.

"Akh—"

"Sasuke, kenapa ?" tanya seorang pria pirang yang menghentikan pekerjaanya sejenak kearah sumber suara berasal. Raut khawatir jelas terlihat pada wajah tampannya itu.

"B-Bayinya menendang."

Balas lirih pria disampingnya sambil mengelus pelan perutnya yang membuncit.

"Benarkah ?"

"Hm. Pegang ini."

Tiba – tiba saja pria raven itu membawa kedua tangan kekar sang suami keatas perutnya dengan seulas senyum yang lembut menyertainya. Walaupun sedikit nyeri menyerangnya, namun kebahagiaan jelas sangat terlihat.

"B-Benar ! dia bergerak."

"Kurasa dia menyukaimu. Bahkan tendangannya semakin menguat." Ucap Sasuke pelan, ketika satu tendangan lain kembali muncul dibawah telapak tangan Naruto.

Pandangannya pun ia arahkan tepat menghadap suaminya yang tengah mengelus sang anak didalam perutnya dengan senyum yang begitu tulus.

..

"... Ya semoga saja." Ucapannya pelan.

.

.

.

Naruto Fanfiction

"Papa"

Naruto x Sasuke

.

Naruto belongs to M.K

.

.

.

.

x0x

Bunyi kicauan burung dan sinar matahari yang masuk melalui sela-sela jendela membuat sepasang iris sapphire itu membuka perlahan. Diikuti dengan sebuah lenguhan kecil beserta kedua tangan pria itu yang mencengram halus rambutnya karena efek sakit kepala yang luar biasa.

Ia ingat, semalam dirinya telah mabuk berat disebuah bar yang sering ia kunjungi dulu. Sebuah tempat ketika ia pertamakali bertemu dengan Sasuke yang dikenalkan oleh Hinata. Dan tempat yang sama pula ketika awal kesalahannya yang ia perbuat bersama Sasuke.

Hampir setiap malam dirinya mengunjungi tempat itu, entah itu hanya untuk mengenang masa lalu ataupun mabuk berat.

Perut Naruto bergejolak, hingga tiba-tiba saja ia pun memuntahkan cairan alkohol dengan jumlah yang banyak pada dinginnya lantai.

"Ugh~ Hoek.. "

Dengan tangan yang gemetar, ia mengambil air putih yang terletak di atas nakas kamarnya. Mengurangi rasa mualnya yang terus melanda.

Satu Minggu sudah setelah perceraiannya dengan Sasuke, perasaannya terus saja terasa mengganjal. Ia tak bisa mengenyahkan bayangan ketika Sasuke menangis memohon untuk memulai kembali rumah tangganya dari awal.

Hampir saja dirinya goyah. Ia tak menyangka Sasuke masih ingin menjalani rumah tangga dengannya.

Namun keputusannya sudah bulat. Ia tidak ingin Sasuke hidup bersamanya hanya karena rasa tanggung jawab.

Dalam hati ia terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang telah ia lakukan adalah benar.

..

Ya, ini jalan yang terbaik untuk mereka.

.

.

_x0x_

..

Kala itu Shion sedang menemani Boruto yang tengah berkutat dengan buku gambarnya. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam, akan tetapi tak ada sedikitpun tanda-tanda kepulangan suaminya.

Shion sudah terbiasa, semenjak pertemuannya dengan Sasuke kala itu, Naruto selalu saja pulang terlambat. Entah itu karena lembur ataupun mengunjungi Bar, ia tidak tahu sama sekali. Namun yang pasti keadaan suaminya selalu dalam keadaan kurang baik dengan bau alcohol jika sudah tiba dirumah.

Ditengah lamunanya, sebuah bel pintu rumah berbunyi. Beranjak dari tempat duduknya, segera saja Shion membuka pintu rumah didepannya dengan berharap itu adalah suaminya yang telah pulang.

Namun alangkah terkejut dirinya ketika sosok ibu mertuanya yang tengah berdiri diambang pintu.

