Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Naruto The Devil Fruit User © Saya

Rated : M for safe

A/n : Akhirnya bisa update. Maaf, saya malah makin sibuk. Satu tugas belum selesai, uda ada diberi tugas lainnya. Ini juga masih curi-curi waktu. Gomen.

Dan maaf. Saya gak bisa update kilat kayak dulu lagi. Saya lagi pusing sama urusan sekolah. Ditambah kurangnya inspirasi.

Tapi saya janji kok. Cerita ini bakalan sampai endingnya. Nggak bakalan ngegantung. Karena ceritanya udah melekat di kepala saya. Tinggal diketik dan dipublish.

Dan waw.. Naruto udah tamat.. karya besar mbah MK akhirnya selesai. Dan karya saya ini juga akan selesai (mungkin beberapa bulan lagi atau mungkin beberapa tahun lagi).

Saya sengaja nggak buat pertarungan di chap ini.. saya masih kurang inspirasi untuk pertarungan ketika perangnya. Jadi kalo yang punya saran, bisa kasih tahu saya.

Doain aja supaya saya nggak pikun.

Warning: Typo(s), abal, gaje, SMS (Sistem Mikir Semalam), dll.

"talking"

'thinking'

"jutsu"

Story Start

Di sebuah lapangan luas. Tempat dimana ramai sekali orang berdiri diatasnya. Bisa kita lihat kalau orang-orang itu adalah orang yang biasa dipanggil para 'shinobi'. Tidak. Bukan hanya shinobi, namun samurai pun ada disana. Kita bisa tahu dari rompi perang yang berbeda-beda dan juga sebuah 'hitai ate' bertuliskan shinobi bertengger dikepala mereka.

Mereka adalah para pasukan shinobi dari lima desa besar.

"PERHATIAN SELURUHNYA." Suara berat Raikage terdengar di penjuru lapangan itu.

"Sekarang kita akan menghadapi perang terbesar yang akan diingat oleh sejarah. Sebuah perang yang berbeda dari perang sebelumnya. Jika dulu kita berperang dengan satu sama lain. Tapi sekarang, kita bersatu dan berperang melawan mereka yang bertujuan untuk menguasai dunia kita ini. Karena itu lah, aku mohon bantuannya." Ucap Minato yang berdiri diatas sebuah bangunan besar bersama kage-kage lainnya. Gaara juga ada.

"Ketua tim penyergap, Kankuro. Ketua tim logistik dan medis, Shizune. Ketua tim intelejensi, Yamanaka Inoichi. Ketua tim deteksi, Ao. Pasukan 1 – pasukan tempur jarak tengah, ketua Darui. Pasukan 2 – pasukan tempur jarak dekat, komandan pasukan, Kitsuchi. Pasukan 3 – pasukan tempur jarak dekat dan tengah, komandan pasukan, Hatake Kakashi. Pasukan 4 – pasukan tempur jarak jauh, komandan utama pasukan tempur dan komandan pasukan 4, Gaara. Pasukan 5 – pasukan tempur khusus, komandan pasukan, Mifune." Ucap Ay sang Raikage.

Sementara itu, di kerumunan ninja

"Heh.. yang dulunya musuh besar mana mungkin bisa bersama." Komentar seorang ninja Suna.

"Hei, kau pikir aku ingin bekerja sama dengan kalian. Lagi pula, kage kalian terlalu muda untuk jadi komandan utama." Balas seorang ninja Iwa yang mendengar ucapan shinobi Suna.

"Apa yang kau bilang. Gaara-sama bukan pemuda biasa tahu. Lancang sekali kau menilainya." Ucap shinobi Suna yang dengan cepatnya tersulut emosi.

"Memangnya kenapa hah? Asal kau tahu saja, ayahku dibunuh shinobi Suna." Balas si shinobi Iwa sambil mencengkram kerah baju shinobi Suna.

"Hei. Sudahlah kalian ini. jangan berkelahi." Ucap seorang shinobi Konoha mencoba melerai perkelahian yang akan terjadi.

Sedangkan disisi pasukan lain.

"Jujur saja, aku juga merasa begitu." Ucap shinobi Konoha pada temannya yang berada disebelahnya.

"O-oi, apa yang kau bilang Hoheto." Balas temannya agak panik.

"Tidak, ini hanya pendapat pribadiku. Waktu itu, Suna berniat menghancurkan Konoha dan juga Hyuga Hizashi terbunuh karena Kumo yang bertujuan mendapatkan byakugan Konoha." Balas shinobi bernama Hoheto itu.

