Kenangan yang, selama empat bulan ini, Chanyeol berusaha enyahkan dari kepalanya.
"Ia tinggal menghitung hari," Byun Seungho menyelesaikan kalimat pertamanya sejak pelayan mencatat pesanan mereka. Secangkir kopi terangkat dengan jari-jari keriput, hampir menyentuh bibirnya, namun ia tidak berusaha untuk menyesap lebih banyak Espresso panasnya. "Baekhyun akan segera melahirkan."
Dia hampir lupa, Chanyeol menyadari. Tapi tidak, tidak juga. Semua hal tentang Baekhyun selalu ada, di suatu tempat dalam pikirannya, dekat dengan jangkauannya, tetapi Chanyeol selalu menutupi mereka dengan berbagai pekerjaan, memaksa dirinya untuk bekerja lebih banyak, sampai letih, sampai ia tidak mampu melakukan apa-apa lagi. Sampai, ia tidak ingat apa-apa lagi. Kehadiran Jinah yang terus-menerus juga membantunya selama ini. Jadi, mengangguk adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.
"Kamu akan datang saat ia bersalin, kan? Baekhyun benar-benar ingin kamu datang. "
Pria ini jauh-jauh datang, hanya untuk meminta hal sesederhana itu padanya.
Gumpalan besar dan tebal tiba-tiba tersangkut di tenggorokan Chanyeol. Dia tidak memiliki apa-apa lagi yang berhubungan dengan Baekhyun, bukan? Dan dia sudah berjanji pada Jinah.
"Saya─ Saya akan datang," akhirnya dia menjawab pelan. Nyaris seperti bisikan sehingga Byun Seungho, bahkan tidak mendengarnya.
Jinah menjatuhkan tas keempat di lantai dekat kaki Chanyeol dengan bunyi gedebuk yang cukup keras untuk menunjukkan kekesalannya. Alisnya bersatu dan meskipun belum ada kata-kata kasar keluar dari bibirnya, ekspresinya telah mengatakan itu semua. Hanya menghitung menit baginya untuk meledak.
"Will you just, stay there and not helping me?!" Dia akhirnya berbicara, dengan penekanan di setiap suku kata.
Chanyeol hanya mendongak dari layar ponselnya, dimana selama bermenit-menit yang panjang, ia terpaku menatapnya. Sebuah teks baru saja tiba setengah jam yang lalu, namun Chanyeol tampaknya masih belum bisa menenangkan diri.
Dari: Ayah Baekhyun
Pesan: Baekhyun barusaja dipindahkan ke ruang bersalin. Persalinannya telah dimulai.
Seseorang sedang berjuang di sana. Baekhyun sedang melahirkan bayinya ... Bayi mereka.
Ada dilema yang sedang ia hadapi. Antara apa yang dia inginkan, dan yang seharusnya dia lakukan. Haruskah dia datang sekarang? Ia berjanji untuk datang. Ada tarik-menarik di dalam dadanya hanya dengan memikirkan apa yang Baekhyun alami. Dia memiliki keinginan untuk berada di sana, mencengkeram tangannya, menghiburnya, mengatakan kepadanya betapa kuatnya dia dan bahwa segalanya akan baik-baik saja. Dia harus ada di sana, untuk mendengar tangisan bayi mereka yang pertama, untuk memegang mereka, untuk berbisik di telinga mereka, "Ini Ayah."
Dia harus pergi. Dia harus pergi. Tetapi, mengapa dia masih di sini?
"Chanyeol ... saatnya untuk pergi, kita harus bergegas," Jinah melintasi ruangan, mengumpulkan hal-hal kecil yang mungkin mereka perlukan untuk perjalanan mereka ke Eropa nanti. Tapi Chanyeol masih terjebak di sana, berdebat dengan dirinya sendiri.
.
.
Ada kerasak kecil di ujung telepon sebelum keheningan mengisi lagi. Tidak ada kata yang dipertukarkan. Tidak ada suara kecuali dengungan konstan di telinganya, satu-satunya tanda bahwa mereka masih terhubung.
