Selamat membaca~ (edisi males bikin summary)
#banghim #bap #gs #t #m
Bang Her!
14
Tidak apa-apa. Park Kyungwook sudah ditangkap dan masuk penjara. Dia tidak akan bisa menyakitiku. Tidak apa-apa. Tak ada yang perlu aku takutkan. Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-apa.
Tidak apa-a—
...
...
—takut...
Aku takut...
Takut sekali...
Tolong...
.
Cklek, knop berputar disusul daun pintu yang perlahan terbuka memperlihatkan bagian dalam ruangan yang nampak gelap gulita sebab lampu sama sekali tidak dinyalakan pun dengan tirai jendela yang menutup rapat.
Tuk, tuk, tuk, suara langkah kaki seseorang menggema di dalam spasi kamar yang hening—terlalu hening hingga desah napas juga ikut terdengar laksana desisan tabung oksigen. Ayunan sepasang kaki panjang tersebut terhenti di pojok kamar, di dekat almari dan pintu kamar mandi. Pelan ia merendahkan badan, berlutut di depan seseorang yang sejatinya sudah lebih dulu berada di dalam ruangan sebelum dirinya masuk. Sepasang mata coklat itu meredup menatap kepala berambut panjang yang tertunduk, menyembunyikan seluruh wajahnya di antara kedua lutut dengan jemari tangan saling terkait pada jari kakinya. Dengan sangat pelan orang yang baru saja masuk ke dalam kamar membawa lengannya untuk kemudian mendarat di puncak kepala bersurai coklat tersebut. Gerakannya begitu lembut namun entah kenapa malah membuat sosok di hadapannya tersentak hebat seperti dikagetkan oleh sepuluh petasan.
"Ja—" mata bulat berwarna coklat itu membelalak lebar nyaris nanar dengan tatapan terkejut luar biasa yang bercampur dengan perasaan teror membuat siapapun melihatnya kali ini akan mengira dia sedang memandang hantu atau semacamnya.
"JANGAN!" sebuah teriakan melengking. "Jangan ke sini! Jangan sakiti aku! Aku mohon! Jangan sakiti aku!" berlanjut dengan racauan histeris berisi isak tangis. "Aku bersalah! Aku mengaku salah! Aku mohon jangan sakiti aku! Aku yang salah! Aku mohon!"
"Youngjae-ya, ini aku. Daehyunie! Tenanglah, Youngjae." Daehyun mengulurkan tangan, mencoba merengkuh gadis yang masih berteriak keras sembari memukul serta menendangnya, sekuat tenaga menghindari dia.
"Jangan mendekat! Jangan sakiti aku! PERGI!" Youngjae tidak berhenti menjerit, air mata meleleh di kedua pipinya yang pucat dan tirus.
"Aku tidak akan menyakitimu. Aku mencintaimu, Youngjae-ya. Ini aku, Jung Daehyun!" pemuda yang lebih tua masih berusaha meyakinkan namun kekasihnya seolah tidak bisa mendengar apapun yang ia katakan. Youngjae masih menangis, berteriak, dan menolak semua uluran tangannya seperti orang kesetanan.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Youngjae-ya?" suara Daehyun berubah parau. Isi hatinya terasa hancur menyakitkan melihat keadaan kekasih tercinta tiba-tiba menjadi mirip orang depresi. Tak hanya mengurung diri, Youngjae juga bertingkah histeris hingga tidak bisa mengenali Daehyun seolah isi otaknya sudah dicuci oleh orang lain.
"Aku mohon jangan sakiti aku! Aku bersalah! Aku mengaku salah! Aku mohon jangan sakiti aku!" Youngjae meraung, masih tetap memberontak meski akhirnya Daehyun berhasil membawa gadis itu ke dalam dekapan erat. Di dada kekasihnya, Youngjae meracau tanpa henti.
Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu, Youngjae. Maafkan aku yang selalu gagal melindungimu sampai kau harus menderita seperti ini. Maafkan aku...
-o-
"Eoh, aku mengerti." Yongguk bicara dengan mata menerawang ke langit jingga di balik bening kaca jendela kamar inapnya. Telepon genggam ada di tangan menempel pada daun telinga.
Cklek, terdengar pintu kamar dibuka dari luar.
"Lakukan saja seperti rencana awal kita." Yongguk mengalihkan mata, mengikuti asal suara yang barusan memecah keheningan dan langsung dapat menemukan ekspresi kesal Jieun diikuti sosok Himchan yang berjalan menunduk di belakangnya.
"Jangan gegabah. Kalau kau berulah aku sendiri yang akan memotongmu," desis Yongguk, sejatinya mengerti pada isyarat di kilat mata Jieun yang dengan tidak langsung memintanya untuk berhenti bicara di telpon.
