Chapter 14

"Kau yakin ini arah yang benar?" tanya Sam kepada Astarte.

Di tengah keremangan, mereka berdua berjalan menerobos semak-semak rimbun. Beberapa ranting berduri tak sengaja menggores kulit mereka dan meninggalkan barut-barut memanjang. Namun Astarte tetap yakin kalau arah yang mereka tuju ini benar, bahwa arah inilah yang akan membawa mereka berdua menemukan Ginny Weasley.

Rombongan mereka memang sengaja memisahkan diri menjadi dua kelompok. Orion dan Dean pergi ke Shura untuk mencari Ailsa Elwood, sedangkan Sam dan Astarte yang mendapat tugas untuk menemukan keberadaan gadis penyihir itu.

"Kalo aku engga yakin, mana mungkin kita bisa sejauh ini, Mr Winchester," sahut Astarte tajam. Gadis itu terus berjalan seraya menyibak ranting yang menghalangi pandangannya. "Kalian hunter manusia pasti udah tau dong kalo indera penciuman kami peka banged sama bau makhluk selain bangsa kami. Lagian, ranting-ranting pohon di sekitar sini pada patah dan juga banyak rumput dengan bekas terinjak. Sudah pasti ada seseorang yang baru saja lewat tempat ini gitu loh."

"Analisis bagus, nona," balas Sam, nyengir.

"Yaeyalaaah! Buat apa dong bangsa Alexus punya mata setajam burung hantu? Penglihatan kita kan maknyus!"

Sekali lagi Sam tersenyum geli. Walaupun Astarte mengatakan ini dengan nada kesal, tetap saja masih terdengar lucu di telinga Sam. Dia mulai paham kalau Astarte ini memang sedikit nyeleneh jika dibandingkan dengan paradigma para putri pada umumnya. Gadis itu memang bukan tipe gadis ideal bagi Sam, tapi seandainya dia harus bersama Astarte sepanjang malam, Sam tidak akan merasa keberatan.

"Betewe, kenapa sih sepertinya kalian sangat kuatir dengan anak yang namanya Ailsa itu? Maksudku, iblis suruhan Carloseus kan udah membunuh orangtuanya. Jadi belum tentu Ailsa masih hidup. Ini IMO loh."

"Begini," Sam menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan. Pertanyaan polos tapi serius dari Astarte ini terdengar menggelikan. "Umm, kami punya dugaan kalau Ailsa sekeluarga memiliki garis keturunan dari elf. Dalam kasus ini, sepertinya mereka adalah jenis elf yang hidup dari energi buruk manusia seperti nafsu, amarah, dan sebagainya. Jika benar iblis itu sudah menyerap energi kedua orangtua Ailsa, itu saja bisa membuat dia hampir menjelma menjadi separuh manusia. Bisa kau bayangkan kalau dia juga menyerap seluruh energi Ailsa, kan?"

"Kedengarannya nakutin," komentar Astarte bergidik.

"Yeah. Pikir saja baik-baik apa alasan iblis itu sampai harus memburu energi buruk manusia langsung pada sumbernya. Tampaknya Carloseus sengaja melepaskan iblis itu begitu saja tanpa persiapan yang cukup matang dan tanpa kekuatan berarti. Akibatnya, setelah terbebas dia langsung tertarik kepada tubuh Ailsa yang menyimpan ribuan atau mungkin jutaan energi yang diperlukan iblis itu untuk bertahan hidup dan bertambah kuat.

"Dia menggunakan tubuh Ailsa untuk menghisap energi yang tersimpan dalam tubuh sesama elf, tubuh kedua orang tua Ailsa. Satu-satunya yang membuatku berpikir kalau Ailsa masih hidup adalah, proses mencerna energi yang pasti memakan waktu sangat lama dan dia masih membutuhkan tubuh Ailsa selama proses itu berlangsung. Entahlah, apa itu juga berlaku untuk makhluk dengan keistimewaan seperti ini, setengah manusia-setengah iblis."

"Tapi kalau dia sudah merasa cukup kuat, pasti saat ini dia sudah meninggalkan tubuh Ailsa," desah Astarte. Keningnya berkerut-kerut.