"K-Kaa-san."

Ucap Shion sedikit gugup, rasanya sudah cukup lama ia tidak pernah lagi bertemu dengan ibu suaminya itu semenjak keluarnya Naruto dari keluarga Namikaze.

Dan ia tak menyangka ibunya akan berkunjung malam-malam seperti ini.

"Boleh Kaa-san masuk ?"

"A-Ah ya tentu saja. Silahkan.."

Mereka berdua pun beranjak menuju ruang tamu berada. Duduk diatas sofa berwarna coklat yang terasa begitu lembut.

Kushina yang sudah mendudukan diri pun kini memandang sekitar ruangan tersebut seperti mencari seseorang.

"Dimana Naruto ?" Tanya Kushina yang masih sibuk mengedarkan pandangannya disekitar.

"Naruto.. belum pulang Kaa-san."
Ucap Shion pelan.

Seketika ibu mertuanya menatap Shion tajam.

"Aku dengar semenjak dia memulangkan Menma, Anakku jadi sering pulang mabuk. Apa itu benar Shion ?"

Shion terdiam sesaat. Dengan ragu ia pun menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya yang kini masih memandangnya menunggu ia membuka suaranya.

"Ha'i Kaa-san."

Dalam pandangan Shion, ibu mertuanya kini tengah menghela nafas berat. Raut kesal jelas terlihat pada wajahnya yang masih terlihat muda.

"Anakku yang malang. Bahkan ketika dia sudah bercerai dengan pria Uchiha itu, dirinya tetap saja menderita."

"..."

"Shion bantulah Kaa-san membujuk Naruto agar dia mau kembali menjadi penerus keluarga Namikaze." Ucapannya sambil memegang kedua tangan Shion yang sedang bertautan.

"Kau tahu bahwa Naruto adalah anakku satu-satunya. Dia yang berhak menjadi penerus keluarga." Lanjut Kushina memohon.

"...Gomen Kaa-san. Ini sudah menjadi keputusan Naruto. Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dengar Shion.. dekati Naruto sebisa mungkin hingga dia luluh.. bukankah ini kesempatan yang bagus untukmu karena Naruto telah bercerai dengan pria Uchiha itu. Kaa-san tau kau pasti bisa."

Shion hanya terdiam mendengar permintaan ibu mertuanya itu, ia sungguh bingung dengan apa yang harus ia lakukan. Tak mungkin baginya dapat meluluhkan hati Naruto yang bahkan dirinya sendiri pun sama sekali tidak berarti bagi suaminya.

..

"Shion.. bertahun-tahun Naruto hidup menderita bersama istri prianya. Selalu mendapatkan gunjingan bahkan hinaan dari orang lain tentang pernikahan anehnya. Dan bahkan setelah apa yang dilakukan Naruto dengan menikahinya, Uchiha itu malah meninggalkan anakku saat dirinya kritis." Ucap Kushina kembali meyakinkan Shion yang masih terus terdiam.

"Sungguh pria yang tidak tahu berterima kasih."

Disisi lain Shion yang mendengar perkataan ibu mertuanya pun langsung mengepalkan tangannya erat. Yang entah kenapa hatinya terasa tercubit karena ibu dari suaminya itu terus menyudutkan Sasuke.

Ia jelaslah tahu kebenarannya. Walaupun begitu ia berusaha tak ingin ikut campur dengan masalah yang dihadapi oleh ibu mertuanya. Namun jika terus seperti ini, maka Shion juga tak menjamin akan terus berdiam diri.

"Shion.. cobalah kau pikir, pria yang dapat mengandung itu sangatlah aneh dimata orang-orang.. apalagi Uchiha tersebut berasal dari panti asuhan yang tidak jelas asaln- "

"Cukup Kaa-san."

Tiba-tiba saja Shion memutuskan ucapan ibu mertuanya. Dengan pelupuk mata yang berkaca-kaca. Shion berucap lirih kepada wanita yang dihormatinya.

