A/N: I'm sorry for the typos. Enjoy
I own nothing unless Ballard and Grosjean
Chapter Fourteen
Hermione Granger
Santorini, Greece
Suara debur ombak menjadi musik latar pagiku kali ini. Sebuah gazebo berkanopi berencana kujadikan tempatku bermalas-malasan seharian ini. Aku melirik Rhaella dari balik sunglass-ku yang tengah sibuk bermain ombak sambil histeris sendiri lalu tertawa bersama Scorp saat ombak itu mengejar mereka. Sementara Draco baru saja membawa masuk Rhaegar ke dalam villa karena tertidur denganku di gazebo ini tadi. Senyumku mengembang karena kedua anakku yang terlihat begitu antusias dengan liburan kali ini. Scorp tak pernah menyukai aktivitas di luar ruangan seperti Rhaella atau Rhaegar, tapi bila menyangkut pantai ia akan sangat bersemangat berada di tempat itu berjam-jam lamanya. Mungkin semua itu efek dari Draco yang selalu membawaku ke pantai saat aku mengandungnya dulu.
"Scorp! Jangan terlalu jauh ke tengah!" teriak Draco yang tetiba sudah berada di sisi gazebo ini.
Aku menengadah melihat wajahnya yang berubah khawatir melihat tingkah laku kedua anaknya yang sangat tergila-gila dengan pantai itu. Sementara Scorpius hanya mengangkat jempolnya menandakan bahwa semuanya berada di bawah kendalinya.
"Awasi adikmu!" sekali lagi Draco berteriak pada anak sulungnya.
Scorp melepaskan sunglass-nya dan untuk sekali lagi mengangkat ibu jarinya. "Easy, Father," ia ikut berteriak dari tepi pantai itu.
Rhaella hanya tertawa lalu kembali berlari di tepian. Rambutnya yang ikal pirang kecokelatan itu bergoyang bagai pegas, sesekali ia mencipratkan air laut itu kepada kakaknya lalu kembali histeris saat Scorp mencoba menangkapnya. Akhirnya setelah meneriaki Scorp dua kali, Draco duduk di sampingku. Kulepaskan sunglass yang sedari tadi membingkai wajahku lalu menatapnya. "Sudah selesai memberi instruksi pada puteramu?" tanyaku.
Dia hanya tersenyum sangat tipis lalu memajukan wajahnya dan mengecupku. "Rhaegar masih tidur?" tanyaku saat ia mengambil tempat di sampingku lalu ikut bersandar bersama.
Ia mengangguk. Kuletakkan kepalaku di pangkuannya lalu kembali memakai sunglass ini. Sepuluh tahun menikahi pria ini tak pernah membuatku bosan memandangi dadanya yang bidang, apalagi saat ini ketika ia hanya mengenakan trunk. Jika buka karena kami sedang mengadakan liburan keluarga dan Scorp serta Rhaella tengah bermain di tepi pantai itu, dan Rhaegar tengah tertidur di dalam villa bersama Magnus dengan penjagaan ketat dari para pengawal kami, aku mungkin sudah bercinta denga Draco di gazebo ini. Draco membelai rambutku lalu tertawa. "Aku akan menyuruh Scorp dan Rhaella masuk sekarang jika kau terus berpikir seperti itu," ujarnya.
Kuintip dirinya yang masih terlihat memejamkan mata itu. "Percayalah, darling. Aku juga ingin bercinta denganmu sekarang di gazebo ini."
Aku ikut tertawa dibuatnya. Ada kalanya aku kesal karena tindakan semena-menanya membaca pikiran, tapi kali ini aku menikmati bagaimana ia tahu betul apa yang berada di kepalaku. "Bagaimana bila nanti malam saat mereka semua sudah terlelap," ujarku.
Draco masih membelai lembut rambutku. "Dengan suara deburan ombak dan pancaran sinar bintang yang membentang di angkasa," tambahku.
"Dan suara erangan dari dirimu. Terdengar seperti rencana yang sempurna," balasnya.
Kami berdua tertawa dan kembali diam terhanyut dalam pikiran masing-masing. Aku masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Liburan kali ini terasa begitu lepas. Seperti tak ada lagi ketakutan jika tetiba saja seorang penembak jitu datang untuk mengincar nyawa kami. Tewasnya Theo membuat segalanya berubah. Tak ada penurunan dalam status penjagaan dari pengawal dan para Madmen kami, tapi rasa takut itu menurun drastis. Walaupun aku tahu Draco masih belum dapat menghilangkan bayangan Theo yang meregang nyawa di hadapannya. Tepat esok hari setelah ia membunuh Theo dan membakar mansion itu, Draco dan Blaise turun langsung ke tempat perkara untuk memastikan bahwa Theo benar-benar terbakar di dalamnya. Mereka menemukan jasad yang sudah terpanggang hingga tak dapat dikenali lagi kecuali lengannya yang terlihat masih sedikit utuh dengan sebuah tatto khas para pelahap maut dan tatto lain yang bertuliskan 'never regret' serta susunan gigi yang semua ciri itu menunjukan bahwa jasad itu adalah Theo. Draco meminta Ballard untuk memberikan pemakaman yang layak bagi jasad itu di sebuah pemakaman umum sihir di kota London. Sejak hari itu suamiku tak pernah lagi membahas masalah ini, begitupula dengan Blaise. Mereka berdua seakan mengubur habis masalah ini dan aku menghargai apa yang menjadi keputusannya.
"Sudah selesai berpikirnya?" tanya Draco yang masih terus membelai rambutku.
