.
Trouble Maker
Naruto © Masasshi kisimoto
High School DxD © Ichie Ishibumi
WARNING : AU, OOC, OC, Typo (yang selalu ngikut), Semi-Canon, dan sebagainya.
.
Special Arc
-[ Awakening ]-
.
Chapter 14 : Ikatan yang tersisa
.
"Hoo...begitu ya. Kalau begitu aku akan membuatmu mengerti sekarang juga," tukas Lilith sambil mengeluarkan sebuah revolver hitam aneh itu di tangan kanannya. Melihat hal itu Sona mulai mengerti dengan apa yang dibicarakan perempuan itu.
"Jadi begitu," respon Sona ketika mulai mengerti dengan apa yang sebenarnya ingin perempuan pirang itu lakukan. Namun Sona sama sekali ridak takut, dia merasa jika ini merupakan sebuah langkah awal untuk sebuah perubahan serta sebuah tes untuknya.
Meskipun begitu yang dipikirkan Sona namun tidak dengan Lilith. Dia merasa jika kehadiran perempuan itu adalah sebuah kesalahan, kehadiran makhluk-makhluk seperti mereka itu merupakan sebuah kesalahan. Jika saja dia tidak bersama Naruto ketika bertemu dengan para iblis itu, sudah pasti dia akan menghabisi semua iblis itu pada saat itu juga.
"Padahal aku tahu, aku tahu kalau keberadaan iblis di kuoh ini sangat ganjil. Terutama saat aku bertemu denganmu dan keluargamu..." menghentikan perkataannya hanya untuk sejenak. "... aku pikir jika iblis yang menduduki Kuoh ini adalah para iblis bodoh yang bahkan mengumbar jati dirinya pada publik. Andai saja pertemuan kita saat itu tidak karena Naruto, dapat aku pastikan, jika kau tidak akan pernah berdiri sekarang ini,"
"Sudah kuduga begitu, karena aku sempat curiga saat melihat responmu ketika mengetahui kalau aku adalah iblis. ditambah lagi penguasaan sacred gear yang sempurna seperti itu tidak akan pernah terjadi tanpa adanya latihan,"
"Heeeh... jadi di sini disebut sacred gear ya. Entah apapun itu namanya, dengan ini aku akan menghabisimu sekarang juga," tukas Lilith dengan tatapan dingin, yang bahkan terlihat sangat tidak cocok untuk parasnya yang cantik itu.
"Kau berkata seolah kau sudah pasti menang melawanku, asal kau tahu saja aku masih memiliki hal yang harus aku lakukan. Jadi apapun yang terjadi aku tidak akan kalah sebelum aku menyelesaikan itu,"
"Persetan dengan tujuanmu,"
Doorrr! Doorrr! Doorrr!
Tanpa aba-aba Lilith langsung melepaskan tiga buah tembakan beruntun dengan akurasi sempurna yang mengarah langsung pada tiga titik vital manusia yaitu kepala, jantung serta ulu hati. Meskipun Lilith tidak tahu seluk beluk dari tubuh iblis, tapi dia meyakini jika susunan tubuh antara kedua makhluk itu tidak memiliki perbedaan. Dan itu sudah Lilith buktikan dari pengalamannya terdahulu.
Mata Sona terbelak tidak percaya saat menyaksikan tiga buah peluru yang melesat padanya. Keakuratan yang sempurna, bahkan dengan rentan waktu antara peluru yang begitu cepat itupun Sona masih dapat memikirkan dua opsi untuk menghadapi tembakan itu.
Yang pertama adalah dia menghindar dengan melompat kesamping, namun masih memiliki resiko tergores dua peluru yang mengarah pada jantung dan ulu hatinya. Dan opsi yang kedua adalah membuat sebuah pelindung membuat sepelindung pada titik yang diincar peluru itu, karena kerugian terbesar sebuah tembakan akurat adalah titik tembakannya sudah pasti dan dapat di antisipasi dengan mudah, namun masih memiliki resiko yang sama yaitu belum tentu pelindungnya itu kuat menahan peluru tembakan dari sacred gear perempuan itu.
Melawan musuh yang bahkan tidak di ketahui seluk beluk kekuatannya adalah sebuah kerugian terbesar dalam pertarungan. Ditambah lagi dia masih belum tahu kekuatan dari sacred gear dari perempuan itu. Karena dia hanya memiliki keterbatasan waktu yang kurang dari satu detik itu Sona langsung menciptaka tiga buah lingkaran sihir pelindung dengan ketebalan tiga lapisan sihir pada titik-titik yang menjadi sasaran tembakan Lilith.
Dan seperti apa yang dia duga bahwa tembakan itu terhenti setelah menghancurka dua lapisan sihir yang di buat Sona serta membuat retakan parah pada lingkaran sihir ketiga. Lilith pun sudah memperkirakan hal itu dan langsung melanjutkan serangannya dengan menembakan kembali tembakan-tembakan beruntun kearah Sona.