"Konoha tidak berhak bilang begitu." Komentar seorang shinobi Kumo yang mendengar percakapan antar dua shinobi Konoha itu.

"Ninja kalian menyerang pertemuan lima kage dan membahayakan Raikage-sama. Kalian harus membayarnya." Lanjutnya lagi.

"A-apa?" shinobi Konoha nampak kaget mendengarnya.

'Nampaknya mereka belum bisa mempercayai sesama.' Batin para kage yang tanpa sengaja melihat kejadian itu.

Duaarr

Sebuah cahaya turun dari langit tepat di depan para kage bersamaan dengan munculnya sebuah kubah dan batu tinggi berukuran sedang yang memisahkan dua shinobi yang baru saja ingin berkelahi.

Cahaya itu perlahan membentuk sesosok pemuda berambut kuning jabrik. Sosok itu memakai kaos hitam lengan panjang yang ditutupi jaket oranye kerah tinggi tanpa lengan, sehingga memperlihatkan lengan kaosnya. Dia mengenakan celana panjang berwarna hitam, jubah merah berornamen api hitam dibawahnya, sepatu shinobi hitam dan pedang shushui kebanggaannya yang dipasang vertikal di punggung kanannya, namun hanya gagangnya yang kelihatan (karena dipasang di dalam jubah). Jangan lupakan kanji hitam bertuliskan 'Hikari Ou' di punggungnya.

Setelah itu, kubah dan batu yang muncul tadi langsung menghilang.

"Naruto-/kun/san/dono." ucap orang-orang yang memang mengenalnya.

'D-dia... siapa?' batin shinobi-shinobi yang belum mengenal pemuda di depan para kage itu.

"D-dia, anak Yondaime Hokage dan Akai Chisio no Habanero no Uzumaki Kushina, Uzumaki Naruto. Dialah Nidaime Konoha no Kiroii no Senko dan juga Konoha no Eiyuu." Ucap shinobi Konoha yang tahu akan identitas Naruto.

"Jika kalian bertanya siapa aku. Aku . . . ." sosok itu memberi jeda pada omongannya.

" . . . . hanyalah bayangan yang lahir dari ketidak adilan dunia dan berusaha mengubahnya menjadi lebih baik. Aku tidak memihak siapapun dan tidak juga memusuhi siapapun. Sekutuku adalah dunia itu sendiri. Karena . . . . aku adalah bayangan yang akan menuntun dunia ini menjauh dari kegelapan dan menggiringnya menuju cahaya. Dan jika kalian melakukan hal yang dapat mencegah dunia ini menuju cahaya yang kumaksud, aku bersumpah akan menghabisi kalian. Bahkan jika dewa sekalipun yang melakukan itu." lanjut sosok yang ternyata Naruto dengan datar nan horor.

Semua yang mendengar ucapannya hanya bisa terdiam. Takut, kaget, syok dan perasaan lainnya bercampur aduk di hati mereka.

"Demi nama baik, gengsi dan keunggulan negara dan desa. Shinobi saling membenci dan membenci satu sama lain selama bertahun-tahun. Kebencian itu telah melahirkanku. Aku dulunya adalah senjata desa yang haus darah dan membenci seluruh umat manusia di dunia ini dan ingin menghancurkannya. Aku adalah jinchuriki. Tapi . . . . seorang anak kecil dari Konoha telah menyadarkanku. Ketika Suna berniat melakukan penyerangan ke Konoha dan sedang dalam perjalanan jauh mencari persenjataan, seorang anak kecil yang kebetulan bertemu denganku di sebuah pulau tak berpenghuni tempat kami singgah telah mengalahkanku dalam bertarung dengan hati baiknya. Dia berkata kalau dia adalah anak terbuang dari Konoha. Dia menangis untukku padahal aku adalah musuhnya. Kami saling melukai, tapi dia menyebutku temannya. Dan asal kalian tahu, pria di sebelahku inilah orangnya, yang telah menghilangkan kebencian itu dari diriku dengan semangat juang dan hati baiknya. Dia lebih menderita dariku. Tapi, justru dialah yang membuatku begini. Dia berkali-kali menolongku. Bahkan setelah bertahun-tahun tak bertemu. Aku merasa malu jika tak dapat menolongnya memenangkan peperangan ini. Kami merasakan luka yang sama. Dan sekarang ini kita semua merasakannya juga. Luka yang digoreskan orang-orang yang berniat menguasai dunia. Tidak ada Suna, Iwa, Kumo, Konoha ataupun Kiri. Yang ada hanyalah shinobi. Dan jika kalian masih memiliki dendam dengan Suna. Kalian bisa memenggal kepalaku setelah perang ini usai. Tapi, tolong pinjamkan kami kekuatan kalian. Kami berdua masih hijau, dan tidak punya pengalaman. Karena itu lah, tolong kami." ucap Gaara sambil berjalan ke samping Naruto.