Aku mengangguk. Di saat yang bersamaan Grosjean datang menghampiri kami dengan ponsel sihir di tangannya. "Tuan Zabini menghubungimu, Sir," ujarnya lalu memberikan ponsel itu pada Draco.
"Speak," ujar Draco pada Blaise di ujung sana.
Dia tampak mengangguk sambil sesekali mengiyakan perkataan Blaise lalu menutup panggilan itu. Setelah itu ia mengembalikan ponsel pada Grosjean dan pria itu pamit dari hadapan kami. "Ada masalah di London?" tanyaku.
Draco menggeleng. "Blaise hanya bertanya beberapa pendapatku tentang proses gencatan senjata kita dengan Cosa Nostra."
Alisku mengerut. "Cosa Nostra from New York."
Dia mengangguk. "Kita akan bekerja sama dengan mereka?" tanyaku penasaran.
"Kita butuh aliansi di negara mereka. Mengingat hubungan kita yang tak akan pernah membaik dengan Chicago Outfit, Cosa Nostra adalah satu-satunya harapan kita di negara itu."
Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya. Beberapa saat kemudian aku melihat Grosjean mulai mondar-mandir dengan earphone di telinganya. Aku rindu kehadiran Ballard. "Kau seharusnya tak cepat-cepat mengangkat jabatan Ballard sebagai Captain. Aku rindu kehadirannya untuk menjaga aku dan anak-anak," ujarku pada Draco.
Suamiku hanya tersenyum . "Sudah waktunya dia berkembang, Hermione. Biarkan dia menjadi Captain dan mengatur anak buahnya sendiri."
"Kau terdengar seperti seorang ayah yang sedang membela cita-cita puternya," ujarku
"Aku menemukan Ballard saat ia masih kecil di gang itu. Aku membesarkannya hingga sekarang, tentu aku merasa bertanggung jawab layaknya ia anakku sendiri," jawabnya
Aku tertawa. "Kau yang mengatakan bahwa kita tak boleh terlalu percaya pada seseoarang, tapi kau terlihat sangat percaya pada Ballard."
"Aku memang percaya padanya, tapi bila ia mengkhianatiku, aku sendiri yang akan melepaskan tulang belakangnya dari tubuh anak itu."
Aku tersenyum lalu mengangguk. Aku tahu bahwa ia tak bercanda
Aku benar-benar akan merindukan kehadirannya di sekitarku. Pria muda itu benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk kami. "Bahkan aku berpikir untuk mengirimnya ke Rusia dan mengambil alih daerah kekuasaan The Bratva," ujar Draco lagi.
"Jika kau anggap itu akan berhasil, lakukanlah," balasku.
Ia mengangguk begitupula dengan diriku.
"Aargh!"
Suara teriakan Rhaella terdengar seketika. Aku langsung bangkit dan mengeluarkan tongkat sihirku dari bathing suit ini begitu pula Draco yang langsung berlari ke tepi pantai tempat anak-anak kami berada. Dan tak lama kemudian aku mendengar Rhaella tertawa histeris. Ternyata Scorp berhasil mengejarnya.
Shit.
Kumasukan kembali tongkatku. Mungkin Theo sudah tewas, tapi aku dan Draco selalu sadar bahwa kami hidup dengan dikelilingi musuh. Karena aku menikahi pria itu. Because I marry Mister Dark and Dangerous.
000
Santorini di bulan Maret mungkin hangat di siang hari, tapi tidak dengan malam harinya. Angin dari arah laut bertiup dengan sangat kencang dan suhu perlahan mulai turun. Draco sudah menghidupkan perapian di ruang tengah villa ini dengan aku yang masih memeluk Rhaegar yang baru saja terlelap di pangkuan, sementara kedua kakaknya sudah berada di kamarnya masing-masing. Dia duduk bergabung bersamaku. Ia memberi isyarat untuk membawa Rhaegar masuk ke dalam kamarnya, tapi aku menggeleng.
"Dia baru saja tertidur, jika aku memindahkannya ke tanganmu dia akan langsung terbangun dan tak akan terlelap hingga lewat tengah malam nanti."
Draco hanya mengangguk lalu menyalakan pemutar musik di ruangan ini. Alunan suara dari Phillip Phillips terdengar lembut di pendengaranku. Lagu ini pertama kali kukenalkan pada Draco beberapa tahun yang lalu saat aku mengandung Scorpius. Draco memejamkan matanya di sampingku, namun jemarinya mengetuk-ngetuk mengikuti alunan irama lagu ini. Lagu itu terulang untuk kedua kalinya dan Draco masih terlihat begitu menikmatinya. Saat aku yakin bahwa Rhaegar sudah benar-benar pulas aku menggendongnya ke kamar. Draco membuka sedikit matanya. "Biarkan aku yang menggendongnya," ujarnya yang langsung bangkit.
Aku menggeleng. "Biar aku saja. Aku akan segera kembali."
Aku berjalan masuk ke kamar Scorp dan meletakkan Rhaegar di ranjang tepat di seberang ranjang Scorp. Anak sulungku sudah terlelap sedari tadi sepertinya. Bermain di tepi pantai bersama Rhaella lalu berjalan-jalan sore bersama kami tadi benar-benar menghabiskan seluruh energinya. Kuperiksa mantra pelindung di kamar ini lalu merapalkannya ulang untuk kedua kalinya sebelum keluar dari kamar mereka. Hal yang sama juga kulakukan pada kamar Rhaella. Aku kembali ke ruang tengah dan menjatuhkan tubuhku di samping Draco. Ia membuka kedua matanya. "Anak-anak sudah tertidur?"
"Sangat pulas," jawabku.
