HEBIMAN
Disclaimer: Masashi Kishimoto owns the charas and I own this story
Warning: It's a SasuSaku story, AU, Typo(es), confusing plot (perhaps).
This is my second story about SasuSaku. Hope you'll like it. But, if you don't, please don't give me flame. Any polite review will be accepted with opened hands.
Enjoy! ^-^
.
.
.
*Hebiman*
Sasuke tidak tahu kemana Sakura pergi. Instingnya mengatakan bahwa Sakura pulang ke dunia manusia. Sasuke akan membiarkannya kali ini, sementara ia akan memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan ke depan.
*Hebiman*
Sakura mengerti, ibunya tidak akan percaya pada apa yang ia ceritakan, tentang apa yang ia alami. Itu terlalu tidak masuk akal, bahkan untuknya sendiri. Maka dari itu, ia menyerah untuk meyakinkan ibunya.
Untuk kali ini, Sakura bertekad, bahwa ia tidak akan pernah mau kembali lagi ke dunia hebiman itu. Persetan dengan ikatannya dengan Sasuke. Sasuke bukanlah takdirnya, bukan takdir Sakura juga untuk menjadi seorang hebiman, seperti yang dikatakan Sasuke.
Sasuke… kemarin adalah terakhir kalinya Sakura menyebut nama itu. Ia tidak datang saat Sakura membutuhkannya. Padahal Sakura tahu, seorang hebiman seperti Sasuke memiliki indra yang sangat kuat. Seperti saat dirinya dijahili Kiba dulu, dengan sekali teriak –yang bahkan dalam teriakan itu Sakura tidak meneriakkan nama Sasuke- Sasuke datang dalam sekali kedip. Ralat, bahkan sebelum Sakura sempat berkedip.
Oh, bahkan yang membuatnya sakit hati adalah, ia ingat ketika tubuh pria misterius yang mencoba menebasnya dengan pedang itu membungkuk dan menyembulkan kalung berliontin lambang kerajaan hebiman. Ketika itu ia tidak dapat berpikir, namun sekarang, ia bisa memikirkannya.
Flashback on…
"Ah! Apa ini?!" mata Sakura berkilat kagum melihat sebuah benda logam kecil. "Apa ini liontin?" Sakura menghadapkan tubuh dan kepalanya ke arah Sasuke.
Saat Sasuke akan menjawab, Sakura menjulurkan tangannya perlahan untuk menyentuh benda logam itu. "Jangan disentuh!" interupsi Sasuke membuat Sakura menghentikan aksinya dan menoleh. "Setiap benda yang ada di sini memiliki kekuatan magis. Akan aktif jika disentuh." Sakura hanya membalas dengan 'oooh'.
"Oh, ya! Semua benda di sini memiliki ukiran, cap, ataupun gambar yang sama dengan bentuk liontin itu, ular dengan mahkota di kepalanya. Apa artinya itu?"
"Itu lambang kerajaan. Setiap raja yang berkuasa memiliki benda pusakanya sendiri. Saat masa pemerintahan seorang raja berakhir, benda pusaka miliknya akan disimpan di paviliun ini sebagai warisan. Liontin yang kau lihat tadi adalah peninggalan ayahku, raja sebelumnya. Sebenarnya ada sepasang, tapi aku menyimpan yang lainnya."
Flashback off…
Liontin itu, liontin yang pernah dilihatnya. Mungkinkah itu…
*Hebiman*
Di kediaman Hyuuga yang damai, terlihat seorang gadis sulung sedang membaca sebuah buku tebal bertajuk 'Science'. Dari jauh, terlihat seperti itu. Namun bila dilihat lebih dekat, kau bisa melihat mata gadis itu memandang kosong bukunya. Di teras belakang rumah tempatnya duduk sekarang ini, ia beberapa kali menghela nafas. Lalu kepalanya ia dongakkan menghadap langit. Ini sudah hampir malam. Tapi itu bukan merupakan perhatiannya saat ini.
Tanpa sengaja, atensinya terpaku pada sebuah kelopak sakura yang gugur dan mendarat di atas bukunya. Di awal musim panas ini, kediaman Hyuuga memang masih memiliki satu pohon Sakura yang berbunga dan sejak beberapa hari yang lalu mulai berguguran. Satu kelopak yang mendarat di bukunya itu menarik jiwa Hinata kembali ke raganya. Ah, ia jadi teringat akan sahabatnya, Sakura. Sudah berapa hari mereka tidak bertemu?
