Title: Naughty Boy, Spoiled Boy
Author: att jennyluvera
Disclaimer: Siwon dan Heechul adalah pasangan paling sempurna.
Backsongs: Tata Young – Sexy, Naughty, Bitchy; Super Junior – Boom-Boom; B2ST – Bad Girl
Warnings: Typo(s), OOC, YAOI, MPREG, etc.
A/n: Kayaknya udah ga ada NC. Berbahagialah, readers alim~
.
.
.
.
.
Naughty Boy, Spoiled Boy, Chapter 14
…Siwon menaruh sikunya di paha sambil menopang dagunya dengan bibir manyun. 'Kayak badut gimana? Badut kan busung lapar(?), kalau Chullie Hyung kan perutnya cuma agak membesar, SEDIKIT!'
Ryeowook menautkan alisnya. "Hamil kok nggak enak, sih?" ungkapnya setelah mengerti.
"Enak kalau sudah lulus sekolah," ucap Yesung asal. Jika dia mengiyakan, bisa-bisa Ryeowook tidak mau hamil selamanya.
"Oh.. gitu, ya.." gumam Ryeowook mengerti sambil mengangguk-anggukkan kepalanya…
.
.
.
.
.
Naughty Boy, Spoiled Boy, Chapter 14
Tuan Kim memandang dalam-dalam kedua bola mata yang sewarna dengan matanya. Dengusan tawa keluar dari bibirnya yang menghitam.
Heechul memiringkan kepalanya pertanda bingung. "Ada yang salah, Appa?" tanyanya.
Tuan Kim menggeleng. Ia tersenyum lembut sambil mengusap rambut hitam Heechul yang semakin memanjang. "Appa hanya belum bisa percaya bahwa kau sudah kembali, Heenim."
Heechul ikut tersenyum. Dipeluknya tubuh ayahnya dan menghirup wangi ayahnya yang telah lama tak hinggap di indera penciumannya. "See? Aku benar-benar kembali."
Tuan Kim kembali tersenyum. Diusapnya lembut punggung Heechul. "Maafkan Appa.." desahnya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Appa. Masa lalu biarlah pergi. Yang terpenting saat ini, adalah masa sekarang. Aku dan Appa, ne?"
"Hm.." gumam Tuan Kim. Ia memejamkan matanya. Menikmati desir angin pagi di taman rumah sakit. Tubuhnya yang drop langsung terasa ringan sejak ia melihat putranya. Sakit rindunya telah terobati.
"Bersatulah dengan Hangeng, Appa tidak akan melarangmu lagi. Appa ingin kau bahagia. Appa.. Appa benar-benar menyesal telah memaksamu dulu," ujar Tuan Kim.
Heechul mendongak dengan wajah terkejut. "Appa—"
"Hiduplah bahagia dengan anak kalian, Appa akan selalu mendukung kalian," sambung Tuan Kim.
Heechul menggeleng keras. "Appa, aku tidak—"
"Oh, ya... Bagaimana kabar anak kalian, Heenim? Umurnya sekarang sudah lima tahun, ya? Kenapa kau tidak membawanya kemari juga?" tanya Tuan Kim antusias.
"Appa, cukup!" seru Heechul. Secara refleks ia melepaskan pelukannya.
Tuan Kim terlihat kaget dengan sikap putranya. "Waeyo, Heenim?"
"Aku sudah bilang untuk melupakan masa lalu, Appa. Dan itu juga berlaku untuk hubunganku dan Hankyung! Kami tidak akan bersama dan kami tidak memiliki anak!"
Tuan Kim tercekat. "Ta—tapi.."
Heechul menunduk sambil menghela napas, mencoba mengatur emosinya yang hampir meluap. "Hari dimana aku kabur, adalah hari dimana aku keguguran, Appa.." Ia mengangkat kepalanya dan menatap ayahnya yang membelalakkan mata. "Dan jangan tanyakan mengapa hal itu bisa terjadi. Aku tidak mau mengingatnya," sambungnya saat bibir sang ayah akan bergerak untuk bertanya. 'Aku tidak ingin Appa menyakiti Yunho. Dia tetap sahabatku, Appa.'