"Kami adalah apa yang kalian sebut tunas muda. Dan jika kalian menginginkan masa depan yang cerah. Bimbing kami. Tuntun kami. Bantulah kami. Kami hanyalah bocah ingusan ceroboh yang hanya bisa meminta pertolongan. Kami masih bodoh. Yang kami inginkan hanyalah perdamaian. Bukan kekuatan ataupun kekuasaan. Kami sudah bosan dikucilkan, dihina, disakiti, dihindari, dibuang. Kami ingin hidup dengan tenang. Bukankah itu . . . kemauan semua orang. Karena itulah . . . tolonglah kami." Sambung Naruto sambil mengingat masa pedihnya dulu.

"WOOOOAAHH." Gemuruh suara menggema di lapangan itu.

"Maafkan aku. Aku yang salah." Ucap shinobi Iwa yang amarahnya sudah reda.

"T-tidak kok. Aku juga salah." Balas shinobi Suna yang juga merasa bersalah.

"Syukurlah." Ucap shinobi Konoha yang tadi berusaha melerai pertengkaran kedua shinobi itu.

'Seperti biasa. Datang tiba-tiba dan langsung membuat sensasi. Dia memang benar-benar tidak berubah. Oh . . . dan jangan lupakan kata-kata sok keren yang di keluarkannya itu. Aku rasanya ingin tertawa mendengarnya.' Batin Sasuke melihat sahabatnya itu.

'N-naruto-kun... keren sekali.' Batin Hinata dengan wajah merah.

"Huh, si brengsek itu. Selalu mencari moment yang tidak wajar untuk muncul." Komentar Kiba melihat aksi Naruto.

"Naruto-kun, aku juga tidak akan kalah. SEMANGAT MASA MUDA. MEMBARALAH." Teriak Lee di tengah keramaian yang tentu saja dihadiahi jitakan dari teman-temannya.

"Dia terlalu mencolok. Aku akan menghindari tindakan seperti itu." Komentar Shino sambil menundukkan kepalanya.

"Kalau kamu sih nggak perlu, Shino." Balas Ino sweatdrop dengan komentar temannya itu.

Back to Naruto

Clik

Syuutt tap tap tap

Naruto menjentikkan jarinya dan seketika itu pula muncul 13 orang berjubah merah berdiri di belakang Naruto. (jubahnya sama dengan jubah edo tensei milik mantan anggota akatsuki di canon)

Lima orang diantaranya maju dan berdiri di depan Naruto dan Gaara.

"M-mereka . ." para shinobi yang melihat wajah-wajah mereka berlima hanya bisa terkaget-kaget.

"A-aniki.." Sasuke membelalakkan matanya tak percaya ketika melihat mata salah satu sosok iitu yang bersinar merah terang.

"Mereka adalah orang-orang yang ikut andil menciptakan perang ini. merekalah yang membuat kalian menderita. Merekalah otak dibalik semuanya. Dan aku . . . berada di sisi mereka sekarang." Ucap Naruto datar.

Terkejut. Hal itu lah yang terjadi pada semua shinobi (yang memang belum tahu kebenarannya) yang mendengar ucapan Naruto.

"Tapi tenang saja. Mereka kini sudah keluar dari Akatsuki dan menjadi anggota organisasi buatanku, Tsukikage. Bersama dengan sembilan jinchuriki lainnya." Lanjut Naruto yang membuat keadaan mereda.

Dan rupanya delapan orang yang datang bersama para mantan anggota Akatsuki adalah jinchuriki dari ekor dua sampai sembilan. Mereka berlapan mengenakan sebuah jubah merah yang sama dengan Tsukikage, namun lambang rinnegan di belakangnya di gantikan dengan kanji yang bertuliskan 'satu' sampai 'sembilan', sesuai ekor mereka. Tentu saja yang ekor satu masih di sebelah Naruto, yaitu Gaara yang masih belum memakai jubahnya. Yugito (Nibi no Jinchuriki) mengeluarkan sebuah gulungan dan mengeluarkan sebuah jubah dari gulungan itu. Dia lalu meleparkan jubah itu pada Gaara. Gaara memakai jubahnya yang sudah dimodifikasi (untuk gentongnya).

