Love Is Never Wrong
.
.
.
14
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Camry silver yang dikemudikan Chanyeol memasuki halaman rumahnya. Sesaat setelah mobil itu masuk, dahinya berkerut tebal menatap deretan mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Empat mobil itu dia sangat kenal siapa pemiliknya.
"Siapa yang menyuruh mereka masuk?" tanya Chanyeol pada Jackson yang membukakan pintu mobilnya.
Jackson mundur satu langkah sebelum kemudian membungkuk.
"Jeosonghamnida Tuan Muda."
"Aku tak mengerti kau meminta maaf untuk apa karena yang saat ini aku butuhkan jawaban, bukan permintaan maaf." Sahut Chanyeol dengan suara tegasnya. "Siapa yang menyuruh mereka masuk?"
"Sekali lagi saya meminta maaf atas keteledoran saya Tuan."
"Ehm. Siapa?"
"Nona muda memaksa membuka pintu gerbang untuk mereka."
Chanyeol mendesah keras. Moodnya langsung memburuk melihat keadaan di rumahnya.
"Saat aku pertama kali membawamu masuk ke rumah ini, apa aku tak pernah memberitahumu peraturan di rumah ini?"
Jackson semakin tertunduk dalam. Dia tahu peraturan dasar itu.
"Semua yang ada di rumah ini, hanya boleh mendengar perintah dari dua orang, aku atau Jongdae. Tapi... Hari ini sepertinya hal itu tak terjadi."
"Mianhamnida Tuan Muda. Saya bersalah."
"Ehm. Apa kau tahu Jackson-ssi, aku tak pernah memberi kuasa pada Joo Hyun untuk memberi perintah pada anak buahku kecuali ketika dia sedang keluar dari rumah ini. Dan hari ini, apa kalian berada di luar rumah ini? KENAPA PERATURAN YANG SUDAH KU BUAT KAU LANGGAR DENGAN SANGAT MUDAH HANYA BERDASARKAN PERINTAH DARI SESEORANG YANG TAK MEMILIKI KUASA APA-APA DI RUMAH INI? KAU BEKERJA UNTUKKU ATAU UNTUKNYA?!"
Suara keras Chanyeol menggelegar di seluruh penjuru rumah.
Irene menegakkan punggungnya, dia sudah merasa tak nyaman setelah kedatangan Jongdae tadi dan sekarang semakin dibuat takut dengan teriakan kemarahan Chanyeol.
Tak hanya Irene, Song Qiang yang sedang berada di dapur, juga merasakan ketakutan yang sama. Chanyeol akan berubah sangat mengerikan bila sedang marah. Majikannya itu bisa berubah menjadi pribadi yang sangat dingin bila sedang dalam keadaan marah.
Dengan kaki bergetar, perempuan paruh baya itu mendekati ruangan berpintu hitam, yang di dalamnya Jongdae dan Soo Jung tengah melakukan pekerjaannya.
Tangan bergetar Song Qian mengetuk pintu itu. Tak berapa lama kemudian, Soo Jung membuka pintu, di susul Jongdae.
"Tu-tuan Muda pulang?"
Jongdae menatap Song Qian tak percaya.
"Di-dia baru saja berteriak marah pada Jackson-ssi."
Jongdae menghembuskan nafasnya kasar, tak menyangka Chanyeol akan pulang secepat ini. Biasanya bila sedang dengan Baekhyun, Chanyeol bisa lupa pulang. Tapi...
Tanpa berpikir dua kali, orang kepercayaan Chanyeol itu langsung berlari melewati ruang tengah, diikuti dengan Soo Jung. Irene yang melihat hal itu, menguatkan dirinya untuk berdiri dan menyusul Jongdae.
Suasana di luar cukup tegang, Jackson berdiri dengan tubuh bergetar. Teriakan Chanyeol tak hanya memengkakkan telinganya, tapi ternyata juga mampu mengendorkan kewaspadaan dirinya. Kakinya langsung terasa lemas mendengar teriakan itu.
"Aku rasa, kerjasama kita sudah cukup sampai disini saja."
"Tuan muda!" desah Jongdae terlambat.
"Kau urus kepulangannya ke China hari ini juga. Soo Jung-ah! Kau kirim email ke Cho Hankyung-ssi tentang kepulangannya!" perintah Chanyeol dingin. Pria itu menatap lurus ke depan, lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Chanyeol mengabaikan keberadaan Irene yang berdiri tak jauh dari Soo Jung. Bahkan ketika pria itu masuk, dia sama sekali tak mengalihkan tatapannya pada adiknya itu.
"Oppa!" lirih Irene.
Langkah kaki Chanyeol diayun ke ruang tengah. Dimana disana, semua anggota keluarganya berkumpul dengan wajah tegang mereka.
Chanyeol masuk ke ruangan itu, lalu membungkuk di hadapan ayah ibunya sebagai bentuk rasa hormatnya pada dua orang yang telah membawanya melihat dunia ini. Setelah itu, dengan nada suara dinginnya, Chanyeol berujar tegas.
"Aku tak tahu apa yang sedang berusaha kalian cari di rumah ini. Kalau boleh jujur, aku terganggu jadi bisakah kalian pulang sekarang?"
"Chanyeol-ah!"
"Aku tak ingin mendengar apa-apa. Kalau kalian membutuhkanku, jangan cari aku disini, kalian cukup katakan pada Jongdae kalau kalian ingin bertemu denganku. Aku yang akan mendatangi kalian. Sekarang, bisakah kalian pulang?"