"Begitukah?" lirih Tuan Kim parau. Ia begitu menyesal pernah memaksa Heechul menggugurkan kandungannya. Saat ia telah menginginkannya, ia harus menelan kenyataan pahit bahwa cucunya benar-benar mati, bahkan sebelum sempat terlahir ke dunia. Tuan Kim tersenyum getir, "Dosa Appa benar-benar besar, eoh?" ucapnya yang lebih ia tujukan pada dirinya sendiri.
Heechul menggelengkan kepalanya. "Tidak, Appa... Tidak begitu.." Ia kembali memeluk Tuan Kim, lebih erat dari sebelumnya. "Mungkin karena aku tidak menjadi anak yang berbakti pada Appa, sehingga aku selalu mendapat kesialan. Mulai sekarang, aku akan jadi anak Appa yang baik. Aku akan mematuhi seluruh permintaan Appa, termasuk menikah dengan Choi Siwon."
Tuan Kim meremas bahu Heechul dan merenggangkan pelukannya. "Heenim, Appa tidak mau memaksamu, Sayang. Semuanya sudah berakhir, kau bebas—" ucapannya terputus saat Heechul menaruh jari telunjuknya di bibir Tuan Kim.
"Aku mencintainya, Appa. Choi Siwon, namja pilihan Appa," ucap Heechul sungguh-sungguh.
Tuan Kim menatap bingung putranya. "Bisa kau jelaskan apa maksud dari semua ini?"
Heechul tersenyum ceria. "Ini akan jadi cerita yang sangaaaaat panjang. Jangan sampai Appa tertidur, ya!" ancamnya.
Tuan Kim tersenyum hangat. "Appa bisa menjanjikannya."
.
.
.
.
.
Diam-diam, tanpa mereka sadari, ada seorang pria berdarah China yang mendengarkan percakapan mereka dengan hati teriris. Ia menyandarkan bahu kirinya di dinding yang gelap sehingga tak ada yang mengetahui keberadaannya. Pemuda itu meremas dada kirinya yang terasa perih. "Sudah berakhir… Rasa itu telah musnah dan tak berbekas di hatimu, ya, Heenim?" bisiknya parau.
.
.
.
.
.
"Uhh… Angghh… Sudah, Hae… Aku capek… Nghh…" Mata Eunhyuk terlihat sayu, hampir terpejam karena lelah dan nikmat yang mendera. Tubuh basahnya menggeliat tak nyaman karena terus-terusan terhentak setiap Donghae menggenjot rectumnya.
Donghae menaikkan kaki kanan Eunhyuk ke pinggiran bak wastafel dan kembali mengin-outkan penisnya ke dalam lubang surga Eunhyuk. "Tapi aku belum lelah, Hyukkie~" elaknya. Sodokannya semakin cepat dan beringas, entah sudah berapa kali ia menanamkan benihnya ke dalam tubuh sang uke pagi ini.
"AHH!" Eunhyuk meremas kuat pinggiran wastafel saat Donghae menumbuk prostatnya. Kini ia hanya bisa pasrah menerima siksaan kenikmatan yang diberikan oleh Donghae padanya. Ia tidak peduli meski ia bisa pingsan jika begini terus. Toh, dia tidak pernah bisa menghentikan Donghae jika begini.
Masih segar dalam ingatannya bahwa sebelumnya yang ia lakukan hanya meminum pil KB, lalu tidur pulas. Hingga beberapa puluh menit setelah itu, ia merasakan tubuhnya yang panas dan haus belaian. Tanpa sadar tangannya bergerak sendiri masuk ke dalam celananya dan meremas-remas penisnya dengan mata masih terpejam. Membuat mimpinya sendiri yang menyertakan Donghae di dalamnya. Ia benar-benar membutuhkan sentuhan sang seme.
Sampai tiba-tiba ada tangan lain yang membantunya meremas penisnya. Tangan yang sudah sangat dihapalnya, siapa lagi kalau bukan Donghae? Sontak ia membuka matanya, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah Donghae yang menyeringai kearahnya. Hingga kemudian dia 'diseret' ke kamar mandi dan melakukan kegiatan rutinnya dengan Donghae tanpa kenal waktu.
