A/N :

Halo lagi, Pembaca.

Ketemu lagi dengan saya, Blue. Kali ini fic Our New Life, update lebih awal (pas dini hari), ya. Soalnya saya takut kalau telat update chapter seperti kemarin. Haha...

Baiklah. Sebelum update chapter, seperti biasa saya mau menyapa para pembaca dan para reviewer dulu.

1. Tanggapan untuk review dari Author BlazingCourage

Hai, Blaze. Terima kasih buat reviewnya, ya. Seneng banget, deh, kalo ada senior yang selalu ngasih masukan setiap kali aku nulis fic. Okay, aku tanggapi reviewnya, ya.

Soal genre dari fic ini memang makin lanjut chapter, makin campur aduk genrenya. Hahaha...

Tapi, genre utama tetap Family/Romance, kok. Kalaupun ada genre lain, kayak komedi/sci-fi/angst /drama itu cuma sebagai selingan aja. Waktu bikin plotnya dulu, sebenernya aku juga bingung fic ini genrenya apa. Tapi, karena cerita yang paling banyak dibahas di sini adalah tentang hubungan dekat antara Kurapika dan keluarganya. Akhirnya, aku masukin genrenya ke Family/Romance.

Terus yang kedua tentang titik atau paragraph break. Sebenernya, aku sudah kasih break di setiap pergantian tempat atau waktu, pakai tanda 'doublestripe' (--) di setiap chapter. Tapi, nggak tahu kenapa tanda strip (--)nya kok nggak muncul kalau fic ini dibuka lewat browser biasa (dan aku juga baru tahu pas tadi nyoba buka fic ini lewat web). Maklum, aku selalu buka situs fanfiction ini pakai aplikasi dari google playstore. Jadi, update chapter pun juga pakai aplikasi hape. Hahaha...

Nah, untuk mengatasi kasus ini, paragraph breaknya sudah aku ganti dengan tanda (-oOo-) ini. Semoga yang kali ini kelihatan, ya.

Oh iya, Blaze. Sebenernya, aku ini sering banget main ke fandom lain tapi cuma sebagai silent reader. Soalnya, kalo mau ngereview pake aplikasi kadang suka error. Karena males buka situs lewat browser akhirnya aku lebih milih jadi silent reader, deh (termasuk di Fandom Digimon juga). Ampuni aku ya, Blaze. Besok-besok kalo aku main ke fandom lain, aku tinggalin jejak, deh. Hehehe...

2. Tanggapan untuk review dari Author/Reader Elix

Aloha, Elix sayang. Kita bertegur sapa lagi setelah sekian lama, ya. Aku seneng banget lho begitu tahu kalo Elix selalu ngikutin kelanjutan dari fic-ku ini. Makasih banyak, ya.

Iya, Luna hamil lagi. Coba tebak, deh. Anak kedua mereka kira-kira cewek atau cowok? Hahaha...

Kayaknya sudah mulai bisa ketebak 'kan gimana ending dari fic ini.

Ups! Hampir aja keceplosan, nih.

Okay, aku harap Elix nggak bosen baca fic ini sampe tamat, ya. Sampai ketemu lagi.

Dan...

akhirnya selesailah A/N kali ini.

Biar nggak terlalu panjang, saya, Blue, mau undur diri dulu ya.

Akhir kata, terima kasih banyak buat para reader atas kesediaannya meluangkan waktu untuk membaca fic Our New Life. Makasih lo buat supportnya. Kalau ada salah kata saya minta maaf ya, Teman-teman sekalian.

Saya harap kalian nggak bosan baca fic ini. Ikuti terus kisah Keluarga Kurapika Kuruta dalam Our New Life yang diupdate setiap Hari Rabu.

Happy reading and don't forget to leave your review. Thank you!