"Oppa! Jangan seperti ini. Abeoji dan eomma serta yang lain datang un..."
"Aku tidak sedang bicara denganmu. Bisakah kau diam?" Chanyeol menatap Irene dengan tatapan dingin menusuk.
Saudara Chahyeol yang paling kecil itu tertunduk dalam, kedua tangannya saling bertaut dengan erat.
"Jongdae-ah! Antarkan mereka sampai ke pintu depan!" perintah Chanyeol. Setelah itu dia memilih meninggalkan ruangan itu. Tak ada yang perlu dia katakan lagi.
"Nde." Jongdae menunduk sopan.
"Oppa dengarkan aku!" teriak Irene. Dia akan mengejar Chanyeol, tapi Jongdae meraih pergelangan tangannya. Mencegahnya melakukan hal itu.
"Oppa lepaskan aku, aku harus bicara padanya, aku akan menjelaskan semuanya."
"Anda tak perlu melakukannya."
Irene menatap Jongdae dengan tatapan terluka sekaligus marah.
"Wae? Kenapa aku tak boleh melakukannya? Chanyeol oppa harus tahu apa tujuan mereka datang ke rumah ini oppa. Aku akan menjelaskan hal itu!" seru Irene dengan wajah memerah menahan kesal.
"Percuma. Tuan muda tak akan mendengarkan anda saat ini, apalagi setelah anda melakukan kesalahan."
"Oppa pikir yang aku lakukan salah? Apa salah bila orangtua ingin bertemu dengan anaknya? Sebenci itukah Chanyeol oppa pada Abeoji dan Eomma, hingga mereka tak diijinkan untuk menginjakkan kaki di rumah ini?" Irene menahan sekuat tenaga agar airmatanya tak leleh.
Ok!
Katakan tindakannya membawa masuk kedua orangtuanya ke rumah ini sudah menyalahi aturan yang dibuat Chanyeol. Katakan orangtuanya saat ini sudah banyak melakukan kesalahan terhadap kakaknya itu, lalu bila mereka kemudian menyadari kesalahan itu dan mereka ingin memperbaiki semuanya, apa mereka tak berhak di beri kesempatan? Dia hanya ingin kesempatan itu di berikan Chanyeol untuk anggota keluarganya yang lain. Dia hanya ingin, keluarganya kembali berkumpul bersama, tanpa melihat berapa harta yang di miliki oleh masing-masing dari mereka. Apa dia salah memiliki harapan seperti itu?
Jongdae menarik nafasnya pelan. Kemudian dengan satu gerakan cepat, tubuh ramping Irene sudah berada dalam pelukannya.
"Aku hanya ingin keluargaku seperti keluarga yang lainnya oppa. Seperti keluarga Yunho ahjussi, mereka bahagia oppa. Mereka, bisa begitu dekat dengan anak-anak mereka, Changmin oppa, Kyuhyun eonni, Moobin, mereka bisa duduk bersama dan saling bercanda satu sama lain. Tapi..." Irene menatap Jongdae dengan mata basahnya dan airmata yang leleh membasahi kedua pipinya. Impiannya tak muluk-muluk bukan, dia hanya ingin keluarganya sama seperti keluarga yang di miliki oleh orang lain.
"Joo Hyunie dengarkan aku! Kadang... ada beberapa hal yang tak bisa kita paksakan untuk terjadi. Tuan muda memiliki alasan membuat peraturan itu, kita semua tahu itu. Dan yang aku minta saat ini hanya satu, tolong mengerti. Jangan memperburuk keadaan dengan penjelasanmu."
"Tapi oppa."
"Saat ini, yang bisa dia dengarkan adalah apa yang di katakan Baekhyun-ssi. Jadi untuk masalah ini, aku akan bicara pada Baekhyun-ssi untuk meminta pertolongannya."
"Oppa yakin eonni akan membantu?"
"Kau meragukan kebaikannya?"
Irene menggeleng pelan. Dia tahu Baekhyun orang baik, dia yakin calon kakak ipar pilihan Chanyeol itu akan membantunya.
"Kalau begitu, biarkan saya mengantar mereka sampai pintu depan."
Irene mengangguk, kemudian mengusap kasar sisa airmata yang masih membasahi kedua pipinya. Irene kemudian menghampiri ibunya, lalu memeluk ibunya.
"Aku percaya eomma dan yang lainnya sudah berubah. Eomma! Tolong lebih bersabar lagi. Sebentar lagi, kita pasti akan berkumpul sebagai keluarga utuh. Aku menyayangi eomma."
Junsu membalas pelukan putri bungsunya itu.
"Eomma tak tahu apa yang di ajarkan Minseok padamu, yang eomma yakini, dia pasti mengajarimu dengan sangat baik, hingga kau tumbuh menjadi gadis yang luar biasa baik sayang. Eomma juga sangat menyayangimu Joo Hyunie. Maafkan eomma yang tak bisa membahagiakanmu."
Irene melonggarkan pelukannya pada sang ibu, lalu dia mengangguk mengerti. Junsu membelai lembut pipi putrinya itu, sedang Yoochun yang sejak tadi hanya menjadi penonton, kini mendekati Irene, dia kemudian membelai lembut kepala Irene, lalu setelah itu di kecupnya singkat dahi putri bungsunya itu.