Sona pun membalas dengan menembakan demonic powernya kearah Lilith sembari menghindari tembakan tembakan yang mengarah padanya. Tidak hanya di situ saja, Lilith sudah menyiapkan beberapa jebakan yang berada di beberapa meter tempat Sona berlari dan semakin lama semakin dekat.
Blassshhh!
Sebuah ledakan asab terjadi ketika Sona menginjak sesuatu di bawahnya. Rasa perih yang teramat sangat terasa membakar kulitnya, dia sangat mengerti dengan apa yang mengenainya itu, sebuah uap dari air suci. Salah satu kelemahan terbesan bagi kaumnya. Dan yang menjadi pertanyaan adalah kenapa teman sekelas Naruto itu memiliki air suci segala.
Meskipun ada pertanyaan seperti itu Sona sendiri sudah tahu apa yang menjadi jawabannya. "Kau itu Excorcist, bukan?" Sona berujar dengan sedikit mengeryit kesakitan akibat terkena uap dari air suci yang merupakan jebakan milik Lilith.
"Sasuga, Kaicho-san. Cepat tanggap dengan apa yang ada di sekitarnya," Lilith berkata sembari menunjukan senyum sakratis pada sosok yang menjadi siswa nomor satu di kuoh akademi itu. "Kau benar, aku adalah exorcist khusus yang di kirim oleh gereja Inggris untuk menyelidiki sesuatu, yah.. walaupun aku juga bekerja sambilan di kepolisian juga, tapi aku pikir itu tidak penting bukan Shitori Souna-san, yak lebih tepatnya Sona Sitri,"
"Heh, kurasa memang aku dalam keadaan tidak diuntungkan di sini, tapi sayangnya alam kelihatannya memihakku," tukas Sona tak kala hujan yang turun kian lama kian deras, meski begitu Lilith sama sekali tidak gentar.
Jarum-jarum air tiba-tiba bermunculan dari bawah kaki Lilith, namun masih dapat di hindarinya dengan salto kebelakang. Tapi meski begitu jarum air itu masih terus saja bermunculan tanpa ada niatan berhenti.
Lilith yang merasa sedikit kesal langsung melepaskan tembakan-tembakan tanpa henti kearah setiap jarum air yang keluar. Tak ada alasan untuk menahan diri lagi. Bukannya sebuah kebetulan Lilith dikirim negara penuh iblis ini. Karena perintah dari atasannya dia jadi yakin jika hal semacam ini memang telah di prediksi oleh atasannya.
Ketika kakinya menginjak tanah dia langsung sadar bahwa kini dia telah di kepung oleh puluhan jarum-jarum air tajam. Dan dia sama sekali tidak memiliki celah untuk menghindari serangan itu.
Sepersekian detik sebelum jarum-jarum itu melubangi tubuhnya, mata kiri Lilith berubah warna menjadi hijau tosca yang menyala terang dalam derasnya hujan. Dan setelah itu kilatan-kilatan hijau terlihat terus terjadi bersamaan dengan hujaman seluruh serangan Sona.
Dan ketika serangan itu mereda terlihat sosok Lilith yang berdiri tenang tanpa goresan sedikitpun. Saat dia mendongak terlihat mata kirinya yang menyala bagaikan obor, entah karena apa tanpa dia sadari Sona mengambil langkah mundur ketika merasakan tekanan yang keluar dari tubuh Lilith. Ekspresi yang di tunjukannya pun juga sama sekali tidak ada, kosong seperti tatapannya.
Sebelum dia sempat bertindak melancarkan serangan lagi, Lilith sudah menghilang dan muncul tepat didepanya sembari menodongkan revolvernya itu pada kepala Sona.
Doorr!
Tembakan dari Lilith barusan hanya mengenai tanah di samping Sona akibat sebuah lingkaran sihir yang dibuat Sona di depan revolver Lilith secara miring, sehingga mengubah arah tembakan yang awalnya mengarah pada kepalanya. Seperti yang Naruto lakukan ketika menahan serangan kokabiel.
Berusaha membuat sebuah jarak aman dengan mengambil sebuah langkah mundur. Meskipun Cuma satu langkah namun akibat kuatnya tumpuan kakinya pada tanah sudah cukup untuk menciptakan jarak sejauh sepuluh meter. 'Perubahan kecepatan serta aura ini, tidak salah lagi. Balance breaker'
Saat masih bergelut dalam pikirannya akibat perubahan gadis pirang itu Sona sudah kembali kehilangan konsentrasinya. Lilith tiba-tiba sudah berada di sampingnya dengan mengarahkan revolver di tangan kanannya pada kepala Sona. Namun kembali di belokan Sona dengan cara yang sama, berbeda dengan yang tadi kali ini Lilith kembali menghilang setelah tembakannya gagal dan kembali muncul di belakangnya. Hal yang sama terus terjadi hingga setidaknya tujuh kali. Meskipun Sona di untungkan dengan medan pertarungannya, namun semuanya itu sia-sia akibat gerakannya yang lambat.