"Minta maaflah pada Sasuke-san... Hiks.. minta maaf sebelum semua terlambat.."

Tetes air mata Shion jatuh membasahi kedua tangannya yang terkepal erat diatas pangkuannya. Kepalanya terus ditundukkan kebawah hingga Surai pirang itu sedikit menghalangi raut wajahnya.

Perasaan Shion begitu kacau. Rasa bersalah dan sedih ketika mendengar perkataan ibu mertuanya tentang Sasuke membuat ia benar-benar iba. Tidak seharusnya ibu mertuanya ini menjelekan Sasuke setelah apa yang telah diperbuatnya hingga menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri.

Meskipun dirinya belum mengenal dekat dengan Sasuke, tapi ia juga adalah seorang isteri, dan jika dirinya diperlakukan seperti itu, ia pun akan sangat terluka.

"Apa maksudmu Shion ! Kenapa Kaa-san harus meminta maaf pada Uchiha itu..! Dia yang telah membuat Naruto keluar dari Namikaze."

"Aku telah mengetahui semuanya Kaa-san... "

Kini Shion memandang ibu mertuanya dengan tatapan yang begitu sendu.

Shion merasa ini saatnya untuk dia bicara. Memberanikan diri mengungkapkan rahasia yang terus ia simpan. Ia menyayangi ibu mertuanya seperti dirinya menyayangi ibu kandungnya sendiri. Dan untuk itu Shion tak ingin ibu mertuanya lebih dalam terjerumus akan dosa yang kian membesar.

...

"... Kaa-san lah yang telah menghasut Sasuke-san untuk pergi meninggalkan Naruto, Menyembunyikan keberadaan Menma, dan ...

.

"... Mencelakai Sasuke-san hingga dirinya koma." Ucap Shiho lirih dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Tubuh Kushina menegang sempurna. Raut terkejut jelaslah terlihat pada wajahnya. Tak menyangka menantunya ini mengetahui semua rahasianya.

"S-Shion.. bicara apa kau ini.. Kaa-san sama sekali tak mengerti."

"Maafkan aku Kaa-san... Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Kaa-san dan Iruka-san ketika dikamar. Aku tak menyangka Kaa-san bisa berbuat sejahat itu.. hiks." Balas Shion masih terisak pelan.

"..."

"Selama ini aku hanya takut Naruto akan pergi dari sisiku jika aku mengatakan sebenarnya. Tapi melihat Kaa-san yang terus menyalahkan dan mencelakai Sasuke .. aku.. a-aku tidak bisa berdiam diri lagi.. "

"... Tidak lagi, disaat suamiku juga hancur karena perpisahan yang dipaksakan ini."

Shion semakin menundukkan kepalanya, semakin terisak hingga tubuhnya bergetar.

"... A-Aku tidak ingin memiliki Naruto dengan cara seperti ini."

"Shion Kaa-

..

BRAKK !

Belum sempat Kushina menyelesaikan perkataannya, mereka telah dikejutkan dengan suara pintu yang didobrak keras oleh seseorang.

Kini dua meter tepat dihadapan mereka. Berdiri Naruto yang tengah menatapnya dingin pada sosok ibu dan istrinya yang masih terkejut.

"N-Naruto.." ucap Kushina gugup. Entah kenapa perasaan tidak nyaman merelungi hatinya ketika melihat tatapan anaknya saat ini.

"Apa benar Kaa-san melakukan semua itu ?"

"T-Tidak Naru.. Kaa-san tida-

"KATAKAN YANG SEBENARNYA !"

Naruto berteriak kencang kepada ibunya yang terus ketakutan. Wajah cantik itu terlihat jelas sangat pucat.
Tak menyangka Naruto, anak kesayangannya telah mendengar pembicaraannya dengan Shion.

"Anata tenanglah .. kita bicarakan ini baik-baik."

"Diam Shion.. aku tidak ingin mendengar perkataan mu sedikitpun." Balas Naruto dingin.

