Perhatian! bahasa sesuka hati. Alur ribet. thanks untuk pengertiannya.
Warn of typo(s) dan ini genderswitch. DLDR* No Bash! No Bash (mohon dibaca) DLDR!
Happy reading, guys!
.
.
Mobil hitam tanpa atap itu melaju dengan kecepatan penuh, menembus kabut jalanan kota Seoul yang menuju malam. Jalanan lumayan sepi tanpa banyak kendaraan yang berlalu lalang. Chanyeol, pengemudi mobil itu tak henti-hantinya tersenyum puas serta bangga akan dirinya. Rambutnya melambai dengan riang bagaikan daun di musim semi yang tertiup angin. Jari tangannya mengetuk kemudi mobilnya mengikuti tempo music yang saat itu diputarnya. Kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya menambahkan kesan bagaimana angkuh dirinya. Peduli apa?! Semua yang selama ini mengganjal di dalam hatinya sudah lepas dan hilang.
Chanyeol berhenti tepat di depan toko bunga. Ia memarkir mobilnya tepat di depan toko dan kemudian turun tanpa melepaskan kaca matanya. Ia melangkahkan kakinya lebar-lebar ke dalam toko lalu segera mengambil se-bucket bunga mawar merah yang terlihat begitu cantik. Kemudian tak hanya itu, Chanyeol juga membeli bunga untuk makam kakeknya. Ia tersenyum sekilas setelah mencium wangi bunganya. Ia berjalan menuju kasir dan kemudian membayar tanpa bertanya. Ia tinggalkan banyak kembalian untuk pemilik toko bunga tersebut.
Chanyeol meletakkan dua bucket bunga di jok samping mobilnya, kemudian kembali mengendarai mobilnya menuju tempat pemakaman tidak jauh dari kompleks rumahnya. Tak butuh waktu lebih dari setengah jam, Chanyeol tiba di pemakaman. Ia mengambil satu bucket bunga kemudian membawanya dengan langkah ringan dan senyum mengambang.
"Beristirahatlah dengan tenang, Kakek. Aku menyayangimu," ucap Chanyeol sambil meletakkan bunga pemberiannya di makam kakeknya. "Maafkan aku."
Sekelabat ingatan masa lalu Chanyeol dengan kakeknya, mendadak bermunculan. Memori dan kenangan bahagia itu berjubelan di fikiran Chanyeol tetapi tak lama semuanya berubah menjadi mimpi buruk Chanyeol selama ini. Kakeknya meraung-raung dan menjulurkan tangannya tetapi Chanyeol tak menggapai tangan tua itu. Kakeknya merintih dan ketika mulutnya tiba-tiba saja berbusa, Chanyeol malah berlari keluar. Chanyeol muda yang bersahabat dengan Sehun—anak pintar dengan kondisi keuangan keluarga yang terbatas—itu meminta Sehun dan memohon padanya supaya merahasiakan segalanya.
Drrrrrttt….
"Halo," sapa Chanyeol dengan suara serak. Kedua tangannya terangkat: tangan kanan untuk memegang ponselnya dan tangan kirinya memegang kepalanya yang mendadak pening. "Kebetulan aku juga akan menemuimu. Iya, aku akan ke apartemenmu sekarang."
.
.
Dua orang laki-laki dengan dua orang wanita itu duduk berhadap-hadapan di meja persegi tanpa taplak di sudut ruang tunggu di kantor polisi saat itu. Luhan—wanita dengan wajah lebam-lebam dan kaus yang sedikit robek di ujung bahunya—menangis di pelukan Sehun, suaminya. Sedangkan wanita lainnya yang bernama Baekhyun, hanya mencoba menahan air matanya. Semua mata menatapnya dengan tajam dan begitu mengintimidasi dirinya. Ia menunduk saja sambil memegangi lututnya yang bergetar.
Tak tahan. Baekhyun bangkit berdiri dan mengeratkan pegangan tangannya pada bagian bawah kemeja kusutnya. Ia memberanikan diri untuk mendongak menatap tiga orang di depannya dengan mata sembab. "Aku minta maaf," katanya.