Tap… tap… tap…
Suara langkah kaki di lantai kayu teras itu juga menarik atensinya dari teringatnya ia akan sahabatnya. Itu ayahnya. Hinata tersenyum mendapati ayahnya berjalan mendekat. Ayahnya pun membalas. Kemudian, ayahnya berlalu menuju tempat lain dari kediaman Hyuuga. Tapi, sebelum pria bernama lengkap Hiashi Hyuuga itu berbelok, putrid sulungnya menginterupsi.
"Tou-sama…"
"Hm?" ia berbalik menanggapi panggilan Hinata. Hinata segera berdiri dan menyusul langkah kaki ayahnya. Melihat putrinya menghampiri, Hiashi kembali berbalik dan melangkahkan kakinya santai. "Ada apa?" ujarnya dengan suara bassnya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Ini penting." Yeah! Ini adalah kesempatan bagi Hinata untuk menyelesaikan masalah yang ia pikirkan sepanjang ia duduk di teras belakang tadi.
Mendengar penuturan putrinya –yang nampaknya memang benar-benar serius- Hiashi menghentikan langkahnya –lagi. Dia menatap wajah putrinya. Berpikir sejenak tentang apa yang membuat putrinya nampak sedikit tak biasa ini. Dia bisa menemukan ketegasan dalam tatapan putrinya sekarang.
"Sepertinya memang sangat serius. Mari kita bicarakan di dalam." ujar Hiashi.
Dan… ucapan Hiashi itulah yang membuat mereka berdua duduk berseberangan di ruang keluarga ini. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hiashi setelah beberapa menit Hinata tak kunjung bersuara. Hinata mengalihkan arah pandanganya dari meja besar di depannya menuju sumber suara –ayahnya.
"A-ano… aku…"
"…" Hiashi menunggu.
"T-tou-sama, izinkan aku menikah!" ujar Hinata susah payah. Nada bicaranya sedikit meninggi. Ia begitu gugup.
"A-apa?" kini Hiashi pun turut tergagap.
"Aku… sudah menemukan pria yang tepat, Tou-sama. Mohon restui kami." Hinata membungkukkan tubuhnya dengan masih dalam posisi duduk. Sementara itu, Hiashi hanya bisa menatap horror putrinya. Ia tahu kalau Hinata itu anak yang lain dari pada anak lainnya. Hinata memang sedikit aneh sejak ia kecil. Tapi Hiashi tidak pernah tahu kalau tingkat keanehan anaknya itu sudah mencapai stadium lanjut –atau mungkin stadium akhir.
Flashback on…
Setelah membeli fast food dengan drive thru, Naruto melajukan mobil sportnya menuju sebuah pusat perbelanjaan elit di pusat kota. Tak heran memang kalau seorang public figure seperti Naturo memilih berbelanja di tempat seperti ini. Selain harga-harga mahal yang disuguhkan setiap outlet –yang pastinya sangat bisa dijangkau oleh orang terlanjur kaya seperti Naruto- tempat ini juga tidak ramai pengunjung –sehingga membuat keberadaan Naruto di dalamnya tidak menimbulkan kerusuhan atau pun ketidaknyamanan bagi Naruto sendiri.
Hinata bukanlah seorang gadis kampungan yang baru pertama kali datang ke tempat seperti itu. Ayolah, dia seorang bangsawan. Tapi jika kau mempertanyakan sikap kikuk Hinata saat ini, itu karena seorang pemuda yang menurutnya adalah seseorang-yang-akan-datang-padanya yang berjalan beriringan dengannya. Ya, dia kikuk sampai ke tulang-tulangnya.
Naruto sudah mendapatkan tuxedonya, Hinata pun mendapatkan sebuah hadiah dari Naruto, sebuah gelang dan cicin yang saling tersambung dengan beberapa ornament tergantung di sepanjang rantainya. Sangat indah dan Hinata menyukainya. Hadiah itu berarti lebih karena Naruto yang memberikannya. Apakah ini saatnya Hinata berkata bahwa ia adalah gadis paling bahagia di dunia saat ini? Mungkin ya.