"Tetap saja dia akan butuh wadah," Sam menyambungnya buru-buru saat melihat Astarte menatapnya dengan penuh rasa penasaran. "Ini baru hipotesa. Kami belum pernah menjumpai ada kasus serumit ini. Yeah, begitulah."

Astarte mengedikkan bahunya. Gurat kecemasan di wajahnya bertambah jelas. Ekspresinya tampak semuram langit yang gelap.

"Ada apa?" tanya Sam saat Astarte menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.

"Aku hanya berpikir kalau kita tidak akan berhasil. Ini terlalu sulit karena... karena... " Astarte tergagap, tak mampu menyelesaikan ucapannya. Kedua matanya terbelalak kaget bercampur ngeri saat menuding sesuatu di belakang Sam. "Omaigad!"

Sam belum tahu apa yang sedang terjadi saat mendadak banyak sekali tangan keropeng berbau busuk menyergapnya dari belakang. Dia sempat mendengar jeritan Astarte di tengah usahanya untuk berontak. Namun tangan-tangan kaku dan dingin itu terus menjeratnya semakin kuat.

Sebuah pemikiran mengerikan melintas di kepalanya saat menyadari bahwa mereka berdua sedang dikepung oleh belasan mayat hidup yang berdatangan dari segala penjuru. Sementara nisan-nisan di sekitar mereka terlihat berguncang hebat. Dari satu persatu gundukan tanah yang merekah, keluarlah jasad-jasad dalam kondisi tidak utuh seolah tak ada habisnya. Iblis itu sudah membangkitkan para zombie!

000000

Di saat yang nyaris bersamaan,

Dean dan Orion yang telah memasuki bagian dalam Shura segera mengedarkan pandangan mereka ke seluruh penjuru. Sebenarnya tidak ada yang spesial di tempat itu. Dean hanya bisa menggambarkan Shura sebagai sebuah menara dengan bagian dalam yang sangat lapang dan mungkin mampu menampung ratusan atau mungkin ribuan orang. Namun lantai pualam dan dinding megah berlapis emas mengkilap tak bisa menghilangkan kesan melompong, karena sejauh mata memandang tidak nampak ada sesuatu yang mengisi tempat itu.

Di sekeliling dinding ada banyak sekali anak tangga baja yang tersusun melingkar untuk menuju ke puncak menara. Dean harus mendongak tinggi-tinggi agar dapat memastikan kalau tangga baja itu berujung jauh di atas sana, di sebuah altar kecil yang berhadapan langsung dengan sebuah mangkuk raksasa berisi kobaran api biru menyala-nyala,

"Gadis kecil itu ada di sini," ucap Orion sambil menghela nafas. "Masih hidup. Hanya pingsan saja rupanya."

"Yeah, syukurlah," Dean menyipitkan kedua matanya agar bisa melihat lebih jelas.

Tubuh Ailsa Elwood nampak sedang terbaring tak bergerak di tengah-tengah ruangan dan dari kejauhan tubuh gadis kecil itu nampak seperti sebuah titik. Dean bergegas berlari menghampirinya sambil berharap-harap cemas.

"Kalaupun dia masih hidup, dia tetap harus mati. Yang Mulia Ashriel sudah bertitah. Dia harus mati. Ailsa Elwood harus mati…"

Sontak Dean terkesiap, menghentikan langkahnya begitu mendengar perkataan Orion ini. Orion sendiri terlihat masih berdiri kokoh jauh di belakang Dean, namun Dean yang melihat gelagat tidak baik dari sorot mata Orion segera memacu langkahnya cepat-cepat. Dean berlari secepat yang ia bisa. Dia tahu Orion bisa dengan mudahnya melakukan teleportasi dan mencapai tempat Ailsa berada untuk membunuh gadis kecil itu, dan Dean tidak akan membiarkan hal ini terjadi.

"Kau pikir apa yang akan kau lakukan?" teriak Dean kepada Orion.

Benar saja. Dengan kemampuan teleportasinya, Orion sudah mendahului Dean. Dalam hitungan detik pemuda itu sudah berdiri tegak di samping tubuh Ailsa dengan pedang terhunus. Dari ekspresi dingin yang terpancar dari wajahnya, tampak Orion mantap sekali dengan apa yang akan dilakukannya ini. Dia hendak membunuh gadis kecil tidak berdaya itu.