Sehun mendongak dan melonggarkan pelukan Luhan. "Jangan pergi." Luhan terkejut dan menatap Sehun. Lelaki itu kembali melanjutkan, "Maksudku, biarkan para polisi yang mencari Chanyeol dan Jongdae. Lebih baik kau tetap di sini."
"Chanyeol adalah suamiku. Narapidana itu bisa melakukan apa saja pada Chanyeol," sahut Baekhyun ketus tanpa melihat Sehun sedikit pun.
Jongin dan Sehun sama-sama menelan ludah dan hanya saling tatap untuk sesaat sebelum akhirnya Jongin mengatakan, "Kau benar. Tapi kau akan mencarinya ke mana?"
"Entahlah. Kurasa aku akan menggunakan ilmu kebatinan yang kumiliki," jawab Baekhyun asal. Wanita itu tak bisa menyembunyikan rasa cemas dan khawatirnya. Jongdae adalah seorang narapidana yang dahulu juga pernah mencoba menipu Chanyeol. Dia yakin Jongdae memiliki maksud tertentu mendekati Chanyeol dan membantunya. Apalagi mengetahui sms Jongdae di ponselnya itu, Baekhyun yakin kalau Jongdae sengaja malakukan itu untuk menjebak Chanyeol agar dia tahu yang sesungguhnya. Jongdae menginginkan kehancuran Chanyeol dalam rumah tangganya. Ia berniat memberi tahu Baekhyun lewat nomor ponsel tersebut, padahal dirinya tahu benar kalau Chanyeol bahkan tak pernah menghubungi teman-temannya menggunakan nomor itu dan karena ponsel itu tak bersama dengan Baekhyun maka Luhan-lah yang mengetahui semuanya. Tetapi untungnya, Luhan sudah menyerahkan ponsel tersebut kepada polisi dan saat ini pihak polisi masih menyelidiki kasus tersebut. Mereka juga sedang mencari keberadaan Chanyeol juga Jongdae.
Meskipun demikian, Baekhyun tak bisa menggantungkan semuanya begitu saja pada polisi. Ia juga khawatir pihak polisi sengaja memperlambat prosesnya supaya Sehun tetap berada di kantor polisi dan tak bisa segera bebas karena uang suap dari Jongdae. Dan kemudian saat polisi mengatakan, "Anda tunggu saja di sini. Biarkan kasus ini kami periksa lebih lanjut lagi dan untuk itu, kami juga akan mencari keberadaan saudara Chanyeol juga saudara Jongdae. Anda tak perlu khawatir." Sebenarnya bukan itu intinya. Polisi itu sudah berkomplotan dengan Jongdae dan sekarang Chanyeol bisa saja sedang dalam masalah besar bersama Jongdae.
Baekhyun baru saja melangkahkan kakinya menuju pintu tetapi terhenti oleh sebuah tangan yang memegangi lengannya. "Aku minta maaf. Saat itu aku juga sangat syok dan begitu kalut. Aku tahu kau berteriak pada Chanyeol bukan padaku. tetapi saat itu aku tidak tahu kebenarannya maka aku membalas meneriaki dirimu. Chanyeol menceritakan yang sebaliknya. Aku hanya berfikir saat itu kau-lah yang bersalah. Aku berfikir karena kepergianmu, aku menjadi sering bersama dengan Chanyeol dan semuanya menjadi kelewatan. Aku menjadi terlibat dalam sebuah masalah yang aku sendiri tak tahu. Aku sangat bodoh karena tadinya aku berfikir Chanyeol melakukan semua ini pada Sehun karena dia benar-benar menginginkan aku. Aku hampir saja berfikir kalau dua lelaki ini memperebutkan diriku." Luhan terkekeh dengan mata yang tak berani menatap Baekhyun secara langsung.
