Kejujuran

Seoul, Januari 2015

Jongin menutup kardus terakhir berisi barangnya. Jongin menatap kamarnya yang kini kosong dengan seulas senyum datar. Ini adalah keputusan terbaik. Jongin berencana untuk pindah lagi ke apartemen lamanya. Rumah yang ditempatinya selama ini dengan Sehun terlalu banyak menjeritkan kenangan, membuat Jongin tidak tahan bahkan hanya dengan berada di dalamnya.

Jongin mendesah, lalu kembali mengecek lemarinya. Ia tidak ingin meninggalkan apa pun di rumah ini, karena Jongin tidak akan kembali lagi. Jongin mematung ketika menemukan sebuah kotak persegi berwarna hitam di dasar lemarinya. Perlahan Jongin mengambil kotak itu-yang di dalamnya berisi album foto-dan membukanya.

Album foto milik Sehun, yang diberikan pria itu sebelum kepulangannya ke Los Angeles. Jongin membuka halaman pertama yang menampakkan foto di hari pernikahan mereka. Foto ketika Jongin tertawa dalam pelukan Sehun di bawah sinar mentari yang akan terbenam. Halaman selanjutnya adalah foto setelah mereka bermain arung jeram.

Jongin terlihat begitu bahagia dengan Sehun memeluk pinggangnya dan Himchan memeluk bahunya dari sisi lain. Jongin terus membuka album itu, membiarkan air matanya menetes seiring lembar demi lembar yang dibukanya. Halaman terakhir album itu adalah sebuah foto candid ketika mereka berada di Los Angeles.

Sehun menempelkan tangan Jongin ke pipinya, sementara Jongin tersenyum manis kepada Sehun. Ada sebuah kalimat di bawahnya. Tertulis : Sebelum kau memutuskan untuk melepasnya, ingatlah kembali saat kita mendekap satu hal yang sama, harapan. Jongin mendekap album itu erat-erat. Dengan segenap hatinya, Jongin menyesal.

Jongin sungguh menyesal karena cinta mereka tidak menemukan muara. Mengapa harus terjadi? Tiba-tiba bel rumah berbunyi, menyentak Jongin keluar dari tangisnya. Mungkin petugas yang disewanya untuk memindahkan barang sudah datang. Jongin menghapus air matanya dan berjalan untuk membukakan pintu.

Betapa terkejut Jongin ketika melihat tamunya adalah Dahyun, tunangan Himchan. "Hai, Dahyun. Silakan masuk," sapa Jongin. Dahyun menggeleng. Ia mengulurkan sebuah bungkusan kado berwarna tosca pada Jongin, lalu berkata, "Aku datang untuk mengantarkan ini." Jongin mengerjap bingung, namun tetap menerimanya.

"Selamat ulang tahun, Jongin." Jongin semakin bingung. Ia menatap Dahyun dengan kening berkerut, lalu bertanya, "Kau mengingat hari ulang tahunku?"

"Ya. Sehun memberitahuku." Jongin membeku. "Semoga kau menyukai hadiahnya. Sehun berusaha sangat keras untuk menyelesaikannya. Dan aku berharap kalian segera berdamai, apa pun masalah yang kalian hadapi. Sampai jumpa, Jongin." Setelah mengucapkan itu Dahyun melangkah pergi. Tanpa membuang waktu, Jongin langsung membuka bungkusan cantik berwarna tosca itu.

Begitu melihat isinya, Jongin pecah dalam tangis yang hebat. Karena isi dari kado itu adalah sebuah sweater. Sweater sederhana berwarna baby blue. Sungguh tidak ada yang istimewa dari sweater itu, yang bahkan di beberapa bagian menampakkan kesalahan-kesalahan kecil. Siapa pun yang melihatnya akan tahu bahwa sweater itu dibuat oleh orang yang masih dalam tahap belajar.

