Title : Catch Me. If You Wanna.
Author : Sherry Kim
M. Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Friend Ship, Family, Comedy, etc...
Rate : T ~ M
WARNING.
.
.
.
Keheningan ini sangat menganggu Yunho. Ia tidak terbiasa di abaikan apalagi terintimindasi seperti saat ini. Bahkan tidak ketika ia di hadapkan dengan rekan bisnis yang paling sulit ia tangani sekalipun.
Berhadapan dengan Kim Jong Kook terasa berbeda. Pria yang seharusnya tua keriput dan kurus kering, atau itulah yang Yunho bayangkan tentang kakek dari kekasihnya. Kenyataannya tidak!
Kim Jong Kook masih terlihat bugar di usianya yang hampir menginjak kepala enam, dengan tubuh atletis meski tidak lebih tinggi dari Jaejoong pria itu terlihat menawan.
Yunho menduga Kim Jong Kook pasti melakukan olah raga khusus karena terlihat bugar dengan otot yang tidak di milikki oleh kakek seumuran dirinya. Tak heran jika Mr. Song Il Gook masih memperkejakan pria itu sampai saat ini.
Yunho mengalihkan kakinya untuk bertumpu pada kakinya yang lain. Kim Jong Kook mendiamkan dirinya cukup lama, tepatnya sejak ia mengatakan keinginannya untuk menikahi cucu pria itu, Kim Jaejoong.
Tidak mudah memang untuk memastikan pria itu percaya terhadap apa yang ia ungkapkan. Terlebih dia adalah seorang Jung.
"Apakah cucuku sudah tahu bahwa kau ingin menikahinya?" Kakek Kim terlihat sama gusarnya di tempat pria itu duduk.
Saat ia mengatakan ingin berbicara dwngan pria itu, Yunho di bawa ke ruang kerja kepala pelayan ketika ia memberitahu Mr. Kim, bahwa ia ingin bicara tentang suatu hal yang lebih pribadi kepada pria tua itu.
"Belum. Aku hanya merasa bahwa Anda harus di beritahu terlebih dahulu tentang apa yang ingin aku lakukan. Baru setelah itu aku akan memberi tahu Jaejoong."
Helaan napas Joong Kook terdengar kasar. Pria itu bangkit, berdiri membelakangi Yunho, menatap ke taman yang di sinari cahaya lampu terang luar jendela sana. "Cucuku masih terlalu muda untuk menikah. Lima sampai tujuh tahun lagi adalah usia yang cocok untuk menikah." Meskipun ingin membantah, Yunho menahan diri untuk berdiam diri, mendengarkan.
Ia paham diam adalah pilihan yang bijaksana ketika kau belum memahami alasan apa yang membuat pihak lawan menolak.
"Banyak hal yang belum cucuku pelajari tentang dunia. Serta memahami sifat manusia yang menurut cucuku tidak ada orang jahat di dunia ini. Hal itu sering kali melibatkan Jaejoong dalam masalah." Ada jeda, Mr. Kim menghela napas kasar, pria itu masih betah berdiri saat menambahkan. "Jongie bocah kesayangan kami, terlebih dia adik kesayangan putri Mr. Song dan keluarganua, sejak kecil Jongie kami tidak pernah merasakan yang namanya kesusahan ataupun kekurangan, apalagi bekerja keras."
Rahang Yunho berubah kaku.
Sadarkah dengan siapa pria itu berbicara saat ini. Ataukah pria tua ini sama seperti Mr. Song yang menganggap rendah seorang Jung.
"Anda tahu siapa aku." Yunho berhasil mengatakan kata itu dengan nada rendah. Meski ingin rasanya membentak atau mengguncang tubuh Mr. Kim sampai membuat pria itu sadar. "Jongie tidak akan bekerja jika itu yang Anda khawatirkan. Dia akan bercukupan, hidup layak serta memiliki kebebasan melebihi kebebasannya yang Jongie dapatkan bersama Mr. Song dan keluarganya." Sedikitpun Mr. Kim tidak meragukan itu.