"Ahh! Uhh! Nggghhh… Ha—Hae… Akkkhuuh… Aaaaaaaaaaahhhhh!" Penis Eunhyuk menyemprotkan sarinya dan mengotori cermin di depannya serta bak wastafel. Disusul dengan Donghae yang memenuhi rectumnya dengan cairan yang sama.
Donghae mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ia menatap Eunhyuk dari balik cermin. Dikecupnya singkat pipi Eunhyuk dari belakang kemudian mengusap perut bagian bawah Eunhyuk yang sedikit menggembung. "Welcome to the world, Baby Fishy~"
Eunhyuk mengerang. Kini ia sadar mengapa setiap ia meminum pil KBnya, ia selalu ingin dijamah oleh Donghae. Ikan Mokpo itu telah mengganti pil KBnya dengan obat perangsang. Cerdas sekali! Ia baru saja menerima ijasah SMA, tapi sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya sedang hamil. What the fuck!
Setidaknya, Donghae bahagia dengan kehamilannya. Ia menampik semua keraguan Eunhyuk tentang dirinya yang enggan menjadi ayah di usia dini. Betapa Eunhyuk mencintai Ikan Mesum itu.
.
.
.
.
.
"Hey, aku mencarimu kemana-mana, Hyung. Ternyata kau disini." Siwon menepuk lembut bahu Hangeng.
Hangeng tersentak. "Si—Siwon.."
"Kau melihat apa?" tanya Siwon. Belum sempat Hangeng menjawab, Siwon sudah mengikuti arah pandangan Hangeng. Untuk sesaat Siwon terdiam. "Chullie Hyung.."
"Itu Appanya Heenim," ucap Hangeng. "Calon mertuamu," sambungnya. Meski suaranya terdengar datar, ia tetap tak bisa menyembunyikan nada sumbang dalam ucapannya.
Siwon mengangguk maklum. "Maaf, aku merebutnya darimu," lirihnya.
"Kau ini bicara apa, sih?" Hangeng tertawa geli dengan wajah kusut. Dia tidak berbakat menyembunyikan perasaannya. Didorongnya pelan punggung Siwon. "Sana temui calon appamu!"
Siwon mengikuti sandiwara yang dibangun kakaknya. Ia tertawa hambar dan menarik tangan Hangeng. "Ayo temui bersama!"
Hangeng mencibir. "Bilang saja kau takut!"
"Ya, aku takut," sahut Siwon cuek. Ditatapnya lembut mata sang kakak yang penuh gurat kesedihan. "Karena itu, bantu aku menghadapinya.." sambungnya. Namun menurut Hangeng, Siwon seakan sedang berkata, 'Aku akan membantumu menghadapi semua ini. Aku tidak akan memaksamu untuk melupakan cintamu pada Chullie Hyung. Lakukan dengan perlahan agar tidak terlalu sakit. Aku disampingmu, Hyung..'
Hangeng menunduk, menjilat bibirnya yang mengering dan tersenyum simpul. "Akan kulakukan," jawabnya. Entah untuk kalimat yang mana.
Inikah sakitnya jika kita mencintai orang yang sama seperti yang dicintai oleh saudara kita? Semuanya akan terasa lebih mudah jika kita saling bersaing untuk mendapatkannya. Namun semuanya akan menjadi sesak dan perih ketika tak ada satupun yang memerankan peran antagonis dalam hubungan ini. Keduanya tetap saling menyayangi walau mereka mencintai orang yang sama.
Dan Hangeng bukannya mau mengalah. Namun ia memang sudah kalah. Memperjuangkan orang yang kita cintai tak akan pernah membuahkan hasil jika orang yang kita cintai ternyata sudah berhenti mencintai kita.
.
.
.
.
.