Ia tersenyum mendengarnya lalu suamiku ini menarik tubuhku untuk bersandar di dada bidangnya. Aku menahan tawa mengingat apa yang aku katakan tadi siang padanya. "Padahal aku ingin sekali bercinta denganmu di gazebo tepi pantai itu, tapi angin di luar sana benar-benar tak dapat berkompromi," ujarku pura-pura kesal.
Draco tertawa. "Di ruangan ini juga terdengar mengasyikan," jawabnya.
Aku bangkit dari pelukannya dengan pupil mata yang membesar sambil menatapnya. "Benarkah? Kau benar-benar ingin bercinta denganku di ruangan ini? Bagaimana bila tetiba saja Rhaegar terbangun dan memergoki kita atau Grosjean datang begitu saja?" godaku padanya.
Bibirnya mengerucut lalu berubah malas menatapku dan kembali memejamkan matanya. Aku terkekeh melihat tingkahnya. Draco Malfoy, pria dingin dengan sifat yang sangat menyebalkan dan entah kenapa aku merasa begitu mencintainya. Aku menengadah lalu mengecupnya panjang kemudian sedikit menggodanya dengan membuka mulutku. "Ayo rapalkan mantra pelindung di sekitar gazebo dan kita dapat bercinta semalam suntuk," ujarku.
Draco membuka matanya lalu menyeringai kemudian menunduk untuk mengunci bibirku dengan bibirnya. Kami tertawa di sela ciuman kami. Sepuluh tahun dan tak ada yang pernah berubah dalam kehidupan rumah tangga kami kecuali tiga buntut yang menjadi prioritas utama di kehiupan kami sekarang. Alunan musik itu sudah berubah menjadi salah satu lagu kesukaanku. Suara Morrisey, vokalis The Smith terdengar sangat indah di telingaku. Kutangkup wajah Draco sambil bersenandung lirik yang selalu menjadi kesukaanku. "To die by your side, is such a heavenly way to die. And if a ten ton truck, kills the both of us. To die by your side, well the pleasure, the previllage is mine," ucapku dengan bernyanyi di hadapannya.
"Kau memasukkan lagu ini ke dalam playlist?" tanyaku tak percaya.
Ia mengangguk. "The Smith? Kau sangat menyukainya, bukan?"
Aku langsung mengangguk semangat. "Oleh karena itu, aku memasukkannya ke dalam playlist kita."
Aku terkekeh dan langsung menciumnya berulang kali. "That's makes me love you more and more, Draco."
Dia tersenyum. Aku masih menangkup wajahnya dengan membelai lembut seluruh kulit wajahnya yang terlihat semakin pucat di tengah temaram ruangan ini. Aku ingin sekali membekekukan momen seperti ini. Momen dimana aku dapat merasakan kehangatan tubuhnya dan berat tubuhnya di atasku membuatku yakin bahwa pria di hadapanku ini nyata. Draco masih tersenyum dan hal ini langka ia lakukan. "Kau sering sekali tersenyum sekarang," ujarku.
Kali ini ia yang membelai wajahku dan menyeka anak rambut yang berusaha menutupi wajahku. "Aku bahagia. Kau membuatku bahagia. Scorpius, Rhealla, dan Rhaegar serta semuanya membuatku bahagia."
Aku tersenyum lalu menciumnya. "Jangan terlalu biasa dengan situasi seperti ini, Draco. Tak ada yang abadi di dunia ini termasuk kebahagiaan ini," ujarku.
Dia menggeleng. "Aku akan memastikan bahwa kebahagiaanku akan kekal. Karena aku akan bersumpah akan mengejarnya ke ujung dunia sekalipun bagi siapapun yang mencuri kebahagiaan dari hidupku," balasnya.
Kini aku yang menggeleng. "Jangan berlebihan," kekehku lalu kembali menangkup wajahnya.
"I love you, Draco Malfoy. My personal Mister Dark and Dangerous," ujarku.
Dia menyeringai. "You know I love you too, Hermione."
Draco merunduk dan mengecupku panjang. "Ayo kita ke gazebo. Aku akan menagih janjimu tadi."
Tanpa tedeng aling-aling ia mengangkatku ke pundaknya dengan satu gerakan bak aku hanyalah selembar kain. Dia menepuk bokongku dan kaimi tertawa.
000
Secinta apapun aku dan keluargaku pada pantai di Santorini, kami harus menghadapi kenyataan untuk kembali ke London. Draco kembali dengan segala aktivitas 'kemafiaannya'. Aku kembali ke aktivitas sebagai peneliti dan mengurus panti asuhanku serta anak-anak yang harus kembali ke sekolah mereka. Tak hanya itu, aku juga disibukkan dengan pesta perayaan sepuluh tahun pernikahan aku dan Draco yang akan diadakan di Manor.
Baru kali ini Manor akan kami buka untuk selain anggota dari The Sociaty. Aku sudah mengundang Harry dan Ginny Potter beserta keluarga besarnya. Ron dan Luna serta seluruh keluarga Weasley. Ada begitu banyak hal yang ingin aku rayakan dan bagikan pada kedua sahabatku itu. Aku ingin menunjukkan betapa bahagianya diriku dan menikahi Draco Malfoy adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat di sepanjang hidup.