"Tapi bagaimana dengan keluargamu nak?" Hal itulah yang masih membuat Mr. Kim memikirkan ulang lamaran Yunho terhadap Jaejoong. "Terkadang, banyak hal yang tidak berjalan sesuai rencana. Kau memang sudah cukup matang untuk memimpin sebuah keluarga. Akan tetapi hidup bersama cucuku tidak akan mudah, kenakalan cucuku akan membuatmu marah suatu hari nanti dan jika hal itu terjadi, aku tidak ingin cucuku terluka."
Kata itu adalah penghinaan terbesar yang pernah Yunho terima. Bagaimana bisa pria itu bsrpikir Yunho akan melukai Jaejoong. "Apakah Anda berpikir aku akan memukulnya? Membentak atau melakukan hal hal lain yang dapat menyakiti Jaejoong? Jika itu yang Anda khawatirkan Mr. Kim, saya bersumpah tidak akan melakukan hal itu selama Jaejoong masih dalam tahap wajar."
"Astaga nak," Kim Jong Kook berputar cepat menghadap Yunho. "Kau belum mengenal cucuku dengan baik jika mengatakan kenakalannya adalah suatu hal yang wajar. Tidak ada suatu hal pun yang masuk akal ketika kenakalan Jongie membuatku atau seluruh keluarga kewalahan. Jaejoong masih terlalu muda untuk memahami semua itu. Delapan belas tahun usianya ia hanya pernah di marahi satu kali, itu pun membuat penyesalan besar Mrs. Song begitu besar karena melakukannya."
Jong Kook masih mengingat dengan jelas kejadian tiga tahun silam, di mana Song Ji Hyo kehilangan kesabaran dan membeberkan jati diri Jaejoong. Hal itu membuat luka yang begitu dalam bagi cucu dan seluruh anggota keluarga Song. "Jongie terlalu di manja. Selalu mendapatkan apapun yang di inginkannya. Tidak ada kata tidak dalam arti kamu menolak, kami semua berusaha membuatnya tersenyum dengan begitu rumah ini akan damai."
Satu hal yang sampai sekarang masih belum Yunho pahami. Sebegitu besarkah perhatian mereka terhadap Jaejoong, tapi mengapa? Adakah alasan lain di balik semua ini.
Yunho sendiri tidak tahu, tidak ada informasi tentang siapa ayah atau masa lalu keluarga Song yang dapat di dengar oleh Yunho atau publik. Atau memang pada kenyataanya keluarga Song sebersih kelihatannya? Yunho sendiri meragukan itu karena uang kau bisa menyembunyikan kejahatan sebesar apapun.
Mr. Kim berjalan mendekati kursi untuk kembali duduk. Jung Yunho adalah pria yang cukup tampan menurut pengamatan Mr. Kim. Tak heran jika pria ini menjadi tangkapan bagi para ibu bagi putri putri mereka karena pria itu masih lajang di usia menikah.
Yunho cukup menarik, tampan dan maskulin untuk di perebutkan banyak wanita. Terlebih pria itu kaya, bahkan sikap dingin serta wajah yang sedikit arogan itu memberi nilai tersendiri bagi pria itu.
"Kenapa Jaejoong? Kenapa cucuku yang harus kau nikahi ketika kau memiliki pilihan yang jauh lebih menarik. Jaejoong hanya putra dari putriku yang bukanlah siapa siapa, seorang kepala pelayan dengan gaji rendah tanpa kedudukan apapun."
Waja Yunho terlihat tenang, pria itu menatap langsung ke arah Mr. Kim. "Karena dia Kim Jaejoong, karena aku mencintainya. Tidak lebih."
Jawaban itu tidaklah membuat Mr. Kim merasa puas. Pria itu butuh kepastian lebih, tapi kepastian seperti apalagi yang dia harapkan ketika Yunho sudah bersumpah akan melindungi serta mencintai cucunya. "Apa Jaejoong sudah mengatakan sesuatu tentang siapa dia?"