"Aku tahu posisimu. Aku juga minta maaf untuk semuanya. Aku tahu masalah keluargamu berawal dari diriku. Aku bertindak bodoh. Sangat-sangat bodoh. Seharusnya kau tahu sejak awal tentang masa laluku, Sehun, dan Chanyeol. Aku juga tahu kau pasti sangat benci dan marah padaku karena …."
"Tidak, Baekhyun," Sela Luhan. "Saat itu kau juga sedang salah faham karena kasus kebakaran, bukan?"
Baekhyun diam dan menatap Luhan lekat-lekat.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu. Aku hanya …."
"Bukan," potong Sehun, menyela pembicaraan dua wanita di depannya. "Pokok masalahnya adalah …" Sehun mendongak dan mendapati tiga pasang mata menyorotnya. "Bukan tentang kalian. Bukan Luhan. Bukan juga Baekhyun."
Jongin menelengkan kepala sambil mengerutkan keningnya. Sehun menghela nafas panjang kemudian membukan mulutnya perlahan sambil membalas tatapan penasaran dari tiga orang di depannya. Suasana mendadak menjadi hening dan sunyi. Bunyi jarum jam mengisi kekosongan untuk sementara waktu sebelum Sehun menceritakan semuanya.
.
.
Chanyeol masuk ke apartemen Jongdae yang ada di dekat pedesaan, tempat di mana dulu pernah dirinya mengajak Luhan mampir ke sana. Ia ingat saat mengatakan kalau apartement itu miliknya dan ia hanya ke sana saat sakit atau minum obat. Dusta.
Apartemen itu sebenarnya bukan milik Chanyeol melainkan milik Jongdae dan bukan hanya itu saja, Chanyeol juga membohongi Luhan soal dirinya yang sakit atau apalah itu yang semuanya adalah dusta semata. Dokter yang saat itu mengatakan kalau Chanyeol sakit juga termasuk dalam komplotan Chanyeol. Namanya dokter Yixing dan Chanyeol senang mengetahui masih banyak orang jahat di muka bumi ini. begitulah sampai dia menyesali semuanya.
Chanyeol baru saja akan berbelok dari lift tetapi tak jadi karena dia mendengar suara Jongdae dari arah lorong apartement. Chanyeol mundur dan bersembunyi di balik guci besar seukuran tubuhnya. Jongdae tertawa dan kemudian kembali berkata dengan ponselnya, "Iya, tentu saja. kita akan menikah, sayang. Kau tunggu saja, ya. Tidak lama lagi kita akan ke Perancis dan bahagia di sana." Chanyeol tersenyum mendengarnya. Tak lama Jongdae kembali menambahi, "Hm? Chanyeol? dia sudah mendapat apa yang diinginkannya. Dia terlalu sibuk dengan urusan pribadinya dan melupakan pekerjaannya. Meskipun aku menjadi sangat lelah akhir-akhir ini tapi tak masalah dengan bayaran yang kuterima." Chanyeol tersentak. Dia mengerutkan keningnya sangsi dan kemudian kembali mendengarkan apa yang Jongdae katakan. "Aku sudah mengurus semuanya. Dia sekarang sedang dalam masalah yang besar. Aku mengirimkan sms pada nomor ponsel Baekhyun tentang rencananya untuk Sehun dan semua fakta kalau Sehun tidak bersalah. Kemungkinan Baekhyun saat ini sedang dalam stress yang luar biasa dan sedang menuju ke sini. Dan ya, aku mengundangnya kemari untuk menandatangani surat kuasa pelimpahan semua saham dan lain-lainnya padaku. Ah ya, apa kau juga sudah menghubungi nomor Baekhyun yang lainnya? Kemarin aku tidak bisa lama-lama mengeceki nomor Baekhyun yang ada di ponsel Chanyeol."
Terhenti beberapa detik kemudian Jongdae kembali menyahuti, "Pesan suara? Tidak masalah. Lagipula aku juga sudah mengirimkan pesan untuk wanita itu. Terakhir apa kau tidak penasaran dengan yang ini, Minseok sayang? hm?"