Tatapan tajam kini mengarah pada ibunya. Namun detik berikutnya, netra biru Naruto memancarkan luka yang membuat hati Shion dan Kushina bergetar seketika.

...

"Keluar.."

lirih Naruto dengan menundukkan kepalanya. Tak ingin memandang kedua wanita didepannya sama sekali.

"Naru.. dengarkan Kaa-san."

Kushina berjalan mendekati sang anak. Mencoba meraih Naruto kedalam pelukannya.

Namun ketika Kushina telah menyentuh lengan anaknya. Naruto dengan cepat menangkis tangan ibunya dan melangkah meninggalkan sang ibu yang terkejut.

Naruto terus melangkah ke depan. Bahkan ketika Shion ingin membantu suaminya dengan melepaskan jas kerja dan membawa tasnya, Naruto justru melewatinya begitu saja.

Tak mengucap sepatah kata pun hingga rasa bersalah semakin bertambah dalam hati Shion.

Pun itulah yang terjadi pada Kushina yang masih termenung setelah ia melihat begitu banyak rasa sakit dan kecewa yang tergambar pada wajah putra tercintanya.

...

Naruto menghentikan langkahnya sejenak.

"Sampai kapan Kaa-san akan menghancurkan rumah tangga ku Kaa-san.. Sampai kapan.. " lirih Naruto.

Hingga yang terjadi selanjutnya adalah tangisan pilu Kushina yang kini telah menyadari kesalahannya dengan membuat hidup anaknya sendiri hancur.

Ia benar-benar sudah menyakiti anak tercintanya.

"Hiks.. maafkan Kaa-san Naru.. hiks.. maafkan K-Kaa-san."

..

.

_x0x_

.

.

.

.

Hampir 3 botol sudah Naruto menghabiskan minuman beralkohol tinggi itu dalam sepi ruang kerjanya di rumah.

Terus menerus memasukkan cairan berliquid bening itu hingga kerongkongannya semakin memanas.

Bahkan kesadaran sudah tidak lagi menjajaki dirinya efek dari dosis yang terlalu berlebihan.

Saharian ini Naruto terus mengurung diri bersama alkohol didalam ruangannya. Boruto pun belum sempat ia temui meskipun waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Perasaannya sungguh lah kacau, rasa bersalah, marah, sedih hingga penyesalan begitu mengadukan ulu hatinya.

Dirinya benar-benar tidak tahu bagaimana menyikapi semua ini. Apa yang telah dilakukan ibunya pada Sasuke sangatlah keterlaluan.

Rasa bersalahnya begitu besar karena kehidupan berat yang harus dijalani Sasuke ketika bersamanya, ditambah dengan fakta bahwa ibu kandungnya sendiri yang telah menyelakai Sasuke hingga koma.

..

Akan tetapi dari semua itu, dirinya lah yang paling brengsek karena telah meragukan kesetian dan perasaan Sasuke padanya.

Ia terlalu dibutakan oleh kemarahan karena Sasuke pergi meninggalkannya saat ia kritis.

Seharusnya ia sadar betapa Sasuke tulus menjalani ikatan rumah tangga mereka selama ini. Tak mungkin Sasuke meninggalkannya begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Ya.. dia mengakui bahwa betapa bodoh dirinya kala itu.

Dan yang tersisa hanyalah penyesalan yang semakin mendalam dihatinya.

..

CLEKK

Suara pintu yang dibuka pelan menyadarkan Naruto dari lamunannya. Sedikit ia menyiritkan alisnya karena merasa yakin dirinya telah mengunci pintu itu.

Dan yang dilihatnya pun adalah Shion yang tengah berdiri tepat di hadapannya.

Mendengus pelan, Naruto kembali menuang Sherry kedalam gelas kaca dan meminumnya. Menghiraukan sang istri yang kini tengah menunjukkan raut yang sendu.