Hari demi hari berlalu dengan indah. Satu per satu masalah terselesaikan dengan sendirinya. Kecanggungan diantara Hangeng dan Heechul yang mulai mencair, sikap Nyonya Choi yang berbalik begitu menyayangi Heechul lebih dari anak-anaknya sendiri—yang menimbulkan kecemburuan akut di diri Siwon, rencana pernikahan Siwon dan Heechul yang ada di depan mata, juga ketegangan antara Yunho dan Heechul yang mulai mereda semenjak mereka bertemu di Butik Bridal untuk memesan sepasang baju pengantin. Kebetulan saat itu Yunho dan Jaejoong—kekasihnya tengah mengambil pesanan baju pengantin mereka.
Secara perlahan Heechul mulai memaafkan Yunho yang tak henti-hentinya mengemis ampunan darinya. Hanya perlu waktu untuk menjadi sahabat yang dekat kembali seperti dulu.
Donghae dan Eunhyuk yang juga akan segera menikah setelah pernikahan Siwon dan Heechul yang dilaksanakan. Siapa sangka Nyonya Lee begitu penuh kasih dan tidak membeda-bedakan orang berdasarkan derajat. Mengetahui Eunhyuk hamil diluar nikah gara-gara putranya, Nyonya Lee dengan tega menghajar Donghae tanpa ampun dan beralih memanjakan Eunhyuk. Kehidupan Eunhyuk berubah drastis, dari pelayan menjadi seorang 'putri'.
Alhasil, Ryeowook kembali merengek pada Hyung tercintanya. Kali ini tidak hanya merengek untuk dihamili, namun juga merengek untuk dinikahi. Ck, bocah itu selalu merepotkan Yesung dengan segala tindak-tanduknya yang polos. Namun Yesung menyukainya—sangat mencintainya.
Hidup tak akan sesulit yang dibayangkan saat kita menghadapinya dengan kepala dingin dan tanpa dendam.
.
.
.
.
.
Siwon berjalan dengan semangat ke taman pohon pinus di halaman belakang Manor Choi bersama segelas susu di tangannya. Susu pertama yang dibuatnya dengan tangannya sendiri selama 18 tahun kehidupannya. Berlebihan? Sayangnya itu kenyataan. Dia punya banyak pelayan, mana bisa membuat susu sendiri? Salah.. harusnya, untuk apa membuat susu sendiri?!
Beruntung dia memiliki ibu tiri yang bisa mengajarinya cara membuat susu. Jadi, susunya aman untuk dikonsumsi. Ia menatap susu ditangannya dengan senyuman mengembang, lalu kembali melangkah.
DEG
Ia seakan kehilangan pijakan di kakinya. Tenggelem ke dasar bumi yang paling dalam. Senyumannya memudar.
Selayaknya lebah menyengat dadanya. Ia meringis pedih. Matanya menatap kosong pada Hangeng yang mengecup dahi Heechul… penuh cinta…
Dan Heechul terlihat menikmatinya sambil tersenyum hangat dan memejamkan matanya.
Siwon tahu mereka pernah saling mencintai. Siwon pun juga tahu bahwa perasaan Hangeng belum berubah. Mungkin rasanya tidak akan sesakit ini jika Heechul tidak dengan pasrah menerima ciuman Hangeng.
Hatinya remuk. Ini hanya sebuah kecupan, hanya di dahi. Namun kenapa sehancur ini rasanya?
Hangeng merengkuh tubuh Heechul ke dalam dekapan hangatnya. Menyesap aroma coklat putih yang meleleh dari tubuhnya. "Aku mencintaimu, Heenim.."
"Aku tahu.." balas Heechul.
Siwon memejamkan matanya dan menahan nafasnya. Tanpa disadarinya genggamannya pada gelas ditangannya berubah menjadi cengkeraman kuat dan—KRAAKK… gelas kaca itu retak, disusul dengan suara pecahannya yang menjadi hancur berkeping-keping tak lama setelah itu.
Hangeng dan Heechul langsung melepaskan pelukan mereka karena terkejut. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Siwon yang juga terkejut melihat gelas hancur di tangannya.
"Wo—Wonnie.." panggil Heechul dengan nafas tercekik.