"Hentikan!"

Dean menerjang Orion tepat sebelum pemuda itu sempat mengayunkan pedangnya. Mereka berdua jatuh bergulingan di lantai. Sementara itu pedang Orion terlempar sejauh dua meter dari pemiliknya. Dean yang lebih cepat bangkit segera meninju wajah Orion. Tak mau kalah, Orion menghantamkan sikunya ke rahang Dean. Keduanya pun terlibat pergulatan sengit dan saling adu jotos.

"Aku hanya menjalankan perintah Ashriel!" bentak Orion, menonjok pipi kanan Dean.

"Oh, yeah. Perintah yang salah!" balas Dean sambil membenturkan kepalanya sendiri ke kepala Orion.

Keduanya sempat berhenti berkelahi selama beberapa detik karena merasa sama-sama pusing dan terkapar lemas berdampingan di lantai, sebelum Dean kembali bangkit dengan sempoyongan dan menduduki perut Orion.

"Dia tidak bersalah sama sekali, kau dengar itu!" gertak Dean, mencengkram kerah baju Orion gemas. "Jadi kau tidak berhak membunuhnya dengan alasan apapun!"

Orion mengernyitkan dahinya yang dihiasi memar berwarna ungu. Raut wajahnya jelas tidak senang.

"Yang Mulia Ashriel selalu tahu apa yang diperintahkannya. Dia selalu benar dan aku harus menjalankan apa yang dianggapnya benar itu! Kau tidak tahu apa-apa tentang ini semua!"

"Memang! Aku hanya tahu kalau kau tidak seharusnya main bunuh orang yang tidak berdosa!"

Tanpa Dean sadari, salah satu tangan Orion menggapai-gapai, berusaha meraih pedangnya. Di saat Dean sedang sibuk menahan tubuh Orion agar tidak bisa bergerak, pemuda bangsa Alexus itu diam-diam mengerahkan kekuatan cyclokinesisnya untuk menggerakkan pedangnya.

"Tidak berdosa? Dia hanya iblis, Dean. Setidaknya di kedua tangannya berlumuran darah banyak orang yang sudah ia bunuh…" seloroh Orion tajam, melirik pedangnya yang sedang melayang-layang dan sudah siap untuk menyembelih leher Ailsa.

"Lalu apa ini artinya kau juga tidak akan berdosa kalau kau tetap nekat membunuhnya?"

Selama beberapa detik Orion tertegun. Sepertinya perkataan Dean ini cukup menohoknya. Gerakan pedangnya pun terhenti di udara.

"Kita terlahir untuk memburu iblis, kekuatan paling jahat di alam semesta. Iblis tetap saja iblis. Apapun itu, tetap harus dibasmi. Ini adalah pekerjaan Hunter. Kita membunuhnya, atau kita yang dibunuh," tukas Orion lugas.

Dean menatap Orion dengan sorot aneh yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang tersirat dari tatapannya.

"Dulu aku juga pernah berpikir sepertimu. Pemikiran yang dulunya kuanggap sebagai sebuah pemikiran logis dari seorang Hunter. Bahwa aku berhak membunuh setiap iblis yang muncul di depan hidungku dengan alasan pembenaran bahwa ini adalah pekerjaanku. Bahwa aku harus mematikan hati nuraniku dan berlindung di balik sebuah anggapan bahwa setiap iblis memang harus dibasmi. Toh keberadaan mereka lebih seperti bibit penyakit bagi umat manusia.

"Tapi beberapa waktu yang lalu aku sadar kalau pikiranku ini tidak selamanya benar. Ada banyak hal yang jauh lebih dalam daripada sekedar membunuh iblis. Semacam ide kalau ini berarti aku tidak akan jadi lebih baik dibandingkan dengan makhluk buruanku. Iblis memuaskan nafsunya untuk mencelakakan manusia, kan? Mereka tentu tidak punya akal dan nurani dalam diri mereka. Nah, aku tidak ingin memperlakukan setiap iblis dengan cara yang serupa seperti itu. Karena aku tidak sama seperti mereka. Bertindak matang dan berpikir menggunakan nurani akan jauh lebih baik..."

"Tapi… aku tidak terlalu mengerti… Maksudku, ini perintah tuanku…" balas Orion bimbang.