"N-Naruto bolehkah aku bicara sebentar.." ucap Shion dengan suara yang bergetar. Saat ini Shion sangat sedih melihat keadaan suaminya. Belum lagi Naruto yang enggan berbicara kepadanya sama sekali. Akan lebih baik bagi Shion mendapatkan kemarahan dari suaminya dari pada harus didiamkan seperti ini.

Sungguh hatinya merasa sakit atas semua ini.

Melihat Naruto masih yang masih terdiam, tak kuasa Shion pun meneteskan air matanya karena kembali merasakan perasaan bersalah dalam hatinya.

"Naruto.. Maafkan aku.. maaf aku karena telah menyembunyikan kebenaran ini dari mu.. hiks.. maaf."

Isak tanggis Shion mengencang. Namun disisi lain Naruto hanya diam memandang keluar jendela tanpa menolehkan sedikit pun wajahnya kearah Shion.

...

"A-Aku hanya takut kehilanganmu jika aku mengatakan kebenarannya.. hiks.. Naruto.. aku sungguh sungguh mencintaimu untuk itu aku hanya terus diam."

Shion kembali melangkahkan kakinya menuju meja kerja dimana suaminya berada. Terus menipiskan jaraknya hingga kini Shion tepat menghadap Naruto.

"K-Kembalilah pada Sasuke-san.. bangun kembali rumah tangga mu dengan mereka. Onegai.." lirih Shion dihadapan suaminya.

Mendengar nama mantan istrinya disebut, Naruto pun sedikit mengalihkan pandangannya kearah Shion berada.

Dengan tangan yang bergetar, wanita pirang itu menyerahkan sebuah kertas putih diatas meja suaminya.

Naruto yang penasaran akan isi kertas tersebut pun langsung saja mengambil benda tersebut, hingga detik berikutnya Naruto pun membelalakkan kedua matanya ketika melihat isi surat itu.

"Apa maksudmu ini Shion ?" Tanya Naruto menatap sang istri tajam.

"Aku akan mengakhiri semuanya Naru... inilah konsekuensi yang harus aku terima karena telah menyembunyikan kebenaran ini dari mu...

Mengepalkan tangannya erat, Shion pun kembali berucap penuh keyakinan.

Menatap dalam iris biru yang begitu indah milik Naruto.

...U-Untuk itu aku ingin bercerai agar kau bisa kembali bersama dengan Sasuke-san."

Seketika raut kerkejut menghiasi wajah Naruto akan ucapan istrinya saat ini. Tak menyangka Shion akan melangkah sejauh ini hanya karena rasa bersalahnya.

Namun dalam hatinya yang paling dalam, dirinya merasa lega karena kesempatan untuk mengembalikan rumah tangganya bersama Sasuke telah terbuka.

Meskipun ia tahu bahwa akan ada lagi seorang yang akan tersakiti jika ia kembali pada Sasuke.

Ya, Shion.

Walaupun istrinya itu telah menutupi kejahatan ibunya pada Sasuke, tapi dirinya sama sekali tidak membenci Shion. Ia hanya kecewa dan merasa putus asa dengan apa yang telah ia lakukan selama ini pada Sasuke.

...

"Naruto.. bawalah mereka kembali kesini. Aku yakin Sasuke-san juga masih mencintai mu. Bahagiakan dia setelah apa yang terjadi padanya. " ucap Shion sambil menatap kedalam batu Sapphire didepannya mencoba meyakinkan sosok didepannya.

..

"Apa kau yakin dengan keputusan mu ?"

"Aku bisa mati membawa rasa bersalah jika tidak melakukannya Naru.. sungguh aku benar-benar ingin melihat mu dan Sasuke-san bahagia." Balas Shion penuh dengan ketulusan.

"..."

Senyum kecil mengembang pada wajah tampan Naruto. Entah kenapa perkataan Shion barusan sedikit memberikannya sebuah harapan baru untuk dirinya dan Sasuke.

Benar yang dikatakan Shion.. mulai sekarang ia harus membahagiakan Sasuke. Menebus semua kesalahannya yang telah ia lakukan selama ini pada Sasuke.