Alis Yunho bergerak naik karena terkejut sebelum kembali ke posisi semula. Pria itu menatap Mr. Kim seakan pria tua itu orang aneh. "Cucu Anda. Dan siapapun dia aku tetap akan menikahinya. Karena tidak mudah untuk mendapatkan Jaejoong ketika pemuda itu licin seperti belut. Sulit untuk di tangkap, menaklukan Jaejoong butuh semua kesabaran serta pikiranku."
Ujung bibir Mr. Kim melengkung membentuk seulas senyum mendengar nada kesal dari suara Yunho. Jaejoong memang sulit di pahami apalagi di atur. Namun cucunya itu akan bersikap manis serta patuh kepada orang yang di sukainya. Dan memang akhir akhir ini Jaejoong terlihat sedikit berbeda. Mungkinkah ada hubunganya dengan Jung Yunho.
"Aku yakinkan kau bahwa tidak hanya sampai di situ kenakalan cucuku." Setelah kejadia dua hari ini, Yunho tidak akan terkejut dengan kenakalan apapun yang akan Jaejoong lakukan. "Maksudku," Mr. Kim kembali berkata. "Tentang siapa ayah serta siapa Jaejoong yang sebenarnya?"
"Dia bukan cucu Anda?"
"Tentu saja dia cucuku!"
"Syukurlah. Karena aku tidak berniat mengajukan lamaran kepada siapapun lagi sebagai wali Jaejoong. Aku tidak suka perasaan ini, meskipun kau tidak mengintimindasi tapi entah mengapa aku merasa sangat gugup."
Untuk pertama kalinya sejak mereka berdua masuk ke ruang kerja, Mr. Kim tertawa lepas. Pria tua itu terlihat santai dan jauh lebih muda saat tersenyum, Yunho menyukai itu. "Aku menyukai kejujuranmu anak muda. Aku pernah berada di posisi yang sama saat melamar istriku dulu."
Yunho balas tersenyum. Setelah ia pahami, Kim Joong pria ramah dan ia paham apa yang di khawatirkan kakek Kim tentang lamaran ini. "Aku berjanji akan memperlakukan Jaejoong dengan sangat baik. Apakah aku mendapat ijinmu untuk melamar Jaejoong?"
Sekali lagi Jong Kook tertawa. Menepuk pundak Yunho, ia tidak percaya dirinya melakukan hal ini. Menepuk pundak wakil directure perusahaan besar. "Aku memberimu ijin nak. Meskipun aku pikir tidak akan mudah menaklukan cucuku meskipun kau sudah menjadi kekasihnya. Mendapatkan ijin dariku tidak akan membuat Jongie bersikap semanis kucing atau penurut seperti Hiro."
"Anjing itu." Jaejoong mensesah mendengar nama anjing kesayangan kekasihnya. "Aku tahu." Yunho memberenggut.
Tawa Mr. Kim terhenti. Pria itu menatap Yunho dengan tatapan serius yang membuat Yunho kembali tegang. "Tidak mudah lagi saat keluarga song tahu kau akan membawa Jaejoong pergi dari rumah ini, tentu saja jika Jaejoong menerima lamaranmu dan menikah." Yunho ingin tahu alasanya. Tapi ia hanya berdiri mengangguk sebelum berpamitan untuk pergi mencari Jaejoong.
Instingnya mengatakan sesuatu yang tidak ingin ia ketahui tentang keluarga Song yang penuh misteri. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik tembok mansion dan nama keluarga besar. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi jika apa yang ia pikirkan benar adanya. Ya Tuhan, jangan!
Mengingat kembali data yang ia pelajari tentang Kim Jaejoong, Yunho selalu bertanya siapa ayah dari kekasihnya. Saat ini yang ia takuti adalah mengetahui kebenaran yang tidak ingin ia ketahui.
.
。。* 。。
.
Kedua telapak tangan Changmin bergesekan satu sama lain dengan wajah berbinar terang seterang rembulan di langit malam ini..