"Kenapa, kenapa Naruto lebih memilih gadis pengecut sepertimu? Dibandingkan denganku?" baru pertama ini gadis pirang itu membuka mulutnya setelah sekian lama menyerang dengan membabi buta. Awalnya Sona kira gadis itu kehilangan kontrol akibat efek balance breaker, namun ternyata dia salah.
"Aku rasa aku tidak dapat menjawab pertanyaanmu itu, karena aku sendiri tidak pernah berpikir jika Naruto itu memilihku," Lilith menggeleng kuat-kuat mendengar pernyataan Sona barusan. "Masih saja bilang begitu, pasti kau kan yang menyeretnya terus dalam duniamu yang berbahaya itu hingga pada akhirnya kehilangan nyawanya,"
"Kenapa kau bisa tahu?"
"Maaf saja tapi aku tidak sebodoh yang kau kira, kematian seperti itu tentu saja membuat banyak pihak curiga terutama polisi, namun saat aku melihat situasinya semuanya baik-baik saja. Dan itu membuktikan jika ada campurtangan iblis di dalamnya. Dan yang paling membuatku curiga adalah sikapmu akhir-akhir ini,"
"Ya.. aku memang mengira jika kau adalah orang yang paling sulit di kelabuhi," mendengar itu amarah Lilith menjadi semakin membeludak.
"-!?"
Serangan yang ingin Lilith lancarkan terpaksa terhenti ketika dia merasakan kakinya tidak dapat digerakan. Mungkin itu adalah efek samping dari memaksa sacred gearnya hingga batas balance breaker yang mampu membuatnya bergerak secepat itu.
Sebuah sacred gear yang mampu memaksimalkan fungsi motorik dari tubuh seseorang. Sekalipun itu menghindari berondongan peluru berkecepatan tinggipun bukanlah masalah. Namun efeknya adalah bagian tubuh tertentu akan merasakan syok yang mengakibatkan berhentinya fungsi otot sementara waktu. Tapi jika tetap dipaksakan terus dalam mode itu efeknya akan berubah menjadi efek jangka panjang yang sangat berbahaya.
Sona yang melihat adanya keganjilan dari perempuan itu sadar jika kemungkinan besar itu adalah efek dari sacred gearnya. Dan karena melihat sebuah kesempatan dia langsung membuat sebuah kurungan dari genangan air yang berada di sekitar kaki Lilith. Dan tak hanya itu saja penjara air itu dengan perlahan tapi pasti mulai membeku, namun tidak secepat beberapa hari yang lalu saat dia melawan kokabiel.
"Hyaaa!"
Braasshhh!
Penjara es itu langsung hancur bersamaan dengan menghilangnya kembali perempuan berambut pirang itu. Insting Sona menjerit tak kala merasakan nafsu membunuh yang teramat kuat dari belakangnya. Namun saat dia mencoba membuat pelindung, semua itu sudah terlambat. Sebuah tembakan peluru sihir itu sudah menghempaskannya kedepan, dan sialnya tak berhenti di situ saja.
Serangan itu masih terus berlanjut dengan tembakan dari arah depan, samping kiri, kanan dan terus berulang hingga membuat seragam yang dikenakan Sona terkoyak tak karuan. Mata Sona mulai berkunang-kunang akibat banyaknya hantaman tembakan yang terus menghujaminya dari berbagai arah. Dengan keadaan kabur, dia melihat dengan jelas sosok Lilith yang menodongkan senapan itu pada kepalanya.
Doorr!
Pada akhirnya dia tetap jatuh. Dia tidak pernah mengira jika hal seperti ini bisa terjadi, seperti apa yang tertulis di suatu buku. "Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada satu detik kedepan,".
Telentang di atas tanah yang kotor akibat hujan. Sona memandang langit mendung itu dengan mata sipit sebelah akibat banyaknya serangan yang mengenainya tadi. Dia sadar, bahkan manusia bisa menjadi sebuas ini jika menyangkut akan perasaan. Sebenarnya bukanlah Lilith yang terlalu kuat, melainkan Sona sendiri yang bahkan tidak sanggup melukai lawannya.
Jika Lilith bertarung dengan niat membunuh yang jelas-jelas nyata. Sona hanya berusaha menghindar dan sesekali membalsnya dengan sebuah serangan yang bahkan tidak bisa melukai lawannya dengan parah. Dan kenapa dia melakukan itu adalah dia tidak bisa melukai manusia, dia sadar jika yang terjadi pada Naruto itu adalah sepenuhnya kesalahannya. Jika saja Lilith menuntut balas.