"Aku akan menghubungimu lagi. Ada gozila betina yang datang, sepertinya dia kelaparan dan ingin memakanku." Yongguk memutus pembicaraan dan langsung disambung oleh lengkingan suara saudara iparnya.
"Kapan kau akan mendengarkan kata-kataku!? Sudah ku bilang, BERHENTI BEKERJA DI RUMAH SAKIT!"
Yongguk mengorek lubang telinga dengan ujung kelingking. "Aku mendengarkanmu—"
"PEMBOHONG!" Tuding Jieun yang cuma mendapat tiupan kecil pria berkulit tan pada ujung kelingking bekas mengorek kuping.
"Bang Yongguk, kau menyebalkan!" umpat Jieun sambil menggenggam kuat kedua kepalan tangannya sebab tidak dapat menyalurkan hasrat untuk memukul Yongguk mengingat posisi lelaki tersebut masih menjadi pasien yang sedang dalam tahap pemulihan.
"Apa yang kau lakukan di sini? Aku sudah melakukan semua pemeriksaan tadi sore dan harusnya aku bisa istirahat malam ini sampai besok. Jangan menggangguku," gumam Yongguk menggerutu.
"Mungkin maksudmu; 'Jangan menggangguku BEKERJA'?" Jieun menegaskan.
"Bagus kalau kau tahu." Saudara iparnya membalas cepat.
"Bangsat kau, Bang Yongguk!"
"Kenapa kau juga ada di sini?" tanpa mengindahkan reaksi Jieun, perhatian Yongguk beralih pada Himchan yang sedari tadi diam—tidak seperti dia yang biasa yang begitu ceriwis dan suka ikut campur pada pembicaraan orang lain.
Gadis yang tengah hamil terjengat disapa oleh pria yang sedang duduk di ranjang berselimutkan kain pasien. Dengan cepat ia mengalihkan pandangan, mukanya memerah mengundang kernyitan heran kedua alis lebat Yongguk.
"Ehem." Jieun berdehem membuat pandangan lelaki bersuara bass kembali mengarah padanya. Alis Yongguk masih bertaut, instingnya meraba akan ada masalah yang timbul sebentar lagi.
"Bang Yongguk-ssi," ujar Jieun. Suaranya terdengar sangat formal membuat firasat buruk Yongguk semakin kuat.
"Kami butuh bantuanmu."
Tuh 'kan bener.
-o-
Sepi menggantung di sebuah unit apartemen yang terletak di tengah-tengah ramainya tanah Gangnam, hanya lantunan melodi klasik Mozart mengalun pelan dari sebuah pemutar musik di rak dekat televisi LED, selebihnya tak ada suara lagi hingga menggema suara denting gelas berbenturan lembut dengan permukaan keramik dari arah dapur.
"Perubahan rencana? Rencana apa? Aku bahkan tidak tahu kalau kau ternyata punya rencana." Yongnam menghentikan gerakannya, gelas berisi susu berada di tangan kiri sementara tangan kanannya memegang ponsel yang melekat pada telinga. Alis pria tersebut mengerut.
"Dengar, kalau untuk yang seperti itu aku bisa melakukannya sendiri. Aku—" kalimatnya terhenti yang kemudian langsung ia sambung kembali dengan cepat.
"Aku tidak gegabah! Kau harus ingat aku tidak pernah sekalipun gagal dalam melakukan tugas dan pekerjaanku tanpa cacat!" Yongnam meletakkan gelas susu di meja makan dengan kasar mengakibatkan isinya terpercik tumpah mengotori sekitar.
"Jangan tutup telponnya, DENGARKAN AKU!" suara bass lelaki itu menghardik tegas. "Aku bilang aku akan melakukannya sendiri. Aku tidak akan melibatkan Yongguk dalam hal ini dan jangan sekali-kali kau berani menghubungi dia." Yongnam berhenti sejenak.
"Jangan tanya apa alasannya, Yongguk hanya sedang tidak dapat menerima tugas apapun. Kondisinya sedang tidak memungkinkan untuk itu."
Kembali hening.
"Lebih baik kau menurutiku—" desis Yongnam. Nada suaranya menurun namun malah terdengar makin tegas, tak terbantah, dan berbahaya.
"—selagi aku masih menahan diri dan mencoba menghormatimu..."
Bibir Yongnam kelu sejenak sebelum kembali bergerak dengan setengah hati.
"...Ayah."
-o-
The hell. Adalah kalimat yang pertama muncul di otak Yongguk begitu Jieun selesai bicara. Pria tersebut diam, memberi tatapan yang jelas-jelas menguarkan pertanyaan APA-KAU-BERCANDA? menggunakan huruf kapital dari matanya.