Ia tidak datang ke rumah sakit. Tentu saja, dia tidak melakukannya. Untuk seseorang sebodoh dan seplin-plan dirinya, apa yang baru? Ia membiarkan dirinya diseret oleh Jinah dengan setengah jiwanya tertinggal di rumah. Ia tidak menyadari bagaimana dan berapa lama. Semua yang Chanyeol tahu, ketika ia tersadar dari pikirannya yang berantakan, ia sudah berada di kamar hotel mereka di suatu tempat di sudut jalanan sibuk kota London.
Dan sekarang dia menelepon kembali ke Korea.
Ini konyol, rutuknya pada diri sendiri. Namun sekonyol apapun kedengarannya, ia tidak bisa tersenyum. Kediaman di ujung lain telepon, kecuali sayup hembus napas yang Chanyeol dengarkan baik-baik membuatnya tercekat.
Tidak ada sepatah kata pun yang ia katakan, dan tidak ada sepatah katapun yang ia dengar sebagai gantinya. Karena ia tahu, seseorang yang kali ini mengangkat telepon, adalah Baekhyun sendiri.
Dan dalam kesunyian selama beberapa menit itu, ada "maaf" yang tak terucapkan, "terima kasih", dan entah bagaimana, "Aku mencintaimu" menggantung di udara yang kering.
.
.
.
Dua minggu dengan mudahnya berlalu. Tidak ada yang terjadi dalam rentang itu. Kecuali hari ini, malam ini. Chanyeol memuka ponsel setelah menit-menit yang ia habiskan untuk mencoba tidur dan tidak berhasil. Ada banyak yang ia lewatkan, mengingat terakhir ia membukanya adalah sebelum keluar dari kantor.
Ada tiga panggilan tidak terjawab dua jam yang lalu, yang secara mengejutkan, berasal dari Baekhyun. Hal yang akhirnya membuat Chanyeol terburu memeriksa pesan masuk. Tidak ada. Hanya pesan dari Jinah sebelum ia mampir.
Jinah... memorinya memutar balik pertengkaran mereka beberapa saat lalu.
Chanyeol barusaja keluar dari kamar mandi dengan air yang masih menetes-netes dari rambutnya ketika interkom berbunyi. Jinah berdiri di sana, membuatnya terheran-heran dengan kedatangan gadis itu di tengah malam buta. Meskipun, ia cukup bisa menebak, melihat dari penampilan gadis itu yang sudah berantakan. Jinah biasanya tidak akan membiarkan maskaranya belepotan sedikit saja atau lipstiknya mulai luntur.
"Aku capek banget," curhat gadis itu sambil berjalan membabi buta menuju sofa terdekat. Ia melemparkan punggungnya di sana dan memejamkan mata selama beberapa saat.
"The shooting's just finished around here and I'm too tired to go back home."
Chanyeol tahu, gadis itu barusaja pulang dari jadwalnya di New York kemarin, dan segera disibukkan oleh photoshoot lainnya. Ia hanya tidak tahu bahwa photoshoot itu berlokasi tidak jauh dari rumahnya.
"Want some drinks?" tawar Chanyeol, meletakkan handuk basah yang tadi ia pakai untuk mengeringkan rambut di pundak.
Tanpa benar-benar menunggu Jinah menggumamkan "Yes, please," yang terlambat, Chanyeol telah berjalan menuju dapur. Sekarang ia sendirian, ia berkunjung ke area ini lebih sering dari sebelumnya. Ia membuka tingkap atas lemari dan mengeluarkan satu kaleng cokelat bubuk, nyaris menyendoknya ke mug sebelum akhirnya ia sadar; seseorang yang menggemari cokelat hangat bukanlah Im Jinah.
Ia menyimpannya kembali dengan terburu-buru. Nyaris mati rasa ketika melakukannya. Dengan pikiran yang juga hampir sama matirasanya, ia membuka kulkas dan meraih sekotak jus buah secara acak, entah itu jeruk atau jambu, ia tidak tahu. Seseorang yang dibayar Baekhyun untuk membersihkan rumah setiap akhir pekan, juga tidak pernah absen mengisi kulkasnya.