Jongdae tertawa gembira dan Chanyeol gemetar. Dia tertipu. Dia terperdaya selama ini oleh Jongdae. Chanyeol mengepalkan tangannya dan membenamkan kukunya di telapak tangan. Buku-buku jarinya memutih dan keringatnya mendadak bercucuran. Tubuhnya menggigil tidak percaya dan baru akan menghampiri lelaki itu, tiba-tiba saja Jongdae berbalik sambil mengedarkan pandangan hati-hatinya ke sekitar sambil membuka kunci pintu apartemennya.
Panggilannya masih tersambung terlihat jelas karena Jongdae masih menempelkan ponselnya di telinga dengan menjepitnya diantara bahu dan sisi samping kepalanya. "Sayang, sudah dulu, ya. aku takut kalau-kalau saja ada mata-mata yang sedang mendengar pembicaraan kita. Pokoknya, aku bisa pastikan kalau saat Baekhyun sampai di Korea nanti dia hanya akan bertemu dengan Luhan di rumahnya. Apa kau bisa bayangkanya bagaimana ekspresi Baekhyun saat Luhan membukakan pintu rumahnya sendiri sambil mengenakan gaun tidur kebanggaannya?" Jongdae terkekeh dan kemudian memutus panggilannya. Ia masukkan kembali benda persegi itu ke dalam saku celananya dan kemudian masuk lalu menutup pintunya kembali.
Chanyeol terduduk lemas. Air mukanya menjadi cemas dan khawatir. Fikirannya campur aduk menjadi satu. Ia mencoba mengingat-ingat semuanya dan ia baru sadar kalau ia tidak pernah memberi tahu nomor rumahnya pada teman kerja atau siapapun. Nomor rumah hanya untuk teman dekat, keluarga, dan bukan orang-orang kerja. Ia ingat. Chanyeol juga ingat kalau Baekhyun kehilangan satu ponselnya dan kemungkinan, entah pesan suara dari Minseok atau pesan dari Jongdae, tidak akan terbaca oleh Baekhyun. Sekitar sepuluh menit kemudian, Chanyeol kembali berdiri. Kesadarannya dan kewarasannya telah terkumpul kembali. Ia mencoba menstabilkan suara dan meredam emosinya supaya Jongdae beranggapan Chanyeol belum tahu apa-apa. dengan begitu Chanyeol berfikir akan lebih mudah memberi pelajaran pada Jongdae. tapi bagaimanapun Jongdae adalah seorang narapidana yang sudah hafal dengan segala tingkah dan gerik-gerik musuhnya. Dia pintar dan Chanyeol tak sepintar Jongdae.
Pintu berpelitur indah itu diketuk oleh Chanyeol dengan hati-hati. Ia menghela nafas berulang-ulang untuk meredam emosinya. Dan tak begitu lama, pintu itu terbuka. Jongdae segera menyambutnya dengan senyum lebar khasnya. Berjalan santai di depan Chanyeol dan kemudian duduk di sofa merah sambil menuangkan teh di cangkir yang sudah disediakan khusus untuk Chanyeol.
"Duduklah," katanya masih sambil tersenyum. "Ayo nikmati teh ini."
Chanyeol masih berdiri dengan mempertahankan sifat angkuh dan sombongnya. Jongdae mengerjapkan matanya dua kali kemudian ikut berdiri dan menghampiri Chanyeol. "Ada apa, Chanyeol?"
BUG.
"Chanyeol?! apa yang kau lakukan?!"
BUG. BUG. BUG.
"Chanyeol! berhenti!" jerit Jongdae dengan suara melengking.
"Dasar penipu bajingan!" tukas Chanyeol sebelum dia memukuli Jongdae kembali.
BRAK.