Aku turun tangan sendiri menyortir list tamu yang akan datang, semua tema dan dekorasi, bahkan detail pengamanan yang akan diterapkan di Manor malam nanti. Sementara yang dikatakan Draco adalah 'apapun yang kau lakukan aku akan mendukung dan mempercayainya, termasuk jika kau ingin meledakan Manor ini.' Ungkapannya membuatku terkekeh dan menyikut dirinya. Aku tak akan pernah bosan mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pria ini lagi dan lagi di setiap harinya. Ketika ia mengatakan bahwa ia merasa aku memiliki kedudukan setara di hidupnya, Draco benar-benar mewujudkannya. Dia selalu melibatkanku untuk mengambil setiap keputusan. Bukan karena ia tak dapat melakukannya sendiri, tapi karena ia menghargai keberadaanku sebagai istirinya. Hal ini pulalah yang membuat para anggota The Sociaty secara otomatis menghormati dan menghargaiku sebagai salah satu pemimpinnya.
"Maam."
Aku menengadah lalu mendapati Ballard tengah menungguku memberikan respon. "Ada apa, Ballard?"
Ia menyerahkan sebuah perkamen berisi list menu makanan katering untuk malam ini kepadaku. Aku mempelajarinya sebelum membubuhkan tanda tangan dan mengembalikanny pada Ballard. "Well done, Madam," ujarnya saat aku menyerahkan kembali perkamen itu padanya.
Saat ia akan berbalik badan untuk meninggalkanku, aku kembali memanggilnya. "Ballard."
Ia berbalik dan menatapku. "Yes, Madam," jawabnya.
"Kapan Draco akan mengirimmu ke Rusia untuk proses take over aset-aset milik The Zaslavsky Bratva?" tanyaku.
"Besok pagi setelah pesta malam ini selesai. Aku sudah mengatur portkey untuk kepergianku," jawabnya.
Sepuluh tahun mengenal pria ini, ia tak pernah berubah. Ballard akan selalu menuruti apa yang menjadi keinginanku, dia akan selalu menjadi pelindungku di saat Draco tak mampu melakukannya, dan dia akan selalu menjadi anggota The Sociaty favoritku.
"Kau senang dengan keputusan suamiku?" tanyaku padanya.
Ballard tampak berpikir dan ragu dalam menjawab hal ini. "Apakah kau senang dengan promosimu sebagai Captain dan tugas barumu di Russia?"
Dia mengangguk. "Aku tak pernah meragukan keputusan yang telah diambil oleh Malfoy. Aku selalu menghargainya."
Aku tersenyum. "Aku akan merindukan kehadiranmu di Manor ini dan di setiap kegiatan yang kulakukan."
Ballard tersenyum. "Aku juga, Madam."
Dan seperti tadi, baru saja ia hendak pergi dari hadapanku aku kembali memanngilnya. "Liam," panggilku.
Dia mematung di tempatnya. "Kau tak suka panggilanku padamu?" tanyaku lagi.
Dia menggeleng. "Hanya saja tak ada yang pernah memanggil nama depanku lagi," jawabnya.
Liam Ballard. Aku mengetahui nama lengkapnya beberapa hari setelah pernikahanku dan tak ada yang pernah memanggilnya dengan sebutan dan aku juga menghargainya. "Kau tak suka jika orang lain memanggil nama depanmu?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Aku minta maaf karena lancang jika begitu," balasku.
"Hanya ibuku yang memanggilku dengan nama depanku."
Lalu Ballard menggeleng. "Aku tidak marah jika kau memanggilku dengan nama itu. Saat Malfoy menemukanku dulu dan membawaku pulang ke Manor ini lalu menjaga serta memperlakukanku dengan sangat baik, aku merasa bahwa ia seperti sosok ayah yang tak pernah kumiliki."
"Dan ketika ia menikahimu dan melihat bagaimana cara kau memperlakukanku, aku melihat kalian berdua bagai sosok orang tua yang selalu aku impikan. Jadi, kau dapat memanggiliku Liam atau apapun yang kau inginkan, Maam."
Air mataku meleleh saat medengar kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi. "Jaga dirimu di Russia sana, Liam."
"Aye, Maam," balasnya.
Dia membalikan tubuh dan kini aku tak lagi mencegah langkahnya. Namun ia berhenti sesaat lalu berbalik kembali untuk menatapku. "Thank you. Thank you for everything, Hermione."
Saat ia sudah menghilang dari pandangan, aku menangis. Rasanya seperti melepas anak kandungku sendiri untuk pergi jauh merantau. "Never mind. Never mind, Liam Ballard," bisikku.
000
Setelah yakin betul dengan kelengkapan pesta malam ini, aku mulai mematut diri di hadapan cermin. Sesuai dengan laporan Ballard dan Grosjean, malam ini seharusnya berjalan dengan sempurna. Draco masuk ke kamar kami dan langkahnya terhenti di tempat. Aku tahu dia memandangku takjub, tapi dia tak menunjukkan. Pelajaran yang kuambil setelah bertahun-tahun menikahinya, Draco akan selalu dan akan tetap gengsi untuk memuji kecantikanku. Aku berjalan ke arahnya lalu berhenti untuk menatapnya. "Katakan saja," ujarku menggodanya.
Ia menyeringai lalu menggeleng. Draco melenggang masuk ke walk in-closet kami kemudian mengambil dasi kupu-kupu bewarna putih yang telah kupilihkan. Dia kembali ke ruangan ini bersamaku kemudian mengenakan benda itu di leher tepat di hadapan cermin. "Kau tak mau mengatakannya?" tanyaku kembali saat telah berdiri tepat di belakangnya.
"Apa yang perlu aku katakan?" ucapnya berbalik tanya.
"Bahwa aku telihat begitu menawan malam ini," kekehku.
Dia menyeringai lalu ikut tertawa dan untuk kedua kalinya ia menggeleng. Saat aku putus asa mendengar pujian itu keluar dari mulutnya, Draco menarik tanganku untuk masuk ke dalam pelukannya. Kedua tangannya memegang pinggangngku. Salah satu alisnya bergerak dan kembali ia menyeringai. "Kau cantik sekali, Hermione Malfoy."