Membangun keluarga kecilnya lagi bersama dengan kedua puteranya.

..

.

"Terima kasih Shion, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini."

..

.

.

.

_x0x_

Seorang pria bersurai biru memasuki sebuah ruangan yang merupakan kamar rawat Sasuke. Melangkah pelan, pria sekaligus dokter itu mendekati sosok raven yang tengah bersandar pada dashboard ranjang. Selain itu terdapat juga seorang anak kecil yang terlihat tengah tertidur nyenyak diatas pangkuan Sasuke.

Melihat momen indah tersebut, Dan yang sedari tadi memperhatikan mereka pun ikut tersenyum bahagia.

Ia sangat bersyukur Sasuke dipertemukan dengan anak kandungnya kembali.

..

"Sepertinya Menma tidur dengan nyenyak." ucap Dan sambil mendudukkan dirinya disamping Sasuke.

"Hn. Mungkin dia kelelahan karena terus menangis." balas Sasuke pelan. Tangan putih itu pun bergerak dan mengelus Surai hitam Menma penuh kasih sayang.

Walaupun begitu senyum sendu tampak menghiasi wajahnya yang pucat.

Melihat keganjilan didepannya, dengan ragu Dan pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Sasuke akan apa yang dipikirkannya saat ini.

..

"Apa kau memberitahu Menma tentang perceraian mu ?"

.

"...ya."

"Bukannya ini terlalu cepat ? Menma masihlah kecil untuk menerima keadaan orang tuanya."

"Aku tidak mungkin terus berbohong... Menma adalah anak yang kuat, dan mungkin lebih kuat dari diriku sendiri." lirih Sasuke dengan menundukkan kepalanya lebih dalam.

Melihat keadaan Sasuke didepannya, ingin sekali dirinya merengkuh sosok yang dicintainya itu kedalam pelukannya. Memberikan perlindungan dan rasa aman hingga Sasuke dapat menghilangkan kesedihannya.

Ia tidak ingin Sasuke hidup dalam bayang-bayang kepahitan rumah tangganya. Ia ingin ingin selalu mendampinginya hingga suatu saat pria raven didepannya akan melupakan mantan suaminya.

Dan entah dari mana, sebuah keyakinan muncul dalam hatinya. Walaupun Sasuke masihlah memiliki luka akan perceraiannya, tapi Dan yakin inilah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya.

Memastikan bahwa hanya dialah yang akan melindungi Sasuke dan menghapus semua lukanya.

...

"Sasuke..."

.

.

.

.

.

Ditempat lain, seorang pria bersurai pirang tengah menatap gedung yang didominasi warna putih itu dengan penuh semangat.

Ia arahkan pandangannya kesamping, tepat dimana putera bungsunya berada.

Tersenyum hangat, pria itupun menggandeng tangan kecil sang anak dan melangkah pelan memasuki rumah sakit didepannya.

"Ayo, Boruto.. sebentar lagi kita bertemu dengan Menma Nii-chan."

"Hu'um."

Angguk Boruto singkat.

Selama perjalanan, tak henti-hentinya Naruto tersenyum.

Ia sungguh berharap jika keluarga kecilnya akan kembali seperti dulu. Dalam hatinya ia terus berjanji bahwa ia tidak akan pernah mengulangi kesalahannya dimasa lalu.

Membangun kepercayaan bahwa mereka berempat akan hidup bahagia.

Dan untuk itu ia ingin memulai semuanya dari awal.

Sebuah awal untuk mencintai keluarganya sepenuhnya.

...

"Sasuke...

... Suki."

Tepat ketika dirinya telah sampai didepan kamar rawat Sasuke. Naruto pun menghentikan gerak tangannya yang hendak memutar knop pintu.

Perkataan yang didengarnya barusan membuat tubuhnya menegang seketika.

Jelas ia mengetahui suara tersebut.