"Di bawah nama Tsukikage. Kami akan membimbing dunia ini menuju kedamaian. Kami akan pergi dan kembali untuk menolong kalian di saat musuh berada di puncak kekuatannya." Ucap Naruto.

13 orang yang tadi baru saja datang langsung menghilang kembali dalam kepulan asap.

"Pergilah. Gapai kedamaian yang kalian cari. Jika itu untuk kebenaran. Kami akan selalu menolong kalian. Selama ada cahaya, maka akan ada bayangan. Kalian adalah cahaya itu dan kamilah sang bayangan. Ingat itu baik-baik." Ucap Naruto sebelum berubah kembali jadi cahaya dan menghilang.

Semua orang yang mendengarnya hanya bisa diam dan berusaha mencerna ucapan Naruto.

SKIP

Di sebuah tempat

"Bagaimana? Apakah sudah dimulai?" tanya seseorang yang memakai jubah bertudung.

"Ya. Zetsu putih sudah bergerak di dalam tanah. Akan mencolok kalau bergerak di permukaan dengan jumlah sebanyak itu." Balas seseorang dengan topeng yang memiliki dua buah lubang (bayangkan topeng dan pakaian Tobi setelah mendapat rinnegan Nagato, tapi rinnegannya digantikan sharingan).

"Kau benar. Nah.. aku juga akan menggerakkan pasukanku. Kuchiyose: Edo Tensei." Ucap Kabuto sebelum puluhan peti keluar dari tanah di depannya.

"Banyak sekali." Komentar yang keluar dari mulut Tobi.

"Pertama, para kage terdahulu. Tapi Hokage pertama sampai ketiga belum aku keluarkan. Mereka akan jadi kartu as ku bersama dengan 'itu'. Jadi yang ada hanyalah Yondaime Kazekage, Sandaime Raikage, Nidaime Kazekage, dan Nidaime Mizukage." Ucapnya dan empat dari puluhan peti itu terbuka dan menampilkan sosok-sosok yang disebutnya.

"Lalu, aku juga sudah menyewa Hidan dan Kakuzu yang menjadi mantan Akatsuki. Mereka tidak mau bekerja kalau tidak ada uang. Aku juga membangkitkan Bakuton no Gari, Kijin Zabuza, Hyoton no Haku, Salamander no Hanzo, nenek Chiyo dari Sunagakure, Kimimaro dari klan Kaguya, Dan, Hizashi Hyuga, dan yang lain yang memiliki kemampuan khusus." Lanjut Kabuto ketika seluruh peti-peti itu terbuka.

"Ditambah zetsu putih yang telah bergerak. Hmm.. perang ini akan menyenangkan.. perang shinobi keempat." Lanjut Kabuto lagi dengan seringainya.

"Ayo." Ucap Tobi datar sambil berjalan keluar.

Kabuto lalu mengikutinya dan diikuti lagi oleh para edo tensei yang bergerak.

Di tempat lain

Para anggota shinobi sudah bergerak dan berlari menuju medan perang. Mereka di pisah menjadi beberapa regu dan dipimpin oleh ninja-ninja hebat yang beerapa diantaranya ikut berpartisipasi pada pertemuan lima kage+ sembilan jinchuriki.

Mereka berlari dalam sebuah barisan besar sebelum akhirnya dipisah menjadi dua barisan yang dipimpin oleh Gaara dan Darui.

Skip

Di langit

Delapan burung tinta terbang dengan belasan orang di atasnya. Mereka adalah tim penyergap. Mereka terbang dengan tujuh burung yang membentuk 'V' dan satu burung di belakang burung yang paling depan.

'Perang. Aku benar-benar tidak mau mengalaminya. Bagaimana kalau kami diserang dan hanya aku yang tersisa. Lalu aku ditangkap, diintrogasi, dan dicuci otak untuk melawan Karui dan Raikage-sama. Tapi kalau aku bisa melarikan diri, aku akan dianggap sebagai ninja yang mementingkan diri sendiri. Oh, bagaimana kalau nanti aku malah dibilang ninja terkuat yang berhasil bertahan. Akan banyak penggemarku dan aku akan jadi terkenal.' Batin Omoi (salah satu anggota tim penyergap dari Kumo) nista.

"Omoi... apa kau mendengarku. Kita akan mendarat di wilayah musuh, jangan bengong." Ucap Kankuro menyadarkan Omoi dari lamunannya.