'Aahh... padahal aku belum mencoba menghidupkanmu kembali, namun ternyata aku akan menyusulmu dengan cara lain,' Sona tersenyum kaku saat mendengar batinnya sendiri berucap.
"Jadi, Cuma segini kemampuan darimu, megane-onna?"
Suara itu membuat matanya terbelak. Entah kenapa dia seperti tak dapat melupakan getaran melodi itu. Yah... suara sinis yang menusuk telinga itu seperti sebuah konser kematian yang terus menghujatnya.
'Mau bagaimana lagi... aku tidak akan pernah sanggup melukai manusia lagi,'
"Apa-apaan itu? Kemana semangat yang beberapa saat lalu ada dalam dirimu?"
'Aku tidak mau dengar itu dari orang yang sudah mati sepertimu!"
"Sona. Ingatlah jika kau tidak sendiri, jadi... jika kau membutuhkan bantuan, bilang saja. Dan saat itu...,"
Pandangan Sona berpindah pada sebuah gelang yang tergeletak di atas lumpur tak jauh dari tempatnya terbaring. Gelang putih itu sedikit memancarkan sebuah aura aneh yang mengingatkannya pada sosok yang coba dia kejar.
"... akan aku pinjamkan kekuatanku!"
Sona tertawa pelan, hal itu membuat Lilith menaikan alisnya bingung. Bisa-bisanya dia tertawa dalam keadaan seperti itu. Lilith berpikir jika tembakan yang dia lepaskan pada kepala Sona sudah membuatnya gila.
"Sejak kapan kau bisa sebaik ini, hah?"
Dengan sebuah tawa pelan dia berdiri dan mengambil gelang itu. Tanpa suara dia memasangnya di tangan kanannya, tempat yang sama seperti yang Naruto kenakan untuk gelang itu. Dia sedikit merasa terkejut saat merasakan dua buah jarum yang menusuk pergelangan tangannya hingga ke pembuluh nadinya, namun hal itu tidak berlangsung lama.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah Sona yang entah kenapa merasa begitu ringan. Padahal tubuhnya sudah babak-belur seperti itu, tapi kini dia merasa bahwa kekuatannya seperti menuruti apa yang dia mau. Sekarang Sona merasa tidak ragu lagi mengeluarkan kekuatan penuhnya tanpa takut membunuh Lilith.
"Kurasa ronde kedua bisa di mulai," ujar Sona dengan wajah datarnya yang biasa sembari menaikan kacamatanya yang merosot dengan telunjuknya. "Memang itulah yang aku harapkan!" Balas Lilith yang kini sudah berada di belakang Sona dengan senapan yang tertodong di kepalanya.
Braasshhh!
Tembakan itu menghancurkan kepala Sona. Namun tubuh Sona yang tertembak itu tiba-tiba berubah menjadi air yang langsung tumpah di depan Lilith. Rasa terkejut tak tertahankan kini mulai merasuki Lilith. Mengamati sekeliling, namun dia masih belum mendapati sosok Sona yang menghilang.
Gerakan Lilith kembali terhenti, namun bukan karena efek samping kekuatannya. Melainkan lilitan air yang kini terus menjalar dari kakinya. Melepaskan dari lilitan itu seakan tidak mungkin akibat kuatnya cengkraman air itu.
Dari balik sebuah pohon Sona memunculkan dirinya, berjalan pelan kearah Lilith tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat berhenti tepat di depan perempuan pirang itu yang dia dapati adalah tatapan dingin. Mata perempuan itu seperti menyiratkan keinginan untuk melubangi kepalanya.
"Aku mengerti kenapa kau begitu membenciku. Dan aku tidak masalah dengan itu, karena kematian Naruto memanglah sepenuhnya kesalahanku," Sona menundukan kepalanya ketika mengucapkan itu. Dan hal itu semakin menambah kemarahan yang Lilith rasakan.
"Baguslah jika kau mengerti. Dan jika kau memang merasa menyesal, kau harus membalasnya dengan nyawa-"
"Tapi... aku akan menebusnya dengan membawanya kembali," Sona mendongak menampakan ekspresi serius yang belum pernah Lilith lihat sebelumnya. Karena pada dasarnya mereka memanng baru bertemu belum lama ini.
"Apa maksudmu? Jangan katakan jika kau akan membangkitkannya sebagai budakmu!?" tanya Lilith dengan volume keras. Namun yang dia dapati adalah gelengan lemah, dari wajah keras Lilith terbesit sebuah rasa penasaran yang berasal dari lubuk hatinya.
"Jika memang begitu, biarkan aku ikut. Karena aku masih belum sepenuhnya percaya dengan ucapanmu itu,"
"Tidak. Kau tidak akan bisa ikut dengan keadaanmu sekarang,"
"Jangan bercanda! Hal ini bukan-," ucapan Lilith kembali terpotong. Namun bukannya dengan kata-kata melainkan dengan sebuah pukulan yang bersarang di perutnya, kesadarannya mulai mengabur setelah merasakan kuatnya pukulan itu. Namun dia masih dapat mendengar kata-kata yang di ucapkan Sona sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
"Maaf. Tapi ini adalah event khusus untuk heroine utama,"
.