Pemuda itu menatap wajah cemberut Jaejoong saat ia menunjukan mobil baru yang di belikan ayahnya untuk kado ulang tahun Changmin yang ke tujuh belas tahun.
Mobil sport sama seperti milik Yunho yang ia kagumi. "Bagaimana? Keren bukan?"
Jaejoong mendesah kecewa. Ia tidak akan mengatakan ia kagum pada mobil itu karena ia tahu Changmin akan besar kepala mendengarnya. "Jadi hanya ini yang ingin kau tunjukan kepadaku?" Ia mendesah sedikit dramatis untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak tergoda. "Tidak ada yang istimewa karena kau pemilik kedua setelah Yunho. Dan tidak tahu berapa orang di luar sana yang memiliki mobil sama seperti mobil kekasihku. Yang terpenting adalah kekasihku pemilik pertama dan aku sudah pernah naik mobil itu jauh hari sebelum kau memilikinya." ujar pemuda itu sombong
Kening Changmin berkerut mendengar nada kepemilikan Jaejoong tentang Yunho barusan. "Kekasih? Kau masih menganggapnya kekasih?" Sejak kapan Jaejoong mengklaim pria itu miliknya dengan terang terangan. Apakah ini hanya taktik untuk membuat Changmin cemburu karena apa yang di milikki kekasih kaya pemuda manis itu.
Wajah Jaejoong merona. Bukannya ia berniat mempertahankan status mereka setelah apa yang ia ketahui tentang Yunho. Hanya saja ia gemas melihat tingkah sahabat baiknya yang sok pamer ini. "Setelah apa yang Yunho lakukan? Iya. Kami masih pacaran dan aku akan meminta Yunho membelikanku mobil."
Alis Changmin bergerak mengejek. "Aku tidak yakin itu. Karena tadi aku melihat Yunho Samcon datang bersama Ahra Nuna."
Delikan terkejut yang di tunjukan Jaejoong menimbulkan rasa menyesal bagi Changmin. Ia memang sengaja mengatakan itu karena tidak ingin sahabat terbaiknya ini di kecewakan oleh pria itu. Harus ada seseorang yang menyadarkan Jaejoong tentang siapa Jung Yunho yang sebenarnya. Meskipun sebelum ini changmin juga ikut ambil andil dalam pendekatan mereka berdua.
"Mereka hanya teman. Yunho bilang dia hanya menyukaiku." Kata itu di ucapkan Jaejoong dengan nada membentak. Namun Changmin melihat sekelebat cahaya pada manik Jaejoong lalu berkaca kaca. Setelahnya, Jaejoong berputar meninggalkan Changmin untuk kembali ke pesta. Akan tetapi Changmin tidak yakin Jaejoong akan baik baik saja.
"Jongie. Aku tidak bermaksud seperti itu." Jaejoong sudah menghilang di antara kerumunan para tamu. Changmin mendesah. Ia menyesali kata kata yang ia sendiri ucapkan. "Bodohnya aku."
Jaejoong melangkah cepat menerobos keramaian, nyaris berlari membelah kerumunan menuju aula depan. Pesta memang tidaklah semewah tahun lalu, akan tetapi tetap saja para tamu yang tidaklah sedikit memenuhi aula ketika pesta di mulai beberapa saat sebelumnya.
"Akhirnya kami menemukanmu." tanpa di beri kesempatan bicara, Jaejoong di seret oleh seorang gadis muda yang ia tahu adalah kakaknya, Yoona. "Kau melewatkan acara utama, kemana saja kau." Kakak dari Jaejoong itu berkata marah.
"Melihat mobil baru Changmin."
"Di saat yang tidak tepat. Ingatkan aku untuk mencekik Changmin nanti karena menyombongkan diri." Tidak tahukah adik nakalnya ini bahwa pesta malam ini adalah pesta penting bagi mereka. Pesta di mana ayah dan ibu mereka berniat mengatakan kepada dunia siapa Jaejoong yang sebenarnya.