Jinah meminum jus dinginnya tanpa protes, sepertinya terlalu lelah untuk melakukannya. Gadis itu bangkit berdiri lalu melepaskan heelsnya sebelum bertelanjang kaki menaiki tangga.
"I need to sleep now, where's the bedroom?"
The bedroom yang ia maksud, tentu saja, kamar Chanyeol. Gadis itu menemukannya dengan mudah. Sekali ia membuka pintu, dan aroma khas Chanyeol telah menyergapnya. Ia mengantuk sekali, bekerja lebih dari dua belas jam setelah mampu tertidur hanya dua jam di pesawat. Sialan sekali penumpang di sebelahnya dengan anak kecil yang mereka bawa, menangis terus sepanjang perjalanan.
Ia membuka atasan luarnya, membiarkan dirinya hanya dengan tanktop polos, terlalu malas untuk berganti baju. Lagipula, ia tidak membawanya.
Semua yang perlu ia lakukan adalah melemparkan diri ke kasur, lalu memejamkan mata. Mudah. Tapi kemudian, matanya yang sudah sayu menangkap siluet keadaan kamar.
Ada foto pernikahan di atas meja nakas, figuranya terlihat licin dan baru. Ada sweter berwarna biru malam di atas kasur, yang dipastikan bukan milik Chanyeol. Ada bertangkai-tangkai mawar putih di atas jambangan besar di sudut ruangan, bukan Chanyeol sekali. Ada buku-buku dongeng anak-anak. Bahkan, ada tempat tidur bayi di sana.
Sebenarnya, apa yang Chanyeol sedang lakukan?
Jinah berbalik. Emosi tiba-tiba menguak menggantikan kantuknya. Dan ia tidak perlu pergi jauh-jauh, karena ia bertemu pria itu di depan pintu.
Ia menatap pria itu tajam, beralih pada secangkir teh di tangannya. Atau lebih tepatnya pada, tangannya. Pada cincin yang masih tersemat di jari manis Chanyeol.
Pria itu tidak pernah melepaskannya.
Jinah menghela napas kasar. "You said you would throw them all away," dia menyatakan, teringat pada anggukan Chanyeol ketika ia menyuruhnya membuang apa-apa yang berkaitan dengan Baekhyun. "Tapi apa? I can see Byun Baekhyun here, Byun Baekhyun there, Byun Baekhyun everywhere! What the fuck are you doing?!"
Ia meledak, akhirnya. Matanya memburu, pada Chanyeol yang memberinya tatapan terkejut tanpa pembelaan apa-apa. Dan sekali lagi ia meragukan perasaan yang Chanyeol miliki untuknya. Sekian tahun bersama, ini adalah kali pertama ia meragukannya.
"Kamu bahkan nggak mengurus surat perceraian itu, kan?"
Untuk pertanyaan kedua, Jinah tahu ia tidak memerlukan jawaban. Lebih tepatnya, tidak ingin mendengarnya. Gadis itu berbalik untuk meraih kembali pakaiannya. Ada cukup luas ruang di depan pintu, tapi Jinah, memilih untuk menabrak bahu Chanyeol dengan keras.
"Don't ever call me, sampai kamu benar-benar membuang semuanya."
Gadis itu pergi dengan debuman pintu yang keras. Jika sebelumnya Chanyeol akan mengejar gadis itu setiap ia marah, malam ini ia tidak melakukannya.
Ia mendudukkan diri kembali di atas kasur, memindai ruangan yang sarat akan Baekhyun, dan harapan entah apa yang dibawa oleh keranjang tempat tidur bayi di ujung sana. Ia ingin melihat bayinya, sangat. Tapi ia lebih ingin melihat Baekhyun, memastikan ia baik-baik saja.
Dan begitulah bagaimana Chanyeol terduduk sendirian, jemarinya menari di atas nama Baekhyun.
Ia merindukannya.
Ia ingin menghubunginya.
Ia menghapus nama Baekhyun dari daftar kontak.
Sisanya, mawar, kereta bayi, foto, semuanya, akan ia pindahkan esok.
.
.
.
to be continued
.
A/N: Dua chapter lagi tamat. Yeay! Saya nggak akan bosan-bosan untuk berterimakasih atas semua review dan dukungannya o/