Mereka selanjutnya di bimbing Jongdae untuk keluar dari rumah itu. Jongdae memastikan masing-masing dari tamu yang tak di undang Chanyeol itu masuk ke dalam mobil mereka.
"Jongdae-ah!" panggil Junsu yang akhirnya membuat Jongdae kembali mendekat pada wanita paruh baya itu.
"Nde."
Yang tak di sangka-sangka oleh Jongdae adalah, Junsu tiba-tiba meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Maukah kau berjanji padaku?"
"Be-berjanji untuk apa?"
"Jaga dan selalu bahagiakan Joo Hyun dengan cintamu."
.
.
.
"Jinjja?" Baekhyun memekik tak percaya, gadis yang sejak kedatangannya tadi duduk, kini berdiri dan mendekat pada Luhan.
Baekhyun memang tak ikut Chanyeol pulang ke rumahnya. Dia janji akan pulang nanti sore, jadi seharian ini dia ingin menemani Luhan di rumah sakit.
Dan tadi, mereka sedang saling bercerita tentang kejadian manis yang terjadi semalam. Baekhyun yang lebih dulu bercerita dengan antusias sambil memamerkan cincin pemberian Chanyeol pada sahabatnya itu.
Tak mau kalah dengan Baekhyun, Luhan juga menceritakan bagaimana semalam Sehun melamarnya. Dan hal ini ternyata cukup membuat Baekhyun terkejut. Dia tak menyangka, Sehun akan mengambil keputusan itu. Padahal, biasanya seorang idol akan memerlukan waktu lama untuk akhirnya memutuskan melamar kekasihnya.
Luhan kini tengah tersenyum lebar dan memamerkan jari manisnya yang di lingkari cincin pemberian Sehun semalam pada Baekhyun. Sahabatnya itu ikut tersenyum lebar, lalu menghampirinya dan memeluk Luhan dengan perlahan.
"Chukkae Luhanie!" ucap Baekhyun tulus.
"Nado." Balas Luhan tak kalah tulus.
Baekhyun kemudian melonggarkan pelukannya, lalu di pandanginya Luhan. Sahabat terbaik yang pernah dimilikinya itu, akhirnya tersenyum tanpa beban. Hubungannya dengan Sehun sudah di ketahui banyak orang, meski agency Sehun waktu itu pernah menekan dan melarang Luhan untuk membuka suara, nyatanya agency Sehun sendiri yang pada akhirnya mengklarifikasi kebenaran berita itu setelah Sehun membuka suaranya akan hubungannya dengan Luhan.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Luhan malu, gadis yang sama mungilnya dengan Baekhyun itu memegang pipinya yang memanas.
"Kau terlihat sangat bahagia dengan yang saat ini kau alami, Luhanie. Dan aku bisa merasakan semua itu."
"Aku juga bisa merasakan kebahagiaanmu, Baekhyunie."
"Hah! Haruskah kita menikah bersama-sama?"
"Ya! Mana bisa begitu, Mama tak akan mengijinkan hal itu terjadi."
"Waeyo? Kalian tak di restui Mama?"
Luhan memukul kecil lengan Baekhyun.
"Ya! Mama malah sangat antusias ketika aku menceritakan hal yang ku alami semalam. Tapi... untuk menikah dalam waktu dekat, dia masih perlu memikirkannya. Mama masih belum rela, putri cantiknya ini dimiliki selain dia. Aneh 'kan?"
Baekhyun tersenyum kecil. Membicarakan tentang ibu Luhan, dia teringat akan ibunya. Dan tiba-tiba, rasa rindu itu menyapanya. Beberapa waktu lalu, sebelum insiden penembakan, Chanyeol memberitahunya, bahwa sekarang, ibunya berada di Jeju, di resort yang pernah di datanginya dengan kekasihnya itu. Dia juga sempat menelpon ibunya, tapi... untuk kabar bahagianya itu, dia belum sempat bercerita pada sang ibu.
"Ahjumma sudah tahu kalau Chanyeol-ssi melamarmu?"
Baekhyun menggeleng pelan.
"Aku belum sempat mengabarinya."
"Waeyo?" Luhan meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya erat.
"Aku... hhhh! Aku bahagia dengan semua ini Luhanie, limpahan cinta dari Chanyeol yang besar seharusnya mampu membuatku yakin kalau dia bisa membahagiakan aku. Tapi... kemudian aku berpikir, masih banyak hal yang akan aku hadapi setelah itu. Hidup kami nanti tak akan hanya seputar kami saja bukan? Keluarganya, hanya Irene yang terlihat baik-baik saja dengan hubungan kamu, yang lainnya... apa mereka bisa menerimaku dengan baik nantinya? Aku bukan pasangan yang sepadan untuk orang sesempurna Chanyeol, Luhanie."
Luhan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Baekhyun.
"Kau harus yakin bisa melewati semua ini Baekhyunie." Baekhyun menatap Luhan dan tersenyum tipis.
Drrrttt,,,,, drrrrtttt,,,
Baekhyun turun dari ranjang Luhan, lalu menghampiri ponselnya yang bergetar diatas meja. Dahi Baekhyun langsung berkerut saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Siapa?" tanya Luhan.
"Ryeowook-ssi." Lirih Baekhyun yang masih dapat di dengar jelas Luhan.
"Nugu?"
"Ryeowook-ssi. Asisten pribadi keluarga Park."
"Ada apa dia menghubungimu? Kau ada masalah dengan dia?"