Dan fakta itu hanya semakin menghancurkan Jongin. Karena tanpa keraguan, Sehun adalah pembuatnya. Sehun merajutkan sebuah sweater untuk kado ulang tahun Jongin. Seketika ingatan Jongin terlempar pada percakapannya dengan Sehun sore itu, setelah pertempuran tepung mereka. Sehun sudah mencintainya, bahkan pada saat itu. Sehun mencintainya. Sungguh mencintainya.

Dengan tangan bergetar Jongin memeluk sweaternya. Begitu lembut, seolah bisikan Sehun yang menyatakan cintanya terdengar bersama angin yang bertiup. Saat itulah sebuah kertas terlipat meluncur jatuh. Jongin membuka lipatannya dan melihat tulisan Sehun.

Untuk satu-satunya gadis yang kucintai. Gadis yang selalu lebih dari sekedar cantik bagiku. Gadis yang hanya akan mengenakan sweater dari yang mencintainya. Dan aku mencintainya. Aku mencintai gadisku. Dan kau adalah gadisku, Jongin. Kau malaikat tak sempurna yang menyempurnakanku. Aku mencintaimu.

Air mata Jongin luruh tak terbendung. Jongin telah melakukan kesalahan besar. Begitu besar hingga rasanya amat menyakitkan. Karena Jongin telah melepas Sehun. Jongin menyerah pada pria yang mencintainya, pria yang bahkan tak pernah menyerah untuk menggapainya. Seharusnya Jongin memercayai Sehun. Bukankah semua sudah jelas dari awal? Sehun adalah pria yang tulus.

Pria yang tumbuh menjadi pribadi utuh juga dipenuhi cinta. Bahkan ketika hubungan mereka memburuk di masa awal pernikahan mereka, Sehun berkorban untuk belajar catur. Semua hanya untuk Jongin. Belum lagi semua pengorbanannya yang merelakan waktu juga tenaganya hanya untuk sekedar memastikan bahwa Jongin baik-baik saja.

Seharusnya Jongin tahu. Seharusnya Jongin tidak membiarkan lukanya menyakiti Sehun dan menghancurkan segala yang mereka miliki. Dengan sisa-sisa tenaganya, Jongin kembali masuk ke rumah dan meraih kunci mobil juga ponselnya. Jongin menekan kontak Baekhyun dan nada sambung terdengar.

"Di mana kau saat ini?" tanya Jongin tanpa basa-basi. "Di rumah Ayah. Ada apa?" balas Baekhyun. "Ada sesuatu yang harus kubicarakan. Tunggu di sana."

oOo

Jongin baru saja turun dari mobilnya ketika sebuah mobil berhenti di belakangnya. Seungri. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Jongin bingung. Seungri tidak menjawab dan terus melangkah memasuki rumah. Ketika menemukan Baekhyun yang baru akan menaiki tangga, Seungri langsung menarik tangannya.

"Kau berbohong padaku," ucap Seungri. Baekhyun mencoba melepaskan tangannya, namun tenaga Seungri lebih kuat. "Lepaskan aku, Seungri! Terjadi sesuatu di atas," balas Baekhyun. Tepat setelahnya terdengar suara teriakan juga barang pecah. Baekhyun segera berlari menaiki tangga, diikuti Seungri dan Jongin. Suara teriakan itu semakin jelas terdengar.

Arahnya dari ruang kerja Kim Jongwoon. Jongin yang terakhir memasuki ruangan itu dan Jongin sama sekali tidak siap dengan pemandangan di hadapannya. Jonghyun sedang menodongkan pistol ke arah ayahnya. Di samping Jonghyun berdiri Haeri, ibu dari Himchan juga Daehyun. Jongin memandangi keanehan itu dalam diam, karena setelah mereka bercerai, Haeri tidak pernah menunjukkan wajahnya lagi.

Anak-anaknya bahkan tidak pernah melihatnya sekalipun sejak perceraian itu karena hak asuh jatuh ke tangan Jonghyun. "Aku bersumpah, Jonghyun! Aku tidak membunuh Kyuhyun!" seru Jongwoon.