Hmm… mungkin juga belum saatnya. Apalagi ketika sang penjaga toko berkata, bahwa gelang-cincin itu biasa dipakai para pengantin perempuan di India, dan juga mengatakan bahwa Naruto dan Hinata adalah pasangan serasi. Kalau begitu, apakah ini saatnya ia berkata bahwa ia adalah gadis paling bahagia di dunia saat ini? Mungkin ya.
Eits, tidak secepat itu! Karena setelah itu, Naruto mengajaknya jalan mengelilingi danau Botan -danau buatan yang terkenal sangat indah- sebagai penutup jalan-jalan mereka hari ini. kalau begitu, apakah ini saatnya? Lupakan, sepertinya Hinata tidak akan mengatakan itu di dalam hatinya. Sudah sejak tadi di perjalanan menuju danau Botan, Naruto hanya membahas Sakura, Sakura, dan Sakura.
Di awal Naruto mulai membahas Sakura, Hinata biasa-biasa saja. Toh, yang menjembatani perkenalan mereka adalah Sakura. Sakura lebih dulu mengenal Naruto, apalagi Sakura sudah meng-claim dirinya sebagai fan Naruto sebelum Sakura sendiri mengenal Naruto. Di samping itu, Hinata adalah sahabatnya. Wajar kalau Naruto membahas Sakura dengannya. Jadi, ya… biasa-biasa saja.
Kemudian, seiringan Hinata dan Naruto berjalan di sepanjang tepi danau, pembahasan tentang Sakura itu kian memanjang dan melebar. "Sakura itu menarik sekali, ya?! Pertama kali aku melihatnya, mataku langsung terarah ke rambutnya. Kukira, Sakura itu anak-anak alay yang selalu ingin tampil eksentrik, makanya dia mengecat rambutnya. Karena itu juga, aku berpikir bahwa Sakura adalah tipe fan yang berisik dan merepotkan. Tapi ketika aku melihatnya dari dekat, ternyata warna rambutnya itu asli. Soalnya aku melihat warna alisnya juga sama. Dan ternyata juga Sakura adalah tipe fan yang kalem. Aku suka." bayangkan betapa panas hati Hinata mendengar ini.
"Aku… senang bisa mengenal Sakura. Aku sangat bersyukur bisa dekat dengannya, karena-"
"Naruto!" potong Hinata. Naruto lalu mengalihkan pandangannya yang tertuju pada pemandangan danau Botan ke Hinata yang lebih pendek beberapa centimeter darinya. "Tidak bisakah? Tidak bisakah kita tidak membicarakan Sakura lagi?"
"Eh? K-kenapa, Hinata? Kau sedang ada masalah dengannya, ya?" mungkin karena bodoh, Naruto jadi tidak peka.
"T-tidak bisakah kau hanya melihatku?" Hinata bersuara dengan sangat pelan. Suaranya terkubur oleh suara angin. Tapi Naruto masih bisa mendengar itu. Sekali lagi, suara angin mengisi kesunyian yang kemudian terjadi di antara mereka.
Mata Naruto sedikit membelalak. Ia tak pernah menyangka, Hinata akan berkata seperti itu. Dia bukannya tidak senang mendengarnya. Hanya saja, apa… baru saja Hinata menyatakan perasaannya? 'Arrgh… aku tidak mengerti!' batin Naruto berteriak.
Keheningan di antara mereka akhirnya pecah, dan itu karena Hinata yang tiba-tiba lari menjauhi Naruto. "H-Hinata!" Naruto tidak diam begitu saja. Ia mengejarnya. Berdasarkan ukuran panjang kaki dan pengalaman berlari, Hinata kalah telak dari Naruto. Naruto berhasil menjangkau lengannya.
Naruto bisa melihat rona merah di seluruh wajah Hinata, mungkin juga sampai ke telinganya. Efek malu dan marah sudah bercampur menjadi satu. Hinata sendiri merutuk di dalam hati. Bagaimana bisa ia bersikap seperti ini. Ia jadi merasa sangat jahat pada Naruto, pun pada Sakura. Ini salahnya, ia begitu yakin akan bisikan sialan yang mengatakan bahwa Naruto adalah apa-yang-akan-datang-padanya. Ia terlalu naïf, sampai-sampai ia melupakan fakta bahwa Naruto menyukai Sakura.