Baekhyun menggeleng pelan. Dia kemudian menggeser ikon warna hijau di ponselnya.
"Yeoboseyo!" sapanya sopan.
"Baekhyun-ssi?"
"Nde."
"Apakah anda ada waktu hari ini?"
"Ehm... ada. Kenapa?"
"Setelah ini, bisakah anda datang ke Restoran Mirotic? Tuan dan Ny Park ingin bertemu dengan anda."
Deg!
Dada Baekhyun berdegup kencang. Apakah yang di khawatirkannya akan terjadi hari ini? Dia di paksa untuk meninggalkan Chanyeol.
Luhan menatap Baekhyun khawatir. Meski dia tak tahu apa yang sedang di bicarakan Baekhyun dengan di penelpon, bila melihat bagaimana raut wajah Baekhyun saat ini, rasanya dia tahu bahwa yang sedang di bicarakan sahabatnya itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan sepertinya.
"Nde. Saya akan kesana setelah ini."
"Waeyo?" tanya Luhan begitu Baekhyun mengakhiri panggilannya dan menghampirinya kemudian memeluknya. "Baekkie!" lirihnya saat dia merasakan pundaknya basah. Baekhyun menangis.
"Orangtua Chanyeol ingin bertemu denganku, apa yang akan mereka katakan padaku Luhanie? Apakah mereka akan memintaku meninggalkan Chanyeol?"
Luhan mengusap pelan punggung Baekhyun. Meski menghadapi kasus yang berbeda, tapi dia tahu dan pernah ada di posisi Baekhyun saat ini. Rasa takut pasti ada, tapi semua memang harus di hadapi.
"Apa tak sebaiknya kau mengatakan hal ini pada Chanyeol-ssi?"
Baekhyun menggeleng pelan, dia melepas pelukannya dari Luhan dan menggenggam kedua tangan sahabatnya itu. Mata basahnya menyisakan airmata di kedua pipinya.
"Chanyeol pasti tak memperbolehkan aku menemui mereka, tapi..."
"Apa menurutmu akan lebih baik kalau kau menemui mereka?" Baekhyun mengangguk.
"Aku rasa begitu, dengan begitu aku akan tahu apa yang mereka inginkan bukan?"
"Kalau memang seperti itu, lakukan. Aku akan selalu mendukungmu, apapun yang akan terjadi setelah ini."
Baekhyun berusaha tersenyum demi menenangkan hatinya.
"Apa tak masalah kalau aku meninggalkanmu sendirian?"
"Di luar sana, penjaga yang di sewa kekasihmu itu masih setia berjaga. Aku akan meminta bantuan mereka kalau memang aku memerlukan sesuatu. Lagi pula, manager oppa sebentar lagi akan datang. Kau tenang saja."
"Baiklah! Aku pergi!" pamit Baekhyun sambil mengecup sayang pipi Luhan.
"Yang harus kau lakukan saat kau bertemu mereka adalah... tunjukkan kau masih Baekhyun yang sama, yang mereka kenal dua bulan yang lalu. Baekhyun yang sangat gigih dan sangat tegas. Hhmmm?"
Baekhyun tersenyum tipis sambil mengangguk. Dia kemudian melangkah keluar dari kamar Luhan setelah meraih tas kecilnya.
Srek!
"Anda mau pergi sekarang?"
Baekhyun berjengit kaget. Dia langsung berbalik dan mendapati Zhoumi berdiri tak jauh darinya. Dahinya berkerut dengan jelas, kenapa ada Zhoumi disini? Padahal penjaga lain, yang bertugas menjaga Luhan masih ada di sana.
"Tuan Kim meminta saja menunggu anda."
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Baekhyun curiga. Dia merasa ada yang aneh dengan kehadiran Zhoumi di rumah sakit. Dua hari dia tinggal di rumah sakit, selalu Chanyeol yang menemaninya. Tadi, setelah menurunkannya di lobi rumah sakit, pria itu juga berjanji akan segera menyusulnya, begitu urusannya di rumah selesai. Tapi...
"Anda mau kemana? Biar saya yang mengantar anda."
Baekhyun mendesah pelan, sejenak dia seolah lupa dengan tujuannya keluar dari kamar Luhan.
"Saya mau keluar sebentar. Anda di sini saja."
"Saya tak bisa membiarkan anda pergi sendirian. Saya akan mengantar anda."
"Zhoumi-ssi."
"Maaf. Mungkin anda tak nyaman, tapi saya harus melakukan hal ini. Tuga saya melindungi anda dan memastikan anda berada di tempat aman. Biarkan saya mengantar anda."
Tak ingin berdebat panjang dengan pria tinggi berkebangsaan China itu, Baekhyun melangkah menjauh dari ruang rawat Luhan dengan Zhoumi mengikutinya dari belakang.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang di kemudikan Zhoumi sudah membelah jalanan kota Seoul. Baekhyun belum mengatakan pada Zhoumi kemana tujuan mereka. Dia tadi hanya meminta Zhoumi menjalankan mobilnya tanpa mengatakan kemana tujuannya.
"Zhoumi-ssi! Apa terjadi seuatu di rumah?"
"Ada sedikit masalah."
"Apa?"
"Tuan dan Ny Besar serta nona muda yang lainnya mengunjungi rumah."
Baekhyun menatap Zhoumi melalui kaca spion yang terdapat di atas dashboard. Orang kepercayaan Chanyeol itu jelas tak berbohong. Lalu apa tujuan dari semua ini? Orangtua Chanyeol baru mengunjungi rumah pria itu dan sekarang mereka ingin menemuinya, apakah semua ini ada hubungannya?