"Kupikir Ashriel tidak mungkin selalu memberimu perintah yang dapat ditafsirkan mentah-mentah. Lagipula dia bukan Tuhan. Dia tidak selalu tahu segalanya dan juga tidak selalu benar," Dean mengendurkan cengkraman tangannya pada kerah baju Orion. "Kalau hipotesa Sam tadi benar, dan meski ini berarti buruk untuk kita, bisa saja sekarang iblis itu sudah keluar dari tubuh gadis kecil itu."

Kedua tangan Orion mengepal, sementara pedangnya jatuh berkelontangan di samping tubuh Ailsa yang masih terbujur tak bergerak. Pemuda itu mengurungkan niatnya untuk membunuh Ailsa.

"Kita bisa buktikan," ujar Dean sambil mengeluarkan botol kecil berisi holy water dari balik overcoatnya.

Tanpa menunggu reaksi dari Orion yang masih bungkam, Dean berdiri dan menghampiri Ailsa. Lalu dia berjongkok di samping tubuh gadis kecil itu dan menuangkan sedikit holy water ke telapak tangannya yang lebar sebelum memercikkannya ke wajah Ailsa. Namun tidak terjadi apa-apa. Kulit wajah gadis kecil itu tidak mengepulkan asap karena terbakar seperti pada umumnya iblis jika tersiram holy water.

"Dia Ailsa Elwood, tapi dia bukan iblis," kata Dean, menatap ekspresi kaku di wajah Orion.

"Adikmu bilang, setelah menyerap energi dari suami-istri Elwood, iblis itu akan punya kekuatan setengah manusia karena energi kedua orang itu sama artinya dengan energi puluhan ribu manusia yang hidup di berbagai jaman."

"Setengah manusia-setengah iblis, jangan kau lupakan itu. Setidaknya Ailsa ini tidak menunjukkan reaksi kalau dia punya kekuatan setengah iblis..."

"Lalu bagaimana kalau hipotesis terakhir dari adikmu benar, kalau sekarang proses mencerna energinya sudah selesai dan iblis itu sudah berubah sepenuhnya menjadi manusia. Dia harus punya wadah, kan? Mungkin dia menyukai wadah gadis kecilnya ini dan berusaha mengecoh kita dengan berpura-pura tak berdaya," timpal Orion ngotot.

"Kalau begitu, coba gunakan hati nuranimu!" sahut Dean tegas. "Di saat harus mengambil keputusan penting, hati nurani selalu tahu apa yang terbaik."

Sontak Orion terdiam seribu bahasa. Dia tidak ingin menyela atau membantah perkataan Dean lagi. Sebaliknya dia tampak semakin bimbang. Pedang yang sudah ia pungut dan sedang digenggamnya kuat-kuat bergetar lemah. Ini karena dia sedang mencoba mengambil keputusan yang terberat sepanjang hidupnya, keputusan untuk tidak melaksanakan perintah tuannya. Sekitar lima menit kemudian akhirnya Orion menyarungkan kembali pedangnya, dan untuk pertama kalinya Dean bisa melihat pemuda itu tersenyum tipis.

"Baiklah. Aku menyerah darimu, Mr Winchester. Mungkin kau benar…"

"Oh, well. Itu bagus. Sekarang kita harus segera keluar dari tempat ini. Keluar dari dimensi ini lebih tepatnya. Denyut nadi gadis Elwood ini sangat lemah. Dia harus dibawa ke rumah sakit secepatnya karena sepertinya dia sedang sekarat," kata Dean sambil merengkuh tubuh mungil Ailsa ke dalam pelukannya dan menggendong gadis itu.

"Kau boleh pergi lebih dulu. Aku akan menyusul setelah sekali lagi melakukan apa yang sesuai dengan hati nuraniku," balas Orion, mendongak menatap kobaran api biru jauh di atas sana. "Kupikir Astarte benar tentang kunci Devil's Gate ini. Aku harus menghancurkannya."

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Orion kepada Dean sebelum dia lenyap dan dalam hitungan sepersekian detik sudah berada di atas altar di puncak menara. Dean sempat melihat api suci dalam mangkok raksasa itu bergolak hebat dan mengeluarkan asap biru pucat yang membumbung tinggi memenuhi puncak menara sesaat setelah Orion melemparkan kunci Devil's Gate ke dalamnya.