"M-maaf, aku seharusnya tidak mengatakan itu. Seharusnya aku tidak begini." hanya itu yang bisa Hinata katakan sekarang. Entah kenapa ia merasa sangat bodoh.
"Jangan pergi seperti ini. Kalau kau ingin pulang, biar aku antarkan." Setelah itu, naruto menggandeng tangan Hinata menuju mobil.
Sepanjang perjalanan ke rumah Hinata, tidak ada yang berani membuka suara. Otomatis, keheningan menyergap mereka. Lalu tanpa terasa, mereka telah sampai di depan pintu gerbang kediaman Hyuuga.
"Sudah sampai." Naruto yang memulainya.
"Hm. Terima kasih." Hinata masih saja menunduk.
Baru saja Hinata akan membuka pintu mobil, Naruto menginterupsi, "Hinata…" dan Hinata pun menyahut dengan 'Hm?' tanpa berbalik.
"Kau belum mendengarkan kata-kataku sampai selesai tadi." Oh, tidak. Maksudmu tentang Sakura? Jangan lagi!
"Tadi aku bilang… Aku senang bisa mengenal Sakura. Aku sangat bersyukur bisa dekat dengannya, karena… karena dengan begitu, aku bisa bertemu denganmu. Aku bisa berkenalan denganmu dan setelah itu, aku tahu… bahwa aku telah jatuh cinta padamu." seketika itu, tangan Hinata melemas jatuh ke pangkuannya. Hinata berbalik perlahan mencoba mencari kesungguhan di mata biru cerah itu.
Hinata dan Naruto, mereka masing-masing tahu bahwa ini mungkin terlalu cepat. Tapi Naruto bukanlah tipikal orang yang dengan mudah jatuh cinta. Hinata pun begitu. Seharusnya ia tak pernah meragukan indra ke enamnya. Dan… oh, apakah sekarang saatnya Hinata bilang bahwa ia adalah gadis paling bahagia di dunia? Jawabannya, ya. Dan mereka pun berpelukan.
Flashback off…
*Hebiman*
Sakura memang penyanyi pendatang baru yang langsung melejit namanya dengan hanya satu single. Tapi eksistensinya di dunia hiburan bisa lenyap begitu saja jika banyak citra buruk yang menyebar tentang dirinya. Misalnya saja dalam hal ini suka-menghilang-tiba-tiba.
Sudah tiga minggu Sakura tidak menerima job apapun. Ini adalah bencana bagi setiap pekerja seni mana saja. Tak terkecuali bagi Haruno Sakura.
"Maafkan aku." sesal Kakashi di seberang sana. Sewajarnya, jika seorang artist manager menelefon artistnya, maka itu artinya ada perkerjaan yang menanti sang artist. Tapi kali ini bukan.
"Kau ini bicara apa? Harusnya kan aku yang minta maaf." balas Sakura sambil tersenyum penuh sesal. Yah, walaupun Kakashi tidak bisa melihatnya.
"Err… Sakura? Sebenarnya apa yang membuatmu sering menghilang tiba-tiba? Pergi ke mana kau? Aku… tidak bermaksud menyalahkanmu, tapi… kau selalu tampak aneh setelah menghilang." Kakashi akhirnya menanyakan hal itu. Hal yang Sakura yakin cepat atau lambat harus ia jawab dengan jujur atau pun dusta.
Setelah hening beberapa detik di mana Sakura masih memikirkan jawaban apa yang akan ia berikan, Sakura menjawab, "Oh, itu… kadang aku membantu seorang nenek membawakan belanjaan sampai rumahnya. Aku sangat kasihan padanya. Pernah juga aku membantu anak hilang mencari orang tuanya sampai ketemu. Hanya itu…"
Kakashi berpikir sejenak dan innernya berkata, 'Benarkah?' sedangkan bibirnya sendiri berkata, "Hmm… sou ka…"
"Begitulah. Ehm, Kakashi-buchou, sudah dulu, ya?! Sepertinya ada yang mengetuk pintu. Nanti kalau ada tawaran pekerjaan, hubungi aku lagi. Sampai jumpa."