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya."
"Tuan muda marah besar atas tindakan Nona muda Joo Hyun yang mengijinkan mereka semua masuk ke dalam rumah. Padahal aturan di dalam rumah, seharusnya Tuan dan Ny. Besar tak boleh masuk rumah. Jackson di pulangkan ke China dan Tuan Muda tak keluar dari ruang kerja pasca insiden itu."
Baekhyun membulatkan matanya tak percaya.
"Kenapa Jackson di pulangkan?"
"Dia yang bertugas menjaga pintu gerbang. Tuan muda menganggap Jackson ikut bertanggungjawab atas kejadian ini."
Baekhyun meremat kedua tangannya. Pikirannya tiba-tiba kalut. Sebesar itukah kebencian Chanyeol pada kedua orangtuanya, hingga bahkan untuk menginjakkan kaki di rumahnya saja, Chanyeol memberi larangan keras.
Lalu, kalau sampai Chanyeol tahu saat ini dia akan menemui orangtua pria itu, apakah Chanyeol akan menerima begitu saja? Apakah pria itu tak akan semakin marah?
"Zhoumi-ssi!"
"Nde."
"Saya akan menemui Tuan dan Ny. Besar. Bisakah anda tak mengatakan hal ini pada Tuan Muda?"
Zhoumi menatap Baekhyun dari kaca spion. Matanya menyiratkan rasa tak percayanya.
"Saya tak tahu apa yang akan mereka sampaikan nanti. Ada hubungannya dengan kejadian di rumah tadi atau pun tidak. Tapi... bisakah anda merahasiakan hal ini? Saya tak ingin dia semakin marah kalau tahu saya bertemu dengan keluarganya."
Zhoumi mengangguk tegas.
"Kita kemana?"
"Restoran Mirotic."
.
.
.
Baekhyun tiba di Restoran Mirotic setengah jam kemudian. Restoran itu tampak sepi. Hanya ada lima mobil yang berjajar di pelataran parkirnya sebelum dia dan Zhoumi datang. Sebelum turun, Baekhyun menarik pelan nafasnya, lalu menghembuskannya dengan tak kalah pelan. Dia harus terlihat tenang. Tidak boleh takut.
"Saya akan menemani anda masuk."
Baekhyun menatap Zhoumi, lalu mengangguk kecil.
Gadis mungil yang hari ini memakai kaos oversize milik Chanyeol itu, turun dari mobil setelah pintunya di buka oleh Zhoumi.
Dari jauh, Baekhyun dapat melihat ada dua penjaga dengan pakaian hitamnya berjaga di depan pintu masuk Restoran.
Nyalinya menciut seketika. Yang akan di hadapinya bukan orang sembarangan dan di dalam sana pasti tak sendiria. Sedangkan dia yang sangat mungil ini, hanya datang berdua dengan Zhoumi, itu pun kalau pria itu boleh masuk. Kalau semisal pria itu tak diijinkan masuk, berarti dia hanya sendirian. Hah! Haruskah dia menghadapi mereka seorang diri?
"Anda siap?"
Baekhyun mengangguk ragu.
"Jangan takut. Saya bersama anda."
Baekhyun merasa sedikit tenang mendengar kata-kata Zhoumi. Dengan langkah tegak, tunangan dari Park Chanyeol itu mulai melangkah menuju pintu masuk Restoran mewah bergaya Eropa itu.
"Hanya Nona Byun yang diijinkan masuk. Anda harus menunggu disini." Ujar petugas dengan name tag Ahn Seo Yoon.
Zhoumi menarik lengan Baekhyun, lalu dia melangkah maju. Hingga posisinya kini ada di depan Baekhyun.
"Kalau memang seperti itu aturan yang mereka buat, katakan pada Tuan dan Ny. Besar, mereka tak dapat menemui Nona Byun."
"Maksud anda?"
"Seperti halnya anda yang bertugas menjaga keamanan mereka. Saya disini juga menjaga keamanannya. Maaf, tapi saya tak bisa percaya pada anda-anda semua. Jadi saya tak akan membiarkan dia masuk seorang diri ke dalam."
Zhoumi menatap tegas Ahn Seo Yoon.
"Ada apa ini?" tanya Ryeowook, dia mendatangi pintu masuk karena mendengar keributan kecil dari arah itu.
Ahn Seo Yoon mendekati Ryeowook lalu berbisik pelan. Ryeowook mengangguk mengerti.
"Silahkah masuk!"
Zhoumi menatap Ryewook waspada.
"Anda dan Nona Byun silahkan masuk!" Ryeowook kembali mempersilahkan Zhoumi untuk masuk ke dalam restoran itu dengan Baekhyun.
Zhoumi menoleh pada Baekhyun lalu mengangguk kecil sebelum melangkah masuk. Mata tajamnya berpendar ke segala arah, memastikan tak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam restoran itu.
Setelah di rasa cukup aman, Zhoumi baru menggeser tubuhnya dan membiarkan Baekhyun melangkah mendekati meja dimana ayah dan ibu Chanyeol serta saudaranya yang lain menunggu.
Tak cukup sampai disitu. Bila Ryeowook menunggu pada radius lima puluh meter, lain halnya dengan Zhoumi yang mengikuti Baekhyun sampai di tempat gadis itu duduk. Matanya tetap waspada mengamati sekitar tempat duduk itu.