Salam Sayang dari Blue -

-oOo-

Our New Life : Dark Blood New Generation

(Hunter X New Generation)

Story by : Mercyblue

-oOo-

Genre : Family/Romance

Rated : T

Character : Kurapika Kuruta, Luna Kuruta (OC), Ryu Kuruta (OC), Their Fams

Disclaimer : Yoshihiro Togashi

-oOo-

Chapter XI : Good News

-oOo-

Angin sepoi berhembus dengan lembut di malam itu. Ribuan bintang bertaburan dan memancarkan kerlap kerlipnya yang indah bagai permata. Suara daun dari rindangnya pepohonan yang saling bergesekan terasa memanjakan telinga setiap orang yang mendengarnya, termasuk wanita berparas ayu ini.

Luna sedang duduk bersantai di sebuah bangku panjang yang terdapat di tengah-tengah halaman kediaman Kuruta. Kedua kelopak matanya terpejam menandakan bahwa ia sedang menikmati suasana asri di tempat itu. Sensasi sejuk dari angin malam menyentuh setiap inchi dari tubuhnya.

"Kau bisa sakit jika berada di sini lebih lama." Seorang pria berambut pirang menghampiri wanita itu. Mendengar seseorang memanggilnya, Luna membuka matanya lalu menoleh ke belakang. Di saat yang sama, ia melihat suaminya berjalan mendekat ke arahnya.

Luna tersenyum lembut. "Sst.. Aku mencoba menikmati suara alam, Sayang, " ucapnya sambil menempatkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Beberapa saat kemudian, wanita berambut coklat itu kembali memalingkan wajahnya ke depan.

Kurapika berdiri di belakang istrinya yang tengah duduk di bangku halaman rumah mereka. Pria itu membungkuk sedikit untuk menyelimuti punggung istrinya dengan selembar selimut. Setelah memastikan istrinya merasa hangat, ia duduk dan menempatkan dirinya di samping wanita yang disayanginya.

"Tidak bisa tidur?" tanya Kurapika singkat.

Luna menganggukan kepalanya. "Aku sedang memikirkan sesuatu." Ia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.

"Dan, apa itu?" Kurapika memeluk tubuh istrinya dari samping. Ia melingkarkan lengannya di pundak wanita itu lalu membelai rambut panjang milik istrinya yang terasa halus. Luna tertawa kecil, "Aku tak yakin kau mau mendengarnya."

Pria muda itu menatap istrinya, "Berhentilah menggodaku. Katakan saja apa yang menjadi beban pikiranmu." Luna menegakkan badannya dan membuat pelukan suaminya kini terlepas dari tubuhnya. Ia menggenggam tangan suaminya lalu menempatkan tangan itu di atas dadanya, "Bisa kau rasakan?"

Kurapika dapat merasakan degup jantung istrinya berdetak secara teratur melalui telapak tangannya. "Hmm, denyut jantungmu tampak normal," sahutnya pelan. Luna tersenyum, perlahan ia menurunkan tangan suaminya dan kembali menempatkannya tepat di atas perutnya. "Kalau sekarang, apa yang kau rasakan?"

Meskipun samar-samar, pria dewasa itu dapat merasakan denyutan lembut di tangannya. Kurapika terkejut dan menarik tangannya dari genggaman istrinya. "Kau..." Ia tak menghentikan kalimatnya.

Luna menghela nafas dan kembali tersenyum. Ia menengadahkan kepalanya lalu memandangi bulan purnama yang sedang bersinar terang. "Benar, 'kan? Aku sudah bilang kalau kau tidak ingin mendengarnya," ucapnya dengan suara pelan.

"Bisa-bisanya kau bercanda dalam situasi seperti ini." Kurapika melihat wajah istrinya, rasa cemas bergelut dalam batinnya.

Luna masih memandang langit malam saat ia menanggapi pernyataan suaminya. "Leorio menyarankan agar aku melakukan aborsi dan aku-," ucapan wanita itu terputus.

"...menolaknya?" sahut Kurapika cepat. Sepatah kata yang meluncur dari mulut pria itu cukup membuat Luna menoleh ke arahnya.