-o0o-
.
"Sona, aku ingin bicara sebentar," ujar Rias kepada Sona yang kini tengah sibuk berkutat dengan tumpukan buku di depannya.
"Ada apa, Rias? Tidak biasanya kau menunjukan wajah serius seperi itu." Sona berujar masih tanpa mengalihkan pandangannya dari buku-buku itu. Karena hanya satu hal yang memenuhi isi kepala Sona kali ini, yaitu cara membawa kembali Naruto. Dan yang menjadi masalah baru adalah cara dia ke tempat tinggal Hades.
"Kau lebih tenang dari pada yang aku kira,"
"Hm, memangnya kau pikir aku sedang apa?
"Petemuan ketiga fraksi akan di adakan beberapa hari lagi, dan kita di haruskan untuk datang sebagai saksi sekaligus korban akan tindakan Kokabiel tempo hari," perkataan Rias sukses menghentikan Sona dari kesibukannya. Dia menatap Rias dengan sebuah ekspresi yang tidak bisa di jelaskan.
"Kurasa aku tidak bisa hadir pada pertemuan itu, Rias. Jadi maaf, bisa kau urus sendiri,"
"Geh.. kenapa kau menyuruhku bersaksi sendiri? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?" Rias sama sekali tidak dapat mengerti perempuan di depannya itu. Bahkan kemarin saja dia menghilang dan tidak ingin menemui siapapun termasuk kakaknya sendiri.
"Hah. Kurasa memang tidak dapat menyembunyikannya padamu," mendengar itu kecurigaan Rias kian membumbung tinggi. Sepertinya memang benar jika sahabatnya itu sedang merencanakan sesuatu. Dan jika itu bahkan lebih penting daripada pertemuan yang dihadiri oleh para petinggi ketiga fraksi maka dia yakin jika itu bukanlah sebuah masalah sepele.
"Aku akan pergi ke Tartarus,"
"Hah. Tartarus, maksudmu tempat persinggahan orang mati, sekaligus tempat tinggal Hades?" Rias tak kuasa menahan keterkejutannya saat mendengar perkataan Sona.
"Ya, satu-satunya,"
Mata Rias mengeryit curiga. "Jangan bilang ini semua tentang Naruto?" Senyum simpul di bibir Sona menjadi sebuah jawaban yang pasti bagi Rias. Harusnya dia sadar, siapapun pasti tidak akan pernah menerima secepat itu jika orang yang dicintainya mati. Tapi dia baru tahu jika sahabatnya itu memiliki pikiran segila itu hingga punya pikiran untuk ke alam kematian.
"Sona, kenapa kau masih tidak bisa menerima kematian Naruto sih. Kau harusnya sadar jika kau itu sudah dewasa, setidaknya kau dapat melihat kedepan dan bukannya mencoba meraih sesuatu yang sudah terlepas," mendengar nasihat Rias, Sona masih tidak bergeming, malahan dia mendapatkan sebuah kalimat yang cocok untuk menjawab perkataan Rias.
"Tapi tanpa kau ketahui bahwa sesuatu yang putus itu masih meninggalkan sebuah benang tipis tak kasat mata, dan aku akan mencoba menarik itu kembali sekalipun itu masih belum pasti," kali ini Rias sudah benar-benar kehabisan kata-kata. Jika Sona sudah bersikukuh seperti ini pasti dia sudah memiliki sebuah rencana yang matang serta mempertimbangkan semua resikonya.
"Tapi apa kau yakin jika itu akan berhasil, dan apa kau juga akan membongkar kuburan Naruto?" pertanyaan Rias itu sukses membuat Sona terkikik geli, kenapa dia harus repot-repot membongkar sebuah makam yang tidak ada isinya.
"Sebenarnya yang dimakamkan di sana bukanlah tubuh Naruto, sedangkan tubuh aslinya sekarang ini ada di Grigory,"
"Tunggu, Grigory katamu? Jangan katakan jika ini ada campur tangannya dengan para datenshi itu? Sona kau harusnya tahu jika yang menyebabkan semua ini adalah kubu datenshi." Rias bersungut marah saat
"Aku tahu, tapi entah kenapa aku percaya dengan apa yang dia katakan. Juga aku akan menerima apapun resikonya, karena sebagian besar ini adalah salahku. Tidak seharusnya manusia ikut terlibat dalam dunia kita, dan aku dengan bodohnya malah menyeretnya kedalam semua masalah yang terjadi," mendengar itu Rias sendiri juga merasa ikut andil dalam hal itu, meskipun secara tidak langsung dia juga terlibat.