"Zhoumi-ssi! Bis..."
"Maaf. Saya harus berada di dekat anda. Kesalahan fatal yang saya lakukan saat itu, tak akan pernah saya ulangi lagi. Dan sekali lagi, saya belum bisa mempercayai semua yang berada di ruangan ini." sahut Zhoumi tegas. Dia terlihat tak terusik dengan tatapan terganggu dari enam orang yang berada di depannya saat ini.
"Maaf kalau saya datang terlambat." Lirih Baekhyun.
Kalau bisa di gambar, suasana hatinya saat ini seperti garis yang membentuk pola tak beraturan. Bingung, iya. Takut, sudah pasti. Tegang, kalau itu jangan di tanya lagi. Dia tak nyaman di tempat ini. Tapi... cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi bukan?
"Bagaimana hubunganmu dengan Chanyeollie, Baekhyun-ssi?" tanya Junsu, mata wanita itu menatap Baekhyun dengan senyum tipis terlukis di bibirnya.
Rasanya sangat berbeda, tatapan itu, senyum itu, terasa begitu berbeda bagi Baekhyun. Iya, berbeda dengan tatapan wanita itu dua bulan yang lalu. Saat pertama bertemu dengan ibu dari Chanyeol itu, Baekhyun dapat dengan jelas menangkap tatapan angkuh dari Ny. Besar Park itu. Senyum yang terlukis saat itu, juga lebih tergambar seperti senyum sinis. Dan hari ini, wanita yang melahirkan Chanyeol itu menatapnya lembut dengan senyum tipis penuh luka.
"Baik." Sahut Baekhyun dengan suara tercekat.
"Kau pasti sudah mendengar apa yang kami alami di rumah Chanyeollie."
Baekhyun menoleh ke belakang, menatap Zhoumi yang juga tengah menatapnya.
"Zhoumi-ssi menceritakan garis besarnya pada saya."
"Harapan setiap orang tua, pasti melihat anak-anaknya bahagia. Aku dan suamiku juga memiliki harapan seperti itu Baekhyun-ssi."
Tubuh Baekhyun tiba-tiba terasa dingin mendengar kalimat keramat itu. Di beberapa drama yang pernah di lihatnya, biasanya kalimat seperti itu digunakan sebagai percakapan antara ibu si pria dan wanita yang di cintai si pria sebelum nanti, ibu si pria meminta wanita yang di cintai anaknya untuk meninggalkan anaknya. Dan ketika di dunia nyata Baekhyun di hadapkan pada kalimat itu, apakah dia akan bernasib sama dengan tokoh utama wanita di dalam sebuah drama? Harus rela melepas pria yang di cintainya demi wanita lain yang di pilihkan orangtua pria yang di cintainya?
"Kami berpikir bahwa dengan harta yang melimpah, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat semua anak-anak kami bahagia. Perjodohan pun kemudian kami lakukan, dengan berpikiran bahwa, hidup nyaman dan mapan dapat menjamin kebahagiaan mereka. Sampai kami lupa, bahwa bahagia tak hanya tentang harta. Bahagia adalah tentang cinta tulus, kasih sayang yang tak pernah putus serta utuhnya sebuah keluarga." Lanjut Junsu dengan mata berkaca-kaca. Kenyataan yang baru di alaminya beberapa jam yang lalu, memukulnya telak.
Putra kebanggaannya, anak laki-laki yang lahir dari rahimnya, menolaknya. Berbicara pun bukan selayaknya seorang anak kepada orangtuanya. Chanyeol-nya, membuat pembatas yang sangat tinggi untuk hubungan mereka.
"Rasanya begitu sakit menerima kenyataan, kalau dia seperti tak mengenal dan tak mau kenal dengan ibunya sendiri. Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, tapi dia membuat batas yang sangat tinggi untuk hubungan kami."
"Eomma!" Shin Hye mendekati ibunya, lalu memeluk ibunya yang mulai menangis.
Sejak pulang dari rumah Chanyeol, Junsu memang tak berhenti menangis. Bahkan dia terus memaksa Ryeowook untuk menghubungi Baekhyun dan bertemu dengan gadis itu di sini. Karena seperti yang di katakan Jongdae, satu-satunya orang yang di dengar oleh Chanyeol saat ini adalah Baekhyun.
Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan anak laki-lakinya itu. Dia ingin memeluk tubuh besar putranya itu. Dia tiba-tiba merasakan rindu luar biasa pada putra kecilnya yang biasanya merengek padanya.
"Baekhyun-ssi, aku mohon, aku mohon bantu aku mendapatkan maaf Chanyeollie. Aku merindukannya, aku ingin memeluknya."
Tanpa terasa, airmata Baekhyun leleh. Tenggorokannya terasa sakit dan kering seketika. Suasana di tempat itu juga berubah menjadi suasana sedih.
Baekhyun menatap satu persatu wajah putus asa itu dengan mata basahnya. Siapa yang tak kenal Chanyeol dengan sikap keras kepalanya? Tak ada yang bisa membuat Chanyeol memilih B bila dia sudah menjatuhkan pilihannya pada A. Kecuali bila hal itu menyangkut orang yang di sayanginya. Seperti kasus ketika dia menerima pertunangannya dengan Seulgi. Dia bersedia melakukan hal itu demi melindungi adiknya.