Aku terkekeh lalu mengecup. "Terima kasih, Draco Malfoy," balasku.
Tangannya masih berada nyaman di pinggangku. "Lalu apa tema malam ini? Kenapa semuanya serba putih?" tanyanya.
Selain dasi kupu-kupu dan kemeja putihnya, aku juga mengenakan gaun sleveless bewarna putih berbahan satin begitupula dengan Rhaella dan kedua saudara laki-lakinya. Kutata rambutku dengan messy bun dan riasan mata yang ringan. "Kau belum menjawabku," ucap Draco lagi.
"Ide itu hanya datang seketika di kepalaku. Kita terlalu sering mengenakan pakaian serba hitam, kali ini aku ingin sesuatu yang berbeda. Lagipula tak akan ada pertumpahan darah malam ini, jadi putih adalah pilihan yang tepat," jawabku.
Kening Draco mengerut dan ia hanya mengangguk lalu mengecupku. "Kau sudah siap?" tanyanya dan aku mengangguk.
Saat kami keluar, para tamu sudah berdatangan di bawah sana. Seperti yang pernah dikatakan Draco padaku dulu bahwa kami tak pernah terlambat hanya mereka yang datang lebih cepat atau terlalu awal. Draco menggenggam tanganku saat kami menuruni tangga satu per satu, saat aku dan Draco sudah berada di anak tangga terbawah ketiga anak kami menghampiri. "Selamat malam semuanya," ucap Draco kepada semua tamu undangan.
"Terima kasih karena sudah datang di perayaan sepuluh tahun pernikahan kami. Aku tak perlu panjang lebar lagi berbicara pada kalian, aku hanya ingin semua orang di ruangan ini tahu bahwa keputusan untuk menikahi wanita ini sepuluh tahun yang lalu adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat seumur hidupku" ujarnya.
Mataku membelalak saat mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Dia menatapku sesaat lalu menyeringai. "Get out from my head now," bisikku purara kesal padanya.
Ia menyeringai lalu menggeleng. "I would never do that, darling. Never."
Dari kejauhan Blaise mengangkat gelasnya. "Untuk Malfoy dan Hermione. Salute," ujarnya.
"Salute!" semua orang di ruangan ini mengangkat gelasnya.
"Happy anniversary, Draco," bisikku.
"Happy anniversary, darling."
Kami membaur dengan para tamu dan aku berhenti pada kedua sahabatku. Setelah sepuluh tahun pernikahanku baru kali inilah mereka dapat menginjakkan kaki secara resmi ke Manor ini. Harry memelukku erat dan mengucapkan selamat begitupula dengan Ginny yang bahkan terlihat sangat gembira malam ini. Ron dan Luna juga datang lalu menyelamatiku satu per satu.
"Albus," sapa Scorp kepada teman karibnya.
Albus menatap Scorp dengan penuh kesenangan. "Scorp," balas anak itu.
"Apa aku sudah mengatakan padamu bahwa Uncle Zab baru saja membelikanku replika naga dari Hungaria?" tanya Scorp.
Albus menggeleng dengan penuh semangat. "Ayo kuperlihatkan."
Kedua bocah itu pamit dari hadapan kami dan aku hanya tertawa menatap mereka. Draco datang bergabung dengan kami dan langsung melingkarkan tangannya di pinggangku. "Terima kasih sudah datang ke pesta kami, Potter,Weasley," ujar Draco yang berusaha setengah mati untuk sopan di hadapan kedua sahabatku ini.
"Great party, Malfoy," ucap Ron.
Draco meangguk lalu menatapku. "Thanks to my wife. She's a great organizer."
"Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku. Aku benar-benar terharu," ujarku sungguh-sungguh terharu melihat kedua sahabatku tampak berdiri dengan akur bersama suamiku tanpa ada rapalan mantra.
Harry tertawa. "Apapun untukmu, Mione. Terutama jika Malfoy sudah berbiacara secara langsung untuk memintaku datang malam ini," jawab Harry.
Aku menatap seketika tak percaya pada Draco. "Kau bercanda, bukan?"
Draco mengedik. "Apapun untukmu, darling. Termasuk gencatan senjata dengan kedua Auror ini."
Kami terkekeh mendengar apa yang diucapkan Draco. Aku dan kedua sahabtku serta istri-istri mereka kembali terlibat percakapan sementara Draco pamit untuk bertemu dengan tamu yang lain. "Aku mendapat hadiah wine berumur lebih dari satu abad dari salah satu rekan kerja Draco, kau pasti ingin mencobanya."
"Tentu," jawab Ron antusias.
"Aku akan mengambilnya di gudang sebentar."
Harry menghentikan lankahku. "Tak perlu jika kau harus mengambilnya jauh-jauh."
Aku menggeleng. "Tak apa. Sekali-sekali menjamu kalian adalah hal terbaik dalam hidupku."
Mereka mengangguk dan aku berjalan menyeberangi kerumunan tamu. Tatapanku bertemu dengan Draco yang tengah asik berbicang dengan Blaise dan beberapa anggota lainnya dengan Rhaegar yang berada di sekitarnya. "Wine cellar," ucapku ari kejauhan dan ia mengangguk.