"Yupp, sampai jumpa."
Begitu sambungan terputus, Sakura langsung menghela napas leganya. Sebenarnya tidak ada yang mengetuk pintunya. Hanya saja, ia takut Kakashi akan menanyakan hal yang macam-macam lagi. Yang tadi itu ia beruntung karena Kakashi bisa menerima begitu saja alasannya yang sedikit maksa.
Tok tok tok…
Nah, itu ada yang mengetuk pintunya! Baguslah. Jadi Sakura tidak bohong-bohong amat. Sakura pun beranjak menuju pintu utama rumahnya. Di sana sudah ada Ino Yamanaka, si tetangga baru.
"Hallo!" sapa Ino.
"Hi, Yamanaka-san. Ada perlu apa?" tanya Sakura sopan.
"Panggil aku Ino saja. Kau seperti memanggil ayahku kalau menyebut Yamanaka-san." Ino tercengir lebar.
"Baiklah, Ino. Jadi… ada apa?"
"Oh, umm… Ibumu. Aku ada janji dengannya."
"Oh, Ibu… biar aku panggilkan." Sakura baru saja berbalik akan memanggil ibunya. Ibunya sudah datang menghampiri pintu.
"Kaa-san yang ada janji dengan Ino." koreksinya. "Sakura, Kaa-san akan pergi mengantarkan Ino berbelanja bahan-bahan untuk membuat kue. Kau jaga rumah ya, bersama Sasori-kun. Jangan biarkan dia memakan apa yang dia mau." Sakura tahu pasti apa yang dimaksud ibunya. Sasori memang suka sekali makan makanan cepat saji, minum minuman bersoda, dan sejenisnya yang tidak baik bagi kesehatan.
"Aye-aye, Captain!"
"Aku mengandalkanmu. Ayo, Ino!" dan begitulah mereka berpisah. Setelah menutup pintu dan berbalik, ia mendapati Sasori menatapnya dan pintu.
"Kau dengar kan, apa yang Kaa-san katakan?!" Sasori hanya diam saja, minus satu alisnya yang bergerak naik. Sakura mengikuti raut wajah Sasori yang datar plus satu alis terangkat. Maksudnya untuk menyindir adiknya. 'Huh! Adikku ini alien dari planet mana sih?!' batinnya.
Sakura berjalan di belakang adiknya. Tujuan mereka adalah kamar masing-masing. Tidak ada siapa-yang-mengikuti-siapa karena kamar mereka memang berseberangan.
Cklekk…
Mereka membuka pintu kamar masing-masing bersamaan dan masuk bersamaan. Tapi sebelum mereka berhasil menutup pintu kamar mereka, Sakura menginterupsi gerakan Sasori. "Hey! Jangan coba-coba menelefon delivery Pizza, ya! Awas kau!" ancam Sakura.
"Tidak akan. Aku hanya akan bermain video game." jawab Sasori tak berminat. Dan mereka pun benar-benar menutup pintu kamar masing-masing.
*Hebiman*
[Sakura POV]
Apa ini? Rasanya perutku mulai mual-mual lagi. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Kenapa belakangan ini aku selalu merasa aneh pada tubuhku. Ah, lupakan!
Kau tahu, hal apa yang paling menyebalkan dalam hidupku? Itu ketika dua organ tubuhku menginginkan hal yang saling bertolak belakang sehingga aku bingung harus memenuhi yang mana. Misalnya saja ketika mulutku ingin diisi terus oleh lembutnya red velvet, tapi perutku menolak karena sudah kekenyangan. Menyebalkan bukan?
Kau tahu? Kejadian macam itu terjadi lagi padaku, dengan konteks yang berbeda. Kini, tenggorokanku terasa sangat kering dan sangat mendambakan air melewati rongganya. Di saat yang sama, perutku mual. Perutku menolak apa saja yang bisa dimakan dan diminum sejak tadi pagi. Ayolah, aku haus berat! Dan kenapa pula aku harus berurusan lagi dengan perasaan mual macam ini?!
Lama aku menatap kulkas mini di sudut kamarku. Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil minum. Aku mengangkat gelas yang telungkup di atas nampan di atas kulkas miniku.