Istri pemimpin Kuruta itu membalas, "Wah, kemampuan meramalmu tepat sekali, Sayang. Kau sudah seperti cenayang saja." Ia tertawa kecil.

Kurapika menghela nafas. Ia mengamati wajah istrinya. Sekalipun seulas senyum menghiasi wajah cantik istrinya, pria pirang itu tahu bahwa saat ini wanita kesayangannya sangat gelisah. Luna sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya dengan melontarkan candaan-candaan kecil supaya ia merasa lebih tenang.

"Bahkan jika kau bertanya pada Ryu, dia pasti juga bisa menebaknya dengan benar. Mustahil orang sepertimu akan menerima saran dari Leorio itu," kata Kurapika mengomentari candaan istrinya.

Dada Luna terasa sesak saat suaminya menyebut nama putranya. "Ryu, ya? Dia anak yang sangat baik. Meski terkadang keras kepala, tapi dia selalu memikirkan orang lain," balas wanita bermata coklat itu.

"Dia itu selalu memprioritaskan dirimu dibandingkan kami semua. Kadang, aku sebagai ayahnya merasa iri." Kurapika tersenyum tipis. "Entah kau sadar atau tidak. Alasan anak itu marah padaku tadi, bukan karena kita tak bisa makan siang atau menghabiskan waktu bersama. Tapi, dia marah padaku karena aku membiarkanmu pergi sendirian untuk menjemputnya."

Luna sempat tersentak, tetapi ia menyanggah pernyataan suaminya dengan cepat, "Kau salah menarik kesimpulan, Sayang." Wanita itu tertawa dan menepuk punggung suaminya. Namun, laki-laki yang saat ini duduk di sebelahnya menggelengkan kepalanya. Ia menanggapi, "Kau pikir kenapa saat makan malam tadi dia bilang bahwa dia kecewa karena kau datang sendirian, Luna?"

Wanita manis itu terdiam, ia kembali mengingat-ingat apa yang dikatakan oleh putranya. Terutama saat mereka berada di rumah sakit. Kata-kata Ryu saat anak itu memarahinya tadi siang terngiang di telinganya.

Luna tersenyum, "Benar juga. Harusnya aku sadar waktu anak itu bilang, lain kali aku tidak boleh pergi sendirian." Ia diam beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku bahagia sekali, mengetahui ia begitu peduli dan menyayangiku," ucapnya dengan suara bergetar. Mata Luna berkaca-kaca.

"Begitulah. Seharusnya, jika Ryu merasa kecewa karena rencana kita gagal, dia akan langsung mengatakan bahwa dia kecewa karena aku tidak datang." Kurapika melanjutkan. "Luna, Ryu itu berbeda dengan kita, dia polos dan jujur. Jadi dia pasti mengatakan hal yang menganggunya secara terus terang," jelasnya lagi.

"Begitukah?" Luna mengangkat kepalanya dan kembali memandang bintang di langit malam. "Jika itu benar, kira-kira apa ya yang akan dikatakan anak kita itu saat ia mengetahui kalau usia ibunya tak akan lama lagi?" Wanita itu diam untuk beberapa saat.

Kurapika menepuk kepala istrinya, "Jangan berkata pesimis begitu! Seperti bukan dirimu saja." Ia memandangi wajah Luna. " Kau sudah tahu bagaimana sedihnya Ryu jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, bukan? Seharusnya, itu menjadi alasan yang kuat bagimu untuk berjuang lebih keras dalam menjaga kondisi tubuhmu." Kurapika kembali menasehati istrinya. Luna menundukkan kepalanya.

"Lagipula, kau sendiri yang bilang ingin mempertahankan bayi ini, bukan? Jadi, lakukanlah dengan benar," lanjut Kurapika sambil tersenyum pasrah.