"Dengan senang hati aku akan melakukannya untuk Nuna." Jaejoong hanya bisa pasrah di seret kakaknya menemui saudara yang lain. Jaejoong memperhatikan sekeliling, ia mendesah lega saat tidak menemukan ibu tirinya di dekat sana.
Kelima kakak Jaejoong yang lain menatap Jaejoong penuh penilaian menatap jas serta kaca mata yang ia gunakan. "Kau terlihat lebih tua dengan kaca mata itu." Jessica berkata.
"Aku kurang suka celanamu." Pandangan Jaejoong mengikuti arah pandang kakaknya. Tidak ada yang salah dengan celana yang ia pakai. Celana yang tak menutupi mata kakinya ini adalah mode baru teman temannya.
"Ini keren. Aku dan Changmin membelinya minggu lalu. Dia juga memakai pakaian yang sama malam ini, hanya saja warnanya berbeda." lapor Jaejoong tak terima jika mode yang ia sukai di katakan aneh. "Apakah Nuna tidak menyukai gayaku. Jongie tampan bukan?"
"Ya. Kau cantik." ujar ke enam kakak Jaejoong serempak.
"Jongie tampan. Tampan Nuna." Para gadis muda itu mengabaikan protesan sang adik.
"Dad mencarimu."
"Beliau menunggu di ruang kerja atas. Kedua kakek Song berada bersama mereka."
Mendorong tubuh yang lebih tinggi darinya itu menjauh, Yuri berkata. "Kau akan menyukai kejutan ini. Pergilah cari Daddy."
Tanpa rasa curiga Jaejoong menjauh dari mereka. Pemuda itu sempat menoleh kebelakang untuk memastikan tidak ada satupun kakak kakak menyebalkannya itu mengikutinya, sedikit aneh memang jika biasanya salah satu dari mereka selalu mengekor Jaejoong jika Jaejoong di panggil keruang kerja ayah kali ini tidak satu pun yang mengikutinya
Pintu ruang kerja dalam keadaan tak terkunci. Handel berputar saat Jaejoong membuka pintu dan masuk. "Abeoji, kau di mencariku?"
Tidak ada suara yang menjawab. Ruangan itu kosong meski lampu menyala seakan ruangan itu baru saja di gunakan.
Melenggang masuk, Jaejoong menutup pintu di belakang. Sebelum pintu itu benar benar tertutup ia di kejutkan oleh sepasang tangan yang menahan pintu sampai membuat menjerit karena terkejut.
"Ya Tuhan." Jaejoong meloncat mundur. Memberi kesempatan bagi siapapun itu untuk menyelinap masuk ke ruang kerja. "Yunnie." ia mendesah entah lega atau kecewa melihat pria yang ia hindari menemukannya di sini.
Terdengar bungi klik saat pintu terkunci. Yunho bersandar pada pintu dan mengikat tangan di dada santai. "Kau tidak bisa kabur lagi dariku Jongie."
"Jongie tidak kabur. Jongie hanya menghindar." ralatnya.
"Ada bedanya?" Jaejoong menggeleng dengan enggan. "Bagus karena kita harus bicara. Kali ini benar benar bicara."
"Kita sedang melakukannya." Tatapan tajam Yunho seperti jarum menusuk kearah Jaejoong. Pemuda itu beringsut mundur dan menyerah untuk melawan. "Baiklah. Cepat katakan karena sebentar lagi Dad... " ia meralat. "Ayah angkatku akan masuk. Dan kau mengunci pintunya."
Kedikan bahu Yunho membuat Jaejoong semakin cemas. Apa yang akan di pikirkan ayahnya saat menemukan Jaejoong bersama Jung Yunho di ruangan yang terkunci. Meski itu lebih baik ketimbang ibu tirinya yang menemukan Jaejoong, tetap saja Ia harus waspada dan ia belum siap salah satu dari keluarganya tahu tentang hubungan rahasia yang ia jalani dengan Yunho. Karena itu berarti semua orang akan tahu dalam waktu kurang dari satu jam.
"Tidak bisakah kita bicara di tempat lain?" ia merajuk.
"Tidak!"