"Jangan memandangku seperti ikan, Bang Yongguk! Memang ada yang salah dengan kata-kataku!?" Jieun kesal.
"Semuanya..." Yongguk mendesis. "...semua ucapanmu itu salah."
"Kau benar-benar tidak pengertian!" sang dokter meledak. "Kau iblis! Jahat! Lelaki berhati dingin! Tidak perhatian sama sekali pada wanita! Kau bekicot lamban—tidak, derajatmu bahkan lebih rendah dari bekicot sekalipun! Kau benar-benar berhati es kalau sampai menolaknya!"
"Siapapun yang mendengar kalimatmu pasti juga akan bereaksi sama sepertiku." Yongguk ikut kesal. "Mudah sekali kau menyuruh orang berhubungan seks dengan orang lain. Kau pikir manusia seperti anjing yang bisa dikawin-silangkan semaumu!"
"Ini bukan 'orang lain' tapi Himchan! Bukankah kau sudah pernah tidur dengannya? Lagipula dia juga sedang mengandung anakmu. Keinginannya—apapun itu—juga merupakan keinginan anakmu. Kau masih mau menolaknya!?" Jieun tak mau kalah.
"Seks bukan sesuatu yang bisa dengan mudah dibicarakan seperti cangkok tanaman. Diam dulu, biarkan aku berpikir!"
"Berpikir apa lagiiiii!? Jangan sok jual mahal sementang kau pernah jadi gigolo. Itu cuma masa lalu! Kau yang sekarang hanya om-om dingin yang selalu menghindari wanita dan bersikap seperti homoseksual pedofil!"
"Aku tidak pedofil!"
"Hoo~ jadi kau tidak keberatan dengan bagian homo-nya?"
"Song Jieun, kau—!"
"Hentikan!" pekikan nyaring suara Himchan membuat adu mulut dua orang di dekatnya mendadak beku. Ruangan senyap seketika.
"Mu-mungkin memang bukan ide yang tepat minta bantuan seperti ini," gumam Himchan. Suaranya bergetar dengan tangan gemetar dan wajah semerah kepiting rebus.
"Aku..." gadis tersebut perlahan bergerak mundur. "Aku minta maaf!" dia berseru, membungkukkan badan, dan langsung berbalik lari.
"Tungg—" suara Jieun tercekat namun gerakannya kalah cepat untuk menghentikan Himchan dan di sisi lain sebuah lengan sudah terjulur dengan jemari panjang menggenggam tangan gadis tersebut menahan usahanya untuk kabur.
Himchan menoleh cepat, memandang sosok Yongguk yang baru saja melompat dari atas ranjang dan sudah berdiri di sampingnya dengan jari memegang tangannya kuat hingga terasa menyakitkan. Muka wanita muda itu makin memanas, memerah sampai ke telinga dan jantung dalam dadanya terasa keras berdentum bagai sudah berubah menjadi puluhan tambur.
"Aku bilang biarkan aku berpikir dulu," ujar Yongguk, suara bass-nya terdengar makin berat terbalut nada yang rendah.
"Aku tidak bilang... aku menolaknya." Lelaki tersebut melanjutkan sambil menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya tapi Himchan sudah lebih dulu melihat seberapa merah dan salah tingkah sepasang mata yang biasa menatap dingin tanpa toleransi itu.
Ting. Dan Himchan sudah tidak tahu lagi seperti apa rupa mukanya sekarang ketika terlambat menyadari kelanjutan kalimat Yongguk barusan. Himchan terlalu malu sampai rasanya bisa pingsan saat itu juga.
Plek. Tangan Jieun yang jatuh di salah satu pundak Yongguk membuat lelaki tersebut terjengat kaget.
"Sudah diputuskan." Si dokter menganggukkan kepala puas. "Seperti yang aku katakan tadi, kau hanya perlu membantunya melepaskan hasrat TAPI tidak berhak memaksa Himchan memuaskanmu juga. INGAT, dia sedang hamil dan sangat rawan baginya untuk menerima rangsangan berlebihan. Jangan 'keluar' di 'dalam' sebab satu tetes kecil sperma saja bisa membuat rahimnya kontraksi dan itu akan sangat berbahaya bagi janinnya. Kau paham?" Jieun menegaskan.
"Iyaaa." Yongguk melengos.
"Ku bunuh kau kalau melanggar itu semua!" sebuah ancaman menutup ucapan Jieun sebelum dokter wanita tersebut melenggang menuju pintu lalu mengedipkan sebelah mata.
"Aku kunci pintunya dari luar sampai besok pagi ya, ppyong~"
Brak. Klek. Pintu benar-benar dikunci dari luar menyisakan Yongguk dan Himchan yang masih terdiam di dalam kamar. Berdua. Dengan tangan yang bertautan.