"Bohong! Aku selalu tahu kau akan membunuhnya, Jongwoon! Kau hanya peduli pada hartanya! Kau tidak pernah mencintainya! Kau menyakitinya sepanjang pernikahan kalian!" balas Jonghyun, senjata di tangannya bergetar di setiap kalimatnya. "Dan sekarang, aku akan membunuhmu!" teriak Jonghyun.

"Hentikan, Paman! Ayah tidak bersalah!" seru Baekhyun seraya berdiri di hadapan Jongwoon.

"Minggir kau, gadis jalang. Jika kau menyayangi nyawamu yang tidak berharga itu, kau harus pergi dari sana sekarang juga. Karena aku tidak akan segan menembakmu. Jika saja aku tahu kau akan mengubah Kyuhyunku menjadi gila, aku tidak akan pernah membawamu ke rumah ini," desis Jonghyun.

Jongin membekap mulutnya. Tidak. Semua ini tidak mungkin. Jongin menolak percaya bahwa Jonghyun yang menjadi dalang kehancuran keluarganya. Jonghyun menyayanginya dan tidak akan pernah melakukan hal itu padanya. "Paman?" panggil Jongin lirih. Jonghyun menoleh dan ekspresi wajahnya berubah. Kelembutan menyisip di antara amarahnya.

"Jongin. . ."

"Apakah itu benar, Paman? Kaulah yang membawa Baekhyun ke rumah ini? Kau berencana menghancurkan keluargaku?" tanya Jongin dengan luka yang tak bisa disembunyikan.

"Jongin, kau harus mengerti. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu. Aku hanya ingin mendapatkan Kyuhyunku. Aku mencintainya, Jongin. Aku mencintainya jauh sebelum bajingan itu datang. Namun Kyuhyun tidak mencintaiku. Kyuhyun justru memilih bajingan itu yang hanya peduli pada hartanya dan berselingkuh dengan adiknya sendiri di belakangnya.

Aku tidak bisa menahannya lebih dari itu, Jongin. Aku harus menyadarkan Kyuhyun. Hanya saja aku tidak pernah memperkirakan reaksi Kyuhyun. Kupikir setelah melihat bukti pengkhianatan suaminya, ia akan datang padaku. Namun pada kenyataannya? Kyuhyun tenggelam dalam depresinya dan kini ia meninggalkanku selamanya," jawab Jonghyun.

"Dan semua itu adalah salahnya!" lanjut Jonghyun dengan senjata yang kembali terarah pada Jongwoon. "Paman, kau tidak akan melakukannya. Kau tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Kau tahu ayahku tidak bersalah. Ayahku tidak akan pernah membunuh Kyuhyun," sahut Baekhyun.

"Apa katamu tadi? Ayahmu tidak bersalah? Lalu siapa yang bersalah? Kau?" tanya Jonghyun. Baekhyun tidak menjawab dan diamnya diartikan sebagai jawaban ya oleh Jonghyun. "Kau gadis sialan! Kau membunuh Kyuhyunku!" teriak Jonghyun kalap. Pelatuk ditarik dan suara letusan terdengar.

Sebuah bayangan menghalangi laju peluru dan jeritan pilu mengisi keheningan setelahnya. "Seungri! Oh, tidak! Seungri!" Tubuh Seungri roboh, namun sebelum kehilangan kesadarannya, Seungri berkata, "Tanyakan pada. . . mantan istrimu, Jonghyun. Ia. . . menyembunyikan banyak hal. T-termasuk api. . . yang disulutnya."

Baekhyun memeluk tubuh Seungri dan menangis tersedu, sementara Jongin masih membeku. "Haeri, apa yang dikatakan pemuda itu? Kau membunuh Kyuhyunku?" tanya Jonghyun nanar. Haeri melangkah mundur perlahan. "Jawab pertanyaanku! Atau kutembak kepalamu!" sentak Jonghyun. Haeri mengepalkan tangannya, bibirnya bergetar ketika menjawab.