Dan pilihan Chanyeol sejak beberapa tahun yang lalu adalah menjaga jarak dengan orangtuanya. Lalu... mampukah dia yang orang baru dalam hidup Chanyeol, mengubah pilihan itu?
"Aku akan melakukan apapun, asal kau menjawab iya permintaan wanita tua ini Baekhyun-ssi."
.
.
.
Tok... tok... tok...
"Aku sedang tak ingin di ganggu Jongdae-ah!"
Krieeeeetttt...
"Apa kau tak punya tel..."
Kalimat Chanyeol tergantung di udara saat dari balik pintu, kepala Baekhyun terlihat menyembul. Senyum gadis itu merekah lebar sebelum dia masuk dengan membawa satu nampan berisi berbagai jenis makanan.
Setelah meletakkan makanan itu di atas meja kerja Chanyeol, gadis mungil itu kemudian memutari meja kerja pria itu. Lalu dengan santai, dia mendudukkan dirinya di atas pangkuan tunangannya.
"Yang lainnya aku tanya sudah makan. Hanya kita berdua yang belum makan, jadi aku membawa makanan kesini. Kau pasti lapar 'kan?" Baekhyun tersenyum sambil melingkarkan lengannya di leher Chanyeol. Mau tak mau, Chanyeol akhirnya tersenyum, dia menarik pelan pinggang Baekhyun sebelum kemudian menyurukkan kepalanya di leher jenjang wanita yang sangat di cintainya itu. aroma yang menguar dari tubuh Baekhyun, selalu mampu membuatnya tenang.
"Bagaimana keadaan Luhan-ssi?"
"Baik. Ah... kau tahu, semalam Sehun-ssi juga melamarnya. Cincin yang diberikan Sehun-ssi sangat cantik di jari Luhan-ssi."
Chanyeol menatap Baekhyun, lalu menarik jari-jari lentik Baekhyun yang di salah satu jarinya tersemat cantik cincin pemberiannya.
"Apa yang ini kurang cantik?" tanyanya sembari mencium lembut punggung tangan Baekhyun.
"Sangat cantik dan aku sangat menyukainya." Jawab Baekhyun sambil tersenyum lebar.
"Jinjja? Tapi aku dengar tadi kau baru memuji cincin milik Luhan-ssi. Aaaa... apa ini pertanda bahwa kau juga ingin mendapatkan cincin dari Sehun-ssi?" Chanyeol menarik kaos Baekhyun di bagian pundak hingga melorot memamerkan kulit putih Baekhyun di bagian itu. Bibir Chanyeol kemudian menyapa pundak mulus itu.
"Aku hanya mengatakan cincin itu terlihat cantik di jari Luhanie."
"Ehm." Gumam Chanyeol sembari menyapukan bibirnya ke tulang selangka tunangan mungilnya.
Baekhyun sepertinya terlihat tak terganggu dengan aktifitas Chanyeol itu. Dia diam saja sambil membaca coretan tangan Chanyeol diatas kertas yang terserak diatas meja itu.
Ada bagian dari tulisan itu yang menarik penglihatannya. Dimana disana, Chanyeol menulis beberapa kalimat yang menyatakan bahwa pria tinggi pemilik lima puluh persen saham Cloud 9 itu, akan segera melimpahkan semua sahamnya itu pada saudaranya yang lain. Chanyeol juga menuliskan bahwa sahamnya di Kang building akan di serahkan pada Jongdae. Juga ada beberapa tulisan lain, seperti rancangan masa depan untuknya dan pria itu.
"Ini apa?" tanya Baekhyun kemudian.
Chanyeol menghentikan kegiatannya, lalu melirik kertas yang di pegang Baekhyun. Dengan acuh, dia menarik kertas itu dari tangan Baekhyun dan membuangnya begitu saja di lantai. Kemudian dia kembali menyusuri pundak hingga tulang selangka Baekhyun dengan bibirnya.
"Hentikan!" Baekhyun mendorong wajah Chanyeol dari pundaknya. "Aku ingin penjelasan." Tatapnya serius pada pria itu.
Chanyeol balik menatap Baekhyun, kemudian mendesah pelan sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Kedua tangannya masih berada di pinggang ramping wanita itu.
"Bukan hal yang penting. Hanya sebuah perencanaan kecil tentang Cloud 9 dan Kang Building."
"Ada alasan kenapa di situ di tulis kau akan menyerahkan saham-saham itu pada keluargamu dan Jongdae?"
"Ehm... aku berencana meninggalkan Korea."
Baekhyun menatap Chanyeol dalam, masih menuntut jawaban pasti dari apa yang baru saja di bacanya.
"Aku lelah dengan semua ini Bee. Aku ingin tenang. Aku merasa tenang kalau sudah mengembalikan semua itu pada pemilik yang sesungguhnya. Cloud 9 bukan aku yang membangunkan, aku hanya mengembangkan perusahaan itu, sudah sepatutnya aku mengembalikan pada pemilik yang sebenarnya bukan? Kalau Kang building, aku rasa, tak selamanya Jongdae akan ikut denganku. Dia cukup mampu mengelola sebuah perusahaan besar. Aku menghadiahkan perusahaan itu untuknya. Dia sangat lama ikut denganku dan begitu memahamiku, ini tak cukup sebagai bentuk balas budiku, tapi dengan ini, aku rasa sudah cukup membuatnya untuk berdiri dengan kakinya sendiri."
"Kau akan tinggal dimana setelah ini?"
"Seattle."