.
Yongguk menghempaskan punggung di ranjang putih ala pasien-nya sambil menghela napas panjang. Dia menatap langit-langit kamar yang tinggi.
Aku benar-benar tidak paham cara pikir para wanita, batin pria itu, pandangannya beralih ke arah Himchan yang masih berdiri canggung di tengah-tengah ruangan, dua meter dari tempat Yongguk berada. Kembali, lelaki tersebut menghela napas.
"Mau sampai kapan kau di situ. Kemari," ujar Yongguk membuat Himchan terkejut.
"A-aku..." wajah wanita itu merah terang. "Aku di sini saja—"
"Apa kau bodoh?" potong Yongguk mendesis. "Setelah mengatakan ingin berhubungan denganku lalu malah memilih berdiri di jarak dua meter—" kalimatnya terhenti sejenak. "—kau pikir pen*sku bisa memanjang sampai ke situ untuk memuaskanmu?"
Sebenarnya kalimat Yongguk barusan akan menjadi gurauan kotor yang lucu jika saja Himchan tidak lebih dulu dikuasai rasa malu teramat dahsyat yang membuatnya tidak bisa memikirkan hal selain tubuhnya yang menginginkan jamahan, dadanya yang gatal, dan puncak paha yang terasa lembab.
Himchan menunduk dengan muka benar-benar sudah merah.
"Berhentilah bersikap malu-malu. Kau jadi terlihat menakutkan," desis Yongguk. "Jadilah orang yang tidak tahu malu seperti biasanya."
Hening sejenak, namun segera terkoyak oleh suara sandal Himchan yang akhirnya bergeser mengiringi langkah yang mendekat ke tepi ranjang Yongguk.
"Kau sudah mendengar kabar tentang Youngjae?" celetuk suara bass yang paraunya terdengar makin jelas pada jarak dekat membuat Himchan seolah tersengat aliran listrik kecil hampir di seluruh saraf tubuh menjadikannya merasa gerah tanpa sebab.
"Youngjae kenapa?" balas Himchan berharap nada suaranya tidak terdengar seperti sebuah desahan yang sensual.
"Daehyun baru saja menelponku dan bilang sikap Youngjae berubah drastis akhir-akhir ini. Dia jadi sering mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau bicara maupun mengangkat telepon. Dia juga mudah panik dan histeris. Tingkahnya seperti orang yang sedang sangat ketakutan pada sesuatu. Daehyun bilang akan membawa Youngjae ke psikolog hari ini."
Ekspresi Himchan berubah beku dan sekilas kilat matanya memberi pemahaman pada Yongguk jika gadis tersebut kemungkinan tahu sesuatu.
"Youngjae memang orang yang terlalu baik. Dia polos dan mudah ditipu, jiwanya sangat lembut cenderung rapuh membuat ia rawan terkena serangan mental. Aku tidak tahu apa yang kira-kira sudah membuatnya jadi begini, tapi aku harap yang ia rasakan sekarang tidak akan berpengaruh pada kelangsungan pekerjaannya—"
"Kyungwook." Bibir Himchan bergetar. "Itu pasti ulah Kyungwook."
Mata Yongguk menajam. "Darimana kau yakin? Park Kyungwook jelas-jelas sudah ada di penjara saat ini."
Himchan menatap lurus Yongguk, tak ada keraguan sedikit pun di dalam matanya. "Kyungwook punya banyak orang yang selalu mematuhi perintahnya. Diam-diam dia pasti sudah menyuruh seseorang untuk meneror Youngjae. Dia pasti curiga kejahatannya tercium karena dibeberkan oleh Youngjae. Park Kyungwook adalah orang selicik itu. Dia tidak akan melepaskan siapapun yang sudah merusak rencananya dan akan terus mengejar orang-orang itu bahkan sampai ke dalam neraka."
Tatap mata Yongguk menajam. "Kim Himchan, aku mempercayaimu oleh karena itu aku akan melakukan sesuatu untuk masalah ini. Tapi kalau kau berbohong, aku tidak akan memaafkanmu."
Himchan mengangguk mantap. "Kalau ada yang salah dengan informasiku, aku bersedia bertanggung jawab."
Yongguk kembali meraih ponselnya dan menyalakan layar. Dia mengetik beberapa kalimat kemudian mengirimkannya lewat email dan langsung mematikan layar.
"Sudah? Begitu saja?" celetuk Himchan heran melihat fakta 'melakukan sesuatu' ala Yongguk ternyata cuma mengirim pesan singkat.
"Menurutmu aku akan bagaimana?" balas Yongguk mengembalikan ponsel ke nakas.