Siwon mendongak, masih tak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya pada dirinya sendiri sampai tak menyadari tangannya yang bersimbah darah karena tertusuk beling. "La—lanjutkan saja percakapan kalian. Ak—aku akan mengambil susu yang baru," ucapnya kaku.
Pemuda bertubuh atletis itu berbalik dan melangkah pergi.
"Wonnie!" Heechul menaikkan suaranya. 'Bocah itu… Kenapa selalu salah paham, sih?', batinnya frustasi. Ia segera mengejar Siwon tanpa menghiraukan Hangeng yang masih terdiam di tempatnya.
.
.
.
.
.
Heechul membuka pintu kamarnya—dan Siwon dengan sedikit kesusahan karena tangan kanannya membawa sebaskom air hangat dan tangan kirinya membawa kotak P3K.
Matanya tertuju pada Siwon yang duduk bersandar di kepala ranjang sambil memalingkan muka. Memandang langit jingga pertanda matahari kembali ke peraduannya.
Heechul berjalan mendekat dan merambat naik ke tempat tidur. Menaruh barang-barang yang dibawanya di atas tempat tidur, lalu meraih tangan Siwon. Siwon menoleh sebentar padanya, memandangnya datar kemudian kembali menyibukkan diri dengan menatap matahari tenggelam.
Heechul tak berniat untuk bicara apapun padahal Siwon ingin sekali mendengar penjelasan dari calon istrinya mengapa dia mau-mau saja dicium oleh kakaknya. Apa Heechul tak merasa bersalah padanya? Menyebalkan!
Heechul mencabut pecahan kaca yang menembus tangan Siwon dengan pinset. Pelan-pelan dan hati-hati agar kekasihnya tidak merasa sakit. Namun sepertinya tubuh Siwon sudah kebas. Pemuda itu sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun termasuk kesakitan. Apa benar dia adalah Choi Siwon si anak manja yang dicintainya? Mana rengekannya?
Setelah yakin semua pecahan telah tercabut, Heechul segera membasuh tangan Siwon dengan air hangat yang ia siapkan di dalam baskom. Air bening itu langsung berubah warna menjadi merah darah.
Kemudian Heechul mengeringkan tangan Siwon dengan handuk berbahan lembut dan mengobati tangan Siwon dengan alkohol. "Sakit?" tanyanya sambil menekankan kapas yang basah oleh alkohol ke luka Siwon.
"Sakit," jawab Siwon singkat.
Heechul terkekeh pelan. "Kenapa tidak menangis?" tanyanya lagi. Ia membalut luka Siwon dengan kasa, lalu membereskan peralatannya.
"Apa harus?" tanya Siwon balik. Ia mengalihkan pandangannya pada Heechul.
Heechul dapat melihat amarah yang tertahan dalam tatapan datar Siwon. Ia tersenyum dan meletakkan tangannya di dada Siwon. "Untuk apa menahannya di hati? Nanti hatimu jadi berat dan terasa sesak. Ungkapkanlah, dan kau akan merasa lega."
"Sudah selesai bicaranya dengan Hangeng Hyung?" tanya Siwon. Terdengar nada sindiran dalam ucapannya.
Heechul tertawa pelan. Ia kecup pipi kanan Siwon. "Ini baru Wonnie-ku yang posesif, protektif dan pecemburu~"
Siwon membuang muka. "Cih.. aku tidak seperti itu!" sangkalnya.
Heechul menggeleng maklum melihat Siwon yang menjaga gengsinya. Ia semakin mendekat dan duduk di antara kaki Siwon. Menyandarkan punggungnya di dada bidang Siwon. Heechul menuntun tangan Siwon dan meletakkannya di perutnya, rahimnya. Sudah tiga bulan… janinnya pasti sudah mulai membentuk menjadi bayi walau baru sedikit.
Amarah dan kecemburuan di dada Siwon menguap entah kemana saat tangannya bersentuhan dengan bayinya. Tepat pada perut Heechul yang mengeras karena ada 'benda' yang hidup di sana. Bukti nyata dari hatinya dan hati Heechul yang menyatu. Tangannya bergerak dengan sendirinya untuk membelai perut Heechul. Menyapa bayi mereka.