"Kita pergi dari sini!" kata Orion yang tiba-tiba muncul lagi di sebelah Dean dan langsung menggamit lengan Dean. "Kita harus segera kembali ke dunia manusia."

"Bagaimana dengan Astarte dan Sam?"

"Setelah mengantarkan Ailsa ke rumah sakit, kita akan menunggu mereka di depan pintu gerbang pemakaman sesuai dengan perjanjian kita sebelum berpisah tadi. Mereka pasti akan selamat. Percayalah!" tukas Orion berusaha meyakinkan Dean. "Tempat ini akan segera hancur!"

Benar apa yang dikatakan oleh Orion. Lantai pualam tempat mereka berpijak mulai retak-retak karena diguncang gempa yang semakin lama semakin kuat. Sementara dari atas sana, satu persatu anak tangga pun mulai rontok dan berjatuhan tanpa ampun.

Dean mulai panik. Di sisi lain dia ingin menyelamatkan Ailsa yang sedang kritis, namun dia juga tidak bisa meninggalkan adiknya begitu saja. Dua tanggung jawab yang sama-sama mendesak dalam situasi genting begini. Tetapi tak ada pilihan lain bagi Dean saat Orion menggunakan teleportasinya dan memaksa Dean meninggalkan bangunan yang mulai ambruk itu.

000000

Sementara itu

"Oh, yang benar saja!" teriak Astarte saat tinjunya malah terbenam ke dalam rongga dada salah satu zombie yang sedang menyeretnya ke sebuah liang lahat. Ada cairan lengket dan berbau anyir yang melumuri tangan Astarte saat ia mencabut tinjunya itu. Sementara dua zombie yang lain mencengkram pundak gadis itu dan berebut menariknya ke arah yang berlawanan. "Sam, aku sedang sibuk di sini! Tolongin napa?"

"Kau pikir sekarang aku sedang menganggur apa?" balas Sam tak kalah panik.

Dia sendiri sedang kerepotan menghadapi belasan mayat hidup yang tidak juga mau mundur meski terus diberondong peluru garam. Sam sudah hampir hilang akal saat pelurunya mulai habis. Setiap peluru yang berhasil bersarang di kepala atau dada monster-monster itu hanya mampu membuat mereka berhenti bergerak sejenak, sebelum kemudian kembali berjalan sempoyongan mendekati Sam.

"Bertahanlah, Astarte!" teriak Sam seraya menghantamkan gagang senapannya ke kepala zombie-zombie itu satu persatu, berusaha membuka jalan untuk menolong Astarte.

"Ya ya ya… mereka memang sudah menahanku kok!" seloroh Astarte yang mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari belitan beberapa zombie. "Lepasin aku, monster jelek!"

Astarte bergidik jijik campur ngeri saat tiba-tiba saja kepala zombie yang sedang mendekapnya itu menggelinding lepas begitu terkena hantaman senapan Sam. Sekali lagi pakaiannya terciprat lendir berbau mirip telur busuk.

"Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Sam cemas. Kini dia sedang kewalahan menghadapi lima atau enam zombie yang menarik tubuhnya ke segala arah. Beberapa zombie berhasil merebut senapannya.

"Aku tidak apa-apa, kecuali harus mandi seharian biar bebas dari bau formalin! Mereka semua mengerikan, Sam! Ngeri abis gitu deh!" kata Astarte sambil melonjak-lonjak jijik dan membersihkan pakaiannya yang ternoda lendir lengket. "Mending juga aku duel sama iblis. Setidaknya mereka enggak jorok dan beringus."

Sam hanya bisa memutar bola matanya. Dia tidak tahu harus berkomentar apa lagi. Keadaan tidak bertambah baik saat salah satu zombie berhasil menyeret Astarte sekali lagi. Zombie lainnya merenggut Astarte dari zombie tadi dan mencengkram leher gadis itu dengan sebelah tangannya, membuat Astarte megap-megap tak bisa bernafas.