Seorang Dokter muda yang bernama Dan Katou. Yang juga seorang pemilik rumah tempat Sasuke dan Menma tinggal sebelumnya.

..

Perlahan Naruto menarik kembali tangannya dan bersandar pada pintu kamar rawat tersebut sambil menundukkan kepalanya.

"Sasuke, Suki.." ulang suara didalam sana.

...

"A-Apa..."

"Sejak pertama kali aku bertemu dengan mu, aku sudah menyadari perasaanku. Dan sejak itu, aku selalu menyimpan semuanya tak berani untuk ku ungkapkan."

"..."

"Setelah aku melihat apa yang kau lalui sampai saat ini. Aku sungguh tidak bisa terus berdiam diri. Mungkin ini terlalu cepat, tapi...

..

".. Sasuke, menikahlah denganku."

Naruto terbelalak kaget. Tak menyangka jika pria itu melamar Sasuke saat ini.

Tangan tan yang dari tadi terkulai itu ia arahkan pada dadanya. Sedikit meremasnya ketika sesak menyelimuti hatinya. Ia melupakan fakta bahwa saat ini Sasuke sudah sendiri. Tidak terikat lagi dengan dirinya.

Dalam hati ia terus berharap bahwa Sasuke akan menolaknya. Memberikan dirinya kesempatan untuk membangun kembali keluarga kecilnya.

Walaupun ia tahu dirinya sama sekali tidak berhak atas Sasuke setelah apa yang telah diperbuatnya selama ini.

..

"D-Dan.. aku..."

"Sasuke, aku berjanji akan menjaga dirimu dan Menma. Untuk itu beri aku kesempatan untuk menghapus semua luka-luka mu.. aku mohon."

Hening beberapa saat. Entah itu Dan atau Naruto yang mendengarkan diluar sana menunggu keputusan yang akan dipilih oleh Sasuke.

Keduanya berharap. Masih terus berharap untuk bisa membahagiakan pria raven yang mereka cintai.

...

.

.

"Dan... Aku, Bersedia.. "

.

.

.

.

Dan detik itu pula sendu menghiasi wajah Naruto.

Dirinya terlambat..

Harapannya untuk memperbaiki kesalahan dan keluarga kecilnya telah buntu.

Naruto mengeratkan genggaman tangan kanannya pada Boruto. Melangkah pelan menjauhi kamar tersebut dengan tersenyum getir.

Mungkin ini adalah karma yang diperolehnya karena telah menyakiti Sasuke.

Sasuke berhak bahagia..

Dan itu bukan dengan bersamanya.

Ditengah lamunannya, tiba-tiba saja Boruto menarik lengannya. Menatap sang ayah inten dan berucap penuh tanya.

"Tou-san,... Nii-chan dimana ?

"..."

Tak ia sadari, sebuah air mata menetes jatuh keatas lantai rumah sakit.

Dengan cepat dirinya berjongkok dan memeluk sang anak erat. Mencari kekuatan karena rasa sesak didalam hatinya saat ini.

"Maaf Boruto.. maafkan Tou-san."

Ia terlambat...
.

.

Benar-benar terlambat untuk kembali pada Sasuke.

...

.

.

End

..

..

"Sasuke.. aku berjanji akan menjaga dirimu dan Menma. Untuk itu beri aku kesempatan untuk menghapus semua luka-luka mu.. aku mohon." ucap Dan sambil menggenggam kedua tangan Sasuke erat.

Tatapan Dan penuh akan harapan. Membuktikan bahwa pria didepannya tidak lah main-main.

Sasuke menundukkan kepalanya, berpikir sesaat untuk kembali meyakinkan hati kecilnya.

...

"Dan... Aku, Bersedia...

.

.

... Jika saja aku sudah tidak mencintai Naruto."

"..."

Kini Sasuke menatap pada kedua mata biru milik Dan. Mencoba memberikan sebuah jawaban yang pasti tanpa ingin melukai hati penyelamatnya.

"Maafkan aku Dan...

"Aku masih mencintai Naruto."