"Sayang.." Luna mengangkat kepalanya lalu mengelus pipi suaminya, tanpa sadar air matanya menetes. "Kau tidak melarangku atau memarahiku?" Ia tersentak saat menyadari suaminya tidak menentang keputusannya.

Pria muda itu menggelengkan kepalanya lalu mengulurkan tangan untuk menghapus air mata di pipi istrinya. "Apa kau pikir aku bisa menang melawan kekeras kepalaanmu itu?" Ia kembali bertanya. "Seperti yang pernah kau bilang sebelumnya, dilindungi adalah pilihan, tapi melindungi orang yang kita sayangi adalah sebuah kewajiban. Apapun pilihanmu, kewajibanku adalah melindungimu."

Tepat saat suaminya menyelesaikan kalimatnya, Luna memeluk laki-laki itu dengan erat. "Terima kasih. Aku akan berjuang. Aku tidak akan menyerah," ucapnya dengan yakin.

Kurapika membalas pelukan tersebut dan mengusap punggung istrinya. "Bagus, tapi kau harus berjanji padaku," sahutnya. Luna mengangguk.

Pemimpin Suku Kuruta itu melanjutkan, "Pertama, kau harus menghentikan riset Dark Blood sampai anak kedua kita lahir. Kedua, kau dilarang menggunakan nen. Ketiga, kau harus memberitahukan hasil cek kesehatanmu setiap minggu meskipun hasilnya buruk. Aku tidak mau kau menyembunyikan apapun dariku. Dan, yang terakhir..." Pasangan suami istri itu saling menatap satu sama lain.

"...berjanjilah untuk tidak menyerah. Kembalilah padaku apapun yang terjadi." Kurapika mencium kening istrinya.

-oOo-

Tiga bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Kini, Kurapika lebih banyak meluangkan waktu bersama keluarganya. Ya, setelah ia mengetahui bahwa istrinya sedang hamil, pria itu memutuskan untuk segera memberitahukan hal tersebut pada orangtuanya.

Awalnya, Yutaka dan Sanae tidak menyetujui keputusan anak dan menantunya untuk mempertahankan calon anggota keluarga mereka yang baru. Ayah dan ibu Kurapika tak ingin nyawa menantunya berada dalam bahaya karena hal tersebut. Namun, melihat kesungguhan hati dan tekad pasangan itu, akhirnya mereka berdua pasrah dan menerima keputusan sulit yang sudah dibuat oleh putra putri mereka.

Yutaka menawarkan diri untuk membantu Kurapika mengurus urusan pemerintahan di Suku Kuruta agar putranya dapat meluangkan waktu lebih banyak bagi keluarganya. Sedangkan, Sanae membantu menantunya dengan mengurus cucu laki-lakinya. Sungguh menyenangkan bisa melihat keluarga kecil itu saling mendukung satu sama lain.

-oOo-

Di suatu pagi yang cerah, Kurapika, Luna dan Ryu melakukan kunjungan ke sebuah desa kecil di wilayah mereka. Sebenarnya, pemimpin Suku Kuruta itu bermaksud pergi seorang diri, namun karena anak dan istrinya memaksa untuk ikut. Akhirnya, pria berambut pirang itu tak punya pilihan lain dan dengan terpaksa menuruti keinginan pasangan ibu dan anak tersebut.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit dengan menggunakan mobil. Kurapika, Luna dan Ryu tiba di sebuah padang rumput hijau. Pemimpin Kuruta itu menghentikan laju mobilnya. "Kita sampai, ayo turun," ajaknya.

Ryu yang sedang duduk di pangkuan ibunya, memperhatikan keadaan sekelilingnya dari balik kaca mobil mereka, "Ayah, aku tidak melihat ada desa di sini."

"Tempat yang kita tuju ada di depan sana." Kurapika menunjuk hutan yang ada di seberang padang rumput yang terbentang luas di hadapan mereka. Ryu melihat ke arah yang ditunjuk ayahnya.