Belum sempat Sam bergerak untuk menolong Astarte, beberapa zombie menghadiahinya pukulan bertubi-tubi. Sam sempat merasakan kulit wajah dan tangannya perih bukan main. Ternyata zombie-zombie itu sedang mencoba mengupas kulit Sam dengan gigi dan kuku mereka.

Terkepung dari segala penjuru, Sam tidak tahu apa yang sudah terjadi kepada Astarte. Yang bisa dirasakannya hanyalah rasa sesak dan sakit saat dirinya terjepit di antara zombie-zombie yang semakin ganas. Di saat seperti ini pikirannya melayang memikirkan kakaknya. Apa Dean juga sedang dalam bahaya seperti ini? Biasanya kakaknya itu selalu datang menolong setiap kali Sam sedang dalam marabahaya. Agak jengah sebenarnya dengan kenyataan kalau dia malah mengharapkan bantuan Dean di saat dia sudah merasa cukup mampu untuk mengatasinya sendiri. Dean, kau di mana?

"Incendio!"

Terdengar bunyi ledakan beruntun saat seseorang atau dua orang mengucapkan kata itu berulang-ulang. Rasa sesak Sam sedikit demi sedikit berkurang. Zombie-zombie itu kocar-kacir meninggalkan Sam tergeletak begitu saja. Entah mengapa, namun Sam berpikir ada sesuatu yang telah menakuti para zombie itu.

"Incendio!"

Tubuh zombie terakhir yang sedang memegangi kaki Sam hancur berantakan saat seleret sinar merah menyambarnya. Serta merta Sam memejamkan matanya, cairan lengket dan anyir dari tubuh zombie itu menyiprati sebagian wajah dan badannya.

"Kau tidak apa-apa?"

Sam membuka matanya dan menerima uluran tangan dari seorang pemuda berusia enam belasan dengan rambut gelap berantakan. Pemuda berkacamata itu mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi di udara dan membuat Sam segera tersadar kalau dia sedang berhadapan dengan seorang penyihir. Astarte memang sudah bercerita kalau Ginny Weasley, gadis yang bersamanya tadi, adalah seorang penyihir. Tapi kemunculan pemuda yang juga penyihir ini membuat Sam bertanya-tanya. Bagaimana dia bisa masuk ke dimensi ini?

"Oh, kupikir aku baik-baik saja..." balas Sam tidak begitu yakin. Kulit wajah dan kedua tangannya cukup banyak yang terkelupas dan saat ini sedang mengeluarkan darah.

"Ginny, apa semuanya oke?" tanya pemuda berkacamata itu kepada seorang gadis berambut merah yang sepertinya baru saja berhasil mengusir sekelompok zombie yang mengerubungi Astarte. Api yang keluar dari ujung tongkat gadis itu menari-nari bagaikan seutas cambuk, sangat efektif untuk membuat semua monster itu kalang kabut.

"Oke-oke saja, Harry," balas gadis itu riang. Astarte tidak tampak sama riangnya saat menyeruak dari dalam kekacauan ini.

"Terima kasih banyak, Ginny dan Mr Potter. Aku tak tahu harus bagaimana mengucapkannya, entah ini buruk atau bagus, tapi terima kasih," kata Astarte dengan wajah pucat pasi dan berlumuran lendir. "Seharusnya sihir tidak akan berfungsi di tempat seperti ini. Begitu juga dengan tidak seharusnya semua mayat tadi terbangun…"

"Aku juga ingin tahu bagaimana bisa ada pasukan inferi di tempat seperti ini," timpal pemuda berkacamata itu. "Sepertinya mereka semua tadi dikendalikan oleh semacam sihir hitam. Yang kulihat tadi mereka mencoba membunuhmu, bukan menginfeksimu atau memakanmu."

"Inferi? Apa maksudnya ini?" tanya gadis berambut merah yang dipanggil Ginny tadi.

"Anomali. Ada sesuatu atau seseorang yang baru saja mengacaukan hukum yang berlaku di alam ini. Aku sendiri tidak tahu apa..." jelas Astarte bingung.

Terdengar suara menggelegar dari langit dan membuat mereka berempat serentak menengadah. Mereka semua terkejut sekali saat mendapati langit yang tadinya kelam berubah menyala terang, lalu padam dan terang lagi, begitu seterusnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara retak yang membahana saat muncul garis-garis patah di atas sana, seolah langit mulai runtuh.