"Boleh aku bertanya beberapa hal?" ijin Heechul.
Siwon mengangguk sambil menghirup wangi di tengkuk Heechul.
"Pilih mana? Siwon milik Heechul atau Heechul milik Siwon?" tanya Heechul.
"Kau milikku, Choi Heechul," ucap Siwon tegas.
"Aku masih Kim Heechul, Babo!" Heechul nyengir. "Bagaimana jika aku lebih memilih Hankyung daripada kau?"
"Aku akan sangat marah dan membenci kalian sampai mati," jawab Siwon ketus.
"Terakhir, bagaimana jika aku mati?" tanya Heechul lagi.
"Aku akan terpuruk, menangisimu setiap hari, lalu bunuh diri. Persetan dengan agamaku," sahut Siwon tanpa berpikir panjang. Ia benar-benar menjawab sesuai dengan apa yang dikatakan hatinya.
Heechul tersenyum puas. "Seperti yang kuduga."
Siwon mengerutkan dahinya. "Hm?"
"Aku memberikan pertanyaan yang sama pada Hankyung. Dan jawabannya berbanding terbalik dengan jawabanmu."
"Eh?"
"Dia lebih memilih Hangeng milik Heechul. Dia ingin aku memilikinya, bukan dimiliki olehnya. Jika aku lebih memilihmu, dia akan mengikhlaskannya asal aku bahagia. Dan jika aku mati, dia akan mencoba merelakanku dan mengenangku selamanya di lubuk hatinya."
"Jawabannya bagus, kenapa kau tidak memilih bersamanya saja?" sinis Siwon.
"Karena aku mencintaimu. Aku cinta pria yang memiliki hati normal, bukan manusia sempurna menyaingi kebaikan malaikat. Punya ambisi untuk memilikiku, punya rasa marah tak terkontrol jika aku menjadi milik orang lain dan menyusulku ke akhirat jika aku mati. Aku suka pria yang bersikap sewajarnya," ucap Heechul panjang lebar. "Aku pun mengatakan ini pada Hankyung. Dia bisa mengerti dan melepasku. Ciuman itu hanya untuk perpisahan. Cintanya yang penuh akan dikubur."
Senyum manis terpatri di bibir Siwon. Tidak salah kan kalau dia merasa senang dan bangga? Tidak perlu menjadi malaikat baik hati untuk mendapatkan cinta Heechul. Cukup jadi dirimu sendiri, yang bisa dikuasai oleh keegoisan dan kemarahan. "Saranghae, Chullie Hyung~"
"Na do saranghae, Wonnie~"
.
.
.
.
.
"Chullie Hyung cantik," puji Ryeowook sambil menatap kagum namja cantik di hadapannya.
Pipi Heechul bersemu merah. "Go—gomawo.." bisiknya. Ia menatap cermin setinggi tubuhnya. Memperlihatkan seorang 'wanita' cantik yang sedang dibantu Nyonya Choi untuk mengenakan gaun pengantin putih gading di tubuhnya. Wajahnya dipoles dengan make up natural. Pipi yang mendapat sentuhan blush on merah muda, kelopak mata yang kini berwarna keunguan, bulu mata lentik dan bibir tipis yang merah merona. Rambut hitamnya disanggul keatas dan tenggelam dalam tudung putih berenda. Tangannya dibungkus oleh sarung tangan putih mencapai siku. Dengan gaun yang panjang menjuntai melewati tumit.
Cantik…
Siapa sangka dia adalah seorang namja?
Namjanya Choi Siwon…
Nama Siwon membuat wajahnya merah padam karena malu. Bagaimana pendapat kekasihnya itu saat melihatnya? Apa dia akan suka?
Semoga saja…
"Akkkhhh!" Heechul memekik sakit sambil memegang perutnya.
"Chullie/Chullie Hyung!" pekik Nyonya Choi, Ryeowook dan Eunhyuk bersamaan. "Perutmu sesak, ya?" tanya Nyonya Choi khawatir. Wanita paruh baya itu sedang menaikkan resleting gaun Heechul, namun sepertinya perut Heechul yang mulai membesar tidak muat di gaun itu.