"A-anu, boleh aku tanya sesuatu.. umur kita tidak beda jauh. Apa ini perang pertamamu? Apa kau tak merasa ragu?" tanya Omoi.

"Kesuksesan perang ini tergantung kita. Berhasil atau tidaknya begantung pada serangan kita. Kalau ingin melindungi keluarga dan temanmu, pikirkan saja cara menyukseskannya." Jawab Kankuro.

Wuussshhhh

Sebuah burung dari tanah liat datang dan terbang bersama tim penyergap di tengah-tengah formasi.

"Kau sudah dewasa, Kankuro." Ucap sebotol saos yang ada di atas burung.

"Ya. Tidak seperti ketika kami menculik adik kecilmu yang seperti botol saos di sebelahku, un." Ucap seonggok jagung di sebelah makhluk botol saos.

"Apa maksudmu dengan menyebutku botol saos hah? Deidara." Ucap si botol saos tak terima.

"Ya tentu saja karena kau seperti botol saos. Apalagi dengan rambut merahmu itu. Sasori no Danna, un." Balas si jagung pirang.

Mereka berdua ternyata adalah Sasori dan Deidara yang malah berkelahi sendiri.

'Sasori, jangan-jangan itu wujud asli Sasori. Muda sekali.' Batin Kankuro tak percaya.

Gyuutt Trekkk

"Aww.." "Eghh.."

Sasori menarik hidung Deidara dan Deidara membalas dengan menarik telinga Sasori.

"Lepaskan telingaku brengsek."

"Apa kau bilang? Kau yang harus melepaskan hidungku bodoh, un."

"Kau!"

"Kau!"

"Kau!"

"Kau!"

Buagh Buagh

Mereka akhirnya memukul wajah lawan bertengkarnya. Sampai-sampai mereka berdua terjatuh dari burung tanah liat Deidara.

"WAA" Teriak mereka bersamaan.

"Cepat tolong mereka!" perintah Kankuro ketika melihat Deidara dan Sasori terjatuh.

Wushh Pofftt

Sebelum para anggota penyergap menolong mereka. Deidara sudah di selamatkan oleh burung tanah liatnya. Sedangkan Sasori mengeluarkan sebuah scroll dan mengeluarkan sebuah boneka dari scroll tersebut. Boneka itu lalu membuka bagian dadanya dan mengeluarkan pasir besi yang membentuk sayap dan terbang dengan Sasori di atasnya.

"Woaah, jadi ini Tsukikage." Ucap salah satu dari tim penyergap yang terkesima dengan aksi duo seniman dari Tsukikage.

"Maaf.. Kami lepas kendali.." Ucap Sasori yang sudah kembali menaiki burung Deidara dan menghilangkan bonekanya.

"Ya sudah.. ayo cepat mendarat, un." Sambung Deidara.

"Baik.. Ayo semuanya turun." Ucap Kankuro pada anak buahnya.

"Baik." Jawab semua anak buahnya. Mereka pun mendarat di hutan wilayah musuh.

Di Bawah

"Baiklah.. karena kita berada di kawasan musuh, kita harus ekstra hati-hati. Dirikan markas di sini dan buat markas kecil di sekelilingnya. Lalu, kita rencanakan sergapan serta rencanakan sergapan serta menanam bom waktu. Buat pintu masuk di arah jam 2 dan 6. Omoi, pasang bom kertas di semua arah lain. Sai, teruskan pengawasan dari udara. Ittan, buat parit pakai Doton. Tango, sebarkan antena transmisi cakra. Zaji dan Hoheto, tangani deteksi serta pengawasan. Kiri dan aku akan menyusun strategi."jelas Kankuro.

"Baik." Balas semua anggotanya serentak.

Mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing.

Sedangkan Deidara dan Sasori malah asik dengan urusan mereka sendiri. Deidara sedang bermain tanah liatnya dan Sasori sedang mengotak-atik sebuah lengan mekanik dari kayu.

'Apa yang mereka lakukan? Mereka nista sekali.' Batin semua shinobi yang ada di sana ketika melihat aksi Deidara dan Sasori.

Kita beralih ke tokoh utama kita

"Naruto. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Itachi pada Naruto.

Mereka semua kini berada di sebuah gua yang berada di dekat gunung besar.

"Kita hanya akan memantau perang ini. Tapi, jika ada musuh-musuh yang seharusnya tak dilawan shinobi. Kita akan turun." Jawab Naruto.