"Kita harus pergi dari sini, Astarte!" teriak Sam. Jantungnya berdebar kencang dan firasatnya mengatakan kalau ini pertanda buruk.

"Semua berpegangan tangan! Aku akan melakukan teleportasi!" pinta Astarte sambil meraih tangan Sam dan menggenggamnya erat.

"Cepat!" teriak Sam setelah memastikan kalau mereka berempat sudah saling bergandengan.

Sementara tanah di sekitar mereka mulai terbelah dan menelan beberapa di antara puluhan mayat hidup yang kembali berdatangan. Terjadi gempa bumi disusul longsor di beberapa bagian makam. Keadaan sudah amat sangat kacau.

000000

Kejadian selanjutnya terasa begitu cepat seperti sekedipan mata saja. Suasana kacau balau di sekeliling mereka lenyap dan digantikan oleh pemandangan khas pinggiran kota London. Mereka berempat sudah berdiri tepat di depan pintu gerbang Wigheard Cemetery dimana Dean dan Orion sudah menanti dengan ekspresi cemas bukan main.

Ginny bisa merasakan suasana haru menyelimuti mereka semua. Dean dan Sam berangkulan dengan wajah gembira seakan sudah lama tak bertemu. Astarte masih sempat menggoda Orion yang tak lagi kaku seperti biasanya sebelum berpelukan erat. Begitu juga dengan dia sendiri yang tak perlu lagi merasa bersalah untuk memeluk Harry. Kata cinta itu memang belum terucap, namun gadis itu ingin Harry bisa merasakannya dari ketakutan yang tadi ia rasakan, bahwa ia benar-benar takut kehilangan Harry.

"Aku masih belum begitu mengerti tentang apa yang sedang terjadi, tapi aku sangat senang melihatmu selamat," ucap Harry, tersenyum.

Bersama Harry, Ginny menonton kehancuran total yang sedang terjadi di dalam selubung dimensi. Beberapa letupan dan kobaran jingga memenuhi tempat di balik selubung itu. Sementara mereka yang telah berada di dunia nyata tidak merasakan dampaknya.

Ketika asap putih tebal membumbung serupa jamur cendawan raksasa, selubung itu seolah tersingkap dan gelombang energi berkekuatan lemah menerpa mereka berenam. Debu-debu halus dan udara hangat bercampur aroma sangit berhamburan. Perlahan-lahan kegelapan yang menyelimuti langit mulai terkuak, menampakkan matahari yang bersinar cerah dan langit biru indah tanpa selaput awan.

Kota London tampak normal seperti sedia kala. Begitu pula dengan Wigheard Cemetery yang tampak sama seperti sebelumnya, utuh dan tak ada tanda-tanda kerusakan secuil pun, seolah-olah tak pernah terjadi hal yang mengerikan di sana.

"Jadi, semua sudah berakhir, kan?" ucap Sam memecah ketegangan.

"Sepertinya begitu," jawab Orion yang sedang mendongak menikmati sinar matahari yang selama ini menghilang. "Dean dan Sam, kalian berdua sudah bisa aku kembalikan ke Colorado sekarang. Begitu juga dengan Impalamu, Dean. Aku akan mengembalikan kalian semua…"

"Tunggu dulu! Kami belum sempat hunting cewe Inggris tulen, kan? Aku suka dengan aksen mereka yang sexy itu. Apalagi bunyi sengau saat mereka berbicara," Dean malah nyengir lucu saat Sam menatapnya tajam. "Ah, Sam. Kau tenang sajalah. Kita pasti akan pulang kok. Lagipula Orion pasti segera datang di saat kita membutuhkannya. Cukup menjentikkan jari atau menghentakkan kaki tiga kali sambil memanggil namanya."

"Aku bukan jin lampu, Dean! Sekarang diamlah atau kau akan kuteleport ke kandang macan!" sahut Orion sebal.

Mau tak mau Ginny terkikik melihat pertengkaran lucu di antara ketiga orang itu. Setelah mengalami semua kejadian mengerikan tadi, sedikit tertawa lumayan ampuh untuk mengurangi ketegangan.