Heechul tersenyum dipaksakan. "Gwe-gwenchana, Mommy."
"Saat memesannya masih muat, mungkin karena janinmu yang terus tumbuh, eoh? Apa perlu Mommy carikan gaun yang lain?" ujar Nyonya Choi.
"Tidak usah, Mommy. Waktunya tidak akan sempat, toh hanya satu hari, tidak akan apa-apa," ucap Heechul menenangkan.
"Kau yakin?" Nyonya Choi masih terlihat khawatir.
"N—ne.." sahut Heechul. Ia membelai perutnya, seakan berkata pada bayinya untuk tetap bersikap baik. Namun pikirannya melayang pada Siwon. Tiba-tiba ia merasa tidak tenang.
'Apa yang terjadi, Wonnie?'
"Umm… Mommy, Siwon dimana?" tanya Heechul.
"Oh, dia sudah berangkat ke Gereja sejak pagi tadi. Mungkin dia sudah tidak sabar menikahimu," jawab Nyonya Choi sambil bergurau.
"Sendiri?" Entah kenapa Heechul merasa semakin cemas.
"Ya, dia tidak mau ditemani siapapun."
DEG
Heechul meremas dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang. 'Tenang, Heechul. Tidak akan terjadi apa-apa..'
.
.
.
.
.
Heechul berjalan dengan sedikit kaku. Ia bukannya tidak pandai memakai higheels, hanya saja dia merasa gugup. Tuan Kim menggenggam jemarinya dengan kuat dan hangat. Menuntunnya di altar. Tudung renda transparan menutupi wajahnya. Gaunnya yang panjang menjuntai terseret di belakang tubuhnya. Tangannya yang tidak digenggam Tuan Kim menggenggam sebuket bunga krisan putih dengan mahkota kekuningan ditengahnya.
Matanya memandang lurus Siwon yang menunggunya di ujung altar. Pemuda itu tampak tampan dengan jas dan celana panjang hitam serta kemeja putih, juga dasi kupu-kupu hitam di kerah kemejanya. Heechul tidak tahu matanya yang bermasalah atau memang benar Siwon terlihat sangat pucat.
'Mungkin Siwon gugup.' Heechul mencoba berpikir jernih.
Tuan Kim menyerahkan putra semata wayangnya pada Siwon sambil berbisik, "Jaga dia untukku, Siwon!" Siwon pun mengangguk.
Tuan Kim melepaskan tangan Heechul, tangan namja putih susu itupun berpindah ke genggaman Siwon.
Heechul tersentak saat merasakan tangan Siwon yang sedingin mayat. Ia terkekeh dipaksakan. "Gugup, eoh?" tebaknya asal. Diliriknya Siwon yang berkeringat dingin.
Siwon mengulum senyum yang terkesan dipaksakan. "Hmm.." sahutnya singkat.
Pengucapan ikrar pernikahanpun tiba. Pendeta dihadapan sepasang kekasih itu mulai berucap, "Choi Siwon, bersediakah kau menerima Kim Heechul sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, hingga kematian memisahkan kalian?"
"Aku bersedia," jawab Siwon.
Heechul mengerutkan keningnya. Suara Siwon tersendat dan terdengar seperti menahan kesakitan. Atau hanya perasaannya saja yang kelewat cemas?
"Kim Heechul, bersediakah kau menerima Choi Siwon sebagai pendamping hidupmu dalam suka dan duka, sakit maupun sehat, miskin ataupun kaya, hingga kematian memisahkan kalian?" tanya Pendeta lagi, kini pada Heechul.
Heechul menatap Siwon dalam-dalam. Kemudian, seakan terhipnotis, ia mengangguk mantap. "Ya, aku bersedia."
"Sekarang kalian boleh mencium pasangan kalian masing-masing."
Siwon dan Heechul berbalik ke samping, saling berhadapan. Heechul dapat merasakan tangan Siwon yang bergetar membuka tudung kepalanya. Pemuda tampan itu menarik pinggulnya mendekat. Lalu, Heechul memejamkan matanya saat sebuah kecupan lembut dari bibir pucat Siwon mendarat di bibirnya.