"Kalau begitu, akupun juga ikut terlibat dalam masalah ini, karena dia juga menyelamatkanku dari pertunangan dengan Riser dulu," namun hanya dibalas Sona dengan sebuah gelengan kepala. "Tapi itu semua adalah permintaan Sirzechs-sama dan bukannya dirimu, jadi kau memang tidak ada hubungannya. Maka dari itu, biar aku sendiri yang mengurus masalah ini, sedangkan kau urusi pertemuan itu,"
Dengan itu sudah mencatat segala informasi yang telah dia kumpulkan sebelum pergi. Rias yang masih merasa khawatir dengansahabatnya itu kembali membuka suaranya. "Kalau begitu ijinkan salah satu peerageku ikut, hanya sebagai jaminan saja jika kau tidak melakukan hal yang ceroboh,"
"Tapi Rias-"
"Tidak ada tapi-tapian, Sona setidaknya terimalah bantuanku untuk kali ini saja," mohon Rias dengan tulus. Semua itu adalah perwujudan dari kekhawatirannya pada Sona, dan Sona sangat menghargai itu. Entah kenapa dia merasa sangat tidak pantas di berkahi oleh sahabat yang baik.
"Arigatou Rias. Jadi siapa yang akan kau kirim?"
"Issei,"
"Kenapa kau malah memberiku bom waktu sih?"
"Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi setidaknya dialah yang paling kuat di antara kami, dan juga dia cukup mengenal Naruto,"
"Hah, baiklah kalau begitu," mendesah pasrah menghadapi keputusan sahabatnya itu, tapi setidaknya dia tidak sendiri. Dan itu semakin memperbesar kemungkinan mereka berhasil membawa kembali Naruto.
"Kalau begitu aku akan kembali, kau juga jangan terlalu memaksakan diri," ujar Rias sebelum pergi meninggalkan ruang OSIS yang sedah kosong karena semua peerage Sona masih mengerjakan pekerjaan mereka sebagai iblis sedangkan Sona sendiri masih sibuk dengan rencananya.
"Ya tentu saja,"
.
-o0o-
.
Ketika Sona berniat meninggalkan ruang OSIS untuk mencari udara segar dia langsung terkejut saat melihat semua peeragenya yang berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang mengatakan jika dia tetap akan mengikutinya kemanapun dan apapun tujuannya.
"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskannya lagi,"
"Kami akan selalu mengikutimu kemanapun kau pergi, Kaichou," ucapan saji itu di ikuti oleh anggukan setuju dari seluruh peeragenya. Sebagai seorang raja Sona merasa bangga telah memiliki keluarga seperti mereka.
...
"Jadi intinya kita akan pergi ke Tartarus, tempat persinggahan dari orang mati?"
"Benar, dan untuk klarifikasi lagi, aku hanya dapat membawa dua orang dari kalian, dan satu lagi dari kelompok Rias,"
"Tapi kenapa? Bukannya semakin banyak semakin baik?"
"Bukan itu masalahnya, kita kesana untuk bernegosiasi dan bukannya bertarung. Kalian harusnya tahu jika di sana masih ada Hades yang merupakan salah satu dari tiga dewa terkuat Olympus, belum lagi dia masih punya tangan kanan Tanatos yang merupakan dewa kematian,"
"Tapi bukannya itu sangat beresiko?"
"Memang, tapi aku telah memutuskan untuk mengambil resiko itu. Jika Naruto saja berani mengorbankan nyawanya untuk kita, kenapa kita tidak?" Saji yang mendengar hal itu langsung berdiri dengan semangat. Perkataan dari rajanya itu sangatlah tepat. "Kaichou! Ijinkan aku untuk ikut pada ekspedisi kali ini!?" Pinta saji dengan sangat keras Hingga membuat seluruh pasang mata mengarah padanya.
"Saji.."
"Senpai.."
"Gen-chan.."
Semua gadis di sana memandang Saji dengan tatapan kagum.
"Lagipula aku masih memiliki urusan lain dengan Uzumaki. Karena telah membuat kaichou menangis," ujar saji dengan berapi-api. Dan perkataan itu langsung merupah pandangan dari para gadis yang menyanjungnya tadi.
"Ternyata itu alasan yang sesunggunya," ujar Tomoe dengan sebuah keringat jatuh di pelipisnya.
"Jadi, kapan kita akan berangkat?"
"Besok, karena batas waktu yang kita punya adalah 7 hari setelah kematian,"
"Jadi dengan kata lain kita hanya memiliki waktu 4 hari saja?" saji memastikan. Dan di jawab dengan sebuah anggukan oleh Sona.
"baiklah siapkan diri kalian besok,"
...
Saat pintu gerbang kuoh akademi sudah tertutup lantaran matahari yang sudah cukup lama terbenam di ufuk barat. Sekelompok remaja yang masih mengenakan seragam lengkap tengah berkumpul di depan gedung lama dari sekolah itu.