Tubuh Chanyeol menghantam tembok dengan sangat keras. Jongdae menendang perut Chanyeol dan segera berlari menuju nakas yang tidak jauh dari tempatnya. Dengan menahan sakit di punggungnya, Chanyeol mencoba bangkit sambil mengerang. Dia berjalan dengan langkah gontai dan setelah yakin cukup kuat, Chanyeol berlari dan menggapai jas belakang Jongdae. Menarik kerah belakang kemejanya dan menghantamkan kepala Jongdae ke tembok hingga wajah lelaki itu penuh akan darah. Chanyeol benar-benar kalap dan kerasukan. Ia kemudian membalikkan tubuh Jongdae dan mencekik leher lelaki itu sambil menyeringai.
"Mati kau," katanya dengan mata jelalatan dan senyum bringasnya.
Jongdae tersenyum sekilas dan menyahuti, "Aku tidak akan mati, Park Chanyeol!"
"HIYAAAA!"
JREB. JREB.
.
.
"Apa?!"
Baekhyun mengangkat kedua tangannya dan segera menutup mulutnya yang menganga. Keringatnya bercucuran dan air matanya sudah tak dapat dibendung lagi. Tubuhnya lemas dan gemetar seketika. Ia menggeleng-gelengkan kepala tak percaya mendengar apa yang baru saja Sehun ceritakan. Luhan, wanita itu juga sama terkejutnya. Sehun menceritakan mulai dari Chanyeol yang membunuh kakeknya sampai dengan bagaimana interaksinya dengan Jongdae.
"Cukup!" kata Baekhyun sambil berdiri. "Aku akan mencari Chanyeol dengan atau tanpa bantuan kalian. Aku yakin Jongdae tidak akan memberikan semuanya dengan gratis."
"Tunggu, Baekhyun!" cegah Jongin. "Sehun mungkin tidak bisa pergi saat ini. Biarkan aku saja yang ikut denganmu. Aku akan membantumu mencarinya."
"Aku juga akan ikut."
Sehun mendongak menatap Luhan.
"Tidak apa-apa, Sehun. Jangan khawatir," ucap Luhan lembut pada Sehun sebelum mengecup singkat bibir Sehun. "Aku tahu tempat yang mungkin dikunjungi Chanyeol sekarang."
.
.
Jongdae tertawa terbahak-bahak melihat Chanyeol merintih, melolong, dan mengerang kesakitan di lantai. Ia berjongkok dan memandangi Chanyeol dengan jijik. "Sekarang baru kau tahu siapa diriku sebenarnya." Ia menyeringai dan Chanyeol hanya tak peduli dan terus mengerang. "Sekarang pergilah ke nerakamu!"
JREB. JREB.
Jongdae mencabut dua pisau yang menancap di paha kanan Chanyeol dan perut kanan pria itu. Ia memasukkan pisau itu ke dalam kantong plastic dan kemudian membawanya pergi. Ia telah membersihkan wajahnya dari darah dan telah berganti pakaian yang bersih. Ia juga memakai masker, kaca mata, dan jaket bertudung. Dengan kaki pincang dan kepala berdenyut ngilu, Jongdae berjalan cepat menuju tempat parkir (berniat untuk pergi dan kabur).
Tetapi baru saja sampai di tempat parkir, Jongdae dikejutkan dengan kehadiran Luhan, Jongin, dan Baekhyun(?)
"Mau lari kemana kau?" tanya Jongin dengan wajah yang sama paniknya dengan Jongdae.
Laki-laki itu tak bisa berlari cepat karena kakinya sempat terkilir tadi dan sepertinya Jongin dan lain-lainnya mengejarnya. Jongdae berusaha sekuat tenaga menuju tempat parkir mobil. Namun baru saja akan melesat masuk ke mobilnya, tubuhnya tiba-tiba saja terlempar dan kemudian belum sempat untuk membuka matanya, ia merasakan wajahnya kembali dipukuli. Bahkan pukulan Jongin terasa begitu lebih sakit atau memang keadaan Jongdae yang sudah parah. Ia mencoba melawan tetapi tak bisa. Tubuhnya sudah terlalu lemas dan tak ada seorang pun di tempat parkir saat itu.