"Aku sudah muak denganmu, Jonghyun! Kau hanya datang padaku ketika kau membutuhkanku! Kau menjadikanku sebagai pelampiasan nafsumu sementara hatimu kau berikan pada wanita yang sudah bersuami! Kau bahkan merenggut anak-anakku dariku! Aku membencimu!" teriak Haeri tak terkendali.

Suara letusan kembali terdengar dan tubuh Haeri roboh dengan kepala yang terlubangi peluru. "Sekarang, giliranmu, Jongwoon!" Sebelum pelatuk kembali ditarik, suara gaduh mengisi keheningan mereka. Tiba-tiba beberapa polisi bersenjata memasuki ruangan dan membidik Jonghyun sebagai sasaran.

"Jangan bergerak!" Jonghyun mengarahkan senjatanya pada polisi terdekat, namun usahanya gagal karena sebuah peluru bersarang di tangan kanannya hingga senjatanya jatuh ke lantai. Setelah itu segalanya berjalan cepat. Polisi menangkap Jonghyun, sementara petugas medis mulai mengurus Seungri. Baekhyun jatuh pingsan setelahnya, membuat Jongin berlari menghampirinya.

Beberapa orang menanyakan keadaan Jongin, namun Jongin menjawab bahwa ia baik-baik saja dan menunjuk Baekhyun dengan panik. Di antara kepanikan itu, sebuah pertanyaan terselip di benaknya. Siapa yang telah menghubungi polisi? Ketika Jongin mendongak, Jongin bertatapan dengan jawaban dari pertanyaannya.

Daehyun.

oOo

Jongin duduk di kursi tunggu rumah sakit dengan pandangan tertuju pada ponsel di genggamannya. Baekhyun belum sadarkan diri, begitu juga Seungri yang telah menyelesaikan operasinya beberapa jam lalu guna mengeluarkan proyektil yang bersarang di tubuhnya.

Jongin tidak bisa meninggalkan mereka berdua, karena selain tidak ada orang lain yang bisa menunggui mereka, Jongin juga membutuhkan jawaban. "Kim Jongin?" Jongin mendongak dan langsung berdiri begitu seorang dokter pria dengan kacamata tebal menghampirinya. Ada senyum di wajah dokter itu yang berhasil mengurangi ketegangan Jongin.

"Saudara Seungri sudah sadar dan ia ingin bertemu dengan Anda," ucapnya. "Terima kasih, Dok," sahut Jongin sebelum melangkah memasuki kamar rawat Seungri. Setelah menutup pintu, Jongin menghampiri Seungri yang masih terbaring lemah dengan tangan tersambung selang infus. Tidak ada luka lain pada tubuh Seungri sehingga Jongin bisa menenangkan dirinya.

"Tenang, Jongin. Aku baik-baik saja," ucap Seungri. Jongin tidak membalas. Hanya terus menatap Seungri. Benaknya berpacu dengan rentetan pertanyaan yang ingin disuarakannya, namun Jongin tidak tahu harus mulai dari mana.

"Seperti yang bisa kau tebak, anak yang dikandung Baekhyun adalah anakku. Baekhyun tidak mau mengakuinya, namun aku tahu. Aku mulai bersimpati padanya setelah aku menyelidiki masa lalunya-atas permintaanmu itu. Aku tidak menemukan bukti apa pun yang menautkan Baekhyun dengan kematian ibumu. Aku justru menemukan fakta-fakta menyedihkan, Jongin. Aku mengetahui kehidupan Baekhyun sebelum ia datang ke dalam hidupmu," ujar Seungri lemah.

Lalu dimulailah penjelasan Seungri mengenai hari-hari gelap dalam hidup Baekhyun. Setelah ibunya meninggal ketika Baekhyun berusia tigabelas tahun, Baekhyun hidup dari panti asuhan satu ke panti asuhan lain. Banyak orang membencinya karena kecantikannya, namun ada lebih banyak yang memujanya.