"Kita akan sampai di desa setelah melewati padang rumput dan hutan ini." Kurapika menjelaskan sambil mengelus kepala putranya. Ryu tersenyum pada ayahnya.

Luna memegang pundak putranya. "Nah, Sayang. Kau sudah siap?" Pertanyaan wanita itu membuat sang anak menoleh ke arahnya. Ryu menganggukkan kepalanya.

Setelah turun dari mobil, mereka bertiga pun berjalan beriringan melewati padang rumput itu. Ryu menggandeng tangan ayah dan ibunya. Melihat raut wajah putra mereka tampak bahagia, tanpa sadar Luna dan Kurapika menyunggingkan senyum di bibir mereka.

Tanpa terasa sudah hampir 10 menit, mereka bertiga berjalan kaki. Tiba-tiba dari kejauhan, keluarga kecil itu melihat beberapa orang berjalan dan menghampiri mereka dari arah yang berlawanan. Secara spontan, mereka bertiga menghentikan langkah kaki mereka.

"Ayah, siapa orang-orang itu?" tanya Ryu pada ayahnya yang saat ini berdiri di sampingnya. Kurapika mengamati orang-orang itu dari tempatnya yang sekarang.

"Mungkin mereka orang-orang dari desa yang akan kita kunjungi," Luna menatap suaminya. Namun, lawan bicaranya masih melihat sekumpulan orang itu sambil mengerutkan alisnya.

Kurapika melepaskan pegangan tangan putranya lalu maju selangkah dan menempatkan dirinya di depan anak dan istrinya untuk melindungi mereka. "Dark Feather," ucapnya pelan. Luna terkejut mendengar perkataan suaminya.

"Kalian harus segera pergi dari sini." Pria itu kembali berbicara sambil menyiapkan rantai nen di tangan kanannya. Sementara itu, anak buah Dark Feather semakin mendekat.

Meski dengan berat hati, Luna mengangguk dan menuruti anjuran suaminya, "Sayang, berhati-hatilah. Aku akan pergi mencari bantuan." Wanita itu menggendong putranya lalu berbalik arah dan mulai berjalan meninggalkan suaminya. Namun, secara tak terduga seseorang dengan wajah familiar berlari melesat ke arahnya lalu menghadang pasangan ibu dan anak itu.

"Raymond Wrest," gumam Luna pelan.

"Nyonya Kuruta, siapa sangka kita akan bertemu lagi di tempat ini?" ucap pria berambut ungu yang menghadang jalan mereka. "Syukurlah, cedera kakimu sudah sembuh. Aku turut senang melihatnya." Ia mengucap salam sambil berjalan mendekati Luna dan Ryu. Ibu muda itu melangkah mundur dan memeluk putranya lebih erat.

Menyadari istri dan anaknya dalam bahaya, Kurapika beranjak dari tempatnya dan melompat ke hadapan laki-laki anggota Dark Feather itu. Kurapika merentangkan tangan kirinya untuk melindungi istri dan anaknya yang kini ada di belakangnya. "Apa yang kau inginkan?" tanyanya tegas.

Ray menyeringai. Pemuda tampan itu menatap Kurapika dengan sorot matanya yang tajam. "Tenanglah, Tuan Kuruta. Kami kemari bukan untuk bertarung denganmu," sahutnya. Di saat yang sama, sepuluh orang anak buah Dark Feather lainnya mengepung pemimpin Kuruta itu dan keluarganya.

"Kemarilah, Nyonya Kuruta. Karena kau juga berada di sini, aku jadi ingin berbincang dan menawarkan sesuatu padamu." Ray mengulurkan tangannya ke arah Luna.

Luna tersenyum pada lawan bicaranya, "Maaf mengecewakanmu, Tuan. Tapi, tradisi suku kami melarang seorang istri meninggalkan suaminya dan pergi dengan pria lain. Oleh karena itu, silahkan sampaikan apa yang mau kau katakan padaku di sini."