Malam ini adalah malam keberangkatan sona menuju dasar terdalam dari dunia bawah. Tempat tinggal dari sosok dewa yang mengatur akan setiap jiwa dari orang yang sudah mati. Hades.
"Apa semuanya sudah siap?"
"Kapanpun kami siap, kaichou," ujar issei yang kini dipenuhi oleh sebuah api semangat baru yang timbul tak kala mendengar penjelasan Rias akan rencana Sona membawa kembali Naruto dari alam kematian.
Ketika hendak membuka gerbang sihir ke dunia hades, dua buah lingkaran sihir yang muncul secara tiba-tiba membuat sona membatalkan niatnya. Dari dalam lingkaran sihir itu nampak sosok Sirzechs Lucifer dan juga kakaknya.
Sona tahu jika kakaknya pasti menyadari rencananya ini. Dan mencoba menghentikannya. Tapi Sona sudah memutuskan untuk tetap akan pergi apapun alasannya.
"Aku tidak akan menentangmu, tapi kau harusnya tahu bahwa Hades itu bukanlah sosok yang mudah di ajak bernegosiasi," perkataan dari sirzechs itu langsung membuat sona tercengang. Karena dia pikir mereka akan menghentikan rencananya untuk pergi ke Tartarus.
Sona tahu, tahu akan hal itu...
"Tapi hanya itu caranya,"
"Dan mengabaikan keselamatanmu juga peeragemu? Ini serasa seperti bukan dirimu Sona," kali ini Serafall berujar dengan serius, karena masalah ini sudah bukan masalah yang sepele lagi, meskipun dari awal hal ini bukanlah hal yang sepele. Tapi dia tetap mengkhawatirkan keselamatan adik kesayangannya itu.
"Aku tahu. Tapi aku sudah memiliki rencana, dan jikapun aku berubah, maka aku berubah ke arah yang lebih baik,"
"Sona-chan..."
"Onee-sama. Untuk sekali ini saja tolong percayalah padaku, aku tidak akan mengacaukannya. Aku janji," mendengar kata-kata serius dari Sona, Serafall seakan tidak dapat berbuat apa-apa.
"Sudah kuduga. Sekalipun aku mengatakan "Jangan pergi" kau tetap akan pergi," Sona membalas pernyataan kakaknya itu dengan sebuah senyum yang seolah mengatakan "Mau bagaimana lagi".
"Jika memang keputusanmu sudah bulat. Kami terpaksa mengundur tanggal pertemuan itu sampai kau kembali, jadi kembalilah dengan selamat dan tentu saja dengan membawa kembali "Dia" bersamamu,"
"Tapi sebelum itu..." pandangan Sona langsung teralih ke sirzechs yang kembali angket suara. "... ijinkan dia ikut denganmu. Aku yakin dia akan membantu," ujar Sirzechs sembari mendorong tubuh gadis pirang yang merupakan peerage dari Rias.
"Asia? Tapi kenapa?"
"Aku yakin dia memiliki beberapa kata yang harus dia ucapkan pada kakaknya," ujar Sirzechs dengan sebuah senyum simpul. Mau tak mau Sona harus menerimanya, pasalnya Asia memanglah adik dari Naruto. Terlebih lagi, jika sesuatu terjadi kekuatan penyembuh dari gadis itu akan sangat berguna.
"Baiklah, minna-san... tujuan selanjutnya Tartarus!"
.
.
To Be Continue...
.
Eto... seperti yang saya janjikan. Dua minggu sekali, meskipun saya bikinnya lembur sampai tidak tidur sama sekali akibat kelupaan jika besok itu sudah hari minggu yang merupakan deadline update yang aku janjikan. Tapi karena masih tepat waktu jadi kurasa tidak masalah.
Dan untuk sekarang saya punya beberapa hal yang perlu kalian ketahui tentang fic ini.
Yang pertama : hampir 50% karakter di sini sifatnya OOC. Jadi aku tidak mau mendengar protes tentang pembawaan karakter yang bergitu jauh dari LN-nya. Yah... meskipun memang belum ada sih, tapi hanya sekedar himbauan.
Yang kedua : jangan kaget jika ada alur yang begitu melenceng dari yang ada di LN. Karena fic ini tidak akan terus mengikuti perkembangan LN-nya. Melainkan akan berakhir pada waktu yang sudah di tentukan.
Entah apapun pendapat kalian namun ini adalah hasil yang aku dapat. Jadi jika ada kurang atau lebihnya tinggal coret-coret saja di kolom review.
.
Balasan untuk non-login...
DAMARWULAN : la iyo to... cah loro kuwi terah koyok cah cilik rebutan permen ae.. :v
PredX : ngomong apapun boleh. Dan terimakasih atas pujiannya...
Guest : Oke...