Ketika menginjak usia limabelas tahun, Baekhyun diangkat oleh sepasang suami-istri yang tinggal di Seattle. Awalnya semua berjalan lancar, Baekhyun mendapatkan hak-hak yang selama ini hanya mampu diimpikannya. Pakaian, makanan, juga sekolah. Hingga suatu malam ayah angkatnya memperkosanya dan kejadian itu terus berulang hingga Baekhyun berusia delapanbelas tahun.

Baekhyun pergi dari rumahnya dan saat itulah ia bertemu dengan Jonghyun. "Begitu ia mengetahui apa yang kuketahui, ia menangis. Semudah itu aku jatuh cinta padanya, Jongin. Ia tidak jahat, ia hanya melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan. Ia pun terluka. Sama sepertimu," ungkap Seungri muram.

Jongin tidak menampilkan ekspresi apa pun di wajahnya, lalu bertanya, "Lalu bagaimana kau tahu pembunuh ibuku sebenarnya adalah Bibi Haeri?"

"Aku tidak langsung mengetahuinya. Aku hanya ingat Daehyun berkata bahwa paman Jonghyun menghilang setelah kematian ibumu. Aku pergi ke rumah bibi Haeri dan aku melihat mereka berdua. Aku rasa mereka masih berhubungan setelah perceraian itu. Lalu aku memeriksa panggilan telepon milik bibi Haeri. Dan aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan," jawab Seungri ragu.

"Apa maksudmu?"

"Aku menemukan pesan yang dikirimkan seseorang pada bibi Haeri. Orang itu pada dasarnya memanfaatkan kebencian bibi Haeri pada ibumu. Bibi Haeri tidak pernah benar-benar ingin membunuh ibumu, namun karena orang itu, bibi Haeri melakukannya."

"Seungri, katakan padaku. Siapa orang itu?" Seungri menghela napas, lalu menjawab, "Ayahmu. Orang itu adalah ayahmu."

"Tidak mungkin," bisik Jongin.

"Tidakkah kau tahu? Seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga Kim saat ini adalah milik ibumu. Di surat wasiatnya yang terakhir tertulis seluruh harta kekayaannya itu akan disumbangkan, kecuali jika ayahmu masih hidup, maka ayahmu yang berhak atas seluruh kekayaan itu. Beberapa minggu sebelum kematiannya, ibumu menghubungi pengacaranya dan mengatakan akan mengubah surat wasiatnya. Aku rasa ayahmu menjadi panik ketika mendengarnya hingga ia melakukan. . . hal itu," jelas Seungri.

"Itulah alasanku tidak memberitahumu, Jongin. Karena kupikir kau lebih baik hidup tanpa mengetahuinya. Aku merasa kau sudah memiliki cukup banyak luka. Aku tidak tahu keegoisanku itu justru membuatmu lebih sakit karena harus mengetahuinya dengan cara seperti ini," lanjut Seungri menyesal.

Jongin terdiam cukup lama hingga akhirnya mampu bergerak tanpa pecah dalam tangis histeris. Jongin menarik napas dalam-dalam. "Tidak apa-apa, Seungri. Terima kasih sudah membantuku. Aku harap kau cepat sembuh," sahut Jongin dengan nada hampa. Setelah itu Jongin melangkah keluar dari kamar rawat Seungri.

Jongin berusaha meredam kepanikannya, namun tiba-tiba saja segalanya menjadi tidak tertahankan. Tanpa berpikir panjang, Jongin mengaktifkan ponselnya dan menekan satu nama yang ia pikir tak kan pernah ia tekan lagi selamanya. Setelah tiga nada sambung, teleponnya diangkat dan Jongin berkata dengan suara bergetar.

"Aku membutuhkanmu."

To be continued~~~