"Yaaa, apa gitu," desis Himchan. "Sikapmu sangat tenang seperti bos mafia saja."
Perlahan seringaian muncul di bibir tebal Yongguk. "You don't know..."
Kembali hening. Himchan nampak gelisah, sorot matanya tidak tenang dipenuhi kilat khawatir sepertinya dia mencemaskan kondisi Youngjae yang besar kemungkinan membuktikan jika penuturannya tentang Park Kyungwook barusan benar. Sedangkan Yongguk juga tidak mengatakan sepatah kata pun, ia terlalu sibuk memperhatikan gadis yang duduk di sebelah ranjangnya, dalam hati bertanya-tanya kenapa Himchan memilihnya untuk menjadi partner menyalurkan hasrat meski Yongguk sendiri yakin ini pasti 99% merupakan campur tangan Jieun mengingat Himchan orang yang kurang peka dan lebih memilih melakukan banyak hal sendirian daripada merepotkan orang lain.
Namun yang paling parah adalah jantung Yongguk berdegup kencang waktu pertama kali mendengar jika Himchan membutuhkannya, saat mengetahui kalau wanita tersebut tidak keberatan melakukan hal intim dengannya. Apa karena dulu mereka pernah melewatkan momen seperti ini jadi Himchan merasa lebih nyaman bersamanya? Atau mungkin ada faktor lain seperti 'bawaan bayi' dan sejenisnya yang menurut artikel yang dibaca Yongguk di internet mencerminkan seberapa kuat perasaan antara calon ibu pada pasangannya sehingga berpengaruh terhadap emosi bayi di dalam kandungan.
Ah, entahlah. Semakin dipikir hanya membuat Yongguk semakin kalut. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana cara mencairkan kecanggungan ini tanpa membuat Himchan takut maupun melarikan diri sebab Yongguk juga harus melakukan sesuatu pada isi dadanya yang tidak mau berhenti berdebar-debar layaknya seorang anak SMA grogi hendak mengajak kencan gadis yang disukai.
"Kim Himchan." Yongguk melancarkan serangan pertama.
"Ne?" Himchan menyahut dengan mata bulat langsung mengarah pada pria di dekatnya.
"Apa kau baru saja membersihkan gudang atau semacamnya?"
"Tidak." Mata indah itu berkedip polos membuat Yongguk nyaris sesak napas.
Kyeowo...
"Aku dari tempat Jieun. Kenapa?"
"Ada kotoran di rambutmu." Suara Yongguk masih tenang dan datar seperti biasa.
"Eh?" Himchan meraih kepalanya sendiri. "Apa mungkin tersangkut sesuatu di jalan?"
"Bukan di sebelah situ. Kemari, biar aku bersihkan." Lelaki berkulit tan tersebut mengulurkan tangan yang disambut Himchan dengan bangkit dari kursi dan mendekatkan diri pada Yongguk tanpa pikir panjang. Begitu ia merebahkan pinggulnya di tepi ranjang Yongguk langsung meraih kedua tangannya, membawa tubuh yang tengah mengandung delapan bulan itu untuk berbaring bersama-sama di permukaan kasur. Himchan lambat menyadari, tapi saat melihat mata Yongguk nampak sangat dekat menatapnya dari atas, warna merah terang langsung menyebar di seluruh kulit wajah wanita tersebut.
Yongguk masih mengunci kedua pergelangan tangan Himchan di kasur, memegangnya tak terlalu kuat meski kelihatannya juga tidak ada perlawanan sedikit pun dari gadis yang terbaring diam dengan muka semerah kepiting rebus.
"Jadi, seks seperti apa yang kau inginkan?" tanya Yongguk menggunakan suaranya yang berat, serak, dan dalam, tanpa sengaja membuat sesuatu berdesir di dalam dada Himchan membawa kehangatan menuju bagian bawah tubuhnya. Sebuah gerakan kecil terasa dari dalam perut Himchan yang entah kenapa bisa membuatnya lebih nyaman berbaring seolah bayinya sedang menyesuaikan diri dengan posisi ibunya sekarang.
Yongguk memindahkan tangan dari pergelangan Himchan menuju telapaknya, menyusupkan jari-jari panjang di antara jemari lentik wanita itu sembari dia bergerak mendekatkan kepala pada Himchan yang makin melotot memandangnya. Jarak bibir Yongguk tinggal tersisa kurang dari sepuluh sentimeter bahkan hembusan napasnya sudah terasa hangat mengenai kulit Himchan namun wanita muda tersebut masih belum bisa memutuskan apa yang harus ia lakukan. Dalam hati dia sangat menginginkan hubungan intim ini tapi di sisi lain dia merasa malu. Himchan benar-benar sangat malu menghadapi kenyataan dirinya seperti seorang jalang maniak seks yang sampai meminta bantuan orang lain untuk memenuhi hasrat yang tak terbendung.