Bibir itu terasa sedingin es, namun cinta Siwon yang panas mencairkan es itu. Heechul menikmati tautan bibir mereka, ia memberikan lumatan-lumatan kecil di bibir Siwon. Namun tidak seperti biasanya, Siwon tidak agresif. Ia bersikap sangat pasif—tanpa tenaga.
BRUK
Heechul mematung saat pagutan mereka terlepas dan tangan Siwon di pinggulnya pun lenyap. Diikuti oleh teriakan-teriakan kaget para tamu undangan. Ia mendengar langkah orang-orang yang berlari kearahnya—kearah Siwon.
Heechul membuka matanya perlahan dan melihat suaminya tergeletak tak berdaya di lantai. Tubuh Heechul terguncang dan ia tak bisa melakukan apa-apa kecuali menjatuhkan lututnya sampai mencium lantai dan menangkup pipi Siwon. "Wo—Wonnie.."
Siwon tersenyum perih. Ia menggerakkan bibirnya tanpa suara, "I'm okay.."
Heechul menggeleng. Tak bisa mempercayainya. Dilihatnya Siwon yang hampir menutup matanya. "Wonnie, katakan padaku! Kau kenapa? Mana yang sakit?!" serunya panik.
Siwon menaikkan tangannya, meraih pipi Heechul dan mengelusnya. "Ja…ngan mena…ngis.."
"Jawab pertanyaanku, Choi Siwon!" teriak Heechul. Ia mengguncang tubuh Siwon. Meremas kemeja Siwon tepat di perutnya dan matanya langsung membulat kosong.
Basah…
Heechul menggerakkan wajahnya tepat ke perut kiri Siwon. Membuka paksa kancing jasnya. Dan nafasnya langsung tercekik seketika.
Darah…
Penuh darah…
Pantas saja wajahnya pucat.
Pantas saja tangannya sedingin mayat.
Pantas saja keringatnya bercucuran.
Dan pantas saja suaranya terdengar seperti orang yang tersiksa.
Tubuh Siwon dikerumuni oleh anggota keluarganya dan para tamu undangan. Nyonya Choi menangis histeris dan Eunhyuk serta Ryeowook mencoba menenangkannya walau dua namja manis itu juga tak kalah panik.
Tuan Choi terlihat syok berat dan Tuan Kim mencoba menguatkannya. Pak Kim—ayah Yesung terdengar memaki-maki sambil menelepon. Ia terlihat kalut karena ambulans tidak segera datang. Sementara Yesung memangku kepala Siwon dan Donghae berlutut di samping Heechul, memeluk kaki Siwon sambil menangis. Hangeng ada di samping kiri Siwon, tepat dihadapan Heechul.
Siwon meremas tangan Hangeng. "Hyung…"
"Ne, Siwon?" sahut Hangeng dengan suara bergetar.
"Ak…ku akan b—baik-baik sa…ja, 'kan?" bisik Siwon terbata.
Hangeng mengangguk. "Ne, kau tidak akan apa-apa. Kau akan sembuh, Siwon. Pasti sembuh," jawabnya.
"Awas kalau k—kau mengambil Chullie Hyung da…riku! Kau tidak b—boleh mengambilnya, yahh…?" Siwon memamerkan deretan giginya, meringis kearah sang kakak meski matanya sudah basah.
"Aku—SIWON!" Belum sempat Hangeng menyelesaikan ucapannya, dunia Siwon telah berubah gelap.
Heechul menggeleng kuat. Tangisannya pecah seketika. "ANDWAE! WONNIE BANGUN! WONNIIIIEEEEEEEEEEEEE!"
.
.
.
.
.
END
.
.
.
.
.
A/N: Jangan gebukin saia karena ngebunuh Siwon. Saia cinta Angst dan Character Death. Well, yang udah kenal saia sejak lama pasti tahu saia doyan bunuh orang. Hahahaha~ jangan adili saia! Penjarakan saja orang yang nusuk Siwon #digorokYoonA.