"Kau cerdas, Nyonya. Tak heran suamimu sangat menyayangimu." Pemuda manis itu tertawa kecil sambil menarik kembali tangannya yang sempat terulur. "Ya, aku benci berbasa basi. Jadi langsung saja, kami tahu sebagai seorang Zirconian, kau pasti memiliki Dark Blood dalam tubuhmu, bukan? Karena itulah, kami membutuhkan bantuanmu untuk melanjutkan penelitian kami."

Luna menatap tajam Ray dengan mata coklatnya, "Pengaruh Dark Blood sudah dilenyapkan dariku. Jadi, aku tak bisa membantu kalian dalam hal ini," jawabnya tegas.

Ray tertawa, "Jangan membodohiku, Nyonya. Waktu kita bertemu di Zirconia Tribe, bukankah kau menggunakan nen untuk meloloskan diri? Jika kau bisa menggunakan nen, artinya pengaruh Dark Blood masih ada dalam tubuhmu." Ray terus mendesak Luna agar menuruti kemauannya. Luna menggigit bibirnya dan berusaha menahan emosinya.

"Ayah, Ibu..." Ryu berkata pelan lalu menatap ayah dan ibunya secara bergantian. Kurapika berbisik, "Aku akan membuka jalan dan menahan mereka. Luna, bawalah anak kita pergi sejauh mungkin dari sini."

"Aku mengerti," jawab Luna singkat.

Kurapika maju ke depan berhadapan dengan Ray. "Keluargaku tidak punya urusan dengan kalian. Jadi, jangan libatkan mereka." Laki-laki itu mengeluarkan rantai yang berada di jari telunjuknya. Dengan kemampuan nennya, ia memanjangkan rantai tersebut dan membentuknya menjadi sebuah tanto[1].

Ya, inilah keistimewaan rantai nen yang berada di jari telunjuk Kurapika. Bentuk dan ukuran benda tersebut dapat berubah sesuai dengan keinginan penggunanya, misalnya seperti pedang, busur dan panah atau senjata lainnya. Senjata itu memang dibuat khusus oleh Kurapika untuk menghadapi lawan-lawannya yang bukan anggota Genei Ryodan.

Kurapika menyilangkan tanto itu di depan dadanya. Ray tersenyum melihat pria yang ada di depannya bersiap untuk bertarung. "Ckckck, Tuan Kuruta sebenarnya aku tak punya waktu untuk hal ini. Aku hanya diberi tugas untuk membawa istrimu, tapi..." Pria itu menarik nafas dan mengambil sebuah pemantik dari balik saku jasnya.

"...karena kau tidak mengijinkan Nyonyamu pergi, aku terpaksa harus membunuhmu di sini," lanjut Ray dengan nada bersemangat. Pemuda itu menyalakan pemantik apinya. Ia memejamkan matanya dan berusaha fokus untuk mengeluarkan nen dari tubuhnya. Ketika ia menggunakan kemampuan nennya, pendaran aura berwarna hitam pun muncul dari tubuhnya. Tangan kiri Ray menyentuh api yang keluar dari pemantik tersebut dengan ujung jari telunjuknya. Dan, api pun dengan cepat menjalar ke seluruh tangan kiri pria itu.

Tanpa menunggu lebih lama, Kurapika berlari menerjang Ray. Melihat lawannya mendekat, Ray mengangkat tangannya yang diselimuti api itu lalu mengarahkannya pada Kurapika. Sebuah bola api keluar dari telapak tangan Ray dan meluncur dengan cepat ke arah Kurapika. Tampaknya pria berambut pirang itu tak dapat mengelak dari serangan mendadak tersebut.

Blaar!

Bola api itu meledak tepat di depan Kurapika. Seketika padang rumput hijau yang menjadi tempat perkelahian mereka dipenuhi dengan kepulan debu dan asap. Hawa panas menyeruak dan terasa sangat menyesakkan dada. Luna berlutut dan mendekap putranya untuk melindungi anak laki-laki itu.