Baekhyun masih menatap Chanyeol. Mata yang selalu menatapnya penuh cinta itu, terlihat begitu terluka. Tak hanya itu, dia juga melihat kesedihan yang mendalam di baliknya.
Tak berapa lama kemudian, Baekhyun memeluk Chanyeol erat. Di pundak pria itu, dia meluapkan tangisnya. Ya Tuhan! Dia selalu merasa menjadi orang yang paling menyedihkan dengan keadaan keluarganya yang serba kekurangan dulu. Tapi... melihat Chanyeol dan keluarganya, yang meski memiliki harta melimpah, tertanya mereka juga tak bahagia. Hubungan keluarga itu seperti kaca yang di banting ke lantai, terpecah belah dan tanpa sengaja melukai masing-masing.
Beberapa jam yang lalu, Junsu, ibu Chanyeol, bersimpuh padanya, memohon padanya agar dia bersedia membujuk Chanyeol untuk kembali menyimpul tali keluarga yang sudah lama terputus. Tapi... melihat Chanyeol yang seperti sekarang ini, apakah dia sanggup melakukannya?
Dia memahami keadaan rumit keluarga itu.
Setelah puas menangis, Baekhyun kembali melonggarkan pelukannya. Lalu menatap Chanyeol yang hanya diam mendengarnya menangis. Tanpa ragu, gadis itu kemudian menangkup wajah Chanyeol dan mencium bibir tunangan tampannya itu. Dalam ciuman pelan yang sangat dalam itu, Baekhyun seolah ingin menyampaikan bahwa apapun yang di lakukan Chanyeol, dia akan mendukungnya.
"Kenapa menangis? Aku membuatmu sedih?"
Baekhyun mengangguk menjawab pertanyaan Chanyeol, sesaat setelah gadis itu melepas ciumannya.
"Ada banyak hal di dunia ini, yang kadang harus kita bagi dengan orang lain, tak hanya kebahagiaan. Tapi juga kesedihan. Aku senang kau membagi semua denganku, meski berat bagiku memahami hal itu."
Chanyeol membelai lembut anak rambut Baekhyun yang menutupi wajahnya, lalu menyelipkannya di balik telinga.
"Terimakasih sudah hadir sebagai sosok yang istimewa."
"Kau yang menjadikan aku seperti itu."
"Kau tahu aku mencintaimu, sangat mencintamu."
"Ehm." Baekhyun mengangguk-angguk mengerti.
"Aku ingin selalu bersamamu, menghabiskan banyak waktu berdua, berbagi malam panas berdua, hanya berdua denganmu."
Baekhyun menangkup wajah Chanyeol, lalu mencium kecil bibir kekasihnya itu.
"Aku ingin bahagia bersamamu dan anak-anak kita nantinya."
Baekhyun mengangguk, lalu kembali mencium bibir Chanyeol.
"Byung Baekhyun... saranghae."
"Nado saranghae Park Chanyeol."
Mereka kemudian larut dalam ciuman lembut itu.
Baekhyun ingin menikmati malam ini dengan berbagi cinta bersama orang yang sangat dicintainya itu. Tanpa mengotorinya dengan permintaan-permintaan yang akan merusak moment indah itu. Masih ada esok, ya... esok ketika matahari mulai tinggi dan saat Chanyeol sudah dalam suasana hati yang jauh lebih baik, dia akan bicara pada pria itu tentang keluarganya.
"Ah ya! Bukankah tadi aku kesini untuk mengajakmu makan?"
"Daripada itu, aku lebih suka memakanmu."
"Ya Park Chanyeol! Aaaaaahhhh...!
.
.
.
TBC
.
.
.
Note : Terimakasih untuk cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini.
Saya ingin menjawab sebuah review dari cerita 'Be With You', karena cerita itu sudah selesai jadi saya jawab di sini saja ya...
Untuk reader Chanbee (Guest)
Saya bukan tak suka di kritik, saya tahu dan sangat menyadari kalau tulisan saya masih banyak kekurangan sana sini dan juga masih berantakan, maaf atas ketidaknyamanan itu.
Disini saya ingin menjelaskan mengenai penggunaan kata ganti orang pertama dan orang kedua, aku, kamu, saya, dan kau...
Mungkin ada salah satu dari kalian yang juga merasakan hal yang sama, tidak nyaman dengan penggunaan kata itu.
Awalnya... saya memakai kata 'kamu', tapi kemudian ada yang merasa tak nyaman dengan kata itu, akhirnya saya ganti 'kau' demi kenyamanan pembaca saya. Lalu kenapa ada penggunaan kata 'saya'? hubungan yang belum terlalu dekat satu sama lain, apa terdengar sopan kalau langsung memakai kata aku dan kau? Di situ diceritakan bahwa hubungan Baekhyun dan Chanyeol belum begitu dekat, makanya saya menggunakan kata 'saya'. Sama seperti pada cerita saya yang lainnya, kalau hubungan mereka sudah sangat dekat, kata 'saya' akan saya ganti menjadi 'aku'.
Maaf kalau saat kalian membaca cerita saya, ternyata kurang dapat feelnya.
Minta doa sebanyak-banyaknya ya... biar saya tetap berada di rule saya untuk tetap menulis.
Terimakasih atas kritiknya. #Bow
Untuk ke depannya saya akan berusaha lebih baik lagi.
Yang menunggu cerita lainnya, mohon lebih bersabar ya, maaf atas keterlambatan ini.
Big Love For You Guys 3
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