Himchan sontak menutup rapat kedua matanya pun dengan bibirnya. Jari gadis itu merunduk kuat menggenggam tangan Yongguk dan dapat pria tersebut rasakan jika tubuh yang berbaring di bawahnya mendadak berubah tegang. Tangan Himchan terlalu kuat menggenggam nyaris gemetaran dan wajah yang tadinya memerah cantik kini perlahan mulai berubah pucat. Yongguk sadar, Himchan sudah diserang rasa gugup yang hebat. Perlahan ia menghela napas.
Hah, merepotkan saja...
-o-
Jongup masuk ke dalam kamar tidur dengan rambut masih basah dan handuk terkalung di leher, seketika wajah yang telah segar akibat guyuran air mandi itu langsung berubah flat saat yang terlihat pertama kali oleh mata sipitnya adalah penampakan sebuah bokong menungging lengkap dengan lubang anus dan kemaluan yang tidak ditutupi sehelai benang pun.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Jongup pada pemilik pantat yang sedang asik berkutat dengan smartphone-nya.
"Oh, Oppa? Kau sudah selesai mandi?" balas Junhong, suaranya terdengar riang.
Jongup mengeplak bokong kekasihnya beberapa kali. "Tutupi ini, kau bisa masuk angin."
"Ahh~ kinky~" Junhong mendesah eksotis yang hanya dibalas datar oleh pacarnya.
"Kau paling pintar kalau soal begituan. Coba debut jadi aktris porno, kau pasti langsung terkenal."
"Lho? 'Kan aku memang sudah jadi aktris porno." Mata Junhong mengerjab. Gerakan Jongup membeku seketika.
"Aku adalah aktris pornonya Moon Jongupie!" Junhong melanjutkan. "Lihat poseku! Pose seks-i-ku ini! Lihatlah Oppa, lihat!" gadis tinggi tersebut memasang beberapa posisi tubuh yang dominan memamerkan sisi-sisi sensual kewanitaannya sementara Jongup cuma dapat menurunkan alis, merasa menyesal sudah sempat shock barusan.
Harusnya aku tidak berharap banyak dari gadis polos ini, batin Jongup.
"Bukan seksi? Tapi seks-i?" celetuk pemuda berotot itu.
"Yup! SEKS-I!" Junhong menjentikkan jari. "Penekanan kata pada bagian yang paling enak dan mengubah akhiran I menjadi kata ganti obyek dalam bahasa inggris ME. Jadinya 'seks me' atau SEX ME yang berarti 'Oppa, masuki aku lagi!" Junhong duduk di atas ranjang sambil membuka lebar kedua kaki panjangnya dengan sebelah tangan meremas dada dan jari tangan lain dimasukkan ke dalam mulut. Benar-benar posisi serta ekspresi mengundang syahwat yang sangat sempurna yang pasti tidak akan mampu ditolak lelaki manapun kecuali Jongup.
"Aku mau ke kantor. Kau mandilah sana dan pergi kerja juga." Dengan mudahnya pria itu melengos tak mempedulikan Junhong yang kemudian merengek keras.
"OPPAAA, kau dingin sekali~" gadis berkulit putih tersebut menaik-turunkan nada suaranya penuh manja. "Padahal Junhongie sudah merendahkan harga diri di depanmu. Junnie juga sudah pasrah membuka kaki. Hongie bahkan sudah dengan rela melepas semua baju untukmu—"
"Kau sendiri yang memilih tidak mau pakai baju karena bilang merasa gerah," potong Jongup sembari meraih pengering rambut dan menyalakannya. "Maaf saja ya kalau apartemenku ini sempit dan panas."
"TIDAAAK~ bukan begitu~~" Junhong menggelengkan kepalanya kuat-kuat membuat rambut pirangnya yang kusut bergoyang lembut.
"Apartemen Oppa tidak panas—ah, mungkin sedikit—tapi Junhongie suka karena di sini ada Oppa!" gadis tinggi itu melompat dari atas kasur, langsung menubruk punggung tegap Jongup yang cuma bisa memekik kaget dan buru-buru melepaskan pengering rambut yang masih menyala untuk memegangi kekasihnya supaya tidak terjatuh. Sementara Junhong hanya tertawa kegirangan sambil tetap bergelantungan.