Prangg…
Oops! Aku menjatuhkan gelasku. Sebelum aku membersihkanbekas pecahannya, aku ingin minum dulu. Sudah kubilang, aku haus berat. Maka dari itu, aku ambil satu gelas lagi.
Prangg…
Jatuh lagi. Sumpah, aku tidak sengaja. Mendadak tanganku lemas. Tubuhku juga. Rasa mual dan sakit di sekujur tubuh mulai mendominasi. Aku tak tahan. Tubuhku pun merosot dan satu erangan berhasil lolos dari mulutku.
[Sakura POV end]
*Hebiman*
Sudah 20 menit dilalui Sasori hanya dengan bermain video game. Bosan pun tidak dapat ditampik. Apa yang bisa ia lakukan di akhir pekan seperti ini jika ibunya pergi bersama tetangga baru dan kakaknya mengambil alih kekuasaan rumah. Hhhhhuft… Sasori yang malang.
Prangg…
Sebuah benda pecah belah pasti baru saja terjatuh. Sasori bisa mendengarnya walaupun telinganya masih disumpal headphone. Suara itu berasal dari kamar kakaknya. Kalau begitu, ia tidak akan peduli.
Sasori beranjak dari 'kursi main'nya menuju spring bed tercinta. Sekarang ia memilih untuk melakukan sesuatu dengan handphonenya, mencari tahu apakah ada seseorang yang bisa diajak chatting. Siapa tahu-
Prangg…
"Arrgh!" mendengar suara pecahan benda kaca untuk kedua kalinya sih, Sasori biasa saja. Masalahnya adalah, suara pecahan benda kaca itu diikuti oleh suara erangan kakaknya. Mau tidak mau ia merasa khawatir juga. Ia pun bergegas menghampiri kakaknya. 'Dasar Kakak ceroboh!' rutuknya dalam hati, mencoba meredakan kekhawatirannya.
"Sakura!" Sasori memang tidak pernah mengetuk pintu kamar Sakura jika ingin masuk ke dalamnya. Untungnya tidak ada kejadian aneh-aneh selama Sasori mempertahankan kebiasaan buruk itu, misalnya saja membuka pintu kamar saat Sakura sedang berganti pakaian. Berbanding terbalik untuk saat ini, Sakura justru beruntung Sasori tidak mengetuk pintu dulu dan langsung masuk ke kamarnya begitu saja karena Sakura sedang dalam masalah besar.
"Arrgh…!" erang Sakura sekali lagi. Sasori bisa melihat raut kesakitan di wajah kakaknya. Ada usaha untuk menahan sesuatu –mungkin menahan sakit-, marah, dan sedih menjadi satu. Di sekitar Sakura terdapat banyak pecahan kaca. Sasori pun segera mengevakuasi kakaknya ke atas tempat tidur. Apa yang terjadi dengan kakaknya ini? Tidak mungkin kan Sakura terlihat begitu menderitanya jika hanya karena terkena pecahan kaca? Lagi pula, tidak ada goresan apa pun di kulit kakaknya. Sasori yakin itu. ia sudah memeriksanya.
Sakura tidak hanya mengerang sakit, ia juga menangis. Air matanya begitu deras membanjiri pipinya. Butir peluh sebesar biji jagung merembas keluar kulit pelipis dan lehernya. Dihadapkan dengan situasi seperti ini jelas membuat Sasori panik, sekali pun ia anak yang cerdas.
Sasori mencoba menenangkan Sakura, sedangkan Sakura tidak mudah ditenangkan. Tangannya sesekali menjambak rambut pinknya dengan frustasi, sesekali juga Sakura meremas keras perutnya. Ia semakin histeris berteriak dan Sasori masih berusaha menenangkannya.
"Sakura! Tenanglah! Sakura…" Sasori mencoba menghentikan aksi kakaknya agar kakaknya itu berhenti menyiksa dirinya sendiri. Meski sulit, Sasori berusaha membaringkan kakaknya agar lebih tenang. Ia kemudian menyentuh dahi kakaknya untuk memeriksa suhu tubuh. Bagaimana ini? Sasori tidak mungkin meninggalkan kakaknya dalam keadaan seperti ini. Tapi ia harus mengambil kompres dan paracetamol karena suhu tubuh kakaknya ini meninggi.