Kembali kuterobos kerumunan dan mengambil jubahku sebelum keluar dari Manor ini menuju wine cellar yang terletak di sudut halaman belakang Manor. Tak ada salju di bulan ini, tapi udara masih betul-betul menggigit. Kubuka pintu ruangan ini dan merasakan kehangatan dari wine-wine tua koleksiku dan Draco. Aku sedikit merunduk untuk mengambil botol wine yang kujanjikan pada Harry dan Ron tadi. Aku dan Draco sengaja mengatur wine-wine ini berdasarkam umur dan namanya. Kuhentikan aktivitasku saat kurasakan ada sesuatu yang mengganjal di ruangan ini. Perlahan aku bangkit dan menemukan bahwa pintu ruangan ini sudah tertutup dan aku ingat sekali bahwa aku tak menutup pintu itu saat aku masuk tadi. Pantas saja hembusan angin dari luar sana tak lagi terasa. Aku berjalan ke arah pintu itu dan napasku tercekat. Jejak lumpur di lantai itu menyita perhatianku. Kupegang daun pintu itu dan sudah terkunci secara sihir. Kukeluarkan tongkatku lalu membalikkan tubuhku dan mendapati sebuah sosok mengamatiku di sudut ruangan ini. Sosok yang tertutupi dengan jubah hitam berjalan perlahan ke arahku dan tongkatku semakin siaga dengan keadaan ini. "Lama tak berjumpa, Hermione Malfoy," sapanya lalu membuka jubah yang menutupi kepala dan wajanhnya.
Hatiku mencelos. Tubuhku lemas seketika. Ini tak mungkin terjadi. Aku pasti tengah bermimpi. Dia seharusnya sudah mati. Dia seharusnya sudah habis terlahap api di mansion itu seperti yang dikatakan Draco. Theodore Nott bediri di hadapanku dengan luka bakar yang menutupi hampir di separuh wajahnya. "Hidup memang penuh kejutan, bukan?" ujarnya.
"Kau.." suaraku tercekat
Dia tersenyum sinis. "Aku seharusnya mati. Apakah hal itu yang ingin kau ucapkan?" tandasnya.
"Sayang sekali, Hermione. Malfoy dan Blaise terlalu bodoh untuk meninggalkan aku di mansion itu. Mereka terlalu meremehkanku," tambahnya.
Dia berjalan semakin dekat ke arahku dan secara refleks aku mundur perlahan. Aku mencoba untuk ber-Apparate dari sini, tapi pria ini sudah memblok zona aparasi di ruangan ini. Shit. "Apa yang kau inginkan, Theo?" tanyaku mencoba untuk mengumpulkan seluruh keneranian.
Dia menyeringai dan luka bakar di wajahnya tampak sangat mengerikan. "Kau. Mati."
Darahku seakan berhenti mengalir di tubuh ini. "Aku ingin kau mati hari ini. Tepat di ulang tahun pernikahan kalian, seperti yang dilakukan Malfoy dulu kepadaku."
Aku ingat Draco pernah mengatakan bahwa insiden itu terjadi di ulang tahun pernikahan Theo dan Daphne dulu. Damn it! Aku tak tahu bahwa Theo akan benar-benar sakit jiwa seperti ini. "Kau tahu aku tak akan mati secepat ini, bukan?"
Dia mengangguk. "Tentu, aku tahu. Kau seoarang Malfoy sekarang."
Baru saja aku ingin merapalkan mantra padanya suara dentuman keras terdengar dari Manor. Mataku membelalak. Aku berlari kepintu dan mencoba menghancurkannya, tapi hasilnya nihil. Hanya suara tawa Nott yang terdengar menggema di ruangan ini. "Kau juga tak mungkin berpikir bahwa aku sebodoh itu dengan merapalkan mantra lemah di pintu itu."
"Apa yang kau lakukan di Manor, huh?" tanyaku emosi.
"Mencoba membakarnya seperti yang suamimu lakukan pada mansionku," ia terkekeh menjawabnya.
Bloody hell! "Kau sakit jiwa!" teriakku.
"Terima kasih," balasnya.
Tanpa menunggu lagi basa-basi dari dirinya kurapalkan mantra padanya dan dengan sangat cekatan ia mengahalaunya. Kilatan cahaya berhasil mengacaukan ruanga ini. Botol-botol wine itu jatuh dan pecah begitu saja. Aku terjatuh dan dengan secepat kilat dia melucuti tongkatku. Dia tak dapat membunuhku. Aku tak dapat meninggalkan Draco dan anak-anakku dengan cara seperti ini.
Boom.
Untuk kesekian kalinya aku mendengar suara dentuman di Manor. Holy shit! Aku harus keluar dari ruangan ini dan menyelamatkan semua anakku. Tanpa tedeng aling-aling lagi aku bangkit dan mengambil sebilah pisau yang selalu kubawa di pahaku. Kulemparkan pisau itu padanya dan seperti tak mengantisipasi kejadian ini, pisau itu menancap tepat di pundaknya. Aku baru saja berpikir ia akan tumbang justru dia semakin berjalan medekatiku seakan pisau itu tak ada apa-apanya. Dia melepaskan pisau itu lalu mengangkat tubuhku dan meleparkannya ke salah satu rak wine ini. Tubuhku berhasil mendarat sempurna di pecahan kaca botol-botol ini dan rasanya sakit sekali. Dia kembali menghampiriku dan kali ini saat ia akan mengangkatku, kutekan luka di pundaknya dengan sekuat tenaga. "Aargh!" dia berteriak.
Dan saat dia lengah kucekik lehernya dari belakang sambil mencari pisau yang tadi kulempar padanya di lantai. Tetapi, aku kalah cepat dan ia kembali membantingku dengan begitu keras. "Crazy bitch!" makinya.