"Tapi apa kita tidak langsung ikut, Naru-chan?" tanya Kushina.

"Tidak, kita akan mengincar waktu yang pas. Dan . . . . jangan memanggilku dengan '-chan'." Balas Naruto mendeathglare kaa-sannya.

"Hehehe.. kau lucu saat begitu, Naruto. Tidak pas sekali." Kali ini Yugito yang berkomentar.

"Hn.." Naruto hanya membalasnya dengan dua huruf andalan sahabatnya.

"Yang paling penting. . . . kita harus menyusun strategi dan mengincar waktu yang tepat untuk muncul. Aku sarankan cara-cara yang keren. Aku tidak mau muncul di depan adikku dan langsung tepar terkena pukulan lawan. Bisa-bisa aku mati malu." Ucap Itachi yang narsisnya keluar.

"Hem.. aku setuju. Aku akan muncul dari dalam bunglonku bersama Konan dan mengeluarkan tekhnik andalanku, Shinra Tensei. Dan semuanya akan bertepuk tangan dan memujiku. HAHAHA." Ucap Nagato diiringi tawa psikopat di akhirnya.

'Aku tak tahu kalau Nagato juga narsisme tingkat tinggi.' Batin Naruto.

"TIDAK." Konan berteriak sambil menutup kupingnya.

Brugghh

Dia lalu jatuh terduduk.

"Ada apa Konan?" tanya Nagato panik.

"N-narsisme mu kambuh lagi.. AHHH.. gawat.. aku.. TIDAK MEMBAWA OBAT ANTI NARSIS." Jawab Konan dengan wajah frustasi sambil berlari mengelilingi gua.

'Kenapa mereka pada gila..' batin Naruto yang baru menyadari kekeliruannya.

"Psstt.. apa mereka memang selalu seperti ini.. aku sama sekali tak menyangka.." bisik Fuu pada teman-teman jinchurikiinya.

"Ntahlah.." balas Yugito dengan berbisik.

"Kurasa yang salah adalah Naruto." ucap Kushina tiba-tiba.

"Hah? Bagaimana bisa?" tanya si mantan Mizukage, Yagura.

"Karena dia selalu terlibat dengan orang-orang aneh. Waktu kecil dia pernah berteman dengan seorang anak yang ternyata pasien rumah sakit jiwa. Lalu dia juga pernah berteman dengan penculik yang akhirnya tidak jadi menculik Naruto karena luluh dengan sifat polos Naruto. Dan juga, pernah suatu hari dia bertemu dengan perampok di tengah jalan. Bukannya taku dirampok, Naruto malah mengajak perampok bermain shogi dengan Shikamaru, temannya. Perampok itu malah tidak jadi merampok Naruto karena terlalu frustasi karena dikalahkan oleh bocah dalam permainan simpel bernama shogi. Ahh.. aku jadi ingin mencubit pipi Naruto yang masih polos waktu itu,mukanya pasti lucu." Ucap Kushina sambil mengingat momen-momen ketika Naruto masih kecil ditambah perkataan gajenya di akhir.

'Ternyata ibunya juga aneh. Ibu dan anak memang sama. Semoga saja Yondaime Hokage-sama tidak begitu.' Batin Yugito, Yagura, dan Fuu bersamaan.

Sedangkan para jinchuriki yang lain juga sibuk sendiri. Roshi sedang bertapa bersama Han. Utakata sedang membuat amunisi dari air sabunnya alias air untuk gelembung-gelembungnya nanti. Dan Killer Bee sedang menulis sesuatu di bukunya sambil mendengarkan ucapan orang di sekitarnya dan sesekali bergumam. Tentunya dia sedang menulis lirik 'enka rap'nya.

Ternyata oh ternyata... mereka semua ikutan sibuk sendiri dan beberapa diantara mereka sudah gila. Bagaimana bisa mereka memenangkan perang ini? Apakah Naruto dan timnya bisa mengatasi perang? Baik itu melawan musuh maupun melawan kegilaan mereka sendiri?

Saksikan episode berikutnya di toko material terdekat!

Dan dapatkan Cdnya di klinik Tong*ang!

CD dan isinya dijual terpisah.

Ok.. abaikan yang diatas.. Ini adalah chapter terbaru.. semoga seru dan memuaskan..

Bagi yang punya saran atau kritik bisa me-review.

RnR please.

Akhir kata saya ucapkan 'Bye bye'..

RyoKazuto out.

V

V

V

V

V