*Hebiman*
[Sakura POV]
Sasori. Dia datang. Aku sedikit lega. Sedikit, karena ketersiksaanku ini sangat luar biasa. Tidak terdefinisikan. Aku tidak tahu apa yang ia coba lakukan. Aku terlalu fokus pada rasa mual dan sakitku. Pasti Sasori sangat cemas.
Arrgh…! Aku tidak kuat lagi. Rasanya kesadaranku semakin menipis. Aku… aku… haus. Ya, aku haus. Dan perasaan apa ini? Kenapa aku berpikir bahwa adikku sangat menggiurkan. Aku bisa mendengar desir aliran darahnya. Sesuatu di dalam diriku mendorongku untuk menggigitnya. Ap-apa-apaan aku ini. sesuatu mencoba menguasai tubuhku. Aku menolak keras.
Setelah beberapa saat –yang selama beberapa saat itu Sasori terus menggenggam erat tanganku- aku merasakan tubuhku sedikit menenang, sehingga aku bisa merasakan kelelahan mulai menjalari tubuhku. Pria kecil di hadapanku ini… aku mulai mendekatinya. Oh, tidak! Apapun yang mencoba menguasai tubuhku, ia telah mendapatkan apa yang ia mau sekarang. Aku tak bisa menolak lagi ketika aku dan Sasori benar-benar dekat. Aku mulai membuka mulutku. Dan air muka Sasori berubah ketakutan, membuatku semakin haus dan tergiur. Mungkin karena ia melihat kedua taringku yang memanjang ini.
Aku menarik tangan Sasori yang saling menggenggam dengan tanganku. Aku menarik tangannya mendekati wajahku. Ia gemetaran. Aku tahu ia pasti takut. Aku kakaknya. Aku tahu betul tidak ada hal yang berhasil membuatnya takut sebelum ini. lalu sekarang ia benar-benar menunjukkan ketakutannya.
Tunggu, tunggu! Apa yang aku katakana tadi? Aku kakaknya? Ya, benar. Aku kakaknya. Oleh karena itu aku tidak mungkin tega menyakitinya. Tapi… ujung taringku sudah berada 2 cm dari kulit tangannya. Bagaimana ini? Apa? Apa yang harus aku lakukan? Tuhan, tolong aku!
[Sakura POV end]
*Hebiman*
Chrrrt…
Tergigit! Sakura berhasil menggigit tangan… tangannya sendiri. Darah kemudian mengalir ke sikunya dan turut membasahi tangan hingga siku Sasori. Sasori sekali lagi membelalakkan matanya terkaget-kaget. Bagaimana tidak? Kakaknya… kakaknya…
Tangis Sakura kini pecah kembali. Namun yang membedakan adalah, kali ini tangisan itu lebih pelan, lembut, sakit, frustasi, dan putus asa sekaligus. Sasori pun kini tak bisa membendung air matanya lagi. Ia sedih, sangat sedih melihat kakaknya begitu menderita seperti ini, sementara pertanyaan-pertanyaan tentang kakaknya masih membelit pikirannya.
Sudah dua jam Sakura tertidur pulas. Luka di tangan Sakura sudah diberi P3K dan dibalut dengan kain kasa. Bekas-bekas darah di sekitar bibir dan tangan Sakura juga sudah dibersihkan. Sasori kini tengah mengelap bekas darah kakanya yang menempel di kulit tangannya dengan tissue basah. Perasaannya tak menentu. Ia masih tak mengerti. Ia menatap sendu wajah kakaknya yang tertidur pulas. Masih ada jejak air mata di wajah kakaknya. Lalu ia mengambil satu lembar tissue basah lagi. Kali ini ia mengusap jejak-jejak air mata di pipi sang kakak tercinta. "Nee-chan…" dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sasori memanggil kakaknya dengan sebutan Kakak.
*Hebiman*
.
.
.
to be continued…
Aaaaaaaaaaaaaaaa! Aku merasa seperti orang yang paling garing di dunia. Ini adalah chapter terpanjang sepanjang sejarah Hebiman. Hhhh… aku g tau harus bilang apa. Aku serahkan pada kalian, readers. Mohon bantuannya *ojigi* Di review yaaa.. ^_^