Fauzan : haha... sepertinya anda pendukung fanatiknya Naruto ya.. :v
Aaaku : hm... kurasa tidak, tapi nanti di bagian ini akan ada kilas balik tentang jati diri Naruto dan juga keluarga Namikaze. Dan untuk masalah dua paragraf yang sama itu kayaknya karena efek copas.
Bayu :hm... sepertinya aku mencium bau-bau kebocoran ini...(palingan bau kentut si author. #pakk). Hahaha... terimakasih atas pujiannya, itu membuatku mali ;p
Silent Reader-san : douitashimaste...
Saya sendiri juga berharap demikian. Soalnya sudah tidak mungkin merubah alur yang sudah begitu tertata, jadi saya sendiri berharap jika keputusan saya ini tidak akan mengecewakan para pembaca.
Baiklah akan saya jawab satu persatu..
Tidak. Seperti yang terjadi di atas, hanya ada konfrontasi frontal dari Lilith. Sedangkan Sona hanya memberitahukan jika dia akan menghidupkan Naruto saja.
Tidak sepenuhnya salah sih.. tapi yang ikut Cuma issei dan asia saja. Sedangkan Rias tidak akan ikut campur lebih dari itu. Karena dia menghormati keputusan Sona.
Kalau chapter saya menulis ketika saya sudah update chapter sebelumnya, tapi kalau kerangka yang sudah fix kini sudah samai pertengahan cerita. Sedangkan selanjutnya masih berupa garis besar saja.
Haha... thanks... saya sendiri juga bingung kenapa otakku hanya berisi imajinasi saja. Kalau boleh jujur sebenarnya menurut pendapat pribadiku saja kekuatan imagine breaker adalah kekuatan tekuat, selama masih bisa di sentuh tidak ada kekuatan yang bisa melukai pemiliknya. Tapi karena hanya berupa kekuatan defensif tanpa kekuatan ofensif apapun sehingga imagine breaker tak lebih dari sebuah kekuatan terlemah.
Adios : douitashimaste... kalau pertarungan ada tuh di atas. Namun sayangnya tidak ada kerja sama antara Sona dan Lilith. Dan hubungan mereka masih tak lebih dari dua saingan yang saling membenci satu sama lain.
Guest abadi 3x : haha... tidak perlu minta maaf, selama anda masih membaca karya saya ini saja sayapun sudah senang. Terimakasih atas pujiannya, dan saya harap hal itu bisa jadi kenyataan..
Secret : saya sendiri masih bingung. Di wikipedia tempat tinggal Hades itu di Orebos, sedangkan ada yang bilang tempatnya itu di Tartarus. Hah dilema. Hades itu sudah tidak bisa busuk lagi, tubuhnya aja tegkorak semua :v. Kalau kedua hewan itu saya sudah menyelidikinya dulu, tapi kalau ada yang masih bingung nanti akan saya tanyakan kembali.
Sebenarnya ide anda lumayan bagus sih. Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya alurnya sudah fix, dan juga dalam fix ini terlalu banyak chara yang OOC jadi demi menyokong sifat itu saya sudah menyiapkan sebuah jalur yang melenceng dari cerita DxD.
Naruto-senpai : tuh makhluk memang dah greget dari sononya. Cara nyemir rambutnyapun sudah greget. Dan Sona tidak akan pergi sendiri tuh. (sambil nunjuk ke atas)
Asd : oke...
Pendy : iya dan iya :v
Ryu : thanks. Untuk flashbacknya akan ada di perengahanmenjelang akhir arc ini. Juga sebagai penguak segala kejutan yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.
HIGH CLASS OTAKU : hahaha... sepertinya aku harus pegangan kursi agar tidak terbang. :v
Sayang sekali aku tiadk bisa megabulkan permohonan anda. Jujur aku memang sering baca fic lemon dulu, tapi jika di minta untum membuatnya saya akan langsung angkat tangan dan menyerah. Bukan karena apa tapi memang aku tidak bisa membuatnya, juga menambah resiko berkurangnya pembaca.
Seperti yang anda bilang. Kualitas tulisannya memang jauh dari fic KWO milik EL23. Dan dia itu adalah sahabatku yang satu sekolah, satu jurusan, satu kelas, dan satu bangku lagi... (untung saja tidak satu bapak #lol). Terimakasih atas saran dan doanya. Mungkin saya tidak dapat memenuhi permintaan anda tapi saya harap anda puas dengan apa yang saya sajikan.
alim fanficker : thanks. Seperti yang sudah kalian tebak pemenangnya adalah sang main heroine. Sona.
Kk Asia : haha aku baru dengar perumpamaan semacam itu :v, dilihat saja dulu nanti ;)
Kaskus ngesot : hahaha... kenapa kagak sekalian bikin banci :v. Tapi menurutku naruto yang sekarang ini saja sudah cukup greget, kalo di bikin greget lagi entar Azazel kesaingan dong :v
.
Kurasa cukup sekian dan sampai jumpa dua minggu lagi...
.