"Kau ini benar-benar!" Jongup menggeram pura-pura marah, dia mundur mendekati meja rias dan mendudukkan gadis yang menempel di punggungnya ke sana. Junhong merebahkan bokong di permukaan dingin kayu di dekat sisir, lotion, dan minyak rambut kekasihnya. Dia menahan pundak lebar Jongup supaya tidak menjauh membuat lelaki tersebut meraih kursi untuk dapat duduk tepat di depannya di saat Junhong menarik kabel yang menjuntai ke lantai, gadis itu mengambil pengering rambut, menyisir surai coklat kekasihnya dengan jari sebelum kemudian menekan tombol ON di pengering rambut dan mengarahkannya ke kepala Jongup.
"Oppa masih akan mengurus kasus Park Kyungwook?" tanya Junhong dengan suara lembut, tangannya terasa nyaman merapikan helaian rambut Jongup.
"Eum, bajingan itu mengajukan banding untuk mendapatkan potongan hukuman. Aku tidak akan membiarkan dia melakukannya. Akan aku pastikan dia membayar semua kejahatannya dan tidak mendapat keringanan hukuman meski cuma satu hari."
Perlahan Junhong tersenyum. "Oppa benar-benar bersemangat."
"Kita semua tahu orang seperti apa Park Kyungwook itu. Aku sudah mengincarnya dari lama. Kiprahnya di dunia hitam jauh lebih menarik untuk diselidiki daripada bisnis hiburan kotor yang menurutku cuma dijadikan kedok. Banyak anggota mafia yang tertangkap polisi menyiratkan mereka ada hubungan dengan Park Kyungwook. Aku sudah lama menyelidikinya tapi belum menemukan banyak bukti, baru ketika bertemu Himchan satu per satu hal mulai jelas—HEGH!" kalimat Jongup terhenti sebab mendadak lehernya dipeluk kuat dari belakang nyaris mencekiknya.
"Dan Oppa juga bertemu denganku!" Junhong tak hanya melingkarkan lengan di leher kekasihnya namun juga sepasang kaki panjang yang langsung memperangkap hangat tubuh Jongup.
"Rasanya seperti mimpi aku bisa bertemu dengan Oppa waktu itu! Karena selama ini tidak ada lelaki yang menurutku cukup pantas menjadi pacarku tapi Oppa datang dan merubah segalanya, KYAAA~ AKU CINTA OPPAAA!" Junhong mempererat pelukan tanpa sadar hampir membuat kekasihnya mati kehabisan napas.
"K-kau c-cuma s-s-suka k-karena ak-aku m-m-memper-l-lakukanmu b-b-b-berbeda—hah..." Jongup kehilangan napas terakhirnya.
"Justru karena kau memperlakukanku berbeda, belum pernah ada satu pun lelaki yang bisa menolakku jadi Oppa benar-benar menarik!" Junhong makin gemas sedangkan Jongup sudah lemas.
Ngomong-ngomong soal 'menarik', ada hal lain juga 'kan yang menarik dari kasus ini, pikir Jongup.
Dia terlihat tidak berbeda dari orang kebanyakan namun pada faktanya dia bisa mendapat banyak informasi penting yang bersifat sangat pribadi dan bahkan anggota FBI pun akan kesulitan untuk mencarinya. Aku sudah sering mendengar namanya disebut dalam pembicaraan antar mafia, tapi baru kali ini aku benar-benar bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri.
Bangster.
Seorang mafia elit yang merupakan pimpinan sebuah kelompok besar dan mempunyai cakupan bisnis serta kekuasaan di hampir seluruh Korea Selatan sampai ke USA. Tidak ada yang tahu jelas bagaimana wajah, usia, dan penampilannya. Dia bahkan jarang menampakkan diri pada orang-orang yang punya kepentingan dengannya. Ia selalu bergerak cepat di balik layar namun ia juga yang memegang kendali utama. Eksistensinya seperti pembuluh kapiler. Kuat dan berbahaya. Tak ku sangka, orang seperti itu aslinya hanya produser di sebuah perusahaan agensi kecil.
Kalau Bangster adalah Bang Yongguk, lalu siapa Buster? Siapa identitas asli dari Buster yang disebut-sebut jauh lebih sadis dari Bangster? Jika diibaratkan Bangster adalah pembuluh kapiler yang menyalurkan darah—dengan kata lain 'mengeksekusi'—maka sudah seharusnya dia memiliki jantung yang menjadi pokok pekerjaannya dan itu Buster, sang jantung. Kalau diingat-ingat lagi, saat Bang Yongguk di rumah sakit dan koma karena kecelakaan masih ada orang yang terus mengirimiku pesan tanpa henti. Aku pikir itu adalah Bang Yongguk namun nyatanya tidak. Apa dia Buster?
"—ppa! Oppa, kau mendengarku? Oppa!" Junhong menggoyang-goyangkan bahu Jongup membuat kekasihnya terhenyak.
"Hah? Apa? Kau mengatakan sesuatu?" Jongup menoleh gagap.