Di lain sisi, Luhan mencegah Baekhyun untuk ikut mengejar Jongdae. Luhan menyeret Baekhyun untuk ke apartemen yang mungkin ada Chanyeol. tepat sekali! Pintu apartemen itu terkunci dan Baekhyun semakin panik saat melihat jejak-jejak darah di lantai.
Luhan segera berlari meninggalkan Baekhyun untuk meminta kunci serep. Tak lama Luhan datang ditemani oleh beberapa petugas apartement. Pintu itu terbuka dan Baekhyun tak sanggup untuk berjalan saat melihat tubuh Chanyeol bersimbah darah dan terbujur lemas tak bergerak. Wanita itu mendadak pingsan dan petugas apartemen segera menelfon polisi dan membawa Baekhyun. Luhan kembali berlari mencari Jongdae dan Jongin. Ia ingat tadi Jongdae berlari ke arah tempat parkir. Benar sekali. Luhan sudah dapat mendengar teriakan Jongin. Wanita itu mempercepat langkahnya dan ketika keluar dari pintu penghubung tempat parkir dengan gedung apartemen, sebuah lampu mobil menyorotnya dari arah belakang. Luhan berbalik.
"LUHAN! AWAS!"
BRAK.
.
.
.
"Pergi dan menikahlah dengan orang yang benar-benar kau cintai. Aku tidak pantas untukmu lagi. Bahkan aku tidak yakin bisa bertahan hidup lebih lama dengan kondisi seperti ini. Sehun adalah orang yang tepat untukmu. Luhan juga pasti akan senang kalau kau bersama dengan Sehun. Aku yakin dia akan menjagamu dan tidak akan menduakanmu. Jangan berfikir juga kalau aku sudah tidak membencinya. Aku masih membenci Sehun dan kau harus tahu kalau aku tidak benar-benar mencintaimu. Sehun mungkin sudah menceritakannya padamu, bukan? Iya, kau tidaklah lebih dari hal yang kugunakan untuk balas dendam. Aku bajingan. Maafkan aku. Maafkan aku." Sebuah rentetan kalimat yang sampai lima tahun ini terus saja terngiang di telinga Baekhyun. Wanita itu menghabiskan banyak waktunya untuk berfikir jika Chanyeol tidak benar-benar mengatakan semuanya dengan jujur. Baekhyun yakin kalau Chanyeol berkata demikian hanya supaya dirinya dapat membuat Baekhyun membencinya dan mau menikah dengan Sehun. Entah apa yang dipikirkan Chanyeol tapi mengembalikan Baekhyun menurutnya akan lebih baik daripada meminta Baekhyun menantinya bebas dari penjara. Apalagi saat itu Chanyeol sudah kehilangan segalanya: kekayaan, kesempurnaan fisik, dan lain sebagaiannya. Lelaki itu berfikir kalau mungkin Baekhyun tidak akan mencintainya sama seperti dulu. Chanyeol berfikir terlalu sempit. Ia mengira kalau Baekhyun dulu meninggalkan Sehun karena kekayaannya dan mungkin bisa jadi Baekhyun akan meninggalkannya demi lelaki yang lebih kaya dan sempurna darinya. Chanyeol tidak munafik. Ia tahu kalau setiap wanita cepat atau lambat akan lelah mengurusi lelaki yang lumpuh dan miskin. Maka dengan berat hati, Chanyeol mengatakan hal-hal keji pada Baekhyun.
Meskipun kini kehidupannya sudah jauh lebih baik daripada yang lalu tetapi ia tak memungkiri jika ketidakberadaan Chanyeol di sisinya sangat mengubah segalanya. Baekhyun mungkin bisa tersenyum dan tertawa tetapi jauh dalam lubuk hatinya, ia tetap saja memikirkan Chanyeol. Sehun, suami Baekhyun bahkan tak meminta Baekhyun untuk melupakan Chanyeol begitu saja.