Mendesah kecewa ia berkata nelangsa. "Baiklah. Cepat katakan apa yang ingin kau katakan lalu pergi, ada masalah yang hatus aku bahas sengan Ab... maksudku Ajushi Song."
Gerakan Yunho menarik perhatian Jaejoong. Pria itu menjauh dari pintu menghampiri sofa. Tatapan Jaejoong terarah pada handel pintu yang...
"Jangan berpikir untuk kabur. Kali ini kau akan menyesali perbuatanmu dan membayarnya berkali kali lipat. Aku akan membawamu ke pulau dan meninggalkanmu di sana sendirian, sama seperti kau meninggalkanku di luar kota."
"Jongie tidak akan kabur." Menghampiri Yunho, pemuda itu berdiri menantang pria yang lebih tinggi darinya itu. "Kabur adalah tindakan seorang pengecut."
"Ya. Kabur adalah tindakan seorang pengecut. Tidak ada yang boleh keluar dari ruangan ini sebelum kita membahas masalah ini sampai tuntas."
"Deal. Katakan."
"Menikahlah denganku."
Bulu mata lentik Jaejoong mengerjap cepat. Apakah ada yang salah di sini. Apakah tekinganya bermasalah, tapi Jaejoong yakin tidak.
Doe pemuda itu menatap tidak percaya Yunho yang menjulang tinggi di hadapannya setelah menyerap apa yang di ucapkan pria itu. "Kau apa?"
"Menikah denganku. Aku akan membuatmu bahagia dan tidak akan membuatmu menyesal dengan menikah denganku. Hidup bersama selamanya sampai kita tua Jongie." Meraih tangan Jaejoong, Yunho membawa tangan kekasihnya kearah bibir untuk mendaratkan ciuman ciuman lembut di sana.
"Bukankah kau akan bertunangan dengan Ahra Nuna?"
"Tidak. Pertunangan itu hanya rencana yang di harapkan kedua keluarga. Dan aku tidak berniat mengikuti perjodohan itu, karena aku mencintaimu."
Haruskah Jaejoong bahagia? Ia terkejut mendapati Yunho melamarnya saat ini. Di malam yang paling berharga bagi kedua orang tua Jaejoong. Ia belum siap.
"Aku masih sekolah."
"Kita bertunangan, tunggu sampai kau lulus lalu menikah."
Suara yang si timbulkan handel pintu menarik perhatian keduanya. Terdengar suara Song Il Gook dan suara pria lain di luar pintu.
Jaejoong mendelik ngeri kearah pintu. Ya Tuhan, Astaga bagaimana ini.
"Kita harus kabur." Pemdua itu berseru ngeri. "Kita tidak boleh tertangkap."
Berbanding balik dengan wajah pucat Jaejoong, Yunho tersenyum lebar penuh kemenangan. "Lewat mana."
"Mana saja. Jendela. Tidak. Kita di lantai dua. Pintu atau di manapun tempat untuk bersemunyi." Menarik lengan Yunho kesana kemari Jaejoong membeku mendengar gemerincing kunci dari luar.
"Tamatlah riwayatku."
"Aku tidak akan mengijinkanmu."
"Aku tidak membutuhkan ijin darimu."
"Aku akan menolongmu jika kau mau menikah denganku."
Perhatian Jaejoong teralihkan dari pintu. Ia akan melakukan apapun untuk lolos dari bencana ini, pemuda itu menatap Yunho cemas dan berkata. "Kita akan menikah. Kapanpun kau ingin. Puas."
"Sangat. Kau memilih keputusan yang bijak sana sayangku."
-TBC-
Hai hai. Lambai tangan.
Akhirnya ide kembali lagi setelah lama berhenti di chap sebelumnya.
Masih adakah yang menunggu ff gaje ini?
Tidak ada?
-munduk di pojok-
Typo bertebaran. EYD tidak berantakan dan tidak jelas.
-udah tradisi(?) kayaknya-
Maaf saya belum bisa memastikan ff ini akan end sampai chap berapa. Terima kasih.