Ia hampir mencekikku saat aku menemukan pisau itu dan menusuk punggungnya beberapa kali. Dia kembali berteriak dan melepaskanku. Aku berlari sekuat tenaga dan dengan segala cara berusaha menghancurkan pintu itu setelah mendapatkan kembali tongkatku. Pintu ini akhirnya terbuka dan hawa dingin itu kembali menyeruak di kulitku. Baru saja aku akan keluar saat tangannya menarik pergelangan kakiku dan untuk kesekian kalinya ia membantingku. Aku diangkatnya tinggi-tinggi lalu di bantingnya begitu saja. "Kau tak akan mati semudah itu, karena kau akan menderita terlebih dahulu, Hermione."
Aku merasakan tangannya yang dingin menyentuh tengkukku dan menghatamkan kepalaku berkali-kali ke dinding. Darah segar sudah mengalir begitu deras dari sana. Mataku sudah tak lagi fokus semuanya sudah terlihat samar. Dia membalikkan tubuhku dan merapalkan mantra sehingga rasanya aku tak dapat bergerak sama sekali. Aku merasakan tubuhku melayang sebelum rasa sakit luar biasa menerpa."Aaarhg!" jeritku.
Tulang-tulangku terasa patah semuanya. Suara patah dari tulangku dan dentuman dari luar membuatku tak sanggup lagi membuka mata. Dia menjatuhkanku kembali ke lantai. Aku tersedak dan darah menyembur keluar dari mulutku. Nott menarik rambutku dan aku kembali berteriak karena tubuhku seakan tak utuh lagi. "Senang mengenalmu, sister. Kau seharusnya tak pernah menikahi, Malfoy."
Dia menendangku dan menginjak perutku. Sekali lagi darah menyembur dari mulutku. "Goodbye, Hermione."
Ia perlahan berjalan meninggalkanku dalam keremangan. Semuanya berubah menjadi begitu dingin. Aku tak mampu mengerakan tubuhku. Hanya bayangan wajah Draco dan anak-anakku yang berkelebat di ingatanku saat ini. Nadiku semakin melemah sejalan dengan darahku yang terus keluar dari tubuhku. Aku tak dapat mati seperti ini, namun sekali lagi hawa dingin itu kembali menyelubungiku.
"Hermione!"
Draco.
Aku dapat mendengar suaranya dengan jelas. Tetapi, aku tak memiliki kekuatan untuk bertahan lagi dan napasku mulai tersengal sampai pada akhirnya aku tak mampu lagi membuka mataku. Semuanya menjadi lebih gelap sekarang dan tubuhku seakan ringan seketika.
000
Draco Malfoy
Pesta malam ini tak akan tercapai jika aku tidak menikahi Hermione. Aku masih takjub dengan cara kerjanya. Bagaimana ia dapat mengerjakan segala hal dalam satu waktu. Dia masih aktif di kampus sebagai peneliti. Dia menjemput Rhaella dan Scorpius sendiri. Dia juga masih sempat menagajar Rhaegar di rumah. Dia dapat melakukan segalanya sendiri karena ia adalah Hermione Malfoy
Aku mengabulkan keinginannya untuk mengundang kedua sahabat Auror-nya itu di ulang tahun pernikahan kami karena aku berpikir bahwa ia berhak mendapatkannya setelah semua yang ia berikan padaku. Dan dia benar-benar bahagia saat dapat bersama kembali dengan kedua orang itu. Percayalah apa yang menjadi kebahagiaannya akan menjadi kebahagianku juga, termasuk mengundang langsung kedua Auror itu ke kediamanku. Aku melihat Hermione meninggalkan kedua sahabatny itu. "Wine cellar," ucapnya dari jauh dengan aku yang membaca gerakan mulutnya.
Dia pasti ingin menyajikan wine terbaik yang kami miliki untuk para sahabatnya. "Jadi kau benar-benar akan mempercayai proses take over kekuasaan Bratva pada Ballard?" tanya Blaise setelah menyesap champagne di tangannya.
Aku mengangguk. Ballard sudah cukup matang dan aku juga cukup mempercayainya untuk menangani hal ini. "Apakah ia tak terlalu muda untuk hal ini? Saat kau mengangkatnya jadi captain ada banyak sekali anggota yang menentang," tambah Blaise.
"Kau percaya pada penilaianku?" aku berbalik tanya.
Ia mengangguk. "End of discussion, Blaise."
"You're lucky, Malfoy. Your word is a law," balas Blaise.
Kami terkekeh lalu kembali menyesap champagne ini. Ujung mataku menangkap sesuatu yang mencurigakan di sudut ruangan ini. Ada banyak wajah yang tak kukenal berkeliaran di Manor ini. Aku memang tak hapal betul siapa saja prajurit-prajurit kami, tapi aku yakin ada sesuatu yang janggal. Tatapan itu tampak waspada dan ada sesuatu yang disembunyikan mereka di balik jubahnya, meski Hermione sudah menerapkan peraturan bahwa tak ada senjata yang dapat masuk ke Manor malam ini.
Boom
Sekejap saja suara dentuman dari sayap timur Manor ini terdengar. Para tamu langsung berhamburan terutama para wanita. Aku menarik tangan Blaise. "Bawa anak-anak ke safe room," perintahku.
Aku langsung berlari menuju sumber ledakan yang kini perlahan telah terlahap api. "Sir," Ballard lari terengah-engah ke arahku.
"Kita diserang," ucapnya.
Mataku membelalak. "Beberapa dari mereka adalah orang-orang Russia dan sisanya seperti tentara bayaran," jelas Ballard.
"Bratva?" tanyaku.
Ballard menggeleng. "Aku belum menemukan pemimpinnya."
"Perintahkan untuk menyerang balik."
"Aye, Sir."
Boom.