"Kau melamun?" alis Junhong menyatu kesal. "Apa yang kau lamunkan? Kau kepikiran apa? Gadis lain ya? Kau memikirkan gadis selain aku!?"
Wajah Jongup keki seketika. "Jangan se-pede itu, Kim Junhong. Untuk apa juga aku harus menyusahkan diri mencari orang lain? Kau saja sudah cukup membuatku bekerja keras seharian."
"Ehehehe." Junhong terkekeh, kembali memeluk Jongup. "Aku mau bilang kalau ponselmu barusan berbunyi, Oppa."
"Benarkah?" Jongup bangkit, melepaskan diri dari kutatan gadisnya dan berjalan meraih ponsel yang tengah diisi daya baterei. Dia mengusap layar, membaca dalam hati pesan yang masuk dan sekejab sepasang alis tegas pria tersebut langsung mengerut. Junhong yang melihatnya hanya diam penuh pemahaman.
"Ada pekerjaan penting?" gadis itu bertanya yang mana dia sendiri sudah tahu jawabannya hanya dengan memperhatikan Jongup yang kemudian bergegas membuka almari dan mengambil pakaian.
"Eum," jawab Jongup singkat, memakai baju dengan kilat. "Kau bisa pulang sendiri 'kan? Mungkin aku tidak akan kembali ke rumah sampai lusa, jadi jangan mencariku di sini."
"Siap, Kapten!" Junhong memberi hormat. "Ah, sebelum Oppa pergi aku mau memberitahu sesuatu."
Gerakan Jongup terhenti, ditatapnya gadis telanjang yang masih duduk di meja rias.
"Kemungkinan dalam satu minggu ini aku akan pergi ke Amerika." Junhong melanjutkan kalimatnya.
"Menemui Kakakmu?" tebak Jongup yang dibalas dengan anggukan.
"Aku memberitahu Sungwoon Oppa kalau aku sudah bertemu dan berbaikan dengan Himchan Eonnie. Aku juga menceritakan soal Park Kyungwook yang ditangkap polisi dan sidang ulang kasus Eonnie yang sukses besar. Sungwoon Oppa sangat gembira mendengarnya lalu bilang dia ingin ke Korea," tutur Junhong dengan senyuman di wajahnya.
"Bukannya Hyungnim masih dalam perawatan?"
"Dia tidak pernah selesai perawatan karena tidak punya semangat untuk melakukan terapi. Aku tidak bisa menyalahkannya karena biar bagaimanapun Sungwoon Oppa sudah mengalami banyak hal buruk berturut-turut setengah tahun lalu. Sahabat terdekatnya mengkhianati dia, kena kecelakaan sampai kakinya lumpuh, dan ditinggalkan Himchan Eonnie. Oppa-ku benar-benar terpuruk dan nyaris tidak punya keinginan hidup lagi. Tapi kemarin waktu aku memberitahu dia semuanya, suaranya jadi bersemangat dan dia bilang dia ingin serius terapi mulai sekarang. Dia ingin bisa berjalan dan pulang ke Korea. Aku sangat senang mendengarnya."
"Kalau memang kau sudah berniat begitu, aku tidak bisa menahanmu. Mau berapa lama di Amerika?" tanya Jongup.
"Satu atau dua bulan, tergantung berapa lama terapi Sungwoon Oppa nanti. Pokoknya kalau kakinya sudah lebih baik kami akan segera kembali ke sini. Perawatan bisa dilanjutkan di Korea. Tidak masalah," jawab Junhong riang. "Aku sudah tidak sabar mempertemukan Oppa dengan Himchan Eonnie. Aku yakin dia pasti akan sangat kaget melihat Eonnie yang makin cantik dan ternyata sedang mengandung anaknya."
Jongup tertegun. "Mengandung anak Hyungnim?" ia mendesis.
Junhong mengangguk antusias. "Aku sudah memastikan usia kehamilan Himchan Eonnie dan itu pas dengan waktu terakhir kali dia bertemu dengan Oppa. Jadi aku yakin anak di kandungannya pasti anak Oppa-ku. Kyaaa~ aku akan menjadi seorang tante~ aku sudah tidak sabar~~"
Jongup terdiam, hanya berbicara di dalam hatinya.
Jadi itu anak Sungwoon Hyung? Aku pikir dia hamil dengan Bang Yongguk, soalnya kelihatan sekali Bang Yongguk sangat melindungi Kim Himchan.
-TBC-
Siapa yang belum review kemarin hayoo, naena BangHim tertunda kaan. Bukan Myka pokoknya XD
Nanti kalau ada sequel kemungkinan akan di-double upload ke wattpad. Masih rencana sih, tidak usah didoakan, cukup dikasih review yang menyentuh kalbu aja :P