"Ginny, kita juga harus kembali ke The Burrow. Mungkin kita harus mengarang alasan kepada keluargamu tentang kenapa kita bisa menghilang bersamaan dari sana begitu saja. Tapi kalau kau mau menceritakan padaku apa saja yang sudah terjadi tadi, kurasa kita bisa merundingkan alasan yang tepat di dalam Bus Ksatria nanti," ujar Harry. "Alasan yang tepat dan tidak membuat ibumu histeris. Kau tahu Mrs Weasley susah dibohongi."

"Aku ragu kita bisa membohonginya," balas Ginny dengan wajah berseri-seri. "Tapi aku punya banyak hal yang ingin sekali aku ceritakan kepadamu, Harry. Banyak sekali..."

Selama beberapa saat mereka berdua saling berpandangan dalam diam. Dari sorot mata yang ditunjukkan Harry kepadanya, Ginny tahu kalau Harry pasti akan bersedia meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan semua ceritanya itu. Sorot mata hijau kalem yang sangat dirindukan oleh gadis itu terasa begitu dalam dan menenangkan.

"Mr Potter, Orion ingin berbicara denganmu sebentar," kata Astarte yang mendadak muncul dan mengusik mereka berdua. "Maaf ya?"

Dengan agak berat hati, Ginny mengawasi kepergian Harry untuk menemui Orion yang saat ini sedang berdiri di pinggir jalan. Hunter bangsa Alexus itu tampak baru saja mengirim Winchester bersaudara beserta Impala mereka ke suatu tempat, entah ke Colorado atau ke kandang macan seperti ancamannya tadi.

"Senang semuanya sudah berakhir, Ginny," ucap Astarte membuka obrolan.

Ginny mengalihkan perhatiannya dari Harry ke gadis pirang yang ada di hadapannya ini. Dia membalas senyum gembira Astarte. Tentu saja dia juga sangat senang.

"Yeah, semuanya sudah berakhir bahagia untukku…"

Seketika itu Astarte terbelalak, tampak sangat terkejut saat melihat kilasan sinar putih di mata Ginny. Bibirnya bergetar hebat saat berkata terpatah-patah, "Kau... kau... kau bukan Ginny..."

Sekali lagi Ginny tersenyum. Bukan senyum riang, melainkan senyum penuh kepuasan menyadari Astarte sudah tahu siapa yang kini sedang diajaknya bicara. Dia bisa merasakan ketakutan sedang melanda gadis pirang itu sekarang.

"Memang. Aku Madeline. Madeline Lestrange," cibir gadis berambut merah itu seraya mengayunkan tongkat sihirnya dan merapal mantra non verbal. Obliviate!

Ketahuilah, aku tidak keberatan Harry akan memanggilku dengan nama gadis jalang itu seumur hidupku. Aku juga tidak pernah menyesali tindakanku yang telah mengirim roh pemilik wadahku ini ke Alam di Antara. Si kumuh itu hanya membalas hutang nyawanya ke Harry, tak lebih! Yang pasti, aku telah mendapat semua yang kuinginkan. Kau tahu, aku dibesarkan oleh ambisi dan aku bertahan hidup demi ambisiku itu. Sekarang tidak akan ada lagi yang bisa memisahkanku dari orang yang sangat kusayangi. Satu-satunya dan selalu. Harry Potter.

EL EXTREMO

Ini chapter final. Perlu diketahui, sebenarnya Darkness Surrounding adalah fanfic yang saya buat sekitar bulan November tahun 2008. Arsip lama. Karena itulah, mohon maklum kalau gaya menulis saya belum terlalu bagus pada saat itu. Dulu saya belum berani memajang fanfic ini di FFN. Selain karena reviewnya jarang-jarang dan lebih banyak silent reader, saya ga pede aja karena masih ngerasa nubie di FFN.

Di HPI, fanfic ini sempat jadi juara kontes fanfic untuk kategori The Most Fave Fantasy Fanfic di tahun 2009, dan saya ngerasa senang sekali karena bagaimana pun fanfic ini adalah fanfic pertama saya untuk jenis Crossover dan multichapter pula.

Well, dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan banyak terima kasih untuk siapapun yang sudah setia mengikuti fanfic ini dari awal dengan segala kekurangannya. Sekarang yang saya butuhkan dari kalian hanya satu, mohon reviewnya please.