Untuk kedua kalianya suara dentuman terdengar dan api mulai terlihat berkobar di sayap barat Manor ini. Shit. Kukeluarkan pistol dan tongkat lalu mulai menyerang siapapun dari mereka yang mencoba menyerangku. Dalam sekejap saja pesta ini sudah berbah menjadi arena perang. Kilatan mantra, teriakan orang dan suara pistol terdengar di seluruh penjuru. Entah berapa banyak orang yang berhasil kuhabisi tadi.
Boom.
Aku merunduk saat ledakan kembali terjadi. Dalam hitungan detik aku bangkit lalu menarik seseorang dan menguncinya. "Siapa yang pimpinanmu?" tanyaku pada pria yang bahkan terlihat masih duduk di bangku sekolah ini.
Ia tak menjawabnya. Kutembakan timah panas ke lengan atasnya dan ia berteriak. Teriakannya bertepatan dengan Harry Potter yang datang di sampingku. "Ada apa sebenarnya?"
"Kami diserang," balasku.
"Apa?" tanyanya tak percaya.
"Selamat datang di dunia kami, Potter," balasku sarkastik,
Blaise sudah ikut bergabung bersama kami. "Bagaimana anak-anak?" tanyaku.
"Mereka aman."
"Termasuk anak-anak Potter dan Weasley?" tanyaku yang masih menodongkan pistol ke kepala bocah ini.
Blaise mengangguk.
"Kau mau mati?" tanyaku lagi pada bocah ini.
Ia masih diam, tapi ketakutan itu benar-benar terpancar di wajahnya. "Speak, little man," perintahku lalu kembali bersiap menarik pelatuk pistol ini.
"Nott!" teriaknya.
"Theodore Nott," tambahnya lagi.
Ini mustahil. Pria itu sudah mati. Aku sendiri yang memastikan jasadnya dan aku juga yang menyaksikan bagaimana Ballard menguburkannya. Pikiranku tetiba saja lumpuh seketika. Pria itu belum mati dan ia datang kesini untuk membalas dendam. Membalas dendam.
Hermione.
Aku langsung bangkit. "Kalian melihat istriku?" tanyaku panik.
Blaise menggeleng. "Terakahir kali bertemu ia akan pergi mengambil wine," jawab Potter.
Tanpa menunggu lagi aku langsung berlari sekuat tenaga menuju wine cellar itu. Aku tak peduli ada berapa mayat yang kuinjak tadi. Aku juga tak peduli ada berapa banyak anggota yang gugur kali ini. Aku hanya peduli pada Hermione yang kini hidupnya pasti tengah dalam bahaya. Pintu ruang penyimpanan itu terbuka. Aku berlari ke arahnya, namun langkahku terhenti saat melihat sosok pria itu keluar dari sana. Aku membatu di tempat saat ia membuka jubah yang menutupinya. Theodore Nott berdiri di hadapanku dengan luka bakar di separuh wajahnya. "Happy anniversary, mate. It's nice to know you."
Ia menyeringai lalu ber-Apparate saat aku melepaskan beberapa tembakan dan belati ke arahnya. Hermione. Pikirikanku langsung kembali kepadanya.
"Hermione!" teriakku.
Kembali aku berlari ke ruangan itu. Aku menemukannya. Aku menemukan Hermione yang sudah bersimbah darah. Shit! Hal ini terjadi lagi. Aku berlutut di sampingnya dan ia sudah tak lagi bergerak. Darah merembas dari kepalanya degan wajah lebam. Tubuhnya sama sekali tak bergerak dan tak ada lagi ritme napas yang terlihat.
"Hermione," panggilku.
"Hermione!"
Dia tak merespon sama sekali. Kupegang pergelangan tangannya dan denyut nadi itu terasa samar dan cenderung tak dapat kurasakan.
"Hermione!" panggilku sambil menepuk-nepuk wajahnya.
Dan ia tetap tak merespon. "Hermione," Blaie dan Potter datang dengan ekspresi tak kalah terkejutnya dariku.
"Panggil bantuan. Sekarang!" teriakku
000
Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat Hermione diserang di Novosibirsk dulu. Aku menunggu kabar dar healer akan keadaanya yang tengah ditangani dan kini kasusnya ia tengah dioperasi. Aku berjalan mondar mandir dengan anak-anakku yang menunggu di ruang sebelah. Tim Healer terbaik tengah menanganinya. Dia akan baik-baik saja. Hermione tak akan mati secepat ini. Aku pernah berada di situasi seperti ini. Aku pernah putus asa sebelumnya, tapi takdir selalu berkehendak lain. Hermione pernah selamat satu kali. Dia pasti melakukannya untuk kedua kalinya.
Seoarang Healer berjalan keluar bersama Doc dari ruangan operasi St,Mungo. Aku langsung menghampiri mereka. Wajah kedua orang itu tampak tak terbaca. "Malfoy," ucap Doc.
"Bagaiamana istriku? Dia selamat bukan?" cecarku.
Doc menggeleng. "Kami sudah berusaha sekuat mungkin dan semampu kami, tapi Hermione tak mampu berjuang bersama kami lagi."
Aku membeku saat mendengarnya. "Dia mengalami pendarahan hebat, semua organ tubuhnya rusak. Dan saat operasi tadi ia mengalami gagal jantung," jelasnya.
"Istrimu mengalami mati batang otak. Dan secara kedokteran muggle dan sihir istrimu sudah tak lagi memiliki harapan."
Aku hanya menatap kedua orang itu tanpa dapat mengatakan sepatah katapun.
000
to be continued
One step closer to the finale, and as always, let me know what you think guys. See you in next chapter. Thank youxoxo