Kejadian lima tahun itu sangat membekas di hati siapa saja yang bersangkutan di dalamnya. Jongin harus menerima hukuman karena menghakimi seseorang hingga hampir mati dan Kyungsoo terus-menerus datang pada Sehun lalu menyalahkan Sehun atas semua yang menimpa Jongin. Tetapi, semua itu hanya sementara. Jongin dibebaskan enam bulan setelah itu dan Kyungsoo langsung meminta maaf pada Sehun.
Kemudian, akibat ulah Jongdae yang dengan sengaja menabrak Luhan, membuat wanita itu harus koma selama kurang lebih enam belas bulan hingga pada akhirnya ia menjemput ajalnya. Butuh waktu yang lebih lama bagi Sehun untuk menerima kepergian Luhan dan selama itu pula peran Jongin dan Kyungsoo sebagai sahabat, mereka selalu menghibur Sehun dan meminta lelaki itu agar cepat-cepat mengikhlaskan kepergian istrinya lalu segera menikahi Baekhyun sebagaimana amanat dari Chanyeol sebelum ia masuk ke dalam tahanan dan menghilang begitu saja entah kemana.
Terakhir untuk Jongdae, lelaki malang itu akhirnya ditemukan menyayat pergelangan tangannya sendiri dan meninggal di dalam tahanan. Kekasihnya, Minseok, juga di tahan oleh pihak polisi kurang lebih selama dua puluh lima bulan. Dan sekarang ini, Minseok tampak lebih bahagia dengan usaha barunya. Ia membuka toko makanan ringan di dekat butik Baekhyun. Dan tak jarang, dua wanita itu terlihat bercengkerama bersama sambil menikmati kopi di kedai Minseok.
Untuk Sehun dan Baekhyun sendiri, mereka baru saja menikah satu tahun yang lalu. Mereka meninggalkan masa lalu mereka dan memulainya dengan lembaran baru. Baekhyun meninggalkan rumahnya segera setelah Chanyeol menceraikannya dan Sehun dengan terpaksa menjual rumahnya untuk pengobatan Luhan empat tahun yang lalu. Baekhyun hilang entah kemana untuk waktu yang cukup lama—tiga setengah tahun. tetapi semuanya berubah ketika pada akhirnya Baekhyun tiba-tiba saja menemui Sehun di apartemennya dan meminta lelaki itu untuk segera menikahinya.
Sejak itulah semuanya berubah. Sehun meninggalkan apartemennya dan mengkredit rumah di komplek yang sama dengan rumah Jongin. Pasangan yang dibilang baru itu hidup bertetanggaan dengan Jongin-Kyungsoo. Dan untuk pembukaan butik Baekhyun, Kyungsoo-lah yang menyumbang modal. Sehun juga kembali bekerja di perusahaan keluarga Kim yang sudah diambil alih sepenuhnya oleh Jongin. Semuanya berubah menjadi lebih baik dan bahagia. Dan belum lama ini, kebahagiaan keluarga Kim bertambah saat Kyungsoo melahirkan anak pertama mereka yang diberi nama Kim Taeoh.
"Sehun," panggil Jongin dari arah rumahnya. "Kyungsoo mau pergi jalan-jalan bersama keluarganya. Ehm," gumam Jongin kemudian tersenyum lebar. "Aku numpang mobilmu, boleh?"
"Huft," desah Sehun sambil memutar bola matanya. "Sudah sana naik."
"Ehm, Sehun," kembali Jongin memanggil. "Menurutmu apa tidak lebih baik kalau kita jujur pada Baekhyun soal Chanyeol?"
.
.
.
END
Alhamdulillah, akhirnya kelar juga.
Yep, happy ending kan? HunHan shipper and ChanBaek shipper, maaf buanget. Menurutku, HunBaek lebih sip. Sori buanget ya.. wkwkwkwk (mungkin lain kali bakalan buat yang pure ChanBaek atau HunHan).
Oh ya, thanks buanget buat maklumatnya mengenai saya yang masih amatir ini. kalian the best pokoknya.
Dan buat partisipasinya sejak chap 1 sampek ending ini, yawlah, kalian akan selalu kukenang. Thanks a lot guys.
Alright, see you next story. Bye.