Setelah kepulan asap mulai menipis, Luna menoleh ke arah suaminya. Ia terlihat khawatir dan gelisah begitu mengetahui laki-laki yang disayanginya dihantam dengan kekuatan dahsyat. Apalagi di saat yang sama, ia menyadari bahwa suaminya menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya.

"Ayah!" Ryu berteriak memanggil Kurapika. Anak itu berusaha melepaskan diri dari dekapan ibunya. Ia hendak berlari ke arah ayahnya, namun Luna menarik tangan bocah laki-laki itu.

Ray tertawa, ia berpikir bahwa tembakannya tepat mengenai sasaran. Dengan menghilangnya Kurapika dari hadapannya, pemuda itu mengira Kurapika pasti telah tewas dengan tubuh yang hancur tak bersisa. "Mudah sekali. Inikah kemampuan sebenarnya dari seorang pemimpin Suku Kuruta? Orang yang telah menghancurkan rencana Dark Feather di Konpeito Island delapan tahun lalu? Hahaha!"

"Tertawalah semaumu." Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari atas Ray. Pemuda itu menengadahkan kepalanya ke atas dan di saat yang sama ia terkejut saat melihat Kurapika tengah terjun ke arahnya dan berusaha menebas tubuhnya dengan tanto andalannya.

Secara reflek, Ray berlutut dan menempatkan tangan kirinya di atas kepalanya. Pemuda itu berhasil menangkap pedang Kurapika yang berusaha membelah tubuhnya. "Apa?!" Kurapika terkejut saat melihat Ray dapat menahan serangannya.

Ray menahan tebasan pedang Kurapika dengan perisai nen yang terbuat dari api di tangan kirinya. "Rupanya kau berhasil selamat, Tuan Kuruta? Bagus sekali. Tapi itu takkan lama!" serunya sambil menatap tajam Kurapika yang saat ini ada di hadapannya.

Pemuda anggota Dark Feather itu perlahan bangkit dan berdiri, ia masih mencengkeram tanto Kurapika dengan tangan kirinya. Menyadari hal tersebut, dengan cepat Kurapika kembali mengubah kembali pedangnya ke wujudnya yang semula, menjadi sebuah rantai nen. Setelah senjata itu kembali berubah menjadi rantai nen, ia membelit tangan kiri Ray dengan benda tersebut.

Ray yang panik berusaha mendaratkan pukulan ke wajah Kurapika dengan tangan kanannya. Namun seakan bisa memperkirakan serangan itu, pria berambut pirang tersebut dapat menangkap tinju Ray dengan rantainya di saat yang tepat. Tanpa membuang waktu, Kurapika mengikat tangan Ray sehingga pemuda itu tak dapat bergerak.

Melihat lawan suaminya dalam posisi terkunci, Luna tahu bahwa ini adalah saat yang tepat baginya untuk pergi membawa Ryu menjauh dari tempat itu. Dari kejauhan, wanita itu dapat melihat suaminya menganggukkan kepala dan memberinya sebuah isyarat. Luna berdiri dan menggendong putranya lalu segera berlari meninggalkan tempat itu menuju hutan yang ada di depan mereka. "Setelah melewati hutan ini, aku bisa meminta pertolongan pada warga desa," batinnya.

Ray panik melihat Luna berusaha melarikan diri. "Sial! Apa yang kalian lakukan?! Cepat kejar wanita itu!" Ray yang sedang dalam posisi terkunci berteriak dan memberi perintah pada kesepuluh anak buahnya. Setelah mendapatkan perintah dari atasannya, anak buah Ray bergegas mengejar Luna dan Ryu ke arah hutan.

- Chapter XI End -

[1] Pedang ganda ini menjadi senjata Kurapika saat ia menempuh ujian Hunter. Bagi yang belum tahu, deskripsi dari tanto adalah senjata yang terdiri atas dua pedang dengan ukuran dan bentuk identik dan keduanya terhubung oleh seutas tali.